Bohong! up nya sekarang.. bukan akhir minggu hahaha XDXD
CWTCH
HoMin
Chapter 7
Warning : Typos, OOC, and banyak kata kasar.
Teruntuk semua HoMin Shipper, yang telah ada dan membacaku.. Thank you!
Enjoy!
.
.
"Changmin-ah?!"
Keras panggilan Kyuhyun membuat DVD dalam genggaman Changmin terlepas. Ia melamun lagi.
"Waeee?" sahut Changmin bosan.
"Kau sudah tuli atau memang tidak mau menjawabku, huh?" sungut Kyuhyun, berkacak pinggang.
"Aku tidak dengar!" Changmin berjongkok memungut DVD diatas lantai, "ada apa?"
"Eh? Kenapa dengan wajah panjang itu? Kenapa pula bibirmu bisa pecah begitu?" serbu Kyuhyun meremas-remas rahang Changmin.
"Tsk! Singkirkan tanganmu dari wajahku!" Changmin mengibaskan tangan, menjauhkan tangan Kyuhyun dari wajah.
"Apa Yunho-Hyung menggigitmu?" celetuk Kyuhyun, asal.
"Kuharap begitu." Changmin membuang wajah, ia mengulum suara.
"Mwo? Bicara yang jelas, jangan berbicara dengan menahan suara di dalam mulut seperti itu!" hardik Kyuhyun, berpolah kasar.
"Oh, mwo-yah! Jangan membentakku! Kau berani membentakku? Aishh.."
Meringis, desisan Changmin yang lebih menyeramkan dibandingkan dengan bentakkan yang Kyuhyun ciptakan membuat Kyuhyun mundur beberapa langkah. Ia menempatkan dirinya disudut ruangan, mengeratkan tali sepatu bersiap untuk meregangkan badan.
"Apa kau lihat mobil Yunho-Hyung masih diluar?" tanya Changmin kemudian, mendekat tubuhnya pada dimana Kyhuhyun berada.
"Masih," jawab Kyuhyun. "apa dia akan keluar?" tanyanya kemudian.
Changmin memberi anggukan samar, "Dia akan ke Busan, menemani Soo Jin memilih gaun pengantinnya."
"Apa?" Kyuhyun melaung. Mendadak ia kesususahan menelan air putih yang telah ia kulum, "kau pasti sedang bercanda!"
Changmin diam, kali ini ia menggelengkan kepala. "Aku tidak! Kau bisa tanyakan sendiri padanya."
"Lalu kau diam saja?"
"Tidak! Aku sudah mengucapkan selamat untuknya."
Ruangan senyap, dinginpun lambat-lambat merayap dekat. Kyuhyun urung menggerakkan tubuhnya untuk latihan dance, namun ia pun tak yakin benar apa yang harus ia katakan untuk meredam embusan nafas lelah Changmin yang teramat dalam. Sementara itu Changmin sendiri tak berbeda. Dia memperhatikan pantulan tubuhnya di dalam cermin melebar didepan mata. Dia tetap Changmin seperti yang dipikirkannya, akan tetapi dia bukan lagi Changmin seperti biasanya.
"Ah, kau belum menjawab kenapa bibirmu bisa terluka?" kata Kyuhyun memecah keheningan.
"Uuuh?" Changmin mengulur suara, ia memeluk kaki, menempatkan ujung dagu diatas lututnya. "hal sepele, antara aku dan Nana."
"Nana bisa sekeras itu memukulmu?" Kyuhyun mengangga, membulatkan mata.
"Bukan dia."
"Lantas?"
"Orang lain yang lebih dulu mengenalinya." jawab Changmin, lemah.
Bahkan rasa sakit tak mengunjungi hatinya saat Changmin mengetahui ia bukanlah satu-satunya bagi Nana. Nyeri di hati layaknya kisah sedih dalam drama, yang seharusnya ada samasekali tak hadir dalam hati Changmin. Mungkin ia memiliki kekesalan, namun itu bukan lara sebab cinta, namun hanya bentuk kecewa karena dusta.
Bentuk geram yang menyambangi hatinya kala mendapati pria lain menyebut Nana sebagai kekasihnya, amat jauh berbeda dari geram yang ada saat Yunho mengatakan dirinya hendak menikah. Tak pasti apa yang tengah Changmin rasakan, semuanya bagai menggumpal didalam badan, nyaris menyumbat seluruh jalan pernafasan.
