Chapter 7 updated!
Terima kasih kepada semua yang sudah bersedia meluangkan waktunya membaca, mereview, dan mengikuti fic pertamaku ini. Saya jadi bersemangat menulis! ^_^
Author's note:
Chapter ini sangat 'spesial'. Mengharuskan author masuk lebih dalam ke karakter Jun. Mungkin nanti readers akan terkejut dengan apa yang akan terjadi pada Jun. ^_^
Emotional side exposed!
Good guy gone bad!
Beberapa scene mengharuskan author open references!
OK, sebaiknya langsung saja….
Selamat membaca…. ^_^
Warning : Not suitable for children under 15!
My Heart Knows What I'm Feeling
Disclaimer : Captain Tsubasa belongs to Mr. Yoichi Takahashi
Chapter 7
~ Sense of Uselessness ~
( Yayoi and Misugi's POV )
Yayoi's POV-
Sehari setelah kemarahan Jun terhadap diriku.
"Eeeeh? Kau dicium?"
Haruka yang saat ini duduk di depanku bertanya padaku, bernada tidak percaya.
"Bagaimana bisa?" tanyanya lagi.
Aku hanya menunduk.
"Aaaah, kenapa jadi begini?" Haruka menggaruk – garuk kepalanya. Terlihat kacau.
"Tapi bukan ciuman pertama kan?" tanya Haruka lagi.
Aku tersentak. Jantungku tiba – tiba meloncat dan berdetak cepat. Pertanyaan Haruka kali ini sukses membuatku duduk dengan benar. Badanku tegap menghadap Haruka.
"Bukan," jawabku sambil menggelengkan kepala. Aku merasakan wajahku kini mulai memerah.
"Ah, aku ingat!" ucap Haruka, membuat suara dengan jari tengah dan jempolnya.
"Bahkan ciuman pertamamu adalah dengan Jun Misugi! Iya, kan?" seru Haruka, tersenyum lebar.
Aku kaget.
"Ah, Haruka! Suaramu terlalu kencang, tahu?" aku spontan membungkam mulut Haruka dengan kedua tanganku sambil menoleh ke kanan - kiriku. Wajahku sudah benar – benar merah.
Untung saja kelas ini cukup sepi. Jam istirahat pertama, para siswa banyak yang keluar kelas. Namun, ada beberapa yang memilih tinggal di kelas termasuk kami. Menurutku, agak berbahaya membicarakan ciuman atau sejenisnya. Penyebaran gosip di sekolah ini cepat sekali.
Saat ini, Jun yang sedang kami bicarakan bahkan sedang tidak di kelas. Pantas saja kelas ini lebih sepi dari biasanya. Karena aku tidak mendengar teriakan – teriakan Jun Misugi fans club.
Jun entah pergi kemana sekarang. Setelah kejadian kemarin, aku belum bicara sepatah kata pun padanya. Saling menyapa pun tidak. Sigh.
Aku tidak nyaman dengan kondisi seperti ini.
"Aku benar kan?" ucap Haruka setelah melepaskan bungkaman tanganku. Kini ia mengecilkan volume suaranya.
Aku menunduk malu. Kemudian mengangguk.
Bicara soal ciuman pertama, hal itu terjadi padaku tiga tahun yang lalu. Antara aku dan Jun, pada momen yang menurutku sedikit kurang tepat. Tiga tahun lalu, beberapa menit sebelum pertandingan semifinal kejuaraan nasional tingkat SD antara Musashi vs Nankatsu. Sesaat sebelum Jun berlari menuju lapangan, aku menangis di hadapannya. Memohon padanya untuk tidak bermain secara penuh di pertandingan. Aku sangat ketakutan. Takut jika dia nanti bermain penuh kemudian tidak pernah kembali lagi.
Jun yang waktu itu berdiri di hadapanku tidak berkata apa – apa. Memandangku dengan wajah bingung. Menggaruk kepalanya. Kemudian secara tiba – tiba mencium bibirku dengan cepat. Hal ini sukses membuat tangisanku berhenti. Jantungku berdebar begitu kencang. Aku seperti mau pingsan. Pikiranku kosong. Aku tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Kemudian Jun berkata sambil tersenyum: "Tidak usah khawatir. Aku akan baik – baik saja."
