Back in Time

KAISOO, EXO member, OC

T - M, GS

Author by rerudo95

N.B : cerita ini terinspirasi dari drakor " Time Sleep dr. Jin ", tapi hanya pada part awal. Alur cerita murni pemikiran sendiri. Rated berubah M seiring berjalannya waktu, dan gak jamin juga kalo bakal bagus. Karena aku masih baru, kalau ada typo, ceritanya kurang bagus atau susah dimengerti mohon dimaklumi. Oh ya, jika cerita ini memiliki unsur kesamaan dengan cerita lain juga mohon dimaklumi, saya tahu cerita seperti ini cukup pasaran :D. Sekian cuapcuapnya, don't forget to review. Thanks a lot. J

Yang gak suka GS harap segera tutup cerita ini.

Warning!

NC inside. Not hot as you expected.

I warn you!

.

.

.

Chapter 6

One and Only

Day 5

Senin, 16 Mei 2016

.

Suara alarm membangunkan Kyungsoo dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata bulatnya, mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang masih tercecer. Seperti hari-hari sebelumnya, langit-langit kamarlah yang pertama kali menyambutnya di saat ia membuka mata.

Jam menunjukkan pukul enam pagi. Masih ada banyak waktu sebelum ia harus kembali bekerja. Sejujurnya ia malas berangkat hari ini. Namun ia tak ingin gajinya di potong. Kyungsoo berguling ke sisi pinggir dan perlahan senyumnya mengembang. Melihat seseorang yang masih bergelung dengan selimut di sebuah kasur lipat di samping ranjangnya.

Jongin. Ya pria itu lagi. Ia masih tertidur, mulutnya sedikit terbuka dan menurut Kyungsoo itu sangat lucu. Pelan-pelan Kyungsoo mencari ponselnya. Membuka aplikasi kamera dan mengambil beberapa gambar wajah Jongin. Ia terkikik gemas, nyaris memekik karena terlalu senang. Ia menutup mulutnya saat melihat Jongin bergerak.

Pikiran Kyungsoo melayang pada kejadian malam tadi. Ia masih tak percaya. Keraguan yang semula sirna kini kembali lagi. Kekuatirannya akan reaksi Jongin saat semua kebenaran terungkap membuat Kyungsoo menggigil. Jongin mungkin bisa berbalik benar-benar membencinya nanti.

Adakah cara untuk menebus semua yang ia lakukan?

Kyungsoo terperanjat saat melihat pergerakan dari Jongin. Mata elang itu perlahan terbuka. Sedikit kehilangan orientasi keberadaannya. Sampai ia melihat Kyungsoo meringkuk di pinggir ranjang. Secepat kilat Kyungsoo mengubah ekspresinya menjadi ceria. Ia memasang senyum lebar tanpa emosi berarti.

" Selamat pagi. ", Jongin tersenyum dan mengucapkan selamat pagi. Suaranya sangat serak dan matanya belum terbuka sempurna. Ia meregangkan tubuhnya dan mencoba duduk.

" Jam berapa sekarang? ", tanya Jongin. Ia terlihat masih mengantuk. Wajar saja, mereka tiba diapartemen ja satu pagi. Jongin yang menyetir selama perjalanan jelas merasa sangat lelah. Sedangkan ia tertidur dengan pulas selama perjalanan pulang.

" Enam lebih seperempat. "

" Masih sangat pagi. ", gumam Jongin sebelum bersandar pada ranjang Kyungsoo. Dari jarak sedekat itu Kyungsoo dapat mencium aroma shampo yang di pakai Jongin kemarin. Bau yang sama seperti rambutnya namun tetap terasa berbeda. Entahlah Kyungsoo bingung menjelaskannya.

Merasa di perhatikan Jongin mengangkat kepalanya, menyandarkan dagunya pada gulungan selimut Kyungsoo. Wanita itu tersenyum lucu membuatnya tertular untuk tersenyum.

" Oy pemalas. Hari ini kita bekerja. ", Kyungsoo berani menjepit hidung Jongin. Namun pria itu mengambil tangannya dan menempelkannya pada pipinya.

" Tanganmu dingin. "

" Benarkah? ", Kyungsoo mencoba menarik tangannya kembali namun Jongin lebih kuat menahannya. Hal yang selanjutnya pria itu lakukan adalah menggenggam tangannya yang dingin, menguapinya dengan nafas hangatnya dan menempelkannya kembali ke pipi. Sangat sederhana bahkan terlihat tak begitu berarti namun berhasi membuat seluruh tubuh Kyungsoo bergetar karena bahagia. Terlebih ketika Jongin membuka kedua matanya dan menatap Kyungsoo. Tatapan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan yang tak pernah Kyungsoo kira akan ia dapatkan dari orang sedingin Jongin.

" Saranghae. ", satu kata yang mampu membuat nafas Kyungsoo hilang sesaat. Kyungsoo merasa dunianya berputar. Bukan suatu yang buruk untuk dirasakan tapi sesuatu seperti kau baru saja mengonsumsi obat dengan kadar yang berlebihan. Tubuh dan hatimu terasa seringan kapas.

