Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk RnR fic saya, ataupun memberikan fave/follow/faves. Saya senang sekali. X"D

.

Disclaimer: Kuroko no basket belongs Fujimaki Tadatoshi. Akame ga Kill belongs to Takahiro and Tetsuya Tashiro. I don't own it and don't take any commercial advantages nor profit through my fanfiction.

Warning: Alternate universe, super incredibly OOC, rather TWISTED, lime, typo(s), SHOUNEN-AI/MALEXMALE, simple diction, fast pace, etc.

Special backsound: Gray Paper by Yesung (O.S.T That Winter the Wind Blows)

Italic: flashback

.

Saya sudah memberikan warnings. Jadi, jika tidak ada yang disukai, tolong jangan memaksakan diri untuk membaca. ;)

.

Have a nice read!

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

YOU WIN!

Dua aksara itu terpampang sebesar jerawat yang nyaris diletuskan di muka layar LCD. Sang pemenang tertawa rendah, mendendang orkestra nada-nada menang diiringi dengung robotik komputerisasi yang hanya menguntai lirik, "CONGRATULATION, YOU ARE THE WINNER, PLAYER NUMBER 1!"

Sang pecundang menggerayang sanggaan senjata, mengerang gemas. Pipi kiri menumpu ke senapan laras revolver pembunuh zombie imajiner yang dikekangnya. Dia lekas mengangkat kepala lagi, menatap lurus rivalnya.

"Sekali lagi!"

"Kau mau kukalahkan berapa kali lagi?"

Antusiasme terenggut mendengar pertanyaan itu, terpulaskan kekalahan yang tak mengintensi kelelahan.

"Kalah berkali-kali pun tidak apa-apa, kemenangan satu kali saja sudah cukup."

Dengus geli merendahkan. "Aku tahu kau pesimistik, tapi tidak kusangka sampai sebegininya."

"Aku yang dulu memang begitu. Tapi sekarang sudah berbeda." Tekukan bibir itu merunutkan senyum dan mengurutkan barisan gerigi rapi, tapi matanya tak berkecimpung dalam harmoni. "Namun kau yang selalu menang, kalah sekali saja untuk pertama kalinya, pasti akan menyakitkan bagimu."

"Kata seseorang yang bahkan selain Sega pun tidak bisa menang dariku." Wajahnya menyiratkan geli yang tak ditutupi. "Aku selalu benar, karena itulah aku selalu menang." Pemuda yang menang absolut itu menaruh senjata mainan—sesuatu yang takkan disentuhnya bila publik melihatnya sebagai sosok penyandang nama marganya—kembali pada cangkangnya.

"Eh, kau mau ke mana, Sei?" Remaja yang tengah menggesek kartu dan memilih karakter untuk bermain itu melongo bingung.

"Lelah." Pemuda yang telah menang dalam segala permainan dan hendak menghitung pundi-pundi tiket untuk ditukar dengan hadiahnya itu hendak melenggang pergi."Kau main saja dengan komputer."

Satu tangan menangkap lengan. Persisten memelas. "Seeiiii, sekali lagi!"

Pemuda yang diayun-ayunkan lengannya itu berlagak acuh atak acuh. "Kau hanya membuang-buang waktuku." Dia memandatkan bibirnya yang hendak mengurva terbuka.

"Tidak. Kita tidak akan tahu sampai akhirnya kau kalah nanti!" Pemuda yang tadi kini menarik-narik tangan kekasihnya, menggenggamnya, berusaha mengubah direksi langkah sang pemenang.

"Ke mana perginya Kouki-ku yang pesimistik?" Desah tak tertara, berpura-pura-pura—kentara menggoda.

Tentu pemuda yang dibujuk untuk bermain lagi itu menikmati membuli kekasihnya. Dia senang mendengar suara memohon itu dan tarikan di tangannya. Kekasihnya itu jarang bersikap demikian. Ekspresi langka ini diapresiasinya dengan membiarkan kekasihnya itu makin frekuentif untuk mengadakan re-match lagi.

"Aku sudah berbeda, tahu." Dengusan, kelopak mata turun setapak, pipi tergembung halus.

"Aku tahu. Kau memang pesimis, pengecut, penakut—"

Mendadak pemuda yang dari tadi memunggungi mesin SEGA itu berbalik menghadap kekasihnya. Dia pikir penjarah seluruh atensinya itu akan menusukkan tatapan sakit hati karena diofensi.

Tapi tidak. Sorot matanya seperti langit yang mengikhlaskan arakan awan menyembunyikan terangnya matahari; penuh pemahaman bahwa perkataannya belum tuntas.

Karena itu ia lugaskan—

"—tapi kau bukan pecundang."

Senyumnya tulus sekali dan membutakan dan menghangatkan karena begitu mafhum. Senyum—yang jika tidak ingat ini wahana permainan kekanak-kanakan—seakan meminta untuk dicium.

"Sebelum kau kalah, mari kita berfoto dulu!" Senyuman itu kilat bertransformasi jadi cengiran inosen.

"Tidak. Jangan soal foto lagi." Lenguhan pelan ditanggapi dengan derai tawa kemenangan.

"Berhenti paranoid begitu. Ini tidak seperti kau akan mati karena hanya difoto sekali."

"Kau selalu memfotoku berkali-kali. Selalu aku."

"Itu karena kau fotogenik, dan aku tidak. Terlebih, aku suka memfotomu." Lantas pemuda bertampang polos menjatuhkan bom atom tipu dayanya. "Kalau kau menolak, ini berarti kau kalah absolut."

Twitch. "Apa hubungannya foto dengan kekalahan?"

Dia mengangkat telunjuk, menggoyang-goyangkannya dengan gestur menyerupai ilalang diterpa angin. "Seperti katamu waktu kita bermain ke Disney Amusement Park, penolakan cenderung dimiliki orang bermental kalah—mereka menolak melakukan hal yang tak mampu mereka lakukan karena takut berujung pada kekalahan."

Senyum geli perlahan membentang di wajahnya. "Siapa sangka kau akan menjadikan kata-kataku sebagai boomerang, hm?"

"Aku belajar dari yang paling absolut." Dia merogoh saku sweater-nya, mengacungkan ponselnya. Nyengir gembira. "Jadi?"

Sebelum kekasihnya dengan kelicikan yang gagal mengelabuinya itu berlanjut, dia menghela napas pendek. "Oke. Sekali saja."

Bergumam girang, ia menarik kekasihnya mendekat lagi ke mesin sega. Menjejalkan senapan ke tangan kekasihnya dan memintanya berpose bersama dengannya. Seperti cowboy yang saling menyilangkan senjata untuk menembak dahi, tapi satu tangan lagi memegang kamera.

Keduanya tersenyum pada lensa kamera. Klik flash shutter nyaring menyaingi bising zona permainan tersebut. Memerhatikan hasil momen yang dibadikan itu, pemilik ponsel tersebut men-setting agar foto itu dijadikan wallpaper ponselnya.

Kebiasaan yang disadari oleh kekasihnya bahwa momen kebersamaan keduanya itu seringkali dibingkaikan dalam display ponselnya.

"Terima kasih, Sei," ucapnya tulus. Ia tahu kekasihnya benci dengan hal-hal yang berkaitan dengan foto atau semacamnya, tapi tetap menghiraukan permintaannya tersebut. Dia menyimpan lagi ponselnya ke saku baju dan menundukkan kepala untuk menyembunyikan gurat haru biru roman wajahnya.

"Kau pasti kalah." Senjata mainan garapan Sega berdesain nano-teknologi yang sebenarnya masih sebatas tertera dalam imaji untuk terealisasi, kini disangga lagi. Ada pointer untuk sniper, memandang dari teleskop sniper itu pada kekasihnya, sebelah matanya terkedip, menyeringai khasnya.

Pemuda yang baru menekan kolom tombol perintah "select player" itu tercengang bukan kepalang. "EEEEH?!"

"Karena aku akan "menembakmu" sampai mencapai hatimu, Kouki."

Senjata mainan mereka sempat terabaikan. Namun tangan kanannya sang pemenang terangkat, mengimitasi badan pistol, ujung telunjuk atau moncol senapan menyentuh lurus ke dada . Mata sewarna meganya lurus meresap kerjapan afeksi yang berpijar seperti embun di ubun-ubun pinus mungil.

Furihata Kouki selama beberapa kerjapan mata terlewatkan itu tercenung, semburat sewarna halo lampu sorot merah khas zona bermain kekanak-kanakan itu menyeruak di wajahnya, dan menyembunyikan semua itu dengan kikuk mengangkat senjatanya untuk melakukan re-match dengan kekasihnya.

"A-aku ini bukan perempuan yang bisa kaugombali, dan lagi—"

Bisikan setelah itu teredam dentuman musik Dance-Dance Revolution dan ekspresi Akashi Seijuurou melembut mendengarnya.

"—kau tidak usah melakukannya, Sei. Kau sudah lebih dari sekedar mencapai hatiku."

(Karena Akashi Seijuurou selalu benar, dia tahu dirinya selalu absolut memenangkan hati Furihata Kouki.)

.

