Howa : terima kasih buanyakss atas segala
review yang telah anda berikan! ;D *ditimpuk audience*
Audience : MANE KATANYA TANGGAL 30
MANE?! 30 MBAH MU! DDDX#Ngamukk..
Howa : nah, ini tanggal 30 'kan..? #watados. *disiram air keras*
Audience : IYE, TAPI TANGGAL 30 BULAN APE..?!
Disclimera - Yoshiro Togaishi-sensei.
Rated - T. Prodak ini memuat konten konten remaja, pantaran 9 tahun ke atas (menurut lembaga survei Adel). Harap bimbing anak anda yang masih di bawah umur dalam membaca fic ini.
Genre- Humorandom (ketidak becusan author dalam ngebanyol) and Romancelek (bukti dari kePA'-an author dalam mengolah bahan baku).
Summary - Chap 7 : Tell Me, Why Do You Have To Go And Make Things So Complicated? Ternyata, bukan hal gampang dalam membina hubungan. Yang awalnya bukan masalah, bisa jadi masalah. Lalu, kenapa celah ini tidak dimanfaatkan dengan baik?
Kode Merah (sabda Skipper : "Berharaplah kau hidup tidak untuk melihatnya..") - OOC-DOC, CCD, cerita membingungkan anda pasti sulit menyerap isi dari fic ini. Humornya GARINGNGENESS, Romance duskampret, dan lagi misstype serangkai bersarang disini. Semua itu karena authornya pelarian Snnare Institute. Bagi anda yang hanya membaca fic fic kece badai harap tutup tab ini atau kembali ke HxH archive, karena fic ini bukan yang macam itu. Penting buat anda bahwa perusahaan yang menghandle fic ini —alias PT. ADEL MEMANG KEPO— tidak memberikan asuransi jiwa buat anda jika otak anda terbakar saat membaca seperti Patrick. Produk ini tidak disarankan untuk orang orang normal, takutnya abis baca ini langsung nggak normal. Slight betawi language. Terakhir yang anda harus tau jika menyukai fic ini harap bacakan di kelasmu besok pagi jika tidak suka, silahkan lindas gadget anda dengan truk sampah ehm— ralat, lindas aja authornya dengan tronton (audience : HOREEee..!).
LMHBS
(LeMas HaBiS duit)
Chapter 7
Tell Me, Why Do You Have To Go And Make Things So Complicated?
Diproduksi Oleh
PT. ADEL MEMANG KEPO INVESTAMA .Tbk. Jl. Perum 4 No. 196 Sabi (SArang BAbi) City-Indahnesia.
Ide Produk
MirrorMirror Hanging On The Wall (Howaa)
Lampu kamera para kameramen nan kepo yang saling menampar cahaya sungguh menyilaukan mata, sama, toh beberapa orang juga terlihat memotret, merekam, bahkan mengajukan pertanyaan pada seseorang yang nyawanya sudah di awang awang, mulutnya berbusa. Katanya habis dugem, mabuk dan kecelakaan di jalanan. Yang sayangnya sih, mobilnya, Mercy keluaran terbaru! Author juga masih mau! *mauan*. Tapi sayang, keempukan jok, kelembutan setir, dan kinclongnya bodi mobil telah ringsek semua karena sebuah truk yang bentuknya mirip molen. Korban jiwa, cuma 1, yaitu si pengendara tunggal Baby Benz alias Mercedes Benz ini. Supir dan kenek truk molen selamat.
Selelah mayat, yang dikira memang sudah menjadi mayat alias nggak hidup lagi diseret ke dalam ambulan. Rombongan mahluk yang kepo ini mengejar ngejar, tapi sayang kaki mereka tidak bisa menyaingi kecepatan Pagani Zonda atau ambulan yang melaju dalam kecepatan 100Km/jam itu sekalipun.
"Kasiaann.."
"Woi, pamali luh ngomong kaya gitu! Orang lagi ketiban masalah juga, nanti lu kena musibah juga loh!"
"Yee.. Enak aje, lu aja sono!"
Itulah dia, Salnark dan Franklin cuma bisa melihat pemandangan darah berdarah karena sedan VS truk molen dari kejauhan, dari sebuah kafe lumayan kece yang kopi secangkirnya itu aja harganya bisa sampai 50 ribuan. Niat nolongin sih tak ada, padahal jikalau warganya belum datang, boleh lah mereka tilep semua barang pribadi si korban. Kaya dompet, gadget, perhiasan, kan lumayan tuh buat beli beras.
Kali ini mereka sengaja pergi ke kafe bersama Kuroro, katanya kalau di markas BT, berarti Kuroro yang jadi pimpinan bosen akan markasnya sendiri. Sebenarnya tak ada tujuan untuk memporak porandakan kafe orang atau ngapain, kali ini niat mereka tulus banget, *anjeer* buat hang out doang, kok!
"Selamat datang, mau pesan apa..?"
Seorang waitress mencurigakan tiba tiba datang ke meja dengan jalan menunduk, kenapa mencurigakan? Karena, bajunya itu kenapa jadi mirip seperti yang di pub seragam? Semua mata pun tertuju padanya tak terkecuali Kuroro. Sementara Salnark dan Franklin tengah memanjakan diri mereka dengan khayalan khayalan menyenangkan.
"Pemandangannya 'menenangkan hati' banget, ya..?"
Ucapan Kuroro meraih kesuksesan untuk menyadarkan para awak, Salnark dan Franklin yang paling merasa langsung beralih haluan lalu saling menyembunyikan tampang mesum mereka. Mending ngaca dulu sebelum bertindak. Si waitress tertawa kecil sambil tetap menunduk.
"Nih, dia duluan, nih!"
"Dih, kok gue?! Orang elu juga!"
Dan hal ini segaja Kuroro lakukan sebagai aksi lari, lari supaya dia tidak dicemooh sebagai otak mesum. Maka itu saat melihat anak buahnya saling melempar salah dia girang.
"Duhh.. Dasar cowok, ngeliat yang bening dikit langsung nengok. Pada panas mata.."
Kesenangan Kuroro kini sudah terganti rasa bingung dan kaget, benar benar tak percaya dia akan apa yang dilihatnya, begitu pula dengan Salnark dan Franklin. Tiga orang tersebut sekarang membelalakan mata, kaget betul mereka setelah melihat siapa sebenarnya yang bicara pada mereka. Waitress itu mengangkat wajahnya tadi, dan hal itu telah membuka wujud aslinya.