" Ulangi sekali lagi. ", Kyungsoo tersedak. Kata itu begitu didambanya sejak lama. Matanya memburam tapi anehnya ia masih melihat Jongin dengan sangat jelas. Pria itu tersenyum lembut dan mengulanginya lagi.

" Saranghae saranghae saranghae. ", tak tahan dengan kebahagian yang membuncah Kyungsoo beringsut mendekat dan memeluk kepala Jongin. Menangis di ceruk leher pria yang mengelus rambutnya sayang. Meski sesungguhnya Jongin tak tahu bagaimana perasaan Kyungsoo yang sesungguhnya. Alasan mengapa Kyungsoo menangis.

Kyungsoo merasa tersesat.

...

Seluruh pegawai rumah sakit yang mengenal Jongin sepenuhnya tercengang. Saat menemukan dokter berdarah dingin itu datang dengan senyum ramah yanh sialnya sangat tampan. Beberapa pegawai wanita sampai tak sadar jika mulut mereka menganga dengan air liur yang siap menetes.

Kyungsoo yang sengaja masuk lebih lambat dari Jongin - mereka masih merahasiakan hubungan mereka - menatap bingung semua orang. Termasuk Chaeyeon, bahkan mulutnya sampai menganga lebar. Kyungsoo harus mengibaskan tangannya beberapa kali di depan wajah wanita cantik itu untuk menyadarkannya.

" Ada apa? "

" Baru saja ada dewa yang datang kesini? ", Kyungsoo mengerutkan dahinya bingung. Ia menatap kearah mana Chaeyeon termenung dan hanya menemukan koridor yang sepi dan kosong.

' plak ', itu suara tepukan tangan Dean, kekasih Chaeyoen. Wajahnya terlihat tidak suka.

" Sebenarnya ada apa? ", tanya Kyungsoo lagi. Ia kira percuma bertanya pada Chaeyeon yang masih terjebak dengan euforianya.

" Kim seongsae terlihat aneh hari ini. "

" Aneh? "

" Ya. Dia datang dengan senyum. Bukan senyum lebar, tapi tetap saja terlihat aneh. Bahkan dia tadi menyapa tuan Go. ", tuan Go yang dimaksud adalah tukang bersih-bersih di sekitar ruangan ini. Kyungsoo menggembungkan pipinya, mencoba menahan senyum lebarnya. Ia paham mengapa pegawai wanita disini tercengang. Dengan senyum seperti itu Jongin tiga kali lipat bertambah tampan.

Kyungsoo mencubit lengannya sendiri. Senang dengan rasa sakit yang ia rasakan. Berarti ini bukan mimpi. Ini sebuah perkembangan baik untuk Jongin. Ia sangat ingin Jongin kembali menjadi sosok yang hangat. Berteman dengan siapapun dan mampu mengobati lukanya sendiri. Hingga nanti jika saja Kyungsoo menyakitinya lagi, Jongin mampu mengatasinya.

...

Jongin meregangkan tubuhnya yang kaku. Pekerjaannya hari ini sudah selesai. Hanya tinggal pulang dan menikmati makan malam hasil karya Kyungsoo. Baru membayankannya saja ia sudah merasa lapar.

Tak ingin membuang waktu Jongin membereskan mejanya namun kegiatannya terinterupsi karena ponselnya yang bergetar. Jongin merogoh saku celananya, mengambil ponselnya dan tersenyum. Kyungsoo menelponnya. Tak perlu berpikir dua kali lagi untuk segera mengangkat panggilan itu.

" Yeoboseyo. ", suara Kyungsoo terdengar lembut dan Jongin membiarkan hatinya bergetar.

" Kau sudah selesai? "

" Ah itu. ", Jongin mengerutkan keningnya. Suara Kyungsoo terdengar gugup dan ragu. Ia bertanya-tanya apa yang coba Kyungsoo katakan padanya.

" Ada apa? "

" Apa kau sudah mau pulang? Maaf hari ini aku ada janji makan malam diluar. Apa tidak apa jika kau makan sendiri? Aku sudah memasak, hanya tinggal dipanaskan saja. "

" Dengan siapa? ", jeda cukup lama membuat Jongin curiga. Akankah Kyungsoo menemui Sehun lagi.

" Apa dengan Sehun? "

" Tidak, bukan dia. Dia teman lamaku. ", tanpa sadar Jongin menghela nafas yang sedari tadi ia tahan.

" Baiklah. Hati-hati. ", ucapan selamat tinggal yang singkat dan sambungan itu terputus. Ia merasa sedikit kecewa. Namun rasa kuatir lebih mendominasi. Perasaan ini sungguh mengganggunya.

" Bisakah kita bicara sebentar? ", Jongin terkejut melihat Baekhyun yang masuk tanpa permisi. Baekhyun menatapnya dengan serius. Pertanda jika ia ingin menyampaikan hal yang penting. Tapi saat ini dorongan untuk mengikuti Kyungsoo jauh lebih besar.

" Bagaimana dengan besok. Aku harus mengejar Kyungsoo. "

" Kebetulan sekali. Jadi aku akan langsung menunjukkannya padamu saja. "

...

