100th DAY


"Hai, Kris." Chanyeol menyapa dengan sebuah pelukan singkat untuk lelaki surai terang itu.

Kris, si lelaki blesteran Korea-Kanada itu menyambutnya dengan senyum lebar dan menepuk pundak Chanyeol dengan semangat berlebih, "Hey yo Chanyeol!" Kemudian beralih kepada Jongin dan memberikan perlakuan yang sama dan memberikan sapaan juga. "Kai~"

Jongin tertawa kecil melihat seperti apa tingkah berlebihan Kris di setiap pertemuan mereka. Itu merupakan hal yang wajar sebenarnya, mengingat pertemuan tiga orang laki-laki itu terbilang rentang setelah mereka lulus di Universitas dan Kris yang menikah.

"Kupikir kau membual mengatakan akan ke Korea hari ini." Chanyeol menampakkan air muka excited dan duduk pada meja bulat tinggi yang Kris tempati sebelumnya.

"Jessica tentu saja." Dia menjawab. "Jessica memiliki beberapa bisnis yang harus ia selesaikan disini, mungkin sampai bulan depan jika memang memerlukan waktu lebih lama." Kris menjelaskan.

Sama seperti Kris, Jessica juga merupakan blasteran Korea-Kanada dalam darahnya. Jessica merupakan seorang perancang busana yang telah memiliki basis Internasional, sama halnya dengan Yoora—saudara perempuan Chanyeol, merupakan wanita yang Kris nikahi dua tahun yang lalu.

"Kau masih suka mengekori istrimu ternyata." Jongin mencibir. Kris tak benar tersinggung walau itu terdengar sedikit merendahkan dirinya.

"Cepatlah menikah dan kau akan tau seperti apa rasanya." Si surai terang itu berkedip satu mata. Jongin menampakkan raut wajah muntah sedang Chanyeol terkekeh.

Mereka akrab ketika berada di Universitas dulu. Memiliki konsentrasi yang berbeda taunya tak benar membuat mereka tak dapat mengakrabkan diri untuk satu sama lain. Kris yang sejak lahir tinggal di New York menjadi orang pertama yang memperkenalkan seperti apa menikmati masa remaja yang sebenarnya.

Dia seorang biseks. Ketika bertemu Chanyeol dan Jongin pertama kali, ia tengah mencumbui seorang laki-laki dan kemudian mengatakan banyak hal mengenai hubungan yang seperti itu. Bukan hal yang sulit, mengingat Chanyeol pun biseks sedang Jongin merupakan seorang gay.

"Kalian tau mengenai pengelaran fashion Louis Vuitton bukan?" Kris bertanya dengan raut wajah seolah memiliki sejuta misteri yang menegangkan yang hanya ia yang tau.

"Yang di gelar di Paris minggu lalu?"

Kris mengangguk cepat dan menangkup kedua tangannya kini. Mata elangnya menatap Chanyeol dan Jongin bergantian dan menyembunyikan sebuah senyum pada bibirnya. "Tebak hal mengangumkan apa yang terjadi disana?"

"Jessica memiliki memenangkan saham sebanyak 7%." Jongin menebak asal-asalan.

"Itu adalah hal yang luar biasa mengangumkan. Tapi ini mengenai hal mengangumkan yang lain." Kris menyembunyikan senyumnya lagi lalu dengan perlahan menarik kedutan pada bibirnya. Begitu lebar sampai ekspresinya konyol terlihat.

"Benar. Aku berbicara mengenai Narae!" Laki-laki itu terpikik dalam suaranya.

Jongin melebarkan bola mata sedang Chanyeol tersedak kopi miliknya.

"What?!" Jongin menjadi orang pertama yang merespon. Matanya melirik Chanyeol dan laki-laki itu berusaha keras untuk tak benar terlihat tertarik.

"Dia berbicara terlalu banyak dan malah kehilangan jutaan dollar disana. Itu hanya menjadi bagian kecil karena dia malah dipermalukan dengan Jessica yang memenangkan saham terbanyak. Harusnya aku merekam seperti apa moment memalukan itu."

Kris tertawa dengan sengaja bersambut dengan Jongin—terdengar senang sekali. Ia sama melirik Chanyeol dan tak mendapatkan respon apapun dari si marga Park.

