Harry Potter © J.K. Rowlings
Ternyata banyak yang nggak suka Ginny ya? Aku nggak bermaksud membashingnya. Aku juga nggak membencinya. Tapi, dalam sebuah cerita nggak seru kalau nggak ada tokoh antagonisnya.
Kenapa aku memilih Ginny? karena pertama, tokoh jahatnya seperti yang di canon udah keluar semua di seri pertama, Mate Seraphim. Kedua, aku mau kisahnya menggelitik emosi dan itu hanya bisa terwujud jika ia orang terdekat kita. Sakitnya tuch benar-benar ke rasa hingga tembus di hati.
Kekuatan Seraphin bagaimana? Well, kekuatan Seraphin mulai chap depan akan dibahas. Tidak di chapter ini.
Don't Like Don't Read
Ini kali pertama Draco terlihat buruk di depan publik. Rambut pirang platina yang biasanya disisir rapi dan ditata anggun kini tampak berantakan, kusut masai mencuat kemana-mana. Rambut Draco mengingatkan Daphne pada rambut Potter yang memang sudah dari sononya selalu berantakan seperti sarang burung. Kemeja dan jubah yang biasanya licin sempurna dan wangi tampak kusut bekas ditarik sana-sini. Wajah yang biasanya tenang terkendali kini tampak gelisah, dibayangi oleh kesedihan. Dan, untuk melengkapi penampilan Draco yang buruk di bawah standar, matanya merah, agak bengkak, dan di bawah kelopak matanya ada lingkaran hitam.
Daphne menatap Draco prihatin. "Drake..!" Sapanya lembut sambil menyentuh bahu Draco, berharap itu bisa memberi Draco suntikan semangat. "Bagaimana keadaan Harry?"
Draco mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk lesu. Sorot matanya mencerminkan perasaannya yang gado-gado campuran antara amarah, sedih, rasa bersalah, dan ketidak berdayaan. Draco menggeleng lemah. "Masih ditangani para healer. Harry mengalami syok akibat..." Draco mengalihkan tatapannya jadi menengadah ke atas, untuk mencegahnya menangis. Ia tak mau dicap sebagai pria cengeng. "...pendarahan." imbuhnya lirih. Hampir menyerupai sebuah bisikan halus, namun cukup didengar Daphne.
Daphne tak tahu manakah yang paling memukul jiwa Draco saat ini, terlukanya Harry ataukah ancaman kematian pada janin yang sedang dikandung Harry. Atau bisa jadi keduanya karena keduanya saling terkait, berhubungan erat, terlepas itu anak Draco-Astoria atau bukan. Yang jelas, saat ini Draco terpuruk.
'Semua ini akibat ulah si Iblis-Berambut-Merah-Keparat itu.' Pikirnya geram. Daphne terus mengumpat dalam hati, mengutuk mak lampir bernama Ginny Thomas. Dia lah yang paling bertanggung jawab atas keterpurukan Draco saat -gara dia, pengantin Draco berakhir di ranjang rumah sakit. Gara-gara dia, Draco gagal nikah. Gara-gara dia, calon anaknya nyawanya terancam. Kurang apalagi coba?
Ah ngomong-ngomong soal pernikahan, sekarang Daphne yakin 100% jika Draco memang mencintai Harry Potter. Tidak ada keraguan , Harry masih mau nggak sama Draco jika bayi itu sudah tidak ada? Kayaknya enggak dech. Harry kan straight. 'Duch, jadi kasihan sama Draco.' Batin Daphne pusing dengan kisah percintaan mantan adik iparnya. Kayaknya hidup Draco jadi penuh Drama sejak ia dekat dengan Harry. Penuh liku, ada tanjakan, ada turunan tajam dan dikelilingi jurang yang menganga.
"Kau dan Harry itu kuat. Aku yakin calon anakmu juga bisa bertahan." Hibur Daphne yang dianggap Draco pepesan kosong. Dengan luka separah itu, mustahil tidak keguguran. "Jika pun janin itu tidak bisa dipertahankan, ia tak akan buru-buru meminta pembatalan pernikahan. Harry bukanlah tipe orang yang picik."
"Keyakinan dari mana itu?" Nada bicara Draco sinis dan juga ketus memperlihatkan keraguannya. Yach, ia tidak salah juga. Harry memang straight. Dulu, ia bahkan dikenal publik sebagai cowok playboy. Ia pasti tak tahan menikah dengan sesama cowok, jika masih ada cewek-cewek cantik di luar sana yang bersedia jatuh dalam pelukannya layaknya buah plum yang sudah masak.