Seluruh tangan Kyungsoo bergetar pelan. Ia tak menyangka hari ini akan terjadi begitu cepat. Tadi ketika makan siang sebuah nomor tak dikenal menghubunginya. Dia Luhan, mengajaknya bertemu dan makan malam bersama. Tapi ia tahu ini bukan hanya sekedar makan malam biasa.

Butuh waktu bagi Kyungsoo untuk memepersiapkan diri. Memikirkan situasi yang akan ia hadapi nanti. Ia sedikit memiliki kekuatan karena Jongin balas mencintainya. Meski ia tak tahu seberapa kuat perasaan itu bertahan jika Jongin tahu Luhan telah kembali.

Kyungsoo menghela nafas keras. Menormalkan nafasnya yang terasa berat. Ia hanya perlu masuk. Mengatakan pada Luhan jika ia tak akan menyerah pada Jongin.

Sesuai pesan singkat yang Luhan kirimkan siang tadi, mereka akan bertenu di ruang VIP lantai dua. Kyungsoo hanya menyebutkan nama Luhan saja dan pelayan sudah langsung mengantarnya. Luhan sudah ada disana. Terlihat sangat cantik seperti biasa, wajahnya terlihat begitu muda padahal Luhan dua tahun lebih tua dibanding dirinya. Jelas saja jika Jongin begitu tergila-gila pada Luhan.

Kyungsoo tak sanggup membuka mulut untuk bersuara. Membandingkan dirinya dengan Luhan jelas salah. Bahkan rasanya ia tak cukup sebanding dengan sepatu Luhan.

" Sudah lama kita tidak bertemu seperti ini bukan? ", Luhan akhirnya yang mengambil alih. Suaranya terdengar ramah. Namun itu bukan poin utamanya. Kyungsoo tahu ada hal busuk yang Luhan sembunyikan dibalik senyum menawannya. Kyungsoo sama sekali tak berniat membuka suaranya. Terlebih ia hanya ingin menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan.

" Benar Luhan. Sudah sangat lama. ", senyum sinis Luhan terpampang jelas di bibir merahnya. Muak dengan suara Kyungsoo yang lembut. Ia muak dengan semua kepalsuan Kyungsoo.

" Kau tentu tahu untuk apa aku kemari bukan? ", ucapnya ringan. Ia sudah mengamati perkembangan hubungan Kyungsoo dan Jongin. Dan baru-baru ini ia tahu Kyungsoo sudah menusuknya dari belakang.

" Jadi sekarang bolehkan aku mengambilnya kembali. "

" Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika ternyata kami saling mencintai. ", tawa mengejek Luhan terdengar sangat menjengkelkan bagi Kyungsoo.

" Kau pikir aku tidak tahu? Tapi maaf Kyungsoo, dia milikku. Aku akan mengambilnya kembali. "

" Ambil saja jika kau bisa. "

" Apa kau sedang bertaruh denganku? ", Luhan bangkit dari kursinya dan pindah kesebelah Kyungsoo. Ia membelai surai lembut Kyungsoo dan bisa merasakan getaran diseluruh tubuhnya. Kekehan geli menggema di ruangan yang terasa mencekam itu.

" Lihatlah. Bahkan tubuhmu menghianati mulutmu sendiri. ", Kyungsoo mencoba untuk tetap diam. Namun belaian Luhan pada rambutnya membuatnya tak tenang. Ia merasa seperti domba yang akan dibawa ke rumah penjagalan. Siap untuk dikuliti dan dibunuh.

" Jika Jongin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ia tak akan marah padamu sayang? ", emosi Kyungsoo tersulut. Ia menoleh dan menatap balik manik Luhan yang memancarkan kepolosan yang palsu.

" Tidakkah kau pernah berpikir ia akan lebih marah pada mu? Kau meninggalkannya lima tahun lalu. Melukainya begitu dalam. Dan kau memintaku menjaganya? Mengobati lukanya, dan setelah ia sembuh kau mengambilnya kembali. Dimana kau belajar tentang semua keegoisan itu Luhan? Aku tak habis pikir padamu. ", sebuah tamparan keras yang ia dapatkan setelah Kyungsoo menyelesaikan ucapannya.

" Siapa yang memintamu mengobati lukanya Kyungsoo? Aku hanya menyuruhmu menjaganya agar tak dimiliki oleh orang lain. Lalu apa, kau malah menusuk temanmu ini diam-diam? Jawab Kyungsoo ya. ", bentak Luhan benar-benar marah.

" Teman? Kau menganggap aku temanmu? Apa kau bahkan tahu arti teman? ", Kyungsoo tersenyum sinis. Bangga bisa mengelurkan isi hatinya pada Luhan. Sedangkan Luhan hanya diam, tak mampu menjawab ataupun menyanggah ucapan Kyungsoo.

" Ayo kita buktikan siapa yang akan Jongin pilih pada akhirnya. ", ucap Kyungsoo final. Ia tak akan mundur meski nantinya ia akan hancur.

...

Jongin menatap sebuah restoran sashimi didepannya. Baekhyun yang duduk di sampingnya hanya terus diam. Menatap fokus kearah luar. Dan kini ia tahu Baekhyun menunggu Kyungsoo masuk lebih dahulu. Jongin tak berani bertanya karena entah mengapa bernafaspun terasa sangat berat.

