Chapter 6

...

Bandara Konoha telah tampak di bawah sana. Lalu lalang petugas menjadi penghias sepinya bandara yang tengah berkabut. Sejak beberapa hari lalu, langit Jepang memang tertutup kabut. Mungkin sebab dinginnya cuaca di musim yang seharusnya hangat ini.

Di sebuah tempat duduk kelas eksekutif, seorang pria berambut kuning, menatap ke bawah. Pemandangan di bawah sana tampak menarik jika dilihat dari ketinggian. Seperti halnya bandara lain, bandara Konoha terdiri dari beberapa gedung terminal yang mengelilingi satu landasan yang sangat luas. Namun ada satu hal yang membuat bandara ini terlihat berbeda. Ialah bangunan kuil kuno di tiap empat sudut bandara. Seakan kuil tersebut memang sengaja dibangun sebagai tempat dewa penjaga bersemayam melindungi siapa pun yang melakukan perjalanan udara dari bandara Konoha.

Naruto tersenyum. Kendati ada gurat sendu yang tersirat, pria itu tetap menampilkan lengkungan bibir yang manis. Ini Konoha, tanah kelahirannya, tanah tempat ia dibesarkan, dan tanah tempat ia mengadu hidup. Ya, ia pulang. Namun dalam sisi lain, ia dihadapkan pada gamang yang enggan menghilang. Tentang pernikahannya dengan Mei Terumi.

"Para penumpang yang terhormat, selamat datang di Konoha, kita telah mendarat di Bandar Udara Konoha. Kami persilakan kepada Anda untuk tetap duduk sampai pesawat ini benar-benar berhenti dengan sempurna pada tempatnya dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan. Berakhirlah sudah penerbangan kita pada hari ini. Atas nama Konoha Airlines, Kapten Momochi Zabuza, dan seluruh awak pesawat yang bertugas mengucapkan selamat berpisah dan semoga dapat berjumpa lagi di dalam penerbangan Konoha Airlines lain waktu. Sebelum meninggalkan pesawat, kami ingatkan kembali kepada Anda untuk memeriksa kembali bagasi kabin Anda agar tidak ada barang yang tertinggal. Para penumpang dengan lanjutan penerbangan silakan melapor pada bagian layanan pindah pesawat di ruang penerbangan. Terima kasih."

Suara seorang pramugari terdengar persuasif di seluruh rangkaian ruang pesawat. Lamunan Naruto buyar seketika. Pria itu menegakkan tubuhnya dan bersiap untuk keluar pesawat.


A/N:

Hinata mulai berpikir apa yang menarik dari dunia selepas kematian ayahnya. Obsesi untuk menjadi penulis makin kandas. Hinata merasa kesepian. Namun pada suatu hari, ia ingat akan galeri ayahnya yang ada di ruang belakang. Sang ayah merupakan pelukis yang kerap mengunjungi daerah-daerah. Ketika Hinata memasukinya, ia menemukan sebuah lukisan yang amat menarik dengan judul 'Sunshine'. Sosok pria tampan beriris mata biru, yang berdiri di atas tebing dengan panorama matahari terbenam. Akan tetapi siapa sangka. Pria dalam lukisan tersebut muncul di depannya, dengan wujud 'sedikit' berbeda.

Sinopsis Light Novel MARRY SUNSHINE, project saya bersama Kimono'z

Untuk tanya-tanya dan pemesanan silakan PM saja ya ^^

Terima kasih

.

.

.


UNBREAKABLE PROMISE

.

Disclaimer : Karakter yang dipakai di dalam ff ini adalah milik Masashi Kishimoto

.

.

.

Original Story : Si Hitam

Written by : Valentinexxx, Si Hitam and ForgetMeNot09

Editor : ForgetMeNot09


"Selamat siang, Naruto-sama."

Sebuah sapaan yang cukup familier di telinga mencipta senyum di bibir Naruto. Pria dengan rambut perak rapi tersisir ke belakang, membungkukkan badannya memberi hormat. Naruto mengangguk lalu mereka berjalan bersisian dan memasuki mobil.

"Apa kabar Hidan?"

Yang dipanggil pun tersenyum.

"Kabar baik, Naruto-sama. Bagaimana perjalanan ke Ame? Apakah menyenangkan?"

"Cukup menyenangkan dan membuat pikiranku rileks. Oh ya, aku ingin mampir ke toko kue dahulu sebelum pulang."

"Baik, Naruto-sama."

Perjalanan Naruto tidak memakan waktu lama. Kendati tergolong kota besar di Jepang, Konoha hampir tidak pernah mengalami masalah kemacetan. Mungkin karena sebagian besar warga kota ini lebih senang berjalan kaki, atau paling tidak, menggunakan angkutan umum yang disediakan oleh pemerintah. Selain itu, ada kebijakan pemerintah Konoha sendiri yang digunakan untuk membatasi angka kelahiran dan angka imigrasi di kota ini.

Naruto bergegas keluar dari mobil setelah sampai di depan mansion. Tubuhnya yang lelah akibat perjalanan cukup panjang, ia abaikan. Tangan kanannya menenteng tas ransel yang selalu menemani sepanjang perjalanan ke Amegakure. Sedang tangan kiri ia membawa bungkusan kardus berukuran sedang. Wajahnya menampakkan letih, tetapi ia paksakan tersenyum. Terlebih ketika melihat sosok wanita paruh baya berambut merah sedang merapikan taman di halaman mansion.

"Kaa-chan," panggilnya.

Wanita itu mendongak. Tersenyum lebar kala mengetahui siapa yang datang. Setengah berlari ia mendekati Naruto dan memeluknya.

"Ya Tuhan, dasar! Kau macam anak durhaka saja. Tidak pernah memberi kabar jika aku tidak meminta."

Naruto terkekeh. Dielusnya rambut indah sang ibu lalu diciumnya puncak kepala wanita itu.

"Maaf, Kaa-chan. Bukan aku durhaka, melainkan aku benar-benar disibukkan oleh pikiranku sendiri hingga lupa segalanya."

Kushina melepas pelukan. Ia menatap tajam pada putra semata wayangnya. Alisnya menukik, bibirnya tertarik ke bawah dan muka yang merah padam. Naruto melihatnya sebagai pertanda akan datangnya kemarahan luar biasa dari sang ibu.

"Ka-"

"Kushina-san."

Baik Naruto pun Kushina menoleh. Sosok wanita cantik dengan segala keanggunannya berjalan dari arah pintu. Bibirnya menoreh senyuman manis.

Naruto menghela napas lega. Beruntung Mei datang tepat waktu atau ia harus mendengarkan ceramah panjang lebar dari wanita yang telah melahirkannya.

Namun, di sisi lain, pria Namikaze itu menyesal. Mengapa harus secepat itu ia bertemu kembali dengan Mei. Semua perihal pikirannya yang masih belum tenang dan seakan pertemuan dini dengan wanita itu akan semakin mengacaukannya.

"Ah, Mei-sama. Apa Anda membutuhkanku?"

Mei menggeleng. Matanya melirik Naruto kemudian kembali menatap Kushina.

"Tidak. Aku hanya ingin mengajak kalian ke paviliun taman belakang. Pelayan sudah kusuruh menyiapkan teh dan camilan untuk kita bersantai."

"Wahhh, ide bagus tuh. Ayooo cepat kesana."

Kushina melangkah di depan diikuti Mei dan Naruto yang berjalan di belakang. Mei sengaja memperlambat langkah kakinya, membuat Naruto kebingungan. Lalu seakan paham intensi Mei, Naruto menyejajarkan langkahnya dengan langkah Mei.

"Bagaimana perjalananmu?"

Mei bertanya tanpa sedikit pun menoleh pada pria di sampingnya.

"Menyenangkan, Mei -sama. Hanya saja saat perjalanan pulang, mobil saya harus masuk bengkel, dan karena Kaa-chan dan Anda memaksa saya pulang cepat, maka saya memutuskan untuk naik pesawat."

Saat mengatakan kalimat itu, Naruto sengaja meninggikan suaranya dengan riang dengan maksud agar Mei paham bahwa ia sengaja mencandainya. Mei yang mendengarnya pun tersenyum.

"Kau tidak tahu bagaimana kalutnya Kushina-san saat kau pergi. Minato-san saja sampai kewalahan menenangkannya. Jadi, ketimbang mengolokku, lebih baik kau berterima kasih padaku karena aku sudah menjauhkanmu dari kemarahan Kushina-san."

