Heart

.

.

.

.

Para pemeran hanya milik Tuhan dan Cho memintam nama mereka

Cast : DBSK, Ahra dll

Genre : Romance, Angst, Hurt, Death Chara, BL

Rating : M

Alur suka - suka, typos dan sangat berantakan

Kalo ga suka cepet - cepet klik X sebelum terlambat karena YunJae di ff Hurt tidak bersatu

.

.

.

.

.

.

" Ngghhh..."

Lenguhan itu keluar dari seorang namja cantik yang terkulai lemas diatas sebuah ranjang berwarna putih.

" Kau sudah bangun Joongie?"

" Yunie? Wae?" Lirihnya

" Jantungmu kambuh..."

" Aku... Aku ingin pulang"

Bukan tanpa alasan namja cantik itu mengatakan hal itu, kekasihnya Yunho bukanlah orang kaya yang bisa mendanai biaya rumah sakit. Untuk makan sehari - hari saja sudah sulit apalagi sampai dia masuk rumah sakit.

" Tidak, kau akan menginap disini malam ini" Ucap sang namja bermata musang dengan tegas

" Tapi..."

" Dengarkan aku Kim Jaejoong! Kau harus dirawat bagaimanapun caranya!"

" Yunie..."

Mata namja cantik itu berembun, tidak tega melihat kekasih yang sudah lima tahun bersamanya itu berusaha sangat keras untuk dirinya.

" Saranghae..." Lirih sang namja cantik

" Nado... Nado Saranghe, cepatlah sembuh Boo"

" Hmmm..."

" Tidurlah"

" Ne Yunie..."

Jung Yunho dan Kim Jaejoong, dari sekian banyaknya pasangan sesama jenis mereka salah satu pasangan yang benar - benar memprihatinkan. Kim Jaejoong mencintai sahabatnya yang tidak memiliki apapun karena Yunho berasal dari sebuah panti asuhan. Jaejoong diusir oleh keluarganya karena dengan lantang mengatakan hubungannya dengan Yunho tiga tahun yang lalu. Siapa yang mau anaknya gay?

Sedangkan Yunho, hanya lulusan sekolah menengah atas yang kerjanya serabutan. Dia, tidak bisa melanjutkan studinya karena harus mencari uang untuk kebutuhan Jaejoong. Terlebih obat - obatan yang diminum Jaejoong harganya tidaklah murah.

Tiga tahun mereka bersama dan akhir - akhir ini kesehatan Jaejoong benar - benar menurun. Yunho sendiri kebingungan untuk mencari uang biaya perawatan Jaejoong. Untunglah temannya, Yoochun dan Junsu membantunya walaupun mereka juga sama sulitnya dengan dirinya.

" Jangan tinggalkan aku Boo..." Lirih Yunho kemudian mengecup kening Jaejoong yang sudah tertidur pulas

Yunho kemudian berjalan keluar ruangan, dia berencana menemui dokter yang menangani Jaejoong. Shim Changmin.

Tok tok tok

" Masuk"

Yunho membuka pintu itu dan melihat seorang namja yang sebenarnya usianya tidak jauh beda dengannya, hanya berbeda tiga tahun lebih tua darinya duduk dengan tenang dikursinya.

" Silahkan duduk Yunho yah"

" Bagaimana?" Tanya Yunho setelah duduk dihadapan Changmin

" Kondisinya makin memburuk, kita harus cepat mencarikan donor untuk Jaejoong"

" Keunde... Berapa yang dibutuhkan untuk operasi jantung?"

Ssreett

Changmin memberikan selembar kertas pada Yunho, di dalam kertas itu tertulis rincian biaya untuk operasi Jaejoong dan itu membuat Yunho membulatkan matanya. Angka - angka itu sungguh fantastis! Dia tidak pernah menyangka biaya yang dibutuhkannya sangatlah besar.

Tapi...

Jika dia menyerah sekarang, bagaimana dengan Jaejoong? Apakah dia mampu bertahan tanpa adanya namja cantik itu disisinya?

" Aku akan berusaha mengumpulkan uangnya Changmin hyung" Yunho memang memanggil Changmin karena Changmin yang memintanya

" Aku harap kau bisa melakukannya sebelum terlambat"

" Ne"

Yunho keluar dengan lemas sembari memegangi kertas yang diberikan oleh Changmin padanya. Apa yang harus dia lakukan sekarang?

.

.

.

" Kau darimana hyung?"

Saat Yunho masuk kedalam ruang rawat Jaejoong, Junsu berada didalam ruangan itu. Dia tengah duduk dikursi tak jauh dari ranjang Jaejoong

" Ini" Yunho memberikan kertas yang dipegangnya pada Junsu dan tak lama namja gempal itu membulatkan matanya

" Mwo?! Mahal sekali?!"

" Aku harus mengumpulkan uang itu Su... Harus..."

" Hyungie..."

" Aku tidak mampu hidup tanpanya, aku mencintainya... Sungguh... Aku tidak mau kehilangannya Su" Mata Yunho berembun dan siap mengeluarkan air mata hanya saja Yunho masih menahannya

Tanpa mereka tahu namja yang tengah memejamkan matanya itu mengeluarkan airmata dan menyalahkan dirinya sendiri. Menyalahkan karena dirinyalah Yunho seperti ini, andai saja dulu dia tidak menyatakan cinta pada Yunho semua ini tidak akan terjadi.

.

.

.

" SELAMAT DATANG KEMBALI JOONGIE!" Pekikan riang itu berasal dari dua sahabat yang sudah menemaninya selama bertahun - tahun, Junsu dan Yoochun

" Terima kasih, kalian selalu memberikan kejutan untukku" Ucap Jaejoong yang masih memeluk lengan Yunho karena dia belum kuat berdiri

Setelah tiga hari dirawat, Jaejoong diperbolehkan untuk pulang. Dan saat sampai dirumah, Jaejoong disambut oleh kedua sahabatnya itu.

" Kami membuat makanan yah... Walaupun tidak seenak buatanmu, tapi... Cobalah"

" Terima kasih Suie" Ucap Jaejoong tulus

Yunho memapah kekasihnya itu menuju meja makan dan membantu Jaejoong untuk duduk. Yunho kemudian duduk disamping Jaejoong dan mereka menikmati makan malam hari itu.

Jaejoong memandang satu persatu sahabat dan terakhir dia memandang Yunho yang tengah bersenda gurau dengan Yoochun. Namja bermata musang itu benar - benar dia cintai, senyuman namja itu selalu membuatnya damai, mata kecil itu selalu membuatnya teduh, suaranya membuatnya merasa aman dan dalam dekapannya Jaejoong merasa terlindungi. Ingin rasanya Jaejoong menghabiskan seluruh waktunya sampai tua bersama dengan Yunho.

Tapi...

Apakah bisa dia menghabiskan waktunya hingga akhir hayat nanti bersama Yunho dengan keadaannya yang seperti ini?

Perlahan tangan Jaejoong menyentuh dada kirinya dan memejamkan matanya, penyakit bawaannya sejak lahir ini benar - benar mengganggunya. Dia bahkan tidak bersekolah seperti kebanyakan orang - orang lain. Jaejoong harus bersekolah dirumah dan waktunya tidak lama, hanya tiga jam sehari. Padahal dia sangat menyukai membaca dan mempelajari hal yang baru.

Sampai suatu ketika dipagi hari saat Jaejoong keluar untuk mengambil susu dia melihat seorang namja mengeluarkan dua botol susu kepadanya. Jaejoong bersumpah bahwa namja itu biasa saja namun dadanya bergetar. Mulai dari sana Jaejoong selalu bangun pagi atau bahkan menunggu namja pengantar susu itu datang. Dan akhirnya mereka dekat kemudian bersahabat. Mr. dan Mrs. Kim tidak keberatan Jaejoong berteman dengan Yunho karena mereka sama - sama namja.

Tapi mereka tidak tahu bahwa Jaejoong mempunyai rasa yang lain kepada Yunho. Jaejoong yang gampang marah saat Yunho asyik menceritakan teman - teman wanitanya, moodnya yang gampang turun jika sedang tidak bersama Yunho. Dan kehadiran Junsu serta Yoochun menyadarkan perasaannya, dia tidak bisa lagi memungkiri bahwa dirinya jatuh cinta pada sahabatnya.

Awal Jaejoong menyatakan perasaan, Yunho hanya diam karena dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia juga tidak mengerti bagaimana bisa Jaejoong memiliki perasaan itu padanya, Yunho pun menghilang selama seminggu.

Di saat itu, Jaejoong sakit karena selalu memikirkan Yunho. Dia dirawah dirumah sakit karena keadaannya yang melemah. Saat itu Yunho datang, menyatakan bahwa dirinya pun mencintai Jaejoong.

Dimulailah kisah mereka, hanya saja... Mereka menyembunyikan hubungannya, mereka tidak bisa membuat orangtua Jaejoong syok dan kecewa karena putra satu - satunya itu menyimpang. Adalah hal tabu jika namja mencintai seorang namja tapi... Setelah dua tahun menutupi, mereka ketahuan dan Jaejoong mengumumkan hubungannya didepan kedua orangtuanya.

Reaksinya?

Tentu saja syok dan tidak terima. Siapa yang mau anaknya menyandang status penyuka sesama jenis? Dengan angkuh Mr. Kim mengusir anak kesayangannya itu dengan hati yang sangat berat.

