Haloooooo! Saya datang membawa chapter 7, maaf lagi-lagi updatenya ngadat =.= It
Oke, saya akan cuap-cuap dibawah aja nanti, ini dia chapter 7 nya . . .
Monggo , silakan menikmati . . . ^0^
.
.
.
Disclaimer : I don't own Naruto.
Warning : gaje, abal, garing, typo(s), OOC, alur berantakan, bertele-tele, minim deskriptif, ide pasaran, sinetron BANGET, bahasa belepotan, dan segala kekurangan lainnya~
Don't Like? It easy , just Don't Read It!
.
Chapter 7
.
Hari ini Hinata sangat bersemangat pergi ke sekolah. Tidak seperti beberapa minggu terakhir ini. Memang beberapa minggu terakhir ini dia sangat malas pergi ke sekolah. Oh bukan malas, mungkin lebih tepat disebut takut. Ya, takut. Takut jika sewaktu-waktu dia meneteskan air mata di sekolah ketika melihat sepasang kekasih baru yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir di seantero KSHS. Siapa pasangan kekasih baru itu? Oh, siapa lagi kalau bukan Pangeran dan Putri Konoha Senior High School―Sasuke dan Sakura. Kalau melihat mereka bersama rasa perih dihatinya benar-benar tak tertahankan.
Tetapi berbeda dengan Senin pagi ini, Hinata justru ingin segera sampai di sekolah. Setelah menghabiskan akhir pekan bersama sahabat terkasihnya, dia tidak sabar untuk bertemu dengan sahabatnya itu di sekolah. Tapi tentu saja Hinata menyadari saat di sekolah dimana ada Sasuke disitu pasti ada Sakura. Tapi kali ini tidak masalah setidaknya hatinya sedikit tenang setelah kemarin menghabiskan waktu bersama sahabatnya, ternyata sahabatnya itu masih mengingatnya. Yah, terkadang Hinata memang memikirkan apakah setelah mendapatkan gadis impiannya, Sasuke melupakan Hinata. Dan setelah hari kemarin, hati Hinata menjadi sedikit tenang.
Setelah selesai berdandan―tentu saja dandan bagi Hyuuga Hinata hanya sekedar menyisir rambut dan menggunakan sedikit bedak―Hinata merapikan tempat tidurnya yang sedikit berantakan. Sebelum turun untuk sarapan, Hinata melihat bayangannya sekilas di cermin. Hari ini dia memilih untuk menguncir pony tail rambutnya. Dia tersenyum sekilas melihat bayangannya. 'Yosh, ganbatte ne! Hari ini aku harus semangat!' Hinata mengambil tas selempang ungunya dan segera turun dengan senyum yang belum meninggalkan wajahnya.
Di ruang makan sudah ada otou-san tersayangnya, imouto tercintanya, dan aniki terkasihnya. Hinata duduk disebelah Hanabi yang duduk disamping kanan Hiashi dan Neji duduk di depan Hanabi.
"Tampaknya kau senang sekali hari ini, Hinata," kata Neji saat melihat senyum Hinata.
"Mm." Hanya itu tanggapan Hinata.
Hanabi baru saja mau berbicara tapi tidak jadi karena mendengar dehaman dari Sang Kepala Keluarga. Hanabi hanya mengerucutkan bibirnya. Di keluarga Hyuuga memang dilarang bicara ketika sedang di meja makan―sedang makan. Bukankah semua keluarga memang begitu? Tidak boleh bicara ketika sedang makan.
.
.
.
Hinata sedang menunggu Sasori di ruang tengah kediaman Hyuuga. Hari ini memang Sasori janji akan mengantarnya ke sekolah. Walaupun sebenarnya Hinata lebih suka berangkat bersama Sasuke. Tapi tentu saja Sasuke harus menjemput Sakura dan Hinata tidak mau mengganggu mereka berdua, lagipula dia juga tidak mau kalau harus menjadi 'obat nyamuk'. Meskipun harus dia akui, setengah hatinya mengaharapkan dia bisa berangkat dan pulang bersama dengan Sasuke seperti dulu.