#~**~#

Special Alternate Ending "Saigou ni Iezu ni Ita",

Special gift for Akashi Seijuurou's birthday,

.

.

Ienakatta Omoi wo

(My feelings that I kept from you)

.

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

Akashi impuls melangkah sekali ke samping. Elegan menghindar sepersekian sekon, sehingga sang gadis terjungkal pada Furihata yang hanya dua langkah di belakang sang emperor.

Furihata, sejatinya tetap seorang lelaki, impuls menjadikan tubuhnya untuk menahan laju jungkalan individu anomali yang ia tatap sedemikian syok.

"Oh, terima kasih sudah menyelamatkanku." Matanya serupa safir merah muda menatap penyelamatnya, berkaca-kaca penuh haru. "Kau … kau baik sekali. Tidak seperti Akashi."

"E-eh, err, ya … tidak masalah." Furihata canggung melepaskan gadis itu yang kini menangkupkan kedua tangan dalam genggaman. Silau karena gadis dengan rambut yang amat panjang terikat dua di masing-masing sisi kepala itu menatapnya tipikal memuja.

"Aduh!" Sang gadis memekik ketika sebuah tangan menjitak kepalanya. Ia menoleh ke belakang, sebelum jitakan lain ditargetkan padanya, ia segera bersembunyi ke belakang Furihata—menjadikan pemuda itu tameng dari Akashi yang terlihat berkubik-kubik berbahaya dengan tatapan intimidatif.

"Awas, Kouki." Titah absolut itu bagai mengecamkan maut.

Furihata bergetar ketakutan, tapi ia merentangkan kedua lengan untuk gadis di belakangnya. Menggeleng-gelengkan kepala sekuat tenaga. "Ja-jangan, kasihan dia—"

Akashi memicingkan mata, setajam predator hendak menggilas rival yang menjajah mangsanya. "Menyingkirlah. Aku punya urusan dengan dia."

"Akashi akan membunuhku!" Gadis itu terisak dramatis dengan tangan mencengkeram mantel di bagian punggung pemuda yang menjadi tameng proteksi baginya.

Furihata dicekam ngeri hingga adrenalin ketar-ketir, tapi tidak juga dirinya lekas meminggir. "Ku-kumohon, siapapun dia—tolong ja-jangan sa-sakiti—"

"—siapapun?" Sebelah alis merah terangkat. Telunjuknya memosi lurus pada gadis yang menjulurkan lidah padanya dan mengintip dari balik garis bahu Furihata. "Kau tertipu mentah-mentah, Kouki."

"E-eh?"

"Chelsea, hentikan akting rongsokanmu itu." Mata magenta brilian itu yang biasa memancarkan ketenangan diri kini tampak iritatif.

Sedepa jeda.

"HE-HEEEE?!" Furihata refleks menengok ke belakang. "C-Chelsea-san? Ta-tapi—!"

"Kenapa kau ada di sini, Chelsea?" Akashi berjalan tenang menghampiri sepasang muda-mudi yang kini bertatapan terlalu dekat. "Kau tahu aku tidak akan tertipu olehmu meski kau menyamar jadi Mine sekalipun."

Sedepa jeda.

Gadis yang ada di belakang Furihata akhirnya meringis. Kemudian tertawa ceria dengan suara yang familiar bagi Furihata. Menepuk lembut garis pipi seseorang yang ia kini tahu tidak sepengecut kelihatannya.

"Hai, Furihata-kun. Senang bertemu denganmu lagi."

Ia menyingkir dari Furihata, kemudian berputar dengan baju yang dikenakannya sehingga kibasan gaunnya terlambai manis. Mengerling nakal Akashi.

"Bagaimana kau bisa tahu aku bukan Mine? Memakai emperor eyes?"

Akashi mendengus, seringai kemenangan tersemai selaras gestur arogansinya. "Tidak perlu emperor eyes pun, aku tahu kau bukan Mine."

"Jelaskan." Chelsea menantangnya terang-terangan. Senyum bermain di bibirnya.

Furihata melongo tak mengerti di antara keduanya, tolah-toleh kanan-kiri tak paham situasi.

"Kau terlalu tinggi dibandingkan Mine. Dan Mine tidak akan bertindak sepertimu." Akashi mengangkat dua jari telunjuk dan jari tengah, sementara tiga jari lainnya dilipat. "Ada hal lain lagi, tapi aku tidak akan memberitahumu."

"Hmm, begitu." Chelsea menarik lepas wig yang dikenakannya. Surai auburun-nya segera tergerai bebas tatkala ia melepas hair-net yang dikenakannya di balik wig merah muda berkuncir dua. Ia mengedipkan sebelah mata pada Akashi—menyercah sifat kerahasiaan, telunjuknya tersimpan di bibir. "Aku tahu, tidak usah kausebutkan di sini, Akashi-kun."

Orang-orang yang berlalu-lalang dalam lobi utama gedung berarsitektur hampir menyerupai museum antik nan apik itu kurang lebih sama seperti Furihata; mereka gagal mengerti sirkumstansi yang terjadi.

Beberapa bahkan salah paham, mengira terjadi drama cinta segitiga di lobi utama mereka.

"Chelsea-chaaan!" Seorang gadis dengan rambut digelung ke atas akhirnya keluar. Ia terkejut mendapati sepasang pemuda yang dikenalnya. "Akashi-kun, Furihata-kun … kenapa kalian di sini saja dan tidak masuk ke dalam?"

"Lama tidak bertemu, Momoi." Akashi tenang menyapa desainer tata busana yang acapkali tersasar di tempat itu. "Kami baru sampai."

"Hai lagi, Akashi-kun!" Momoi tersenyum manis pada pemuda yang dulu pernah seregu dengannya untuk tim olimpiade Teikou Chuugakou. Dia mengerling pemuda yang melongo bodoh tak paham situasi. "Halo, Furihata-kun."

"Ha-halo." Furihata salah tingkah. Tidak banyak gadis cantik mau menyapanya dengan manis dan baik.

"Ayo kita masuk ke dalam!" ajak Momoi riang. "Dai-chan sudah menunggumu, Akashi-kun. Dan ada yang perlu kita diskusikan, Furin."

Gadis yang baru datang menggandeng Chelsea, keduanya mendahului sepasang pemuda yang terdiam di tempat—saling lirik, sebelum menyusul langkah ceria kedua hawa tersebut menyusuri koridor panjang yang dindingnya terdiri atas etalase memajang properti keamanan dan pertahanan tampak berteknologi tinggi.

Mereka digiring menembus lalu-lalang orang yang tergesa melesat ke sana ke mari dengan berbagai alat hi-tech melengkapi para petugas berseragam hitam-hitam.

Dalam opini Furihata, daripada disebut sekuriti penjaga, mereka tampak lebih cakap jika berperan sebagai agen-agen rahasia. Terlebih dengan sandi rahasia dan bahasa kode yang menderum konversasi ruangan tersebut. Seluk-beluk gedung itu bernapaskan kriptografi.

Merambahi koridor demi koridor, melintasi berbagai ruangan, Furihata teringat film The Matrix, juga semacam Man In Black. Interior dasar tempat itu selain difasilitasi hi-tech juga berdesain neo-futuristik. Seperti bau-bau rahasia dan kuaran misteri dapat terendus di setiap sudut tempat tersebut.

Jelas bukan tipikal tempat yang Furihata suka.

Momoi berhenti di sebuah dinding berbentuk prisma segi lima yang melekuk ke dalam—dan Furihata pikir itu dinding. Mengangkat tangan seraya mendekatkannya ke arah interkom yang menyenteri sidik jari tangannya dengan laser detektor, mengidentifikasi sosoknya, dan beberapa detik kemudian dinding prisma segi lima—yang ternyata pintu itu—bergeser automatik terbuka.

Furihata ternganga. Berdecak kagum. Ia terdampar di tempat luar biasa.

Empat individu itu melangkah masuk ke ruangan berlangit-langit tinggi nan luas. Tampak seperti ruang bersantai yang mengesankan elegansi dari modernisasi.

Ruangan itu remang serupa pub malam. Di sentral ruangan terdapat billiard yang Furihata temukan anomali dari billiard pada umumnya, bolanya bukanlah bola dilabeli nomor-nomor. Melainkan bola berbentuk planet-planet, sementara papan billiard-nya menampakkan sistem tata surya dengan matahari sebagai porosnya.

Di salah satu ujung ruangan terdapat sofa-sofa hitam kulit dilengkapi bantal-bantal besar dan tebal, bersambung dengan sofa malas. Agak merapat dengan meja rendah berlapis kaca yang menampakkan pajangan senjata api. Disertai benda lain yang tak pernah berada jauh dari sofa dan meja santai itu adalah televisi LCD 42 inch dengan DVD, recorder, dan sound-system yang membuat area ini jadi tempat yang nyaman untuk bermalas-malasan.

Di sudut lain yang berseberangan, terdapat dapur dengan interior selaras gedung ini. Perabotannya silver metalik dan hitam—perpaduan warna berat mengimpresi enigmatis. Di depan kitchen-set terdapat meja makan sederhana dengan kaki-kaki meja dari besi dipoles jadi berkilau dan dilapisi kaca tebal juga.