Naruto terkekeh pelan. Di mata dan telinga Mei, entah mengapa, hari ini Naruto terlihat lebih dewasa. Cara pria itu mencandai dirinya seakan tidak ada sekat antara mereka seperti halnya pada hari-hari sebelum ini.

...

Pagi ini suasana di mansion benar-benar riuh. Berbagai kesibukan memadat di minggu menjelang pernikahan pemilik mansion. Halaman depan dirapikan, tetapi bagian dalam rumah sungguh porak poranda. Meski pesta akan diadakan di sebuah gedung di tengah kota, segala persiapan yang berkaitan dengannya tentu dilakukan di rumah. Beberapa pelayan dan pekerja terlihat bolak balik keluar masuk rumah dan membawa piranti yang tidak biasa.

Lalu, di ruang tengah, Kushina terlihat paling sibuk. Ia memegang sebuah catatan lengkap dengan pena. Alis bertaut membuat dahinya terkerut. Mata menyipit dan mulutnya tak berhenti berkomentar.

"Anata, siapa yang bertugas menghubungi bagian kateringnya?"

"Shizune-san."

"Shizune-san, apa ada masalah dengan bagian katering?"

Teriakan cempreng sang istri membuat Minato menggelengkan kepalanya. Shizune, berjalan santai menghampiri Kushina dan tersenyum.

"Sudah tidak ada masalah, Kushina-sama," ujarnya yang disambut ekspresi kesal Kushina.

"Sudah berapa kali kukatakan, jangan panggil aku dengan sufiks itu."

Shizune tertawa pelan. Hidup bersama majikannya yang kaya raya dan selalu berkecukupan, tak membuat keluarga Namikaze melupakan asalnya. Mereka tak lantas lupa daratan dan menjadi sombong.

"Hahaha ... maafkan saya, Kushina-san."

Kushina menggeleng seraya menggerak-gerakkan penanya di depan wajah.

"Tidak masalah. Terima kasih. Lalu bagaimana dengan karangan bunga?"

Kembali Kushina berteriak. Shizune membungkukkan badan dan berlalu pergi. Sedang di sisi lain, seorang wanita muda berambut cokelat tergopoh-gopoh menghampiri Kushina.

"Saya yang mengurusnya, Kushina-san. Semua jenis bunga yang dipesan dan bentuk rangkaiannya sudah sesuai dengan permintaan Mei-sama. Baru saja pihak Yamanaka Florist menghubungi dan mereka mengatakan semua sudah siap."

Mata ungu Kushina berkilat antusias. Anak muda semacam Tamaki ini memang selalu bisa diandalkan. Ah tidak, bukan hanya Tamaki, melainkan hampir semua pekerja Mei, selalu bisa diandalkan. Kushina menepuk pundak Tamaki keras, nyaris membuat Tamaki terjungkal.

"Hohohohoho ... terima kasih, Sayang."

Lalu perhatiannya kembali kepada daftar yang ia pegang. Saat mulutnya hendak kembali berteriak, sebuah rangkulan menghentikannya.

"Are?" Ia menoleh. Seorang pria tersenyum padanya mencipta senyum balasan di bibir wanita itu.

"Naruto."

"Kaa-chan, jangan memaksakan diri."

Naruto tahu ibunya sangat antusias dengan pernikahannya pun segala persiapannya. Namun, pria itu sadar, kesehatan sang ibu juga perlu diperhatikan, dan Naruto tidak mau jika karena kesibukan seperti ini membuat Kushina lupa waktu dan lupa diri.

"Apa maksudmu?"

"Kaa-chan beristirahatlah," bujuk Naruto. Kertas dan pena di tangan Kushina beralih padanya. Masih merangkul, Naruto menuntun Kushina dan membawanya untuk duduk di sofa ruang tengah, bersebelahan dengan Minato.

"Kaa-chan dan Tou-chan duduk santai di sini dan tinggal mengamati saja apa yang dilakukan oleh teman-teman. Masalah pekerjaan mereka bisa diandalkan, dan masalah pengawasan, kurasa Rin-san bisa melakukannya."

Naruto melirik pada seorang wanita yang berdiri menggantikan Kushina. Wanita itu hanya tersenyum kecut, sebenarnya sejak awal dia sudah berdiri di sana, tepat di samping Kushina. Namun tidak bisa berbuat apa-apa lantaran Kushina yang terlalu bersemangat mengambil alih kendali.

"Kaa-chan lihat, Rin-san sudah biasa menangani hal seperti ini. Terlebih dia memang telah dipercaya Mei-sama."

Kushina memasang raut cemberut, kedua tangan melipat di depan dada, sedang Minato dan Naruto malah terkikik geli.

"Huft ... baiklah. Aku percayakan padamu, Rin-san."

Rin mengangguk dan berpamitan pergi. Pun dengan Naruto. Pria itu beranjak melangkahkan kaki.

"Kau mau kemana Naruto?"

"Aku ingin mencari angin sebentar saja, Tou-chan," jawabnya.

Naruto pun berlalu,diiringi tatapan bingung dari kedua orang tuanya. Tubuh tegap itu menghilang di balik pintu ruang tengah.

...

"Apa yang harus kulakukan? Ini sudah beberapa hari menjelang pernikahanku dengan Mei-sama."

Dalam hati Naruto bergumam. Sejak kepulangannya dari Amegakure, kepala berbalut helaian kuning itu terasa penuh. Berbagai pikiran merasukinya. Sejatinya perasaannya bimbang. Ia masih mencintai Hinata dan inginkan gadis itu menjadi pemilik hati dan raganya seumur hidup. Yang menjadi masalah, keberadaan gadis itu bagai hilang ditelan bumi. Tidak di Ame pun di Konoha, Naruto kehilangan jejak gadis ayu itu.

"Kau kemana, Hinata?"

Terus menerus bibir itu melantunkan tanya tanpa sadar. Baginya, Hinata adalah ujung pangkal permasalahan ini. Naruto ingin bertemu dengan Hinata, untuk memenuhi janji 10 tahun yang lalu, pun untuk mengungkapkan isi hatinya. Pria itu mendengus. Kembali ia larut dalam keraguan. Lantas apa dengan bertemu Hinata ia mampu mengungkap kenyataan? Bahwa dirinya masih mencintai gadis itu tetapi tidak bisa menikahinya? Sebab ia telah memantapkan hati untuk menikahi Mei Terumi. Untuk menjadi suami bagi wanita yang telah menjadi perantara Tuhan untuk menjaganya. Dan kini saat yang tepat bagi Naruto untuk membalas budi. Menjadi penjaga setia untuk Mei. Menjadi pelindung yang kuat untuk Mei.

Namun, bagaimana jika ia tidak bisa menjadi seperti yang diharapkan oleh Mei? Bagaimana jika ia tidak bisa menjadi suami yang baik buat Mei? Bagaimana jika ia gagal menjaga dan melindungi wanita yang teramat ia hormati itu?

Naruto menggelengkan kepalanya. Mengapa ia seakan meragukan dirinya sendiri? Bukankah Mei telah memilihnya? Itu artinya, wanita itu percaya bahwa Naruto mampu menjadi suami yang baik untuk dirinya. Pun kedua orang tuanya yang menyetujui pernikahan ini, tentu bukan dengan alasan sepele atau main-main. Pasti ada pertimbangan yang telah mereka semua pikirkan secara matang. Termasuk bahwa mereka menaruh kepercayaan yang tinggi kepada Naruto.

Mungkin dirinya memang ditakdirkan untuk menggantikan posisi mendiang suami Mei.

Suami Mei?

Tunggu!

Rasanya ada satu masalah lagi. Tentang Mei Terumi. Selama ini Naruto tahu bahwa Mei sangat mencintai suaminya. Semua itu terilhat jelas dari sikap Mei. Ia yang memilih menjanda sepeninggal suaminya sampai sebelum peristiwa lamaran itu terjadi. Ia yang tak pernah melepaskan kalung pemberian sang suami barang sedetik pun. Belum lagi mendengar cerita yang pernah disampaikan Konan kepada Naruto, terlihat jelas bahwa Mei tidak bisa melupakan bayang mendiang suaminya. Bukankah itu cukup membuktikan sebesar apa cinta Mei?

Namun, mengapa sekarang Mei justru melamarnya? Mengapa ia justru meminta Naruto untuk menjadi suaminya? Apakah rasa cinta Mei kepada suami terdahulu telah pudar? Ataukah wanita itu benar-benar jatuh cinta pada bocah semacam dirinya? Atau-

Naruto tak habis pikir. Ia tidak mau memercayai bahwa Mei benar jatuh cinta kepada dirinya. Pasti ada alasan lain. Dan ia benar penasaran tentang alasan lain itu.