" Ayo. "

Baekhyun memimpin jalan. Mengarahkannya kesebuah ruang makan VIP. Ruangan di sebelah rupanya juga digunakan. Siluet dua orang wanita tergambar jelas lewat pintu sekat berbahan kertas itu. Dari sana Jongin mengenal salah satunya. Kyungsoo ada diruangan itu entah dengan siapa.

Baekhyun meletakkan satu jarinya didepan bibir. Sebagai isyarat untuk diam dan mendengarkan dengan baik-baik.

" Sudah lama kita tidak bertemu seperti ini bukan? ", jantung Jongin berdetak tak nyaman. Rasanya sangat sakit mendengar suara itu lagi setelah sekian lama.

" Benar Luhan. Sudah sangat lama. ", darimana Kyungsoo mengenal Luhan? Itulah pertanyaan Jongin. Namun Baekhyun tak ingin menjawab. Ia hanya terus menatapnya datar.

" Kau tentu tahu untuk apa aku kemari bukan? ", nafas Jongin terengah karena rasa tidak sabar. Ia penasaran namun juga takut mendengar apa yang akan mereka bicarakan. Logikanya sudah memberitahunya berbagai teori yang masuk akal namun hatinya jelas menolak.

" Jadi sekarang bolehkan aku mengambilnya kembali. "

" Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika ternyata kami saling mencintai. ", tawa mengejek Luhan membuat luka baru di hati Jongin. Terdengar aneh, bukan seperti Luhan yang ia kenal. Ia butuh penjelasan lebih lagi, jadi ia putuskan untuk menyimak meski hatinya terus terluka.

" Kau pikir aku tidak tahu? Tapi maaf Kyungsoo, dia milikku. Aku akan mengambilnya kembali. "

" Ambil saja jika kau bisa. "

" Apa kau sedang bertaruh denganku? ", bayangan tubuh Luhan bergerak. Duduk tepat disamping Kyungsoo. Jadi posisi kedua wanita itu duduk membelakanginya.

" Lihatlah. Bahkan tubuhmu menghianati mulutmu sendiri. Jika Jongin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ia tak akan marah padamu sayang? ", Jongin pun bertanya dalam hatinya. Apakah ia marah saat ini.

" Tidakkah kau pernah berpikir ia akan lebih marah pada mu? Kau meninggalkannya lima tahun lalu. Melukainya begitu dalam. Dan kau memintaku menjaganya? Mengobati lukanya, dan setelah ia sembuh kau mengambilnya kembali. Dimana kau belajar tentang semua keegoisan itu Luhan? Aku tak habis pikir padamu. ", Jongin hampir berlari mendobrak pintu penyekat itu saat mendengar suara tamparan, dan melalui bayangan ia tahu jika Kyungsoo lah yang ditampar. Namun suara Luhan kembali menahan langkahnya untuk pergi.

" Siapa yang memintamu mengobati lukanya Kyungsoo? Aku hanya menyuruhmu menjaganya agar tak dimiliki oleh orang lain. Lalu apa, kau malah menusuk temanmu ini diam-diam? Jawab Kyungsoo ya. ", bentak Luhan kembali terdengar. Tak lagi pura-pura manis seperti diawal.

" Teman? Kau menganggap aku temanmu? Apa kau bahkan tahu arti kata teman? "

" Ayo kita buktikan siapa yang akan Jongin pilih pada akhirnya. ", ucap Kyungsoo final.

Jongin masih terdiam meski Luhan dan Kyungsoo sudah pergi beberapa menit yang lalu. Kejadian hari ini benar-benar tak pernah ia bayangkan. Kecewa, marah dan sedih bercampur aduk hingga dadanya terasa sesak.

Kini ia tahu mengapa Kyungsoo seolah selalu menahan diri. Tidak ingin hubungan mereka diketahui orang lain. Alasan mengapa Kyungsoo dulu menolak pertunangan mereka, menghindari segala bahasan tentang menikah sesudahnya. Kini ia tahu semuanya. Tapi masih ada yang mengganjal. Apa yang sebenarnya terjadi antara Luhan dan Kyungsoo.

Apakah selama ini ia hanya sebuah mainan?

" Apa semua sudah jelas untukmu? ", Jongin baru sadar jika Baekhyun masih disini bersamanya. Ia menatap wanita itu dengan tatapan yang kosong. Pikirannya jauh dari tempatnya berada saat ini.

" Aku hanya bisa menunjukkan ini. Jika kau ingin tahu lebih baik kau bertanya pada Kyungsoo atau Luhan secara langsung. Meskipun caranya salah ketahuilah Kyungsoo memiliki hati yang tulus untuknmu. "

...

Kyungsoo tak langsung pulang. Kini ia duduk di sebuah kursi panjang ditepi sungai Han. Ia merenungkan banyak hal. Dan satu diantaranya adalah bagaimana ia harus mengunhkapkan semuanya pada Jongin.

Mengatakan jika ia memang sengaja datang dalam hidupnya. Menjadi seorang malaikat penolong padahal ia hanya suruhan sang iblis.