"Nana tidak menghianatiku, tapi dia menghianati kekasihnya denganku."
"Oh, Changmin.." Kyuhyun turut melemah, ia hanya dapat menenangkan Changmin dengan sentuhan persahabatan. "apa pukulan orang itu menyakitkan?"
"Sama sekali tidak, hanya seperti aku sedang melayang, sebentar." Changmin menyentuh ujung bibirnya.
"Aku tahu, pasti menyakitkan. Tak perlu kau sembunyikan, teriris ujung belati saja kau merengek pada Yunho-Hyung, apa lagi sampai bibirmu pecah begitu, pasti kau tidur dalam pelukannya."
Tak munafik, memang rasanya teramat sakit yang Changmin dapat, namun bukan pada bagian pecah di bibir bawah, melainkan pada rasa dingin saat mata kembali terbuka namun Yunho tak berada diatas ranjang yang sama dengannya.
Changmin tersenyum masam, meringis menjilat bibir yang belum kering sempurna. "Tapi kau tahu, Kyu. Rasanya sama sekali tak menyakitkan seperti sekarang."
"Kau?" Kyuhyun memindai wajah Changmin. Meneliti, ia mencari-cari jawabnya sendiri.
"Aku tidak! Berulang kepalaku berkata tidak. Tapi nyatanya hatiku bergejolak! Dan rasanya sudah akan koyak" bibir Changmin bergetar. Ia menahan deram dalam badan.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Apa yang kau mau?" Kyuhyun meruncingkan bibirnya, gemas.
"Aku ingin tahu, tapi aku tak mau bertanya."
"Aishhh! Kau ini bodoh sekali, mati sajalah!" Kyuhyun geram, memberdirikan badan. "aku tahu kau sedang tidak terima, tapi pada bagian yang mana? Nana, atau Yunho-Hyung yang mau menikah?" Kyuhyun menunduk, berkacak pinggang pada Changmin yang masih betah memeluk kaki diatas lantai.
"Kubilang jangan membentakku! Bisamu hanya mengataiku bodoh. Kau tidak tahu dimana posisiku!" Changmin mendengking membuka kaki, duduk bersila mengangkat wajahnya, mendesis keras pada Kyuhyun yang lantas hanya dapat menggigit ujung lidah.
"Ada apa ini?" Suara mendalam, tetiba menginterupsi Kyuhyun dan Changmin.
"Oh, Hyung!"
"Ah, Anyyeong-hasseyou, Hyung!" sapa Kyuhyun menundukan kepala pada Yunho yang berjalan mendekat.
"Anyyeong!" sahut Yunho, menepuk mantap ujung pundak Kyuhyun. "siapa yang berteriak tadi?"
"Tentunya bukan aku." Kyuhyun menyilangkan tangan didepan dada.
"Ada yang salah, Changminnie?" kata Yunho, seraya mengulurkan tangan mengendaki Changmin meninggalkan dingin lantai ruangan. "bangun!"
Changmin menggedikkan bahu, menggeleng perlahan. "Kyuhyun sedikit menjengkelkan." gumamnya, seraya memberdirikan badan.
"Itu karena.."
"Kyuuu!" serbu Changmin, mendadak membuat Kyuhyun kembali menggigit lidah.
Sedang Yunho tersenyum samar, tetap memiliki tangan kanan Changmin dalam genggaman. Tetiba semuanya terasa nyaman, dan hangat, bahkan menenangkan diri Changmin yang semula teramat kusut tak bersemangat.
"Apa itu rahasia?" selidik Yunho, penuh canda.
"Jangan pedulikan dia!" Changmin mengibaskan tangan untuk Kyuhyun. "kukira kau sudah berangkat, Hyung."
Yunho menggeleng, "Belum. Aku masih menunggu Soo Jin menghubungiku dulu, kami akan berangkat bersama."
"Bagaimana keadaan tanganmu?"
"Lumayan, sudah tak sesakit kemarin hari."
"Eh? Kenapa tanganmu bisa terluka, Hyung?" Kyuhyun menyela.
"Hal sepele. Aku dan samsak tinju baru." Yunho menunjukkan tanganya yang masih berbalut kain kasa. "kalian mau makan siang dulu? Kita makan siang bersama, sebelum aku berangat?"
"Aku tidak ikut!" tawaran Yunho sertamerta Changmin tolak, ia menggelengkan kepala juga hendak menarik tangannya dari genggaman Yunho, namun ia tetap tertahan.
