Oke, Ren hadir kembali. ^_^
Maaf gak bisa bales review satu-satu. Lagi buru-buru soalnya.
Omong-omong, Ren sempet kaget waktu baca review kemarin. Ren dimarahin *nyengir* #dilemparin golok#
Hem... Sepertinya banyak yang salah paham -_-"a. Jadi Ren mau langsung jelasin aja :
Pertama, Ren gak pernah bilang ini ganti Genre, hanya bilang 'sepertinya' itu bukan berarti 'kan? :P Ren itu juga orang yang suka ngehindari genre Angst dan Tragedi, kok. Cukup di dunia nyata aja yang pake genre itu. -_-
Kedua, Trus chap kemarin itu 'bisa dianggap Sad Ending' bukan berarti alternatif ending. :) Lagian bukannya ini judulnya udah 'Smile of our happiness' ? Masa iya Ren langsung tiba-tiba banting setir jadi Angst or tragedi, 'kan gak lucu *nyengir lagi* Fic ini akan tetap pada ide cerita awal. Jadi jangan pada nangis, oke? Cup-cup... Ren bagi-bagi foto Naru yang lagi ngedance, deh*Tentu aja hanya imajinasi* #dibuang ke jurang# Udah ya, jangan pada sedih lagi... Tersenyumlah kawan! Karena senyum dapat mendatangkan hal yang baik, benar 'kan? *kedip-kedip*
Dan ketiga, Untuk masalah ini Sandiwara, Becanda, atau bukan. Silahkan langsung baca aja, oke? Dan ini bukan mimpi, ini hanya imajinasi Ren aja, kok. ;) Juga Rencana Deidara-kun. :DD
Yosh Enjoy!
Naruto © Masashi Kishimoto
Smile of our Happiness written by RenJeeSun
Rated: T
Genre: Romance, Family.
warning: AU, BL, Sho-ai, Gaje, OOC, typo bertebaran, M-Preg, dll.
Well, if you Don't like, don't read!
.
::A::C::The wedding::J::S::
.
.
::A::C::All::J::S::
.
"Aww! Sakit Kabuto!" rintih Deidara ketika Kabuto mengobati memar di wajahnya.
"Aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk tidak menambah memarnya loh, Deidara-kun. Jadi, berhentilah merengek seperti anak perempuan," ketus Kabuto dengan senyum mematikan.
Bagaimana tidak kesal? Jika dirinya harus direpotkan dengan kejadian yang semuanya ternyata hanyalah sebuah rekayasa belaka. Membuat Kabuto harus menangani beberapa korban—masih hidup tentunya—dari ulah Deidara. Korban-korban itu sekarang masih terbaring tidak sadarkan diri di sebuah kamar terpisah di kediaman Namikaze. Sehabis kehebohan besar di gereja tadi, mereka semua memang langsung diminta Minato untuk dibawa ke rumahnya saja.
Sekarang ini Kabuto, Deidara dan Tsunade berada di kamar Kyuubi. Dengan Kyuubi yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Dan ada satu orang lagi yang bersama mereka saat ini. Juugo—si pelaku penembakan—sedang duduk di sebuah sofa di kamar yang sama. Menatap miris lengannya yang kini patah. Sedangkan Itachi dan Sasuke yang juga mengalami nasib sama dengan Kyuubi, di tempatkan di kamar yang berbeda. Itachi di kamar tamu dan Sasuke di kamar Naruto.
"Kabuto, aku akan sangat berterima kasih kalau kau benar-benar menambah memarnya," ujar seorang wanita yang berperan sebagai nenek kandung seorang Namikaze Deidara. Tsunade duduk di salah satu sofa panjang di kamar itu. Saat ini dia sedang bertugas mencegah tindakan kriminal yang mungkin saja terjadi jika Minato dan Deidara berada di satu tempat yang sama. Oke itu berlebihan. Setidaknya, sebagai nenek yang baik, ia bisa mencegah terjadinya perdebatan kusir yang tidak perlu antara anaknya dengan cucunya.
Deidara merenggut mendengarnya.
Tsunade kembali berbicara, "Kau tahu, Ayahmu bahkan terlihat ingin mengulitimu tadi. Astaga, Deidara! Bagaimana bisa kau membuat kekacauan sampai seperti tadi? Bisa-bisanya kau menipu kami semua dengan akting murahanmu itu—"
"—Nek, aktingku tadi itu sempurna. Ayah saja sampai percaya begitu," protes Deidara.
"Ya, sangat sempurna, membuat semua orang hampir mati karena syok! Sebenarnya apa yang ada di kepalamu itu? Bisa-bisanya kau menggunakan rasa emosional kami hanya untuk rencanamu itu! Jangan jadikan pembenaran bahwa yang kau lakukan itu demi keluarga kita! Untung saja aku tidak punya penyakit jantung. Aku tidak mengerti, apa yang Kushina makan sampai bisa melahirkan anak sepertimu," omel Tsunade panjang lebar pada cucunya yang masih saja tidak mau disalahkan. Tsunade menghela napas berat kemudian. Dia benar-benar tak menyangka, jika cucunya ini bisa membuat keributan sebesar tadi. Ck, kenapa sih, dia tidak mempunyai satu pun cucu yang bisa bersikap normal seperti manusia pada umumnya? Keluhnya dalam hati.
Deidara membuka mulutnya kembali, hendak melakukan pembelaan diri. Namun tatapan membunuh nan sinis Tsunade langsung membungkamnya. Bisa bahaya kalau sampai neneknya ini marah besar.
Dua jam yang lalu, semua orang terlihat berbahagia menyambut acara pernikahan SasuNaru. Namun hal tersebut langsung musnah akibat ulah dari seorang Namikaze Deidara. Deidara dengan akting sempurna—yang sangat menyebalkan—membuat semua orang dilanda kepanikan heboh. Dia membuat semua orang percaya bahwa Kyuubi, Itachi, dan Sasuke benar-benar tewas. Bahkan Minato yang semula memang mengetahui rencana Deidara tertipu juga. Itulah yang menyebabkan Minato marah besar kali ini. Tidak terima jika dirinya ditipu oleh anaknya sendiri.
Semua tindakan penipuan yang Deidara lakukan itu akhirnya terbongkar. Ketika Shukaku—yang juga ikut membantu Deidara memasuki gereja dengan wajah tanpa dosa, membawa beberapa orang di belakangnya yang mengaku sebagai crew film. Dan mengatakan bahwa semua kejadian tersebut bertujuan untuk referensi pembuatan sebuah film. Ditekankan lagi, hanya untuk sebuah film!
Sebuah film yang akan dibuat untuk mengatasi kekhawatiran Kyuubi tentang karir Naruto, itu alasan Deidara tadi. Dan Deidara ingin film itu sempurna dengan menghasilkan reaksi alami dari setiap pemain. Itulah sebabnya, Deidara tak menjelaskan secara detail rencananya. Hanya menyuruh para undangan membantunya. Terkecuali, Tsunade, Mikoto, Naruto, Sasuke, Kyuubi dan Itachi saja yang tidak di beritahu apapun.
Dan yang paling membuat Tsunade tak habis pikir lagi adalah, Fugaku Uchiha ternyata ikut andil dalam semua rencana Deidara. Dan Fugaku-lah yang ternyata membiayai semua produksi film dengan judul entah apa itu. Jadi tindakannya menampar Deidara tadi juga bisa dipastikan hanyalah sebuah akting belaka.
"Auch! Paman Fugaku keterlaluan, ini 'kan sakit sekali," gerutu Deidara. Mengusap-usap pipinya yang telah diobati Kabuto.
Kabuto sendiri beralih memeriksa lengan Juugo yang patah. Dan sebenarnya luka tersebut diakibatkan oleh robot Shion waktu tadi meringkusnya di gereja.