Pria itu mendesah pasrah. Pikirannya benar-benar tidak tenang. Hati di bawah sana pula belum tenang. Jantungnya juga tak henti berdegup kencang.

Sejenak ia memejamkan mata, memenjarakan netra azurenya, berusaha mengosongkan isi kepala dalam beberapa saat. Lima menit berlalu, barulah mata itu kembali terbuka. Binar cahayanya berbeda. Seakan ada keyakinan kuat tumbuh di sana. Keyakinan untuk menuntaskan segala rasa penasarannya.

"Aku harus menanyakannya kepada Mei-sama," ucapnya tegas.

...

Ia duduk terpaku di kursi kerja. Ruangan ini teramat luas, banyak objek yang seharusnya mampu ia amati. Namun kenyataannya, mata hijau itu justru mematri pandangan pada sebuah foto yang tergantung di dinding.

Ia seakan terhisap. Pandangannya jelas memperlihatkan cinta yang teramat dalam. Sendu dan bahagia bercampur. Sebentar lagi hari pernikahannya tiba. Ia akan memiliki seorang suami, seorang laki-laki yang akan menemaninya di sisa umur, jadi ia tak perlu lagi mengkhawatirkan kesendirian yang akan menggerogoti usia. Namun di sisi lain, hatinya gamang, sebab bukan sang suami yang ia nikahi nanti.

Mei tertawa pelan. Dirinya macam orang tidak waras saja, mengharap pernikahan kembali dengan orang yang jelas-jelas sudah mati.

"Sepertinya aku gila, Anata," ucapnya bermonolog.

Lalu kesenangan itu terhenti saat bening kristal kandelar di atas sana memantulkan bayang sesosok manusia. Mei pun menoleh.

Mimik mukanya tetap tenang kala berhadapan dengan pria yang beberapa hari lagi akan resmi menjadi suaminya.

"Ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?"

Bagai cenayang, wanita itu mampu menerka isi pikiran sang pria yang sontak mengangguk.

"Duduklah," perintahnya halus.

Naruto pun menurutinya, ia duduk menghadap Mei, hanya terpisah oleh meja baca yang tidak terlalu besar. Netra biru jernih itu menatap sang wanita. Menebak suasana hati yang sedang terjadi. Namun seperti biasa, Mei Terumi adalah wanita yang elegan dan profesional. Seriuh apa pun keadaan hatinya, takkan ia tampakkan pada raut wajah. Pembawaan tenang sudah menjadi ciri khasnya, yang tenar di kalangan para pegawai maupun kolega.

"Apa yang sedang Anda lakukan di sini, Mei-sama?"

Mei tersenyum. Sorot matanya tegas kala bersirobok dengan mata biru Naruto. Diamatinya garis wajah pria muda itu.

"Hanya bernostalgia dan," ucapannya terhenti. Sesaat lalu seperti bayangan mendiang suaminya melintas.

"mencari ketenangan," lanjutnya.

Naruto mengangguk. Ia sangkakan paham akan maksud ucapan Mei.

"Ada yang ingin saya tanyakan."

"Silakan."

Naruto menghela napas dalam. Matanya sejeda memejam, sebelum membuka lagi.

"Mengapa Anda memutuskan untuk menikah dengan saya?"

Kerutan muncul di dahi putih wanita cantik di hadapannya. Hanya sekejap, selanjutnya rona muka wanita itu kembali normal.

"Apakah ada yang aneh dengan itu? Apa perlu kau pertanyakan?"

Naruto menggeleng. Entah mengapa lidahnya mendadak kelu. Padahal beberapa jam yang lalu ia telah mempersiapkan diri termasuk mentalnya. Bahkan berkali-kali ia melatih pengucapan.

"Tidak ada, Mei-sama. Hanya saja, setahu saya, Anda sangat mencintai mendiang suami Anda."

Mata Naruto luput untuk menyaksikan bahu Mei yang sempat tegang, jadi pria itu melanjutkan perkataannya.

"Mengapa tiba-tiba Anda memutuskan untuk menikah dengan saya dan melamar saya?"

Mei memutar kursinya, membuat ia menghadap ke jendela dan pemandangan malam hari di luar sana, alih-alih bersitatap dengan Naruto. Ia tampak berpikir, dalam jeda cukup lama. Tak apa ia membuat Naruto menunggu. Tak perlu ia takut Naruto kehilangan kesabaran. Sebab laki-laki itu pasti akan dengan setia menanti jawaban darinya.

"Aku akan menjawabnya nanti."

Kursi berputar. Mei berhadapan dengan Naruto. Keduanya menebar aura yang berbeda, antara rasa penasaran dengan rasa menahan diri.

"Saat kita menikah nanti, aku akan menjawab pertanyaanmu," lanjut Mei.

Gurat kecewa terlukis di wajah Naruto. Namun ia tetap menghormati keputusan Mei. Ia pun berdiri dan membungkukkan badannya, lantas beranjak pergi. Ketika ia sampai di pintu, ia berhenti karena Mei mengatakan sesuatu.

"Kau tenang saja Naruto. Aku tidak akan menyembunyikan apa pun darimu setelah kita menikah nanti."

Naruto berbalik lalu tersenyum.

"Karena aku yakin, sebuah rumah tangga akan benar-benar bahagia jika dibangun dengan kejujuran," lanjut Mei.

"Saya mengerti, Mei-sama."

Sesaat setelah Naruto meninggalkannya, Mei pun tersenyum. Dalam dadanya mendadak terasa lega, tak ada lagi beban yang beberapa waktu lalu menghantui.

...

Hinata POV

"Ribut-ribut apa ini?"

Selintas pertanyaan lewat di benakku manakala melihat belasan karyawati mengintip dari balik sekat kaca ruang kerja divisi keuangan. Padahal tadi, sebelum aku ke toilet, suasana masih sunyi senyap dan sedikit angker. Ya, memang begitu adanya. Divisi keuangan hanya terdiri dari sedikit pegawai dan pekerjaan kami tidak seheboh divisi lain, kecuali saat akhir bulan. Terlebih jika dibandingkan dengan divisi produksi dan marketing yang hampir setiap saat ramai.

Aneh!

Aku jadi penasaran ada apa gerangan.

Kulangkahkan kaki menuju kerumunan dan bergabung di sana.

"Anooo, Tayuya-san."

Kupanggil nama gadis berambut merah yang baru saja kutepuk bahunya, "Ada apa sampai ramai begini?"

"Ah, Hinata-san. Dari mana saja kau heh?"

"Dari toilet," jawabku polos.

Mataku menyipit, mengapa dia heboh begini? Lagipula dia karyawati divisi Research and Development, mengapa tiba-tiba berkunjung ke bagian keuangan? Ada perlu semendesak apakah?

"Isshh, rugi kau! Coba lihat ke dalam!"

Sedikit bersusah payah karena harus berdesak-desakan dengan karyawati lainnya, dari balik kaca jendela, aku bisa melihat dua pria yang tidak seharusnya berada di ruang kerja Divisi Keuangan.

Ternyata mereka penyebab keributan ini.

Setelah tahu, aku pun keluar dari kerumunan. Tiba-tiba karyawati lain bergabung denganku dan Tayuya.

"Beruntung sekali kau, Hinata-san."

Namanya Saara. Rambutnya merah persis seperti Tayuya tapi lebih panjang. Mereka berdua satu divisi. Aku berteman dengan mereka walau berbeda divisi karena kami sering bertemu di kantin kantor untuk makan siang.

"Eh? Mengapa?" Aku bertanya keheranan.

"Ya itu, di dalam. Ada dua ikemen seksi masuk ke kandangmu minta dimangsa."

Oh ya ampun, Saara! Sepertinya aku harus menyumpal mulut perempuan itu. Aku membuang napas panjang. Beginilah kalau punya teman perempuan yang hidup sebagai pemuja laki-laki tampan.

"Nee, Saara-san. Mengapa kau tidak masuk saja dan menyapa kedua laki-laki itu?"

Aku memberi usul padanya.

"Tidak bisa Hinata-san. Aku tidak sanggup. Badanku bisa langsung meleleh kalau ditatap oleh mereka. Duuuuuuuh, bagaimanaini?"

Aku menggeleng frustrasi. Jika diteruskan bicara dengan mereka pada situasi ini, kesehatan mentalku mungkin akan terganggu.

"Ya sudah. Aku mau masuk dan melanjutkan pekerjaanku."

