Jarum pendek perlahan sudah berjalan melewati angka 6. Menandakan bahwa pagi hendak merambat pada siang hari.
Kedua sosok itu, si manis dan si tampan, putra dan menantu keluarga kim, di hasi yang terlalu siang untuk para pekerja dan terlalu pagi bagi para siswa untuk berangkat ke sekolah. Nyatanya, keduanya kini tengah duduk dengan berjajar pada kursi bus yang mereka tumpangi.
Tak terlalu ramai. Bahkan masih ada beberapa bangku yang kosong.
Kesunyian terasa menyelimuti kedua. Baik Wonwoo maupun Mingyu, mereka sepertinya tak berniat untuk memulai sebuah percakapan. Kemudian, entah karena suasana pagi yang terlalu indah, sepertinya itu cukup berpengaruh. Membuat wonwoo tiba-tiba saja berdehem pelan dan memulai sebuah percakapan yang membuat Mingyu pada akhirnya memutar kepala dan membelalakan kedua matanya.
"Aku minta maaf". Ucap Wonwoo singkat. Bahkan tanpa menoleh sedikitpun pada Mingyu yang kini tengah duduk di sampingnya.
"Hm?"
"Maafkan aku atas kejadian kemarin, aku tak bermaksud melakukannya"
"Ah… "
"Aku hanya sedang terkejut. Jujur saja, aku tak pernah minum sebelumnya. Itu benar-benar yang pertama kali untukku, selain itu.. aku terbangun dengan pakaian yang berbeda, dan kau ada disana, membuatku tiba-tiba berpikiran buruk tentangmu, maafkan aku.."
Mingyu membuang pandangannya ke sisi lain. Diam-diam mengulum senyum tanpa menimbulkan sebuah suara. Ingin berteriak sekeras-kerasnya jika saja mereka sedang berada di tempat yang lapang tanpa di penuhi oleh orang-orang yang berlalu larang. Setidaknya Mingyu masih cukup tahu diri untuk tak melakukannya dan menimbulkan keributan.
"Tak apa, aku mengerti". Mingyu berusaha bersikap normal dan tak berlebihan. Dia berpikir, menjaga sikap di depan Wonwoo itu akan terlihat sangat mengagumkan.
Kemudian Wonwoo melirik sekilas. Menatap Mingyu dari sudut matanya. "Apa kau baik-baik saja?"
"Hm?". Mingyu kembali memutar kepalanya. Menatap Wonwoo yang berada di sampingnya. Tanpa sengaja membuat tatapan mereka saling bertemu, namun kemudian Mingyu kembali memutus pandangan mereka. 'Saling bertatapan dengan Wonwoo dalam jangka waktu lama akan membuatmu mati lebih cepat Mingyu'
"Maksudku…ehem! kau mengatakan bahwa kemarin aku tanpa sengaja sudah menendangmu, aku juga minta maaf tentang itu, aku benar-benar tak bisa mengingatnya".
"O-oh… tenang saja, aku baik-baik saja, tak perlu di pikirkan"
"Em… tidak ada yang sakit?". Kali ini si manis itu bertanya dengan lirih. Sembari berusaha mencari objek lain sebagai tumpuan penglihatannya. Menggigit bibirnya dengan samar dan mengerutkan dahinya tanpa sadar.
Dia…. Malu.
"T-tidak… aku baik-baik saja"
"Baguslah"
"Hm"
"Jangan salah paham"
"Salah paham?"
"Aku meminta maaf karena memang aku mengakui kali ini aku bersalah, bukan berarti aku mengkhawatirkanmu"
"Tentu, aku tahu.."
Kemudian kembali hening. Keadaan di sekitar mereka kembali senyap. Baik Mingyu maupun Wonwoo sama-sama kembali terdiam. Dengan Wonwoo yang sibuk menatap sisi luar bus yang sedang berjalan. Dan Mingyu yang juga tengah memalingkan wajahnya dan sibuk mengatur debaran yang bergemuruh di dadanya tanpa sebuah aturan yang jelas.
'Tuhan… sampai kapan kau akan menghukumku dengan perasaanku yang bahkan tak akan pernah terbalas oleh seseorang yang seharusnya kumiliki hingga mati ini? Bisakah kau mencabut perasaanku untuknya?'
