Himeka tersenyum lebar ketika saat ia membawakan gadis itu makan siang, kamar dengan cat biru muda itu sudah lebih terang daripada sebelumnya saat ia masuk. Gorden tebal berwarna biru dongker sudah terbuka seutuhnya, kain tipis putih di dalamnya pun sudah tergeser dan jendela yang dilapisi dengan teralis putih itu sudah terbuka lebar sehingga angin dan cahaya matahari musim panas masuk ke dalam ruangan. Gadis bermata cokelat itu meletakkan senampan makan siang di atas meja dan duduk diatas sofa kecil disana masih di dalam pakaian sekolahnya.

"Kau sudah merasa lebih baik Karin-chan?" tanyanya hati-hati pada gadis dengan mata hijau viridiannya yang menawan itu yang kini tengah berdiri di sisi jendela. Gadis itu tersenyum kecil lalu berbalik dan mengangguk pelan.

"Ya." Mungkin tak sesemangat dirinya yang sebelumnya, tapi kini perasaannya sudah jauh membaik dibanding semalam. Rasa takut itu memudar perlahan. Mungkin belum seutuhnya hilang tapi ya, kini ia cukup berani untuk setidaknya berbicara sepatah-dua patah pada orang-orang di sekitarnya. Setidaknya pula, hanya ciuman itu yang dilakukan lelaki brengsek itu padanya, tak lebih. Himeka tersenyum senang dan ia mengangguk—cukup bahagia dengan keadaan sahabatnya yang kini membaik itu.

"Kau mau makan? Kubawakan kau makan siang. Kalau sudah lebih baik lagi dari ini, turunlah ke bawah. Semua orang pasti menunggumu."

"Ah, kau mau kemana Himeka-chan?" Karin meraih lengan Himeka, menahan gadis itu pergi. Himeka terkekeh, Karin bisa melihat mata cokelatnya itu tertawa bahagia.

"Aku harus ganti baju," ia menunjuk seragam sekolahnya yang masih melekat di badannya. Sebuah seragam dari sekolah elit khusus putri yang Karin sudah sering dengar namanya itu. Seragam putih dengan corak seperti pakis di bagian kerahnya dengan rok tiga senti diatas lutut berenda—benar-benar feminim.

"Ah, apa... Kazune sudah pulang?" Kali ini Himeka tak bisa mencegah tawanya sampai-sampai air mata keluar di sudut matanya kala melihat wajah Karin sedikit memerah menanyakan nama Kazune. Ayolah, sejak kapan keduanya seperti ini? Setahunya kedua orang itu selalu seperti kucing dan tikus. Himeka menggeleng di sela-sela tawanya dan tanpa ia sadari gadis dengan rambut cokelat keemasan di depannya itu menghela napas kecewa.

"Kau merindukan Kazune-chan?" tanya Himeka dan Karin menoleh kaget dengan pipinya yang merona merah dan ia menggeleng cepat-cepat sehingga membuat Himeka kembali tertawa. Sebenarnya ia ingin menggoda Karin sekali lagi tapi perutnya juga sangat lapar hingga ia harus menghentikan ini. "Baiklah, baiklah. Aku ke bawah dulu ya. Kalau kau mau, makanlah bersama kami di bawah, oke?"

.

.

.

.

.

.

.

.

Haruka Hitomi 12 proudly presents...

REINCARNATION

Disclaimer ©Koge-Donbo

Romance & Drama (T)

Warning: Ketidak-adanya kekonsistenan, typo—maybe, OOC—maybe, ide pasaran, AU

.

Enjoy!

WARNING: Chapter yang sangat panjang. Dua kali panjang fic biasa yang saya buat. Ini sebagai harga atas keterlambatan saya. Semoga gak bosan ^^


.

.

Karasuma Rika menghela napas kesal dan ia melempar buku yang tengah ia baca itu ke sudut ruangan sebelum menepuk sisi kosong di sebelahnya geram—tentunya tangannya tak sakit karena itu adalah sebuah sofa. Bingung. Itulah yang kini mengisi kepalanya.

Kau masih hidup Hanazono? Kau masih hidup hah?! Sampai kapan kau ada? Sampai kapan kau akan mengganggu Kazune Kujyou?! Kau menggangguku. Keberadaanmu mengusikku. Kupikir aku bisa tenang dan bahagia saat kau pergi—yang kukira—untuk selama-lamanya. Katakan padaku, bagaimana caramu lolos dari maut, nona?

Jari-jari lentik dengan kuku dipoles cat hitam dan perak itu kini malah balik mengelus permukaan lembut sofa itu dengan cara ambigu. Perasaannya berkecamuk dan ia nyaris saja memecahkan sebuah vas besar di dekat pintu masuk saat ia baru datang tadi. Kini ia mengunci dirinya dalam kamar besar miliknya itu—kamar khas orang-orang kasta konglomerat. Iris cokelatnya yang manis itu kini terlihat kosong dan ada perasaan sedih dan marah disana. Hidup ini tak adil. Ia punya segala yang ia butuhkan, tapi tidak dengan cinta. Ia mencintai Kujyou Kazune selama lima tahun lamanya—sejak mereka di SMP. Setelah masuk ke SMA, sejak gadis dengan nama yang selalu membuat Rika mual itu ada, gadis itu menghancurkan segalanya yang sudah ia bangun.

Sejak dulu ia adalah pemenang. Tubuh yang nyaris sempurna, keahliannya yang menakjubkan, kekayaannya, kharismanya, kecerdasannya, kecantikannya—semua hal yang membuatnya mampu memikat setiap lelaki manapun yang sekali ia goda dengan satu kedipan mata saja seakan kalah begitu saja dengan pesona—yang baginya tak ada apa-apanya dibanding dirinya. Prestasi gadis itu tak secermelang dirinya, tapi mampu membuat Kujyou Kazune tersenyum saat gadis itu menunjukkan rangking di sekolah khusus putri itu. Senyum gadis itu tak secantik dan menawan layaknya seorang Karasuma Rika, tapi itu mampu membuat seorang Kujyou Kazune yang terkenal dingin pada setiap orang bersemu merah dalam sekejap mata saja. Kekayaan gadis itu tak seberapa—ia bahkan tak punya apa-apa. Tapi itu selalu tetap membuat Kujyou Kazune bahkan memintanya menjadi kekasihnya, yang pada saat itu membuat Rika menahan diri berkali-kali untuk mencelakai gadis itu di sekolah mereka—sekolah khusus siswa perempuan di Tokyo.

Kenapa? Apa yang salah dengan dirinya? Kapan Tuhan memberikannya kesempatan untuk bisa setidaknya mendapat perhatian dari cinta pertamanya itu? Bahkan setelah gadis itu mati—bahkan Rika tak yakin ia sudah mati—Tuhan masih belum memberikan kesempatan itu padanya. Kenapa? Satu kata itu terngiang dalam telinganya. Saat gadis-gadis biasa yang lain tertawa atau menangis karena kekasih mereka, ia yang adalah gadis sempurna malah masih terpaku pada cinta pertamanya yang tak kunjung ia dapatkan, padahal kalau ia mau, ia bisa menunjuk lelaki lain manapun yang ia inginkan. Mungkin, kalau bukan karena Kujyou Kazune, Karasuma Rika takkan merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta pada seorang lelaki. Mungkin, kalau bukan karena Hanazono Karin, Karasuma Rika takkan merasakan apa itu cemburu.

