Bersamamu sedikit lebih lama
()
Pair : naruto x single pair (Sona,Rias,Hinata,Naruko)
()
Story cerate by : hikarinoyami13
()
NO INCEST, NO HAREM
()
Genre : romance, hurt/comfort, drama
()
Rating for story : rating M (untuk beberapa alasan)
"Naruto" bicara biasa
"Naruto" flashback
'Naruto' membathin
(Naruto) penjelasan/arti dari kata disebelahnya
I'm not own the character of naruto shippuden or high school dxd
I'm not own the another anime character in my story
Chapter sebelumnya
"Naruto-chan…"
"iya kaa-chan?" aku berusaha sebaik mungkin untuk tetap tersenyum di depan okaa-chan, tapi sepertinya mulutku ini sudah tidak sanggup lagi untuk tersenyum.
"Jadilah anak yang kuat, jalanilah hidupmu, dan pilihlah jalanmu sendiri, yang lebih penting jangan pernah membuat perempuan menangis dan memperlakukan perempuan dengan kasar. Ehehe" ucap okaa-chan tertawa di bagian akhirnya.
"…Apapun yang menjadi pilihanmu kedepan…kaa-chan,dan ayahmu akan selalu mendukung ketahuilah kalau kami selalu bersama mu… di sini" ucap okaa-chan menunjuk dadaku.
"Kami menyayangimu Naruto-chan, dulu, sekarang… dan sampai kapanpun" ucap kaa-chan lalu tangan kaa-chan tiba-tiba ter-jatuh, tergerai lemas di atas ranjang.
Mataku terbelalak dan bergetar melihat tangan kaa-chan tidak bergerak sedikitpun
"Kaa-chan? Kaa-chan!? Bangun kaa-chan! Jangan bercanda kaa-chan" ucapku menggoyangkan tubuh kaa-chan.
"Ehehe bercanda kaa-chan tidak lucu. Bangun kaa-chan, kenapa kaa-chan tidur? Ayo kita pulang kerumah…" ucapku sambil menggoyang-goyang tubuh kaa-chan
"Hiks, hiks… ayo kita pulang kaa-chan. Naruto sudah belajar masak lho hiks, hiks… di rumah nanti Naruto masakan nasi goreng kesukaan kaa-chan, kaa-chan pasti akan senang mencicipi nasi goreng buatan Naruto hiks, hiks… kaa-chan… kaa-chan"
Aku menggenggam tangan okaa-chan dengan erat berharap kalau dia akan mejawabku
"Hiks…aku mohon hiks… jangan tinggalkan Naruto sendiri kaa-chan hiks, hiks, hiks" ucapku lagi.
Tapi masih tidak ada jawaban dari okaa-chan
"Hiks, hiks… KAA-CHAAAAAAAAN!"
Chapter 7 ARC IV : The Beginning of Uzumaki Naruto life story
Keesokan harinya.
Di hari yang tidak bersahabat kaa-chan di makamkan di samping makam otou-san…
Tetangga, dan rekan-rekan kerja kaa-chan dan bahkan paman kedai ramen datang ke acara pemakaman kaa-chan hari ini.
Aku memandang kosong kearah kedua batu nisan itu…
Saat itu aku tidak tau harus berbuat apa-apa lagi.
Memangnya apa yang bisa di aku lakukan dengan tubuh kecilku ini?
Satu persatu kalimat terakhir kaa-chan terngiang di kepalaku.
'Pilihlah jalanmu sendiri…'
Hujanpun mulai menetes satu persatu, membuat semua orang pergi dan meninggalkan aku sendiri di sana.
'Kami selalu bersama mu…'
Aku terduduk bersipuh masih dengan pandangan kosong.
Air mata ini mulai mengalir keluar dan menyatu dengan air hujan yang membasahi kepala dan seluruh tubuhku yang masih kecil ini.
PUK
"Ayo kita pulang… Naruto-chan" ucap paman pemilik kedai membuat aku melihat kearah belakang dan kembali melihat kearah kuburan otou-san dan okaa-chan.
'Jadilah anak yang kuat…'
Aku lalu menghapus kasar air mataku lalu memasang wajah tegar di depan makam orang tuaku.
"Aku akan menjadi anak yang kuat kaa-chan…" ucapku tegas di depan kuburan kedua orang tuaku.
Lalu aku mengikuti ojii-san pemilik kedai pergi dari sana.
Pindah scene
Di depan pintu rumah kontrakan yang kami tinggali, aku menggenggam kenop pintu dengan perasaan ragu untuk membuka pintu itu.
Aku akhirnya menelan ludahku dan membuka pintu itu perlahan.
CKLEK
"Tadaima" ucapku lirih saat pintu sudah sepenuhnya terbuka.
"OKAERI NASAI"
"huh?" ucapku kaget.
Didalam sudah ada banyak orang di sana, dengan minum dan makanan sudah tersaji di atas meja tamu.
"Naruto-kun, ayo kita makan bersama" ucap perempuan dengan kacamata menghiasi wajahnya dengan mata violet dan rambut pendek, kami bertemu saat aku bekerja di cabang kedai sushi milik ayahnya.
Kami menjadi teman dekat dan sering bermain bersama setelah aku bekerja. Bagiku dia adalah teman pertamaku.
"Sona-chan? Semuanya juga ada disini?"
