Title : Surrender To Forget You
Disclaimer : Naruto belongs only to Masashi Kishimoto-sensei
Warning : AU, typo(s), OOC, no intention for bashing any chara, etc
.
Rated M
.
This is my first fanfiction. I hope it doesn't make you regret after read this story.
All the story contents are purely from Haruta Rin.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
Happy Reading!
.
.
.
CHAPTER 6
.
"Neji-jisaaan!"
Hyuuga Boruto berteriak kencang sambil berlari menerjang sosok pria yang duduk nyaman di sebuah sofa. Pria itu tersenyum lebar ketika mendapati keponakannya yang berlari padanya. Ia angkat tubuh kecil itu ke pangkuannya. Boruto tersenyum lebar kemudian memeluk dirinya erat. Neji tak kuasa menahan tawa gelinya. Betapa ia sangat merindukan bocah kecil itu. Keharusannya mengurus anak cabang di Amerika membuatnya harus meninggalkan putra adiknya itu selama beberapa minggu
"Apa kau tidak ingin memelukku juga, bocah?" tanya suara husky di samping Neji. Pria bersurai merah itu duduk dengan santai dengan salah kaki yang menopang kaki lainnya. Salah satu tangannya terbentang di bahu sofa. Senyum miring yang terbentuk di bibirnya menambah pesona pria itu.
"Sasori-jisaaan!" teriak Boruto yang melompat turun dari pangkuan Neji dan beralih naik ke pangkuan pria Akasuna itu. Sasori terkekeh geli mendengar suara nyaring Boruto.
"Kau meninggalkanku begitu saja ke paman mesum ini?" Neji menatap tak percaya pada Boruto yang hanya menampilkan cengiran lebarnya. Ia merasa kalah telak dibanding temannya sendiri.
"Orang sepertimu tidak akan menjadi favorit anak kecil," ejek Sasori dengan seringai bangga yang terukir jelas di bibirnya. Sasori menatap wajah berbinar dengan dua garis halus di pangkuannya. Dengan gemas mengacak-acak surai pirang bocah itu.
"Bagaimana kabarmu, Boruto? Kau tidak merindukanku?" tanya Sasori yang mendapat decihan mengejek dari Neji. Pria bersurai merah itu langsung mengalihkan tatapan tidak sukanya pada pria Hyuuga itu.
"Percaya diri sekali," cetus Neji.
Tidak mengindahkan sindiran dari temannya itu, Sasori kembali mengalihkan mata hazelnya kepada Boruto. Menatap bocah itu dengan lembut dan memohon. "Katakan kau merindukanku," pintanya.
Entah seberapa pentingnya ungkapan rindu dari seorang Boruto bagi Sasori dan Neji hingga dua pria dingin itu merajuk seperti anak kecil. Gaara yang sedari tadi telah menyamankan dirinya di sofa hanya menatap kejadian di depannya dalam diam. Tidak berniat melakukan hal yang sama seperti yang dua orang konyol itu lakukan.
"Tentu saja, aku sangat merindukan Sasori-jisan dattebasa!" seru Boruto dengan riang. Seketika Sasori menarik Boruto ke dalam pelukannya. Tak lupa dengan senyum menang yang ia berikan secara percuma pada Neji.
"Aku juga sangat merindukan Neji-jisan." Boruto tersenyum lebar pada Neji setelah lepas dari pelukan Sasori. Kali ini senyum menang terukir di bibir pria Hyuuga itu.
"Berhentilah bersikap seperti anak kecil, kalian berdua." Gaara menyesap minuman yang baru saja Hinata letakkan di atas meja. Wanita itu mendudukkan dirinya di sampingnya. Menatap geli tingkah Neji dan Sasori yang selalu saja berebut atensi anaknya itu.
Sasori mendecih mendengar perkataan sepupunya itu. Begitu juga dengan Neji yang berdeham sembari menggulung lengan kemejanya. "Ah, Bagaimana kabarmu dan Boruto selama aku pergi, Hinata?" tanya Neji. Sikap manja yang ia tunjukkan saat beradu dengan Sasori kembali berubah menjadi serius. Ia mengangguk pelan ketika bibir Hinata melengkung membentuk senyum manisnya.
"Kami baik-baik saja, Niisan. Kau tidak perlu mencemaskan kami hingga kembali lebih cepat dari seharusnya," ujar Hinata lembut.
"Urusan di Amerika sudah selesai. Tidak ada yang perlu dilakukan lagi di sana."
"Ya, selesai dengan sangat cepat. Memaksaku memeriksa seluruh dokumen semalaman hingga aku tidak dapat menikmati masa mudaku. Lucu sekali Hyuuga." Sasori menurunkan Boruto dari pahanya. Membiarkan bocah itu mengambil biscuit yang ada di atas meja. "Dia menyekapku di dalam kantor dengan setumpuk kertas-kertas. Sedangkan, dirinya sibuk menantikan pesan darimu."