Daphne mengedikkan bahunya. "Entahlah insting sebagai wanita mungkin." Sahutnya acuh. "Harry itu orang yang baik hati. Ia tak akan tega menghancurkan perasaan orang lain. Perasaanmu, anakmu, dan keluargamu."
"Kau benar. Memang orang seperti itulah Harry. Tapi kau salah dalam satu hal."
Alis Daphne terangkat tinggi. "Apa?"
"Ia akan berfikir jika ia lah yang memerangkapku dalam pernikahan tidak bahagia ini. Ia mengangggap aku terpaksa menikahinya, sehingga begitu ia pulih nanti, ia akan meminta pembatalan pernikahan."
Tangan Daphne terjulur mendorong bahu Draco sedikit ke belakang. "Jangan pesimis seperti itu! Seperti bukan Draco saja. Teruslah berjuang untuk mempertahankan cintamu, pernikahanmu!"
Draco mengulum senyum geli. "Tidakkah ini lucu?"
"Apanya?"
"Kau itu kan mantan kakak iparku. Seharusnya kau menasehatiku agar aku kembali pada Asto. Tapi, kenapa kau justru malah membujukku untuk bertahan dengan Harry? Tidakkah kau marah dengan situasi ini?"
Dan Daphne pun terdiam. Iya ya. Kenapa ia tidak memperjuangkan hubungan Drastoria, mengingat Astoria adalah adik kandungnya? Tidakkah ia ingin adiknya bahagia, hidup bersama dengan orang yang amat dicintainya? Kenapa ia justru semangat mendukung DraRry? Ini aneh. Sangat aneh. Ia seperti seorang kakak kandung yang durhaka pada adiknya.
Terus terang Daphne juga tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ia tak tahu alasannya. Yang ia tahu ia menyayangi DraRry dan ia ingin keduanya bersama. Rasa sayang pada DraRry itu muncul begitu saja. Ia akan bahagia jika keduanya bahagia dan sebaliknya ikut sedih saat keduanya bersedih.
"Dad!" Suara anak kecil meminta atensi Draco. Dia adalah Scorpious, putra semata wayang Draco-Astoria. Bajunya sudah ganti. Tidak lagi mengenakan jas warna putih yang dikenakannya saat acara pernikahan kedua, ayahnya. Berarti ia sudah pulang ke rumah terlebih dahulu. Di belakang Scorpious, tampak dua Malfoy senior. Penampilan keduanya sempurna seperti biasanya, tapi gurat kelelahan tampak menghiasi wajahnya, menodai kesempurnaan wajah aristokrat keduanya.
Draco mengangkat Scorpious dan memangkunya. Kehangatan tubuh sang anak sedikit banyak bisa memberinya ketenangan. Semacam aromateraphy. Tanpa ia sadari, Draco memeluk putranya, mencari kekuatan dari tubuh mungil itu. Ia harus kuat karena setelah ini akan ada banyak badai yang harus ia tenangkan.
"Bagaimana keadaan Daddy Harry?" Scorpious sudah diajari untuk memanggil Harry, Daddy oleh Draco untuk mempererat keluarga baru mereka.
"Masih di dalam. Sedang ditangani para healer."
"Kenapa bukan Dad yang menangani Daddy Harry? Kenapa orang lain?"
"Karena Daddymu bukan healer spesialis kandungan." Bukan Draco yang menjawab, tapi Mr. Malfoy senior.
Scorpious mengangguk-angguk puas. "Apa adik Scorpie baik-baik saja di sana?"
Mrs. Malfoy senior mengusap-usap rambut cucu kesayangannya perlahan. "Berdoa saja Nak, Daddy Harry dan adikmu selamat." Katanya dengan suara lembut.
Tak berselang lama ruang penindakan terbuka. Healer yang menangani Harry keluar. Buru-buru, Draco menghampiri rekan sejawatnya ini. "Bagaimana?"
"Mr. Potter..."
"Mr. Malfoy. Sekarang Harry seorang Malfoy." Mr. Malfoy senior mengoreksi.
"Ah, ya. Aku lupa." Gumamnya diiringi rona merah di pipinya. "Mr. Malfoy selamat, meski kondisinya masihlemah karena pendarah..."
"Bagaimana calon adikku?" Sela Scorpious.
"Ia juga selamat. Kutukan itu meleset beberapa inchi dari posisi jabang bayi." Jelas sang healer.
"Syukurlah." Ujar Draco menarik nafas lega yang diamini semuanya.
