Disclaimer: Not own anything.


Gereja itu, dulunya merupakan sebuah tempat ibadah yang memiliki banyak umat. Meskipun kecil, tapi.. para Kristiani yang beribadah pada harinya selalu memenuhi tempat itu. Gereja yang namanya sudah dilupakan penduduk sekitar. Sekarang hanyalah sebuah bangunan tua terbengkalai yang tidak lagi diurus. Sebuah papan dengan informasi tanggal penggusuran tertancap di depan halaman rumput ilalang. Jepang memang bukan Negara yang memiliki banyak penganut akan kepercayaan Nasrani tersebut, tapi bukan berarti tidak ada sama sekali.

Karena jarak tempuh yang terlalu jauh, Gereja ini memang berada di pinggiran kota Kuoh. Sedangkan kebanyakan umat berasal dari Kota. Dan, Gereja baru akhirnya dibangun di tempat yang lebih strategis, dan yang lama... dulunya ditinggali seorang Bapak Tua yang merupakan pengurus tempat ibadah tersebut. Namun, ia sudah tutup usia. Dan kebanyakan penduduk sekitar sudah lama pindah karena urusan yang berbeda-beda. Hingga, tidak ada yang mampu untuk mengurus bangunan tua itu.

Dan.. Rumah Tuhan yang terbengkalai. Menjadi Rumah bagi mereka yang terbuang dari kerajaannya.

Tempat ibadah yang suci, Meskipun gedung sudah tua dan tidak layak pakai. Bangunan tidak menandakan kemegahan suatu kepercayaan, melainkan tempat berkumpulnya orang yang percaya akan Tuhan. Dan itu terus berlaku hingga sekarang. Pintu itu akan selalu terbuka bagi siapapun, tidak terkecuali. Baik itu seorang manusia suci, manusia tidak berdosa, atau yang berdosa sekalipun. Asalkan tujuannya murni, maka pintu itu akan selalu terbuka. Tidak terkecuali bagi Malaikat jatuh.

Tapi... pemandangan itu sudah berubah. Tempat yang seharusnya bisa dijadikan rumah bagi siapa saja, kini digunakan untuk aksi yang sangat ... jahat. Tempat yang seharusnya bisa menenangkan hati, kini menjadi tempat yang menakutkan.

Itulah yang Naruto lihat dari atas langit. Kesucian yang mengelilingi Gereja itu sudah menghilang, sudah pekat hitam bahkan cahaya tidak bisa untuk masuk. Malaikat yang jatuh tanpa menyadari kesalahannya. Exorcist yang mengaku bertarung demi nama Tuhan. Aksi yang membuatnya ingin muntah hanya dengan melihat kebohongan tersebut. Suatu kepercayaan bukanlah landasan untuk melakukan hal keji.

XXXXXXXXXXXXXXXX

Seorang Pria berjalan keluar dari tempat itu, dengan seorang gadis tertidur lelap di gendongannya. Melihat ke atas langit, ia mengangguk terhadap sosok yang memiliki wajah yang sama dengannya. Merasakan penciptanya sudah mengerti, ia melompat jauh. Menghindari tempat yang akan menjadi kuburan tombak suci.

'Apa' yang berada di Gereja itu tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak bisa kabur, meskipun ingin. Manusia pendosa, Malaikat yang sudah ternoda. Sejauh mata memandang, hanya ada cahaya kuning yang melintas. Sebelum bisa mengenali apa yang mengenai mereka, tubuh sudah menghilang terlebih dahulu dari keberadaan. Karena, meskipun Malaikat jatuh tercipta dari tangan Tuhan, tapi mereka tetap saja memegang julukan jatuh. Kekuatan yang diberkahkan, sudah ternodai, dan tidak dapat dikatakan lagi sebagai kekuatan suci. Melainkan ternoda.

Dan apa yang mengenai mereka merupakan kekuatan tersuci diantara yang lain. Kekuatan yang merupakan berasal dari Malaikat yang memegang julukan tersendiri.

Bagaikan hujan, tombak suci itu mengambil jutaan bentuk. Menghujani tempat yang ditunjukkan oleh penciptanya. Tidak ada kenal ampun, tidak ada yang tersisa. Gelombang kejut hingga satu kota terasa. Dalam seratus meter, semuanya rata menjadi tanah. Yang tersisa, dan berdiri dengan bangga, hanyalah kekuatan dari Naruto itu sendiri.

"Disaat Rumah Tuhan terbuka untukmu yang kedua kalinya, kalian menggunakannya untuk membuat dosa yang lebih berat lagi. Malaikat jatuh... seberapa jatuhnya kalian, hingga mulai iri dengan manusia. Iri yang menjadi dengki, dan pada akhirnya mencoba mencuri apa yang bukan tercipta untuk kalian."

