Nyaa! Cieru cherry balik lagi setelah menjalani masa vakum yg sangat lama. ^0^ Author ucapkan maaf sebesar-besarnya kepada para pembaca yang sudah membaca, mereview, mem-fave, mem-follow dan mendukung keberlajutan fict abal ini.
Well, autor tidak akan membuat banyak alasan mengapa update-nya sangat lamaa. Jujur author mengalami STUCK selama berbulan-bulan dan sebagai penebus kesalahan author, sebenarnya author akan update dua chapter sekaligus. . . tetapi karena mengalami sedikit kesibukan chapter ke-8 jadi tertunda dulu. Semoga cieru cherry yang lemot ini dimaafkan -_-
Untuk chapter ini, buat para fans Sasu-Hina mohon sabar ya. . . kalau ada yg g berkenan. Kalau nanti Karin nempel-nempel sama Sasuke trus Hinata rada-rada nemplok juga ke Gaara #pokoknya author jangan dilempari bom kertas, ok?# Kan di title-nya udah jelas Sasu-Hina, jadi Sasuke sama Hinata pasti baikan kok meskipun nggak sekarang. , jadi sabar dulu ya. . . ^-^
Oke, langsung aja ya. . .
Let's Find New Love, Hinata!
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto donk, kalau milik saya genre-nya nanti jadi shoujo #duesh!#
Warning: OOC, school life, Geje-ness and little mess
". . . Nata. Hinata. . .Hinata!"Pekik seorang gadis berambut coklat gelap bercepol yang melambai-lambaikan tangannya pada seorang gadis imut bersurai indigo yang celingukan.
"Ah, Tenten." Ujar Hinata ketika temannya yang berwajah oriental cina itu mendekat.
"Kau kenapa?" Tanya Tenten to the point sambil menundukkan kepalanya sedikit untuk menyamakan tingginya dengan tinggi Hinata. Jari Tenten menunjuk pada sesuatu yang melingkari leher Hinata, sebuah syal rajutan tebal yang mampu menyembunyikan sebagian wajah Hinata jika gadis itu menunduk. Tentunya, itu merupakan hal yang wajar jika seseorang memakai syal sekedar untuk alasan modis atau fashion tetapi jika memakainya di hari cerah di musim panas begini, apa tidak kegerahan?
"Oh, aku sedikit demam." Ujar Hinata lugas.
"Lalu mengapa ada mata panda di area sekitar matamu? Apa kau mau meniru gayanya Gaara?" Tanya Tenten dengan diselingi guyonan. Namun anehnya Hinata malah bergeming, tampak sedang memikirkan sesuatu dengan pandangan matanya yang sayu.
"Selamat pagi, Tenten! Hinata!" Ujar Ino yang baru saja datang dan langsung memberikan pelukan bersahabat kepada kedua temannya itu.
"Ino, kau bisa membunuh orang dengan pelukan mautmu." Dengus Tenten sementara Ino hanya nyengir lebar.
"Itu kan menurutmu, iya kan Hina-" Ino memutus kalimatnya ketika ia melihat sahabat indigonya malah diam saja dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Apa ada masalah?" Tanya Ino agak cemas. Tenten ikut-ikutan menatap Hinata sementara yang ditanyai tercekat sebentar lalu memberi senyuman yang dipaksakan, "Tidak ada apa-apa." Jawab Hinata berusaha sebiasa mungkin, namun kedua sahabatnya sudah sangat mengenal Hinata jadi mereka berdua tahu bahwa Hinata sedang menyembunyikan suatu masalah dari mereka.
"Hinata kau-" Tenten mencoba berbicara pada Hinata, namun belum sempurna ia mengutarakan isi hatinya, seseorang sudah terlebih dulu mendahului suaranya.
"Hinata!" Panggil suara seorang laki-laki yang sukses membuat ketiga sahabat itu menoleh. Tidak jauh dari mereka terlihat seorang laki-laki berambut merah bata dengan wajah masam mengangkat satu tangannya di atas pinggang. Sungguh mengherankan melihat Si Sabaku muda berkacak pinggang di pagi ini. Biasanya anak pindahan dari Suna itu menyukai pose menyilangkan kedua tangan di dada atau memasukkan kedua tangannya ke saku saat berjalan. Tetapi mungkin karena salah satu tangannya membawa bekal berwarna biru gelap jadinya ia tidak bisa melakukan gaya kesukaannya. Hinata yang melihat Gaara menenteng bekalnya buru-buru mendekat, berlari-lari kecil menghampiri Gaara sementara Ino dan Tenten terdiam di tempat, mengamati pasangan baru Gaa-Hina tersebut.
"Kau bodoh sekali melupakan bekal yang sudah kau buat sendiri." Dengus Gaara sedangkan Hinata Cuma memasang wajah innocent.
"I-iya, maaafkan aku." Ujar Hinata kemudian sambil mengembungkan pipinya.
"Lain kali jangan merepotkanku. Kakak laki-lakimu itu berisik sekali menyuruhku membawa benda ini." Ujar Gaara masih dengan wajah stoicnya seraya mengambil satu tangan Hinata dan meletakkan bekal tersebut pada telapak tangan Hinata yang mungil.
"Te-terima kasih." Ujar Hinata dengan kikuk. Gaara diam, sama sekali tidak menunjukkan ekspressi apapun selain ekspressi dingin. Namun tiba-tiba cowok berambut merah itu menundukkan kepalanya cukup dalam, hingga bisa mencapai pada posisi wajah Hinata dan. . .
Cup!
Tenten, Ino dan beberapa siswa maupun siswi yang melihat adegan Gaara mencium Hinata terbengong-bengong, bahkan tidak sedikit yang wajahnya memerah. Sementara Hinata sendiri mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, berusaha memproses apa yang terjadi barusan, sekian detik yang lalu. Gaara menciumnya, di depan umum, tepatnya di koridor yang ramai dengan lalu lalang para siswa. Meskipun ciuman itu bukan di bibir, melainkan di kening tetapi tetap saja membuat pipi chubby gadis itu merona seketika.
"A-ah. . . Ta-tadi. . ." Suara Hinata terbata-bata, terlalu malu setelah efek kecupan singkat tadi. Apalagi ketika Hinata melihat sekitarnya dan melihat berpasang-pasang mata yang berhenti untuk mengabadikan momen tersebut meski ada sebagian siswi yang menatapnya tajam -fansgirl Gaara mungkin- sehingga membuat nyali Hinata sedikit menciut. Sedangkan Gaara sama sekali tampak tak peduli bahkan bibirnya menyeringai lebar dengan mata jade-nya yang melirik ke arah lain.
Hinata yang penasaran mengikuti arah mata Gaara dan voila. . . Hinata menemukan sosok yang sedang menatapnya serta Gaara dengan tajam. Sosok yang memasang wajah angkuh dengan rahang yang terlihat mengeras dikerubungi cewek-cewek pengagumnya. Rambut hitam yang mencuat melawan gaya gravitasi dan mata obsidian hitam yang mampu membuat banyak gadis tersihir oleh kemisteriusannya. Wajah tampan di atas rata-rata yang tampak dingin serta semua kelebihan fisik yang dimilikinya. Semua hal yang hanya dimiliki oleh seorang. . . Uchiha Sasuke, seseorang yang paling Hinata hindari saat ini.
Flashback on
"Hyaah. .!" Bag! Bug! Bag! Bug!
'Lagi, lagi' batin Hinata sementara matanya berkonsentrasi penuh ke balok kayu di hadapannya. Tangan mungilnya tangkas melancarkan serangan jyuuken pada benda padat keras berwarna coklat tersebut, menimbulkan bekas pukulan pada kulit kayu yang terkelupas juga bekas kemerahan pada telapak tangannya. Bulir-bulir keringat mengucur deras dari dahi maupun seluruh tubuh di balik pakaiannya. Hinata mengindahkannya. Bahkan gadis itu tidak peduli meski malam semakin larut sementara ia masih berada di doujo miliknya untuk melatih dirinya menjadi lebih kuat. Ya, Hinata ingin menjadi lebih kuat dan semakin kuat, karena itu ia rajin latihan selama ini.
Namun entah kenapa semua latihannya seakan sia-sia ketika ia merasakan sesuatu dalam dirinya hancur. Rasa sakit itu membakar dalam hatinya, seakan menghanguskan seluruh kekuatannya. Kenapa ia masih merasa sebegini lemahnya? Ketika mendapati cintanya kandas lagi. Lagi. Lagi. Dan dengan itu Hinata semakin kalap menyarangkan jyuuken pada sansak kayunya. Berharap rasa sakit di dadanya akan menghilang.
