Sawamura berani bersumpah kalau ada yang mengawasi dia sejak tadi.
Tanpa menciptakan kontak mata saja ia tahu—ada hawa tidak menyenangkan yang membayangi. Seperti selimut panas di udara, ia membungkus dan menjebak Sawamura di satu tempat. Dadanya naik turun. Napasnya tersengal.
Diam-diam gadis itu merapalkan doa, mengucap mantra-mantra—tolong, jangan munculkan makhluk itu lagi di hadapanku.
Sudah cukup ia dihantui dalam mimpi, dibayangi sampai tidak berani terlelap. Sudah cukup matanya diwarnai oleh rasa takut. Sensasi diselimuti oleh bayang-bayang mimpi itu masih terasa begitu kental—sehingga ia tidak merasa seperti diri sendiri.
Ia menarik napas dalam-dalam. Udara panas yang membungkus berubah dingin ketika masuk ke dalam paru-paru. Rusuknya serasa diikat. Haruskah aku memanggil Ayah?
Siang itu, ketika Sawamura dan Natsume saling berbincang—tepatnya ketika Sawamura mengakui bahwa ia terperangkap mimpi buruk—perasaan was-was memenuhi benak.
Apakah ia melakukan hal yang benar?
Apakah Natsume memang layak untuk diberitahu—lepas dari seberapa ramahnya lelaki itu?
Seumur hidupnya, Sawamura pernah dirasuki sebanyak tiga kali. Ia pertama kali dikuasai oleh roh mistis seminggu setelah ulang tahunnya yang ketujuh—dan hal itu bukan peristiwa yang patut dibanggakan. Ia kehilangan kontrol pada tubuhnya sendiri, berteriak tanpa suara di dalam dunia yang gelap, dan ditekan oleh seseorang yang mengambil alih fisiknya. Dalam hati, ia menangis, tapi di luar orang-orang melihatnya membabi buta.
Ia juga tahu kalau dirinya tidak lepas dari figur non-manusia. Mereka ada di mana-mana, ia tahu—tapi untunglah Sawamura tidak mampu melihat mereka.
Sekalipun hidupnya sensitif merasakan eksistensi para dedemit, bukan berarti Sawamura bersedia diberi penampakan sesosok youkai. Bukan berarti ia gadis yang pemberani dan kebal.
Hawa mengerikan itu kembali menggerayangi punggung. Dengan jantung berdebar di luar kontrol, Sawamura memberanikan diri memutar tubuh.
Ternyata benar, ia tidak sendirian.
"Kau—" mata Sawamura membelalak. Sosok laki-laki berkacamata berdiri kalem di hadapan. "—kau siapa? Ada perlu apa ke sini?"
Jawaban siswa itu sungguh tak terduga. "Kau bisa melihatku?"
"Eh?"
"Kau bisa melihatku, kan?" ketika kedua pasang mata saling menatap, laki-laki itu mengangkat alis. "Menarik sekali. Kukira hanya laki-laki itu yang bisa mengenali wujudku yang sekarang."
"Laki-laki… yang mana?"
"Yang kauajak bicara tempo hari." Lawan bicaranya mengulas senyum. Dan Sawamura tidak menyukai senyum itu. "Matanya bagus sekali."
Sawamura terkesiap. "Laki-laki yang kaumaksud itu—apa Natsume-kun?"
"Mungkin." Seringai tak menyenangkan itu menggantung permanen di wajah si laki-laki misterius. "Natsume Takashi—kalau tidak salah, mereka menyebutnya begitu."
Napas Sawamura tercekat. Laki-laki ini bicara begitu aneh, tapi juga terdengar sangat familier di ingatan. Mungkinkah—"Apa kau ini jelmaan youkai?" pertanyaan itu mendadak saja terlontar dari pikiran. "Kau ingin menggangguku tanpa terlihat, kan?"
"Aku memang berencana untuk tidak terlihat olehmu." Kacamata itu berkilat-kilat. "Karena itulah aku agak terkejut ketika kau bisa melihatku."
"Tapi wujudmu manusia. Bukankah hal itu berarti orang lain bisa melihatmu?"
"Aku sengaja merubah wujud untuk menghemat energi. Kalau aku membiarkan bentuk asliku berkeliaran, manusia tetap bisa merasakan presensiku—senormal apapun mereka," terang makhluk jejadian itu. "Apalagi dengan wujud asliku yang terlalu kuat itu, bukan tidak mungkin kalau kau bisa meninggal."
"M-meninggal?"
"Youkai hidup dengan memakan energi manusia, kan?" tangannya terbuka, menunjukkan segumpalan cahaya gelap. Cahaya itu kemudian masuk ke dalam tubuhnya, seolah terserap. "Main logika saja. Semakin besar wujud yang harus kugunakan, semakin besar juga energi yang bisa kuserap. Dalam hitungan detik, tubuhmu bisa kehilangan jiwanya."
Gadis itu gemetar. Ia tengah berhadapan dengan sosok yang begitu berbahaya—yang bisa saja merenggut nyawa sekalinya ia lengah. "Lalu kenapa kau mendatangiku?"
"Kenapa, ya?" yang satu melangkah mendekat, satunya lagi menghindar. "Aku tertarik padamu—sekalipun ketertarikanku lebih condong pada dua laki-laki yang satu sekolah denganmu."
"Dua?" suara Sawamura seolah tersangkut di tenggorokan. "Jadi benar apa yang disebutkan dalam mimpiku? Ada satu orang lagi yang kauincar selain Natsume-kun?"