"Tidakkah itu lucu?" Kris menyikut Chanyeol.

Si lelaki dengan jabatan Direktur itu mengangkat wajahnya dengan gidikkan bahu setelahnya. "Itu bukan kali pertama terjadi, tidak mengejutkan." Ia menyahut tak peduli.

Jongin menyembunyikan senyum melihat seperti apa Chanyeol. Laki-laki itu terlihat sedikit aneh dengan perubahan dalam dirinya. Narae selalu menjadi topik sensitive walau kini tak memiliki pengaruh apapun lagi untuknya. Setidaknya pernah menjadi.

Chanyeol hanya sedang tak berada dalam suasana hati yang tepat untuk tertawa atas apa yang Kris lontarkan tentang wanita itu.

"Oh, lihat dirimu Chanyeol." Kris menyipitkan mata—menatap menyeluruh Chanyeol lalu menggelengkan kepalanya. "Kudengar grub barumu mendapat perhatian besar. Lalu apa yang terjadi dengan si Loey ini?"

Jongin tertawa untuk kesekian kalinya dan merangkul pundak Chanyeol. Chanyeol mendengus—terlihat tak suka atas apa yang Jongin lakukan padanya. Ia tak harus memiliki kemampuan spinatural untuk mengetahui hal-hal yang akan terjadi kedepannya, kenyataan mengenal Jongin lebih satu dekade membuat ia paham atas semua gesture laki-laki itu.

Jongin berbalik memperlihatkan senyum misterius yang Kris tampilan beberapa saat yang lalu dan keadaan berbalik dengan raut kebingungan Kris lah yang menjadi respon untuk hal itu.

"Grub itu memang sukses—sukses membuat Chanyeol merana."

"Hah?"

Jongin menyempatkan dirinya untuk terkikik dan berujar dengan menyebalkan di mata Chanyeol.

"Jalangnya berubah semakin sibuk dengan kegiatan grub dan itu membuat Chanyeol bahkan tak bisa menyetubuhinya bahkan hanya untuk sekali dalam seharian ini."

"Hentikan Jongin." Chanyeol memutar bola.

"What the hell!" Kris memekik untuk terkejutannya—tak peduli mengenai Chanyeol yang terlihat tak suka untuk topik pembicaraan mereka. "Kau serius memdebutkan salah satu jalangmu disana?"

"Tidak Kris, anak itu menyerahkan dirinya untuk menjadi jalang Chanyeol. Ini sedikit lebih dramatis sebenarnya." Jongin tertawa.

"Fuck! Chanyeol kau masih melakukannya, huh?" Kris ikut menderai tawa bersama Jongin.

Pergi masuk kelab dan memiliki hubungan satu malam merupakan hal biasa mereka lakukan. Kebiasaan Kris yang suka melakukan seks dengan partner perempuan juga laki-laki pada saat yang bersamaan bukanlah hal yang baru, pun sama halnya seperti kebiasaan Chanyeol yang gemar menjerumuskan kelemahan seseorang dalam ego dirinya.

Chanyeol menyukai keadaan dimana seseorang mengemis pada dirinya, berubah submissive dan Chanyeol akan bertingkah sebagai dominant tak tau diri dengan seluruh keegoisannya.

Untuk Jongin, laki-laki itu lebih menyukai anak laki-laki yang berseragam, bertubuh kecil atau apapun yang mencerminkan partnernya itu merupakan bocah belasan tahun. Jongin tidak memiliki kelainan pedophilia, dia hanya menyukai karakter partnernya seperti itu, bukan seseorang yang bahkan hanya memiliki zakar tak terbentuk sebagai idealnya.

Di antara mereka bertiga, Kris menjadi orang pertama yang menarik diri untuk dunia itu. Dia memiliki jalan cerita romansa membosankan dengan Jessica, teman semasa kecilnya yang mengantarkan mereka berada dalam ikatan pernikahan kini. Kris memutuskan untuk berubah, dia mencintai Jessica dan tak ingin mengkhianati wanita itu dengan kebiasaan lamanya.

Lagipula mereka telah dewasa kini dan Kris tak menyangka jika Chanyeol masih bersama dengan kebiasaannya itu. Benar-benar…

"Lalu apa yang terjadi dengan jalang itu? Apa dia mengacuhkan dirimu setelah terkenal?"

