Remake dari AliaZalea "Dirty Little Secret".

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Jika ada kesamaan cerita di FF lain dengan pairing berbeda adalah hal yang wajar karena ini adalah sebuah 'remake' :)

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Age of the cast:

-Park Jimin (m) : 30 tahun

-Min Yoongi (m) : 27 tahun

-Kim Seokjin (m), Kim Namjoon (m) : 34 tahun

-Min Taehyung (m), Min Jungkook (m) : 7 tahun.

-Kim Hoseok (m) : 4 tahun.

Rate M!

Romance, Drama, Family

Yaoi, boyXboy, !MPreg!

!Warn! Bahasa non baku, typo, beberapa dialog inggris.

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 6

I've been up all night drinking

To drown my sorrow down

Jimin tahu pasti ada yang salah dengan dirinya ketika bukannya merasa tersinggung dengan kata-kata Yoongi, dia malah ingin menciumnya. Kata-kata hinaan itu terdengar seksi keluar dari bibir Yoongi dengan lipbalm tipis yang terlihat menggoda itu. Dia ingin membuat lipbalm mengkilat di bibir Yoongi itu belepotan dengan melarikan bibir, lidah, dan giginya di sana. Kemudian, setelah puas membuat bibir itu bengkak, dia akan menyerang bagian tubuh Yoongi yang lain.

Di mulai dari pangkal pinggang dan beralih ke pantat yang kelihatan lebih besar dan berisi daripada yang dia ingat. Yes, dia adalah laki-laki pecinta bokong dan tidak malu mengakuinya. Dia bisa hidup bahagia hanya dengan sepasang bongkahan kenyal itu. This is not good. Dia harus menjauhkan diri dari segala hal yang berhubungan dengan pantat, terutama pantat milik Yoongi. Dengan susah payah Jimin memaksa matanya kembali pada wajah Yoongi, wajah itu masih semanis yang dia ingat.

Setelah delapan tahun, dia masih menginginkan Yoongi seperti pada hari pertama dia bertemu dengannya. Kenyataan ini dan kata-kata Yoongi yang mengatakan dia masih kelihatan seperti bajingan membuatnya tertawa kencang, dengan kepala terlempar ke belakang segala. Dia tidak peduli orang-orang sudah menoleh ke arahnya sambil geleng-geleng kepala. Membutuhkan waktu beberapa menit baginya untuk meredakan tawanya.

"Kamu emang selalu bisa bikin aku ketawa," ucap Jimin sambil menghapus air mata yang keluar dari ujung matanya.

Yoongi menyilangkan tangannya dan berkata,

"Well, aku bermaksud menghina kamu, bukan bikin kamu ketawa."

Jimin tidak menghiraukan nada judesnya dan berkata,

"Aku coba cari kamu selepas terima e-mail kamu, tapi kamu udah menghilang entah kemana, dan nggak ada yang tahu ke mana kamu pergi. Aku kirim berpuluh-puluh e-mail, tapi kamu nggak pernah bales. Kamu kenapa nggak bilang ke aku kalo mau cabut?"

Yoongi memberikan tatapan dingin, sedingin-dinginnya kepadanya, sebelum mendesis,

"Pertama, kita udah putus waktu aku mutusin balik ke Seoul, jadi aku nggak ada kewajiban untuk kasih informasi apa pun ke kamu. Kedua, apa kamu pernah mikir bahwa alasan aku nggak ngebales e-mail kamu adalah karena aku nggak mau ada hubungan apa-apa lagi sama kamu?"

"Kok gitu?"

Yoongi melepaskan sedekapan tangannya.

"Kok gitu? Are you kidding me? Setelah…"

Yoongi menggelengkan sebelum berkata,

"You know what, Jimin, aku nggak mau membicarakan ini. Itu kisah masa lalu. Sudah selesai, dan aku udah move-on."

