BURN

PURE BLOOD OF NEMESIS

Pair HunKai, Sehun (seme) X Kai (uke)

Cast EXO Member and others

Warning: BL, Typo

Previous

"Sehun!" Kevin berlari cepat menghampiri tubuh Sehun yang terjatuh di atas aspal. "Sehun kau baik-baik saja?"

Sehun mengangguk pelan, dengan gontai ia mencoba menegakan tubuhnya. "Kevin, Nemesis bangkit. Kumpulkan sisa pasukan elit kerajaan secepatnya, aku akan melakukan pertemuan darurat dengan seluruh pasukan keamanan."

Ekspresi wajah Kevin berubah dingin, mengangguk pelan. Kevin melepaskan pegangan tangannya pada lengan kanan Sehun, lalu melesat pergi.

BAB TUJUH

Jinyoung mengetuk-ngetukan jari-jemarinya ke atas meja kayu Mahogani. Mengamati dinding berwarna muram. Ia melirik ke kanan, jam besar, dari kayu terbaik ratusan tahun, berdiri angkuh. Setengah jam sebelum yang lain datang.

"Jinyoung."

"Mark, kau datang lebih awal?" sambut Jinyoung.

"Apa yang kau lakukan?"

"Melakukan apa?"

"Jangan pura-pura bodoh, keluarga Kai. Kau yang melakukannya."

"Aku hanya mempercepat proses." Balas Jinyoung lantas tersenyum.

"Itu tindakan gegabah dan paling bodoh, Jinyoung."

"Kau pikir aku melakukannya tanpa pertimbangan? Tanpa rencana?" Jinyoung menatap Mark tajam kemudian tersenyum. "Kau meremehkan aku Mark. Sekarang hanya menunggu hingga kekuatan Nemesis bangkit, sementara kita duduk dan menikmati pertarungan, lalu muncul di saat yang tepat untuk mengambil semuanya."

"Jinyoung…,"

"Biarkan vampire yang bekerja." Potong Jinyoung. "Percayalah padaku Mark." Ujar Jinyoung sembari menepuk pundak kanan Mark.

.

.

.

"Kevin." Ujar Sehun.

"Semua sudah aku kumpulkan, ke tujuh jenderal seperti yang Anda perintahkan Tuan."

"Baiklah, sekarang tugas terakhirmu. Kau tahu apa yang harus kau lakukan?"

Kevin mengangguk satu kali. "Saya akan kembali besok, sebelum matahari terbit."

"Pergilah."

Sehun menarik ujung jas yang dia kenakan, menoleh ke kanan mengamati pantulan bayangannya dari pot besar kuningan, berisi ratusan batang mawar merah. Tangan kanan Sehun mengambil sebatang mawar merah menggenggamnya, meski duri ada di sana tidak dibersihkan.

Kedua tangan Sehun bergerak mendorong pintu kembar raksasa di hadapannya. Luasnya ruang pertemuan membuat langkah kaki Sehun bergema. Semua orang di dalam ruangan berdiri untuk menghormati kehadiran Sehun. Memutar tubuh, bersamaan dengan wajah Kai yang dipantulkan pada dinding marmer putih ruang pertemuan.

"Dia, orang yang harus kalian kendalikan atau lenyapkan." Ujar Sehun. Tidak, sekarang bukan saatnya untuk merasa ragu, sekarang bukan saatnya untuk mementingkan perasaan, sekarang bukan saatnya untuk egois.

"Aku Oh Sehun berbicara sebagai pemimpin kalian. Kai, orang yang harus kalian kendalikan atau hancurkan. Lakukan semua tindakan untuk mencegah jatuhnya korban sipil, dari pihak manusia, vampire, atau campuran. L, Sungkyu, Woohyun, Hoya, Seungyeol, Sungjong, Dongwoo. Pimpin pasukan kalian untuk mencegah jatuhnya korban sipil. Kalian paham?!"

"Ya Tuan!"

"Sekarang bubar dan laksanakan perintah!"

"Ya Tuan!"

Kedua tangan Sehun mengepal kuat, duri tajam bunga mawar menusuk dalam kulitnya, mengalirkan darah. Tapi luka tak seberapa itu. Tidak bisa dibandingkan dengan luka di dalam hatinya. Menyuruh untuk menghabisi seseorang yang dia cintai, seseorang yang dia pedulikan, berarti Sehun juga telah membunuh dirinya sendiri.

.

.

.

"Hanya kalian yang datang?"

"Ya."

"Dimana sisanya?"

"Mereka tidak ingin terlibat."

"Bahkan jika seluruh vampire, manusia, dan darah campuran musnah, mereka tidak ingin terlibat?"

"Tidak sama sekali."

Kevin tertawa pelan sembari memutar tubuhnya. Mengamati Yonghwa dan Minhyuk. "Terimakasih kalian memutuskan untuk membantu."

"Aku tidak ingin melihat korban sipil." Terang Yonghwa.