Helaan nafas keuar dari bibir Hinata. 'Akhir-akhir ini aku sering sekali menghela nafas. Padahal hari ini mood-ku sedang baik. Huh, kenapa aku harus memikirkan mereka, semangatku jadi berkurang,' gerutu Hinata dalam hati.
"Menunggu Sasori?"
"N-neji-nii, kau mengejutkanku! Dan, ya aku sedang menunggu Sasori nii-san..." seru Hinata tertahan. Dia cukup kaget dengan kehadiran Neji yang tiba-tiba.
"Akhir-akhir ini kau sering melamun, makanya kau jadi mudah terkejut imouto-chan..." kata Neji dengan sanyum mahalnya. "Sedang ada masalah?" Sebenarnya Neji tahu masalah apa yang sedang dihadapi imouto kesayangannya ini. Hanabi sudah menceritakan padanya. Tapi dia tidak ingin membahasnya karena menurut Hanabi, setelah dia dan Sasori datang Hinata sudah sedikit lebih baik.
"Mm, tidak ada," jawab Hinata disertai senyum khasnya.
"Hn."
"Hari ini Neji-nii tidak ada kegiatan?" Karena Neji tidak kuliah di Konoha dan memang dia sedang liburan sekarang jadi terkadang dia tidak ada kegiatan di rumah.
"Membantu tou-sama."
"O-oh," gumam Hinata sedikit kecewa. Memang sebenarnya Neji sering menghabiskan waktu liburannya dengan membantu Hiashi di kantor. Dan itu berarti Neji juga akan pulang malam.
'Neji-nii kan sedang libur, seharusnya dia menghabiskan waktu liburannya untuk keliling kota atau apalah asalkan jangan membantu tou-sama,' gerutu Hinata. Tapi itu bukan berarti Hinata tidak suka kalau Neji membantu ayahnya, hanya saja kalau Neji ikut ayahnya itu berarti dia tidak akan punya waktu untuk Hinata dan Hanabi.
Neji sendiri memang tidak terlalu suka berkeliling atau bermain-main. Dia lebih suka menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat―baginya. Jadi dia menghabiskan waktu liburannya di Konoha memang untuk membantu ayahnya dalam rangka membunuh rasa bosan karena libur panjang.
Neji sedikit mengangkat sebelah alisnya mendengar nada kecewa Hinata. "Kenapa? Mau jalan-jalan?"
"T-tidak juga. Hanya saja kalau nii-san ikut tou-sama itu artinya nii-san akan pulang malam dan tidak punya waktu untukku dan Hanabi-chan," gumam Hinata lirih.
"Hn. Aku selalu punya waktu untuk kalian imouto," ujar Neji seraya mengacak pelan rambut Hinata.
Hinata yang mendengarnya tersenyum senang. Memang begitulah aniki-nya. "Neji-nii, aku butuh waktu lama untuk menata rambutku..." kata Hinata dengan wajah pura-pura jengkel.
TIIIN TIIIN TIIIN! TIIIN!
Terdengar bunyi klakson mobil dari luar. "A-ah, itu pasti Sasori nii-san." Hinata segera bangkit dari duduknya dan keluar rumah.
Sasori sudah menunggu di depan gerbang dengan menyandarkan tubuhnya di mobilnya. Dia tersenyum melihat Hinata.
"Jaga adikku baik-baik, Sasori." Neji tiba-tiba muncul dibelakang Hinata.
"Siap, Tuan," kata Sasori membungkuk singkat dan menyerigai kecil pada Neji. Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Hinata. "Kita berangkat sekarang, Hime?"
Rona merah langsung menjalar ke tulang pipi Hinata. Dan dengan kata terakhirnya tadi Sasori sukses mendapat tatapan membunuh dari seorang Neji Hyuuga. Sasori hanya menanggapinya dengan menyeringai.
"Jaga kata-katamu, bayi," kata Neji dingin.
"Bayi?" tanya Hinata tidak mengerti.
