Hy minna~
Seperti janji Shera kemarin, hari ini kolom 'balasan reviews' akan diganti dengan 'Ask Question'
dan Shera yang akan menjawabnya, maaf kalo ada yg tidak berkenan. :x
Tapi tetep reviews kalian nggak ada yang kelewat kok~ semuanya kebaca. :)
Ok, daripada basa-basi kita cuzzz aja ya~

~Ask Question~

Q : Kira-kira sampai berapa chap?
A : Itu belum tau deh, soalnya Shera sendiri belum namatin ceritanya.
Mungkin... sampai part 13 kali ya? tapi itu juga belum pasti sih~

Q : request dong, bikin Sasuke cemburu atau dibikin blushing sama Sakura. Bisa nggak?
A : Oh, ya jelas bisa doooong. :3
Nih part khusus buat itu. Sasuke bakal OOC banget deh kayaknya di part ini. xD *dzig*

Q : Itachi sakit apa sih?
A : Sakit apa ya~ nih di part ini bakal terungkap. baca ya.. :3

Q : Sasu sama Saso udah kayak kucing sama anjing ya?
A : bukan, mereka kayak anjing sama kucing *JDUAK* ( All char : Sama aja, baka!)

Q : Semi lemon? Jadi pemanasan dulu nih?
A : Ha ha bisa jadi tuh, tapi semi lemonnya... kayaknya agak sepet deh. x3

Q : Apa Itachi dan Sai punya perasaan lebih ke Saku?
A : Hm... dibilang 'punya' juga gak, dibilang 'nggak punya' juga gak. Gimana dong? (Lah malah tanya)

Q : Author, bisa request lagu?
A : Ah, kalau itu Shera pertimbangin dulu deh ya. Si Sasuke mau apa nggak nyanyiin lagu itu. *lirik Sasuke*

Q : Shera-chan, Fic ini alurnya kecepetan ya? Atau sengaja?
A : Ah, perasaan Shera sih nggak kecepetan. Tapi mungkin jadi terkesan kecepetan ya? Soalnya mengejar lemon sih, udah ada yang ngancem pakek mangekyou. *tunjuk Sasuke*

Q : Author sukanya CNBLUE ya?
A : Wow! iya pakek banget! Kyaa~ *alay*
Soalnya kalau liat vokalist-nya jadi inget imej Sasuke sih~ he he

Q : Apa benar ada kabar SOPA yang akan menutup FFn, DeviantArt, dll?
A : Kalau itu Shera juga nggak tau kebenarannya. Tapi Shera juga udah denger.
Itu akan masuk dalam salah satu berita terseram tahun 2014. (ToT)

Q : Shera-chan udah sembuh kah?
A : Yaap! Shera nggak mau bikin cemas kalian, readers~ ^o^
Ah, pasti part kemaren-kemaren berantakan gara-gara kepala Shera yang puyeng ya~ xO

Q : Masalah semi-lemon, kenapa ga langsung lemon aja?
A : jangan dong~ semua kan butuh proses~ ;3

~End of Ask Questions~

Yosh~ itu seputar pertanyaan yang muncul di reviews kalian, Shera rangkum lagi.
Gomen nggak bisa Shera tulisin namanya satu per satu, karena banyak yang bertanya hal yang sama. xO
Maaf juga part ini ga nyediain kolo balasan reviews~ *sujud-sujud*
Ok, enjoy reading ya~


Disclaimer Characters © Masashi Kishimoto

Disclaimer Story © Shera Liuzaki

.

.

A story with a girl being loved by lot of guys

.

.

Slight Lemon (jangan ngeres dulu ya.. :3)

No Flame. Kritik? yes. Pujian? apa lagi~

.

.

Shera Liuzaki, present :

.

.


"BROTHER X SISTER"


.

.

Part 7 : Jealous

.

.

Enjoy Reading

.

.

Sudah hari kedelapan sejak Itachi jatuh pingsan dan dirawat di Tokyo International Hospital. Berkali-kali pula Sakura menjenguknya, tapi Sai selalu melarangnya untuk menginap. Sedangkan jatah jaga malam digilir oleh Sasuke dan Sai.

Setelah selama itu, akhirnya Sakura mendapatkan telepon yang mengatakan bahwa Itachi sudah sadar. Tentu saja gadis itu langsung melesat menuju rumah sakit padahal ia sedang berada di tengah-tengah pelajaran. Dengan bantuan Hinata, ia berhasil diijinkan pulang.

Brak!

Dengan kekuatan supernya itu, Sakura membuka paksa pintu kamar inap Itachi. Membuat sang pemilik kamar itu tersentak kaget dan tersenyum canggung melihat kedatangan Sakura yang masih lengkap dengan seragamnya.

"I—Itachi-niichaaaan~"

Greb!

"Ukh~"

Sakura langsung berlari memeluk sang kakak. Itachi meringis saat merasakan pelukan Sakura yang terlalu erat, namun ia bisa mengerti perasaan gadis itu. Dengan lembut dibelainya rambut merah muda panjang Sakura.

"Gomen sudah membuatmu cemas, tapi kau tak perlu bolos sekolah juga kan?" ledek Itachi. Sakura perlahan melepaskan pelukannya.

"Itachi-nii, kenapa kau tak pernah bilang padaku—" ujar Sakura kesal sambil menggembungkan kedua pipinya. Sepertinya salah satu dari Sasuke atau Sai telah memberitahukan penyakitnya kepada Sakura.

"—kalau hatimu sudah rusak!"

Toeng! Dzig!

Itachi hampir saja tersedak oleh ucapan Sakura barusan, berterima kasihlah pada kerangkanya yang mampu menahan agar jantungnya tak copot. Melihat Sakura yang sepertinya serius itu, Itachi tertawa.

"Siapa yang sudah mengatakan hal itu padamu, Sakura-chan?" tanya Itachi di sela tawanya. "Sebenarnya itu disebut dengan radang paru-paru."

"Radang paru-paru?" ulang Sakura. "Apa itu berbahaya?"

Itachi membentuk angka 7 dengan ibu jari dan telunjuknya, dan menaruhnya di dagu seolah-olah berfikir.

"Bisa jadi." ucapnya sambil tersenyum. "Tapi kau tak perlu khawatir, sekarang aku sudah baik-baik saja."

"Benarkah? Sai-niichan bilang, Itachi mungkin tak bisa diselamatkan lagi. Sasuke-nii juga bilang kalau Itachi-nii sudah menderita penyakit ini sejak lama."