Hinata mengulas senyum penuh penyesalan pada Sasori yang terlihat sangat jelas tidak ragu menunjukkan protesnya. Ia menyadari betapa anikinya itu memang sangat protektif padanya. Terutama setelah ia diketahui mengandung sebuah janin. Neji bahkan tidak bisa meninggalkan dirinya sendirian di rumah. Pria bersurai coklat itu terus saja mengekor kemana Hinata pergi. Beralasan jika kondisi Hinata sangat rawan untuk terjadi keguguran. Hinata menghela nafas pelan.
"Gaara, temani aku ke klub malam ini," ajak Sasori pada pria bermata azure di depannya. Ia dekap tangannya di depan dada dan memberikan tatapan serius pada Gaara. "Pria sialan ini tidak memberikanku waktu untuk bersenang-senang sedikitpun."
"Aku tidak tertarik." Gaara menyandarkan punggungnya dengan nyaman di punggung sofa. Wajah tampannya tidak menunjukkan ekspresi apapun seperti biasanya. Hanya menatap dengan serius Boruto yang sedang asyik memasukkan biscuit kelimanya ke dalam mulut.
"Ada banyak wanita di sana. Kau akan bersenang-senang," desak Sasori masih tidak menyerah memaksa Gaara. Meskipun wajahnya terlihat datar seakan kata-katanya hanyalah obrolan biasa, namun bagi Hinata, perkataan Sasori mampu membuat pipinya merona. Tentu saja Hinata mengerti apa yang dimaksud bersenang-senang oleh Sasori. Ia bukan lagi anak kecil yang polos. Hinata mengetahui jika Sasori memang suka bermain dengan banyak wanita, ia sudah terbiasa dengan hal itu. Tapi ketika pria Akasuna itu mengatakan itu pada seorang Sabaku no Gaara yang terlihat begitu serius, tentu saja membuatnya lebih malu dari biasanya.
"Hanya ada satu wanita yang kuinginkan."
Mata amethyst Hinata sedikit melebar, jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga. Beruntung ia menunduk menyembunyikan wajahnya. Harusnya Hinata tidak perlu seterkejut itu hanya untuk mendengar kata-kata seperti itu keluar dari bibir Gaara. Pria Sabaku itu sudah terlalu sering mengatakannya. Hanya saja, entah mengapa, Hinata tidak pernah merasa siap dengan kalimat itu. Sudah lebih dari dua tahun, Hinata menyadari betapa lama Gaara menunggunya. Sedikit rasa hangat menjalar di hatinya. Membuat debaran jantungnya berdetak lebih keras. Terkejut dengan perasaannya sendiri sampai-sampai Hinata tidak menyadari keheningan yang terjadi di sekelilingnya.
"Kau memakan biscuit terlalu banyak, Boruto." Neji mengeluarkan suaranya memecah keheningan tidak nyaman di ruang keluarganya. Menghela nafas lelah menyadari tidak ada yang berubah setelah kepergiannya. Jujur saja, Neji mengharapkan progress yang bagus dari adiknya itu. Tapi sepertinya tidak seperti itu.
"Biscuit ini enak sekali, Jisan. Kau mau?" Boruto mengulurkan sepotong kue berwarna cokelat pada Neji dengan wajah polosnya. Tidak menyadari jika suasana canggung sedang melingkupi mereka. Neji menyempatkan diri memberikan tatapan membunuh pada Sasori sebelum menerima uluran biscuit dari tangan mungil keponakannya. Ia masukkan satu potongan kue ke dalam mulutnya, mengunyah beberapa kali dan menelannya. "Apa kau bermain dengan baik saat jisan tidak ada?"
"Un. Gaara-jisan sering datang ke rumah dan menemaniku bermain. He he."
"Benarkah? Apakah lebih menyenangkan bermain dengan Gaara-jisan atau denganku?" Neji tertawa geli melihat wajah serius Boruto saat memikirkan sebuah jawaban. Bibir mungilnya cemberut dengan jari tangan yang mengetuk-ngetuk dagunya. Dahinya yang berkerut menunjukkan betapa seriusnya ia berpikir.
"Sebenarnya… Lebih asyik bermain dengan Naruto-jisan."
Bagaikan petir di siang hari. Bumi terasa baru saja rubuh saat satu nama keluar dari bibir kecil Boruto. Tidak hanya bagi Neji. Tapi bagi kedua pasang mata lain yang duduk bersamanya. Tidak menyadari betapa mengguncangnya ucapannya sendiri, Boruto terus berbicara tentang segala hal yang ia lakukan dengan Naruto, bermain, memakan es krim, jalan-jalan bersama.
Mendengar nada bahagia yang bocah itu rasakan, seketika membuat Neji menatap tajam Hinata. Wanita itu terlihat gelisah di tempat duduknya. Meremas roknya dengan erat hingga menimbulkan kerutan di sana. Dapat Neji lihat jika tubuh sepupunya itu sedikit gemetar.