SKIP TIME
Ginny duduk diam tak bergerak sedikit pun, seperti patung yang diukir di atas es abadi di kursi pesakitan di balik ruangan yang seluruhnya dibatasi oleh dinding baja nan tebal. Mata Ginny tampak kosong, menatap tanpa arti dinding berwarna perak aluminium di depannya. Ia mengabaikan sang kakak yang duduk di dekatnya menatapnya kecewa. Ia juga mengabaikan tatapan geram dan jijik dari rekan sejawat sang kakak. Ia tak perduli. Karena, baginya, semua itu hanya omong kosong.
"Harry selamat. Syukurlah." Kata Ron membuka mulut, berhasil menarik atensi Ginny yang sejak tadi tenggelam dalam dunia fantasinya sendiri. Mata itu tidak lagi kosong, tapi berriak oleh belasan emosi. Yakinlah Ron kini kalau bagi Ginny, selain dirinya sendiri hanya Harry yang penting.
"Bagaimana?" Tanya Ginny dengan suara tercekat.
"Draco berhasil memberinya pertolongan darurat sehingga Harry selamat." Jelas Ron berbasa-basi. Ia berpura-pura tidak mendengar geraman rendah yang kurang manusiawi dari mulut adik kandungnya. Ron berdehem bersiap memulai interograsi. Tadi ia sengaja menyebut nama Harry karena jika dengan cara itu, Ginny tidak akan mau buka mulut dan kasus berhenti di tempat. Ron menebalkan hatinya, berusaha menerima apa adanya. "Kenapa Ginny? Kenapa kau melakukan ini?"
Wajah Ginny menyendu. "Aku tak sengaja. Aku tak berniat mencelakai Harry. Kau tahu kan betapa aku menci..." Ginny menghela nafas, berusaha mempertahankan topengnya. Setelah mendengar Harry selamat, kesadarannya kembali. "..menyayanginya. Aku sudah menganggapnya seperti kakak kandungku sendiri. Karena itu aku melakukannya untuk menyelamatkannya dari rencana busuk Mr. Malfoy." Bohongnya dengan lancarnya. Ada kepahitan, kemarahan, kebencian, dan sekaligus kedengkian saat Ginny menyebut nama Malfoy.
"Bukan itu yang ku maksud. Kasus itu ditangani Dean, suamimu. Bukan aku."
Ginny mendongak, menatap sang kakak heran. Hatinya dilanda perasaan was-was melihat raut dingin sang kakak. "A-apa maksudmu? Aku tak mengerti." Katanya menutupi perasaan gugupnya.
Braakk...!
Tiba-tiba Ron menggebrak meja kayu hingga kaki-kaki yang menopangnya bergetar dan permukaannya retak. "Jangan pura-pura tak tahu."
Ginny menatap kakaknya sok polos. "Aku sungguh-sungguh tak tahu, Ron. Apa yang ingin kau tanyakan padaku?
Ron menatap sang adik bengis dan juga kecewa. "Kau kan pelakunya?"
"Astaga! Pelaku apa? Aku tak mengerti Ron."
"Orang yang telah menyamar menjadi Draco dan mengutuk Miss. Greengrass dengan kutukan Imperius. Lalu bersamanya membuat huru hara masal di Diagon Alley." Kata Ron mengejutkan rekan sejawatnya, yakni trio Slytherin, Seamus dan Dean.
Ha ha ha... Tawa Ginny melengking tinggi. Seperti tawa orang gila ditelinga Ron. Sejak tahu kebusukan ini, ia tak lagi bisa berpikiran positif tentang Ginny.
"Kau mengada-ada, Ron." Kata Ginny mengulum senyum simpul.
"Benarkah? Sayangnya aku punya bukti kuat yang akan menjebloskanmu ke penjara."
Alis Ginny naik menantang. "Apa?"
"Aku menemukan sidik jarimu di lokasi, padahal menurut pengakuanmu kau ada di kota Manchester untuk wawancara. Lalu, bagaimana sidik jarimu bisa menempel di sana jika kau tak ada di tempat itu. Kecuali kau pelakunya."
Ginny masih tersenyum. Dengan tenang ia menjawab, "Mungkin itu sidik jariku yang tertinggal sebelum kejadian. Aku makan di sana sebelum berangkat wawancara."