"Sebenarnya, mengapa Shion sampai mematahkan tanganmu ini? Bukankah semua itu direncanakan?" tanya Kabuto tak habis pikir. Kalau semuanya direncanakan, kenapa juga harus memakan korban seperti ini? Apakah ini yang dimaksud Deidara dengan meminta bantuannya? Kabuto membatin heran dan lelah.
Juugo menatap Deidara takut-takut. Rasanya dia ingin menangis saat pandangannya bertemu dengan Deidara yang sedang menyeringai dingin padanya. Pandangan Deidara seolah berkata, 'Kau katakan, mati kau!' Juugo langsung saja menutup mulutnya rapat-rapat. Ya, karena memang Deidara-lah yang memerintah Shion untuk mematahkan lengannya.
Sangat ironis.
Tidakkah ini sangat tragis bagi hidupnya? Karena perilakunya di masa yang dulu hampir ehem-merape-ehem Naruto, dia harus membuat ayahnya di penjara beserta ibunya yang kini hilang entah ke mana. Dan itu penyesalan terdalam bagi hidupnya. Juugo sudah benar-benar menyesali semua itu kok, sungguh. Dan dia hanya berharap hidup dengan damai.
Namun ternyata takdir berkata lain dan harus mempermainkannya lagi. Ketika beberapa hari yang lalu seseorang—Iruka—datang menemuinya dan memberikan iming-iming, jika dia membantu seseorang, ayahnya yang saat ini di penjara dapat dibebaskan. Sesuatu yang tidak dapat ditolak oleh Juugo. Dia pun akhirnya menyetujui untuk ikut dalam permainan Deidara. Dia disuruh berakting layaknya pembunuh berdarah dingin. Tetapi, siapa sangka kalau manusia yang suka tersenyum ramah itu bisa merencanakan untuk mematahkan lengannya sebagai imbalan dari membantu ayahnya dan juga membayar kesalahannya di masa lalu. Dan hal tersebut dilakukan Deidara tanpa perlu turun tangan sendiri. Yah, masih untung juga sih, Deidara tidak merencanakan dia dalam keadaan tergeletak tanpa nyawa. Dan Juugo yakin, Deidara pernah memikirkan hal itu.
"Kabuto, bagaimana keadaan Kyuubi? Kapan dia akan sadar?" tanya Tsunade.
Kabuto melirik ke arah tempat Kyuubi terbaring. "Kurasa efek sengatan listrik yang dihasilkan Electric Gun itu akan memudar sebentar lagi. Tadi Sasori juga sudah memastikan hal itu. Dia sendiri—selaku penciptanya—menjamin, tidak akan ada sesuatu yang serius terjadi akibat peluru khusus dari senjata itu. Mungkin hanya akan menimbulkan efek kebas dan kesemutan saja," jelas Kabuto.
Tsunade mengangguk mengerti.
Deidara berjalan mendekat ke arah kakaknya itu. Ia meringis menatap keadaan kakaknya.
Electric Gun, berbentuk senapan laras panjang, namun memiliki desain dan bentuk yang dimodifikasi untuk berbagai kegunaan lainnya. Electric Gun adalah senjata yang mengakibatkan Kyuubi terbaring pingsan saat ini. Sebuah senjata yang dirancang tidak mematikan dan melukai, namun cukup menyakitkan apabila tertembak akibat peluru khusus—bukan terbuat dari bahan peluru biasanya—yang dibuat Sasori itu. Dorongan dari alat pemicunya membuat peluru tersebut menghasilkan sengatan listrik yang dapat membuat orang yang terkena peluru tersebut pingsan seketika. Listrik yang dihasilkan peluru tersebut sebenarnya dapat di atur voltasenya sesuka hati, melalui sebuah benda berbentuk seperti speedometer kecil yang terletak pada samping kiri senjata tersebut.
Jika ada yang bertanya, bagaimana peluru yang tidak melukai itu bisa menghasilkan darah dari orang yang tertembak. Itu semua sebenarnya hanya akal-akalan dari Deidara semata—prinsipnya seperti yang terjadi di film-film action. Dan darah yang mengalir di tubuh korban waktu itu memang darah asli, akan tetapi itu bukan darah dari ketiga korban. Dan tentu saja yang Deidara katakan bahwa senjata tersebut diganti oleh Juugo itu bohong. Begitu juga dengan ambulans dan polisi yang datang. Semuanya telah diatur.
Maafkan aku, kak, tapi ini semua harus kulakukan demi kita semua. Deidara membatin kasihan pada kakaknya yang juga harus menjadi korban. Namun tak ada rasa penyesalan dalam dirinya.
Tak berapa lama, Deidara melihat pergerakan dari tubuh Kyuubi.
"Nnnggh …." Kyuubi mengerang, perlahan ia menunjukkan kesadaran yang diusahakan penuh. Dengan mengerjapkan beberapa kali matanya, dan berusaha menggerakkan tubuhnya yang terasa seperti kesemutan. Sejenak ia terdiam memandang langit ruangan yang dia kenal. Kamarnya. Kyuubi yang merasakan kehadiran seseorang di sampingnya menoleh. Wajah adiknya-lah yang langsung menghiasi bola matanya. Sejenak mereka saling bertatapan. Kyuubi berusaha memproses apa yang telah terjadi pada dirinya.
"Kak, kau baik-baik saja?" tanya Deidara khawatir karena Kyuubi yang hanya menatapnya dalam diam.
Kyuubi merasa ada sebuah gong (?) besar berbunyi di kepalanya ketika mendengar suara adiknya itu. Sontak saja membuat otaknya bekerja lebih cepat untuk mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Senjata … laki-laki brengsek … tertembak … sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya … Deidara dan semuanya gelap.
Kyuubi tiba-tiba bangkit dari ranjangnya. Seketika Deidara merasakan alarm berbahaya berbunyi di kepalanya. Deidara perlahan berjalan mundur, menjauhi sang kakak yang tiba-tiba saja mengeluarkan aura tak bersahabat. Tanda bahwa keselamatannya sebentar lagi terancam.
"Dei," terdengar desisan kemarahan Kyuubi ketika menyebut nama sang adik.
"Ya-ya?" jawab Deidara gugup.
"Apa-yang-telah-kau lakukan-padaku?" tanya Kyuubi penuh penekanan dan mematikan.
Deidara langsung menggeleng cepat-cepat.
Kyuubi menyeringai, "Senjata yang dipakai laki-laki itu Electric Gun, bukan? Aku merasakannya. Senjata yang aku pesan dari Sasori sebulan yang lalu." Otak jenius Kyuubi tak perlu waktu lama, untuk mengetahui siapa dalang dibalik dirinya tertembak tadi. Hanya satu orang yang bisa membuat kehebohan besar di gereja tadi. Dan dia yakin adiknya sendirilah orangnya.
Deidara membelalak. Dia tidak tahu kalau kakaknya yang memberi ide tentang Electric Gun pada Sasori. Kekasihnya itu tidak memberi tahu apapun padanya.
Mampus!
"Berani sekali kau menjadikan aku kelinci percobaan! Kemari kau!" seru Kyuubi langsung berusaha menangkap adiknya yang kini berlari mengelilingi ruangan kamar.
"AMPUN KAK! UWAAAAAAA!" teriak Deidara membahana, tidak ingat umur.
"DEIDARA BERHENTI KAU!"
"TIDAK! KAU YANG BERHENTI MENGEJARKU KYUU-NII!"
Dan lagi-lagi terdengarlah keributan. Membuat Tsunade memijat pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut.
"Tsunade-san, apa tidak sebaiknya mereka berdua dipisahkan?" tanya Kabuto yang merasa terganggu dengan pertengkaran tak penting kedua Namikaze.
Tsunade menggeleng, "Percuma, sejak dulu aku pun sudah menyerah kalau dua anak itu sedang bertengkar. Biarkan saja."