Suara mantan Ninja itu menggema ke seluruh arah. Kuat, keras bagaikan besi. Namun dibalik itu semua hanyalah kesedihan akan hukuman yang harus diberikan kepada mereka yang telah berpaling dari jalan yang sebenarnya.

Ketika manusia melakukan kesalahan, mereka akan diberikan kesempatan untuk memperbaikinya. Selalu dan selalu.. hingga mereka bisa mengerti jalan kebenaran. Dosa yang dibuat, bisa ditebus dengan kebaikan yang tulus dari dalam hati. Dari penyesalan yang berarti.

Sedangkan, Malaikat, tidak memiliki kemewahan tersebut. Mereka merupakan sebuah panutan. Kesalahan bukanlah pilihan. Hanya bulu yang menghitam yang akan menyambut mereka ketika melanggar aturan itu. Ketika menjadi jatuh.

Naruto terdiam kembali di atas langit, menatap kehancuran yang ia buat dari kekuatan yang sudah lama tidak ia gunakan. Melihat gadis kecil yang berada di tangannya. Emosi apa yang dipancarkan oleh biarawati kecil itu?... kesedihan... berusaha kuat... semua itu hanya untuk apa yang ia percayai. Ia hanya terdiam ketika perempuan yang terlelap itu mengeratkan pegangannya ke tubuh yang ia miliki.

"Hangat.."

Pria itu tersenyum sedih mendengar bisikan kecil dari biarawati itu. "Seandainya kau tahu.. apakah kau masih akan percaya dengan ajaran-Nya? atau keraguan akan membuatmu kehilangan itu semua?—apapun yang kau pilih, aku berharap kau masih memiliki 'Apa' yang membuatmu menjadi pribadi yang sekarang."

XXXXXXXXX

Seorang Pria mengenakan Yukata kini berada di atas sebuah kontruksi gedung. Dengan teropong yang menjadi alat bantunya untuk melihat kejadian yang baru terjadi. Sekilas setelah melihat ledakan cahaya dari kejauhan arah. Dirinya hanya bisa menghela nafas. Apalagi untuk kali ini, Naruto tidak akan bisa kabur lagi dengan pancaran kekuatan sebesar itu.

Azazel menurunkan teropong-nya dari kedua matanya. "Lucifer... betapa bencinya aku mengutarakan nama itu lagi."

"Bukankah itu bagus? ternyata buyutku bukan selembek yang aku kira. Bawahan yang mengkhianatimu sudah diselesaikan dengan benar." Pria itu menatap sosok yang berada di belakangnya. Yaitu Vali.. Vali Lucifer. "Jika aku menjadi dia, tentu saja aku akan melakukan hal yang sama bagi mereka yang berani tidak mematuhi perintah yang kukatakan."

Gubernur itu hanya menggelengkan kepalanya. "Ya.. dan terkadang terlalu berlebihan."

"Kurasa itu sudah ada di dalam darah kami." Vali menaikkan kedua bahunya sesaat. Mengakui tanpa berpikir panjang. Meskipun begitu, tatapannya tetap berada di arah ledakan itu berasal. "Jika Pria tua itu kembali memasuki dunia supranatural... kau tahu bukan apa artinya ini semua?"

Azazel mengangguk. "Dengan kata lain, kekuatan Surga akan meningkat signifikan. Ya.. itu kalau Naruto mau ambil peduli. Dia lebih suka melakukan apa yang ia sukai daripada mengikuti peraturan. Perang bisa terjadi jika begini terus. Lucifer yang sekarang berbeda dari yang dulu. Tapi, kau belum lahir pada waktu itu, jadi mungkin kau kurang mengerti. Kepercayaan Tuhan kepadanya... melebihi dari yang dulu."

"..."

"Pria dengan dua warna rambut yang berbeda itu mulai menggaruk kepalanya. "Sial, aku harus cepat buat laporan mengenai kejadian ini. Sebelum bawahanku yang lain menganggap penyerangan yang diterima merupakan serangan dari Fraksi Surga."

"Dan bagaimana dengan yang terduga? Dia ingin memicu perang kembali. Kedamaian yang kau nikmati mungkin akan terganggu."

"Tidak. Aku tidak bisa gegabah seperti itu." Azazel menjawab dengan cepat, nadanya menunjukkan keseriusan. "Aku tidak mempunyai cukup banyak bukti mengenai apa yang dilakukan oleh Kokabiel. Dia dan aku memang mempunyai hubungan yang buruk, tapi bukan berarti aku bebas menunjukkan siapa yang salah. Tadinya aku ingin membawa Malaikat jatuh yang berkhianat untuk diinterogasi dan mengakui semuanya agari aku bisa menjatuhkan hukuman yang sah terhadapnya." Malaikat itu melihat ke arah tempat kejadian. "Tapi, jika kondisinya begini... bahkan debu dari mereka merupakan hal terakhir yang bisa kukhawatirkan."