Demi apapun. Jimin tidak akan memperbolehkan Yoongi untuk move-on dan melupakannya begitu saja. Lain dari apa yang dipikirkan Yoongi, mereka masih jauh dari kata 'selesai' atau 'masa lalu' dan Jimin tidak akan berhenti sampai Yoongi bisa melihat itu. Dalam usaha mengintimidasi, Jimin mengambil langkah mendekati Yoongi hingga dada mereka hampir bersentuhan. Dia menunggu hingga Yoongi betul-betul menatapnya sebelum berkata,

"Dan bagaimana kalo aku bilang aku belum move-on?"

Bukannya kelihatan takut atau terintimidasi, Yoongi justru memberikan tatapan penuh kemarahan kepadanya.

"Oh, kamu harus melakukan itu, karena aku udah punya suami, Jimin," tandasnya.

.

.

.

"Oh… my life is over," rintih Jimin sambil memegangi kepalanya yang sudah mau pecah.

Kejadian tadi malam tidak bisa berhenti di kepalanya seperti CD rusak.

"Ya ampun, Jimin, berhenti jadi pemalas dan bangun dari sofaku. Sekarang udah setengah hari," omel Jin.

Jawaban Jimin atas omelan Jin hanyalah erangan tidak jelas. Bagaimana mungkin Yoongi menikah dengan laki-laki selain dirinya? Siapakah laki-laki yang berani menikahinya tanpa memberitahu Jimin lebih dulu? Sumpah mati dia akan mencari tahu informasi ini, memburu laki-laki itu sampai dapat, sebelum membunuhnya. Tentu saja dia akan membuatnya kelihatan seperti kecelakaan, jadi tidak akan ada yang mencurigainya. Dia tidak peduli Yoongi akan jadi duda, yang penting dia sudah menghapuskan penghalang rencananya untuk mendapatkan cinta matinya kembali.

"Ya Tuhan… Kenapa aku nggak memikirkan ini akan terjadi?"

"Apa? Hangover kamu? Tentu aja kamu hangover, kamu ngabisin semua stok minuman Namjoon," ucap Jin yang salah mengerti maksudnya.

Tapi Jimin terlalu hangover untuk membetulkannya. Tadi malam, setelah Yoongi, lagi-lagi, pergi meninggalkannya, Jin menyerangnya dengan berbagai pertanyaan dalam perjalanan pulang.

.

.

.

/Flashback

"Siapa pria itu, Jimin?"

"Cowok yang aku pacarin waktu kuliah," jawab Jimin.

"Dia nggak kelihatan seneng ketemu kamu."

"Aku tahu."

"Kamu udah apain dia, kok dia sampe segitu bermusuhannya sama kamu?"

"Ceritanya panjang."

"Aku punya waktu."

Dan Jimin yang masih terlalu shock mendengar Yoongi sudah menikah menceritakan semuanya kepada Jin. Dan waktu dia bilang semuanya, yang dia maksud adalah 'SE-MUA-NYA'. Hal pertama yang Jin lakukan setelah ceritanya selesai adalah menamparnya sekencang-kencangnya sampai kepala Jimin terbanting ke sandaran kepala kursi mobil.

"Aduh! Ya ampun, Kim Seokjin! Kamu kenapa nampar aku?" teriak Jimin kesal sambil memegangi pipinya yang sedang kebakaran.

Bukannya menjawab pertanyaannya, Jin malah menamparnya sekali lagi. Dan ketika Jin sadar bahwa tamparannya mendarat pada belakang tangan Jimin bukan di pipinya, Jin mengalihkan serangannya dengan meninju lengannya berkali-kali.

"Ow, ow, ow. Stop. Kamu kenapa sih?"

Dia yakin bukan saja akan ada bekas telapak tangan pada pipinya, tapi memar pada lengannya besok.

"Pakai nanya, lagi!" omel Jin dan sekali lagi melayangkan tinjunya yang kali ini mendarat pada dadanya.

"Omph, aduh! Stop. Sakit, tahu," geram Jimin sambil mengusap-usap dadanya.

"I DON'T CARE! Kamu udah menghamili dia dan nggak bertanggung jawab. You are an asshole, Jimin!" teriak Jin dengan mata berapi-api.