Saara dan Tayuya tak menanggapi, jadi kutinggalkan mereka begitu saja. Aku masuk ke dalam dan langsung duduk di balik meja kerja. Ruang kerja Divisi Keuangan perusahaan ini cukup luas. Aku dan pegawai biasa lainnya ditempatkan di dalam ruang berukuran enam kali sembilan meter ini. Termasuk diriku, ada enam pegawai yang bekerja di dalam ruangan ini. Tapi hari ini, hanya aku sendiri yang bekerja. Lima pegawai lainnya pergi untuk suatu urusan.

Bukan urusan pekerjaan sebenarnya. Kelimanya pergi ke Konoha lagi, padahal belum lama pulang dari sana. Mereka diundang oleh pemilik perusahaan yang akan menikah untuk kedua kalinya setelah lama hidup sendiri. Mungkin sebab telah lama bekerja, mereka mendapat undangan itu. Ya, undangan untuk pegawai senior, tidak untuk pegawai baru seperti diriku yang bukan apa-apa.

Mei Terumi.

Wanita dengan segala kesempurnaan yang dimiliki. Dialah yang akan menikah. Aku terkejut ketika mendengar kabar itu dari mulut Shino-kun. Benakku berangan-angan, sosok laki-laki seperti apakah yang mampu mengikat hati seorang Mei Terumi?

Kemudian Shino-kun memberitahuku lagi bahwa pria yang akan menikah dengan Mei Terumi adalah CEO baru Mizu Group yang pada saat rapat keuangan kemarin, beliau tidak dapat hadir.

Mendengarnya dari mulut jujur Shino-kun, membuatku hampir tidak bisa berhenti terkikik geli.

Ya, aku ingat bagaimana para karyawati Mizu Group di Konoha yang begitu memuja sang CEO, kini mereka semua pasti patah hati berjamaah.

Tapi ada hal yang membuatku heran. Mei Terumi-sama, meski terlihat awet muda, usianya sudah lebih dari empat puluh tahun. Dan dia menikah dengan bawahannya sendiri yang seumuran denganku?

Aku tidak habis pikir, bagaimana cara pria muda itu menarik hati Mei Terumi-sama? Sebegitu mempesonanyakah dia dalam pandangan para wanita?

Meski sempat terlintas pikiran buruk tentang hubungan mereka, aku tidak ingin berkomentar lebih. Mungkin tidak sedikit orang yang menanggapi hal ini sebagai berita 'miring', tapi aku tidak ingin termasuk dalam golongan orang seperti itu. Siapa pun orang yang hendak menikah, aku pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kehidupan rumah tangga mereka di masa depan.

Tapi ...

Apa yang kurasakan kali ini?

Mengapa seperti ada yang berdenyut sakit di dada saat aku berdoa untuk Mei Terumi-sama dan calon suaminya?

Tidak!

Tidak, tidak, tidak.

Ini pasti hanya efek dari nasib kurang baik yang menimpaku. Aku merasa miris dengan diriku sendiri. Ketika banyak orang begitu bahagia dengan pernikahan dan masa depan baru yang sedang menunggu, aku malah tidak diberi kesempatan untuk bertemu sekali saja dengan laki-laki yang aku cintai. Oh Tuhan, maafkan aku. Tidak sepantasnya aku mengeluh dengan hidup yang kau berikan ini.

Baiklah, kembali dengan dunia nyata. Berkali-kali aku menggeleng, hingga orang yang melihat pasti akan menganggapku aneh. Banyak berkas dokumen yang meneriakiku, meminta segera diselesaikan. Tidak masalah bagiku jika harus bekerja sendiri. Justru aku lebih suka bekerja sendiri karena tempat ini bisa menjadi lebih tenang. Ya, meski harus mengerjakan pekerjaan tambahan yang dilimpahkan dari mereka yang tidak masuk kerja, asal tidak terlalu banyak saja. Namun bagian yang paling tidak aku suka ... ini.

Ya, ini.

Kudongakkan kepala menatap bergantian pada dua laki-laki yang memandangku dengan tatapan tajam, berdiri tepat di depan meja kerjaku.

Kuamati tingkah mereka satu per satu hingga kalimat pertama bernada tinggi meluncur mulus dari bibirku.

"Bisakah kalian berdua hentikan ini? Gaara-san, Toneri-san."

"Tidak, sebelum kau memilih salah satu di antara kami berdua sebagai teman kencan hari ini."

Ucapan penuh penekanan tadi keluar dari mulut Direktur Marketing, Ootsutsuki Toneri.

"Iya. Kau harus memilih salah satu," sambung yang berambut merah, Sabaku Gaara si Direktur Divisi Produksi.

Aku tidak habis pikir dengan dua laki-laki ini, yang oleh karyawati lain dipuja-puja sebagai ikemen paling seksi seantero kota Ame, mengapa mereka suka sekali mengangguku dengan kelakuan tidak jelas seperti ini?

Aku yakin mereka juga harusnya menghadiri pesta pernikahan Mei Terumi-sama. Namun jika mereka berdua pergi, siapa yang akan menjalankan perusahaan?

Awalnya aku menaruh hormat dan respek yang begitu tinggi pada kedua laki-laki ini. Selain karena posisi mereka yang tinggi di perusahaan, mereka juga eksekutif muda teladan dan sukses yang kharismatik. Namun setelah mengenal lebih dekat, rasa hormat dan respekku runtuh seketika.

Itu berawal ketika Kiba-kun mengenalkan diriku pada mereka. Awalnya aku heran karena Kiba-kun yang hanya karyawan biasa bisa memiliki hubungan dekat dengan direktur. Usut punya usut ternyata mereka teman kuliah sebelum bekerja dahulu. Hanya saja nasib baik tidak berpihak pada Kiba-kun, sehingga ia hanya menjadi karyawan biasa.

Mungkin tidak akan jadi masalah kalau Kiba-kun memperkenalkanku pada mereka secara wajar, tapi ...

Aku malu setengah mati saat Kiba-kun merangkulku dan dengan bangganya mengatakan di hadapan Toneri-san dan Gaara-san, "Lihat, lihat! Di perusahaan ini tidak ada karyawati semanis Hinata-san. Beruntungnya aku karena satu ruangan kerja dengannya."

Setelah kejadian itu, entah mengapa Toneri-san dan Gaara-san sering menyapaku. Selanjutnya kami mulai menjadi teman sekantor yang tidak memandang perbedaan jabatan dan berlanjut hingga sekarang. Mereka tidak merasa malu lagi mengajakku berkencan.

Aku sendiri heran, apa yang menarik dari diriku sampai-sampai dua pria yang digilai banyak wanita ini ingin sekali mengajakku kencan?

"Maaf, saya tidak berminat berkencan dengan seorang pun dari kalian berdua," jawabku tegas.

"Ooooouuwwh ..."

Gaara-san dan Toneri-san kompak meringis sambil memegang dada kiri seolah sedang kesakitan, persis seperti orang patah hati yang baru saja ditolak cintanya.

Ya Tuhan!

Aku bisa gila.

Aku kesal dengan Kiba-kun dan Shino-kun yang meninggalkanku sendirian di sini. Seandainya mereka ada, pasti Gaara-san dan Toneri-san tidak akan berbuat berlebihan seperti ini padaku. Dan makin kesal lagi saat mengingat bagaimana mereka berpamitan sebelum pergi kemarin lusa.

"Nah, Hinata-san, ada tugas negara yang wajib kami selesaikan. Jadi doakan kami pulang selamat ya."

Bahkan aku ingat jelas bagaimana muka cengengesan Kiba-kun saat mengatakan itu, sambil ia merangkul erat bahu Shino-kun.

"Ya, aku berdoa semoga kalian pulang ... pulang agar aku bisa memarahi kalian sepuasnya," rutukku dalam hati.

Kutatap Gaara-san dan Toneri-san dengan sedikit menaikkan dagu dan sorot mata tajam, "Kalau tidak ada urusan yang berkaitan dengan pekerjaan, saya mohon dengan sangat untuk segera meninggalkan ruangan ini."

Itu tadi sama sekali bukan gayaku, tapi harus tetap kulakukan agar aku bisa dapat ketenangan.

"Jadi ... kau pilih siapa, Hinata?"

"Ya, pilihlah!"

"Tidak," jawabku keras, "kalian berdua pasti melakukan ini hanya untuk taruhan, bukan?"

Seketika itulah Toneri-san dan Gaara-san terdiam dengan wajah terkejut.

"Oooh ... jadi tebakanku benar?"

"Ah tidak! Tidak mungkin kami melakukan hal bejat seperti itu, benar bukan Gaara?"

Ada sedikit raut gugup yang terbias dari Toneri-san saat menatap Gaara-san.