"Dia bukan jalang," Chanyeol mengeram tak suka. Lingkaran bulat hazelnya memperlihatkan garis ketidaksukaan dan Kris cukup tau diri untuk tak lagi berujar seperti seperti itu.

"Oh, oke… jadi anak itu—"

"Baekhyun." Jongin menyela.

"Oh, namanya Baekhyun, namanya sedikit aneh." Kris berusaha membuat sedikit lelucon dan itu benar-benar payah. Jongin adalah orang yang akan senantiasa menertawai apapun yang masih memiliki lingkaran hal yang sama untuk yang ia senangi. Baekhyun merupakan salah satunya.

Namun Chanyeol terlihat tak menyukai hal itu. Sebenarnya apapun… mengenai apa yang menjadi benar adanya yang Jongin katakan pada Kris sebelumnya.

Itu benar mengenai jadwal padat Baekhyun kini yang membuat dirinya bahkan tak bisa menyetubuhi anak itu bahkan hanya itu satu pelepasan. Chanyeol menginginkan jumlah yang banyak untuk setiap persetubuhannya dengan Baekhyun dan kini ia bahkan tak memiliki satupun itu. Chanyeol hanya tak ingin mengakui jika ia merasa frustasi untuk keadaannya kini.

"Chanyeol bahkan menyuruh Baekhyun untuk tinggal bersamanya." Jongin menyambung lagi.

Kris lagi menampakkan ekspresi terkejut dan kemudian bertepuk tangan—takjub. Chanyeol ataupun Jongin bahkan tak harus bercerita apapun dan Kris telah memiliki kesimpulan dalam dirinya sendiri. Chanyeol terjerat pada anak itu—pada Baekhyun.

"Kupikir kau hanya memerlukan hiburan Chanyeol." Kris menatapnya simpati. Chanyeol mengangkat wajahnya sungkan dan menautkan pandangan mereka disana. "Kau hanya perlu meninggalkannya dan mencari jalang yang baru untuk memenuhi kebutuhanmu, seperti yang selalu kau lakukan selama ini."

"Dengar," Chanyeol menyela dalam dengusan. "Pertama, Baekhyun bukan jalang maka berhenti menyebutnya seperti itu. Kedua, Baekhyun berbeda. I mean, dia bukanlah salah satu jalang yang aku temui malam ini kemudian pada malam lain aku beralih pada jalang yang lain. Dia tidak seperti itu dan aku takkan memberlakukannya seperti itu."

"Wow~ sebentar—" Kris memotong. "Kau terdengar seperti menyukainya atau sesuatu."

"Aku lebih suka menganggap Chanyeol terobsesi padanya." Jongin menyela lagi. "Kau hanya tidak tau seperti apa Chanyeol ereksi hanya sebuah tarian yang anak itu lakukan."

Kris lagi bertepuk tangan, decak tak percaya dengan gelengan kepala dramatis.

"Sebenarnya itu berubah menjadi sexual frustration."

Baekhyun memejamkan matanya dengan lelah merayap di seluruh persendianya. Baekhyun bersyukur jadwalnya hari ini telah berakhir dan keberadaannya di dalam van dalam perjalanan pulang membuat Baekhyun merasa lebih baik.

Hari telah benar beranjak malam. Ia menjadi anggota terakhir yang turun dari van di depan gedung apartemen dengan penthouse milik Chanyeol di puncaknya, memanggul ranselnya tak bertenaga dan melangkah terseok menuju lift.

Baekhyun lagi terseok ketika lift telah berhenti pada lantai teratas, memasukkan kombinasi kata sandi dan melenggang masuk kemudian. Baekhyun membuka sepatu dan berganti dengan sandal rumahan dan tercekat ketika ia dapati Chanyeol berada di depannya.

"Kau pulang?" Laki-laki dengan tinggi 185 cm itu bertanya pertama kali. Baekhyun menganggukkan kepalanya dan ia menyergit ketika samar bau alkohol tercium. Chanyeol minum dan ia terlihat sedikit dikuasi oleh efek minuman itu.

"Segera mandi dan beristirahatkan kalau begitu." Chanyeol melambaikan tangan di udara dan berjalan menjauhi Baekhyun. Ia memasuki dapur dan menuangkan cairan bening dari botol ke dalam gelas kecil. Menegaknya dalam sekali tegukan dan Chanyeol lagi melakukan hal yang sama.

