Basketball

.

Cast:

Kyuhyun, Donghae, Jungsoo, Sungmin, Kibum, Changmin, Siwon, Minho, Heechul, Yesung.

.

Brothership Fanfiction

By:

Khy13

.

.

"Hai Kyuhyuh!" Kim Kibum duduk di hadapan Kyuhyun setelah menyimpan satu piring penuh santapan makan siang dan sebotol air mineral di meja.

Kyuhyun mendongak sekilas, tapi kemudian melanjutkan kegiatannya menyuapkan spaghetti yang digulung besar-besar di garpunya dan langsung ditelan setelah beberapa kunyahan saja.

"Berapa tahun kau tidak makan, Kyu?" Kibum meneguk air mineralnya, tampak kepayahan sendiri hanya dengan melihat Kyuhyun makan. Napas anak itu putus-putus, seperti sudah berlari saja.

"Mana PSP-ku?" tangan Kyuhyun terjulur, menagih benda kesayangannya yang tak kunjung dikembalikan.

"Ketinggalan di kelas," jawab Kibum tak acuh.

"Mana Donghae hyung?"

"Masih di kelas."

Segera Kyuhyun merogoh saku blazernya, mengeluarkan ponsel canggihnya untuk menghebungi seseorang.

"Donghae Hyung, ambilkan PSP miliku. Geledah saja tas milik Kim Kibum, oke!" Dengan tampang tak berdosa, Kyuhyun kembali menyimpan ponselnya dan melanjutkan makan. Sedangkan Kibum hanya menghela napas pasrah.

Beberapa menit kemudian Donghae datang bersama Changmin. Kyuhyun mendengus sebal melihat temannya itu begitu bersemangat menunjukan nilai ujian harian bahasa inggisnya yang lebih baik dari Kyuhyun.

"Tidak biasanya, Kyu." Donghae yang duduk di samping Kibum langsung berkomentar sambil menyerahkan PSP yang ia dapatkan setelah menggeledah tas punggung milik Kibum.

"Kibum hyung merampasnya tadi pagi."

"Bukan PSP, bodoh! Nilaimu."

Kyuhyun melirik Changmin tajam, membuat temannya itu agak meringis ngeri. "Changmin kan dari luar negeri, wajar saja kalau nilainya sangat bagus," kilahnya. Ia menyimpan garpu di atas piring kosong dan meneguk sisa minumannya. "Lagi pula, sejak kapan Hyung mempermasalahkan nilaiku?"

Donghae menghela napas jengah. "Kau baik-baik saja?" tanyanya lembut.

Pertanyaan itu membuat Kyuhyun merenggut tak suka. "Aku baik!" ketusnya. Kyuhyun tak suka tatapan Donghae kali ini, ia merasa 'ditelanjangi' dengan tatapan itu.

"Yak! Kenapa kalian saling menatap seperti itu!" Changmin bergidik ngeri, ia sedikit menjauhkan kursinya dari meja, membuat Kyuhyun dan Donghae tertawa dan menggoda anak itu.

Lain dengan Kibum. Dalam diamnya, dia begitu mengerti... mengerti bahwa hari ini, Kyuhyun tidak baik-baik saja. Sudah cukup nilai Kyuhyun yang turun drastis menjadi bukti. Tadi pagi pun, Kibum yakin jika Kyuhyun baik-baik saja, anak itu akan mengejarnya sampai ke kelas untuk mendapatkan PSP-nya kembali.

.

.

Ruang kelas masih kosong. Jam istirahat memang belum berakhir, tapi Donghae dan Kibum telah selesai mengisi perutnya masing-masing dan sekarang memilih berdiam diri di kelas menunggu pelajaran dimulai.

Donghae tengah serius mebuka-buka catatan harian matematikanya, mempersiapkan diri takut-takut akan menjadi sasaran empuk guru yang terkenal killer itu. Sedangkan Kibum, mengeluarkan PSP putih dari tasnya lalu memainkannya tanpa khawatir akan kemarahan Han seonsaeng jika ketahuan tidak belajar.

"Kau bawa PSP. Kenapa pinjam milik Kyuhyun?"

Kibum mengangkat bahu tak acuh. "Mengusili adikmu," jawabnya cuek.

Donghae tak menanggapi. Kembali menelaah catatan yang selalu membuatnya sakit kepala itu.

Keheningan tercipta untuk beberapa saat. Sampai Kibum bosan dan menyimpan PSP-nya lagi.

"Donghae-ya..."

"Hm.."

"Uhm, Kyuhyun—"

"Dia akan baik-baik saja, Kibum-ie," potong Donghae cepat. Ia menutup catatannya dan beralih menatap Kibum. "Kau harus memastikannya baik-baik saja," tegasnya lagi.

"Aku tahu, tapi— hari ini dan besok kita akan latihan ekstra."

"Lalu harus bagaimana?"

