Hai minna~san...jumpa lagi...
Chappy 7,
Bukan upkilll tapi up molor…
Hehe...
Selamatmembaca...
"SWEET AND TEARS IN A BELL" © Noeruhi Karachou
Disclaimer : Naruto Punyanya Masashi Kishimoto-san
Seperti biasa saya cuma numpang obrak-abrik hehe...
: ) ( digebuki fansx Naru...)
Pairing : Hinata H x Sasuke U
Rate : T-M
Warning : AU,AT,OOC,Longshoot,Gaje,Miss Tipo,Ejaan tidak Sesuai EYD,
Blood,Lime/Lemon .
Anak kecil Silahkan tekan Kembali , Hanya Untuk 18+...
Uchiha Sasuke : 21 Thn
Hyuuga Hinata : 20 Thn
Uchiha Itachi : 25 thn
Hatake Kakashi : 25 Thn
.
.
.
Chapter 7 : A Light in a Sad
Sakura memasang senyum sinis, ternyata dugaanya benar…
Wanita yang keluar dari Apartement Sasuke siang itu adalah targetnya. Saat ia selesai menerima telfon dari orang suruhannya itu senyum dibibirnya makin lebar.
Meski tadinya ia agak terkejut orang itu bermarga Hyuuga, tapi Sasuke pasti sangat berterima kasih padanya…..benarkan ?
Hyuuga selalu saja bersinggungan dengan Uchiha…dan kehadiran Hyuuga itu sebagai penolong tidak akan ada artinya bagi Sasuke bukan ?
Dan tampaknya Sasuke juga belum menyadari gadis itu adalah penyelamatnya. Hanya saja, akankah gadis itu memang ada artinya jika Sasuke sudah mengetahuinya…..?
'Khe…Bermimpi sajalah, untuk bersanding dengan Sasuke' karena dia bukanlah orang yang akan memberi celah untuk seorangpun mengesankan Sasuke apalagi jika itu akan membahayakan posisinya.
Sakura menatap menerawang jauh kearah pemandangan kota dari balkon apartement yang ia huni sejak 4 tahun yang lalu itu. Jika dipikir dia memang merasakan obsesi itu, obsesinya akan Sasuke yang selalu saja tidak pernah tunduk padanya.
Mata hijau itu memandang jemari kanannya yang ia tadahkan, bukan bermaksud berdoa. Tapi lebih seperti merutuki dan merenungi apa saja yang sudah ia halalkan...
Tangannya itu sudah terlanjur kotor untuk mempertahankan Sasuke, jadi ia tak perlu merasakan penyesalan karena jika obsesi itu benar-benar tercapai. Maka segala akan hal itu akan terhapus juga…..
Wajah Sakura berubah seperti sikopat, memiringkan kepalanya hingga terdengar suara tulang yang menggeser dengan tiba-tiba.
"Sasuke hanya milikku, dan selamanya dia akan menjadi milikku" soju yang ada ditangan kirinya sudah tinggal sedikit….
Persetan dengan nanti…
Yang penting sekarang gadis itu tidak bisa membuka mulutnya. Dan dia yang akan berada disisi Sasuke…..
Dia memang ingin membunuh Hyuuga itu, yah dia sangat ingin…tapi…Sakura sendiri tidak ingin memiliki resiko bersinggungan dengan keluarga gila harta macam Hyuuga itu. Jika dipikir, Neji saja tidak pernah membawa gadis itu pada perkumpulan…mungkinkah ada rahasia dalam keluarga itu ? seingatnya Neji tidak memiliki adik maupun saudara perempuan yang seusia dengan gadis itu.
Tapi faktanya seluruh biodata gadis itu menyandang marga Hyuuga disana. Meski awalnya ia sendiri tidak percaya…..
Lalu bagaimana dengan gadis itu dan apa yang dia lakukan di apartement Sasuke ?
Dan kenapa Sasuke tidak pernah mengatakan jika dia berteman dengan seorang Hyuuga bahkan mungkin juga sudah meniduri gadis itu…..
Aghhhhh…..memikirkannya saja sudah membuat dadanya panas…
Gadis itu sudah menggoda Sasuke, bahkan ia masih belum melupakan sikap Sasuke semalam yang dengan sangat tega mengacuhkannya. Mungkinkah mereka sedang sangat 'tanggung'…..Cih, jika saja dia tau gadis itu didalam semalam maka ia pasti akan menyeret gadis itu keluar dari sana…menjambak juga memaki gadis itu hingga ia puas….
Tapi kebetulan kali ini benar-benar sudah memberinya sebuah ide yang cukup sadis tapi menyenangkan.
Penyerangan yang tidak tanggung-tanggung...
