Chapter 7

.

.

.

Case of Roses

Disclaimer : Kurobasu dimiliki oleh Tadatoshi Fujimaki-sensei :3

Rate : M

Genre : Gado2 :vv bingung Mari

Pair : AkaFem!Kuro, nyempil KiFem!Kuro itupun kalo ada :v

Summary : Mawar itu merah. Darah itu merah. Kamu itu merah. Setiap kali aku bertemu denganmu, aku pasti akan menemukan warna merah. Karena dirimu, identik dengan merah. / Berita tentang pembunuhan berantai sedang menjadi topik hangat akhir-akhir ini. Secara tidak langsung Kuroko Tetsuna terlibat dalam pembunuhan tersebut. Tak disangka, pembunuh dengan surai scarlet dan iris heterochrome jatuh cinta padanya.

Warning : gore (bisa jadi, ato kalo emang ada adegannya), aneh, AU, gajelas, TYPO, abal, GENDERBEND, OOC, mbosenin (membosankan), dan sebangsanya, warning bisa berubah tergantung chapter...

.

.

.

.

.

.

.

.

Enjoy...


~Kuroko's POV~

Aku pulang dengan hati gundah gulana. Sebenarnya saat ini suasana hatiku sedikit tidak enak, aku cukup kesal... ralat, aku sangat kesal.

Mulai dari aku yang tidak bertemu sama sekali dengan Kise-kun dari matahari terbit hingga matahari hampir terbenam, Mayuzumi-senpai yang tidak mau menjawab pertanyaanku, sampai Akashi-kun yang tadi malam mendeklarasikan diriku sebagai 'kekasih'nya.

Aku tuh gak bisa diginiin! (?)

Tetsuna tuh nggak bisa digituin! (?)

.

Kutatap dengan lesu vanilla shake favoritku yang sama sekali belum kuseruput satu tetes pun sejak aku membelinya. Aku terlalu cemas dan kesal hingga kehilangan nafsu vanilla(?) milikku.

Aku yakin pandanganku saat ini sangat kosong, dan aura suram sedang mengitari tubuh sekitarku. Tapi entah mengapa hawa keberadaanku semakin menghilang ditelan angin(?).

Yah, walau itu sedikit menguntungkanku karena tidak akan ada yang memperhatikanku sih.

Tetapi perasaan di hatiku tidak sedikitpun membaik.

Daripada terus melamun dan makin memperpekat aura suramku, kuputuskan untuk mulai meminum vanilla shake di tanganku sebelum minuman tersebut sudah kehilangan sensasi dinginnya.

.

.

.

.

.

Sampailah aku pada apartemen nyaman nan sederhanaku.

Setelah membuka kunci dan masuk ke dalam kuraba tembok di sisiku untuk mencari saklar lampu.

Penerangan ruangan memasuki kornea mataku. Ruang tamu yang sepi sudah menjadi hal biasa untukku.

Saat aku masih tinggal serumah dengan kedua orang tuaku, ketika aku pulang sekolah aku akan disambut oleh okaa-san dengan harum semerbak masakan khasnya yang menggoda, dan ketika aku memasuki ruang tengah aku akan menemukan otou-san yang sedang membaca koran dengan tenang–kelewatan datar kalau aku boleh bilang– kemudian tersenyum saat melihatku menghampirinya.

Ah~ indahnya nostalgia~

Aku jadi kangen mereka sekarang.

.

Kira-kira apa yang sedang di lakukan mereka saat ini ya?

.

.

.

–Di lain tempat–

"HACHIIING"

"Sayang? Kamu kenapa?"

"...Kena flu mungkin.."

.

.

~End of Kuroko's POV~

–Apartemen Kuroko–

.

Kuroko meletakkan tas dan barangnya di sisi ranjang di kamarnya. Kemudian ia menuju lemari dan mengganti baju yang sedang ia kenakan.

Setelah selesai ia menuju ke dapur dan mengecek bahan makanan yang ada di kulkas untuk makan malam.

'Mungkin aku akan membuat rebusan..' batinnya sambil mengambil beberapa sayuran. Setelah mengenakan celemek berwarna pastelnya ia mulai memotong wortel-wortel menjadi bagian yang lebih kecil, kemudian memotong sayuran lain dan menuangkan semua bahan yang di perlukan untuk masakannya ke dalam panci.

