Unrequited Reminiscence

majority: YoonMin

by lonalunatic

.

.

summary: Suga merasa ingatannya tidak pantas kembali. Mereka sangat kelam. Hitam putih dan menyayat hatinya. Park Jimin sendiri rela melakukan apapun agar bisa kembali dalam ingatan seseorang.

.

note: yoonmin au. penulis menyebutkan umpatan dalam bahasa inggris dan indonesia juga konten dewasa yang sebaiknya tidak dibaca anak-anak.


Chapter 7: Suara Hati yang Keterlaluan

note: I was listening to - I Guess You Don't Know and Seventeen- Habitual Words when I wrote this chapter. They're an angstboost supplier lol.

.

.


Suga melihat Min Yoongi tengah duduk diam di bawah pohon besar. Mungkin itu satu-satunya tempat yang aman bagi Min Yoongi untuk menyendiri. Kakinya bisa dia gerakkan bebas. Di tangannya ada sebuah buku dan dia tampak asik mencorat-coret buku catatannya. Terkadang dia tersenyum dan terkadang dia termenung.

Suga menghabiskan beberapa menit untuk melihat coretan tangan Min Yoongi. Sebagian besar isinya hanya Park Jimin dan pertanyaan 'mengapa'.

Mengapa Park Jimin terasa sangat jauh

Mengapa Park Jimin benar-benar bersikap seperti tidak pernah mengenalnya

Mengapa Park Jimin tidak pernah lagi menoleh ketika dia memanggilnya

Suga berhenti membaca karena saat itu Min Yoongi bangkit dan menutup bukunya. Dengan susah payah lelaki itu berjalan menjauh dari pohon besar dan menghilang di balik tikungan.

Suga mengikutinya.

Dia berhenti saat Min Yoongi berdiri di depan Park Jimin. Min Yoongi sedang tersenyum ke arah pemuda itu.

"Jiminie" panggilnya. Jimin yang tengah berbicara dengan orang lain kemudian menoleh. Matanya sedikit terkejut sebelum berubah dingin. "Oh Si Pincang Min mencarimu" kata teman di sebelahnya.

"Nanti saja bicaranya" jawab Jimin malas dan saat itu juga dia membuang wajahnya. Yoongi dengan cepat menangkap lengan Jimin yang dengan refleks dihempaskan oleh Jimin.

"Jiminie, Nenek menanyakanmu" kata Yoongi lagi.

"Katakan aku sibuk" jawab Jimin lagi tanpa menatapnya.

"Perpustakaan sepi jika tidak ada kau"

Sepersekian detik Suga melihat perubahan raut wajah Jimin namun semua itu hilang digantikan dengan senyumnya yang sinis.

"Siapa yang mau datang kesana? tempat yang tua dan bau. Min Yoongi, bisakah kita hidup sendiri saja? Kau sudah mempunyai tongkat. Kau bisa jalan dengan baik."

"Aku-"

"Aku tidak mau berteman denganmu lagi. Aku muak melihatmu. Bagian mana dari kata-kataku yang belum kau mengerti? Jika jalan bersamamu, aku merasa jelek. Kau pincang dan miskin."

Min Yoongi terdiam dan saat itu Suga melihat Jimin seperti menyesal dengan kata-katanya. Lelaki itu mungkin seperti tidak menyangka bisa mengatakannya di depan Min Yoongi.

Yoongi melanjutkan perkataannya "Nenek membuatkan makanan kesukaanmu. Dia ingin kau datang"

"Pergilah. Kau membuat orang lain mengira aku mengenalmu"

Yoongi mengangguk pelan sebelum berpegangan untuk berputar. Susah payah memegang tongkatnya dan susah payah juga dia berjalan menjauh dari Jimin. Suga memejamkan matanya sesaat namun saat dia membuka matanya kembali, dia melihat Park Jimin menatap Min Yoongi dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak apa maksudnya. Dia terlihat begitu rumit. Jimin menatap Yoongi yang menjauh hingga menghilang di tikungan.

Suga melihat Min Yoongi memperlambat jalannya. Begitu melihat sebuah bangku di taman sekolah, Yoongi segera menaruh tasnya di sana. Menyenderkan tongkatnya pelan sebelum duduk.

Sret!

"Well, kau bisa jatuh Min."

Suga bertaruh kalau sedetik kemudian lelaki itu akan menendang kaki Min Yoongi tapi kenyataannya lelaki itu membantu Min Yoongi duduk.

"Terima kasih" kata Yoongi sambil tersenyum lebar.

"Jimin sudah menyebalkan sekarang. Kau tidak perlu mendekatinya lagi"

Yoongi tidak menjawab. Dia hanya mengangguk sekilas. "Kau tidak perlu mengajaknya ke perpustakaan. Jika Nenek Jung mendengar perkataannya kurasa Nenek bisa sakit hati"

"Aku hanya- rasanya tidak enak jika tidak ada Jiminie. Seperti selalu ada yang mengganjal"

Pemuda di sebelahnya tertawa pahit "Tentu. Jimin seperti teman pertama untukmu"

"Bicara soal itu, terima kasih kau sudah ada bersamaku dan Jimin, Tae"

Pemuda itu tersenyum dan menepuk bahu Min Yoongi seiring pandangan keduanya terpaut pada satu sosok yang sedang asik bersenda gurau dengan yang lain. Sekilas, Jimin seperti melihat ke arahnya. Min Yoongi tersenyum. entah untuk Park Jimin atau untuk dirinya sendiri.

"Kau tahu Tae, terkadang aku berfikir apa mungkin jika aku bisa berjalan dengan benar atau uangku sebanyak Song Jino, Jiminie akan ada bersamaku sekarang?"

"Sudahlah. Jimin bahkan bisa mendorongmu sampai jatuh. Kau bisa terluka nanti"

Yoongi tersenyum lagi. "Rasa sakit itu bukan apa-apa dibanding kehilangannya"

.

.


Orchard St. Singapore.

Suga terhenyak dari mimpinya. Mereka kabur satu persatu termasuk senyuman Min Yoongi yang ada di satu scene terakhir. Peluh sedikit merembas pada dahinya. Dia tidak percaya kalau Min Yoongi masih ada di mimpinya dengan cerita yang tidak habis-habis.

Malam ini dia melihat Kim Taehyung. Lelaki yang kini selalu berada di samping Jimin. Suga menebak ada satu alasan mengapa Kim Taehyung memilih untuk tetap berada di sisi Jimin.