"Kami harusnya datang saat pemakaman kushina, tapi kami terlambat karena dijalan macet" ujar laki-laki paruh baya.
Aku lalu melihat kearah orang-orang yang tadi hadir dalam acara pemakaman juga datang kemari.
"Kami di ajak oleh Sitri-san kesini"
"Ayo bergabung dengan kami Naruto-chan, Serafall tidak bisa datang karena dia harus sekolah hari ini" ucap wanita paruh baya yang mirip dengan temanku yang berkaca mata itu seraya mengulurkan tangannya kearahku.
"Hayaku (ayo cepat) Naruto-kun" ucap Sona seraya menarik-narik tanganku.
"Sona-chan…" gumamku kecil.
Aku memandang kearah mereka yang tengah berkumpul di meja makan, dengan makanan sudah tersedia di sana.
Ada ayah dan ibunya Sona-chan, dan teman-teman kerja kaa-chan juga datang berkumpul disini.
Tiba-tiba bayangan kaa-chan yang sedang menantiku di dapur terlintas dimataku.
Flashback saat kaa-chan menanti aku pulang dari kerjaku yang tidak diketahui oleh kaa-chan kembali berputar di benakku.
Mataku berkaca-kaca, dan bahuku bergetar menahan tangis. Tapi sekuat apapun aku menahan tangis ini tetap saja usahaku itu hanya usaha yang sia-sia.
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku berusaha untuk menghentikan tangis ini, berharap air mata ini tidak keluar untuk kesekian kalinya, berusaha agar air mata ini tidak jatuh lagi untuk kesekian kalinya.
Namun…
"Hiks… Ghk hiks, hiks…"
Semakin kuat aku menahan tangis ini, semakin deras air mata ini keluar membasahi pipiku.
Dengan gerakan kasar aku menghapus air mata di pipiku berkali-kali, air mata ini tidak berhenti.
"Naruto-kun" ucap Sona bersedih.
GREP
"Huh?"
Untuk kesekian kalinya aku kaget saat ibunya sona memelukku dengan penuh kasih sayang.
"jangan menangis… Naruto-chan. Aku yakin kushina tidak ingin melihat anaknya ini menangis" ucap lembut ibunya sona.
Entah kenapa aku merasa nyaman dan hatiku mulai menjadi tenang.
Air mataku mulai berhenti mengalir dan diriku membalas pelukan dari ibunya Sona.
Aku menenangkan diri di pelukannya, berusaha tegar menghadapi kenyataan yang ada, dan mencoba mengikhlaskan kepergian mereka.
"Arigato obaa-san" ucapku seraya melepaskan pelukannya.
"ayo kita berkumpul dengan yang lainnya" ucap obaa-san menuntunku kemeja makan, berkumpul dengan yang lain.
Malam itu bebanku terasa lebih ringan saat semuanya ada disini, aku bahkan hampir melupakan masalah yang terjadi pada diriku.
Sona juga sangat semangat menceritakan soal temannya dari underworld dan mengajakku kapan-kapan ke sana untuk berkunjung bermain bersama temannya itu.
SKIP TIME
Sudah hampir dua bulan setelah meninggalnya kaa-chan, aku bekerja keras untuk mencari uang melunasi biaya sewa tempat tinggalku, dan Malam itu pemilik gudang itu pergi dari rumah setelah aku membayar tagihan rumah.
Paman pemilik kedai tempat aku berkerja datang berkunjung mengatakan kalau dia mempunyai teman yang menjadi pengurus panti asuhan di kota sebelah dan memberikan aku beberapa perbekalan selama dalam perjalan kesana besok.
SKIP TIME
Keesokan harinya aku tengah berdiri di depan kuburan otou-san dan okaa-chan dengan tas yang lumayan besar di punggungku. Aku berdo'a di depan kuburan mereka seraya berpamitan kepada mereka.
"Otou-san… okaa-chan" gumamku lalu meletakkan sepucuk bunga lili di tengah-tengah kuburan mereka lalu berjalan meninggalkan makam itu.
Beberapa langkah dari makan orang tuaku, akupun berhenti dan melihat kebelakang.
"Kaa-chan… Otou-san. Aku akan pergi ke kota sebelah untuk masuk kedalam panti asuhan"
Aku maju kedepan lalu meletakkan dua tangkai bunga di depan kuburan itu seraya berdo'a.
"Walau aku berusaha keras tetap saja aku masih anak kecil"
Aku berdiri dan berjalan meninggalkan kuburan itu.
Tapi aku berhenti tidak jauh dari kuburan itu lalu melihat kebelakang kearah kuburan kaa-chan dan tou-san.
"Ittekimasu! (aku berangkat)" ucapku lalu memberikan senyuman lebar terbaikku untuk mereka.
Angin lembut berhembus menerpa wajahku seakan menjadi jawaban dari ucapanku barusan.
Aku memejamkan mataku lalu kembali melanjutkan perjalananku menuju kota sebelah.
Pindah scene
Sekaran aku sedang berdiri sendiri di stasiun kereta api menunggu kereta menuju tujuanku datang.
"perhatian, kereta menuju konoha sebentar lagi akan sampai. Diharapkan bagi penumpang harap tidak melewati garis tunggu kereta. Semoga perjalan anda menyenangkan, Sekian terimakasih"
Sudah lewat dari tiga puluh menit aku menunggu akhirnya kereta keberangkatanku datang juga.