Ia lelah. Lelah dengan semua ini. Lelah dengan segala pengejarannya yang sia-sia saja, bahkan takdir tak memihaknya. Ia ingin melepaskan status 'orang yang disuka' dari Kujyou Kazune, tapi ia tak bisa. Ia tak tahu lelaki lain yang patut ia sukai. Gadis dengan dress hitam yang panjangnya setengah pahanya itu menyilangkan kakinya dan berpikir, kenapa?

.

.

.

.

.

.

Hari berganti hari, lalu berganti minggu. Tiga minggu lamanya Karin mengurung diri di kamar yang disediakan untuknya di rumah besar milik Kujyou itu dan ia tampak tak berminat keluar. Tiga minggu pula ia tak berminat sekolah dan olahraga seperti biasanya. Hanya Himeka, Kazusa dan seorang maid pribadi yang boleh masuk ke kamarnya. Ia hanya berbicara secara langsung pada Himeka dan Kazusa dan masih bicara pada Kazune walau masih harus terhalang pintu—lebih buruk lagi ia tak pernah mau bicara pada Micchi dan Micchi bilang ini membuatnya patah hati; diacuhkan teman sendiri.

Suatu pagi, semua orang yang tengah duduk di meja makan—bersiap berangkat sekolah dengan mengisi perut untuk sarapan terperangah melihat gadis itu turun dari tangga dengan seraam sekolahnya—yang diambilkan salah satu pelayan di flat nya—melekat di tubuhnya dan senyum tipis menghiasi wajahnya. Rambutnya yang biasanya dikuncir itu kini dibiarkan tergerai bebas. Kazusa berdiri dari kursi lalu berlari semangat menuju gadis itu dan memintanya untuk duduk segera disebelah Himeka yang tersenyum lebar.

Ia membalas kedua gadis itu dengan anggukan pelan dan menyunggingkan seyuman tipis pada Kazune yang ada di seberangnya—yang juga membalasnya dengan senyum tipis lega—dan juga pada Micchi yang kini nyengir bahagia.

"Akhirnya Hanazono mau keluar! Aku sangat, sangat bahagia! Setidaknya, peluangku untuk diacuhkan olehmu berkurang!" Lelaki berambut karamel itu berseru heboh dengan gestur seperti mengucap syukur sementara Karin tersenyum bersalah menatapnya. Bagaimanapun ia selama tiga minggu ini tidak bicara sepatah katapun pada Micchi.

Himeka tertawa kecil mendengar penuturan kekasihnya itu lalu mengambil sehelai roti isi dari nampan dan memindahkannya ke piring porselen milik Karin, "Makan ya," ucapnya sambil tersenyum seraya menuang air. Karin mengangguk pelan lalu melahap roti itu diikuti teman-temannya yang lain. "Setelah ini kita berangkat. Kau sudah siap sekolah bukan? Tenang saja, lelaki itu takkan ada disana menganggumu. Aku jamin!" sambungnya dan ditanggapi anggukan dari Karin yang sibuk dengan roti isinya.

Sarapan pagi itu berlangsung kurang dari dua puluh menit dan Himeka dan Micchi sudah berangkat lebih dulu untuk mengejar jadwal shinkansen. Kazusa tengah berbicara pada seorang pelayan mengenai suatu hal—sejak orangtua mereka tak ada, ia memang jadi seperti nyonya rumah yang harus mengatur segala tetek bengek dari A sampai Z di rumah peninggalan orang tuanya yang terlampau besar ini. Kazune berdiri bersandar di pilar putih raksasa yang melingkar di beranda itu sementara Karin duduk disalah satu anak tangganya sambil memakai sepatunya.

"Tidak apa kalau rambutmu dibiarkan seperti itu?" ia bertanya sehingga Karin mendongak lalu sesaat kemudian mengangguk sambil kembali sibuk dengan tali sepatunya.

Gadis itu jadi jauh lebih diam. Selama tiga minggu, mereka bercakap-cakap dari balik pintu putih yang menjadi penghalang itu. Saat Kazune akan berangkat sekolah, pulang sekolah, atau saat ia luang. Dan itupun hanya beberapa patah kata, sisanya dihabiskan dengan diam seharian. "Kami memberitahu wali kelasmu bahwa kau butuh waktu banyak untuk istirahat, jadi kujamin kau takkan mendapat banyak tugas—kami sudah memberi penjelasan," sambungnya dan Karin kembali mengangguk tapi kini ia duduk dengan posisi memeluk lututnya dan sepatunya sudah terikat rapi.

"Terimakasih," gumamnya pelan. Keduanya kembali terdiam sampai akhirnya ia duduk disebelah gadis itu lalu mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut cokelat panjang Karin. Lelaki itu tersenyum tipis.

"Semangatlah. Istirahat nanti ayo main basket lagi!" ujarnya dan kali ini Karin menyunggingkan sebuah senyum lebar sehingga matanya menyipit dan ia berseru 'Ya!' dengan keras.

.

.

.

"A-ano, Yuuki-kun, kurasa... kurasa aku harus mengatakan ini karena kau tahu apa? Hal ini sangat mengganjal dan menganggu batinku. Jawab dengan jelas, oke?" Gadis bersurai hijau toska itu untuk kesekian kalinya kembali memainkan jarinya dengan gugup. Lututnya gemetar. Apakah ia akan mengatakannya atau tidak? Tapi sebentar lagi ujian akhir dan itu pasti akan sangat menganggu bila ia tak mendapat jawaban yang jelas.

Lelaki bernama Yuuki yang tengah membawa biola itu mengerutkan dahi sejenak, "Oke kurasa. Apa itu?" tanyanya.

Miyon menggigit bibirnya. Gadis keturunan Korea-Jepang itu berkali-kali membuka mulutnya lalu kembali bungkam. Bingung akan susunan kata-kata yang ia susun dalam tiga jam semalaman dan ia hapalkan setengah mati. Kini pikiranya blank. Apa yang harus ia katakan? Darimana ia mulai agar tak menimbulkan kesan aneh?

"A-apa sudah ada gadis yang kau suka?" tanyanya cepat dan Yuuki menerawang sejenak lalu menggeleng.

"Kurasa belum," tuturnya dan Miyon menghela napas lega, "Aku agak sibuk dengan kompetisi musik klasik mendatang itu dan kegiatan klub juga belajar untuk menyadarinya. Menurutku pribadi, aku belum menyukai siapapun—yah, mungkin sedikit, pada seseorang. Memang kenapa?"

Ukh, sedikit? Pada seseorang katanya? Siapa? Pikir Miyon kesal. "A-ah, begitu. Etto, a-aku hanya ingin tahu. Lomba itu... kapan akan dilaksanakan? Dimana? Pukul berapa?"

"Seminggu lagi, di gedung musikal Yokohama. Jam tujuh malam tepat."

"Bo-bolehkah aku datang? Ma-maksudku, a-aku ingin mendukungmu karena kuyakin Yuuki -kun akan jadi pemain biola klasik yang hebat! Bolehkah? A-aku takkan mengacau, aku janji! Aku hanya ingin mendukungmu." Baiklah, aku sudah mengatakannya—setidaknya, pikir Miyon dan ia berusaha menatap Yuuki lurus-lurus untuk meyakinkan lelaki itu. Kalau ia sudah bisa melakukan ini, ia yakin bahwa ia bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya untuk melihat akhir dari kisah cinta pertamanya. Diterima atau ditolak nantinya.