"Benar sekali," angguk Gaara-san menyetujui.

"Mana mungkin begitu, niat kami tulus padamu."

"Hhhhhhhh ..."

Aku mengembuskan napas sepanjang-panjangnya. Meski penampilan dan kelakuan mereka berdua seperti ini, tapi firasatku mengatakan bahwa mereka orang baik. Makanya aku tidak pernah berusaha menghindari mereka.

Tapi ... untuk sekarang ...

Aku mengukir senyum manis beserta tatapan lembut untuk mereka. Sesantun mungkin aku berkata, "Begini saja, Gaara-san dan Toneri-san, kita masih bisa saling menyapa dan bicara besok seandainya kalian mau melewati pintu itu."

Aku menunjuk pada pintu ruangan ini. Wajah kedua pria tampan ini langsung berubah datar. Aku masih bisa membaca gurat kekecewaan dari mereka, tapi siapa peduli? Tanpa bicara apa pun lagi, mereka dengan tertib undur diri.

"Huuuuhhhh. Akhirnya ..."

Setelah melakukan sedikit peregangan tubuh, saatnya aku melanjutkan pekerjaan. Ada lima laporan keuangan dan empat proposal iklan yang harus kuperiksa.

Tok tok tok

Baru saja hendak melanjutkan kerja, sudah ada lagi yang mengganggu.

"Masuk!"

Aku menjawab lantang. Pintu terbuka dan menampakkan seorang gadis berambut putih panjang yang diikat tinggi mengenakan blazer hijau tua. Dia membawa satu tumpuk penuh dokumen.

"Ah, Ryuzetsu-san, kau rupanya. Ada apa kemari?"

Dia dari Divisi Marketing, posisinya sebagai sekretaris Toneri-san. Seperti halnya Tayuya dan Saara, aku cukup kenal dengannya sebab posisi dia sebagai sekretaris kadang mengharuskannya untuk sering berkunjung ke divisiku. Kami berteman, meski tidak terlalu dekat.

"Ini, laporan pencapaian kerja para staf marketing. Tolong sampaikan ke Shino-san."

"Oh, Pasti kusampaikan."

"Baiklah. Kalau begitu aku pamit, Hinata-san."

"Iya."

Mungkin karena masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan, ia langsung melangkah keluar. Mataku tak lepas dari tubuh tinggi semampainya hingga Ryuzetsu-san lenyap di balik pintu. Aku jadi iri, pucuk kepalaku bahkan tidak mampu mencapai bahunya. Dia tipe pegawai perfeksionis, apalagi dalam urusan penampilan.

Kutatap dokumen yang dia berikan tadi. Seharusnya ini pekerjaan Shino-kun, tapi karena dia pergi dan akan pulang setelah lewat akhir bulan, mau tidak mau ini menjadi pekerjaanku.

Laporan pencapaian kerja staf markerting, artinya aku harus bekerja cermat menghitung uang perusahaan yang kukelola. Isi laporan ini, semuanya tentang bonus-bonus yang akan dibayarkan kepada para staf markerting. Berbeda sedikit dengan sistem gaji di divisi lain, khusus Divisi Marketing mereka diberikan gaji lebih rendah tapi ada bonus untuk setiap target perusahaan yang mereka raih. Tak tanggung-tanggung, bonus yang besar bahkan membuat gaji rata-rata mereka paling tinggi dari pegawai divisi lain jika mereka mau bekerja keras hingga melampaui target. Sedangkan pegawai divisi lain, tidak ada bonus. Hanya ada uang lembur jika mau bekerja melewati jam kerja normal.

"Ini sudah tanggal 27. Ayo Hinata kerjakan berkas ini dulu," ucapku menyemangati diri sendiri.

Pekerjaan yang lain bisa ditunda, tapi dokumen ini? Bisa-bisa ada pegawai marketing yang demo karena gaji lambat cair.

"Yoossh!"

Aku berdiri dan pindah ke meja lain.

Karena dokumen ini seharusnya pekerjaan Shino-kun, pasti akan lebih cepat bagiku mengerjakannya di komputer kerja miliknya. Di komputernya, kupikir ada berkas pekerjaan ini untuk periode bulan lalu. Aku bisa mempelajarinya sebentar lalu membereskan tugas ini dengan cepat.

"Welcome."

Begitu yang tertulis di layar monitor setelah kutekan tombol daya komputer menyala. Tak perlu lama menunggu, tampilan layar berganti dengan tampilan log in. Shino-kun memberitahuku ID dan password komputer kerjanya, sehingga jika dia sedang tidak ada dan aku membutuhkan sesuatu, aku bisa mengakses data di komputer ini kapan saja.

"Yup, di manakah Shino-kun menyimpan berkasnya~"

Aku mendendangkan pertanyaan pada angin demi mengusir bosan.

"Ok, apakah di sini?"

Kutatap lekat semua folder dan file yang tampil di jendela aplikasi pengelola berkas.

"Hm, kupikir Shino-kun tipe pria yang suka kerapian, tapi ternyata tidak juga."

Mataku seperti hendak berair melihat betapa acak-acakannya isi komputer Shino-kun.

Butuh waktu hampir lima menit sampai aku menemukan folder berisi file yang kucari.

"Apa ini?"

Keningku berkerut. Ada folder yang diberi nama "Video XXX" tepat di bawah folder yang aku cari.

Astaga!

Jadi ...

Jadi ...

Shino-kun itu tipe lelaki pendiam yang diam-diam mesum? Bahkan sampai menyimpan file seperti ini di komputer kantor. Aku tidak akan mengakui kalau diri ini juga mesum. Namun jika nama berkasnya sejelas ini, siapa coba yang tidak akan berburuk sangka? Entah godaan dari mana, otakku malah melupakan pekerjaan dan membuka isi folder itu.

"Tidak, tidak, tidak! Itu menjijikkan!"

Aku berteriak dengan nada jijik sambil menutup muka dan menghadap ke arah lain. Tak sanggup aku melihat beberapa icon dari file video yang menampilkan gambar pria dan wanita tanpa busana. Segera saja kutinggalkan file-file itu. Aku kembali ke file yang kubutuhkan. Pekerjaanku harus cepat selesai. Namun belum seberapa saat, aku dihadapkan pada hal aneh. Tanpa sengaja kusadari kalau folder menjijikkan tadi lebih besar ukurannya dibanding dengan isi yang hanya beberapa video. Puluhan gigabyte lebih besar dari yang seharusnya.

"Apa mungkin ada file atau folder yang tersembunyi?"

Aku jadi penasaran. Entah dari mana aku mendapatkan insting yang kurang mengenakkan ini.

Mengabaikan file-file video tadi, kubuka kembali folder itu. Lalu mengubah pengaturan aplikasi pengolah berkas hingga menampilkan file atau folder yang tersembuyi.

Benar saja, ada icon file archive transparan yang bernama "Doc-69".

Lagi-lagi tulisan "69"' itu membuatku berpikiran yang tidak-tidak. Bisa saja di dalam file archive berekstensi .rar ini jika diekstrak akan memunculkan file video yang jauh lebih menjijikkan lagi. Hanya saja, seakan tak puas dengan rasa penasaran, aku klik file itu.

Dan isinya sungguh-sungguh membuatku terkejut.

"Dokumen-dokumen apa ini?"

Tak seperti dugaanku, isinya benar-benar file dokumen. Semuanya. Dokumen-dokumen milik perusahaan.

Aku tidak pernah melihat berkas dokumen seperti ini selama satu bulan lebih bekerja di Divisi Keuangan MizuTech Inc. Ada seratusan file lebih dan seharusnya ini tidak berada di komputer Shino-kun. Dari nama filenya saja aku tahu kalau ini berkas-berkas yang hanya diketahui oleh Direktur Keuangan, tidak untuk pegawai biasa. Tak sanggup berkompromi dengan rasa penasaran, aku dengan segenap keberanian membaca dokumen itu. Beberapa dokumen kupilih secara acak dan menghabiskan waktu 25 menit untuk membacanya.

Apa yang kudapat?

Kesimpulan yang sungguh-sungguh membuatku hampir tak bisa berdiri lagi. Semua dokumen itu berisi rahasia besar dari orang yang bertabiat buruk, rahasia milik orang-orang jahat. Aku tidak bisa untuk tidak berpikir kalau keselamatanku tidak akan aman lagi setelah mengetahui rahasia besar ini.

Rahasia besar tentang konspirasi beberapa petinggi perusahaan yang melakukan penggelapan uang.

Jumlahnya sama sekali tidak sedikit, 800 milyar Yen, jumlah uang yang tak pernah terbayang olehku.