XXXXXXXXXXXXXX

Naruto menidurkan gadis itu di tempat tidurnya saat ini. Karena kamar miliknya yang satu inilah yang paling bersih. Sedangkan kamar tamu yang lain masih dalam kondisi yang tidak layak untuk tidur. Debu yang berada di berbagai tempat, kotak kardus tempat barang-barang tidak terpakai. Beberapa saat ia kesulitan untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Asia yang tertidur. Seperti menaruh seluruh hidupnya agar mempertahankan kehangatan itu tetap bersamanya.

Di dalam hati, Malaikat itu sudah berpikir untuk membuat anak itu tinggal di tempat ini. Harta yang ia kumpulkan dari jaman dulu sudah sangat... sangat cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Satu-satunya alasan mengapa ia tidak bersantai dan bermalas-malasan dengan harta sebanyak itu adalah untuk membuat pemerintah tidak curiga. Uang banyak tidak ada pekerjaan, dari mana asalnya?—dan berbagai macam alasan yang tidak ingin ia utarakan pada saat ini. Begitu juga satu alasan penting; dirinya sudah hidup cukup lama untuk mengetahui bahwa manusia itu akan berubah setelah memiliki harta yang berlimpah atau memiliki kehidupan yang bisa dibilang sempurna untuk standar kehidupan untuk masa yang mendatang.

Sebab itu juga mengapa ia tidak mengutarakan satu patah kata pun terhadap Issei mengenai hal itu.

Memeriksa kembali lagi keadaan biarawati itu, ia menghela nafas. Mengetahui hidup gadis ini masih aman. Beserta Sacred Gear yang berada di dalam tubuhnya. Jika tidak cepat pada waktu itu, mungkin saja... gadis ini. Tidak, ini bukan saatnya berpikir seperti itu. "Tidur yang nyenyak."

Naruto kemudian menutup pintu kamarnya dengan pelan, setelah ini ia akan mengambil tidur di sofa ruang tamu. Sejujurnya ia tidak ada masalah jika tidur disamping anak itu. Bukan dalam arti mesum yang kebanyakan orang simpulkan hanya dari sekali lihat. Dirinya bukan seorang Lolicon. Jika bisa diutarakan dengan kata-kata, maka ia melihat Asia Argento bagaikan anaknya sendiri. Seperti dirinya melihat Issei. Entah itu dari dulu atau apa, Naruto memiliki sisi lembut bagi anak-anak.

Menyalakan rokok yang terakhir ia punya, Naruto kemudian turun dari tangga. Dan...

"Aku tidak pernah mengingat mengundang orang sebelumnya." Lelaki itu menatap sekilas untuk sesaat terhadap pakaian yang dipakai kumpulan remaja yang duduk di sofa empuk yang seharusnya tempat tidurnya. Seragam sekolah, dan jika melihat kembali ke jam tangan, sekarang sedang menunjukkan pukul sebelas malam. "Oh, kalian teman Issei, ya? Aku tidak tahu dia berteman dengan remaja dengan paras seperti kalian. Sepertinya dia sudah naik tingkat dari pecundang mesum ke normal."

Naruto kemudian duduk di sofa yang kosong. Yang sepertinya memang disediakan untuknya. Sedangkan para remaja itu berada di dua sudut sofa yang berseberangan satu sama lain, dengan dirinya berada di tengah. Menghiraukan tatapan yang diberikan, Malaikat itu tetap menghisap rokoknya hingga asap mengepul tebal mengelilingi wajahnya. "Dan mana Issei? Jangan katakan ia sudah berada di kamar mandi dan melakukan rutinitasnya."

"Ayah... sebegitu kejamnya kah dirimu pada anak sendiri?" Issei datang dari dapur dengan membawa minuman dingin dan menaruhnya satu persatu di meja. Rekannya yang lain hanya mengangguk terimakasih. Ia kemudian duduk di samping seorang pemuda berambut pirang. Bishounen kalau orang jepang saat ini memanggil tipe seperti ini.

Hening..

Tidak ada yang mengatakan satu patah kata pun. Issei melirik sekelilingnya, mengetahui betapa tegangnya situasi pada saat ini. Apalagi Buchou menatap Ayahnya dengan curiga. Seperti memikirkan apakah sosok ini berbahaya atau tidak. Jika melihat dirinya apa, dan Ayahnya apa. Yang lebih jelas jawabannya adalah yang pertama. Menelan ludah, hanya itu yang bisa ia lakukan. Melihat tatapan dari rekan satu Klub-nya ia sudah tahu mereka ingin Naruto berbicara. Tapi, sayangnya, Ayah-nya tidak membantu sama sekali dengan ini.

