"Hinata!"

Hinata kenal betul dengan suara ini, tapi ia masih sedikit ragu dengan apa yang didengarnya.

'Mana mungkin Naruto ada disini, aku pasti berhalusinasi.'

"Hinata!"

Ino yang melihat Hinata yang nampak sibuk memikirkan sesuatu ini pun akhirnya bingung, kenapa Hinata tak menyahut panggilan pemuda tersebut.

"Hinata, kau kenal dengan petugas cleaning service yang baru itu?" Entah sejak kapan, Ino sudah membalikan badannya. Ia menunjuk seseorang yang ia maksud dengan mengendikan bahunya pada orang tersebut.

"APA?!"

SZIIIIIING!

Hinata bisa merasakan aura mengerikan yang kini mengelilinya, satu hal yang ia tahu.

Semua mata kini tertuju padanya

'Ini pasti mimpi pasti mimpi pasti mimpi.' Hinata terus mengulang-ulang kata-kata tersebut di benaknya. Hinata masih tak tahu apa yang harus ia lakukan jika memang perkirannya itu benar, jangankan untuk memikirkan hal-hal yang lain, ia sendiri pun tak tahu harus berkata apa pada Ino. Yang harus ia lakukan saat ini ialah mengonfirmasi hal tersebut dan memastikan apakah benar itu Naruto atau bukan. Gadis bersurai biru malam ini pun akhirnya membalikan badannya dan sekarang ia bisa melihat dengan jelas sosok itu. Lagipula bukankah menyenangkan jika kau bertemu dengan kekasihmu di sekolah, benar tidak eh, Hinata?

Sosok tadi terus berjalan mendekatinya sambil tersenyum lebar, ia tak menyadari jika perbuatannya ini mengundang perhatian hampir seluruh orang-orang yang berada di koridor.

"Apa gadis itu mengenalnya."

"Mereka kelihatannya akrab sekali ya."

"Siapa dia, berani-beraninya mendahului kita?"

"Hei! Bukankah dia itu gadis yang hilang di perkemahan."

GLEK…

"…"

Hinata tak mampu berkata-kata, komentar-komentar yang masuk ke dalam pendengarannya mampu membuat gadis indigo ini membungkam kosa kata miliknya, terlebih lagi ia masih terkejut dengan apa yang dilihatnya. Tak perlu memandang keadaan sekitar, Hinata sudah tahu kalau suasana disini sangat sangat sangaaat mencekam. Yah, setidaknya bagi gadis itu. Baru seperti itu saja mereka sudah menakutkan, bagaimana jika mereka mengetahui bahwa ia adalah "kekasih" Naruto. Yah meskipun itu hanya pengakuan sepihak tapi tetap saja itu menakutkan, iya kan, Hinata?

'Tuhan, tolong selamatkanlah aku.'

Jika saja Hinata mengetahui keadaannya akan seperti ini, mungkin ia akan membawa jimat yang mungkin akan berguna untuk mengusir aura jahat. Tapi siapa yang jahat? Ya mungkin orang-orang yang kini mengerumuninya bisa dikategorikan ke dalam aura jahat jika mereka masih saja menatapnya seperti itu.

Seperti tak memperdulikan sesuatu Naruto terus berjalan dengan santainya masih dengan senyuman lebar miliknya yang berhasil membuat beberapa siswi di antara kerumunan tadi kembali menjerit histeris layaknya bertemu sang idola.

"Hey, akhirnya…"

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Author : kiriko mahaera

Rate : T

Genre : Fantasy, Romance with a lil bit comedy.

Warning : AU (scholl-life), OOC, Typo, Misstypo, etc.

Don't like? Don't read!

Based on Korean Drama My Girlfriend is A Nine Tailed Fox.

Summary : Bagaimana rasanya? Apakah itu menyenangkan? Kuharap kau menyukainya, tidak untuk sekarang tapi kau akan menyukainya...

