Kembali Padamu
Oleh : Honsuka Sara
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Rye? Apa yang terjadi barusan?"
Wajah di hadapannya tampak pudar, tapi tak ada sedikitpun keraguan dalam diri Shiho bahwa orang itu adalah Shuichi Akai. Rasanya seperti déjà vu, dan Shiho dapat merasakan sedikit ketenangan merambat di hatinya mengetahui bahwa Ryelah yang menyambutnya dari dunia ketidaksadaran.
"Ya, ini aku, Sherry," jawab pria itu pelan.
Setelah matanya mulai fokus dan dunia disekitarnya tidak terasa berputar lagi, Shiho mencoba untuk duduk dibantu oleh Shuichi. Ia ada di kamar hotelnya, tertidur di tengah-tengah tempat tidurnya yang lebar dan nyaman, masih dalam balutan pakaian yang digunakannya ke taman tadi.
Tunggu dulu, taman? Oh…
"Oh, apa aku pingsan di taman tadi?"
Bukannya jawaban pertanyaan, Shuichi malah memberikan segelas air kepada Shiho. Gadis itu sedikit cemberut menerimanya. Meskipun begitu, bibirnya mendesahkan kelegaan begitu air dingin tersebut membasahi kerongkongannya yang kering.
"Terima kasih, Rye. Aku tidak sadar kerongkonganku benar-benar kering."
Shuichi tersenyum kecil menanggapi Sherry, lalu mengambil gelas dari tangan gadis itu dan meletakkannya di atas meja.
"Jadi, apa kau akan memberitahuku apa yang barusan terjadi?" tanya Shiho beberapa saat kemudian.
Menghela napas, Shuichi yang merasa kalah dengan tatapan memelas Shiho akhirnya menjawab, "Sejauh mana yang kau ingat?"
"Aku ada di taman, sedang makan es krim dan duduk di kursi panjang sambil mendengarkan obrolan anak-anak aneh tentang 'kasus'," ujar Sherry. Kedua tangannya membentuk tanda kutip saat mengucapkan 'kasus'. "Lalu seseorang yang mereka panggil profesor datang dan… Oh!"
"Apa yang terjadi setelah itu?!" tanya Shuichi panik. Ia memang melihat kejadiannya, tapi bukanlah mustahil apabila ada sesuatu yang ia lewatkan, bukan? Ia sudah cukup merasa bersalah dengan membiarkan Sherry lepas dari pengawasannya selama beberapa saat. Tidak perlu ada kejadian membahayakan lagi untuk menambah panjang daftar riwayat dosanya yang sudah tak terkira saking banyaknya.
"Kau masih bertanya-tanya apa alasanku tiba-tiba ingin ke liburan ke Jepang?" Shuichi mengangguk, tapi Shiho tidak melihatnya. Ia masih menunduk karena kaget dan takut akan bentakan Shuichi barusan. Perlahan-lahan, barulah ia menegakan kepalanya dan memberanikan diri menatap mata Shuichi lagi. "Profesor itu muncul dalam mimpiku. Err, mungkin juga bukan mimpi. Mungkin itu adalah apa yang dokter katakan sebagai 'kilasan ingatan' yang tidak pernah aku alami sebelumnya." Menatap Shuichi yang sepertinya tidak marah, Shiho melanjutkan "Dalam kilasan ingatanku, dia bilang bahwa aku juga punya rumah tempatku bisa berpulang."
"Sherry…"
"Apa itu benar, Rye?" tanya gadis itu dengan mata berkaca-kaca. "Selain apartemen kita di London, apa aku punya rumah untuk pulang juga di Jepang?"
Shiho tidak benar-benar mengerti kenapa ia menangis saat itu. Air matanya terasa otomatis keluar. Bukannya sedih, ia justru merasa sangat bahagia sampai-sampai air matanya bertumpahan ke atas kedua pipinya yang memerah. Ada rasa bahagia yang membuncah dari dalam dadanya, meskipun ia belum tahu alasan dibalik perasaan yang begitu besar. Mungkin karena akhirnya Shuichi mengabulkan keinginannya untuk liburan ke Jepang. Mungkin karena ia mendapati ia masih memiliki orang yang peduli padanya selain Shuichi. Atau mungkin juga, karena ia sudah bertemu dengan profesor itu, siapa pun dia.
