CHAP 6 (7'-')9
UPDATE RADA PANJANG :(
########################################################################
########################################################################
MISTAKE & LOVE
Cast
- Kim Heechul
- HanGeng
- Choi Siwon
Othercast
- Lee Hyukjae
- Lee Donghae
- Leeteuk
- Jungmo
(real story belong to LadyVampAsia)
########################################################################
########################################################################
Heechul menatap kota yang asing dari balik jendela apartemen baru nya, dia mengambil nafas dalam-dalam. Saat ini dia jauh dari Seoul, Eunhyuk, Leeteuk, dan juga Hangeng. Hangeng meminta pada perusahaannya agar Heechul diterbangkan ke New York lebih dahulu dengan alasan supaya mereka membiasakan diri disana, dan Hangeng menyusul setelah pekerjaannya di Seoul selesai.
Heechul menyetujuinya. Yang dia pikirkan saat ini adalah menjauh dari Seoul, Siwon mungkin akan menyakitinya lagi. Lebih parahnya, dia takut Siwon tak bisa menguasai emosinya dan berakhir dengan membunuh Heechul. Ya, Heechul sangat menakuti hal itu.
Sebuah dengungan keras mengganggu lamunan Heechul, ponselnya bergetar di sakunya. Dia tidak perlu melihat siapa yang menelpon, dia sudah tahu bahwa itu adalah Siwon. Pria itu sudah menelponnya selama berjam-jam, meninggalkan banyak pesan suara dan sms.
Heechul berpaling dari jendela, dia membuka kopernya dan merapikan pakaiannya ke dalam lemari. Dia merapikan tempat tidur dan menggantinya dengan seprai juga selimut yang baru. Heechul duduk di ranjang, dia memeluk lututnya dan menutup matanya, mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya lewat mulut.
"Aku tidak berkencan dengan pria china," Heechul menggerutu sendiri, meskipun itu terasa seperti sebuah kebohongan. "Kenapa aku jadi sering memikirkannya, dia hanya membantuku menjauh dari Siwon. Kami tidak ada hubungan apa-apa. Kami tidak saling mencintai. Kami hanya teman….kami tidak….."
Heechul menggeram frustasi. Dia berdiri di lantai dan menendang koper merahnya. Heechul tiba-tiba merasa jantungnya berdebar, mukanya terasa panas. Dia membutuhkan udara, dan juga dia membutuhkan sedikit minuman. Heechul bergegas keluar apartemen dan menguncinya. Dia berdiri di depan lift, memeriksa bahwa kunci sudah dia masukkan ke saku nya. dia menunggu lift turun sambil merapikan rambutnya dan sesekali melihat keatas untuk memastikan sudah berada di lantai berapa liftnya.
Meskipun bahasa inggrisnya dibawah standar, Heechul yakin bahwa tidak akan sulit untuk menemukan club disekitar sini. Heechul melangkah keluar gedung apartemen dan berjalan menyusuri trotoar di jalan.
Heechul berjalan cepat menyusuri jalan sempit, melewati sebuah toko yang menjual dress berwarna cerah, dia berjalan sampai melewati sebuah gereja di jalan besar. Jalan itu penuh sesak dengan orang-orang dan mobil. Semua orang berjalan cepat dengan ekspresi seolah-olah mereka tahu kemana mereka akan pergi. Sedangkan Heechul, dia berjalan pelan dan tampak seperti anak hilang.
Dia melirik papan nama jalan di depan, West 35th. Dia bersusah payah mencari club yang menjual soju. Melewati department store Giant Macy, Heechul tampak frustasi dan menyerah, dia hendak kembali ke apartemen nya, keputusannya berubah ketika dia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Heechul melihat bank dengan tulisan korea. Heechul langsung berlari menuju bangunan itu dan berharap menemukan seseorang yang mengerti apa yang dia katakan.
Suara familiar terdengar ditelinganya, dia tersenyum mendengar beberapa pria berbicara dalam bahasa korea. Dia bertanya dimana club yang menjual soju kepada sekelompok pria itu. Heechul merendahkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih. Dia kini berjalan beberapa blok ke arah West 32th. Dia lalu masuk kedalam sebuah club yang bertuliskan hangul di atasnya.
Di dalam club, dia menemukan beberapa pria korea dan beberapa wisatawan disana. Heechul lalu duduk di depan bartender dan memesan 1 botol soju. Ketika pesanan datang, Heechul langsung membuka tutup botolnya dan menuangkannya ke gelas. Meminumnya dengan satu kali tegakan. Ini adalah pertama kalinya dia minum setelah tiba di New York. Dia merasa sedikit lebih tenang.
