Sinar mentari menyusup di balik celah lekukan gorden, kemudian merambat pelan ke arah ranjang dengan seprai putih yang berantakan lalu berhenti tepat di wajah seseorang berkulit putih pucat, seseorang yang diperkirakan masih remaja. Dia menggeliat kemudian dengan perlahan menggosok sebelah matanya. Sesaat sebelum dia menjulurkan kakinya ke lantai bagian belakang tubuhnya terasa amat sakit, seperti baru saja dipukul lima orang.
"Sigh… benar-benar seperti binatang liar," remaja yang diidentifikasi sebagai lelaki itu mendengus sambil mengurut punggungnya kemudian melihat sekitar dengan tatapan nanar, "Oh… pelanganku sudah pergi duluan," lalu diliriknya meja tempat lampu tidur dipasang, di sana berserakan enam lembar uang sepuluh ribu yen yang langsung diraup oleh pemuda tersebut sebelum kedua kakinya menjejak ke lantai.
Dirinya kemudian berjalan ke arah kaca seukuran tubuh manusia dewasa dengan tertatih. Di cermin tersebut berdiri seorang pemuda bersurai hitam berantakan dengan iris onix yang kelam dan bibir yang datar. Ekspresinya terlihat amat dingin dengan wajah yang seakan membeku, namun sedetik kemudian bibirnya melengkungkan sebuah senyuman.
Sebuah senyum wajib yang dipasangnya setiap saat.
.
.
Srak… srak…
Pemuda itu berjalan dengan sedikit tertatih karena bagian belakang tubuhnya tak bisa digerakkan dengan benar akibat aktivitas 'pertukaran' semalam dengan seorang pria yang diperkirakan berumur 30 tahunan. Rasa sakitnya benar-benar menyengat hingga melangkah sekali saja sudah membuatnya meringis pelan.
Kepalanya pening, walaupun uang yang dia dapat setelah 'pertukaran' tersebut cukup untuk menghidupinya beberapa minggu ke depan, namun dirinya sama sekali tak kuat berjalan lagi. Lalu suatu ketika dia tersandung batu, menyebabkan tubuhnya limbung dan menabrak tong sampah di sebuah gang sempit yang jarang dilewati orang.
"Ah…," dia menengadah ke atas, melihat langit pagi di antara celah dua bangunan apartemen tinggi, "sepertinya hari ini bolos lagi," ucapnya sambil mendengus dan tersenyum sinis yang ditujukan pada dirinya sendiri.
"Lagipula… sekolah tidak cocok untuk orang 'kotor' sepertiku," lanjutnya dengan nada putus asa. Angin berhembus pelan dari sebelah kanan, membuatnya kembali terlelap karena semalam hingga subuh dirinya 'dipakai' tanpa istirahat sama sekali. Lalu beberapa saat kemudian, setelah kepalanya bersandar ke arah tong sampah, dirinya tertidur.
Tertidur di tempat yang kotor…
Tempat yang cocok untuk dirinya yang kotor.
Ironis, eh?
Dalam tidurnya tidak ada mimpi sama sekali. Gelap, bahkan dirinya tak tahu mana atas mana bawah, semua sama… dia berjalan di tengah kegelapan tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa… harapan. Dirinya meringkuk di dalam kegelapan, lalu mendadak muncul gambar-gambar menjijikkan tentang bagaimana dirinya 'dipakai' oleh pria tua bangka di dalam hotel. Berpindah-pindah, dari satu gambar ke gambar lainnya hingga dirinya ingin teriak, namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ingin menangis, namun tak ada air mata yang keluar dari matanya. Ingin melarikan diri, tapi… kemana?
Kemana?
Kemana dia bisa pergi?
…
"Seseorang… tolong aku…," bisiknya dalam diam, bisiknya dalam kegelapan yang perlahan melahap dirinya hingga secercah kehangatan merambati wajahnya.
Eh?