"Ha ha aku tak menyangka mereka membocorkannya semudah itu kepadamu."

"Jadi mana yang benar~?!" Sakura kembali kesal dibuatnya. "Aku…tak ingin kehilangan orang yang kusayangi lagi."

Itachi paham betul apa yang dimaksud Sakura, gadis itu telah melalui banyak hal hingga sampai pada dirinya yang sekarang. Tentu saja Itachi pun tak ingin meninggalkan gadis itu di rumah yang dipenuhi aura srigala dan di dunia politik yang digentayangi singa.

Meski begitu, ia tetap tak bisa berjanji akan terus menjaga Sakura dan berada di sisinya. Karna setiap orang, memiliki batasannya sendiri.

"Hm..jadi Sakura, bagaimana sekolahmu? Kudengar KHS akan mengadakan festival olahraga?" Itachi mencoba mengalihkan pembicaraan.

Entah mengapa Sakura langsung sumringah mendengarnya, "Yup! Festival Olahraga! Komite perwakilan kelas sedang merancang jadwal kegiatan sekarang. Sepertinya juga akan ada banyak acara seperti band dan adu bakat lainnya. Kurasa Sasuke-nii pasti menunggu acara seperti ini."

Itachi hanya terkekeh mendengar Sakura begitu antusias bercerita. "Jadi, apakah akan ada adu karate juga? Berhubung ini adalah festival olahraga, pastinya akan ada kan?"

Dheg

Sakura yang awalnya begitu semangat entah mengapa langsung kehilangan aura itu. Ia menundukkan kepalanya dan raut wajahnya menjadi muram. Itachi hanya bisa mengerutkan dahi melihat perubahan sikap Sakura.

"Sakura? Ada ap—"

"Oh ya, Itachi-nii!" sahut Sakura tiba-tiba. "Aku ingin tahu kenapa Itachi-nii bisa sampai jauh pingsan seperti ini?"

Itachi menaikkan sebelah alisnya, sepertinya Sakura sedang berusaha mengalihkan pembicaraan. Tapi Itachi juga tak bisa mematahkan semangat Sakura lagi. Pria itu memulainya dengan menghela nafas.

Flashback—on

Seorang anak lelaki terlihat serius dengan benda di hadapannya. Sepertinya pemuda kecil itu sedang memutar otak jeniusnya untuk mengingat sesuatu. Wajahnya langsung sumringah ketika sebuah percikan merah terlihat di sana. Ia berbalik dan bersiap memamerkannya.

"Itachi-niichan, Sai, cepat-cepat!" Sasuke nampak semangat sambil melambaikan tangan mungilnya memanggil kakak dan kembarannya itu.

Sai yang pertama sampai, lelaki kecil itu terlihat menundukkan kepalanya melihat apa yang sedang dilakukan sang kembaran. Diikuti oleh kakaknya—Itachi—yang kini hanya melirik.

"Sasuke, apa yang sedang kau lakukan?" Sai kecil nampak mulai penasaran.

"He he he." Sasuke tersenyum penuh antisipasi, "Taa daa~"

Sasuke memperlihatkan sebuah api kecil di hadapannya, sepertinya ia bangga telah bisa melakukan apa yang diajarkan Itachi kepadanya beberapa hari yang lalu. Itachi mempraktekkan cara untuk menghasilkan api melalui gesekan dua batang kayu kering.

Sementara Sai terkagum-kagum atas hal itu, dan Sasuke membanggakannya, Itachi malah kaget dan kalut.

"Bodoh apa yang kau lakukan?!" ketus Itachi, membuat kedua adiknya yang masih berusia 5 tahun itu tersentak kaget.

Itachi menyadarinya, bahwa Sasuke telah melakukan kesalahan besar. Pertama, mungkin karena ia telah mencobanya dan gagal, ia menggunakan bahan bantuan untuk membuat api tersebut. Kedua, bahan bantu yang digunakannya adalah minyak tanah! Ketiga, ia melakukannya di gudang yang terbuat dari kayu!

"Kalian cepat keluar!"

Wuuusssh

Benar saja, api dapat dengan mudah merambati gudang tempat mereka berada sekarang, ditambah dengan galon berisi minyak yang digunakan Sasuke. Merasa paling besar, Itachi mencoba untuk menyelamatkan kedua adiknya itu. Ia menggendong keduanya yang sama-sama menangis keras.

"Sial, tak ada jalan keluar." Itachi mencoba berpikir jernih saat Sasuke dan Sai merengek ketakutan.

Karena pintu mereka terblokir oleh api, satu-satunya jalan adalah jendela. Tapi tinggi kedua adiknya tak bisa mencapai jendela itu. Dengan hati-hati Itachi mengeluarkan mereka satu per satu.

"Sai, tangkap Sasuke!" seru Itachi dari dalam sambil mengeluarkan tubuh Sasuke.

Sai yang sudah lebih dulu berada di luar, kini meraih tangan Sasuke dan menariknya. Alhasil mereka berdua berhasil keluar. Mereka berbalik, bersiap akan membantu Itachi keluar dari sana.

DUAGH!

Tepat saat Sasuke berhasil dikeluarkannya, sebuah bongkahan kayu jatuh menimpanya. Membuatnya pingsan seketika. Baik Sasuke maupun Sai hanya bisa menangis keras dan meminta bantuan. Hingga tak lama Itachi berhasil diselamatkan meskipun ia sudah terlalu lama berada di ruangan berasap tebal itu.

Flashback—off

Sakura masih terdiam mendengarkan cerita Itachi sampai akhir. Ia bahkan sampai meneguk ludahnya mendengar kengerian cerita itu. Semua jadi masuk akal saat Sasuke dan Sai selalu menuruti perintah Itachi meskipun mereka cenderung tak bisa diatur. Dan itu juga jadi alasan mengapa Kaasan dan Tousan mempercayakan mereka kepada Itachi.

Tapi berkat kejadian itu pula, Itachi memiliki gangguan pada paru-parunya. Dan semua diperparah oleh kegiatan Itachi di rumah sakit yang tak mengenal waktu., Sakura menunduk cemas.

"Apa yang kau pikirkan, Sakura? Aku sudah bilang aku baik-baik saja, kan?" ucap Itachi sambil mengusap rambut Sakura.

"Itu mengerikan sekali, Itachi -nii. Kalau itu terjadi padaku, kurasa aku juga akan seperti mereka. Hanya bisa menangis dan menyesalinya. Mungkin itu sebabnya mereka mengasingkan diri? Mereka takut melukai orang lain lagi?"

