Title: Once Again, Can I?
Cast: Jin, Taehyung, Jimin, Namjoon, Yoongi #TaeJin #VMin #NamJin #YoonJin
Lenght: Mini Chapter
Rating: 15+
Author: Tae-V [Line KTH_V95, Twitter KTH_V95]
Taehyung terkejut karena Jimin ternyata sudah mengetahui semuanya.
"Perlukah aku melaporkan kepada ayahmu, betapa dinginnya sikapmu padaku karena kau masih memikirkan pria itu?" sahut Jimin lagi.
"Kau.. Kau mengancamku?" tanya Taehyung dengan nada kesal.
"Iya... Aku mengancammu... Waeyo? Andwe? Haruskah kuceritakan semua kecuekanmu padaku kepada ayahmu? Kira-kira apa yang akan dilakukan ayahmu jika ia tahu anaknya masih memikirkan pria rendahan itu?" sahut Jimin.
"Dia bukan pria rendahan! Tutup mulutmu, imma!" bentak Taehyung.
"Ooooooh~ Kau masih membelanya? Kira-kira apa yang akan terjadi pada pria itu jika aku menceritakan semua pada ayahmu? Apakah nasibnya... Akan baik-baik saja?" sahut Jimin dengan nada sinis.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan, Park Jimin?!" bentak Taehyung.
"Perlakukan aku selayaknya tunanganmu, Kim.. Tae... Hyung..." sahut Jimin.
Dan panggilan itu pun terputus.
"Cih!" gerutu Taehyung sambil membanting handphonenya ke atas kasurnya.
.
.
.
Jimin menatap pantulan wajahnya di kaca yang ada di dalam kamarnya.
"Haruskah aku bertindak sampai sejauh ini? Hanya demi mendapatkan perhatian darinya?" sahut Jimin. Air matanya mulai menetes dari kedua bola matanya.
Jimin menyadari, sejak ia begitu jatuh cinta kepada Taehyung, sifatnya jadi berubah.
Jimin biasanya tidak sejahat ini, ia bukan tipe orang yang suka mengancam seperti ini, namun demi mendapatkan semua perhatian dari Taehyung, ia tiba-tiba berubah menjadi sekejam ini.
Namun, semua kenyataan itu kembali melintas di benaknya, mengenai betapa curang Mr Kim memanfaatkannya hanya untuk memisahkan Taehyung dri Jin, dan mengenai betapa besar cinta Taehyung untuk Jin sementara Taehyung memperlakukannya dengan dingin.
Jimin segera menghapus air matanya dan berkata kepada dirinya sendiri.
"Tidak! Apa yang kau lakukan ini tidak salah! Bukankah mereka dulu yang mempermainkan perasaanmu? Ini tidak salah... Apa yang kau lakukan barusan adalah hal yang benar..." sahut Jimin sambil meyakinkan hatinya.
.
.
.
"Aku akan melakukan apapun permintaanmu, asal kau berjanji satu hal!" sahut Taehyung ketika ia dan Jimin sedang makan malam bersama keesokan harinya setelah Jimin mengancamnya.
"Apa?" tanya Jimin sambil menatap Taehyung.
"Jangan pernah kau mengganggu kehidupan Jin hyeong! Ia tidak bersalah, ia tidak tahu apa-apa.." sahut Jin.
"Sebegitu besarnya kah cintamu pada pria itu?" tanya Jimin.
Hati Jimin terasa sangat sakit melihat betapa Taehyung sangat mencintai Jin, sampai Taehyung rela mengikuti semua permintaannya demi keamanan Jin.
"Kalau kau berani menyentuhnya sedikit saja, aku tak tahu apa yang akan segera menjadi headline berita selanjutnya." sahut Taehyung dengan tatapan dinginnya.
Jimin menatap Taehyung. "Kau tidak berpikir aku sekeji itu kan? Aku bahkan sama sekali tidak terpikirkan untuk menyentuh pria itu sedikitpun... Apa aku sejahat itu dimatamu? Apa kau tahu sebenarnya apakah satu-satunya kesalahanku? Mencintaimu... Mencintaimu membuatku jadi segila ini... Sampai harus mengancammu..."
Taehyung menatap Jimin tanpa menjawab apapun.