Aku dengan sigap turun dari kursi tunggu dan berlari kearah garis tunggu kereta.
"TUNGGU NARUTO-KUN!" teriakan itu membuat semua orang melihat kearah sumber suara dan begitupun juga aku.
Di depan pintu stasiun di sana berdiri tuan dan nyonya Sitri, dan juga… Sona.
Sona segera berlari kearahku dengan kemampuan yang dia punya. Sedangkan ayah dan ibunya hanya berdiri di sana melihat Sona berlari kearahku.
Sesampainya Sona di depanku, Sona langsung menarik-narik lengan bajuku.
"Aku mohon jangan pergi Naruto-kun. Bukankah beberapa bulan yang lalu kamu janji kalau kamu akan ikut pergi bermain bersama temanku di underworld (anggap aja underworld nama kota)" ucap Sona dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gomen ne Sona-chan, aku ingin sekali bertemu dengan temanmu dari underword, tapi aku harus pergi ke Konoha…" jawabanku membuat Sona semakin menggenggam erat lengan bajuku, tidak ingin kalau orang yang berharga bagi sona pergi meninggalkannya.
"Doishite (kenapa)?" ucap Sona dengan raut wajah sedih dan mata yang berkaca-kaca.
"Aku ingin masuk kepanti asuhan yang ada di sana. Ojii-san bilang kalau temannya mau menerima aku disana" jawabku jujur.
"Tidak…" gumam Sona yang kurang jelas di pendengaranku.
"Huh?"
"Aku tidak ingin Naruto-kun pergi kemanapun" ucap Sona tegas.
Keretaku sudah berhenti dan pintu mulai terbuka.
Tapi Sona tetap tidak mau melepaskan genggamannya dari lengan bajuku.
"Sona-chan" panggil ibunya yang sudah berada di samping Sona.
"Biarkan Naruto-chan pergi. Walaupun tidak ada Naruto-chan disini, bukankah kemarin temanmu Naruko-chan sudah mengajakmu kerumahnya untuk bermain?" ucap Sitri obaa-san berusaha menghibur Sona, tapi hasilnya tetap sama saja.
"Tidak perlu bersedih Sona-chan…" Sitri obaa-san menggantungkan kalimatnya dan mengusap kepala Sona lembut.
"Karena suatu saat kalian pasti akan bertemu lagi" ucapnya lembut.
"Apa Naruto-kun tetap akan pergi?" tanya Sona padaku.
Aku menganggung pelan menjawab ucapan Sona dan dengan sekejap Sona melepaskan genggamannya pada lengan bajuku.
"Moo, shiranai! (aku tidak peduli lagi)!" ucap Sona marah lalu berjalan pergi.
"Tunggu Sona, kamu mau kemana" tanya Sitri ojii-san.
"Aku mau pulang!" jawabnya kesal.
Aku tidak tau harus berkata apa-apa lagi, pintu kereta sudah mau di tutup dan Sona sekarang marah padaku.
"Naruto-chan semoga kamu sampai di tujuan dengan selamat" ucap Sitri obaa-san lembut lalu mengalihkan pandangannya kearah Sona yang berjalan pergi.
"aku akan menyusulnya dulu anata (sayang)" ucapnya pada suaminya.
Sitri ojii-san hanya menganggung membalas ucapan istrinya. Setelah mendapat izin dia langsung pergi menyusul Sona.
Sitri ojii-san kembali melihat kearahku dan berkata.
"Naruto-kun, hidup sendiri itu memang susah. Apa lagi anak seusiamu, tapi itu bukanlah sebuah alasan seorang laki-laki untuk menyerah. Jalanilah pilihan hidupmu" ucap Sitri ojii-san.
Aku mengangguk lalu melihat kearah Sona yang baru saja menutup pintu mobil kasar.
Sitri ojii-san mengikuti arah yang aku lihat dan tersenyum sedih melihat anaknya yang marah seperti itu.
"Tentang Sona… tidak usah khawatir, dia pasti akan baik-baik saja. Dia hanya tidak ingin temannya pergi meninggalkan dirinya sendiri. Sejak kakaknya pergi sekolah keluar negeri meninggalkannya sendiri dia sering sekali sendiri menyendiri seraya membaca buku kesukaannya"
"Ah dan berikan ini pada pengasuh panti asuhan saat kamu sampai nanti" tambah Sitri jii-san menyerahkan amplop kepadaku.
"jika tidak tau jalan jangan malu-malu bertanya kepada orang lain"
"Hai!" ucapku semangat lalu masuk kedalam kereta.
Pintu kereta perlahan mulai tertutup.
Sitri ojii-san melambaikan tangannya padaku, akupun membalas lambaiiannya.
SKIP TIME
Pindah scene
"pemberhentian selanjutnya Konohagakure" ucap orang melalui speaker kereta api.
Akupun berdiri dari tempat dudukku dan bersiap di depan pintu, begitupun orang-orang lain yang ingin berhenti di Konoha.
Kereta perlahan mulai berhenti dan pintupun terbuka. Aku melangkahkan kakiku keluar dari dalam kereta dan melihat secarik kertas yang bertuliskan alamat panti asuhan tujuanku.