Salah satu dinding ruangan lebih menakjubkan lagi. Dindingnya bukan lagi dinding, melainkan aquarium dengan kucuran air di tepi pembatas yang memberikan efek penyegaran menyaingi kemisteriusan ruangan tersebut. Ikan-ikan hias aneka warna menari-nari meledaki gelembung, atau bersembunyi dalam rumah karang cantik sintetis yang menghiasi hiposentrum aquarium.

Warna biru gelap elektris dari lampu anti efek hidrolis yang menyinari aquarium membuat orang yang menatapnya terpesona dan terlingkup dalam ketentraman.

"DAI-CHAAAN! LIHAT SIAPA YANG DATANG!"

Momoi melepaskan gandengannya dari Chelsea, berlari kecil menghampiri pemuda yang berselonjor malas di sofa sembari bertopang kepala dengan siku—memainkan remot televisi mengecek stasiun yang menayangkan acara atraktif baginya. Tak ada. Ia mengorek telinga dengan kelingking.

"Berisik." Aomine mendengus rendah. "Aku tahu Akashi yang datang."

Gadis bersurai merah muda yang sudah jadi sahabat sang ahli pertahanan dan keamanan itu terkikik geli. Tangannya melambai pada kawannya—Chelsea—untuk mendekat. Menempelkan telunjuk ke ibu jari—pertanda diam, Chelsea tersenyum nakal dan mengangguk paham—memakai wig tadi yang dipakainya untuk mengejutkan Akashi.

"A-o-mi-neeee~"

Furihata yang semula terbengong bodoh kini mengerjapkan mata melihat sosok Chelsea tergantikan imaji gadis aneh tadi—dengan wig merah muda. Berjengit kaget ketika mendengar lengking alto yang sama sekali bukan suara lembut khas Chelsea.

"Mi-Mine!" Aomine menjatuhkan remot televisi ke lantai. Berguling terkejut, jatuh dari atas sofa, kepala membentur meja. Sumpah-serampah terumpat di mulut ketika mendongak—dilihatnya seorang gadis tengah berkacak pinggang. Dan ia mendengus murka. "Brengsek. Kukira Akashi membawa Mine."

Gemericik air menyejukkan keheningan ruangan.

"Tsk. Aku tahu dia bukan Mine." Aomine memicing tajam pada gadis yang ia tahu sebagai sahabat dari osanajimi-nya, menggeser meja untuk bangun sembari mengelus kepalanya yang sakit karena terbentur.

"Eh, Dai-chan tahu darimana dia bukan Mine?" Momoi menatap sahabatnya, inosen. Senyum meliuk bibir merah mudanya.

Aomine mengempaskan bokongnya ke sofa lagi, memeluk bantal untuk dijadikan sanggaan kepala. "Dadanya Chelsea terlalu besar untuk jadi Mine."

Sedepa jeda.

"DAI-CHAAAAN!"

BUK!

Kepala beruntaikan rambut azura itu melesak ke sofa karena bantalnya ditarik lalu ditimpukkan padanya. Momoi beringas memukulinya karena merasa perkataannya itu tidak sopan pada Chelsea.

Sementara Chelsea tertawa ringan sembari melepas wignya lagi. "Kuanggap yang itu tadi pujian, Aomine-kun." Teringat sesuatu, lantas mengerling Akashi. "Dasar laki-laki."

Furihata tentu menyadari Akashi membalas kerlingan Chelsea yang nyengir geli pada sang emperor. Akashi membalas cengiran manis itu dengan seringai. Memproses informasi yang terburai di sekelilingnya, mengemasnya sehingga terjalin konklusi, Furihata bagai disambar petir menyadari hal ini.

.

.

.

"Kau terlalu tinggi dibandingkan Mine. Dan Mine tidak akan bertindak sepertimu. Ada hal lain lagi, tapi aku tidak akan memberitahumu."

.

.

"Aku tahu, tidak usah kausebutkan di sini, Akashi-kun."

.

.

.

Jadi, soal dada perempuan?

Memerah parah, Furihata mendesah keras. Dalam hati menitip simpati untuk gadis bernama Mine—yang pasti jadi objek direndahkan mengenai aset pribadi kaum jelita, karena ukuran uhum—dadanya—lebih inferior dari Chelsea. Gadis malang.

TUNGGU.

Akashi memikirkan juga soal itu?

Tunggu sebentar, ia tidak mengharapkan Akashi menyimpang dari normalitas kodrat lelaki—yang seharusnya mengagungkan perempuan. Bahkan sebelum Akashi berangkat saja, Furihata telah memikirkan bagaimana jika nanti Akashi pulang dengan kekasih di sisi—dan imajinya saat itu adalah perempuan.

Dan Furihata tidak menyangka realisasinya menyebabkan dampak mengerikan pada nyeri yang kini membersit pedih hatinya.

Sang advisor pernikahan itu seketika memucat. Mual memikirkan Akashi tertarik pada—

—wanita?

Apa salahnya?

Bukan.

Bukan di situ letak kekeliruannya.

Perempuan ataupun lelaki, Furihata kini berpikir baik-baik, rasanya ia tidak ingin ada siapapun yang membuat Akashi tertarik. Tidak selain—

"—Kouki?"

Furihata terkesiap dari keseriusannya. Mengangkat pandangan, ditemukannya Akashi yang mematrinya dalam atensi—dan tanya. Ia menggeleng-gelengkan kepala yang sedikit tertunduk—dengan uraian anakan rambut menutupi mata.

"Ti-tidak apa-apa."

Di lain sisi, Chelsea membujuk Momoi untuk tidak menyiksa Aomine lagi. Menariknya ke dapur untuk membuat minuman hangat di dapur dan menunjukkan lokasi toilet karena ia ingin berganti baju.

Akashi tenang menyetujuinya, jadilah mereka bertiga beranjak ke dapur terlebih dahulu. Meninggalkan Furihata berdiri di situ menatapi kepergian mereka dengan pikiran sekacau taburan gemintang di galaksi.

"Kau ini bodoh, tolol, atau idiot?"

Sweatdrop.

Pertanyaan itu ditujukan padanya—Furihata memalingkan pandangan ke sumber suara bariton tiada minat. Sepasang netra nila mengeborkan ketajaman untuk mengelupas motif kehadirannya di tempat ini, Furihata berjengit ngeri dihimpit ketakutan.

"I-itu semua sa-sama saja." Furihata mencengkeram tali ranselnya erat. "A-apa maksudmu?"

Aomine menumpu dagu ke sandaran sofa. Tajam mengawasi baik-baik mantan kekasih salah satu teman terbaiknya seraya mendengus. Astaga, dia tidak berubah banyak beberapa tahun terakhir ini. Mudah terintimidasi, gampang ketakutan, dan bodoh. Chihuahua satu ini ….

"Kenapa kau menerima permintaan Akashi, heh?"

Suara napas tersangkut di tenggorokan.

Pemuda dim itu berdiri dari posisinya, melakukan pemanasan ringan untuk meregangkan dan melemaskan ototnya yang kaku karena berdiam dalam suatu posisi terlalu lama, mendekati Furihata yang menatapnya seolah ia adalah momok terror dalam hidupnya—mungkin karena lontaran pertanyaannya.

Aomine mengerling ke dapur.

Akashi sedang duduk memunggungi mereka. Ada Momoi di hadapannya berceloteh riang sembari menjerang teh untuk menghangatkan badan. Chelsea yang baru saja kembali dari toilet disapa oleh Momoi, lalu terlihat gadis yang telah mengganti gaun pink itu jadi bajunya yang biasa menoleh pada Akashi dan mengatakan sesuatu yang dibalas anggukkan singkat.

"Kalau aku jadi kau, aku pasti sudah meninju Akashi," aku sang penjaga terbaik Too dengan suara rendah.

Furihata menatapnya, terkejut. Memikirkan silabel-silabel Aomine tadi yang kini tengah menguap lebar dan kerlingan terarah padanya. Lantas disematkannya pandangan ke sosok yang jadi objek konversasi mereka. Tindak-tanduk tenang sambil menyesap teh dengan cara elegan—bahkan Furihata tahu itu. Dan surai merah teruntai di tengkuknya seperti huruf V. Pandangannya kian redup—ia menolak golak hasrat untuk menelusuri helai-helai magenta itu dengan jari-jemarinya.

"Aku bukan perempuan, aku tidak selemah itu," jawab Furihata, hampir berbisik.

Aomine mendengus geli. Ditamparnya bahu Furihata yang terlonjak kaget, meringis-ringis kesakitan. "Tapi kau sebodoh ini."

Furihata terlihat tersinggung—sekaligus menihilkan upaya membalas kelakuan Aomine yang sebelas dua belas soal intimidatif dengan Akashi. Ruang pandangnya menyempit, ia menggerung murung.

"Aku tidak sebodoh ini … ah, entahlah." Ia melirik Aomine, kali ini mencoba membela diri. "Ta-tapi aku punya alasan."

Aomine balas meliriknya. Memindai kontur wajah tanpa keistimewaan berarti, barulah teringat siluet yang berkelibat di benaknya dan bercarik kenangan.

"Aku mengerti."