Tangan Hinata semakin memerah, bahkan lecet-lecet serta sedikit berdarah. Ini lebih menyakitkan daripada ketika ia dikecewakan oleh Naruto. Mungkin karena ia memang mencintainya, mencintai cowok bermata onxy tajam itu. Entah kenapa Sasuke dapat membuat Hinata melupakan cintanya pada Naruto dengan mudahnya. Cinta Hinata yang selama dua tahun tidak terbalas beralih begitu saja pada Uchiha Sasuke yang baru dikenalnya selama sekitar seminggu. Menggelikan memang tetapi itulah yang terjadi. Sasuke yang memiliki wajah dingin rupawan yang mengalihkannya dari wajah cerah Naruto. Sasuke yang bersikap angkuh dan seenaknya menarik dirinya dari jerat Naruto yang bersikap ramah dan ceria. Bahkan mata hitam onxy itu telah membutakan matanya dari silau mata biru langit milik si pemuda Uzumaki.
Namun, ketika harapan Hinata telah membuncah pada cowok bermarga Uchiha itu, mengapa Sasuke tega sekali bermain di belakangnya dengan Karin? Membiarkannya menunggu seperti orang bodoh di malam yang berhujan. Mengapa, setelah semua kisah manis yang terjadi justru berakhir hancur seperti ini? Semua perhatian yang Sasuke berikan selama ini kepadanya apa hanya omong kosong? Apa Sasuke tertawa tanpa ia ketahui ketika Sasuke tahu Hinata berbalik mencintainya, melupakan si Baka dobe Naruto.
'Kau bukan orang yang seperti itu kan, Sasuke kun?' Sekelebat memori mengantarkannya pada suara Karin yang nyata-nyata mengejeknya, mengatakan bahwa Sasuke tidur bersama wanita berambut marun itu.
"Hyaaahh! Hinata berteriak lebih nyaring seraya melancarkan pukulan yang lebih keras dari sebelumnya. Pukulan itu telak mengenai bekas-bekas sebelumnya dan kali ini menimbulkan retakan yang lebih dalam.
"Hah. . .Hhahh. . ." Napas Hinata terengah-engah. Kedua kakinya gemetar perlahan, tidak sanggup lagi menahan tubuhnya yang kepayahan. Kedua lututnya tertumpu pada lantai kayu tanpa bisa ia lawan. Tubuhnya rebah sementara mata putihnya yang seindah rembulan menatap nanar langit-langit.
"Sudah selesai?" Tanya sebuah suara dengan nada datar. Hinata menolehkan kepalanya, begitu lemah. menatap cowok bertato ai yang memandangnya datar namun tersirat kekhawatiran pada mata jade-nya itu. Hinata tidak memberikan balasan dan kembali beralih menatap langit-langit doujonya. Mata bulannya terpejam, berusaha menormalkan kembali napasnya yang memburu.
Gaara berjalan mendekat, masih dengan wajah stoicnya mendekati sang Hime yang terbaring. Begitu berada di samping Hinata, si Sabaku muda itu kemudian meraih tangan Hinata, membuat si empunya sedikit meringis kesakitan.
"Apa kau selalu melukai dirimu sendiri sebagai pelampiasan saat orang lain melukaimu?" Desis Gaara yang membuat Hinata membuka kedua matanya. Hening sejenak. Mata hijau Gaara memaku mata bulan Hinata yang tampak meredup. Gaara merasa sangat marah demi mendapati tangan mungil Hinata yang selembut belaian ibunya itu menjadi memar merah dan lecet-lecet demi cowok itu pula, Uchiha Sasuke!
"Apa yang bagus darinya?" Ujar Gaara berupaya menekan suaranya. Hinata masih membisu. Dengan dengusan kesal Sabaku muda itu kemudian mengusapkan sesuatu pada tangan Hinata yang lecet-lecet. Hinata sedikit tersentak ketika merasakan cairan dingin yang meresap ke luka-lukanya.
"Maaf, aku tidak seahli dirimu dalam hal ini." Ujar Gaara ketika memperhatikan Hinata yang beberapa kali menahan sakit.
"Te-terima kasih." Ujar Hinata sembari menatap sepupunya itu. Gaara tidak memberikan tanggapan, tangannya masih sibuk membalutkan perban juga plester, menutupi luka-luka yang tidak sedap dipandang mata. Hinata memandangi kedua tangannya yang mulai terbungkus kain perban, sedikit heran sejak kapan Gaara bisa merawat luka. Setahunya dulu ia lah yang sering merawat Gaara baik saat cowok itu sakit ataupun saat Gaara terjatuh ketika bermain. Berpikir demikian, tanpa sadar Hinata terus memandangi cowok di hadapannya. Hinata tidak pernah melihat Gaara dari jarak sedekat ini sebelumnya. Rambut merahnya yang tampak lembut berjatuhan ketika pemiliknya menunduk. Aroma citrus bisa Hinata rasakan dari tubuh cowok yang berada di depannya sekarang. Juga Hinata bisa memperhatikan bahu dan leher Gaara yang tampak kokoh serta lengan yang cukup kuat untuk ukuran cowok seusianya. 'Dia bisa punya otot ya?' Pikir Hinata ketika ia memperhatikan lekuk tubuh bagian depan Gaara, bukannya Hinata mesum tetapi gadis itu hanya membandingkannya saja dengan Gaara kecil yang dulu suka bermain dengan boneka panda.
"Kau bisa menyukaiku jika terus memandangiku." Ujar Garaa dengan seringaian kecil di bibirnya. Merasa ketahuan, Hinata cepat-cepat membuang mukanya. Wajahnya bersemu merah karena malu. Bagaimana jika nantinya Gaara menganggapnya mesum? No Hell!
"E-enak saja." Dengus Hinata sembari mengembungkan pipinya. Gaara tergelak pelan sembari meletakkan kembali tangan Hinata yang selesai di balutnya.
"Tapi aku tidak keberatan jika kau menyukaiku." Ucapan Gaara barusan membuat Hinata reflek menolehkan wajahnya. Kesalahan besar bagi Hinata karena saat itu Gaara sedang menatapnya intens. Wajah Gaara kini hanya berjarak beberapa inchi dari wajahnya. Mata jade itu memandang lurus manik lavendernya, begitu dalam juga menginginkan suatu tuntutan. Hinata meneguk ludah dengan gugup, sedikit demi sedikit beringsut mundur tetapi sepupunya menahan punggungnya dan menariknya mendekat.
"Hinata." Panggil Gaara dengan suara berbisik yang membuat jantung Hinata berpacu lebih cepat. Hinata tidak mempunyai suatu ide apapun tentang apa yang akan dilakukan sepupunya ini. Posisi mereka terlalu absurd dan Hinata tidak bisa bergerak kemanapun karena kakinya sudah terlalu lemah bahkan untuk berdiri sekalipun, efek dari latihannya selama sekitar dua jam tadi.
"A-apa?" Suara Hinata terdengar seperti cicitan sementara kepalanya sedikit menunduk, menghindari hidung Gaara yang nyaris menyentuh hidung mungilnya.
"Aku menyukaimu." Kalimat itu keluar dari bibir Gaara. Gaara mengucapkannya dengan ketenangan luar biasa tetapi Hinata pun bisa melihat ada kegugupan, cinta, juga rasa ingin memiliki yang tersirat dari mata hijau tersebut. Wajah Hinata kontan memerah. Ini memang bukan pertama kalinya ia menerima pernyataan cinta seseorang. Tetapi tetap saja warna kulit wajahnya selalu menunjukkan efek berlebihan setiap kali gadis itu merasa malu ataupun gugup sehingga mudah sekali bagi orang lain untuk menebak apa yang dirasakannya.
"E-ettoo. . . a-aku. . ." Gaara tampak menanti dengan sabar apa yang akan di ucapkan gadis dihadapannya tersebut. Wajah Hinata yang menunduk dengan gurat malu-malu di pipi chubby-nya memang memberikan pemandangan menarik tersendiri baginya. Bibir mungil Hinata yang bergumam tidak jelas karena kebingungan akan apa yang ingin diutarakan mengundang Gaara untuk semakin mendekat.
Perlahan namun pasti, Gaara semakin bergerak mendesak tubuh mungil Hinata sembari menopang punggung gadis bersurai indigo tersebut. Hinata tahu betul apa yang akan dilakukan sepupunya sekarang ini. Jarak yang semakin terhapus di antara mereka serta hembusan napas yang saling menerpa itu sudah cukup memberi gambaran bagi Hinata bahwa sebentar lagi bibir Gaara akan menemukan bibirnya. . .
SET!