Benar apa yang dipikirkan oleh Issei pada saat ini. Uzumaki Naruto, atau yang lebih sering dikenal Namikaze Minato, pada saat ini terlihat santai. Terbukti dari raut wajahnya yang seperti menikmati puntung rokok-nya dan juga postur tubuhnya yang seperti terlihat terlalu santai. Ya, memang sebagai Tuan Rumah, hal itu wajar. Tapi, apakah dia tidak menyadari tatapan yang diberikan oleh Iblis lainnya.

"Huh... kenapa kalian melihatku seperti itu? jika terlalu lama, nanti es minuman kalian meleleh dan rasa syrupnya akan berubah. Kebetulan itu rasa limited edition yang dijual salah satu temanku." Naruto berkata dengan ringannya. "Aku tahu wajahku memang tampan, tapi usiaku berkali lipat dari kalian. Lagipula aku tidak tertarik dengan anak-anak."

Issei hanya menepuk wajahnya.

Rias menatap dengan curiga kembali, mempelajari raut wajah yang diberikan oleh musuh alaminya sebagai seorang Iblis. Namun, kali ini dirinya tidak melihat wajah yang terbuat dari besi yang ditunjukkan oleh sosok ini ketika meratakan bangunan Gereja dan juga makhluk yang berada di dalamnya. Tidak ada radiasi kekuatan yang seperti menekan seluruh tubuh ke permukaan tanah. Tidak ada sama sekali. Yang ada hanyalah aura tenang yang ia rasakan sebelumnya saat pertama kali bertemu dengan sosok ini.

Dirinya tahu, Sosok yang mengadopsi Pion-nya dari kecil adalah seorang Malaikat. Meskipun sulit untuk menerima hal itu, tapi dirinya mengetahui orang ini tidak akan melakukan hal macam-macam atau berbuat hal mencurigakan. Ditambah lagi Issei sudah hidup lebih dari sepuluh tahun dengan Pria ini. Tentu saja ia harus percaya. Tapi, satu hal yang ia pikirkan pada waktu itu adalah Namikaze Minato adalah seorang Malaikat biasa yang memilih hidup di bumi dan menjalani hidup seperti manusia pada umumnya. Hal itu bukanlah hal yang jarang lagi. Banyak makhluk supranatural yang melakukan hal itu. Dari alasan lelah atau sebagainya, dan kemudian berpindah kehidupan di dunia manusia dan mengikuti kebudayaannya. Hidup normal. Bahkan menikah dengan manusia dan memiliki keturunan. Tidak sedikit juga banyak manusia yang sebenarnya setengah Iblis tidak mengetahui dirinya sebenarnya apa.

Dan hal itu tidak menutup kemungkinan dari fraksi lain yang memilih kehidupan normal seperti manusia biasa.

Karena itulah ia tidak memberitahukan kepada sesama Iblisnya yang lain atau keluarganya yang berada di Underworld. Tapi... setelah melihat kekuatan tadi, ia tidak tahu harus berpikir apa lagi. Kekuatan yang berada jauh di level yang berbeda. Bahkan dirinya tidak percaya lagi sosok ini memiliki nama Namikaze Minato.

Gadis keturunan Gremory itu melihat teman masa kecilnya dan juga Ratu peerage miliknya. Yaitu Himejima Akeno. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya yang satu ini. Dia terlihat berbeda dari biasanya, bukan sebagai gadis baik dan tenang yang kebanyakan orang lihat. Bukan juga sebagai iblis sadis yang diketahui musuhnya. Akeno terlihat gelisah, terbukti dari bagaimana ia duduk dan juga tatapannya kepada Malaikat yang tidak ia ketahui memiliki berapa pasang sayap. Gadis itu bagaikan ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar. Tatapannya juga seperti meminta Malaikat itu menyadari keberadaanya.

Sedangkan bagi bidak kuda-nya, yang merupakan Kiba Yuuto. Dengan sejarahnya masa lampaunya, ia tidak tahu harus berkata apa. Pemuda itu kini dalam mode seriusnya, hilang sudah semua senyum yang merupakan topeng-nya. Meskipun begitu, ia tidak langsung menyerang sosok tersebut, dan lebih tertuju kepada bersikap netral.

Dan, bagi benteng-nya. Dengan ekspresi datarnya, gadis kecil itu hanya menatap dengan keseriusan. Tidak ada maksud apa-apa, kecuali sistem pertahanan diri sebagai Iblis yang merupakan musuh alami Malaikat.