Meja kerja yang terletak diujung ruangan ini terlihat lebih lengang dibandingkan dengan meja-meja yang lain. Tak ada setumpuk kertas, buku maupun peralatan tulis menulis lainnya, tapi di bagian depannya terdapat papan nama yang bertuliskan nama pemiik si meja. Hanya ada benda tersebut tanpa ada benda lain yang mungkin bisa disebut pemanis,seperti vas bunga, jam mini atau bingkai foto sekalipun. Mungkin meja ini sengaja dikosongkan atau bahkan belum pernah digunakan sama sekali, yang jelas ini bukan benar-benar meja kosong. Dari arah pintu masuk tiba-tiba datanglah wanita dengan setelan blazer biru malam berlengan panjang yang dipadupadankan dengan rok hitam selutut. Kaki jenjangnya yang cantik dihiasi oleh sepatu hitam yang memiliki heels kira kira tujuh sentimeter, tampak manis bertengger di sepasang telapak kakinya. Kedua kaki tersebut terus berjalan hingga akhirnya ia berhenti di depan meja tadi, diletakkannya kotak kardus yang sedari tadi ia bawa, dengan senyum manis yang terpoles di wajahnya ia menyapa beberapa orang yang ia temui. Tak lupa dengan "ojigi" sebagai tanda penghormatan dengan sesama rekan kerjanya.

'Awal yang cukup baik.'


Ini terdengar seperti mengerjakan sebuah esai bagi Hinata, disaat ia berhasil menjawab sebuah pertanyaan maka pertanyaan yang lain akan muncul setelahnya. Jika tadi pagi ia bertanya kemana perginya Naruto, maka pertanyaannya sekarang ialah, 'Apa yang ia lakukan disini?' pikirnya. Dengan tanda tanya yang begitu besar di kepalanya, Hinata terus bertanya dengan format lima "w" dan satu "h" kepada dirinya sendiri. Lagipula ia harus bertanya pada siapa lagi jika semua permasalahan ini hanya ia yang mengetahuinya, ralat bukan hanya dia tapi dia dan Naruto. Maka tak ada pilihan lain, jika ingin mengetahui jawabannya Hinata harus menyerahkan pertanyaan-pertanyaan tersebut pada Naruto agar segera terjawab. Dan di sinilah Hinata sekarang, ia duduk di tepi lapangan basket sambil menunggu Naruto selesai dengan tugasnya. Setelah ia berhasil membujuk Ino dan Tenten untuk pulang duluan tak lupa juga ia mengirim pesan pada Neji agar tidak menjemputnya ke sekolah, entah dengan alasan apa ia mengatakan hal tersebut pada kakak sepupunya.

Pandangan Hinata beredar ke sekeliling lapangan basket, tak ada yang istimewa dengan tempat ini hanya saja biasanya Hinata duduk di sini untuk melihat teman-temannya bermain, entah untuk latihan atau hanya sekedar bermain saja yang jelas salah satu orang yang sering bermain di sini ialah orang yang sering kali bermain-main di dalam pikirannya. Sesaat pandangan Hinata tertuju pada tiang ring basket yang berada tak jauh dari tempatnya duduk, ia jadi ingat dengan dia yang biasanya tertawa bersama teman-temannya ketika si "dia" ini berhasil mencetak skor dengan memasukkan bola ke dalam ring. Sosok itu ialah Kiba Inuzuka, ah… mengingat bagaimana caranya tertawa riang seperti itu saja sudah membuat pipi gadis Hyuuga ini memerah, bagaimana bisa pemuda Inuzuka ini begitu memikat hatinya.

Sementara Hinata sibuk bermain dengan pemikirannya sendiri, Naruto yang sepertinya telah selesai dengan pekerjaannya kini berjalan di loron-lorong kelas. Matanya menelusuri tempat-tempat yang ada di sekitarnya dan ketika melewati lapangan basket kedua bola mata miliknya berbinar saat ia berhasil menangkap sesuatu yang sedari tadi ia cari.

"Ah di situ rupanya." Tanpa membuang-buang waktu lagi, Naruto segera datang menghampiri Hinata.

'Instingmu lumayan.'

'Tentu saja.'

'Cih.'

"Maaf membuatmu menunggu ayo kita pulang."