Kyuubi melompat dari kasur dan langsung menangkap lengan Deidara. "Jelaskan! Apa maksudmu, huh?" ujar Kyuubi yang kini sedang menekan leher Deidara dengan lengannya.
"Kak, aku ini baru sembuh, ingat?" sahut Deidara susah payah.
"Persetan!" bentak Kyuubi, "cepat beritahu aku!"
Muka Deidara memerah kekurangan oksigen, "Akh—itu-a … aku tidak bisa bernapas."
Kyuubi yang masih sayang adik itu pun akhirnya melepaskan Deidara. Deidara sontak saja langsung terbatuk-batuk.
"Apa maksudmu? Cepat jelaskan!" tuntut Kyuubi tak sabar.
"Uhuk! Uhuk! Yang terjadi padamu itu kebetulan—aku tidak bohong! Itu tidak sengaja! Lagi pula yang menembakmu itu dia!" tunjuk Deidara pada Juugo. Berniat mencari kambing hitam.
Kyuubi langsung mengalihkan pandangannya pada Juugo, yang sudah gemetar ketakutan menyaksikan aura kemarahan Kyuubi.
"I-itu improvisasi … sungguh! Improvisasi!" jelas Juugo gelagapan, "habisnya dia (Deidara) berteriak, jadi otomatis aku—"
"—menembakku, begitu?" geram Kyuubi mendelik, "kau ini pintar sekali mencari alasan, ya? Apa tidak cukup dengan aku yang menghancurkan hidupmu, heh?"
Nyali Juugo langsung menciut begitu saja. Dalam hati dia hanya berharap bisa keluar dari rumah ini hidup-hidup.
Belum sempat Kyuubi meluapkan amarahnya. Tiba-tiba Sasori datang. Dan itu hampir membuat orang yang berada di kamar tersebut bernapas lega.
"Dei, Itachi dan Sasuke sudah sadar," lapor Sasori pada kekasihnya. "Eh? Kyuu? Kau juga sudah sadar? Haa~ baguslah kalau begitu." Sasori menghela napas lega melihat Kyuubi yang segar bugar.
Kyuubi mengernyit mendengar laporan Sasori, "Apa hubungannya dengan manusia Keriput itu?" tanyanya. Yang memang belum mengetahui keadaan sebenarnya.
Deidara mendadak seperti mendapat ilham dalam kepalanya, ketika mendengar berita tentang kesadaran duo Uchiha.
Sasori hendak membuka mulutnya untuk menjelaskan, namun Deidara langsung memotongnya.
"Biar aku yang memberitahunya," ujar Deidara. Tanpa menjelaskan lebih jauh. Dia berjalan menuju sebuah meja dan mengambil sebuah kaset rekaman video. Lalu ia menatap Kyuubi lagi. "Kau tahu? Sebuah gambar bisa menjelaskan lebih dari seribu perkataan," katanya dan menyerahkan kaset rekaman itu pada Kyuubi. "Aku percaya, kau bisa menentukan mana yang baik untuk dirimu, Kak. Yakinlah pada hatimu," ujar Deidara kemudian.
Kyuubi mengambil kaset itu, tanpa mengatakan apa pun. Namun perkataan adiknya itu membekas dalam pikirannya. Menerka maksud di balik kata-kata itu.
Sasori kembali berbicara, "Kelihatannya semua sudah selesai di sini, Dei dan kalian semua diminta menemui Paman Minato. Oh, mungkin kau bisa menenemuinya kalau urusanmu sudah selesai Kyuu."
"Aku juga?" tanya Juugo yang memang tak ada urusan dengan keluarga Namikaze-Uchiha ini.
Sasori tersenyum, "Kalau kau belum mau mati," ujarnya lalu mengerling pada Kyuubi, "silahkan."
Dengan cepat Juugo langsung berdiri dan mengikuti Deidara, Tsunade dan juga Kabuto yang sudah lebih dulu meninggalkan kamar.
.
.
Di ruang keluarga, seluruh keluarga inti sedang berkumpul. Minato duduk di salah satu sofa single di sana. Termasuk keluarga Uchiha juga. Sedangkan Juugo yang tadinya mengikuti, pergi entah ke mana. Karena merasa tidak diperlukan lagi.
"Hai! Ayah, apa kau baik-baik saja?" sapa Deidara tanpa dosa.
Minato menatapnya tajam. Aura di sekitarnya terasa gelap dan menekan.
"Err- sepertinya tidak, ya?" ringis Deidara. "Oh, ayolah Ayah … basa-basi sedikit tidak masalah, bukan? Jangan bersikap kaku begitu, anggap saja semua yang terjadi tadi hanya sebuah game," bujuknya.
"Dengan kami sebagai karakter utamanya? Bagus sekali," sinis Minato.
Deidara tersenyum tipis, "Memang," sahutnya ringan.
Minato mendelik.
"Wow! Tenang Ayah … jangan marah-marah terus. Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya. Kalian tidak perlu menatapku seperti itu," kata Deidara, dia bisa merasakan beberapa orang menatapnya kesal. Kecuali Itachi dan Fugaku yang hanya menatap datar, dan juga Mikoto.
"Berikan alasan yang bagus. Dan jangan main-main denganku, Nak," peringat Minato.
Deidara tersenyum menenangkan, "Aku tidak pernah main-main dengan kebahagian adikku, Ayah." Kemudian ia menatap Naruto, yang berdiri di samping Sasuke, "Naru, kau tahu bukan? Kalau aku sangat menyayangimu?"
Naruto mengangguk sebagai jawaban.
Deidara menatap satu persatu orang yang berada di ruangan itu, "Dan kalian semua juga sudah tahu bukan, kalau kejadian tadi itu untuk pembuatan film terbaru dari Sharingan Entertainment?" tanyanya.
Hampir semua mengangguk. Kecuali Minato yang masih menatap kesal anaknya.
"Satu alasan sederhana, mengapa aku melakukan itu semua. Karena hal itu merupakan sebuah ujian yang harus kulakukan untuk calon adik iparku." Deidara tersenyum pada Sasuke yang memandangnya dengan tatapan tak mengerti begitu pula dengan keluarga Uchiha lainnya. Tapi, tak ada satu orang pun yang berniat menyela Deidara.
"Dulu Ibuku pernah bilang padaku, jika ada seseorang—siapa pun orangnya—yang ingin mengambil salah satu dari kami, orang tersebut harus bisa menjadi seseorang yang 'pantas' mendampingi kami. Bukan pantas karena memiliki harta, jabatan atau kekuasaan …"
Semua orang terpaku pada Deidara.
"… melainkan karena orang tersebut bisa melindungi kami dengan merelakan nyawanya sendiri. Itulah standar kepantasan yang diberitahu Ibu padaku. Dan seperti yang kalian ketahui, Sasuke lulus untuk ujian itu. Dengan tadi dia melindungi makhluk kesayangan kami itu." Deidara mengerling pada Naruto.
Lalu Deidara tertawa kecil, namun terdapat getir kesedihan dalam suaranya, "Mungkin kalian (non namikaze) pikir ini semua tidak masuk akal, tapi menurutku itu semua sangatlah wajar. Karena hal itu merupakan tanda kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Tanda bahwa Ibu benar-benar mencintai kami." Deidara mengalihkan pandangannya pada Mikoto dan tersenyum sendu, "Benar begitu 'kan, Bibi Mikoto?"
Mikoto langsung berdiri dari tempat duduknya dan memeluk Deidara. "Ya, kau benar, Anakku. Ibumu itu memang selalu seperti itu. Selalu berusaha melindungi apa yang dicintainya dengan nyawanya." Mikoto melepas pelukannya dan tersenyum hangat, "Aku senang bisa menjadi bagian dari keluarga kalian. Tapi … bisakah lain kali kau melakukannya dengan cara yang lebih sederhana?" ujarnya setengah bercanda.