"Ayah, bagaimana dengan kondisi Asia-chan?" Issei memecah kesunyian dengan pertanyaannya. Dengan intonasi suara yang menunjukkan kekhawatiran meskipun sudah mengetahui bagaimana kondis biarawati yang telah ia tolong.

"Hm, dia akan baik-baik saja. Besok aku akan mengurus beberapa hal. Dan juga dokumen permintaan adopsi." Naruto mengeluarkan senyum natural-nya. memikirkan apa yang harus ia lakukan besok hari. "Dari dulu aku memang ingin punya anak perempuan. Dan kebetulan dia memiliki ciri yang lumayan mirip denganku. Jadi hal itu akan lebih mudah."

Issei hanya mengangguk dengan senyum lebar. Imouto cantik, imut dan juga sedikit lugu. Cocok untuk..

"Dan jika aku menemukanmu melakukan hal terlarang dengan Asia." Pria itu menghembuskan asapnya dari hidungnya. Bagaikan banteng yang siap menyeruduk orang. "Siap-siap sunat untuk kedua kalinya. Dan kali ini bukan kulitnya yang hilang, tapi kepalanya juga."

"Di-Dimengerti, Komandan!"

XXXXKristoper21XXXXX

"Sudah kukatakan, masalah seperti ini bukanlah urusan kalian." Naruto dengan sedikit kesal mengatakan untuk kesekian kalinya kepada Iblis Gremory tersebut. Dirinya masih kesal akan kejadian yang sebelumnya.

"Tapi, kau berada di daerah kekuasanku. Itu sudah urusanku." Rias mencoba memberikan alasan. Dengan wajah bisnisnya. "Apa yang kau lakukan tadi sudah pasti menyebabkan perhatian fraksi terjatuh kepadamu. Tidakkah kau sadar bahwa apa yang kau lakukan itu dapat membawa peperangan kembali?"

Naruto mendengus, mendengar apa yang diutarakan oleh gadis kecil itu. "Rias Gremory, tidakkah kau sadar kau berbicara kepada siapa?—aku lebih jauh, maksudku jauh, sangat jauh lebih tua darimu. Aku tidak perlu seorang Iblis kecil untuk mengatakan apa yang harus aku lakukan." Sejujurnya ia tidak menyangka gadis ini terlalu percaya diri. Tapi, pengalaman sudah berbicara fakta. "Jika kau katakan ini daerah kekuasanmu... maka aku bertanya kembali...

...Sejak kapan bumi menjadi daerah kekuasan Iblis?"

Rias terdiam sesaat. Seperti mengecil di bawah pandangan Naruto yang menatapnya dengan tidak sebanding. Seperti menertawakan apa yang ia utarakan.

Naruto menghela nafasnya, merasa bersalah mem-bully anak-anak yang belum mengerti satu hal pun. "Kurasa kau memang keturunan Gremory. Kau adiknya Sirzechs, bukan?" Perempuan itu mengangguk dengan pelan. "Apa gelarnya pada saat ini? hah... iya, Lucifer. Sebuah ironi, bukan begitu?"

Rias tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Pria tersebut. "Meskipun begitu, apa yang kau lakukan akan membawa perhatian banyak pihak ke daerah ini. kau sudah pasti akan tahu masalah apa yang harus aku hadapi jika hal itu terjadi. Dengan aktivitas Iblis yang diasingkan dan juga Malaikat jatuh, yang pada saat ini mulai berani."

"Masalah Malaikat jatuh merupakan sebuah pengkhianatan. Bukan Grigori yang bertanggung jawab mengenai apa yang terjadi di tempat ini." Naruto tidak memiliki alasan untuk menyembunyikan lagi informasi mengenai hal itu. Sebaiknya Iblis ini mengetahui apa yang terjadi sebenarnya agar mereka tidak ikut campur dengan masalah yang dihadapi oleh Azazel. Kecuali Malaikat jatuh mencampuri urusan Iblis, maka Rias sebagai pengaku penguasa daerah Kuoh, berhak mengambil keputusan. Sayangnya selain masalah itu, Gremory ini tidak memiliki kepentingan akan apa yang terjadi.

"Jika mereka membuat masalah, itu sudah kewajibanku untuk menjaga kedamaian tempat ini." Dengan wajah serius, Rias mengutarakan kata-kata itu.

Naruto memijat dagunya. "Sepertinya aku pernah mendengar kalimat itu... rasanya itu ada di Kame-"

"Tapi-" Rias berdehem sesaat. Membesarkan suaranya agar dapat menutupi apa yang dipikirkan oleh sang-Malaikat. Itu tidak baik jika ada orang lain yang mengetahui rahasia paling dalamnya. "—Aku ingin bertanya... berapa jumlah sayapmu sebagai malaikat dan apa tujuanmu di masa depan?"