"Aku membelikan mainan untukmu, Boruto." Sasori menyadari suasana menjadi agak tegang di sekelilinginya. Memperhatikan berbagai ekpresi yang terlukis di ketiga wajah di hadapannya membuatnya memahami sesuatu, meski tdak terlalu mengerti masalahnya.
Ia mengalihkan perhatian Boruto, mengulurkan sebuah paper bag besar, berharap bocah kecil itu tidak menyadari betapa tajamnya Neji menatap marah pada ibunya. "Apa kau menyukainya?" tanya Sasori ketika Boruto membuka paper bagnya. Bocah itu terlihat sangat senang melihat beberapa potongan mainan yang terbungkus rapi di kotak bergambar sebuah kereta. Mata biru lautnya berbinar-binar. Cengiran lebar nampak di bibir mungilnya.
"Ini keren sekaliii!" gumamnya begitu saja. Ia angkat kotak di tangannya tinggi-tinggi dengan bangga dan penuh rasa kagum. "Arigatou, Sasori-jisan. Aku sangat menyukainya."
"Mau bermain denganku?" tawar Sasori yang seketika mendapatkan anggukan bersemangat dari Boruto. Tidak perlu waktu lama bagi Boruto untuk menarik Sasori dari tempat duduknya dan menyeret pria tampan itu ke kamarnya..
.
.
Hinata tidak mengerti bagaimana nama Naruto dapat keluar dari bibir mungil putranya. Hinata tidak pernah mengharapkan Neji mengetahui hal yang sebenarnya seperti ini. Bukan berarti Hinata ingin membohongi anikinya sendiri. Hanya saja, ia mencari waktu yang tepat. Ia berniat memberitahukannya sendiri pada Neji, namun sepertinya itu tidak perlu lagi. Terimakasih pada putra kecilnya yang menggemaskan.
Jantung Hinata berdebar kencang menunggu suara Neji memecah keheningan di antara mereka. Tangannya terasa begitu dingin saat ia genggam. Dengan gelisah Hinata menggigit pelan bibirnya.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan tentang hal ini?" tanya Neji setelah memastikan Boruto dan Sasori menjauh.
Hinata meneguk ludahnya gugup mendengar nada dingin di suara Neji. Tangannya gemetar pelan. Ia ingin menjelaskan semuanya. Namun, Hinata tidak tahu harus memulai dari mana. Ia bahkan tidak dapat berkonsentrasi lagi pada jawabannya. Berbagai peristiwa pertemuannya dengan Naruto mengeksploitasi pikirannya sehingga membuatnya membisu.
"Naruto dan Sakura baru saja pindah ke sebelah rumahmu beberapa minggu yang lalu," jelas Gaara pada Neji. Pria itu menyadari Hinata yang tidak mampu mengucapkan apapun. Melihat betapa gelisahnya wanita yang ia sangat cintai membuat nalurinya bertindak sendiri untuk membantu wanita itu. Tangan besarnya dengan lembut menggenggam kepalan tangan Hinata di roknya. Membuat wanita cantik itu menatapnya dengan mata membulat.
Hinata merasakan hatinya berdesir, mengirimkan sensasi aneh ke tubuhnya ketika menatap mata Gaara. Ada suatu kehangatan yang terpancar dari mata itu. Meskipun, hal itu jelas tidak tampak di wajah dingin pria itu.
Entah mengapa ia kembali mendapatkan kekuatannya untuk menjelaskan semua hal pada Neji. "Maafkan aku karena tidak memberitahukan ini pada Niisan. Aku pikir akan lebih baik jika aku memberitahumu di waktu yang tepat. Aku tidak bisa mengelak jika Niisan marah padaku. Tapi, aku pun juga sama terkejutnya ketika pertama kali melihat Naruto-kun lagi."
"Sepertinya semua orang seperti itu."
Hinata mendesah pelan mendengar bisikan tajam anikinya. "Ya," gumamnya muram.
"Aku percaya jika Naruto pindah kemari tanpa sepengetahuanmu, Hinata. Tapi apa saja yang kau lakukan hingga membiarkan Boruto begitu dekat dengan Naruto?!" Neji merasa frustasi. Berbagai perasaan berkecamuk memenuhi dadanya. Pria itu memijit pelipisnya pelan. "Aku tidak percaya jika kau mengatakan tidak mengetahui kedekatan mereka, benar?"
Hinata mengangguk lemah. Ia tidak berani mengangkat kepalanya, apalagi menatap mata tajam milik Neji. Hinata menyadari kesalahannya. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membela diri.
"Bagaimana bisa kau membiarkan orang yang telah menelantarkan anaknya begitu saja menjalin kedekatan dengan Boruto."
"Naruto-kun tidak menelantarkan anaknya," bela Hinata dengan cepat. Seketika mendapatkan tatapan tak percaya dari dua pria di depannya. Hinata menggigit bibirnya. "Na-Naruto-kun m-memang tidak seperti itu. M-Maksudku.. N-Niisan tahu jika ini semua kemauanku."