Serasa tak mungkin kupercaya, tapi ... dokumen-dokumen ini adalah bukti nyata.

Aku duduk kembali di kursiku. Dengan kepala yang kutumpukan pada tangan di atas meja, aku membuang napas panjang. Jantungku berdebar terus sejak tadi.

Aku gugup.

Aku panik.

Pasti akan ada hal buruk yang mungkin akan menimpaku karena sudah terlibat dalam kasus ini, walau secara tak sengaja. Kutarik dan kuhembukan napas kuat berkali-kali.

Aku harus tenang.

Aku harus bisa berpikir jernih.

Butuh waktu lima menit sampai aku kembali pada diriku yang biasa. Otakku tak bisa melepaskan pikiran ini begitu saja. Konspirasi penggelapan uang ini melibatkan cukup banyak orang penting perusahaan. Kepala Bagian Personalia yang mewawancaraiku saat melamar pekerjaan di sini, Tn. Genno. Dia yang melemparkan senyum aneh saat menyalamiku karena diterima bekerja. Dari dokumen yang kubaca tadi, dia salah satu orang penting dalam kasus penggelapan ini. Dialah yang berperan mencari dan mengamati pegawai-pegawai yang gampang disumpal mulutnya dengan uang untuk menempati posisi-posisi tertentu dalam konspirasi mereka sehingga perbuatan mereka berjalan mulus.

Kemudian tiga nama pegawai keuangan yang bekerja di ruangan yang sama denganku. Ukon, Sakon, dan Fuuka-san. Padahal selain Kiba-kun dan Shino-kun, mereka bertigalah yang membuatku betah bekerja di sini. Aku tidak menyangka sama sekali padahal sehari-hari sifat mereka selalu baik pada semua orang.

Atasanku sendiri, Direktur Keuangan, Tn. Kakuzu. Aku tidak terlalu terkejut untuknya, rumor yang beredar mengatakan bahwa orang tua ini memang gila uang meski aku tidak memercayainya. Tapi tidak lagi untuk sekarang ini.

Terakhir Direktur Utama MizuTech Inc., Tn. Uchiha Obito. Aku sendiri tidak terlalu tahu tentang Direktur Utama perusahaan ini, tapi sampai namanya terlibat, tak bisa disangkal lagi kalau ini kasus penggelapan uang perusahaan yang sangat besar, terstruktur, dan sistematis. Cara mereka melakukannya sangat rapi, hingga 3 tahun berjalan tapi tak sekali pun ketahuan oleh orang-orang dari perusahaan induk Mizu Group. Sebenarnya masih ada sejumlah nama yang terlibat tapi aku tak dapat menyebutkan semuanya.

Sekarang satu yang jadi pertanyaan dibenakku.

"Kenapa Shino-kun memiliki file dokumen-dokumen itu?"

"Apa jangan-jangan dia juga terlibat?"

Aku menggeleng keras, "Tidak mungkin. Shino-kun pasti tidak akan melakukan hal itu."

Selanjutnya, "Mengapa Shino-kun menyimpan file-file itu di dalam komputernya di tempat yang tidak terpikir akan dicurigai, dan dalam bentuk file archive berekstensi .rar?"

Alasannya pasti karena Shino-kun ingin menyembunyikannya dari orang lain.

"Lantas jika memang begitu, dari siapa?"

Dariku? Tidak mungkin. Kalau Shino-kun ingin menyembunyikannya dariku, dia tidak akan memberikan ID dan password untukku log in ke komputernya. Aku masih belum bisa berhenti berpikir.

Ayolah Hinata. Otakmu ini tidak cerdas apalagi jenius, tapi setidaknya pasti bisa memecahkan masalah ini. Semua hal yang kualami selama bekerja di sini aku kaitkan. Ada banyak kejadian yang membuat kepalaku seperti terbakar.

"Shino-kun, Kiba-kun! Shino-kun, Kiba-kun! Shino-kun, Kiba-kun!"

Aku tahu persis kalau mereka berdua sahabat dekat, bahkan lebih dekat daripada saudara sekali pun.

Jika begitu, aku bisa berasumsi kalau Kiba-kun juga tahu hal ini sama banyaknya dengan Shino-kun.

Terakhir, "Untuk tujuan apa Shino-kun menyimpan semua file itu?"

Tidak mungkin ada orang yang mau menyimpan hal berbahaya. Sudah pasti akan langsung dibuang jauh-jauh, kecuali kalau ada tujuan tertentu.

"Tujuan tertentu?"

Tujuan.

Tujuan.

Tujuaaaann?

Aaaaahh, secara alamiah orang yang baik pasti ingin menghilangkan semua hal buruk.

Kalau begitu?

Kesimpulannya ...

"Nah, Hinata-san. Kami ada tugas negara yang wajib diselesaikan. Jadi doakan kami pulang dengan selamat ya."

Kata-kata yang diucapkan Kiba-kun saat berpamitan kemarin lusa tiba-tiba melintas di kepalaku.

"Tugas negara."

"Pulang dengan selamat."

"Doa"

Ketiga kata itu pasti menyimpan pesan tersirat.

Aku mengerti sekarang!

Apa mungkin Kiba-kun dan Shino-kun pergi ke Konoha, tidak hanya untuk menghadiri resepsi pernikahan itu, tapi juga melaporkan kasus ini pada Mei Terumi-sama. Mereka tidak akan mungkin membuat rusuh di acara pernikahan itu, tapi pasti Kiba-kun dan Shino-kun mendatangi Mei Terumi-sama secara langsung jika ada kesempatan.

Jika hal itu memang benar ...

Selain Kiba-kun dan Shino-kun, yang pergi ke acara itu hampir semuanya nama-nama yang terlibat dalam kasus penggelapan uang ini. Kiba-kun dan Shino-kun sudah tahu jika keselamatan mereka terancam. Mereka berdua sedang diincar.

"Ya Tuhan. Aku mohon dengan sangat, lindungilah mereka berdua! Berilah mereka keselamatan sampai pulang lagi kesini!"

Setulus hati kulantunkan doa pada Yang Mahakuasa. Mereka berdua orang baik, baik padaku dan semua orang. Aku sangat tidak ingin orang-orang sebaik mereka mengalami nasib buruk.

...

Third POV

Ballroom luas dengan dekorasi bunga-bunga dan pita menghiasi tiap sudut ruangan. Tirai satin berwarna persik menghiasi jendela-jendela besar melambai-lambai tertiup angin. Di depan sana, sudah terbentang karpet merah terpagari hiasan bunga yang membatasi altar.

Sementara itu di sebuah ruangan terpisah, sepasang calon pengantin berdiri memandang jendela kaca besar tembus pandang yang menampilkan pemandangan di luar sana. Yakni sebuah taman kecil dengan bunga-bunga yang tengah bermekaran bersamaan dengan musim semi hari ini. Mereka berdua terlihat serasi dalam balutan gaun dan tuksedo putih bersih.

Naruto dan Mei berdiri bersisian, belum ada yang membuka suara di antara mereka sejak mereka memasuki ruangan ini beberapa menit yang lalu.

"Bertahun-tahun yang lalu, aku kehilangan orang-orang yang aku sayangi, tidak satu per satu, tapi semuanya sekaligus. Aku pikir aku tidak mampu hidup lagi dengan keadaan seperti itu."

Perlahan, Mei bersuara. Ini cukup berat untuknya karena sama saja membuka luka lama yang sempat ia tutup. Namun ia sudah berjanji akan mengatakan semuanya pada Naruto, pria yang beberapa menit lagi akan resmi menjadi suaminya.

"Saat itu aku berharap aku hanya sedang bermimpi, tapi tiap kali aku terbangun di kamarku, dan aku tidak menemukan suamiku di sisiku, kau tahu, itu rasanya menyakitkan."

"Mei-sama."

Naruto memanggilnya pelan meski Mei hanya menanggapinya dengan lirikan. Naruto tidak tahu mengapa, tapi ia mulai sedikit mengerti bagaimana perasaan wanita itu saat ini.

"Bertahun-tahun aku bertahan dengan keadaan itu, terbangun tanpa ada siapa pun di sampingku di saat aku sudah terbiasa dengan kehadirannya selama menjalani biduk rumah tangga kami."

Terdengar helaan napas dari bibir merah sang wanita. Naruto tetap bergeming, ia setia mendengarkan.