"E-eh?" Furihata tak menyangka, ia ternganga—lalu salah tingkah.

"Kau sudah move on." Kepala bermahkotakan rimbun helai azura itu terangguk, seakan dia paling tahu. "Aku ingat pernah beberapa kali melihatmu jalan berdua dengan co-pilot si Kise."

"Ka-Kasamatsu-san?!"

"Hmm." Aomine tidak ingat siapa namanya tapi ia mengangguk.

"Tempo hari lalu aku melihat kalian berdua di stan Ramen perempatan sebelum jembatan penyebrangan yang dekat Maji aku berjaga di mall dekat Shinjuku ketika ada event, aku melihat kau dan dia di stasiun Shinjuku. Terus Momoi bilang pernah melihat kalian berdua di toko perhiasan di sekitar Tokyo, mencoba-coba cincin."

Sunyi.

Petir imajiner realisasi menyambar Aomine yang menatap Furihata. "Apa hubunganmu dengan co-pilot Kise sebenarnya?"

Hening.

Sepasang pemuda yang tengah berbicara sesaat bergeming.

"A-ano—" Furihata berekshalasi dalam. Rikuh menatap Aomine, roman keruh, getar berlabuh di tubuh karena dibor tatapan tajam biru elektris. Ia paham tidak bisa menyembunyikan, setidaknya tidak pada Aomine.

"—hu-hubunganku dengan Kasamatsu-san … sama seperti aku dengan Akashi-sama saat—"

Tap.

Tap.

"Akashi-sama?" Aomine mendengus mendengar nama rekan setimnya dalam regu olimpiade itu dibubuhi sufiks yang menandakan strata lebih tinggi.

"Aomine. Kouki. Chelsea bilang teh untuk kalian sudah siap."

Baik Aomine maupun Furihata hampir berteriak horror karena mendadak Akashi sudah ada di hadapan mereka. Keduanya berpandangan sekilas, merasa seperti pegawai di jam kerja terpergok bergosip alih-alih memanfaatkan waktu sebaik-baiknya—berdedikasi jadi karyawan produktif.

Ekspresi sang emperor indignan tak ubahnya direktur menyalahi anak buahnya karena malah bercakap omong kosong ketimbang menghasilkan sesuatu yang berguna untuk menunai profit.

"Ah, Akashi-sama." Aomine menyapa, kental dengan bumbu sarkasme.

Akashi menghempaskan death-glare pada mantan rekan segrupnya di Teikou dulu. Roman angkuh wajahnya memapar: "Aku ini absolut. Sana pergilah."

Aomine melirik Furihata yang kelimpungan untuk berdiri tegak. Lalu memandang Akashi—membalas tatapan menindas mental itu dengan berpretensi tak terjadi apa-apa. Mengedikkan bahu dengan kasual, ia berlalu meninggalkan keduanya. Menyesap teh hijau hangat jauh lebih nikmat daripada mengusiki privasi orang lain.

Toh, hubungan dua orang itu bukan urusan Aomine Daiki.

Akashi dengar atau tidak. Dengar atau tidak. Dengar atau tidak. Mendengarkah? Atau tidak dengar?

Jika tangan Furihata tengah memegang setangkai bunga dengan batang dalam pilinan, niscaya jari-jarinya telah meremukkan tiap helai kelopak bunga untuk menentukan apakah Akashi mendengar perbincangannya dengan Aomine tadi.

Nadinya berdenyut keras—nyaris terasa olehnya bahwa jantungnya lebih hiperaktif memompa aliran darah ke sekujur tubuh tapi tak membuahkan efek ketenangan bagi Furihata.

Akashi menatap Furihata yang menggigil—menggigit bibir kuat-kuat dan buku-buku jari memutih—entah karena kedinginan atau terlalu erat mencengkeram ranselnya. Pandangannya dibuai gravitasi menatapi lantai berkeramik obisidian.

Dikomposisikan suaranya dalam ketenangan. "Kouki."

"Ha- … hai'?"

"Aku akan bicara dengan Aomine mengenai sekuriti. Kau berdiskusi dengan Momoi mengenai wedding dress," instruksi Akashi yang melekati Furihata dengan atensinya.

Anggukan lamat-lamat. "Sa-saya mengerti."

Seruan kagum Chelsea dan tepukan tangan Momoi ketika dua gadis itu memekik ramai membicarakan wedding dress mengusik perhatian sepasang pemuda yang tengah berbicara.

Furihata yang terlebih dahulu maju meninggalkan Akashi. Titik buta pandangan Furihata adalah di belakang mata, takkan melihat tatapan yang Akashi sematkan pada siluetnya.

Tapi Aomine melihatnya. Ia mendengus. Gagal paham. Karena itulah ia memutar arah langkah, beralih mendekati meja biliar seraya menatap mantan ketuanya.

"Main billiard denganku, Akashi."

"Tehmu?"

" Nanti juga Satsuki akan mengantarkannya padaku."

"Kau terlalu bergantung pada Momoi."

Aomine melirik tajam Akashi yang tersenyum sinis padanya. "Dia yang merepotkan diri sendiri, merusuhiku kemana-mana. Dari dulu."

Pemuda yang sebenarnya adalah lulusan militer itu bergerak ke meja billiard, meraih pool-cue dan melemparkannya pada Akashi.

Yang ditantang menyeringai. Tangkas menangkap tongkat sodok kayu yang dilemparkan padanya, bergerak menuruti Aomine yang terlebih dahulu sampai di meja pool dan meraih kotak kapur putih. Membubuhkan bubuk kapur putih itu di bagian tip agar tidak terjadi missed cue.

"Sembilan atau delapan?" tanya Akashi yang menangkap operan kapur putih, memperlakukan stik biliarnya seperti Aomine.

"Eight-ball." Pemuda yang di luar penampilan sangarnya itu ternyata menguasai materi sejarah Jepang klasik itu menjawab, menyibukkan diri menyiapkan bola solid dan bola stripes dalam susunan segitiga sempurna.

Akashi memicingkan mata, mendapati Aomine tengah mengawasinya. "Siapa duluan?"

"Kau saja." Aomine menggemeretakkan leher, kanan-kiri, depan belakang. Melemaskan gelang bahunya, menyeringai. "Kita suit atau bagaimanapun, kau pasti menang."

Pemuda yang tengah mencermati gugusan planet-planet mungil itu tersenyum sinis. "Pertandingan ini tidak perlu mencari pemenang."

Anggukan. "Aku tidak kekurangan kepercayaan diri untuk melawanmu, tapi entahlah. Lebih baik bertanding tanpa tahu hasil." Bahunya terkedik malas.

"Hasilnya sudah jelas: aku yang menang. Aku ini absolut."

"Absolut, heh?" Aomine menerawang punggung seorang pemuda yang sedang tersenyum rikuh meneguh teh, melirik datar pada Akashi yang mengambil ancang-ancang untuk melancarkan break-shot. "Brengsek."

Akashi memaku atensi pada cue-ball. Ekspresi mendatar—ia paham yang dimaksudkan Aomine dengan siratan verbal. Tak mengelak, tenang menjepit stik di antara jari, keras menyodok bola putih yang memburai formasi susunan bola-bola lainnya hingga terpental kemana-mana menabrak dinding-dinding meja billiar dan beberapa berhenti menggelinding menggoda mulut lubang hitam.

"Posisi bagus." Giliran si pemuda dim beranjak mendekati bola berurutan nomor terendah yang untungnya paling dekat dengan gua hitam menganga. "Apa tujuanmu sebenarnya, eh?"

Rivalnya meraih kapur putih dan menggosokkan pada tip di ujung stik.

"Kita harus bicara tentang sekuriti untuk keamanan pernikahanku."

"Mengelak, eh."

"Aomine."

"Tsk. Oke. Berapa pleton sekuriti yang Anda butuhkan, Akashi-sama?"

.

#~**~#

.

Momoi menyajikan secangkir teh pada pemuda yang menduduki bangku yang sebelumnya Akashi tempati, menggeser setoples gula, seteko kecil susu dan sepiring irisan lemon segar pada Furihata, lantas ia tersenyum manis untuk pemuda tersebut—mengulas senyum tipis dan berterimakasih padanya.

Furihata meraih sendok teh untuk menciduk gula dari dalam toples, lalu menuangkan susu untuk tehnya. Mengaduk teh susunya yang masih mengepul uap hangat dengan aroma susu dan teh manis memenuhi indera penciuman, ia memerhatikan buku-buku yang berserakan di meja ini.

Kedua gadis duduk di seberang meja berdampingan, sibuk membuka halaman demi halaman katalog serta buku yang mengulas tentang gaun pengantin.

Menyesap teh susunya, Furihata tersenyum di balik cangkir. Calon pengantin wanita, bahkan semua perempuan yang dihadapkan pada hamparan informasi tentang pakaian terpenting di upacara tersakral seumur hidup itu rautnya pasti berbahagia.

Seperti gadis-gadis di hadapan sang advisor pernikahan.