Setelahnya, Jaejoong hidup bersama Yunho di dalam flat Yunho yang sangat kecil namun dia bahagia tapi... Karenanya Yunho yang hidup sulit harus bertambah sulit karena dia harus membeli obat - obat yang dibutuhkannya belum lagi jika dirinya sakit, Jaejoong akan mengeluarkan banyak biaya.

" Boo? Waeyo? Kenapa memegang dadamu? Apa kau sakit?"

Jaejoong membuka matanya dan menatap teduh Yunho.

" Aniya"

" Kau pasti lelah! Ayo aku akan mengatarmu untuk tidur" Uvap Yunho kemudian bangkit

" Aku tidak mau tidur jika kau tidak disampingku"

Yunho menghela nafasnya lega, Junsu dan Yoochun memutuskan untuk pulang karena takut menganggu kebahagiaan sepasang kekasih itu. Setelah sepi, Yunho mengajak Jaejoong untuk masuk kedalam kamar dan berbaring setelah memakai piyama baby blue miliknya.

" Nah, kita tidur"

Yunho naik keatas tempat tidur single itu dan membungkus dirinya dan Jaejoong ke dalam selimut.

" Ne" Jawab Jaejoong kemudian melingkarkan tangannya keatas dada Yunho

" Aigo..." Yunho mengubah posisi tidurnya menjadi berhadapan dengan namja cantiknya itu

" Yunie ah..." panggil Jaejoong dengan lirih

" Ne?"

" Kita sudah lima tahun bersama tapi kau sama sekali tidak menyentuhku Yun..."

" Hmmm?" Jari Yunho menyelusuri wajah Jaejoong sedangkan Jaejoong menutup matanya dan menikmati sentuhan lembut sang kekasih " Sudah berapa kali aku katakan bahwa aku akan menyentuhku setelah kau resmi menjadi nyonya Jung?"

" Mwo? Kenapa nyonya Jung? Bukan kau saja yang berubah marga?"

" Hey siapa diantara kita yang uke?"

" Kita belum membuktikannya. Bisa saja kau yang mendesah dibawahku"

" Ya! Kau belajar dari mana kata - kata itu eoh?"

" Heheheheh" Jaejoong membuka matanya dan menatap dalam mata Yunho " Hanya tahu dari orang yang aku kenal"

" Aigo... Besok aku akan menghukumnya" Ucap Yunho yang tahu itu ulah siapa

" Yunie ah..."

" Hmmm?"

" Yunie..."

" Ne Boo?"

" Yunie..."

" Kau sedang menggodaku eoh?"

" Aniya... Aku hanya ingin terus memanggilku selama yang aku bisa. Aku ingin kau menyentuhku sebelum aku tidak bisa merasakannya Yun..." Lirih Jaejoong dan wajahnya terlihat sangat menyedihkan

" Kenapa kau berkata seperti itu?" Yunho menangkup pipi kanan Jaejoong " Aku tidak akan membiarkan siapapu memisahkanmu dariku Boo..." Ucap Yunho sungguh - sungguh

" Aku... Aku takut bear... Aku takut tidak bisa lagi memelukmu, merasakan kehadiranmu disisiku"

" Tidak"

Yunho mencuri satu kecupan dair bibir Jaejoong dan kemudian memeluk erat Jaejoong.

" Aku milikmu, selamanya. Kau bisa terus merasakan kehadiranmu kapanpun kau mau!"

" Aku sangat mencintaimu Yunie..."

" Aku lebih mencintaimu"

Yunho mengecupi puncak kepala Jaejoong dan tangannya mengelus pundak namja cantik itu. Memberikan kenyamanan yang setiap hari Jaejoong dambakan. Yang Yunho tahu, Jaejoong sudah mendengkur halus saat dia kembali membuka matanya dan menatap teduh Jaejoong. Salahnya membiarkan Jaejoong ada di sampingnya, andai saja dia menolak Jaejoong mungkin namja itu tidak akan seperti ini

" Aku selalu mencintaimu" Lirih Yunho dan akhirnya mereka berdua terlelap dalam rasa lelahnya.

.

.

.

" Hah..."

Yunho mendesah pelan, dia tengah memegang sebuah amplop putih berisikan gajinya bulan ini. Dia duduk di bangku taman yang cukup panjang untuk di duduki oleh tiga orang. Untuk Yunho, Jaejoong adalah prioritas utamanya. Tidak apa - apa jika dia makan hanya sekali dalam sehari, tapi dia tidak bisa membiarkan obat - obatan Jaejoong habis. Tapi...

Pekerjaannya sebagai pelayan dan menjaga pom pensin waktu malam juga pengantar susu dan koran di pagi hari benar - benar belum bisa memenuhi kebutuhannya.

" Apa yang harus aku lakukan..."

Yunho mengacak rambutnya kasar, apa yang harus dilakukannya agar dia bisa membayar biaya yang akan keluar selanjutnya. Jaejoong harus segera menerima pengobatan dan terapi yang baik agar tidak terlambat. Tidak, Yunho tidak akan membiarkan semuanya terlambat.

" Oh? Kau Yunho bukan?"

Yunho mendongakkan kepalanya, di depannya berdiri seorang wanita memakai tanktop serta short pants, benar - benar pendek. Yeoja itu terlihat manis dengan make up yang cukup tebal di siang hari.

" Nugu?" Tanya Yunho bingung

" Aku Ahra! Teman sekelasmu dulu saat sekolah!"

" Ahra..." Yunho mencoba mengingat yeoja di depannya kemudian dia membulatkan matanya " Go Ahra?"

" Ne! Kau kemana saja eoh?!"

Yeoja bernama Ahra itu kemudian duduk disamping Yunho dan tersenyum manis.

" Aku? Bekerja tentu saja" Jawab Yunho

" Kau bekerja?! Kau sahabatku tapi aku malah tidak tahu kabarmu sejak lulus sekolah!"

" Mianhae... Aku..." Ucapan Yunho terhenti, dia tidak tahu apakah dia bisa menceritakan kehidupannya pada Ahra atau tidak " Aku..."

" Baiklah kalau kau tidak mau bercerita denganku! Tapi, jangan sampai hilang kontak lagi denganku" Ucap Ahra lalu matanya memandang amplop putih yang sedang dipegang oleh Yunho " Kau... Dipecat?" Tanyanya

" Hah..." Yunho menghela nafasnya, dia memang tidak bisa berbohong pada sahabatnya yang satu ini " Sebenarnya..."

Akhirnya Yunho menceritakan masalahnya pada Ahra, yeoja itu gadis yang baik. Dia mendengarkan semua cerita Yunho sampai selesai.

" Hah... Sulit juga ya..." Lirih Ahra " Tapi aku tidak menyangka kau akan bersama seorang namja Yun"

" Aku juga tidak menyangkanya, yang aku tau aku sudah jatuh padanya terlalu dalam saat itu"

" Yun ah... Aku..." Ahra menggigit bibir bawahnya, dia bisa membantu Yunho tapi...

" Ne?"

" Apa kau butuh kerja sampingan lain?"

" Apa kau punya?" Tanya Yunho

" Aku punya hanya saja... Pekerjaan ini bisa menyakiti Jaejoong sshi nanti"

Yunho memandang Ahra tidak mengerti, sampai akhirnya Ahra membuka suara barulah Yunho mengerti.

.

.

.

.

.

Ceklek

" Aku pulang"

" Oh Yun! Kau akhirnya pulang"

Jaejoong menghampiri Yunho yang sudah seminggu ini pulang larut. Dengan sigap namja itu mengambil tas selempang milik Yunho dan menggandeng namja itu sampai kamar.

" Kau mandilah, aku sudah membuatkan makan malam untukmu"

" Hum" Yunho mengangguk dengan wajah lelahnya

" Jangan memaksakan dirimu bear" Lirih Jaejoong dengan tangannya yang mengelus pipi Yunho

Yunho menyambut elusan itu dengan senyuman, dia paling suka ketika Jaejoong memanjakannya seperti ini.

" Tidak, aku tidak pernah memaksakan diriku Boo"

Cup

Satu kecupan Yunho curi dari bibir Jaejoong yang menggoda itu. Setelahnya Yunho masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Jaejoong sendiri membereskan jaket Yunho, dia membawanya samping kamar mandi agar dia bisa mencucinya esok hari.

Jaejoong merogoh kantung - kantung jaket itu, dia tidak ingin ada kertas atau pun benda berharga ikut tercuci.

" Apa ini?"

Jaejoong membuka lipatan kecil itu dan matanya membulat saat melihat apa yang digenggamnya.

" Kau... Pergi dengan siapa Yun?" Lirih Jaejong

Digenggamannya terdapat dua buah tiket bioskop dengan tanggal hari itu juga. Pikiran Jaejoong langsung kemana - mana, dia sangat takut Yunho akan meninggalkannya. Tapi...

Yunho juga namja yang sehat, dia nantinya akan pergi juga saat dirinya meninggal... Benar bukan?

Ceklek

Saat masih sibuk dengan pemikirannya pintu kamar mandi itu terbuka dan menampakkan Yunho hanya menggunakan celana pendek untuk tidur, dia juga tengah mengeringkan rambutnya.

" Kau pegang apa?" Tanya Yunho

" A-ah, tidak Yun..."

Namun saat Jaejoong mengatakannya, tiket bioskop itu jatuh kelantai, Yunho mendekat dan memungut tiket itu.