Suasana hening yang ia rasakan saat sedang memasak sudah menjadi hal biasa untuknya. Walaupun memang ada kalanya ia merasa kesepian, tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa terhadap keheningan tersebut.

Ia memang sudah bersahabat dengan Kise cukup lama, bahkan sejak mereka pertama kali bertemu di kampus saat masa orientasi satu setengah tahun yang lalu.

Tetapi kalau boleh jujur, ia tidak pernah benar-benar dekat dengan sahabat berwajah model berambut kuningnya itu.

Di luar mereka tampak akrab karena mereka selalu bersama. Tetapi di dalam mereka penuh akan kecanggungan. Saat mereka sedang berdua ditelan oleh keheningan, Kise lah yang selalu menghapus keheningan di antara mereka. Tidak pernah sekalipun saat mereka bersama Kuroko yang membuka pembicaraan. Tidak pernah.

Hal yang mereka bicarakan pun tidak pernah menjurus ke hal-hal pribadi semacam 'orang yang di sukai', 'makanan kesukaan', dan lain sebagainya. Jadi Kuroko hanya mengenal Kise sebatas alakadarnya saja. Jika Kise bercerita maka ia akan mendengarkan.

Hal-hal seperti itulah yang membuat tembok raksasa pemisah di antara mereka.

Saat memikirkannya Kuroko baru menyadari bahwa ia tidak mengetahui hobi Kise, makanan favoritnya, kesukaannya, dan bahkan hal yang tidak disukainya.

Kuroko merasa tidak enak saat memikirkannya.

Tanpa sadar ia sudah melamun sejak tadi. Segera sebelum masakannya hambar, ia menambahkan garam dan gula kemudian mengaduknya sebentar lalu menutup pancinya dengan penutup.

Setelah itu ia melepaskan celemeknya dan beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya sembari menunggu masakannya matang.

.

.

.

–Blue Rose–

Sembari berendam di dalam bathtubnya ia kembali mengingat-ingat tentang Kise.

Tapi sekeras apapun ia mencoba mengingatnya ia sama sekali tak menemukan sesuatu yang berhubungan dengan hal pribadi mengenai Kise.

Kalau begitu jadinya ia tidak bisa disebut sebagai 'sahabat' yang baik dong.

".. Kise-kun gomennasai..." Suaranya teredam air saat ia mulai mencelupkan seluruh kepalanya ke dalam bathtub.

.

.

Makan malam yang terlalu seserhana. Kuroko hanya makan dengan nasi dan rebusan sayur, tampaknya tak mengenyangkan tetapi gadis biru muda tersebut sudah merasa kenyang dengan makanan sesederhana itu.

Setelah makan malam ia merapikan mangkok dan sumpitnya yang kemudian dicuci dan ditata kembali ke rak piring dengan rapi seperti sedia kala.

Kuroko beranjak menuju kamarnya untuk mengambil buku-buku tugas dan laptopnya. Lalu kembali ke meja makan dan menyamankan dirinya di salah satu kursi di sana sebelum mulai mengerjakan tugasnya.

Jam dinding di ruangan tersebut menemani kesunyian diantaranya. Suara detik-detik yang terus berputar menemaninya dalam mengerjakan tugas. Walau suasananya lebih tampak seperti rumah hantu kosong di film-film horror sih..

Ia lebih merasa senang memusingkan dirinya dengan tugas-tugas menumpuk dari pada memusingkan diri dengan perasaan batinnya yang sedang campur aduk.

Berada di rumah sendirian sudah menjadi hal biasa untuknya–

"Aku tahu kau bersembunyi di sana Akashi-kun."

–Sehingga ia bisa dengan cepat menyadari keberadaan pria bersurai merah yang tengah memperhatikannya dari balik pintu ruang makan tersebut.

"Wow... kau bisa dengan cepat menyadari keberadaanku." pujinya tetap dengan seringaian andalan yang selalu bersemayam pada wajah tampannya.

"Aku sudah cukup lama tinggal sendiri. Sehingga aku bisa mengetahui adakah orang lain yang datang–tak diundang– ke rumahku atau tidak." Kuroko berujar dengan wajah datar sembari menatap Akashi yang mulai mendekat padanya.

"Heeh... sibuk?"

"Lumayan. Memangnya kenapa?"

"Hanya ingin tahu."

"Akashi-kun sendiri?"

"Pekerjaanku sudah selesai kok."