Sekalipun mengerikan dan traumatis, Sawamura cukup waras untuk menangkap apapun yang terjadi pada mimpi buruk itu. Bagainama suara mengerikan itu menggaungkan dua buah nama. Ia ingat betul figur Natsume muncul dan hilang di tengah-tengah kegelapan. Kemudian muncul satu sosok lagi, yang—entah kenapa—begitu mengabur.
"Aku senang otakmu cepat tanggap," ia tertawa. Suaranya rendah dan—sekalipun begitu mirip dengan suara manusia—tidak memiliki kesan ramah yang menghangatkan. Sawamura merasakan bulu kuduknya menari. "Habisnya, aku tidak menyangka bisa menemukan orang-orang ajaib seperti mereka. Ketua OSIS Rakuzan itu… matanya, kepribadiannya, jauh lebih menantang ketimbang Natsume Takashi."
Tunggu—dia mengincar Natsume dan kaichou, artinya…
"Kau youkai yang menggangguku dalam mimpi?"
Kepala dimiringkan. "Senang, tidak, dapat kunjungan langsung? Kau orang pertama yang kudatangi dalam wujud ini, lho. Jadi kita bisa berbincang-bincang saat kau terjaga seperti sekarang."
Mana mungkin Sawamura senang? Ia sudah ketakutan setengah mati. Kakinya sudah menjelma ubur-ubur, dan sensasi tidak menyenangkan yang didapatnya dalam mimpi kembali muncul layaknya déjà vu. "Aku—aku tidak mau kaumanfaatkan lagi. Jadi sebaiknya pergi dan cari orang lain."
"Dan membunuh lebih banyak orang? Kurasa ayahmu tidak akan senang." Ia tersenyum kea rah pelataran rumah keluarga Sawamura. Begitu banyak ornamen yang menunjukkan kepercayaan tinggi sang ayah pada hal-hal spiritual, serta penolakan atas roh jahat. "Harus kuakui, patung dan doa-doa yang ia ucapkan cukup manjur. Kalau aku youkai level rendah, tubuhku sudah pasti rontok dan hangus."
Tidak ada satu pun kalimat yang bisa diutarakan oleh gadis itu. Ia menatap sosok di hadapannya dengan ekspresi waspada dan cemas.
"Aku tidak akan muncul lagi dalam mimpimu. Kalau kau lebih suka aku muncul dalam wujud seperti ini, aku akan dengan senang hati menurutinya." Kacamata itu berkilat-kilat. "Tapi sebagai gantinya, aku butuh bantuanmu."
"Bantuan… apa?"
"Apa lagi?" kini jarak mereka tak lebih dari beberapa senti. Sawamura mendekap tubuhnya, seolah menyerap seluruh kehangatan yang hilang dari dalam.
"Bantu aku melenyapkan Natsume Takashi dan Akashi Seijuurou."
.
.
Natsume lupa kapan ia pernah seterkejut ini. Apakah saat ia pertama kali bertemu dengan Natori, atau dalam perjumpaan pertamanya dengan Madara—tak pernah ia bisa bersikap wajar saat menemukan manusia dengan kekuatan di luar batas wajar.
Kali ini, keterkejutan itu tertuju pada Akashi. Laki-laki supersempurna yang ia kira sangat wajar.
"Punya… dua kepribadian yang berbeda?"
Akashi mengangguk, lepas dari seberapa sakit kepalanya saat ini. Mereka duduk berhadap-hadapan di teras apartemen, dengan secangkir teh di atas meja. Madara dibungkam dengan lima butir donat—Natsume terpaksa merelakan uang sakunya selama sebulan.
Natsume bahkan tidak menyentuh minumannya. "Ini mengejutkan," katanya, "Kukira Seijuurou-san… cukup normal—"
"Jadi maksudmu, aku yang sekarang tidak normal?" tukas Akashi tajam.
"Tidak. Tentu saja tidak. Ini tidak biasa, memang—tapi bukan berarti sesuatu yang aneh." Natsume cepat-cepat membenarkan. "Sama seperti aku yang bisa melihat youkai, Seijuurou-san pasti punya keunikan tersendiri."
"Keunikan, ya? Dasar anak baik."
"Pribadiku yang satu ini… sedikit lebih agresif." Ia menghela napas. "Kurasa kau perlu tahu kalau pertemuan kita tidak semuanya terjadi ketika aku sadar. Ada saat-saat ketika 'dia' mengambil alih tubuhku—memperlakukanmu seenaknya seperti yang sudah terjadi beberapa waktu silam. Untuk itu, aku minta maaf."
Kini Natsume paham—kenapa iris mata yang ia lihat sering berubah-ubah. Kenapa nada suara itu, sekalipun begitu sama, memiliki aura yang berbeda. Nyatanya, Akashi memiliki dua jiwa di dalam satu tubuh. "Tidak masalah. Ini bukan salah Seijuurou-san, jadi tidak perlu minta maaf."
"Tapi dia bertindak karena bawah sadarku menginstruksikan begitu."
Iris cokelat membola. "Maksudnya?"
Akashi menghela napas, berusaha menemukan kata yang tepat. "Kepribadianku ini muncul pertama kali ketika aku menginjak sekolah menengah pertama. Ketika itu, otakku berada di ambang kehancuran. Aku mengalami konflik yang luar biasa antara diriku dengan orang lain—bagaimana caranya mempertahankan harga diriku sebagai seorang Akashi Seijuurou. Aku takut ketika orang lain mulai berpaling dariku. Aku cemas saat mereka tidak lagi menuruti perintahku.