"Changmin, wae?" tanya Yunho risau, Changmin yang mendadak melipat wajah membuat ia semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Aku tidak lapar. Kau makan sendiri saja, dan hati-hati saat kau berangkat ke Busan nanti." Suara Changmin merendah, ia juga kian menarik tubuhnya, membuat jarak.
"Oh, baiklah." Yunho mengurai genggaman tangan, "bagaimana denganmu, Kyu?" lanjutnya pada Kyuhyun, berwajah ceria, kendati dingin udara seketika menempati telapak tangan dan merayap pada seluruh badan.
"Maaf sekali, aku juga tidak bisa Hyung. Banyak gerakan dansa yang aku lupa, dan aku harus mempelajari ulang semuanya." sahut Kyuhyun, sedikit menundukkan badan.
"Oh, Ok! Kalau begitu aku akan makan sendiri dan sekalian pamit saja. Changmin, sampai nanti." Yunho memulai langkah mundur, "Kyu? Tolong jagakan dia untukku!" teriaknya sembari mengangkat tangan ke udara.
Saat Kyuhyun menyahut lantang ucapan Yunho, Changmin justru tak bersuara ataupun menganggukkan kepala, dia hanya diam memperhatikan punggung Yunho yang kian mengecil selanjutnya menghilang dibalik pintu keluar. Changmin mengepalkan tangan, lantaran dingin tiba-tiba menyergap tubuhnya saat Yunho melepaskan genggamannya. Ingin kakinya membuat gerakan, namun badan tertahan, ingin ia menyerukan, namun lidahnya bagai terjerat tambang.
"Jauh didalam dirimu, kau tahu apa yang sedang kau lakukan adalah salah. Dan jauh didalam sana, kau sudah amat tahu apa sedang kau inginkan!" Kyuhyun menepuk punggung Changmin, suaranya dalam, membangkitkan.
"Tidak! Memang seharusnya seperti ini. Aku sudah bilang, aku turut berbahagia." Sanggah Changmin, berpolah tegap dia.
Sepeninggal Yunho, Kyuhyun lantas melakukan apa yang sudah ia katakan. Tubuhnya melikuk ke segala arah mengulangi gerakan koreo yang sama, sementara Changmin kembali duduk bersila berkutat dengan ponselnya. Ia tak merasa harus berlatih sendirian sementara Yunho sedang bersenang-senang dengan perempuan.
"Yo, Changmin-ah?" panggilan Minho mendadak tinggi mengudara, ia berlari mendekat membawa wajah cemas.
"Ada apa?" tanya Changmin menyambutnya.
"Bagaimana keadaan Yunho-Hyung? Dia tidak apa-apa, bukan?"
"Uuh.. Yunho-Hyungie?" Changmin tak tanggap, ia menggaruk ujung telinga.
"Pastikan kau menghiburnya dan pastikan pula dia tidak akan depresi. Kau harus selalu bersamanya, buat dia tidak memikirkan tentang masalah itu!"
"Minho-ah.. kau ini ada apa?" Changmin tetap tak dapat menangkap. Minho yang berlarian, mendadak menyerbu dirinya dengan hal membingungkan hanya membuat Changmin mengedipkan mata.
"Yah! Kau berisik! Ada apa?" sungut Kyuhyun, setelah putaran DVD ia hentikan.
"Aku hanya menanyakan dan berpesan hal sederhana untuk Yunho Hyung pada Changmin. AKu tidak ingin orang yang sudah seperti kakak laki-lakiku itu depresi." jawab Minho apa adanya.
"Aiish kau ini." Kyuhyun mengibaskan tangan.
"Ah sakit!" jerit Minho memegangi kepala. "kau ini kasar sekali. Apa salahku?" dengusnya.
"Minho-ah? katakan ada apa?" Changmin kali ini, suaranya rendah namun mendalam, ia menginginkan kejelasan.
"What?" Minho memekik, wajah terkejut ia tunjukkan. "apa-apaan ini, jadi kau tidak tahu?"
"Kubilang ada apa? jelaskan!" Changmin menderam, ia menggenggam lengan Minho kuat-kuat.
Saat Changmin dan Kyuhyun mendengarkan, Minho lantas menceritakan. Ia bahkan menunjukkan sedikit gambar hitam putih memburam seperti seseorang berada ditengah malam. Sosoknya tinggi memakai topi, mantel hitam legam namun tak menunjukkan wajah dari sang badan.