Suga merasa hatinya masih berdenyut nyeri. Denyutan yang sama di setiap kali dia melihat Min Yoongi tersenyum. Seakan semua itu bukan hal yang baru. Seakan senyumannya begitu dia kenal. Senyuman yang begitu palsu yang hanya berbentuk tameng. Suga seperti mengingat rasa sakit dibalik senyuman Min Yoongi. Dia terdiam lama sebelum menyadari kalau dia tertidur di meja kerjanya. Begitu juga fakta kalau Seokjin tidak akan masuk ke kamarnya dan membawakan air putih seperti dulu.

Suga bangkit. Perlahan menutup pintu ruang kerjanya dan keluar. Matanya tertuju pada satu sosok yang kini terlelap di ranjangnya. Nafasnya satu-satu berhembus dengan damai.

Park Jimin.

Orang yang sama yang dulu menyakiti Min Yoongi. Orang yang kini bahkan sudah melakukan apa saja untuknya.

Suga mendekat dan detik itu juga dia merasa begitu jauh. Park Jimin seperti hanya sepersenti darinya namun terasa ada satu dunia terbentang jauh diantara keduanya.

Suga mengingat tatapan Park Jimin yang penuh kebencian. Suga juga mengingat tatapan Park Jimin yang begitu terluka di setiap saat Min Yoongi tidak menatapnya.

Semua itu begitu rumit.

Jika bisa Suga tidak ingin ada diantara keduanya.

Perlahan Suga mengangkat jarinya untuk mendekat. Satu sapuan pelan di pipi Jimin dan itu membuat hatinya berdesir.

Suga hampir tersenyum ketika Jimin bergumam dalam tidurnya.

'Yoongi-yah'

Suga tersenyum pahit sebelum meninggalkan ranjang dan mengambil rokoknya.

.

.

.

Ini sudah seminggu. Park Jimin akan menyambutnya setiap pagi. Dia menyiapkan setelan jas juga dasi yang akan dipakai Suga. Lelaki itu juga sudah menyiapkan satu gelas kopi untuknya. Jimin akan mengantarkannya ke bawah dan duduk bersamanya untuk sarapan pagi sebelum mengantarnya sampai di depan pintu. Senyumnya tidak pernah lepas. Dia makan dengan kikuk dan membereskan semua sisa makanannya dengan telaten. Sampai hari ini Seokjin tidak juga berbicara padanya dan Namjoon sudah mulai terlihat gerah dengan semua itu.

Seokjin selalu tampak muram. Jarang sekali keluar dari kamarnya seperti selalu ada saja hal yang membuatnya kesal. Namjoon dengan sabar meladeninya. Sekejap Seokjin bisa kembali menjadi dirinya yang ceria dan sekejap pula lelaki itu bisa berubah menjadi muram kembali ketika melihat Jimin.

Ada yang berbeda pagi ini. Jimin tidak mengantarnya turun ke bawah. Ketika Suga hendak turun, Jimin memberikan tas kerjanya.

"Selamat bekerja Suga-ssi" ucap Jimin riang. Suga menatapnya ragu.

"Kau tidak makan?" tanya Suga pelan.

"Aku akan menyusul turun setelah selesai merapikan ranjang. Suga-ssi turunlah, Hyungnim pasti menunggumu"

Suga mengangguk hingga kemudian dia turun ke bawah. Hari ini Seokjin tersenyum kepadanya. Dia mengusap jemari Suga lembut.

"Semoga beruntung dengan presentasimu baby" kata Seokjin. Suga tersenyum lembut.

"Terima kasih Jin"

Namjoon tersenyum lebar "Akhirnya rumah ini tidak berisi patung lagi"

Jungkook menanggapi dengan tertawanya yang renyah "Benar sekali Hyung. Aku setuju untuk datang kesini tidak untuk melihat kalian bertengkar"

"Siapa bilang kami bertengkar?"

Jungkook menatap Seokjin dengan malas dan Seokjin tertawa setelah itu.

"Suga-yah, apa Jimin sudah bangun?" tanya Namjoon.

"Dia bilang akan sarapan setelah merapikan kamar"

"Sayang, jangan lupa sisihkan sarapan untuknya ya"

Seokjin tidak menjawab namun dipastikan senyumnya hilang. Mereka melanjutkan makan dalam diam. Sejenak suasana kembali beku sebelum Jungkook mengeluarkan leluconnya hingga mereka tertawa bersama. Jimin menatap mereka dibalik tangga. Dia tersenyum pelan sebelum masuk ke dalam kamar.

.

.

Jimin turun di siang hari. Di saat perutnya sudah begitu lapar. Dia tahu saat itu Seokjin sedang ada di kamarnya. Semakin lama semakin tidak enak berada diantara keluarga ini. Jimin merasa seperti penganggu. Seokjin selalu tampak muram jika dia ada diantara mereka. Jimin tidak ingin kehadirannya menyisakan suasana yang panas. Seokjin sangat menyayangi Suga dan tidak adil rasanya jika Jimin merusak hubungan mereka.

Jimin beranjak ke dapur melihat ada satu bungkus roti. Perlahan Jimin membuka satu bungkusan itu dan meletakkan roti di atas pemanggang otomatis.

"Jeams, apa yang sedang kau lakukan?"

Jimin sedikit tersentak. Dia menoleh dan melihat Jungkook berjalan mendekat ke arahnya. Jungkook mungkin satu-satunya orang di rumah ini yang membuat Jimin tidak perlu sungkan untuk bergerak. Dia selalu menatapnya tanpa ada perasaan menghakimi. Mungkin karena Seokjin belum menceritakan semuanya pada Jungkook atau mungkin Jungkook bukan orang yang perlu untuk peduli akan ceritanya dengan Suga.

"Oh Jungkook-ssi, aku mencoba membuat roti panggang." jawab Jimin malu-malu.

"Kau belum makan sejak tadi?"

Jimin tersipu "Belum. Aku memang baru selesai mencuci bajuku"

"Kau tidak mencuci di sini?"

"Tidak. Aku tidak tahu cara memakainya."

Jungkook menepuk pundaknya simpatik. "Aigoo, aku bisa mengajarimu. Tanganmu pasti sakit mencuci sendirian"

"Aku sudah terbiasa dengan itu"

Satu bunyi denting keluar dari mesin pemanggang otomatis. Jimin tersenyum melihat hasil rotinya. Jungkook tersenyum lebar melihat Jimin makan begitu lahap.

"Jungkookie, where is my-"

Jimin refleks menghentikan makannya begitu melihat Seokjin masuk ke dapur. Jimin merapikan sisa roti yang masih menempel di wajahnya.

Seokjin melirik bungkusan roti yang ada di dekat pemanggang sebelum menarik nafas panjang.