"Kuroro.. Katanya lu jealous ngeliat gue jalan sama Kurapika. Hayo, gimana sih? Eh, tapi pas ngeliat cewek yang kaya gini aja langsung lupa"
Kuroro diam tanpa kata kata, eh, jelas sudah yang bicara di atas itu Neon? Tapi dari pada diam, Kuroro lebih terlihat seker, kata kata Neon seolah mengintimidasinya. Aneh, begitu dia dan mata hitamnya menoleh ke kanan maupun kiri, tak didapatinya batang hidung Shalnark, apa lagi Franklin, mereka tiba tiba menghilang. Dan yang baru Kuroro sadari juga, tempatnya sekarang bukan kafe lagi, melainkan hanya sebuah ruangan gelap gulita, dan hanya ada lampu gantung diatas mejanya. Sementara Neon tau tau sudah duduk berhadap hadapan dengan Kuroro, dengan tatapan sinisnya *anjeer* menatap laki laki itu. Suasana mendadak hening.
"Kalo lo emang masih suka sama gue, buktiin. Jangan bisanya ngomong doang! Cowok apaan, tuh, nafsu gede tenaga kurang!"
'Anjrit, mimpi doang!' bathin Kuroro begitu tersadar dari mimpi yang kita kategorikan buruk nggak, baik juga nggak, apa lagi mimpi *****, nggak banget! Keringat mengucur deras dari seluruh tubuh, itu bisa terlihat jelas karena dia lagi bertelanjang dada. Okay, matanya lalu melirik nakal (?) pada jam dinding yang tertawa, aih jam setengah satu! Setengah satu siang. Tak mau lama lama membuang durasi selanjutnya dia duduk di tepi ranjang mencoba meratapi arti mimpinya, sayang dia tak punya koleksi buku tafsir mimpi seperti author Howa.
Tapi meskipun itu, tanpa perlu tau arti. Mimpi yang dialaminya ini membuatnya sadar kalau harus merebut milik orang.
Sebenar benarnya dari kebenaran yang paling benar, lebih dari banyak cewek diatas Neon yang bisa Kuroro tinggal tunjuk terus udah deh langsung ajak ngedate. Sebenarnya lagi, Neon udah pernah nembak Kuroro, tapi Kuroro tolak. Karena berbagai aspek yang gaje. Masih inget, nggak? Oh yaudah, bagus. Tapi.. Sekarang malah dia yang nyesel and kesel ngeliat Neon jalan sama cowok, cowoknya musuhnya pula. Begitulah, Kuroro mau memperbaiki kesalahan masa lalunya sekarang, satu satunya jalan yang paling ampuh ya nembak Neon balik. Tapi.. Diterima nggak ya? Nah itu dia yang dipertanyakan.
"Ngg... Kok, kamu mau sih bikin kue 8 jam demi aku..?" 'iya, soalnya gue bakalan ngelakuin apapun demi cinta lo sama gue!', duh Neon. Jangan ngarepin Kurapika jawab gitu, deh! Ngimpi! Sebenernya dia sih seneng Kurapika udah mau bikin kue 8 jam yang katanya, 'katanya' nih enak.
Sejujurnya, 'alasan' itu tak pernah muncul atau hanya setor muka di kepala Kurapika. Ketika saat itu diminta bikin kue 8 jam sama Riega yang main suruh aja, yaudah Kurapika mau mau aja. Tak ada pemikiran demi apa, demi apa. Tapi inilah dia, Kurapika jadi susah menjelaskannya bagaimana. Nanti kaau dijawab seadanya Neon pasti langsung lemas lelah letih lesu lunglai, karena Kurapika tau, Neon ngarep ngarep ngarep jawaban bagus.
Sudah dari 7 detik yang lalu Kurapika merasa nggak enak ditatap dengan tatapan 'ngarep' oleh Neon, mangkanya dia menggeser bola matanya yang biru ke kiri untuk menghindari tatapan tersebut. Jelas jelas sekarang dia lagi duduk di kursi, terus Neon ada di depannya membungkukan badan, mau mengelak kemana lagi?
"Yaa.. Nggak kenapa napa sih.." akhirnya Kurapika menjawab apa adanya.
Begitu mendengar jawabannya, Neon langsung membuka mata lebar lebar, mundur ke belakang seraya berkta "Ohh..". Dan ketegangan Kurapika pun berakhir.
Hari sudah berjalan seperti biasa, Light sudah pulang dari kota pulang kandang. Begitu pula para guardian lain yang selalu sigap, siap, mantap menunjukan sisi Kepo X Mupengnya ketika tau tentang relasi 'lain' dari tokoh utama cewek dan cowok kita. Satu satunya jalan agar Neon dapat leluasa berinteraksi dengan Kurapika yaitu diajaklah ke kamarnya. Light, si buapaknya Neon sendiri sempat kepo dan bertanya buat apa anaknya mengajak Kurapika masuk kamar, di kamarnya lama pula. Neon pun memberikan jawaban: "Emang mau tau banget ya..?" jangan ditiru sama orang tua ya adik adik dirumah, nanti bisa bisa ortu kamu dilaporin ke Komnas Kak Seto Ngelindungin Anak gara gara ngegaplok kamu ^^".
Dan tentang jawaban Kurapika, Neon cuma bisa bilang 'oohh..' yang diklaim oleh anak anak gahol sebagai jawaban tidak mengenakan, kehabisan bahan, dan ngeledek. Kalau dibilang Neon puas dengan jawaban Kurapika sih, nggak begitu. Puas nggak puasnya dia lebih tepat dibilang semi nggak puas, yaiyalah baca cahapter kemaren nggak, hayo? Kalau dikasih kesempatan oleh author, Neon pengen ngeliat sisi agresifnya Kurapika, err.. Yakin? Nggak gitu juga, sih. Yang Neon mau ya jangan kaya rasa susu kacang kedele yang tanpa gula, lah seenggaknya Kurapika ngapain gitu. Soalnya, Neon lebih suka cowok yang RoManTis, yang so sweet gitu. Soalnya si gadis muda ini juga nyadar, gaya pacaran mereka seperti anak anak SD yang baru kenal pacar pacaran. Lah, emang iya. Tapi, hasrat Neon sama sekali tak terendus Kurapika. Makin ke sini, Neon makin sering mikir dan menilai nilai, dia dan Kurapika malah seperti orang yang nggak pacaran, sebatas teman saja.
Setelah situasi hening dan genteng kamar Neon bener kembali (?), Kurapika pun disuruh keluar. Sementara itu di dalam kamar, Neon masih berdiri dengan gaya a la a la detektif nggak jadi gitu. Gimana caranya buat mancing ikan tanpa kail?, pikir Neon. Maksudnya itu gimana caranya dia mancing es mosi Kurapika sementara Neon sendiri nggak mau berbuat apa apa, maunya Neon sih dengan sendirinya Kurapika nyadar gitu, betapa hambarnya hubungan mereka.
Atau.. Neon bisa dapet itu ikan nggak perlu pake kail, Neon bisa langsung tangkap itu ikan.
Seiring dengan narasi yang makin panjang dan nggak lugas ini, senyum licik tiba tiba tersungging di wajah Neon. Ngerti juga dia.