"Baiklah, ayo habiskan makananmu, sudah malam, aku harus istirahat karena besok aku ada interview jam tujuh pagi..." sahut Jimin karena Taehyung tidak menjawab ucapannya.
Taehyung dan Jimin menghabiskan makan malam mereka, dan mereka tahu persis ada beberapa fans Jimin yang memfoto sehingga mereka harus terlihat dekat.
"Bersikap ramah dan romantislah padaku sekarang, ada banyak mata yang memperhatikan kita, Taehyung a..." bisik Jimin sambil menatap Taehyung.
Taehyung, terpaksa kembali berakting, tersenyum menanggapi pembicaraannya dengan Jimin, membuat orang-orang melihat seolah mereka memang pasangan yang sangat romantis.
Dan ternyata ada beberapa awak media yang juga sedang makan malam disana, dan tentu saja keesokan harinya foto kemesraan Taehyung dan Jimin lagi-lagi menjadi headline surat kabar ternama di Korea Selatan.
.
.
.
Jin dan Namjoon sedang berbincang-bincang siang itu ketika jam istirahat tiba, sambil memakan makan siang mereka.
"Uh? Yoongi dimana?" tanya Jin,karena siang itu ia sama sekali tidak melihat sosok Min Yoongi.
"Tadi ia keluar sebelum jam istirahat, aku mau bertanya tapi sedang ada yang memesan makanan..." sahut Namjoon sambil menyendok salad di piringnya, lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.
Tak lama kemudian Yoongi datang sambil membawa sebuah majalah dan sebuah kotak berisi burger di tangannya.
"Kalian sudah mau selesai?" tanya Yoongi sambil duduk di kursi sebelah Jin.
Jin menganggukan kepalanya, mulutnya masih dipenuhi makanan yang tengah dikunyahnya.
"Ckckck~ Kau masih saja makan dengan rakus seperti itu, hyeong.." sahut Yoongi sambil membuka kotak burger itu dan mulai memakannya sambil membuka majalah yang baru saja dibelinya.
"Uh? Taehyung.." sahut Namjoon tiba-tiba.
Jin langsung menatap Namjoon dengan terkejut. "Eodieyo?"
Namjoon menunjuk cover majalah yang tengah dibaca Yoongi.
Ternyata foto Taehyung dan Jimin sedang makan malam bersama terpampang dengan sangat jelas disana, dengan headline "Pasangan Paling Romantis Abad Ini".
Yoongi, yang tidak sadar akan cover majalah itu, segera menutup majalahnya dan melihat cover depannya. "Yaishhh..."
Yoongi merasa bersalah. Di tengah jalan Jin untuk menenangkan dirinya dari sesosok pria brengsek bernama Kim Taehyung itu, ia justru malah menunjukkan sebuah majalah berisi berita kedekatan Taehyung dengan Jimin.
Jin, yang menyadari bahwa Yoongi merasa tidak enak kepadanya, segera tersenyum. "Gwenchana, Yoongi a~ Aku sudah semakin kuat akhir-akhir ini..."
"Dahengiya..." sahut Yoongi sambil tersenyum ke arah Jin.
"Kau sudah berhasil menghapusnya dari hati dan pikiranmu, hyeong?" tanya Namjoon.
Jin terlihat berpikir sejenak, lalu menjawab, "Belum sepenuhnya, tentu saja.. Tapi perasaanku sudah jauh lebih baik sekarang..."
Namjoon dan Yoongi menatap Jin.
"Semua karena kalian yang selalu memberikanku semangat untuk terus berjalan ke depan, dengan kuat... Gumawo, chinggu ya~" sahut Jin sambil tersenyum.
Senyuman yang manis, yang sanggup membuat detak jantung Yoongi dan Namjoon menjadi tidak karuan.
.
.
.
Jin terduduk sendirian di dalam kamarnya, memandangi cover majalah yang ada di tangannya itu.
Jin sengaja mampir ke sebuah mini market sepulang dari kafe dan membeli majalah itu.
Memang benar kalau perasaannya sudah jauh lebih kuat menghadapi perpisahannya dengan Taehyung, namun entah mengapa setiap malam datang dan ia sendirian dalam kamarnya, perasaannya kembali dilanda kegalauan yang luar biasa.