"Kyuhyun bisa mundur dari—"

"Berani kau mengeluarkannya. Kau berurusan denganku, Kim Kibum!"

Kibum menghela napas, lalu mengangguk. Ia tahu itu bukan keputusan yang tepat.

"Donghae-ya... apa rasanya memang setakut ini?" gumamnya pelan.

Donghae menoleh sambil mengendikan bahu. "Aku tak tahu takut seperti apa yang kau maksud," ujarnya sambil menumpukan kepala di meja. "Tapi seharusnya kau tahu, ketakutanku jauh lebih besar dari apa yang kau rasakan. Setiap saat aku selalu takut, dan tampaknya anak itu sama sekali tidak memikirkan perasaan kami."

Mata Donghae terpejam ketika mendengar Kibum yang tertawa di sampingnya. "Bukankah itu memang Kyuhyun, adikmu?"

"Hm, adiku, Kyuhyun. Memang dia begitu..."

Kibum menepuk bahu Donghae, mencoba memberi sedikit ketegaran. "Dan adikmu begitu kuat, tahu?"

"Ya, dia terlampau kuat, Kibum-ie..."

.

.

Peluit di bunyikan keras-keras. Cha Hajin berteriak kesana kemari mengarahkan semua anak didiknya untuk berlomba memasukan bola kedalam ring setelah mendrible berkeliling lapangan. Siapa yang gagal memasukan bola, maka ia mendapat jatah sekali lagi untuk berlari keliling lapangan, sebelum teman yang lainnya mengambil alih bola.

Kyuhyun tak pernah mengira akan mendapat latihan sekeras ini, sama persis seperti latihan pertama kali ketika masuk SBJ. Sekarang saja ia tak mendapat latihan sekeras ini di SBJ, dan malah mendapat latihan seperti ini di sekolahnya sendiri. Beberapa kali ia gagal memasukan bola, bahkan dalam jarak dekat. Dan itu berarti ia harus berlari lagi sebelum mendapat kesempatan memasukan bola.

Besok memang pertandingan yang sangat menentukan. Mereka harus memenangkan pertandingan besok agar bisa langsung tembus ke babak perempat final. Jadi hari ini, pemain inti benar-benar ditempa habis-habisan. Apalagi Cha Hajin itu terkenal dengan sifat 'tegas' dalam melatih. Kyuhyun baru merasakannya sekarang. Terlebih, sekarang Kyuhyun menempati posisi Heechul, sedangkan seniornya itu memutuskan untuk tidak ikut bertanding besok entah karena alasan apa, Kyuhyun tak terlalu peduli, yang penting adalah keinginannya untuk bermain full tercapai. Ya, semoga saja Kim Kibum tidak mendepaknya di tengah pertandingan, dan semoga saja ia pun baik-baik saja sampai akhir pertandingan.

"Cha sabeum-nim, istirahat sebentar?" Kibum berlari menghampiri Cha Hajin yang masih berteriak di pinggir lapangan. Pelatih itu melotot ke arah Kibum.

"Tidak biasanya kau meminta istirahat. Lelah?"

Kibum mengangguk.

"Baiklah," dia membunyikan peluit lagi dan berteriak menyuruh semuanya istirahat.

Kyuhyun bersorak senang, ia merangkul pundak Changmin sambil berjalan ke pinggir lapangan. "Astaga, lelah sekali!" serunya kepayahan. Changmin hanya tertawa di sampingnya.

"Kau payah! Aku saja tidak selelah kau! Seharusnya kau sudah biasa dengan latihan seperti ini, Kyuhyun-ah... kau kan atlet basket nasional."

"Mantan atlet basket, iya!" timpal siwon yang entah sejak kapan ada di samping Changmin.

Kyuhyun mendengus sebal. "Kalian diam saja!" serunya kesal.

"Kyuhyun!"

Kyuhyun menoleh, Donghae berlari menghampirinya.

"Bukankah tadi Donghae hyung pulang, Kyu?" tanya Changmin yang dijawab anggukan kepala dari Kyuhyun.

"Kau tidak pulang, Hyung?" tanya Kyuhyun ketika Donghae telah sampai.

Donghae menyerahkan sebuah bungkusan, entah apa isinya. "Aku pulang, dan eomma malah menyuruhku kembali untuk memberikan ini padamu. Dasar ceroboh! Sudah tahu akan latihan lama, tapi malah seenaknya sendiri! Seharusnya kau itu sadar diri kalau kau—"

"Hyung!" sentak Kyuhyun keras. Donghae tak berhenti bisara dan hampir saja membongkar masalah sakitnya. Astaga! Bagaimana dengan keinginan Kyuhyun untuk main full besok jika semua orang tahu ia sakit.

"Ah, mianhae...," gumam Donghae sambil meringis. "Tapi kau memang salah, jangan melupakan itu lagi."

"Hm, gomawo..."