Setelah mengecek tujuanku lalu aku pergi ke halte bus terdekat.
"Whoa"
Saat aku keluar dari stasiun kereta hal pertama yang aku lihat adalah bangunan besar dan tinggi. Selama aku berjalan ke halte bus aku melihat ke kiri dan kekanan memandang hebatnya bangunan-bangunan di kota Konoha yang sangat maju di banding tempatku tinggal.
Beberapa menit kemudian akupun sampai di halte bus terdekat dan kebetulan busnya baru sampai dan aku langsung masuk kedalam.
SKIP TIME
Pindah scene
Sudah satu jam lebih aku menaiki bus ini tapi masih belum juga sampai di tujuanku. Aku melihat sekitar tidak ada siapa-siapa lagi di dalam bus kecuali aku dan supir bus itu sendiri.
Akupun maju kedepan dan bertanya pada supir bus itu.
"A-ano, ojii-san…"
"hmm? ada apa anak muda? Duduklah di belakang nanti kamu jatuh" ucap supir itu padaku.
"Eto… apa alamat yang aku berikan pada jii-san masih jauh?" tanyaku ragu-ragu.
Paman itu tersenyum padaku lalu mengusap kepalaku ramah.
"tenang saja anak muda sebentar lagi sampai… lebih baik kamu duduk di kursi sana, nanti kamu jatuh" ucap paman itu.
"Ah hai, wakatta (aku mengerti)"
Aku duduk di kursi belakang supir itu lalu melihat kearah keluar bis, tanpa aku sadari aku tertidur dengan sendirinya.
Aku tidak tau sudah berapa lama waktu terlewatkan saat aku tertidur dan mobil bus itu berhenti membuat aku terbangun dari tidurku.
"Hai, kita sudah sampai anak muda" ucap supir itu riang.
"Ano… ojii-san, ini dimana?" tanyaku bingung.
"Ah jadi ini pertamanya kamu kesini ya?"
Aku mengangguk membalas ucapan paman itu.
"Panti asuhan tujuanmu ada di desa ini. Walaupun panti asuhan disini baru, tapi pengurus disana adalah orang yang ramah…" ucap paman itu menjelaskan tentang panti asuhan itu.
"Nah, disana panti asuhan tujuanmu" lanjut paman itu seraya menunjuk rumah sederhana yang terletak agak jauh dari perumahan desa lainnya.
Rumah itu bisa di bilang lumayan besar dengan bangunannya terbuat dari kayu dan ada jam besar atas pintu masuknya.
"sebenarnya dulu disana adalah gereja kecil di deas ini, namun karena suatu kejadian gereja itu menjadi rata…" ucap nya bercerita
"tapi sekarang disana sudah di didirikan panti asuhan dan yang menjaganya adalah salah satu temanku. Jadilah anak baik di sana" lanjutnya.
"Un, arigato ojii-san" ucapku lalu merenguh uang dari saku celanaku.
"Tidak usah anak muda, simpan saja uangmu" ucap paman itu tersenyum padaku.
"Hontou desu ka (benarkah)?" tanyaku ragu.
"Ya" balas paman itu seraya tersenyum padaku.
"ARIGATO OJII-SAN" ucapku lalu keluar dari bis.
"sampaikan salamku untuk pengurus panti di sana ya" seru paman itu dari dalam bis.
"HAI! (ya)" jawabku semangat.
Lalu pintu mobil bis itu tertutup dan paman itu melanjutkan perjalanannya.
Setelah bi situ sudah pergi cukup jauh aku membalikkan badanku dan melihat desa tempat panti asuhanku berada.
Kebetulan halte bus ini terletak di perbukitan sehingga aku bisa melihat desa yang ada di bawah.
Desa kecil yang terletak di kaki bukit dengan ladang padi yang luas menjadi penghias desa ini.
"Yosh!" teriakku lalu berjalan dengan penuh semangat kesana.
Pindah scene
Di depan pintu panti asuhan aku melihat kesekeliling mencari apakah ada orang, di tempat yang cukup jauh dari perumahan desa dan terletak di dalam hutan panti asuhan ini didirikan.
TOK TOK TOK
"Ano… permisi"
Aku mengetuk pintu itu dengan lumayan keras berharap akan ada jawaban dari dalam.
CKLEK DHUK
"Itte"
Pintu terdorong kearah keluar membuat aku terbentur pintu dan mengikuti pintu kebelakang.
"Hai, ada a…pa?" ucap suara wanita yang membuka pintu itu bingung melihat sekitar mencari orang yang mengetuk pintu barusan.
"A-anooo…" ucapku dari belakang pintu lalu berjalan kedepan wanita yang membuka pintu.
"Ah sumimasen deshita (aku minta maaf) apa kamu terluka?" tanya wanita dewasa itu cemas.
"Ah Ie (ah tidak), hanya terbentur saja. tidak ada yang terluka" ucapku sambil mengusap-usap kepalaku.
"banarkah? Sini aku periksa, siapa tau ada yang terluka atau yang lainnya" ucapnya sangat cemas.
"tidak, aku tidak apa-apa kok onee-chan, sungguh" ujarku menenangkan wanita dewasa itu.
"Yo-yokatta…" ucapnya sambil menghembuskan nafas lega.
"Ano, onee-chan"
"Hai(ya)?"