Ia yakin gadis itu belum mati tapi hari tenang ini akan dia gunakan untuk mendekati Sasuke...mencari sedikit posisi kosong disamping pemuda menggairahkan itu...
Bukankah dia ahli mencari celah…?
Ahhhhh...
Sakura yang jahat telah jatuh sangat dalam...
Tapi kenapa ini rasanya menyenangkan...?
Satu tegakan soju itu meluncur dikerongkongan Sakura yang sudah mulai mabuk. Jika saja Sasuke tidak bersikap begitu maka segalanya akan menjadi mudah dan mereka sudah menikah sekarang. Jangan menyalahkan keadaan Sakura, kau hanya menjadi sedikit gila karena cinta yang sangat menuntut. Sasuke adalah obatnya dan mungkin juga jalan satu-satunya...
Kita akan lihat saat matahari esok mungkin saja akan menjadi hari cerah untukku...
Haruno Sakura...
Dan...
Hari sialan ini sangat memuaskan bukan ?
============**O-O**===========
Flashback 4 tahun yang lalu...
Konoha High School...
"Kau yang melakukan itu ?" Sasuke berdiri dengan tangan berlumur darah...muka tampannya itu telah terluka dibeberapa bagian...bahkan ada darah segar yang baru turun disela bibirnya...
Tatapan tajam itu mengunci dan membidik target didepannya yang kondisinya tidak jauh berbeda...
"Kau menjual aset kami pada mereka bukan ?" kembali suara Sasuke terdengar...
Pemuda dengan seragam yang sama dengan yang dipakai Sasuke itu tidak terlihat takut. Menyerigai dengan angkuhnya...sembari mengusap darah yang keluar dari hidungnya...
"Jika Iya kenapa ? Kau mau membunuhku sekarang. Bukankah kita berteman ?" ekspresi memuakkan itu sungguh membuat kepalan Sasuke gatal. Ingin sekali ia menghabisi wajah itu hingga hancur jika teman-temannya tidak sedang memegangi tubuhnya...
"Kau tidak perlu melakukan hal sejauh ini Sasuke!" Shikamaru berusaha menghentikan Sasuke yang sudah tidak memakai akal sehatnya.
Di sisi lain Gaara dengan tekanan kuat pada pundak Sasuke juga mengatakan sesuatu yang kurang lebih sama...
"Kau akan mendapat masalah jika rencana apapun yang ada diotakmu itu terwujud" bisikan Gaara sedikit lebih lirih tapi berusaha diarahkan tepat sasaran.
"Sudah Cukup!, Itachi-Nii sudah datang dan para penghuni sekolah ini sudah berkumpul" peringat Gaara lebih lirih lagi...
Sasuke menyerigai lirih tetap lurus pada Hyuuga Neji didepannya...para guru telah mendatangi mereka dan Itachi yang tampak santai memasukkan tangannya disaku celana berdiri diantara adiknya dan Neji dengan menghadap kearah Sasuke. Sorot dingin itu menusuk pandangan Sasuke yang mulai menyentakkan badannya dari Shikamaru dan Gaara guna menghindari tatapan Itachi. Lalu tubuh itu melirik sekilas kearah Neji dan segera pergi dari kerumunan itu...
"Awas kau!" desisnya sebelum pergi…..
Sasuke langsung melihat beberapa pengawal keluarganya sudah menunggunya dibalik kerumunan itu...ia tau apa yang akan terjadi karena mayoritas pengawal itu milik ayahnya...sudah ia duga...hal terburuk sudah menyambutnya...
Cih, Persetan...
Sasuke hanya menurut saat para pengawal itu menggiringnya menuju mobil yang terparkir di depan sekolah...pemuda itu terus menghela nafas menenangkan amarahnya...dan mobil itupun mulai melaju pelan...meninggalkan areal sekolah itu…..
Di tempat lain Itachi sedang duduk diruangan Bimbingan Konseling dengan Neji yang tetap memasang muka tidak bersalah. Sikap Itachi masih santai, tidak terkejut dengan tindakan adiknya yang agak gila...tidakkah ia sudah terbiasa dengan perilaku Sasuke yang semakin liar….
Disisi lain nampak Shikamaru dan Gaara yang berdiri disamping meja introgasi itu. Gaara membawa USB dan Shikamaru sedang meletakkan proyektor dan laptopnya...
Setelahnya Gaara mulai memasukkan USB itu ke portnya. Saat ia menemukan file itu ia melirik kearah Itachi yang masih diam...
"Itachi-Nii" panggil Gaara memastikan...
Itachi hanya mengangguk...
Dan Klik...Shikamaru duduk di sisi lain meja itu...