"Sudahlah, Neji. Bagaimanapun juga, Naruto tetaplah ayah dari Boruto. Ikatan darah lebih kental dari air, tidak semudah itu untuk dihilangkan," tandas Gaara menengahi. Pria bersurai merah itu menatap Neji dingin. Seakan mengenyahkan kemurkaan pria Hyuuga itu.
"Payah," rutuk Neji. "Lantas bagaimana dengan hubungan kalian? Aku tidak berpikir kau akan kembali kepada Naruto. Benar begitu kan, Hinata?"
Hati Hinata terasa begitu perih mendengar ucapan Neji. Betapa tidak terjangkau perasaannya untuk seorang Namikaze Naruto. Menyadari itu membuat mata Hinata buram oleh air mata yang ditahannya. Kerongkongannya tercekat.
"Aku yang akan menjaganya, Neji. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya." Gaara memperat genggamannya pada tangan Hinata. Ia tatap wajah cantik Hinata di sampingnya dengan sorot luka yang mendalam. Wajah Hinata terlihat begitu cantik bahkan dengan matanya yang agak memerah menahan tangis. Membuat Gaara harus menahan seluruh hasratnya untuk menarik wanita itu ke dalam pelukannya. "Aku akan selalu menunggumu," ucapnya bersungguh-sungguh saat matanya dan mata Hinata saling bertemu.
Seketika gelenyar aneh terasa di hati Hinata.
"Kuharap kalian bisa memikirkan kelanjutan hubungan kalian yang tidak jelas. Aku tidak memaksamu untuk segera menikah dengan Gaara, Hinata. Tapi, kau tidak hidup untuk dirimu sendiri sekarang. Ada Boruto yang memerlukan sosok ayah di hidupnya. Dan, kurasa kau menyadari jika beberapa orang memperlakukan anak tanpa orang tua lengkap dengan berbeda."
Hinata menunduk dalam membenarkan perkataan Neji dengan murung di pikirannya. Hinata adalah seorang ibu yang harus berpikir secara matang. Mengutamakan anaknya dibandingkan keegoisannya.
"Maafkan aku karena membuat Gaara-kun menunggu terlalu lama. Tapi, sekarang kau tidak perlu menungguku lagi," ucap Hinata dalam. Kedua tangannya menggenggam erat di atas pangkuannya. Wanita itu terlalu malu untuk mengangkat kepalanya.
Gaara membelalakkan matanya tak percaya. Kata-kata Hinata terlalu ambigu di telinganya. Membuatnya berharap tinggi tapi juga sebaliknya. "Kau tidak―"
"Mmm.." Hinata menggeleng. Mata amethystnya menatap lembut mata Gaara yang mencari-cari di matanya. Seulas senyum lembut Hinata berikan pada pria yang selalu mencintainya itu. "Kita jalani dengan perlahan, ne?"
Tidak ada satu katapun yang terlintas di pikiran Gaara saat itu juga. Ia hanya menarik Hinata ke dalam pelukannya. Memeluk dengan erat seakan tidak akan pernah melepaskan wanita itu pergi. Merasakan kehangatan tubuh Hinata memberikan sensasi menyenangkan di hati Gaara. Tanpa ia kehendaki senyum lebar terbentuk di bibir pria tampan itu. "Ya, tidak perlu terburu-buru," bisiknya penuh pengertian di telinga Hinata.
.
.
.
Hyuuga Neji bergegas kembali ke perusahaannya setelah membiarkan Hinata berdua dengan Gaara, meski langit sudah mulai senja―masalah perusahaan tidak pernah membiarkannya santai sebentar saja. Tapi, sepertinya pria bersurai merah itu terlalu gugup hanya untuk berduaan saja dengan adiknya. Sehingga, ia memilih duduk di mobil bersama Neji saat ini.
"Apa yang kau lakukan, ha?" tanya Neji tak percaya ketika Gaara memasang sabuk pengamannya.
"Aku tidak bisa membiarkan diriku berdua saja dengan Hinata tanpa memikirkannya," jawab Gaara dengan datar.
"Kau tidak sedang membicarakan 'itu' kan, brengsek?"
"Hn," respon Gaara dengan seringai tipisnya.
Rasanya sangat menjengkelkan melihat betapa hal-hal yang tidak jelas justru tergambar dengan jelas di wajah Gaara. Membuat Neji muak dan ingin melemparkan sebuah tinjuan ke wajah tampan temannya itu.
"Dasar brengsek. Memang tidak ada pria yang pantas bersanding dengan adikku yang polos itu. Dan berhenti menyeringai seakan kau akan melumat Hinata malam ini juga."
"Itu ide yang bagus, Neji," sahut Gaara bersemangat.
"Jangan menggodaku untuk memukulmu, Gaara."