"Jadi kalau semuanya sudah beres Akashi-kun boleh main ke sini gitu."

"Tentu saja."

"Dasar... gak ada pekerjaan lain apa?"

"Kan pekerjaanku sudah selesai semua Tetsuna."

"Au ah gelap?" (?)

Kemudian mereka berdua terdiam. Tampak tak tertarik untuk melanjutkan percakapan yang lebih tampak seperti perdebatan di antara mereka.

Kuroko kembali fokus pada tugasnya, mengabaikan eksistensi Akashi di belakang tengah memperhatikan dirinya.

Entah sudah yang keberapa kali keheningan menyertai dirinya. Sekalipun ada seorang lagi di dalam ruangan apartemennya, ia masih saja merasakan keheningan.

"Tetsuna suka yang gelap?" –hingga sang surai merah memecahkan konsentrasinya.

"Akashi-kun aku sedang sibuk." ujar sang baby-blue dengan nada datar yang tetapi tetap tersirat nada kekesalan yang kentara pada setiap pengucapanku.

"Sesibuk itukah dirimu?" tampaknya ia berniat menggoda sang gadis biru muda.

"Akashi-kun bisa melihatnya sendiri kan." Kuroko tetap melanjutkan mengerjakan tugasnya sembari berusaha mengabaikan Akashi yang terus melontarkan kata-kata.

"Tetsuna perlu dibantu?"

"Tidak terima kasih, aku bisa sendiri."

Kemudian Akashi mulai menarik kursi di hadapan Kuroko dan memerhatikan wajah si biru muda dengan tenang.

Kuroko yang risih terus diperhatikan selama ia memgerjakan tugas mulai melirik Akashi.

"Akashi-kun berhenti menatapku seperti itu."

"Tetsuna manis sih."

"Tidak sopan memanggil langsung nama depan seseorang yang belum benar-benar dekat Akashi-kun."

"Sesukaku dong mau memanggilmu apa."

"Terserahmu deh.."

.

.

.

"Nee Tetsuna..."

Suara Akashi nampak berat dan suram, tak seperti suaranya beberapa detik yang lalu, membuat Kuroko refleks mengalihkan pandangannya dari buku tugas dan menatap Akashi.

Yang tengah memasang wajah dingin yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Bohong kalau Kuroko bilang bahwa ia tidak merinding. Tetapi semua tertutupi dengan mudah oleh topeng datarnya. Walau sebenarnya jantunhnya sedang berdetak dengan sangat kencang.

"Ha'i?" Balasnya menatap tepat pada manik heterochromenya.

.

.

.

.

.

"Kamu tahu aku ini apa?"

Pertanyaan konyol.

Sungguh.. Kuroko mengira kalau ia akan mengatakan hal yang amat teramat serius. Menyesal Kuroko sempat merinding tadi.

"Tau, Akashi-kun adalah manusia." ujarku sekenanya sambil kembali fokus pada tugasku.

"Bukan begitu, maksudku apa kamu tau aku ini siapa?"

Pertanyaan konyol kembali terdengar.

"Tentu saja aku tau, kau adalah 'Akashi-kun'."

"Serius Tetsuna."

"Aku serius kok." ujar Kuroko dengan raut datar sambil memperlihatkan tugas-tugasnya kepada Akashi.

Akashi menghela nafas berat. Susah juga kalo mau ngomomg sama dia, batinnya facepalm.

"Tetsuna..." Akashi mengurut keningnya sambil menggerang frustasi. Mendadak kepalanya jadi pening. Ia memejamkan matanya untuk meredakan rasa pusing yang menyerang kepalanya. "Kamu tau kalau aku adalah seorang pembunuh?" entah itu adalah pertanyaan atau pernyataan, yang jelas Akashi kembali menatap tajam pada Kuroko.

Ada jeda sebentar sebelum Kuroko memberikan respon. Ia terdiam dengan raut datar yang bercampur dengan tegang.

"Tentu aku tau.." Gadis biru muda mengalihkan pandangannya dari sang hetero. Ia tak dapat menatap manik tajam menusuk itu lama-lama.

"Apa kamu tahu kalau aku bekerja pada suatu organisasi?" kali ini Kuroko ragu untuk menjawabnya. Kalau dibilang iya, mungkin saja nyawanya akan semakin terancam di sini. Dibilang tidak, ia tidak bisa. Karena Kuroko adalah anak yang berbakti kepada orang tua, dan orang tuanya selalu mengajarkan kepadanya untuk tidak berbohong.