Lalu di proyektor itu nampaklah data proyek bisnis yang dibuat oleh mereka, Sasuke, Shikamaru dan Gaara untuk mencari suplier dan juga pasokan saham perintis mereka. Sebelumnya, jangan remehkan kejeniusan mereka yang sudah merencanakan bisnis padahal mereka masih SMA, Sasuke adalah orang yang paling gencar menggaet para pembeli saham mereka. Bahkan ia sudah mengumpulkan 1,3 juta yen dalam beberapa hari, statistik perkiraan keuntungan akurat itu juga menampakkan kerugian akibat bocornya aset profit dan perencanaan proyek mereka. Sangat Fatal...
Saham yang sudah terjual itu telah menjadi limit...dengan warna merah tanda ketidak puasan yang sangat nyata...dari sebuah jerih payah yang hancur begitu saja...
Neji yang melihat itu hanya tersenyum mengejek...
Lalu layar itu berganti dengan rekaman seorang pemuda yang terlihat habis dipukuli. Neji langsung memicing saat rekaman itu berisi deru nafas berat dan sebagian wajah sosok itu. Rambut oranye yang tampak disana agak berantakan...lalu...
"Neji!" sosok dalam rekaman itu memanggil dengan nafas tersegal...
Sementara itu Neji mulai terbelalak saat ia mengenali sosok itu, mulut itu langsung mengumpat dan mendecih...
"Dasar tidak berguna" desisnya...tangan itu langsung terkepal erat...
Itachi tidak menatap ke proyektor itu tapi justru mengawasi gerak-gerik Neji yang mulai keluar dari zona tenangnya.
"Neji...Ne-ji...Mere-ka mena-ngkap-ku" sosok dalam rekaman itu mulai meratap, darah dari mulutnya tumpah bagai air yang mengalir. Sebelah mata sosok itu bengkak hingga sosok itu terlihat susah menatap dan hanya mengandalkan sebelah matanya yang lain.
"Tolong...se-la-mat-kan aku...kita sudah sepa-kat bu-kan...Ne-Akhhhhhh..." suara pukulan terdengar menghantam bagian perut sosok itu. Lalu pekikan mengilukan mengisi ruangan itu hingga memekakan telinga.
Rekaman itu agak bergoyang, semacam digeser...para pengawal berbaju hitam tampak sekilas disisi lain rekaman lalu siluet Sasuke terlihat. Memandang dingin kearah kamera...separuh wajah itu terlihat samar pada ruangan yang agak temaram.
"Kau akan membayar mahal, Hyuuga. Sangat mahal..." sorot itu mengintidasi kearah Neji. Padahal itu hanya sebuah rekaman, tapi kehadiran Sasuke sangat terasa.
Neji akan menggebrak meja didepannya saat telfonnya bordering namun urung dilakukan...pemuda itu memandang kearah Itachi, Gaara dan Shikamaru aneh, karena ketiganya sejak tadi hanya diam saja.
Telfon itu terus berdering dan Neji segera menyambarnya. Nama ayahnya tertera disana bersama serigai ketiga orang itu...
Itachi melipat tangannya santai dengan senyum yang lebih lebar.
"Akatlah" ucap Itachi.
Rekaman disana masih berjalan dan hanya kegelapan yang terlihat.
Neji mengangkat telfon itu dan...
"BERENGSEK...PULANG SEKARANG!" Neji terbelalak kaget dengan umpatan ayahnya dari ujung telfon itu. Mata Ametis Neji menatap kearah Itachi lagi...
"Hadiah, karena sudah melakukan hal ini" jawab Itachi santai.
Suara bergeser terdengar direkaman itu…..lalu tampak Sasuke menunjukkan layar ponselnya kearah kamera…
"Kau….mencari…masalah pada orang yang salah" terdengar suara desisan Sasuke dibaliknya.
Suara Hiasi Hyuuga masih terdengar di handphone Neji saat benda itu terlepas dari tangannya. Jatuh menghantam lantai bersama sorot keterkejutan di mata itu. Apa yang ia lihat di sana adalah harga saham keluargannya…
Neji memandang tajam kearah Itachi lagi…..
"APA YANG SEBENARNYA KALIAN LAKUKAN ?" Tanya pemuda itu, benar-benar menggebrak meja tidak bersalah itu.
Itachi beranjak bangun dari posisi duduknya.
"Kau bukan orang bodoh untuk sekedar mengartikan hal seperti itu" Shikamaru dan Gaara menutup laptop dan juga mematikan proyektor itu segera saat Itachi meminta USB itu…
"Kau akan tau saat bertemu ayahmu….sudah kubilang ini adalah sebuah hadiah" bisik Itachi lagi.
Shikamaru dan Gaara mengirim serigai kearah Neji yang masih terdiam. Lalu bergegas mengukuti langkah Itachi yang sudah beranjak duluan.