Karena asyik menyelam dalam lamunannya sendiri, Hinata tak menyadari keberadaan Naruto yang sudah ada dibelakangnya. Bukankah tadi dia yang menunggu Naruto tapi kenapa Hinata malah heran melihatnya, apa dia melupakan sesuatu? Atau mungkin dunia sudah terbalik?

"Ayo!" Meskipun telah bekerja seharian semangat Naruto seolah tak pernah padam, masih dengan senyumnya Naruto langsung meraih pergelangan tangan Hinata, berniat untuk menggandengnya. Sambil mengerjapkan kedua matanya, Hinata hanya bisa pasrah ketika jari jemari miik Naruto berhasil menggenggam tangannya.


Selepas dari lapangan basket, Hinata tak sekalipun melepaskan genggaman tangan Naruto yang membalut telapak tangannya. Ekspresi wajahnya pun mengatakan hal yang sama, tak hanya sekali dua kali Hinata tersenyum melihat tingkah laku Naruto yang menurutnya lucu bahkan ketika Naruto berlari-lari kecil Hinata pun ikut mengimbangi langkahnya. Terkadang Hinata harus meletakkan jari telunjuk di bibirnya untuk memberikan isyarat tatkala Naruto mulai meracau, Naruto sedikit Histeris ketika melihat seorang tukang balon udara, ia bertanya apakah benda tersebut digerakkan dengan sihir sehingga bisa terbang hanya dengan satu helai tali.

"Itu bukan sihir, Naruto. Balon-balon itu berisi gas." Hinata mencoba menjelaskan pada Naruto, Karena ia baru saja mendengar dan melihat hal-hal seperti tadi pemuda itu menyipitkan kedua matanya, mencoba mengerti apa yang ia dengar.

"Gas itu seperti apa, kenapa dia bisa mempunyai kekuatan seperti itu?"

"Seperti apa ya…. mereka tidak memiliki bentuk karena itu adalah gas."

"Gas?" Naruto semakin tak mengerti ia menggaruk pelipisnya sambil memikirkan sesuatu.

Hinata kembali terkikik melihat ekspresi dari Naruto yang menurutnya sangat lucu. Melihat kebingungan Naruto seperti menjadi hiburan tersendiri bagi Hinata.

"Ibu, aku ingin gulali."

Rengekan seorang anak perempuan berambut pirang yang tengah meminta gulali pada ibunya berhasil menarik sedikit perhatian Naruto. Anak tersebut berada tak jauh, kira-kira hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri di pinggiran jalan yang berada di pusat pertokoan. Naruto terus memperhatikan kedua orang itu.

"Kau ingin itu." Si ibu menunjuk pada gantungan gulali yang dimaksudkan si anak.

"Uhm.." Kepala anak kecil tadi mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan ibunya.

Akhirnya ibu dari anak kecil tadi mengiyakan permintaan anaknya dan kemudian membelikan si anak gulali, anak kecil tadi melonjak kegirangan ketika tangan mungilnya menggenggam benda merah muda nan manis itu, tak lupa dengan kecupan manis yang ia daratkan pada pipi ibunya sebagai ucapan terima kasih.

"Kau mau?" Seperti menyadari sesuatu dengan apa yang tengah diperhatikan Naruto, Hinata bertanya menawarkan sesuatu pada Naruto.

Sibuk dengan pemikirannya sendiri, Naruto tak bisa berkata apa-apa lagi kecuali, "Hah?"

Tanpa menunggu persetujuan Naruto Hinata segera berlari keci meninggakan Naruto yang masih diam dengan ekspresi kebingungan. Ketika Hinata berjalan menjauh darinya, barulah ia sadar bahwa gadis itu sudah tak lagi disampingnya.

"Hei tunggu, Hinata!"

Hinata membalikan tubuhnya sambil tersenyum kecil ketika mendengar seruan dari Naruto, dilihatnya pemuda tersebut berusaha menghampirinya. Sembari menunggu Naruto, Hinata segera memberikan beberapa koin uang pada seorang paman penjual gulali sebelum paman penjual tersebut memberinya sebuah kantung.

Hinata kembali tersenyum saat Naruto berhasil menyusulnya, masih sambil tersenyum ia mengajak Naruto kembali berjalan bersamanya.