Deidara tergelak, "Oh, akan kuusahakan, Nyonya."
"Err- jadi, kau melakukan ini semua untukku?" tanya Naruto kemudian dengan senyum yang tidak disembunyikannya.
Deidara memutar bola matanya, "Tidak, kalau kau bukan adikku."
Naruto langsung saja menerjang kakaknya itu, memeluknya erat. "Sankyuu~ Dei-nii," ujarnya riang. Deidara mendengus sambil mengusap kepala Naruto.
Minato hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan kelakuan anaknya itu. Yang menurutnya semakin mirip dengan istrinya. Selalu berlaku seenaknya untuk memastikan, apa yang terbaik bagi orang-orang yang dicintainya. Benar-benar tidak tertolong lagi sifatnya itu, batin Minato pasrah.
Dan akhirnya semua bisa bernapas lega. Karena hari yang menurut mereka cukup menegangkan dan tidak masuk akal ini berakhir juga.
"Maaf mengganggu, Tuan dan Nyonya," kata Iruka yang baru saja memasuki ruang keluarga.
"Ada apa, Iruka?" tanya Minato.
Iruka tersenyum sopan, dan kemudian beralih pada Deidara, "Deidara-sama semua sudah siap, para tamu undangan juga sudah tiba. Tinggal menunggu kehadiran kedua mempelai," jelas Iruka.
"Oh, begitukah?" kata Deidara, lalu ia menatap Naruto yang memandangnya bingung. Deidara tersenyum, "Naru sebaiknya kau bersiap, Sasuke kau juga. Yang lain sebaiknya langsung saja ke halaman belakang," perintahnya. Tanpa memedulikan raut kebingungan keluarganya.
Deidara malah bengong menyaksikan kebingungan itu, "Loh? Bukannya ini hari pernikahan Naru dan Sasuke? Kenapa bingung? Pendeta sudah menunggu kalian di halaman belakang, Shukaku sudah membantu menyiapkan semuanya, kalian cepatlah ke sana."
"Eum, Deidara-kun," panggil Itachi. Deidara menoleh menatapnya. "Bukankah acara itu batal karena kejadian di gereja?" tanya Itachi.
Kening Deidara berkerut, lalu ia langsung menepuk jidatnya sendiri, "Ya, ampun! Apa aku lupa bilang? Kalau acara sebenarnya sudah di pindahkan di rumah ini?"
Sontak semuanya menatap Deidara sweatdrop. Bisa-bisanya dia melupakan hal penting seperti itu, pikir mereka serempak.
"Iruka, kenapa kau tidak bilang pada mereka, sih?" gerutu Deidara. Iruka yang ditanya malah ikut bingung. Setahunya Deidara tidak memerintahkan hal itu padanya. Dan bukankah yang bertugas mengatakannya adalah Deidara sendiri? Kenapa jadi dia yang kena? Haa~ nasib menjadi pelayan nih, batin Iruka pasrah.
.
Dan setengah jam kemudian mereka semua melangsungkan acara pernikahan itu. Halaman luas yang menurut Deidara di sia-siakan itu berubah menjadi altar pernikahan yang sangat mengesankan. Deidara menggunakan konsep Garden Party untuk pernikahan ini. Warna oranye kalem dan putih mendominasi. Dan Saat sumpah setia seumur hidup itu terucap dilanjutkan kecupan lembut kedua mempelai, para hadirin menatap haru kejadian itu. Kali ini dapat benar-benar berbahagia.
"Dobe, sepertinya kau benar," kata Sasuke selepas ritual pernikahan. Mereka saat ini sedang menyapa setiap para tamu yang datang.
"Hem?" gumam Naruto.
"Deidara, lebih baik dijadikan teman daripada musuh," jelasnya. Naruto hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Kalian menikmati pestanya?" tanya Deidara yang tiba-tiba saja mendekati pengantin baru itu.
"Ya, Dei-nii, terimakasih," jawab Naruto tersenyum gembira.
"Bagaimana denganmu?" tanya Deidara pada Sasuke.
"Aku menikmatinya, terimakasih untuk semua yang kau lakukan," ujar Sasuke.
Deidara tersenyum, "Tidak masalah, selama adikku bahagia. Oh ya, maaf aku menggagalkan acara yang sudah kau susun tadi."
Sesaat Sasuke seperti merasakan Deidara menatapnya dengan kilat ganjil.
"Eh, kalian ngobrol dulu saja, Kiba memanggilku," kata Naruto tiba-tiba dan langsung pergi begitu saja.
"Hei, apa aku harus memberikan ucapan selamat karena kau berhasil mengikat adikku?" tanya Deidara dengan tatapan ramahnya, ketika Naruto sudah tak terlihat, terhalang kerumunan para undangan. Tapi Sasuke langsung tahu jika ada sesuatu yang ganjil dari sikap Deidara. Karena, walaupun Deidara bersikap ramah padanya, namun berbeda dengan nada yang dilontarkannya. Datar dan dingin. Itu yang Sasuke tangkap dari pendengarannya.
Sasuke mendengus. "Hn," gumamnya tak jelas. Otaknya langsung mengerti kalau Deidara membantunya ini, bukan tanpa maksud tertentu. "Apa yang kau inginkan?" tanya Sasuke langsung.
Deidara menyeringai, "Kuakui kau cukup pintar untuk mengetahui maksud tindakanku." Dan beberapa detik kemudian dia malah mengalihkan pembicaraan. "Kudengar kalian sering bertengkar."
"Hn."
Deidara mencibir mendengar respon Sasuke. Benar apa kata kakaknya, Uchiha itu menyebalkan!
Deidara berdecak, "Dengar, keegoisanmu itu tidak akan membuat adikku bertahan lama berada di sisimu, kau tahu?"
"Terima kasih atas saranmu," sahut Sasuke datar. Lalu seringai kemenangan ia perlihatkan, "Kalau kau mau tahu, aku sudah belajar tentang itu. Dan buktinya, dia tetap memilihku. "
Deidara menatap adik iparnya sinis. Lalu berkata dengan ekspresi datar, "Omong-omong, setahuku, seorang Uchiha itu tahu caranya berterimakasih, benar tidak?"
"Hn?"
Deidara menyeringai licik. Setidaknya membiarkan adiknya berada di tangan Uchiha tidak buruk juga. Bahkan ini menarik, karena dia bisa menjadikan seorang Uchiha …
"Bagaimana kalau kau memulainya dengan mengambilkan aku segelas minuman?"
… pelayan barunya.
.
.
Itachi baru saja hendak mengambil minuman yang tersedia. Namun terhenti ketika melihat tangan seseorang yang bertujuan sama dengannya.
"Itachi-san," ujar Sasori sedikit terkejut.
Itachi mengangguk dan mengambil dua gelas minuman, satu untuknya dan satunya lagi untuk Sasori. Sasori mengucap terimakasih dan menerimanya.
"Electric Gun," kata Itachi membuka pembicaraan, "penemuan yang mengesankan."
"Bukan hal yang patut dibesar-besarkan," balas Sasori, ia kemudian tersenyum menyesal, "Dan maaf karena kau harus menjadi bahan percobaan."
"Tidak masalah. Setidaknya aku belum mati," sahutnya datar seraya menenggak minumannya.
Sasori tertawa canggung. Lalu mengalihkan pembicaraan, "Oh, ya. Aku ingin berterimakasih," katanya.
"Terimakasih?" ulang Itachi tak mengerti.
"Ya, karena kau membantuku mendapatkan ini." Sasori memperlihatkan sebuah tiket perjalanan.
Itachi terdiam sejenak. "Aku tidak pernah merasa, jika aku telah menolong orang hari ini."