"Kalau Kurapika nggak mau mulai duluan, berarti gue.."
Sebuah benda berukuran segede talenan sedang dimainkan oleh Gon, dan Killua juga ada di sebelahnya. Dua mata anak itu tampak serius sekaligus nafsu melihat apa yang tampil di layar benda tersebut, terutama Gon.
"Ohh.. Angry Birds itu yang kaya gini ya..?"
"Ya ampun, lu baru tau?!" kedua mata Killua langsung membelalak begitu mendengar apa yang dikatakan Gon.
"Iya.. Hehehe"
"Yaelah.."
Seperti biasa, situasi ini terjadi di kamar Gon dan Killua yang menjadi tempat perkara, TV 60" dan jam dinding yang tertawa menjadi saksi bisu. Jaman beralih musim bertukar, saat sedang jaman pas lagi jaman jamannya PS, GTA, jamannya Nittendo, Nittendo, sekarang tablet minum. Eits, kok tablet minum sih? Tablet PC! Samsung Galaxy Tab 5!(?).
Melihat Gon yang nggak bisa main Angry Birds, Killua geregetan dan ingin sekali merebut itu tablet langsung biar bisa dia mainin. Tapi Killua tak dapat menembus pertahanan Gon, padahal itu tablet punya dia, hadiah dari abangnya yang namanya tidak perlu disebutkan lagi. Dari pada melihat pemandangan Gon yang kalah terus dan kekalahan diri sendiri tidak bisa merebut tablet, maka itu Killua mengajak badannya untuk menyingkir keluar kamar.
"Killua, gue punya video Gangnam Style, nih!"
Tapi segera tertahan oleh perkataan Gon di atas. Sebagai anak muda (author : muda beneran gak, tuh?! *bletak!*), Killua tentunya nggak mau ketinggalan era, kalau lagi jamannya shuffle ya keliling sekomplek mencari orang yang bisa dijadikan guru, dan sekarang.. Lagi ngetrend gangnam style, bok! PSY! Makanya Killua langsung puter kayun balik ke arah Gon dan duduk di sebelahnya kembali.
"Ahahaha, biar afdol. Nyetelnya yang keceng deh ya, gue sambungin ke bass.."
Jujur, nyetel K-Pop emang nggak enak rasanya kalo nggak ngeliat videonya langsung. Karena, biasanya videonya ini meriah sekaligus menampilkan dancenya. Oke, langkah yang Gon ambil selanjutnya adalah mencolokkan kabel bass ke tablet. Canggih banget itu tablet. Jadi selain enak didengerin karena suaranya ajigile, bisa liat videonya juga.
"OPPAN GANGNAM STYLEEEEEEEEEEEEEEE!"
"BLETAKK!"
Baru lirik pertama diperdengarkan, kepala Gon digaplok pakai tablet oleh Killua. Aduh, sayang! Sayang tabletnya maksudnya..
"Woy, kuping lu swasta ye..?!" kata Killua, oh maap. Bentak Killua. Dia merasa sangat tidak nyaman dengan volume se-'kecil' itu, lagian kalo mau kenceng ya nggak usah sekenceng itu juga kali.
"Hah? Apa..?" Gon nggak bisa mendengar apa yang dikatakan Killua, yang dia bisa dengar hanyalah lagu Gangnam Style yang menggedor gedor gendang telinganya.
"Berisik, budeg!" bentak Killua, lagi.
"Haaahh..? Apa..?! Nggak kedengeran!" tapi respon Gon tetap sama.
Tak tahan dengan keadaan ini, entah dapat dari mana,
"DUAAAARRRRRRRRRRRR!"
Killua langsung membombardir TKP secara mem babi buta dengan bom molotov. Tinggal ditambahin 'rarara' doang tuh, jadi nama fandom sebelah.
"BERISIK, WOY!" tegas Killua dengan suara segede semut (?).
"KAMAR, KAMAR GUE INI!" tapi Gon tak mau kalah, tumben gak mau kalah.
"DIH, APA APAAN LUH?! INI KAMAR GUE TAUKK!" begitu juga dengan Killua. Debat mereka diiringi dengan sound track Gangnam Style yang suaranya saling beradu gede dengan suara mereka.
"TAPI APAAN LU ITU, NYETEL GANGNAM SYLENYA KURANG GEDE!"
"OH, LU MAU GUE GEDEIN LAGI VOLUMENYA?!" tantang Gon.
"IYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA..!"
Dan langsunglah Gon meluncur memperbesar besarkan lagi volume suara..
"HEEEEEEEEEEEEEEEEEEYY~! SEXY LADYYYYYYYYYYYYY!"
Seketika kaca jendela, gelas, maupun cermin yang ada di kamar langsung pecah dengan anggunnya. Sementara Killua tau tau sudah hadir ditemani dengan meriam dan 'isi'nya..
"BLDAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRR RRRRRRRRRRRRRR RRRRRRR...!"
.
.
.
Setelah keluar kamar dan meninggalkan Gon serta kehancuran di dalamnya, dari lorong Killua langsung berjalan pelan menuju kamar mandi yang ada di pojok, langkah kakinya terdengar berat tapi pelan, kesunyian menggentayangi rumah lb/lt 200/120 itu. Setau Killua, Leorio dapat shift malem.
"Krett.." bunyi engsel pintu kamar mandi yang karat, tapi Killua sudah terbiasa dengan bunyi mengerikan tersebut.
Setelah memijakan kaki di ubin kamar mandi yang selalu basah, Killua melanjutkan perjalanan ke washtafel. Keran air dinyalakan, lalu tangannya dibiarkan meraup air yang mengalir, sibakkan air itu ke wajah. Di atas washtafel, ada cermin seukuran manusia dewasa yang menempel ke tembok, Killua pandangi wajahnya yang dalam keadaan tampang asem.
Dari cermin, selain pantulan dirinya, ternyata Killua dapat melihat hal lain. Ada bayangan hitam di lorong yang berjalan lamban menuju tangga. Pintu kamar mandi tidak ditutup, Killua dapat melihat itu.
"Tap.."
"Tap..."
"Tap..."
Lalu kini suara langkah kaki dalam tempo sedang dari atas ke bawah tangga terdengar. Killua sudah tak dapat menahan gairah penasarannya, makanya dia dan kakinya keluar kamar mandi dengan langkah pasti. Dan taunya, yang dia dapati di lorong sana..
"Kreett.."
Bunyi pintu depan yang ditutup malah yang terdengar, Killua langsung menoleh ke ruang tamu sebagai sumber suara, dan tidak didapatinya seorang pun di sana.
"Aneh," bisiknya pelan.
"Hii.. Hii.. Hii.. Hii.."
'Sh*t! Perasaan gue nggak enak!' kata batinnya Killua. Di sepanjang lorong yang sepi tak ada siapapun, bahkan jangkrik dan hewan nokturnal lain tak mengaum, tapi.. Kenapa ada suara tawa mengerikan seperti itu?! Itu seperti bunyi.. Ya.. Tau kan?