Aku membuka tasku lalu mengambil amplop yang di berikan oleh Sitri ojii-san padaku.
"apa onee-chan pengurus panti asuhan ini?" tanyaku untuk memastikan.
"Ah ya aku adalah pengasuh dipanti asuhan ini, ada apa anak muda?" tanyanya lalu berjongkok di depanku.
Aku lalu menyerahkan amplop ini padanya.
"hmm? apa ini?" tanyanya penasaran.
"Sitri ojii-san menyuruhku untuk menyerahkan amplop ini pada pengurus panti asuhan di sini saat aku sudah sampai di sini" ujarku membuat wanita itu bingung.
"siapa yang mengetuk pintu barusan yakushi-san?" tanya laki-laki yang hampir tergolong sudah tua baru saja keluar dari dalam panti asuhan.
"Ah ini ada anak muda bilang kalau Sitri-san memintanya menyerahkan amplop ini pada pengurus panti asuhan" ujar wanita yang barusan di panggil yakushi.
"Ah rupanya kamu anak yang di katakan oleh Sitri-san?" tanya orang itu lalu mengambil amplop itu.
Aku mengangguk lemah menjawab ucapan ojii-san itu.
"Yakushi-san, mulai sekarang dia adalah anak baru disini" ujarnya membuat Yakushi sedikit kaget.
"Ah jadi dia anak yang anda katakan itu?" tanya Yakushi dan di balas anggukan dari laki-laki itu.
Yakushi sekali lagi berjongkok di depanku lalu mengusap kepalaku lebut.
"Siapa namamu nak?"
"N-Naruto, Uzumaki Naruto desu"
"Naruto-kun… selamat datang dalam keluarga kami" ucapnya lembut lalu menuntunku masuk kedalam.
Sesudah masuk kedalam aku berhenti di depan pintu melihat ada banyak kasur yang berderet di tepi kanan dan kiri yang sudah di rapikan.
"Kasurmu di sebelah sini Naruto-kun" ujar Yakushi yang berdiri di samping kasur yang terletak paling ujung sebelah kanan.
Aku melihat kearah Yakushi nee-san lalu berjalan menuju kearahnya.
"Ano? Apa disini hanya ada aku?" tanyaku sambil melihat sekeliling.
"tidak, masih banyak yang lainnya Naruto-kun, mereka sekarang sedang pergi bekerja"
"bekerja? Apa ada tempat bekerja di sekitar sini?" tanyaku antusias.
"Mochiron desu (tentu saja), mereka bekerja membantu para petani di sini menanam padi mereka"
"TADAIMAAA!"
Suara ramai yang terkesan sedang panic baru saja membuka pintu menarik perhatianku dan Yakushi nee-chan.
"Okaerina— d-doishite(kenapa)!?"
"onee-san, sai pingsan lagi" ucap salah satu anak yang menggendong laki-laki seumuranku yang kulitnya sangat putih.
Bahkan bisa di bilang putihnya kulit anak yang bernama sai itu.
"cepat baringkan dia di kasur Itachi"
"Hai" balasnya lalu langsung membaringkan sai di kasurnya.
Aku juga ikut berkumpul di sekitar kasurnya yang bernama sai itu.
"siapa kau, apa kau anak baru disini" ucap orang dari belakangku.
Aku membalikkan badanku dan melihat laki-laki yang sebaya denganku dengan wajah emonya yang entah mengapa membuatku merasa kesal.
"memangnya kenapa?" tanyaku.
"hn" ucapnya lalu berdiri di samping laki-laki yang bernama Itachi tadi.
"laki-laki ini menyebalkan" gumamku kesal.
"dia hanya kelelahan, dia perlu isitrahat yang cukup" ujar Yakushi nee-chan lalu menghadap kami semua.
"kalian pasti letih setelah bekerja, aku sudah menyiapkan makan di dapur. Aku akan menjaga sai di sini…"
Mereka semua mengangguk kecuali aku yang tidak tau apa-apa.
"ah Itachi tunggu sebentar" ucap Yakushi memanggil Itachi.
"ada apa onee-san"
PUK
Yakushi nee-chan menggenggam bahuku dan tersenyum padaku.
"Ayo perkenalkan namamu Naruto-kun"
"Ah-hai… hajimemashite watashi namae wa Uzumaki Naruto desu, yoroshiku onegaishimasu" ucapku canggung.
"hajimemashite Naruto-kun, watashi namae wa Uchiha Itachi, yoroshiku ne"
"sateto (baiklah setelah itu) Itachi, tolong ajak Naruto-kun ikut makan bersama yang lainnya, sementara aku menjaga sai disini" ucap Yakushi.
"Un, wakatta (aku mengerti) ayo Naruto" ajak Itachi berjalan mendahuluiku.
Dari jauh aku dan Itachi sudah bisa mendengar suara berisik yang berasal dari dalam dapur.
Saat kami sampai di depan pintu dapur kami berhenti saat melihat semua anak-anak panti asuhan berlarian kesana kemari, bermain, dan yang sudah besar duduk dengan tenang menyantap makanan mereka, mengabaikan teriakan anak-anak yang lainnya.
"Ehehe maaf ya Naruto, mungkin nanti kamu akan terbiasa dengan keributan ini"
"ah ya, tidak apa-apa Itachi nii-san…" ucapku lalu mengikuti Itachi masuk mengambil makanan.