" Ah, jangan salah paham Boo... Ho Jun meminjam jaketku untuk menutupi kemeja putihnya yang terkena cola" Jelas Yunho

" Dia pergi ke bioskop?" Tanya Jaejoong, dia kenal siapa Ho Jun. Teman Yunho di cafe

" Ne" Yunho duduk diatas tempat tidur dengan tangannya masih mengacak rambut basahnya " Dia ingin pergi dengan seseorang yang dekat dengannya"

" Nugu?" Jaejoong ikut naik ke atas tempat tidur dan duduk dibelakang Yunho kemudian membantu namja itu mengeringkan rambut basahnya

" Mola, Ho Jun belum bercerita. Aku juga sama penasarannya denganmu"

.

' Kau berbohong Yun...'

.

' Maafkan aku Boo...'

.

.

.

Jaejoong tidak mengerti kenapa sekarang Yunho dengan mudah menyediakan biaya untuk pengobatannya. Kali ini Jaejoong tengah menunggu Yunho yang sedang mengambilkan obat untuknya di rumah sakit. Dia mellihat Yunho tengah berbicara dengan sang apoteker.

Yunho membalikkan tubuhnya dan tersenyum pada Jaejoong yang tengah menunggunya. Dia berlari kecil menuju Jaejoong dan menarik pelan pergelangan tangan Jaejoong.

" Kajja, sudah selesai"

" Ne" Lirih Jaejoong

" Wae? Kenapa kau lemas sekali? Apa yang kau rasakan? Apa ada yang sakit?" Tanya Yunho kemudian menghadapkan tubuh Jaejoong ke depannya

" Ani, aku hanya lemas dan... huummm..."

" Ne?"

" Bolehkan aku makan eskrim hari ini?" Tanya Jaejoong dengan puppy eyes miliknya

" Hmmm..."

" Ayolah Yunniieee~ Aku sudah dua bulan tidak makan es krim" Rayu Jaejoong kemudian menggoyang - goyangan lengan sang kekasih

" Aish! Aku tidak pernah menang melawanmu jika sudah seperti ini" Yunho mencubit gemas hidung Jaejoong

" Ughh!" Jaejoong mempoutkan bibirnya namun kemudian menarik lengan Yunho dengan cepat hingga membuat Yunhho berpikir Jaejoong tidak sabar untuk memakan es krim

Padahal... Jaejoong mendengar bisikkan yang sangat mengusik pendengarannya dan dia tidak Yunho mendengarnya.

' Meraka gay?'

' Menjijikkan'

.

.

.

" Mashita!" Jaejoong terpekik girang setelah menelan satu sendok es krim vanilla kesukaannya

Yunho terkekeh melihat, dia sangat senang Jaejoong bisa tersenyum riang seperti itu. Astaga... Tidak apa - apa jika dia harus bolos bekerja asalkan bisa melihat senyumm malaikatnya itu. Ngomong - ngomong soal pekerjaan, Yunho mendadak menjadi murung. Bagaimana bisa dia menjelaskan semuanya pada Jaejoong nanti?

" Yunie?" Panggil Jaejoong

" E-eh? Maaf aku melamun. Apa kau sudah puas memakan es krimmu itu hmmm?"

" Ughh... Kau tahu sendiri bahwa aku sangat menyukai es krim! Satu scoop mana cukup untukku!"

" Hahahahah... Kau ingat apa kata dokter kan? Kau tidak boleh makan eskrim"

" Ugh... Arasseo arasseo! Kau sama saja dengan dokter jangkung itu!"

" Tapi aku lebih tampan bukan?"

" Tidak! Weq!" Jaejoong memeletkan lidahnya dihadapan Yunho

" Aigoo... Aku ke toilet sebentar ne? Habiskan dan kita akan segera pulang"

" Ne~"

.

.

.

" Dimana Yunie bear itu? Sudah sepuluh menit dan dia belum kembali?"

Jaejoong menggerutu kesal karena Yunho belum juga kembali dari toilet sejak sepuluh menit yang lalu. Jaejoong sekarang ingin menyusul Yunho ke kamar mandi. Dia berdiri dan berjalan menuju toilet restoran itu namun langkahnya terhenti sebelum belokkan ke toilet. Jaejoong menyandarkan tubuhnya pada dinding itu saat mendengar seseorang yang dia kenal tengah berbicara dengan seorang yeoja.

" Jadi Yun..." Ucap yeoja itu disertai nada super manja

" Hum, aku akan menemuimu pukul satu siang ditempat biasa akhir pekan ini"

" Baiklah aku tunggu ne"

" Ne"

Deg

Jantung Jaejoong seakan berhenti, tidak... Dia tidak ingin semua pikiran negatifnya menjadi kenyataan. Sadar akan tempatnya, dia segera berjalan ccepat menuju tempat duduknya. Dia tidak ingin Yunho tahu bahwa dia mengikutinya sampai ke toilet.

" Maaf aku lama di kamar mandi" Ucap Yunho

" E-eoh? Gwaenchana"

" Ayo pulang, kau terlihat sangat pucat Boo"

" N-ne"

Yunho merangkul pundak Jaejoong hal yang sering dilakukannya walaupun banyak orang yang melihat kearah mereka. Yunho hanya ingin menunjukkan bahwa dia tidak malu dengan statusnya yang memiliki kekasih berjenis kelamin sama.

.

.

.

" Kenapa melamun Joongie?"

Jaejoong menolehkan kepalanya, dia melihat Junsu tengah duduk berdampingan dengannya. Mereka berada diflat Yunho. Yoochun dan Yunho baru saja berangkat untuk bekerja.

" Ani Suie..." Jawab Jaejoong dengan lirih

" Waeyo~"

Jaejoong menatap sahabatnya itu, Junsu tengah merengut karena tidak mendapatkan jawaban dari Jaejoong.

" Su..." Panggil Jaejoong

" Ne?"

" Aku... Aku merasa Yunie menyembunyikan sesuatu"

" Mwo? Apa yang dia sembunyikan?"

" Ak-aku tidak tahu dan takut untuk mengetahuinya"

" Kenapa berkata seperti itu?"

" Aku hanya merasa Yunie berbeda setiap berangkat bekerja"

" Hmm?"

" Sudah tiga minggu ini dia berhenti bekerja malam menjaga pom bensin"

" Alasannya untuk menjagamu dimalam hari bukan?" Terang Junsu

" Ne, tapi... Bagaimana dia bisa membeli obatku dengan penghasilannya bekerja di kafe?"

" Tunggu..." Junsu menatap jaejoong " Kau mengira Yunho mengerjakan hal lain?"

" Mola Su, aku bahkan menemukan tiket bioskop pada jaket Yunie. Dia mengatakan bahwa Ho Jun meminjam jaketnya untuk pergi berkencan"

" Ho Jun?" Junsu mengerutkan keningnya

" Ne..."

" Tapi, Ho Jun sudah tidak bekerja di kafe sejak satu bulan yang lalu Joongie, dia pindah ke Jeju"

" M-mwo?"

Keringat dingin mengalir dari pelipis Jaejoong, tangan kanannya meremas tangan kiri dengan erat. Kejadian itu berlangsung tiga minggu yang lalu, apa benar yang dikatakan oleh Yunho? Apa Yunho berbohong padanya?

Degh

Jaejoong langsung teringat tentang percakapan singkat Yunho dengan seorang yeoja. Apa... Apa mungkin Yunho tengah bersama yeoja itu sekarang?

Nafas Jaejoong menderu, dan jantungnya mulai bekerja lebih cepat. Keadaan ini tidak baik untuknya dan Junsu yang menyadarinya langsung menyentuh pundak Jaejoong.

" Joongie yah... Tenanglah, atur nafasmu" Ucap Junsu mencoba untuk tidak ikut panik

" S-su, se-sesak"

" Joongie ah, ingat perkataan dokter! Kau tidak boleh panik. Tenang, ambil nafas dan buang perlahan"

" H..Hah..."

" Tenang Joongie, kau harus rileks"

" S-su"

Grep

Jaejoong memeluk Junsu, dia benar - benar takut saat ini.

" Shhh... Tenanglah Joongie... Kita akan bertanya dengan baik - baik pada Yunho saat dia pulang kerja nanti"

" Aku... Aku takut Su, aku takut Yunho meninggalkanku dan menjalin hubungan dengan yeoja sebelum aku meninggal" Jaejoong mulai terisak

" Mwo?" Junsu melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Jaejoong " Siapa yang akan meninggal?! Aku, Yunho dan Yoochun tidak akan membiarkan hal itu! Lebih baik kau lupakan hal konyol itu Joongie"

Mau tak mau mata Junsu berembun mendengar perkataan sahabatnya itu, dia tidak mau sang sahabat berkata seperti itu. Sebisa mungkin dia dan kekasihnya akan membantu Jaejoong melewati penyakitnya itu.

" A-aku takut hiks..."

" Tidak, tidak ada yang harus kau takuti" Junsu menghapus air mata Jaejoong kemudian tersenyum " Kau akan baik - baik saja! Dari pada kau galau begini, bagaimana jika kita berjalan - jalan? Sudah lama kita tidak berjalan - jalan berdua saja bukan?"

" Su..." Lirih Jaejoong kemudian mempoutkan bibirnya

" Bibirmu itu tidak mempan padaku, ayo kita bersiap dan berjalan - jalan!" Seru Junsu kemudian menarik pelan Jaejoong yang sudah mulai tenang

.

.

.

.

" Whoooaaa...! Aku akan meminta pada Chunie untuk membelikan boneka bebek itu!" Seru Junsu saat melihat sebuah boneka bebek setinggi dirinya

" Jangan Suie!"

" Wae?"