"Bukankah dia seperti bayi?" ejek Neji.
"Itu panggilan sayang kakak tersayangmu untukku, Hinata," ujar Sasori santai sambil menatap Neji dengan pandangan menantang.
"Tch."
"Sebaiknya kita berangkat sekarang, Skittish-chan..."
"I-iya. Aniki, aku berangkat dulu."
"Hn."
Sasori menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Hyuuga.
.
.
.
Sasuke turun untuk sarapan dengan buru-buru. Dia hanya minum susunya dan segera pergi ke garasi untuk mengeluarkan mobilnya, beruntung baginya Izumo sudah menyiapkan mobilnya. Sasuke mengucapkan terima kasih sekilas lalu menghidupkan mesin mobilnya.
Tidak seperti biasanya, hari ini Sasuke bangun kesiangan. Tadi malam dia tidak bisa tidur. Tidak bisa tisur karena Minggu kemarin sangat menyenangkan baginya, sehingga dia tidak bisa untuk berhenti tersenyum. Tidak bisa tidur karena perasaannya semakin kacau. Semalaman dia memikirkan perasaannya yang sebenarnya pada sahabatnya. Berulang-ulang dia mengucapkan kata 'tidak mungkin' dalam hatinya tadi malam saat sebuah pemahaman tiba-tiba muncul di pikirannya.
Sasuke mengacak rambutnya frustasi dan memaki pelan. 'Tidak mungkin,' ucapnya dalam hati. Dia melajukan mobilnya keluar gerbang, kemudian berhenti di depan rumah Hinata. Hari ini dia memutuskan untuk berangkat bersama Hinata, karena sudah lama mereka tidak berangkat bersama.
Pemuda raven itu keluar dari mobilnya dan bertanya pada Hanabi yang kebetulan baru akan berangkat sekolah.
"Hinata masih di dalam?" tanya Sasuke langsung.
"Kau terlambat Sasuke-nii, tadi Hinata-nee sudah berangakat dengan Sasori nii-san," jawab Hanabi.
"Tch." Sasuke mendecih pelan. "Mereka sudah lama?"
"Hm, lumayan."
"Hn. Terima kasih." Tanpa menunggu jawaban dari Hanabi, Sasuke langsung menuju mobilnya dan sedikit membanting pintunya ketika masuk. Kemudian dia melaju cepat menuju rumah kekasihnya―Sakura.
"Sama-sama." Hanabi baru menjawab ketika mobil Sasuke sudah tidak terlihat, dia kemudian menggelengkan kepalanya pelan. "Kotetsu-san, ayo berangkat!" serunya.
.
.
.
Di depan gerbang Konoha Senior High School tampak seorang pemuda dan gadis sedang berbincang-bincang. Gadis tersebut terlihat lebih muda dari sang pemuda. Sebentar-sebentar wajah gadis itu memerah karena ulah sang pemuda berambut merah yang tak lain dan tak bukan adalah Sasori. Sedangkan gadis dengan rambut indigo yang dikuncir pony tail―tentu saja―Hinata.
Siswi-siswi yang lewat menatap iri pada Hinata. Bagaimana tidak, Hinata selalu dikelilingi pemuda-pemuda keren. Apa dengan Sasuke, Gaara, dan Shikamaru belum cukup, pikir mereka. Apalagi mengingat Neji―kakak Hinata―juga keren. Hinata seperti magnet bagi pemuda-pemuda keren.
Tentu saja. Siapa sih, yang kuat menahan pesona seorang Hyuuga Hinata? Hinata hampir bisa dibilang seorang gadis yang sempurna―perfect. Dengan wajah manisnya, sifat sopan dan kelembutan hatinya, serta keluarga yang terpandang. Oh, dan jangan lupakan keunggulan otaknya. Setiap tahun Hinata selalu masuk peringkat lima besar paralel di KSHS.