"Apa ini?" Bisiknya tanpa suara. Lalu dengan segenap harapan yang tersisa, kepalanya diangkat dan dia melihat secercah cahaya kecil di ujung sana. Cahaya dari sebuah pintu yang berdiri di tengah-tengah kegelapan. Lalu dia merangkak dengan kedua tangannya sebelum berdiri lalu berlari menyongsong pintu cahaya tersebut dan akhirnya dia sampai pada kenop pintu dan memutarnya, lalu…
"Hei… hei…," suara seseorang mengusik tidur pemuda bersurai hitam tersebut. Hingga perlahan wajahnya terangkat dengan pandangan yang masih buram. Namun perlahan-lahan penglihatan tersebut mulai fokus dan di sana… ada seorang remaja lelaki lainnya, dengan surai jabrik pirang dan iris biru elektrik penuh energi yang menatap pemuda bersurai hitam tersebut dengan tatapan khawatir, "Ano… anata no… daijobu?"
"H—huh?" Pemuda bersurai hitam dengan onix yang dingin itu malah balik bertanya, namun sedetik kemudian dirinya sadar kalau telah ditonton ketika tidur hingga refleks tubuhnya berdiri tegak, namun akibat sakit di punggungnya dirinya langsung jatuh menghantam tanah lagi. "I—ittai…," ucapnya pelan sambil meringis.
"Kau tak apa?" Ucap pemuda bersurai pirang tersebut sambil menjulurkan tangannya, "Butuh bantuan?" Lanjutnya lagi.
Pemuda dengan tatapan onix dingin tersebut menatap lawan bicaranya yang tengah menjulurkan tangan padanya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dirinya memberikan tatapan penilaian dengan amat hati-hati. "Ah… sepertinya bukan pelanggan," begitu pikir pemuda bersurai hitam ini.
"Kau tak apa?" Ulang pemuda blonde itu lagi, tangannya masih terjulur, "omong-omong kita satu sekolah ya? Seragam kita sama," ucap pemuda itu lagi sambil memerhatikan seragamnya.
"Oh… benar," pemuda bersurai hitam itu refleks menjawab, "e—eh, ah iya kita satu sekolah dan aku tak apa-apa," ucapnya sambil menyunggingkan senyum wajibnya.
"Oh begitu?" Tangan pemuda itu kemudian ditarik, namun sesaat kemudian dia mengambil tangan pemuda bersurai hitam tersebut sambil memapahnya hingga pemuda itu berdiri, "Gezz… aku ini benci pembohong, kau tahu?"
"E—eh?" Pemuda yang sesaat lalu masih tersenyum dengan kaku kini sedikit terperangah, bukan hanya karena lawan bicara yang baru saja dia kenal tak lebih dari dua menit tiba-tiba memapahnya, namun juga karena dirinya dituduh pembohong… walaupun hal itu benar adanya.
"Kau mau kupapah hingga sekolahan?"
"Erm… tidak, sudah cukup hingga ujung gang ini saja."
"Oh… begitu, ah iya omong-omong namaku Uzumaki Naruto dan kau?"
"Kau mau tahu namaku?"
"Ceh… kalau tidak mau kasih tahu ya sudah."
"…"
"…"
"Sai, hanya… Sai," tanpa nama keluarga.
"Heh, namamu tidak buruk hehe… yoroshiku ne, Sai."
"Kau aneh ya?" Sai berkata dan refleks memasang senyum wajibnya, namun kini lain.
"Nah, kan kalau senyum seperti itu kau terlihat lebih manusiawi."
"Ma—maksudmu apa?"
"Tidak, tidak ada yang khusus, hanya saja aku lebih suka senyumu yang sekarang," lanjut Naruto sambil menolehkan kepalanya ke sebelah, "kau terlihat… senang hehe…," ucapnya sambil memasang senyum tiga jarinya.