Mata jade Gaara agak melebar. Menyadari bahwa Hinata memalingkan muka tepat sekian detik sebelum ia menyatukan bibirnya dengan bibir penuh berwarna merah delima milik Hinata. Perlahan pemuda itu menarik tubuhnya sedikit menjauh dari Hinata tetapi matanya masih menatap lurus sepasang mata purple white yang berusaha menghindari tatapannya.
"Kalau Sasuke yang menciummu apa kau tidak keberatan?" Ujar Gaara kembali ke wajah stoicnya. Ada nada kecewa disana, Hinata pun mengetahuinya.
"Eh?" Bibir mungil Hinata sedikit terbuka, mata tanpa pupil itu tersentak. Pertanyaan itu sama sekali tidak ia duga. Bagaimana jika Sasuke yang menciumnya? Membayangkannya saja pipinya memanas seperti kepiting rebus. Meski kepalanya menggeleng berusaha mengusir bayang-bayang Sasuke tetapi tetap saja otaknya terus memutar ulang wajah Sasuke tanpa bisa ia cegah.
"Kau masih mencintainya rupanya." Ujar Gaara menilai dari sikap kikuk Hinata.
"Tapi tidak masalah. Aku akan membuatmu melupakannya, hm." Gaara menyentuh sisi rambut Hinata. Rona tipis samar mewarnai pipi gadis itu namun Hinata tidak mengatakan sepatah kata apapun. Hinata tidak yakin akan mudah baginya melupakan Sasuke semudah ia melupakan Naruto. Ini bukanlah cinta yang tidak bisa dilupakan, tetapi cinta ini memang tidak ingin Hinata lupakan. . .
Hinata merasakan kepalanya berdenyut. Pening. Mata lavendernya mengabur dengan cepat. "Aku lelah." Lirih Hinata sebelum tubuhnya limbung dengan mata terpejam. Dengan sigap Gaara menangkap tubuh lemah itu, menatap dengan pandangan terluka pada setitik air yang bertengger di sudut mata Hinata yang terpejam. Gadis itu telah mengalami patah hati dan menyalurkan kekecewaannya dengan berlatih di doujo di malam yang mengantarkan udara dingin sisa hujan. Tidakkah ia mengerti banyak orang yang peduli dan mencemaskannya? Hanabi serta Neji yang menungguinya tadi di depan pintu begitu khawatir melihat kondisi Hinata yang kedinginan. Bahkan kedua Hyuuga itu bertubi-tubi menanyai Gaara macam-macam karena Hinata lebih memilih menyendiri di kamarnya.
"Aku mencintaimu Hime." Bisik Gaara sembari memandang lembut gadis yang berada dalam pangkuannya. Tidak ada balasan kecuali dengkuran halus dan helaan napas Hinata.
"Akan kubuat kau melupakannya." Desis Gaara kemudian seraya berjalan tenang membawa Hinata dengan posisi bridal style.
END of Flashback
Sasuke masih bertahan di posisinya. Raut marah dan geram jelas terpancar dari wajah es-nya. Sasuke adalah tipe cowok posesif dan ia masih mengklaim Hinata sebagai miliknya. Jadi tidak salah kan jika sekarang tangan Sasuke terkepal erat demi melihat 'miliknya' disentuh orang lain? Mata onxy Sasuke menyipit memandangi Hinata bergantian dengan Gaara meski pandangannya agak terhalangi kepala-kepala gadis yang sedang mengerumuninya. Saat ini Sasuke mengenakan syal biru kotak-kotak yang sesuai dengan blazer sekolah Konoha yang berwarna biru gelap. Kemeja Sasuke yang menyembul ditambah dasi panjang yang agak melorot semakin menambah kesan seksi nan cool dimata para fans-nya meskipun bungsu Uchiha itu dalam keadaan kurang sehat sekalipun karena demam.
"Pagi Sasuke kun."
"Wah hari ini Sasuke kun lebih modis dari biasanya, ya."
"Sasuke kun apa kau sedang sakit?"
Sasuke seolah tidak mempedulikan kata-kata manis yang terlontar dari gadis-gadis cantik yang saat ini mengelilinginya. Mata hitam pekatnya kosong, namun intens memandang sepasang mata rembulan yang bagaimanapun masih tetap dikaguminya. Hinata yang menyadari tatapan Sasuke memalingkan wajahnya, berupaya menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Jantungnya berdegup kencang, seakan berlomba menabuh genderang di dalam dadanya. Ia merasa sesak, sesak karena cinta yang membelitnya juga rasa sakit dari cinta itu.
"Mau ke kelas, Hime?" Tanya Gaara memecahkan lamunan Hinata. Hinata tidak menjawab namun kepalanya mengangguk mengiyakan. Tanpa persetujuan Hinata, Gaara sudah menggamit tangannya lalu sedikit menarik Hinata untuk mengikuti langkahnya. Ino dan Tenten menatap Hinata tidak percaya ketika kedua pasangan itu melewati mereka. 'Sejak kapan Hinata dan Gaara jadian?' begitu pikir kedua kawan baik Hinata tersebut. Namun keduanya tidak memperoleh jawaban karena Hinata telah ditarik Gaara menuju ke kelas, meninggalkan semua yang ada disitu termasuk Sasuke yang kemudian berjalan menghentak meninggalkan kerumunan fans girlnya.
"Jangan menggangguku." Ujar Sasuke begitu dingin dan menusuk, membuat para fans girlnya sedikit merasa takut dan tidak mengekor kepergian pangeran Konoha school tersebut.
. . . . . . . .
"Ne, Hinata. Sejak kapan kau jadian dengan Gaara?" Tanya Tenten yang langsung menginterview Hinata setelah mereka menempati bangku masing-masing.
"Uh. . Um, E- etto. Kami tidak jadian kok." Terang Hinata sementara bola matanya memutar ke arah cowok yang sedang dibicarakan, Gaara yang berbincang dengan Naruto.
"Lalu kenapa dia menciummu, apalagi di tempat umum semacam koridor?" Tanya Ino penasaran yang membuat pipi Hinata sedikit memerah mengingat kejadian kecupan singkat tadi.
"Ma-mana kutahu kalau dia itu pervert." Ujar Hinata yang membuat baik Ino maupun Tenten cekikikan mendengarnya.
"Ah, akhirnya kau mulai kembali ke Hinata yang semula. Kami sempat khawatir karena sedari tadi kau terlihat murung, iya kan Ino?" Ujar Tenten yang dibalas anggukan mantap oleh Ino.
"Padahal biasanya meski patah hati dengan Naruto pun kau tidak sampai sesedih ini." Cerocos Ino yang membuat Hinata membulatkan bola matanya.
"A-apa benar?" Tanya Hinata agak ragu.
"Tentu saja. Hari ini kau terlihat sangat kacau. Kantung mata hitam, syal pertanda demam, juga. . . ada apa dengan kedua tanganmu ini?" Pekik Tenten kemudian meraih tangan Hinata tanpa persetujuan pemiliknya. Gadis beraksen China itu lalu menunjuk lecet-lecet merah yang masih membekas pada telapak tangan Hinata, membuat si gadis indigo tersenyum kecut.
"E-etto, kemarin aku latihan di doujo. Tidak perlu khawatir aku baik-baik saja." Ujar Hinata berusaha meyakinkan kedua sahabatnya walaupun tatapan mata bulannya yang meredup mengatakan sebaliknya. Tanpa Hinata sadari, percakapannya dengan dua temannya tidak lepas dari pendengaran tajam Uchiha Sasuke. Siapa yang tahu bahwa sebenarnya cowok berambut arang itu memperhatikan gadis lavender di bangku pojok sana dari sudut mata onxynya. Ya, Sasuke sekarang kembali ke bangku asalnya. Bangku paling depan dekat meja guru bersebelahan dengan Sakura.
"Nee. . .Sasuke, kau kembali lagi padaku." Suara riang Sakura hanya ditanggapi ekspressi datar dari pangeran Konoha. Si rambut cherry menaikkan alisnya melihat Sasuke yang lebih dingin daripada biasanya. Meski Sasuke merupakan tipe limited speak tetapi biasanya Sasuke akan memberikan sedikit respon berupa 'Hn' yang sampai saat ini pun Sakura kebingungan untuk menerjemahkan dua huruf tersebut.
"Ada apa?" Tanya Sakura dengan wajah penasaran.
"Yo, teme! Sakura chan!" Seru suara nyaring Uzumaki muda yang dibalas muka cemberut Sakura. Naruto mendekat dengan memperlihatkan cengiran lebarnya hingga kumis kucing di pipinya tampak lebih jelas.