Yuuki terlihat tertegun lalu ia mengangguk sambil menyunggingkan senyuman tipis, "Tentu saja Miyon. Datanglah. Aku akan sangat menghargai dukunganmu itu. Sungguh beruntung bukan punya seorang pendukung pribadi bahkan saat kau belum jadi yang terbaik? Maka dari itu tentu saja boleh."

Miyon menggeleng, "Bagiku, sejak dulu di klub musik sekolah bahkan mungkin di Tokyo, kau sudah jadi yang terbaik Yuuki-kun! Baiklah, terimakasih! Sungguh terimakasih! Berlatihlah ya! Semangat!" ia berseru sambil melambai saat Yuuki berlalu untuk pergi keruang klub musik diiringi senyum gelinya.

Yosh, minggu depan, gedung musikal Yokohama, jam tujuh.

.

Miyon berjalan riang menuju kelasnya. Bel akan berbunyi lima belas menit lagi, masih ada waktu panjang ditambah jam pertama adalah pelajaran favoritnya, sejarah. Ya, Miyon suka sejarah. Ia mengagumi segala hal menakjubkan yang terjadi di masa lalu. Alasan kenapa kehidupannya seperti ini sekarang. Ia juga menyukai eksak. Semua yang terjadi adalah merupakan sebab-akibat. Apa yang kau tabur itu yang kau tuai, itu prinsipnya. Jadi ia kurang menyukai sesuatu yang tidak realisitis. Hanya berdasar pengamatan semata dan ia juga sangat jarang menggunakan intuisinya—ia seorang gadis yang realistis dan kini yang baginya kurang realistis adalah kenapa banyak sekali gadis-gadis bergerombol di depan pintu kelasnya sehingga menghalangi pintu masuk?

"Oh ayolah! Apa aku tak bisa masuk ke kelasku sendiri!?" protesnya kesal tapi suaranya kalah oleh seruan-seruan heboh para gadis itu, "Hei, hei—" ia menarik baju seorang gadis berkacamata di sebelahnya sehingga gadis itu menoleh, "Ada apa lagi ini?!" tanyanya agak kencang untuk mengalahkan suara ribut itu.

"Oh! Kujyou-san mengantarkan seorang gadis ke kelas ini! Kami penasaran siapa gadis yang dibawa Kuyjou-san sehingga kami ingin melihatnya!" ucap gadis itu dengan agak keras juga. Siapa? Kujyou Kazusa? Heh, yang benar saja, kalau gadis itu pasti sekarang yang berkumpul adalah kaum adam. Tak salah lagi, Kujyou Kazune. Dan gadis yang dibawanya? Miyon tersenyum lebar sambil berusaha menerobos kerumunan. Tak jarang ia berdebat karena insiden kecil seperti tersenggol atau kaki terinjak. Gadis itu, Hanazono Karin, teman dekatnya yang absen selama tiga minggu penuh. Ayolah, siapa kenalan Miyon yang tak lebih dekat dengan Kazune tanpa hubungan darah kecuali Karin?

Gadis itu menganga melihat apa yang ia saksikan di kelas. Beberapa siswa disana juga menatap kearah sepasang muda-mudi yang hari ini tampak berbeda dari biasanya itu. Miyon mengucek matanya. Apa ia tak salah lihat? Kujyou Kazune berdiri di sisi bangku Hanazono Karin dengan satu tangan di bahu gadis itu dan tangan Karin ada diatas tangan Kazune dengan senyum tipis menghiasi wajahnya yang agak pucat itu. Apa ini benar-benar temannya? Apa dunia sudah terbalik?! Tak mungkin Karin yang biasanya akan diam saja dengan perlakuan—yang memang masih tergolong wajar tapi tergolong gila bagi keduanya yang seperti kucing dan tikus—pasti gadis itu akan langsung adu mulut atau saling menghajar dengan salah satu pangeran sekolah dengan penggemar terbanyak itu. Tentu saja kini teriakan tak terima menggema di belakang Miyon.

"Kau tak apa?" Kazune menepuk bahu gadis itu. Karin hanya mengangguk sambil meremas tangan Kazune yang ada di bahunya. "Tiba-tiba kau jadi pucat dan berkeringat dingin. Haruskah ke ruang kesehatan?"

"Tidak perlu," Karin menjawab sengau, "Mungkin efek terlalu banyak minum obat tidur. Sudahlah, ini sudah biasa. Kembalilah ke kelasmu Kazune. Kerumunannya semakin ramai," ucapnya dan kini mengeluarkan beberapa buku untuk jam pertama dari tasnya. Karin tahu obat tidur kurang baik untuk remaja seumurannya tapi apa boleh buat? Ia nyaris gila setiap malam selalu terbangun tiba-tiba atas mimpi itu yang selalu melibatkan Jin Kuga dan alhasil ia tak pernah bisa tidur dengan mudah sehingga saat semua orang pergi ke sekolah dulu, ia membongkar kotak obat dan mengambil satu botol obat tidur. Inilah akibatnya.

"Biar saja. Kepalamu pusing? Jangan memaksakan diri!" balas Kazune sedikit panik. Melihat gadis itu kini sedikit kesakitan sambil memegang kepalanya membuatnya teringat pada raut wajah Karin yang dulu saat mendekam di rumah sakit dengan obat penahan sakit setiap harinya yang menjadi pereda satu-satunya bila sakit akan kankernya itu datang. Dan ia tak ingin hal yang sama terjadi pada gadis ini. Gadis yang diam-diam dan tiba-tiba mengisi hatinya yang kosong setelah Karin pergi meninggalkannya selamanya.

"Aku masih kuat. Sudah lama aku tak ikut pelajaran. Aku tidak suka pelajaran kedua, jadi nanti aku akan tidur. Kumohon Kazune, tidak apa-apa bila aku berada disini," jawabnya parau dan Kazune menghela napas mendengar penuturan ngawur itu.

"Kalau tidak kuat, segera minta tolong siapapun—tapi harus perempuan—untuk mengantarmu ke ruang kesehatan. Mengerti?" Karin membalas itu dengan anggukan sampai ia menelungkupkan tangannya diatas meja. Memutuskan tidur sampai bel masuk berbunyi. Kazune menghela napas melihat tingkah gadis itu dan ia mengacak surai pirangnya sambil berjalan keluar dan berhenti sejenak disamping Miyon yang masih menganga. "Jaga dia Yii," ucapnya pelan dan Miyon baru bisa mencerna ucapan itu saat Kazune menghilang setelah berbelok di pintu diiringi penggemarnya yang membludak.

Gadis itu berlari kecil kearah teman sebangkunya yang baru masuk hari ini—Karin—dan duduk di bangku kosong di sebelah kirinya—di dekat jendela. Ia mengelus rambut cokelat itu pelan dan Karin terbangun dan ia sedikit terkejut mendapati Miyon kemudian tersenyum kecil, "Hai," sapanya, "Maaf membiarkan bangku ini kosong selama tiga minggu. Ada sedikit masalah."

Miyon balas tersenyum, "Tidurlah lagi, akan kubangunkan saat bel berbunyi nanti. Dan kurasa kau hutang cerita padaku, ya kan?"