Mata mereka akan berbinar-binar, dan bibir mereka tidak henti meloloskan pekik kekaguman, terkadang keluhan mencemaskan proporsi badan apakah pantas mengenakan gaun-gaun indah, terkadang mengkhawatirkan biaya yang diperlukan untuk membeli, dan hal-hal lain yang sudah tugas seorang advisor pernikahan untuk mendampingi mereka memilihkan yang terbaik.

"Kalau menurutku, kau lebih cocok yang ini."

Chelsea menunjuk sebuah gambar dari album foto yang Momoi bawa. Seorang model wanita berpose anggun mengenakan salah satu wedding dress.

Momoi bertopang dagu, mengernyitkan alis. Heran. "Strapless Mermaid? Apa tidak terlihat aneh kalau aku memakai itu?"

"Cocok. Bagian dadamu, pinggang, dan pantatmu ini akan menonjol." Chelsea tersenyum ringan seraya menepuk lutut kawannya.

"Tidak. Tiga bagian tubuhku itu terlalu besar." Momoi menggeleng tidak percaya diri. Gemas, ia menusuk main-main pinggang gadis yang lagi-lagi tengah mengulum lollipop.

Chelsea berkelit dari serangannya, terkikik geli, membalas dengan gelitikan di pinggang sang gadis berambut sewarna simbolisasi tanah air mereka di musim semi.

"Kau ini terlalu berlebihan, Satsuki-chan. Kalau kau pakai yang ini—" Telunjuk dengan kuku terlapis kuteks merah muda bening memosi gambar lain di buku, model lain mengenakan gaun pengantin serupa gaun megah tuan putri di buku dongeng, "—baru tidak cocok."

Ganti Momoi yang terkikik geli. "Ball gown dresss, Chelsea-chan. Gadis yang punya tubuh ramping dan mungil lebih cocok memakai ini."

"Bukankah putri-putri dalam negeri dongeng itu bertubuh lumayan besar? Mereka terlihat sangat besar dan mewah saat memakai gaun seperti ini." Kepala bermahkotakan helai auburn bergelombang dimiringkan ke samping, tidak mengerti.

"Itu karena gaun seperti tuan putri di dongeng klasik itu memiliki bagian pettycoat dilapisi lagi dengan rokdome berbentuk belshape."

Kedua gadis itu mengangkat pandangan pada pihak ketiga yang bergabung dalam konversasi mereka. Berpandangan, memandang Furihata dengan mata terkerjap-kerjap, tersenyum cerah.

Furihata justru yang senyumnya surut, biasanya pengantin akan sedikit meragukan wedding planner lelaki memiliki kapabilitas untuk mengurus pernak-pernik pernikahan.

"Apa itu yang kausebut tadi, Furihata-kun?" Chelsea menyematkan atensi pada pemuda yang menaruh cangkir tehnya, ringan menuturkan.

"Pettycoat adalah rok dalam gaun pengantin. Ada dua sampai tiga susun rok dalam rok mengembang gaun pengantin. Bagian luar rok gaun pengantin disebut rokdome.

"Untuk gaun seperti ball gown dress, kenapa gaun-gaun seperti itu terlihat mengembang besar bukan karena gadis yang memakainya besar, melainkan karena putri-putri seperti itu memakai gaun balon dengan rok berbentuk seperti lonceng atau kubah sementara rok dalamnya juga berlapis-lapis." Furihata menggulir mata pada desainer gaun sesungguhnya. "Err, apa aku keliru?"

"Sama sekali tidak." Momoi menggeleng, tersenyum menenangkan pemuda itu yang mendadak tampak gugup—persis seperti dulu ketika Furihata diharuskan bertemu dan berhadapan dengan Kiseki no Sedai.

Chelsea terpana sesaat karena ia tidak mengerti hal-hal seperti ini—karena bukan hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan yang dipahaminya. Chelsea bersenandung riang, memajukan posisi duduknya dan berbinar menatap Furihata.

"Furihata-kun, menurutmu aku cocok pakai gaun yang mana?"

Advisor pernikahan itu memindahkan gelas cangkirnya, menjauhkan dari buku-buku untuk di gelar di sentral meja. Ia berpikir sejenak, meneliti Chelsea baik-baik membuat gadis itu tercenung bingung, lalu bertanya.

"Apa kau suka model klasik, Chelsea-san?"

Yang ditanya memiringkan kepalanya lagi ke arah sebaliknya. "Apa aku ini terlihat tua jadi menurutmu aku cocok dengan model klasik?" Pipinya sedikit tergembung. Pertanda buruk.

"Bu-bukan begitu!" Furihata buru-buru menggeleng kilat, tangannya menggestur entah apa di udara berusaha menjelasan maksud. "Ma-maksudku, sepertinya Vintage cocok untuk Chelsea-san. Jadi kau akan terlihat anggun."

Untuk menegaskan maksud Furihata—yang tidak berintensi negatif, Momoi meraih album vintage wedding dress dan menunjukkannya pada Chelsea. Gadis yang menyesap permen batang kesayangannya itu seksama menelisik satu per satu vintage wedding dress.

"Yang ini terlihat panjang, tebal, dan merepotkan." Chelsea memosi salah satu gambar usai Momoi membalik sebuah halaman.

"Bagaimana kalau Sweeping Train?" Momoi menarik sebuah katalog lain, membolak-balik halaman, berhenti di sebuah halaman lalu menunjukkannya pada Chelsea. Dia mengedipkan mata pada Furihata. "Ini juga pas dengan tinggi tubuh dan badanmu yang ramping."

Selagi Chelsea melihat-lihat model gaun sweeping train, Furihata menyambar buku lain yang berlabel salah satu jenis wedding dress populer saat ini. Membuka halaman demi halaman, tiba di halaman yang memvisualisasikan gaun tersebut lalu memaparkannya di hadapan gadis yang ia tahu akan menikahi Akashi Seijuurou.

"Sheath juga akan sangat bagus untukmu, Chelsea-san. Oh, kau mau pakai Veil atau Crown?"

Chelsea terperangah sesaat. Furihata nyengir padanya—dan juga pada Momoi. Sang desainer lantas berbincang-bincang tentang aksesori gaun pernikahan serta bahan-bahan yang dibutuhkan untuk merancangkan gaun terbaik untuknya.

"—bagian structured lebih baik pakai satin."

"Tidakkah itu klise?"

"Iya juga … kau benar, Furihata-kun. Tapi itu akan membuat pengantin jadi lebih berkilau—apalagi kalau tertimpa cahaya. Bagaimana kalau silk taffeta?"

"Itu juga bagus, Momoi-san. Ah, berhubung pernikahan ini biayanya tidak dibatasi, kenapa tidak silk charmeuse?"

"Pasti bagus sekali. Uuuh~ rasanya aku ingin mendesain sesuatu dari bahan itu. Bagaimana dengan soft-fabric-nya?"

"Eto … bagian ornament dan rok, ya? Hmm … chiffon?"

"Tadi katamu jangan klise, Furihata-kun."

"Ma-maaf. Ah! Kalau Georgette?"

"Ya Tuhan … aku tidak pernah menyangka bisa bicara hal ini selain dengan Tetsu-kun dan Kagamin!"

"E-eh, kenapa kau menangis, Momoi-san?!"

"A-aku terharu … setiap aku bicara tentang bahan atau model dengan Dai-chan, dia tidak mau mendengarkanku karena dia tidak mengerti!"

"O-oh, begitu. Ini tisu untukmu."

Momoi menyeka matanya yang berkaca-kaca. Biasanya dia menjalin relasi kooperatif dengan Kuroko, Kagami, atau atas titah dari Aida Riko. Sekarang ada lagi yang bisa diajaknya berbicara selain duo Seirin itu. Netra fuschia-nya menghangat menatap Furihata yang panik berusaha menghentikan airmatanya—takut ditindas Aomine bila melihatnya berurai airmata.

"Kau … tampak seperti ahli sekali," ucap Chelsea lamat-lamat pada Furihata.

"Tentu saja. Furihata-kun sudah bekerja di Seirin Wedding Organizer cukup lama, bersamaan dengan Kagamin dan Tetsu-kun, bukan?" Tangannya menyeka air yang menggenangi pelupuk lensa fuschia-nya.

Furihata mengangguk. Agak salah tingkah. "Aku tidak seahli itu, Chelsea-san. Teman-temanku, Kagami dan Kuroko, juga senior-seniorku, lebih ahli dan handal dariku." Netra kayu manisnya memendar kebanggaan menuturkan tentang teman-temannya. "Mereka sangat hebat. Pernikahan yang mereka siapkan itu selalu jadi pernikahan yang terkenang indah oleh semua yang menghadirinya. Mulai dari yang krisis biaya, sampai yang tidak dipatok biaya."

"Kenapa kau memilih jadi wedding planner, Furihata-kun?" tanya Chelsea halus. "Biasanya, lelaki tidak mau bekerja dengan pekerjaan yang biasa diurus wanita begini."

Momoi dan Chelsea tak luput mendapati mata yang terbeliak dan bibir ternganga sesaat, keterkejutan, mulut terkatup lagi dan matanya meredup. Chelsea meremas rok yang dikenakannya, intuisi wanitanya menemukan jawaban sesungguhnya—dan menyebabkan jantungnya berdegup gugup.