Ternyata.. Di belakang Killua ada seseorang, seorang yang seluruh tubuhnya diselubungi bayangan hitam dari cahaya lampu. Killua dapat merasakan hawa hawa nggak ngenakin yang berhembus dari jasad fana tersebut, lalu dengan seluruh keberanian yang tak ada, Killua menoleh ke belakang..
"Gon?! Ngapain lu di sini?!"
"Nafas dan berdiri.." jawab Gon, mendengarnya, Killua langsung makin empet dengan tuh anak satu.
"Oh, gitu ya.." , "Jadi, bunyi kaki jalan itu elo ternyata..?" Killua mencoba mengambil kesimpulan.
"Lah iya, masa nggak napak!" Gon mengoreksi bahwa dirinya bukanlah (enter name here) yang terbang dan jalan nggak napak.
"Terus.. Bunyi Kuntilanak itu karena lu bunyiin ringtone..?" Killua lalu melirik apa yang ada di tangan Gon, itu hp Android. Samsul alias Samsung.
"Iya, lah. Mana mungkin ada setan beneran!"
"Ngomong setannya nggak usah ke gue kali..!" tapi Killua langsung merasa nggak enak sekaligus tersinggung dengan Gon, saat Gon ngomong 'setan' kenapa harus sambil natap ke mukanya?
"Yehh.. Jangan merasa.." jawaban klasik Gon.
Pada akhirnya, Killua pun merasa lega. Firasat firasat nggak ngeenakin sudah dibasmi dengan kebenaran yang ada. Killua pun mengambil nafas puas. Hingga.. Dia sadar 2 hal lain yang sebenarnya masih perlu dipertanyakan..
"Tapi.. Kalo gitu.. Siapa yang nutup pintu depan dan jalan di tangga..?"
f.l.s.b.c.k
Kira kira sudah satu jam berlalu sejak Kurapika pulang kembali ke rumahnya, alias bakil. Neon masih mengintip ngintip jam dinding yang tak tertawa, tumben, biasanya ketawa mulu. Setelah dilihat waktunya pas, dengan langkah mengendap ngendap ala spy nggak jadi, akhirnya Neon berhasil keluar rumah. Segala pertahanan CCTV rumah telah Neon bom bardir, begitu pula dengan bapaknya yang udah dikasih obat kesemutan, dan yang lainnya diberi racun sianida, mati dong?!
Sebelum hari makin malam dan malam, Neon memutuskan untuk pergi ke rumahnya Kurapika. Sebenernya dia mau apel gitu, mau ngapain dia di sana? Kelak kau akan mengetahuinya, (audience : dih, author apa banget sih?!). Soal rute rumah Kurapika, Neon sudah mengetahuinya, orang dia udah pernah kerumahnya di chapter sekian. Lalu setelah melewati berbagai kemelut lalu lintas Ibunya Si Kota dengan jalan kaki, sampailah dia pada sebuah rumah dengan hiasan jemuran di halamannya.
To : Kurapika
Coba keluar rumah, deh. SEKARANG!
"Neon..?"
Baru nggak nyampe sedetik Neon mengirim pesan singkat, eh tau tau Kurapika udah stand by di depan pintu. Neon sendiri yang tadi pandangannya masih ke layar hp langsung kaget begitu melihat penampakan tersebut. Author penasaran Neon pake kartu apa, sinyal anti bapuk.
_Loading_
"Ngg.. Ke sini ada perlu apa..?"
Kacang, Kurapika dikacangin sama Neon. Dia bertanya dan tidak dipubris oleh Neon itu namanya kacang. Mungkin karena nggak bisa jawab atau apa, Neon bungkam. Sama seperti suasana diam di kamar Kurapika ini, diam seolah orang yang ngacangin pacarnya ngomel. Kenapa kalau Neon ke rumah Kurapika selalu diajakin masuk ke dalam kamarnya? Tenang, jangan berpikir yang iya iya. Alasan Kurapika adalah males, kalo mereka ngobrol dan bincang bincang di ruang tamu atau di teras, lalu mahluk mahluk kepo lewat.. Kurapika pasti dikecengin, paling males deh tuh dia kalo digituin.
"Um, ah, nggak ada apa apa sih.." setelah beberapa menit kemudian, barulah Neon mudeng dan menjawab.
'Alah, bo'ong itu. Pasti ada sesuatu!' dan inner Kurapika tak percaya atas apa yang dikatakan perempuan itu.
Neon pun berjalan muter muter di kamar Kurapika, berhenti, jalan lagi terus baru duduk di ranjang. Tatapannya seperti orang yang tidak serius sembari melihat liat kuku hasil manicurenya. Sementara Kurapika sendiri masih berdiri di belakang pintu kamar.
"Sebenernya.. Gue mau putus,"
JLEEEEBB!
Langsung deh tuh, ekspresi Kurapika yang tadinya datar jadi berubah. Kalau author menjelaskan, susah. Berubahnya itu jadi seperti seorang eksekutif muda yang baru tau bahwa dia di PHK. Lagian Neon nggak salah ngomong, tuh? Beneran dia minta putus?!
"Ahahaha, nggak lah. Mana mungkin," yaelah, dasar tuh anak. Raut Kurapika pun kembali berubah tenang. "Aku kan masih sayang sama kamu" lalu merona, hampir Quick Melt. Neon belajar dari mana tuh ya, bisa ngomong kaya gitu?
Langkah selanjutnya, Neon merangkak berdiri lalu jalan pelan sekali, slow motion banget. Jalan ke arah Kurapika, mendekati Kurapika, dan Kurapika mulai curiga, sekaligus jedar-jeder alias deg degan. Dia curiga karena mukanya Neon seperti muka anak kecil yang nggak bisa serius, pengen serius tapi nggak bisa. Nih cewek mau ngapain?
"Makanya.. Boleh nggak,"
Neon berkata ketika sudah menapakan kakinya tepat di depan Kurapika, jarak diantara mereka sangat sedikit. Lalu dengan muka merona Kurapika curi curi jarak ke kiri, menghindari Neon dan apa yang akan dilakukannya nanti. Namanya juga Neon, saat Kurapika minggir 2 langkah sedikit, Neon cepat cepat mengikuti. Jadi bisa kita bilang usaha apa yang dilakukan Kurapika adalah sia sia. Begitu seterusnya hingga Kurapika mentok ke pojok, sebenarnya bukan pojok sih, cuma hanya saja ada lemari, jadi tak ada tempat lagi untuk Kurapika kabur. Sekarang wajah Kurapika sudah lebih merah dari apel Washington.
"A, aku.."