" Nanti Chunnie malah lebih sayang pada boneka montok itu dari pada bokongmu Su Hahahahahaha"

" Ya!" Junsu mencubit gemas pipi Jaejoong

Mereka sudah satu jam berjalan - jalan didalam mall dan kini mereka berjalan - jalan di taman yang ada disekitar mall itu. Junsu bersyukur Jaejoong bisa cepat melupakan kesedihannya itu.

" Eoh?!"

" Mw-"

Degh!

Jantung Jaejoong seakan terbelah menjadi dua, dihadapannya...

Dihadapannya, berdiri sepasang yeoja dan namja tengah berciuman. Tangan yeoja itu seakan tengah menarik kemeja yang dikenakan oleh sang namja agar lebih mendekat.

" S-su... Ak-aku mau pulang..." Ucap Jaejoong terbata kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan airmata mengalir pada kedua sisi wajahnya

" Brengsek!"

Junsu menghampiri namja itu, menarik lengannya dan... Kejadian itu terjadi begitu saja, namja itu jatuh saat Junsu memukulnya dengan keras.

" Brengsek kau Jung Yunho"

Degh!

Mata Yunho membulat, di depannya Junsu berdiri dengan bertolak pinggang. Wajah Junsu sangatlah merah menahan marahnya.

" J-Ju..."

" Jangan sebut namaku!"

" Yun! Gwaenchana?!" Yeoja itu berjongkok dan memeriksa keadaan Yunho

" Bajingan brengsek!"

Junsu meninggalkan begitu saja Yunho dan yeoja yang kini tengah mengkhawatirkannya. Junsu berlarian mencari keberadaan Jaejoong, dia tidak ingin sahabatnya itu melakukan hal macam - macam sekarang.

" Joongie!" Pekik Junsu, dia menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari keberadaan Jaejoong " Hosh... Hosh..."

Kaki Junsu terhenti saat melihat seorang namja menundukkan kepalanya disebuah halte bus yang sepi. Junsu berjalan dan kemudian duduk disamping namja itu dan memeluk namja itu -Jaejoong- dari samping.

" Joongie ah, ayo pulang..." Lirih Junsu

Jaejoong hanya mengangguk dalam pelukan Junsu.

.

.

.

.

" Sungguh aku tidak tahu bahwa Yunho berselingkuh!" Yoochun memekik karena Junsu menuduhnya saat dia baru saja pulang kerja

" S-sudahlah Su hiks..." Ucap Jaejoong

" Tidak Joongie! Dia benar - benar kurang ajar"

" Hiks..."

Ceklek

Yunho memasuki flatnya dengan wajah pasrah, ya... Dia tahu bahwa dia akan terkena akibatnya. Jaejoong pasti akan mengetahui apa yang dia perbuat lambat laun dan inilah saatnya. Jaejoong mendongakkan kepalanya dan melihat wajah Yunho yang cukup berantakan. Jaejoong kemudian berdiri dan berjalan kearah Yunho.

" Wae? Kenapa kau lakukan itu..." Lirih Jaejoong

" Jo-joongie biar aku jelaskan..."

" Tidak bisa kah aku menungguku mati baru kau mencari penggantiku? Wae?"

" Boo! Jangan katakan kata laknat itu!"

" Untuk apa aku hidup jika... Jika tujuan hidupku sudah berpaling?! Katakan!"

" Boo! Bukan begitu!"

Plakk

Jaejoong menampar wajah Yunho yang baru saja meninggikan suaranya. Benci, kecewa dan marah bercampur menjadi satu dalam otaknya. Bagaimana Yunho bisa setega ini dengannya.

" B-boo... Ku-kumohon dengarkan aku" Yunho memelankan suaranya

Dibelakang mereka Yoochun tengah memeluk erat Junsu agar namjachingu-nya itu tidak maju untuk menghajar Yunho. Yoochun pun penasaran kenapa bisa sampai Yunho melakukan hal itu.

" Ak-aku juga tidak tahu kalau dia akan menciumku" Jelas Yunho

" Kau pembohong!"

" Tidak Boo, aku tidak berbohong"

" Lalu, kenapa kau keluar dari pekerjaanmu eoh?!"

" Ka-kau tahu..."

" Aku meminta Yoochun untuk menelepon kafe tempatmu bekerja dan pegawai disana berkata kau sudah tidak bekerja disana sejak dua minggu yang lalu"

" Boo..."

" Lalu... Lalu bagaimana bisa kau menghidupiku dua minggu ini JUNG!" Jaejoong mulai berteriak, emosinya terasa tidak stabil. Yunho mencengkram erat kedua pundak Jaejoong

" Joo-joongie... Maafkan aku..." Ucap Yunho terbata

" Mwo? Apa yang bisa kau jelaskan eoh?!"

" Aku... Maafkan aku, aku... Memang berkencan dengan yeoja itu" Lirih Yunho

Aiir mata Jaejoong mengalir lebih deras, apa... Apa ini akhir dari hubungannya dengan Yunho? Junsu dan Yoochun membulatkan matanya, jadi sahabatnya ini menduakan Jaejoong? Kenapa?

" Demi uang"

Jaejoong mendongakkan kepalanya, menatap Yunho penuh kesedihan. Apa yang dikatakan Yunho tadi?

" Aku berkencan dengan yeoja - yeoja untuk mendapatkan uang dan itu pekerjaanku sejak tiga minggu yang lalu. Aku bekerja seperti itu agar bisa menabung untuk biaya operasimu Boo" Jelas Yunho kemudian tangannya mencoba menyentuh wajah Jaejoong tapi ditepis oleh Jaejoong

" Jadi... Kau membiayai dengan menjual dirimu?" Tuduh Jaejoong

Jaejoong memundurkan tubuhnya saat itu juga, dia tidak habis pikir bahwa Yunho sampai menjual tubuhnya untuk membiayainya.

" Boo…" Suara Yunho seakan tercekat saat melihat wajah Jaejoong yang sangat pucat saat ini

" Jangan mendekat" Peritah Jaejoong, Junsu dengan sigap melepaskan pegangan Yoochun padanya dan memeluk Jaejoong

" B-boo…"

" Bahkan kau tidak menyentuhku karena alasan kita belum menikah. Ap-apa aku benar – benar merepotkanmu?"

" Ti-tidak Boo, kau salah paham! Aku tidak tidur dengan mereka. Ak-aku hanya menjual waktuku untuk menemani mereka yang kesepian. Aku tidak menjual tubuhku" Jelas Yunho

" Tapi kau menciumnya"

" Tidak, aku tidak pernah mau mencium selain dirimu. Yeoja itu tiba – tiba mendekat dan menciumku Boo" Jelas Yunho dengan sejujur – jujurnya

" Hiks… Tidak… kau berbohong!"

" Aku tidak berbohong Boo…"

Tap

Yunho berhasil mendekat pada kekasihnya itu dan menyentuh lengan Jajeoong yang memegang erat tubuh Junsu.

" B-boo… Maafkan aku"

" Hiks… Aku… Aku lebih baik mati dari pada kau membiayaiku dengan hasil pekerjaanmu itu Jung Yunho!"

" BOO!"

" JOONGIE!"

Tidak hanya Yunho yang memekik tapi juga Junsu dan Yoochun. Mereka paling tidak suka jika Jaejoong sudah berkata tentang kematian. Yunho telah bersumpah apapun yang terjadi Jaejoong akan menjadi prioritas utamanya dan tidak akan membiarkan namja itu meningga terlebih dahulu sebelum dirinya.

" Hiks…"

DEGH

Jaejoong menyentuh dada kirinya, dia bisa merasakan kerja jantungnya saat ini sangatlah cepat. Andwe…

" Joongie!" Junsu panik karena Jaejoong mulai memejamkan mata dengan tangan meremas dada kirinya belum lagi pelipis Jaejoong mulai berpeluh

" Boo…" Yunho dengan berani mengambil alih Jaejoong dari peukan Junsu dan menyibak poni Jaejoong " Boo… kau… Kau sakit lagi… Kita akan ke rumah sakit sekarang, bertahanlah Boo…"

" Tidak, aku…. Hah… Hah… Tidak mau… Jika kau.. Memakai uang harammu itu"

" B-boo…"

" Yun, kita tidak memiliki waktu! Ayo" Junsu langsung berlari kearah pintu bersama Yoochun, dia bertindak masa bodo pada ucapan Jaejoong itu

" Ne!" Yunho mengangguk mengerti dan menggendong Jaejoong

.

.

.

.

" Kau membuatnya syok Jung! Kau pikir apa yang kau lakukan sampai Jaejoong seperti itu!" Ucap Changmin sedikit kesal, pasalnya belum lama ini Jaejoong kambuh dan sekarang sudah kambuh kembali

" Ma-maafkan aku"

" Minta maaflah pada Jaejoong, dia yang mengalami syok. Dan Yun…" Changmin menatap Yunho, Junsu dan Yoochun yang duduk di dalam ruangannya

" N-ne?"

" Kita harus menemukan donor secepatnya, jantung Jaejoong sudah sangat rusak dan tidaklah kuat lagi"

Yunho membeku mendengar perkataan Changmin, tidak… Jaejoong tidak akan kemana – mana. Namja cantiknya itu akan sehat dan bisa bersama dirinya selamanya!

" Berapa lama waktunya?" Tanya Junsu dengan nada lirihnya

" Aku tidak bisa memastikan. Tapi dengan kejadian seperti ini… Aku memprediksinya satu atau paling lama dua bulan lagi"

Yunho tidak bisa berkata – kata lagi. Dia bungkam dan pikirannya sangatlah kacau.