Setelah itu ia berlalu dari hadapanku. Berlari menuju lapangan. Bertarung melawan nasibnya. Meninggalkan aku yang masih ketakutan dan shock.
Takut, bagaimana jika nanti dia tidak kembali?
Aku masih tidak mengerti kenapa waktu itu Jun menciumku. Ciuman itu meninggalkan sejuta tanya bagiku. Aku ingin tahu apa alasannya. Apakah karena dia ingin membuatku merasa tenang? Menghentikan tangisanku? Atau ada alasan lain? Aku bahkan tidak pernah menanyakan penjelasan atas hal itu pada Jun, hingga saat ini.
Aku terlalu malu.
Namun, walau begitu ciuman waktu itu memberikan kenangan berharga bagiku.
"Tuh kan. Sudahlah, lupakan saja ciuman kemarin! Tidak usah terlalu dimasukkan dalam hati. Ya?" ujar Haruka, membujukku.
"Eh, iya.… Tapi…. Tsubasa juga bilang suka padaku," balasku tertunduk lesu.
"Apa?" seru Haruka.
"Dia bilang menyukaiku, Haruka," ujarku lagi.
"Duh…. Lalu jawabanmu?" tanya Haruka tidak bersemangat.
"Aku cuma bilang maaf," jawabku.
"Eh, kau menolaknya?"
"Iya," jawabku singkat.
"Nah! Itu artinya kau masih mengharapkan Misugi kan?" tanya Haruka lagi. Kali ini ia bersemangat.
Aku mengangguk.
"Kalau begitu bersemangatlah, Yayoi! Mungkin kemarin dia sedang kalap lalu marah padamu. Aku yakin sekali kalau Misugi ada rasa padamu!" ujar Haruka.
"Tapi…."
"Kenapa? Ayolah…! Bersikap biasa saja padanya. Ajak dia bicara. Aku yakin Misugi tidak benar – benar marah padamu," ujarnya dengan suara yang lembut khas Haruka.
"Begitu ya?" tanyaku.
"Tentu saja," balas Haruka mengangguk.
Aku tersenyum.
Haruka selalu memberiku nasihat – nasihat yang luar biasa. Aku selalu merasa lebih baik setelah bicara dengannya.
"Yayoi Aoba,"
Tiba – tiba wali kelasku memanggilku. Beliau berdiri di ambang pintu, melambaikan tangannya padaku.
"Ya?" Aku bangkit dari posisi duduk.
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," tambahnya.
"Eh?"
End of Yayoi's POV-
Misugi's POV-
"Sial. Kalah lagi!"
Saat ini aku sedang berada di atap sekolah. Tidak ada siapa – siapa. Hanya aku seorang diri. Dengan begini aku bisa leluasa menikmati waktuku sendiri. Sudah sekitar setengah jam aku di sini. Aku bahkan berencana bolos pada pelajaran selanjutnya. Cuaca yang cukup cerah dan tidak panas ini mendukung diriku untuk berlama – lama di tempat ini.
Aku sedang bersandar pada dinding pagar atap sekolah, memainkan game sepakbola di ponselku. Ini sudah kelima kalinya aku main. Semuanya kalah.
Apa - apaan ini? Biasanya aku selalu menang.
Huh!
Bosan. Akhirnya aku merebahkan tubuhku di lantai atap. Merentangkan kedua lenganku. Memejamkan mata kemudian menghirup napas sedalam mungkin.
Ada yang aneh.
Sedikit berbeda.
Seharusnya aku merasa lebih nyaman dengan suasana dan udara yang mendukung seperti ini. Angin di akhir musim semi yang seharusnya segar kini terasa lain bagiku. Aku bahkan merasa sesak.
Aku menyadari ada sesuatu yang berbeda.
Perasaan ini berbeda dengan saat di mana Yayoi ada di sampingku.