Seett.. Jarak dipersempit kembali, Neon yang ngomog 'aku' bener bener terdengar oleh Kurapika. Terutama wajan, eh wajah mereka itu jaraknya dekat, sangat. Err.. Posisinya lebih mirip seperti orang lagi mau ciuman, hahay.
Dan ternyata benar, sayangnya author nggak punya jangka sorong untuk mengukur jarak antar wajah mereka yang sudah tidak bisa diukur pake penggaris, karena Neon makin mengenyahkan jarak mereka tanpa memperdulikan blushingnya yang tingkat dewa serta jantung yang berdegup pelan sekencang drum yang ditabuh.
"OPPAN GANGNAM STYLEEEEEEEEEEEE!"
"DUAAAARRRRRRRRRRRR!"
"BERISIK, WOY!"
"KAMAR, KAMAR GUE INI!"
"DIH, APA APAAN LUH?! INI KAMAR GUE TAUKK!"
"TAPI APAAN LU ITU, NYETEL GANGNAM SYLENYA KURANG GEDE!"
"OH, LU MAU GUE GEDEIN LAGI VOLUMENYA?!"
"IYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA..!"
"HEEEEEEEEEEEEEEEYY~! SEXY LADYYYYYYYYYYYYYYY!"
"BDLAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRR RRRRRRRRRRRRR RRRRRRR...!"
Emang dasar nasib, mau Kurapika mau Neon mereka pada cengo. Yah, mungkin belum rejeki. Lagu itu menjadi batu sandungan sekaligus pengingat agar mereka tidak melakuan 'itu'. Sementara mereka masih dalam posisi masing masing, situasi hening sejenak.
.
.
.
"Ehh.. Mendingan besok lagi, deh.." kata Kurapika seraya menyingkir dari posisinya, blushing masih menggelayuti. Kalo dilanjutin kayanya engga banget, dah. Suasananya gak mendukung.
"Ah, iya.." jawab Neon, lalu dia juga ikut menyingkir.
Situasi hening, sunyi, senyap kembali. Dalam jarak yang saling berjauhan Neon dikit dikit nyolong pandang ke Kurapika sambil ditemani blushing yang masih mencoreng wajahnya, sementara Kurapika di sana memalingkan wajah. Apa yang tidak terjadi sebenarnya adalah ada ratusan kata yang ingin Neon ucapkan padanya, tapi semua itu tidak bisa lewat di tenggorokan.
"Kurapika.." panggil Neon dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Hn?" dan Kurapika dengan segera menoleh, jejak jejak rona di wajahnya tampak memudar.
.
.
1 detik..
.
.
2 detik..
.
.
3 detik..
.
.
4 detik..
.
.
.
.
.
.
12 detik..
.
.
"E.." tampak Neon mau membuka suaranya. Lalu.. Apakah yang akan dikatakannya?
.
"Nggak jadi deh, hehe.."
Dan Kurapika pun sweatdrop.
"Aku pulang dulu, ya.."
"Oh, yaudah.."
Padahal dalam hati, Neon inginnya dianter, itu! Dia sudah membayangkan bagaimana penawaran Kurapika. Tapi, setelah mendengar jawaban Kurapika straight banget, ya Neon nelen ludah. Dan jangan kata diantar sampai depan pintu, saat Neon meninggalkan kamar Kurapika aja si empunya kamar cuma dieemm. Yah, cowokulkas.
Di lorong, Neon menghela nafas sepanjang meteran tukang bangunan, ± 5m, nasib katanya. Nasib. Dengan langkah agak berat dia jejaki lantai kayu yang menjadi ubin itu, matanya berpandangan kosong. Keadaannya yang mungkin bisa dibilang galau didukung oleh situasi rumah yang sepi, sekilas dia dengar ada bunyi keran air menyala. Tapi semua itu dihiraukannya hingga saatnya turun tangga ke lantai dasar, terus hingga seluruhnya meninggalkan rumah lantai 2 itu.
F.l.s.b.c.k. End
Ah, akhirnya flesbek selesai. Kini, mari kita tengok bagaimana keadaan Neon yang sebenarnya.
Dengan langkah yang agak letoy, Neon melintasi gelapnya malam, yaiyalah masa malem malem terang! Seingatnya tadi saat baru keluar dari rumah Kurapika jam 8, dan sekarang dia sudah lumayan jauh dari rumahnya Kurapika. Dalam pikirannya yang selalu bercabang dan bercabang lagi banyak materi, seperti kejadian dirumah gacoannya tadi, introspeksi diri, 'Sebenernya apa yang gue lakukan ini salah nggak..?', dan Kurapika. Penjurian Neon sih mengatakan bahwa sebenernya Kurapika itu dingin?, nggak romantis, tapi kalau didekati langsung meleleh. Dan terakhir, hal yang hingga sekarang masih ia pertanyakan itu tentang 'Kurapika itu beneran suka nggak ya sama gue..?'.
Awalnya sih enak enak aja jalan menerawang, awalnya sih enak enak aja jalanan ramai banyak orang, itu awalnya. Tapi makin ke sini dan jalanan makin sepi, di perempatan jalan..
'Gawat, ada banci!'
Eehh.. Author kebingungan, settingnya ini bukan lagi di taman lawang kan ya? Tapi kok ada siluman setengah setengah begitu? Dengan spontan Neon langsung menghentikan langkahnya, begitupun aliran darahnya, nafasnya, detak jantungnya. Mati, dong?
Mungkin anda sering pergi ke puncak lalu macet, dan saat itu tiba, para sekong akan datang menyerbu anda meminta sedekah. Dan coba pikirkan sekali lagi, antara banci dan preman, anda lebih takut sama siapa? Err.. Belum pernah dikeroyok banci ya? (audience : oh, pengalaman nih, pernah dikeroyok?).
Udah, deh. Daripada Neon ngedengerin narasi author yang kepanjangan, dia dan kakinya langsung lari. Ya, lari dan
"BRUAKKKKK..!" jatuh tersungkur. Untungnya jalanan lagi sepi, jadi hanya bulanlah yang mentertawainya. Baru saja mau bangun dari posisinya yang tidak mengenakan, eh salah satu dari dua banci yang tadinya lagi enak mangkal di perempatan datang menghampiri. 'Gawat! Mampus gue!'. Mangkanya kalo yang nggak berpengalaman pake high heels mendingan pake sendal jepit aja lah.
"Duh," niatnya si banci yang tidak diketahui namanya ini sih mau mengulurkan tangan nologin Neon, tumben baek ye. Tapi..
"Engga mas, maap lewat doang. Ampun!" Neon malah berkata demikian.
Gaya gaya lemah gemulai cewek, make up medok cewek, dan rambut ikal panjang terurai sudah tak terbaca lagi sebagai cewek. Sekarang si banci ini tampangnya asem banget, gahar banget, apa banget! Neon pun pasrah, membuat orang naik darah.