"Kau bahkan tidak bertanya lebih dulu. Aku tidak melarangmu makan tapi cobalah bertanya dulu. Jungkookie, kau tahu kan itu milik Namjoon?"

Jungkook mengambil bungkusan roti dan memeriksanya. "Ah iya! Benar juga. Siapa yang menaruh di sini?"

"Suamiku mungkin lupa menaruhnya lagi. Kemana kau tadi saat sarapan?" tanya Seokjin dingin.

"Aku- aku mencuci beberapa bajuku." Jawab Jimin pelan.

Seokjin tersenyum tipis "Atau kau mulai menyadari kalau tidak ada yang menginginkanmu makan bersama kami di sini?"

"Hyung, hentikan-"

"Park Jimin, apa tujuanmu sebenarnya? Apa yang kau inginkan dari Suga?" potong Seokjin. Jungkook menepuk kepalanya. Semua suasana yang mulai mencair ini bisa berubah dalam sekejap.

"Tidak ada. Aku-"

"Jadi kau sempat berfikir Suga menyukaimu? Suga membawamu datang karena dia begitu ingin tahu masa lalunya. Masa lalu yang tentu kau ada di dalamnya. kurasa kau juga ingat betul perlakuanmu yang dulu padanya"

"Aku hanya ingin membantunya"

"Kau tidak membantu apapun. Kau sangat egois Park Jimin. Kau melukai masa lalu Suga dan bersikap seolah kau berhak ada di hidupnya sekarang. Aku sempat berfikir mungkin kau akan tahu malu untuk menginjakkan kaki kesini di depanku. Ternyata aku salah."

Jimin tersenyum tipis sebelum menjawab."Aku tahu apapun yang kulakukan akan selalu salah di matamu. Aku hanya ingin membahagiakan Suga-ssi"

"Kau sangat naif"

"Hyung, cukup" Jungkook meraih lengan Seokjin dan menariknya agar keluar dari dapur. Seokjin mengikutinya namun di satu titik setelah beberapa langkah lelaki itu berhenti dan kembali menatap Jimin.

"Kau harus tahu tempatmu Park Jimin. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu tapi seharusnya kau tahu, aku tidak mungkin begitu saja menerimamu. Kau sudah banyak menyakiti Suga. Suga hampir seperti bagian hidupku. Kau tidak tahu apa-apa delapan tahun ini. Kau hanya tiba-tiba datang dan menyita semuanya. Kau benar-benar bukan siapa-siapa Park Jimin karena sejak awal, hanya aku dan Namjoon yang ada di sisinya"

.

.

Jimin terdiam lama sambil duduk di depan tumpukan baju-bajunya. Dia tersenyum miris. Seperti apa yang dikatakan Seokjin memang benar. Dia bukan siapa-siapa di rumah ini. Mereka sudah ada untuk Suga sejak awal. Terlebih Seokjin memang begitu menyayangi Suga. Jimin menatap ke arah tumpukan ramyeon yang disusunnya rapi. Jimin menyembunyikannya begitu baik. Dia jadi teringat Taehyung. Lelaki itu seperti mengerti dirinya dengan baik. Taehyung seperti sudah menebak dengan baik kalau dia memerlukan ramyeon untuk makan.

Jimin masih tersenyum mengingat sahabatnya sewaktu pintu kamar terbuka. Jimin buru-buru bangkit dan menyambut Suga datang.

"Suga-ssi"

Suga sedang mabuk. Jimin tahu benar. Ini sudah sangat larut. Sejak tadi dia menunggu Suga kembali. Lelaki itu tidak sempat menatap Jimin. Dia terkulai lemas di atas ranjang. Jimin mendekat, melepas sepatu Suga dan membuka simpul dasinya.

Jimin mengusap wajah Suga dengan lembut. Air matanya perlahan merembas.

Sudah seminggu.

Atau sudah setahun entahlah, rasanya seperti sama saja. Jimin tidak merasa Suga menginginkan kehadirannya lagi. Lelaki itu pergi di pagi hari dan pulang begitu larut dengan dua pilihan yang ada. Mabuk atau meninggalkannya semalaman di ruang kerja.

Jimin mencoba untuk tidak mendengar suara hatinya yang berteriak kalau dia begitu lelah tapi semua ini rasanya begitu pahit sekali. Jimin hampir tidak sanggup menahan rasa laparnya setiap pagi dan siang hari namun rasa itu tidak sebanding dengan perasaan malu yang ada di dalam dirinya. Perkataan Seokjin tentang berhak tidak berhak membuatnya begitu kecil.

Dia memang begitu naif. Setelah semuanya yang terjadi dihidupnya bahkan seseorang masih memanggilnya naif. Jimin merasakan betul sakit dari perlakuan orang tuanya, Song Jino, dan bahkan orang-orang di sekitarnya. Ternyata semua itu masih membuatnya begitu naif.

Jimin menunggu. Mungkin Suga akan mengatakan satu atau dua hal. Mungkin Suga akan menariknya dalam satu penyatuan di ranjang untuk membuat perasaannya lebih baik namun Suga seperti tidak melihat Jimin berada di sini.

Ini memang bukan pertama kalinya Jimin melihat Suga mabuk. Jimin lebih memilih malam dimana Suga mabuk dan menariknya ke atas ranjang. Malam ini Suga terlihat begitu lelah dan seperti ada banyak hal yang menyita pikirannya.

"Suga-ssi, apa yang harus aku lakukan? kupikir setelah aku datang kau akan lebih bahagia"

Tidak ada jawaban. Suga seperti terlelap setelah ratusan tahun tidak tidur. Matanya terpejam erat dan baru malam ini Jimin menyadari satu hal, Suga hanya bisa tertidur saat dia sedang mabuk.

Jimin menatapnya begitu lama. Sangat lama hingga dia menangis dan memohon kepada siapapun agar Suga tidak lagi terluka. Atau Jimin sebenarnya memohon agar Suga menerima kehadirannya.

.

.

.


