Tiada Yang Mustahil
by: Shin Chunjin
Semua character asli KnB adalah milik Fujimaki Tadatoshi sensei.
Cerita "Tiada Yang Mustahil" adalah milik saya seorang.
Warning alert: typo, ooc, gaje
Enjoy~
Kepada yang mereview, kubalas via PM ya. Bagi pembaca yang baru mengikuti, selamat menikmati dan mohon review-nya~
Agar mempermudah mengingat nama OC, akan kutulis di awal mulai chapter ini:
© Hoshina Shiki © Hoshina Yuki © Akabane Renji
© Nashiki Hoshi © Yashiro Ren © Shinobu Ayase
© Mitsuhashi Rin © Shin Nagisa © Cornelia Mastina
© Minami Kaoru © Jyuu Hakuei © Fuwa Yoshino
© Tsuchida Miya © Rosemary Cordia
Selamat membaca!
.
.
Author's POV
Formless shoot yang dilakukan Mitsuhashi menentukan akhir pertandingan ini. Jika tembakannya masuk, tim perempuan adalah pemenangnya. Jika tembakan meleset, tim laki-laki yang menjadi pemenangnya. Bola masih melayang menuju ring, semua mata tertuju pada bola tersebut. Shin tidak tinggal diam. Tampaknya dia sudah menganalisa bola tersebut tidak akan masuk karena jari Nijimura menyentuhnya. Segera dia berlari melewati pemain laki-laki yang menjaganya, lalu meneruskan bola yang ditembak Mitsuhashi masuk ke dalam ring. Alley-oop yang tidak diduga.
.
.
Akashi's POV
Peluit berbunyi, menandakan poin untuk tim perempuan sekaligus berakhirnya permainan ini. Tim perempuan menang. Nijimura senpai dan anggota tetap lainnya menatap tak percaya. Meskipun ini hanya permainan yang tidak serius bagiku, tapi kalah apalagi dari tim perempuan itu cukup menyakitkan. Bohong jika aku merasa baik-baik saja. Aku melihat berbagai ekspresi dari tim perempuan, terutama gadis berambut coklat itu yang langsung menyerbu ke dalam lapangan untuk memeluk rekan timnya.
Tim laki-laki dan perempuan saling bertukar hormat setelah pertandingan. Shiki dan yang lainnya dengan segera menghampiri pelatih utama. Anggota klub yang perempuan pun ikut di belakangnya. Tampaknya dengan hasil pertandingan ini mereka jadi lebih percaya diri. Aku tersenyum kecil, kalah di pertandingan ini tidak terlalu buruk. Ekspresi bahagia kaum hawa yang selama ini diperlakukan tidak adil dan ekspresi kalah dari pelatih utama sangat menghibur.
"Yo, Pak Pelatih. Kami memenangkan pertandingan ini, kuharap kau menepati janji," aku mendengar Mitsuhashi bicara dengan kerasnya.
"Kau hutang satu lapangan untuk tim perempuan," Shiki bicara dengan senyuman kemenangan, yang pastinya menambah kesal si pelatih tua itu. Aku terkekeh geli melihat hal ini.
"Mau bagaimana lagi. Mulai saat ini, lapangan basket indoor satu untuk latihan anggota tetap tim laki-laki, satu untuk latihan anggota tetap klub tingkat empat, satu untuk latihan anggota tetap klub tingkat tiga, satu untuk latihan anggota tetap klub tingkat dua, satu untuk latihan anggota tetap klub tingkat satu, satu untuk anggota tetap tim perempuan, dan satu lagi untuk anggota tetap perempuan. Kurasa dua lapangan sudah lebih dari cukup," pelatih utama menjelaskan lalu pergi dari lapangan indoor. Mendengar itu, tim perempuan termasuk pelatihnya bersorak gembira.
"Terima kasih, Shiki-chan! Kami berhutang padamu. Permainan kalian bagus sekali," pelatih tim perempuan menitikkan air mata. Ugh, haruskah ada drama di tengah-tengah seleksi, pikirku. Tunggu sebentar! Seleksi anggota klub tertunda lama sekali jadinya. Jam berapa aku akan pulang hari ini?! Ketika aku sedang asyik dengan pikiranku, aku merasa ada tangan yang menepuk pundakku.
"Sei-kun! Kau hebat sekali! Permainanmu luar biasa." Aku menoleh dan melihat si gadis berambut coklat memujiku sambil tersenyum riang.