Tapi, bukankah tadi kubilang hampir? Ya, hampir. Sifat pemalunya itulah yang terkadang menjadi kelemahannya. Sifat penakutnya yang tidak berani mengutarakan perasaannya pada pemuda yang disukainya, sehingga pemuda itu kini bersama orang lain. Sehingga Hinata harus rela mendapat luka sayatan yang dalam dihatinya. Luka sayatan yang mampu membuat Hinata mengeluarkan air matanya setiap malam.
"Sasori nii-san, terima kasih yaa..."
Semenjak pemuda berambut merah itu datang, hari-harinya tidak terlalu menyedihkan lagi. Pemuda itu selalu mampu membuatnya tersenyum kembali. Meskipun terkadang hanya senyum tipis yang keluar―sangat tipis. Tapi setidaknya pemuda itu mampu sedikit menenangkan dan menghangatkan hatinya.
"Sudah kubilang panggil aku Sasori-kun, kan..."
"T-tapi―"
Hinata belum sempat melanjutkan kalimatnya. Dia merasakan ada yang menarik lengannya dan menyeretnya. Hinata menolehkan kepalanya dan bertemu pandang dengan Sasuke.
.
.
.
Sasuke membawa Hinata ke atap sekolah. Baru setelah mereka sampai di atap sekolah, Sasuke melepaskan cengkramannya pada Hinata.
"Astaga! Kau ini kenapa Sasuke?" seru Hinata sedikit marah.
Flashback
"T-tapi―"
Hinata belum sempat melanjutkan kalimatnya. Dia merasakan ada yang menarik lengannya dan menyeretnya. Hinata menolehkan kepalanya dan bertemu pandang dengan Sasuke.
Sasuke kemudian mengalihkan pandangannya pada Sasori yang menatap dingin padanya. Tidak mau kalah, Sasuke juga memasang wajah dan tatapan dinginnya.
"Kau ada perlu apa dengan Hinata?" tanya Sasori dingin.
"Kurasa itu bukan urusanmu," balas Sasuke tak kalah dingin.
"A-ano... Sasuke―" Hinata belum sempat mengeluarkan protesnya tapi sudah dipotong Sasuke. "Ayo, kita ke atas Hinata... sebentar lagi jam pertama akan dimulai."
"E-eh, t-tapi aku―"
Lagi-lagi Sasuke memotong perkataan Hinata dengan menariknya―menyeret―memasuki gerbang.
"T-tunggu sebentar, a-aku belum sempat m-mengucapkan―" Hinata berusaha mengeluarkan protesnya tapi lagi-lagi sudah dipotong Sasuke.
"Dia sudah menerima terima kasihmu."
Hinata hanya memandang punggung Sasuke dengan pandangan tidak mengerti, sedih, kecewa, bahkan ada sedikit kilat marah di matanya. Sasuke yang ini bukan Sasuke yang menghabiskan akhir pekan bersama dengannya. Sasuke yang ini bukan Sasuke sahabatnya yang walau sering bersikap dingin padanya namun terkesan peduli bahkan hangat. Hinata benar-benar tidak mengenal pemuda yang sedang menyeretnya ke atap sekolah sekarang ini.
End of Flashback
.
.
.
"Kau ini kenapa Sasuke?" tanya Hinata dengan suara sedikit melembut sekarang.
Sasuke hanya menatap Hinata dengan pandangan mengambang. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia melakukan hal itu. Tiba-tiba saja saat memasuki gerbang KSHS dan melihat Hinata dan Sasori sedang mengobrol, emosi Sasuke langsung tersulut begitu saja. Yang ada dipikirannya saat itu hanya menjauhkan Hinata dari Sasori. Oleh karena itu, tadi dia menyuruh Sakura untuk ke atas lebih dulu karena dia mengatakan kalau ada urusan sebentar sebagai alasan.
"Jadi kenapa, Sasuke?" tanya Hinata―lagi. "Kau tahu, tadi aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih pada Sasori-nii," tambah Hinata.
Mendengar nama Sasori, emosi Sasuke yang tadi sudah sedikit surut kini kembali tersulut lagi.
"Bukankah sudah kubilang padamu untuk tidak dekat-dekat dengannya." Akhirnya Sasuke mengeluarkan suaranya.