"Karena itulah—menurut asumsiku—karakter ini muncul. Ia mengambil alih tubuhku selama dua tahun penuh. Ia adalah bagian dari diriku yang jauh lebih otoriter, ambisius, dan mengedepankan kesempurnaan. Replika sempurna dari ayahku sendiri. Baginya, kekalahan adalah sebuah dosa yang tidak termaafkan. Ia tidak menerima segala bentuk kelemahan. Selama dua tahun itu aku terkurung di dalam kegelapan. Aku hanya bisa mengawasinya menindas teman-temanku—menjejaki harga diri mereka untuk mencapai puncak—dan menyematkan label emperor."
Isi kepala Natsume seolah berputar, namun ia berusaha memahami cerita itu. "Lalu, mata kuningmu itu—apa itu efek samping dari pergantian kepribadianmu?"
Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan. "Dia sengaja menyisakan satu irisku tetap berwarna merah—untuk menjaga identitas asliku. Secara nalar, mata itu merupakan tanda. Tanda bahwa aku telah mengikat kontrak dengannya, dan menjalin hubungan hidup-mati. Aku menjalani dua tahun penuh terperangkap dalam bawah sadarku sendiri, dihantui mimpi buruk setiap malam—tanpa tahu apakah mimpi-mimpi itu nyata atau tidak.
"Setelah dua tahun itu, untungnya, aku berhasil kembali. Ada kelegaan luar biasa ketika jiwaku yang asli menempati tubuh ini. Saat itu juga, ia lenyap. Tidak sepenuhnya menghilang, tapi seolah tertidur untuk sementara." Ekspresi gelisah terlihat jelas di wajah tampan itu. "Sepertinya kasus ini membangunkannya. Mungkin, dia tidak menyukai kenyataan bahwa ada orang lain di Rakuzan yang lebih berkuasa darinya."
"Youkai." Natsume mengoreksi, "Bukan 'orang', tapi youkai."
"Sama saja. Orang atau makhluk halus—dia tidak menyukai kenyataan itu. Mungkin, alasan itulah yang membuatnya berkali-kali muncul ke permukaan. Barangkali, ia ingin menantang si youkai." Tawanya terdengar sumbang dan palsu.
"Aku tidak mengerti. Katanya, youkai itu mencarimu—"
"Tentu saja. Siapa yang tidak tertarik pada orang dengan kepribadian ganda? Aku menciptakan asumsi bahwa makhluk itu sengaja mengejarku karena ia tertarik mencicipi dua jiwa dalam satu tubuh. Fakta menarik yang bisa kauketahui tentangku: ini adalah kali pertama bagiku untuk berkomunikasi dengan makhluk halus." Ia tersenyum sesaat, namun rautnya berubah suram dalam hitungan detik. "Asumsi berikutnya, ia juga mengincarmu karena kemampuanmu melihat roh halus. Hanya saja—" kalimatnya menggantung. Senyumnya surut secepat ketika lengkung bibir itu naik.
"Kenapa?" Natsume mengejar.
"Kurasa hal itu sama sekali tidak masuk akal. Sekalipun kau bisa melihatnya, bukan berarti kau bisa melakukan sesuatu untuk melenyapkannya, kan?" kedua alis saling bertaut. "Ada banyak manusia indigo di dunia ini… jadi kenapa kau yang jadi incarannya?"
Natsume meneguk ludah. Akashi tidak tahu-menahu tentang yuujinchou—dan Natsume juga tidak akan membocorkan informasi itu. Apabila orang awam seperti Akashi mengetahui eksistensi buku itu, siapa yang tahu efek sampingnya nanti?
Entah kenapa, Natsume akan sangat tidak tega membayangkan kemungkinan buruk yang bisa menimpa Akashi.
Ia memutuskan untuk sedikit membelokkan alasan. "Seingatku, Sawamura pernah bercerita tentang seorang anak yang mengamuk di kelasnya—kalau tidak salah, sempat mengigau dalam mimpi. Katanya, anak itu menyinggung soal 'orang-orang yang melanggar hukum'." Dahinya berkerut, berusaha mengingat-ingat setiap detail. "Barangkali, ia mencariku karena itu. Aku memiliki kemampuan yang tidak sepantasnya dimiliki manusia."
"Tapi kenapa harus kau?" sialnya, Akashi kelewat pintar untuk tidak melewatkan poin utamanya. "Sudah kubilang tadi, ada begitu banyak orang dengan kemampuan melihat youkai. Ada banyak orang yang lebih pantas diganggu daripada kau. Jadi kenapa—" jarinya yang terkepal gemetar.
"Memangnya Seijuurou-san sendiri pantas disiksa seperti ini?" Natsume refleks menyahut. "Seijuurou-san, lebih dari siapapun, adalah orang yang paling layak dilindungi. Kau sudah menanggung terlalu banyak beban."
Akashi menatapnya dengan alis terangkat. Natsume sendiri bertanya-tanya—kenapa dadanya terasa begitu panas ketika melihat figur sang ketua OSIS yang begitu rapuh.
Melihat Akashi yang seperti ini—entah kenapa, Natsume jadi tidak tega. Tidak rela. Tidak bersedia melepas—
Oh, sial. Pikirannya jadi berkelana ke mana-mana.