########################################################################
########################################################################
Heechul berada di sana hingga malam, ketika live band telah muncul, bahkan kini dia sudah hampir mabuk. Dia tidak memikirkan bahwa ini bukan MnD club, disini dia sendirian, takkan ada yang mengawasinya saat mabuk seperti Leeteuk. Saat dia sudah benar-benar mabuk, dia tak sadar jika kini dia sudah berada di pelukan pria asing. Kini dia dan pria itu tengah menyaksikan live band. Di panggung, seorang pria berambut pink permen karet, tinggi dan ramping, dia tengah bermain gitar akustik. Dia menatap langsung Heechul yang tengah mabuk.
Tak lama, Heechul digiring keluar oleh pria asing yang memeluknya. Dalam keadaan mabuk Heechul berusaha sadar untuk tidak meninggalkan club dengan orang asing. Tapi pria itu beranggapan lain, dia mulai menggerayangi tubuh Heechul, Heechul yang hampir sadar mulai berusaha melepaskan dirinya dari pria asing itu.
"Lepaskan!" Heechul berteriak mencoba melepaskan cengkraman tangan pria itu di pinggangnya. "Aku tidak mau! Biarkan aku pergi!"
"Kita akan ke hotel, baby" pria itu melantur. "Aku sudah kesepian, dan aku menemukan pria cantik seperti bunga, tenang saja aku akan membayarnya penuh."
"Aku bukan 'pria' seperti itu!"
Penglihatan Heechul mulai buram. Samar-samar dia mendengar pria asing itu memanggil taksi dan kemudian suara mobil berhenti tepat di depannya. Pria itu bergumam tentang hal-hal yang ingin dia lakukan terhadapnya. Heechul tersentak dan masuk ke dalam taksi. Heechul merasa mual dan terus muntah mengotori celana merah kotak-kotak dan kaos putihnya.
Sebelum pria asing itu ikut masuk ke dalam taksi, Heechul mendengar seseorang berteriak kepada mereka. Siapapun itu, dia terdengar panik dan marah. Heechul melihat sekilas sesuatu yang berwarna pink, lalu taksi itupun pergi dan penglihatan Heechul benar-benar gelap dan dia pingsan di kursi belakang taksi.
########################################################################
########################################################################
Pusing, itu yang dirasakan Heechul saat ia terbangun di tempat tidur yang asing. Sebuah lampu merah dan hitam terbuat dari lentera kecil tergantung di langit-langit kamar, dinding berwarna merah dan seprai sutra hitam. Heechul mengerang memegangi kepalanya yang pusing saat ia perlahan-lahan duduk di tempat tidur dan dia sedikit kaget mengetahui bahwa dirinya tidak memakai pakaian sehelai pun.
Heechul menarik selimutnya hingga ke dagu, dia mencoba mengamati sekitar ruangan. Dia berada di sebuah kamar tidur kecil dengan furniture hitam mengkilat. Ada keranjang cucian di sudut, dan sepatu berserakan di lantai.
"Dimana aku?" Heechul berbisik, matanya melirik ke meja melihat ponselnya bergetar.
Dia menyambar ponselnya dari meja, Heechul merasa lega ketika diamelihat nama 'Pria China' di layar ponselnya. Heechul menjawab panggilan dan menaruh ponselnya ke telinganya.
"Pria china…" Heechul merintih. "Aku nyasar,"
"Nyasar?" ulang Hangeng. "Ini jam 3 pagi di New York. Mengapa kautidak di apartemen? Aku sudah menelponmu selama berjam-jam. Aku sangat mengkhawatirkanmu, aku tidak bisa tidur sejak tadi."
"Aku pergi keluar untuk minum dan…"
"Heechul, kau tidak seharusnya keluar minum sendiri di kota asing. Seharusnya aku ada disana denganmu. Apa yang sudah kulakukan, kenapa aku mengirim mu ke New York sendirian. Aku akan menyelesaikan tugasku disini secepat mungkin dan segera menyusulmu kesana."
"Hangeng." Heechul mencoba meyakini Hangeng. "Aku bukan anak kecil, aku bisa menangani ini, dan aku akan baik-baik saja."
"Maaf, tapi…kau terdengar tidak baik-baik saja. Sekarang kau dimana?"
"Dengar, jangan khawatirkan aku." Heechul menghela nafas, suaranya berubah manis. "Hannie~ aku baik-baik saja. Oke? Aku menutup telepon. Bye~"
Heechul menekan tombol end call, dan mematikan ponselnya, melemparkannya ke tempat tidur. Dia merasa tidak tenang dengan berbohong pada Hangeng bahwa dia baik-baik saja.
"Aku akan menemukan jalan kembali pulang ke apartemen," Heechul beranjak dari tempat tidur dan mulai mencari pakaiannya. "Langkah pertama, berpakaian."
Setelah menyusuri kamar selama beberapa menit, Heechul meyimpulkan bahwa pakaiannya telah hilang. Dia menarik selimut dari tempat tidur dengan kasar dan frustas, membungkus tubuhnya dan berjalan kikuk ke pintu kamar.