Senyum pemuda blonde itu terasa hangat hingga dada Sai berdebar lebih cepat. Rasa sakit di tubuhnya perlahan menghilang dengan cepat, seakan senyum Naruto mengobati semua luka di hatinya dalam sekejap. Ajaib sekali senyuman Uzumaki Naruto ini.
Ah… mungkin… mungkin orang ini bisa menyelamatkanku, mungkin saja.
.
.
"Yoroshiku ne, Uzumaki," ucap Sai pelan, wajahnya lebih cerah dari yang tadi dengan senyum lebar tersungging di wajahnya. Dan dengan perlahan, kedua orang tersebut keluar dari gang sempit yang kotor menuju dunia luar yang bermandikan cahaya matahari pagi yang hangat.
Menuju tempat dimana Sai mungkin dapat menemukan kebahagiaannya.
Mungkin.
Free Punch © Me
Naruto © Masashi Kishimoto
Chapter 6: "From Damp to Bright Place"
Rate T semi M di chapter ini
.
.
.
Suara berdecit ketika mobil di rem hingga pemuda bernama Sai yang kini tengah duduk di bangku belakang mobil tersebut terkejut karena sedari tadi dirinya melamun. Lalu satu orang bodyguard Danzo keluar dari mobil kemudian membukakan pintu untuk tuannya. Sai dapat melihat Danzo dari dalam mobil dengan tatapan jijik, namun nampaknya hal itu malah membuat Danzo tertawa terbahak-bahak. Lalu mendadak kaca mobil di sebelah Sai terbuka dan Danzo menjulurkan kepalanya ke dalam mobil. Mendekat… terus mendekat hingga wajahnya tinggal beberapa senti lagi ke wajah Sai hingga membuat pemuda itu mundur sedikit.
"Tak perlu menatapku dengan tatapan seperti itu," Danzo menyeringai, "ah… tapi tak apa, kau bisa menatapku dengan tatapan itu, toh sebentar lagi kau akan mengerang minta ampun padaku, bukan begitu, eh?"
"Ka—kau menjijikkan, tua bangka," ucap Sai penuh amarah, tubuhnya bergetar hebat, giginya bergemeletuk dan matanya menatap ganas ke arah Danzo.
"Aw aw… lihat apa yang kita punya sekarang? Kucing liar yang harus didisiplinkan terlebih dahulu? Hm… kau sedang tidak bermain 'hard to get' eh, Sai?" Lelaki setengah baya itu menggerayangi bagian atas tubuh Sai dengan tatapan lapar sebelum ditepis oleh Sai.
"Hm… boring, kau biasanya lebih jinak dari ini, Sai. Hei kalian," ucap Danzo pada anak buahnya, "bawa dia ke kamar sewaanku, jaga dia jangan sampai kabur, aku ada urusan di kantor sampai jam delapan malam," perintah Danzo tersebut membuat dua orang bodyguardnya langsung menarik Sai dari dalam mobil dan membawanya ke hotel—atau lebih tepatnya menyeret. Sai yang tahu akan sangat percuma untuk melawan, kini hanya bisa pasrah dibawa ke lantai tempat dirinya akan dikurung hingga Danzo tiba.
Dirinya ditinggalkan di sebuah ruangan dengan satu double bed, televisi layar lebar, dan… beberapa lotion dan pengaman yang entah kenapa berserakan di atas double bed. Ah, ini merupakan permainan Danzo yang lainnya, mengintimidasi mangsa sebelum waktu 'santapan' utama dimulai.
Sai mengerling ke arah kaca super besar yang ada di dinding, menatap bayangannya sendiri. Lalu bibirnya bergerak perlahan.
"Naruto-kun…"
.
.
.
.
.
"A—ano ne, Dobe," Sasuke berusaha untuk menutup wajahnya sebisa mungkin ketika banyak pasangan 'normal' menatap ke arah dirinya dan Naruto.