Begitu selesai dengan lamunannya, Shiho mendapati dirinya sedang terisak-isak di dada Rye. Kaus hitam itu sudah membentuk noda basah melingkar yang besar karena air matanya dan tangan besar yang mene[uk-nepuk punggungnya sudah terasa konstan berada di sana. Sedikit memaksakan diri, Shiho menarik dirinya dari pelukan hangat pria yang sudah mengangkatnya sebagai adik selama dua tahun ini, walaupun Shiho tidak tahu apa hubungan mereka sebenarnya sebelum ia kehilangan ingatan. Ia memandang mata yang selalu dapat membaca pikirannya itu tajam, mendapati sebuah rasa familiar di sana.
"Namanya Hiroshi Agasa," ujar Shuichi tiba-tiba, mengagetkan Shiho sedikit karena ini adalah kali pertama Shuichi membeberkan masa lalunya. "Kau ingin bertemu dengannya lagi?"
Pertanyaan Shuichi barusan membuat Shiho terkejut. Apakah ia ingin menemui profesor itu? Apa ia siap mendengar masa lalunya mengalir dari mulut orang lain, bukannya dari dalam kepalanya sendiri? Tidak, ia tidak begitu yakin.
"Rye, aku…"
"Aku tidak bisa memaksamu, Sherry, tapi dia benar-benar merindukanmu." Shuichi memandang kedua bola mata Shiho yang masih berair dengan keseriusan yang sama. Senyumnya menghilang, tapi kehangatan yang Shiho rasakan masih tetap sama. Ya, hanya Shuichilah yang bisa ia percaya apa pun yang terjadi. Ia mungkin kehilangan orang-orang saat memorinya menghilang, tapi setidaknya ia sudah memiliki Shuichi dan sebaliknya sekarang. Selalu hanya Shuichi, benar kan?
"Rye, aku pikir…"
"Sherry, bukan hanya kau saja yang kehilangan orang-orang saat memorimu menghilang," ujar Shuichi seolah membaca pikiran Shiho. "Orang-orang itu juga kehilangan dirimu."
~HS~
"Ah, Shuichi, Shiho, silakan masuk." Profesor Agasa mengembangkan senyumnya yang paling lebar pada kedua anak muda itu. Shuichi sudah meneleponnya sebelum ini mengatakan bahwa ia dan Shiho akan berkunjung. Agen FBI itu juga menjelaskan pada Profesor Agasa mengenai apa yang terjadi pada Shiho dan sebaiknya tidak membahas mengenai masa lalu gadis itu. Tidak masalah bagi pria tua itu. Baginya, setelah bertahun-tahun lamanya, mendapati gadis yang sudah dianggapnya anak sendiri itu mengunjunginya saja sudah lebih dari cukup.
"Permisi, Profesor Agasa," ucap Shiho dengan keramahan dan senyum lebar yang tidak Profesor Agasa sangka ia miliki. Ai Haibara yang ia kenal selama enam tahun bukanlah Shiho Miyano yang kini berdiri di hadapannya. Namun, pria itu tak akan menganggap kurang gadis ini. Bahkan rasanya hampir seperti melihat anak gadisnya yang sudah tumbuh dewasa.
"Ah, iya, Shiho, anggap saja rumah sendiri," balas Profesor Agasa dengan sedikit terbata-bata.
Mereka bertiga kemudian duduk di ruang tamu Profesor Agasa yang sunyi senyap, masih kaku untuk memulai pembicaraan. Di hadapan mereka terhidang seteko teh dan tiga cangkir yang sudah terisi penuh, lengkap dengan gula-gula kotak dan kue-kue kering sebagai tambahan.
"Maaf, kalau kedatangan kami berdua ke sini mengganggu Profesor," ucap Shiho, akhirnya memberanikan diri membuka pembicaraan. "Tapi aku merasa aku perlu bertemu dengan Profesor selagi masih di Jepang." Memang Shuichi yang menyadarkan Shiho untuk menemui profesor yang belum diingatnya ini, tapi lama kelamaan, gadis itu juga memiliki keinginan yang semakin menguat untuk menemuinya.
"Kalian berdua sama sekali tidak mengganggu, Shiho," tanggap Profesor Agasa. "Seperti yang pernah kukatakan, ini adalah rumahmu juga."