Aku mengikuti itachi nii-san yang berjalan menuju tempat ibu dapur, lalu ibu dapur itu langsung mengambilkan makanan dan memberikan dua porsi makanan pada itachi.
Aku yang berada di belakang itachi lalu maju kedepan untuk mengambil bagianku.
"Ah, apa kamu baru disini nak?" Tanya nya lalu mengambilkan makanan untukku juga.
"H-Hai, Uzumaki Naruto desu, y-yoroshiku onegaishimasu obaa-san"
"ehehe anak yang pemalu namun energik…"
"Hai ini untukmu" ucapnya seraya memberikan makanan padaku.
"arigato obaa-san"
"Un, makan yang banyak ya" ujarnya lalu berjalan kembali kedalam.
"ayo Naruto-kun" ucap itachi.
Aku mengikuti itachi yang berjalan menuju seorang anak yang seumuran denganku yang duduk di pojokan dengan wajah emonya itu.
'Bukankah dia yang menyebalkan tadi?' batinku
"onii-san, kenapa bersama anak baru ini?" ucap laki-laki yang barusan aku temui tadi.
"Sasuke, itu tidak sopan. Kamu juga harus akrab dengan teman-teman baru…" ujar Itachi meletakkan makanannya di atas meja lalu mendorong Sasuke kedepan.
"ayo perkenalkan namamu Sasuke"
"Hn"
TWICH
Muncul perempatan di kepalaku dan Itachi saat mendengar jawaban Sasuke barusan.
"Sasuke!"
"Ghk, baiklah…" ucap Sasuke malas lalu dia menghadap tepat di hadapanku.
Dia diam dengan mata bosan menatapku, sedangkan aku membalas tatapannya dengan menatapnya tajam.
Hening
Itulah yang terjadi antara kami berdua, dan akhirnya Itachi memecah keheningan antara kami.
"Jika kalian seperti ini terus kalian tidak kebagian makan malam"
"Hn, Uchiha Sasuke" ucap perkenalan Sasuke yang hanya menyebutkan namanya saja.
Itachi sepertinya hanya tersenyum kaku melihat tingkah adiknya ini lalu berdiri di tengah anatara kami berdua dan memegang bahuku.
"Ayo Naruto sekarang giliranmu" ucap Itachi.
"namaku—"
"Tidak perlu…" Sasuke langsung memotong ucapanku lalu duduk dan menyantap makanannya.
"Eh? Co-cotto oei (tunggu hei) …TEME" ucapku kesal saat melihat dia sudah makan terlebih dahulu.
Aku dan Itachi berdiam diri disana memandang Sasuke makan dalam hening.
"Sudahlah, ayo Naruto kita juga harus makan" ucap Itachi mendorong punggungku menuju kursi kosong di samping sasuke.
"Ah hai" ucapku duduk di samping kanan sasuke, sedangkan itachi di samping kiri sasuke.
Mata kami saling melirik satu sama lain, lalu dengan serempak kami bergeser saling menjauhi.
Itachi menghembuskan nafas lelah melihat tingkah kami berdua yang kelihatannya tidak bisa akur sama sekali.
Apakah ini yang dinamakan benci pada pandangan pertama?
SKIP TIME
Setelah selesai makan, semuanya pergi melihat keadaan sai yang masih pingsan diatas tempat tidur.
Disana sekarang sedang berdiri semua penjaga panti asuhan yang ada.
"Bagaimana keadaan nya Yakushi" tanya Itachi.
Yakushi tertunduk sedih dan menggeleng pelan.
"Dia masih belum bangun, aku akan menghubungi dokter sebentar" ucap Yakushi lalu pergi kebelakang untuk menghubungi dokter.
"dia terlalu memaksakan diri, dia seharusnya tidak ikut bekerja" ucap ojii-san menghela nafas lelah.
"Dan untuk kalian! Tidak seharusnya membiarkan sai bekerja!" semuanya melihat kebawah karena tidak berani menatap mata ojii-san yang sedang marah. Kecuali aku tentunya karena aku baru saja datang kesini.
"tapi sai— "salah satu anak di sana ingin mengatakan sesuatu tapi mendapat tatapan tajam dari ojii-san itu membuatnya langsung diam dan menundukkan kepalanya kembali dan menggumamkan sesuatu.
Untuk kedua kalinya ojii-san menghela nafas lalu berjalan kebelakang menyusul yakushi.
SKIP TIME
Dokter sudah memriksa tubuhnya sai dan membereskan peralatannya dan memasukkannya kedalam tas.
Dokter itu berdiri dan memberikan isyarat pada pengurus panti untuk mengikutinya.
Yakushi membalikkan badannya menghadap kami dan berkata.
"kalian tunggulah disini, dan tolong jaga sai sampai urusannya selesai"
Semuanya mengangguk kecuali diriku yang masih penasaran apa yang akan mereka bicarakan.
Namun lebih baik aku simpan saja rasa penasaran itu dan mengkhawatirkan teman baruku ini yang sekarang belum sadarkan diri sedari tadi.
Tapi tiba-tiba aku merasakan ingin buang air kecil dan menarik lengan baju itachi nii-san.
"hm? Ada apa Naruto-kun?" Tanya itachi lalu memisahkan diri dari yang lain.
"ano… toilet ada dimana itachi nii-san?"