Neji bersungguh-sungguh. Pria itu menahan kesal saat mengemudikan mobilnya. Terutama mendengar tawa ringan keluar dari bibir Gaara.
"Kau tidak bersungguh-sungguh membenci Naruto, ya kan?" tukas Gaara saat Neji menghentikan mobilnya di parkiran Hyuuga Corp. Mata azurenya menatap dingin jejeran mobil yang tertata rapi di hadapannya.
"Kau berpikir begitu?"
"Ya. Apa aku salah?"
"Tidak," gumam Neji datar. "Aku tidak membenci Naruto."
"Kau tidak perlu membohonginya, kalau begitu. Hinata terlihat sangat terluka. Kau pasti menyadarinya."
Neji mengiyakan muram. "Aku hanya marah pada Naruto karena dia menjadi pria yang begitu naïf. Lagipula, sekarang kau sudah mendapatkan hati Hinata. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."
"Tidak. Perasaannya pada Naruto masih belum berubah."
Neji menyeringai mengejek. "Aku hanya berusaha menghiburmu," katanya.
Gaara mengulas senyum pahit menyadari betapa menyedihkan dirinya. Ia tidak tahu harus seperti apa mengungkapkan perasaan berkecamuk di hatinya saat ini. Mendapati Hinata mencintainya mungkin perlu memakan waktu yang sangat lama. Jauh lebih lama dari yang bisa Gaara bayangkan. Setidaknya, untuk saat ini wanita itu bersedia membuka hatinya. Biarkan waktu yang menggantikan posisi Naruto di hati Hinata.
"Arigatou," sindir Gaara dan keluar dari mobil.
.
.
.
Naruto sibuk dengan pikirannya hingga tanpa sadar malam telah menyelimuti langit Jepang. Dengan lunglai Naruto menyeret kaki jenjangnya menuju mobil. Hatinya sangat tidak menentu semenjak Hinata dan Boruto meninggalkannya siang tadi. Ia baru saja menyadari betapa menjengkelkannya melihat wajah Gaara saat itu. Ia tidak mengerti perasaannya saat ini.
Naruto mengemudikan mobilnya dalam kecepatan yang sangat cepat. Tubuhnya sudah terlalu lelah dengan segala pikiran yang memenuhi otaknya. Menguras habis seluruh sisa tenaganya. Ia ingin segera merebahkan dirinya di atas ranjang empuk. Menutup matanya dan menenangkan pikirannya. Atau mungkin ia akan membiarkan air dingin menguyur seluruh tubuhnya. Sepertinya tidak buruk untuk merilekskan diri.
Pria bersurai pirang itu memasuki rumahnya tanpa suara. Ia nyalakan lampu untuk menerangi penglihatannya. Agak ganjil bagi Naruto menyadari rumahnya masih gelap di jam ini. Harusnya istrinya sudah pulang tiga jam yang lalu.
Sesuatu bergejolak di hati Naruto. Pria itu merasa resah ketika tidak ada suara yang menyambut panggilannya. Sakura tidak ada di ruang manapun, bahkan ponsel wanita itu pun tidak dapat ia hubungi. Naruto panik. Tanpa mengganti pakaiannya, ia langsung kembali ke dalam mobil. Berdiam diri di rumah menunggu istrinya pulang hanya akan menambah perasaan tidak tenang di hatinya.
Jalanan pusat kota sangat ramai. Lampu-lampu jalan menghiasai malam itu dengan sangat indah. Harusnya Naruto menyukainya, akan tetapi tidak untuk saat ini. Naruto terus berusaha menghubungi ponsel milik Sakura, meskipun hasilnya tetap saja sama. Pikiran-pikiran aneh mulai muncul di benaknya. Wajah tampannya terlihat tegang ketika memerhatikan jejeran pertokoan di luar jendela mobilnya. Mata sapphirenya terlihat sangat lelah dan cemas. Tidak ada lagi hasrat untuk berbaring di ranjangnya yang nyaman. Saat ini hanya ada satu nama di pikirannya―Sakura.
Naruto menghentikan mobilnya di depan sebuah taman kota yang berada di tepi jalan tepatnya di samping sebuah taman hiburan terkenal di Konoha. Sejak pertama kali mereka pindah ke daerah ini, Sakura selalu mengajak Naruto untuk mengunjungi tempat itu. Tapi, Naruto belum memiliki waktu yang tepat untuk mengajak istrinya kencan seperti itu. Ia tidak yakin benar apakah Sakura berada di taman itu. Naruto hanya mengikuti instingnya.
Benar saja.
Sakura terlihat duduk sendirian di atas sebuah bangku panjang yang terletak di bagian tengah taman. Wanita itu menatap langit di atasnya dalam diam. Hanya ada suara desingan mobil yang berlalu lalang di jalan raya. Naruto mendekati istrinya tanpa suara. Menatap wajah wanita itu yang begitu cantik diterangi sinar rembulan.