Ia meneguk ludah, berusaha mengembalikan fokus. "Seijuurou-san tidak boleh terlihat seperti ini," katanya. "Jangan buat Seijuurou-san terlihat lemah di mata para youkai."
Senyum itu muncul lagi. Lagi-lagi, senyum yang mampu meluluhkan semua ketakutan. "Aku bisa menjaga diriku dengan baik," sorot mata itu lembut dan sarat akan unsur kemanusiaan. "Aku jauh lebih kuat ketimbang diriku tahun lalu. Pengalamanku bergelut dengan dua tubuh sudah cukup menciptakan daya tahan—"
Kemudian hening. Kalimat Akashi menggantung di udara. Irisnya melebar, seolah baru saja menerima curahan cahaya yang begitu banyak.
Memangnya kau tidak sadar siapa yang selalu siap melindungimu ketika aku merasuk ke dalam tubuhmu?
Ia mengerjap. "Ini tidak mungkin, kan?" bisiknya pelan.
Natsume yang mengamati perubahan perilaku itu menjadi prihatin. Dengan khawatir ia mencondongkan tubuh ke arah laki-laki itu. "Seijuurou-san?" panggilnya, "Kau baik-baik saja?"
Iris merah kembali menatapnya. Selama beberapa detik terlihat kosong, sebelum pada akhirnya kembali pada sorot menenangkan seperti biasa. "Aku baik-baik saja," kata Akashi. Melihat ekspresi Natsume yang begitu serius, ia terkekeh. "Sungguh. Jangan menatapku dengan alis berkerut begitu, Natsume. Wajahmu yang indah itu jadi terlihat kurang enak dilihat."
'Kurang enak dilihat itu' yang seperti apa?
Tidak. Lebih dari itu—apakah Akashi baru saja mengatakan ia memiliki wajah yang 'indah'? Natsume mengusap hidung ketika berusaha menyahut, "Seijuurou-san memang pernah memberitahuku kalau aku memiliki mata yang indah."
Mungkin itu yang laki-laki itu maksudkan.
Walau kenyataannya—"Tidak," Akashi menggeleng tegas. "Yang kuamksud bukan hanya matamu—sekalipun kau punya mata yang begitu cantik dan menarik—tapi wajahmu. Setiap lekuknya. Bagaimana ia bisa dibentuk sebegitu indah seperti dipahat."
Ini bukan mimpi, kan?
Natsume hanya bisa menatap lawan bicaranya dengan ekspresi terpana. Seseorang dengan kaliber setinggi Akashi tidak pernah sekalipun hadir di mimpinya untuk melafalkan dialog itu—apalagi di dunia nyata.
Ujung jari kaki diinjak kuat-kuat. Ia meringis sendiri, tapi jantungnya ganti melonjak kuat ketika tahu bahwa ini sama sekali tidak terjadi di dunia bawah sadar.
"Kita… tidak duduk berlama-lama di sini hanya untuk membicarakan wajahku, kan?" tanpa sadar, pipinya menyala merah. Sial. Kenapa kali ini ia terlihat begitu feminim?
Akashi, sebaliknya, terlihat begitu tenang—cukup mengejutkan, mengingat betapa ia begitu emosional beberapa menit sebelumnya. "Kita bisa duduk di sini berjam-jam dab bicara soal hal lain di luar kasus ini," katanya. "Pembicaraan soal youkai ini, terus terang saja, membuat masing-masing pihak tidak nyaman, kan?"
Natsume hanya mengangguk, tanpa tahu ke mana arah pembicaraan ini akan dilajukan. Tapi terus terang saja, ia tak henti-hentinya melirik ke arah Madara. Kucing jejadian balas menatap, memahami maksud dari si anak manusia: mereka, lagi-lagi, berhadapan dengan orang yang berbahaya.
"Tapi kurasa aku perlu bertanya soal satu hal lagi," kedua tangan digunakan untuk menyangga dagu. Akashi menatapnya lurus-lurus. "Setelah mendengar pengakuanmu beberapa waktu yang lalu—soal bagaimana kau bisa melihat makhluk halus—aku jadi sangsi."
"Eh?" Natsume menegakkan tubuh. "Sangsi karena apa—"
"Tentu saja soal alasan kepindahanmu," jawab Akashi cepat. "Kau tidak ke sini gara-gara orangtuamu pindah tugas, kan? Terlebih lagi, kau tahu soal insiden Serangan Bawah Sadar itu."
Natsume meneguk ludah. "S-sudah kubilang, aku mendengarnya dari kerabatku—"
"Alasan lemah. Sekalipun benar kau mendengarnya dari pihak ketiga, bukan berarti kau harus seenaknya saja mencari tahu. Kalau benar motivasimu bersekolah di Rakuzan ini adalah untuk belajar, kau tidak akan membiarkan hal seperti ini mengganggumu."
Iris cokelat melebar. Jantungnya serasa mau copot, selagi ia merutuki diri. Kenapa aku bisa lupa soal otak Seijuurou-san yang lebih cemerlang dari orang kebanyakan?
Detik berikutnya, wajah mereka tinggal berjarak beberapa inci. Tatapan Akashi semakin intens menghunjam, seolah-olah ingin mendeteksi setiap detail kebohongan yang ada.
Natsume memaksakan tawa gugup. "Aka—Seijuurou-san, wajahmu terlalu dekat."