Ketika dia tersenyum padaku.
Oh Tuhan!
Apa yang kupikirkan?
Kenapa pikiran tentang Yayoi tiba – tiba melintas di kepalaku?
Lagi dan lagi.
Sial!
Aku masih saja kepikiran kejadian kemarin. Ketika aku meluapkan emosiku padanya.
Dan juga satu kejadian lagi.
Kemarin, saat aku berjalan pulang, ketika melewati taman sekolah. Aku melihat mereka. Dari jarak yang masih cukup jauh, dan tanpa mereka sadari. Aku melihat mereka berdua berciuman.
Uh!
Seharusnya aku tidak mengambil pusing masalah ini.
Ini bahkan bukan urusanku.
Tapi kenapa aku….
Tidak senang.
Dan ingin marah!
Sigh.
Aku membuka mata. Melihat langit biru musim semi yang cerah, namun seolah mengejekku. Mengejekku yang sedang tidak berdaya.
Tidak tahu kenapa rasanya hampa. Kosong.
Sigh.
Aku mengambil ponselku. Memilih menu camera, kemudian mengarahkannya ke atas. Menyorot objek langit tepat di depan mataku saat ini. Langit yang nampak bersih seakan tanpa dosa. Langit yang sepertinya menyimpan banyak rahasia. Langit yang memiliki banyak wajah. Ketika ia tampak cerah. Ketika mendung. Ketika ia menjadi senja, malam, ataupun fajar. Bahkan awan yang tampak bebas di angkasa seakan ikut mengejekku. Seperti sedang menertawakan aku.
Mereka independen. Mereka bebas. Sedangkan aku tidak.
Dengan ibu jariku, siap menekan tombol capture untuk membingkai objek yang telah kutentukan.
Satu, dua….
Aku menghitung dalam hati.
Hitungan ketiga, bersamaan dengan bunyi 'klik'…. Aku terkejut!
Objek bidikanku berubah!
Seorang gadis berdiri di depanku. Bukan! Di atasku tepatnya. Membungkuk ke arahku. Wajahnya persis berada di depan kamera ponselku sehingga tanpa sengaja terfoto olehku.
"Jun, sudah kuduga kau di sini," ucap gadis berambut merah.
Aku bangun dari telentang, kemudian bersandar di posisi semula. Kumasukkan ponselku ke dalam saku celana panjang.
"Ada perlu apa?" tanyaku dingin.
Gadis itu masih diam. Matanya menatapku tajam. Cemberut.
"Yayoi, aku sedang ingin sendiri," ucapku. Masih bernada dingin.
Gadis itu mengambil posisi duduk. Di sebelah kiriku. Dekat denganku.
Ya Tuhan, lagi – lagi aku…. Berdebar – debar.
Aku bahkan tidak mampu melihat wajahnya.
Kenapa ini?
"Jun….," katanya.
"Apa?"
"Kenapa tidak meminum obatmu?" tanyanya.
Kaget. Aku menoleh ke arahnya. Kini kulihat, dia tampak cemberut. Dan cemas.
"Kakek Hideki tadi kemari. Berbicara padaku. Menceritakan semuanya. Beliau bilang kau belum minum obat sejak kemarin malam. Itu benar?" tanyanya khawatir.
Hideki adalah pengurus rumahtangga keluargaku. Dialah yang mengatur keperluan dan tetek bengek keluargaku. Sudah sejak lama ia mengabdi, dari semenjak aku belum dilahirkan. Beliau lah yang mengurusku hingga saat ini. Pribadi yang sangat baik. Aku menghormatinya. Dan aku pun sudah menganggapnya sebagai keluargaku sendiri. Saat ini, kedua orangtuaku sedang meeting di luar kota untuk beberapa hari ke depan, membicarakan urusan bisnis, sehingga Hideki lah yang mengurusi keperluanku. Termasuk dalam urusan obat.
Tapi kenapa dia tahu aku tidak meminum obatku?
Kenapa sampai datang ke sekolah segala?
Kenapa menceritakan semuanya pada Yayoi?