.

"Kutraktir roti belut kesukaanmu atau ramen biasa saja?" tanya Miyon saat mereka mengantri di kantin sekolah yang kini tengah membludak jumlah pengunjungnya itu—maklum, jam istirahat adalah jam yang paling ideal untuk makan apalagi setelah kau mengalami penyiksaan batin di kelas sebelumnya.

"Ramen saja," jawab Karin. Untuk pertama kalinya ia tak berminat makan roti kesukaannya.

"Carilah kursi, biar aku yang mengantri."

Gadis itu mengangguk lalu menyingkir dari antrian dan mencari meja kosong dan ia menemukannya di dekat jendela dimana disampingnya ada pintu terbuka dan menunjukkan halaman belakang sekolah dengan lapangan basketnya yang kini dipenuhi beberapa siswa. Ia duduk disana lalu menelungkupkan tangannya diatas meja dan menjatuhkan kepalanya disana sambil menatap keluar jendela. Rindu rasanya bermain basket lagi tapi dengan kondisi fisiknya yang sekarang ia rasa itu tak mungkin. Dalam hati ia memutuskan untuk tak lagi minum obat tidur nanti malam—rasanya seperti minum alkohol saja sehingga kini ia merasa pening.

"Hei." Karin mendongak dan ia melontarkan senyuman singkat pada pemuda yang mengambil kursi di seberangnya. Kujyou Kazune.

"Hei," balasnya pelan.

"Kau tidak menurut untuk pergi ke ruang kesehatan. Wajahmu makin pucat. Pokoknya hentikan kebiasaan minum obat tidur itu!" ucap Kazune sambil membuka sumpit ramen yang ia pesan.

"Kau sudah tahu?" tanya Karin lagi karena ia merasa tak pernah memberitahu Kazune soal obat tidur yang selalu ia minum setiap malam untuk menghilangkan insomnia akutnya setelah insiden dengan Jin itu. "Apa Kazusa yang memberitahumu?"

"Aku bersikeras dan memang benar ia tahu sesuatu soal obat yang selalu kau minum setiap malam itu. Hentikan saja kebiasaan itu, minum minuman seperti cukup fatal tanpa resep dokter," tukas Kazune sambil melahap satu suapan pertama ramen nya, "Kau mau?" ia menawarkan dan Karin menggeleng.

"Aku sudah pesan. Iya, iya, akan kuusahakan hal itu. Lagipula aku juga merasa tak nyaman dengan fisikku setelah meminum obat itu. Rasanya seperti kecanduan minum alkohol—padahal umurku belum dua puluh tahun, tapi mau bagaimana lagi, aku terkena insomnia sekarang," jawab Karin sambil kembali menyembunyikan wajahnya dalam tangannya yang tertelungkup.

"Apa kejadian itu masih menganggumu?" tanya Kazune dan Karin mengangguk.

"Tentu saja, ia merebut ciuman pertamaku dan nyaris melakukan hal yang tidak-tidak padaku. Itu sinting dan cukup parah untuk orang sepertiku."

"Kau keberatan memberitahuku siapa namanya?"

"Jin Kuga. Teman basketku dulu. Ia pernah menembakku tapi kutolak, entahlah, sepertinya masih belum mengikhlaskan hal itu dan itu sedikit mengangguku. Aku benar-benar membencinya tapi ia adalah temanku yang paling kupercaya sejak dulu. Bila ada masalah, akan langsung kuceritakan padanya—begitu pula sebaliknya. Kami saling mendukung, meminta saran dan hal-hal lainnya yang cukup akrab. Aku menganggapnya seperti kakakku sendiri karena aku anak tunggal tanpa orangtua. Ia selalu ada disana melindungiku dan datang dalam sekejap kalau aku butuh dia. Maka dari itu aku kurang bisa menerima kenyataan bahwa ialah yang membuatku begini—orang yang paling kupercaya. Temanku sendiri. Aku rasa ia merasa bersalah tapi aku belum siap menemuinya karena jika aku menemuinya aku akan langsung menghajarnya. Lebih baik tunggu agak lama dan kita bicarakan semuanya pelan-pelan. Aku menyayanginya sebagai teman," terang Karin. Manik gioknya menerawang memandang langit-langit kantin. Suara ribut bahkan ada kerusuhan disalah satu pojok kantin tidak menganggunya. Ia merasa merana saat mengingat betapa dekatnya ia dan Jin Kuga dulu. Kini ia paham bahwa tak ada persahabatan yang abadi antara lelaki dan perempuan. Dan ia benar-benar polos dan bodoh karena baru menyadarinya setelah kejadian menyesakkan itu.

Kazune tertegun lalu ia tersenyum tipis. Saat gadis itu mulai bercerita sebetulnya ia agak merasa tak rela bahwa Karin pernah sedekat itu dengan seorang pria tapi kini ia paham. Itu semua hanya cinta tak berbalas dan kasih sayang seorang teman. Mungkin ia akan mengurungkan niatnya untuk menghajar orang bernama Jin Kuga yang seingatnya dulu pernah menelepon Karin saat insiden di ruang kesehatan. "Kau teman yang baik. Kuyakin, kalau ia juga teman yang baik, ia akan paham. Terkadang lelaki tak mampu mengontrol emosi mereka sendiri karena beberapa hal."

Karin tersenyum tipis mendengar tanggapan Kazune. Ia benar-benar merasa beruntung sekarang. Hatinya terasa hangat mendengar penuturan dari lelaki itu. Seakan menentramkannya dan meyakinkannya bahwa takkan ada sesuatu buruk yang terjadi antara ia dan Jin Kuga. Semuanya butuh proses. Ia yakin Jin Kuga melakukan hal itu dengan alasan tersendiri. Semua lelaki memang brengsek—termasuk sahabatnya itu—tapi pasti, sekali lagi, ia punya alasan. Semua hal terjadi karena sebab dan akibat. "Tepat sekali."

"Hei Kujyou-san," Miyon menyapa Kazune saat ia datang ke meja itu dan ditanggapi dengan anggukan pelan, "Maaf terlalu lama. Ada sedikit kerusuhan karena seseorang menyerobot antrian tadi, tapi aku berhasil mendapatkan dua ramen," ia nyengir sambil mendorong semangkuk mi yang masih panas itu ke depan Karin lengkap dengan sumpitnya.

"Itadakimasu!"

Tak sampai sepuluh menit Karin menyelesaikan makannya dan ia memutar bola matanya melihat Miyon yang sibuk degan ponselnya sehingga melupakan ramen nya yang masih setengah mangkuk.

"Kau tahu?" Kini ia menatap Kazune. "Aku memutuskan pindah kelas saja."

"He? Memang diperbolehkan?"

"Boleh, kalau aku yang melakukannya," Kazune memasang seringai bangganya yang ditanggapi cibiran dan dengusan jengah dari Karin, "Aku akan pindah ke kelasmu." Kini Karin melebarkan matanya sementara Kazune masih memasang seringainya yang sama yang membuat beberapa gadis di sekitar mereka menoleh dengan tatapan kagum dan memuja padanya.

"Eeehh? Tidak perlu! Untuk apa memangnya?" Karin memprotes.

"Itu terserahku. Kelasku tak nyaman."

"Yang benar saja!"