.
.
.
"Hai Mingyu"
Si lelaki tampan bermata elang itu mengangkat tatapannya. Menatap lurus Seokmin yang sedang duduk di kursi yang ada di hadapannya dengan posisi terbalik dengan senyum yang terlihat sangat lebar terpasang pada wajah tampannya yang penuh keramahan. Juga mengabaikan Seongcheol yang kini juga duduk di sampingnya dan menyandarkan lengannya pada bahu kanan Mingyu dengan penuh semangat.
Namun sosok yang tengah di tatap penuh antusias oleh kedua orang itu nyatanya justru menunjukkan wajah malasnya. Tak sedikitpun terlihat antusias dengan kedatangan kedua temannya.
Kelas masih terlihat sepi.
Mereka memang selalu datang lebih awal. Di samping itu, beberapa siswa yang datang lebih memilih untuk mengisi perut mereka di kantin atau pergi ke luar kelas mereka. termasuk Wonwoo.
"Bagaimana?"
"Apa?"
"Apakah berhasil?"
Plak!
Mingyu mengangkat tangannya. Seketika melayangkan sebuah pukulan pada kepala Seokmin.
"Kenapa kau memukulku?!"
"Apa terjadi sesuatu?". Seongcheol mengambil jalan tengah di antara kedua temannya. Mencondongkan tubuhnya pada Mingyu kemudian.
"Ini semua karena ide konyol kalian"
"kami?"
"Jika aku tak menuruti ide gila kalian mungkin semua ini tak akan terjadi"
"Memang apa yang terjadi? Apa kau berhasil? Bagaimana malam pertamamu? Apakah terasa hebat?".
Mingyu mengalihkan tatapannya. Menatap malas pada Seongcheol yang terlihat sangat antusias untuk menanti jawaban yang akan keluar dari mulut sahabat karibnya itu.
"Hebat, sangat hebat! Aku bahkan bersyukur karena Wonwoo tak membuatku mandul setelah yang terjadi malam itu!"
"Woah… apa yang terjadi?"
"Dia menendang milikku dengan sangat keras sampai rasanya aku ingin mati"
"Pftt….".
Tak sanggup untuk menahan keinginannya untuk tertawa. Kemudian keduanya justru terbahak hingga suara mereka memenuhi ruangan kelas. Menggaung dan menimbulkan gema yang sedikit berlebihan.
"Kalian puas?"
"Bagaimana bisa?"
"Aku hanya menuruti apa yang kalian katakan, membawanya pulang dan…"
"Dan kau seharusnya melucutinya dengan segera"
"Persetan dengan melucutinya, bahkan dia meracau sepanjang perjalanan pulang. Aku harus bersusah payah membawanya ke kamar dan aku tak mendapatkan imbalan apapun selain sebuah tendangan manis dan tepat sasaran pada milikku"
Dan keduanya kembali menyambung tawa mereka hingga mata mereka berair.
"Sial"
Mingyu mengumpat keras.
"Dan kalian tahu? Bahkan Wonwoo melempariku dengan semua barang yang ada di kamar kami karena menuduhku melakukan sesuatu padanya"
"Sesuatu?"
"Ya, dia menuduhku mengganti pakaiannya karena sudah menyentuhnya"
"Dan…."
"Dan… ya, memang benar, aku yang melakukannya, tapi aku bersumpah aku tak menyentuhnya sedikitpun, aku hanya membantunya melepaskan sepatu dan beberapa kancing bajunya, namun eomma datang dan menggantikannya, aku bersumpah…"
"Astaga…". Lagi-lagi Seongcheol menepuk pundak Mingyu dengan pelan. terkekeh seketika. "Sekalipun kau memang melakukannya tak akan ada yang menyalahkanmu Mingyu, dia istrimu, sejujurnya kau memiliki hak atas dirinya, hanya saja.. kau terlalu bodoh karena mematuhi peraturan konyol yang di buat oleh Wonwoo…"
"Kau tahu? Jika aku ada di posisimu, aku tak akan pernah melakukannya". Seokmin justru menimpali ucapan Seongcheol dengan tegas.