Baekhyun menatapnya prihatin. Ia pikir Chanyeol pasti memiliki masalah dengan pekerjaannya atau sesuatu berjalan tidak sesuai kehendaknya sampai laki-laki itu melarikan diri sejenak untuk mengosongkan kepalanya.

Baekhyun tak melakukan apa yang Chanyeol katakan padanya. Ia ikut masuk ke dapur dan mendekati Chanyeol di kursi tinggi pantry.

"Tidak mandi?" Chanyeol meliriknya sekali sebelum menatap cairan beningnya kembali.

"Apa… sesuatu terjadi?" Baekhyun bertanya dalam keraguan. Ia tau tak seharusnya ia menanyai hal dalam kehidupan Chanyeol, mereka hanya tinggal bersama dan melakukan seks namun tidak memiliki hubungan lebih untuk mengetahui diri masing-masing.

Sebenarnya Baekhyun menjadi satu-satunya yang tidak berhak, karena kenyataannya… Chanyeol mengetahui apapun mengenai dirinya.

"Hanya beberapa pekerjaan." Chanyeol menjawab, tak sepenuhnya sadar ketika mulai bercerita kepada remaja 19 tahun itu. "Minum tidak hanya dilakukan ketika kau mendapatkan masalah, Baekhyun." Chanyeol menggoyangkan botolnya sesaat.

Kepalanya teralih pada Baekhyun setelahnya dan menatap anak itu dengan tatapan mata memuja.

"Kau sudah legal untuk minum. Ingin mencobanya?" Chanyeol menawarkan.

Baekhyun menggelengkan kepalanya cepat—menolak, ketika Chanyeol mulai menuangkan cairan dengan kadar alkohol itu pada gelas yang lain. "Aku memiliki fansigning besok." Katanya.

Chanyeol berguman—menganggap jawaban itu masuk akal kiranya. Ia beralih menuangkan isi botolnya ke dalam gelasnya miliknya dan lagi menegak cairan itu dalam satu tegukan lagi.

"Chanyeol…" Disana Baekhyun memanggil namanya.

Laki-laki yang tua menatapnya kembali diantara alkohol yang mulai menguasai ia sepenuhnya.

"Hm? Kau ingin mengatakan sesuatu?"

Baekhyun memberikan anggukan samar dan tak sadar menggigit bibir bawahnya. Chanyeol melihat hal itu dan ia menelan liurnya tanpa sadar ia lakukan.

"Aku… ingin mengucapkan terima kasih padamu." Pelan suara Baekhyun memecah ruang sunyi di antara mereka. "Terima kasih karena sudah berbaik hati mendebutkanku, itu adalah satu-satunya hal yang ingin kulakukan dalam hidupku."

Tulus tiap untaian katanya membuat Chanyeol terdiam. Laki-laki itu menatapnya dengan mata sayu tanpa tau harus menanggapi hal sederhana itu dengan baik.

"Juga… terima kasih karena sudah merawatku dan membiarkan aku tinggal di tempat semewah ini. Aku bahkan tak berani hanya untuk membayangkannya dulu." Baekhyun menarik senyum, lembut tanpa adanya kesan sekedar basa-basi disana. "Kau begitu baik dan aku tak memiliki hal yang bisa kukatakan selain terima kasih."

Baekhyun membungkuk kemudian. Dalam dengan kurun waktu seperempat menit berlalu. Chanyeol menatap semua itu dengan sejuta artian tak berujung dalam dirinya. Itu sedikit berkecamuk. Dirinya juga hatinya.

Seperti adanya jarum kecil mengenai ulu hatinya, berdenyut dan terasa menyakitkan ketika Baekhyun memperdengarkan seluruh ketulusannya seperti itu.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Chanyeol merasa begitu buruk untuk dirinya sendiri.

Ia bergeming dalam posisinya dan tanpa respon apapun untuk seluruh ujaran Baekhyun. Remaja 19 tahun itu menegakkan tubuhnya kembali dan terlihat tak mempermasalahkan Chanyeol yang tak merespon dirinya.

Baekhyun menarik senyum lagi dengan semburat merah kini memenuhi pipinya yang penuh.