Neji meremas rambutnya frustasi saat handphonenya berdering lagi. Ia menyambar kursi disampingnya dan menghantamkan kursi itu ke meja didepannya…..
"BERENGSEK KAU UCHIHA!" teriaknya.
Itachi yang mendengar itu hanya tersenyum kecil dan terus melangkah…..
"Kurasa kita tidak akan bisa mengubah permusuhan kedua klan untuk lebih baik setelah kejadian ini" bisiknya.
Gaara melirik Shikamaru yang pilih diam.
"Sasuke…..dia…mencoba untuk mempercayai Neji, Itachi~Nii" ucap Gaara agak emosi.
Itachi menghentikan langkahnya tiba-tiba setelah ia rasa cukup jauh dari tempat sebelumnya. Di ikuti berhentinya kaki Gaara dan Shikamaru yang langsung focus pada Itachi….
"Akan ada Hyuuga yang akan bisa diterima Otouto itu, meski aku sendiri tidak tau kapan Hyuuga itu akan muncul" senyum Itachi mengembang tulus…..
"Aku juga menantikan Hyuuga itu" menatap langit dari pinggir teras sekolah itu…
"Hyuuga yang akan menyadarkan Sasuke"
"Hyuuga yang cantik juga baik hati"
"Hyuuga yang tidak akan bisa dilepaskan oleh seorang Uchiha"
"Hari itu….pasti akan datang….dan aku menunggu hari itu"
Itachi melihat kearah Shikamaru dan Gaara yang tampak tidak mengerti dengan segala ucapannya…..
Mengulurkan kedua tangannya pada pundak keduannya….
"Sampai saat itu datang…tetaplah ada disisi Sasuke, meski dia mengajak kalian ke neraka sekalipun…..karena…..setidaknya masih ada yang cukup kupercaya untuk menghentikannya" Itachi memberi jeda…..
"Kalian bisakan ?" tanyanya kemudian pada keduannya…..
Kedua pemuda itu mengangguk, sebagai suatu kesanggupan….
Dua pilar penopang…..
Itachi tersenyum lebar…..terlihat puas…
"Baiklah, sekarang kita lihat sebuah pertunjukan…..dimana si Otoutou-ku itu mungkin saja akan habis" ucap Itachi ceria, seolah apa yang akan terjadi pada Sasuke tidak terlalu mengkhawatirkan….
Kedua dahi pemuda itu berkedut, tidak mengerti sama sekali betapa Itachi sangat suka melihat Sasuke seperti itu…
Pikiran yang sama bertengger dikepala keduannya…..
'Apa mereka benar-benar saudara ?'
============**O-O**===========
Uchiha's Hospital 30 menit yang lalu...
Dokter berambut kuning dengan ukuran payudara yang waw itu melempar berkas hasil check up kearah Itachi dengan muka bosan. Nampak tidak dalam mood yang bagus...
"Kau harusnya mengambil itu 2 hari yang lalu, jika ibumu tidak memaksamu datang kesini pasti berkas itu hanya akan jadi tulisan tidak berguna" Sunade mulai mencibir kesal. Wanita dengan jubah putihnya itu duduk dibalik meja kerjanya dengan tidak perduli. Mengecek berkas lain, menganggap Itachi tidak ada disana...dan bukan pada posisi yang penting untuk dapat perhatian penuh...
Itachi tersenyum canggung menerima berkas itu. Dia tidak ada pada posisi yang bagus untuk menyela dan menjawab perkataan wanita didepannya ini...maka ia hanya mengucap terima kasih dan segera keluar dari ruangan panas itu dengan muka yang lega saat sudah benar-benar tidak ada dalam aura Sunade lagi...
Jika dipikir berurusan dengan Sunade selalu saja menyeramkan. Check up bulanannya itu bukanlah masalah besar tapi dokter keluarganya itu yang benar-benar ingin ia hindari...
Jika ibunya tidak mengancamnya, maka check up bulanan itu pasti akan ia lakukan selamanya.
Langkah Itachi baru akan sampai di lobi saat ia menyadari adanya kasak kusuk diantara para staf rumah sakit itu. Ia semakin mendekati stan bantuan saat mendengar nama Sasuke disebut-sebut...
"Ada apa ?" tanya Itachi saat ia sudah ada didekat stand itu dengan langkah tergesah. Para staf itu langsung mundur dan berbaris teratur saat melihat Itachi dengan muka tegang. Pasalnya mereka baru saja membicarakan tuan mudanya dan sekarang kakak tuan mudanya itu memergoki mereka. Tubuh itu menunduk hormat kearah Itachi dan salah satu wanita yang sempat ditanyai Sasuke tadi segera menjawab sopan...