"Kau tahu, meski mereka terlihat kokoh dan tak terkalahkan, tapi kesempurnaan itu justru membuat mereka terasing." tambah Itachi.

Mendengarnya Sakura kembali menegadahkan kepala, "Terasing?"

"Ibaratkan saja seperti ini." Itachi memberi jeda pada kalimatnya. "Mereka adalah cahaya. Kalau kau melihatnya terlalu dekat, kau akan silau bukan? Tapi kalau kau melihatnya cukup dari jauh saja, maka kilauan itu akan nampak indah."

"Apa dengan kata lain…mereka kesepian?"

Itachi tersenyum, "Meski orang lain melihat mereka berkilau, tapi yang mereka tak bisa melihat apapun. Karena semua orang menjauhi mereka."

Cklek.

Pintu itu kembali terbuka, menginterupsi kegiatan bincang-bincang Sakura dengan Itachi. Sasuke sudah berdiri di sana dengan nafasnya yang terengah, dan tak lama terlihat Sai juga datang.

"Ah, kalian sudah tiba." sambut Itachi hangat.

"Oniichan, bagaimana keadaanmu?" Sasuke mulai mendekat, disusul oleh Sai.

"Oniichan, apa sesuatu telah terjadi selama aku tak di sini?" belum sempat Itachi menjawabnya, Sai sudah menimpali dengan pertanyaan.

"Kalian ini benar-benar~" sang kakak sulung itu menggelengkan kepalanya, "Aku baik-baik saja. See? Jangan terlalu berlebihan, kasihan Sakura kalau sampai khawatir atas penjelasan kalian yang aneh."

Keduanya hanya bisa saling tatap dan mendecih hampir bersamaan.

"Oh ya, Sakura-chan sudah cukup lama di sini. Bisakah kalian mengantarkannya pulang?"

Kembali Sasuke dan Sai saling bertukar pandangan, menyalurkan kata-kata lewat pikiran mereka. Seperti privat messages di sosial media. Akhirnya Sasuke menghela nafas panjang, sepertinya ia yang kalah.

-ooOoo-

Sesampainya di rumah, Sakura langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Sungguh, sebenarnya ia masih tak enak hati kalau berduaan dengan Sasuke. Tapi sampai kapan mereka akan perang dingin seperti ini.

Entah mengapa Sakura merasa harus meluruskan hal ini. Ia ingin tahu perasaan Sasuke yang sebenarnya. Kalaupun semuanya akan berakhir sebagai 'kakak-adik' saja, tapi setidaknya Sakura jadi tahu harus diapakan perasaannya itu.

Cklek.

Perlahan ia membuka pintu kamarnya, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mengecek situasi. Tentu saja rumah dalam keadaan sepi, karena para pelayan sedang beristirahat. Dan inilah kesempatan emas untuknya.

Dengan berat hati, ia berdiri di depan pintu kamar Sasuke. Dengan satu tarikan nafas panjang ia mencoba melakukan ketukan pertamanya.

Tok tok

Setelah beberapa menit berlalu, ia tak mendapatkan jawaban. Ia melakukan ketukan kedua, dan hasilnya sama. Sekarang Sakura mulai meragukan keberadaan Sasuke. Mungkin kakaknya itu sedang tak berada di kamar, atau mungkin sedang mandi.

Tepat saat tubuhnya dibalikkan, ia melihat sang empunya kamar berdiri di belakangnya. Dengan gerakan kilat, Sasuke mengunci pergerakan Sakura. Kembali membuat jantung Sakura berdetak tak karuan. Perasaan kaget, sekaligus takut.

"Sa, Sasuke-niichan~" nada Sakura telihat ragu-ragu. "Aku…ingin bicara."

"Sebenarnya ada hubungan apa kau dengan bocah Akasuna itu?"

Tiiing?

Pertanyaan Sasuke membuat Sakura tersentak kaget, ia mengerjapkan mata tak percaya mendengarnya. Sasuke masih stay cool dengan tampang datar—cenderung ke angkuh—nya.

"Akasuna? Maksud niichan Sasori-kun?"

"Oh? Sejak kapan kalian saling memanggil nama kecil? Dan lagi… -kun?" sepertinya dari nada ucapan Sasuke, Sakura sudah bisa menebaknya bahwa kakaknya itu sedang emosi.

Tapi kenapa? Apa yang membuat emosi sang Uchiha satu ini tersulut?

"Apakah…niichan…cemburu?" ucap Sakura hati-hati.

Blush

Sungguh diluar dugaan. Wajah Sasuke berubah kemerahan dengan cepat setelah Sakura melancarkan pertanyaan itu kepadanya. Cukup untuk membuat Sakura kembali kaget melihatnya. Meski sebenarnya ia senang bisa melihat perubahan reaksi itu.

"Sasuke-nii?"

Sreet

Tanpa seijin Sakura, Sasuke menjatuhkan kepalanya ke leher jenjang Sakura. Menghirup aroma cherry yang menguak di sana, dan tak butuh waktu lama mulai menciuminya. Sakura sudah sampai pada tahap SYOK atas perbuatan kakaknya kali ini.

"Tu—tunggu! Sasuke-nii?! Akhh~"

Kuncian tangan Sasuke semakin mengencang, tak memberikan Sakura kesempatan untuk berontak dan menolaknya sepeti yang pernah terjadi dulu. Tapi saat itu Sakura juga tak bisa sepenuhnya disalahkan.

Masih mencoba mengelak, Sakura menolehkan kelapanya. Ia mengigit bibirnya sendiri untuk tak mengeluarkan suara mencurigakan. Terlebih saat Sasuke mulai dengan nakal menggigiti lehernya dan meninggalkan berkas kemerahan. Perlahan Sakura membuka matanya, ia tak ingin kejadian yang dulu terulang kembali.

"Hentikan, aku bukan Karin."

Dheg!

Sasuke terdiam, namun ia tetap tak menjauh ataupun berubah posisi dari sebelumnya. Sakura menghela nafas lega—sedikit. Matanya nampak berharap bahwa Sasuke akan berhenti menyiksa perasaannya. Ia sudah cukup terluka atas apa saja masalah yang terjadi dalam dirinya selama ini.

"Aku tak pernah mengganggapmu sebagai pengganti Karin, meskipun aku pernah membencimu karena kemiripan kalian."