"Mingyu, dengar… seseorang yang sangat keras kepala seperti Wonwoo tak akan bisa luluh jika kau tak bisa membuat sesuatu yang akan mampu menahlukannya, dan kau tak memiliki pilihan atas itu. kau seharusnya bisa bersikap lebih tegas. Dia tak menyukaimu, dan tak akan pernah menyukaimu jika kau tak bisa menciptakan waktu agar kalian bisa saling berdekatan"
"Dan satu-satunya hal yang bisa memaksa Wonwoo untuk bertahan dengan posisisnya di sampingmu hanyalah sebuah anak!". Lagi, Seokmin menimpali ucapan temannya itu dengan sangat lancar dan tegas. Sebuah ide yang sangat brilliant dia pikir.
"Anak… hah…. Apa yang kalian pikirkan? Berhentilah berpikir tentang anak, bahkan setelah membuatnya mabukpun dia masih sanggup menolakku, kau tahu? Mabuk berarti dia kehilangan kesadarannya, dan di bawah alam sadarnyapun dia masih tetap menolakku, jadi mana mungkin jika dia akan bersedia melakukannya dengan suka rela saat dia benar-benar masih sangat sadar?"
"Memang tak akan terjadi jika dia sadar.."
"Dan jangan memintaku untuk membuatnya mabuk yang kedua kalinya, tidak akan pernah kulakukan lagi. Demi apapun". Tutupnya.
Kalimat itu rupanya membuat Seongcheol dan Seokmin kembali memutar otak mereka. terdiam beberapa saat hingga menghabiskan puluhan detik di dalam keheningan yang mereka ciptakan. Dan kemudian…
"Kurasa aku tahu"
"Apa?"
"Kau tahu? Kurasa Wonwoo kali ini tak akan bisa menolakmu lagi Mingyu..".
Seongcheol, si cerdik itu mengulum senyum penuh arti. Mengerling pada kedua sahabatnya yang kini justru saling bertatapan di dalam kebingungan.
.
.
.
Hari-hari sudah berhanti. Musim dingin akan segera datang dalam hitungan minggu ketika sosok tinggi itu sedang berdiri dengan gusar di depan pintu gerbang sekolahnya. Menanti kedua temannya, Seongcheol dan Seokmin.
Kim Mingyu, ya. Dialah yang sedang menunggu mereka.
Seongcheol mengatakan bahwa hari ini dia akan memberitahukan ide yang dia klaim sebagai ide paling brilliant yang dia temukan.
Namun rupanya Mingyu harus bersabar lebih lama, mengingat hari ini, sepulang sekolah Jung Seongsaengnim memanggil temannya itu ke ruang guru untuk suatu urusan. Dan tentu saja Seokmin akan menemaninya.
Wonwoo sudah pulang terlebih dahulu tanpa mau bersusah payah menunggu Mingyu. Tentu saja, sekalipun sebuah keajaiban terjadi dan Wonwoo mengatakan ingin pulang bersamanya, Mingyu akan menolaknya. Pasalnya, tak mungkin dia akan mengikutsertakan Wonwoo di dalam misi yang akan mereka bicarakan secara rahasia. Ini hanya antara Mingyu, kedua temannya, dan tuhan.
Sosok tampan berkulit tan itu mendengus. Dia kesal karena menunggu terlalu lama. Melirik jam tangan yang bertengger di tangan kirinya kemudian.
Pukul 10.30 pagi.
Memang hari ini mereka pulang lebih cepat karena guru-guru mereka akan mengadakan rapat tahunan yang akan membahas tentang liburan sekolah mereka bulan depan.
"Kemana kedua mahluk sialan itu pergi, kurasa mereka sengaja ingin membuatku mati membusuk!". Umpatnya penuh kekesalan.
Hampir saja Mingyu ingin melangkahkan kakinya untuk pulag kerumahnya sebelum akhirnya sebuah panggilan lantang menghentikan lompatan kaki jenjangnya.
"Maaf jika membuatmu menunggu terlalu lama kawan". Kedua temannya itu datang dan menghampirinya dengan nafas yang sedikit memburu. Tampak sekali jika mereka berdua baru saja berlari.
"Terima kasih karena membuatku hampir melontarkan sumpah serapah padamu"
"Hei… ini bukan salahku. Jung Seongsaengnim yang menahan kami dengan ocehan-ocehannya"
"Ck.. kalau begitu sekarang katakan"
"Apa?"