.

.

.

Ceklek

Yunho membuka pintu kamar rawat itu dengan pelan, dia melihat seorang namja cantik tengah berbaring dengan damai diatas ranjang rawat itu. Yunho mendekat dan duduk disamping ranjang itu, menggenggam tangan Jaejoong yang selalu dapat membuatnya tenang dan mengecup punggung tangannya.

" Boo, apa yang harus aku lakukan, aku sungguh tidak sanggup kehilanganmu. Maafkan aku"

Yunho mengecup kembali punggung tangan itu dan bangkit, dia memeluk Jaejoong dan mengecup kening namja kesayangannya itu.

" Ngghh…"

" Kau sudah bangun hum?"

" …."

" Kau haus?"

" …."

Lagi, hanya keheningan yang menjawab pertanyaan Yunho. Yunho tahu bahwa Jaejoong masih marah padanya. Lihat saja tatapan datar yang diberikan jaejoong padanya.

" Maafkan aku… Aku sungguh minta maaf karena sudah melukai hatimu"

Tes

Tes

Tes

Jaejoong membulatkan matanya saat melihat airmata Yunho mengenai wajahnya, Yunho yang selalu tegar itu tengah menangis untuk mendapatkan maaf darinya. Mata Jaejoong ikut berkaca – kaca.

" Maafkan aku Boo… Jeongmal… Aku mohon jangan diamkan aku... Aku menyesal Boo"

GREP

Yunho memeluk Jaejoong dan terisak pada pundak namja yang tengah berbaring itu.

GREP

Tangan kiri Jaejoong naik dan mengelus pundak Yunho untuk menenagkan namja bermata musang itu. Dirinya sangat tahu bahwa ini semua adalah karena dirinya juga. Dia yang sudah membuat Yunho mengambil keputusan untuk mengambil pekerjaan itu. Karena penyakitnya, Yunho harus menanggung beban seberat ini. Yunho melepaskan pelukannya dan menatap dalam Jaejoong, satu kecupan menenai bibir Jaejoong dan Yunho kembali mengecupnya.

" Maafkan aku, saranghae Boo…"

" Jangan bertindak bodoh lagi Yun… Aku tidak bisa membayangkan yeoja itu memegang tangan yang harusnya hanya aku yang memegangnya, merasakan kehangatan pelukanmu dan menikmati wajah tampanmu"

" Cukup aku yang menangis Boo, kau harus tersenyum bahagia" Yunho menghapus airmata yang mengalir pada wajah Jaejoong " Ini kesalahan fatal untukku dan aku akan memperbaikinya"

" Berjanjilah untuk tidak melakukan hal bodoh lagi bear"

" Ne, aku berjanji"

Yunho mendekatkan wajahnya pada Jaejoong menciumnya penuh kelembutan, dalam… dan semakin dalam ciuman itu pada Jaejoong.

.

.

.

.

.

Yunho meremas rambutnya dengan keras, apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Dia sudah tidak bisa bekerja di kafe dan hanya bisa bekerja sebagai penjaga pom bensin juga mengantarkan susu dan Koran dipagi hari. Itu tidak akan cukup untuk mencari dana untuk operasi Jaejoong yang jangka waktunya hanya sedikit lagi.

Yunho berjalan lemas kearah ruangan Jaejoong, sudah dua hari ini Jaejoong dirawat dan belum ada kemajuan, jantungnya sudahlah sangat rusak sehingga pemulihan tubuh Jaejoong sangatlah lama sekarang.

Tiba – tiba Yunho menolehkan kepalanya melihat seorang suster mendorong sebuah ranjang rawat yang diatasnya terlihat seorang gadis tengah menahan sakit. Seorang ahjusshi berdiri disamping gadis itu, berusaha menenangkan, sepertinya dia adalah anak dari ahjusshi itu.

" Dokter, tolong anakku, aku akan membayar berapa saja agar dia sembuh"

Yunho langsung berpikiran bahwa ahjusshi itu pastilah sangat kaya karena bisa berkata seperti itu. Andai dirinya sekaya itu dia pasti bisa juga berkata seperti itu. Yunho kemudian melanjutkan langkahnya.

" Kami membutuhkan donor ginjal untuknya!" Ucap salah satu dokter

" Carikan, aku akan membayar berapapun!"

Langkah Yunho langsung terhenti dan menoleh, ahjusshi itu tampak sangat panik dengan eringat mengucur pada pelipisnya. Yunho menggigit bibir bawahnya. Dia sempat mendapat ide bagaimana bisa di melindungi Jaejoong. Jika dia bisa membayar donor jantung belum tentu juga dia bisa membayar operasi Jantung yang akan di lakukan oleh Jaejoong. Tapi jika dia berhasil mendapatkan uang untuk biaya operasi Jaejoong belum tentu juga dia bisa mendapatkan donor yang pas untuk Jaejoong.

Yunho tidak boleh berpikir terlalu lama karena waktu terus berputar. Dengan langkah gemetar Yunho berjalan menghampiri ahjusshi itu dan membuka suaranya, membuat sang ahjusshi langsung membulatkan matanya.

" Aku bisa mendonorkan ginjalku, tapi dengan satu syarat…."

.

.

.

.

" Kau gila!" Pekik Junsu

" Walaupun berhasil bagaimana dengan Jaejoong nantinya? Apa dia bisa menerima semua ini?" Ucap Yoochun yang tidak terima dengan keputusan sepihak Yunho

Mereka bertiga tengah bermusyawarah dengan Changmin didalam ruangan dokter muda itu.

" Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus semuanya, aku berjanji melindunginya dan aku akan melakukan ini semua untuk melindunginya" Ucap Yunho dengan penuh keyakinan

" Yu-yunho yah…" Junsu membekap mulutnya

Dia sangat tahu bagaimana perjuangan keduanya menghadapi semua ini, tidak ada restu dari keluarga Jaejoong adalah factor utama yang membuat Yunho tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak selama ini. Dengan kekuasaannya, mereka memblokir Yunho dari semua perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan keluarga Kim hingga Yunho hanya bisa menjadi pelayan kafe.

Dan setelah mendengar rencana Yunho, Junsu piker ini gila! Mana bisa Yunho memikirkan cara itu untuk Jaejoong?

" Apa kau serius?" Changmin menatap dalam mata Yunho

Yunho memejamkan matanya, dia membayangkan bagaimana Jaejoong tengah tersenyum padanya, memanggil namanya dan berlari bebas ditaman.

" Ya, aku akan melakukannya"

" Jika hasil pemeriksaannya negatif kau harus mundur dan melupakan ide gilamu itu" Ucap Changmin bersungguh - sungguh

" Ne"

.

.

.

.

Jaejoong menolehkan kepalanya saat mendengar pintu kamar rawatnya dibuka, Yunho berdiri disana menggunakan sweater berwarna hitam kesayangannya. Hadiah dari Jaejoong setahun yang lalu. Jaejoong sudah boleh pulang ke rumah setelah dirawat selama tujuh hari dan dia memang sedang menunggu Yunho menjemputnya.

" Sudah siap?"

" Tentu saja, aku sungguh merindukan flat tempat kita tinggal tahu!" Jaejoong mempoutkan bibirnya

Cup

Yunho yang gemas langsung mengecup Jaejoong, membuat namja cantik itu menariknya dan memeluk Yunho dengan erat. Jaejoong sangat merindukan namja Jung itu walaupun kemarin malam namja itu menjaganya.

" Aku sangat merindukanmu Yunie…"

" Aigoo… Manjamu kambuh hum? Kajja kita pulang dan lihat kejutan untukmu"

" Mwo?" Jaejoong melepaskan pelukannya dan menatap Yunho " Apa Junsu membuatkan pancake rasa anggur lagi bear? Aku tidak mau" Jaejoong mempoutkan bibirnya saat ingat bahwa Junsu sering membuatkannya pancake dengan berbagai rasa

" Ani, kali ini lebih special!"

" Mwo? Wae?"

" Karena aku yang akan memberikan kejutannya"

" Jinjja?"

" Ne"

" Kalau begitu ayo pulang!"

Yunho memegangi lengan Jaejoong karena namja itu masih lemas, mereka berjalan keluar ruangan dan berhenti saat Changmin menghampiri mereka.

" Annyeong Changmin hyung" Sapa Jaejoong

" Annyeong, jangan lupa beristirahat dan makan buah sebanyak yang kau bisa ne?" Ucap Changmin

" Wae~"

" tentu saja agar kau tidak pucat!"

" Ugghh… kajja Yun kita pulang…"

" Ne, kami permisi Changmin hyung"

" Ne…"

Kedua namja itu berlalu adri hadapan Changmin yang memandang sendu punggung Yunho. Mau tak mau matanya ikut berembun saat teringat perjuangan Yunho untuk Jaejoong selama ini.

.

.

.

.

Ceklek

" Mwo?" Jaejoong mengerutkan keningnya saat membuka pintu flat Yunho dan melihat karpet merah yang tidak terlalu lebar namun panjang menghiasai lantai flat itu

" Masuk dan berjalanlah diatas karpet merah itu Boo" Perintah Yunho

Jaejoong mengikuti saja perintah Yunho namun dia gugup. Benar – bear sangat gugup walaupun dia tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Yunho.

" Selamat datang ke rumah Joongie"

Jaejoong membulatkan matanya saat karpet mereh itu berakgir pada sebuah podium setinggi dada, di depan sana Junsu, Yoochun dan seorang pria paruh baya tengah menatapnya dengan gembira.