"Ya Sasuke? Kenapa? Jangan banyak bicara dulu, kita sedang menguntit Sai," ucap Naruto yang ekspresinya sama sekali tidak berubah, biasa saja, padahal banyak pasang mata yang kini tengah melirik ke arah mereka.
"Ta—tapi," Sasuke merapat ke dinding, dirinya berusaha keras agar wajahnya tidak sampai terlihat orang lain. Siapa tahu di tempat memalukan ini ada temannya yang sedang berkencan, kalau dia terlihat bersama Naruto di tempat ini… bisa-bisa dirinya dijadikan bahan gosip satu minggu penuh di sekolahan.
"Tidak ada tapi-tapian, ah… mereka tepat masuk ke sebelah kamar yang kita sewa, lucky! Ayo kita masuk ke dalam!" Tanpa pikir panjang, Naruto langsung menarik lengan Sasuke lalu masuk ke dalam kamar sewaannya.
"D—Dobe!" Seru Sasuke yang kini wajahnya semerah tomat.
"Apa sih Teme?! Kau dari tadi protes terus, kita kan hanya masuk ke kamar ini untuk mengintai Sai! Jangan berlebihan gitu dong," Naruto bersungut kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Sasuke.
"TAPI INI LOVE HOTEL NARUTO! DAN ORANG-ORANG DI LUAR MELIHAT KITA DENGAN TATAPAN CURIGA! KAU TAHU APA ARTINYA DUA LAKI-LAKI MASUK KE KAMAR LOVE HOTEL HAH? KAU TAHU TIDAK?!" Sasuke megap-megap seperti ikan koi kekurangan oksigen setelah mengeluarkan uneg-uneg dalam kepalanya. Toh mereka sudah berada di dalam ruangan, jadi teriakannya ke luar tidak akan terdengar terlalu kencang—semoga.
"Apa yang dilakukan dua laki-laki yang masuk kamar love hotel?" Ulang Naruto dengan lugunya.
"Ya. Kau tahu tidak apa artiny—"
"Mereka melakukan sex, kan?"
.
.
.
…
Hening.
Krak. Krak. Krak.
Tubuh Sasuke bagai berubah menjadi batu dan dihantam dengan palu raksasa hingga tubuhnya retak lalu hancur tak berbekas ketika mendengar ucapan Naruto barusan yang terkesan amat lugu dan polos.
"Ja—jangan kau ucapkan dengan wajah datar seperti itu heh!" Sasuke menjitak kepala Naruto dengan geram, "Kau berkata begitu seakan-akan kita akan melakukan hal itu," Sasuke menunjuk ke arah Naruto dengan gemetar, sedangkan Naruto hanya menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Hah?" Naruto memiringkan kepalanya, "Kita kan hanya menguntit Sai, kenapa kau jadi heboh begitu, ah!" Lalu mendadak wajah Naruto yang memerah, "K—kau berharap aku melakukan sesuatu padamu, Sasuke?" Lanjut Naruto yang kini salah tingkah.
"SIAPA YANG MAU HEH?!" Kini pukulan telak mendarat ke ulu hati Naruto, membuat pemuda Uzumaki itu tergeletak di lantai, pingsan.
"Ee eh Dobe… Dobe… bangun… ah dia pingsan," Sasuke yang kalap hanya bisa bersandar ke pada pinggiran double bed di belakangnya sambil menatap tubuh Naruto yang tak sadarkan diri di atas karpet.
"Hah… kenapa aku jadi heboh begini…," ucapnya dengan wajah yang masih merona. Dia melirik ke arah jam yang masih menunjukkan pukul lima lebih lime belas menit, masih ada dua jam empat puluh lima menit lagi sebelum jam delapan malam (dia dan Naruto sempat mendengar ucapan Danzo tadi). Sasuke melirik ke arah ranjang double bed kemudian dia merangkak ke sana lalu merebahkan tubuhnya. Setidaknya tidur di sini tidak masalah kan? Naruto sudah bayar sewa kamar ini untuk satu malam. Lagipula… Naruto kini tergeletak di lantai tak sadarkan diri, paling lima belas menit lagi dia sadar. Istirahat sejenak di sini sepertinya bukan ide yang buruk kan?