'Lagi-lagi topik ini,' desah Hinata dalam hati. Hinata pikir setelah dua hari kemarin Sasuke tidak akan mengungkit-ungkit masalah itu lagi. Memejamkan mata sesaat dan menghela nafas pelan untuk menghilangkan emosi yang ada dihatinya, Hinata kemudian berkata.
"Kalau hanya ingin membicarakan hal itu, sebaiknya aku pergi saja. Aku sudah lelah kalau harus bertengkar lagi denganmu hanya karena hal itu." Setelah mengatakan hal itu―tanpa menunggu jawaban dari Sasuke―Hinata langsung meninggalkan atap sekolah meninggalkan Sasuke sendiri.
Untuk beberapa saat yang dilakukan Sasuke hanya memandangi pintu yang ditinggalkan Hinata terbuka. Kemudian dia menghela nafas frustasi dan mengacak-acak rambutnya.
"Bodoh," makinya entah pada Hinata atau mungkin dirinya sendiri.
.
.
.
Seorang pemuda berambut raven memasuki kelasnya dengan wajah luar biasa kusut. Teman-temannya yang melihatnya heran. Apalagi para siswi kelas 2-1. Tapi walaupun pemuda tersebut kelihatan berantakan, bagi mereka pemuda itu tetap keren. Siapa lagi pemuda yang dianggap keren walau terlihat berantakan kalau bukan anak bungsu Uchiha Fugaku―Uchiha Sasuke.
Sasuke duduk di bangkunya yang terletak agak belakang. Dia mendapat pandangan mengejek dari temannya yang berambut merah. Rambut merah. Tch, temannya itu hanya mengingatkannya pada orang yang membuat persahabatannya dengan Hinata jadi berantakan.
Shikamaru yang tadinya sedang tidur kini sedikit mendongakkan kepalanya ketika merasakan penghuni bangku di depannya telah tiba dengan membawa aura gelap. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Sedang ada masalah eh, Chicky?" ejek Gaara.
Pemuda yang dipanggil Chicky itu segera melayangkan deathglare-nya yang melegenda pada pemuda bertato 'Ai' tersebut.
"Sudahlah Gaara, jangan memperburuk suasan hatinya," kata Shikamaru akhirnya.
Sebelum kembali memusatkan kembali perhatiannya pada bukunya, Gaara melemparkan pandangan kasihan setengah mengejek pada Sasuke. Sasuke sendiri kini tidak menghiraukan pandangan mengejek Gaara, karena sudah sibuk dengan pikirannya sendiri.
'Dia pura-pura bodoh atau memang benar-benar bodoh,' pikir Shikamaru yang kemudian melanjutkan tidurnya.
.
.
.
Hinata baru saja dari perpustakaan mengembalikan buku yang tadi dipinjam Shizune-sensei untuk mengajar. Saat ini dia sedang berjalan menuju kelasnya, dan itu artinya dia melewati toilet perempuan. Dan disitulah Hinata terhenti sekarang.
Niatnya yang tadi ingin segera kembali ke kelas kini hilang saat mendengar suara kedua temannya. Hinata sebenarnya tidak berniat untuk mencuri dengar atau bahasa kasarnya menguping. Tapi sepertinya pembicaraan kedua temannya―Sakura dan Ino―berhubungan dengan Sasuke. Oh, tentu saja Hinata tidak perlu penasaran, bukankah akhir-akhir ini pembicaraan mereka hanya seputar kekasih mereka. Tapi entah mengapa kali ini Hinata ingin mendengarkan. Hinata sedikit mendekatkan tubuhnya ke dinding toilet.
"Jadi kenapa kemarin kau tidak datang, Forehead?" terdengar suara Ino dari dalam sana.
"Sasuke membatalkan kencannya." Yang ini suara Sakura.
Sesaat setelah mendengar penuturan Sakura pada Ino tadi, Hinata membulatkan matanya tidak percaya.
"Hh, kenapa tiba-tiba sih... padahal kan kita sudah merencanakan double date dari dulu," desah Ino.