"Kemudian beliau menitipkan ini padaku," ucap Yayoi, meletakkan sebuah kotak plastik dan sebotol air minum kemasan di pangkuannya.
"Semua obatmu. Ini," tambahnya sambil menyerahkan kotak itu padaku.
"Kenapa tidak minum obat? Kau tidak lupa kan? Kau tahu ini penting bagi kesehatanmu, jadi jangan sampai terlewatkan. Biasanya kau penurut," ujar Yayoi.
Cerewet!
Kalau sudah menyangkut kesehatanku Yayoi jadi cerewet begini.
Pakai menggurui aku segala.
Aku sudah tahu. Aku paling tahu mengenai kondisiku. Bukan orang lain!
Hideki juga.
Kenapa membawa barang semacam ini ke sekolah? Sebanyak ini!
Huh!
Aku membuka kotak plastik berisi obat – obatanku. Obat yang seharusnya kuminum rutin. Biasanya aku membawa sebagian kecil saat sedang di luar rumah. Termasuk ke sekolah. Namun, hari ini aku sengaja tidak membawanya. Sengaja tidak meminumnya.
Dan Hideki mengirimkannya untukku.
Baik sekali. Huh.
"Kau harus minum sekarang juga," perintah Yayoi sambil memutar tutup botol minum yang dibawanya.
Aku masih diam. Kemudian mengeluarkan satu per satu obat dari kotak.
"Antiangina, huh," ucapku sambil membuka kemasannya.
"Eh?" Yayoi menatapku.
"Antihipertensif." kubuka tutup botolnya.
"Antiaritmik. Vasodilator." Aku menyebut semua jenis obatku. Membuka semua tutup dan kemasannya.
"Ini, air minumnya," ucap Yayoi mengulurkan air minum padaku.
Tidak kuterima. Aku bangun dari posisi duduk. Berdiri bersandar dada pada dinding pagar pembatas atap, menghadap luar. Membawa semua obat di tanganku. Pandangan mataku jatuh si satu titik di bawahku. Ke dasar bangunan sekolah ini. Aku merasakan semilir angin mengusik rambutku. Sorot mataku sayup.
"Eh, Jun!" Yayoi terkejut, melihatku. Masih duduk.
Pandangan mataku segera kualihkan ke arah semua obat – obatan di tanganku. Obat ini terlalu banyak, sehingga botol dan kemasannya memenuhi kedua tanganku. Terlalu banyak, karena aku mengambil mereka semua di tanganku. Terlalu banyak untukku. Huh!
Aku tersenyum.
Tersenyum pahit.
Aku meletakkan semua obat di sandaran siku, berada tepat di depan dadaku. Tangan kiriku menopang mereka semua. Kemudian tangan kananku mengambil sebuah dari sekian banyak obat.
Aku meluruskan tanganku yang saat ini memegang obat tablet dalam wadah botol. Lurus di depan badanku.
Kemudian aku membalikkan telapak tangan.
Praktis semua isi botol plastik itu tumpah ke bawah. Pil – pil berterbangan di udara, kemudian jatuh ke dasar bangunan ini. Jatuh ke tanah berjarak empat lantai dari tempatku berdiri.
Aku tersenyum. Dengan mataku yang masih sayup.
"Jun!"
Yayoi menyadarinya. Ia bergegas berdiri. Menempatkan dirinya di samping kananku.
"Apa yang kau lakukan?" teriaknya.
Tangannya hampir saja meraih beberapa obatku yang masih tersisa. Namun, sebelum ia sempat menjangkaunya aku keburu mengirim semua obatku ke tanah. Menjatuhkan semuanya. Dengan sengaja.
Kini tidak ada lagi obatku yang tersisa.
Aku pun tersenyum lagi.
Tersenyum puas.
Yayoi menatapku heran. Matanya menantang mataku. Sorot matanya seolah tidak percaya atas apa yang baru saja kulakukan.
"Apa yang kau lakukan?" seru Yayoi padaku.
Aku diam saja.