"Sudah sepantasnya," aku menghela nafas untuk menenangkan diri. "Dan bukankah sudah kubilang, jangan panggil aku seperti itu?"
"Tapi aku ingin berteman denganmu, Sei~kun~" ucapnya dengan nada yang sengaja membuatku kesal.
Sebelum aku sempat membalas, dia pergi karena dipanggil pelatihnya. Kami pun berkumpul kembali untuk mengikuti seleksi. Tim perempuan hanya memakai satu lapangan untuk hari ini, jadi satu lapangan lagi bisa dipakai untuk seleksi anggota baru. Aku melihat gadis berambut coklat itu terlihat akrab dengan anggota perempuan lain. Senyum dan tawanya terlihat sangat bahagia, rasanya dapat menulari setiap orang yang melihatnya. Tiba-tiba aku tersadar, kenapa aku jadi memperhatikannya terus?!
.
Seleksi berlangsung hingga pukul delapan malam. Aku menghela nafas lega, akhirnya seleksi berakhir. Aku tentu saja berhasil, anggota Kiseki no Sedai dan yang lainnya juga berhasil lolos menjadi anggota klub basket. Bagi mereka yang tidak lolos, mereka dijadwalkan untuk latihan di hari yang berbeda dengan anggota klub. Yah, aturan yang cukup adil menurutku. Mereka masih menghargai orang yang menyukai basket meskipun kurang berbakat.
Satu persatu keluar dari lapangan indoor dan bersiap untuk pulang. Aku dan yang lain jalan bersama, seperti saat kami masih SMP dulu. Meski ada banyak tambahan, namun ini menyenangkan. Sebelum aku keluar dari pintu, aku mendengar laki-laki bersurai hitam yang setim denganku tadi memanggil si gadis berambut coklat. Mereka tampak akrab sekali, mungkin sekarang mereka sedang melepas rindu. Aku melanjutkan langkahku tanpa peduli lebih jauh.
Suara gadis berambut coklat itu terdengar meneriaki namaku dan Kuroko sambil melambaikan tangannya. "Sei-kun! Tetsu-kun! Selamat malam! Hati-hati di jalan, ne~!"
Kuroko yang ada disebelahku hanya mengangguk singkat sebagai responnya, sedangkan aku hanya memalingkan wajah dan melanjutkan langkah. Berisik sekali. Namun, aku tak bisa mengubur rasa penasaran ini.
"Kuroko."
"Ada apa, Akashi-kun?"
"Kau mengenal gadis tadi?"
"Ha'i. Kami berkenalan saat mendaftar di stand klub basket," Kuroko menjawabnya dengan polos seperti biasa.
"Oh begitu."
"Lalu, bagaimana kalian bisa saling mengenal? Terlebih lagi.. Sei-kun? Pffft.." Kuroko bertanya sambil menahan tawa, namun sepertinya si tawa tak mau ditahan sehingga Kuroko pun harus segera menutup mulutnya.
Aomine, Kagami, dan Kise yang juga mendengar hal itu juga ikut tertawa.
"Kami satu fakultas dan satu kelas. Dan aku sudah bilang berkali-kali agar dia tidak menyebut namaku seperti itu," aku menahan diri agar tidak melemparkan gunting kesayanganku ke arah muka mereka. "Berhentilah tertawa, kalian. Ini sama sekali tidak lucu."
"Ahahaha.. Gomen gomen~ Aku tak menyangka ada yang berani memanggil Akashicchi dengan nama kecilmu-ssu," ucap Kise sambil menghapus air mata yang sempat mengalir.
"Sepertinya dia gadis yang menarik," kata Aomine.
"Mereka bagaikan kita, nanodayo."
"Apa maksudmu, Midorima?" Kagami menoleh pada si rambut hijau.
"Kau memang bodoh, Kaga-chin," Murasakibara berkomentar sambil membuka bungkus permen.
"Oi! Aku tidak bodoh! Aku hanya tidak mengerti apa maksud Midorima dengan mereka seperti kita!"
Aku memikirkan kata-kata Midorima barusan. Ya, setelah berhadapan langsung dengan mereka, rasa yang mengganjal yang muncul saat melihat dari pinggir lapangan terjawabkan. Aku yakin, Shiki dan rekan timnya itu memiliki aura seperti Kiseki no Sedai. Meski aku tidak tahu mereka sudah mencapai zone atau belum, kurasa mereka belum mengeluarkan kemampuan mereka secara maksimal.