Hembusan napas panjang. Tensi merantai bahasa tubuhnya. "Awalnya karena setelah lulus kuliah aku tidak mendapatkan proyek pekerjaan di areal rekonstruksi. Aida-Senpai menawarkanku untuk membantu bekerja di Seirin, dan aku bertemu lagi dengan senior-seniorku.

"Ternyata ada Kagami dan Kuroko, lalu aku menghubungi Fukuda dan Kawahara untuk ikut bekerja di Seirin juga—karena mereka juga terlunta belum mendapatkan pekerjaan, kalian tentu paham sulitnya mencari lapangan pekerjaan di Tokyo."

Sunyi melingkupi meja makan tersebut.

Sudut-sudut bibir mengurva terbuka. "Bekerja di Seirin … aku merasa seperti aku akhirnya punya rumah lagi." Romannya keruh, pendar mata dibalur sendu.

Chelsea menghirup dingin udara yang terpolusi aroma lemon miliknya. Menelisik Furihata baik-baik. "Maksudku, aku bertanya tentang motivasimu. Motifmu."

Furihata mengerjapkan mata. "Motivasi? Motif?"

"Iya. Alasan yang mendorong atau melatarbelakangimu untuk bekerja jadi wedding planner."

Dari senyum yang merekah terlalu instan dan cara matanya terkatup dengan buraian anak-anak rambut menutupi ekspresi, membuat kedua gadis yang fokus memautnya dalam telisikan dan penelusuran untuk mengirik intensinya sadar bahwa jawabannya bernada final.

"Agar aku bisa membuat pernikahan yang indah untuk dikenang. Semua pengantin dan segala pihak yang terlibat menginginkan perasaan berharga itu."

Jika Chelsea naïf, ia pasti sudah menggoda Furihata bahwa jika pemuda itu mendapatkan calon pengantinnya, maka calon pengantinnya akan sangat berbahagia—karena Furihata dapat diandalkan untuk merealisasikan upacara suci yang akan tertanam dalam histori kehidupan sepasang sejoli dengan harapan akan terkenang indah selama badan belum dikandung tanah.

"Heee … begitu." Gadis ini mengangsurkan senyum tulus dengan tatapan mata hangat pada pemuda di hadapannya. "Pasti yang jadi pengantinmu nanti akan sangat berbahagia."

"Semoga saja." Furihata meringis, menahan deraan pilu.

"Kau akan membuatnya bahagia?"

Pertanyaan sederhana. Furihata menemukan kesungguhan bergelimang di iris merah kecoklatan yang berkaca-kaca entah kenapa. Ia pelan tapi mantap menjawab, "Tentu saja."

Momoi tergetar. Kelenjar lakrimalnya berkedut gatal, menghalau airmata yang nyaris reras dari sudut mata, ia mendongak menatapi langit-langit ruangan. Cahaya lampu menusuk kornea, hampir membutakan retina. Tapi blur, pandangannya berkabut.

Menenangkan diri, gadis berambut sewarna kuncup sakura itu buru-buru mengusap apapun yang mencaruti fokusnya, lalu menepukkan tangan—berusaha membumikan ringan dan percakapan hangat di atmosfer yang melingkupi mereka.

"Bagaimana kalau sekarang kita membahas untuk pengantin lelaki? Yang belum ada itu pakaian pengantin untuk Akashi-kun," usul Momoi yang membereskan buku-buku, album, majalah, dan katalog berkenaan dengan gaun pengantin.

Furihata tak sempat mencerna perkataan Momoi baik-baik karena kegiatan Chelsea membantu Momoi merapikan barang-barangnya sementara sahabat sejak kecil Aomine itu menarik paperbag lain yang berisi desain untuk tuksedo pengantin lelaki. Kedua gadis tersebut tak memerhatikan airmuka Furihata saat itu.

Momoi mengeluarkan buku sketsanya dan buku lain yang telah ditandainya dengan klip penanda. "Aku pilihkan yang terbaik untuk Akashi-kun."

Furihata tercekat.

.

.

.

"Aku mau kau memilihkan wedding tuxedo untukku."

.

.

.

"Sa-saya akan berusaha me-memilihkan yang terbaik untuk Anda." Melirih letih. Furihata yakin Akashi tidak mendengar janjinya untuk berjuang.

.

.

.

"Kenapa tidak kita tanya Akashi-kun saja dia mau yang mana?" tanya Chelsea menginterupsi Momoi yang tengah mengamati Furihata seredup kunang-kunang mengintip di sela goyangan ilalang.

"Eto—" Momoi memalingkan atensi pada billiard, mendengus pelan melihat Aomine tengah serius bermain dengan Akashi. "—bisa saja. Tapi aku tidak yakin apa keduanya bisa diganggu untuk saat ini."

Chelsea turut memutar kepala, tersenyum melihat pemuda yang jadi tempatnya bersandar selama mereka hidup bersama di Inggris itu tengah begitu berkonversasi dengan Aomine.

"Aku coba panggilkan dulu." Gadis manis itu mengibas lembut helai-helai auburn-nya, mendorong kursi, beranjak pergi untuk menghampiri Akashi.

Furihata menoleh sesaat, mencuri Akashi dalam pindaian matanya, lalu memilih menyibukkan diri untuk mengambil buku sketsa desain terbaik Momoi. "… —sedang serius."

"Eh?" Sepasang gadis tersebut bertukar pandangan bingung.

"Akashi-sama sedang serius. Sebaiknya, jangan diganggu." Furihata bergumam pelan. Matanya meresap informasi estetis dalam wujud tuksedo pengantin lelaki.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Terbalik, kali ini giliran Furihata tidak awas dengan keterkejutan yang menerpa kedua gadis di hadapannya. "Sekali lihat saja sudah jelas, bukan?" Jari-jemarinya menelusuri sampiran halus imajinasi sang desainer yang dilukis dengan serpih-serpih material pensil.

Chelsea menatap Furihata sedetik lebih lama, tetap kukuh beranjak untuk memanggil—menyingkir sebentar saja meluangkan kesempatan untuk Momoi bersama pemuda itu dan ia bisa mengonfrontasi kendati sesaat.

"Akan lebih menyenangkan mengganggunya saat sedang serius," tanggapnya dengan nada ceria pretentif. Ia mengedip nakal pada Furihata yang mengerjap bingung tak paham padanya. Lantas bergegas menghampiri Akashi.

Momoi sendu memandang pemuda yang setegar pohon maple di musim gugur, kendati daun-daun merah kecoklatan melapuk memilih memeluki akar mengering kaki pohon yang menyembul di permukaan tanah, pohon itu teguh tegak disaput angin. Jika ia yang ada di posisi Furihata dan diperlakukan sejahanam ini, ia pasti sudah membenci Akashi hingga kebencian ini tak lekang oleh waktu dan senantiasa mengendapi hati.

Pemuda yang diingatnya dulu selalu di sisi Akashi saat mereka jalan-jalan bersama.

"Akashi-kun memintamu untuk memilihkan wedding tuxedo."

Itu pernyataan. Furihata terlonjak sekilas, kenangan mengapung ke permukaan—baru ingat kilas balik masa lalu. Mengangguk membenarkan.

Seguk. Susutan lendir.

Furihata melotot kaget ketika tangannya diraih Momoi dalam genggaman, ditepuk punggung tangannya, diremas lemah.

Saat ia hendak menarik tangan dan gelagapan mengatakan semua yang berdesing melintas di benaknya, wajah Momoi yang memerah dan gadis itu membekap mulutnya sendiri untuk mencegah dirinya terisak seperti anak kecil yang rapuh.

"Momoi-san…" Furihata menarik tangannya dari Momoi, menyambar kotak tisu dan memberikannya pada sahabat sang pemuda dim. Ia pelan-pelan, penuh kehati-hatian berkata, "…aku memang tidak bisa bilang aku baik-baik saja."

Momoi menarik lembaran tisu. Serat kertas facial tissue menyerap buliran air yang mengalir seperti atap berlubang diterobos hujan. Ditatapnya Furihata lekat-lekat, menyalahkan dirinya sendiri kenapa ia tidak tahan untuk tak menangis sementara pemuda ini pasti sudah muak dengan airmata.

Pemuda ini tidak punya siapa-siapa lagi selain Akashi—waktu itu.

"Semua yang terjadi antara aku dan dia sudah jadi masa lalu. Sekarang aku punya janji untuk menyiapkan pernikahan terbaik untuknya, janji yang harus kutepati." Volume vokal merendah. Serak. "Tolong bantu aku, Momoi-san."

Gadis itu tercekat, mengangguk-angguk kuat. Meremas gumpalan tisu dan menyingkirkan ke pinggir meja, bibirnya mengulaskan senyum untuk pemuda yang lebih butuh diberikan senyuman agar berhenti menegarkan diri sendiri. Ditepuknya punggung tangan Furihata, suaranya meringan.

"Tentu. Kita sama-sama ingin yang terbaik untuknya, meski aku tidak paham apa yang diinginkannya." Matanya terkedip sebelah. Terkikik pelan, tersedak sisa tangis, ia lega melihat Furihata menatapnya lebih hangat. "Apa preferensimu untuk Akashi-kun?"