Semua jadi serba salah.

"Jawab dengan jujur Tetsuna." bagai membaca pikirannya, Akashi menatapnya semakin tajam.

Kuroko bergidik. Ia masih ragu untuk menjawabnya.

.

"Mn.." dan pada akhirnya Kuroko mengangguk sebagai jawabannya.

.

.

"Hm.. begitu.." ujarnya setelah terdiam. Entah mengapa Kuroko tak bisa melihat pada mata heterochromia yang terus menatap tajam padanya.

"Aku bertaruh kau pasti mendengarnya dari seseorang."

Tepat sasaran.

"Dan seseorang itu adalah mantan anggota organisasi."

Tepat lagi.

"Hm... kalau aku boleh menebak.." Akashi memasang wajah berfikir sambil meletakkan ibu jari dan telunjuknya pada dagu.

.

.

.

.

.

"Mayuzumi Chihiro."

.

Kuroko membeku di tempat.

Semua yang ia ucapkan benar semua.

.

Kuroko terdiam.

Ia tak dapat membuka suara. Entah karena takut atau tak bisa membalasnya. Seluruh suaranya serasa seperti tertahan di tenggorokannya.

Sementara Akashi tersenyum di tempat melihat ekspresi ketakutan nan kalut milik si gadis biru muda.

"Diam berarti aku benar."

Sekali lagi Kuroko tak bisa mengeluarkan suara.

.

"B-Bagaimana Akashi-kun bisa–"

"Tahu? Rupanya aku memang benar."

Ia terpancing.

'Akashi-kun menyebalkan' tanpa sadar Kuroko sudah menggembungkan pipinya lucu.

"Yah.. kukatakan saja secara singkat, itu adalah cerita yang panjang hingga aku dapat menduga bahwa yang memberitahumu adalah Chihiro..."

'Tidak sopan sekali memanggil seseorang yang lebih tua darimu dengan nama kecilnya tanpa embel-embel, Akashi-kun' batin Kuroko.

Akashi menatap Kuroko sebentar untuk melihat apa reaksi yang diberikan gadis beriris aqua. "Apa kau ingin aku menceritakan 'semuanya' kepadamu?" kata-kata yang keluar dari mulut pria berkepala merah lebih tampak seperti tawaran di telinga Kuroko.

Ragu-ragu. Tapi akhirnya sang biru muda menjawab.

"B-Bolehkah?" suaranya yang bergetar karena gugup terdengar dengan jelas di telinga sang scarlet.

Akashi tersenyum, kemudian berjalan memutari meja hingga tiba tepat di samping Kuroko. Tetapi ia tak menatap pada sang gadis.

"Sejauh mana Chihiro bercerita kepadamu?" Akashi masih tidak menatap Kuroko. Itu membuat gadis manis mermanik azure tersebut memasang wajah heran.

"Mayuzumi-senpai menceritakan semuanya... yah kecuali bagian anggota pembunuh utama sih.."

"Hoo..." Ia menyeringai tipis seraya menarik kursi di samping Kuroko.

Perlahan Akashi mulai menjatuhkan pandangannya pada sepasang manik azure yang berkilau.

"Percaya atau tidak, Chihiro tidak akan pernah dengan mudah membocorkan seluruh rahasia organisasi dengan mudah kecuali ia adalah orang yang sangat berpengaruh–orang-orang tertentu–. Dengan kata lain Chihiro tidak benar-benar memberitahu 'semuanya' kepadamu, atau kalau ia memang mengatakan 'semuanya', berarti kau adalah orang yang tidak biasa dalam sudut pandangnya."

Manik Kuroko sempat membola. Ia menunduk menatap ke bawah sambil berujar lirih. "... A-Aku.. tidak tahu itu.."

Dan Akashi kembali menyeringai.

"Tapi karena kau bilang Chihiro tidak mengatakan kepadamu anggota utama, maka aku yang akan mengatakannya." mendengarnya membuat gadis baby-blue kembali mengangkat wajahnya, menatap sang hetero penuh akan rasa penasaran.

"Kau pasti tahu aku dan Chihiro adalah pembunuh utama, lalu aku bertaruh kau pasti sempat sangat heran mengenai interaksiku dengan Kise Ryouta yang begitu akrab."