"Naruto, kau pasti bertanya-tanya, mengapa aku memilihmu untuk kunikahi. Sementara di lain sisi, kau tahu, bahwa aku teramat mencintai suamiku. "

Naruto mengangguk pelan, ia memang penasaran tentang hal itu. Tentang suami Mei, yang membuat Naruto hanya mampu menerka tanpa tahu yang sebenarnya. Dan jujur, itu teramat membebaninya.

"Aku hanya ingin satu hal. Aku ingin ada seseorang yang akan menemaniku menghabiskan sisa umur. Aku tidak ingin hidup sendirian sampai tua dan di penghujung usia aku kesepian."

"Mungkin kau bisa bilang aku masih punya Konan, Ayame, dan yang lainnya, tapi ini berbeda. Aku hanya ingin kami terhubung dengan ikatan yang lebih kuat. Aku ingin seseorang di mana aku bisa berbagi segala hal dan aku percaya kaulah orang yang tepat."

Mei menghentikan ucapannya sejenak. Tegar ia bersikukuh, tak ada air mata menetes, tak ada getar pula dalam suaranya saat berucap tadi. Lantas ia menghela napas kembali, kali ini lebih dalam. Ia pejam mata sejenak sebelum menoleh ke arah Naruto.

"Naruto," panggilnya.

Naruto masih belum tahu akan memberikan tanggapan semacam apa.

"Bisakah kau melakukannya untukku?"

Naruto terpaku, ia mendengar jelas tiap kalimat yang dilontarkan Mei, dan ia baru menyadari sesuatu. Kendati tampak tegar, tapi Naruto bisa merasakan. Oh, inikah sisi rapuh seorang Mei Terumi? Rasanya ia mengerti keresahan hati wanita itu tentang masa depannya dan tentang masa tuanya yang kemungkinan berakhir dengan sepi jika tidak mencoba untuk menikah lagi. Ya Tuhan, membayangkan itu terjadi pada Mei membuatnya bergidik.

Naruto menarik napas dan menghembuskannya pelan. Belum pernah ia merasa seyakin ini selama hidupnya. Ia bertekad akan menjadi suami yang baik untuk Mei, dan juga ia akan menemani wanita itu menghabiskan sisa usia bersama. Mei sudah memberikan kepercayaan besar padanya kali ini, dan ia tidak ingin mengecewakannya.

"Tentu saja, Mei-sama. Izinkan saya melakukannya, izinkan saya menjadi suami Anda. Anda bisa berbagi segala hal dengan saya, dan saya tidak akan membiarkan Anda merasa sendiri lagi."

Naruto mengatakannya dalam nada berat, seakan menghapus keraguan pada diri Mei. Ia benar-benar akan melakukannya, menjadi teman hidup seorang Mei Terumi.

Mei tersenyum, ia tahu Naruto pasti menyanggupinya.

"Mei-sama, sudah saatnya."

Suara Choujuro menginterupsi pembicaraan mereka berdua. Mei mengangguk singkat pada Choujuro dan mulai menggandeng tangan Naruto menuju pintu altar.

"Kau harus berhenti berbicara formal padaku setelah menikah nanti."

Mei berbisik kepada Naruto sebelum mereka meraih gagang pintu. Naruto hanya terkekeh kikuk dan mengusap belakang kepalanya.

"Mei, boleh aku mengatakan sesuatu?"

Memang benar ia menyuruh Naruto agar tidak bersikap formal padanya tadi, tapi ia tidak mengira Naruto benar-benar mempraktekkannya sekarang. Entahlah, Naruto yang seperti itu terlihat sangat berbeda di matanya.

"Hm? Apa itu?" Tanya Mei.

"Aku gugup."

...

Suara derit mengiringi pintu yang terbuka dan menampilkan dua sejoli dengan balutan gaun pengantin. Naruto memakai tuksedo putih yang tampak pas di tubuhnya. Rambut pirangnya tersisir rapi ke belakang. Ia berjalan gagah menggandeng Mei Terumi di sisinya. Hal itu membuat sang ibu, Kushina, yang berdiri di barisan depan altar itu menangis sesenggukan di pelukan Ayame sambil berkali-kali meracaukan bahwa putranya ternyata sudah dewasa.

Sedangkan Mei, gaun tanpa lengan berwarna putih berhiaskan payet dan bordir bunga itu menjuntai panjang terseret di belakang seiring langkah kakinya menuju altar. Rambutnya yang tergelung dihiasi mahkota mutiara dan bunga-bunga. Tangan yang memakai sarung putih transparan, menggamit lengan Naruto. Ia tampak tenang. Mungkin karena ini bukan yang pertama kali baginya.

Mei menoleh sedikit pada Naruto. Pria itu terlihat sedikit gugup, Naruto sudah mengatakan padanya tadi sebelum memasuki altar. Tak disangka, Naruto pun ikut menoleh dan tersenyum padanya. Mei sempat berhenti bernapas, melihat senyum dewasa di wajah Naruto membuatnya mengingat bagaimana senyuman suaminya dulu saat menggandengnya menuju altar.

Kerinduan besar tiba-tiba memenuhi dadanya, perasaan sesak yang sama ketika ia mengingat tentang almarhum sang suami. Ia tidak mengira setitik rasa gamang itu muncul kembali. Padahal ia sudah sangat yakin dengan keputusannya untuk menikah dengan Naruto. Ia akan mencari kebahagiaannya dan ia tidak akan sendirian lagi. Tanpa sadar ia mengeratkan tangannya pada lengan Naruto hingga sebuah usapan lembut ia rasakan saat Naruto menyentuh tangannya membuat jantungnya makin bergemuruh.

Di sisi lain, Konan memandang kedua mempelai itu dengan senyum tipis. Meski ia tidak tahu apa yang membuat seorang Mei Terumi memilih Naruto untuk dijadikan suami, sedangkan ia sendiri masih mengingat pilunya tangisan wanita itu ketika kehilangan suami pertamanya dulu. Namun ia tidak akan meragukan pilihan Mei Terumi. Justru ia ikut bahagia. Dari yang ia lihat, sejak hadirnya Naruto di kehidupan Mei, wanita itu menjadi lebih hidup. Baginya sudah cukup sang nyonya merasakan kesedihan selama bertahun-tahun, kini saatnya ia menjadi saksi untuk kebahagiaan Mei Terumi. Hanya itu yang ia harapkan.

Naruto tidak menyangka hari ini ia berdiri di sini, berjalan berdampingan dengan wanita yang selama ini ia hormati dan ingin ia lindungi. Sejak dulu ia selalu bertanya-tanya apa status Mei Terumi untuknya, tetapi ia tak pernah bisa menemukan jawaban yang tepat untuk hal itu. Dan jawaban yang diberikan Tuhan benar-benar di luar dugaan, benarkah status yang tepat untuk Mei Terumi adalah menjadi istrinya?

Selama ini belum pernah terbersit dalam pikirannya ia akan menikah. Baginya pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan ia ingin menjalaninya di saat dia benar-benar siap, baik hati maupun perasaan. Selama ini ia berpikir dirinya masihlah seorang pemuda tanggung yang tengah mencari jati diri. Namun bukan berarti ia tak menginginkan pernikahan ini, ia sudah memantapkan hati untuk menjadi suami yang baik bagi Mei. Setelah berminggu-minggu ia menggalau tentang segala hal, seperti tentang apakah pantas pemuda tanggung seperti dirinya menikahi wanita nyaris sempurna seperti Mei Terumi? Juga tentang suami Mei dulu, dan hal-hal kecil lain yang membuatnya terbebani. Kali ini tekadnya sudah bulat, dan ia akan menjalaninya.

Naruto menoleh pada Mei di sampingnya, tersenyum tulus, ia tidak ingin terlihat buruk di depan Mei. Akan ia tunjukkan bahwa ia bahagia dengan pernikahan ini. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan Mei tentangnya, tetapi ia merasa wanita itu menggamit lengannya cukup erat. Hei tidak mungkin Mei gugup. Jadi ia hanya mengusap lembut tangan berbalut sarung tangan itu hingga langkah mereka terhenti di depan pendeta.

Menit berikutnya pendeta memberikan khutbah singkat tentang arti cinta sejati dan ikatan suci antara pria dan wanita. Kedua mempelai mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh pendeta.

"Apa kau Uzumaki Naruto menerima Terumi Mei sebagai istrimu?"

Suara Pendeta kembali terdengar di tengah khidmatnya acara. Tak lama disusul suara tegas dari dari sang mempelai pria.

"Ya, saya bersedia."

...

Resepsi besar-besaran diadakan di sebuah gedung mewah yang memang bersebelahan dengan gereja tempat pemberkatan pernikahan pagi tadi. Beragam makanan dan minuman terbaik tersaji untuk para tamu. Dekorasi ruangan yang terkesan mewah tetapi elegan sangat tepat untuk mendeskripsikan kepribadian kedua mempelai.