"Entahlah, tiba-tiba Sabtu malam dia meneleponku dan mengatakan tidak jadi begitu," kata Sakura ada nada kecewa di dalamnya.
'Jadi...' batin Hinata.
"Hei Ino-pig, akhir-akhir ini Sasuke berubah," tambah Sakura.
"Berubah bagaimana, Forehead?"
"Dia... dia tidak selembut dulu. Yah, memang dia tidak pernah berlaku lembut tapi aku rasa dia menjadi semakin dingin saja," jawab Sakura dengan nada sedih.
Hinata masih menyimak pembicaraan Sakura dan Ino. Dia semakin mendekatkan tubuhnya ke dinding toilet.
"Mungkin hanya perasaanmu saja..." terdengar suara Ino.
"Tidak. Aku bisa merasakannya, ada yang aneh dengannya," kata Sakura tegas.
"Apanya yang aneh, Forehead?"
"Dia... dia lebih banyak diam. Oh, aku tau Ino-pig, dia memang irit bicara tapi setidaknya dulu saat bersamaku dia sedikit lebih banyak bicara. Sasuke jadi sering melamun, waktu kutelepon tadi malam dia juga banyak diam. Sepertinya ada banyak hal yang sedang mengganggu pikirannya. Saat berangkat sekolah tadi dia juga begitu," jelas Sakura panjang lebar.
"Dulu? Kau bilang dulu? Seakan-akan kau sudah pacaran lama sekali dengan Sasuke, kau kan baru pacaran dalam hitungan minggu." Bukannya menanggapi penjelasan Sakura tadi, Ino malah mencibir Sakura.
"Aku serius, Ino." Mendengar nada serius Sakura, Ino langsung meralat ucapannya. "Mungkin dia memang sedang ada masalah, dia pasti akan segera kembali seperti dulu Sakura," kata Ino menyemangati Sakura.
Setelah kalimat terakhir Ino tadi, Hinata segera pergi meninggalkan toilet dengan sedikit berlari. Kali ini bukan kelas 2-3 tujuannya, tapi kelas 2-1―kelas Sasuke.
.
.
.
Terdengar langkah terburu-buru disepanjang koridor menuju kelas 2-1. Beberapa siswa-siswi yang memperhatikan pemilik langkah terburu-buru itu sedikit menatap heran. Tidak biasanya gadis ini terlihat begitu, mungkin itulah yang ada dipikiran mereka.
Gadis itu―Hinata―sudah benar-benar geram sekarang. Mungkin baru kali ini selama dia hidup di dunia ini, dia merasa begitu geram, marah, dan jengkel pada sahabatnya. Oke, itu memang berlebihan. Tapi memang benar kan, seorang gadis selembut Hyuuga Hinata hampir tidak mungkin bisa marah pada orang lain. Mm, mungkin marah bukan kata yang tepat, kecewa terasa lebih tepat untuk menggambarkan perasaannya sekarang.
Ya, kecewa. Dia benar-benar kecewa pada sahabatnya itu. Bagaimana mungkin dia bisa membatalkan kencan dengan kekasihnya hanya untuk menjenguk Hinata dan lari pagi bersama Hinata. Padahal butuh perjuangan bagi Hinata untuk mendekatkan Sasuke dan Sakura. Butuh pengorbanan yang besar. Dia rela hatinya tercabik-cabik hanya demi agar sahabatnya itu bisa mendapatkan gadis impiannya.
Memang, tidak dapat dipungkiri Hinata tersanjung dan senang karena Sasuke lebih memilih menghabiskan akhir pekan bersamanya ketimbang dengan Sakura. Tapi tidak begitu caranya, tidak dengan membatalkan janji yang sudah terucap. Apalagi saat Hinata teringat kalau kencan mereka minggu kemarin sudah lama direncanakan. Hinata semakin merasa bersalah saat mengingat nada sedih dan kecewa Sakura tadi.