"Kenapa tiba-tiba meninggalkanku?" Sambil mengerucutkan bibirnya Naruto bertanya dengan nada yang terdengar… seperti sedang merajuk. Ia menatap lurus jalanan di depannya tanpa menoleh pada Hinata yang berjalan di sampingnya.

Gadis bermarga Hyuuga ini lantas tak menjawab, ia hanya melemparkan senyum manisnya sebelum tangannya menunjukan sebuah benda merah muda yang mengeluarkan aroma manis ketika bersentuhan dengan udara.

"Tadaaaaaa!" Layaknya seorang bintang iklan, Hinata menirukan gaya gadis penjual permen yang ia lihat di televisi. Kepalanya ia miringkan sedikit, mengakibatkan helaian indigo miliknya berjatuhan dengan luwes ke sisi pundaknya yang mungil dengan senyuman yang manis dan mata yang menyipit akibat senyumannya tadi. Hinata tampak sangat manis, bahkan lebih manis daripada aroma gulali yang ada di genggamannya.

Saking manisnya si gadis indigo ini, seorang pemuda secara tak sengaja menabrak tiang lampu penerang jalan tatkala matanya menangkap ekspresi wajah Hinata. Takut ketahuan sedang memperhatikan seorang gadis, pemuda ini buru-buru bangkit sebelum kedua sejoli ini menyadarinya. Bisa gawat jika ketahuan tengah memperhatikan pacar orang lain, begitulah pikirnya.

Berbeda dengan pemuda tadi Naruto justru heran dengan apa yang tengah dilakukan Hinata terlebih dengan benda yang dipegangi "gadisnya" tersebut. Sepertinya ia salah fokus, masih dengan wajah herannya Naruto menatap Hinata dengan pandangannya yang seoah-olah bertanya "Ini apa?"

Ah ya! Naruto ingat, bukankah itu tadi benda yang sama dengan milik si anak kecil.

"Ehm…" Hinata memberi jeda, "Ini gulali."

"Gulali…" ujarnya mengikuti apa yang dikatakan gadis itu. Hinata mengangguk pelan, memberi respon mengiyakan pada Naruto.

Masih tak mengerti dengan apa yang dikatakan Hinata, Naruto memutuskan untuk kembali bertanya.

"Seperti apa rasanya?"

"Manis, mau coba?" Hinata menyodorkan gulali, berusaha menawarkan.

"…" Tak ada reaksi dari Naruto, ia hanya memandangi benda tersebut dengan tanda tanyanya.

Hinata kembali menyodorkan gulalinya agar si pemuda mau mengambilnya. Bukannya memberikan reaksi seperti yang telah diperkirakan Hinata. Naruto justru memberinya sebuah pertanyaan.

"Apa kau menyukainya?"

Hei pertanyaan macam apa itu, bukankah semua orang pasti menyukai benda manis ini.

Hinata mengangguk pelan tanpa suara.

"Kalau begitu… untukmu saja," ujarnya kemudian.

Sedikit terkejut dengan apa yang didengarnya gadis Hyuuga ini sedikit membulatkan matanya. "T-tapi ini s-sungguh lezat." Hinata mencoba meyakinkan, tapi tetap tak ada respon dari Naruto.

"Sungguh, tak ingin mencobanya?"

"…"

"Ba-baikah.." Hinata mulai mencubit bagian luar gulali dan memasukkannya ke dalam mulut. Ia berharap Naruto akan berubah pikiran ketika melihatnya memakan gulali tersebut. Mungkin saja ia akan penasaran dengan rasanya, begitulah pikir Hinata.

Naruto masih diam memperhatikan Hinata, dilihatnya gadis itu begitu lahap memakan sebuah benda yang menurutnya mirip dengan gulungan bulu domba. Ia membayangkan Hinata yang tengah asyik mencabuti bulu-bulu domba dan kemudian melahapnya dengan sangat nikmat. Domba-domba tersebut berusaha meminta tolong dengan cara mengembik, tanpa mempedulikan embikan menyedihkan dari si domba. Hinata terus saja mencabutinya hingga akhirnya ia menemukan permukaan kulit domba yang begitu menggairahkan, tanpa disadari oleh Hinata, air liurnya menetes melihat sesuatu yang berwarna merah muda.