Naruto berdiri di belakang wanita itu, melepas jaketnya dan mengenakannya di punggung kecil Sakura. Mata emerald wanita itu membulat terkejut menatapnya. Naruto tersenyum lebar menatap wajahnya.
"Naruto. Kenapa kau bisa―"
"Ada di sini? Hmm.. aku mencarimu, tentu saja." Naruto menyamankan dirinya duduk di samping Sakura. Mata birunya menatap lembut sepasang mata zamrud di hadapannya. Naruto mengambil helaian rambut pink istrinya dan menyematkannya ke belakang salah satu telinga wanita itu. "Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak pulang?"
Sakura terdiam. Ia palingkan wajahnya dari Naruto. Menatap sendu sebuah kolam taman di depannya. "Aku hanya ingin menikmati malam ini," jawabnya disertai senyum terpaksa.
"Benarkah? Yah, langit terlihat sangat indah malam ini."
Sakura memalingkan wajahnya kembali menatap wajah tampan suaminya. Ia mengangguk menyetujui. "Kau ingat saat pertama kali kau menyatakan cintamu padaku?" tanyanya ringan.
"Mmm.. Tidak terlalu. Itu sudah sangat lama, kan."
"Ya. Kau menyatakan cintamu di saat yang sama seperti ini." Sakura mengulas senyum kecil. Matanya menatap penuh cinta sosok pria di sampingnya.
"Ah, benar. Ha ha. Maaf aku tidak mengingatnya."
"Kau juga pasti tidak mengingat kencan pertama kita," bisik Sakura.
Naruto mengalihkan pandangannya menatap ke dalam mata Sakura. "Aku ingat," akunya.
Sekilas senyum terbentuk di bibir ranum Sakura. Hampir saja ia menumpahkan air mata karena terharu mendengar pengakuan Naruto. "Kita melihat bintang seperti saat ini dan kau menciumku. Yah, walaupun itu bukan ciuman pertamaku, tapi itu sangat menyenangkan." Kali ini Sakura benar-benar ingin menangis. Matanya mulai terasa perih dan hatinya berdesir halus.
Naruto mengangguk mengiyakan.
"Aku merindukan saat-saat seperti itu," ungkap Sakura yang membuat Naruto mengerutkan dahinya. "Walaupun, saat ini kau ada di sampingku, entah mengapa, kau terasa sangat jauh, Naruto."
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Sakura-chan."
"Semenjak kita pindah ke tempat ini, aku merasa hubungan kita tidak terasa sama lagi. Aku merasa perasaanmu padaku mulai berubah. Tidak.. kupikir itu sudah lama. Hanya saja aku tidak ingin mengakuinya." Sakura tersenyum pahit. Sorot terluka tersirat di mata Sakura saat menatap Naruto.
"Aku benar-benar tidak paham. Apa kau begitu malu untuk mengatakan secara langsung padaku untuk melakukan kencan kita lagi?"
Sakura tertawa pelan mendengar pertanyaan Naruto. Tentu saja bukan Naruto jika pria itu peka dengan perasaan seorang wanita. "Hmm.. mungkin begitu."
"Yosh, baiklah. Bagaimana dengan besok?"
"Un."
"Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang."
.
.
.
Naruto membiarkan guyuran air dingin membasahi seluruh permukaan tubuh kekarnya. Ia tengadahkan wajahnya, membiarkan air shower membasahi wajah tampannya. Naruto memikirkan dengan seksama perkataan Sakura di taman beberapa menit yang lalu. Ia menyeringai pahit mengingat betapa pandainya ia berpura-pura tidak memahami perkataan wanita itu. Naruto bukan lagi remaja yang tidak peka dengan perasaan orang terdekatnya. Terutama Sakura. Mengenal wanita itu bertahun-tahun tentu membuatnya sangat paham dengannya.
Ia tidak pernah menyadari jika sikapnya telah berubah pada Sakura. Harus Naruto akui jika ia mulai melupakan beberapa hal yang rutin ia lakukan dengan istrinya. Seperti ciuman selamat pagi untuk wanita itu. Naruto terlalu bersemangat setiap pagi berharap dapat melihat wajah putranya, mengantar Boruto pergi ke sekolahnya. Sama sekali tidak menyadari jika ia melupakan sosok wanita yang selalu ada di sampingnya.
Naruto mengusap kasar wajahnya. Betapa bodoh dirinya. Naruto menyebut dirinya peka saat semua yang ia lakukan justru sebaliknya. Naruto menutup matanya. Seketika wajah Hinata terbayang di pikirannya. Naruto setengah tertawa setengah menggeram. Sepertinya aku yang tidak peka dengan diriku senidri, pikirnya.
.
Pintu kamar terbuka menampilkan sosok Naruto yang telah berbalut sebuah celana olahraga panjang dan kaos putih kasualnya. Surai pirangnya yang basah membuat pria itu terlihat begitu seksi. Sakura berdiri di depan ranjang menatap Naruto dengan wajah yang bersemu merah. Kedua tangannya ia genggam di belakang tubuhnya.