Pertanyaan itu lagi. Mengapa orang-orang selalu menanyakan hal itu? "Rias, tahukah kamu?"

"Ya?"

"Jika di surga, bertanya berapa jumlah sayap kepada seorang malaikat dianggap sangat terlarang. Tabu." melihat Rias yang memiringkan kepalanya, Naruto memajukan wajahnya, melebarkan mata, dan entah mengapa ada lingkaran hitam di bawah kelopak matanya dan juga bayangan yang membuat wajahnya menjadi jauh berbeda. "Hal yang kau tanyakan itu dianggap tabu... karena itu sama saja kau bertanya kepada seorang wanita; apa warna celana dalamnya."

"O-Oh... a-aku tidak mengerti... maaf." Rias menutup mulutnya dengan tangannya, dan melebarkan matanya ketika mendengar rahasia itu.

"Baguslah jika kamu mengerti." Naruto mengangguk bagaikan sang Pertapa yang turun dari Gunung. "Kau masih muda, masih banyak yang harus kau pelajari. Dan inilah yang harus kau pelajari dari Malaikat bijaksana nan agung ini. Apa yang kau tanyakan bisa membuat Fraksi surga marah. Kau tidak ingin bukan?"

"Ti-Tidak."

"Bagus. Kau telah belajar... muridku." Malaikat itu tahu apa yang ia katakan itu sebenarnya adalah... omong kosong. Tapi, dia tidak berbohong. Suer. Cuma mempermainkan kata di fakta yang sebenarnya.

Issei menepuk jidatnya melihat tingkah Ayahnya.

Tapi.. ia menyadari satu hal setelah semua percakapan itu. Ketegangan yang sebelumnya ada, kini telah menghilang dan digantikan atmosfer yang lebih tenang. Dengan Kiba yang menggelengkan kepalanya tidak percaya, Akeno yang terkekeh dibalik tangannya. Dan Koneko, mengangguk sesaat. Menganggap serius apa yang dikatakan oleh Ayahnya. Yang ia ketahui... bernama Naruto. Naruto... masa sih? Ayah yang super duper keren, ngakunya tersebut memiliki nama asli bagian dari Ramen?

Dan setelah beberapa menit omong kosong dari Naruto, para Iblis itu beranjak dengan wajah yang sedih. Tentunnya dengan omong kosong yang dibuat-buat. Issei ingin berteriak mengatakan Ayahnya pembohong, tapi tidak akan ada yang percaya. Malaikat dan seorang Mesum, tentu saja orang-orang lebih mempercayai yang lebih suci. Hei, dirinya juga suci, bukitnya masih perawan.

Anehnya lagi, jika itu terjadi, mengapa Ayah-nya tidak berubah menjadi Malaikat jatuh dengan segala kebohongan itu?-jawaban yang ia terima hanyalah. Dia terlalu luar biasa untuk menjadi malaikat jatuh.

Xxxxxxxxx

Naruto membuka pintunya, tapi tidak menemukan siapa-siapa. Waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi. Jika terlambat dikit besok, sudah ada boss yang siap muncratin. Ingin kembali masuk... ia membeku.

"Tolong... "

Naruto terdiam sesaat,

"Bisakah kau... memperhatikanku untuk sekali saja."

Membalikkan badannya, ia menatap pemilik suara itu. yang merupakan... Akeno. Gadis kecil yang pernah ia bantu beberapa tahun yang lalu. Sekarang ia sudah tumbuh besar. Dan... terlalu tumbuh dibagian tertentu. "Ojou-chan, sudah berapa lama kita tidak bertemu? Aku senang kau baik-baik saja." Dan itulah yang harus ia katakan. Ia tahu seharunya mengatakan hal yang lebih, tapi ia tidak sampai hati untuk memecahkan emosi dari gadis kecil ini.

Akeno menggigit bibir bawahnya, masih melihat senyuman yang dipancarkan paman yang menyelamatkannya waktu itu. Wajah itu tidak pernah berubah sama sekali, dan juga kehangatan dibalik mata birunya yang ia lihat dulu. Tidak pernah ragu, meskipun dirinya sekarang adalah seorang Iblis, Akeno memeluk Naruto dengan erat, dengan kedua tangannya. bagaikan mencekik leher Malaikat itu. memeluk dengan semua tenaga yang ia punya. "Aku baik-baik saja... iya... itu semua berkatmu." Dan kehangatan itu masih sama.