"Naruto, tumben sekali kau tidak telat hari ini?" ledek Sakura sembari berkacak pinggang.
"Tentu saja. Jam pertama nanti kan pelajaran Kakashi sensei. Ah, tidak sabar rasanya mempresentasikan hasil kerja kelompokku bersama Sakura chan." Ujar Naruto dengan wajah cerah.
"Ih, awas ya nanti kalau kau membuatku kerepotan, Naruto." Sungut Sakura yang dibalas tawa renyah Naruto.
Sasuke Cuma diam, sama sekali tidak mempedulikan dua sahabatnya yang kini berdebat ringan seperti biasa. Walau sudah sering mendengarkan suara toa Naruto yang beradu dengan suara cempreng Sakura, tetap saja kedua mahkluk itu berisik bagi Sasuke terutama ketika mood tuan muda tersebut sedang sangat buruk!
"Ah, iya, Teme. Bagaimana denganmu dan Hinata chan?!" Tanya Naruto dengan suara toa-nya yang memekik. Pertanyaan buruk! Apalagi gadis bermata lavender di bangku paling belakang juga menoleh ke arah bangkunya. Ingin sekali Sasuke menjitak kepala kuning duren sahabat kecilnya itu.
"Hn." Ujar Sasuke pada akhirnya, menahan kedongkolan. 'Awas kalau sampai si dobe ini tanya macam-macam lagi.' geram Sasuke dalam hati.
"Ya, kau kan memang 'sedikit' jenius ditambah dengan Hinata chan yang bisa diandalkan sepertinya kalian memang pasangan serasi. Hehehe." Ujar Naruto tanpa merasa berdosa. Well, Naruto memang tidak berdosa karena ia terlalu polos dan tidak mengetahui bahwa orang-orang yang ia bicarakan sedang terlibat konflik perang dingin. Sasuke masih diam, mengatur napas. Tangannya terkepal erat alih-alih tidak melayangkan raikiri pada sahabat rubahnya yang benar-benar super dobe.
"O,iya. Kau dan Hinata chan janjian demam bersama ya?" Tuding Naruto. Speedometer kesabaran Sasuke hampir jebol demi mendengar pertanyaan konyol tersebut. Seandainya saja membawa senjata tajam diperbolehkan di sekolah, Sasuke tidak akan ragu lagi menghunus pedang kusanagi untuk membungkam mulut Naruto.
Sementara itu seluruh kelas menghujani Sasuke dan Hinata bergantian dengan pandangan penasaran, minus Gaara yang melayangkan death glare pada cowok berisik berambut kuning yang masih meng-interview Sasuke. Well, baik Sasuke maupun Hinata memang sama-sama mengenakan syal di musim panas yang cerah seperti ini. Apalagi syal yang mereka pakai juga warnanya hampir senada. Sasuke dengan syal biru kotak-kotaknya dan Hinata dengan syal rajutan garis-garis biru tua dan putih.
Ada yang berbisik-bisik, senyum-senyum, namun kebanyakan siswi memasang raut masam ketika menatap tajam Hinata yang tampak salah tingkah di bangkunya. Dari bangkunya seorang gadis berambut merah marun hanya menatap jengah kejadian tersebut. Tatapan sinis mencemooh jelas tersirat dari matanya yang dibingkai kacamata ketika diliriknya gadis indigo yang tampak salah tingkah. 'Kau pikir kalian berjodoh? Khukhukhu. . . Sasuke Cuma berjodoh denganku, Hinata sialan.' Geramnya dalam hati.
Naruto masih melanjutkan orasinya yang kali ini sukses membuat kelas semakin ribut, "Yare, yare. . . Memangnya kalian habis berbuat apa sampai bisa sakit demam bersamaan?" si rambut kuning geleng-geleng kepala disusul siulan sebagian besar siswa laki-laki. Sementara itu wajah Hinata sudah merah padam semerah tomat ranum yang siap dipetik. Sedangkan Sasuke. . . Oh, bolehkah Sasuke mengirim Naruto ke alam baka sekarang juga?!
"BRRAAAKK!"
Suasana kelas 2 A yang semula ramai mendadak hening seketika. Semua pandangan mata tertuju pada arah pintu yang terbuka dengan kasar dan begitu tiba-tiba. Siluet seorang pria berambut keperakan tampak garuk-garuk kepala ketika menyadari apa yang dilakukannya barusan membuat anak didiknya shocked mendadak.
"Maaf, maaf. Karena terlambat aku jadi terlalu kuat mendorong pintunya." Ujar si guru muda Kakashi sensei sembari tersenyum dengan matanya yang menyipit. Kebanyakan siswa mendengus kesal sembari berjalan menuju mejanya masing-masing. Padahal mereka sedang asyik-asyiknya menikmati adegan ketika si prince charming, Uchiha Sasuke di wawancarai secara live oleh Naruto dan pertanyaan terakhir Naruto tadi sungguh membuat penasaran, khekehekhe. . .
"Ah, sepertinya aku sudah memberikan tugas kelompok pada kalian minggu kemarin." Ujar Kakashi memasang senyum andalannya.
"Benar, Kakashi sensei!" Sahut Naruto dan Lee, begitu bersemangat sementara yang lain memberi pandangan menusuk pada dua cowok paling hyperaktif itu. Kakashi manggut-manggut lalu meletakkan beberapa buku yang dibawanya di atas meja. Dengan tenangnya ia mengeluarkan note kecil. Dan semua orang sepertinya cukup tahu bahwa note yang dibawa guru muda tersebut berisi daftar nama mereka. Suasana mendadak mencekam, bahkan bernapas saja segan. Mata hitam Kakashi bergerak naik turun memilih deretan nama pasangan yang tercetak disana. Seringai guru yang sering membaca buku mencurigakan itu melebar ketika menemukan apa yang ia cari. Kelompok yang maju pertama kali harus yang paling mengesankan bukan? Dan Kakashi sangat tahu kelompok siapa yang bisa mewujudkan harapannya tersebut. . .
"Baiklah, untuk presentasi pembuka adalah kelompok. . ." Jeda sebentar. Semua orang tampak menarik napas, tegang, seolah menunggu pemenang nominasi Golden Award.
"Sasu-Hina." Langit serasa runtuh bagi Hinata demi mendengar dua kalimat Kakashi barusan. SasuHina, Sasuke dan Hinata. Kami sama. . . Ini benar-benar waktu yang sangat tidak tepat bagi mereka untuk dipasangkan sebagai pasangan. Hinata melihat Sasuke yang telah berdiri dari bangkunya. Dengan pose angkuhnya cowok bermarga Uchiha itu melangkah ke depan sambil menenteng laptop mewahnya yang hanya dijual beberapa buah di seluruh dunia. Sepasang obsidian hitam menatap lurus pada Hinata yang membuat gadis bermanik lavender sontak menyadari bahwa seharusnya ia segera menyusul 'rekannya' tersebut. Ya, apapun yang terjadi nanti, Hinata pastikan akan berakhir buruk. . .
****************************** SKIP! ****************************
Hinata memakan bekalnya pelan-pelan. Suntuk berat. Brokoli yang berada di kotak makannya beberapa kali ia tusuk sebelum memasukkan benda hijau penuh serat itu ke dalam mulutnya.
"Hinata, tidak baik makan dengan cara seperti itu." seru Ino ketika melirik sepintas Hinata yang sedari tadi cemberut dan menjadi pemurung.
"Ah, i-iya maaf." Ujar Hinata yang sepertinya baru tersadar dari lamunannya. Dipandanginya brokoli buatannya dengan tatapan bersalah lalu gadis itu mulai makan bekalnya dengan biasa. Apa boleh buat, kejadian saat presentasi beberapa waktu yang lalu masih begitu menempel di otaknya. Dia yang begitu kikuk ketika berdiri di samping Sasuke sementara Sasuke tampak tenang-tenang saja seolah tidak pernah ada masalah di antara mereka.
Hinata yang berada pada mood yang tidak baik semakin uring-uringan ketika Sasuke memutar bola matanya, memberi isyarat pada Hinata dengan wajah angkuhnya yang tampak jengah. Hinata mengartikan isyarat Sasuke itu dengan kalimat, 'Tidak perlu mencampuradukkan masalah pribadi dengan presentasi. Yang jelas jangan membuatku repot, gadis bodoh.' Meskipun sebenarnya maksud si Uchiha adalah, 'Tidak perlu secanggung itu. Lakukan semuanya seperti biasa.' Alhasil presentasi keduanya begitu aneh. Meski Sasuke dapat dengan gamblang memberi penjelasan dan Hinata juga menyelesaikan penjabarannya di slide dengan cukup baik, tetapi keduanya menjaga jarak. Hontou, Hinata yang sebenarnya menjaga jarak. Ketika Sasuke mendekati gadis itu untuk menunjukkan bagian-bagian mana yang harus Hinata sampaikan (tahu sendiri kan Hinata kurang ahli matematika), Hinata malah beringsut ke samping karena tampang Sasuke yang baginya terlihat ingin 'mengunyahnya'. Jadinya, kelompok Sasu Hina itu mempresentasikan tugas mereka tanpa suatu interaksi apapun. Sungguh presentasi terburuk yang pernah Hinata alami dan pastinya Sasuke juga!