Akankah Jongin menerima penjelasan seperti itu? Kyungsoo merasa pesimis.

Namun satu hal yang dipegangnya. Jongin harus tahu semua ini dari mulutnya sendiri. Ia tak mempercayai Luhan lagi. Dan itu harus terjadi malam ini.

Jadi Kyungsoo mengambil ponselnya, menghubungi Jongin yang entah sekarang berada dimana. Tak lama suara bass Jongin terdengar, membuat jantungnya berdesir dengan cara yang berbeda. Rasa sakit dan was-was.

" Kau ada dimana? ", suaranya terdengar ceria. Berbanding terbalik dengan air matanya yang mula mengaliri kedua pipinya.

" Di kamarmu. ", jawab Jongin diseberang sana. Entah kenapa suara Jongin terdengar berbeda dari biasanya.

" Apa kau sudah makan? "

" Belum. "

" Apa kau mau ayam? Kebetulan aku berada didekat restoran ayam yang enak. ", tawar Kyungsoo. Sebagai percobaan pertama akankah Jongin mau dengan hal yang ia tawarkan. Mungkin terdengar sederhana dan tidak berarti apa-apa, tapi itu berarti besar bagi Kyungsoo saat ini.

" Baiklah aku tunggu. ", sebuah senyum kecil berhasil menghiasi bibir Kyungsoo.

" Eum. Aku akan segera kembali. "

...

Jongin tak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang. Ia tak tahu harus bertindak seperti apa. Harusnya ia merasa marah dan kecewa. Namun ia tak menemukan dua hal itu dalam benaknya. Jongin bingung, sepenuhnya bingung.

Bahkan ketika ia akhirnya melihat wajah Kyungsoo dan pipinya yang memerah. Jongin hanya ingin menciumi bibir plum itu hingga ia kehabisan nafas.

" Kenapa lampunya tidak dinyalakan? ", tanya Kyungsoo. Belum sampai wanita ke saklar lampu Jongin sudah menyerangnya. Menghimpitnya ke tembok dan mencium tepat pada bibirnya. Kyungsoo yang mendapat serangan tiba-tiba hanya bisa terpaku ditempat. Punggungnya sakit tapi kehangatan yang melingkupi tubuhnya membuat Kyungsoo terlena.

Perlahan ia mengalungkan lengannya pada leher Jongin. Menelantarkan ayam dan soju yang dibawanya tadi kini tergeletak dilantai. Kyungsoo mencoba menyeimbangkan pagutan Jongin pada bibirnya.

Jongin mencoba merasakan Kyungsoo lebih dalam, ia menerobos masuk dalam mulut hangat itu. Mengabsen deretan gigi yang rapi. Lenguhan Kyungsoo terdengar ketika Jongin menggelitik langit-langit mulutnya. Membelit lidah pasif Kyungsoo dan mengajaknya bergulat.

Jongin menelaah perasaannya. Ia tahu seharusnya ia marah, namun ia tak menemukan satu titik api kemarahan dalam dadanya. Ia malah merasa bersyukur Kyungsoo datang dalam kehidupannya yang nyaris hancur karena ulahnya sendiri.

Ia merasa lega karena Kyungsoo ada disini bersamanya.

Cengkraman Kyungsoo pada bahunya mengingatkan Jongin jika Kyungsoo mulai kehabisan nafasnya. Satu hisapan kuat pada lidah Kyungsoo mengakhiri ciuman itu. Bibir Kyungsoo terlihat merah dan mengkilat karena saliva.

Jongin menatap Kyungsoo yang masih memejamkan matanya. Perlahan Kyungsoo mulai terisak, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Jongin memeluk Kyungsoo. Membisikkan kata-kata penenang bagi wanitanya yang berharga.

" Ssst. Jangan menangis. ", ucapnya berkali-kali. Namun Kyungsoo malah semakin kencang menangis. Tubuhnya berguncang cukup kuat. Jadi Jongin membiarkannya. Mengusap punggung Kyungsoo sebagai gantinya. Hatinya benar-benar sakit mendengar isakan Kyungsoo, seolah ia bisa merasakan hatinya. Kyungsoo secara garis besar sama seperti dirinya. Bingung dan kehilangan arah. Meski kebingungan mereka karena hal yang berbeda.

Cukup lama berada dalam posisi itu akhirnya Kyungsoo menarik diri. Masih sesenggukan namun setidaknya air matanya sudah berhenti keluar.

" Ada yang ingin aku katakan padamu. ", lirih Kyungsoo. Jongin menyentuh dagu Kyungsoo dan membuatnya mendongak. Jongin tersenyum, melihat kecemasan dalam manik Kyungsoo yang indah.

" Eum. Ada banyak yang ingin aku tanyakan padamu. "

...

Bicara. Begitulah niat awal mereka, namun hingga setengah jam berlalu Kyungsoo maupun Jongin tak ada yang membuka mulut. Meski hanya sekedar bertanya basa-basi.

Jongin mencoba menghentikan Kyungsoo yang ingin menenggak satu gelas lagi, yang berarti ia menghabiskan satu botol soju sendirian.