"Apa? Lo berani manggil gue 'mas'..?" duh, kedengeran banget tuh suaranya ngebass. Neon geleng geleng dengan tampang takutnya.
"Lo kira gue mas mas, apa..?"
'Gawaaat..!' dalam posisi yang setengah bangun setengah nyusruk, satu satunya cewek beneran dalam kejadian ini pasrah. Dan ketika rasa takut itu memuncak..
"Lari!"
Sialnya, seseorang tiba tiba lewat sambil lari memperingatkan Neon, Neon cengo. Kaget banget dia ngeliat siapa orang itu sebenarnya. Dan di belakang orang yang lari makin menjauh itu terdapat rombongan banci yang ngamuk tampak menguber ubernya.
Si banci yang ada di hadapan Neon pun ikut menghayati pemandangan gaje tersebut, hingga ia sadar lalu menengok kembali ke Neon yang sudah membuatnya naik pitam. Tapi.. Ternyata Neon sudah tak ada di tempatnya, dia ikutan lari. Tampak kawannya si banci yang tadi nggak terlibat ngudak ngudak Neon. Terus.. Tunggu apa lagi? Orang terakhir di tempat itu langsung ikutan ngejar.
"Duh, lo gimana sih, cowok tapi kok takut sama banci..?!" protes Neon ketika posisi larinya sejajar dengan seseorang yang datang tiba tiba tadi.
Di sela nafas yang tak beraturan orang asing itu menjawab "Kalo preman preman gitu gue masih berani, tapi kalo banci, apa lagi yang lagi ngamuk. Ampun!"
Neon sih nggak tau masalah berususan dengan banci apa yang nyangsang ke orang di sebelahnya ini, itu tak perlu diperhitungkannya. Yang perlu diperhitungkan adalah usaha si banci banci itu dalam mengejar targetnya, sudah pake high heels 19 cm masih kuat lari mereka. Dan namanya genteng kali ya, Neon dengan mulusnya bisa lari cepet meskipun pake high heels.
Karena jarak lari mereka mereka ini makin jauh, si target alias Neon dan si orang asing makin capek. Begitu dipertemukan dengan jalan tikus* ( * : jalan sempit, gang, jalan pintas), dengan sigap orang asing langsung menyambet tangan Neon untuk membawanya ke jalan tikus tersebut, Neon sih nurut nurut aja. Lalu setelah para banci yang pada kalab lewat begitu saja dengan membabi butanya, Neon dan orang asing baru bisa mengambil nafas dalam selega leganya.
Setelah bisa mengatur nafas, Neon menoleh ke orang itu, dan ternyata pandangan mereka bertemu. Ayee.. Bersemulah Neon.
"Eee.. Ngomong ngomong.. Makasih ya,"
"Hn," ucapan Neon hanya dibalas muke datar oleh lawan bicaranya.
.
.
HENINGGG..
.
HENINGGG..
.
HENINGGG..
.
"Gimana..?" percakapan dibuka dengan kata 'gimana' dari Kuroro, ah dari tadi nyadar ta'k kalo ini dia? Di mata hitamnya terdapat pantulan seorang Neon.
"Ngg..? Gimana apanya?" Neon pun ikut balik menatap Kuroro, dia nggak ngerti. Yaiyalah, gaje ngomongnya.
"Gimana hubungan lo sama 'dia'..?" kepo mode : on. Kuroro pikir, Neon sudah tau kalau dia sudah tau tentang hubungannya dengan Kurapika. Tapi, maksudnya apa nanya begitu?
Mendengar kata 'dia', Neon mulai curiga. "Dia? Dia siapa?" sementara Neon belum tau kalau sebenarnya si Kuroro ini tau tentang hubungannya dengan Kurapika.
"Dia pacar lu," kok nampaknya Kuroro haram banget ya nyebut nama 'Kurapika'. Maklum, dendam kesumath.
BLESEEKKKKK! 'Idih, tau dari mana dia kalo gue lagi pacaran..?!'. Tampang Neon langsung berubah seker, sementara Kuroro tetep enjoy enjoy aja. Tenang aja kali, mbak! Nggak usah merasa kaya ketauan ortu lagi ngegebet anak orang. Kuroro bukan ayahmu, nak!(?).
"Ah! E.. Emang lu tau, gue pacaran sama siapa..?" Neon balik nanya, alah belaga bego dia.
"Gue tau, Kurapika 'kan..?" psh! Pas banget itu, jawabannya bener. Kuroro berkata demikian dengan lantang sambil menyunggingkan senyum kemenangan.
Neon langsung merasa seakan seluruh kejahatannya yang dulu dulu dibacakan di meja pengadilan. "Alah, ta, tau dari mana lo..?"
"Gampang, pas gue nolak lo. Terus lo nembak dia, dan dianya mau. Ya ketebak banget kelanjutannya, lu berdua pacaran.." alasan ini juga didukung berbagai observasi Kuroro, jalan ke sana kemari membuatnya tau. Tapi soal dia yang mengintip Neon dan Kurapika pacaran sih tak akan dia biarkan seorang pun tau.
"A, ah.. A.." Neon seketika langsung gagap, oh kalo gitu namanya sekarang Neon Gagap, bukan Neon Nonstrade lagi *plakk!*. Dalam dirinya, sebenarnya Neon malu untuk mengakui statusnya. Tapi, dia terus mengingat ngingat kalo orang di depannya ini adalah orang yang pernah nolak dia,
"Ya gue emang pacaran sama dia, kok! Terus hubungannya sama lu apa?" dan itu jadi kekuatan buatnya untuk berani. Tampang Neon langsung berubah jadi berani-nyolot. Berani dia, sekarang. Tapi dengan kata katanya itu tak membuat perubahan raut wajah pada Kuroro.
"Ya gue pengen tau aja, lagi" yaelah, bilang aja kepo.
Masih dengan mengingat 'Kuroro pernah nolak gue! Kuroro pernah nolak gue!' berkali kali, akhirnya dengan rasa bangga dan melupakan segala kegalauan yang pernah ada Neon menjawab. "Ohoho.. Gue sama dia sih seneng seneng, aja! Gue nggak nyesel milih dia,"
"Ohh, seneng banget nih 'keliatannya'.." dan jawaban Kuroro santai pula. Dengan penekanan di kata 'keliatannya' memberikan kesan seolah Kuroro tak percaya.
"Oiya, dong!" Neon menjawab pasti dengan semangat G30SPKI. Apa yang dilakukannya ini memang wajar, ya kalau diingat saat dia menggalau karena ditolak Kuroro. Intinya dari semua kata yang terucap Neon ingin menunjukan 'Gue tanpa lo juga nggak mati 'kan..?'.
Awalnya, ekspressi pertama yang ingin Neon lihat dari Kuroro adalah penyesalan, dia pengen kalo Kuroro nyesel pernah nolak dia. Itu awalnya, namun setelah Neon teringat dan terus mengingat akan dirinya dan Kurapika akhir akhir ini..