"Mungkin aku bisa menggunakan mementum ini untuk menebus kesalahan di masa lalu." lanjut Minhyuk.

"Baiklah, ada yang harus kita lakukan sekarang. Tidak ada banyak waktu yang tersisa. Kita akan pergi bersama Tuan Oh Sehun. Kita akan berada di garis depan, menjadi yang pertama berhadapan dengan Nemesis."

Yonghwa dan Minhyuk menatap Kevin dengan serius. Kevin membalas tatapan keduanya, mencoba mengingat wajah mantan rekannya di pasukan elit kerajaan. Tidak ada yang berubah, bodoh jika Kevin berharap bisa melihat sedikit perubahan pada wajah mereka. Kedua rekannya vampire sama seperti dirinya, membeku dalam waktu.

"Mungkin—ini akan menjadi pertarungan terakhir kita. Apa kalian siap?"

"Tidak masalah."

"Kurasa tidak masalah jika Yonghwa tidak masalah." Balas Minhyuk.

.

.

.

Kai membuka kedua kelopak matanya perlahan. Langit cerah, semilir angin, dan wangi Lavender. Indah, semuanya nampak indah. Kai tersentak karena ingatan tentang dimana tempat terakhirnya berada tiba-tiba menyeruak. Mendudukan dirinya, Kai menoleh ke sekeliling mencari seseorang yang mungkin dia kenal.

Nihil, tidak ada siapapun. Ia lantas berdiri dan berjalan cepat menyusuri jalan tanah yang membelah ladang Lavender. Menuju ke arah bangunan yang terlihat dari tempatnya berada sekarang. Namun, semakin cepat kedua kakinya melangkah. Bangunan yang ditujunya menjauh.

Kai berhenti ketika dia menginjak tanah lembek. Melihat ke bawah memastikan apa yang dilihatnya, Kai melihat genangan air di bawah kakinya. Wangi Lavender mulai tercium samar. Memutar tubuhnya memeriksa keadaan sekitar. Kai melihat kelopak-kelopak Lavender perlahan mengering.

"Apa kabar?"

Kai terperanjat ia tidak tahu sejak kapan Jongin berdiri di hadapannya. "Apa kabar?" Jongin mengulang pertanyaan. Kai bungkam. Jongin tersenyum miring atau lebih tepatnya menyeringai. "Duduklah."

Kening Kai berkerut mendengar kalimat terakhir Jongin, hal itu terjadi sebelum sesuatu yang keras menyentuh lutut belakangnya, ia menoleh ke belakang dan mendapati kursi kayu berwarna hitam berada di belakang tubuhnya. Kemudian tubuh Kai terdorong ke belakang, di luar kendalinya. Ia menduduki kursi kayu hitam itu.

Jongin terlihat menduduki kursi yang sama, menyeringai, selanjutnya menumpukan kaki kanannya di atas kaki kiri, duduk dengan menyilangkan kaki. Punggungnya bersandar pada kursi dengan nyaman.

"Apa kabar?" Jongin kembali mengulangi pertanyaan memuakan itu.

"Jawaban seperti apa yang kau harapkan?" Kai melempar tatapan putus asa, karena rasa sakit akibat kehilangan semua yang dia miliki tiba-tiba menyeruak.

Kai mendengar suara tawa Jongin, tawa itu hanya berlangsung singkat sebelum Jongin melemparkan tatapan tajamnya lagi. "Apa kau dikhianati?"

"Tidak, aku hanya merasa marah."

"Hubunganmu dengan Sehun? Sepertinya kalian saling menyukai ah bukan, tapi saling mencintai lebih tepatnya."

"Sehun…," gumam Kai.

"Apa kau tahu yang sedang Sehun lakukan sekarang?"

Kai tidak menjawab, Jongin tersenyum bersamaan dengan pemandangan bangunan di belakang tubuhnya yang terbakar. Menampakan tempat dimana seharusnya Kai berada. Kai berdiri dari kursinya berniat untuk menghampiri semua orang ketika dia sadar jika semua orang tidak menyadari kehadirannya.

"Apa yang kau lakukan padaku?!" Kai berteriak sekuat tenaga.

"Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya memenuhi takdirmu."

"Takdir apa?!" untuk kedua kalinya Kai berteriak, kedua telapak tangannya mengepal kuat.

"Kau lihat semua tentara itu?" Jongin bertanya dengan suara lembut. "Mereka bawahan Sehun, diperintahkan untuk menyelamatkan semua orang dari kehadiranmu."

"Brengsek kau Jongin!" Kai berteriak sembari berlari menghampiri Jongin. Ia berhasil membebaskan diri dari kursi yang dia duduki. Kai berniat melayangkan pukulan pada wajah Jongin. Jongin menghentikan pukulan Kai dengan sangat mudah.

"Mereka diperintahkan untuk menghentikanmu dengan cara apapun, termasuk menghabisimu."