Alis Akashi meninggi, namun tidak sedikitpun ia memperbesar jarak. "Satu lagi," ujarnya dingin. "Kau mengajakku untuk bergabung dan mengusut kasus ini, kan?"
"Itu… karena katanya, Seijuurou-san tahu sesuatu soal serangan ini," jawab Natsume dengan gugup.
Padahal tadi mereka sudah membangun suasana kekerabatan yang baik—mana pakai bonus berpelukan, pula—tapi kenapa sekarang jadi mengerikan begini? Ini situasi yang sama persis dengan ketika mereka pertama kali berpapasan.
Ia balas menatap Akashi. Kedua irisnya masih merah. Artinya, laki-laki itu belum berganti identitas.
Lantas, kenapa hawanya jadi semenyeramkan ini?
Saliva kembali diteguk.
"Sebenarnya, aku… dimintai tolong oleh seseorang."
"Seseorang? Siapa?"
"Temanku. Dia juga bisa melihat youkai dan berkomunikasi dengan mereka. Saat itu, aku mendengarnya bicara dengan seorang wanita yang berasal dari Kyoto. Katanya, ia tidak bisa tidur karena diserang mimpi buruk berkepanjangan—"
Dan cerita itu pun mengalir begitu saja. Tentang Natori yang mengalami masalah terkait insiden di Kyoto. Tentang Natsume yang secara impulsif memutuskan untuk membantu Natori—semata-mata karena kasihan—dan baru menyesali keputusannya setelah itu. Tentang suara-suara yang ia dengar di Rakuzan. Ia menjelaskan bahwa kepala sekolah memutuskan untuk bungkam ketika ia ingin mengorek informasi. Sekalipun begitu, tentu saja ia menyingkirkan kenyataan bahwa kasus ini bisa saja berhubungan dengan yuujinchou yang menjadi tanggung jawabnya.
Akashi mendengarkan dengan mulut terkatup. Wajahnya serius menatap sang lawan bicara. Selagi Natsume sibuk berkisah, ia tidak menyela. Tidak juga membuat reaksi-reaksi berlebih. Hanya diam, dan menunggu dengan sabar hingga pada akhirnya Natsume menyelesaikan ceritanya.
"Inilah yang sebenarnya ingin kukatakan padamu," ia meremas jemari. "Aku khawatir kalau terlalu banyak informasi akan membuatmu menghindariku, jadi—"
Tunggu.
Kenapa ia menggunakan kata-kata seperti tipikal seorang kekasih murahan? Seharusnya, apa pendapat Akashi tidak menjadi masalah besar.
—kecuali laki-laki itu menempati posisi berharga dalam hierarki orang-orang terdekatnya.
"—maksudku, aku takut Seijuurou-san justru semakin enggan membantuku." Ia cepat-cepat mengoreksi. "Ceritaku terlalu surreal, terlalu dibumbui unsur fantasi—untuk mereka yang tidak memahami—karena itulah aku tidak sepenuhnya berterusterang padamu saat itu. Maaf."
Akashi tidak dapat menahan senyumnya. Natsume Takashi ini—kadang-kadang terlalu mudah ditebak. Wajahnya yang cepat memerah ketika bicara, lalu iris yang bergerak ke mana-mana saat gugup, kombinasi dari semua itu seolah menyajikan hiburan sendiri di mata Akashi.
Ia mengangkat alis ketika menyahut, "Dengan situasi seperti ini, siapa saja pasti terdesak untuk tidak mengatakan yang sebenarnya, kan?" tidak ada gurat amarah di wajah tampan itu. Ia begitu tenang—terlalu tenang, malah, sampai-sampai Natsume semakin gugup. "Tapi kau seharusnya bilang sejak awal."
Kepala Natsume terkulai jatuh. "Maaf," gumamnya lagi.
"Saat itu kukira kau bicara jujur." Kali ini, nada suara yang lembut itu terdengar sedih. "Mungkin apa yang menjadi misimu ini rahasia—tapi bukan berarti kau harus membelokkannya menjadi kebohongan, kan?"
Kepala Natsume tersentak naik.
Ada sesuatu yang melonjak di dalam dada, dan menyisakan perih di sana. Akashi memang tidak terlihat merah, hal itu perlu ia syukuri, tapi ekspresi sedih itu—bukan, lebih terlihat seperti raut kecewa—yang ia lihat sekarang tidak lebih menyenangkan ketika sepasang alisnya bertaut dan menciptakan kerutan di dahi.
Jemarinya mengepal di atas pangkuan. Lidah serasa kelu, tak mampu mengucapkan sepatah kata—bahkan kata 'maaf' sekalipun.
"Aku tidak menyalahkanmu," kata Akashi lagi. Sayang, kali ini Natsume bahkan enggan membalas kontak mata. "Tapi… kurasa kita tidak bisa lagi bertemu selama beberapa saat. Dengan ceritamu yang seperti itu, dan bagaimana youkai itu ternyata mengincar kita berdua, lebih baik kita berpisah jarak."
Natsume membelalak. Lengannya mengejang. Tapi masih terlalu takut untuk mengangkat wajah.
"Youkai ini pintar—itu yang kuasumsikan." Kali ini mata Akashi lurus menatap langit jingga. "Dia, barangkali, sengaja untuk mempertemukan kita di sini, untuk menghancurkan kita berdua sekaligus. Dan—"
Bibir bawah digigit. Merapalkan kalimat permohonan di otak: jangan ucapkan, jangan ucapkan, jangan ucapkan—
"—dan kurasa aku membiarkanmu terseret sebegini jauh. Seharusnya aku tidak mengantarmu ke kelas saat itu. Seharusnya aku tidak pernah berpapasan denganmu di jalan. Seharusnya kita tidak ada di sini, makan dan berbincang berduaan." Ia terdiam. "Ini semua salahku. Aku terlalu impulsif. Maaf."