Hinata sudah sampai di depan kelas Sasuke sekarang. Setelah mengetuk pelan beberapa kali Hinata masuk ke kelas Sasuke. Walau sejengkel dan semarah apapun Hinata, dia tetap seorang Hyuuga Hinata yang lembut dan menjunjung tinggi tata krama yang diajarkan otou-san tercintanya.
Beberapa siswa yang ada di kelas memandang Hinata dengan tatapan heran. Untuk apa seorang siswi kelas 2-3 ada dikelas mereka, mungkin itulah yang ada dipikiran mereka. Lain halnya dengan para siswa yang menatap Hinata heran, beberapa siswi yang ada disana menatap Hinata dengan pandangan tidak suka. Tentu saja, Hinata pasti kesini untuk menemui sahabatnya atau mungkin Shikamaru atau Gaara, pikir mereka jengkel. Tapi untuk kali ini Hinata tidak akan menunduk seperti biasa, karena dia sudah benar-benar tidak bisa menahan emosinya agi.
Gaara yang baru menyadari keberadaan Hinata segera menyapanya. "Hinata? Ada perlu apa?" Sedangkan temannya yang berambut mencuat segera mendongakkan kepalanya yang tadi ditelungkupkannya setelah mendengar nama Hinata. Siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke.
"Aku mencari Sasuke."
Dan tak bisa dipungkiri lagi rasa senang merayapi hati Sasuke saat mendengar tujuan Hinata. Tapi tentu saja dia tidak ingin menunjukkannya bagaimanapun masih ada beberapa fansgirls-nya di kelas jadi dia tidak ingin merusak image-nya.
"Kau ada perlu denganku?" jadi hanya itulah yang keluar dari bibirnya demi untuk menjaga image-nya sebagai seorang Uchiha.
"Hn." Wow, tampaknya terlalu lama bersahabat dengan Sasuke dan terlalu dekat dengan Shikamaru, Gaara, Neji, serta Sasori mampu membuat Hinata tertular penyakit 'irit bicara' mereka.
Sasuke mengangkat alisnya sedikit, kemudian berdiri dari bangkunya. "Kita bicara di atap sekolah saja," katanya seraya berjalan keluar kelas dengan Hinata dibelakangnya.
.
.
.
Dan disinilah mereka sekarang―atap sekolah. Untuk sementara hanya ada keheningan dan angin yang bertiup pelan. Sampai akhirnya Hinata mengeluarkan suaranya.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Hinata dingin.
"Melakukan apa?" tanya Sasuke tidak kalah dingin. Walaupun sebenarnya dia sedikit terkejut Hinata tiba-tiba bertanya dingin padanya.
"Kenapa kau tega melakukannya, Sasuke?" kini Hinata terdengar kecewa dan terluka.
"Kau ini bicara apa, Hinata? Aku tidak mengerti." Sasuke terdengar sedikit emosi sekarang.
"Kenapa kau membatalkannya?" suara Hinata sedikit memelan bahkan bergetar.
"Membatalkan ap―" memang tadi Sasuke sempat bingung dengan pertanyaan Hinata, tapi sepertinya dia tahu arah pembicaraan Hinata. "Kau tahu?" tanya Sasuke sedikit kaget―sedikit.
"Kenapa?" Hinata tidak menghiraukan pertanyaan Sasuke.
"Kau tahu darimana?"
"Jawab saja, Sasuke. Kenapa?" kini air mata sudah tidak dapat ditahan lagi oleh Hinata.
Sasuke yang melihat air mata Hinata sedikit terkejut. Dia tidak menyangka hanya karena hal itu ternyata mampu membuat Hinata mengeluarkan air matanya. Melihat air mata Hinata, hati Sasuke terasa perih―sangat perih.
Tangan Sasuke terjulur untuk menghapus air mata Hinata, tapi sebelum tangan itu menyentuh pipinya, Hinata sudah mundur untuk menghindarinya. Sasuke terlihat sedikit kecewa tapi dia hanya menghela nafas kemudian memasukkan kembali tangannya ke saku celananya.
"Kenapa, Sasuke? Kenapa? Kenapa?" tanya Hinata berulang-ulang sembari menyeka air matanya yang tidak berhenti mengalir.