Kebiasaan merokoknya semakin kesini semakin menjadi-jadi. Suga tahu semua itu tidak membuat kesehatannya menjadi lebih baik. Hanya saja. Hanya saja dia bisa berfikir jernih saat sedang merokok. Suga menghembuskan asap rokoknya pelan. Bulan yang lalu tepat saat dia meninggalkan Jimin di Seoul, pikirannya sangat kacau seperti dia kehilangan banyak hal. Suga seperti merindukan dinginnya Seoul. Wajah-wajah yang dia lihat dibalik kaca mobilnya berbeda sekali dengan yang ada di Seoul. Mungkin wajah yang selalu ingin dilihatnya mustahil bisa berada diantara orang-orang melayu yang sedang menunggu lampu hijau untuk berjalan. Biasanya jika sedang suntuk, Suga memilih pulang dengan MRT dan mampir sebentar di kedai Mr. Oh. Tidak untuk makan, hanya untuk menyapanya lalu berjalan lagi sampai di kondominium. Pertama kali dalam hidupnya, rasa suntuk itu tidak juga hilang. Mereka menyesakkan. Suga membenci semua itu. Hingga dia mengambil kesimpulan kalau dia akan membawa Jimin. Pemikiran itu sangat gila. Sangat egois dan sangat menyakitkan. Sangat gila karena dia tahu Seokjin tidak akan pernah menyetujui semua ini. Sangat egois karena dia tahu Jimin tidak akan menolaknya sekalipun dia tidak ingin pergi. Keputusan untuk tinggal di Singapura bukan hal yang kecil dan Suga membuat semua itu seolah-olah hal yang mudah diurus dan sangat menyakitkan karena dia tahu, sejauh apapun dia membawa Jimin pergi dari Seoul, lelaki itu tidak akan pernah melupakan Min Yoongi. Kenyataan bahwa Jimin mencintai Min Yoongi tidak akan pernah berubah. Kenyataan bahwa Jimin rela melakukan apa saja untuknya semata-mata hanya demi Min Yoongi. Hanya karena satu hal yang dia anggap sebagai kesalahan seumur hidup dan dia harus membayarnya dengan cara apapun.

Subuh hampir datang. Matanya tak kunjung bisa terpejam. Kata-kata Seokjin terus terngiang-ngiang di kepalanya. Bagaimana mengatakan pada Seokjin kalau dia ingin Jimin selalu ada di sampingnya. Bagaimana mengatakan pada Seokjin kalau dadanya sesak akhir-akhir ini.

Selama ini dalam hidupnya, Suga sama sekali tidak memikirkan kebahagiaan. Dia hanya ingin tahu riwayat hidupnya dan siapa dia sebenarnya tapi Jimin-

Jimin lebih tepat seperti pengecualian. Meski semua yang dia lakukan lebih terlihat seperti penyiksaan, Suga bahagia ketika Jimin memanggil namanya. Suga merasa lega ketika Jimin menerima ciumannya. Suga belum pernah merasa gila sebelumnya hanya karna sebuah penyatuan. Tubuh Jimin yang menerimanya dengan penuh dan bergerak sesuai keinginannya. Suga tidak pernah tahu hidupnya akan terasa begitu lengkap. Meski satu hal, tatapan mata Jimin selalu seperti dia sedang ketakutan. Seperti dia sama sekali tidak bisa menemukan perasaan Suga dan mungkin itulah alasan kenapa Suga berdiri di sini. Merokok juga berfikir lagi dan lagi. Dia ingin Jimin bersamanya namun Seokjin membenci Jimin dan Jimin, lelaki itu melakukan semuanya demi Min Yoongi. Lelaki itu melakukan semua ini hanya karena dia takut. Park Jimin yang kini tidur di ranjangnya– hal yang selalu dia nantikan selama ini—justru membuatnya tidak bisa tidur karena Suga bisa mendengar Jimin bergumam diantara mimpinya.

Yoongi-yah

Panggilan yang sama. Suara yang sama seperti yang selalu ada dalam mimpinya selama 7 tahun.

Ternyata Jimin akan selalu mempunyai Yoongi di dalam mimpinya. Lalu bagaimana bisa Suga berada di sampingnya dan memeluknya jika yang ada di dalam mimpi Jimin bukan dirinya. Bagaimana bisa dia tidur ketika Yoongi datang ke dalam mimpi Jimin setiap malam.

Suga menghisap rokoknya sekali lagi sebelum membuangnya. Langit gelap perlahan pudar digantikan cahaya magenta. Suga tersenyum miris. Apakah Jimin tahu kalau dia merindukan lelaki itu lebih dari apapun? hingga saat hari berganti dan cahaya magenta ini datang Suga menatapnya lekat, berharap mungkin Jimin sedang menatap langit yang sama atau memikirkannya.

.

.

Beberapa hal seperti sudah menjadi yang biasa terjadi sekarang. Park Jimin akan bangun lebih dulu. Park Jimin yang menatapnya saat dia terbangun dan tersenyum sambil berkata 'Selamat Pagi Suga-ssi, aku sudah menyiapkan air panas untukmu' lalu Park Jimin akan bangkit dan menyiapkan pakaiannya. Park Jimin seperti sudah belajar banyak tentang panduan stelan jas yang biasa Suga pakai juga kombinasi dasi yang membuat Suga terlihat baik di setiap hari.

Selesai menyiapkan pakaian, Park Jimin akan menunggunya selesai dan berkata kalau dia sudah menyiapkan satu gelas kopi. Suga akan meneguknya sedikit dan merapikan berkas-berkasnya. Ketika hendak pergi Park Jimin akan mengantarnya sampai ke depan pintu dan mengucapkan banyak kata semangat. Park Jimin tidak ada di saat makan pagi juga makan malam. Suga sempat berfikir apa yang membuat Jimin tidak lagi datang atau sekedar turun ke bawah untuk makan bersama. Apakah dia sudah melakukan kesalahan lagi dan membuat Seokjin kesal hingga dia kapok untuk menampakkan wajahnya? Suga tidak tahu. Semakin ke sini bibirnya semakin kelu. Semakin kesini Park Jimin terasa begitu jauh bahkan hanya untuk sekedar menatapnya. Park Jimin seperti tersenyum di depannya namun terluka begitu banyak di dalam. Apa dia yang membuatnya terluka?

Di setiap Park Jimin tersenyum, Suga merasa begitu muak karena dia tahu Park Jimin tidak seharusnya tersenyum. Park Jimin berhak mendapatkan satu alasan atau satu cerita mengapa Suga menginginkannya namun lidahnya begitu kelu.

Satu ketika dia ingin menarik Jimin dalam tidurnya dan detik itu dia mengingat Min Yoongi. Min Yoongi yang ada di mimpi Park Jimin. Mungkin yang diinginkan Park Jimin bukanlah dirinya. Hanya Min Yoongi yang akan membuat Jimin bermimpi indah.

Satu ketika Jimin sedang berdiri sendirian di balkon, dia ingin menghampirinya hanya saja ada satu suara dari dalam dirinya yang melarangnya untuk mendekat dan itu berdengung hebat mengatakan kalau Jimin tidak sedang menunggunya. Seperti hati dan kepalanya selalu berdebat dan akhirnya dia selalu kalah. Selalu kalah dengan Min Yoongi.