"Sasuke-sama baru saja menanyakan kamar atas nama nona Hyuuga Hinata dan terlihat sangat tergesah, kami berusaha memandu tapi Sasuke-sama terlihat sangat khawatir dan juga terlihat sangat kesal" ucap wanita itu masih tetap menunduk.
Itachi terbelalak mendengar nama Hinata disebut, raut itu berubah cemas. Tapi berusaha mempertahankan sikap stoicknya...
"Dimana kamar yang dituju Sasuke ?" Ucap Itachi agak setengah berteriak...
Para staf pria segera menunjuk jalan pada Itachi tanpa basa-basi lagi.
"Lewat sini Itachi-sama" ucap pria pemandu itu cepat...meski mukanya agak tegang...untuk pertama kalinya suasana jadi sangat mencekik leher para staf itu...
Itachi segera melangkah dengan tergesah otaknya belum sampai berpikir, apa yang akan ia lakukan saat ia benar-benar bertemu Hinata nanti. Sekarang yang ia rasakan adalah rasa sesak didadanya...
Apakah Hinata terluka ?
Dia baik-baik saja bukan ?
Dari beberapa puluh meter didepan, Itachi bisa melihat adiknya yang berdiri didepan pintu ruang rawat dengan muka bingung dan khawatir. Itachi langsung menghentikan langkahnya dengan cepat saat ia masih agak jauh dari Sasuke, jemarinya memberi kode pada staf dibelakangnya untuk meninggalkan dia disana tanpa satu patah katapun.
Staf itu hanya mengangguk mengerti dan berbalik menjauh...
Tangan Itachi terkepal erat...ada dua orang yang sangat berharga baginya...dan jika benar yang ada dikamar itu Hinata maka ia cukup bingung harus melakukan apa...
Dan akhirnya Itachi benar-benar tidak bisa mendekati adiknya yang sedang terpuruk itu.
"Sasuke" bisiknya pada dirinya sendiri. Pertanyaan yang langsung muncul sekarang sangat menggelitik keingin tahuannya...
Namun bukan sekarang waktu yang tepat untuk menanyakan segalanya pada Sasuke...jika ia kegabah maka nyawa Sasuke taruhannya tapi jika ia tidak segera mengetahui itu Hinata atau bukan maka ia akan menyesal seumur hidupnya...
AGHHHHH…..
Disatu sisi ia harus menjaga Sasuke tapi disisi lain Hinata juga tanggung jawabnya...
Berpikir Itachi...berpikirlah...
Kemudian kepala itu terlihat memiliki cara yang mungkin aman untuk kedua pilihan itu. Tubuh Itachi segera berbalik kearah ruangan Sunade dengan langkah setengah berlari...
Dia harus cepat...
"Sasuke Maaf, ini bukan saat yang tepat" bisik Itachi disela nafasnya yang agak memburu...
============**O-O**===========
Suara pintu terbuka dengan perlahan itu disambut bau obat yang sangat pekat dari ruangan itu. Sunade yang memang sudah terbiasa langsung mengarahkan pandangannya pada sesosok gadis yang sedang tak sadarkan diri diatas ranjang itu…..
Tulisan di atas pintu ruangan itu telah bersimbol VVIP dan Sunade agak mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang mungkin ada disana. Tapi tidak ada tanda-tanda jika seseorang baru saja memasuki ruangan itu. Mungkin juga belum….
"Masuklah" ucapnya pada sosok dibelakangnya.
Sosok itu masuk dengan gerakan kaku. Saat mata yang juga Oniks itu melihat gadis yang terbaring disana...lutut Itachi Uchiha seketika bergetar...lalu sorot itu terbelalak dan dalam sekejap terpejam lagi...tidak tahan melihat dan mengakui jika itu benar-benar Hinata...
Sunade yang biasanya berisik hanya tutup mulut dengan iba saat Itachi membalikkan badannya guna menyembunyikan lelehan di pelupuk matannya itu.
"Hina-ta" suara itu nyaris tercekik...menyadari jika dia terlambat mempercayai jika Hinata sudah kembali dan juga terlambat mengetahui keberadaan gadis itu.
Sunade mengalihkan pandangannya pada sosok didepannya. Dokter yang terampil itu menyentuh pipi gadis yang terlihat polos itu, lalu berahli ke pergelangan tangan pucat itu menekan tepat di denyut nadinya sembari mengawasi penunjuk waktu yang melingkar dipergelangan tangannya yang lain.
Setelah itu Sunade melirik monitor yang terpasang disisi ranjang. Menyesuaikan kesimpulannya dengan alat itu...bibir tipis Sunade melengkungkan senyuman...
Slang yang ada dimulut Hinata yang tadinya keruh bercampur darah itu sudah menjadi jernih. Slang untuk infus dan oksigen itu juga berjalan normal...