Mendengar permintaan apologi itu muncul dari mulut seorang Akashi Seijuurou, entah kenapa, berhasil meretakkan jiwa Natsume.
Ia memberanikan diri bicara, "Seijuurou-san?"
Senyum tipis membalas panggilan itu. "Kurasa memaksamu memanggilku dengan nama itu juga membuatmu tertekan," katanya. "Mari kita batalkan perjanjian tentang waktu itu. Aku akan tetap membantumu memecahkan kasus—dalam kejauhan, tentu saja—tapi kesepakatan tentang bagaimana kau akan memanggilku itu tidak usah kaupedulikan."
"Seijuurou-san, aku—"
Satu tangan diangkat. Natsume langsung bungkam. "Sebenarnya aku lebih suka kalau kau kembali ke kota asalmu. Apa yang terjadi di sini bukan tanggung jawabmu—dan aku tidak mau mengikatmu terlalu lama di sini," ujar Akashi. "Perkara berapa orang yang akan mati setelah ini—mungkin aku akan menjadi salah satu di antara mereka—tidak usah kaupusingkan."
Refleks, Natsume meninggikan suara. "Tidak bisa begitu, kan? Aku tidak mau orang-orang jadi korban serangan gara-gara aku—apalagi kalau sampai mati segala. Seijuurou-san jangan sembarangan membuat keputusan."
"Aku tidak sembarangan. Justru aku berani bicara begini karena semuanya sudah kupikirkan matang-matang."
Kali ini, tinju Natsume melayang di bawah meja. Mendengar Akashi bicara dengan begitu datar, dan bagaimana laki-laki itu kehilangan sorot lembutnya—entah kenapa—menyayat sesuatu dalam hati.
Dari semua skenario peristiwa yang ada, kenapa sekarang ia baru dilimpahi emosi sekuat ini?
"Kurasa aku harus pergi." Tahu-tahu saja, Akashi sudah memutuskan untuk mengakhiri pertemuan. Ia beranjak dari bangku. Suara derit kursi menggesek ubin. "Jangan khawatir. Aku tidak akan ingkar janji soal bersedia membantumu."
"Seijuurou-san," tukas Natsume. Ia sontak ikut berdiri. "Kau marah karena aku bohong padamu?"
Akashi mengerjap sekali-dua, sebelum pada akhirnya kembali berkata, "Aku kecewa—kalau boleh terus terang. Tapi aku tahu, kalau kau tidak punya pilihan lain. Keputusan ini murni untuk melindungi keselamatan kita berdua—juga siapapun yang berpotensi terlibat."
Hal itu benar. Terlalu benar, sampai-sampai Natsume tidak mampu berkata-kata.
Untuk terakhir kalinya, Akashi menciptakan kontak mata. Ada begitu banyak kilat emosi di balik iris merah itu—marah, sedih, kecewa, dan khawatir. Natsume seolah ikut terhisap ke dalam pusaran emosi itu.
"Aku tidak mau kau mengalami hal yang sama dengan Sawamura."
.
.
Ini untuk yang terbaik.
Natsume pergi dengan kucing bundarnya. Akashi sengaja bersembunyi untuk menghindari kemungkinan berpapasan, namun matanya tak juga lepas dari lelaki itu. Kakinya seolah terpaku di tempat. Kilas balik akan percakapan mereka beberapa menit yang lalu kembali memenuhi ingatan—dan ia tidak menyukai ekspresi Natsume selama perbincangan itu berlangsung.
Bibir bawah digigit. Ia mengumpat pelan. Kepalanya sakit—begitu pula dengan sesuatu di dalam dadanya. Suara lain sibuk berujar dengan nada sinis.
Setidaknya kau sudah melakukan hal yang benar, kata suara itu. Tidak baik menempelinya terus-menerus.
"Tapi lihat betapa sakit hatinya dia," tukas Akashi. "Seharusnya aku tidak bicara seperti tadi."
"Harus begitu. Kalau tidak, bukan hanya hatinya yang akan terluka—tapi juga tubuhnya". Kepala dan dada serasa dipukul bersamaan. "Berhenti bersikap egois dan jadilah dewasa, Akashi Seijuurou."
Ia menggertakkan gigi. Rambut merah menjuntai turun, dan kakinya melemas. "Aku melakukan ini hanya karena kau sudah menyelamatkan nyawaku."
Tidak ada jawaban dari dalam sana. Seolah sang alter ego menanti penjelasan lebih lanjut.
"Aku sudah berpikir cukup lama sejak youkai itu memberitahuku—apa yang terjadi selama aku 'seharusnya' dirasuk." Kedua tangan terkepal. "Kau pernah bilang kalau sejak insiden pada pertandingan Winter Cup tahun lalu, aku seolah menciptakan pertahanan ganda. Pertahanan yang—semestinya—ditujukan untukmu."
"Benar sekali. Seandainya aku bisa bertepuk tangan untukmu." Sebuah pujian sarat sarkasme dilontarkan. "Untuk mengalami pertukaran kepribadian itu sendiri, kita harus masing-masing menembus dua lapis dinding perlindungan. Makanya, kepalamu—barangkali—akan terasa sangat sakit."