Tubuhnya dihempaskan ke arah ranjang. Kemudian matanya perlahan terpejam.
"Heh lucu," gumamnya pelan kemudian membalikkan tubuhnya ke arah kiri. Yeah, dia merasa amat lucu karena baru saja tadi siang dia bertikai dengan seseorang yang hendak merebut Naruto darinya. Ah, sepertinya kalimat 'merebut' terlalu berlebihan, toh Naruto bukanlah miliknya, kan? Dia berkelahi dengan Sai yang katanya tak akan menyerahkan Naruto padanya jika Sasuke tidak benar-benar menghadapai perasaannya yang sesungguhnya terhadap bocah rambut durian itu.
Namun sekarang dirinya terjebak di dalam kamar love hotel bersama dengan Naruto untuk menguntit Sai, orang menyebalkan yang tadi siang berhasil mendaratkan beberapa pukulan di tubuh Sasuke. Namun… ketika melihat Sai dipojokkan oleh orang bernama Danzo itu, entah kenapa Sasuke merasa perlu 'menolong' Sai. Entah atas dasar apa dirinya berpikir demikian, firasatnya mengatakan kalau dirinya harus melakukan ini.
Lucu eh?
Sasuke menghela napas pelan, kemudian perlahan dirinya terlelap ke dalam tidur tanpa mimpi.
.
.
Sasuke terlelap begitu saja, dan ketika dia terbangun, dirinya harus terbelalak karena kini Naruto tidur di sampingnya. Tidak hanya itu, namun kedua tangan pemuda berkulit tan itu melingkari tubuhnya, singkatnya dia dipeluk Naruto yang tengah tidur. Sasuke kini sudah benar-benar sadar padahal beberapa saat yang lalu ketika matanya baru terbuka, kantuknya masih berat. Yah, karena dia sudah dikagetkan dengan Naruto yang tiba-tiba muncul ketika matanya terbuka, kini kantuknya sudah hilang entah ke mana.
Wajahnya yang memerah kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Naruto hingga dirinya dapat mencium rambut Naruto yang beraroma sengatan sinar matahari… walau begitu, aromanya berhasil membuat Sasuke makin salah tingkah. Ditambah dengan helaan napas Naruto yang perlahan membelai ujung hidung Sasuke, membuat bungsu Uchiha tersebut merasa seperti terkena kejutan listrik di seluruh tubuhnya. Ugh… dia sudah tidak tahan lagi. Namun anehnya dirinya ingin berada pada posisi ini untuk waktu yang lebih lama.
…
Dasar muna.
"Ceh… ekspresimu waktu tidur sok imut sekali, Dobe," ucap Sasuke sambil mendumel, walaupun kini jemarinya menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga Naruto agar rambut tersebut tidak menghalangi wajah pemuda Uzumaki tersebut. Kedua tangan Sasuke bergerak, entah apa yang mendorongnya melakukan hal ini, tapi kini kedua tangannya perlahan melingkari tubuh Naruto, hingga kedua telapak tangannya berada di punggung bocah blonde itu.
Keduanya berpelukan.
Kalau Naruto tengah sadar sekarang, pasti Sasuke akan segera menendang pemuda tan tersebut. Namun sekarang yang dimaksud tengah terlelap begitu nyenank, jadi tidak masalah kalau Sasuke diam-diam memeluknya kan? Sasuke dapat merasakan detak jantung Naruto yang beradu dengan miliknya karena kedua dada mereka berdempetan. Dan dapat ditebak detak jantung Sasuke lebih kencang karena hanya dirinya yang berada dalam keadaan sadar sekarang ini.