Heechul menempelkan telinganya di pintu. Samar-samar dia mendengar alunan lembut gitar akustik dan seseorang bernyanyi dengan suara merdu. Heechul mengambil nafas dalam-dalam dan membuka pintu kamar perlahan. Melangkah keluar dari kamar, dia menemukan dirinya di sebuah ruangan cerah yang penuh dengan furniture juga peralatan musik. Dindingnya di cat putih bersih, lantainya ditutupi karpet krem dan ada sofa besar berwarna merah dengan bantal bulu lembut. Dapur kecil yang rapi dan jendela besar ditutupi tirai putih. Disekitar ruangan terdapat koleksi amplifier dan keyboard. Rak penuh kaset dan meja komputer penuh lembaran musik, juga perlatan rekaman.
Di sofa terdapat seorang pria berambut candy pink , persis seperti permen karet. Dia mengenakan celana putih dan tshirt hitam kebesaran. Gitar akustik di tangannya dan dia sesekali memetik lembut dan bersenandung kecil. Pria berambut pink itu menoleh melihat Heechul dan tersenyum kepadanya.
"Bagaimana tidurmu?" orang itu bertanya, suaranya sangat lembut. "Kau sudah tidur lumayan lama,"
"Siapa kau?" Heechul mengeratkan selimut di tubuhnya dan berjalan mundur perlahan. "Dimana pakaianku?"
Pria itu berdiri dan memperkenalkan dirinya, "Aku Kim Jungmo. Pakaianmu kini sedang aku cuci,"
"Kau melepas pakaianku disaat aku tidak sadarkan diri?" Heechul geram. "Bagaimana aku tahu kalau kau tidak mengambil keuntungan dari hal ini,"
"Tidak. Aku tidak melakukan apapun," Jungmo cemberut. "Maaf, aku hanya mencoba membantumu,"
"Kenapa? Dimana pria yang semalam?"
"Oh, aku meninggalkan dia di pinggir jalan depan club," jelas Jungmo sambil mengangkat bahu. "Aku khawatir saat dia memaksamu keluar dari club, jadi aku mengikutimu. Dia mendorongmu paksa masuk ke dalam taksi, jadi aku berpikiran bahwa kau tidak mau pergi bersamanya. Jadi aku menghajarnya. Aku tidak tahu dimana kau tinggal, jadi aku membawamu ke tempat ku. Maaf kalau aku membuatmu takut,"
Heechul menyipitkan matanya, dia memandangi Jungmo yang berjalan ke dapur dan mengambil minum.
"Kepalamu pasti pusing," Jungmo mendekati Heechul dan memberikannya segelas air putih juga obat sakit kepala. "Kau banyak minum tadi,"
"Aku…harus pergi," jawab Heechul hati-hati saat dia mengambil gelas dan obat yang ditawarkan kepadanya, dia memeriksanya untuk memastikan dia tidak diracuni.
"Ini jam 3 pagi dan pakaianmu belum kering," Jungmo menjelaskan. "Kau bisa tinggal sampai pagi."
Saat Heechul masih menatap tajam ke arahnya, Jungmo bergegas kekamar tidur dan mengambil sesuatu untuk dipakai oleh Heechul. Dia mendapatkan celana hitam dan tshirt merah kebesaran, Heechul merasa jauh lebih nyaman dantidak takut lagi. Jungmo sepertinya benar-benar bermaksud baik.
"Jadi, kau seorang musisi?" Heechul bertanya sambil berpakaian.
"Aku bekerja di toko beberapa blok dari sini," Jungmo kembali kesofa dan memegang gitar. "Aku punya pertunjukan setiap malam di club,"
"Tadi aku sempat mendengar kau bernyanyi, menurutku itu terdengar bagus," Heechul memuji. "Apakah kau yang menulisnya?"
"Ya." Jungmo mengangguk. "Tapi ini belum selesai,"
"…. Kim Jungmo, kenapa kau menyelamatkanku semalam?"
"Aku hanya khawatir," Jungmo mengaku. "Aku tahu bahwa kau tidak mau ikut dengannya. Dia akan menyakitimu kalau aku tidak menolongmu semalam. Aku tidak suka melihat orang terluka,"
"Aku sudah terluka," bisik Heechul, jari-jarinya menyentuh memar yang hampir memudari di wajahnya
"Kau memang punya luka yang banyak," Jungmo mengamati Heechul sambil menyentuh wajahnya. "Tidak seharusnya tangan memukuli seseorang yang begitu indah,"
Heechul hanya diam dan membiarkan Jungmo menyentuh wajahnya. Ada tatapan sedih di mata gitaris itu.
"Ngomong-ngomong, namaku Kim Heechul," Heechul memperkenalkan diri, suaranya membuat Jungmo menjauhkan tangannya dari wajah Heechul dan berpaling.