"Oh, tentu saja tidak. Tapi … berkat kau yang sudah menjinakkan Rubah liar itu, aku memenangkan suatu kesepakatan. Sebuah tiket liburan selama satu bulan bersama Dei-chan."
Tatapan Itachi berubah dingin, "Siapa saja yang ikut dalam taruhan itu?" tanya sedikit kesal, karena dirinya dijadikan bahan taruhan.
Sasori kali ini tak memedulikan tatapan itu, "Hampir semua orang yang ada di sana." Dia menunjuk tempat di mana Namikaze sedang berkumpul, "Kecuali Kyuubi, tentu saja. Aku satu-satunya orang yang berpendapat bahwa kau bisa membuat Rubah itu jinak. Dan seminggu yang lalu kau membuktikannya."
Itachi memandang Sasori skeptis. Jadi dia diawasi, eh?
"Bagaimana mungkin kau yakin bahwa Kyuubi mempunyai perasaan padaku?" tanya Itachi akhirnya, tidak mau ambil pusing dengan para mata-mata Namikaze.
Sasori tersenyum misterius, "Hampir setengah hidupku, aku habiskan bersama mereka … setidaknya dari waktu yang kuhabiskan bersama mereka itu, aku bisa mendapatkan satu pola pasti, bagaimana keluarga itu akan menerima seseorang yang berarti dalam hidupnya …"
"Hn?" respon singkat Itachi.
Sasori menyeringai, "Satu pola yang aku tahu dari keluarga itu. Kau tahu? Mereka itu selalu membutuhkan orang-orang yang selalu dihindari, tapi tidak mungkin bisa dilawan. Naruto contoh pastinya. Bukankah dari yang kita dengar, dulu dia selalu menghindari adikmu? Tapi tidak sekalipun Naruto terlihat dapat menjauhinya."
Itachi memandang Kyuubi dari kejauhan, yang sedang menyapa para staff A'A cafe, "Daya analisismu cukup baik. Tapi aku rasa Kyuubi berbeda." Ia mengingat sikap kyuubi yang selalu menolaknya. Itachi mengakui bahwa itu menyakitkan. Yah, mau bagaimana pun dia tetap manusia biasa, bukan?
Sasori hanya tersenyum maklum, "Kalau begitu, kurasa kau masih harus mengenalnya lebih dalam lagi, Itachi-san. Percayalah, kau satu-satunya orang yang Kyuubi butuhkan. Dia itu tidak pernah membiarkan orang yang tidak disukainya berada di dekatnya."
"Omong-omong," kata Itachi mencoba mengalihkan pikirannya, tidak mau terlarut dalam harapan semu, "apa Deidara memang orang yang seperti itu?"
"Seperti itu? Aku tidak yakin apa yang kau maksud. Tapi, kalau maksudmu Deidara itu orang yang seenaknya … ya, kupastikan hal itu."
"Dan yang kulihat kau sama sekali tidak keberatan dengan itu."
"Kenapa harus?"
Itachi mendengus, sepertinya sekarang dia mengerti, maksud dari perkataan Kyuubi waktu di atap A'A café. "Kau benar-benar memanjakannya, ya? Rela melakukan apa pun untuknya. Terlihat seperti … budak."
Sasori tersenyum tipis, dia tidak tersinggung dengan istilah yang digunakan Itachi itu, karena dia sudah sering mendengarnya, yah siapa lagi kalau bukan Kyuubi yang mengatakannya. "Kyuubi yang mengatakannya padamu? Dasar anak itu," gerutunya.
Kemudian Sasori terdiam, membuat Itachi meliriknya heran. Sasori memutar gelas di tangannya, lalu menenggak isinya dan melanjutkan, "Tapi, mungkin Kyuubi ada benarnya …." Sasori menyeringai, mengerling pada Itachi, "Kau tidak akan pernah tahu, betapa menyenangkannya menjadi budak seorang Namikaze Deidara."
Itachi mendengus jengah, "Well, kau yang paling tahu," katanya. "Dan kalau boleh tahu, sebenarnya apa arti Deidara bagimu?"
Sasori terkekeh, lalu ia memandang sosok kekasihnya yang berada tak jauh darinya, sedang tertawa lepas dengan Naruto. "Bukankah mereka kuat?" tanya Sasori out of topic.
Itachi langsung saja sweatdrop. "Hn?" gumamnya, tak mengerti. Mengapa Sasori bisa mengalihkan pembicaraan secepat itu.
Namun sepertinya Sasori tidak memedulikan hal itu, dan kembali berkata, "Ya, bukankah mereka keluarga yang kuat? Saling melindungi, menopang, dan memastikan kebahagian satu sama lain, tak peduli seberapa berat kesedihan yang mereka alami … sejujurnya aku iri."
Itachi menatap Sasori sejenak dan mengalihkan pandangannya pada kebersamaan keluarga Namikaze di depan mereka. "Sepertinya, aku mengerti perasaanmu," kata Itachi.
Sasori mengalihkan pandangan pada lawan bicaranya, "Hei, apa kau percaya pada kebahagian abadi?" tanyanya.
Itachi tidak berusaha membalas tatapan Sasori, "Bukankah itu hanya hal semu? Di dunia ini tidak ada yang abadi."
Sasori mengangguk mengerti dengan pemahaman Itachi. "Dulu, aku juga berpikir sepertimu. Kebahagian abadi itu semu. Tidak nyata."
Itachi menoleh, "Dulu?"
"Ya, dulu. Tapi setelah aku bertemu Dei-chan seolah semua yang aku percayai itu musnah begitu saja. Dia bisa membuatku merasa, apa yang aku yakini sebelumnya sama sekali tidak berarti."
"Kedengarannya menakutkan," celetuk Itachi spontan.
Sasori tertawa kecil, "Memang," akunya. "Tapi setelah aku bertemu dengannya, aku tahu bahwa pemikiranku itu salah. Kebahagian abadi itu memang ada. Itu bukan ilusi—aku tidak gila Itachi-san jangan menatapku seperti itu," gerutu Sasori ketika Itachi menatapnya aneh, seolah dia itu makhluk dari planet lain.
"Hn."
Sasori berdecak, nada bicaranya sedikit sinis, "Mungkin ini terdengar aneh di telinga laki-laki dingin sepertimu. Tapi aku yakin, kau pernah merasakannya, kalau kau memang benar-benar mencintai Kyuubi."
Itachi tanpa sadar mengangkat alisnya, Sasori menghiraukannya dan kembali melanjutkan, "Kebahagian abadi itu ada," yakinnya, "dengan syarat, kau harus mensyukuri segala kebahagian kecil di sekitarmu, benar-benar memahami apa yang kau rasakan, menghargai apa yang telah kau miliki, dan merelakan apa yang memang bukan milikmu. Menurutku, kebahagian abadi itu adalah, ketika aku bersyukur bahwa orang-orang yang kucintai masih bisa tersenyum, menghargai kebahagian mereka, menerimaku apa adanya, dan bisa kulindungi dengan kekuatanku sendiri. Dan berharap, itu semua terjadi bahkan setelah aku mati, itulah mengapa aku menyebutnya abadi," jelas Sasori panjang lebar.
Selama beberapa saat tak ada yang berbicara. Otak jenius Itachi berusaha mencerna apa maksud di balik perkataan Sasori. Hingga akhirnya ia berdeham kecil, dan berkata, "Prinsip hidup yang menarik. Jadi … maksudmu Deidara merupakan segala sumber kebahagianmu, begitu? Seperti itukah arti dirinya untukmu?"
Sasori mengangkat bahu, "Sederhananya, dia itu hanya seorang bocah cerewet yang selalu mengikutiku ke mana saja dan dengan mudah menghancurkan dinding pertahanan yang kubangun."