"Oh di sebelah sana lalu belok kekiri, di sudut sana ada toilet di samping kamar mandi" ucap itachi seraya menunjuk ada jalan lainnya sebelum masuk kedapur.
"un arigato itachi nii-san" ucapku lalu ke toilet.
Dua menit kemudian aku keluar dari toilet dan tidak sengaja terdengar suara dari arah dapur.
aku tentu saja menjadi sangat penasaran apa yang sedang terjadi di sana, lalu aku meletakkan kepalaku di dekat dinding kayu agar aku bisa mendengar ucapan mereka.
"…" Mataku lalu terbelalak saat mendengar percakapan mereka tentang sai.
Aku menyandarkan punggungku pada dinding di sana dan melihat kearah bawah. Tanganku tergepal kuat saat menyadari sesuatu tentang dunia ini yang masih banyak yang belum aku ketahui, terutama tentang kehidupan orang-orang di sekitarku yang masih banyak kejadian-kejadian tidak terduga.
Aku cukup lama di sana sambil merenungkan betapa tidak adilnya hidup ini.
"oi gaki (bocah)"
Aku melihat kearah sumber suara yaitu dari laki-laki tua yang menjadi pengasuh panti asuhan ini.
Ojii-san itu menatapku cukup lama lalu menghela nafas, Dia kemudian berjongkok di depanku.
"apa kau mendengar semuanya" tanyanya padaku.
Aku mengangguk lemah menjawab pertanyaan ojii-san tersebut.
"sebaiknya kau tidak memberitahukan hal itu pada yang lainnya gaki" ucapnya lalu berdiri.
Aku yang merasa agak tidak senang di panggil bocah langsung saja menahan lengan bajunya saat dia baru akan pergi.
"aku bukan gaki (bocah), aku punya nama sendiri jii-san"
"hoo? Jadi siapa namamu GA-KI?" tanyanya padaku.
"Uzumaki Naruto desu. Ingat nama itu baik-baik kuso jiji (dasar orang tua)"
Orang tua itu diam melihatku tepat di mataku, dia lalu tertawa kecil beberapa detik kemudia.
"omoshiroi gaki (bocah yang menarik), namaku fujimoto shiro, ingat itu baik-baik kuso gaki (dasar bocah)"
Entah kenapa aku juga tidak tau, saat dia mengulangi kata-kataku barusan kami berdua tertawa kecil bersama.
"berjanjilah kalau kau tidak akan memberitahu yang lainnya tentang itu gaki"
Dia masih tetap saja memanggilku seperti itu, tapi bukannya kesal aku malah membalasnya dengan tetap memanggilnya dengan sebutan jiji (kakek)
"un wakatta jiji"
"heh dasar gaki" ucapnya sambil mengacak-acak rambutku lalu berjalan kedepan.
NARUTO POV END
Beberapa menit kemudian sai akhirnya menunjukkan tanda-tanda dia akan bangun, dan yakushi adalah orang pertama yang menyadari hal itu langsung saja berdiri dan duduk di samping kasurnya.
"ummmnnnhh~ i-ini dimana?" Tanya sai yang baru saja membuka matanya.
Dia melihat kesampingnya melihat yakushi yang sudah menahan-nahan air matanya.
Sai hanya tersenyum lemah lalu berkata
"apa aku merepotkan kalian lagi?"
Yakushi menggeleng lalu menghapus air matanya yang sedikit keluar.
"yo! Sai, bagaimana mimpimu? Apa ada bertemu dengan hal indah di sana?" ucap fujimoto shiro bercanda.
"shiro-san!" bentak yakushi pada shiro.
"ahahaha aku hanya bercanda" ucapnya lalu membantu sai duduk.
"maaf sudah merepotkan kalian shiro jii-san dan yakushi nee-chan. Dan juga teman-teman pasti repot karena aku" ucap sai menundukkan kepalanya.
"itu tidak benar! Kau tidak pernah merepotkan kami" ucap shiro mengusap kepala sai.
Sai menatap shiro ragu lalu melihat sekeliling semuanya tersenyum padanya.
Sai menutup matanya lalu tersenyum kecil
"arigato minna, dan…"
Sai menggantungkan kalimatnya lalu melihat kearah Naruto.
"laki-laki berkumis kucing itu siapa?" Tanya sai blak-blakkan dengan senyuman polos kepala Naruto.
Semua perhatian akhirnya beralih kepada Naruto yang berdiri terasingi dari yang lainnya.
Yakushi berjalan mendekati Naruto lalu berdiri di belakang Naruto menggenggam pundaknya.
"ayo Naruto-kun, perkenalkan dirimu pada semuanya"
"hai. Watashi wa namae, Uzumaki Naruto desu, kore kara (mulai sekarang dan kedepan) yoroshiku onegaishimasu" ucap Naruto memperkenalkan dirinya.
"Selamat datang dalam keluarga besar kami gaki" ucap shiro pada Naruto lalu mengulurkan sebelah tangannya pada Naruto.
Yang lainnya saling bertukar pandangan lalu mengangguk serempak.
"selamat datang Naruto" ucap yang lainnya serempak dan juga mengulurkan sebelah tangannya padaku.
Mata Naruto menjadi agak berkaca-kaca melihat cara mereka menyambut Naruto. Padahal dia sudah dari tadi disini, kenapa baru sekarang mereka mengucapkannya.