"Benar. Sebangku dengan Nishikiori sangat menganggu!"

"Ganti tempat duduk saja kenapa? Jangan pindah kelas—apalagi ke kelasku! Nanti gosip-gosip memalukan tenatng kita di ruang kesehatan itu muncul lagi!"

"Aku mengkhawatirkanmu."

Kali ini Karin terperangah dengan mulutnya setengah membuka terkejut atas jawaban mustahil yang dilontarkan lelaki itu. "Kau? Khawatir padaku? Dunia sudah terbalik," balasnya sarkastik dengan wajah setengah merona, "Bisa-bisa kita malah akan saling membunuh bila berada di satu area yang sama." Padahal Jin sering berkata hal yang sama dan kini saat Kazune yang mengatakannya entah mengapa sudut hatinya merasa senang.

"Nyatanya kita tak saling membunuh saat kau ada di rumahku," balas Kazune lagi mencibir.

"Kasihan rumahmu kalau menjadi latar perang antara kita," Karin menjawab sok dramatis dan Kazune memutar bola matanya. "Intinya, ini hanya pusing biasa. Tak perlu sampai seperti itu!"

"Jangan membantah!"

"Aku punya hak!"

"Ah, tak bisakah kalian diam? Aku terganggu disini!" Miyon memotong percakapan keduanya dengan wajah cemberut. Gadis itu lalu mengeluarkan sebuah earphone dari saku roknya dan langsung memasangnya di mp3 miliknya.

Kazune mengangkat satu alisnya melihat barang itu, "Kau menyeludupkan itu? Bukankah barang selain ponsel dilarang disini?"

"Biar saja. Toh hari ini tak ada pemeriksaan," balas gadis bermarga Yii itu sambil nyengir lalu sibuk dengan kegiatannya sendiri. Kazune membicarakan beberapa hal lagi pada Karin sementara Miyon sibuk memilih musik dan mendengarkan alunan lagu pilihannya yang ia dengar lewat earphone itu. Manik teal gadis itu tiba-tiba melebar. Sorot matanya mengikuti gerakan seseorang yang baru saja masuk ke kantin. Sakurai Yuuki. Siswa klub musik yang spesialisasinya ada di biola. "Hei, hei," ia menoel bahu Karin dan gadis itu menoleh dengan kedua alis terangkat, "A-apa... apa aku sudah cantik?"

Karin mengerjapkan matanya sementara Kazune menyeringai meremehkan dan mengaduh saat Karin menendang kakinya dibawah meja. "Ya. Cantik sekali! Sana, temui pangeranmu itu!" ucap gadis itu—paham siapa yang ingin ditemui Miyon. Seorang lelaki yang baru memasuki kantin. Yang sudah ia taksir sejak tahun pertama disini dulu. Miyon tersenyum lebar ia lalu berdiri dan menghampiri Yuuki.

"Sakurai?" Kazune bertanya memastikan. Ia bingung dengan sirkuit otak Miyon yang menyukai lelaki yang bermain biola. Tapi ya sudahlah. Toh itu bukan hidupnya.

Karin mengangguk tegas mengiyakan, "Jangan menghancurkan mimpi orang! Sudah hampir setahun ia menyukai Yuuki-san tapi belum berani menembak. Katanya sebentar lagi tapi aku tak tahu kapan."

"Itu payah," cibir Kazune dan Karin memukul punggung tangannya yang ada diatas meja cukup keras hingga ia kembali berteriak sakit dan Karin melebarkan matanya kesal.

"Tentu saja. Maksudmu tak ada yang lebih hebat darimu, bukan begitu Kazune-sama?" ia menekankan pengucapannya pada nama lelaki itu. Dalam hati merutuki kefrontalan Kazune yang dengan mudah mengatakan perasaan antara dua orang temannya itu payah.

"Kalau ia tak kunjung menyatakan, lihat saja. Jika Sakurai diambil orang lain, kujamin, saat itu barulah ia menangis dan menyesal kenapa tak menembak dari dulu," balas Kazune cuek lalu menenggak minuman kaleng dingin yang ia beli dan menatap Karin tak terima saat gadis itu menurunkan kopi kaleng yang ia minum.

Karin memutar bola matanya, "Asal kau tahu, tak baik meminum kopi setelah makan dan kopi yang diseduh asli jauh, jauh, jauh lebih baik dibanding minuman kaleng. Kurasa kau juga harus hentikan kebiasaan itu." Kazune mendengus kesal lalu menyilangkan tangannya dan memalingkan wajah sambil mendumel. "Dasar kekanakan," umpat Karin sedikit kesal. Tapi dalam hati ia berterimakasih pada Kazune untuk yang kesekian kalinya karena kini pusingnya sudah berkurang dan ia lebih semangat—ah ya, mungkin juga karena tadi ia sedang lapar maka dari itu ia pusing.

.

.

.

Mereka berempat pulang bersama. Karin, Kazune, Kazusa, Miyon. Sebenarnya Miyon selalu pulang bersama Karin. Kazusa memilih naik shinkansen bersama Micchi yang juga akan menjemput Himeka di sekolahnya dan Kazune sibuk dengan urusannya sendiri hingga ia lebih sering pulang sendiri—lebih tenang katanya.

Kazusa mengobrolkan beberapa hal dengan Karin seperti menanyakan keadaan gadis itu dan kejadian-kejadian di sekolah. Miyon memilih bermain dengan ponselnya. Ia mengirim beberapa pesan singkat pada Yuuki. Sedangkan Kazune—entahlah. Ia hanya sibuk dengan dunia pikirannya sendiri. Melamunkan sesuatu.

"Sebentar. Kurasa aku harus mengatakan yang satu ini pada Miyon. Ne, ne, Miyon. Kau harus dengar ini—" Kazusa berganti posisi dengan Karin hingga kini Karin bersebelahan dengan Kazune. Lelaki itu memandang lurus ke depan tak bersuara. Karin mengikuti sorot pandangannya dan ia mengernyitkan dahinya karena tidak menemukan apapun yang menarik. Hanya sebuah jalanan di distrik menuju rumah mereka yang agak sepi karena ini sudah sore.

"Apa kau menatap kucing itu?" Karin menunjuk ragu pada seekor kucing gendut berbulu cokelat tebal yang duduk bermalas-malasan di samping salah satu pot merah besar berisikan bunga krisan di depan salah satu rumah saat mereka lewat.

Kazune mendengus, "Kurang kerjaan sekali."

"Lalu kau menatap apa?"

"Memangnya kenapa?"

Karin mengendikkan bahunya, "Entahlah, tampaknya serius sekali dan kau tak terlihat bosan. Apakah disini ada sesuatu yang menarik?"

"Keadaanmu sudah membaik ya? Jangan rusak itu dengan meminum obat tidur lagi. kau seperti gadis yang masuk ke bar lalu minum alkohol dan tertidur dalam kondisi mabuk," komentar Kazune dan Karin menatapnya terkejut tak terima. Ia akan membalas tapi mengurungkannya sehingga ia menghela napas pasrah. Toh perumpamaan itu memang cocok, tak ada gunanya mengelak.

"Yaa, ya. Aku takkan minum obat itu lagi," jawabnya dan Kazune menaikkan satu sudut bibirnya dan tangannya mengacak pelan surai cokelat Karin, "Ngomong-ngomong, terimakasih mau menjadi teman mengobrolku walau dibalik pintu Kazune. Aku benar-benar menyiksamu untuk itu—maksudku, mendengar kata-kata tak bergunaku. Dan kali ini kurasa aku harus berkata maaf."