"Kenapa membuang semuanya? Kau ini kenapa?" tanya Yayoi. Tangan kirinya mencengkeram lengan atasku erat, meminta penjelasan.
Aku masih diam.
"Itu semua obat yang penting bagimu, kan? Bahkan kau belum meminumnya dari kemarin malam. Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu padamu?"
Mata Yayoi memerah. Dia memarahi aku habis – habisan.
"Bahkan harganya mahal. Kakek Hideki juga sudah susah payah mengantarkannya. Kenapa kau seperti ini? Ada apa denganmu?"
Yayoi masih meninggikan nada bicaranya. Menatapku.
"Jun, jawab aku! Kau kenapa?" bentaknya.
Aku memutar badanku. Mengalihkan pandanganku dari Yayoi. Menyandarkan punggung pada dinding. Menempelkan kedua siku di atas sandaran. Mengangkat kepalaku ke atas. Memandang langit.
"Kenapa semua orang mengkhawatirkanku?" ucapku. Sorot mataku sendu.
"Eh?" Yayoi berkata.
"Kenapa aku harus menyusahkan banyak orang?" tambahku.
"Kenapa semuanya harus peduli terlalu banyak padaku?" seruku, menoleh ke arah Yayoi. Memandangnya dengan wajah tampak putus asa.
"Kau bicara apa sih?" tanya Yayoi.
"Aku ini barang mudah pecah atau apa, sehingga harus dijaga setiap saat?"
Aku tersenyum ironi. Huh!
"Apa maksudmu? Kenapa bicara seperti ini?" tanya Yayoi lagi, menatapku tak percaya.
"Karena aku sakit? Karena aku berbeda dari orang kebanyakan? karena jantungku bisa berhenti setiap saat ia mau berhenti? Karena aku bisa mati kapan saja? Begitu?" ujarku.
"Karena hal – hal semacam itu aku membuat cemas semua orang di sekitarku. Aku telah mencuri perhatian banyak orang. Menyeretnya masuk ke dalam kehidupanku. Kehidupan yang seharusnya milikku sendiri. Kemudian mereka ikut campur. Huh!"
"Aku ini ternyata sungguh tidak berguna," tambahku.
"Apa yang kau katakan? Tentu saja mereka perhatian padamu. Apanya yang tidak berguna?," tegas Yayoi, menggenggam pergelangan tangan kiriku. Aku pun segera menepisnya.
"Karena aku adalah orang yang pantas mendapatkan perhatian khusus dan perlakuan istimewa, begitu?" Aku tersenyum sinis.
"Karena kau sangat berharga bagi mereka!" tegas Yayoi.
"Berharga, huh?" tanyaku.
"Tentu saja. Kau jangan berpikiran aneh – aneh. Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya," sahutnya.
"Berharga ya? Bahkan mereka tidak pernah memberiku kebebasan," aku menunduk tersenyum. Masih bersandar.
"Eh?"
"Terlalu banyak aturan. Hidupku…. Terlalu berbeda dari orang lain. Dan mereka semua overprotective!" ujarku.
"Jun…."
"Aku berada dalam lingkaran rutinitas yang membosankan. Semuanya karena penyakit sialan ini!" aku menatap Yayoi lagi. Menantang matanya. Ia tersentak kaget.
"Kau tidak boleh bicara seperti itu!" ucapnya.
Aku tersenyum kecil. Senyum sinis.
"Aku bosan. Aku bosan dengan sikap mereka. Aku benci dengan semua mata yang memandang rendah aku. Aku benci dengan mata mereka saat melihatku, memandangku kasihan. Aku bahkan benci dengan diriku sendiri!" seruku.
"Mereka pikir aku lemah, huh! Sial!" Aku mengepalkan kedua tanganku. Mereka bergetar di samping tubuhku. Peluh sudah mulai menetes dari dahiku.
"Jun, kau salah…." Ujar Yayoi kemudian. Menatapku cemas.