Senyumannya lebar secerah cahaya mentari, menarik garus-garis wajahnya yang sudah berkeriput namun tampak bahagia. Tidak ada tanda-tanda keberadaan orang lain di dalam rumah ini, tetapi dia tidak kelihatan seperti orang tua kesepian di dalam rumah besar yang nyaman, ditinggalkan anak-anaknya yang kaya raya. Jas putih yang dipakainya saat di taman sudah tidak ada lagi, digantikan sweater tipis berwarna cokelat yang menampakkan perut besarnya dengan jelas. Kacamata bulatnya tampak begitu familiar di mata Shiho, begitu juga mata yang berkaca-kaca di baliknya. Shiho… Shiho tidak bisa mengingat orang ini, tapi kata-kata itu sama dengan yang ada di kilasan ingatannya. Dan sekarang ia paham betul bahwa hal itu memang benar. Di Jepang, inilah rumah tempatnya berpulang. Inilah tempatnya bernaung selama bertahun-tahun sebelum ingatannya menghilang. Benar, kan?
"Agasa-san, sebaiknya anda tidak membahas hal-hal dari masa lalu Sherry dulu sekarang," tegur Shuichi dingin pada Profesor Agasa. Ia benar-benar tidak mau Sherry kehilangan kontrol atas dirinya lagi akibat memori-memori buruk yang merembet masuk seperti dulu.
"Ah, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud begitu," balas Profesor Agasa. Agen FBI di depannya memang sudah menceritakan apa yang terjadi selama mereka berdua ada di London. Apa yang ia lakukan barusan memang benar-benar tidak disengaja.
Untuk menghilangkan kecanggungan setelah itu, Profesor Agasa menuangkan tehnya sendiri dan memasukkan beberapa gula balok ke dalam cangkirnya. Namun, pada gula ketiga, terdengar suara Shiho menginterupsinya.
"Cukup, Profesor."
Sedikit terheran-heran, Profesor Agasa menghentikan racikan tehnya dan bertanya, "Apa?"
Wajah Shiho sedikit memerah saat Profesor Agasa menatapnya, dan ia juga tampak gelagapan akan jawabannya. "Aku minta maaf, Profesor. Bukannya aku bermaksud mengaturmu, hanya saja aku merasa gula yang kau berikan agak terlalu banyak," ringis Shiho dengan senyum minta maaf.
Mendengar itu, Profesor Agasa merasakan matanya berkaca-kaca seketika. Ya, di dalam sana, di dalam gadis dewasa bernama Shiho Miyano ini masih terdapat Ai-kun yang cerewet dengan masalah obesitasnya. Gadis kecil yang perhatian itu masih ada di sana untuk mengingatkannya bahwa dalam secangkir teh hanya dierlukan dua bongkah gula balok.
"Profesor, apa ada yang salah dengan ucapanku?" Saat Profesor Agasa menoleh, Shiho pun menjawab pertanyaan tak terucap itu dengan lembut, "Kau menangis, Profesor."
"Shiho, ini bukan kata-kata yang kuucapkan di masa lalumu, jadi dengarkan, oke?" Setelah Shiho mengangguk pelan, Profesor tua itu melanjutkan, "Kau adalah anak perempuanku dalam hal apa pun kecuali darah, dan hal itu tak akan berubah sampai kapan pun."
Shiho mencerna kata-kata profeor tua setengah botak di depannya pelan-pelan. Shuichi bilang, mereka saling memiliki satu sama lain. Orang ini bukanlah darahnya juga, sama seperti Shuichi. Dia bukan keluarga Shiho. Mungkin memang benar, seperti yang disangkanya selama ini, seluruh anggota keluarganya sudah meninggal. Namun, orang-orang ini, orang-orang seperti Shuichi dan Profesor Agasa tampak jauh lebih familiar di hatinya dibanding keluarga yang tak pernah ia ketahui kabarnya. Shiho masih ragu untuk mengingat masa lalunya karena menurut dokter dan Shuichi, kebanyakan dari memori-memori mengenai itu merupakan hal-hal buruk. Tapi, untuk mengenal kembali orang-orang seperti mereka mungkin tidak buruk juga. Mungkin Shiho akan mengambil cuti mengajar dan tinggal sedikit lebih lama di Jepang.