"Dia...memiliki kemauan untuk sembuh yang sangat luar biasa" Ucap Sunade yang berhasih membuat Itachi berbalik cepat dengan raut yang cukup lega. Karena perkataan itu berarti kondisi Hinata sudah jauh membaik...
"Gadis ini...sudah melewati masa kritisnya" kembali Sunade melanjutkan, lalu melirik Itachi.
Dengan cekatan tangan Sunade melepas slang dimulut Hinata, moment yang cukup menggerikan bagi Itachi yang membuang muka kearah lain saat hal itu terjadi.
Sunade memencet tombol di samping ranjang itu guna memanggil perawat. Tak lama perawat yang dipanggil itu datang dan langsung menerima intruksi dari Sunade untuk menyingkirkan kadel yang menempel didada Hinata bersama slang yang sudah ia lepas sebelumnya.
Setelah itu Sunade memegang pundak Itachi, kemudian melirik wajah pria itu.
"Perawat harus membersihkan tubuh gadis itu sekarang jadi lebih baik kita pergi, kau bisa menjenguknya saat dia sadar nanti" tekanan itu menjadi mengusap perlahan.
"Jangan khawatir" dan kemudian Sunade berjalan keluar dari ruangan itu, mendahului atau mungkin juga memberi sedikit waktu pada pria itu.
Perawat wanita itu berdiri agak jauh dari ranjang menantikan Itachi menyelesaikan urusannya, sembari memperhatikan betapa seriusnya tatapan pria tampan itu.
Langkah Itachi mendekat ke ranjang itu, mengusap rambut indigo adiknya itu dengan gemetar. Kepala Itachi tertunduk lagi, tubuh itu diselimuti kegelapan...
"Maaf, karena aku lalai menjagamu Hinata" sebuah bisikan yang cukup sakit dihati Itachi sendiri.
"Tapi...Akhirnya kau kembali..." Itachi menyeka keringat didahi Hinata dengan lembut. "Cepat sembuh, aku akan mencari siapa orang berani melakukan ini padamu" kepala Itachi menunduk dan bibir itu mencium kening Hinata lama.
Perawata yang melihat hal itu agak bersemu sembari membalikkan badannya. Memberi Itachi privasi yang cukup...
"Anikimu ini berjanji" tambah Itachi saat ia menjauhkan wajahnya dari wajah Hinata. Meski nyatannya tetesan tangis Itachi itu akhirnya jatuh juga dan mendarat di pipi Hinata lalu meluncur dari sana.
Itachi memandangi sejenak kondisi Hinata yang tampak sudah tenang. Lalu pria itu segera berjalan keluar dari ruangan itu...
Perawat yang melihat kepergian Itachi hanya menatap iri pada gadis yang belum sadar didepannya. Juga mengakui betapa beruntungnya gadis itu...
Perawat dengan kalung identitas bernama Tenten itu tersenyum kecil pada sosok didepannya sangat kagum, jika saja ada orang yang menyayanginnya seperti itu. Ia bergegas membenahi slang dan mencabut kabel di dada Hinata bahkan ia juga menyeka tubuh Hinata dengan air hangat, membersihkan dan mengganti perban di pelipis gadis itu. Mengolesakan obat pada luka lebam diwajah gadis itu. Entah kenapa ia merasakan ketulusan yang terpancar dari tubuh Hinata, tapi kenapa terlalu banyak luka ditubuh gadis itu ?. Bahkan ia juga menemukan luka lain dipunggung gadis ini...
Tenten meletakkan mesin penghangat di samping ranjang pasien bernama Hinata itu karena udara mulai agak dingin. Lalu mengganti bunga yang agak layu di vas dengan bunga lavender yang harum...
Setelah pekerjaannya selesai ia duduk disamping ranjang Hinata...
"Saya akan merawat anda hingga sembuh, jadi anda tidak boleh menyerah Hinata~san" ia menyentuh lembut tangan Hinata..."Saya rasa kita seumuran, jadi mohon bantuannya" bisik perawat itu riang.
Tenten mengambil sebuah buku komik romance yang ia bawa saat ia mengambil bunga baru untuk ruangan Hinata tadi. Seperti biasa ia bertugas membacakan cerita bagi seseorang yang ada dialam bawah sadarnya. Sebagai stimulan syaraf agar pasien bisa cepat kembali ke dunia sadarnya. Jika biasannya perawat lain menggunakan novel maka tidak halnya dengan Tenten. Gadis itu lebih mudah menceritakans sesuatu lewat dialog dan gambar dari pada hanya tulisan saja.