Furihata menggulir bola mata nyalang, sedetik terpejam, dan terkerjap hangat lagi. "Double vent."

Tawa parau tergelincir dari bibir sang desainer. "Karena tinggi badannya?"

"Sssh." Furihata mengibas-ibaskan tangan panik. Telunjuknya tersimpan di garis bibir.

"Iya, aku paham itu paling cocok untuknya." Momoi mengulum senyum, dalam hati menertawakan Furihata yang begitu memahami sensitifitas Akashi tidak suka disinggung perihal tinggi badan. "Apa lagi?"

Furihata mengerling takut-takut pada Akashi, berusaha menerawangi proporsi tubuh sang emperor muda. "Double breasted. Lining Tuxedo. Silk anti mainstream. Tanpa dasi kupu-kupu, kerah lancip oke."

"Hu-uhm. Aku juga berpendapat dasi kupu-kupu tidak cocok dengan Akashi-kun."

Momoi memajukan posisi duduk, terang-terangan memantau Akashi. Menyipitkan pandangan untuk mengalkulasi linier tubuh kliennya yang terlindung fabric-fabrik pakaian—tak menghalangi matanya yang menangkap kalkulasi fisik sempurna mantan ketuanya di regu Kiseki no Sedai dulu. Ekspresinya mencerah. Ia mengambil sebuah buku, membolak-balik halamannya.

"Berapa dan untuk kapan?"

"Mungkin … dua pakaian untuk hari H. Resepsi dan pesta."

"Pra wedding photos?"

"Belum dibahas."

"Bagaimana jika yang konvensional?"

"Ma-maksudnya?"

"Satu yang hitam dan satu yang putih."

"Tergantung seperti apa tuksedonya."

"Sebentar, aku tiba-tiba teringat desainku waktu itu." Halaman-halaman berkeriyap di sela jari-jemari Momoi yang lincah membalikkannya. "Apa bahan dasar Wol Silk Italy cocok untuk Akashi-kun?"

"E-eeh?" Jeda diselingi kucuran air aquarium. "Bisa. A-akan sangat bagus untuknya."

"Ah, ketemu!" Momoi menyerahkan bukunya pada Furihata, menunjuk sebuah halaman. "Bagaimana kalau yang ini?"

Furihata ternganga bodoh memandangi sketsa indah Momoi, sementara sang desainer sibuk mengobrak-abrik basis data rancangannya sendiri, terbaik di antara yang terbaik.

Pemuda bersurai sewarna bumi musim panas itu memerhatikan setelan tuksedo hitam, entah diwarnai dengan apa atau efek cahaya lampu ruangan, warnanya serupa tatkala kanvas langit saat matahari tengah mendengkur di peraduannya. Dasinya selaras dengan jas dan celana, bergradasi sedikit ke spektrum biru gelap.

Kemeja dalamannya merah krimson, tangan panjang, menyembul sepintas di pergelangan tangan. Kancing jasnya bergemerlap dengan silver yang cemerlang. Di bagian kiri dada kiri tepat di atas jantung terlapis kulit, terdapat sematan pertanda khas sang pengantin pria.

"I-ini formal. Se-seperti—"

"—seragam pilot atau nahkoda." Matanya tertutup uraian helai-helai merah muda, menunduk kecewa. "Aku memadukan dengan wedding tuxedo. Cross-style. Tidak bagus, ya?"

Furihata geleng-geleng kepala sekuat tenaga. "A-aku baru pertama kali lihat yang sebagus ini. Su-sungguh!"

Ketika Momoi mengangkat kepala, ditemukannya mata Furihata berpendar dipercik cahaya lampu ruangan. Ia terkikik, amat bersemangat. "Tuxedo ini tidak pernah kutampilkan ke muka publik, aku ingin orang yang tepat mengenakannya." Mantan manajer tim Kiseki no Sedai itu menanti respons Furihata—

"…dia … cocok mengenakan ini," gumaman belaka. Matanya tak berbohong.

—ah, benar asumsinya.

Momoi mengangguk sekilas. Ia menandai buku sketsanya dengan pembatas buku, menghela napas puas. Diliriknya Furihata yang masih menatapi sketsanya. Sudut-sudut bibirnya meliuk lembut.

"Satu tuxedo lagi yang putih, nanti saat kau dan Akashi-kun datang ke galeriku, akan kutunjukkan. Aku tidak bawa sketsa dan lupa mengambil fotonya—karena itu masih asset pribadi belum diresmikan dan belum pula beredar di pasaran." Ditepuknya ringan punggung tangan Furihata. "Percayalah, itu yang terbaik untuk Akashi-kun."

Pahit mendecit reseptor indera pencecapnya. Furihata tak berkata apa-apa, selain mengangguk menggerung "Iya.", dan percaya. Sedari dulu ia tahu kapabilitas Momoi, baik sebagai manajer, individu, maupun talenta pribadinya. Dan tuksedo tadi, meski hanya sketsa, intuisinya terjerumus muslihat rayu untuk berdelusi bila—

"Kouki."

—Akashi memakai—oh, memanggilnya.

Impuls kepala bersurai sewarna lapuknya maple itu terlengak—suara bersumber dari pucuk ubun-ubunnya, Akashi menaunginya. Mata mereka bersinggungan dalam pandangan.

"Sudah selesai bicara dengan Momoi?"

Furihata gelagapan dan buru-buru menunduk. Menutupi ketidaksiapannya, ia tergesa menenggak teh, tergulir dari sudut bibir, dan ia teringat saat di Yosen ada—dan dulu memang selalu ada—yang menyekanya lembut, lekas disekanya bibir dengan punggung tangan. Mengangguk-angguk kaku layaknya jam dinding ayam konyol yang keluar mematuk-matuk begitu jarum detik berhenti di angka dua belas dan jarum menit lurus menusuk suatu angka.

"Satsuki, sudah jam makan siang." Aomine menguap malas, datang dan menyerobot kursi yang semula diduduki Chelsea. "Belikan sesuatu."

Momoi menampar pelan nan gemas bahu sahabatnya sjeak kecil. "Beli sendiri, sana! Atau kau belikan untukku."

"Tidak mau. Malas."

"Kalau begitu, aku masakkan saja—"

"Jangan! Kita cari Sakurai saja dan suruh dia yang masak!"

Chelsea tertawa geli mengawasi interaksi sengit keduanya. Matanya melirik jam dinding, lalu pada dua pemuda yang saling mendiamkan satu sama lain. "Kemana kita pergi selanjutnya, Akashi-kun, Furihata-kun?"

"Ke—eh, sebentar." Furihata mematung kaku memelototi cangkir tehnya, cercaaan dihantamkan pada selaput likuid sisa yang tipis mengalasi dasar cangkir—memohon mengingat. "Shutoku."

"Kita?" Sepasang mata magenta itu menyudut Chelsea dalam tatapan tak definitif. "Kau ikut bersama aku dan Kouki?"

Mendengar pertanyaan itu, Furihata mencelos kaget. Kepalanya impuls terangkat untuk turut mematut gadis cantik bersurai auburun dalam paut pandangan.

"Tentu saja. Di Shutoku itu ada Midorima dan Takao, bukan? Aku ingin bertemu mereka lagi." Chelsea tersenyum geli mengilas balik memori tentang pertemuannya dengan sepasang entitas bagai yin dan yang itu. "Ada masalah?"

"Kau mau duduk di mana?" Akashi balik bertanya. Sebelah alisnya menciumi anakan rambut di garis pantai surai dan dahi. "Mobilku hanya cukup untuk dua orang."

Sebelum Chelsea merespons, Furihata refleks bersuara, "Ka-kalian pergi berdua saja. A-aku bisa mencari kendaraan lain untuk ke Shuto—"

Akashi lekas menukas dengan nada afirmatif, "Itu tidak efisien, Kouki. Jika terpisah, nanti malah tidak satu pun dari kita mencapai Shutoku secara bersamaan—buang-buang waktu."

"Ta-tapi tidak mungkin kita bertiga dalam satu mobil." Furihata merinding karena Akashi mengintimidasnya dari pandangan mengecam itu.

Gadis dengan bando bertanda X itu membuka telapak tangannya lebar. Berpretensi cemberut. Mengingat dia bukanlah tipikal gadis imut, agak anomali melihatnya berekspresi demikian. Bukannya tidak pantas—bahkan Furihata saja mengakui gadis ini juga manis dengan raut seperti itu, dia malah terlihat menggemaskan.

"—kalian pikir aku ini perempuan dengan pantat sebesar apa, sih?" Chelsea mendengus geli. "Aku menyusup di antara kalian berdua saja juga bisa." Dia tampak konsideratif sesaat, lembut mengedipkan sebelah mata. "Aku dipangku juga tidak apa-apa."

"Mana bisa aku memangku sambil menyetir." Dua bola mata dwi warna berotasi sekali, terlihat bosan, ekspresi merendahkan.

"Memang aku minta dipangku olehmu, eh?" sambar Chelsea gemas sembari meremas pelan bahu Akashi. Matanya memincing sesaat—berpikir keras, menggeleng sekilas—batal merealisasikan apa yang nyaris melesat berdesing dari bibir merah mudanya, beralih pada Furihata. "Aku menyusup di antara kedua tempat duduk juga bisa, dan aku tidak seberat itu untuk dipangku—kurasa."