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu, Hinata. Karena aku pikir kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama," jelas Sasuke sekuat tenaga menjaga nadanya agar tidak meninggi karena emosi.
"Tapi tidak dengan membatalkan kencanmu, kan?" tanya Hinata dengan penekanan pada kata kencan. Suranya terdengar sedikit meninggi sekarang.
"Lagipula Sakura tidak marah," kata Sasuke dengan santainya yang sukses membuat Hinata kembali emosi.
"Tidak marah?" Hinata terdengar sedikit memekik. Kemudian dia menarik nafas dan menghembuskannya untuk menenangkan hatinya. "Sakura memang tidak marah, Sasuke. Tapi dia kecewa," ujar Hinata lirih.
"Kecewa? Dia tidak mempermasalahkannya."
"Tidak mempermasalahkannya? Cobalah untuk memahaminya, Sasuke."
"Aku memang memahaminya," kata Sasuke dengan menekankan kata memang.
"Kau tidak memahaminya." Sebelum Sasuke bisa membantah lagi, Hinata sudah menyelanya. "Kau tidak tahu betapa kecewa dan sedih hatinya saat kau untuk kedua kalinya membatalkan kencan dengannya. Dan betapa sakit hatinya jika dia tahu kalau kau membatalkannya hanya untuk menemaniku," jelas Hinata.
"Dia sendiri tidak mengatakan padaku, Hinata..."
"MENGATAKAN PADAMU? Tentu saja dia tidak akan mengatakannya, Sasuke!" seru Hinata. Dia sudah benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi. Sasuke benar-benar payah dalam hal perasaan. Bukan, bukan payah mungkin idiot lebih tepat? (author dichidori sasuke)
Menyadari suaranya yang naik beberapa oktaf, Hinata menghela nafas lagi untuk menenangkan hatinya―lagi. Sedangkan Sasuke masih belum bangkit dari keterkejutannya mendengar seruan Hinata tadi. Seumur hidup Sasuke mengenal Hinata, belum pernah dia melihat Hinata berseru marah seperti tadi.
"Sudahlah, aku sudah lelah dengan semua ini. Lupakan saja aku pernah berseru padamu tadi Sasuke, tapi jangan lupakan apa yang kukatakan tadi," ucap Hinata. Kini suaranya sudah kembali seperti biasanya―lembut. Hinata berjalan menuju pintu.
"Kuharap setelah ini kau bisa menjadi pacar yang lebih baik. Dan jangan minta bantuanku lagi soal hubungan kalian." Hinata mengucapkan kalimat terakhirnya dengan dingin, setelah itu dia meninggalkan atap sekolah dan Sasuke yang menatapnya nanar.
.
.
.
TBC
Oke, pertama-tama sudikah kalian mendengarkan teriakan gaje saya? Saya lulus nyaaaakk *tereak pake toa* Nah, lega rasanya~ Sekarang tinggal nunggu pengumuman PPDB. Semoga saya bisa diterima di SMF, amiiiin hehe :p
Jadi gimana menurut kalian chapter 7 ini? Apakah lagi-lagi mengecawakan? Entahlah, saya merasa lebih PeDe buat apdet chapter ini. Ndak tau kalau ternyata hasilnya buruk deh.
Saatnya mengucapkan terima kasih pada reviewer chapter kemaring , big thanks to :
Ai HinataLawliet, Yuiki Nagi-chan, sasuhinalover, Tsubasa XasllitasDioz G-Login (panggil apa aja boleh kok ^^ , purple jg g mslh... oh ya? lalu bagaimana hasil tsubasa-san? sesuai harapan kah?) , uchihyuu nagisa, hanata chan, Lollytha-chan, MeraiKudo, harunaru chan muach, fie-chan, Sugar Princess71, miss lavender chan, Nerazzuri, Kumiko-chan
Maaf kalau ada salah dalam penulisan nama
See ya in next chapter , ^^
.
.
.
Thanks for reading , Review please? O.o