"Sangat senang bertemu denganmu, Heechul," Jungmo menjawab dengan senyum, "Berapa lama kau tinggal di New York?"
"Aku tiba dari Seoul kemarin pagi," Heechul tertawa. "Ini hari pertamaku,"
"Berapa lama kau akan tinggal?"
"Aku pindah kesini," Heechul menjelaskan. "Aku tidak yakin berapa lama. Temanku mendapat transfer kerja disini dan dia memutuskan untuk menyuruhku datang lebih dahulu,"
"Aku sudah tinggal disini selama 10 tahun," ucap Jungmo
"Aku hanya bosan di apartemen sendirian, aku tidak bisa duduk-duduk saja sementara temanku bekerja sepanjang hari. Aku pastikan Hannie akan membunuhku jika dia tahu yang sebenarnya terjadi semalam,"
"Dia peduli padamu. Dia khawatir karena dia perduli padamu,"
"Ya, aku tahu itu,"
"Kau tahu. Jika kau butuh pekerjaan, kau bisa datang ke tempatku. "Jungmo menawarkan. "Kami menjual buku, CD, dan perlengkapan kecantikan. Ituakan baik jika kami memiliki pekerja tambahan,"
"Kau yakin mau memperkerjakan orang yang tidak dapat berbicara bahasa inggris?"
"Kebanyakan pelanggan toko kamu orang korea, jadi tidak bisa berbahasa inggris bukan masalah besar," Jungmo tersenyum gugup. "Lagipula kau cantik, banyak wanita yang datang hanya untuk menggoda atau sekedar membeli banyak peralatan kecantikan,"
"Apakah kau mulai menggodaku, Kim Jungmo?" Heechul tertawa. "Kau bukan orang pertama yang mengatakan bahwa aku cantik. Jadi jangan hanya karena kau menyelamatkanku, aku akan tidur denganmu,"
"Bukan itu…" Jungmo tergagap, dia terlihat gelisah. "Heechul, akutidak…."
"Tenanglah, bubblegum." Heechul tertawa karena melihat blush diwajah Jungmo yang lucu.
"Tidak, aku tidak ingin apapun darimu, Heechul," Jungmo meyakinkan. "Begitu pakaian kau kering, kau dapat pergi dan tidak akan bertemu denganku lagi. Aku tidak keberatan, aku senang bahwa kau akan baik-baik saja."
"Kau manis," Heechul memuji. "Oke, aku sendirian disini sampai temanku datang, aku mungkin akan mempertimbangkan tawaran pekerjaan darimu."
"Senang mendengarnya," jawab Jungmo lembut. "Kau masih lelah. Jika kau mau kau bisa kembali tidur dan aku akan tidur disini,"
"Aku akan mengunci pintu sementara aku tidur, bubblegum. Aku harap itu tidak menyinggung perasaanmu," Heechul berdiri dari sofa
"Aku mengerti," Jungmo mengangguk
"Oke, bye bubblegum."
Heechul berjalan ke arah kamar tidur, dia masuk ke dalam lalu menguncinya. Heechul naik kembali ke tempat tidur dam menyalakan ponselnya. Dia harus menelpon Hangeng kembali.
"Apakah kau baik-baik saja?" Hangeng mulai mengoceh saat Heechul baru saja menelponnya. "Mengapa kau mematikan ponselmu, Heechul?"
"Aku baik-baik saja, jangan panik, Pria china." Heechul tertawa. "Aku masih hidup, aku belum mati,"
"Mafkan aku," Hangeng meminta maaf. "Aku tidak bermaksud, aku hanya panik, sulit hidup jauh darimu sekarang. Kau sangat kacau terakhir kali,"
"Aku baru saja diperkosa Siwon, tentu saja aku kacau," Heechul merengek. "Kamu tidak mengerti rasanya, aku pikir aku mati rasa kemarin."
"Lalu, kenapa kau tak mencoba melawan?" tanya Hangeng, suaranya terdengar sedih
"Kau mau aku mati?" Heechul meratap
"Tentu saja tidak,"
"Pria china, kau harus istirahat, tidurlah. Aku akan kembali tidur dan menutup teleponnya,"
"Apakah kau akan kembali ke apartemen?"
"Tidak sekarang, aku malam ini tinggal dengan seorang teman,"
"Teman? Siapa yang kau kenal di New York?"
"Bubblegum," Heechul tertawa, dia senang dan hatinya sedikit nyaman jika dia sedang menikmati bemain-main mengerjai Hangeng. "Dia manis, kau akan menyukainya."
"Siapa?" Hangeng panik. "Heechul…."
"Selamat malam, pria china,"
########################################################################
########################################################################
TO BE CONTINUED...
Heemalbub/Chocoball Sun Hi
########################################################################
########################################################################