Naruto mengamati tampilan istrinya yang masih saja mencoba menggodanya. Wanita itu mengenakan piyama dengan ketiga kancing kemeja lengan panjangnya ia biarkan terbuka, menampakkan kulit mulus dada wanita itu dan sesuatu yang menegang dibalik kain tipis itu. Naruto berjalan menghampiri Sakura. Hanya menatapnya sebentar kemudian mengelus lembut surai pink wanita itu.
"Istirahatlah. Kau pasti lelah. Aku akan keluar mencari udara segar, jadi tidurlah lebih dulu," kata Naruto dengan lembut. Pria itu mengulas senyum tipis melihat ekspresi tidak suka di wajah Sakura. Tapi, Naruto tetap keluar dari kamar setelahnya.
Udara malam yang sejuk menyambut pernafasan Naruto ketika ia keluar dari rumahnya. Ia melihat langit sebentar sebelum melangkahkan kakinya keluar dari gerbang. Terlihat sebuah mobil terparkir di depan rumah Hinata. Tentu saja, Naruto tahu milik siapa mobil itu. Ia hendak melanjutkan langkah kakinya sebelum mendengar suara ceria Boruto. Naruto mengurungkan niatnya. Ia berdiri menunggu suara nyaring yang terdengar semakin dekat.
Dua orang pria dengan warna rambut yang hampir sama keluar dari gerbang rumah Hinata. Mereka berhenti sebentar untuk melihat ke dalam gerbang. Tidak lama kemudian Hinata tertangkap penglihatan Naruto. Tidak lupa dengan seorang anak kecil yang berdiri di sampingnya.
Naruto hanya berdiam diri di tempatnya. Tubuhnya membeku. Mata biru lautnya membulat tak percaya. Saat itu juga bagaikan ada meriam yang baru saja menghantam dadanya.
Sesak.
Hinata berdiri dengan tenang ketika pria bersurai merah berjalan mendekatinya. Dalam gerakan cepat pria itu menempatkan bibirnya di pipi wanita itu. hanya sekilas, namun mampu membakar sesuatu di dalam diri Naruto.
"Naruto-jisan!" panggil Boruto.
Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Aa, Boruto," balasnya.
Bibirnya melengkungkan senyum terpaksa. Dengan kikuk berjalan mendekat ke kerumunan orang itu. "Aku sedang mencari udara segar," kata Naruto saat mendapat tatapan bertanya di wajah cantik Hinata. Pipi wanita itu merona, entah karena dinginnya udara malam, atau rasa malu menyadari Naruto melihat Gaara menciumnya.
"Ohisashiburi, Naruto."
Naruto menyentakkan kepalanya ke balik bahu Hinata dimana seorang pria yang tidak asing baginya berdiri dengan wajah dingin menatapnya. "Neji, itu kau?" tanyanya tak percaya.
Pria bersurai cokelat panjang itu hanya menggumam mengiyakan. Mata amethyst yang menatapnya tajam membuat Naruto merasa tidak nyaman. "Senang melihatmu di sini."
"Siapa dia?"
Naruto menatap pria bersurai merah terang yang berdiri di samping Gaara. Tatapan menyelidik pria itu berikan pada Naruto. Wajahnya yang masih terlihat sangat muda sepertinya tidak asing bagi pria Namikaze itu.
Naruto tersenyum.
"Akasuna Sasori, ya?"
"Ya. Dan kau―"
"Namikze Naruto. Putra dari Namikaze Minato," terang Gaara pada sepupunya. Seketika rona cerah tampak di wajah Sasori.
"Aa, jadi kau putra Minato-san ya. Tidak buruk," komentarnya. Sasori mengangkat keningnya yang berkerut. Melihat wajah Naruto mengingatkannya akan seseorang. Ia terkejut ketika melihat Boruto yang menarik kaos pria itu.
Sasori tersenyum miring.
"Kami sedang mengantar Gaara-jisan dan Sasori-jisan pulang. Apa Naruto-jisan mau main ke rumahku?" Boruto menatap Naruto dengan mata sapphirenya yang berkilau penuh harap.
"Hmm.. Gomen Boruto." Naruto menggeleng. "Mungkin lain kali."
Boruto memasang wajah kecewa. Bibir kecilnya cemberut dengan mata besarnya yang berkedip menahan kantuk.
"Kau pasti sangat mengantuk, pergilah tidur setelah ini."
Boruto mengangguk.
"Baiklah, jisan," katanya menurut.
Naruto mengulas senyum hangat melihat Boruto yang kembali ke sisi ibunya. Ia merasa tidak nyaman di tempat ini. Bukan karena ia membenci orang-orang yang ada di hadapannya. Tetapi, lebih ke perasaan ganjil yang bersarang di hatinya. Menyadari tatapan yang sekilas Gaara berikan pada Hinata dan begitupula wanita itu yang membalas tatapan itu dengan hangat sangat membuat Naruto muak. Jantungnya serasa dicubit dengan pelan namun menyakitkan.