Donghae mengangguk lalu berbalik pergi. Setelah itu Kibum datang, merebut bungkusan yang diberikan Donghae dan melihat isinya.

"Ini harus dikonsumsi sekarang?" tanyanya. Kyuhyun mengangguk, sambil melihat ke lapangan dengan cemas. Cha Hajin sudah membunyikan peluitnya lagi.

"Khaja!" Kibum menarik tangan Kyuhyun masuk ke ruang ganti. Ia mendudukan Kyuhyun di salah satu bangku lalu menyerahkan kembali bungkusan obat itu. "Kau disini saja," ujarnya singkat kemudian pergi begitu saja.

Beberapa menit kemudian, Kibum datang lagi dengan sebotol air mineral dan dua satu bungkus roti. "Jangan lama-lama, ya!" –kemudian benar-benar pergi.

Kyuhyun menatap semua benda yang ada di tangannya. Kemudian sesekali menatap pintu ruang ganti dengan senyum. Kim Kibum itu tak banyak bicara, tapi begitu peka.

.

.

Suasana jalan tampak sepi. Kibum dan Kyuhyun berjalan beriringan setelah turun dari bus, menuju rumah. Hanya tinggal beberapa blok lagi, mereka akan sampai. Tapi, Kyuhyun sudah nampak kelelahan, anak itu berjalan lambat-lambat membuat Kibum gusar disampingnya.

"Kibum Hyung..." gumam Kyuhyun, langkahnya limbung ke samping, menumpukan tubuhnya di lengan kanan Kibum.

"Kau ingin ku gendong?" tanya Kibum ragu. Kyuhyun menggelengkan kepalanya lemah.

"Aku lebih tinggi darimu," jawabnya sangat pelan.

Kibum berdecak, bagus-bagus ia berniat menolong, tapi anak ini malah mengejeknya. "Jangan tidur dulu, sebentar lagi kita sampai."

Tangan kiri Kyuhyun, Kibum kalungkan di lehernya, sedangkan tangan kanannya merangkul bahu Kyuhyun dan mencengkram bahu kanan anak itu dengan keras mencoba menahan berat tubuh Kyuhyun yang hampir seluruhnya bertumpu padanya.

Mereka berjalan dengan sangat pelan. Langkah demi langkah amat sangat melelahkan bagi Kyuhyun, dan mendebarkan bagi Kibum. Berulang kali Kibum mengajak Kyuhyun bicara, mencoba mempertahankan kesadaran Kyuhyun yang timbul tenggelam.

"Kalau tidak salah, ibumu menghentikan semua konsumsi obatmu, Kyu?" tanya Kibum. Mereka hampir sampai, Kyuhyun sudah benar-benar berada di ambang batas kesadarannya.

"Hm," gumam Kyuhyun susah payah. "Obatnya untuk sakit saja," lanjutnya tak jelas, Kibum tak peduli, ia hanya ingin mengajak Kyuhyun bicara seberapa pelan pun suara anak itu.

"Kyuhyun... kita hampir sampai."

"Ya..."

"Kau masih disini?"

"Memangnya aku akan kemana?"

Mendengar jawaban Kyuhyun, Kibum tertawa getir. Sempat-sempatnya Kyuhyun bercanda.

Sampai di depan gerbang rumah Kyuhyun, Kibum menyandarkan tubuhnya di pagar tinggi itu sambil menekan bel beberapa kali. Sungguh, ia lelah, tak pernah Kibum menghadapi situasi seperti ini.

Ketika gerbang terbuka, Hyerin nampak terkejut dan menangkap tubuh Kyuhyun yang limbung akibat Kibum yang tak kuat lagi menahan berat tubuhnya.

"Donghae-ya!" teriak Hyerin keras-keras.

Donghae berlari dari dalam rumah, membantu ibunya dan Kibum membawa Kyuhyun ke kamarnya. Tidak ada siapapun di rumah, Jungsoo dan Younghwan masih sibuk dengan proyek kerjasama mereka di Busan bersama Sungmin.

Kibum menatap Kyuhyun yang sedang ditangani Hyerin dengan tatapan ngeri. Ini pertama kalinya ia melihat Kyuhyun seperti ini. Anak itu tidak membuka matanya sama sekali, rautnya begitu pucat, dan keringat sudah tampak membanjiri wajah yang tengah menahan sakit itu. Hyerin beberapa kali menepuk pipi Kyuhyun, mencoba mengembalikan kesadaran anak bungsunya. Tangannya yang sedang membuka kemeja seragam Kyuhyun, bergetar, membuat Kibum iba dan berinisiatif untuk membantu.

"Aku akan membantu mengganti pakaiannya," ujar Kibum lembut, Hyerin tersenyum dan mengangguk. Kemudian wanita itu keluar dari kamar Kyuhyun.