Kepalanya begitu sakit. Rasanya seperti tercekik dan dia tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Seolah semua yang dikatakan Seokjin selalu benar dan Suga berharap, jika memang benar. Bisakah perasaan ini secepatnya hilang? dia tidak sabar untuk bisa membenci Park Jimin dan melupakannya seperti dia melupakan mimpi-mimpinya. Namun semua itu tidak juga datang.

.

.

Malam ini mereka kembali makan di satu meja yang sama. Suga baru saja kembali dan Seokjin memintanya untuk langsung makan malam. "Mana Park Jimin, apa dia sudah makan?" tanya Namjoon begitu dia duduk. Belakangan ini Namjoon jarang ada di rumah. Dia harus mengurus proyek di Pulau Sentosa yang tadinya diambil alih oleh Suga. Setelah sekian malam Namjoon pulang saat sudah larut, malam ini dia bisa makan bersama yang lain.

"Dia tidak makan malam di sini" jawab Seokjin singkat.

Namjoon menatap Seokjin dengan penuh pertanyaan "Maksudmu? jadi apa yang dia makan?"

Seokjin mengangkat bahu "Aku tidak peduli" katanya lagi sambil meneruskan makan.

"Honey, dont you think this is too much?"

"I've told you. i hate him and i don't care whether he's hungry or not."

Baik Namjoon dan Jungkook menatap ke arah Suga yang tetap meneruskan makan tanpa melihat ke arah mereka ataupun merasa harus berkomentar. Namjoon menghela nafas. menaruh garpu juga sendoknya. Dia bangkit dari tempat duduk.

"Where are you going baby?" tanya Seokjin dan Namjoon tidak berbalik.

"Kemanapun asal tidak di sini"

Makan malam yang beku kembali berlanjut meski terlihat jelas Seokjin mulai gelisah dan terus melihat ke arah pintu kamarnya dimana Namjoon berada.

Suga tahu satu dua kali Jungkook melihatnya meski dia tampak meneruskan makan seolah merasa tidak ada apapun yang terjadi.

.

.

Ketika dia kembali ke kamar, Suga melihat Jimin sedang duduk di balkon. Angin sedikit kencang meniup gorden dan ketika Suga jalan mendekat, dia bisa melihat Jimin sedang melahap ramen instan yang mungkin dia beli dari Korea. Suga memejamkan matanya sesaat sebelum dia kembali ke ruang kerja.

Akhir-akhir ini kepalanya semakin sakit karena suasana di rumah semakin tidak karuan. Seokjin yang cepat marah dimanapun dan kapanpun dia melihat Jimin. Namjoon yang kesal tapi tidak bisa berbuat apapun. Jungkook yang tidak ingin kebaikannya menjadi salah karena Seokjin tidak menyukai apapun bentuk pembelaan terhadap Jimin dan kini dirinya, berdiri di tengah-tengah. Ingin rasanya dia berbicara satu atau dua kata karena Jimin berhak atas itu namun lagi-lagi lidahnya kelu karena sebelah hatinya sungguh sangat membenci Jimin. Belum lagi semua perkataan Seokjin padanya di malam saat mereka beradu argumen. Siapapun dirinya di masa lalu, Suga yakin dia tidak akan bisa hidup hari ini jika Seokjin tidak menolongnya.

Suga mendengar Jimin memanggil namanya sebelum dia memutar kenop dan membuka pintu.

"Suga-ssi" panggilnya lagi dengan ceria.

Suga menatap Jimin dengan ragu sambil memperhatikan gerak-geriknya. Dia terlihat agak pucat. Apa yang dia makan selama ini? hanya ramyeon? lalu bagaimana jika ramyeon itu habis? Apa yang akan dia makan? mengapa dia tidak berkata apapun dan menyendiri lalu berpura-pura bahagia di depan Suga? Apa Jimin tidak tahu kalau itu juga menyakitinya? Mengapa Jimin selalu menyisakan senyum untuknya? Apa karena Min Yoongi? Apa karena dulu dia tidak bisa tersenyum di depan Min Yoongi? Suga meninggalkan semua pertanyaan dibenaknya tanpa terjawab. Dia menghela nafas pelan.

"Suga-ssi, kemarin kau mencari dasimu bukan? aku menemukannya. Jungkook-ssi bilang dua minggu lalu kau mabuk dan melemparnya sembarang. Aku sudah menemukannya." cerita Jimin dengan senang. Dia menunjuk ke arah dasi yang sedang dipegangnya. Suga mengangguk.

"Iya. Terima kasih" ucap Suga datar sambil kembali menatap layar laptopnya. Jimin tersenyum lagi, ragu-ragu dia melangkah lebih dekat ke arah Suga. "Apa pekerjaan Suga-ssi sedang banyak?" tanyanya penasaran. Suga mendongak dan menatap Jimin lagi. Dia mengangguk pelan.

"Iya. Kau bisa tidur lebih dulu."

"Apa Suga-ssi ingin dibuatkan kopi?"

Kopi

Suga sebenarnya tidak tahu mengapa Jimin suka sekali membuatkannya kopi. Setiap pagi dan setiap malam selepas Suga pulang dari kantornya dalam keadaan tidak mabuk, Jimin pasti akan menawarkannya kopi. Bahkan melihat secangkir kopi di meja setiap pagi sebelum turun ke bawah seperti hal yang sudah biasa.

"Kau-" Suga menarik nafas sebelum bicara lagi. "Baiklah" katanya, menyerah.

"Kalau begitu tunggu sebentar"

Suga tidak sempat melihat senyuman Jimin ketika lelaki itu keluar dengan semangat sambil menutup pintu pelan-pelan agar tidak menggangunya.

Jimin beranjak ke konter yang lebih mirip dapur. Di sana ada sebuah kompor listrik, kulkas, mesin pembuat kopi, dan penghangat otomatis. Semua barang-barang itu tidak membuat ruangan luas ini seperti kamar. Suga seperti mempunyai apartemen di dalam kondominium Seokjin. Jimin membuka laci tempat biasanya dia menemukan kopi kesukaan Suga dan sedikit termenung ketika dia melihat isinya sudah habis. Jimin berfikir sebentar sebelum akhirnya dia memutuskan untuk turun ke bawah.

Sudah lama sekali semenjak dia turun ke bawah. Jimin berusaha keras agar tidak menampakkan dirinya di depan Seokjin karena dia tahu benar keberadaannya membuat suasana di sini menjadi kaku. Selama berada di kamar Suga, Jungkook sesekali naik ke atas dan menemaninya mengobrol tentang Singapura. Membawakannya beberapa kudapan dan membantunya mencuci baju. Pemuda itu sangat baik. Tidak berarti Seokjin jahat kepadanya. Jimin tahu benar siapa Suga untuk Seokjin dan mungkin jika dia berada di posisi Seokjin, Jimin akan melakukan hal yang sama.