"Tapi… tapi… saat itu kau memanggil namanya."

"Awalnya semua yang kulakukan terhadapmu, kupikir karena aku mengganggapmu sebagai penggantinya. Tapi tiba-tiba saja aku mengerti, seperti 'Ah, dia bukan Karin.' dan sebelum aku menyadarinya, sosokmu menjadi lebih jelas dimataku."

Sakura membuka matanya, ia bisa mendengar dengan jelas suara berat Sasuke. Perlahan pemuda itu menarik kepalanya dari leher Sakura. Membuat onyx-nya menatap emerald di hadapannya itu.

Raut mata Sasuke menunjukkan perasaannya yang sama kacaunya dengan Sakura, mungkin ia sudah sangat kecewa kepada Karin. Perasaan cintanya terkhianati, padahal ia telah memberikan segalanya pada wanita itu. Sekarang, saat ia mencoba kembali membuka hatinya, apakah Sakura justru telah menyerah?

"Sakura, apa kau sudah menyerah atas perasaanmu padaku? Apa semua sudah terlambat?"

"Aku… tidak..."

"Tak apa. Aku tak akan memaksamu, toh aku juga belum bisa menjanjikan banyak hal kepadamu. Aku juga tak bisa berjanji aku tak akan melukaimu kedepannya. Lalu setelah kau mengetahui hal ini… apa kau akan meninggalkanku?"

Perlahan kuncian Sasuke pada tangannya mengendur, Sakura bisa merasakan aura parau menguak dari tubuh kakaknya itu. Sakura mengerutkan dahi, sebelum ia menarik wajah Sasuke dan memaksa pemuda itu menatap matanya.

"Dengar ya, kakakku tersayang." Sorot mata Sakura nampak serius. "Aku menyatakan cinta padamu waktu itu, bukan karena aku sedang kalut atau berdasarkan perasaan sesaat saja. Tapi rasa itu datang padaku, sejak aku mulai penasaran dengan masa lalumu."

Sasuke terdiam sejenak, "Kalau begitu, bagaimana perasaanmu setelah mengetahuinya?

"Aku bingung. Meskipun kau mengatakan bahwa kau ingin bahagia bersamaku selamanya, tapi…" Sakura menggantung kalimatnya. "Itu terlalu ambigu bagiku."

Mendengarnya Sasuke berpikir. Sudah tiga orang yang menasehatinya, ditambah dengan Sakura sekarang. Sepertinya memang seharusnya ia mengakui perasaannya sendiri. Sudut bibirnya naik, membentuk sebuah senyuman.

"Aku juga jadi ragu padamu." Perlahan Sasuke melepaskan kurungannya pada tubuh Sakura, gadis itu hanya bisa mengerutkan dahi melihatnya. "Akhir-akhir ini kau semakin akrab dengan bocah Akasuna itu. Kalian bahkan sampai pergi kencan."

Toeng

"Eeehh? Kencan?"

Sasuke mengangguk. Apa yang dimaksud kencan itu, adalah saat mereka bermain bersama di taman bermain? Tapi kan waktu itu Hinata juga ikut bersama mereka. Lagipula pada akhirnya mereka juga bertemu dengan para personil KISS.

"Jadi benar kan… kalian sudah pacaran?"

"Apaan sih! Kami hanya berteman akrab saja."

"Teman macam apa yang sampai memanggil nama kecilnya padahal belum setahun saling mengenal."

Ggrrrrr

Sepertinya Sakura kesal juga kalau Sasuke sudah beradu argument dengannya. Apalahi Sasuke menatapnya dengan tatapan sinis sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sakura membuang muka melihatnya.

"Kau cemburu kan? Katakan saja kau cemburu."

Sasuke meliriknya sejenak, sebelum tiba-tiba tangannya kembali bergerak menarik tangan Sakura dan menguncinya ke tembok. Sakura sampai terkejut dibuatnya, ia bisa melihat tatapan tajam dari sang kakak. Tak lupa juga sebuah seringai muncul di sudut bibirnya.

"Aku cemburu. Puas?"

Dheg

Mendengar hal itu, Sakura justru malah bersemu malu. Sepertinya salah kalau ia mau menantang sang kakak. Lihat saja, dengan mudahnya pemuda itu mengatakan hal yang dia sendiri pun belum pernah mengatakannya.

"Kyyaa~ Sasuke-nii!"

Sakura kembali dikagetkan akan aksi Sasuke yang menyerang leher jenjangnya. Gigitan dan ciuman Sasuke bisa dirasakan sepenuhnya oleh Sakura. Nafasnya yang panas itu menerpa permukaan kulit putih Sakura, membuatnya harus menahan geli.

"Kau harus bertanggung jawab karena telah membuatku cemburu, Sakura."

Gigi taring Sasuke menggigiti leher Sakura, meskipun rasa sakit, geli, nikmat bercampur menjadi satu, Sakura masih berusaha mempertahankan pikirannya. Sesekali ketika mulutnya terbuka, nada desahan akan terdengar. Itu akan semakin membuat Sasuke semangat mengerjainya.

Setelah beberapa tanda kemerahan ditinggalkan di sana, Sasuke melepaskan kunciannya. Membuat Sakura secara refleks menjaga jarak dari macan yang baru saja menerkamnya. Sasuke terkekeh melihat wajah Sakura yang sudah semerah tomat.

Sebelum Sasuke meninggalkan gadis itu dengan sebuah tanda tanya besar, ia memperingatkan Sakura.

"Tanda ini, adalah bukti kau milikku." Sakura merasa geli saat Sasuke mengusap noda kemerahan di lehernya. "Dan akan terus bertambah sesuai frekuensi pertemuanmu dengan bocah Akasuna itu."

-ooOoo-

Hari ini adalah hari pertama pembukaan festival olahraga di Konoha high School. Acara ini diadakan tak menentu, biasanya hanya untuk memperingati atau merayakan kemenangan club olahraga dalam tournament Nasional.

Berbagai perlombaan akan diadakan di sini, selain sebagai pelepas stress murid-muridnya, ini juga sebagai ajang memperomosikan club mereka. Semua nampak sibuk mempersiapkan pembukaan festival ini.

Tapi mari kita lihat sosok Sakura sekarang, di saat semuanya sedang berkeringat, justru ia malah menggunakan jaket dan mengancinginya penuh. Hinata sendiri sampai menatapnya dengan pandangan aneh dan berusaha membujuknya untuk melepaskan jaket itu.