Onix-nya menatap ke arah kelopak mata Naruto yang masih terpejam, seakan sedetik kemudian biru elektrik milik pemuda Uzumaki itu akan menatapnya dengan intens. Menggelikan, Sasuke tak pernah merasa seperti ini. Seakan pride-nya sebagai ketua geng Taka jatuh begitu jauh ke dasar jurang hingga dirinya tak peduli lagi dengan pendapat orang jika melihatnya dalam posisi seperti ini dengan Naruto.
"Kalau kau tetap pada ego-mu yang sekarang, sesuatu yang berharga darimu akan kurebut."
Mendadak sederet kalimat dari Sai muncul di dalam kepalanya hingga membuatnya geram sendiri. Dia mendengus namun masih menatap wajah tidur Naruto tanpa berkedip.
"Ternyata kau punya fans fanatik, eh?" Ucap Sasuke setengah berbisik, "Tapi… kalau dia benar-benar mengatakan hal itu…," wajah Sasuke perlahan bergerak mendekati wajah tidur Naruto.
"Tak akan kubiarkan," ucapnya pelan seakan hanya bicara pada dirinya sendiri. Lalu dengan gemetar bibirnya menyentuh bibir Naruto. Dia merasakan kejut listrik di seluruh tubuhnya, terutama di ujung bibirnya yang bersentuhan dengan bibir Naruto. Lembut, bibir Naruto terasa begitu lembut hingga Sasuke menekan bibirnya lebih kencang, membuatnya perlahan kehabisan napas ketika lidah Naruto bergerak liar di dalam mulutnya.
Eh?
EH?!
"D—dobe hmphh…," Sasuke hendak melepaskan diri namun kini kedua tangan dan kakinya dikunci Naruto hingga bungsu Uchiha tersebut sama sekali tidak dapat berontak. Belum habis rasa kagetnya karena ternyata Naruto dalam keadaan sadar.
"Sialan, dia menipuku dengan pura-pura tidur!" Batin Sasuke kalap, kedua tangannya masih berusaha untuk melepaskan diri walaupun nampaknya usaha itu sia-sia, karena ternyata Naruto dapat menandingi kekuatannya. Ceh… curang.
Lidahnya terasa lumer ketika beradu dengan lidah Naruto. Salivanya menetes di sudut mulutnya, hembusan napas tidak teratur keluar dari hidung dan mulutnya. Air mata perlahan keluar dari ekor matanya karena dia tak bisa bernapas dengan benar. Tubuhnya seperti disetrum, bulu romanya berdiri semua hingga sesuatu di bawah sana juga perlahan mengeras.
Begitu juga milik Naruto.
Blush!
Wajah Sasuke kini benar-benar memerah ketika dia merasa gesekan aneh di antara selangkangannya, sesuatu yang keras dan fleksibel menekan daerah sensitif-nya. Dan dia tahu apa benda itu. Dia meronta semakin kuat di antara ciuman membabi buta dari Naruto yang kini sama sekali tidak mengeluarkan kata-katanya yang berisik. Sasuke berusaha keras melepaskan ciuman tersebut dan akhirnya beberapa saat kemudian tubuh Naruto dapat didesak hingga mereka beruda terpisah.
"Hah… hah… hah…," Sasuke mengelap salivanya yang mengalir sambil mengatur napasnya, matanya nanar menatap Naruto yang juga ngos-ngosan dan sekarang sudah topless.
"Se—sejak kapan kau menanggalkan seragammu?" Sasuke langsung mundur hingga terantuk dinding sambil memeriksa seragamnya yang juga sudah lenyap.
EEEHHH?! TEKNIK MACAM APA YANG DIGUNAKAN NARUTO SAMPAI AKU TAK SADAR SUDAH SETENGAH TELANJANG?!
"K—kau… jangan bilang kau benar-benar mau melakukan sesuatu terhadap tubuhku!" Sasuke perlahan memasang kembali seragamnya dengan tangan bergetar.