Donghae menghampiri Kibum setelah mengambil sepasang piama dari lemari Kyuhyun, membantu Kibum mengganti pakaian Kyuhyun. Beberapa menit setelah itu Hyerin datang dengan perlengkapan medisnya, memeriksa Kyuhyun dengan sangat teliti.

"Bagaimana?" Kibum buka suara terlebih dulu setelah lama berdiri di ambang pintu memerhatikan Hyerin memeriksa Kyuhyun.

"Serangan ringan," sahut Hyerin lemas. "Dia terlalu banyak memaksakan diri hari ini."

"Besok dia ingin bermain penuh."

"Tidak bisa," tegas Hyerin. "Gantikan Kyuhyun untuk besok, Kibum-ah. Ia tak bisa bertanding besok."

"Tapi—"

Donghae merangkul bahu Kibum, membuatnya bungkam. Ketika dilirik, Donghae menggelengkan kepala. Kibum mengerti, bukan saatnya ia membantah apa yang Hyerin katakan.

"Aku mengerti," sahutnya kemudian.

"Aku akan mengantarmu sampai ke gerbang." Donghae sedikit menyeret Kibum keluar. Suasana di rumahnya sudah tidak kondusip lagi, tidak ada gunanya Kibum disana jika hanya akan menambah kekhawatiran Hyerin.

.

.

Kibum mematung di depan gerbang rumahnya, membuat Donghae mengernyit heran. Ia yang belum masuk kedalam rumah, memilih untuk menghampiri Kibum.

"Kau tidak ingin masuk?"

Kibum menoleh dan menggelengkan kepala. "Aku akan masuk," jawabnya ragu. "Uhm, Kyuhyun..."

"Kyuhyun akan baik-baik saja, kau tenang saja."

Kedua tangan kibum terangkat, Donghae bisa melihat tangan sahabatnya itu bergetar sebelum dikepalkan erat.

"Aku tidak pernah menghadapi situasi seperti tadi, Donghae-ya..."

Donghae tersenyum maklum, lalu memberi tinjuan kecil pada kedua tangan Kibum yang terkepal itu. "Pengalaman menegangkan, eoh?" guraunya. "Sekarang kau sebaiknya tidur. Istirahat. Mau taruhan denganku? Besok anak itu akan memohon agar tidak dikeluarkan dari tim."

"Selalu seperti itu?"

Donghae menganngguk ragu. Kim Kibum dihadapannya ini tidak seperti biasanya, apa sebegitu besarnya kekhawatiran Kibum pada Kyuhyun?

"Besok aku akan bawa mobil. Kau harus berangkat bersamaku, pastikan Kyuhyun baik-baik saja," pungkas Kibum sebelum masuk kedalam rumahnya. Meninggalkan Donghae yang masih berdiri di depan pintu dengan helaan napas kasar.

"Aku bahkan lebih takut darimu, Kibum-ie..." gumamnya pelan sampil memasukan tangannya yang masih gemetaran itu kedalam saku jaketnya.

.

.

Kyuhyun terbangun ketika terdengar suara pintu yang ditutup dengan keras. Setelah mengerjap beberapa kali, ia melihat Sungmin yang berdiri dengan tangan bersedekap di dada, menatapnya dengan sorot tajam, lalu ada Jungsoo yang duduk bersila di atas ranjangnya tepat di samping kanan.

"Siapa yang menutup pintu, tadi. Berisik sekali," desah Kyuhyun dengan suara serak.

"Baru bangun, dan kau sudah mengomel, Kyuhyun? Bagus sekali," ujar Sungmin. Ia menarik kursi belajar Kyuhyun dan mendudukan dirinya menghadap Kyuhyun yang berbaring.

"Hyung yang mengomel, dan— Hei, kenapa kalian ada di sini?"

"Kami tidak akan ada disini kalau eomma tidak menelepon sambil menangis. Kau pingsan, diantar Kibum pulang karena kelelahan setelah latihan basket, eoh? Bagus sekali!" timpal Jungsoo.

Kyuhyun menahan tawa, Jungsoo berkata sok seperti yang Sungmin lakukan, tapi rautanya begitu lembut dan menenangkan. Tapi, sedetik kemudian Kyuhyun baru menyadari sesuatu.

"Kata siapa aku latihan basket?"

"Kyuhyun-ie, dengar, Hyung sudah memperingatkanmu untuk tidak meneruskan hobi basketmu itu. Kenapa kau bandel sekali?" Sungmin menatap Kyuhyun lekat.

"K-kalian sudah tahu?"

"Bagaimana kami tak tahu, Kyuhyun, hampir setiap hari kau pulang terlambat dan sudah beberapa kali Hyung melihat baju basketmu sedang dirapikan eomma," kata Jungsoo dengan emosi menggebu.

"Kau juga berpikir aku tak tahu kegiatanmu karena aku ada di Busan, Kyuhyun? Kau ikut kejuaraan basket antar high school dan kau tidak pernah mengira pertandingan itu akan disiarkan di televisi nasional? Apalagi pertandingan pertamamu melawan Samsung high school!" tambah Sungmin.