TRIIIIIING…

Hinata membuka lebar-lebar mulutnya dan menampakan sepasang taring panjang yang entah darimana keduanya berasal. Si domba mulai ketakutan, ia memelas dengan embikannya yang pilu berharap agar Hinata mau melepaskannya. Alih-alih memperdulikan maksud dari si domba, embikan itu justru terdengar menggairahkan bagi Hinata.

"HAHAHAHA!"

Tanpa membuang-buang waktunya lagi, Hinata segera menancapakan sepasang taringnya pada si domba yang malang tadi.

HAP

MBEEEEEEEEEK

Bersamaan dengan hilangnya suara domba tadi seluruh fantasi Naruto lenyap seketika, tak ada domba yang menjadi santapan lezat Hinata dan tak ada pula Hinata yang buas. Semuanya berganti menjadi Hinata yang justru sedang menggigit gulalinya dengan sangat nikmat. Melihat Hinata yang memakan gulalinya seperti itu, entah kenapa ia tergoda untuk memakannya juga, tanpa berpikir lebih lama lagi Naruto segera menggigit bagian atas gulali yang masih setengah utuh.

Hinata yang masih dalam posisi menggigit gulali bagian bawah hanya bisa terdiam saat matanya menangkap sepasang mata lain yang ada diatasnya. Jaraknya terlalu dekat, hingga ia bisa merasakan deru nafas yang dikeluarkan dari sebuah hidung yang nyaris saja beresntuhan dengan hidungnya sendiri jika saja tak ada sebilah bambu tipis di antara keduanya.

Pipi Hinata memanas, matanya membulat menatap kedua bola mata yang sewarna dengan langit yang berada jauh diatasnya. Naruto sendiri masih terdiam, ia balas menatap sepasang mata bulan miik Hinata. Lidahnya berhasil menggapai rasa manis yang ditimbullkan oleh si gulali, tapi wajah yang ada di hadapannya itu jauh jauh lebih manis daripada apapun. Dengan jarak yang sangat sangat dekat, Naruto bisa melihat pipi Hinata yang semerah apel.

BLUSH...

Jika ini adalah sebuah drama romantis, maka akan ada scene dimana si pria akan menghabiskan jarak dan dengan sangat perlahan ia akan…

EEEEHHMMH...

Hening, entah apa yang merasuki Naruto. Ia tak berniat menjauhkan posisinya, ia bahkan tak peduli jika dengan orang-orang yang tengah berlalu lalang. Andai saja ia bisa menghentikan waktu.

Hei! tentu saja dia bisa diakan punya sihir , tentunya tidak untuk saat ini, lebih tepatnya ia tidak bisa menggunakannya di tengah kerumunan orang seperti ini. Lagipula... matahari masih memancarkan sinarnya.

"Hei, bisakah kalian mencari tempat yang lain? Jika ingin berciuman carilah tempat yang lebih sepi. Apa kalian tak malu melakukannya di tempat umum seperti ini? Dasar, anak muda."

Yaaah, meskipun Naruto tak peduli dengan kerumunan orang-orang yang ada disini sepertinya ia tak sadar jika apa yang tengah dilakukannya kini berhasil menarik perhatian beberapa orang. Walaupun sebenarnya ia selalu menjadi pusat perhatian, ia tak pernah peduli, lebih tepatnya tidak menyadarinya.

"Mereka manis sekali ya..."

"Aaaah aku iri, kenapa bukan aku saja."

"Gadis yang beruntung, kakak itu tampan sekali."

"Anak-anak zaman sekarang memang sudah gila."

"Aku sampai tak habis pikir."

DUAAKH

"Aaaaawh!"

Malu karena diteriaki seperti itu Hinata pun membenturkan dahinya secara tak sengaja pada hidung Naruto. Setelah suara benturan kecil itu terdengar Hinata melepaskan pegangannya pada gulali tersebut dan segera berjalan menjauhi Naruto untuk menutupi rona merah di pipinya.