Akashi mengusap rambutnya perlahan. "Memang," katanya. "Aku selalu menderita ketika kita bicara seperti ini, karena rasanya seperti saling berbenturan di dinding yang sama. Dan sampai saat itu, aku benar-benar membencimu—dan semakin membencimu karena kau kembali, seolah-olah ingin menggangguku."
"Tidak sepenuhnya salah—tapi lanjutkan."
"Asumsiku, dinding ini juga berlaku untuk siapapun yang ingin menyerang kesadaranku." Suaranya merendah ketika beberapa orang meliriknya sembunyi-sembunyi. "Youkai sialan itu, misalnya. Dia juga harus melewati sistem perlindungan yang kubuat untuk merasukiku."
"Tepat."
"Tapi, sebagai makhluk halus, mereka tidak mungkin membuatku sakit kepala, kan? Maksudku, satu-satunya penyebab sakit kepalaku adalah kau—"
"Intinya, aku menggantikanmu saat dirasuk." Suara menyebalkan itu menyimpulkan dengan nada luar biasa arogan. "Kau tidak akan kuat menahan makhluk jadi-jadian seperti itu, makanya aku bersedia saja menjadi lawan tandingnya. Dan sebagai kepribadianmu yang lebih kuat, aku bisa menjaga kesadaranku ketika dirasuki. Karena itulah aku bisa mengingat kata-katanya, juga perbuatannya selama berada di dalam tubuhmu. Hanya saja, aku tidak cukup kuat untuk mengontrolnya."
Akashi terdiam selama beberapa saat. Suara denting bel terdengar tiap sepuluh menit, lantaran terbentur daun pintu yang terayun. Ia menoleh ke arah jalan raya—Natsume tidak lagi terlihat. "Dan saat itu aku marah besar padamu." Ia menghela napas. "Aku benar-benar gegabah."
"Yah, itu ciri khasmu sejak dulu, kan?"
Senyum tipis terbit di wajah, namun tidak berhasil menyembuhkan lara di hati. Akashi mengusap dadanya, berusaha meraba bagian yang sekiranya nyeri apabila disentuh—namun sama saja. Setiap kali nama Natsume Takashi bergaung di memori, denyut sakit itu akan terasa di penjuru dada, dan turun sampai ke ulu hati.
"Tapi…" untuk pertama kalinya, ia merasa suara itu adalah satu-satunya yang dapat membantu. "Apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana aku bisa menjaga Natsume dari kejauhan?"
Suara lain itu terkekeh.
"Kau memang bilang 'tidak akan bertemu dengannya', tapi bukan berarti kau tidak boleh bertemu dengan kucing gemuk yang selalu berjalan dengannya itu, kan?"
"Hah?"
.
.
Di dalam apartemen, Natsume tak ubahnya orang mati.
Menatap ke arah jendela yang terbuka tanpa tahu pasti mau melihat apa persisnya, duduk dengan punggung melengkung di pinggiran tempat tidur, dan kedua tangan bertumpu pada paha—dengan posisi telapak menengadah.
Posisi itu seolah-olah meneriakkan doa: kamisama, untuk sekali ini saja—izinkan aku memperoleh apa yang aku inginkan.
Madara sendiri memahami titik situasi saat ini. Sepanjang perjalanan, ia dan Natsume memilih untuk bungkam. Tidak bertukar kata—bahkan tidak sekalipun menyeletukkan keinginan makan (sekalipun perutnya keroncongan setengah mati). Ia hanya menatapi wajah si anak manusia; kentara sekali Natsume terluka.
"Aku mau bilang 'sudah kubilang, kan', tapi kau tidak akan mau mendengarku," ujarnya sinis. "Singkirkan laki-laki merah itu dari kepalamu, Natsume."
Mendengar kata 'laki-laki merah' justru menekan tuas terlarang dalam otak. Wajah Akashi muncul lagi tanpa permisi. Memblokir sosok pasangan Fujiwara—teman-temannya di sekolah lama—juga para youkai. Wajah itu terlalu besar hingga mengonsumsi tempurung tengkoraknya.
Tidak ada jawaban.
Madara Menghela napas. "Seandainya kau benar-benar menyuarakan apa yang kauinginkan, jadinya juga tidak akan seperti itu."
Rambut kecokelatan mengibas cepat ketika kepala Natsume berputar. "Tapi aku sudah berusaha membantahnya—"
"Kau hanya mengucapkan apa yang terpikir secara spontan. Laki-laki itu beberapa langkah lebih maju darimu." Madara mendengus. "Masa' kau tidak ingat dengan kata-katanya? 'aku bicara begini karena semuanya sudah kupikirkan matang-matang'."
Benar juga. Natsume, seperti biasa, selalu bertindak impulsif. Ia akan langsung menjejak ke arah mana otaknya memandu pada detik itu, bukannya berdiam sesaat dan menimbang-nimbang.
Akashi, sebaliknya, begitu presisif. Ia tahu waktu yang tepat untuk melontarkan kata-kata. Otaknya mungkin saja jenius, tapi ia bukannya gegabah. Jelas, menduduki bangku teratas pada hierarki organisasi siswa merupakan bukti dari cara pemikiran laki-laki itu.
"Tapi…" Natsume berbisik pelan. Ia menatap ke arah jendela, yang memantulkan cahaya lembut senja itu. "Rasanya sakit sekali."