"Tapi.. Sebenernya.." gue lagi galau. Dan Neon pun memulai curcolnya pada Kuroro yang berstatus orang yang pernah nolak dia. Dasar.
Seluruh kejadian dari awal hingga akhir permasalahannya Neon ceritakan, kan author males itu, kalau harus menulis satu satu bagaimana Neon menceritakannya. Dia sih cerita hanya saat dia sedang galau, Neon bercerita kalau Kurapika itu sama sekali nggak romantis lah, Neon cerita apa dia salah pengen cowok yang romantis, dan permasalahan lainnya. Dia juga cerita tentang yang dialaminya tadi di rumah Kurapika. Intinya Neon menceritakan apa yang dari tadi menghantui kepalanya. Err.. Neon, kalo mau curhat jangan sama dia! Apa Neon terlalu polos jadi seorang cewek dan dengan gampangnya curhat sama orang, sementara nggak mempertimbangkan lagi dan lagi siapa sebenarnya orang itu.
Kuroro sebagai pendengar yang baik cuma bisa mendengarkan dan menghayati, sekali kali manggut manggut tanda mengerti. Dari dalam hati sebenarnya Kuroro manfaatkan untuk bisa lebih dekat dengan Neon, pedekate gitu jadi kalo nembak ceweknya nggak kagok dan tau apa apa aja kekurangan dari relationship cewek yang diri di depannya ini sama someone.
Setelah semua curhatannya selesai, Neon hanya bisa menundukan kepala, sebenarnya dia kan malu cerita cerita begitu. Mengingat kembali kalau Kuroro pernah nolak. Tapi, ya 'mungkin' saja kegalauan akan mereda bila cerita. Pegal menunduk, Neon pun mengangkat kepalanya. Tapi, Don't Look At Up!
Eh, tapi nggak bisa, kepalanya malah berbenturan sama dagu seseorang, apa banget, ngganggu suasana aja. Jadi bisa dideskripsikan kalau seseorang ini tepat berada di depan Neon, seseorang ini lalu mundur selangkah. Dan barulah Neon bisa mengembalikan posisi kepalanya ke posisi yang jahat dan salah, dan barulah juga Neon bisa melihat kalau orang yang tepat ada di depannya itu Kuroro. Jarak mereka awalnya 2 meter aja kok.
Baru mundur selangkah, Kuroro maju dua langkah ke depan. Sebenarnya masih banyak tempat untuk Neon melakukan manuver manuver menghindar, tapi dengan tampang datar Neon berani berani aja natap Kuroro dari jarak sedekat itu. Kenapa? Dari dalam dia berfikir 'Emang dia siapa gue?'. Sekarang takut nggak takut, tatapan Neon yang mulai menajam saling beradu dengan muke kulkas Kuroro. Ngapain Kuroro deket deket?, pikirnya.
"Lagian, kalo lo mau. Lo bisa dapet dari gue.." Kuroro ngomongnya sih pelan, tapi dengan jarak yang hanya beberapa senti tentu Neon bisa mendengar jelas apa yang dikatakan orang di depannya ini. Kesan pertama kali saat Neon mendengarnya adalah 1, dia nggak ngerti, 2, nggak ngerti, dan 3, nggak ngerti. Makanya tampang Neon langsung berubah nggak ngerti bak laksana anak SMP yang nggak mudeng mudeng diajarin al jabar.
Dan.. Baru sekarang Neon menyadari, bahwa ternyata tangan Kuroro ada dan sedang mengangkat dagunya. Jadi Neon yang notabene lebih pendek (walaupun pake high heels 7cm) dari Kuroro dongak menghadapnya. Tunggu.. Di sini Neon baru ngerti, tadi kan dia cerita pas dirumahnya Kurapika, dia mau ciuman tapi nggak jadi. Nah, itu dia maksudnya! Dann.. Apa yang dilakukan Kuroro sekarang ini kaya mau ciuman, firasat buruk langsung menggentayangi Neon.
"Apa lagi kalo gue jadi milik lo.."
Setelah sadar apa yang akan dilakukan Kuroro, rona rona merah sekarang mulai mencoreng wajah Neon. Rencana rencana untuk kabur dari situasi tak terduga ini tengah Neon susun. Tapi, nampaknya terlalu telat untuk Neon menyadarinya. Darahnya dipompa cepat oleh jantung, biasanya memang cepat tapi sekarang lebih cepat lagi. Oke, jarak mereka makin sedikit, sedikit, daann..
"Maaf, gue harus pergi!"
Dengan segera Neon lari pergi meninggalkan Kuroro yang masih berdiri di posisinya. Rasa kesal, sedih, dan bingung saling bertempur untuk menguasai Neon sepenuhnya. Pertama, dia kesal kenapa Kuroro harus begitu, kedua dia sedih juga karena alasan yang sama, dan terakhir, yang ketiga, bingung. Maksudnya Kuroro itu apa? Buat apa dia melakukan hal itu pada Neon? Apa motifnya? Kalau diingat lagi, Neon jadi kesal sendiri, buat apa dia cerita cerita begitu sama Kuroro? Nyesel! Nyesel, rasanya kalau ada truk yang lewat dia pengen berdiri di depannya biar langsung mati, kenapa mulutnya bisa mengeluarkan curhatannya. Dari lubuk hati yang terluar Neon menilai 'Nggak mungkin kan Kuroro suka sama gue..?'. Nggak ada jawabannya, dan Neon nggak mau keGRan beranggapan ada yang suka sama dia dengan menjawab pertanyaan itu, mendingan dia lanjutkan lari.
"Selamat ya, semoga lo langgeng sama cewek baru lo!"
"Tunggu Rika, Kamu salah paham!"
"Rika, aku tuh masih cinta sama kamu!"
"Terus kenapa? Gue harus bilang WOW, gitu?!"
"Rika, aku serius!"
"Cius? Enelan? Mi apa?"
"Rika, pleasee!"
"Ah, Lepasin!"
"Rikaaa!"
Sepasang mata bola berbalut soft lens abu abu memandang pemandangan menyedihkan itu dengan tatapan meremehkan, merendahkan. Bosan dia melihat pemandangan seperti itu. Lalu dia dan tampang nyolotinnya memutar dan beralih pandangan ke temannya yang sedang terduduk dengan sejuta ekspressi. Lagi pula pengunjung kafe lainnya juga menghiraukan pemandangan tersebut, katanya sih nggak mau ikut campur.
"Sebenernya nggak ada masalah ya kan, antara gue sama Kurapika!"
"Tapi, kenapa jadi rumit gini sih..?!"
"Emang.. Gue akuin, terkadang gue merasa bosen sama dia. Gue sama dia kaya cuma sebates temen aja.."