"Idemu, bukankah kau membuatku seperti bongkahan batu terkutuk disini hanya demi mendengarkan idemu yang kau katakana sebagai ide terbaik yang pernah kau temukan?"
"Ah… iya, aku ingat". Kemudian dia merogoh sesuatu yang dia simpan pada saku celananya. Kemudian segera meraih tangan Mingyu dan meletakkan benda yang ada di tangannya itu pada telapak tangan Mingyu. Menitahkannya untuk menyimpannya dengan hati-hati.
Sebuah serbuk.
"Apa ini? Ini bukan obat-obatan terlarang bukan?"
"Kau gila! Tentu saja bukan! kau pikir untuk apa aku masuk kelas excellent jika aku punya pemikiran sebodoh itu?!"
"lalu?"
Seokmin terkikik melihat raut wajah kebingungan yang di tunjukkan oleh sosok bertubuh jangkung yang sedang berdiri di antara dia dan Seongcheol. Dan Seongcheol? Laki-laki itu terlihat menoleh sisi kanan dan kirinya, memastikan bahwa lagi-lagi posisi mereka aman dari telinga-telinga yang mungkin akan menjadi pendengar setia rencana mereka. lalu menarik lengan sosok yang lebih tinggi darinya itu. mendekatkan bibirnya pada telinga Mingyu. Membisikkan sesuatu dengan pelan.
"Aku mendapatkannya dari laci yang berada di kamar ayahku, kupikir itu sering dia gunakan untuk ibuku"
"Hm…"
"Itu obat perangsang"
"ASTAGA CHOI SEONGCHEOL!". Sontak menarik tubuhnya menjauh dari sahabat karibnya dengan wajah penuh rasa terkejut dan penolakan. Membelalakan kedua matanya dengan lebar. Benar-benar seperti baru saja mendapatkan sebuah kado ulang tahun paling berkesan di dalam hidupnya. "Kuu benar-benar gila! Tidak, aku tidak mau. Lebih baik aku bersabar hingga saat itu tiba"
"Saat dimana kau akan menua sendirian tanpa Wonwoo dan mati dalam kesepian? Ckckck…".
Seongcheol menggeleng pelan. kembali menarik lengan Mingyu agar kembali mendekat padanya. "Dengar Mingyu, kau benar-benar akan kehilangan Wonwoo jika tak melakukannya"
"Masih banyak cara lain tanpa harus melakukan ini Seongcheol"
"Misalnya?"
"Memperkosanya?". Timpal Seokmin tiba-tiba saja. Membuat Mingyu kembali membelalakan mata tak percaya. Bagaimana Mungkin kedua temannya bisa memiliki pemikiran sejauh ini.
"Kim Mingyu… berhentilah bersikap sok polos, kau menginginkannya, apa kau memang idiot yang tak memiliki nafsu? Dia istrimu.. entah seperti apa hubungan kalian kau memiliki hak di mata hokum untuk menyentuhnya dengan atau tanpa sadar, dia tak akan bisa menceraikanmu hanya dengan alasan kau menyentuhnya, polisi dan hakim akan menertawakannya jika dia datang kepada mereka dan mengatakan bahwa dia ingin bercerai dengan alasan bahwa dia baru saja di tiduri oleh suaminya bukan?'
Mingyu mengernyit. Membernarkan ucapan Seongcheol jauh di dalam lubuk hatinya. Sepertinya Mingyu memang terlalu polos untuk memikirkan hal sejauh itu daripada kedua temannya.
"Lagipula ini bukan obat yang berbahaya. Hanya obat perangsang.. cukup berikan bubuk ini ke dalam minumannya, dia tak akan menyadarinya. Selain tak berbau juga tak memiliki warna. Jika dia sudah mendapatkan reaksinya, tugasmu hanyalah melakukan kewajibanmu sebagai suaminya"
"Lalu bagaimana jika kemudian dia sadar dan mempertanyakan apa yang sudah terjadi?"
"Apalagi? Kau hanya perlu berterus terang bahwa Wonwoolah yang meminta dan memaksamu, dengan begitu kau tak akan memiliki kesalahan untuk dipertanyakan kembali oleh Wonwoo, karena bagaimanapun dia akan berpikir bahwa ini adalah kesalahannya, benar bukan?"