"Perempuan ini bernama Souko...gadis yang menyimpan keperihan dibalik senyumnya...gadis yang berusaha mencintai dengan kisah baru...melupakan masa lalunya, lalu mencoba padahal baru...suatu hari saat Souko berusaha menerima cinta lagi dalam hidupnya. Ia dipertemukan lagi pada sosok pemuda bernama Yuki yang dulunya adalah teman kecilnya...lembaran lama mulai terbuka lagi...kisah perih yang sempat lenyap datang lagi. Ketulusan dan cinta yang dulu kembali lagi...saat pertemuan yang menyakitkan bagi Souko atas sikap Yuki yang bertambah dingin juga menjelma menjadi sosok yang tidak ia kenali lagi. Hati Souko yang sempat sembuh itu semakin terluka lagi, saat ia dihadapkan pada kenyataan bahwa Yuuki sangatlah membencinya...rumit...kisah rumit yang dijalani Souko ternyata..." Tenten baru akan menceritakan kelanjutan kisah itu saat panggilan dari pusat terdengar lewat suara beep panjang. Gadis itu menutup bukunya dan menunduk pada sosok Hinata yang masih belum sadar.
"Saya akan melanjutkannya nanti Hinata~san, saya permisi dulu" izin gadis itu sopan sebelum meninggalkan ruangan itu.
Hingga hanya tubuh Hinata sendirian saja yang ada disana...
============**O-O**===========
Pukul 00:04 Dini Hari...
Koridor rumah sakit itu telah senyap, tidak ada suara sedikitpun. Sasuke berdiri agak terhuyun didepan pintu ruangan itu...
Aroma alkohol tercium dari mulut pemuda itu. Jemari pemuda itu menggenggam handel pintu itu. Dan menggesernya perlahan, ruangan agak temaram itu hanya diterangi oleh lampu tidur disisi ranjang yang menampakkan tubuh Hyuuga Hinata. Sebagai fokus utama...
Langkah goyah Sasuke melangkah perlahan kearah ranjang itu. Jemari itu mengusap wajahnya yang berkeringat dengan asal-asalan. Raut dingin yang tertebak itu terus menatap pada wajah Hinata yang tampak tenang. Suara monitor pendeteksi detak jantung saja yang mengisi ruangan itu.
Jemari Sasuke menjangkau pinggiran ranjang itu yang agak tergeser karena menjadi tumpuhan pemuda itu. Dan kemudian dia menghembuskan nafas besarnya lalu terdiam. Tidak ada pergerakan apapun sampai tubuh itu mendudukkan diri dikursi dan menggenggam jemari Hinata.
"Aku tidak mabuk" bisik Sasuke dengan suara agak berat dan juga agak aneh. suara itu seolah memiliki arti jawaban juga meyakinkan meski nyatanya Hinata masih tidak mampu untuk bertanya bahkan hanya sekedar membuka matanya. Tapi entah kenapa Sasuke sedang ingin melakukannya…..lebih tepatnya…dia butuh seseorang untuk diajak bicara…...walaupun kenyataannya…..orang yang ada didepannya itu tidak dalam kondisi sadar...
"Pelayan, Aku lapar, buatkan aku makanan" bisiknya lagi nada ngelantur itu semakin jelas.
"Aku tidak membayarmu untuk tidur" lanjut Sasuke.
Sorot itu menatap wajah Hinata lebih lama lagi...
"Aku lelah, siapkan tempat tidurku" Sasuke mengucap lagi.
Tidak ada jawaban...
Yah memang apa yang dia harapkan...
Kepala Sasuke dijatuhkan kesamping jemari Hinata...mungkin kesadaran pria itu mulai menipis...karena hanya denyut nyeri dikepalanya yang dia rasakan...
"Hi-na-ta...buatkan aku kopi, kapalaku sakit. Kenapa kau tidak menyambutku tadi ? Aku...sangat lelah"
"Hi-na-ta..."
Mata itu mulai tertutup, dan nafas pemuda itu mulai tenang...kemeja lusuh, rambut yang kusut dan bau parfum wanita yang menyengat sama sekali tidak mencerminkan jika Sasuke tidak apa-apa. Pria itu tampak baru saja mencari pelampiasan meski dirinya sendiri masih cukup sadar untuk berpikir kenapa dia sampai melakukan itu ? dan juga kenapa Hinata jadi begitu berarti baginya…
Kenapa Uchiha sepertinya terjebak pada sosok Hyuuga…
Kenapa ? adakah jawaban yang cukup logis yang bisa ia percaya dan terima…
Atau dia hanya tidak berusaha mempercayai sesuatu…..
Kembali senyap….
Itulah yang terjadi pada ruangan inap itu…..kedua orang itu tertidur disana sama seperti malam sebelumnya. Sangat dekat…
Tapi sama-sama berusaha menjauh…meski akhirnya mereka dipertemukan disituasi yang sama lagi….
