Disclaimer: Squad, Valentia, Josephine, Yukika, Popurin, and Jaychun are not my character. These characters belong to their respective owner. The other characters are all mine. And yes, the ECO world is not mine, it's GungHo's.
Chapter 6
Awal Dari Sebuah Akhir, Part I
"Tidak, burrm."
Scone tidak menyerah. "Bagaimana kalau kami memberi payung eksklusif, langka, berbahan berlian-berwarna-kuning-yang-aku-lupa-namanya-itu dan kemudian engkau bisa membiarkan kami lewat?" Senyum manis ia tambahkan di akhir kalimatnya.
Tanpa perubahan ekspresi, Guttinger itu tetap menjawab, "Tidak, burrm."
Scone sama sekali belum menyerah. "Bagaimana kalau kami memberi jubah Dominion Pennant yang menyilaukan itu dan kemudian engkau bisa membiarkan kami lewat?" Giginya yang putih bersih itu ia tunjukkan kepada Guttinger tersebut dengan harapan supaya ia mendapatkan apa yang ia minta, namun lagi-lagi ia dikecewakan.
"Tidak, burrm."
"..."
"Tidak, burrm."
"..."
"..."
"Aku akan kembali sebentar." Frustasi, Scone berbalik, dan segera mendekati tempat dimana Squad dan Wendy bersembunyi. Begitu ia datang, ia langsung berseru, "MEREKA GILA—"
Namun, ia langsung dicerca habis-habisan oleh Wendy. "Buodoh, kau ini yang gila! Apa artinya sebuah payung bagi mereka? Setidaknya payung ini berarti bagiku!" ia mengakhiri kalimatnya dengan nada sengit.
Scone beralasan, "Payungmu bagus, jadi kupikir—"
Namun Squad menyelanya dengan sinis, "Oh, payungnya bagus? Apa itu berarti kau menyatakan bahwa bajuku juga bagus?" Ia menunjukkan jubahnya yang sekarang bahkan tidak dapat dikenali lagi sebagai sebuah jubah.
Scone mengangkat tangan dengan jengkel dan balik berkata, "Baik, baik, aku menyerah! Aku tak tahu lagi harus melakukan apa! Bagaimana kalau kau saja yang berunding, hah?" Ia memandangi Squad dan Wendy bergantian dengan kesal.
Setelah berpikir sebentar, seseorang akhirnya berkata, "Oke, akan kulakukan." Ia berdiri, dan kemudian berjalan mendekati gerombolan Guttinger yang menunggu kedatangannya.
"Nekat juga si Squad..." Scone menggeleng, sementara Wendy tampak cemas. Semoga ia selamat...
xoxoxoxox
Begitu ia mencapai jarak dengar yang aman dari Guttinger tersebut, ia memandangi salah satu wajah Guttinger yang tanpa ekspresi itu dan berkata ramah, "Guttinger 7... Chiriru, betul?"
"Chirp," ia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari Dominion itu.
"Tuanmu adalah Eliminator, benar?"
"... Chirp."
Ia tersenyum, namun nadanya bingung. "Seingatku, keluarga Guttinger merupakan keluarga robot yang dikenal paling tidak suka dijadikan alat bagi robot lain untuk bekerja. Dapatkah kamu menceritakan apa sebabnya?" Ia bertanya berdasarkan murni keingintahuan. Ia masih ingat saat ia pernah bermain dengan salah satu Guttinger yang menyatakan hal tersebut.
"Kami bukanlah alat, burrm. DEM merupakan tuan kami yang baik, burrm. Para DEM melakukan invasi sedemikian rupa sehingga kami rela menjadi alat bagi mereka, burrm. Para pejuang Guttinger yang paling kuat, chirp, seperti kami, chirp, kemudian dijadikan prajurit mereka, burrm."
Ah, jadi mereka dicuci otak. Pantas saja.
"Begitukah.." Squad memandangi mereka, kemudian bertanya lagi untuk mendapat konfirmasi bahwa apa yang ia curigai itu benar atau tidak, "Apakah kalian masih ingin mendapatkan kebebasan?"
"Tidak, burrm."
Yap, mereka positif dicuci otak.