" Aku membutuhkannya. ", gumam Kyungsoo pelan dan dengan itu Jongin melepaskan tangannya. Kepalanya mulai berdentum menyakitkan tapi Kyungsoo masih merasa sadar sepenuhnya. Ini aneh, karena bahkan disaat biasa ia akan langsung mabuk di gelas yang ke lima.

Mata elang Jongin terus mengawasinya ketika Kyungsoo mencoba untuk berdiri. Denyutan dikepalanya membuat tubuh Kyungsoo oleng. Ia harus berpegangan pada meja agar tak terjatuh. Jongin sudah setengah jongkok untuk membantunya namun Kyungsoo mengangkat tangannya. Mengatakan jika ia tidak apa-apa.

Tujuannya adalah ruang kecil yang ia pakai sebagai gudang. Mengambil satu kotak besar yang ia simpan baik-baik selama ini. Kyungsoo membawanya keruang tengah. Menyerahkan benda itu pada Jongin.

" Bukalah. ", perintahnya. Kyungsoo duduk disamping Jongin yang mengernyit. Ketika penutup kotak itu terbuka Jongin dapat mengenali barang-barang didalamnya.

Kaos, boneka beruang berukuran kecil, gantungan kunci, phone case, beberapa keping CD, sebuah album foto, dan yang paling Jongin perhatikan adalah satu kotak berukuran sedang. Jongin tahu pasti apa isinya. Sebuah kalung dengan bandul kunci yang cantik.

" Dulu aku bersekolah di China. Disana aku bertemu dengan Luhan. Kami berteman dekat karena dia satu-satunya siswi yang bisa berbahasa Korea. ", Kyungsoo mencoba mengabaikan tatapan yang Jongin berikan padanya. Ia mengambil satu botol soju lagi. Hanya dari situlah kekuatannya sekarang.

" Tapi ditahun kedua ia mengikuti pertukaran pelajar ke Korea. Luhan bukan tipe orang yang bisa bertahan dalam hubungan jarak jauh. Jadi komunikasi kami terputus cukup lama. Mungkim sekitar enam bulan aku terkejut karena Luhan mengirim email dengan isi pesan yang panjang. ", Kyungsoo menoleh dan tersenyum kecil. Meskipun kini Luhan dan dirinya tidak rukun. Luhan masih bagian terbaik dalam hidupnya.

" Dia bercerita tentangmu. Hampir setiap hari ia mengirim email dan semua ceritanya tentangmu. Mendengar Luhan bercerita tentang orang sebangsaku. Aku sangat tertarik dan penasaran. Jadi aku menunggu emailnya setiap hari. Ku kira hanya sebatas itu. Sampai suatu kali, mungkin saat liburan musim panas Luhan mengirim foto kalian bersama. Sedang tersenyum dengan sangay lebar. Di foto itu tertulis jika kalian akhirnya berkencan. ", Kyungsoo menenggak sojunya lagi. Kali ini Jongin berhasil menghentikannya. Dengan kasar Jongin merebut botol ditangannya dan menaruhnya di atas meja.

" Lanjutkan dulu ceritamu. ", gumam Jongin dengan nada tajamnya. Kyungsoo tersenyum kecil, mungkin ini reaksi yang ia harapkan. Karena kini hatinya terasa sedikit ringan. Ia menekuk lututnya, memeluknya seperti anak kecil. Kyungsoo memandang layar televisi yang gelap. Dari sana ia bisa melihat Jongin yang tak memalingkan wajahnya.

" Email itu masih berlanjut. Luhan menceritakan apapun. Saat kalian berlibur bersama, kencan kalian, pertengkaran kalian, dan first kiss. Itu melukai hatiku tapi aku suka saat membayangkan aku berada di posisi Luhan. Gila bukan. Aku sudah tersesat sejak saat itu. Aku tahu aku menaruh perasaan padamu. ", Kyungsoo memejamkan matanya. Lagi-lagi air matanya turun tanpa di perintah. Sungguh jika ia bisa menggambarkan seberapa besar rasa bersalahnya, ia akan melakukannya.

" Kau ingat bukan saat semester ketiga di perguruan tinggi Luhan tiba-tiba kembali? Itu karena cita-cita nya. Ia ingin menjadi seorang model dan saat itu ia mendapat kontrak. Ia sangat bahagia namun juga bingung karena berarti dia akan berada jauh darimu. Apakah aku sudah mengatakan jika Luhan tidak bisa berhubungan jarak jauh? Mungkin awal-awal ia masih bisa membalas emailmu. Tapi karena jadwalnya yang padat ia memintaku mengurus emailnya. Yang berarti aku yang membalas emailmu. ", Kyungsoo tak berani membuka matanya. Takut. Ia tak ingin Jongin marah padanya sedangkan disisi lain ia merasa pantas di benci.