Lampu-lampu sudah padam. Biasanya mereka bertiga akan menonton film sampai larut. Jimin sering melihat Namjoon mengangkat tubuh Seokjin ke dalam kamar karena tertidur selama menonton film dan membangunkan Jungkook untuk pindah ke kamarnya. Jimin berfikir mungkin sebelum dia datang ke rumah ini Suga sering bergabung menonton film bersama mereka.

Perlahan Jimin menyalakan lampu dapur dan mencari kopi yang biasa dibeli oleh Seokjin. Jimin juga menyalakan coffee maker yang ada di ujung konter dapur.

"Jimin-ssi, kau belum tidur?"

Jimin terkaget sewaktu melihat Namjoon berjalan ke arahnya. Namjoon berhenti di sampingnya dan tersenyum lebar.

"Oh, Namjoon-ssi aku.. uhm yeah, aku sedang membuatkan kopi untuk Suga-ssi."

"Apa kau sudah makan? tadi kau tidak ada saat makan malam."

"Aku sudah makan."

"Benarkah? kau makan apa?"

"Ah itu, aku masih mempunyai stok ramyeon"

Namjoon menatapnya heran. "Hanya itu? kau setiap hari makan ramyeon?"

"Tidak juga. Aku membeli banyak makanan instan"

"Ya Tuhan, setiap hari aku meminta Seokjin untuk memisahkan makanan untukmu"

"Maafkan aku, aku tidak tahu Namjoon-ssi. Aku.. maaf aku tidak ingin mengganggu Seokjin-ssi juga kau dan yang lainnya."

"Sayang, kau belum tidur?" tanya Seokjin. Dia berjalan terkantuk-kantuk sambil mengusap matanya dan begitu dia melihat Jimin juga ada di dapur ekspresinya berubah menjadi datar. "Kau bekerja atau sejak tadi di sini?" tambahnya sebal. Namjoon terkekeh dan menarik Seokjin ke dalam rangkulannya.

"Aku hanya sedang bosan lalu melihat Jimin di sini."

Seokjin mendengus. Matanya refleks melihat ke arah coffee maker yang menyala juga gelas yang sedang dipegang Jimin. "Suga mempunyai gelasnya sendiri kenapa kau memakai cangkirku?"

"Aku hanya.. Suga-ssi tadi.."

Namjoon refleks melepaskan rangkulannya dan menatap Seokjin dengan heran. "Apa salahnya dia meminjam itu? Suga yang memakainya. Sayang, kau benar-benar berlebihan"

"Kau membelanya? kau tidak tahu apa yang sudah dia lakukan pada Suga?"

"Apa hubungannya semua itu dengan sikapmu yang konyol begini? Thats not your fuckin bussiness"

"Are you just swearing at me?"

"Yes, this is getting ridicolous."

"Kau benar-benar bicara begini padaku di depannya? kau membelanya seperti ini? apa kau lupa bagaimana jadinya hidup Suga jika aku tidak ada di sana?"

"Kenapa kau bersikap seolah kau berhak untuk membenci Jimin. Kau bahkan tidak mengenalnya. Kau bahkan tidak ada saat Min Yoongi masih hidup. Kenapa kau membenci Jimin? Suga yang memintanya untuk tinggal di sini. Dia hanya makan ramyeon setiap saat karena dia takut padamu dan karena Suga sama sekali tidak peduli pada hidupnya. Dimana perasaanmu Kim Seokjin? kau melakukan banyak amal tapi kau bahkan tidak bisa memperlakukan seseorang dengan layak."

Seokjin menatap Jimin dengan marah "Sekarang kau senang bukan? suamiku bahkan membelamu"

"Maafkan aku. Aku-"

"Kau tahu, aku membenci segalanya tentangmu. Aku membencimu karena kau sudah melukai Suga. Kau yang menyebabkan dia hidup begini."

"Hentikan Kim Seokjin!"

Seokjin diam. Air matanya mengalir. Seiring dia menoleh ke arah dimana Suga sudah berdiri di depan ruangan dapur dan menatapnya. Namjoon baru saja membentaknya. Begitu keras dan itu yang pertama kalinya semenjak mereka saling mengenal.

"Kau.."

"Apa kau tahu kalau kau sangat memalukan? Kau seperti anak kecil. Kau sangat mengecewakanku dan kau, Kim Suga, kau benar-benar seorang pengecut"

Namjoon pergi. Menutup pintu dengan sangat keras dan detik itu Seokjin beranjak ke kamarnya sambil menangis. Jimin masih menunduk. Air matanya terjatuh satu satu ke pipi. Suga mendekat namun Jimin lebih dulu bergerak. "Maafkan aku Suga-ssi, aku tidak berniat untuk mengacaukan semua ini. Aku hanya-"

"Kembalilah ke kamar. sudah malam" kata Suga pelan.

Jimin mengangguk dan beranjak pergi. Suga berharap dia bisa menarik Jimin dalam pelukannya. Suga berharap dia bisa sedikit lebih adil atau bertanggungjawab atas Jimin tapi lidahnya selalu kelu. Namjoon benar, dia seperti pengecut.

.

.

.

"Hei" panggil Suga pelan dan Seokjin masih belum bergeming. Dia masih terisak di bawah ranjangnya. Suga mendekat dan duduk di samping Seokjin.

"Apa yang terjadi sampai kau menangis begini?" tanya Suga dengan lembut.

"Kau tidak lihat suamiku untuk pertama kalinya mengumpat padaku?" isak Seokjin masih dengan ekspresi sebal.

Suga terkekeh. "Maksudku, mengapa kau membenci seseorang sampai seperti ini? Kau selalu ceria. Kau bahkan tidak pernah marah pada Jungkook sekalipun anak itu mengesalkan"

"Aku tidak tahu. Aku hanya membencinya"

"Apa anak itu begitu penting hingga kau perlu membencinya? bukankah kau yang bilang sendiri, daripada membuang waktu membenci orang lain lebih baik berpura-pura kalau orang itu sudah mati"

Seokjin terdiam sebentar. "Dia melukaimu banyak sekali. Bukahkah itu sangat mengesalkan? Lalu dia datang sekarang seolah dia berhak masuk ke hidupmu lagi"

"Kau hanya terlalu banyak memikirkan semua ini dan kau bisa lihat hasilnya bahkan suamimu tidak menyukaimu yang seperti ini"

"Namjoon tidak pernah marah padaku"

"Dia tidak marah padamu. Dia marah padaku."