"Ternyata kalian memang saling kenal.. apa Kise-kun–"

"Anggota pembunuh utama? Ya." ujar sang pria dengan mantap.

.

"Lalu... anggota yang satu lagi s-siapa?" Kuroko mengatakannya dengan ragu-ragu.

"Hmm bagaimana kalau kita sedikit bermain-main di bagian ini!~"

"Hah?"

"Aku akan memberimu sedikit teka-teki untuk anggota terakhir. Sementara kau berusaha untuk menebak siapa orangnya."

"Eh? Ta-Tapi aku tidak mungkin menebak orangnya dengan mudah kan!" protesan Kuroko yang tengah panik.

"Jangan khawatir, aku tidak memberikan batas waktu kau untuk menjawabnya." Akashi berujar santai.

"Uhh ini sama saja Akashi-kun tidak mengatakan kepadaku siapa anggota utamanya.."

"Hahaha ayolah ini menyenangkan"

"Hmph.. ..baiklah..." Kuroko menggembungkan pipinya lucu membuat Akashi gemas sendiri.

"Oke, jadi inilah cluenya :

Segelap langit malam,

onyx terhalang oleh kegelapan,

bara hasrat yang tertutupi sinar mentari."

.

.

.

Kuroko melongo.

.

.

Teka-teki macam apa itu!?

.

.

.

.

KUROKO SAMA SEKALI TIDAK BISA MENEBAKNYA!

MEMBAYANGKANNYA SEBAGAI 'MANUSIA' PUN TIDAK BISA!

.

"Akashi-kun gak pernah ngerasain rasanya nelen pistol ya. Gambaran teka-teki sebagai 'manusia' pun sama sekali tidak terbayang di benakku."

"Tetapi aku yakin kau pasti bisa menebaknya.. semua hanya perlu waktu."

'Konyol...'

.

"Haha.."

.

.

.

.

.

"Akashi-kun?" mereka terdiam begitu lama, tetapi Kuroko menyadari binar yang redup dari kedua manik red-gold milik akashi.

Entah tersadar dari lamuanya atau apa, tapi Akashi tersentak dan segera tersenyum pada Kuroko.

Senyum dipaksakan.

"Ada apa?" terkalahkan oleh rasa penasarannya akhirnya Kuroko bertanya pada Akashi.

"Hhm.. jadi kau bisa melihatnya ya..." ia bergumam sembari meletakkan tangannya di depan mulutnya membuat suaranya teredam oleh telapak tangannya yang besar.

Kuroko mengernyitkan alis. Walau suaranya tertutupi oleh tangan besarnya Kuroko masih bisa mendengarnya.

Kuroko memutar kursi menghadap tepat pada Akashi, serta menatapnya penuh keseriusan.

"Akashi-kun, tolong ceritakan kepadaku semua tentang dirimu!"

Akashi sempat terbelalak karenanya. Gadis ini... bukannya ingin mengorek lebih jauh informasi mengenai organisasi, ia malah menyuruh Akashi bercerita tentang dirinya sendiri?

Kuroko Tetsuna... gadis ini memang tidak boleh diremehkan.

"Haha.. kukira kau akan bertanya-tanya kepadaku mengenai organisasi lebih lanjut, ternyata tidak.." Akashi tertawa hambar sembari menyibak poni merahnya, memlerlihatkan kening–yang jujur saja– semakin membuat Akashi lebih tampan.

"Kuroko Tetsuna memang orang yang menarik..." ia kembali terkekeh, tapi Kuroko tetap mempertahankan wajah datarnya.

"Akashi-kun." Kuroko meninggikan suaranya, tatapannya pun semakin tajam.

"Katakan kepadaku!" Kuroko berubah sangat serius. Dalam situasi seperti ini bahkan untuk seorang Akashi, ia sudah tidak bisa bermain-main lagi. Aura yang dipancarkan Kuroko penuh akan intimidasi sangat persis seperti miliknya. Apakah ini yang dinamakan karma?

.

Akashi menghela nafas berat.

Ia balik menatap serius pada Kuroko.

"Apa kau yakin akan mendengarkannya?" sang merah menyuarkan keraguannya pada sang lawan bicara.

Orang yang ingin mendengar tentang dirinya biasanya akan terus meyakinkannya kalau mereka akan mendengarkan. Tapi kenyataannya 'orang-orang' itulah yang menusuknya dari belakang.