" Apa maksudnya ini Bear?" Jaejoong menoleh dan menatap Yunho

" Kau ingat apa yang kau katakan saat dirawat tahun lalu?"

" Humm?"

Jaejoong mencoba mengingat – ingat apa yang sudah dia katakan pada Yunho tahun kemarin saat dirawat namun dia tidak juga mengingatnya. Namun kemudian jaejoong melihat hiasan pada rumahnya, karpet erah dan seorang namja berpakaian pastur serta Junsu yang berdiri memegang sebuah buket bunga.

" Ak-aku mengatakan… Aku ingin menikah denganmu sebelum operasi karena walaupun operasinya gagal aku sudah bermarga Jung karena sudah menikah dengamu dan aku tidak akan menyesalinya…" Lirih Jaejoong

" Ne…"

" Apa maksudmu? Aku akan operasi?"

" Hum" Yunho menganggukkan kepalanya dengan semangat

"Tunggu! Darimana kau mendapatkan biayanya? Kau masih melakukan pekerjaan yang 'itu'?"

" Tentu saja tidak. Ada orang yang berbaik hati membiayai operasimu"

" Jangan berbohong"

" Aku tidak berbohong! Tanya saja Junsu dan Yoochun"

Jaejoong menatap Junsu dan Yoochun, mereka berdua tampak menganggukkan kepalanya. Setuju pada apa yang diucapkan oleh Yunho.

" Dan pastur ini adalah hadiah dari dokter Changmin! Dia datang langsung dari Belanda lho"

Jaejoong tambah membulatkan matanya saat mendengar penjelasan dari Junsu, Changmin yang memebrikan hadiah ini? Apakah benar?

" kenapa melamun, cepat ganti pakaianmu dan kita akan mulai acaranya" Ucap Yunho

" Ganti pakaian?" Jaejoong mengerutkan keningnya

" Aish! Pengantimu ini banyak Tanya sekali Yun! Kajja!" Junsu mendekat dan menuntun Jaejoong menuju kamarnya

Seddangkan Yunho menatap Yoochun yang tersenyum kemudian menganggukkna kepalanya, Yunho kemudian berjalan ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya disana.

Jaejoong keluar dari kamar dengan tuksedo berwarna putih bersih dengan kemeja soft pink di dalamnya. Dia melihat Yunho yang sangat tampan berdiri diepan podium dengan gagahnya. Jaejoong berjalan gugup diatas karpet merah itu didampingi oleh Junsu disebelahnya. Jajeoong bahkan meremas tangkai buket bunga yang tengah dipegangnya sangking tegangnya.

Dia benar – benar tidak mengerti kenapa semua ini berjalan dengan cepat? Junsu berkata bahwa minggu depan operasinya akan dimulai. Dan sekarang dia akan menikah dengan Yunho! Astaga, apakah doanya setiap malam tidak sia – sia karena akhirnya semua berjalan dengan lancar?

" Joongie ah, Yunho sudah mengulurkan tangannya"

Ucapan Junsu menyadarkan Jaejoong dari lamunannya, dia melihat Yunho tangah mengulurkan tangan kearahnya. Jaejoong menyambut uluran tangan itu dan mereka berdua sudah berada di depan pastur.

.

.

.

.

.

" You may kiss the bride"

Yunho membalikkan tubuhnya dan menatap dalam Jaejoong begitu juga Jaejoong yang malahan sudah menangis karena tidak bisa menahan harunya. Kini dia sudah menikah dan marganya berubah menjadi Jung, Jung jaejoong. Bukankah sangat pas?

" Saranghae Boo…"

" Nado, nado saranghae…"

Yunho mendekatkan wajahnya dan Jaejoong seakan tahu memejamkan matanya dan tersentak karena bibir lembut Yunho menyentuh bibirnya. Dia memang sering mencium Yunho tapi kali ini rasanya berbeda, bagaimana mengatakannya? Benar – benar berbeada…. Terasa lebih indah…

.

.

.

.

.

" Hupfh… Kau bisa Joongie!" Jaejoong mengepalkan tangannya dan menatap kaca kamar mandi itu

Bukan hanya Yunho yang bisa memberikan kejutan! Dia pun bisa! Dia akan memberikan kejutan pada pasangannya itu.

BLUSH

Omo! Membayangkannya saja membuat Jaejoong merona! Jaejoong terkekeh sebelum akhirnya dia melangkahkan kakinya keluar kamar mandi dan berjalan menuju kamar Yunho.

Ceklek

" Yunie…"

" Oh, Joongie kau sudah kembali, ayo beris…ti…rahat…" Ucapan Yunho terputus karena melihat Jaejoong yang masuk kamarnya dengan tatapan menggoda

Bukan hanya itu saja, Jaejoong datang ke kamar hanya dengan menggunakan kemeja putih keberasan yang dia tahu adalah miliknya. Oh tidak… Yunho menelan ludahnya dengan susah payah.

Jaejoong berjalan pelan dan naik keatas pangkuan Yunho yang duduk dipinggir tempat tidur.

" Joongie sudah menunggu lama agar mala mini terjadi Bear…" Lirih Jaejoong kemudian menggigit telinga Yunho

" Uuunngghh…"

" Miliki Joongie sepenuhnya Bear…"

Tidak perlu perintah dua kali untuk menuruti keinginan pasangannya, Yunho langsung saja menyerang namja cantik itudengan lembut, penuh kehangatan dan pengertian. Yang Yunho tahu, dia ingin membuat kenangan indah untuknya dan Jaejoong.

' Saranghae Boo… Mianhae' Batinnya

.

.

" Yun… tanganmu kenapa?" Tanya Jaejoong saat melihat sedikit luka seperti bekas suntikan pada siku Yunho

" Changmin hyung memberikanku vitamin C karena aku terlihat lemas kemarin"

" Benarkah?"

" Ne, ayo tidur. Bukankah kau lelah? Apa kau ingin menambah ronde?"

" Mw-mwo? An-ani! Kajja tidur"

Yunho makin melesakkan wajahnya pada pundak Jaejoong yang sudah pulas karena kegiatan yang melelahkannya malam itu dan menitihkan airmatanya tanpa suara.

.

.

.

.

.

Hari – hari selanjutnya membuat Jaejoong selalu tersenyum, dia masih tidak bisa menyangka bahwa dia sekarang bermaga Jung. Menyiapkan sarapan untuk Yunho, menyiapkan pakaian untuk Yunho mencari pekerjaan, membuatkan Yunho bekal, menyiapkan makan malam lalu air untuk Yunho mandi atau kadang dia ikut mandi bersama Yunho. Dan malamnya Yunho akan memeluk erat dirinya seakan tidak mau berpisah.

Dan sekararang Jaejoong sudah berbaring diatas ranjang rawat rumah sakit karena besok dia akan dioperasi. Yunho terus saja menggenggam erat tangan Jaejoong.

" Bear… tenanglah! Changmin hyung pasti melakukan yang terbaik untukku" Ucap Jaejoong mencoba menenangka pasangannya itu

" Ugh… Akukan hanya khawatir" Yunho mempoutkan bibirnya

" Jangan seperti itu, kau sungguh tidak pantas berperilaku seperti itu!"

Cup

Dari pada sebal, Yunho lebih baik mencium jaejoong saja. Dia hanya ingin menenangkan dirinya sebelum esok hari. Dia pasti akan sangat merindukan namja cantik itu.

" EHEM!"

" OMO!"

Jaejoong mendorong dada Yunho dan melihat kearah pintu dimana Changmin tengah berdiri ersama Junsu dan Yoochun.

" Apa kami mengganggu?" Tanya Changmin kemudian meletakkan alat – alat kedokterannya kemudian memeriksa tekanan darah Jaejoong " Baguslah kau tidak gugup Jaejoong ah"

" Tentu saja, aku akan sembuh dan membatu Yunho"

" Ng… Boo…."

" Ne?"

" berjanjilah padaku satu hal"

" Apa?"
" Jika operasinya berhasil, kau harus menuruti apa kataku"

" Maksudmu?"
" berjanjilah"

" E-eh? Asal tidak macam – macam aku bisa"

" Disini ada Junsu, Yoochun dan dokter Changmin sebagai saksinya. Kau harus berjanji"

" Ne, aku berjanji akan menuruti kata – katamu"

" Good boy" Yunho mengelus puncak kepala Jaejoong dan membiarkan Changmin melakukan tugasnya

Yunho kemudian berjalan dan duduk diantara Junsu dan Yoochun. Dan tak lama Yunho merasakan kedua sahabatnya itu menggenggam tangannya, memberikan kekuatan untuknya.

.

.

.

" Yun, tiba – tiba aku merasa takut"

" Hum? Wae?"

Saat ini hanya ada Yunho dan Jaejoong yang sudah berbaring lemah karena diperintahkan untuk puasa sebelum menjalankan operasi. Mereka ada diruang tunggu operasi, Yunho mengelus helaian rambut Jaejoong.

" Aku sungguh takut tidak bisa melihatmu"

" Apa yang kau katakan eoh? Aku akan selalu ada untukmu. Disini" Yunho menyentuh dada kiri Jaejoong dengan lembut

" Ne, kau selalu ada dihatiku"

Yunho mencoba tersenyum walaupun terlihat dipaksakan.

" Boo… Ingatlah bahwa aku mencintaimu, sangat mencintaimu"

" Ne, aku juga"

CUP

Yunho mengecup bibir Jaejoong dan saat itu juga airmata yang ditahannya sejak tadi jatuh mengenai kedua pipi Jaejoong.