"A-aku tidak tau apa yang harus kulakukan, ta-tapi—" Ia mengantungkan ucapannya. Chanyeol menatapnya penasaran dan menunggu dalam diam. Baekhyun berdehem sekali dan membuka mulutnya untuk kalimat yang menguar tergagap.

"Besok adalah hari ke 100 debutku. Sama seperti Chanyeol yang memberikan segala hal baik untukku, maka—a-aku akan mem-memberikan hal yang sa-sama pula. Maksudku a-aku akan berusaha—"

"Apa yang coba ingin katakan Baekhyun?" Chanyeol bersuara akhirnya. Baekhyun tercekat sendiri pada tempatnya dan berkeringat dingin kini. Ia memejamkan mata dan itu seperti déjà vu bagaimana rahangnya terbuka dan ia membiarkan seluruh patahan kalimatnya mengucur begitu saja.

"Apapun itu ak-aku akan akan selalu memasrahkan diriku padamu. Aku takkan lari darimu kecuali kau yang memintaku untuk pergi."

Bola mata Chanyeol yang membola adalah respon ekspresif pertama. Diikuti dengan besaran bola mata Baekhyun diikuti dengan retetan ucapan permohonan bertubi-tubi yang dilakukan Baekhyun kemudian.

Chanyeol tau mengenai dirinya yang mulai mabuk dan sedikit dikuasai ilusi. Namun Chanyeol berani bersumpah jika apa yang baru saja Baekhyun katakan merupakan hal yang benar terjadi. Bukan hal yang berada dalam imajinasinya namun benar jika Baekhyun-lah yang mengujarkan kalimat itu sendiri.

Chanyeol terkekeh menjadi respon lain yang ia berikan. Ia mengabaikan botol di tangannya dan memutar tubuhnya guna berhadapan dengan Baekhyun kini. Menarik kedutan pada satu bibir dan membiarkan suara beratnya memutus ujaran maaf tanpa jeda Baekhyun.

"Benar." Chanyeol pelan bersuara. "Kau adalah milikku." Pinggang Baekhyun ia rengkuh cepat, terlalu cepat sampai Baekhyun tak sempat berkedip dan taunya telah berada dalam pelukan laki-laki itu. Chanyeol menatapnya dengan tatapan memujanya seperti biasa, mengecup sudut bibir mungil itu dan berbisik dengan kuluman basah pada daun telinga yang lebih kecil. "Puaskan aku, Baekhyun."

Baekhyun menahan tangis ketika tak ia dapati botolnya di manapun. Seluruh isi ranselnya ia keluarkan dan ia temukan botolnya disana. Kosong, tanpa ada satupun butiran pil miliknya tersisa.

Baekhyun lagi mengorek isi ranselnya, berharap ia menemukan adanya sebutir pil yang mungkin tersisa di dalam sama. Tidak ada. Bahkan untuk sepotong kecil, Baekhyun sudah tak memilikinya lagi. Bahkan sudah sebulan ini… Baekhyun sudah tak lagi memiliki pil-pil itu.

Pagi adalah ketenangan. Chanyeol selalu memiliki ketenangan tanpa adanya suara dengungan sekecil apapun ketika menyambut paginya. Dia tinggal seorang diri di penthouse miliknya itu, keterdiaman selalu menyambut. Bahkan dengan adanya Baekhyun kini, pun suara-suara mengganggu seperti itu tak benar terjadi di kediamanannya.

Namun tidak untuk pagi ini.

Chanyeol baru saja bangun dari tidurnya. Pusing memeranggapi, bekas alkohol semalam. Paginya baru saja di mulai kembali dan Chanyeol sesegera mungkin ingin mengguyur kepalanya dengan air dingin. Dia tak mendapati Baekhyun di sampingnya, berpikir laki-laki itu berada di dapur dengan beberapa potong roti isi untuk sarapan mereka atau juga telah berada dalam perjalanannya menuju jadwalnya pagi ini.

Namun taunya Baekhyun benar masih berada disana. Di dapur dengan tangan telaten memotong buah juga sayuran yang akan ia jadikan salad sebagai tambahan menu sarapan ia dan Chanyeol. Pagi sunyi dengan nyanyian pelannya berakhir dengan sebuah dorongan pintu keras diikuti suara langkah bergesekan pada lantai.