'ya sudahlah, yang terpenting mereka sekarang sudah menjadi keluarga baruku, dan aku menjadi bagian dari mereka' batin Naruto senang.
Yakushi sedikit mendorong punggung Naruto supaya dia melangkah maju dan menerima uluran tangan mereka.
Dan dari detik ini, kehidupannya bersama teman-teman barunya, di tempat baru ini dia akan menjalani kehidupan yang baru.
Dia tidak akan tau apa yang akan terjadi kedepannya, namun Naruto yakin bahwa dia bisa menjalani semuanya dengan semangat dan kuat seperti yang diinginkan oleh ibunya.
V…( T )…V
V
V…(To)…V
V
V…( B )…V
V
V…(Be)…V
V
V…( C )…V
V…(Continue)…V
Balasan review
Baiklah apakabar kalian semuanya? Maaf karena menggantung cerita ini, karena kesibukan saat kuliah dan sekarang baru dapat kesempatan untuk melanjutkan cerita saya.
Merry crismas untuk yang merayakan, dan selamat tahun baru.
Untuk yang tidak merayakan selamat hari libur sedunia, semoga hari-hari kalian di lindungi oleh tuhan yang maha esa.
Saya sudah membaca semua review dari para reader yang saya cintai, dan mohon maaf akan banyaknya kesalahan dalam cerita.
Saya akan langsung balas semua review
Untuk tentang Naruto mencampuri urusan Sona dengan orang lain/ anda maksud adalah Naruto menjadi orang ketiga dalam hubungan Sona dengan laki-laki lain adalah salah, yang Naruto ikut campur urusan cintanya adalah sang setokaicho (ketua osis).
Karena Sona, Rias, Hinata, dan naruko masih kelas 1 otomatis Sona masih belum jadi osis karena Sona akan jadi osis saat dia menginjak kelas 3.
"Dan siapa itu ketua osisnya thor?"
Masih misteri ya reader-reader ^_^
Mohon harap baca-baca lagi, terimakasih.
Lalu untuk soal kalimat-kalimat yang tidak rapi itu saya minta maaf, akan saya usahakan memperbaikinya.
Lalu soal NARUKO dia masih menjadi misteri, dan aku tidak akan menspoiler kisah Naruto dan naruko sampai saatnya tiba.
Naruko bisa termasuk senjata rahasiaku untuk membuat cerita ini menarik.
Aku sempat kemarin sebelum poting ingin menjadikan naruko pemain terakhir.
NAMUN karena naruko yang menang, sesuai janji narukolah yang akan menjadi pair pertama Naruto nanti di kisah cinta naruko dan Naruto.
Soal poting suara
-Uzumaki naruko / naruko Phenex?
Mendapatkan suara sebanyak 31 suara
-Rias Gremory
Mendapatkan suara sebanyak 25 suara
-Sona Sitri
Mendapatkan suara sebanyak 21 suara
-Hyuuga Hinata
Mendapatkan suara sebanyak 13 suara
Mereka masih mendapat kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak suara lagi.
Dan seperti persyaratan, poting akan habis sampai aku selesaikan flashbacknya kehidupan Naruto.
Sampai waktu itu tiba, silahkan berikan suara kalian.
Untuk yang baru membaca cerita saya
Terimakasih sudah mau membaca, saya tidak menyangka cerita saya akan dibaca lagi,
Karena saya lihat cerita saya sudah berada di urutan yang sangat jauh karena tertimpa oleh cerita-cerita yang baru.
Saya jadi harus membuka halaman ke 8 baru bertemu dengan cerita saya lagi T_T
Mungkin feeling saat ibu Naruto meninggal kurang sedih?
Saya baca review dari pembaca banyak yang menangis membacanya, ada yang baper, dan ada yang bisa "anjir thor nangis-nangis gua bacanya" :D
Oke ini review terakhir
Untuk yang marah soal kemarin saya up chapter 6, saya minta maaf.
Kemarin itu hanya perbaikan dari kesalahan-kesalahan dari ketikan saya, jadi saya perbaiki sementara lalu up kan chapter 6 dahulu.
DAN UNTUK YANG BILANG KALAU CERITA SAYA MENJIPLAK PUNYA ORANG LAIN
MAAF YA SAYA TIDAK MENJIPLAK CERITA ORANG LAIN, KECUALI SAYA MENDAPAT INSPIRASI DARI ANIME-ANIME YANG SAYA TONTON.
JIKA KEMUNGKINAN SAMA, ITU BERARTI KEBETULAN SAJA. KARENA SAYA JUGA SERING MENGAMBIL INSPIRASI DARI BACAAN-BACAAN CERITA YANG LAINNYA NAMUN TIDAK MENIRUNYA.
Sebagai seorang penulis cerita, tentunya menjiplak adalah suatu hal yang memalukan.
Dan saya sebagai penulis cerita merasa sangat malu jika menjiplak cerita orang lain, dan saya tidak ingin menjiplak cerita orang lain kecuali saya sudah meminta izin dari orang yang mempunyai cerita tersebut
Sekian terimakasih untuk semuanya
I love you all.
and i love you flame, 100x kiss for you yang ngeflame
Marry crismas and Happy new years. Bye bye (-_^)
Hikarinoyami13 logout