Ia melupakan mengapa Naruto mengacuhkannya tadi. Bertingkah seperti tidak mengenalnya sama sekali. Untuk kali ini, ia akan melupakan hal itu. Masih ada waktu untuk meminta jawaban.

Naruto hanya tersenyum balik. Memeluk dengan pelan gadis kecil yang sekarang sudah tumbuh dewasa itu. "Sekarang... jika kau berlari, kau tidak akan mungkin lagi menabrak perutku."

Akeno tertawa halus, meskipun air mata yang mengalir. "Aku senang bertemu denganmu kembali... paman Lolicon."

"Jangan memulai lagi." Mantan Ninja itu memutar matanya serasa tidak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh gadis di depannya. Naruto dengan perlahan memisahkan gadis itu dari pelukan. Karena entah mengapa, Akeno mulai menggoyang bagian depan tubuhnya, dengan sedikit berbeda. Memikirkannya saja sudah membuatnya takut. Sebelum hal itu terjadi, lebih baik bermain aman. "Aku suka wanita dewasa.."

"Ara ara... " Iblis itu tertawa halus, bukan terkekeh yang alami, melainkan sesuatu yang... sensual. "Kurasa.. tubuhku sudah masuk dalam kategori dewasa, Tidakkah kau berpikir seperti itu?" dengan memajuka tubuh bagian depannya, Akeno menatap Naruto dengan tatapan paling lugunya. Akeno menunggu reaksi dari Naruto, namun yang didapatkannya bukanlah apa yang ia harapkan. Melainkan sentilan di dahi. "Aw..."

Naruto menghela nafasnya, dan mengelus kepala gadis itu. Apa yang ia lihat sekarang masih gadis kecil yang membutuhkan pertolongan pada waktu lalu. Masih gadis kecil yang memerlukan tumpuan hidup. "Aku senang kau menemukan tempatmu. Aku tidak akan berkata apa-apa mengenai apa dirimu sekarang. Aku tidak akan menilaimu... melainkan menerima dirimu yang sekarang."

Akeno terdiam sesaat..

"Tapi, gadis kecil pada waktu itu masih di sini kan?"

Dan senyum tercipta di wajahnya, "Iya... dia masih di sini. Berkat dirimu."

Naruto tersenyum. "Baguslah."

XXXXXXXXXX

Di Surga.

Terlihat Michael yang duduk tepat di pusat sistem Surga. Mendengarkan permintaan dan doa yang seharusnya ditujukan kepada sang Ayah, yang telah wafat. Ia tahu hari ini akan terjadi kembali, hari di mana saudaranya Lucifer akan menggunakan kembali kekuatannya. Dirinya hanya berharap agar setengah dari Lucifer ini tetap dalam pendiriannya sebagai Malaikat.

Pancaran kekuatan yang seperti memanggil kembali senjata yang telah diciptakan oleh Tuhan. Hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali..

"Michael-sama."

"Gabriel.." Michael membalas sapaan itu dengan anggukan dan senyuman khasnya. "Apa yang bisa kubantu? Kau tahu, hari ini Lucifer telah mengaktifkan kekuatannya untuk kedua kalinya. Mungkin, sebentar lagi dia akan datang dan 'menendang bokongku' atas keputusan yang kubuat. Tidakkah kau berpikir, ini adalah saat yang tepat bagiku untuk sembunyi?"

Gabriel menggelengkan kepalanya sesaat. "Dia bukan... Lucifer, dia akan selalu menjadi Naruto bagiku."

Michael terdiam untuk beberapa waktu. Dia tidak akan mencampuri masalah untuk satu ini, biarkan Malaikat yang bersangkutan yang mengurus kesalah-pahaman itu. Antara wanita paling cantik di Surga, dan juga...

"Kau tahu mengapa Tuhan menyuruh diriku menjatuhkan Lucifer ke Neraka pada waktu itu?"

Pertanyaan itu membuat Gabriel terdiam, karena dia mengerti apa yang terjadi pada waktu itu.

"Dia adalah Malaikat yang paling disayangi dan dikasihi oleh Ayah. Bahkan aku pernah iri akan hal itu, tapi semakin waktu berlalu aku menerimanya. Lucifer merupakan malaikat yang paling cantik. Meskipun ia adalah seorang Pria, dia sempurna dalam segala bidang. Tapi, apa yang membuatnya berubah adalah harga diri." Michael menutup matanya, mengingat kembali ingatan yang terukir di dalam dirinya.