"Apa menurutmu ini Yunho-Hyung?" tanya Minho kemudian.
"Tidak mungkin. Apa perlunya dia melakukan kekerasan ini?" kata Kyuhyun, menggigit sudut bibir.
"Mungkin ada sesuatu yang membuatnya marah." tebak Minho, menerawang siang.
"Kau dapat ini dari mana?" selidik Kyuhyun.
"Managerku. Tapi tenang saja, berita ini tak akan menyebar luas. Beberapa orang dalam telah mengendalikannya."
"Kau yakin?"
Minho mengangguk mantab. "Maka tak mengherankan jika sebagian banyak dari kita tak ada yang tahu. Hanya kasihan sekali, belum lama tadi Yunho-Hyung sempat dimarahi. Tapi tak masuk akal sekali jika Changmin juga tidak tahu, kalian masih satu rumah, kan?"
Changmin mengangkat wajah, ia mendengar tapi tak membuat tanggapan. Sedangkan Kyuhyun meremas ujung pundak Changmin, dia telah paham, namun tak sertamerta mengatakan. "Mungkin memang dia, sebab itu tangannya terluka. Dan kau tahu benar Changmin, Yunho-Hyung sanggup melakukan itu pada siapa, dan untuk siapa.."
Changmin menunduk, bibirnya rapat mengatup. Ia merangkai dan memutar ulang semua yang telah dilaluinya. Tiba-tiba penyesalan menyelubungi dirinya, mengapa ia harus memeluk Nana ditengah ruangan lantaran kesal mendapati Yunho mengangkat telephone dari Soo Jin lalu berjalan menuju kamar. Kekesalan semakin membuncah saat Yunho kemudian berpamitan keluar, kenapa Yunho tidak sedikitpun menghentikan langkah dan membalikkan badan, sekedar untuk mengetahui Changmin yang telah kembali membuat jarak dari Nana.
Dengan alasan lapar dan tak mau makan dirumah, Changmin kemudian mengajak Nana untuk menyusul Yunho keluar rumah. Namun sayang sekali Changmin telah kehilangan langkah, berakhir ia menuruti kemauan Nana untuk berjalan kaki disore hari mengelilingi jalanan Korea. Berujung pada bertemunya mereka berdua dengan seorang pemuda, seorang laki-laki yang mengaku lebih dulu menjalin hubungan dengan Nana. Adu mulut sempat tak terelakkan, sedikit dorongan ia terima hingga berakhir dengan sebuah pukulan pada wajah.
Mungkin Changmin merasa sendirian kala itu, tak ada yang memperhatikan, tak ada yang akan dimintai pertolongan, sedang kenyataannya Yunho tengah memperhatikan selanjutnya membuat ia nekat berbuat kekerasan.
Mungkin pula Changmin merasa tak perlu melawan, ia sadar akan kesalahan, ia paham akan geram dan sakit hati yang sedang dirasakan oleh lelaki yang telah lebih dulu bersama dengan Nana. Pada hantaman pertama yang mengenai wajahnya, pada detik itu pula Changmin sadar ia tak memiliki cinta untuk Nana.
Akan tetapi, Changmin tetap tak memiliki keberanian untuk berucap selain 'Kakak' saat Yunho tak segan menenangkan dan memeluk dirinya. Bagaimana bisa ia akan menghacurkan titian jalan seseorang yang hendak menikah.
"Hey!Kau mau kemana?" teriak Kyuhyun menggema, namun suaranya tak didengar oleh Changmin yang telah berlari panjang meninggalkan ruangan.
Changmin tahu benar Yunho sedang tidak ada dirumah, mungkin saja dia sedang berada dalam perjalanan, namun Changmin tetap meroda menuju pulang, ia bertekad hendak menunggu Yunho kembali datang.
Changmin meroda kilat, bahkan sempat menerobos lampu peringatan dan melanggar peraturan, ia hanya ingin cepat sampai rumah dan memperbaiki semuanya. Saat telah sampai ia didepan pintu rumah, Changmin berdiri sejenak mengatur nafasnya. Dan ketika semua terasa lebih ringan, Changmin kemudian menjulurkan tangan, namun belum sempat door code ia tekan, pintu rumah sudah terbuka dari dalam.
"Changmin?" Yunho terperanga.