Itulah yang terlintas pertama kali di pikiran Akashi.

Tapi Kuroko–

"Seberat apapun kisahmu, sesedih apapun masalahmu, semengerikan apapun ceritamu, sekesal apapun dirimu, aku akan tetap senantiasa membuka telingaku untuk mendengarkanmu."

–Sudah mencoba bermain api dengannya.

.

.

Akashi sempat kembali terbelalak, kemudian terkekeh singkat. Ia tersenyum kecut sembari mengusap pucuk kepala biru muda.

"Kalau kau berkata seperti itu... ..baiklah.."

Akashi meregangkan tubuhnya sejenak lalu menyamankan diri pada kursi yang didudukinya sebelum mulai kembali membuka suara. Sementara tugas dan buku Kuroko abaikan begitu saja.

.

"Kalau aku mulai cerita... hn..mungkin aku harus mulai dari kehidupan pribadiku dulu.."

"Aku lahir dari keluarga yang tergolong sangat melegenda, dengan cara pandang masyarakat yang melihat kami sebagai sosok yang luar biasa, membuat ayahku menuntut jalan hidupnya dalam kesempurnaan.

Karena hal itulah aku dididik untuk menjadi sempurna. Belajar cara menjadi sempurna dalam bidang akademik maupun non-akademik.

Memiliki moral yang sempurna. Mental serta fisik yang sempurna, membuat hatiku nyaris sekeras batu saat itu.

satu-satunya yang dapat meluluhkan hatiku saat itu hanyalah ibuku.."

Kuroko menatap Akashi penuh akan kepedulian dan rasa simpati. Ia merasa Pria di hadapannya memiki masa lalu yang kelam.

Kuroko pun tak menyadari bahwa kursinya semakin mendekat kepada Akashi.

"Aku ingat saat pertama kali organisasi menawarkanku untuk bergabung. Saat itu aku masih SMP. Aku menolak keras tawarannya saat pertama kali.

Saat itu aku berfikir, sebenci-bencinya aku terhadap hidupku, aku tak dapat membuat ibuku lebih cemas lagi dari ini jika aku benar-benar bergabung.

Karena itu setiap ada tawaran dari mereka aku menolaknya dengan keras.

.

Hingga suatu kejadian terjadi..." Akashi merendahkan suaranya. Ia tampak ragu untuk melanjutkannya.

"Kejadian?" Kuroko balik bertanya. Tangannya secara refelks menggenggam jemari besar sang merah yang bergetar.

"Akashi-kun..." Wajah Kuroko mendekat untuk melihat paras tampan sang scarlet lebih jelas. Aroma vanilla khas yang dipancarkan Kuroko membuat Akashi serasa tenggelam dalam aquamarine milik sang biru muda.

Akashi menghela nafasnya lalu menatap tajam Kuroko. "Tetsuna" nada suaranya yang sama sekali tak ramah. "Aku hanya menceritakan ini kepadamu, jangan pernah menceritakannya kepada siapa pun."

Kuroko meneguk ludah, kemudian mengangguk dengan mantap.

.

.

"...Ayahku membunuh ibuku.."

Sang biru muda membulatkan sepasang azurenya. Ia tak percaya dengan apa yang Akashi ucapkan. Bibirnya bergetar berusaha mengucapkan sesuatu. "Ke-Kenapa...?"

Akashi melirik Kuroko, ia nampak terkejut dan bergetar. Ingin sekali sang scarlet mendekat dan mendekap gadis dihadapannya. Tetapi tubuh dan tangannya bahkan terasa terlalu berat untuk hanya menggenggam jemari Kuroko yang ikut bergetar karena terkejut.

"Ayahku bilang kalau ibuku mengganggu usaha yang sedang ia bangun, untuk membuatku menjadi sempurna. Karena latihan berat yang ku dapat dari ayahku yang bahkan tak mengijinkanku bernafas barang sedetik, ibuku otomatis menentang keras usaha latihan tersebut.

Ayahku sangat benci dengan orang yang menghalangi jalannya. Hingga mereka terlibat dalam pertengkaran hebat.

Dikarenakan dibutakan oleh amarah, tanpa berfikir panjang ayahku meraih sebuah tempat lilin dan memukulkannya kepada ibuku.

Kepala ibuku berdarah dan cairan merah tersebut tidak berhenti mengalir dari kening ibuku. Tentu saja aku ikut marah kepada ayahku. Bisa-bisanya ia melukai seorang yang sangat kusayangi dan sangat berharga dalam hidupku.