"Apa kamu pikir aku nggak tahu itu?" Jimin balas berteriak sebelum kemudian menurunkan nadanya ketika melihat sopir Jin siap menghentikan mobil di pinggir jalan dan menurunkannya kalau dia sampai mengasari majikannya.

"Aku udah hidup dengan penuh penyesalan atas perbuatanku selama delapan tahun. Delapan tahun, Jin. Itu hampir tiga ribu hari ngerasa seperti ada beban berat yang nindih dadaku. Dan nggak peduli apa yang udah aku coba, aku nggak bisa ngangkat beban itu."

"Kamu pantas ngerasa seperti itu. Demi Tuhan, Jimin! Kamu minta dia gugurin kandungannya. What were you thinking?" teriak Jin.

"Aku panik, oke? Aku nggak… nggak bisa mikirin solusi lain."

Mereka saling tatap tanpa mengatakan apa-apa selama beberapa menit. Masing-masing mencoba mengontrol pernapasan mereka yang sudah terengah-engah. Dari kaca tengah, Jimin melihat sopir Jin sedang mengawasi mereka. Great, dia pada dasarnya baru saja meneriakkan aibnya di depan orang asing. Dia harus meminta Jin berbicara dengan sopirnya agar tidak mengulangi apa yang dia dengar di dalam mobil kepada siapa pun.

"Apa Eomma dan Appa tahu tentang Yoongi?" tanya Jin dengan nada lebih tenang.

Jimin menggeleng dan Jin menghembuskan napasnya.

"Kamu seharusnya telepon aku," ucap Jin pelan.

"Aku tahu,"

Ketika dia masih kuliah di lowa. Jin sudah bekerja di Seoul. Dan meskipun sibuk dan ada jarak beribu-ribu kilometer yang memisahkan, mereka selalu menyempatkan diri ngobrol, setidak-tidaknya sebulan sekali. Dia tahu Jin akan membantunya mencari solusi melalui telepon, dan kalau itu tidak cukup, Jin akan langsung naik penerbangan pertama yang bisa didapatkan untuk berada di sisinya. Jadi betul-betul tidak ada alasan baginya tidak meminta bantuan Jin delapan tahun yang lalu.

"Jadi kenapa kamu nggak telepon aku?"

"Aku nggak tahu juga, Jin. Mungkin karna malu, atau takut kamu nge-judge aku…"

Jimin tidak menyelesaikan kalimatnya karena dia sendiri tidak bisa menjelaskan tindakannya. Mereka berdiam diri lagi.

"Apa pernah terlintas di pikiran kamu bahwa kalo anak kamu masih hidup, dia sekarang udah berumur tujuh tahun?"

Kata-kata Jin seperti kampak yang menancap di dada Jimin. Setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, dia selalu memikirkan hal itu. Terkadang kalau dia sedang betul-betul ingin menyiksa diri, dia akan membayangkan wajah anaknya juga. Terkadang bayi itu perempuan dengan wajah manis dan menggemaskan seperti Yoongi dan terkadang bayi itu laki-laki dengan wajah dan kelakuan yang mirip dengannya. Hm, mungkin nggak kelakuannya, tapi setidak-tidaknya wajahnya.

"Setiap hari, Jin. Setiap hari," jawab Jimin akhirnya.

Di dalam mobil kembali hening, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jin-lah yang lagi-lagi memecahkan keheningan.

"Aku nggak tahu kamu gimana, tapi aku perlu alkohol."

/Flashback end.

.

Dan itulah sebabnya siang ini Jimin terbangun dari sofa ruang tamu Jin dengan hangover terparah yang pernah dia alami sepanjang hidupnya. Dia mencoba duduk, tapi rasa mual langsung menyerangnya dan akhirnya dia hanya bisa tidur menyamping tidak berdaya.

"Sebaiknya kamu minum ini," ucap Jin sambil menyodorkan dua tablet aspirin dan segelas orange juice dengan sedotan.