"Dan mengajarimu tentang arti sesungguhnya 'kebahagian abadi' yang semu itu. Itulah mengapa kau mencintainya," tambah Itachi mengerti. "Kau tahu? Kurasa kau itu tipe pria yang melankolis."
Sasori tergelak, "Banyak yang bilang, dan asal kau tahu, itulah sebabnya Deidara sangat mencintaiku," ujarnya bangga.
Itachi memutar bola matanya dan mendengus, "Kau mengejekku?" ketusnya.
Sasori berusaha menahan tawanya, "Untuk apa? Toh, aku tahu, Kyuubi juga mencintaimu."
Itachi menatap ragu Sasori, namun akhirnya tersenyum tipis, "Entahlah, tapi terimakasih karena sudah menghiburku."
"Sejujurnya," kata Sasori sambil tersenyum geli, "aku bukan tipe orang yang suka menghibur, selain untuk kekasihku tentunya. Bersabarlah. Dan selamat bergabung di keluarga ini. Senang mengobrol denganmu." Sasori menepuk bahu Itachi singkat, kemudian berjalan menghampiri Deidara yang melambaikan tangan memanggilnya.
Selepas kepergian Sasori, tanpa bisa ditahan Itachi menghembuskan napas berat. Memikirkan perkataan Sasori itu. Apa benar bahwa Kyuubi membutuhkan dirinya? Mencintainya? Kalau memang seperti itu, kapan tiba hari dimana Kyuubi bersedia menerimanya?
"Kuharap, apa yang kau katakan itu benar, Sasori-san," gumam Itachi pada dirinya sendiri dan helaan napas ia lakukan.
"Hentikan aura suram di sekitarmu itu, Keriput. Kau ingin membuat para undangan kabur, eh?" ujar Kyuubi sinis—seperti biasa. Kyuubi baru saja selesai menyapa tamu yang dia kenal dan berniat melepas dahaganya dengan mengambil segelas minuman yang disediakan di meja. Dan awalnya dia berniat mengabaikan Itachi yang tadi masih mengobrol dengan Sasori. Namun entah mengapa mulutnya bergerak sendiri.
Itachi tersentak, ia berbalik menatap Kyuubi kaget.
"Apa-apaan tatapanmu itu? Memangnya aku hantu?" sengit Kyuubi.
Itachi kembali bersikap normal, lalu ia berdecak, "Bukan begitu Kyuu, aku hanya kaget, karena tiba-tiba kau menegurku, itu saja."
Kyuubi mendengus. Dan mereka berdua tiba-tiba terdiam. Seketika suasana di antara mereka entah mengapa berubah canggung. Memang sih, sejak Kyuubi sadar, dia belum berbicara dengan Itachi sedikit pun. Apalagi pikirannya dipenuhi oleh isi rekaman video yang Deidara berikan padanya. Tentang Itachi yang rela membelanya tanpa takut kehilangan nyawanya sendiri. Dan perkataan adikknya kembali terngiang di benakknya.
"Aku percaya, kau bisa menentukan mana yang baik untuk dirimu, Kak. Yakinlah pada hatimu."
Tanpa sadar Kyuubi menghela napas kecil.
"Itachi."
"Kyuu."
Mereka berdua berbicara bersamaan dan membuat suasana bertambah canggung. Namun, setelah beberapa saat saling bertatapan, tawa mereka meledak. Para tamu undangan sampai menatap mereka heran.
"Astaga! Bagaimana bisa aku bersikap seperti remaja tanggung yang baru saja jatuh cinta, ini memalukan!" ujar Itachi tak percaya dengan tingkahnya sendiri.
"Kau memang memalukan, Keriput!" timpal Kyuubi menyetujui sambil tertawa lepas. "Aku juga tak percaya, kalau aku bisa-bisanya berpikir ingin menjalin hubungan dengan orang memalukan sepertimu," ujarnya lagi tanpa sadar dan masih saja terus tertawa.
Itachi sontak saja langsung menghentikan tawanya, menatap Kyuubi tak percaya. A-apa? Apa dia tak salah dengar? Kyuubi ingin menjalin hubungan dengannya? INI SERIUS?
"Kau—apa tadi Kyuu? Kau ingin menjalin hubungan denganku? Kau serius?" tanya Itachi beruntun dengan wajah penuh harap.
Kyuubi langsung saja membeku dan dengan cepat menutup mulutnya sendiri. "Hah? A-apa yang kau bicarakan, Keriput? Ma—mana mungkin aku ingin menjalin hubungan denganmu. Kau salah dengar," geleng Kyuubi cepat seraya tertawa gugup. Wajahnya merah padam.
"Sudahlah Kyuu-nii … mengaku saja. Kau tidak mungkin menemukan orang seperti Itachi di tempat lain. Orang yang bersedia mengorbankan nyawanya untukmu. Ibu kita juga pasti setuju," celetuk Deidara tiba-tiba, yang memang sedari tadi memerhatikan kakaknya itu. Sasori di sebelahnya memberi anggukan menyetujui.
Kyuubi langsung menatap tak percaya seluruh keluarganya, yang entah sejak kapan sudah berada di sekelilingnya. Kyuubi benar-benar kehilangan kata-kata kali ini.
"Benar, katakan saja kau mencintainya, dan semuanya beres," timpal Naruto ringan di sebelahnya Sasuke sedang merangkul pinggangnya.
Kyuubi langsung saja menyerangnya dengan deathglare mematikan. Dan kali ini tak mempan sama sekali.
"Apa?" tantang Naruto, "kau 'kan memang mencintainya. Memangnya salah kalau kau mengatakannya?"
Kyuubi hendak menjitak kepala adiknya itu. Namun tangan Minato menahannya. Naruto tersenyum penuh kemenangan.
Lalu Minato ikut membuka suara, "Setidaknya, Ayah harap, saat kau berhubungan dengannya. Dia bisa memperbaiki sikap kasarmu itu," ujarnya, "kau tahu, Ayah sudah bosan menghadapi kelakuanmu."
Kyuubi melotot pada Minato. "YA! Ayah macam apa kau itu! Sama sekali tidak mendukung anaknya!" sungutnya.
Minato tersenyum, "Sayangnya dukunganku tidak kuberikan pada anak yang tidak sopan."
Kyuubi hendak membuka mulutnya untuk protes, namun Mikoto mendahuluinya.
"Nak, Kyuubi," panggilnya lembut. Kyuubi otomatis menoleh padanya. "Aku tahu, anakku itu memang dingin dan tidak berperasaan, tapi aku pastikan dia anak yang baik. Dan bila bersamamu bisa membuat dia lebih manusiawi, apakah aku bisa memintamu menjaganya?" tanya Mikoto dengan senyum lembut khas seorang ibu.
Kyuubi melakukan gerakan membuka dan menutup pada mulutnya. Namun tak satu kata pun terucap. Haduh … dia memang paling lemah menolak keinginan orang macam Mikoto. Apalagi dengan senyum lembut begitu. Dan sekarang dia bingung harus menjawab apa. Hatinya ingin langsung menyetujui permintaan Mikoto, namun gengsinya melarang.
"Ibu, aku menghargai pembelaanmu, tapi bukan Kyuubi yang menjagaku, aku yang akan menjaganya. Jangan merusak harga diriku begitu," ujar Itachi tak terima.
Mikoto menatap anaknya masih dengan senyum yang sama, "Oh, maaf sayang. Tapi memangnya … sejak kapan kau mempunyai harga diri di depanku?"
Kali ini Itachi betul-betul melupakan ekspresi turun temurun seorang Uchiha. Dia menganga dengan tidak elitnya mendengar komentar dari ibunya. Sangat menyucuk dan menyakitkan. Semua orang terkikik mendengarnya. Fugaku berdeham keras membuat anaknya sadar untuk tidak mempermalukan keluarga mereka dengan ekspresi bodoh yang diperlihatkan Itachi. Beruntung Itachi akhirnya cepat sadar. Dan kembali bersikap normal.