"Memangnya ada apa denganmu dan Sasuke? Kukira kalian sudah jadian dua hari yang lalu tetapi sekarang kau malah dekat dengan sepupumu." Ujar Tenten sambil memakan nasinya.
"Benar, apa itu ada hubungannya dengan syal yang sama-sama kalian pakai? Kemarin malam kan hujan deras?" sambung Ino yang kemudian terdengar suara sedakan pelan dari Hinata yang sedang meminum tehnya. Tenten yang melihat reaksi Hinata menghentikan acara makannya.
"Nee, sepertinya ada sesuatu yang harus kau ceritakan pada kami, Hinata." Hinata menarik napas dalam. Ino dan Tenten memandanginya bersamaan dengan tatapan menuntut. Well, sepertinya tidak ada salahnya untuk membagi masalah yang ia hadapi pada dua sahabat karibnya itu. Bukankah itu gunanya teman? Mungkin saja kedua temannya itu bisa memberikan solusi terbaik atau setidaknya cara untuk menghibur dirinya. . . semoga.
. . . . . . . .
"Jadi begitulah ceritanya." Ujar Hinata mengakhiri asal muasal keanehan hubungannya dengan Sasuke yang ditanggapi oleh Tenten maupun Ino dengan 'Oooo. . .' bersamaan. Sekarang ganti Hinata yang menatap penuh harap pada gadis bercepol dan gadis kuncir kuda di hadapannya. Tenten tampak menggeleng-gelengkan kepalanya begitu mendengar penuturan teman indigo-nya, membuat Hinata menautkan alisnya.
"Aduh, aduh, Hinata. . . Kalian kan belum saling bicara tapi sudah saling curiga begitu." Ujar Tenten.
"Benar lagipula kau jangan mudah termakan omongan Karin. Dia itu kan perempuan bermulut ular. Kau seharusnya lebih percaya Sasuke dong." Ino juga ikut menyela.
"Lagipula tadi kau bilang Sasuke datang menyusulmu dan melihatmu berpelukan dengan Gaara, begitu? Berarti yang paling terluka disini itu ya Sasuke, Hinata." Lanjut Tenten dengan memberi penekanan pada kata 'terluka' dan 'Sasuke'. Entah kenapa sepertinya kedua sahabatnya itu lebih condong membela Sasuke ketimbang Hinata sendiri dan hal tersebut membuat Hinata mengembungkan pipi chubby-nya. Kenapa juga kedua sahabatnya membelot dan tidak mendukungnya. Hello, disini Hinata yang menjadi korban. . . korban penantian panjang di malam yang dingin.
"Ta-tapi Gaara bilang ia melihat Sasuke kun dan Karin san berduaan di Ruang OSIS setelah pulang sekolah." Lanjut Hinata.
"Meskipun Karin san tidak bisa dipercaya tetapi Gaara kun bukanlah seorang pembohong." Hinata mengakhiri ucapannya, menunggu komentar dari kedua temannya. Si rambut coklat dan si rambut kuning terdiam, nampak kebingungan juga.
"Halo semuanya." Sapa sebuah suara yang tiba-tiba ikut bergabung di pembicaraan ketiga gadis tersebut.
"Sai kun." Pekik Ino dengan raut wajah bahagia sementara Tenten mencibir melihat Ino yang langsung menghambur menghampiri pemuda berkulit pucat itu.
"Wah, wah ada apa ini? perbincangan antar wanita ya?" Tanya Sai masih dengan senyum andalannya.
"Ah, bukan. Ini tentang Hinata dan Sasuke." Ujar Ino, kalem sambil mengibas-ngibaskan tangan, sama sekali tak menyadari wajah Hinata yang bersemu merah.
"Kebetulan sekali aku juga mau menanyakan sesuatu pada Hinata chan, juga tentang kakakku itu." jelas Sai sambil tersenyum.
"Memangnya ada apa Sai?" Tanya Tenten setelah 'anggota baru' tersebut duduk di samping Ino. Si Uchiha bungsu mendehem pelan. Baru kali ini Sai memasang wajah serius sembari menatap Hinata seperti seorang polisi yang mengintrogasi pelaku kejahatan. Apa boleh buat, perselisihan Hinata dengan kakaknya yang berambut pantat ayam itu sedikit banyak menentukan kelangsungan hidupnya. Beberapa hari yang lalu dia iseng mengajak Gaara taruhan, masih ingat kan? Oke, Sai akui itu keterlaluan dan ia terlalu percaya diri. Tetapi si kulit pucat itu sama sekali tak menyangka hasilnya akan seperti ini. Hubungan Sasu-Hina retak tanpa alasan yang jelas dan tiba-tiba tadi pagi ia melihat Gaara mencium Hinata di depan umum dan Sasuke Cuma diam, ngeloyor pergi?!
Ini tak bisa dibiarkan, status darurat level A! Bisa-bisa ia harus menyerahkan salah satu riset rahasia Uchiha Corps pada perusahaan Sabaku yang merupakan saingan berat jika ia kalah taruhan dengan Gaara. Jika hal itu terjadi, maka kiamat akan secepatnya datang menghampirinya. Fugaku mungkin tak akan ambil pusing untuk menebasnya dengan pedang leluhur klan Uchiha, oke itu sedikit berlebihan. Tetapi bagaimana dengan ibunya, Mikoto? Mikoto sudah ngidam ingin memiliki Hinata sebagai menantunya. Apa kata dunia jika akhirnya Hinata berakhir di pelaminan dengan Gaara di sisinya, bukan Sasuke? Argh. . .! Mikoto pasti akan mencincangnya seperti bumbu dapur.
"Apa yang terjadi kemarin, Hinata chan? Sasuke nii-san kemarin pulang dalam keadaan basah kuyup. Setelah itu dia tak berbicara sepatah katapun dan langsung pergi ke kamar. Pastinya terjadi sesuatu yang ada hubungannya denganmu karena yang kudengar dari Kak Itachi, sebelumnya Sasuke 'memaksanya' memberikan kunci Konoha Central Park yang belum dibuka untuk umum. Sasuke tidak mungkin pergi ke taman beraneka bunga semacam itu jika saja tidak ada gadis istimewa yang diajaknya ikut serta." Jelas Sai panjang lebar sembari berusaha menekan pikiran-pikiran buruknya sendiri tentang bagaimana jadinya jika si Sabaku Gaara itu nantinya merebut Hinata.
Hinata tercenung sebentar setelah Sai mengatakan istilah 'gadis istimewa' barusan. Jujur itu sedikit membuatnya malu-malu namun apa benar gadis istimewa itu dirinya bagaimana jika ternyata yang dimaksud adalah Karin? Nee, Hinata menjadi bad mood lagi. . Apa Hinata tidak menyadari bahwa saat ini sebenarnya dia merasakan api cemburu? Api cemburu itu lebih membakar dirinya ketimbang ketika ia melihat Naruto berduaan dengan Sakura.
"Ta-Tapi, Sasuke kun tidak kunjung datang ke tempat kami janjian." Potong Hinata cepat, nadanya berubah menjadi kesal lagi. Ino dan Tenten bahkan terlihat kebingungan dengan sikap Hinata yang tumben mudah uring-uringan.
"Saat kuputuskan untuk meneleponnya ternyata yang menjawab Karin san. Dan- dan Karin san bilang kalau Sasuke. . ." Hinata memutus kalimatnya sebentar untuk memberi jeda.
"Kalau Sasuke?" Ulang Sai dengan tidak sabar.
"Ti-Tidur dengannya." Wajah Hinata yang bersemu merah karena menahan malu dan marah secara bersamaaan, pastinya membuat semua yang berada di situ mengerti bahwa gadis imut itu sedang JEALOUS BERAT!
Bingo! Sai mencium ketidakberesan disini. Munculnya Karin yang ia yakini sebagai biang keladi pada kasus kesalahpahaman pasangan Sasu-Hina. Bungsu Uchiha tersebut harus bisa segera mencari akar permasalahannya lalu membantu Sasuke berbaikan kembali dengan Hinata. Mungkin ini akan merepotkannya tetapi nyawanya sekarang berada di ujung tanduk.