Tentu saja Jin, yang mengundangnya minum alkohol, hanya minum segelas wine yang diikuti air putih dan jus. Alhasil Jin kelihatan segar, sedangkan dia seperti baru ketabrak kereta api. Jimin ingin mengomel atas kecurangan Jin, tapi karena tidak punya energi melakukannya, harus menundanya sampai dia bisa melihat satu Jin, bukannya dua. Setelah menenggak aspirin dan meminta ekstra satu gelas orange juice, Jimin mulai merasa seperti manusia lagi.

"Hoseok ke mana?" tanyanya, khawatir keponakannya melihatnya teller.

"Ada diatas."

"Apa Hoseok ngeliat aku…" Jimin tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Jin menggeleng.

"Dan Eomma tahu kamu di sini, kamu nggak usah khawatir."

"Kamu bilang apa ke Eomma?"

"Bahwa kamu mau slumber party dadakan sama Hoseok."

"Apa kamu bilang?" tanya Jimin tidak percaya

"Slum-ber par-ty da-da-kan," kata Jin perlahan mengeja kata-kata itu.

"Aku dengar dari pertama kamu nyebutin itu. Yang aku maksud adalah apa nggak ada alasan lain yang bisa kamu pakai? Aku ini laki-laki dewasa berumur tiga puluh tahun, Eomma nggak akan percaya aku dengan rela ikutan slumber party sama anak berumur empat tahun."

Jin hanya mengangkat bahunya cuek dan berkata,

"Kalo kamu mau mandi, aku udah siapin pakaian di kamar tidur tamu. Habis itu mungkin kamu mau sarapan?"

Jimin mengangguk, atau setidak-tidaknya dia mencoba mengangguk, sesuatu yang agak sulit dilakukan dengan posisi kepalanya yang miring di atas bantal.

"Sepuluh menit lagi," ucapnya akhirnya sebelum menutup matanya lagi.

Jimin merasakan gerakan dekat kepalanya sebelum tangan Jin membelai rambutnya dan sebuah kecupan lembut mendarat pada keningnya.

"Istirahat deh, oke. Aku pastiin nggak ada yang ganggu kamu di sini," bisik Jin sambil membelai rambutnya beberapa kali lagi.

Jimin mendesah panjang. Mensyukuri perhatian Jin hari ini. Ketika merasakan Jin akan meninggalkan ruangan, Jimin membuka matanya sedikit.

"Jin?" panggilnya.

"Ya, Jimin?" Jin berhenti melangkah dan memutar tubuhnya untuk bisa menatapnya.

Jimin membuka matanya lebar-lebar dan berkata,

"I still love him." Jimin mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajahnya.

"Tuhanku! Pasti ada yang salah denganku. Gimana bisa aku masih cinta setengah mati sama istri orang yang jelas-jelas benci banget sama aku?"

Jimin merasakan bantalan sofa menurun dan tanpa melihat dia tahu Jin sudah duduk di sebelahnya.

"Ya, pasti ada yang salah sama kamu," ucap Jin.

Huh! Jimin langsung menurunkan tangannya dari wajah untuk menatap Jin.

"Bukannya kamu seharusnya ngebuat aku ngerasa lebih baik, bukannya lebih parah?"

Jin terkekeh.

"Sori. Aku cuma bingung aja kok kamu bisa tolol banget."

Oke. Dia tidak akan pernah mau membicarakan tentang perasaannya lagi dengan Jin kalau kakaknya bertingkah seperti ini. Apa dia pikir gampang baginya untuk menumpahkan isi hatinya seperti ini?

"Maksud aku… apa pernah terlintas di pikiran kamu kalo ada kemungkinan dia bohong sama kamu?"

Pertanyaan Jin membuat Jimin melupakan rasa kesalnya sekejap.

"Bohong tentang apa"

"Bahwa dia udah punya suami. Aku rasa dia ngomong begitu cuma untuk nyakitin kamu aja."

"Yoongi orangnya nggak seperti itu."

Jin mengangkat bahu.