"Dan obat – obat itu adalah contoh nyata bahwa aku berbeda dari orang lain. Mereka memberiku jarak begitu besar dengan semua orang sehat di dunia ini. Harus bertemu untuk mengkonsumsi mereka beberapa jam sekali setiap hari. Bertahun – tahun. Mereka yang seharusnya tidak boleh jauh dariku. Mereka lah yang selalu mengingatkanku bahwa aku sakit. Membawaku pada kenyataan. Pada takdirku."
"Sekarang aku ingin buktikan! Mereka semua tidak akan bisa mengatur diriku! Mereka tidak bisa mengatur tubuhku! Aku tidak akan mati tanpa mereka! Hidupku tidak harus bergantung pada obat – obatan. Aku akan baik – baik saja. Mereka semua sampah!" seruku. Aku sudah dipenuhi emosi.
"Jun…. Ini konyol," sahut Yayoi, menggelengkan kepalanya.
"Kalau tidak ada obat, bagaimana jika nanti kau kambuh?" seru Yayoi.
"Kenapa bertindak bodoh? tambahnya.
Huh! Bahkan dia juga….
"Kau juga sama saja," ucapku padanya.
Yayoi tersentak. Matanya melebar.
"Kau terlalu care terhadapku! Membuatku terlihat begitu lemah! Membuatku merasa tidak berguna!" tegasku.
Yayoi terdiam.
"Kau bahkan bukan siapa – siapaku. Hanya berteman. Kenapa berbuat sampai sejauh itu, hah?"
Yayoi membatu.
"Kau kasihan padaku?" tanyaku sinis.
Yayoi masih menatapku. Memandangku dengan mata yang mulai memerah.
"Aku tidak…." katanya.
"Sampai kapan kau mau terus mengkhawatirkanku? Aku tidak suka dengan sikapmu yang terlalu overprotective padaku! Sikapmu yang seperti itu bahkan membuatku menjadi orang paling tidak berguna di dunia ini, kau tahu?" bentakku.
Yayoi berdiri kaku. Bibirnya tampak seperti akan menggumamkan sesuatu.
"Aku hanya…."
"Apa? Apa alasanmu?" tanyaku.
"Aku tidak ingin kau mati!" ucap Yayoi. Setetes air mata meluncur dari mata kirinya.
Aku tersentak.
"Kau pikir aku akan mati dengan mudah?" tanyaku tersenyum sinis.
"Kau pikir karena penyakit jantung ini aku menjadi begitu rapuh? Kau salah besar!" tegasku.
"Aku tidak berpikir seperti itu!" sahutnya.
"Begitukah? Lalu apa?" tanyaku, mencondongkan kepala dekat ke wajahnya. Wajah yang saat ini seperti sedang menahan tangis.
"Kenapa sangat peduli padaku? Kau bahkan bukan ibuku!" tanyaku lagi.
"Karena kau sangat berharga bagiku!" jawabnya.
Aku tersentak.
"Aku menyukaimu!" tambahnya. Air matanya meluncur lebih deras.
Aku tersentak lagi.
Oh Tuhan!
Gadis ini….
Yayoi menunduk. Mungkin malu. Ia mengusap air matanya.
"Ahahaha…." Aku tertawa.
Yayoi mengangkat kepalanya. Mulai menatapku.
Aku menepuk dahiku. Masih tertawa. Kemudian memegang pundak Yayoi dengan kedua tanganku. Mendekatkan wajahku ke wajahnya.
"Yayoi menyukai aku ya?" kataku. Menatapnya tersenyum.
Yayoi mengangguk pelan. Menggigit bibir. Seperti mau menangis lagi.
Wajahku mulai serius.
"Tidak salah?" tanyaku.
Yayoi kaget. Belum berani melihat wajahku. Kemudian ia menggeleng.
Aku mengencangkan pegangan tanganku di pundaknya.
"Kau menyukai diriku yang tidak berguna ini?" tanyaku serius.
"Eh?" dia bilang.
"Aku ini tidak berguna kan? Aku juga tidak sehebat Tsubasa Ozora. Badanku pun lemah. Bagaimana bisa kau menyukai orang seperti aku?" ujarku.
"Jun…. Aku tidak…."