Jin menyetel sebuah lagu di handphonenya, dan mendengarkan lagu itu sambil menatap cover majalah itu.
Foto Taehyung dan Jimin sedang makan malam bersama, tersenyum satu sama lain, menunjukkan seolah hanya ada mereka berdua dalam dunia mereka sendiri.
"Will I see you again?
I'm standing in front of destiny
That has passed me by again
Was it a dream that we couldn't wake from?
You're getting farther away and I couldn't tell you
Not even once
I love you
Deep inside my heart
Don't let me cry"
Air mata mulai menetes dari kedua bola mata indah milik Jin itu.
Menandakan betapa Jin merindukan keberadaan Taehyung disisinya.
"(I don't wanna lose you Be without you Anymore)
I thought hard but I don't know
How to live without you
(I don't wanna lose you Be without you Anymore)
I'm standing in front of destiny
That has passed me by again
Was it a dream that we couldn't wake from?
You're getting farther away and I couldn't tell you
My heart
I'm still crying (Don't let me cry)
I'm waiting right here
Until my heart gets exhausted
Don't say goodbye
Come back to me
Come to me whenever"
"Taehyung a... Salahkah aku jika masih berharap suatu saat kau bisa kembali ke sisiku?" sahut Jin dalam isak tangisnya.
.
.
.
Taehyung menatap cover majalah yang dipegangnya.
"Apa yang ada di pikiran Jin hyeong ketika ia melihat foto ini?" gumam Taehyung sambil membanting majalah itu ke lantai.
Dan lagu itu terputar di mp3 player yang tengah disetel oleh Taehyung dalam kamarnya.
"You're a dream that'll disappear once I touch you
Like snow that melts
When I missed you, I became you
I didn't hold onto you
Because I thought you'd come back
I thought I'd see you again if I kept longing for you
The start and end of my feverish feelings
I'm standing at the start and end
Like an emergency light
I'm the only one with the light on in the darkness
No matter how much I think about it, the answer is you
But I'm writing the wrong answer in my heart
I try pushing you out but you're still there
And now you're inside my dreams
(I don't wanna lose you Be without you Anymore)
I thought hard but I don't know
How to live without you"
Taehyung tak pernah bisa melupakan Jin, seberapa pun keras usahanya untuk melupakan Jin selama hampir tujuh bulan itu.
Taehyung berulang kali berusaha membuang Jin dari hati dan pikirannya, karena jika ia terus mencintai Jin, ia akan sangat tersiksa.
Namun, sekeras apapun Taehyung berusaha menyingkirkan Jin dari dalam hati dan pikirannya, senyuman dan wajah manis Jin tetap ada disana, di dalam hati dan pikirannya.
Tak jarang Jin mampir ke dalam mimpi-mimpi Taehyung, membuat Taehyung rasanya tidak ingin bangun dari mimpi indahnya itu.
.
.
.
"Jin hyeong, ada yang mencarimu..." sahut Namjoon dari meja kasir, berteriak agar Jin di dapur mendengarnya.
Jin berjalan ke depan dan melihat seorang pria bertubuh tinggi menyerahkan sebuah amplop untuknya.
"Uh? Ada apa?" tanya Jin, kebingungan.
"Anda memenangkan undian berlibur ke Pulau Jeju... Chukkae, Kim Seokjin sshi.." sahut pria itu, kemudian berjalan keluar dari kafe setelah amplop itu ada di tangan Jin.
"Uh? Undian apa?" Jin menatap bingung ke arah Namjoon.
"Kau ikut undian apa, hyeong?" tanya Namjoon.
Jin berpikir sejenak, lalu mengingat bahwa beberapa bulan lalu ia memang mengikuti sebuah undian yang diselenggarakan di mini market tempat ia biasa berbelanja.
"Ah! Undian jalan-jalan dari mini market dekat rumahku! Aku menang? Whoaaaa~ Daebak!" sahut Jin dengan antusias.
"Jinjja, hyeong? Chukkae~" sahut Namjoon, memberikan ucapan selamat kepada Jin.
Jin melihat keterangan yang ada di dalam amplop itu.