Saat ayahku meraih sebuah benda tajam dan mengarahkannya kepadaku yang berusaha melindungi ibu. Entah sejak kapan ibuku sudah berada dihadapanku menghalangi ayahku yang mengarahkan mata benda tajamnya ke arahku.

Benda tajam tersebut tepat menusuk pada jantung ibuku..."

Kuroko terdiam, ia tak dapat merespon apa-apa. Ia tak bisa berkata apa-apa. Sang biru muda memasang wajah sendu sembari menatap Akashi seakan ingin memeluknya.

"Kau tahu sendiri apa selanjutnya..." walau ia menceritakan kisah sedih tentang masa lalunya, pada akhirnya ia tetap tersenyum sambil menatap Kuroko lembut.

"...G-Gomenasai..." suaranya lirih dan bergetar. Ia menundukkan kepalanya sehingga poni birunya menutupi sepasang manik laut indah yang menenggelamkan miliknya.

"Kamu tidak perlu minta maaf, itu sudah lama berlalu."

"T-Tapi... Aku sudah membuat Akashi-kun menceritakan ...kisah yang sangat sedih.."

"Aku sudah tidak apa-apa kok."

Keadaan mereka kembali sunyi, hingga hanya terdengar deru nafas mereka berdua serta usapan lembut Akashi di pucuk kepala Kuroko.

.

"Tak usah membuat wajah seperti itu." Akashi terkekeh kecil, ia masih tersenyum pada Kuroko yang masih memasang wajah sendu.

"Sebenarnya aku cukup ragu untuk menatakan hal ini kepadamu... tapi melihat wajah cantikmu yang mulai banjir air mata, aku tidak punya pilihan selain menghiburmu."

Kata-kata yang diucapkan Akashi membuat sang baby-blue mengerjap bingung. Apa yang ia katakan?

"Lagipula aku tak ingin Tetsuna semakin diincar oleh lelaki lain.."

Akashi beranjak dari duduknya, kemudian berlutut di hadapan Kuroko sambil meraih salah satu tangannya.

Dengan perlahan ia dekatkan wajahnya pada punggung tangan sang gadis, kemudian mengecupnya dengan lembut.

"E-Eh?" Kuroko gelagapan. Tidakan mendadak Akashi membuat wajahnya merah merona.

"Kuroko Tetsuna,

Maukah engkau menikah denganku?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

HEH!?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To

.

Be

.

Continue

.

.


A/N : Singkat? Aku tahu, sangat tahu. Banyak typo? Aku tahu, ngeditnya nggak niat soalnya. (Lagipula sebagian chap ini dituliskan oleh temen author karena Mari lagi mager)

THANKS TO SACCHAN YG BANTUIN AKU NULIS FIC INI! LAP YU SACCHAN! (=3=) JGN LUPA PESENAN ANIMEKU YA!~ :D

Untuk beberapa alasan Mari harus apdet lama... tapi alasan utamanya adalah karena laptop Mari lagi agak error dan MS Word Mari tak bisa dibuka dan dipakai entah mengapa.. DDX

Dari pada pusing... bagaimana kalau kita jawab review kalian dulu :

Hiro Mineha : sorry for keep you waiting (/) Mari berterimakasih kalo Hiro-san masih setia baca fic Mari! Walo authornya kurang ajar minta ampun sih (_ _) kise sedang merantau entah berantah :D Mayu-senpai tetap hot seperti biasa ;D dan lemon? Tolong tunggu waktunya nak...

Guest : terima kasih telah membaca dan maaf telah membuat anda menunggu (_ _) Akashi berubah? Hmm semua tergantung pada endingnya :DD sekali lagi arigatou gozaimasu (/)

Kyunauzunami : silahkan nikmati hidangannya!~ ;D Douzo onegaishimasu~~

Levieren225 : sory for keep waiting kak :D btw, aku penggemar fic-fic kakak yang dari fandom SnK lho! (/) Douzo onegaishimasu!~

Bagi yang setia makasih banyak udah sabar nunggu (_ _)

Oh, dan catatan kecil buat Tachibanaa Ren yang bakal baca fic ini juga : utangku dah beres kan? Udah jangan banyak bacot dan nikmati aja apa yg sudah kamu tunggu ini.

Review Senpai~