Kyuhyun mendesah pasrah, menarik selimutnya sampai ke kepala. Merasa terintimidasi dengan serangan kedua hyung-nya ini. Tapi, Jungsoo segera menariknya, menurunkan kembali selimut itu sampai ke dada.

"Kau akan sesak napas kalau seperti itu," tegurnya.

"Maaf," ucap Kyuhyun refleks, melihat dua orang yang lebih tua tengah menatapnya seperti ini membuat Kyuhyun tak tahu harus menjawab apa. Apalagi keadaannya yang masih sangat lemas, dadanya masih sakit dan napasnya pun pendek-pendek.

Pintu terbuka, memecah ketegangan antara tiga saudara itu. Hyerin datang dengan nampan di tangannya, berisi makanan, segelas air, dan obat-obatan milik Kyuhyun. Setelahnya, Younghwan menyusul masuk.

"Kau sudah bangun, Kyu?" Hyerin bertanya dengan raut ramah, membuat Younghwan di belakangnya mengernyit heran. Baru tadi malam isterinya itu menangis pilu di telepon, mengabarkan bahwa Kyuhyun kambuh. Tapi sekarang? Sepertinya Hyerin pernah menjadi aktris sebelum masuk kuliah kedokteran.

Sungmin mengambil alih nampan dari tangan Hyerin, lalu duduk di sisi kiri Kyuhyun. "Kubantu kau makan, bangunlah."

Jungsoo membantu Kyuhyun bangun. Sedikit mengernyit ketika Kyuhyun mendesis menahan sakit saat tubuhnya digerakan. "Apa sangat sakit?" tanyanya dengan cemas. Setelah Kyuhyun duduk, ia mengusap keringat yang membasahi pelipis anak itu.

"Seperti terhimpit." Kyuhyun menepuk dada kirinya pelan dengan kepalan tangan. "Aku ingin minum dulu," pintanya sambil menatap Sungmin.

Segelas air diberikan Sungmin, Kyuhyun menegukanya pelan.

"Maafkan Eomma, Kyuhyun. Hari ini tidak ada basket untukmu."

Kyuhyun tertegun sesaat, lalu melanjutkan minum. Ia tak ingin berbicara apapun, ini sudah ia duga sejak tadi malam. Ada sedikit perasaan menyesal karena meminta uuntuk bermain full dan akhirnya mendapat latihan ekstra. Kalau saja ia tetap menjadi cadangan dan bermain sedikit, mungkin hari ini ia ada di sekolah untuk mendiskusikan persiapan pertandingan nanti malam.

"Kyuhyun-ie... buka mulutmu!" suara sungmin membuatnya terkejut. Ah, tampaknya Kyuhyun melamun. Ia membuka mulut, membiarkan sesendok makanan masuk dan dikunyahnya perlahan.

"Sekarang sakitnya seperti apa, sayang?"

Kyuhyun menatap Hyerin, tangannya meraba dadanya sendiri dan merasa detakan jantungnya lebih cepat dari biasanya. Ia menelan makanan di mulutnya sebelum berbicara.

"Sedikit sesak, seperti terhimpit. Dan rasanya capek sekali, jantungku berdetak agak cepat, kurasa."

"Memang berdetak cepat." Hyerin mengangguk, tadi malam ia sudah memeriksa Kyuhyun, dan hasilnya cukup mengkhawatirkan. Bahkan, sampai sekarang tidak ada perubahan, hanya Kyuhyun yang sudah mulai tenang dan membuatnya tidak separah semalam.

Jungsoo turun dari ranjang. Kyuhyun menatapnya sampai Hyung tertuanya itu keluar dari kamar.

"Jungsoo hyung sepertinya marah."

"Kau kira aku tak marah?" tanya Sungmin retoris. Kyuhyun merenggut dibuatnya.

"Appa yakin, Jungsoo hanya kesal dengan tingkah cerobohmu, Kyu." Younghwan duduk di sebelah Sungmin. "Kalau dia marah, mungkin dia akan membuatmu berhenti sejak pertama."

"Jungsoo hyung hanya bingung harus menghadapinya seperti apa, Appa. Anak bungsumu ini keras kepala," ketus Sungmin.

Suapan berikutnya ditolak Kyuhyun, Sungmin berdecak dan menyerahkan makananan Kyuhyun kepada Hyerin. Lalu mengikuti jejak Jungsoo, keluar dari kamar tanpa sepatah kata pun.

Kyuhyun menatap pintu yang telah tertutup dengan sorot lelah. "Aku hanya ingin mengejar mimpi saja, apa aku salah?" gumamnya lirih. "Kenapa kalian sama sekali tidak memikirkan keinginanku?"

"Kyuhyun-ie, mereka hanya mengkhawatirkanmu." Younghwan mengusap kepala Kyuhyun lembut.