Saat masih terhanyut dalam lamunannya itulah, sebuah suara –yang terdengar sangat familiar di telinga Shiho- terdengar dari arah pintu depan kediaman Profesor Agasa.
"Profesor, apa kau ada di rumah?" Suara langkah kaki dari siapa pun orang itu semakin mendekat, dan tiba-tiba saja, jantung Shiho berdetak makin cepat. "Aku ingin…"
Seorang remaja laki-laki.
Seragamnya menunjukkan ia ada di sekolah menengah yang sama dengan anak-anak yang ditemuinya kemarin dulu di taman. Rambutnya hitam sedikit acak-acakan. Tangannya memegang bola sepak dan tubuhnya tampak sedikit berkeringat. Dan wajahnya…
Shiho tidak tahu kenapa, tapi kacamata yang membingkai kedua bola maat biru itu tampak seperti buku terbuka yang siap ia baca kapan saja. Wajahnya, meskipun baru ia lihat kali ini, tampak seperti sesuatu yang sudah digoreskan dalam kepalanya dulu sekali, dan sekarang ia hapal setiap detilnya lagi. Ekspresinya sekarang yang menujukkan kekagetan membuat Shiho ingin menyeringai, dan anehnya, ia bahkan tidak ingat ia bisa dan pernah menyeringai seperti itu sebelum ini. Tubuhnya yang belum tumbuh optimal kira-kira setinggi Shiho, dengan bahu lebar yang Shiho tebak dapat menjanjikannya tempat sebagai bintang olahraga.
Belum ada seorang pun yang bereaksi, namun lagi-lagi, Shiho tahu kalau orang ini salah satu dari memori buruk masa lalunya. Terbukti dari kepalanya yang mulai sakit sehingga ia harus mengurut keningnya sedikit.
Saat itulah Shiho mendengar suara kokangan pistol yang tak lain berasal dari Shuichi Akai.
"Ai… Apa… Aku… Ini…"
Anak itu terbata-bata dalam ucapannya, sampai bahkan tak menyadari pucuk pistol yang mengarah ke otaknya hanya berjarak sepuluh meter. Dan percayalah pada Shiho, Agen FBI semacam Shuichi Akai tidak akan meleset dalam tembakan berjarak sedekat itu.
"Sherry, kau tidak apa-apa?" tanya Shuichi yang menyadari dimana tangan Shiho berada. Sebelah tangannya yang tidak fokus pada pelatuk pistol memegang bahu gadis itu, menenangkannya.
Di antara rasa sakit kepalanya yang semakin menjadi-jadi itulah, Shiho akhirnya mampu mengeluarkan suara sembari menatap tajam remaja laki-laki di depannya. "Kau tahu? Aku rasa aku membencimu."
Tatapan itu, menurut Shuichi, adalah tanda bahwa mangsa Sherry, sang ilmuan, akan mendapat pembalasan dendam yang amat menyakitkan.
~HS~
Flashback
Sore itu, kedua sejoli yang tampak berumur sepuluh tahun sedang bersantai di ruang tengah kediaman Profesor Agasa. Tampak seorang gadis dengan celana jeans pendek dan kaus santai bernama Ai Haibara tengkurap di atas sofa sembari membaca majalah fashion kesukaannya. Sementara pasangannya, Conan Edogawa, duduk di karpet bulu dan bersandar pada sofa tersebut sembari mengunyah kue cokelat buatan sang gadis tadi siang.
"Ai?" tanya Conan pelan membuka pembicaraan.
"Hm?" tanya balik Ai tanpa menoleh.
"Aku…" Conan menelan ludahnya sedikit gugup. "…ingin bicara mengenai sesuatu."
"Tidak usah berbelit-belit, tantei-kun," jawab Ai, namun kini gadis itu bangun dari posisinya dan duduk di hadapan Conan.
Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, Conan pun melanjutkan, "Kau tahu, kan, kalau aku meninggalkan Ran padahal selama bertahun-tahun aku mengira bahwa aku cinta mati padanya?" Ai Haibara mengangguk. "Apa kau pikir aku ini laki-laki yang brengsek?" Lagi-lagi, Ai mengangguk yakin. "Eh?"
"Kau meninggalkannya dengan terlalu tiba-tiba." Mata Ai tampak menerawang, membayangkan gadis lembut yang selalu ceria itu mengurung diri di kamarnya berhari-hari. "Kau sudah memberinya terlalu banyak harapan lalu merenggutnya begitu saja."