Di saat percakapan mereka mengalami jalan buntu, tiba-tiba melintas siluet seorang cowok dan cewek berpakaian sama dengan mereka. Si cowok dengan rambut harajuku hitamnya dan si cewek dengan rambut panjang berwarna merah tua. Dari tempat Hinata, Sai dan Tenten serta Ino yang asyik melahap sisa makan siangnya, mereka dapat melihat dengan jelas Karin yang mengekori langkah lebar Sasuke. Wajah Sasuke yang terlihat bersungut-sungut dan Karin yang tampak kebingungan sekaligus memelas. Hal yang janggal jika Karin bisa memasang ekspressi memelas semacam itu. Hinata bahkan menjatuhkan tempuranya dengan mulut berbentuk 'o'. Hanya sekilas saja dua orang tersebut lewat karena setelahnya tubuh keduanya menghilang di balik tembok ruang biologi.
Hinata menelan ludah susah payah. Melihat adegan yang mampir ke indera penglihatannya membuatnya tidak berselera makan. Menurutnya, adegan Sasuke dan Karin barusan mirip dengan adegan wanita yang menuntut pertanggungjawaban pria yang sudah menghamilinya, itu yang sering ia lihat di dorama-dorama kesayangannya.
"Aku sudah selesai." Ucap Hinata menutup acara makan siangnya. Ketiga orang yang lain menoleh bersamaan, mendapati si lavender yang terlihat sangat aneh. Wajah yang menahan marah juga kedua bola mutiara putih yang seakan bersiap menumpahkan hujan, namun ditahan pemiliknya.
"Hinata kau baik-baik saja?" Seru Ino seraya mengulurkan tangannya untuk menyentuh pundak gadis mungil itu. Mata aquamarine Ino membeliak lebar ketika dengan ringannya Hinata menepis tangannya dengan gerakan yang teramat pelan. Bukan hanya Ino saja yang terkejut, Tenten maupun Sai juga.
"Ma-maaf, aku tidak apa." Ujar Hinata seperti biasa, menutupi kesedihannya dengan kalimat yang hampir selalu sama. Ino menunduk maklum, Tenten mengepalkan tangannya erat, merasa geram entah pada apa sementara Sai terdiam.
"Hime, rupanya kau disini." Sebuah suara berat cowok membuat keempat orang tersebut menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Seorang cowok dengan rambut merah lembutnya yang berkibar pelan mengikuti arus angin, memperlihatkan tanda ai di dahi kirinya. Pembawaannya yang tenang namun terkesan dingin serta dua bola turquoise miliknya yang menatap semua yang berada di situ.
Mata hitam Sai menyipit menatap mata hijau pastel di belakangnya yang tampak tersenyum penuh kemenangan.
"Apa yang kau lakukan disini Sabaku Gaara?" Nada suara Sai memberi tekanan namun masih dengan wajah yang tersenyum penuh arti. Gaara balas tersenyum tipis namun ada ukiran mencemooh di bibirnya.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu Uchiha." Ujar Gaara dengan tenang tetapi ekspressi terkejut jelas tampak pada raut muka Ino dan Tenten.
"Uchiha?" Seru kedua gadis itu kompak.
"Ah. , itu akan kujelaskan nanti, oke?" Ujar Sai buru-buru memutus kontak dengan para gadis yang menatapnya penuh tanda tanya. Sekarang ini berhadapan face to face dengan Gaara jauh lebih menarik perhatiannya.
"Tidak salah kan jika aku mengunjungi pacarku tercinta." Jawab Sai seraya melirik pada Ino yang pipi pucatnya tersamar rona merah. Gaara memandangnya datar lalu tiba-tiba bungsu Sabaku itu mengalihkan perhatiannya pada mata pucat gadis yang masih berdiam diri. Tanpa suatu pemberitahuan apapun, Gaara menarik lengan Hinata secara mendadak, membuat gadis yang tidak siap itu agak limbung namun akhirnya bisa menopang dirinya untuk berdiri di samping Gaara. Hinata hendak memprotes tindakan Gaara barusan namun ucapan Gaara berikutnya membuatnya membatu.
"Dan tidak salah kan jika aku menjemput pacarku?" Ujar Gaara datar namun berat sementara satu tangannya merengkuh pundak kiri Hinata dengan posesif. Dua mutiara putih Hinata mengerjap beberapa kali begitu juga dengan Tenten dan Ino yang mendengar deklarasi si Sabaku muda. Sai mendecih pelan, kebiasaan buruk Sasuke yang tampaknya menular padanya.
"A-ano Gaara kun." Suara Hinata terpotong karena Gaara sudah menggenggam tangannya dan menariknya pergi. Hinata berbalik sebentar, memaksakan senyum di bibirnya pada teman-temannya yang tertinggal di belakangnya. Lalu mata bulannya bergelinyir menatap wajah stoic Gaara dari samping. Sebelum gadis indigo itu mengatakan sesuatu Gaara sudah mendahuluinya.
"Kau bisa menangis kalau kau mau. Disini tak ada siapa-siapa."
"Eh?" Hinata terkejut. Hening, hanya terdengar suara deru angin yang menari-nari diantara rambut indigo panjangnya yang lembut. Gaara masih memandangnya lurus dengan mata Jade-nya yang perlahan melembut. Hinata mengakuinya, lebih dari Neji, Gaara lebih sensitive untuk memahami perasaannya meski gadis itu tidak berbicara sekalipun. Mungkin karena mereka pernah menghabiskan masa kecil bersama. Hinata tahu saat-saat dimana Gaara terpuruk meski laki-laki kecil itu kebih suka menyendiri lalu gadis indigo itu menghiburnya dan Gaara pun juga mampu melihat kesedihan di mata Hinata meski gadis itu mengatakan semua baik-baik saja.
"Menangislah, kau sudah terlalu lama menahannya." Dengan kalimat itu Gaara merengkuh Hinata ke dalam pelukannya. Menyesap aroma wangi lavender dari rambut indigo Hinata. Hinata hanya terdiam tak melawan, namun beberapa detik berikutnya air bening mengalir deras dari mata lavendernya.
"Hiks. . . Hiks. . . kenapa aku masih merasa begitu sakit saat melihatnya bersama perempuan lain?" Hinata mencintainya, itu jawabannya. Gaara sama sekali tak bergeming, ia tahu bahwa sosok Sasuke masih mendominasi hati Hinata. Gaara mungkin masih tetap sama di mata Hinata, sepupu laki-laki yang menyayanginya atau teman masa kecil yang begitu perhatian. Tetapi seiring berjalannya waktu, pemilik mata turquoise itu yakin bisa menghapus jejak-jejak Sasuke dari hati gadis yang saat ini berada dalam pelukannya.
"I'll always by your side." Bisik Gaara seraya menyusupkan jari-jarinya diantara helai rambut panjang Hinata. Hinata masih terisak, ia tidak pernah merasa sebodoh dan selemah ini. Mengapa masih mengharapkan seseorang yang sudah mengecewakannya? Mengapa hati kecilnya selalu memusuhinya? Memunculkan bayang-bayang Sasuke tanpa bisa ia cegah. Sasuke yang seenaknya, egois, berwajah dingin namun mempesona serta semua kelebihan yang dimiliki pemuda Uchiha itu. Hinata teringat kembali pada pertemuan di hari berhujan itu. Seharusnya hanya ia yang terluka karena Sasuke membiarkannya menunggu terlalu lama dan ternyata Sasuke sedang berduaan bersama Karin. Tetapi kenapa gurat luka itu juga terpancar di kedua mata onxy Sasuke ketika melihatnya bersama Gaara? Apakah Sasuke mencintainya? Jika memang iya, Hinata juga mencintai Sasuke sampai sekarang, bahkan meski Gaara mulai menunjukkan agresinya pada gadis lavender itu. Jika mereka berdua saling mencintai seharusnya mereka bersama, bukan?
. . . . . . . .
"Sasuke kun." Panggil Karin dengan mimik wajah memelas.
"Sasuke kun." Panggil Karin lagi. Cih, entah sudah berapa kali perempuan berisik di belakangnya itu menyebut namanya.
"Hn."
"Aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin. Kumohon kau jangan salah paham. Aku hanya berusaha menolongmu." Ujar Karin sambil berusaha menyusul langkah lebar Sasuke. Sasuke tak bergeming. Menoleh pun tidak apalagi mengeluarkan suara. Ia tidak ingin di ganggu sekarang dan kehadiran wanita berambut merah marun itu benar-benar memperburuk suasana hatinya.