Kazune mendengus geli, "Yang Mulia Hanazono Karin bisa berkata maaf rupanya?" Karin mengerucutkan bibirnya dan sambil mendumel ia memukul lengan lelaki itu main-main dan malah menyebabkan Kazune semakin menggodanya habis-habisan, "Yah, bagaimanapun, kau tak perlu berkata maaf. Aku sendiri yang ingin melakukannya. Melihatmu terpuruk seperti itu aku jadi tak tega—seakan aku melihat kondisiku yang dulu, sebelum aku bertemu denganmu yang sangat mirip dengan Karin—" disini Karin menahan napasnya dan ia menatap wajah pemuda itu yang menerawang, "—sangat lesu, tak berniat melakukan apapun. Syukurlah aku bertemu denganmu, kau seperti menyelamatkanku dari dunia hitam putih yang hampa itu dan aku ingin melakukan hal yang sama untukmu."

Karin terbungkam sebelum sesaat kemudian tertawa kaku, "Itu aneh. Menurutmu aku seperti apa memangnya?" dan dengan pertanyaan ini entah kenapa Karin merasa menyesal.

"Seperti Karin yang dulu. Kalau kau sedang dalam mode bersemangat—tentu saja kalian berbeda. Tapi kemarin itu, kau seperti dirinya. Sangat. Saat melihatmu ketakutan dan sampai menangis, aku teringat sosoknya yang untuk pertama kalinya saat di rumah sakit di minggu kelimanya berkata ia takut. Aku memeluknya waktu itu dan aku ingin melakukan yang sama padamu tapi tentu saja—" lelaki itu mendesah pelan dengan sudut bibir terangkat sedikit, "—kau pasti menolaknya mentah-mentah."

Benar saja. Ia menyesal bertanya. Selain melukai hatinya sendiri yang entah sejak kapan melirik pada Kazune, ia juga membuka memori menyakitkan orang lain. Hanazono Karin bukan gadis bodoh. Ia memang takkan mengaku pada orang lain tapi ia mengakui perasaannya sekarang. Obrolan rutin tiap malam itu menyadarkannya. Ia suka setiap kali berdebat dengan Kazune. Ia suka cara lelaki itu bertindak padanya. Dan ia suka cara pemuda itu menatapnya. Ah, tentu saja! Apa kini ia menderita amnesia? Yang dilihat lelaki itu bukanlah ia yang sebenarnya. Tapi Karin nya yang dulu. Tatapan penuh rasa rindu yang kini bisa membuat hatinya miris. Lelaki itu menyemangatinya dari balik pintu kayu putih sehingga kini ia sudah mampu keluar dan menjalani hari seperti biasa walau belum serutin biasanya. Tapi ini sudah kemajuan. Apakah tak ada cara untuknya membalas budi? Ia bukan gadis yang dapat menerima bantuan semudah itu. Jika orang laib menolongnya, maka ia harus memberi orang itu imbalan, sekecil apapun yang diminta orang itu.

"Apa kau punya keinginan tersendiri Kazune?" tanyanya memulai percakapan yang sempat terhenti beberapa saat. Manik gioknya melirik sekilas pada Miyon dan Kazusa yang masih sibuk membicarakan sesuatu yang sepertinya lucu hingga mereka tertawa-tawa. Baguslah, mereka tak memperhatikan, pikirnya.

Kazune menghela napasnya lalu kembali menyunggingkan senyuman yang terlampau tipis, "Mungkin ada. Satu hal kecil—" Karin menatapnya antusias, "—aku ingin sekali lagi bertemu dengan Karin. Melalui setidaknya beberapa hari saja dengannya—maksudku, kegiatan yang biasa kami lakukan dulu. Aku ingin kembali mengambil peranku sebagai orang yang mampu melindunginya. Ya, aku hanya ingin itu, walau itu kutahu tak mungkin—maksudku, setiap orang boleh bermimpi."

Senyum Karin menghilang. Ia kembali memalingkan wajahnya dan menggigit bibir. Matanya yang jernih berwarna emerald sehijau batu giok termahal menatap jalanan setapak yang dimana ada beberapa kerikil diatasnya. Kalau itu keinginannya, bagaimana caraku mengabulkannya? Dan kini hatinya terasa sedikit miris untuk sekali lagi, menyadari fakta Kazune memang masih mencintai Karin. Ironi.

.

.

"Kau melihat Karin-chan, Kazusa-chan?" Himeka bertanya sambil membawa setumpuk sandwich keju diatas piring melamin masih lengkap dengan apron yang ia kenakan menuju meja makan, "Dia tak pulang ke apartemennya kan? Aku khawatir orang bernama Jin Kuga itu masih disana menantinya dan akan kembali melakukan yang tidak-tidak."

Kazusa yang duduk di meja makan menurunkan buku bacaan yang ia baca setelah sempat menatap jengah pada Micchi yang ngiler melihat cemilan itu, "Entahlah Himeka. Tadi ia bilang akan pergi sebentar ke makam Karin jadi aku memberitahunya jalan. Entah kenapa lama sekali."

"Makam Karin?" Micchi angkat bicara, "Apa yang dia lakukan disana? Setahuku ia jarang sekali membahas kembarannya itu."

"Aku tak bertanya, kurasa itu urusannya jadi agak canggung kalau aku banyak bertanya," jawab Kazusa, "Kazune-nii!" Ia memanggil Kazune yang baru menuruni tangga menuju ruang makan. Lelaki itu mengangkat kedua alisnya dan menatap tak niat. "Bisakah kau mencari Karin-chan? Ia tadi pergi ke makam Karin. Carilah ya, ini hampir makan malam."

oOo

Karin merapatkan jaket biru muda yang ia pinjam dari Himeka. Gadis itu memandangi lima tangkai bunga krisan merah yang ada didalam sebuah wadah yang diisi air untuk memungkinkan bunga tanpa akar itu hidup lebih lama. Ia tersenyum kecil lalu meletakkan lili putihnya di antara bunga-bunga krisan kecil itu. "Sekarang aku tahu apa yang dipandangi Kazune tadi. Bunga krisan merah adalah kesukaanmu eh? Kurasa untuk sekali lagi kita berbeda. Aku suka bunga sakura tapi yang konyol adalah, jika aku mati, tak mungkin orang akan membawakan pohon sakura bukan? Itu akan menghabiskan lahan," tawa Karin pelan.

Ia berlutut di depan makam itu dan mengelus batu nisannya pelan, "Kazune merindukanmu Karin," ucapnya lagi agak canggung kini, "Kuharap kau tak mengutukku setelah ini, karena aku... aku menyukai kekasihmu. Maaf, aku tak bisa menahannya—tapi Kazune tak tahu soal ini. Apa yang harus kulakukan? Aku menghargaimu sebagai kekasihnya tapi dengan melihat ia selalu seperti itu, aku menjadi sedikit iba. Kau punya jalan keluar agar semua orang senang?"