"Maksud Midorima-kun adalah tim perempuan tadi memiliki kemampuan seperti anggota Kiseki no Sedai, Kagami-kun. Tak hanya itu, kurasa mereka melebihi Kiseki no Sedai," jelas Kuroko.
Aku tersentak dari pikiranku. "Apa yang membuatmu berkata seperti itu, Kuroko?"
"Aku melihat ada banyak tembakan sulit yang tidak biasanya digunakan oleh perempuan. Mereka seperti memiliki kemampuan perfect copy, di mana hanya Kise-kun yang selama ini bisa melakukannya. Kurasa gadis yang ingin dipanggil Shiki-san itu memiliki banyak bakat yang tersembunyi. Dia adalah pemimpin dari mereka berenam, kan?"
"Heh.. Aku tertarik ingin melawannya," komentar Kise. Mereka kemudian heboh tentang siapa yang akan menang. Tak lama aku berpisah dengan gerombolan itu, pulang ke apartemen yang sengaja kubeli di Tokyo ini. Tidak mahal namun tidak murahan, cukup memberikan kehidupan yang tenang.
.
Selesai mandi dan memasak makan malam, aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur dan membayangkan pertandingan kecil antara tim laki-laki dengan tim perempuan. Gadis berambut coklat itu cukup menarik, pikirku. Selama ini aku tidak menaruh perhatian untuk tim basket perempuan. Ternyata ada juga perempuan yang lebih hebat daripada laki-laki. Sepertinya kehidupan basketku di Universitas Tokyo ini tidak akan membosankan, aku terkekeh geli.
"Ya ampun, aku belum menemukan clue apapun tentang calon tunanganku!" Aku terduduk, "Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya."
.
.
Author's POV
Setelah seleksi anggota tetap klub basket selesai, Himuro menghampiri Shiki dan mengajaknya untuk pulang bersama, begitu juga dengan kelima gadis lainnya. Karena sempat bermain bersama di Amerika, Himuro cukup akrab dengan teman-teman Shiki. Setelah berpisah di perempatan jalan, tinggallah Himuro dan Shiki berjalan ke arah apartemen yang ditinggali Shiki. Rupanya tempat tinggal Himuro tak jauh dari tempatnya, jadi mereka sekalian pulang bersama.
"Ne, Tatsu-chan. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Bagaimana kabarmu? Sudah lama juga ya tidak ada kontak," kata Shiki.
"Ya, cukup banyak yang terjadi. Aku pindah ke Jepang saat SMA dan masuk ke tim basket yang cukup tangguh. Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja," jawab Himuro sambil tersenyum. "Kenapa kau kuliah di Jepang, Shiki-chan? Apa Yuki-chan juga ikut bersamamu?"
"Iya, aku dan Yuki-nee pindah ke Jepang karena harus mencari calon tunangan ka-," ucapan Shiki terputus. "Astaga! Aku belum tahu wajah calon tunaganku!" Shiki berseru sehingga Himuro terlonjak dari posisinya.
"Eh? Tunangan?" Himuro tampak tak percaya mendengar kabar ini.
"Ayahku yang seenaknya mengatur perjodohan ini. Aku bertekad jika menemukan calon tunanganku itu, aku akan memintanya untuk membatalkan perjanjian ini. Aku tidak mau dijodohkan begitu saja. Aku ingin merasakan cinta."
Di saat Shiki menggebu-gebu membahas rencananya, Himuro hanya diam mendengarkan dan berusaha tidak menunjukkan rasa sedihnya.
-to be continue-
Hi minna... Chun's here! Terima kasih telah me-review, membaca, memfavorit, dan/atau memfollow ff pertama saya ini. Hehe banyak juga yang memanggilku "Shin", aku tak bermaksud memasukkan namaku menjadi nama Nagisa ya~
Huwaaa aku sedikit khawatir dengan alur cerita ini. Apakah tidak jelas? Atau sangat mudah ditebak? Terlalu cepat atau terlalu lambat? Kumohon berikan pendapat kalian ya. /bows/
Mohon di-review.. Kritik dan saran apapun akan sangat berguna untuk memotivasi saya.. :D
Please don't be a silent reader.. Press the "Review" button and write what are you thinking about this story. Thank you~
Salam sejahtera,
Shin Chunjin