Mingyu terdiam. Menunduk pelan. Menumpukan tatapannya pada serbuk yang berada di dalam sebuah bungkus plastic. Masih mengamati telapak tangannya, sebelum akhirnya menarik nafasnya dengan sangat berat. Kemudian menggenggamnya.
"Baiklah, mungkin kalian benar… aku mungkin memang harus mencobanya"
.
.
.
Mingyu sudah kembali ke rumah selang satu jam setelah Wonwoo tiba lebih dulu. Rumah mereka sepi. Ketika kedua kaki panjangnya menginjakkan langkahnya pada lantai marmer di kediaman keluarga Kim, tak ada sosok paruh baya yang menyapanya. Sepertinya sang ibu sedang melakukan kebiasaannya, berbelanja kebutuhan rumah mereka setiap Sabtu
Dia memasuki kamarnya, dan mendapati Wonwoo yang tengah duduk bersila di atas ranjang mereka dengan sebuah buku science di tangannya. Si manis bertubuh kurus itu melirik melalui sudut matanya . me nyadari bahwa Mingyu sudah pulang. Namun hanya kesunyian yang mereka ciptakan. Bagaikan dua orang tak saling mengenal yang terpaksa tinggal di dalam ruangan yang sama.
Seseorang yang lebih tinggi itu melepas jas sekolah juga meletakkan tasnya setelah selesai melepas sepatunya. Diam-diam melirik Wonwoo yang tak beranjak dari ranjangnya.
Sesaat, Mingyu berdehem pelan. namun tak ada tanggapan. Kemudian memutuskan untuk kembali diam dan menyibukkan dirinya pada pemikirannya sendiri. Lalu teringat akan serbuk yang Seongcheol berikan siang ini sebelum pulang dari sekolah.
Mingyu memutar otak. Memikirkan cara untuk memberikan minuman yang bercampur dengan serbuk itu tanpa di ketahui. Sesaat dia berpikir bahwa dia akan memberikannya di dalam minumannya saat makan malam, namun kemudian membatalkannya. Dia tak tahu butuh waktu berapa lama obat itu akan memperlihatkan reaksinya.
Akan menjadi berantakan jika obat itu bereaksi bahkan sebelum Wonwoo menyelesaikan makan malamnya.
Sekilas, Mingyu melirik Wonwoo. Kemudian beralih dan memutuskan untuk mengamati Wonwoonya yang sedang focus dengan bukunya.
Lalu tersenyum.
"Manis sekali". Batinnya.
Menatapnya dalam waktu yang lama, memunculkan keegoisan yang selama ini di pendam oleh sosok Mingyu. Sebuah rasa ingin memiliki si manis itu seutuhnya, selamanya. Mendorongnya untuk berbuat curang demi memenuhi obsesinya.
Mata indahnya..
Kulit halusnya..
Hidung kecilnya..
Kulit halusnya…
Suaranya…
Mingyu mengagumi segala hal tentang Wonwoonya.
'Sekarang saja Mingyu. Tak ada waktu yang lebih tepat daripada detik ini bukan?'.
Lagi-lagi batinnya ikut berperang. Memotivasi niatnya untuk segera melaksanakan niatnya.
Mingyu kemudian menelan ludaahnya dengan pelan. menjilat bibirnya sendiri demi meredam rasa gugup yang bergejolak tanpa mampu dia kendalikan.
Dia berdiri dalam keheningan. Berjalan menghampiri pintu kamar mereka. berniat untuk keluar dengan segera.
"Em…. Aku ingin ke dapur, kau butuh sesuatu?". Tawarnya.
Merasa aneh, memancing Wonwoo untuk memalingkan tatapannya dari buku yang tengah menjadi perhatiannya. Menatap Mingyu dengan sorot mata tajamnya.
"Tidak". Balasnya.
Sebuah jawaban yang tentu saja sudah di prediksi oleh Mingyu, tentu saja.