"Saat Tuhan menciptakan Manusia, ia menyuruh kita agar mencintai ciptaan itu daripada dirinya sendiri. Sebagai ciptaannya kita hanya bisa melakukan hal itu. Sedangkan Lucifer tidak.. aku masih mengingat kata-kata yang diucapkan olehnya sebelum semua ini terjadi. Dengan air mata yang mengalir... ia berkata; Aku mencintai engkau melebihi apapun, aku tidak bisa mencintai primata berbulu yang engkau ciptakan. Ayah... aku tidak bisa. Manusia memiliki banyak kekurangan.. mereka berbahaya. Waktu berlalu... dan terus berlalu, hatinya yang suci perlahan menjadi kegelapan. Ia melakukan dosa-dosa yang terlarang. Dan pada akhirnya berusaha untuk berkuasa di atas Tuhan itu sendiri. Ayah selalu memaafkannya, dia ingin agar kita para Malaikat bisa mengerti potensial manusia. Dan... saat itulah kata pengampunan tidak bisa diucapkan."

Michael kemudian tersenyum, karena mengingat ingatan yang paling ia hargai dari saudaranya sendiri. "Lucifer terjatuh disaat kebimbangan hatinya akan kata-kata Tuhan. Sebelum bisa sepenuhnya menjadi Iblis dengan bulu sayap yang memudar dari kenyataan, ia menggunakan kekuatan terakhirnya untuk memisahkan jiwanya yang masih mencintai Ayah-nya. Para Malaikat dapat merasuki manusia dengan seijin ciptaan Tuhan tersebut. Dan itulah apa yang dilakukan oleh Lucifer, ia ingin mengerti mengapa... Tuhan ingin kita, Malaikat mencintai Manusia lebih dari diri-Nya. Apa cara terbaik selain menjadi manusia itu sendiri. Enam belas tahun berlalu, tanpa ingatan akan menjadi Malaikat, ia menjadi manusia yang patut mendapat pengampunan-Nya. Kasih sayang itu diterima kembali oleh Lucifer yang jatuh... dengan mukjizat-Nya. Manusia yang bernama Naruto. Yang memegang pecahan Jiwa Lucifer kembali diantara kita para Malaikat."

Malaikat pertama itu kemudian tersenyum kepada saudaranya sendiri. "Karena itukah kau menyukainya? ketika Ayah ingin mengembalikan semua kesempurnaannya, ia menolak dengan senyuman yang bersinar seperti namanya. Dia tidak ingin sempurna... karena ketidaksempurnaan itulah yang membuatnya akhirnya mengerti."

"Bolehkah.. aku turun ke Bumi?"

Michael tersenyum "Itu adalah kehendakmu."

Senyum Gabriel melebar, dan bersiap beranjak untuk berkemas.

"Gabriel... aku tidak ingin saudariku sendiri menjadi Malaikat Jatuh."

..

..

"A-Apa maksudmu?" Michael tidak perlu lagi berpikir dua kali ketika melihat sayap adiknya berubah warna untuk sekilas. Sebelum pemegang sistem Surga itu bisa membalas apa yang ditanyakan oleh adiknya. Gabriel sudah lari, dan berteriak. "Onii-sama no baka!"

Pengganti Tuhan itu tersenyum, dan menggelengkan kepalanya untuk sesaat. Adiknya itu terlalu mudah untuk ditebak. Yang terkadang dimanfaatkan penduduk Surga.

Michael terdiam sesaat, melihat tempat kosong yang tidak terlihat oleh mata kecuali jika bisa memegang sistem Surga. Tempat kosong yang sebenarnya memiliki bentuk yang sama dengan yang ia pegang. Dengan lingkaran yang menempatkan seseorang di dalam. Sayangnya tidak akan ada yang bisa melihat itu kecuali yang memiliki tugas yang sama dengan dirinya.. Yang seharusnya diisi. Ya... sistem Surga telah diciptakan menjadi dua. Yang terakhir adalah kontrol sempurna akan penciptaan Malaikat dan juga pelengkap kehilangan yang telah terjadi.

"Lucifer... sampai kapan kau akan kabur dari...tugasmu?" Michael menutup matanya kembali, mengendalikan sistem surga agar tetap berjalan dengan kekuatannya. "Tidakkah kau sadar.. Kita sudah mulai terpuruk diantara yang lainnya...?"

Seberapa hebatnya dirinya sebagai Malaikat, ia tidak akan kuat menanggung beban ini sendiri. Tuhan dan Malaikat itu berbeda, dan juga kekuatan mereka untuk menyelesaikan semua masalah yang telah terjadi. Pengkhianat yang mempermainkan sistem, kesalahan para penganut yang mulai melenceng. Dan juga... kehilangan kepercayaan akan Tuhan.


Jika kalian mau membantu, bisakah sebutkan dimana ada kesalahan typo atau sebagainya? Besok atau besoknya lagi akan saya perbaiki, kebetulan saya sudah ngantuk banget. Nggak tidur dua hari dua malam.