Sedang Changmin tak menghiraukannya, Changmin menembus batas pintu rumah, ia menabrak tubuh Yunho dengan pelukan erat. Nafas Changmin menderu dibelakang telinga, ia meremas kemeja yang Yunho kenakan.
"Kau tidak apa-apa?" ucap Yunho, seraya ia menyambut pelukan Changmin. Tangannya bergerak lembut menyentuh punggung dan tengkuk, Yunho bertanya layaknya ia bersenandung, suaranya menenangkan ketika memasuki telinga, Changmin menggeleng samar menutup mata.
"I miss you!" desau Changmin, tetap tak melepaskan pelukan. "maafkan aku!" pintanya, suaranya tertahan sebab Changmin menempatkan bibirnya diatas pundak Yunho.
Desir manis suara Changmin membuat Yunho tersenyum kecil. Sekilas ia mencium belakang telinga Changmin, pelukannya semakin mengerat, seiring lilitan tangan Changmin yang seolah menolak terlepas. "Aku tahu. Aku pun sama," Yunho meremas tengkuk leher Changmin. "tak ada yang perlu dimaafkan, jangan meminta maaf! Aku sudah sangat bahagia jika kau tidak apa-apa. Jangan mencuri gadis orang lain lagi, atau kau yang akan aku pukuli. Mengerti?"
"Bukan itu!" Changmin mengerang, ia perlahan melepas pelukan, namun tak melepaskan remasan tangan pada kemeja yang Yunho gunakan.
"Oppa, kau lama sekali!"
Belum sempat kalimat panjang Changmin tuturkan, suara manja seorang wanita tiba-tiba menengahi tubuh mereka berdua. Keluar seorang wanita dari pintu elevator yang terbuka, seseorang yang lantas berdiri terperanga didepan ambang pintu rumah mendapati Yunho dan Changmin berhadapan teramat dekat.
"Noona?" sebut Chagmin rendah.
"Oh, Soo Jin-ah, maaf membuatmu menunggu lama." Yunho berkata, Ia membuka ruang untuk Soo Jin dapat berjalan kedalam rumah. Sementara itu, ditiap gerakannya, Yunho tetap merangkul pundak Changmin dengan tangan kirinya.
Pintu apartemen menderam sesaat ketika Soo Jin telah berada didalam ruangan. Changmin memilih duduk didatas kursi makan, sementara Yunho berhadapan dengan Soo Jin diatas sofa.
"Sebenarnya sudah kutemukan, hanya tadi aku harus berbicara sedikit hal dengan Changmin. Maaf membuatmu menunggu lama, sampai-sampai kau menyusul kesini." ucap Yuho pada Soo Jin.
"Bukan apa-apa, lagi pula berada di basement, duduk didalam mobil juga tidak nyaman." sahut Soo Jin, dengan senyuman. "Ah, Changmin-Shi.. kau tidak ada kesibukkan hari ini? Kukira kau akan sibuk di gedung SM untuk berbagai hal."
Changmin meggeleng kecut, ia tersenyum masam. "Tidak, hari ini aku ingin berada dirumah." jawabnya.
"Ah, Changmin-ah. aku akan pulang besok pagi. Jadi kau tidak perlu menungguku pulang malam nanti."
Ucapan Yunho membuat Changmin memburam seketika, mungkin ia menganggukkan kepala, Changmin juga mengatakan 'tak apa-apa' namun diatas semua itu, kata kesal nan cemburu terlihat jelas dalam wajahnya yang merengut lucu.
"Kalian hati-hati saja, aku megantuk sekali aku akan tidur. Kalau kalian sudah akan pergi, pergi saja, jangan bangunkan aku."
Changmin melenggang meninggalkan derik kasar dari kursi dan lantai yang bergesekkan dibelakang. Ia menyibakkan tirai dan membuka pintu kamar dengan kasar, derap gema pun juga terdengar hingar saat pintu kembali tertutup dari dalam, Changmin menyembunyikan tubuh beserta seluruh lelah dan rasa dibawah gulungan selimut dan bantal.
"Apa kau tidak memberitahunya?" tanya Soo Jin berbisik saat hening kembali menyapa.
"Belum." jawab Yunho sedikit tersenyum.
.
.
.
To Be Continued
Kalian tahu apa yang belum dikatakan Yunho?
Aku juga g tahu.. hehe
Jadi bagaimana? Mau dilanjut? Atau ditamatin besok?
With Love
Ino Cassio.