"Hmm... Oke." Squad ingat, mereka sangat bangga akan pekerjaan mereka, salah satu keluarga yang kebanggaannya dapat menyamai kebanggaan keluarga Dominion Pennant. "Tentu kalian sungguh bangga akan pekerjaan kalian. Apa kira-kira pekerjaan kalian? Apa tugas yang diberikan Eliminator untuk kalian?"
Chiriru menjawab datar, "Merekrut anggota, burrm. Jika ada yang tidak ingin menjadi anggota, chirp, keluarganya akan menjadi target penyerangan kami, burrm. Anggota yang telah datang kemudian dicuci otak, burrm."
"Begitu..." Squad berpikir keras. Bagaimana caranya agar mereka melakukan apa yang diinginkan Squad kepada mereka? Ini sungguh rumit. "Baiklah, bisakah aku berbicara dengan tuan kalian?" tanyanya, kembali ramah. Ketika ia tidak mendapat respon seperti kecepatan respon sebuah Guttinger pada umumnya, ia menambahkan, "Aku ingin bertemu dengan tuan kalian untuk mengetahui bagaimana cara dia memperlakukan kalian semua dengan begitu... 'baik'... sehingga kalian bisa menjadi sopan dan sangat ramah seperti sekarang."
"Terima kasih, chirp, Dominion, burrm." Chiriru menyahut. "Tunggu sebentar, burrm. Bzzzt... bzzzt..."
xoxoxoxox
"Dia berhasil, lho!" seru Wendy dalam bisikan kepada Scone. "Aku tak percaya dia berhasil!"
"Hmm," Scone memandang Squad sambil menyipit. Ia sedikit tersinggung karena kemampuannya ternyata tidak lebih dari kemampuan bicara seorang Dominion Pennant. Padahal, ia adalah seorang trader! Trader amatiran, sih.
"Tunggu, mau diapakan dia itu?" tanya Wendy cemas ketika ada pergerakan tiba-tiba dari rombongan Guttinger tersebut.
"Entahlah..." Scone mau tak mau jugam menjadi cemas seperti Wendy. "Kuharap mereka tidak membuat kita kesulitan..."
xoxoxoxox
"Mau apa kamu, chirp, Chiburi, nyororon?" tanya Chiriru kepada robot lainnya yang menghalangi jalannya menuju ke atas. Squad mengintip ingin tahu di balik besi-besi Guttinger itu. Tampak sebuah robot yang lebih kecil merentangkan tangan untuk menghalangi jalan Chiriru.
"Chiburi tidak ingin si Dominion datang kemari, burrm. Tempat ini berbahaya, skitt!" ucap si robot yang bernama Chiburi itu, sambil memandangi Squad. Squad yang sama sekali tidak mengerti maksud mereka, hanya melongo.
"Chiburi, chirp, minggir dari tangga, burrm. Ini perintah, skitt skitt!" seru Chiriru, namun Chiburi tetap bergeming.
Malah, ia semakin berseru, "Chiburi tidak mau, skitt! Chiriru telah dicuci otak oleh si robot gila, skitt!"
Chiriru menggeleng. "Dia bukan robot gila, chirp, tapi tuan kita yang agung—"
"Benar kan, nyororon? Chiriru, Chiburi mohon tolong percaya pada Chiburi, chirp, sekali ini saja, skitt!" pinta Chiburi, dengan suara datar memelas.
Chiriru kembali menggeleng. "Percaya apa, nyororon? Percaya bahwa aku sudah dicuci otak, nyororon?"
"Ya, burrm." Robot yang lebih kecil itu mengangguk-angguk.
"Chirp... itu masih kuanggap omong kosong, chirp, semuanya hanya bohong, burrm burrm.." Chiriru tetap keras kepala pada pendiriannya.
Chiburi menutup mata besinya sejenak sebelum membukanya kembali dan berkata cepat, "Maafkan Chiburi sebelumnya, chirp, tapi ini tindakan yang penting, burrm. Head Blow!"
x-x-x-x-x
"Apa bedanya nama 'Chibry' dengan 'Chiburi'?" tanya Valentia, bingung. Di sebelahnya, Popurin sedang memandangi wajah Squad dengan mata berbinar.
Pemuda itu tampak berpikir. "Hem, banyak. Pengucapannya berbeda, kata-katanya berbeda, dan sebagainya." Tastenya berbeda, rasanya berbeda, memorinya juga berbeda, batin Squad.