"Baiklah, Seharusnya aku memang tak perlu menawarkan apapun. Pada akhirnya niat baikku tak akan pernah mendapatkan tanggapan yang menyenangkan darimu, bukankah segala hal tentangku adalah hal yang buruk?". Mingyu tersenyum. Membuka pintunya lebih lebar dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar mereka.
Namun tiba-tiba…
"Mingyu"
Langkah kakinya terhenti. Sedikit terkejut karena sang istri tiba-tiba saja melafalkan namanya.
"Hm?'
"Segelas Orange Juice jika kau tak keberatan". Ujarnya dengan pelan. di susul dengan sebuah deheman pelan sembari kembali menundukkan wajahnya.
"O-oh… baiklah, tentu".
Mingyu tersenyum.
Entah untuk alasan apa. entah karena rencananya, atau karena panggilan Wonwoo terhadap namanya.
.
.
.
Mingyu sedang menyibukkan dirinya di dapur. Membuat segelas minuman segar berwarna kekuningan di hadapannya. Dia menarik nafasnya yang sejujurnya terdengar tenang. Lalu merogoh sesuatu yang dia sembunyikan pada saku celananya.
Serbuk itu.
Mingyu menelan ludah pada awalnya, namun kemudian memantabkan niatnya. Dia merasa semua penjabaran Seongcheol dan Seokmin tak memiliki kelemahan. Memiliki seorang anak dari istri sahnya sekalipun mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas tak ada salahnya. Anak yang lahirpun tetap akan memiliki kekuatan di mata hukum nantinya.
Dia membulatkan niatnya. Kemudian menuangkan seluruh serbuk yang ada di dalam bungkus plastic yang di genggamnya ke dalam minuman yang akan di berikannya kepada Wonwoo nantinya.
Setelahnya, sang lelaki tampan dengan pesona rupawan yang memabukkan itu bergeser pada sisi rak dimana sang ibu biasanya meletakkan peralatan makan mereka. Berniat untuk mengambil sendok dan mengaduknya. Melarutkan serbuk itu sepenuhnya dengan cairan kekuningan di dalam gelas kaca itu.
Hingga kemudian, sebuah derap kaki terdengr semakin mendekat.
"Kemana ibumu?"
Itu ayahnya. Mingyu tentu saja mengenali suaranya. Dia berbalik. Menatap sang ayah yang masih mengenakan kemeja kerjanya.
"Sepertinya sedang keluar, appa pulang cepat hari ini?". Mingyu kembali pada posisinya dengan sebuah sendok di tangannya.
"Tidak, setelah ini appa harus kembali ke kantor setelah pukul 1, ada meeting"
"Lalu kenapa sekarang ada di rumah?". Mingyu masih berbincang santai dengan sang ayah, sembari mengaduk Orange juice milik Wonwoo.
"Hanya mampir, karena Meeting diadakan di luar kantor dan tempatnya tak terlalu jauh dari rumah kita jadi kurasa tak ada salahnya jika pulang dan makan siang di rumah. Apa eomma sudah memasak sesuatu?"
"masih ada makanan sisa sarapan, eomma meletakkannya di kulkas, hanmya perlu menghangatkannya. Atau perlu aku yang menghangatkannya?"
"Tidak perlu, waktunya masih lama. Sepertinya aku akan menunggu sampai eommamu kembali dan makan bersamanya"
"Ah…". Mingyu mengangguk. Kemudian membalikkan tubuhnya. Berniat meletakkan sendok kotor itu pada tempat pencucian piring. Namun… niat itu belum terlaksana saat tiba-tiba saja….
"Sebentar lagi musim dingin akan tiba tapi cuaca masih terasa sangat panas. Seharusnya sekarang cuaca sudah mulai menjadi dingin bukan?". ujar Myungsoo. Sembari meraih segelas Orange Juice milik putranya dan meneguknya tanpa permisi. "Hm… apakah kau yang membuat jus ini?"
"APPA!"
"Hm?'. Myungsoo mengerling. Menatap pada putranya yang sedang meneriakinya dengan sangat lantang. Kemudian menurunkan gelas yang masih menempel pada bibirnya. Menyisakan setengah dari isi minuman yang ada di tangannya.
"A-apa yang appa lakukan? Kenapa… astaga". Mingyu segera mendekati sang ayah. Merebut gelas itu dengan paksa. Menyisakan sang ayah dengan ekspresi penuh kebingungannya.