" kenapa kau menangis Yun?" Jaejoong menyentuh wajah Yunho dan mengusap airmata Yunho dengan lembut, menangkup wajah kecil itu dan tersenyum

" Aku hanya bahagia… Aku bahagia kau akan sembuh"

" Dan aku akan bersamamu bear dan memiliki anak"

" Aku akan menantikannya, aku ingin menamakannya dengan Jiyool"

" Kita akan melakukannya, mengadopsi seorang gadis kecil dan menamainya dengan Jiyool"

" Ne"

" Sudah saatnya"

Changmin masuk kedalam ruang tunggu itu membawa sebuah suntikan. Jaejoong harus dibius sekarang. Changmin segera berdiri disisi Jaejoong dan menyuntikkan jarum suntik itu pada salah satu lubang infus yang ada ditangan Jaejoong.

" Aku mencintaimu"

" Nado Bear…" Lirih Jaejoong karena dia semakin lemas dan matanya tertutup

Yunho menggigir bibir bawahnya, dia tidak sanggup melakukan hal ini jika saja wajah ceria Jaejoong tidak terekam dalam benaknya.

" Aku akan sangat merindukanmu"

Cup

Cup

Cup

Ciuman itu jatuh pada kening, pipi dan bibir Jaejoong. Yunho menatap lembut namja yang sudah dalam keadaan tidak sadar itu dan mengelusnya, lembut. Wajah jaejoong memang selembut bayi. Changmin mendekat kearah Yunho dan mengelus punggung namja itu.

" Bersiaplah, kau juga harus naik keranjang itu bukan?"

Yunho melirik ranjang rawat yang ada disampingnya kemudian mengangguk. Dia melepaskan semua pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian pasien. Dia berbaring berdampingan dengan Jaejoong, menatap sendu namja cantik yang sudah ada disisinya selama ini.

Ceklek

Junsu masuk dengan paksa kedalam ruangan itu bersama dengan Yoochun, dia tidak bisa lagi menahan airmatanya saat melihat Yunho dan Jaejoong berbaring berdampingan diruangan itu.

" Kau bodoh Jung! BODOH!"Pekik Junsu

" Suie ya… Chunnie… Tolong jaga Joongie"

" Ne" Ucap Yoochun dengan air mata mengalir membasahi kedua pipinya

" Tentu saja" Ucap Junsu kemudian memeluk sahabatnya itu disusul dengan Yoochun

Changmin sendiri menahan tangisnya melihat keadaan mereka berempat. Takdir sungguh kejam ada Jaejoong dan Yunho hingga mereka seperti ini!

" Sudah saatnya"

" Andwe! Andwe!" Tiba – tiba saja Junsu memekik dan memeluk Yunho lebih erat, perasaan tidak rela tiba - tiba menyeruak dari dalam diri Junsu

" Suie ya…"

" Tolong bawa keluar Junsu sshi dari sini"

" Ne" Yoochun menarik Junsu dengan kasar " Annyeong Yun"

" N-ne…"

" Andwee!"

Blam

Pintu itu tertutup dan menyisakan Changmin dan Yunho sekarang.

" Changmin hyung"

" Ne?"

" Tolong bantu mereka menjaga Jaejoong ne? Itu permintaanku"

Changmin tersenyum dan menganggukkna kepalanya.

" Ne, aku berjanji"

" Terima kasih"

Yunho terus menatap Jaejoong sampai tidak terasa matanya menggelap dan ingatan terakhir dia mengucapkan kata cinta untuk Jaejoong.

.

.

.

- TIGA HARI KEMUDIAN –

.

.

.

" Ngghhh…"

" Joongie…"

" Suie… Yunie…"

" Aku akan panggilkan dokter. Sebentar!"

Namja cantik itu terlihat sangat pucat paska operasinya dan dia baru saja sadar. Dia menatap ruangan putih disekelilingnya, apakah operasinya berhasil?

" Jaejoong sshi, kau sudah sadar?'

Changmin masuk dan langsung masuk kedalam ruang rawat Jaejoong dan memeriksa keadaan pasennya itu.

" Dia masih lemas dan jantungnya masih dalam pengujian. Tetaplah rileks jaejoong sshi"

" Yunie… Yunie eodie?" Tanya Jaejoong dengan nada lemah

" Aku akan memberikan obat terlebih dahulu" Ucap Changmin

Setelah itu jaejoong kembali lemas dan matanya tertutup, dia tertidur…

.

.

.

" Suie ah…"

Jaejoong baru saja bangun dari tidurnya dan melihat Junsu duduk disampingnya.

" Joongie, kau sudah bangun? Yoochun tolong panggil dokter Changmin"

" Tunggu, aku bertanya dimana Yunie"

" Aku akan memanggil dokter Changmin"

" Berhenti!" Jaejoong mencoba berteriak dengan suara lemahnya, kenapa kedua sahabatnya tidak langsung saja menjawab pertanyaannya?

" Joongie…"

" Dimana Yunho?" Tanya Jaejoong

Junsu berdiri dan membantu meninggikan tempat tidur Jaejoong agar namja itu bisa duduk bersandar dan tak lama Changmin datang untuk membantu kedua namja itu menjelaskan masalahnya pada Jaejoong.

" I-ini…" junsu menyerahkan sebuah amplop berwarna merah muda

" Apa?"

" Yunho…"

" Yunie?"

Jaejoong mengambil amplop itu dan melihatnya lebih jelas, merah muda? Jaejoong membuka amplop itu dan dia mengambil kertas dari dalam amplop itu.

' Joongie ah… Boo…

Jika kau membaca surat ini, berarti operasimu berhasil bukan? Chukkae…

Tidak Boo, jangan berpikir kalau aku kabur darimu, aku tbahkan tidak sanggup berjauhan darimu. Aku selalu ada untukmu, dihatimu…'

Jaejoong berhenti membaca dan menatap Junsu yang sudah berkaca – kaca menatapnya. Ada apa ini sebenarnya? Dimana beruang kesayangannya itu?

.

' Mianhae karena aku mengingkari janjiku untuk selalu bersamamu karena aku melakukan tindakan bodoh Boo… Tapi aku melakukannya untukmu. Ingatlah janji yang sudah kau buat untukku, kau akan menuruti perkataanku bukan?

Kau… Kau harus sehat, menikah dan memiliki anak perempuan bernama Jiyool. Tidak perlu mengadopsinya karena kau harus menikah dengan seorang yeoja seperti permintaan kedua orangtuamu, kau bahkan bisa memeliki anak lebih dari satu,

Kau akan datang ke acara pernikahan anakmu dan mendapatkan cucu – cucu yang lucu dari mereka. Menjadi tua dan kau akan hidup dengan tenang sampai tua,

Begitu kan Boo yang kau inginkan?

Aku tahu ini sangatlah kejam, tapi… Jika ini semua membuatku bisa melindungimu maka aku akan melakukannya. Jika kau merindukanku kau bisa menyentuh dada kirimu dan aku akan ada disana. Jantung itu akan berdetak saat kau menyentuhnya karena aku pun sangat merindukanmu,

Aku sangat mencintaimu Boo, tolong jangan kau sia – siakan pengorbananku

PS : Aku telah menghancurkan semua yang berhubungan denganku, aku meminta Junsu dan Yoochun membakarnya tanpa sisi. kau harus memulai kembali kehidupan barumu dan kau harus bahagia

.

Saranghae – Yunho'

.

" Ap-apa maksudnya ini Suie? APA?!" bentak jaejoong

" Joongie ah, ak-aku juga sudah menentangnya tapi…"

" Tolong ceritakan yang sebenarnya"

" Yunho… Menjual ginjalnya pada seorang gadis. Mereka kira yang dibutuhkan hanya satu, tetapi gadis itu membutuhkan dua ginjal dan Yunho bersedia memberikan ginjalnya dengan syarat ahjusshi itu harus membiayaimu. Dan ahjusshi itu menyetujuinya. Yunho mengatakan hal itu dan Changmin sshi menolak saat Yunho akan memberikan dua ginjalnya karena itu berarti Yunho tidak akan bisa bertahan hidup. Tapi, Yunho berkata bahwa dia pun akan mendonorkan jantungnya untukmu"

Mata Jaejoong membulat mendengar penjelasan dari Junsu, apa katanya tadi? Mendonorkan jantunya? Jaejoong menyentuh dada kirinya dan benar saja jantung itu berdetak dengan nyaman.

" Changmin sshi awalnya menolak tapi Yunho memaksanya hingga Changmin sshi berkata akan memeriksa apakah jantungnya cocok atau tidak untukmu dan jika tidak cocok maka Yunho harus melupakan donor itu tapi… Setelah di tes, jantungnya cocok untukmu"

" W-wae… kenapa dia melakukan hal bodoh itu eoh? Dia sudah berjanji tidak melakukan hal bodoh seperti itu Su!" jaejoong meremas surat pemberian Yunho

" Ini keinginan Yunho dan semua tidak bisa melawan karena tekad Yunho sudah bulat. Dia melakukannya karena mencintaimu Joongie ah…" Lirih Junsu dan mendekat untuk memeluk Jaejoong yang sudah terisak keras

" Untuk apa aku hidup jika dia tidak ada Su! Untuk apa?!"

" Joongie ah… Jangan buat perjuangannya sia – sia…. Dia usdah memikirkan semua ini untukmu"

" Dia kejam dan egois!"

" Joongie ah…"

BRAKKKK!

" JOONGIE!"