"Aku hanya ingin memanfaatkan sisa hidupku yang sedikit ini untuk mengejar satu keinginanku, Appa," lanjut Kyuhyun, tanpa melihat bagaimana cemasnya dua orang yang sekarang berada di sampingnya itu.

.

.

Sore ini, Donghae pulang dengan tampang lesu. Kelakuan Kibum hari ini membuatnya lelah, bahkan sahabatnya itu enggan untuk diajak bicara hanya karena ia bilang bahwa Kyuhyun mungkin tak bisa main basket lagi setelah Jungsoo dan Sungmin tahu kalau anak itu mengalami serangan karena terlalu lelah latihan.

"Kau tidak memberi salam, Donghae Hyung."

Donghae melirik Kyuhyun yang duduk di sofa ruang santai sambil mendekap toples keripik kentang yang isinya tinggal separuh. Disana juga ada Jungsoo yang sedang memindahkan saluran televisi dan Sungmin yang selalu saja serius jika berhadapan dengan laptopnya.

"Kalian masih disini?" tanyanya mengacuhkan teguran Kyuhyun.

Sungmin mengangguk tanpa mengalihkan atensinya pada laptop. Sedangkan Jungsoo menatap Donghae heran. "Kau ingin kami pergi lagi?"

"Tidak," bantah donghae. Ia menghampiri saudara-saudaranya itu dan duduk disamping Kyuhyun, merebut toples keripik kentang adiknya. "Pasti gara-gara anak ini!" tuduhnya sambil menepuk paha Kyuhyun keras-keras sampai anak itu berteriak protes.

"Tentu saja gara-gara dia," jawab Sungmin tanpa ragu. "Appa mengantar eomma ke rumah sakit untuk operasi darurat, dan Kyuhyun tentu saja harus ditunggui."

"Kalian saja yang bersikeras mengurungku!" bantah Kyuhyun dengan semangat. "Aku kan hanya ingin jalan-jalan. Dirumah terus, kan, bosan!"

"Kyuhyun-ie, jangan berteriak," tegur Jungsoo.

Kyuhyun mengeluarkan ponsel di saku jaket yang dikenakannya, memilih membunuh rasa bosan dengan memainkan ponsel canggihnya itu.

Donghae yang masih mengunyah keripik kentang, sedikit terganggu dengan ponsel yang bergetar di saku celananya. Ketika dibuka, ada satu pesan masuk yang membuatnya menatap Kyuhyun tajam.

Aku ingin nonton pertandingan malam ini di sekolah

Bantu aku!

Pesan dari Kyuhyun, ia balas dengan cepat;

Enak saja! Aku bahkan baru pulang, bodoh!

Kyuhyun memutar bola matanya malas. Ia merebut toples di tangan Donghae dan memakannya banyak-banyak.

"Yak! Kau akan tersedak!" tegur donghae sambil merebut toples itu lagi.

"Apa pedulimu?!" sentak Kyuhyun tajam. Donghae membelalakan matanya tak percaya. Kyuhyun merajuk, eoh?

Sungmin dan Jungsoo hanya menggelengkan kepala melihat dua adiknya ini bertengkar tanpa alasan yang jelas.

"Kyuhyun, sebaiknya kau tidur lagi daripada bertengkar. Kau masih sakit." Jungsoo beralih menatap Donghae. "Dan kau tidak ingin ganti baju? Besok masih harus sekolah, kan? Apalagi besok kau harus latihan dance sampai sore, kan? Masa seragam bau itu mau kau pakai terus sampai besok sore?"

Mata Donghae membulat, toples keripik kentang yang berhasil direbutnya, ia kembalikan begitu saja pada Kyuhyun. "Jungsoo Hyung, aku boleh ikut klub dance lagi?" tanyanya tanpa basa-basi. Anggukan dari Jungsoo sontak membuatnya berseru senang.

"Yeay!" serunya sambil meninjukan tangan ke udara. "Kyuhyun, kau ingin ikut aku ke taman? Aku akan mentraktirmu makan es krim disana!"

"Donghae-ya, Kyuhyun masih—"

"Hanya ke taman saja, Sungmin Hyung! Kau lihat, dia sebentar lagi akan berkarat kalau kalian kurung terus!"

"Yak! Kau kira aku tembaga tua?!" teriak Kyuhyun kesal.

Jungsoo mengambil toples yang hampir di bantingkan Kyuhyun. "Kau boleh keluar Kyuhyun, pakai mantelmu dan pastikan kau tidak kelelahan!"

Kyuhyun mengangguk dan tersenyum. Ia segera berlari ke kamarnya. Mempersiapkan semua keperluannya untuk malam ini.

.

.

Suasana GOR Shappire Blue High School benar-benr ramai. Riuh penonton yang memadati GOR Sekolah ini terdengar sampai ke gerbang utama sekolah.