Naruto mengepalkan kedua tangannya dengan erat di samping tubuhnya. "Kurasa aku harus segera pergi. Selamat malam, semuanya."
Tanpa menunggu respon dari orang-orang di sekitarnya. Naruto melangkahkan kakinya mejauh. Rasanya semua terasa hampa dan menyedihkan. Dari awal ia memang tidak memiliki tempat untuk dituju. Ia hanya berjalan tanpa arah menuruti keinginan kakinya. Kemanapun Naruto pergi, ia tidak masalah. Asalkan tidak di tempat dimana ia harus melihat Gaara begitu memuja Hinata.
Naruto berhenti berjalan dan menatap pemandangan yang terhampar di depannya. Decak kagum keluar dari mulutnya. Saat ini ia berada di sebuah bukit kecil yang sering Naruto lihat saat ia keluar dari rumahnya. Naruto tidak tahu jika ternyata bukit itu menyajikan sebuah pemandangan yang memukau matanya. Lampu-lampu rumah di bawahnya, bahkan gedung perkotaan pun terlihat dijangkauannya. Ia melihat sebuah kursi batu yang terletak di dekat tepi pembatas. Naruto dudukkan dirinya di sana.
Sangat nyaman, pikirnya.
Dalam satu kali pandang Naruto memutuskan untuk menjadikan tempat ini sebagai tempat kesukaannya. Sesekali menyendiri adalah pilihan yang tepat untuk menenangkan diri. Dan bukit ini menjadi tempat yang tepat untuk itu. Ia isa melihat ribuan bintang yang berkelip di atasnya. Sangat sunyi dan sepi. Hanya ada suara hewan malam yang menemaninya.
.
.
.
Sakura meletakkan pantatnya di atas ranjang. Wanita itu menghela nafas lelah untuk ke sekian kalinya. Kedua tangannya dengan lincah mengancingkan kembali kancing kemejanya yang sengaja ia buka. Sakura mencengkeram erat baju bagian dadanya. Hatinya terasa gundah dan kecewa. Ia takut pada perasaannya sendiri. Ia takut kehilangan Naruto meski ia tidak memiliki alasan untuk itu.
Sakura mempunyai banyak perkiraan di benaknya mengenai perasaan suaminya. Tapi justru perasannya itulah yang membuat Sakura gelisah. Ia tidak ingin kehilangan Naruto. Sakura tidak ingin menyerah dan menyalahi hatinya sendiri. Dan ia bertindak bodoh dengan sengaja memprovokasi Naruto malam ini. Karena itu hanya menyakiti harga dirinya.
Sakura merasa kepalanya terasa berat karena terlalu memikirkan hal yang terus mengganggunya. Ia langkahkan kakinya untuk membuka jendela kamarnya. Membiarkan angin malam masuk ke dalam kamarnya dan menyegarkan pikirannya. Namun, sesuatu menarik perhatian Sakura. Tepat di sebelah rumahnya―di depan rumah Hinata, ia menyadari keberadaan sosok Namikaze Naruto. Pria itu terlihat berbicara dengan seseorang yang wajahnya tidak terlalu terlihat jelas bagi Sakura dan seorang anak kecil yang ia yakini sebagai Boruto menggenggam kaos pria itu. Salah satu sudut bibir Sakura terangkat.
Naruto terlihat begitu bahagia ketika berinteraksi dengan putra Hinata itu. Haruno Sakura bukanlah orang bodoh yang tidak meyadari betapa miripnya kedua orang itu. Sudah dari awal semenjak pertama kali wanita berurai pink itu melihat bocah kecil itu. Mulanya, Sakura tidak ingin mengakuinya. Terus dan terus membantah kenyataan yang terlihat oleh matanya. Tapi, kenyataan itu terlalu sulit untuk ia ingkari. Walau tidak ada kepastian untuk itu. Walau Sakura tahu mengapa perasaan Naruo telah berubah padanya.
"Seharusnya aku tidak memulainya dari awal," bisik Sakura pada dirinya sendiri. Mata emeraldnya menatap tubuh Naruto dan beralih ke tubuh mungil sahabatnya, Hyuuga Hinata. "Maafkan aku karena mengambilnya darimu, Hinata."
.
-Tsuzuku-
.
.
.
.
#Author Words#
Akhirnya Author update fict ini. Yeeii.. \^v^/
Minna, terima kasih untuk reviewnya di chapter-chapter sebelumnya. Dan terimakasih juga untuk yang sudah mau menunggu kelanjutan fict ini sampai menagih updatenya di fict Author yang satunya. Arigatou gozaimasu XD
Sebenarnya chapter ini udah lama Author buat, hanya saja koneksi internet tidak mendukung. Jadi, yaaah.. beginilah. He he
Segini aja cakap Author, see you next chapter…
#End of Author Words#
.
Review, Onegai ^^V