"Sebenarnya kenapa kau menggunakan jaket sih, Sakura? Kau ingin menarik perhatian? Selamat, kau berhasil." ejek Hinata.

"Tidak~ bukan begitu, aku hanya merasa lebih nyaman begini. He he."

"Nyaman dengan tubuh berkeringat begitu?"

"Ha ha aku baik-baik saja." ujar Sakura sambil menggelap keringat yang membasahi pelipisnya.

"Atau perlu kubantu buka?"

Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi mereka, membuat Sakura menolehkan kepala ke belakang, dan Hinata melongo kaget. Pemuda dengan rambut raven itu memasang tampang datarnya, berdiri menatap Sakura. Padahal salah siapa Sakura harus memakai jaket begini untuk menutupi noda merah di lehernya.

"Sa—Sasuke-niichan!" Sakura semakin merapatkan jaketnya melihat kehadiran Sasuke di sana. "A—apa yang niichan lakukan di sini?!"

Melihat penampilan Sasuke dengan kaos putih dan celana trainingnya tentu saja sudah bisa dikatakan kalau pemuda itu hendak mengikuti perlombaan yang akan segera dimulai. Sasuke hanya memuar mata bosan.

Ia kembali mendekat, meskipun Sakura mencoba menjauhkan diri. Pemuda itu nampaknya semakin senang mengganggu sang adik sejak kejadian kiss mark itu. Dan tepat saat jarak mereka mulai menipis, ia menyodorkan sebuah kertas kepadanya.

Bawalah milikmu yang paling berharga.

Dengan sebuah seringai dari Sasuke, Sakura ber-blushing ria. Ia jadi tahu kalau Sasuke sedang mengikuti lomba lari dengan melakukan perintah yang tertulis di kertas dan mengingat kejadian kiss mark itu, memang Sasuke sudah mendeklarasikan bahwa Sakura adalah miliknya.

Kini Sakura hanya bisa ber-blushing saat mendapati kata 'paling berharga', apalagi Sasuke sepertinya ingin membawa Sakura. Kembali Sasuke hanya bisa mendengus bosan, menunggu reaksi dari sang adik.

"Lambat."

Greb

"Kyaaa~!"

Tanpa menunggu persetujuan dari Sakura, ia langsung mengendong Sakura ke pundaknya. Sakura mau tak mau harus berpegangan pada Sasuke agar dirinya tak terjatuh, berhubung Sasuke kini menambah kecepatan larinya.

Meskipun sorak-sorai para fans girl Sasuke yang tak rela itu mengiringi langkah mereka, tapi itu tak membuat Sasuke berhenti dan menyerah begitu saja. Sedangkan Sakura malah berharap ini adalah mimpi buruknya yang kesekian karena ia sudah terlalu malu. Kalau mau mengaku, Sakura cukup senang juga dengan sikap Sasuke yang mulai membuka hati padanya, tapi ia menutupinya—tentu saja, karena gengsi.

Tanpa terasa Sasuke telah berhasil sampai di urutan pertama, dengan keadaan Sakura yang sudah tak berdaya akibat sport jantung barusan. Sasuke memang gesit, saking gesitnya Sakura sampai merasa naik jet coaster tanpa pengaman. Bisa bayangkan?

"Sakura, kemarilah." Panggil Sasuke sambil mengisyaratkan pada Sakura untuk duduk di sampingnya.

Sakura mengambil sebotol air mineral dari meja panitia, lalu gadis itu menuruti Sasuke untuk duduk di sebelahnya. Tiba-tiba Sasuke menyandarkan kepalanya di bahu Sakura.

"Sa—Sasuke-niichan?"

"Aku capek sekali, Sakura."

Memang itu terlihat jelas di wajah Sasuke. Selain tugasnya sebagai vocalist KISS, ia juga harus memenuhi kewajibannya di sekolah. Tentu saja itu akan menguras tenaga, ditambah lagi Itachi jatuh sakit. Mungkin Sasuke lebih lelah dari yang terlihat.

Sakura menghela nafas, ia akan membiarkan Sasuke istirahat sejenak. Tapi sepertinya itu tak lama, karena belum ada 10 menit Sasuke tertidur, ia sudah dipanggil lagi untuk masuk ke final. Sasuke mengucek matanya dan merenggangkan otot-ototnya.

"Nee, Sasuke-nii."

Sasuke menoleh sambil mengelap mulutnya sehabis meneguk sebotol air mineral pemberian Sakura. Melihat adiknya meremas-remas ujung jaketnya sambil berusaha mencari kata-kata yang tepat, Sasuke jadi sedikit gemas.

"Setelah pulang nanti…apa kau mau menjenguk Itachi-nii bersamaku?"

Dengan segenap keberaniannya, Sakura berhasil mengatakan hal itu. Setelah diopname sekian lama, Sakura dengar Itachi sudah boleh pulang hari ini. Ia ingin menjemput Itachi pulang sekaligus berangkat bersama Sasuke.

"Aku ada konser hari ini."

JDUAK

Sepeti ditimpa bebatuan gunung yang besar-besar, Sakura benar-benar merasa kecewa. Ia menundukkan kepalanya, namun ia bisa melihat Sasuke mendekatinya. Dengan penuh harap, Sakura menegadah, ia memancarkan aura antusiasnya.

"Ah, ini. Tolong berikan kepada panitia. Arigatou."

Toeng!

Sasuke hanya memberikannya botol bekas air minumnya kepada Sakura, dan pemuda itu langsung berjalan pergi meninggalkan sang adik yang kesal sambil meremas botol minum tersebut.

Sebenarnya Sasuke mendengus menahan tawanya saat mendengar suara 'kreek' karena itu pasti berasal dari tangan Sakura yang meremas botol air itu. Ia entah mengapa memang selalu tak puas kalau masalah mengerjai sang adik. Meskipun teknik 'mengerjai'nya sedikit berubah dari awal pertemuan mereka.

-ooOoo-

Berkat penolakan Sasuke atas ajakannya, kini Sakura berjalan menuju rumah sakit sendiri. Ia mengatakan kepada supirnya agar tak menjemputnya di sekolah, karena ia ingin mampir membelikan oleh-oleh untuk Itachi.

Kini Sakura berjalan menelusuri jalanan kota. Ia menikmatinya, seakan ia sedang bertamasya. Sakura menaruh telunjuknya di dagu, berpikir akan membeli apa. Saat sedang asyik mensurvei, tiba-tiba di kejauhan ia seperti melihat sesuatu—ah seseorang, tepatnya.