"Kita dua gadis yang berbeda Karin. Mungkin hanya fisik dan nama kita yang sama namun jiwa kita berbeda. Kau seorang yang begitu baik kan? Kudengar bahkan kau mendonorkan ginjalmu pada Himeka ditengah penyakitmu. Kau cantik, pintar, berbakat. Ah ya, kata Kazune juga, kau suka main piano. Keren, aku tak bisa main musik, saat main piano yang ada adalah jariku terpeleset dari tuts hitam putih—yang kubisa hanya basket dan olahraga lainnya. Untuk sekali lagi kita bertolak belakang dari segi hobi. Harus kuakui aku iri denganmu. Mendapat kasih sayang yang begitu besar dari kekasih dan teman-teman. Aku tak begitu pandai bergaul. Temanku hanya satu dan ia mengkhianatiku. Aku orang yang buruk."

"Dulu ketika pertama kali melihatmu di foto, aku terperangah karena aku seperti melihat cerminan diriku—bedanya kau lebih kalem. Kau tahu? Diam-diam aku menyukai fotomu dan Kazune saat malam Natal setahun tepat sebelum kau mendekam di rumah sakit. Kalian berfoto di depan sebuah pohon natal raksasa di tengah kota di malam hari bersalju itu. Benar juga, tahun lalu adalah white christmas. Sungguh romantis. Aku tak pernah memikirkan cinta dalam hidupku. Kukira hal itu akan datang dengan sendirinya. Yang kupikirkan hanya basket dan masa depanku untuk menjadi seorang atlet. Tapi atlet basket perempuan itu kecil peluangnya jadi aku harus cari cita-cita baru lagi. Menurutmu aku cocok menjadi apa? Aku tak bisa memasak sehingga mustahil bila aku jadi koki atau tukang roti. Aku buruk dalam menyanyi dan menari apalagi berakting. Yang berarti aku tak cocok di dunia hiburan. Nilaiku cukup jelek di sekolah hingga kuyakin bahkan untuk menjadi karyawan dengan pangkat terendah pun bagiku akan sangat sulit. Kau bisa menjadi seorang pianis. Auramu cocok sekali. Atau menjadi lainnya yang kau inginkan karena kau punya segalanya. Tapi menurutmu aku cocok menjadi apa? Cobalah lihat dari sudutku, kita orang yang sama kan?" kini ia nyengir dan meraba pelan batu nisa dengan ukiran nama Hanazono Karin, "Aku jadi seperti arwah yang miris melihat makamnya sehingga bicara sendiri tanpa ada yang mendengarkan," candanya dan angin berhembus.

Gadis itu memejamkan mata menikmati hembusan angin malam di musim semi. Angin itu membawa kelopak sakura yang memang sangat rapuh dan mudah lepas.

"Kau bisa jadi apapun yang kau inginkan, karena kau gadis yang hebat!"

Karin melebarkan matanya. Angin seakan berbicara padanya. Membawa sebuah pesan suara yang membuatnya kini celingukan mencari sumber suara lembut yang nyaris mirip dengan suaranya sendiri.

"Aku mempercayakan teman-teman kita padamu. Jaga mereka, jaga Kazune. Kau pribadi yang hebat. Kita berbeda. Kau bukanlah aku, percayalah pada hal itu!"

Lagi. Ia berdiri dan menatap sekeliling. Ia memang takut berat pada hantu tapi ia sama sekali tak merasa bahwa yang bicara padanya sekarang bukanlah hantu. Sesaat kemudian gadis itu menyadari sesuatu lalu tersenyum tipis. Ia menatap bunga krisan yang bergesekan dengan bunga lili dan kini malah bisa mendengungkan suara seperti suara piano yang terlalu lembut dan indah.

"Datanglah lagi kapanpun kau ingin. Aku akan mendengarkan."

"Ya," Karin meremas kedua tangannya sambil tersenyum lebar. Dan gadis itu melempar senyum keseberangnya dimana ia seperti bisa melihat pantulan dirinya sendiri tersenyum lembut dalam balutan sebuah gaun putih bersih—seperti seorang dewi, "Terimakasih banyak. Aku tahu aku harus bagaimana sekarang. Sampai jumpa Karin!" gadis itu tersenyum penuh arti lalu ia berlari kecil berlalu darisana.

Tap. Tap. Langkah kakinya berderap disepanjang jalan setapak. Malam ini ia seakan memiliki kekuatan baru. Ia yakin apa yang harus ia lakukan sekarang walau Karin yakin ia akan menyesalinya nanti.

"Karin?"

Langkahnya terhenti dan ia nyengir melihat sosok yang ia temui, "Hei Kazune. Mau menemui Karin? Ah ya, aku sudah menambahkan air dalam pot bunga krisan itu. Kuharap kau tak keberatan berbagi pot karena aku sama sekali tak menemukan sesuatu. Ini sudah gelap dan aku tak bawa—"

Dalam hitungan detik ia bisa merasakan lengan lelaki itu melingkari tubuhnya. Membawanya dalam sebuah pelukan hangat di malam yang masih menyisakan sisa-sisa kristal es yang terlalu tangguh untuk hilang dengan pancaran sinar matahari setiap paginya. "—senter..." Karin menyelesaikan ucapannya dengan nada ragu. Hatinya berdebar keras. Ini bukan perasaan takut yang ia alami saat bersama Jin tapi lebih ke perasaan nyaman dan terlidungi.

"Kazune?" ia bertanya, "Kau baik-baik saja? Kurasa kau jadi aneh sekali hari ini."

"Seorang gadis dengan nekad berkunjung ke makam seorang diri di malam hari. Lampu gerbang itu belum diperbaiki. Bagaimana kau bisa begitu berani?" Kazune balik bertanya dengan suara pelan. Karin tertegun lalu ia tertawa canggung saat pelukan itu terlepas.

"A-ah, begitu? Tentu saja, ehem, Hanazono Karin tentu saja berani menghadapi apapun!" tukas Karin agak bangga karena ia sadar bahwa ia sangat berani berkunjung ke tempat yang baginya tabu seorang diri di pukul tujuh malam pula tanpa penerangan apapun sebagai perbekalan. Benar kata Kazune. Lampu gerbang makam itu belum diperbaiki—agak konslet, "Kau tahu? Aku tidak bertemu hantu malah aku bertemu malaikat," ia nyengir sambil mengangkat tangan sebatas bahu membentuk tanda peace.

Kazune menghela napasnya, "Kurasa kau sudah menjadi lebih ceria lagi. Itu bagus. Ayo pulang untuk makan malam."

"Apa tak sebaiknya aku pulang ke apartemenku saja? Aku merepotkan kalian kalau begini caranya," ucap Karin saat mereka berjalan pulang. Kazune menggeleng.

"Kami tak keberatan sama sekali dan bagaimana kalau Jin Kuga itu masih menunggumu disana? Bisa jadi hal yang tak diinginkan terjadi untuk kedua kalinya dan mungkin lebih parah. Kau mau seperti itu heh?" ucapnya dengan tatapan datarnya itu.

Karin mengerucutkan bibirnya, "Kau menyumpahiku?"

"Bisa jadi."

Diam-diam gadis itu menggulum senyum tipis. Ini deja vu. Mereka pernah melakukan percakapan yang sama sebelumnya. Apakah ini yang Karin maksudkan? Haruskah ia mengatakannya malam ini? Kalau ya, bagaimana cara mengatakannya. Ini perasaan yang gila. Bisa-bisa Kazune meledeknya seharian besok. Bagaimana mungkin Hanazono Karin yang kasar, urakan, serampangan menyukai seorang pemuda—yang menurutnya—brengsek, cuek, angkuh, menyebalkan tapi ya sedikit tampan—Karin tak nyaman kalau harus menyebutnya tampan seutuhnya karena itu terdengar aneh dan ia sangat menghindari memuji orang.