"Hm, aku emang nggak tahu Yoongi, tapi aku tahu perasaan orang yang pernah disakiti. Aku akan ngelakuin hal yang sama kalo aku di posisi dia. Percaya sama aku, dan bahasa tubuhnya tadi malam waktu bicara sama kamu, aku yakin dia masih ada feeling sama kamu."

Jimin buru-buru bangun tanpa menghiraukan kepalanya yang nyut-nyutan dan berkunang-kunang yang bermunculan pada penglihatannya, dia menatap Jin serius.

"Feeling gimana?"

"He's still in love with you too, dumbass."

"Hah?"

Untuk pertama kalinya selama dua belas jam ini, Jimin merasakan setitik harapan.

"Dan dia juga nggak pakai cincin kawin."

Awalnya Jimin menatap Jin sinis, tapi kemudian dia ingat akan inventori penampilan Yoongi tadi malam. Kenapa dia baru 'ngeh' sekarang bahwa semua jari Yoongi bebas dari cincin jenis apapun? Tapi hanya untuk memastikan dia tidak berhalusinasi, dia bertanya,

"Dari mana kamu tahu itu?"

"Aku ketemu dia di toilet. Dia tanya apa kami pernah ketemu sebelumnya, aku bilang nggak pernah."

"Kamu ketemu dia di toilet?" tanya Jimin tidak percaya.

Jin mengangguk.

"Kamu kenapa nggak bilang ke aku tadi malam?" teriak Jimin dengan sedikit ganas.

Dia bahkan tidak tahu kenapa dia berteriak. Jin menyipitkan matanya, tidak menghargai diteriaki pagi-pagi begini di rumahnya sendiri dan balas berteriak,

"Karena aku baru sadar tadi pagi, oke?"

Jimin mencerna informasi ini dalam diam. Apa Jin benar tentang perasaan Yoongi? Tentang kebohongannya?

"Mungkin dia tipe yang nggak suka pakai cincin meskipun udah nikah?"

Jimin mencoba mencari alasan. Dia tidak mau berharap terlalu tinggi hanya untuk melihat harapan itu hancur berkeping-keping.

"Aku nggak tahu, Jimin. Kan kamu yang pernah pacaran sama dia. Menurut kamu apa dia tipe seperti itu"

Jimin menggeleng. Dia ingat betapa Yoongi tidak mau melepas "promise ring" yang dia berikan sebagai tanda cintanya, bahkan ketika mandi sekalipun. Yoongi adalah tipe pria yang akan dengan bangga mengenakan apa pun yang menandakan bahwa dia dimiliki dan dicintai oleh seseorang.

"Kalo aku jadi kamu, aku akan ajak dia ketemu. Bilang ke dia, kamu mau ketemu suaminya. Kalo dia menghindar dengan alasan suaminya sibuk, kamu tahu dia udah bohong," usul Jin.

"Kamu bercanda kan?"

"Kamu mau dapetin dia apa nggak?" teriak Jin, tersinggung rencananya dipertanyakan.

"Ya mau."

"Kalo gitu bangkit dan lakukan yang aku bilang."

.

.

.

Jimin ada di Seoul. Dia harus pindah.

Itu dua hal pertama yang terlintas di kepala Yoongi ketika dia bangun pagi ini. Dia tidak bisa tinggal satu kota dengannya. Meskipun Seoul besar, kemungkinan baginya bertemu Jimin akan lebih besar daripada kalau mereka tinggal di Negara, benua, atau lebih baik lagi, galaksi berbeda. Mungkin dia bisa mencoba mencari kerja di Singapore, atau Eropa, atau bahkan Jupiter saja sekalian. Pokoknya di mana saja asal jauh dari Jimin. Dia tidak percaya dia bilang ke Jimin bahwa dia punya suami. Di antara begitu banyak hal yang bisa dia katakan untuk menjauhkan Jimin darinya, dia harus mengatakan itu? Gimana kalau Jimin mencari informasi tentangnya dan tahu dia nggak pernah menikah? Entah apa yang dipikirkan Jimin tentangnya. Mungkin bahwa dia pria gila yang berhalusinasi punya suami.