"Namjoon a! Tiket ini harus kupakai minggu depan! Hari Senin sampai Rabu, tiga hari dua malam di Jeju Island... Huft~ Sia-sia aku memenangkan undian ini..." gerutu Jin.
"Waeyo, hyeong?" tanya Namjoon.
"Bagaimana mungkin Yoongi mengijinkanku cuti tiga hari, imma?" gerutu Jin.
"Ehem... Apa aku bos yang sekeji itu?" sahut Yoongi yang ternyata sudah ada di belakang Jin, membuat Jin terlonjak kaget karena kedatangan Yoongi yang sangat tiba-tiba itu.
"Yaishhh~ Kau mengagetkanku saja..." gerutu Jin sambil memukul bahu Yoongi dengan amplop di tangannya.
Keributan kecil mulai terjadi di kafe itu ketika Yoongi menunjukkan wajahnya di tengah kafe.
Banyak pengunjung kafe itu yang menyukai Yoongi dan seketika itu juga hampir semua mata tertuju ke arah Yoongi.
"Lihat, kau membuat kericuhan di kafe ini.." bisik Jin di telinga Yoongi, membuat para pengunjung iri melihat kedekatan Jin dan Yoongi.
"Salahkan orang tuaku, mengapa mereka melahirkan anak setampan diriku ini.." bisik Yoongi dengan gaya coolnya, membuat Jin segera mencubit lengan Yoongi.
"Narcissism, cih~" sahut Jin.
Yoongi hanya mengangkat kedua bahunya sambil mengangkat alisnya, membuat para pengunjung kafe yang menyukai Yoongi semakin histeris melihat betapa kerennya Yoongi saat itu.
"Ah, undian apa hyeong?" tanya Yoongi.
Jin segera menarik tangan Yoongi masuk ke dalam ruangan Yoongi.
"Kita bahas disini saja, aku tidak nyaman dengan tatapan mereka.." sahut Jin.
"Kau cemburu?" sahut Yoongi dengan gaya coolnya.
"Yaishhh~" sahut Jin sambil memukul kepala belakang Yoongi.
Yoongi memajukan bibirnya sambil mengusap kepala belakangnya yang dipukul oleh Jin.
"Undian apa yang kau bahas tadi, hyeong?" tanya Yoongi.
Jin memberikan amplop itu ke tangan Yoongi, dan Yoongi segera membaca isi amplop itu.
"Baiklah, kau boleh cuti tiga hari~" sahut Yoongi sambil menatap Jin.
"Uh? Jinjja, Yoongi a?" Jin terkejut mendengar bahwa Yoongi mengijinkannya.
"Tapi, kau janji, jadikan ini liburan yang menyenangkan untukmu, dan kembalilah kesini dengan seratus persen semangatmu, araseo?" sahut Yoongi.
Jin begitu tersentuh dengan perhatian Yoongi atas kesedihan yang tengah dialami Jin.
Jin segera menganggukan kepalanya.
"Aku janji, Yoongi a..." sahut Jin sambil tersenyum.
"Hyeong.. Kau tahu kan?" sahut Yoongi tiba-tiba.
"Ne? Ada apa?" tanya Jin.
Yoongi menatap Jin beberapa saat lamanya, kemudian berkata, "Kau tahu kan, betapa aku menyukaimu?"
"Uh?" Jin membelalakan kedua bola matanya.
.
-TBC-
reply for review:
zhiewon189 : waduh kenapa saya yang digorok? XD
Rrn49 : tuh chim dengerin kata Rnr chim /ngomong saya layar/?/ XD
sekarzane: waduh mulut jimin disekolahin? mulutnya doang? XD wkwkw bagus deh kalo suka sama moment trio hyeong itu :) bayangin yoongi ngeplak kepala namjoon trus namjoon meringis XD whoaaaaa~ thx a lot buat pujiannya ya :) terharu nih /peluk Mr Kim/?/ here next chapternya :)
Nam0SuPD: namjoon sama yoongi? seme x seme ntar XD lawak ya liat mereka berdua?
dewiaisyah : coba digigit aja jiminnya, apalagi rambutnya abu2 gitu sekarang cocok digigit/? XD thx ya wi buat semangatnya {} kamu jg semangat terus ya :)