"Chanyeol!" Kemudian teriakan terdengar setelahnya.

Baekhyun tersentak pada tempatnya dan terburu-buru keluar dari dapur, menuju ruang utama dan terkejut bukan main mendapati Yoora berada disana.

Wanita itu pun sama terkejutnya akan Baekhyun. Dia berhenti berteriak memanggili nama adiknya dan beralih menuju Baekhyun kini. Menatap penuh selidik dan Baekhyun terburu membungkukkan badannya untuk sebuah sapaan.

"Siapa kau?" Yoora tak bermaksud memberikan tekanan pada pertanyaannya. Dia hanya masih memiliki sisa teriakannya dan berakhir dengan suara bentakan bertanya seperti itu.

"Se-selamat pagi. Saya Baekhyun." Baekhyun menjawab gugup.

Ini adalah kali pertama ia berada dalam posisi sedekat ini dengan perancang busana itu. Rasanya begitu tak nyaman dengan kecanggungan yang semakin memperburuk keadaan dirinya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Yoora lagi melempar tatapan penuh selidik miliknya. Namun itu tak berlangsung lama. Memejamkan matanya sesaat dan bibirnya bergerak tanpa suara menyumpahi Chanyeol. "Anak itu benar-benar." Yoora mengumpati Chanyeol ketika ingat apa yang menjadi kebiasaan adiknya itu.

Kehadiran Baekhyun di dalam penthouse Chanyeol takkan mengherankan lagi.

"Park Chanyeol!" Kemudian Yoora kembali berteriak. Ia mengabaikan Baekhyun ketika ia dapati sosok jangkung itu keluar dari kamar.

Chanyeol sedang berbenah ketika suara teriakan Yoora menggelegar bahkan sampai ke kamarnya. Chanyeol urung memilih dasi miliknya dan membiarkan 3 kancing kemejanya terbuka begitu saja. Langkahnya besar menapak dan mendekati dua orang yang lain di ruang utama.

"Berhenti berteriak di rumahku, Noona." Chanyeol memutar bola matanya, ia berujar seolah teriakan itu merupakan hal yang biasa dilakukan oleh wanita itu.

Matanya teralih kepada Baekhyun dan mengusap puncak kepala Baekhyun sekali.

"Kau sudah sarapan?" Chanyeol bertanya. Tak mempedulikan Yoora dengan tatapan memicing—membidik interaksi ia dan Baekhyun.

Remaja 19 tahun itu mengangguk cepat. "Aku sudah menyiapkannya untukmu."

"Terima kasih, Baek. Dan bukankah kau memiliki jadwal pagi ini?"

Baekhyun melirik jam pada tangannya dan menahan pekikan. Jam 7 adalah tepatan waktu di katakan oleh manejernya semalam.

"Aku harus pergi sekarang Chanyeol." Ia mengambil tas ranselnya di dapur dan memanggul pada satu bahu.

"Pergilah." Chanyeol menyempatkan diri mencuri kecupan pada bibir Baekhyun kemudian berbisik, "Yang semalam itu sangat menakjubkan."

Baekhyun semerah tomat dengan malu merangkapi dirinya. Ia membungkukkan badannya kepada Chanyeol kemudian kepada Yoora sebelum berlari keluar dari penthouse itu.

Debuman pintu tertutup terdengar dan Chanyeol membawa langkahnya menuju dapur.

"Apa anak itu tinggal disini bersamamu?" Yoora mengikuti langkahnya menuju dapur—masih mempertahankan picingan mata yang sama, menatap Chanyeol.

Chanyeol menganggukkan kepalanya tanpa beban dan ia tersenyum tipis melihat apa yang Baekhyun siapkan untuk sarapannya.

"Hell! Kau sekarang mencabuli anak di bawah umur juga, huh?" Yoora menyempatkan satu kata umpatan lagi di akhir kalimatnya.

"Jadi apa yang membuat Noona berada disini dan berteriak seperti orang gila?" mengabaikan pertanyaan dari Yoora, Chanyeol melempar pertanyaan yang lain.

Wanita itu sontak kembali pada ekspresi wajah menyeramkan sesaat yang ia perlihatkan pada Baekhyun di depan pintu. Seketika teringat tujuannya menemui Chanyeol dan yeah… berteriak seperti orang gila di rumah laki-laki itu.