"Salahmu sendiri, Sasuke… kau duluan yang menciumku, kan?"
Duesh!
Seakan ditembak langsung ke dada dengan pistol, Sasuke membatu di tempat. Yeah, memang benar dirinyalah yang pertama kali mencium Naruto lalu bocah itu mulai mengganas. Kalau ada yang harus disalahkan, orang itu adalah Sasuke. Tapi kan gak segitunya juga. Masa hanya karena masalah ciuman dia harus mengalami pengalaman seperti itu.
Belum sempat Sasuke bergerak, Naruto kini telah beranjak dari posisinya, lalu menggenggam kembali kedua tangan Sasuke dengan erat.
"Ne, Sasuke," ucap Naruto dengan tatapan biru elektriknya yang berkilat, "katakan… kau suka padaku kan?"
"E—eh?" Sasuke yang tidak yakin baru saja mendengar ucapan super PD dari Naruto, malah balik bertanya.
"Kau suka padaku kan, Sasuke?"
"Ap—apa kepalamu terbentur sesuatu, Do—Dobe?"
"Kau suka padaku kan?" Naruto mengulangi pertanyaan tersebut dengan nada yang amat serius, "katakan kau suka padaku," ucapan Naruto barusan terdengar tegas hingga berhasil membuat Sasuke menundukkan kepalany dalam-dalam. Ah… Sasuke merasa kalau sekarang adalah hal yang tepat untuk menyatakan perasaannya pada Naruto. Namun sayang, mulutnya seperti terkunci rapat karena ego.
"Kalau kau tetap pada ego-mu yang sekarang, sesuatu yang berharga darimu akan kurebut."
Namun lagi-lagi deretan kalimat itu muncul seenaknya dalam kepalanya hingga membuat Sasuke mengangkat kepalanya lalu menatap biner biru elektrik yang terlihat lebih cerah itu dengan tekad kuat.
Ya, dia akan bilang sekarang.
"N—Naruto… sebenarnya a—"
Teng! Teng! Teng! Teng! Teng! Teng! Teng! Teng!
Jam dinding berdentang delapan kali hingga membuat kedua orang tersebut sadar kalau sekarang adalah saat Danzo tiba. Mendadak Naruto dan Sasuke langsung memasang seragam mereka lagi. Walau kedua wajah mereka memerah.
"K—kita bicarakan ini nanti, Sasuke," ucap Naruto yang sepertinya merutuki timing yang amat buruk ini.
"Y—yeah, nanti haha…," jawab Sasuke yang mendadak merasa bego.
"Tapi… bagaimana cara kita menyelamatkan Sai?" Mendadak pertanyaan Naruto barusan membuat Sasuke membatu. Ah, iya mereka datang kemari tanpa rencana sama sekali. Sasuke menatap Naruto dengan tatapan gimana-nih-gue-juga-gak-tau-caranya! Lalu, ketika keduanya masih dalam keadaan bengong bin bingung, pintu kamar mereka diketuk dari luar.
"Room service!"
Terdengar dua suara dari luar, sepertinya petugas hotel ingin membereskan sesuatu dalam kamar ini. Lalu menadak wajah Naruto menjadi cerah.
"Ah, aku ada ide!"
Serunya amat bersemangat, walaupun Sasuke menatapnya dengan pesimis.
.
.
TBC-TBC
Halo Minna :D Ketemu lagi dengan saya dan cerita saya (yang udah lama banget gak update LOL)
Sekarang saya udah update dan cerita ini saya rasa udah mau selesai (horee) yah, tapi cerita ini gak bakal selesai-selesai kalau saya gak segera nyelesein kan? Ahahaha... *dipentung* Semoga cerita ini gak on-hold lagi, semoga saya bisa nyelesein ini cerita wkwkw...
Yah, akhir kata; jangan lupa Riview ya ;)