Mingyu persis seperti bayi yang sedang merengek karena mainan kesayangannya tengah di rebut.
"Hanya segelas minuman, berhentilah bersikap pelit pada ayahmu.. ckck"
"T-tapi… itu… itu minuman untuk Wonwoo..". ujarnya.
"Ah… jadi karena sekarang putraku ini sudah menikah, maka kau berubah menjadi orang yang sangat pelit dan ingin memeberikan segalanya untuk istrimu saja?". Myungsoo justru menggodanya. Dengan sebuah senyum penuh arti yang tersemat pada bibir tipisnya.
"Bukan… seperti itu…". Mingyu mendesah kesal. Antara kesal dan merasa bersalah. "Apa…. semuanya baik-baik saja?".
Mingyu meringis. Mengamati sanga ayah yang kelihatannya masih baik-baik saja.
.
.
.
10 menit kemudian….
"Sungyeol! Kumohon cepat pulang! Ini keadaan darurat!". Myungsoo kali ini tengah duduk berjongkok di sisi ranjangnya. Menghimpit selangkangannya. Merapatkan kedua pahanya dengan sangat kuat.
Dia menggigit bibir bawahnya.
Wajahnya memerah. Menggenggam ponselnya dengan sedikit gemetar.
"apa yang terjadi sayang? Kau baik-baik saja?". Sang istri yang sedang menjawab panggilannya terdengar sangat mengkhawatirkannya. Terdengar dari nada bicaranya yang terdengar sedikit lebih cepat dari biasanya.
"tak bisa di jelaskan.. sshh… pulang…sekarang! Atau aku akan mati hari ini!"
.
.
.
Sedangkan di sisi lain, Wonwoo masih duduk dengan santai pada ranjangnya. Masih tak bosan menggenggam erat buku science kesayangannya. Meneguk segelas Orange Juice pengganti yang di buat ulang oleh Mingyu.
Sebuah minuman segar 'tanpa tambahan apapun'
Mingyu? Laki-laki berusia 16 tahun itu kini rupanya tengah duduk terpekur dengan malas pada kursi yang berhadapan dengan meja belajarnya. Mengabaikan raungan sang ayah yang terus meminta Mingyu untuk menyusul ibunya. Dan suaranya terdengar sangat berisik dan mengganggu pendengaran putra serta menantunya.
"Apakah appa sedang sakit?". Wonwoo bertanya dengan tenang. Masih sibuk mencerna isi bukunya sembari menikmati minuman dingin yang ada di tangannya.
Dan kemudian sang suami meliriknya tanpa sebuah antusias yang terpancar. "Tidak, dia sedang-sangat-sehat'
"Kudengar appa terus mengerang dan memintamu untuk menyusul eomma, tak ada salahnya menyusul eomma, appa sedang sakit"
"Percayalah dia sedang sangat sehat Wonwoo, dan akan menjadi lebih sehat setelah eomma pulang"
Dan si manis berbibir mungil itu justru mengerutkan keningnya ketika mendengarkan penjelasan Mingyu yang benar-benar tak mampu masuk ke dalam akal sehatnya.
Kemudian Mingyu kembali menyandarkan kepalanya pada meja belajarnya dengan malas. Dia tak berselera untuk melakukan apapun. Bahkan dia masih belum mengganti seragamnya. Semua semangatnya yang terpupuk sejak pulang sekolah menguar bagaikan kepulan awan mendung yang terkena cahaya matahari di musim panas.
Menutup matanya dengan rapat. Namun tak berniat untuk tidur. Dan Wonwoo juga tak ingin memaksa Mingyu lebih jauh. Baginya, itu sama sekali bukan urusannya, semuanya hanya akan membuang waktu berharganya.
"Itu dosamu karena sudah menghancurkan rencanaku! Rasakan saja appa!".
.
.
.
To Be Continue.
.
.
Thanks to all reader, atas semua comment dan juga kritik serta sarannya. Saya sangat menunggu itu. berusahalah jadi reader yang baik. Maka saya akan berusaha menjadi Author yang baik juga. Terima kasih banyak ^^
Jangan lupa leave comment. tinggslksn komentsr tentang isi ceritanya. hahahah ^^