Naruto tengah menyalami para tamu yang sebagian besar adalah kolega dan para karyawan perusahaan. Ia senang banyak orang yang hadir untuk mendoakan pernikahannya. Dilihatnya Mei juga sedang sibuk menyalami dan sesekali berbincang ringan dengan para tamu wanita yang hadir. Diamatinya bagaimana bibir merah itu tersenyum dan berbicara sesuai ekspresi sang pemilik.

Naruto sedikit tersentak dengan pipi memerah. Bayangan bagaimana tadi ia mencium bibir itu ketika upacara pernikahan kembali melintasi otaknya. Jika boleh jujur, itu adalah ciuman pertamanya. Ciuman lembut namun dalam, ia bahkan masih ingat bagaimana lembut dan rasa manis lipgloss di bibir Mei ketika ia menciumnya. Di matanya, Mei Terumi itu sempurna.

"Aku tidak datang jauh-jauh ke sini hanya untuk melihatmu tersenyum mesum seperti itu, Naruto-sama."

Suara gadis di sebelahnya mengalihkan perhatiannya dari Mei Terumi.

"Ternyata kau Sakura-chan, siapa yang tersenyum? Dan jangan mengataiku mesum, aku ini atasanmu!"

"Ya, ya, ya, terserahlah."

Hilang sudah rasa hormat antara atasan dan bawahan di antara mereka.

"Aku tidak menyangka kau menikah dengan Mei-sama, Naruto. Kupikir hubungan kalian tidak seperti itu,"

"tapi ya ... bagaimana mengatakannya? Cinta bisa terwujud tanpa alasan apa pun. Jadi ... aku turut bahagia. Selamat ya Naruto," tambah Sakura saat melihat Naruto tak juga memberikan tanggapan.

"Terima kasih, Sakura-chan."

.

Naruto POV

"Tapi tiap kali kulihat matanya, ia menyimpan banyak luka dan itu membuatnya rapuh."

Ucapan Kaa-chan benar, Mei-sama, ah bukan, Mei memang terlihat seperti wanita yang tegas, tapi di sisi lain, ia tetaplah rapuh dengan kesendiriannya selama ini. Aku merasa begitu bodoh karena tidak pernah menyadarinya.

Kemarin Kaa-chan bilang aku harus lebih peka mulai sekarang. Pesan-pesan panjang untukku yang akan menikah diakhiri dengan jitakan keras dari Kaa-chan dan peringatan agar aku lebih peka tentang perasaan wanita. Aku sedikit memberengut, pria mana pun takkan bisa peka jika sang wanita tidak menunjukkan langsung apa yang dirasakannya maupun yang diinginkannya.

Mengesampingkan hal itu, aku menyusul istriku yang sedang berbincang dengan seorang tamu. Ah menyebutnya istriku rasanya aku jadi gugup sendiri.

"Naruto kau di sini, Tuan A ingin menemuimu."

Suara lembut Mei menyambutku saat aku mendekat ke arahnya. Aku melirik pada seorang pria besar di depan Mei, seorang pengusaha dari Kumogakure. Aku cukup mengenalnya karena sudah beberapa kali perusahaanku bermitra dengannya.

"Selamat atas pernikahan kalian," ucapnya padaku.

Ia mengulurkan tangannya padaku, aku menyambutnya.

"Terima kasih, Tuan A, senang Anda bisa hadir," ujarku.

"Tentu, aku tidak akan melewatkan ini."

Setelahnya, kulihat ia mengambil gelas anggur dari nampan pelayan dan mulai menikmati pesta. Aku mengamati sekitarku, suasana sudah mulai berubah rupanya. Aku mengambil gelas yang sejak tadi dipegang Mei dan meletakkannya di meja.

"Hey."

Belum sempat ia protes, aku mengulurkan tanganku padanya.

"Ayo berdansa!"

Kami berdansa di tengah-tengah beberapa pasangan yang juga ikut menikmati dansa. Bisa dibilang dansa adalah penutup dari serangkaian acara di pesta pernikahan kami. Mungkin Mei tadi terlalu sibuk dengan tamu hingga tak menyadari musik sudah melembut dan beberapa pasangan sudah lebih dulu menapaki lantai dansa.

Gaun malamnya yang panjang tidak menyulitkannya untuk berdansa. Kedua tangannya melingkar di leherku, dan aku memposisikan tanganku di pinggulnya yang ramping. Musik yang lembut membuat dansa kami terasa romantis dan intim.

"Mengapa?"

Suara penuh tanya itu menyadarkanku dari keterpakuanku pada wajah Mei. Aku memandang matanya terlalu lama. Alih-alih menjawab pertanyaan itu, tanganku malah terangkat, menyentuh rambut di pelipisnya, lalu turun menyusuri pipinya.

"Bukan apa-apa," jawabku akhirnya.

"Naruto."

"Hm?"

"Terima kasih."

Alisku terangkat mendengar ucapan terima kasih darinya.

"Untuk?"

"Karena kau bersedia menikahiku."

Aku tidak mengerti mengapa ia perlu berterimakasih untuk hal itu. Kami saling memandang satu sama lain, dari matanya kulihat ia sangat tulus kali ini.

"Kalau begitu, terima kasih juga," ucapku padanya.

Sekarang giliran Mei yang menatapku penuh tanya.

"Untuk?"

"Karena telah memilihku."

Mendengar jawabanku ia tertawa renyah, kami masih berdansa sambil berbincang dan bercanda. Mei memintaku agar tetap seperti ini, tidak berbicara formal lagi padanya karena bagaimanapun status kami sekarang adalah suami istri. Aku menggodanya dengan mulai berbicara formal dan memanggilnya Mei-sama, ia langsung menginjak kakiku di tengah dansa sebagai peringatan. Aku meringis tetapi mencoba tetap bergerak normal dan melanjutkan dansa kami meski ia masih tertawa. Sepertinya rasa canggung di antara kami sedikit mencair.

Lagi, aku memikirkan pernikahan ini. Kalau dipikir-pikir, tidak pernah ada kata cinta terucap di antara kami sebelumnya. Dariku pun, seingatku aku tidak pernah berkata aku mencintainya. Tidak, bukannya aku tidak mencintainya, tapi mungkin sedikit berbeda. Seperti kata Sakura-chan, cinta bisa terwujud tanpa alasan apa pun. Berkat Mei, aku bisa menjadi pria sesempurna ini. Dan aku akan membalasnya dengan menjadi suami yang baik untuknya, menemaninya menghabiskan sisa umur seperti yang diinginkannya. Aku tidak akan membiarkannya merasa kesepian lagi. Aku berharap pernikahan ini membuatnya bahagia. Kebahagiaan Mei adalah prioritas utama bagiku. Tentu saja.

.

Mei POV

Tak kusangka anak laki-laki lusuh yang kutemui beberapa tahun silam kini sudah menjadi pria dewasa dan sekarang menjadi suamiku. Meski ini bukan kali pertama aku menikah, tapi aku bahagia. Mungkin sekarang aku tidak perlu risau tentang beberapa hal. Aku sudah memilikinya, seseorang yang akan menemaniku menghabiskan sisa usia.

Untuk sekali ini saja, aku ingin menemukan kebahagiaanku. Kami-sama, bukannya aku mendustakan segala kebahagiaan yang telah kau berikan selama ini, hanya saja di sudut hatiku, aku tetaplah wanita lemah dan takut dengan rasa sepi. Namun sekarang aku bisa bernapas lega. Naruto akan menemaniku, ia bersedia hidup bersamaku hingga ke penghujung usia.

Kami-sama, berkatilah kami berdua.

...

Third POV

"Terimakasih atas kehadiran kalian."

Mei dan Naruto menyalami tamu yang mulai meninggalkan acara. Hingga tersisa beberapa kelompok tamu, Mei menyadari sesuatu yang terselip di tangannya. Kerutan muncul di dahi wanita itu.

"Kertas?"

Mei mendongak, menatap ke depan dan mencari-cari siapa gerangan tamu yang menyerahkan kertas ini. Namun sepertinya tamu itu telah pergi.

Ia membuka lipatan kertas itu dan membaca baris tulisan yang ada di atasnya.

"Wisconsin 1240, 23.30, K-S MT"

"Apa ini?"

Entah mengapa perasaan Mei mendadak tidak keruan.

.

.

.

TBC


A/N tambahan:

In syaa Allah dua chapter lagi tamat ya. Tetap setia menanti yaa :*