"Kau menghancurkan hidupku." Desis Kai.

"Aku? Menghancurkan hidupmu?" Jongin bertanya nyaris terkekeh. "Bodoh!" pekik Jongin mendorong tubuh Kai kuat, Kai terhempas ke atas tanah berlumpur. Kaki kanan Jongin menekan dada Kai. "Nemesis penjaga keseimbangan, menegakan keadilan, antara manusia dan vampire atau sekarang kita bisa menambahkan darah campuran."

Jongin menggeram pelan. "Bahkan keberadaan darah campuran hanya menyajikan perdamaian semu. Manusia berkuasa, vampire tertindas. Vampire berkuasa, manusia tertindas. Berulang, berulang, berulang, seperti lingkaran yang tidak terputus. Sekarang, katakan apa takdir terakhir seorang Nemesis?"

Kai menatap kedua mata Jongin dengan penuh ketakutan. "Katakan apa takdir terakhir seorang Nemesis?!" Jongin berteriak kencang, kali ini ia berlutut di dekat tubuh Kai, menarik kerah Kai kuat dengan tangan kirinya. "Kau tahu Kai, kau tahu apa takdir terakhir seorang Nemesis. Kau tidak ingin mengatakannya?"

"Aku tidak sebiadab itu Jongin."

"Apa kau mengasihani mereka? Mereka yang hanya bisa saling menumpahkan darah? Dunia ini akan lebih baik tanpa penghuni. Tidak ada pertumpahan darah, hanya dipenuhi oleh hewan dan tumbuhan. Apa kau tahu di dunia ini yang bisa membunuh tanpa alasan hanya manusia dan vampire untuk itulah Nemesis hadir di antara mereka memberi keseimbangan."

Kedua mata Jongin menatap lekat bola mata Kai, mencari jawaban. "Lalu mereka, manusia dan vampire juga darah campuran, mencari cara untuk memusnahkan Nemesis kemudian memulai perang baru untuk mencari pemenang tunggal, penguasa abadi."

Jongin mendekatkan wajahnya pada Kai, membuat ujung hidung keduanya bersentuhan. Kai melihat kedua bola mata merah darah Jongin. "Kau tahu mereka semua sudah melewati batas, aku pernah mendengar mereka mengatakan jika peraturan dibuat untuk dilanggar, batas dibuat untuk dilalui. Sombong. Sekarang tidak ada maaf lagi."

"Tidak Jongin." bisik Kai.

"Sekarang pikirkan tentang keluargamu, apa yang mereka lakukan pada keluargamu. Apa kau bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang keluargamu rasakan ketika ledakan itu terjadi, panasnya api, yang membakar seluruh tubuh mereka dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tidak ada yang tersisa. Kau akan memaafkan begitu saja?"

"Tidak, aku akan menghabisi mereka yang menghabisi keluargaku. Tapi aku tidak menyentuh mereka yang tidak bersalah."

"Kau benar." Balas Jongin sambil tersenyum. "Kau sangat baik, pemaaf, dan murah hati." Kedua bola mata merah darah Jongin berubah warna menjadi cokelat teduh. "Tapi…, pemikiran seperti itu hanya membuatmu lemah, dengan atau tanpa persetujuanmu, tugas terakhir seorang Nemesis tetap dilaksanakan." Jongin menyeringai.

Kedua tangan Jongin terangkat mengusap kedua bahu Kai dengan lembut. Kemudian dengan seringai menghiasi wajah, Jongin mendorong tubuh Kai kuat.

"Jongin!"

Kai tidak tahu sejak kapan di belakang tubuhnya terbentang jurang yang begitu dalam, ketika tubuhnya meluncur ke bawah. Ia melihat seluruh ladang Lavender dan langit cerah terbakar di belakang tubuh Jongin.

"Mereka menyulut api, sekarang mereka akan terbakar." Kai mendengar kalimat terakhir Jongin sebelum tubuhnya meluncur bebas ke dasar jurang yang gelap dan dalam.

TBC

Halo semua maaf selow update dan ini sekali update mungkin terlalu pendek, untuk FanBook sedang terkendala illustrator entah sampai kapan maafkan sekali lagi. Dunia nyata sedang menguras energy. Terimakasih masih mengikuti cerita ini, terimakasih review kalian opikkim, sisca lee (untuk sisca lee makasih reviewnya yang panjang pake bahasa Inggris lagi, aku terharu meski nilai Bahasa Inggris F terus kudu buka kamus biar ngerti isi reviewnya hehehe), heorayoung, ajxx11, doubleuu, tobanga garry, saya sayya, Jeyjong, cute, Hana, Esti dm, Jinchanjimin1, dilkai, siyohyuncho, ulfah cuittybeams, hkhs9488, GaemGyu92, dyla28, Park RinHyun Uchiha, novisaputri09, Kim Jongin Kai, jongiebottom, chogiwillis. See ya next chap….