Yah, mungkin nanti, pikirnya cuek lalu mengendikkan bahunya dan mereka berjalan pulang dalam keheningan sesudahnya.

.

.

Gadis itu menjatuhkan dirinya diatas ranjang halus itu dan mengelus perutnya kekenyangan. Ia makan tiga iris daging, satu sandwich, semangkuk besar sup, dan dua pudding sebagai makanan penutup. Ia menatap keluar jendela. Bulan purnama terlihat bersinar cerah mungkin hari sedang sanagt baik di belahan bumi lain yang siang. Ia tersenyum tipis melihat cahaya putihnya menembus gorden putih tipis yang terpasang di kamar bercat pastel itu. Gadis itu lalu meraba seprei lembut berwarna crimson yang menjadi alasnya sekarang.

"Berat rasanya saat orang yang kau suka memandangmu sebagai orang lain," gumamnya lalu beranjak keluar kamar menuju suatu tempat yang menjadi tujuannya. Tidak. Ia melakukan ini bukan karena disuruh Karin. Ini murni keinginannya. Ia yang berpikir dan ia yang memutuskan tindakannya itu benar atau salah. Ini nekad memang tapi setidaknya anggap sebagai balas budinya pada Kazune.

Tok. Tok. "Kujyou? Kau didalam?" tanyanya sambil mengetuk pintu itu. Tak ada jawaban dan Karin menghela napas. Mungkin memang tak ada di dalam. Ia bersiap berbalik untuk kembali ke kamarnya dan berjengit saat mendapati Kazune ada dibelakangnya yang juga tampak terkejut, "Kau mengagetkanku!" serunya tak terima.

"Aku baru akan memanggilmu," elak sang pemuda lalu melewati Karin dan membuka pintu kamarnya, "Ada apa? Ini sudah malam dan besok kita masih sekolah. Bagaimanapun, hari ini kau juga aneh, tak biasanya kau bersikap baik—biasanya kau selalu marah-marah setiap melihatku."

Karin meremas jari tangannya, "Karena aku harus mengatakan sesuatu. Tak mungkin seseorang meminta namun tetap bersikap buruk pada orang yang ia mintai itu."

"Lalu? Kau punya permintaan? Kalau soal tinggal disini, tinggalah selama yang kau mau," balas Kazune. Karin mengikuti langkah pemuda itu masuk kedalam kamar yang catnya sama seperti cat di kamar yang diberikan padanya selama hampir sebulan ini.

"Iie. Bukan itu. Kalau soal yang itu, aku sangat berterimakasih dan akan kupikirkan tapi ini soal lain—kuharap hanya kau yang tahu." Kazune mengangkat kedua alisnya. Ia berdiri di depan jendela besar berteralis di kamar itu yang menunjukkan sedikit pemandangan Tokyo di malam hari. Karin berdiri di belakangnya. Menimbang-nimbang haruskah ia mengatakan ini? Tapi ini yang Karin mungkin inginkan dan Kazune sangat merindukan gadis itu. Bisa jadi dengan mengambil alih peran Karin, Kazune akan sedikit lebih baik. "Kau merindukannya?" tanya Karin pelan.

"Setiap detiknya." Dan hatinya serasa mencelos seketika. Mungkin inilah saatnya mengambil keputusan tergila agar Kazune tidak seperti ini terus-menerus. Terpaku pada dunianya yang semu dimana ia masih terikat dengan semua kenangan-kenangan itu. Membuatnya sering melamun dan tidak fokus. Sifatnya yang dingin sejak awal membuatnya semakin terlihat dingin dan tak bisa didekati.

"Ka-kalau begitu—" Karin menaikkan nada suaranya. Berupaya agar terkesan ia tak menginginkan hal ini dengan perasaannya tapi balas budinya, "—kurasa aku harus memberimu imbalan ka-karena seluruh bantuanmu selama ini!" namun dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang begitu payah. Kazune melontarkan tatapan penasaran padanya. Karena ia sudah mulai, artinya ia harus mengakhiri ini semua. Jika sudah terciprat, masuk saja sekalian kedalam kubangan, "Kau merindukan Karin. Kukira karena wajahku sama dengannya maka kau akan sedikit terhibur!"

"Jadi?"

"Ja-jadi... etto... ja-jadilah p-pa-pa—ukh, aku harus mengtakannya—jadilah pacarku!"

Keduanya terdiam. Kazune menatap Karin tak percaya sementara Karin memalingkan wajahnya sok tak peduli padahal jantungnya seakan hampir melompat dari rongga rusuknya. Pipinya setengah memerah tapi ia bersyukur karena Kazune selalu mematikan lampunya saat akan tidur hingga suasana remang-remang. Hanya cahaya bulan yang masuk kedalam kamar yang terlalu besar untuk satu orang itu.

"I-ini... ini balas budi! Balas budi!" sambung Karin lalu menyilangkan tangannya dan berbalik. Dalam hati ia sedikit canggung karena Kazune masih terdiam menatapnya, "Ka-kalau tak mau ya sudah! I-ini hanya tawaran! Se-selamat malam!"

"Chotto. Kau tak bertanggung jawab sekali berkata seperti itu lalu pergi," suara dingin Kazune mengambil alih sehingga membuat Karin mendesah frustasi di ambang pintu karena ia sanagt ingin keluar darisana dan mengubur dirinya dalam-dalam sampai tak ditemukan.

"Yah, i-itu hanya tawaranku!"

"Begitu?" lelaki itu berjalan mendekati Karin hingga gadis itu harus mundur beberapa langkah bahkan sampai keluar kamar dan punggungnya menabrak dinding koridor dengan motif melingkar-lingkar berwarna perak yang cocok dengan warna dasar kremnya. "Kalau aku berkata 'Ya', apa yang akan kau lakukan?"

"Eh? Ja-jadi artinya... a-apa itu 'Ya'?"

"Hn. Menurutmu?"

"Aku pasti bermimpi. Kurasa aku jadi gila..."

.

.

.

.

.

TSUZUKU


No comment =="

Ini dah ngaret banget. Maapin ya m_ _m

Kalau jelek atau kalian punya pendapat, kritik bahkan flame, taruh aja di kotak review. Jujur aja, jangat sungkan. Saya menerima segala jenis review dari readers. Kehidupan RL membuat ini jadi ngaret. Oke, oke, maapin sekali lagi ya. Baik kekurangan fic dan author sendiri. Saya hanya manusia jadi ini belum sempurna dan masih harus terus belajar.

Nah, terimakasih buat yang sudah me-review Koiko Yurikawa, anaracchi, Videp hanazono, Takenomaru Hikari, Meirin Hinamori 16, Guest, shadow, dan Himeka Yuuzune. Yang login cek PM. Makasi banyak juga buat para silent readers, saya menghargai kehadiran kalian di fic ini.

Chapter 7 is updated! Segala macam pendapat diterima. No more bacot, mind to leave a review?

.

.

.

.

24 Feb. 14

Sincerely, Haruka Hitomi