Jaejoong melepaskan pelukannya dan melihat kearah pintu, matanya membulat tidak percaya dengan pengelihatannya. Sepasang namja dan yeoja paruh baya tengah menatap Jaejoong dengan sendu.

" E-eomma… Appa…"

.

- FLASHBACK –

.

" Kau masih memiliki muka untuk kemari eoh?" Mr. kim itu menatap tajam pada pemuda yang sudah memabwa anaknya keluar dari rumahnya, Yunho

" Ada yang ingin saya sampaikan pada kalian berdua" Ucap Yunho dengan pelan

" Wae? Kau meminta uang untuk pengobatan Joongie? Sudah tahu kau namja tidak bermasa depan, masih berani membawa anakku dari rumah ini"

" Kalian yang sudah mengusir Jaejoong dari rumah ini bukan? Kenapa menyalahkanku"

" Karena dirimulah kami mengusir anak satu – satunya yang kami miliki"

" Datanglah kerumah sakit pada hari ini" Yunho meletakkan selembar kertas pada kedua orang tua Jaejoong, tanggal dimana jaejoong menjalani operasi

" Mwo? Kau akan meninggalkan anak kami dirumah sakit?"

" Tidak, aku mohon datanglah dan aku akan benar – benar pergi dari kehidupan kalian semua"

" Kau pasti sudah tidak sanggup membiayai Jaejoong hingga kau melakukan hal ini!"

" Hanya itu yang bisa saya sampaikan. Permisi" Yunho dengan sopan berdiri dan membungkkukkan kepalanya kemudian pergi dari sana

" Dia pikir aku mau menemui anak itu lagi?!" Ucap Mr. kim sedangkan Mrs. Kim menggenggam kertas yang diletakkan oleh Yunho tadi

Tapi kedua orangtua Jaejoong akhirnya datang juga ke rumah sakit tempat jaejoong operasi dan mereka kaget ketika Junsu dan Yoochun menceritak tentang Yunho dan Jaejoong. Mrs. Kim menangis saat itu juga yang dia tahu, dia ingin memeluk anaknya dan berterima kasih pada Yunho

.

- FLASHBACK OFF –

.

" Joongie ah, sudah waktunya kudapan" ucap Mrs. Kim mereayu anaknya yang senang sekali menatap datar keluar jendela

Mrs. Kim tahu bahwa Jaejoong sangat terpukul, dia pasti merasa tersakiti karena kehilangan orang yang benar – benar mencintainya. Apalagi adi pagi dia mengantarkan Jaejoong untuk menutup peti Yunho sebelum dikremasi.

Jaejoong juga bertemu dengan Ahra yang meminta maaf karena memberikan perkerjaan yang tidak benar pada Yunho. Jaejoong hanya menatap datar peti Yunho, dia sendiri melihat bagaimana Yunho tersenyum dalam peti ini. Apa Yunho senang meninggalkannya?

" Joongie ahh… Apa kata Yunho dalam surat itu hum?"

" …" Jaejoong tidak berkata – kata tapi dia menatap eommanya

" Dia ingin kau tidak menyia – nyiakan perjuangannya bukan? Kau ingin membuatnya kecewa?"

Jaejoong menggelengkan kepalanya.

" Lakukanlah yang terbaik untuknya Joongie"

" eomma…"

" Ne?"

" Antarkan aku…"

" Kemana?"

.

.

Yang Jaejoong tahu seorang ahjusshi menyambutnya saat masuk kedalam ruang rawat seorang gadis, gadis itu masih tertidur mungkin karena obat biusnya masih terasa. Jaejoong menatap dalam gadis yang sudah ditolong oleh Yunho itu.

" Siapa namanya?"

" Anakku bernama Jihye, Choi Jihye"

.

.

- SEPULUH TAHUN KEMUDIAN –

.

.

Seorang namja yang tengah berdiri disamping pohon maple dibelakang rumahnya itu menyentuh dada kirinya danmemejamkan matanya. Jantung itu seakan menyambut elusan ringan tangannya dengan berdetak sedikit lebih cepat.

" Appaaaaaa~~~ Eomma memanggil, halmoni bilang acaranya sudah akan dimulai!"

Namja itu membalikkan tubuhnya dan menatap seorang gadis kecil yang berlari kearahnya.

" Aigo..." Namja bermata bulat itu mengangkat gadis kecil itu dan mengecup pipinya

" Eomma bilang appa harus masuk karena acaranya akan dimulai. Changmin samchon juga sudah datang!"

" Ne, appa akan masuk sebentar lagi Yoolie ah"

" Oke dan appa... Kapan kita mengunjungi Suie samchon dan Chunnie samchon? Liburan sekolah sudah akan dimulai lho"

Namja yang dipanggil appa itu terkekeh dan kembali mengecup pipi gadis kecil itu.

" Aigo... Kalau nilai rapor kenaikan kelasmu bagus semua, maka kita akan berlibur ke tempat mereka, di Belanja"

" Janji?!"

" Tentu"

" Yolie sayang appa..."

Cup

Gadis kecil bernama Jiyool itu mengecup pipi appanya dan kemudian meminta untuk turun dari gendongan appanya. Namja itu kemudian kembali berbalik dan menyentuh dada kirinya. Dia menikmati angin berhembus yang menerbangkan daun - daun didekatnya.

" Aku merindukanmu Yun..."

Namja itu, Jaejoong. Dia sudah mengikuti apa yang diinginkan oleh Yunho. Dia menikah dan sekarang sudah memiliki anak perempuan bernama Jiyool yang sekarang sudah berusia tujuh tahun.

Jaejoong menikah dengan Jihye, ya... Choi Jihye, gadis yang sudah ditolong oleh Yunho. Mereka menikah delapan tahun yang lalu setelah Jaejoong berhasil menata kembali hatinya.

Tidak, bukan berarti Jaejoong bisa melanjutkan hidupnya tanpa Yunho. Dia terus merindukan namja yang sudah lima tahun bersamanya itu. Tapi, dia harus menuruti keinginan Yunho. Dia tidak ingin membuat perjuangan Yunho sia - sia.

Jaejoong pun sangat menyayangi Jiyool, dia benar - benar menyayangi anak itu dan juga ibunya. Jaejoong menyayangi Jihye seperti adiknya. Dan Jihye tahu bahwa dia tidak akan bisa menggantikan posisi Yunho dihati Jaejoong.

Sedangkan Junsu serta Yoochun sekarang sudah berada di Belanda. Mereka menetap disana setelah menikah dengan karena mereka bisa hidup tanpa ada diskriminasi yang berlebihan. Changmin sendiri menjadi sahabat berbagi cerita bagi Jaejoong, dia menikah dengan kekasihnya yang sangat cantik, Kyuhyun. Yeoja itu merupakan suster dirumah sakit tempatnya bekerja.

Kembali lagi pada Jaejoong, dia benar - benar melanjutkan hidupnya tapi dia belum merasakan kebahagiaan.

" Yunie ah... Bear..." Jaejoong memejamkan matanya " Gomawo... Saranghae..."

" APPPAAAAA!"

Jaejoong menyunggingkan senyumnya kemudian berbalik.

" Aigoo... Ne baby! Appa datang!"

Jaejoong berjalan menuju rumahnya, sampai angin kencang berhembus mengenai helaian rambut belakangnya.

" Nado saranghae Boo"

.

.

.

.

~ END ~

.

.

.

.

Mwo? Apa inih?

#disiksa yjs

#dibakaryunjae

#digamplokfans

.

Maafkan otak nistanya Cho, aigo... gara - gara nulis ff ini mood Cho turun dan susah lanjutin ff Cho yang laen! Mianhae!

.

Special Thanks :

novashinki (ia, kalo mau yanng happy end yang di chaptered), Rly. C. JaeKyu (mianhae~~), GaemGyu92 (ia, keputusannya pan dy yang ambil), JonginDO (Ne~~), zhoeuniquee (ia, makasih ^^), DahsyatNyaff (ia... Bacanya hurt sih), cha yeoja hongki (no~~ nda bisa, di ff yang ini Yunjae-nya ga bersatu T^T), misschokyulate2 (sabar ne?), yeye uun (T^T), Jung Jaehyun (yang ini bikin nangis juga ga? tuh, Yunpa udah end di ff yang ini T^T), boobearSarang (ini udah cho update ini walaupun lama heheh abis kalo bikin hurt agak susah ^^ klo mau bisa di IG atau twitt, di profil udah Cho cantumin, qm ga ada akun na sih jd ga bs PM T^T. makasih udah baca ne?)joongmax (sabar ne~~), narayejea (ia, kali ini Cho bikin Yunpa yang tersiksa!hahah), Dhea Kim (sabar~), meybi (ia, harusnya jujur walaupun di tolak), fiya. KH (makasih ^^), CassieFujho12 (makasih tapi Cho masih amatir?),

Thanks juga yang udah follow, fav dan para Sider

.

Makasih ya...

Cho emank agak susah kalo menistakan Yunpa, begini aja cukup kan? Cho gak mau dibilang benci Yunpa karena menistakannya. Cho begini karena cinttaaaa bgt sama Yunpa #digampargajah

.

Oke lah, silahkan ripiu, kasih pendapat, kritik ataupun bash yang membangun jangan maki - maki ga jelas padahal ga pake akun resmi. kalo mau bashing tunjukkin dirinya dunk... Jangan sembunyi dibalik nama Guest hahahay

#plakk

Cho mulai ngawur

.

Oke, masih ada yang mau cerita hurt dari Cho?

.

See u next ff

.

Senin, 14 September 2015

.