"Si rubah ular itu kehilangan sahamnya di penggelaran Louis Vuitton." Deru nafas keras terdengar kentara ketika Yoora mengujarkan kalimatnya.

Wajah cantiknya terlihat berantakan sedang image anggun yang selama ini ia miliki, menguar entah kemana.

"Kris mengatakan hal itu padaku kemarin." Sahut Chanyeol tak peduli. Rubah ular, merupakan julukan yang Yoora sematkan kepada Narae.

"Dan siapapun di dunia ini juga tau jika dia akan kembali kesini dan mengemis perhatian Ibu untuk menutupi kerugiannya. Sialan! Dia akan mengacau marketku lagi!" Yoora lagi mengumpat. Ia mendekati Chanyeol dan menarik salad yang tengah Chanyeol nikmati dengan gusar. Bertemu tatap dengannya dan Yoora memiliki banyak penekanan kentara disana.

"Kau." Dia menghentak meja. "Apapun itu, kau tak boleh masuk ke dalam lubang yang di galinya lagi. Kau dengar itu, Park Chanyeol? Jangan biarkan dia membodohimu lagi!"

"Noona aku tidak pernah dibodohi olehnya, atau oleh siapapun di dunia ini." Chanyeol balas menatap wanita itu dengan intimidasi yang sama. Itu terlihat menyeramkan namun Yoora malah menarik senyum pada bibirnya.

"Aku tau kau tidak." Katanya. Suaranya terdengar melembut dan ia biarkan Chanyeol menikmati salad miliknya kembali. Deru nafas yang sempat menggulung di dada, perlahan mereda dan Yoora berakhir dengan menempatkan dirinya duduk berhadapan dengan Chanyeol kini.

"Si rubah ular adalah jalang yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya. Persetan dengan ibu yang begitu menyukainya, yang hanya perlu kau lakukan adalah mengingat kembali apa yang telah dia lakukan padamu,"

Gerakan rahang Chanyeol terhenti dan ia tenggelam tanpa perencanaan dalam dirinya. Terhempas akan masa lalu dan Yoora mengetahui hal itu.

"Park Chanyeol, adikku… aku tau kau takkan membiarkan dia menginvasi dirimu lagi." Satu tangan Chanyeol di atas meja, Yoora raih dan memberikan sedikit remasan disana. Chanyeol mengangkat kepalanya dan bertaut dan mata serupa dengan wanita itu.

Senyum menenangkan dan menularinya untuk ikut menarik senyum pula.

"Omong-omong, Sehun akan pulang besok."

Baekhyun meyakini dirinya yang baik-baik saja. Dia tidak sakit ataupun merasa tak enak badan ketika meninggalkan penthouse Chanyeol. Ia telah berada gedung dimana acara fansigning yang akan dilakukan hari ini. Baekhyun masih merasa baik tapi mual tiba-tiba saja menyerang dirinya. Itu telah terjadi sejak ia kehabisan pil dalam botol miliknya.

Baekhyun membekap mulutnya dan berlari menuju toilet. Mengeluarkan seluruh isi lambungnya dan berkeringat dingin di depan kloset.

"Baekhyun kau baik-baik saja?" Pada bibir pintu toilet, Jongdae bertanya. teman satu grubnya itu menampakkan raut wajah khawatir dan menghampiri Baekhyun.

Baekhyun tak segera menjawab sedang perut lagi bergejolak, memuntahkan isi perutnya sampai tak bersisa. Jongdae lantas mengurut tengkuknya reflek dan itu membuat Baekhyun merasa lebih baik.

"Aku akan memberitau manejer jika kau sakit." Jongdae berujar sembari bergegas pergi dari toilet namun Baekhyun mencekalnya cepat—membuat Jongdae menghentikan langkahnya.

"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit mual." Baekhyun bangkit kemudian dan mencengkram perutnya dengan satu tangan.

"Benar kau baik-baik saja?"

Baekhyun mengangguk cepat, "Ya."

Ya… Baekhyun berharap dirinya memang… baik-baik saja.


Cocot: aura sinetronnya dimulai ges wkwkwk

Makasih untuk semua reviewers di chap sebelumnya, aku baca semua review kalian dan kubahagia :v mampir lagi dear dan see ya di chap depan~