Dengan susah payah Yoongi memaksa dirinya bangun dari tempat tidur. Hari ini hari minggu dan dia selalu menyiapkan sarapan pancake dengan pisang dan stroberi untuk Taehyung dan Jungkook. Tidak peduli apa yang sedang bergejolak di dalam hatinya,dia harus menjaga tradisi itu. Dia hanya bisa mendesah pasrah melihat pantulan wajahnya pada cermin. Kulitnya pucat, hidungnya merah menyaingi badut, matanya bengkak, dan ada lingkaran hitam dibawahnya. Semua ini hasil dari menangis semalaman dan kurang tidur. Ini bukanlah wajah yang ingin dia perlihatkan kepada anak-anaknya pagi ini. Buru-buru ditanggalkannya semua pakaiannya sebelum melompat masuk ke bathtub dan menghidupkan shower.

Di bawah siraman air hangat, Yoongi memikirkan nasib sialnya. Kenapa, Oh, kenapa Jimin harus muncul sekarang? Setelah bertahun-tahun dia tidak bertemu dengannya dan berpikir rahasianya akan aman-aman saja, tiba-tiba Jimin muncul untuk menghancurkan segalanya. Tadi malam, setelah memastikan Taehyung dan Jungkook sudah tidur, dia menangis tersedu-sedu. Dia berhasil menahan tangis itu selama mengantar pulang Suzy, yang menyaksikan interaksinya dengan Jimin dan sepanjang perjalanan memberikan tatapan bingung padanya, tapi tidak berani bertanya.

Dia juga berhasil menahan isaknya saat menjemput anak-anaknya dari rumah Papa dan Mama. Mereka memberikan tatapan curiga bahwa sesuatu terjadi di acara amal ketika melihatnya agak linglung, tapi tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak bisa menahan diri lagi ketika sudah sendirian di dalam kamarnya, tempat tidak akan ada orang yang bisa melihatnya menangis.

Membutuhkan waktu beberapa jam baginya untuk menenangkan diri. Dan pada saat itulah dia sadar bahwa dia menangis karena marah, kecewa, dan takut. Marah atas tingkah laku Jimin yang kelihatannya lupa sama sekali akan apa yang sudah cowok itu lakukan padanya. Kecewa pada dirinya sendiri yang meskipun tidak akan pernah bisa melupakan atau memafkan Jimin, masih merasakan ketertarikan luar biasa padanya. Dan ketakutan bahwa Jimin akan tahu tentang anak-anak dan marah besar padanya.

Tapi yang lebih dia takutkan lagi adalah bagaimana kalau Jimin menyeretnya ke pengadilan dengan tuntutan orangtua tidak layak karena menyembunyikan anak-anak dari ayah kandungnya? Atau lebih parah lagi, menuntutnya atas tuduhan menculik Taehyung dan Jungkook? Apa Jimin bisa minta hak asuh penuh kalau dia sampa menang? Oh Tuhan, Yoongi bisa mati tanpa Taehyung dan Jungkook. Dia harus berbicara dengan pengacara keluarganya untuk mencari tahu soal ini, secepatnya.


-TBC-

[Si Jimin delapan taon gak ktemu tetep mesum ya huahaha...]

[Habis itu galau kan dgr Yoongi uda punya suami weee.. rasain dulu gak mau tggjawab *yuk bully jimin mode on*]

[Yoongi ikutan galau huee... menangis semalam *ehh*]

[Review? :)]

P.S:

[Note untuk semua reader FF2ku: Ffnet lg error nih dari 20 Juli, review2 kalian gak nongol di app n di web. Untungnya aku terima notif di email. Jadi aku baca semua kok review2 dari kalian ^^ Sorry gak bisa bales satu2 ky biasa, tiap mau klik link dari email itu selalu error huff ;_; Keep read n review yaaa, jangan bosen2 karena aku gak pernah bosen baca unek2 kalian hehe. Moga2 cepat 'sembuh' nih ffnet jd aku bisa reply2in kalian lagi deh :')]