Flashback
Perlahan kesadaran Sasuke pulih setelah ia merasakan pening hebat yang menyerang otak belakangnya. Mata hitamnya mulai mendefinisikan objek-objek di sekitarnya meski pandangannya agak berkabut. Sesuatu yang berat terasa menindih dada bidangnya juga terdapat sesuatu yang melingkari pinggangnya.
Nyala neon di langit-langit ruang OSIS merupakan hal pertama yang ia lihat. Berikutnya pemuda itu menyadari ada sesuatu yang menyembul di antara warna putih di hadapannya. Helai-helai merah. Helai-helai merah yang tampak seperti rambut. Onxy Sasuke melebar. Apa yang dilihatnya saat ini memang rambut. Rambut merah marun dari seorang gadis yang kini dengan seenaknya tidur beralaskan dadanya sembari memeluknya, Karin. Holy Shit!
Dengan kasar Sasuke bangkit dari tidurnya sehingga membuat Karin yang memeluknya terjengkang ke sisi kiri. Reflek gadis berambut merah itupun terbangun setelah kepalanya membentur sandaran sofa. Belum pulih kesadaran Karin sepenuhnya, Sasuke sudah memakinya habis-habisan.
"Brengsek apa yang kau lakukan padaku?!" Pekik Sasuke sambil menggeram murka.
"Sa-sasuke kun aku bisa jelaskan semuanya." Cicit Karin ketakutan. Melihat Sasuke yang tidak memberikan respon namun masih menatapnya tajam, Karin melanjutkan kalimatnya,
"Ta-tadi tiba-tiba kau pingsan. Mungkin kau terlalu capek a-atau mengalami gejala anemia. Ja-jadi aku menolongmu dan membaringkanmu untuk beristirahat."
"Lalu, kenapa kau ikut tidur bersamaku, He?" desis Sasuke berusaha menahan kekesalannya dan tidak 'main pukul' pada gadis di hadapannya sekarang. Well, semarah-marahnya Sasuke, ia tidak akan memukul seorang perempuan. Apa jadinya jika seorang Uchiha yang perkasa ketahuan menganiaya makhluk lemah semacam perempuan? Lagipula meskipun Karin sudah bersikap kurang ajar dengan menjadikannya seperti guling, tetapi setidaknya Sasuke menemukan pakaiannya masih utuh dan tak tersingkap sedikitpun kecuali beberapa bagian yang kusut. Dan sepertinya juga tidak ada bercak-bercak merah yang mampir ke kulit porselennya. Tentu saja, Karin tak akan berani menjamah tubuh Sasuke terlalu jauh karena gadis itu tentu masih sayang dengan kelanjutan hidupnya.
"Ma-maafkan aku. A-aku juga merasa lelah setelah kegiatan OSIS. Ja-jadi aku ikut tertidur begitu saja." Jelas Karin dengan suaranya yang bergetar. Sasuke memicingkan matanya, memikirkan argumentasi Karin barusan. Apa benar ia kelelahan dan terserang anemia hingga pingsan? Seumur-umur baru kali ini Sasuke pingsan. Sejak kapan daya tahan tubuh seorang Uchiha Sasuke mendadak lemah? Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut bergumul dalam pikirannya, tiba-tiba terlintas satu hal yang membuat Sasuke menegakkan tubuhnya.
"Hinata." Desis Sasuke lalu berlari ke arah pintu dan membukanya dengan kasar.
Air yang menetes dimana-mana menjadi hal pertama yang ditangkap onyx Sasuke setelah pintu ruang OSIS itu njeplak membanting dinding. Hujan lebat dengan awan gelap bergulung-gulung di atas langit berwarna hitam. Tidak ada tanda-tanda bahwa langit akan berhenti menangis. Jadi, tanpa pikir panjang si pangeran Konoha itupun menerjang hujan meski dengan seragam tipis yang dikenakannya. Ia tidak peduli lagi pada jutaan tetes air yang memukuli tubuhnya dan menyerangnya dengan hawa dingin menggigit tulang. Satu-satunya hal yang ada dipikirannya Cuma satu, gadis itu, Hinata.
Sasuke tahu ia benar-benar terlambat dan mungkin tak ada harapan baginya bahwa Hinata masih menunggunya. Hell! mana ada orang yang betah ber jam-jam melawan suhu dingin semacam ini? pikir Sasuke ketika melihat napasnya yang terengah-engah menampar wajahnya dalam wujud uap putih. Pemuda yang sudah basah kuyup itu mempercepat larinya. Bayang-bayang Hinata yang masih menunggu sembari menggigil kedinginan seolah memenuhi bola mata arangnya dan itu membuat pancaran kekhawatiran pada wajahnya yang dingin namun mempesona.
Dan setelah Sasuke telah sampai disana, ia benar-benar melihat Hinata, gadisnya. Tetapi jauh dari bayangannya tentang Hinata yang menunggunya, Hinata bersama laki-laki itu. Laki-laki berambut merah yang memeluknya erat. Saat itu juga Sasuke merasakan sesuatu di dadanya. Seolah sumber detak kehidupannya sekarang diremas dengan erat. Sakit sekali. . . Meskipun ia berusaha tegar dan memasang wajah datar tetapi sesungguhnya ia tak berdaya ketika wangi lavender itu melewatinya. Ya, melewatinya tanpa bisa ia cegah.
END of Flashback
"Sasuke kun. . ." Ratap Karin seraya menarik sedikit lengan baju Sasuke.
"Lepas!" Sentak Sasuke, reflek menangkis dengan kasar tangan Karin , membuat gadis berkaca mata itu kehilangan keseimbangan karena keterkejutannya. Sasuke cuek saja dan memilih melanjutkan perjalannya yang terganggu.
Bruuk! Pyaar! Suara berisik tersebut sukses membuat Sasuke menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Mata onxy miliknya sedikit melebar melihat Karin yang jatuh terduduk dikelilingi oleh pecahan-pecahan pot serta tanah yang berserakan. Hati pangeran Konoha itu tersentil juga, bagaimanapun ia masih mempunyai sisi kemanusiaan. Apalagi banyak petugas penjaga kebun sekolah yang melihat kejadian tersebut. Sehingga mau tak mau, cowok berambut harajuku itu berbalik lalu merendahkan tubuhnya seraya mengulurkan tangannya pada Karin yang tampak menahan sakit.
"Kau tidak apa? Maafkan aku." Ujar Sasuke. Karin hanya mengangguk, masih dengan wajahnya yang memucat dan tampak tertekan. Namun siapa yang tahu bahwa sebenarnya di dalam hatinya ia berteriak senang karena akal bulusnya berjalan sempurna. Tidak sia-sia tadi ia berpura-pura menabrakkan tubuhnya pada jejeran pot sehingga membuatnya berantakan dengan kotoran tanah dan tanaman yang di bencinya. Tetapi, meski seragamnya kotor sekalipun, hal itu sama sekali tidak masalah baginya karena selanjutnya cowok yang digilainya itu kemudian mengangkat tubuhnya dengan gaya bridal style.
"Sa-Sasuke kun." Ucap Karin berusaha berakting sebaik mungkin.
Beberapa siswa maupun siswi yang asyik berlalu lalang di koridor mendadak menepi tanpa di komando. Sang pangeran Konoha berjalan menyusuri ruang panjang tersebut dengan seorang perempuan di gendongannya. Bisik-bisik pun terdengar di kalangan para murid. Sasuke sama sekali tak berminat mendengar suara-suara di sekitarnya. Hal yang paling ia inginkan saat ini adalah segera sampai di UKS dan meninggalkan Karin sehingga ia terbebas dari tanggung jawabnya. Sementara itu Karin tampak menikmati posisinya sekarang, berada di pangkuan sang pangeran yang digilai banyak perempuan dan semua mata murid perempuan menatapnya iri. 'Ah, menyenangkan sekali melihat mereka bertampang sebal seperti itu, hihihii. .' batin Karin tertawa puas. 'Ah, dia datang.' Pekik Karin kegirangan dalam hati ketika dilihatnya siluet gadis berambut indigo yang di bencinya berjalan bersama seorang cowok bertato 'ai' yang juga sekelas dengannya.
Karin tidak menyia-nyiakan kesempatan langka tersebut. Dengan gerakan yang tidak diduga oleh Sasuke, Karin melingkarkan kedua lengannya pada leher Sasuke. Mata onxy Sasuke memicing, menatap tajam pada apa yang dilakukan cewek brengsek dalam gendongannya. Shit! Rutuk Sasuke ketika menyadari Hinata menatapnya intens dengan pandangan yang sulit di artikan. Ingin sekali Sasuke melempar Karin jauh-jauh namun itu tidak mungkin karena saat ini semua mata sedang menatap ke arahnya. . .juga perempuan yang seenaknya bergelung manja dalam pangkuannya.