"Kenapa dia marah padamu?"

"Karena aku seorang pengecut. Aku bahkan hanya diam ketika kau membenci Jimin dan membiarkan semua itu sampai berlarut-larut"

"Bagaimana mungkin aku tidak membenci orang yang melukaimu"

"Jika dipikir-pikir, aku yang sudah terlalu banyak menyakitinya lebih dari dia menyakiti Min Yoongi"

Seokjin tidak menjawab lalu Suga mengamit tangannya "Hyung"

Dan Seokjin menoleh. Satu panggilan yang begitu jarang Suga gunakan. Suga tersenyum menatapnya. "Aku merasa tidak berhak mengatur hidupmu. Aku berterima kasih sekali padamu karena kau selalu melindungiku. Aku bahagia sekali Hyung tapi untuk kali ini saja, kumohon, lepaskanlah semua amarahmu pada Park Jimin. Biarkan dia menjadi urusanku. Anak itu sudah banyak terluka karena sikapku dan aku harus bertanggung jawab akan hal itu. Apapun yang pernah dia lakukan pada Min Yoongi, aku percaya dia tengah menyesalinya setiap hari. Kau tidak perlu menambahkannya. Dia kesepian tapi dia juga sangat takut padamu. dia hanya makan ramyeon setiap hari karena tidak ingin merepotkan siapapun. Itu menyakitiku tapi aku tidak bisa berkata apapun. Jika kau membencinya, luapkan padaku saja ya? Aku akan menerimanya karena aku yang membawanya kesini."

"Kau mencintainya?"

"Aku tidak tahu. Aku sangat membencinya tapi aku tidak bisa jika dia tidak ada"

"Bodoh! kau sangat mencintainya"

"Apapun itu, aku akan tetap menjadi Kim Suga. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tetap menjadi adikmu. Dia tidak akan membawaku pergi kemanapun"

"Suga-yah"

"Jangan melukai dirimu sendiri begini. Aku benar-benar tidak bisa melihatmu menangis seperti tadi. Apapun yang aku lakukan dengan anak itu, percayalah aku tidak akan pernah melupakan diriku. Kau percaya padaku bukan?"

Seokjin mengangguk. "Maafkan aku Suga-yah. Aku seperti anak kecil. Mungkin aku hanya tidak siap jika akhirnya kau akan meninggalkan aku"

"Kau lucu sekali. Kau pikir aku bisa pergi kemana jika kau dan Namjoon tidak ada? kemanapun aku pergi kau selalu bisa menemukannya"

"Benarkah?"

"Yeah. Aku akan tetap di sini"

"Aku sangat menyayangimu Suga-yah. Cerita hidupmu sebelumnya sangat menyiksaku. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun melukaimu"

"Sekalipun Namjoon?"

"Namjoon tidak akan melukaimu Suga-yah karena dia juga menyayangimu"

"Aku tahu dan aku tidak akan pernah membiarkan siapapun melukaimu sekalipun itu suamimu sendiri"

Seokjin tersipu dan saat itu Suga memeluknya "Jangan menangis lagi. Itu menyakitiku"

.

.

.

Suga duduk di sampingnya. mengeluarkan sebungkus rokok dan Namjoon mengambilnya. menyalakan pemantik lalu menghisapnya pelan-pelan.

"Kau tidak dingin?"

"Kepalaku sangat panas"

Suga diam lagi. Berfikir apakah mungkin Namjoon menginginkan kehadirannya di sini.

"Namjoon, aku-"

"Kau tahu kapan terakhir kali Seokjin tersenyum? itu saat dia berharap kau akan menemukan jawaban atas masa lalumu dan selama kau pergi dia hanya merajuk dan merasa bersalah telah meninggalkanmu sendirian. Semua itu menjadi lebih buruk saat dia mengetahui semuanya, terapi yang kau jalani, juga Park Jimin. Well, aku sendiri tidak begitu mengerti apa yang terjadi tapi kau bisa melihat Seokjin begitu mencintaimu bahkan terkadang aku merasa dia lebih mencintaimu dibandingkan aku."

Suga terdiam dan dia tahu benar Namjoon tidak ingin dibantah atau diberi komentar.

"Aku tahu ini berat untukmu dan yang kulihat kau mencintai Park Jimin. Kalau begitu jadilah seorang pria. Dia membutuhkanmu di sini. Dimana perasaanmu saat melihatnya hanya makan ramyeon? Dia bertanggung jawab banyak atas masa lalumu. Aku tahu itu dan mungkin ada beberapa hal yang tidak bisa kau maafkan tapi kau sudah membawanya kesini dan semua itu menjadi tanggung jawabmu. Dia pasti sangat mencintaimu hingga dia mau diperlakukan seperti itu dan melihat itu saja hatiku berdenyut. Lalu bagaimana bisa kau membiarkan semua ini berlalu begitu saja?"

"Kau tahu aku sangat marah padamu dan setelahnya aku menyesal sudah meluapkan semua itu pada Seokjin. Bagaimana jika dia marah dan menceraikan aku?"

Suga menahan tawanya untuk kalimat terakhir yang keluar dari mulut Namjoon tapi dia berusaha agar Namjoon tidak melihatnya. Lelaki itu menghisap rokoknya pelan.

"Aku datang kesini untuk menawarkan diri agar setidaknya kau bisa memukulku"

Namjoon mendelik ke arah Suga "And do you really think it works?"

"Nope. I know you would never do that at least"

"Then fuck you"

Suga terkekeh "Dia tidak akan menceraikanmu. Aku sudah bicara dengannya dan—maafkan aku Namjoon. Aku tahu aku seorang pengecut. Aku hanya berfikir terlalu lama bagaimana caranya agar Seokjin bisa menerima anak itu dan semua berjalan seperti biasa. Aku ingin memperjuangkannya tapi sebagian dari diriku selalu berfikir dia tidak mencintaiku dan tidak begitu pantas diperjuangkan karena dia hanya mencintai Min Yoongi"

Kali ini Namjoon menghela nafas "You and your fuckin stupid head. Aku sudah bilang padamu dia sangat mencintaimu dan jika tidak salah, bukankah Min Yoongi juga kau?"

Keduanya diam sesaat sebelum tertawa bersamaan. "Percayalah, semua kenanganmu akan kembali cepat atau lambat dan jika kau menyianyiakan Park Jimin kau akan menyesal nantinya"

"Aku harap begitu. Min Yoongi—entahlah, aku sangat membencinya karena dia rela mati untuk Park Jimin"

"Tentu. Kau kan orang yang superior. Kau pasti merasa tersaingi."