" Bodohnya aku melakukannya. Aku membalas emailmu dan menerima hadiah-hadiah darimu. Sampai kalung itu menyadarkanku. Tak seharusnya aku begini. Jadi aku mengembalikan semuanya pada Luhan. Tapi Luhan saat itu bukan Luhan yang aku kenal. Aku sangat terkejut saat ia memintaku menyimpannya atau membuangnya, itu terserah padaku. Aku kecewa padanya dan aku menghindar. Tetap membawa hadiah-hadiah itu untuk ku kembalikan padamu. Aku tak tahu apa yang salah denganku, tapi saat Luhan tahu aku akan pulang ke Korea ia mendatangiku. Ia minta padaku untuk menjagamu setidaknya sampai kontraknya habis. Berarti lima sampai enam tahun sejak itu. ", Kyungsoo terdiam sesaat. Membiarkan rasa dingin menusuk tulangnya. Ini bukan karena pendingin ruangan yang menyala. Tapi karena perih pada hatinya. Nyaris saja ia gagal melanjutkan ceritanya tapi ia menemukan kekuatannya kembali dengan mengingat senyum ibunya.

' Jika itu bukan milikmu maka kau harus mengembalikannya. ', nasihat ibunya terngiang di telinganya. Itu nasihat karena ia merebut boneka barbie milik temannya sewaktu ia masih berada di bangku taman kanak-kanak. Dan entah mengapa ia merasa dalam situasi yang sama.

" Terdengar egois, tapi aku lebih jahat. Aku menyanggupinya. Aku mencarimu dan mendekatimu. Tapi yang ku dapati kau sangat berbeda dengan yang Luhan ceritakan. Kau dingin, tak terjangkau. Ku pikir itu kesalahanku. Aku berusaha menebusnya tapi aku semakin jatuh padamu. Aku selalu mengingatkan diriku, Jongin milik Luhan temanku. Dan sikap dinginmu membuatku bisa bertahan. Tapi. ", kini Kyungsoo berani memalingkan wajahnya. Menatap mata Jongin dengan emosinya yang tak terbaca.

" Kau berubah akhir-akhir ini. Kau membuatku bingung dan senang disaat yang bersamaan. Lalu aku merasa takut. Jika kau tahu ini semua bagaimana akhir hubungan ini? ", Kyungsoo dan Jongin terdiam. Menyelami emosi masing-masing.

" Hukum aku. ", pinta Kyungsoo.

" Kau boleh memakiku, memukulku, meninggalkanku dan membenciku. Hukum aku Jongin. ", Kyungsoo menangis lagi. Jongin masih terdiam dan itu semakin membuatnya merasa bersalah.

" Aku tidak mempermainkanmu, sungguh. Aku juga tidak tahu mengapa aku berubah menjadi begitu bodoh. Aku hanya ingin bersamamu, aku ingin mencintaimu. Hanya itu. "

" Aku akan menghukummu. ", suara Jongin akhirnya terdengar. Kyungsoo memejamkan mata, menguatkan dirinya untuk kemungkinan terburuknya.

" Kau harus jadi milikku. Untuk sekarang dan selamanya. Kau harus mencintaiku setiap hari. Kau baru boleh berhenti jika aku yang memintanya. ", jawaban Jongin membuat Kyungsoo terkejut dan bingung. Harapan mengembang dalam dadanya ketika melihat Jongin tersenyum.

" Terimakasih karena sudah mencintaiku dengan begitu besar Kyungsoo. Terimakasih karena mengajarkanku banyak hal tentang cinta. "

" Kau tak seharusnya berterimakasih padaku. ", isak Kyungsoo. Jongin memegang kedua sisi kepala Kyungsoo dan membuatnya kembali mendongak. Jongin mengecup bibirnya dalam. Menyalurkan semua rasa syukur yang tak bisa Kyungsoo pahami.

Ciuman itu bertambah intens. Jongin mendekapnya dengan kuat dan hangat. Tubuhnya terasa lemas saat Jongin mengusap punggungnya. Dengan mudah Jongin berhasil menggendongnya ala pengantin. Kyungsoo mengalungkan lengannya pada leher Jongin dan menatapnya bingung. Jongin hanya tersenyum.

" Kau harus jadi milikku Kyungsoo. ", wajah Kyungsoo merona saat mengerti artian tersirat dalam kalimat Jongin. Sambil terkekh geli Jongin mengecup kening Kyungsoo.

" Bolehkah? "

" Eum. I want to be yours. "

...

" Jongin ssi. Jadilah milikku. Meski hanya untuk malam ini. Ku mohon, jadilah milikku. "

Dan disinilah mereka berakhir. Kamar Kyungsoo yang remang. Desahan nafas berat saling bersahutan seiring dengan kecupan basah kedua belah bibir itu. Jongin menyesap dengan kuat bibir Kyungsoo yang terasa manis dan memabukkan baginya.

Ia menggeram rendah saat Kyungsoo meremas rambutnya. Rasanya begitu nikmat setiap kali kulit telanjang mereka saling bersentuhan. Jongin menurunkan ciumannya menuju rahang, dan bermain sedikit lebih lama di leher Kyungsoo.

Meskipun remang, Jongin bisa melihat bekas samar kissmark yang dibuat Sehun sebelumnya. Jongin mencium bagian itu, menjilat dan menghisapnya kuat. Rasa puas memenuhi relung batinnya saat ciumannya telah menghapus jejak Sehun pada tubuh wanitanya. Ya. Jongin memilih Kyungsoo. Tak akan ragu lagi berteriak pada dunia jika Kyungsoo adalah miliknya dan dia adalah milik Kyungsoo. Tak ada lagi nama Luhan dalam hidupnya.