Namun demi melihat tangan mungil Hinata yang terbungkus tangan cowok berambut merah di sampingnya, hati Sasuke pun mencelos. 'Kau benar-benar memilihnya, eh?' Geram Sasuke yang tidak diketahui siapapun selain dia dan Tuhan tentunya.
Hinata terdiam di tempatnya, berhadap-hadapan dengan Sasuke yang semakin mendekat. Mata rembulan beradu dengan mata segelap malam, serasi namun tak padu. Kebencian dan cemburu berkilat di kedua mata mereka meski perasaan cinta dalam hati menggeliat meronta. Seperti mengulang kisah sebelumnya, keduanya saling melewati. Mencium aroma yang tertinggal. Maskulin dan lavender. Berjalan menjauh tetapi tidak bisa mengucapkan 'selamat tinggal, cinta.'
"Seandainya kau memberiku cinta lebih dari sekedar kata-kata, mungkin aku masih bisa memanggil kebahagiaan itu"
Sementara itu di ruang OSIS. . .
"Hah. . . Teme menyebalkan. Kenapa juga dia menyuruhmu pergi ke tempat sponsor untuk acara festival sekolah?" dengus seorang cowok berambut kuning matahari seraya memonyongkan bibirnya.
"Diamlah Naruto. Sasuke itu sudah sibuk membuat proposal, persiapan drama, pengangsuran dana, dan lain sebagainya. Selain itu dia juga sudah mencarikan sponsor sehingga aku Cuma perlu mengunjungi mereka untuk meminta klarifikasi." Balas gadis berambut merah jambu di sampingnya. Naruto mendengus sembari memalingkan wajahnya ke jendela.
"Tapi kan. . . Kita jadi jarang bersama, Sakura chan. Kau juga sering sekali ikut rapat OSIS bersama. Apa. . . apa kau masih berusaha mencari perhatiannya?" Ujar Naruto kemudian dengan tatapan sendu. Mata birunya menyelam diantara warna biru langit di balik jendela. Cowok blonde itu tersenyum kecut ketika mengingat masa kecil mereka bertiga. Sakura yang ia cintai dan Sakura yang menyukai Sasuke meskipun Sasuke sama sekali tidak peduli dengan urusan percintaan.
Mendengar kalimat Naruto barusan, mau tidak mau Sakura yang sedang merapikan berkas memperhatikan sebentar cowok yang berada satu ruangan dengannya saat ini.
"Kau ini bicara apa sih, bodoh?! Apa kau pernah melihatku memperhatikan Sasuke seperti saat kita masih kecil dulu?" Ujar Sakura dengan kesal yang membuat Naruto tersentak.
"E-etto. . ." Belum sempat Naruto bicara, Sakura sudah menyelanya.
"Aku sudah berhenti mengejarnya sejak beberapa tahun yang lalu." Ujar Sakura dengan tenang sembari berjalan mendekati Naruto. Naruto merasakan sesuatu dalam dadanya berjumpalitan demi melihat Sakura yang semakin menghapus jarak di antara mereka. Mata emerald Sakura yang indah memaku manik sapphire milik Naruto, membuat pemuda Uzumaki itu salah tingkah.
"Sa-Sakura chan?" Naruto gugup luar biasa menyadari posisi Sakura yang memojokkannya sekarang ini.
"Jangan katakan apapun." Ujar Sakura dengan suaranya yang seduktif memalang bibir Naruto dengan jari telunjuknya yang lentik.
"Kau tahu mengapa aku selalu marah-marah padamu dan bersikap seolah aku tidak menyukaimu?" Tanya Sakura dengan suara rendah sementara kedua tangannya menyusup memeluk pinggang Naruto. Dari jarak sedekat ini, Naruto bisa merasakan aroma cherry menguar dari helai-helai merah jambu di bawah wajahnya.
"Itu karena kau selalu membuatku gugup dan merasa sangat malu jika kau berada di dekatku. Seolah-olah jantungku bisa keluar kapanpun karena debaran ini terlalu kuat hanya karena kau berada di sekitarku." Bibir Sakura berhenti sebentar. Hening. Hanya suara ranting-ranting kecil yang mengetuk-ngetuk jendela terdengar.
"Maaf aku tak bisa menunjukkan perasaanku dengan baik. A-aku. . ." Tanpa memberi kesempatan bagi Sakura untuk menyempurnakan kalimatnya, Naruto sudah memeluk gadis beraroma cherry itu.
"Aku mengerti." Ujar Naruto begitu pelan sembari menyisir rambut merah jambu yang begitu disukainya.
"Justru itulah yang membuatku menyukaimu, Sakura, my lovely cruel angel." Lanjut Naruto yang membuat pipi gadis bermata emerald itu merona. Naruto menangkup wajah Sakura, menangkup dagu mungil gadis itu agar menatapnya. Blue shappire bertemu dengan green emerald. Ttapan keduanya melembut, penuh cinta, seiring dengan jarak yang kian terhapus hingga tak ada lagi sisa ruang di antara mereka.
Naruto mencium bibir lembut Sakura perlahan, agak memburu. Napas keduanya menyatu, saling menari-nari di udara yang terasa kian memanas. Ruangan yang sepi membuat kedua insane itu semakin terbuai. Naruto menekan belakang kepala Sakura untuk memperdalam ciuman mereka sementara Sakura mulai mengalungkan kedua lengannya pada leher kokoh kekasihnya itu.
'KLINIING!'
Baik Naruto maupun Sakura sontak melepaskan pagutan mereka.
"Apa ini?" Seru Naruto saat matanya menangkap sesuatu yang telah diinjak kakinya.
"Botol? Pengharum ruangan?" Tebak Naruto dengan wajah lugunya seraya mengambil benda tersebut dan mengocok isinya perlahan. Sakura yang juga tertarik, ikut memicingkan mata melihat benda di tangan Naruto tersebut.
"Aku tidak pernah melihat pengharum ruangan seperti itu." Ujar Sakura yang memang cukup mengetahui beberapa merk parfum, pengharum ruangan, atau benda-benda yang biasanya familiar dengan kaum hawa. Namun ada sesuatu yang menarik perhatian Sakura kemudian. Sebuah tanda kecil bergambar tengkorak dengan tulisan CO di bawahnya. Sakura cukup mengenali simbol-simbol kimia terutama berhubungan dengan kesehatan karena gadis berambut merah jambu itu terobsesi untuk menjadi seorang ahli medis kelak. CO itu berarti. . .
"Coba kita buka saja." Ujar Naruto kemudian lalu tanpa ragu membuka tutup botolnya.
"Jangan Naruto!" pekik Sakura dengan ekspressi horror.
"Eh?" Hanya itu yang diucapkan si Uzumaki muda ketika ia telah melepas sumbat botol tersebut. Emerald Sakura melebar, dengan cepat ia menutup hidung dan mulutnya kuat-kuat.
"Naruto cepat tutup hidungmu. Jangan hirup aromanya!" Perintah Sakura dengan bahasa yang kurang jelas karena mulutnya yang tertahan telapak tangannya.
"Memangnya kenapa? Baunya wangi kok." Ujar Naruto, malah mengendus-endus aroma wangi dari pengharum yang masih berada di tangannya.
"Lho. . . kenapa tiba-tiba, . . aku merasa pusing." Gumam Naruto ketika pandangannya mulai berkabut dan kepalanya terasa berat. Tubuh Naruto terhuyung ke kanan ke kiri juga ke depan ke belakang dengan mata berkunang-kunang. Naruto bisa melihat bintang mengelilinginya sekarang. Tetapi mendadak bintang-bintang itu menghilang, berganti dengan hitam seluruhnya. Naruto ambruk seketika dengan mata terpejam juga pekikan suara Sakura yang menggema meneriakkan namanya sebelum ia benar-benar menutup mata.
TBC
Sekali lagi author sampaikan gomennnasai sebesar-besarnya pada para Sasu-Hina lovers (author merasa para pembaca udah mengaktifkan sharingan masing-masing, Hiiii. . . ) *_8
Tapi untuk chapter selanjutnya author akan bikin mereka baikan lagi, well mungkin sedikit baikan. Emmm. . .mungkin. yang jelas hubungan mereka lebih membaik, oke? (Nee, author baik hati kan? plak ) Oya, chapter berikutnya, mungkin author akan update 3 hari lagi. . . ^0^, mungkin. . . tapi akan autor usahakan semaksimalnya.
So mind to RnR, and don't forget to read the next chap, See you ^-^ (Boofh!)