"Aaahh~ngh~"

Sakura mengerutkan dahi mendengar sebuah suara datang dari sana.

"Sai-niichan?" panggilnya, dan sang empunya menoleh.

Oh tidak. Sakura tak menyadarinya, kalau kakaknya satu itu sedang 'bersenang-senang' di gang sempit pinggir kota. Ia baru menyadarinya saat melihat sosok wanita bergelayutan di leher sang pemuda pucat itu.

Sakura hanya bisa membekap mulutnya sendiri dan membalikkan tubuhnya dengan cepat. Sai menghela nafas, ia memutar matanya bosan. Wanita yang bersamanya itu langsung membenahi diri dan mengucapkan salam perpisahan kepada Sai sebelum akhirnya meninggalkan pemuda itu.

"Nanti telpon aku ya~" ucap wanita itu sambil mengecup bibir Sai lembut. Sai hanya tersenyum sambil melampaikan tangan kepadanya.

'Mati aku~' rutuk Sakura dalam hati. Sungguh ia menyesali kebiasaannya tak berpikir dulu sebelum bertindak.

"Ooh~ Jadi ini yang kedua kalinya ya?"

Hhhhiiiiyyyyy

Sakura hanya bisa merinding merasakan kehadiran Sai tepat dibelakangnya. Ia berbalik dan menunjukkan senyuman masamnya.

"Hay~" sapa Sakura—yang sudah sangat telad. "Hm…jadi, apa yang niichan lakukan di sini?"

"Me-nu-rut-mu?"

Tubuh Sakura semakin merinding saat Sai mengeja kalimatnya. Dan entah bagaimana caranya, singkat cerita mereka kini berjalan bersebelahan. Berhubunga Sakura sudah menginterupsi 'kegiatan' Sai, pemuda itu jadi tak ada kerjaan lain dan memutuskan ikut Sakura mencari oleh-oleh.

Setelah 10 menit berjalan bersama dan Sakura merasa ingin cepat-cepat sampai rumah sakit, mereka berhenti di sebuah toko kue kering. Sakura sepertinya tergiur akan aroma manis yang menyerbak dari sana. Sai hanya bisa diam mengikutinya.

"Kau…kenapa tak pulang bersama Sasuke?" tanya Sai—akhirnya.

"Hm? Sasuke-nii bilang ia akan ada konser hari ini. Oh, Sai-niichan, apa menurutmu Itachi-nii akan menyukai rasa blueberry?"

"Entahlah."

Merekapun membeli beberapa kue untuk Itachi—meskipun sisanya untuk dimakan sendiri oleh Sakura. Sepanjang perjalanan, Sakura menceritakan tentang pekan olah raganya, tapi Sai hanya menanggapi seperlunya saja. Anehnya, saat Sai bertanya mengapa Sakura malah memakai jaket sambil berkeringat begitu, Sakura hanya menjawabnya kalau ini bagian dari diet.

-ooOoo-

Sepanjang perjalanan Sakura dan Sai saling beradu argument, sampai-sampai mereka tak sadar kalau sudah memasuki wilayah rumah sakit Tokyo. Bahkan para pasien dan perawat yang memperhatikan mereka juga tak membuat keduanya berhenti mengoceh.

"Kau yakin akan bisa menghabiskan semuanya?" Sai melirik bungkusan kue kering yang dipegang Sakura.

Gadis itu menganggukan kepalanya dengan mantap. "Tenang saja~"

"Hmm…kau bilang akan membelikan oleh-oleh untuk Itachi-nii. Tapi lihat saja, bungkusan kue yang akan kau makan malah lebih besar darinya."

"Ssshh! Ini karena Itachi-nii belum boleh makan kue-kue kering ini terlalu banyak. Itu bisa saja membuat penyakitnya kambuh lagi." bela Sakura.

"Apa hubungannya? Kenapa kau membelikannya kue kering kalau begitu?"

"SssshhH! Berisik nih Sai-niichan!"

Sebuah urat perempatan muncul di kepala Sai. Pemuda itu sepertinya kesal dengan argumentasi Sakura. Tak lama mereka sampai pada pintu masuk ruang inap Itachi. Saat Sakura hendak masuk ke dalam, ia melihat Sasuke sudah berada di sana. Padahal pemuda itu telah menolaknya, tapi nyatanya kini ia malah sampai duluan.

"Sasuke-nii? Astaga, bukankah tadi dia bilang tak bisa ke sini karena ada konser?" nada kesal terdengar dari suara Sakura, tapi Sai hanya diam.

Dengan sumringah ia hendak membuka pintu dan mengagetkan semuanya, namun semua itu diurungkannya ketika mendengar hal yang diucapkan Sasuke. Seketika senyuman pudar dari wajah manisnya.

"Tak adakah kemungkinan untuk sembuh?"

Suara Sasuke terdengar menggema begitu saja di telinga Sakura. Sai yang merasa adanya perubahan sikap dari Sakura langsung ikut terdiam dan melihat siapa yang ada di dalam sana.

Itachi terlihat menundukkan kepalanya sambil tersenyum parau. "Jangan katakan hal ini kepada siapapun, Sasuke."

"Tapi kenapa?! Niichan, bukankah para medis bahkan mengatakan kalau kau akan segera sembuh? Dan bahkan hari ini kau dijadwalkan pulang, bukan?!" Sasuke nampaknya mulai menunjukkan kekalutannya.

"Mungkin medis telah membuktikannya… Tapi yang paling mengerti tubuhku, adalah aku sendiri. Entah mengapa, aku merasakannya. Aku mulai melemah. Dan aku tak tahu seberapa lama lagi tubuh ini bisa bertahan."

"Itachi-nii! Hentikan omong kosong ini! Aku sudah mengatakan kepada Sakura bahwa kau akan pulang hari ini, apa kau akan mengecewakannya?!"

"Karenanya, Sasuke, aku memanggilmu." Itachi menaikkan kepalanya menatap sang adik. "Kau yang paling bisa kupercaya. Saat Tousan dan Kaasan tak ada di rumah, dan…juga aku."

Sasuke mengepalkan tangannya erat, "Sial! Apa tak ada jalan keluar lain, niichan? Apa benar itu tak disembuhkan?"

Itachi kembali tersenyum masam, ia menggelengkan kepala lemah menjawab pertanyaan sang adik.