"Memang sih..." Valentia juga ikut berpikir. "Ah, lanjutkan saja deh pokoknya!"
"Baiklah..."
x-x-x-x-x
Sebagian besar robot tampak mengutak-atik isi dari Guttinger bernama Chiriru itu. Namun, ada satu robot yang tidak ikut mengutak-atik, dan dia adalah Chiburi. Robot itu sedang bersama dengan Squad, Scone, dan Wendy, dan berusaha untuk meminta maaf.
"Chiburi mohon maaf harus melibatkan Dominion dan Boneka Kayu dan Umbrella seperti ini, chirp, tapi Chiburi tidak tahu kalau ternyata masih ada beberapa makhluk hidup yang tertinggal di sini, burrm. Kalau Chiburi tahu, chirp, Chiburi tidak akan mengajak kakak jalan-jalan, burrm. Satu-satunya alasan kenapa Chiburi mengajak Chiriru jalan-jalan adalah karena Chiburi ingin menyadarkan kakak, burrm."
"Kakak..?" tanya Scone. Sejam yang lalu, ia sangat takut memandangi salah satu dari robot tersebut. Sekarang ia bercakap-cakap dengan mereka seperti seorang teman lama.
"Chiriru adalah kakak Chiburi, burrm. Kebetulan, chirp, Chiriru adalah robot terakhir yang masih dalam tahap brainwashed, burrm," Chiburi menjelaskan.
Wendy tersentak, tampaknya menyadari sesuatu. Ia bertanya takut-takut, "Oh... bagaimana caranya kau bisa membalikkan pencucian otak mereka, Chiburi?"
"Chiburi hanya bisa membalikkan pencucian otak terhadap robot, burrm. Tinggal membetulkan rangkaian chip yang telah dipasang di otak robot, chirp, dan langsung selesai, burrm," jelas Chiburi sambil bergoyang ke kiri ke kanan dengan gembira.
"Kalau.." Wendy mulai berbicara, tapi ternyata Chiburi mengerti.
Chiburi menunduk, dan berkata dengan nada menyesal, "Kalau makhluk hidup, chirp, Chiburi tidak bisa membantu, chirp, maaf, burrm."
Wendy mendesah. "Tidak apa-apa..." Belum ada kemungkinan bahwa adiknya juga dicuci otak. Belum.
Mendadak mereka berempat dikejutkan oleh suara-suara robot di belakang mereka. "Chiriru sudah bangun, skitt!"
Spontan, Chiburi langsung berdiri, hampir menyebabkan serangan jantung kepada tiga monster di depannya itu. "Maaf, chirp, tapi Chiburi harus ke sana dulu, burrm..."
"Sekarang, rencana kalian apa...?" tanya Squad, begitu sesi kerinduan Chiburi akan kakaknya yang asli telah selesai.
Chiburi ingin mencoba mengangkat bahu, namun hasilnya seluruh tubuhnya malah terangkat. "Tidak tahu, burrm. Mungkin kabur dari Menara Cahaya, burrm. Tapi, chirp, Chiburi masih bingung mau tinggal dimana nanti, nyororoooo~n...?"
"Atau menyerang markas si robot gila, skitt!" Chiriru berteriak. Rupanya ia sudah benar-benar sembuh dari pencucian otak yang baru saja dideritanya.
Begitu mendengar perkataan Chiriru, robot-robot lain langsung berseru setuju. "Betul, skitt skitt! Chikubi setuju, skitt!"
"Chiripyon akan bantu, skitt!"
"Chiharu juga, skitt!"
"Whoa whoa whoa... santai saja, Guttinger..." Scone berucap, mengangkat tangannya agar mereka bisa melihatnya dan mencoba menenangkan diri mereka sendiri. Tampaknya, usahanya agak berhasil karena sedetik kemudian robot-robot tersebut menjadi diam. Mungkin dipicu oleh rasa kasihan karena Scone tampak sangat menderita dengan segala keramaian mereka.
Squad tampaknya melihatnya, karena berikutnya ia malah berusaha memancing keramaian mereka kembali dengan berseru, "Baiklah, kalau begitu kita bersama-sama menghancurkan mereka, setuju?"