Kyuhyun dengan tas punggung yang penuh itu berjalan beriringan bersama Donghae yang masih memikirkan apakah perbuatannya ini buruk atau tidak.

Setelah menjatuhkan tasnya melalui kaca jendela kamar ke taman belakang, tadi Kyuhyun berpamitan seperti hendak jalan-jalan biasa, hanya dengan membawa ponsel dan dompet. Lalu ia membawa tasnya yang telah tergeletak di rumput di taman belakang dan barulah berkata jujur pada Donghae kalau ia ingin ikut bertanding.

"Aku akan mati setelah ini, Kyuhyun..." Donghae bergumam berkali-kali. Ia cemas luar biasa dengan keputusan yang diambilnya ini. Sedikit menyesal karena tadi ia tidak menarik Kyuhyun kembali kedalam rumah dan membiarkan akan itu dikurung di kamar.

"Aku yang membujuk Jungsoo hyung agar mengizinkamu masuk klub dance lagi, Hyung. Sebentar lagi pentas seni, kan? Kau juga ingin tampil, kan?"

"Kau ini pamrih sekali, Kyuhyun!"

Kyuhyun tertawa. "Sekali-kali, Hyung."

Setelah tiba di dalam GOR, Kyuhyun takjub melihat betapa banyaknya penonton di sana. Kali ini sekolahnya akan melawan sekolah tetangga, Kyung Hee high school, dan tentu saja itu yang menyebabkan banyaknya penonton disini. Supporter kedua tim pasti datang untuk memberi dukungan.

"Kau akan tetap disini, kan, Hyung?"

Donghae mengangguk, kepalanya melirik ke kanan-kiri mencari tempat kosong untuk menonton pertandingan. Setelah menemukan tempat yang pas, ia berjalan santai meninggalkan Kyuhyun yang masih menatap takjup suasana GOR sekolah ini.

Kemudian ia segera pergi ke ruang ganti. Pasti semua anggota tim ada di sana untuk briefing.

"Annyeong!" sapanya dengan penuh semangat.

Semua orang di sana melongo melihat Kyuhyun yang tiba-tiba membuka pintu dan menyapa.

"Kyuhyun-ah, kau—"

"Aku sudah sangat baik-baik saja, Kibum Hyung," sela Kyuhyun.

Cha Hajin menghampiri Kyuhyun dan berkacak pinggang dihadapannya. "Kukira kau akan mengulangi kesalahanmu!" sentaknya. Sejak tadi ia sudah cukup cemas karena Kyuhyun yang tak kunjung datang. Hampir saja ia menggantikan posisi Kyuhyun di tim untuk hari ini.

"Aku sedikit kelelahan karena latihan kemarin," jawabnya dengan penuh rasa bersalah.

Kibum menarik Kyuhyun masuk ke salah satu bilik ganti. Membuka dengan paksa tas yang dibawa Kyuhyun dan melihat isinya dengan mata memicing.

"Kutebak. Kau kabur?"

"Aku diantar Donghae hyung," jawabnya jujur. Kibum menghela napas kasar.

"Haruskah aku menurunkanmu, Kyuhyun?"

Kyuhyun mengangkat bahu tak peduli. "Hajin sunbae memberiku posisi di pertandingan kali ini," ujarnya cuek, lalu melenggang keluar menghampiri teman yang lainnya.

Kibum tak bisa melakukan apapun lagi. Kyuhyun benar, semuanya telah direncanakan sejak kemarin dan tidak mungkin jika Kibum melarang Kyuhyun ikut bertanding tanpa alasan yang bisa disampaikan pada semua rekannya.

"Hari ini kita akan menghadapi lawan yang cukup tangguh. Terlebih disana ada Kim Jonghyun, pemain andalan mereka." Hajin membuka kertas yang telah dipersiapkannya, mulai menjelaskan strategi yang menurutnya pas untuk melumpuhkan lawan kali ini.

"Karena Heechul tidak turun, Kyuhyun akan mengambil alih posisinya. Jung Yunho dan Kim Jaejoong kemungkinan besar akan lebih menyerangnya. Mereka adalah anggota klub basket nasional yang pernah SBJ kalahkan di olimpiada musim gugur dua tahun lalu. Apalagi mereka baru saja dikalahkan SBJ beberapa hari lalu di babak semi final."

"Siapa Kim Jonghyun?" tanya Kyuhyun tiba-tiba. "Sunbae bilang permain andalan Kyung Hee? Tapi aku tak pernah mendengar namanya."

"Memangnya kau harus mengenal semua pemain basket Korea, Kyuhyun?!" seru Heechul di sudut ruangan. Kyuhyun berdecak, tidak main saja seniornya itu tetap menyebalkan.

"Dia tidak masuk klub nasional, Kyu. Hanya saja dia selalu ikut setiap olimpiade antar hugh school. Dan satu lagi, dia tidak pernah main full di setiap pertandingan, paling lama dia main setengah pertandingan."