Cklek

Terdengar suara pintu yang terbuka, membuat keduanya menoleh. Sai terlihat berdiri di sana, dengan tatapan datarnya sambil membawa sebuah bungkusan. Bungkusan berisikan kue-kue kering yang tadi dibawa oleh Sakura.

Baik Sasuke maupun Itachi sepertinya tahu kalau Sakura barusan mendengar pembicaraan mereka. Terlebih melihat Sai membawa kue yang jelas-jelas itu adalah tipikal Sakura sekali. Sekarang pertanyaannya adalah, kemana gadis itu pergi sekarang?

-ooOoo-

Langit kian gelap, cahaya bulan memimpin sinar di langit dan diiringi para bintang. Sasuke terlihat lelah sambil menggendong tas gitarnya. Ia baru saja menyelesaikan konser KISS. Sambil memijati pundaknya sendiri, ia berjalan menuju kamar.

Tepat saat melihat pintu kamar Sakura, ia mendapati bahwa gadis itu belum tertidur. Cahaya lampu laptop menerangi meja belajarnya, dan Sakura masih duduk di sana. Sasuke bisa melihat Sakura sedang serius membuat sesuatu, meskipun matanya sudah redup dan terlihat lelah.

Cklek

Bahkan saat Sasuke berdiri di sampingnya pun ia tak menyadarinya.

"Ehem."

Sakura menoleh. "Ah, Sasuke-niichan."

"Apa yang kau lakukan selarut ini?"

"Aaa, Ti—tidak. Bukan apa-apa." Ucap Sakura sambil menutupi layar laptop itu.

Sasuke terdiam, ia teringat kalau siang tadi Sasuke mungkin sudah mendengar percakapannya dengan Itachi. Ia juga bisa mengintip sedikit bahwa Sakura sedang mencari alternative untuk penyembuhan radang paru-paru di internet. Pemuda itu hanya menghela nafasnya.

Sakura terdiam memperhatikan sang kakak yang dengan seenak udelnya duduk di atas ranjang dan meletakkan tas gitarnya. Dahi gadis itu berkerut. Sasuke yang melihat Sakura menatapnya dengan tatapan bingung.

"Kemarilah." Sahut Sasuke dengan nada perintahnya.

"Kenapa? Aku tak ingin."

"Hm…kalau kau tak ke sini dalam hitungan ketiga, aku akan—"

"Akan apa?"

Suasana seketika hening. Mendengar adanya perlawanan dari Sakura, Sasuke diam-diam tersenyum—atau tepatnya menyeringai. Ia bahkan memperlihatkan seringai maut itu kepada sang adik. Membuat Sakura meneguk ludahnya yang mengganjal.

Itu adalah kode. Sebuah tanda dimana hanya mereka berdualah yang bisa mengartikannya. Dengan gerakan hati-hati, Sakura mulai bangkit dari kursinya dan meninggalkan meja belajar.

Tap Seet

Ia langsung memposisikan dirinya duduk di antara kaki Sasuke yang terbuka di pinggir ranjang. Sasuke hanya mendengus menahan tawanya melihat kelakukan sang adik angkat ini.

"Aku hanya menyuruhmu untuk mendekat, tapi tak kusangka ternyata kau justru mengundangku?"

Blush

Sakura hanya bisa ber-blushing ria mendengarnya. Ia menundukkan kepala menutupi wajahnya yang sudah sangat merah padam itu.

"Aku tahu kau mencemaskan Itachi-niichan." ucapan Sasuke begitu lirih, namun cukup untuk didengar Sakura. "Tapi aku juga tak ingin kau jatuh sakit karenanya."

Mengerti akan kecemasan Sasuke, Sakura terdiam. Pelukan Sasuke mengerat, Sakura tahu kalau yang mencemaskan Itachi bukan hanya dirinya. Sasuke, Sai, kedua orang tuanya juga pasti sangat cemas. Karenanya Sakura tak boleh membuat mereka semakin terbebani kalau dirinya juga jatuh sakit.

"Aku mengerti, Sasuke-nii. Aku akan berhati-hati."

Sasuke merasakan Sakura membalas pelukannya, tak ingin menyia-nyiakan hal itu, ia menenggelamkan wajahnya di siku leher gadis itu. Mencium aroma cherry yang khas kesukaannya. Sakura memejamkan mata geli.

"Sa, Sasuke-oniichan~"

"Ssst, Sakura." Sasuke semakin menempelkan dirinya pada Sakura. Ia menegadah dan meletakkan dagunya pada pundak adiknya itu. "Saat kita sedang berduaan, kau tak perlu memanggilku oniichan."

"Engh~"

Sakura hanya bisa menahan desahannya ketika Sasuke dengan nakal mulai menjilat daun telinga Sakura. Kembali digelitik oleh lidah basah Sasuke. Dan lama kelamaan daun kupingnya terasa basah akibat kuluman Sasuke.

Mata emerald-nya memejam, merasakan sensasi aneh yang menghujani tubuhnya. Ia bukannya menyukai perbuatan Sasuke itu, tapi ia juga tak membencinya. Karna…sekarang ia terlihat menikmatinya.

"Sakura~"

Kini Sasuke mulai berani menuruni leher jenjang Sakura, menjilatnya, menggigit, dan menjilatnya kembali. Meninggalkan bercak merah bahkan hampir berubah menjadi biru. Sakura menoleh, seakan memberikan Sasuke keleluasaan untuk melakukan kegiatannya.

Onyx itu sedikit terbuka. Ia ingin melihat wajah sang gadis yang berani merebut hatinya itu. Sasuke menggunakan sebelah tangannya untuk membuat wajah Sakura menatapnya, sebelahnya lagi menjadi semakin nakal dengan mengusap perut ratanya.

"Aaangh~ Sasu…aahh~ tunggu~"

Sakura sudah tak bisa membendung rasa ini lagi. Ia menggeliat manja, namun juga memberikan geakan perlawanan meskipun sangatlah lemah. Sasuke menatap wajah sang gadis sejenak, sebelum ia mengklaim bibir merahnya dan membungkam desahan yang keluar dari sana.

Tangannya semakin turun dan mengusap paha Sakura yan terpampang jelas karena gadis itu menggunakan hot pants. Sasuke meliriknya, untuk membuka kancing celana Sakura itu.

Dheg

Merasakan tangan Sasuke mulai mencoba menjebol pertahanan bawahnya, Sakura membuka mata. Ia melepaskan ciuman Sasuke dan mencoba menarik tangan Sasuke di bawah sana.