Apa yang ia lihat dan dengar tadi, apa yang sudah Kyungsoo ceritakan. Kini ia mengerti siapa yang tulus mencintainya dan laya untuk dipertahankan. Konyol memang, dan jika orang lain mengetahui pikirannya saat ini, ia pasti akan dikatai tolol. tak mengerti dengan dirinya sendiri.

Tapi melihat pancaran mata Kyungsoo ia tahu wanita itu jujur. Kyungsoo mengajari semua hal. Cinta, pengorbanan, ketulusan, kejujuran. Tak ada alasan baginya untuk menyacati Kyungsoo yang lugu dan naif.

Kyungsoo mengerang lebih keras saat Jongin bermain dengan payudaranya. Mulut Jongin yang panas bermain lembut disana membuat seluruh tubuh Kyungsoo meremang. Mendamba Jongin melakukan lebih padanya.

Jemari Kyungsoo mencengkram sprei kuat-kuat saat ciuman Jongin semakin turun menuju daerah paling sensitifnya. Ia mendesah dengan keras saat permainan lidah Jongin terasa menyiksa baginya. Memanggil nama Jongin sebagai permintaan tak terucap.

Jari-jari kakinya mengerut sempurna saat klimaksnya datang. Terengah-engah karena kepuasan yang Jongin berikan padanya. Sambil menstabilkan nafasnya, Kyungsoo mengintip apa yang tengah dilakukan Jongin. Wajahnya bersemu melihat mata Jongin. Tatapan penuh nafsu, kepuasan dan cinta. Kyungsoo terisak lagi. Menarik Jongin kedalam sebuah ciuman panas.

Kyungsoo mendongak saat merasakan kejantanan Jongin yang berusaha memasukinya. Nafasnya memendek saat merasakan perih melanda seluruh bagian tubuhnya. Jongin yang mengerti menyerang leher Kyungsoo dengan ciuman. Setelah cukup terbiasa Jongin kembali mendorong pinggulnya, cepat dan keras. Jantungnya berdegup antusias saat merasa cairan membasahi kejantanannya. Darah perawan Kyungsoo.

Jongin menghapus peluh di pelipis Kyungsoo dan mengecupnya sayang.

" Kyungsoo ya. ", bisiknya di sela-sela kecupannya. Wanita itu hanya menggumam sebagai jawaban.

" Jadilah milikku selamanya. Jangan biarkan aku pergi apapun yang terjadi. Karena aku tak akan pernah melepasmu pergi. ", setelah kata itu berhasil terucap keduanya saling bergerak. Menyambar satu sama lain. Bergerak dengan cepat dan liar. Memuaskan diri mereka yang haus akan keberadaan masing-masing.

" Aku mencintaimu. ", desah Jongin ditelinga Kyungsoo. Meremas pelan pinggang wanita itu saat hampir mencapai puncaknya. Kyungsoo mendesah dan menjerit. Kewanitaannya menjepit Jongin dengan kuat dan hangat. Beberapa gerakan terakhir mereka meledak bersama dalam puncak kenikmatan yang tak pernah mereka bayangkan akan mereka daki bersama.

Jongin yang lebih dulu tersadar dari euforianya. Ia menatap sayang Kyungsoo yang masih terengah di bawahnya. Kyungsoo begitu indah, fisik juga hatinya. Bagaimana ia bisa menjadi begitu buta padahal ada terang yang berjalan disisinya.

Ia tersenyum saat mata bulat itu terbuka perlahan. Menatapnya dengan cara yang indah.

" I love you. I won't let you go. ", ucap Jongin penuh penekanan. Ia terkekeh saat Kyungsoo menariknya dalam pelukan. Membuat miliknya tenggelam lebih dalam ke dalam kehangatan Kyungsoo.

" Me too. ", Jongin balas memeluk wanita itu. Memberi kecupan pada bahunya. Dan ia tak pernah merasa sebahagia ini sepanjang kehidupannya.

Keduanya kini menyadari. Mereka saling membutuhkan, saling memiliki. Harapan terbesar mereka untuk esok hari mereka akan tetap seperti ini.

Menjadi satu dan satu-satunya.

.

.

.

TBC

oke ini fail bgt kyaknya...

Sory for late update. Stuck bgt pas bagian mabuk itu

Aku harap masih sesuai harapan kalian reder-nim.

Cus cuapcuap kasih komen... soalnya aku merasa gagal bgt di chap ini...

.

.

Buat yg udh follow and review...jeongmal gomawo...kalian penyemangatku buat lanjut nulis...

Maaf kalo gak bisa bales satusatu tapi percaya deh aku baca semua dan berterimakasih ke kalian semua...

Yg gak yakin aku amatir, ak bneran masih amatir. Ak baru nulis bberapa bulan yg lalu

Jadi kalo masih ada salahsalah tolong di maklumi dan di koreksi ya..

Gomawo chingu ya... saranghae..