"SKITT!"
Scone mengeluh lagi, namun senyum yang mengembang di ujung bibir kayunya tak dapat ia sembunyikan.
x-x-x-x-x
"Itu... itu... banyak sekali robotnya! Aku juga mau!" seru Valentia, kegirangan.
Squad, sebaliknya, melakukan gaya facepalm. "Bah, robot bukan untuk dipelihara, Valentia..."
Mendadak Popurin juga ikut angkat suara, hanya untuk meniru perkataan Squad, "Ya, robot bukan untuk dipelihara, Valentia...!"
"..." Valentia memandanginya dengan pandangan 'kamu-ini-sudah-gila-atau-gila-stadium-dua?'
Namun, Popurin mendadak menyadari pandangan Squad terhadapnya, dan kemudian langsung berkata dengan wajah merona merah, "Lanjutkan saja deh."
"Hahaha..."
x-x-x-x-x
"Siap?" Squad bertanya kepada semua yang ada di tempat tersebut.
"Kami semua siap, chirp, Guttinger pantang untuk tidak siap, skitt!"
Squad tersenyum. Ia mencengkeram kembali sebuah pedang Chainsword pemberian Wendy barusan kepadanya. Katanya, 'untuk keberuntungan'. Apa hubungan sebuah Chainsword dan segepok keberuntungan, Squad sama sekali tidak tahu. Yang jelas adalah, mereka semua sedang merasakan euforia perang. Sesuatu seperti yang kau alami sesaat sebelum kau mengikuti sebuah perlombaan. Bedanya, kalau kau kalah dalam perlombaan, kau mendapat malu. Tapi kalau kau kalah dalam peperangan, kau akan mendapat kematian.
Dominion Pennant itu menghela napas dalam-dalam, dan berkata, "Baik... kalian semua sudah mengingat taktik, tempat, dan musuh... sekarang waktunya... SERBU!"
Mereka semua merangsek maju menuju lantai teratas, sebuah lantai yang menurut informasi para Guttinger merupakan basis lokasi Eliminator. Begitu mereka tiba di lantai tersebut, pemandangan yang menyambut mereka tidak terlalu mengejutkan.
Puluhan DEM tampak bersiap di pintu masuk lantai tersebut, menunggu mereka untuk memasuki tempat ini. Segera saja, begitu Chiriru melihat para DEM yang bertebaran di segala tempat, ia langsung mengamuk dan berteriak,
"CHIIRRRRRPPPPP—OOOO!"
"Chirp—o?" Squad mengernyit.
Chiburi kemudian menjelaskan, "Itu adalah aksioma khas dari keluarga kami, nyororon! Maaf, chirp, tapi masih ada beberapa puluh DEM yang harus kuberantas, skitt skitt! CHIIRRRPPPPPPP—OOOOO!" Dan dengan teriakannya tersebut, ia mulai maju ke depan untuk menubruk beberapa DEM, dan segera diikuti oleh teman-teman Guttingernya yang lain.
"Well, keluarga Guttinger, menurutku, sangat—aneh." Scone memandangi Chiburi dan kawan-kawannya yang menyerang para DEM dengan kebuasan seperti seekor, ehm, Bawoo. Menyerang tanpa pandang bulu.
Wendy, sebaliknya, malah terkikik menahan geli. "Menurutku mereka lucu. Nama mereka, maksudku. Chiburi. Chiriru. Apalagi yang Chiripyon. Sifat dan nama mereka berbeda seratus delapan puluh derajat dari tampang mereka."
"Yeah, kita bisa memikirkan tentang nama-nama itu di lain waktu. Sekarang adalah waktunya untuk menyelesaikan ini..." Boneka kayu itu melirik Squad yang sedari tadi terus diam membisu, tampaknya perhatiannya sepenuhnya diarahkan pada sesuatu yang segera mendekat.
Benar saja. Di tengah kondisi peperangan ini, mendadak mereka melihat seorang robot berjalan menuju mereka, yang memiliki penampilan lain daripada DEM biasanya. Rambutnya yang berwarna hitam. Matanya yang berwarna hitam gelap. Dan tangan itu, tangan yang membawa sepasang cakar Machine God's Claw...
Eliminator.
Thank you for reading. R&R please? =)