Suga tersenyum tipis "Mengapa semua orang lebih tahu tentang perasaanku dibanding diriku sendiri?"

"Aku sudah menjawabnya karena kau terlalu banyak berfikir yang macam-macam."

Suga tidak menjawab dan saat itu Namjoon mengelus kepalanya lembut "Aku tahu umurku lebih muda darimu jika kulihat dari profil Min Yoongi tapi percayalah Suga-yah, kami semua mencintaimu. you're so loved. Aku dan Seokjin akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu"

"Seperti halnya aku akan melakukan apapun demi melihat kalian bahagia."

"Well kau baru saja membuat Seokjin menangis" sindir Namjoon.

"Yeah. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya membuat Seokjin tetap bahagia dengan adanya Park Jimin"

"Kau bisa melakukannya. Dia lemah padamu dan tentu saja ini terakhir kalinya kau membuatnya menangis"

"Secara harfiah kau yang membuatnya menangis karena kau mengumpat padanya"

Namjoon meninju lengan Suga dengan kesal "Kau yang membuatku marah"

"Dia sangat mencintaimu. Kau tahu. Mungkin kau selalu merasa dia begitu mencintaiku tapi sepanjang aku bersamanya dia akan selalu bercerita tentangmu. Dia menangis karena dia takut kau marah padanya" kata Suga tulus dan kali ini Namjoon tidak langsung menjawab. Dia bangkit. Menginjak putung rokok yang sudah hampir habis terbakar.

"Yeah. Aku bisa membunuh siapapun yang melukainya"

"Sekalipun dirimu sendiri?"

"Sekalipun diriku sendiri"

Suga terkekeh dan Namjoon mendelik ke arahnya. "Dan kau, berjanjilah kau akan memperlakukan Jimin dengan baik. Kau mencintainya dan itu sudah cukup untuk menjadi alasan mengapa kau harus melindunginya Suga-yah"

.

.


Malam itu Suga beranjak ke kamarnya setelah memastikan Namjoon kembali dan memeluk Seokjin. Seokjin menangis lagi. Suga mendengar dari balik pintu kalau Seokjin menyesal dengan sikapnya. Namjoon juga meminta maaf dengan berkali-kali memberikan ciuman di semua bagian wajah Seokjin. Lelaki itu berjanji pada Seokjin untuk tidak lagi mengumpat di depannya. Suga sedikit terkekeh. Seokjin juga meminta Namjoon untuk berhenti merokok dan Namjoon mengiyakannya. Dari balik pintu Suga tahu kalau Namjoon berbohong. Keduanya tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah tanpa rokok.

Satu hal yang membuat Suga tertegun. Namjoon meminta Seokjin untuk merubah sikapnya pada Park Jimin. Dia berkata kalau Suga sudah setengah mati mencintai Park Jimin. Ingin rasanya Suga mendobrak pintu dan masuk ke dalam. Lelaki itu membesar-besarkan perasaannnya dan itu keterlaluan namun saat Seokjin mengiyakannya Suga terdiam.

"Sayang, Suga sudah besar. Delapan tahun yang lalu, mungkin Suga seperti bayimu yang baru saja lahir kembali tapi hari ini, dia sudah berani membawa orang lain ke dalam rumah kita. Bukan berarti Suga tidak membutuhkanmu lagi atau tidak mengingat luka yang diberikan Park Jimin hanya saja—dia sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan. Suatu saat, dia pasti akan mengingat semuanya aku hanya berfikir mungkin Suga akan menyesal jika dia meninggalkan Park Jimin. Untuk semua perasaannya, kita serahkan saja padanya. Kau setuju?"

Seokjin mengangguk sambil menyusup ke dalam pelukan Namjoon. "Aku hanya—kau tahu bukan, Suga sangat berharga untukku. Hatiku berkata kalau semua tentang Park Jimin hanya akan membawanya jauh dariku"

"Terkadang suara hati sangat keterlaluan, Sayang karena demi apapun, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi besok dan bukankah sudah seharusnya Kim Seokjin, CEO dari Netflix, berfikir positif seperti biasanya?"

Seokjin menyikut perut Namjoon dengan gemas. Suaminya tertawa lebar. Menangkupkan wajah Seokjin dan memberikan ciuman panjang untuknya. "Suga akan bahagia. Aku yakin itu dan cobalah melihat Park Jimin sebagai orang yang baru di hidupnya bukan Park Jimin yang dulu karena Suga juga memperlakukannya begitu"

Sekali lagi Seokjin mengangguk. "Aku mencintaimu"

"I love you too Baby. I guess we need another honeymoon soon"

Seokjin tertawa lebar dalam pelukan suaminya.

Suga tersenyum lega. Belum pernah dia merasa selega ini setelah melihat Seokjin kembali seperti dulu.

Sesampainya di kamar, Jimin sudah tertidur di atas ranjangnya. Suga mendekat dan menatapnya. Terlihat jelas Jimin menangis sejak tadi. Ada bekas air mata yang mengering di wajahnya. Suga mengusap pipinya dengan lembut sebelum memberikan satu kecupan pada bibir Jimin.

Malam itu Suga tidak mengunci dirinya di ruang kerja atau merokok lagi. Untuk pertama kalinya dia merasa kantuk menyerang. Perlahan Suga merebahkan tubuhnya di samping Jimin.

Suga menatapnya lekat sebelum menarik Jimin dalam pelukannya.

Satu hal yang menjadi alasan Suga mengajaknya ke Singapura. Satu hal yang seandainya bisa dia beri tahu Jimin.

Oh jika saja Suga bisa mengatakannya, betapa dia mencintai lelaki itu.

.

.

.


To Be Continue..

Aloha!

Im sorry for delaying update and thankyou so much for reading.

Perlu waktu banyak buat menjabarkan suara hati masing-masing hehhe

Di sini sebenernya Seokjin lebih ke over protektif sama Suga karena dia tahu masa lalu Suga pasti kelam tapi ya mau gimana lagi pas amnesia aja Suga sukanya sama Jimin hahaha apasih gue.

Sorry not sorry for angst but I promise you another lovey-dovey scene later. We need to settle first.

Untuk komennya makasi banyak sekali. Aku tunggu reviewnya buat chapter ini.

Yang kemarin nanya ini Kim Kyuna yang bikin ff GHLNS, yap betul. Gaya bahasanya ketebak ya? Hehehe makasi udah mampir baca dan komentar.

Tetap bersama ff ini sampai selesai.

Selamat lebaran!

Kim Kyuna.