Karena bosen mendengarkan misuh misuh kawanya, dia dan tampang nyotinnya memutar bola mata sambil menghela nafas lalu berkata "Ohh.. Itu sih, gampang Neon. Lo tinggal minta putus aja sama dia, bilang aja kalo lo bosen.."
"Ih, enak aja gue mutusin dia!" dan Neon langsung protes, sekaligus sadar dari monolognya yang membuat orang orang berpikir bahwa dia gila. Apa yang dikatakan Rie terlalu ekstrim baginya.
"Lagian lu ceritanya kaya gitu, 'kan? Kaya lu sama dia itu hubungannya ya.. Ga usah gue omongin lagi, dah.." kata Riega, menjadi play girl mungkin membuatnya punya banyak pengalaman dan karena itu Neon menilainya sebagai orang yang tepat dijadikan ember curhat.
"Terus, gimana dong!?" saat mengatakan ini, sumpah, tampang Neon melas banget.
"Tau, deh. Jangan nanya sama gue.." Rie lalu merenggut gelas plastik berisi es kopi yang tadi sedang enak berdiri di atas meja. "Mungkin kalo diomongin baek baek, ketemu jalannya. 'Kali'.."
"Diomongin baek baek..?"
"Iya, diomongin baek baek. Lu ngomong sama dia, gitu tanya pelan pelan," Rie menjelaskan apa maksud dari 'diomongin baek baek'.
"Ye, itu sih gue juga ngerti!" ya Neon ngerti, lah.
Es kopi yang ada di tangan lalu diseruput si empunya, Rie. "Oh, yaudah. Kan gue cuma usul.."
Neon berpikir sejenak, matanya terlihat menerawang, serius banget, lah. "Ih.. Tapi gue malu ngomonginnya!" dan rautnya langsung berubah saat mengatakan ini.
"Ck, gue nggak mau tau, pokoknya lu harus berani! Die kan pacar lo, kenapa harus malu..?!"
"Yeh, lu mah enak, Ri. Udah 'ahli' soal yang begituan.." Neon membandingkan dirinya dengan Rie yang err.. Play girl, Rie yang tadi memandangi es kopinya langsung menoleh ke Neon.
"Hahaha! Ahli? Aduh, emangnya lu kira percintaan gue mulus mulus aja, gitu..?" Rie memandang Neon rendah, dia pikir naif banget temennya yang satu ini.
"Ya.. Yang gue sering denger denger dari elu, kayanya lu enak enak aja.." tak pernah terlupakan dalam benak Neon saat dia diberi PJ satu unit iPod nano 16 GB oleh Rie, berserta cerita cerita basi Rie saat have fun sama pacarnya.
"Eh.. Lu cowok satu aje pusing. Gue.." Rie lalu mengajak matanya untuk memandang atap, maksudnya lagi mikir gitu "1, 2, 3, 4, 5, 6, 7.. 7 orang!"
"Eh, 7..? Lu udah tobat?!" mata Neon yang tadi tak bergairah langsung tampil dalam lingkaran penuh.
"Yaa.. Naek turun sih, kan kadang kadang kalo gue lagi di kasih rejeki, banyak, lagi galau ya tinggal dikit.."
"Ouch, tapi kan lu enjoy kan..?" Neon membayang bayangi kehidupan 'indah' Rie yang dikelilingi laki laki.
"Hahh.. Neon.. Pikiran lu kemana, sih? Emangnya lu pikir kalo soal cowok, gue tinggal nunjuk aja, mau yang mana gitu..? Terus langsung gue ajak jalan..? Modus tuh nggak selamanya indah!" seorang Rie pun memulai curhatnya, Neon belaga jadi pendengar yang baik dengan memerhatikannya dengan seksama "Ada kalanya di saat gue ngegalauu.. Banget! Nggak kalo gue bilang putus, putus langsung. Cowok gue taunya modus juga, nggak gue ribut sama yang itu pindah ke ini aja, cowok gue ributnya sama cowok gue juga. Malah, kalo gue nilai punya cowok banyak lebih rumit dari pada satu, yaiyalah!" 'Lagian siapa suruh punya cowok banyak banyak..?!' Neon membatin, berani nggak berani dia ngomong kaya gitu. Tapi, mendengarkan curhat Rie, Neon sadar, kehidupan play girl Rie yang glamour sebenarnya menyimpan banyak intrik dan kisah kisah konflik. Tak seperti bayangannya yang indah indah saja, sebenarnya Rie juga sudah sering cerita ketika dia sedang galau, tapi baru kali ini Neon tercerahkan. Bahkan, sepertinya percintaan Rie jauh lebih sulit darinya. Lagi pula, siapa suruh punya pacar banyak 'kan?
"Ouch, terus.. Lu sekarang lagi galau apa gimana, nih..?"
"Yah galau, lah orang baru kemaren pacar gue masuk rumah sakit!" *back sound : ohhh...*
"Oh, masuk rumah sakit. Lu nggak ngejenguk..?" Neon mulai mempertimbangkan berapa sisa waktu senggang yang bisa dihabiskan Rie, karena selebihnya tuh anak mejeng mulu.
"Ngejenguk apaan?! Orang dia adanya di kamar mayat!"
Berdasarkan teori yang diajarkan Rie, Rie yang bisa dibilang temen curhatnya Neon. Dibicarakan secara baik baik adalah jalan keluarnya, gambarannya Neon bisa mengutarakan isihatinya 1 on 1 dengan Kurapika. Jadi, Neon harap Kurapika bisa mengerti dirinya dan apa yang diinginkannya. Tapi.. Membicarakan hal itu adalah hal tersulit bagi Neon. Tapi.. Apa ada hal lain yang bisa dilakukannya? Mencoba 'mulai duluan'? Tapi karena gagal kemarin Neon jadi patah arang. Tapi, author nggak perlu nulis 'tapi tapi' mulu, yee..
Setelah Neon berpikir kembali, berpikir berpikir. Akhirnya, dia memutuskan..
To : Kurapika
Besok kutunggu jam 8 malam di taman kota
From : Kurapika
Maaf, aku sedang tidak ada di rumah
Catatan author (selalu) pengen eksis : Gue punya berita bagus buat para OC, sekarang profil lu lu pada bisa diliat orang lewat bio gue..~
OC's : ooooohhh.. #respon nyolotin
Bay de wey bas wey on de wey, judul chapter kali ini diambil dari lirik lagu loh. Dari lagunya Avril Lavigne yang Complicated. Terus.. Yang soal diudak udak banci itu, gue terinspirasi pas lagi ke rumah temen gue. Kan ada banci yang lewat pas itu, eh gue langsung gibrit sama temen temen..
Kuroro : *evil smirk* ohh.. Jadi itu alesannya kenapa lu bikin gue jadi kaya begitu.. *ngeluarin indoor fish*
Indoor fish : *ngudak Howa*
Howa : *ngib