Hanya ada suara televisi yang menayangkan siaran komedi selama beberapa saat, tapi tak ada satu pun dari mereka yang tertawa.
"Benarkah?" Conan tersenyum sedih mendengarnya, mengingat akan hari-hari suram gadis itu sampai Dokter Araide meminta tangan gadis itu kepada Detektif Kogoro Mouri. Setidaknya, Ran sudah mulai belajar hidup bahagia lagi selama setahun terakhir ini. "Jadi aku benar-benar pria brengsek."
"Hm," tanggap Ai jujur, tapi tangannya menepuk lutut Conan perlahan, menenangkan detektif kecil itu agar tidak larut dalam kesedihan yang tidak perlu. Sudah terlalu banyak waktu menyedihkan bagi mereka, bukan?
"Bagaimana… Bagaimana kalau suatu saat aku melakukannya padamu?" tanya Conan tiba-tiba dengan suara yang sangat lirih. Tangan kecil yang menepuk lututnya berhenti dan rasa dingin langsung terasa menyergapnya.
Namun saat melihat seringai Ai Haibara, kekasihnya selama beberapa tahun ini, Conan tak sanggup menahan senyum kecil yang menyeruak, meskipun keringat dingin sudah mengalir dari dahinya.
"Akan kubuat kau menderita, tentu saja, sebelum aku mengikatmu kembali padaku."
End of Flashback
~HS~
Conan menatap PR matematika di hadapannya dengan bosan. Sebentar lagi, guru matematikanya akan masuk dan ia harus mengumpulkan PR ini. Betapa rindunya ia akan kasus kejahatan yang selama beberapa minggu belakangan jarang hadir di sekitarnya. Mungkin julukannya sebagai magnet mayat sudah memudar atau para kriminar sudah mulai kapok atau takut masuk penjara. Apapun alasannya, ia merasa bersalah karena menginginkan kasus kejahatan terjadi, tapi moodnya benar-benar membutuhkan barang satu dua kasus untuk kembali bersinar dan menebarkan aura yang bukan kesuraman.
Ia menoleh ke sampingnya untuk menemukan Genta, Ayumi, dan Mitsuhiko yang sedang membicarakan area perkemahanan seperti apa yang akan mereka kunjungi akhir pekan berikutnya bersama Profesor Agasa. Mau tidak mau, pikirannya melayang kembali pada kejadian beberapa hari lalu di kediaman profesor tersebut.
Profesor Agasa sudah menjelaskan semuanya pada Conan tentang ingatan Shiho, Shuichi, dan keberadaan mereka di Jepang sekarang ini. Hari itu, ia tidak sempat bereaksi saking kagetnya melihat gadis yang bagaikan hantu itu ada di rumah Profesor Agasa. Begitu sadar kembali dari rasa kagetnya, Shuichi sudah memapah Shiho yang tampak kesakitan di bagian kepala keluar dari rumah itu.
Profesor Agasa sama sekali tidak mau memberi tahunya akan keberadaan Shiho, atau bahkan nomor telepon gadis itu sehingga ia tidak bisa menghubunginya. Yang ia ketahui hanyalah, Shuichi Akai kini menjadi wali dari pujaan hatinya. Dan itu berarti, tak akan ada cara baginya untuk melacak mereka berdua.
Menghela napas, Conan akhirnya menatap ke depan lagi, menyadari murid-murid lain yang mulai berisik karena guru mereka sudah masuk ke dalam kelas. Namun, oh, Tuhan…
"Perkenalkan, nama saya Shiho Miyano. Mulai hari ini, saya adalah wali kelas kalian. Mohon bantuannya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Balasan review^^
AN : I will not abandon my fic. Kehidupan di dunia nyata hanya terlalu menyusahkan untuk saat ini. Mohon pengertiannya.
Balasan review :
Betelgeuse Bellatrix : tapi authornya suka ShinShi gimana dong? Wkwk :3
Narutobi : shuichi bener2 Sara bikin jadi sosok kakaknya Shiho di sini, hehe
Guest : pemandangan baru akan segera datanggg, jengjeng!
Zero Kirena : maaf renaaa, dunia nyata Sara sangat memusingkan
Dendy2398 : ini diaaaa~