"Kau pikir sidik jari itu melekat pada meja, kursi, atau apapun di cafe itu?" Kata Ron mengejek. Mangsa sudah terpojok. Tinggal menangkap. "Sayangnya, aku menemukannya di baju Miss. Astoria yang tidak sempat dicuci hari itu. Ada bekas keringatmu juga." Ujarnya menskak matt adiknya. "Tak hanya itu. Aku juga memiliki rekaman CCTV saat kau mencuri rambut Draco di rumah sakit saat Draco sedang terburu-buru menangani pasiennya."
Ginny bungkam seribu bahasa. Wajahnya pucat pasi. Ia tak menyangka akan ketahuan secepat ini. Oleh kakaknya pula.
"Yang tak ku ketahui adalah motifmu, Ginny."
"Semua ini salah Draco. Ia telah dengan lancang merebut milikku." Kata Ginny penuh dendam. Di balik topeng lugu, cantik, dan cerdasnya tersimpan hati yang penuh rasa dengki. "Aku tak bisa membiarkannya. Harry milikku. Hanya milikku." Racaunya terdengar seperti wanita gila. Lalu meluncurlah dari bibirnya rencana mengerikan yang disusunnya untuk menyingkirkan Draco dari hidup Harry.
Hari itu ia menyamar jadi Draco dengan ramuan Pollyjus untuk meng-imperius Astoria. Dengan bantuan Astoria, ia membuat kekacauan di Diagon Alley untuk memancing Harry datang. Dia yang membuat tanda kegelapan di atas langit sedangkan Astoria yang menyerang Harry. Dengan demikian, Draco akan ditendang dari hidup Harry dan ia akan mendekam selamanya di penjara.
Ron menarik nafas geram. Meski sudah tahu sejak awal, hatinya tetap saja terluka. Ia sungguh tak menyangka adiknya berubah jadi jahat, hanya karena cinta. "Kau gila Ginny." Desis Ron. "Kau tak bisa menyalahkan Draco untuk kesalahanmu sendiri. Bukan Draco yang membuatmu gagal menikahi Harry. Bukan Draco yang memaksamu menikahi Dean. Tapi, kau sendiri."
"Aku..." Ginny hendak membantah, tapi lalu terdiam.
"Kau pikir kami idiot? Kami bisa menghitung. Teganya kau mengkhianati Harry." Sembur Ron geram. "Lily dibuat dan kau kandung saat kau masih berstatus tunangan Harry. Iya, kan? Padahal Harry serius denganmu. Hari itu ia berniat melamarmu, tapi.. kau..? Dia justru memergokimu bersama dengan Dean. Aku tak mau membayangkan. Tapi, itu pastilah dalam posisi menjijikkan hingga Harry memutuskan pertunangannya." Tatapan Ron menuduh sarat oleh kekecewaan dan kemarahan.
"A-aaku..."
"Satu-satunya alasan kenapa aku menerima Dean sebagai suamimu, karena kalian satu type. Sama-sama SUNDAL. Pengkhianat." Maki Ron. "Dan, kau sama sekali tidak layak untuk Harry."
Terbakar oleh amarah, Ginny pun membentak kakaknya. "Dan kau pikir Draco tepat mendampingi Harry?"
"Kenapa tidak? Dia single, baik pada Harry, dan yang utama ia setia. Tidak sepertimu, JALANG!"
Ginny pun terdiam. Ia akui ia telah melakukan kesalahan besar pada Harry. Ia telah mengkhianati Harry. Tapi, cintanya pada Harry tidak pernah luntur. Pemilik hatinya hanya Harry. Salahkah jika ia ingin berjuang kembali?
"Salah! Salah besar jika ingin kembali bersama Harry. Karena kau JAHAT. Pada Lily, anak kandungmu sendiri saja kau tega berbuat kejam, apalagi dengan Harry. Dan, ku rasa Harry tidak seidiot itu mau menerima makhluk jalang sepertimu."
Dan air mata Ginny pun tumpah. Ia menyesal terbujuk rayuan Dean. Seandainya ia lebih bersabar. Hari ini, ia lah pihak yang paling berbahagia. Bukan Draco.
Dean di lain pihak, tertunduk lesu. Malu akan perbuatannya dahulu. Hasratnya akan Ginny telah menjadi bencana di masa depan, menyeret banyak nama dalam kehancuran. Ia tak bahagia. Lily putri kandungnya juga. Dan, yang sangat ia cintai, istrinya hancur berantakan. Ia telah merusak banyak masa depan orang. 'Ini pasti hukuman Tuhan.' Pikirnya dalam hati.
TBC
Maaf jika updatenya lama. Bagi yang udah nggak sabar, silahkan buka wattyku SitiAisah793. Follow ya.
Thanks all. Jangan lupa silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar. Ai tunggu.