"Hei, Hinata!" Masih sambil memegangi Hidungnya Naruto berusaha memanggil Hinata, ditatapnya gulali yang kini tergeletak di tanah secara bergantian dengan Hinata yang terus menjauh. Bingung antara ingin memungut gulali atau mengejar Hinata, Naruto sempat terdiam beberapa saat tapi semakin lama punggung Hinata semakin menjauh maka keputusan yang ia ambil ialah…

'Cepat kejar dia, bodoh!'

"Hei tunggu aku!"


Rambut panjang berwarna kuning keemasan yang sering diikat ponytail itu kini terbagi dua dengan cepolan dibawah telinganya yang berhiaskan anting berwarna hitam dengan model yang sangat simple. Gadis ini tampak sibuk berbicara dengan seseorang yang ada di seberang sana, sesekali sambil menunggu gilirannya berbicara ia meniup-niup kuku jarinya untuk mempercepat proses pengeringan cat kuku hitam yang melapisi permukaan kuku-kukunya.

"Ayolah, aku bukan pembuat gosip. Jelas-jelas aku melihatnya sendiri." Lensa aqua marine-nya berputar tatkala ia berbicara, masih sambil dengan meniupi kukunya ia berkata dengan nada yang sedikit errr… lelah?

'Hahaha, tapi aku selau mendapatkan gosip-gosip darimu, Ino. Bisa dibilang kau orang yang ter-update.'

Menyadari apa yang dikatakan lawan bicaranya ini memang benar, Ino hanya bisa menggaruk pipinya sebelum ia kembali berbicara. "Err… hehehe lalu apa yang harus kita lakukan?"

'Ya tunggu saja. memangnya apa lagi?'

"Hanya menunggu?" Ino mengerucutkan bibirnya, pertanda ia tak setuju.

'Haaaaaaafth…' Ino bisa mendengar lawan bicaranya itu tengah menghembuskan nafasnya dengan sedikit penekanan.

'Terkadang ada sesuatu hal yang tak bisa kau bicarakan meskipun dengan orang terdekatmu sendiri. Kau mengerti maksudku kan, Ino?'

"Tapi…"

'Tapinya nanti saja, aku sedang sibuk sekarang. Nanti kita bicara lagi, oke?'

"Baiklah-baiklah Nona super sibuk, maaf karena telah mengambil waktumu."

Terdengar kekehan dari seberang tawa saat Ino melemparkan candaannya, dan Ino pun ikut tertawa bersama maka tak lama kemudian sambungan kedua orang tadi terputus saat ibu jari milik Ino menekan tombol merah di layar ponselnya.

"Siapa sebenarnya orang itu?"

To be Continoue...


Hai... akhirnya bisa update lagi, maaf membuat menunggu lama. Mencoba bangkit dari hiatus panjang semoga setelah ini bisa dengan cepat merampungkan chapter selanjutnya.

Di chapter kemaren ga tau kenapa rasanya kaya aneh banget mungkin karena buru-buru kali ya... /curhat dikit, ditendang/

Semoga semoga semoga chapter ini bisa menghibur /ojigi/ dan apakah ini sudah panjang? /kedipin (?) /apaan

Thanks buat yang udah sempet-sempetin baca, review dan mungkin nge-fav /eh

kehadiran kalian disini adalah semangat untukku :*** muaaaach (?) /gak

ada satu review yang membuat saya tergelitik (?) haha iya diusahakan supaya ga hiatus lagi hihi makasih buat semangatnya btw :*

Special thanks to:

hina chan, DarkCrowds, Baka Gaki, Zombie-NHL, Awim Saluja, The KidSNo OppAi haha sampai berkali-kali, 2nd silent reader, my white kitsune, Guest, bakaaaaa, caca emen,hinata96, ika chan, sinuza, xXimmortalxX, Name Ikmal, Sakurajima no Yama, naruhimeazura, SyHinatalavender, faizu-kun, BlackLavender, Neerval-Li dan kalian para silent readers ;)

Saran, kritik atau flame akan diterima senang hati asalkan demi kebaikan fict ini :)

Arigatou~ /bow

see you in next chap ;)