"Dasar tolol." Madara memaki. "'rasa sakit'mu itu tidak ada apa-apanya dengan pengorbanan Sawamura—atau mereka yang harus mati sebelum ini."
Kalimat singkat, tapi menusuk. Natsume menatap ke arah sensei-nya dengan ekspresi tersinggung. Si kucing jejadian, sebaliknya, tidak mau repot-repot balas membelalak.
"Karena itulah aku benci berurusan dengan manusia: mereka sangat tidak profesional mengendalikan perasaan." Dengus kasar terdengar. Sangat tidak elegan layaknya kaum kucing yang seharusnya, namun Natsume tidak berniat memperdebatkan hal itu. "Gunakan otakmu sedikit, Nak. Ingat apa yang Akashi-atau-siapa-namanya-itu ucapkan terakhir kali?"
Apa yang Akashi ucapkan terakhir kali? Untuk sesaat, Natsume menautkan alis. Ia terlalu fokus pada wajah Akashi, juga pada suara yang begitu lembut dan mendayu-dayu itu—sehingga mengabaikan apa yang sebenarnya laki-laki itu bicarakan.
"…seingatku, dia bicara sesuatu soal Sawamura-san—"
"Persis. Dia bilang, 'aku tidak ingin kau mengalami hal yang sama dengan Sawamura'." Madara menyerobot cepat. "Artinya—astaga, haruskah aku menjabarkan tiap detail padamu, atau memang otakmu itu tidak bisa dipakai untuk berpikir?"
"Sensei, jangan membuatku merasa semakin parah."
"Jangan menyalahkanku. Kau sendiri yang jadi uring-uringan gara-gara dinasihati seperti itu." Kepala bulat menyeruak masuk ke dalam bantal. Kalimat berikutnya teredam, namun masih bisa terdengar. "Seperti anak perempuan yang baru putus cinta saja."
Mau tidak mau, Natsume tidak dapat menyembunyikan kegeliannya. "Katanya sensei tidak pernah peduli pada perasaan manusia?"
"Berisik! Kita sedang bicara soal hal yang penting, tahu!"
Benar juga. Nyaris saja Natsume lupa. Ia kembali tenggelam dalam pikiran.
Ketika Akashi berkata bahwa laki-laki itu tidak menginginkan Natsume mengalami nasib yang sama dengan Sawamura Katana, otaknya seolah lumpuh. Kini, setelah suasana hatinya sedikit—kata 'sedikit' perlu digarisbawahi dan ditebalkan—membaik, ia mulai bisa berpikir.
Pada hari itu, ketika Sawamura mendadak ingin berterus terang padanya, Akashi tiba-tiba saja menginterupsi. Beberapa hari kemudian, gadis itu menjadi korban baru dalam serangan berantai yang terjadi pada bawah sadarnya.
Seandainya saat itu Natsume mendengar lebih banyak—atau setidaknya bersedia duduk lebih lama dengan Sawamura—ada kemungkinan besar kalau gadis itu sudah mati.
Jemarinya terasa kebas ketika membayangkan kemungkinan itu. "Dia tidak mati, kan, sensei?" tanyanya parau. "Sawamura-san… dia masih hidup, kan?"
"Aku ini youkai, bukan peramal," cetus Madara kesal. "Tapi seharusnya gadis itu masih hidup. Kuulangi, seharusnya. Tidak pasti."
Kaki yang semula menekuk kini lurus menjejak lantai. "Aku ingin mengunjunginya—"
"Jangan bodoh. Semakin sering kau berkontak dengannya, semakin besar pula resikonya dihabisi youkai."
"Lalu aku harus bagaimana, kalau bertemu dengan siapa saja tidak boleh?"
"Siapa yang bilang kalau kau tidak boleh menemui siapapun?" mata yang awalnya sipit jadi menggaris. Madara gemas lantaran anak manusia yang satu ini tidak juga paham. "Aku bilang, jangan terlalu impulsif dalam mengambil keputusan. Cari informasi dengan cara yang tidak mencolok."
Natsume terpaku di tempat. Untuk sesaat, ia dan sensei-nya bertukar pandang.
"Ingat Akashi," kata Madara. "Ingat kemampuannya menyusun strategi."
Kali ini, Natsume membenamkan wajahnya ke balik kedua lengan yang bersilang. Ia yang selama ini bicara tanpa pertimbangan, yang selalu saja bertindak tanpa memahami, dan bereaksi lebih cepat dari kemampuan menalarnya, kini harus memutar otak berkali-kali lipat.
Apa yang ia inginkan saat ini adalah mempertahankan hubungannya dengan Akashi—tidak peduli apakah kalimat itu terdengar ambigu atau tidak.
Oh, sial, rutuknya dalam hati. Tampaknya aku sudah kepalang terikat dengan laki-laki itu.
.
.
To be continued
.
.
Kabar baiknya: Eyes sudah tamat, dan tinggal di-update secara berkala. Jadi nggak usah cemas tentang apakah Eyes akan terus menggantung, karena Gia sebagai komisioner sudah mengizinkan cerita ini dipublikasi sampai tamat. ^_^
Dan kalau ada dari kalian yang berminat untuk dibuatkan cerita dari fandom kesayangan kalian (tentu saja nggak gratis, ya. Maaf-), silakan menghubungi ke saya lewat PM. Tarif per katanya minimal Rp 25,-
Untuk lebih lanjutnya, yuk bisik-bisik mesra lewat PM!
Xoxo,
Ayame