"Ini aneh. Bahkan kau sangat dekat dengan Tsubasa."
"Jun, aku…." ucapnya.
"Kupikir kau hanya kasihan padaku. Tidak benar – benar menyukaiku, kan?" sahutku.
Yayoi tersentak. Kali ini ia melihat mataku.
"Aku tidak…."
"Coba kuingat." Aku mulai menghitung dengan jari tanganku.
"Mencegahku bermain penuh di pertandingan tiga tahun lalu. Menjengukku berkali – kali di rumah sakit. Memperhatikan semua makananku. Menemaniku check up rutin. Membantuku. Mencemaskan aku. Menangisi aku. Itu semua karena kau kasihan padaku kan?"
"Aku tidak begitu, Jun!" serunya.
"Sudahlah, akui saja! Toh aku ini tidak pantas buatmu. Aku akan banyak membuatmu menangis. Seperti yang kau takutkan, jika aku tiba – tiba mati bagaimana?"
Yayoi diam.
"Aku tidak membutuhkan belas kasihan darimu!" tegasku.
Yayoi tersentak untuk kesekian kalinya. Masih diam. Matanya benar – benar sudah merah.
Lagi – lagi dia menangis.
Aku tidak mengerti dengan apa yang kulakukan. Apa yang kukatakan, itu semua terjadi secara spontan. Aku seperti tidak mengenali diriku sendiri. Tapi, mungkin aku sudah lama memendam perasaan ini. Tapi, baru kali ini dapat kusampaikan.
"Sejujurnya semua perhatianmu padaku itu merepotkanku!" seruku.
Yayoi menunduk. Tidak mampu berkata – kata. Diam membisu.
"Maaf," katanya pelan sambil membalikkan badannya. Berniat meninggalkan tempat ini.
Tapi aku keburu menahannya. Menarik tangannya.
"Aku belum selesai," sahutku.
Karena terkejut, akhirnya Yayoi menatapku. Matanya merah. Pipinya basah.
Dia menangis banyak.
Lagi – lagi gadis ini….
Aku meraih pipinya yang basah dengan kedua tanganku. Mengangkat wajahnya. Memaksanya melihat mataku.
"Oh, man…. Aku begitu jahat sehingga membuatmu menangis seperti ini, huh?" ujarku.
"Kasihan, Yayoi…." Aku memegang pipinya semakin kuat. Sepertinya akan membekas merah.
"Lepaskan aku!" perintah Yayoi.
"Ini tidak seperti kau, Jun!" tambahnya.
Kali ini Yayoi menantang mataku.
"Bagaimana caraku agar kau berhenti menangis? Katakan padaku!"
"Tidak perlu. Aku baik – baik saja," balasnya.
"Bohong! Aku benci ini! Kenapa kau selalu menangisi aku?" seruku.
"Katakan padaku apa yang harus kulakukan!" bentakku.
Yayoi memalingkan pandangannya dariku. Cemberut.
Huh.
Aku sudah tidak sabar lagi!
Aku mulai mendekatkan wajahku padanya. Lalu dengan cepat mencium bibirnya. Yayoi terkejut. Berhenti menangis. Aku menariknya lebih dalam ciumanku. Lebih dalam. Lebih lama lagi. Bibir Yayoi ini…. Terasa begitu lembut. Bibir yang tipis dan mungil ini…. Bibir yang telah diambil oleh Tsubasa hari sebelumnya. Huh! Sialan! Kenapa aku begini marah?
Kenapa aku harus marah?
Aku tidak merasakan ada penolakan dari Yayoi. Tapi bukan berarti ia menikmatinya. Kupikir ia hanya menuruti kemauanku. Kami berciuman cukup lama. Kemudian semuanya berakhir ketika ia mendorong tubuhku.
Ia masih berdiri di depanku. Menunduk. Sepertinya malu. Dan marah.
"Kenapa?" Suaranya bergetar.
"Ini bukan kau, Jun!" serunya. Akhirnya ia menatapku dengan wajahnya sang berubah menjadi sangat merah. Terlihat begitu kacau. Dan manis.