Alis Kyuhyun bertaut, sedikit heran dengan penjelasan terakhir mengenai Kim Jonghyun.

.

.

Semua pemain siap di lapangan, mereka tengah melakukan pemanasan. Kyuhyun melihat-lihat tim lawan di sudut lain lapangan. Benar saja, ada Jung Yunho dan Kim Jaejoong disana. Tapi, yang mana Kim Jonghyun? Kyuhyun sangat penasaran dengan nama itu. Cha Hajin beberapa kali memperingatinya untuk tidak main-main dengan Kim Jonghyun. Katanya, sedikit saja ia lengah, Kim Jonghyun akan merebut bola dan mencetak angka.

"Kau gugup, Kyu?" Changmin melempar sebotol air mineral padanya, setelah selesai melakukan pemanasan. Kyuhyun meneguk isi botol itu sampai tersisa setengahnya.

"Kau tahu tidak, Jung Yunho dan Kim Jaejoong akan membantaiku dilapangan nanti," keluh Kyuhyun tanpa sadar. Changmin tertawa melihatnya.

"Kyuhyun, kalau saja kau lupa, saat kau menghilang di pertandingan final SBJ itu, tim mereka berhasil mengalhkan tim-mu," timpal Siwon. "setidaknya mereka pernah menang darimu, kau tidak perlu terlalu khawatir."

Perkataan Siwon mengingatkan Kyuhyun pada Minho. Sejak pertemuannya dengan Minho di SBJ, Kyuhyun tak pernah melihat anak itu lagi. Mungkin dia sibuk dengan olimpiade musim gugur ini, apalagi SBJ masuk ke final. Tapi, apakah Minho benar-benar marah padanya bahkan sama sekali tak pernah menemuinya di sekolah maupun di gedung SBJ ketika ia berlatih?

"Kyuhyun! cepat!"

Teriakan Kibum membuatnya tersadar. Segera Kyuhyun berlari ke lapangan untuk memulai pertandingan. Matanya menatap satu-persatu anggota tim lawan di hadapannya. Seketika, matanya terbelalak sempurna. Orang itu... orang yang bertemu denganya di depan ruang Dokter Jung tempo hari, berdiri paling belakang menatapnya dengan sorot yang sama. Kaget dan tak percaya. Mulut Kyuhyun bergumam pelan tanpa sadar, menggumamkan nama yang tiba-tiba saja melintas di pikirannya.

"Kim Jonghyun..."

Seperti biasa, Siwon berdiri di tengah lapangan bersama wasit dan seorang lain dari tim lawan. Ketika bola dilempar arah vertikal oleh wasit. Mereka berdua melompat mencoba meraih bola.

Pertandinganpun dimulai...

.

TBC

.

Jangan ada yang protes karena ini lebih sedikit dari Chapter sebelunya, ya!

Sadar atau tidak, di chapter ini saya menuliskan beberapa request dari kalian. Yang merasa permintaannya tidak ada di sini, mungkin ada di Chapter berikutnya atau mungkin karena permintaannya tidak sesuai dengan alur yang sudah saya siapkan.

Special Thanks buat yang udah review di chapter 5 dan 6; kyuli 99, oracle88, Pusycat3, cuttiekyu, Rahma94, kyuzi4869, kyume801, AinKyu, aichan14, diahretno, riskiqhiqy, sofyanayunita1, dewiangel, septianurmalit1, Desviana407, oktalita1004, Sparkyubum, Awaelfkyu13, mifta cinya, Shin Ririn1013, meimeimayra, MinGyuTae00, Nisa, kyuphoenix, Choding, Seli Kim, Rezy K, sparkyumihenecia, dewidossantosleite, Puput, ningKyu, Kuroi Ilna, rara ngcn, Gyurievil, kakagalau74, SuJuELF, retna dewi, Atika, Wonhaesung Love, Hanna shinjiseok, mengkyuwind, ameliachan, gaemgyulah, Erka, SheeHae, Aya, tabita, Xiao Neko-chan, minikyu, putkyu, adlia, mei, Filo Hip, KimHannaHyun, hee seol, sfsclouds, Bimil Chingu, Namesofia risma, gnagyu, lydia sparkyu elf, fikyu, phn19, hyunchiki, jihyunelf, readerfanpit, Kiyuh, ayana yumi, nanakyu, ririzhi, putrielfishy, hyunnie02, yolyol, Raein13, Nitha Gaemgyu, gui88, shafalifia, tutu, iissri2093, Chiffa Kazza, dinda, Yeri LiXiu, ariyanindud aya, rpsckhalways, dan Guest lainnya. Juga untuk rikarika, aku udah baca kuroko no basket nya seru^^

Fiuh, akhirnya special thanksnya rampung, kkk~~ mohon maaf untuk semua typo, atau ada nama yang terlewat.

Bye~~~~