"Sudahlah, tidak usah berbelit-belit. Kenapa kalian tidak langsung menikah saja? Pendetanya juga masih di sini," sahut Tsunade asal.
"Nenek Tua!" protes Kyuubi. Wajahnya benar-benar merona hebat.
Tsunade menggelengkan kepala melihat raksi cucunya, "Kenapa? Memangnya aku salah bicara?"
Namun bukannya Kyuubi yang menjawab. Malah seluruh keluarganya yang langsung menyetujui usul Tsunade. Kyuubi langsung mengerang. Tak percaya keluarganya begitu sangat abnormal.
"Jadi Kyuu, apa kau benar-benar ingin bersamaku?" tanya Itachi memastikan.
Kyuubi memandangnya tak percaya, lalu beberapa detik kemudian ia menghela napas berat. "Kau benar-benar menyebalkan, Keriput! Bahkan keluargaku pun membelamu. Dan sekarang kau masih menyuruhku menegaskan hal memalukan itu? Kau mau mati, hah?" jawab Kyuubi bersungut-sungut berusaha bersikap sesinis mungkin, kontras dengan wajah merah yang sudah seperti apel kesukaannya. Dalam hati benar-benar tak percaya bahwa akhirnya dia menyerah di depan seluruh keluarganya. Ini memalukan!
Itachi yang tak bisa menahan rasa gembiranya. Langsung menyambar tubuh Kyuubi dan memeluknya erat.
Kyuubi mendengus. Tak lama ia membalas pelukan Itachi, lalu tersenyum kecil. Yah … setelah dipikir-pikir ini tidak buruk juga.
Itachi melepas pelukannya, dan menatap Kyuubi lembut karena rasa bahagianya. "Kau tahu, Kyuu? Hari ini adalah ulang tahun yang paling sempurna dalam hidupku. Terimakasih," ujarnya.
Kyuubi terkejut mengetahuinya, namun dia tidak bisa mengatakan apapun ketika Itachi langsung saja membungkamnya dengan bibirnya. Ck, dalam hati Kyuubi menggerutu. Tidak adik, tidak kakak, dua-duanya tidak tahu malu!
Dan pemandangan itu di sambut meriah oleh para undangan. Hari itu semua orang ikut berbahagia menyaksikannya.
"Jadi kau sudah benar-benar merelakan mereka?" tanya Tsunade kemudian pada anaknya.
Tanpa menatap ibunya Minato, berkata, "Merelakan atau tidak, yang bisa kulakukan sekarang hanya percaya pada keputusan mereka. Setidaknya aku bisa bernapas lega, karena ketika nanti mereka mengalami rintangan dalam hidup mereka masing-masing, ada yang bisa menopang mereka. Dulu kau pun juga berpikir seperti ini, 'kan Ibu?"
Tsunade mendengus, "Tapi aku lebih mempercayai Kushina daripada dirimu."
Minato terkekeh, dan tiba-tiba dia mendengar seseorang memanggilnya dari kejauhan. Mata Minato menyipit sekilas melihat seseorang yang melambai padanya. Lalu sebuah seringai langsung terbentuk di wajahnya.
"Hei, Bu," panggil Minato pada Tsunade yang masih menyaksikkan kebersamaan cucu-cucunya.
Tsunade menoleh.
"Bagaimana kalau kau juga menerima kebahagianmu?" tanya Minato, pandangannya masih terfokus pada pria yang kini berjalan ke arahnya.
Kening Tsunade mengernyit, lalu ia mengikuti arah pandangan anaknya. Sontak saja ia langsung memekik kaget, ketika melihat seorang pria yang sangat dikenalnya dan sejak dulu merupakan sahabatnya. Jiraiya.
"Astaga! Siapa yang mengundangnya?"
Minato menggelengkan kepalanya melihat tingkah ibunya itu. Lalu ia kembali menatap ketiga anak-anaknya yang kini sedang berdebat tak jelas. Senyum bahagia itu tak pernah lepas dari wajahnya. Minato kemudian menengadah menatap langit luas tanpa awan.
Kau lihat itu Kushi-chan? Akhirnya mereka bisa menemukan kebahagian yang selama ini kau inginkan … selamat sayang.
.
::A::C::The Wedding::J::S::
.
Dua tahun kemudian
Tap! Tap! Tap!
Langkah itu terkesan sangat buru-buru saat menapaki lorong rumah sakit yang kini sepi. Sedikit peluh menetes dari wajah pemilik Rasengan corp ini. Minato berjalan dengan terburu-buru hanya untuk mencapai sebuah kamar di rumah sakit Konoha International Hospital. Ekspresi wajahnya menampakkan kecemasan yang sangat jelas. Sedikit merasa de 'javu sebenarnya, karena bukan sekali ini dia mengalami kecemasan semacam ini. Namun bedanya, dulu ia berlari di lorong rumah sakit dengan diliputi kecemasan akibat kesedihan dan duka yang mendalam karena kehilangan wanita yang dicintainya. Tetapi sekarang kecemasan itu disertai dengan rasa haru yang membuncah.
Minato terus berjalan, hingga ia tiba di sebuah ruangan VIP di rumah sakit tersebut. Lalu ia berusaha sebentar menetralkan napasnya yang sedikit memburu, dan kemudian memasuki kamar tersebut. Tatapan Minato langsung saja terfokus pada sosok anaknya yang terbaring tidak sadarkan diri di ranjang dalam kamar tersebut. Minato juga dapat melihat menantunya sedang duduk di samping ranjang anaknya. Sasuke menggenggam lembut tangan anaknya.
Minato mendekat dan menepuk pelan bahu Sasuke yang sejak tadi tatapannya terpaku pada Naruto. Tidak menyadari sedikit pun kehadirannya, seolah Naruto itu adalah pusat dunianya. Dan Minato tahu, bahwa hal itulah yang terjadi.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Minato.
Sasuke tersentak, kemudian menengadah pada Minato yang masih memandang Naruto. "Dia masih belum sadarkan diri, akibat pengaruh bius saat operasi tadi," jelas Sasuke
Minato mengangguk, kemudian dia beralih memandang Sasuke, "Sekarang biar aku yang menjaganya."
Sasuke langsung menggeleng, "Aku ingin menemaninya," tolaknya.
"Aku tahu kau mencemaskannya, tapi bukankah saat ini ada seseorang lagi yang membutuhkanmu?"
Sasuke terkesiap. Bagaimana mungkin dia bisa lupa dengan seseorang yang dimaksud Ayah mertuanya itu?
Minato tersenyum, "Sudahlah, biar aku yang menjaga Naruto. Sebaiknya kau jemput dia, aku ingin melihatnya juga."
Sasuke akhirnya menuruti perkataan Minato, dia berdiri dan kemudian mendekatkan diri pada Naruto dan menunduk hanya untuk sekedar memberikan kecupan sayang di dahi Naruto. Namun baru saja dia hendak keluar, mendadak seseorang membuka pintu dan masuklah Kyuubi, Itachi, Deidara dan Sasori.
"Bagaimana dia?"
"Apa kata dokter?"
"Semuanya baik-baik saja, 'kan?"
Pertanyaan beruntun itulah yang langsung menyerang Sasuke, dan mendadak pandangannya di penuhi wajah Kyuubi, Deidara serta Sasori, dengan Kyuubi yang mengguncang tubuhnya. Sedangkan kakaknya sendiri hanya memasang raut datar dan melangkah masuk mendekati ranjang di mana Naruto terbaring.
"Semua baik-baik saja, Anak-anak, kalian tidak perlu sepanik itu. Sasuke baru saja mau menjemput keluarga baru kita, dan kalian menghalanginya," sahut Minato.