Aku tahu. Kali ini aku sudah benar – benar kehilangan rasa pengendalian diriku. Aku berbuat semua hal di luar akal sehatku. Tapi mungkin ini adalah sebelah sisi kepribadianku yang belum kuketahui.
"Apa boleh buat," ucapku.
"Eh?"
"Karena wajahmu seperti menginginkannya. Lagipula, aku sudah tidak tahan dengan suara tangismu!" tambahku dingin.
"Apa?" serunya.
"Jangan berpikir macam – macam. Aku hanya ingin menghentikan tangisanmu. Itu saja!"
Yayoi terkejut.
"Aku tidak mengenalimu!" sahutnya.
"Oh? Aku Jun Misugi." jawabku.
"Bukan itu!" bentak Yayoi.
"Oh."
"Kau melukaiku. Dasar bodoh!" bentaknya lagi. Menginjak sepatuku kemudian berlari meninggalkanku.
"Ouch! Sakit! Hei, Yayoi! Kau menyakitiku!" teriakku sambil menahan rasa sakit pada kakiku. Namun Yayoi sudah menghilang dari ambang pintu.
Huh… Bodoh….
Aku ini….
Berbuat sampai sejauh ini….
End of Misugi's POV-
Yayoi's POV
Hari ini aku patah hati lagi.
Dalam waktu dua hari, aku patah hati dua kali. Ini rekor. Seharusnya aku dapat penghargaan atas ini semua.
Memang benar Jun banyak membuatku menangis. Dia bahkan menolakku.
Lalu kenapa aku masih saja mengharapkannya?
Aku terlalu cinta padanya. Sehingga wajar saja jika aku melakukan sesuatu yang lebih kepadanya. Wajar jika aku perhatian. Wajar jika aku cemas. Wajar jika aku tidak ingin ia mati. Wajar jika aku menangis.
Tapi….
Rupanya Jun telah salah menilaiku.
Ia anggap aku hanya kasihan padanya.
Jujur, perasaan sukaku pada Jun ini bahkan lebih besar dari yang ia duga.
Aku menyukai Jun.
Aku sangat menyukainya. Melebihi diriku sendiri.
Dia, seseorang yang sangat berarti dalam hidupku.
Namun, hari ini….
Ia telah sukses membuat hatiku terluka.
Bahkan ia menciumku lagi.
Membuat jantungku berdebar – debar. Membuatku kacau.
Kupikir ada sedikit rasa cinta darinya untukku. Setidaknya aku berharap demikian.
Tapi ternyata itu semua hanya untuk menenangkan aku. Tidak lebih.
Mungkin ciuman tiga tahun lalu juga sama.
Namun, ada yang berbeda dari Jun.
Tingkah lakunya hari ini begitu aneh.
Aku seperti tidak mengenalinya.
Huh….
Rupanya aku belum sepenuhnya mengerti Jun.
Tapi, kali ini aku sudah cukup tersakiti.
Aku bahkan sudah cukup bersabar.
Aku selalu berada di sampingnya, namun tidak pernah ia perhatikan.
Aku yang menyimpan perasaan cinta ini untuk waktu yang lama.
Namun, ternyata cuma cinta sepihak.
Rasanya aku….
Ingin menyerah saja.
End of Chapter 7-
Aaaaaaaaa! Akhirnya chapter 7 yang super panjang ini selesai. Saya capek sekali. Pegal linu. Huhuhu. Hampir putus asa mengerjakan chapter ini. Merangkai dialog dan deskrispsi adegan susahnya bukan main. Benar – benar harus main intuisi.
Cukup untuk curhatnya ^_^
Semoga readers tidak bosan dengan fic ini….
Bagi yang kurang berkenan, silakan protes ke saya. *kabur duluan*
Ok, mohon review ya….. ^_^
Next on chapter 8: Bagaimana seorang Jun Misugi menyadari betapa ia ( bla bla bla ) pada Yayoi. Saat Yayoi tidak berada di sisinya!
Ditunggu ya….
Wassalam ^_^