"Engh~ tunggu, oniichan!"

"Panggil namaku, Sakura."

Sasuke kini berhasil memasukkan tangannya ke dalam hot pants Sakura, ia mengelus-elus daerah sensitive gadis itu dari luar celana dalam yang dipakainya. Tubuh Sakura kembali mengeliat, ia merasakan setruman dalam dirinya.

"O—oniichan~ matte~ aaahhh~ Oniichaaan!"

Sakura kembali berontak, ia menarik-narik tangan Sasuke. Namun Sasuke sepertinya tak memperdulikan hal itu, sebelah tangannya tak ia biarkan menganggur. Dada Sakura pun menjadi sasarannya. Kaos putih yang dipakainya ditarik ke atas oleh tangan Sasuke, menampilkan bra berenda berwarna putih kontras dengan kulitnya.

Kembali Sakura terkejut atas perbuatan tiba-tiba itu, ditambah dada dan kewanitaannya sedang 'dimainkan' oleh sang kakak. Tak lupa lehernya pun jadi daerah jajahan yang ditandai dengan noda merah.

Perasaan takut kini mulai menghampiri Sakura, bagaimanapun ini adalah hal yang pertama kali baginya. Ia juga masih berlum memastikan hubungan ini dengan Sasuke. Yang bisa Sakura lakukan sekarang hanyalah mencoba mengalahkan kekuatan Sasuke yang berkali lipat lebih kuat darinya itu.

"Sasu…ke…enghh~ hah…oniichan~ hah~ ahhh~"

Sasuke membuka matanya, ia bisa melihat ekspresi ketakutan dari Sakura. Tubuhnya pun gemetar ringan, dan tangannya mencoba menahan tangan Sasuke untuk melakukan lebih. Pemuda itu sepertinya memikirkan sesuatu.

Grauk

Ia menggigit jahil telinga Sakura. Membuat sang empunya melejit keras sambil memegangi telinganya. Ia sampai kaget atas kelakuan jahil kakaknya itu. Matanya berlinang, entah karena perasaan takut tadi, atau rasa sakit barusan.

Bahkan kini Sasuke terlihat membenarkan posisinya ke tengah ranjang dan mulai berbaring di sana. Sakura hanya bisa cengo melihatnya.

"Ini sudah larut, sebaiknya kita tidur." sahut Sasuke dengan nada datarnya, Sakura menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kenapa? Atau…kau masih mau meneruskannya?"

Sakura langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia membenarkan pakaiannya yang berantakan dan bersiap berbaring. Sebenarnya Sakura merasa sangat lega, karena ia tak tahu apa yang akan terjadi kalau Sasuke tak berhenti melakukannya.

"Aku akan menunggu." akibat ucapan Sasuke yang tiba-tiba itu, Sakura menoleh menatapnya. "Sampai kau siap dan menyerahkan diri kepadaku dengan sendirinya."

BLUSH

Ucapan macam apa itu, sama sekali tak membuat Sakura merasa lebih baik justru semakin mengkhawatirkan. Tapi kalau Sasuke saja akan berusaha menahan dirinya, setidaknya ia juga harus mencoba mempersiapkan diri. Sakura tahu betul kalau Sasuke tak mungkin bisa menahan hal itu selamanya—lagipula tak ada seorangpun yang bisa.

Perlahan Sakura membalikkan tubuhnya. Ia melihat sosok Sasuke yang telah memejamkan mata. Gadis itu merambat mendekat, ia memposisikan dirinya tidur di pelukan sang kakak. Dengan senyuman, Sakura memejamkan mata.

'Kau ini… benar-benar mencoba menggodaku ya? Dasar tak peka.' ketus kesal Sasuke dalam hati.

Dan sebenarnya Sasuke pun lega, karena ia tak ingin membuat adik kesayangannya itu terluka karena hawa nafsunya. Kali ini mungkin Sasuke sudah benar-benar menetapkan hatinya pada gadis itu. Tapi apa yang akan mereka katakan kepada keluarganya kalau sampai semua ini terbongkar? Itu salah satu alasan Sasuke menahan diri.

Ditambah lagi, mereka sednag dibingungkan dengan keadaan fisik Itachi. Diam-diam, Sasuke juga melakuka hal yang sama, ia juga mencari alternative apapun asalkan itu bisa mengurangi rasa sakit Itachi. Semoga takdir tak berlaku kejam terhadap mereka.


-To Be Countined-


...Behind The Scene...

Author : *plok plok plok* Ayo ayo semuanya semangat! Ayo! Semuanya banguuuuun.
Ini script part 8, baca dan hafalkan secepatnya ok? Besok pagi kita segera take.

Sasuke : *ambil script* Tunggu, Author. Kau yakin kami akan take part 8 besok pagi?
Lihat saja panjangnya script ini! Jangan bercanda.

Author : Jangan mengeluh, Sasuke! Script itu terlihat panjang karena mendeskripsikan adeganmu bersama Sakura.
Saat take nanti kau juga pasti tak sadar karna saking menikmatinya. *evil smirk*

Sasuke : *double hits* hng...

Itachi : Saat aku sedang sakit jadi kalian melakukannya dibelakangku? *sedih*

Sakura : Hm... di part depan kami akan melakukannya? *polos*
Tapi aku tak tahu bagaimana ekspresi yang seharusnya kutunjukkan... *berpikir keras*

Sai : Aku bisa mem-privat-mu kalau kau mau?

Sasuke : Sai... *deathglare*

Author : Wow, wow...
Abaikan mereka dibelakang sana ya. ^^;
Ah, apa benar alurnya terlalu cepat?
Masa sih? Shera sih nggak buru-buru amat bikinnya, tapi mungkin karena mengejar deadline kali ya?

Oh, readers... ada pemberitahuan nih, mungkin setelah part depan akan ada 'slide story'.
Slide story itu apa? Itu adalah cerita tambahan di antara main chap, boleh dibaca boleh nggak sih.
Insya Allah nggak ngaruh sama jalan cerita utama.
Ok itu doang yang mau Shera kasih tau.

Besok giliran Sai-nii untuk membalas reviews kalian, apa ada sesuatu yang ingin kalian tanyakan kepadanya?
Silahkan saja ya~ (Sai : yo~ tanya saja, dari bagian yang atas sampai bawah, akan kuberitahu kalian. *kedipin mata*)

Ok, see you tomorrow.
Give me a mark (review) please?
Keep Trying My Best!

Shera.