Kyuubi langsung mengalihkan pandangannya pada Ayahnya. Lalu ikut mendekati ranjang adiknya. Deidara dan Sasori langsung bernapas lega mendengarnya.
"Tapi, di mana Mikoto dan Fugaku?" tanya Minato. Kalau Tsunade sendiri memang tidak bisa datang dikarenakan acara liburannya dengan Jiraiya di luar negeri atau lebih tepat disebut Honey moon.
"Ibu dan Ayah sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota, dia bilang akan segera pulang secepatnya," jawab Itachi.
"Oh, begitukah?" ujar Minato mengerti, dan kembali ia menatap Sasuke yang masih berdiri mematung. "Sasuke? Kau tidak apa-apa?" tegurnya.
Sasuke tersentak. "Aku tidak apa-apa," jawabnya dan langsung pergi begitu saja.
"Adikmu jadi bodoh, tuh," celetuk Kyuubi pada Itachi, mengomentari tingkah Sasuke yang seperti orang linglung.
"Hn, sepertinya dia masih shock," sahut Itachi membenarkan.
"Yah … mau bagaimana lagi, ini bukan suatu hal yang wajar sih, tidak setiap hari bukan melihat seorang laki-laki melahirkan?" timpal Deidara. Yang di setujui oleh yang lainnya.
Memang benar sekitar satu setengah jam yang lalu Naruto telah melakukan operasi sesar guna untuk melahirkan anaknya. Dan Sasuke-lah yang senantiasa menjaga Naruto saat itu. Tentu saja.
Minato kemudian mengusap lembut rambut Naruto. "Dia benar-benar sudah berjuang keras," ujarnya. Semua ikut memandang wajah damai Naruto. Dan tiba-tiba terjadi pergerakan pada tubuh Naruto, menandakan reaksi obat bius pasca operasi yang telah hilang.
Naruto membuka matanya, mengerjap beberapa kali hingga kesadarannya mulai penuh. Naruto terdiam beberapa detik, dan kemudian tersentak kaget seraya membuka selimut yang di gunakannya untuk melihat keadaan tubuhnya. Hal itu juga membuat orang-orang di sekitarnya sedikit kaget karena reaksi Naruto yang tiba-tiba.
"Naru, kau baik-baik saja?" tanya Minato.
Naruto langsung menoleh pada Ayahnya, seketika ia masih merasakan pening di kepalanya, efek dari obat bius ternyata belum hilang sepenuhnya dan wajahnya meringis merasakan sakit di daerah perutnya.
"Naru?" tegur Deidara. Semua orang di sekitarnya memandangnya cemas.
Sambil menyangga kepalanya dengan tangan ia menatap satu persatu keluarganya yang dia sendiri tadi tidak sadari keberadaan mereka. "Aku tidak apa-apa," ujar Naruto menenangkan. Lalu ia terfokus pada ayahnya, "Ayah, apa dia …"
"… Dia baik-baik saja anakku, kau tidak perlu khawatir," potong Minato yang langsung mengerti apa yang dimaksud anaknya itu. Naruto langsung bernapas lega mendengarnya.
Dan tak lama kemudian pintu terbuka memunculkan sosok Uchiha Sasuke, Kabuto, dan seorang suster rumah sakit. Dalam gendongan suster tersebut terdapat sesosok bayi mungil.
"Apakah itu dia?" tanya Naruto pada Sasuke.
Sasuke mengangguk dan senyum tipis terlukis di bibirnya.
Kabuto ikut tersenyum senang, "Putri yang sangat cantik, kau benar-benar hebat Naruto," pujinya dan menyuruh Suster itu menyerahkan bayi mungil dalam dekapannya pada Naruto. Awalnya Naruto sedikit takut, karena ia memang tidak pernah menggendong seorang bayi sebelumnya, namun sang suster meyakinkannya. Akhirnya Naruto memberanikan dirinya menggendong malaikat kecilnya walau terlihat sangat kaku.
Entah bagaimana Naruto dapat menggambarkan perasaannya, ketika dia bisa merasakan janin yang selama ini berada di dalam perutnya kini berada di tangannya. Air mata haru itu langsung saja menetes ketika dia melihat bagaimana rupa putri kecilnya. Tubuhnya yang mungil terlihat sangat rapuh, membuat Naruto langsung ingin melindunginya. Lalu kulitnya yang masih berwarna kemerah-merahan, dan juga surai pirang yang melekat di kepalanya yang terasa begitu lembut. Dia begitu sempurna.
"Cantik …" gumam Naruto sambil membelai lembut wajah bayi mungilnya. Naruto tersenyum ketika putri kecilnya itu menggeliat dalam pelukkannya, seolah ingin menyamankan diri dalam pelukan Naruto.
Sasuke mendekat pada Naruto dan kemudian berbisik di telinganya, "Terimakasih atas keajaiban yang kau berikan pada kami."
Naruto tertegun sesaat, lalu ia tersenyum lembut pada Sasuke, "Bukan padaku kau berterimakasih, tapi kita harus berterimaksih pada Kami-Sama yang membiarkan aku memiliki keajaiban ini."
"Ya, kau benar," ujar Sasuke dan kemudian memberikan satu kecupan kecil di bibir Naruto, "dan tentu saja dirimu, yang mempertahankannya."
"Hei! Lihat!" seru Kyuubi tiba-tiba menunjuk pada keluarga baru mereka.
Semua orang langsung terpana seketika, saat bayi mungil dalam gendongan Naruto membuka matanya walau dia masih belum bisa melihat.
"Ibu …." ujar Deidara tanpa sadar, dia memandang bayi kecil itu tak percaya.
Minato mendekat untuk melihat lebih jelas, ia kemudian menyentuh lembut wajah cucunya. Rasanya Minato tak dapat mempercayai apa yang dilihatnya. Cucunya, anak yang menurut mereka sebagai keajaiban tak tergantikan itu, kini memiliki mata dari wanita yang dicintainya. Bola mata yang terlihat teduh sewarna zamrud di lautan lepas.
"Kushina," lirih Minato berkaca-kaca. Dia seolah merasakan istrinya kembali hidup dalam diri cucunya.
"Sepertinya dia merasakan kebahagian kita, lihatlah senyumnya itu." Itachi menatap sang bayi mungil menampilkan sebuah senyum yang menurut Itachi sangat manis. "Seperti benar-benar ingin membuat kita semua jatuh cinta padanya," tambahnya lagi dengan senyum terukir di wajahnya.
"Bukankah itu sifat alamiah seorang bayi? Mereka itu berbahaya, membuat kita jatuh cinta sebelum kita menyadari apa yang terjadi," tanggap Sasori pada Itachi.
Sejenak mereka hanya memandangi malaikat kecil yang kini hadir di keluarga mereka.
"Jadi, siapa nama bayi ini?" tanya Kyuubi kemudian.
"Siapa?" ulang Naruto dan kemudian ia menatap Sasuke, memberi kuasa penuh padanya untuk menamai anak mereka. Senyum lembut langsung terukir di wajah Sasuke. Sasuke menunduk untuk memberikan kecupan kecil di dahi anaknya.
"Her smile is our happiness too, right? Our Shina …."
.
.
::OWARI::
.
.
Yup! Kali ini bener-bener Tamat, akhirnya… \(^0^)/
Thank's a lot untuk kalian semua yang udah mengapresiasi fic ini. m(_ _)m Para Reviewer, yang udah fave ato alert dan juga Silent readers sekalian *bungkuk dalem-dalem*
Pokoknya Ren hanya bisa ngucapin terimakasih…^^ dan maaf untuk apapun kekurangan fic ini ^_^
Okelah kalau begitu, yang ingin meninggalkan pesan dan kesan kalian, puas atau tidaknya silahkan pilih kotak review di bawah…
Bye-Bye~ *lambai-Lambai*