Akankah semua membaik ? pertanyaan itu yang selalu ada dipikiran kalian bukan ?
============**O-O**===========
Ini sore hari….
Sasuke ada didepan pintu apartementnya dalam diam. Suasana dilingkungan itu seketika berbeda…..ada yang hilang….
Kenapa ia merasa linglung, bahkan pandangannya serasa agak kabur. Kenapa ia merasa jika tubuhnya jadi sangat berat…..
Ini…..seperti tidak nyata…..
Benarkah….?
"Uchiha~sama ?" suara dibelakangnya tiba-tiba membuatnya kaget.
Rasanya sangat lambat ketika Sasuke harus menolehkan wajahnya kearah suara itu. Tapi sebelum ia benar-benar melihat sosok itu, sosok itu sudah menyusul dan menempatkan diri dihadapannya.
Tapi suara itu milik…milik…
Sasuke benar-benar linglung, ia bukannya melihat wajah sosok didepannya malah justru ia menundukkan wajahnya…..pikiran pria itu mungkin masih melayang entah dimana…
Rasa antara dejavu dan kenyataan…..bergelut dipikirannya…
"Uchiha~sama ?" saat suara lembut itu lagi-lagi terdengar Sasuke seakan tidak percaya…..tiba-tiba ia mundur sebagai reaksi akan ketidakmungkinan….
Kemudian saat ia memberanikan diri untuk mendongak. Nafasnya yang tadinya agak sesak mulai berhembus lancar…entah kenapa ia merasa lega…
Sosok indigo itu berdiri dengan senyum dihadapannya. Tidak ada raut sedih sedikitpun…..
Sasuke terpanah…otak egiosnya mungkin sirnah untuk sesaat…tubuh pria itu agak gemetar…..
Dan sosok didepannya itu terlihat khawatir…muka ceria itu menjadi murung lalu jemari itu terulur untuk menyentuh pundak Sasuke…..
"Anda baik-baik saja Uchiha~sama ?" tanya gadis itu lembut.
Sasuke mencoba menyentuh tangan itu, tapi dengan cepat….sosok itu menghilang…..sang Uchiha melebar dan kebingungan…tidak rela jika sosok itu pergi…
"Hinata ?" panggilan lirih itu hanya dijawab angin dikoridor apartementnya…..
Saat ia menyadari jika sosok itu benar benar-benar hilang, Sasuke menggapai-gapai ruang kosong itu…
"Tidak….Hinata…..HINATAAAAAAAA"
Lalu kemudian semuanya menghitam diikuti mata Onix kemerahan itu terbuka dengan panik. Sasuke tersegal-segal…..ia melihat kearah sosok sidepannya yang masih belum bangun…
Suara beep alat itu kembali memuat Sasuke sadar jika itu hanya mimpi…..keringat dingin bercucuran di dahinya…bahkan juga dileher sang Uchiha…
Sasuke mencoba menenangkan hembusan nafasnya….
Menatap lekat pada sosok yang masih betah membuatnya khawatir…..
Ia baru menyadari jika ia tidur sambil duduk disebelah Hinata. Sasuke mendekatkan wajahnya sambil menunduk…sembari mengelus rambut Hinata dengan sangat berhati-hati….
"Aku akan memberimu hukuman saat kau sadar nanti" bisik Sasuke didekat telinga Hinata.
"Karena kau sudah membuatku seperti ini, Hyuuga"
Sasuke mengamati bibir pucat itu sejenak dengan gairah kecil. Dan kemudian benar-benar menyesapinya dengan segala beban dihatinya. Bahkan pria itu terlalu lama menikmati bibir Hinata…..tapi ia tak kunjung berhenti….
===========*T*B*C*===========
Hai minna semua…
Maaf lama atas kelambatan ini…
Tpi Noe punya alasan buat mengembalikan mood gara-gara laporan plagiat fict ALTOEnya Noe…..gak izin dan gak mencantumkan jika itu fictnya Noe…
Hosh….agak kesel…..
Yah walaupun gimanapun fict itu dibuat dengan keringat dan tenaga…agak gak rela aja jika dicopas gitu aja…
Maaf gak bisa jawab review kalian…..tapi terima kasih banyak buat yang masih nunggu….
Jangan lupa Review…..tapi Noe kasih bocoran sedikit…
Setelah Deep Touch nanti tamat bakal ada fict SasuXHina yang cukup aneh…hihihi…
Jadi penasaran gak ?
Eh tapi Deep Touch entah kapan end nya….jyaaaaaa…..
Sama aja bo'ong yah…..hihihi…
Lihat mood aja deh….
Jaa Ne…..Minna…..
#Peluk semua silent reader dan juga pembaca setia…