Furihata terpana selintas karena rasanya Chelsea mengingatkannya akan seseorang. Senyum tulus, sorot matanya memancarkan kejeniusan brillian, dan cara pandang menghangatkan yang familiar. Rahangnya seakan berderak tatkala ia memulas senyum. "Tidak apa-apa. Aku akan naik bus atau taksi agar cepat sampai ke Shutoku, Chelsea-san bisa naik mobil dengan—"

"Bagaimana kalau kau menyetir mobil, aku duduk di kursi penumpang, dan Akashi-kun yang naik taksi, Furihata-kun?"

Chelsea memotong tawaran Furihata yang terkesan terlampau mudah ditebak. Ia memekik pelan ketika Akashi menepis jari-jemarinya, lalu meremasnya pelan pertanda peringatan. Alih-alih marah, gadis ini terkikik geli dan jari-jemarinya bertarung dengan milik Akashi saling memelintir.

"Yang punya mobil itu aku, bukan kau."

"Aku hanya menawarkan. Di antara kita bertiga, hanya kau yang bisa naik taksidan tarif mencekik itu tidak akan membuatmu jatuh miskin. A-ah, sakit! Sudah, Akashi-kun!"

"Ini bukan tentang uang, Chelsea."

"Aduh, kuteksku jangan dikelupas!"

"Tidak usah sok miskin begitu. Menyewa jet pribadi saja kau bisa."

"Aku tidak bisa menyetir jet pribadi, Akashi-sama. Coba kau membawa jetmu itu, aku tinggal duduk manis di kursi penumpang."

"Kau hanya ingin menjadikan aku budak supirmu."

"Ini sakit, tahu. Akashi-kun, Lepaskan tanganku!"

Furihata menggigit bibir melihat jari-jari kedua tangan yang terlihat sedikit kontras dalam pigmentasi kulit itu saling melilit. Menahan hentakan yang menyakitkan helaan napasnya tatkala melihat Akashi tak canggung bersentuhan dengan Chelsea—sang pemuda sadis dengan senyum sardonic mengelotoki cat kuku sang gadis.

"Oh, sudahlah. Lebih baik coba kalian lihat dulu saja muat atau tidak jika Chelsea ditambah kalian." Aomine yang tengah mengorek telinga menyarankan.

"Ide bagus." Chelsea menepukkan kedua tangannya.

Kerutan horizontal menggurat dahinya dalam di balik serakan anak-anak rambut kecoklatan. Chelsea tengah menatap Akashi. Furihata tak bisa melihat sorot wajahnya karena Chelsea memunggunginya, tapi ia bisa melihat Akashi balas menatap Chelsea agak lama dan akhirnya menghela napas pendek.

"Oke!" Chelsea terkikik geli.

Wedding Planner itu tercenung. Sudah seharusnya Chelsea bisa memahami Akashi (dan gesturnya) karena mereka saling mengenal selama enam tahun. Tapi, mengetahui kenyataan itu—bahwa ada orang lain bisa memahami Akashi lebih daripada bahasa verba ambigunya saja, perih mendera hati Furihata.

Momoi kembali bergandengan dengan Chelsea. Sepasang sahabat—entah sejak kapan karena Furihata tak tahu—itu berjalan riang di depan ketiga pemuda yang mengiringi mereka dari belakang. Keduanya sibuk mengobrol dengan istilah yang tidak Furihata pahami, seperti tukar-menukar informasi rahasia.

Pemuda berkulit selegam jelaga itu ada di antara dua pemuda bermasalah tersebut—baginya. Ia melirik ke kanan, menemukan Akashi melirik ke kiri. Ia mengerling ke kiri, mendapati chihuahua itu membayangi punggung Chelsea dengan ekspetasi yang meretak. Dia menghamburkan ekshalasi gusar.

Aomine tersadar harusnya ia tak merasakan apa-apa—ini bukan urusannya. Eksplanasi Akashi barusan dan selarik kenangan tentang pertemuan pertama kali—reuni—sekembalinya Akashi itu terbersit di benaknya. Peduli setan apa yang terjadi pada mereka.

Sesampainya di area parkiran, Akashi masuk terlebih dulu untuk memanaskan mesin mobil. Chelsea melepas mantel berwarna peach yang digunakan dan melipatnya dengan rapi. "Akashi-kun, sudah belum?"

Ada suara Akashi dari dalam mobil yang Furihata tak bisa dengar itu apa. Chelsea tak menjawab, berbalik pada tiga muda-mudi lainnya seraya memberikan tanda "oke". Gadis itu masuk lebih dulu, lalu kepalanya mencuat dari pintu, memandang Furihata riang.

"Ayo masuk, Furihata-kun!"

Furihata tidak bergegas masuk ke mobil tersebut. Ia menghadap Aomine dan Momoi. Membungkuk sekilas sambil mengucapkan terima kasih.

Momoi mengangguk, senyumnya berbanding terbalik dengan pendar simpatik di matanya. "Kapan meeting dengan semuanya, Furihata-kun?"

"Sekitar satu minggu lagi. Nanti aku kabari atau aku akan titip pesan pada Kuroko dan Kagami," jawab Furihata sembari mengingat bahwa mereka masih harus ke Rakuzan dan Kaijou, dan survey lokasi—itu semuaakan dilakukannya dalam paruh waktu satu minggu. Selang berjalannya waktu setelah meeting, tempat terakhir yang akan dikunjunginya adalah galeri foto Nijimura dan butik wedding dress Momoi.

"Aku tidak perlu ikut, 'kan?" sahut Aomine malas-malasan. "Too hanya didaulat oleh Akashi untuk jadi security-guards saja."

"Se-sebaiknya datang ke meeting juga." Furihata mundur selangkah mendekati mobil, tersenyum canggung pada pemuda yang kerapkali mengintimidasinya. "Kalian sebagai security-guards pasti disebar di seluruh sudut pesta untuk menjaga jalannya upacara pernikahan. Dan yang akan punya print-out dari blue print lokasi hanyalah aku sebagai Wedding Planner.

"Tolong datang ke meeting agar aku bisa memberikannya pada tim dari Too dan membantu kalian menempatkan security guards tanpa mengganggu jalannya pernikahan."

Aomine dan Momoi bersitatap usai mendengar penuturan Furihata. Mengerjap-ngerjapkan mata. Sosok serupa chihuahua mungil itu terpupus lantaran kini dia tampak benar-benar dewasa dan profesional pada profesi yang dilakoninya. Momoi yang pertama memutus tautan pandang, mengalihkan tatapan pada Furihata.

"Baiklah. Akan kupastikan Dai-chan dan Too datang ke sana, Furihata-kun." Gadis yang selalu setia di sisi Aomine itu mengangsurkan senyum lebih lembut dari sebelumnya.

"Terima kasih. Sampai ketemu di meeting—Momoi-san, Aomine." Pemuda itu membungkukkan badan sembilan puluh derajat, kemudian masuk ke mobil setelah Chelsea menggeser posisi agar keduanya uat dalam satu kursi penumpang.

Aomine membantu menutupkan pintu mobil dari luar lalu mengitari galardo yang berkilau seakan tak dihinggapi searak pun debu. Jendela di kursi supir terbuka otomatis. Dari balik mantan ketua regu tim olimpiadenya semasa sekolah menengah pertama, dilihatnya Chelsea benar-benar bisa duduk bersama Furihata kendati teman Kagami dan Kuroko itu salah tingkah.

"Ke Shutoku, eh?" Pemuda alumni kemiliteran itu menyandarkan lengan di atas bingkai jendela mobil hitam metalik kawannya. "Bilang pada Midorima untuk mengembalikan VCD yang aku pinjamkan padanya saat itu."

"Kalau belum dia buang karena telah kadaluarsa sebagai lucky-item-nya, oke." Akashi menyeringai geli merendahkan padanya.

Aomine mendengus sebal tapi tak berkata apa-apa lagi. Ia tak memiliki bahasa yang baik dengan pulasan nada-nada hiburan manis untuk Akashi, karena itu Aomine biarkan tak terkatakan dan menyalurkannya pada tepukan serta remasan pelan di bahu Akashi.

Akashi paham dan merespon bahasa tubuh Aomine dengan sorot lunak di matanya.

"Aomine-kun, Satsuki-chan, sampai jumpa lagi!" ucap Chelsea dari jendela di sisi penumpang yang dibukakan oleh Furihata.

"Sampai nanti, Chelsea-chan!" Momoi balas melambai ceria padanya.

Mobil tersebut bergerak keluar dari pelataran parkir. Klakson galardo itu menyisa gema pada Aomine yang memandang langit dengan tiada guratan ekspresi dan Momoi yang menyeka matanya yang berkaca-kaca.

"Semoga mereka baik-baik saja, ya, Dai-chan."

"Kalau yang kau maksud adalah perjalanan panjang sampai pernikahan—" Aomine menghembuskan napas panjang. Menepuk lembut puncak kepala sahabatnya yang bagai refleksi musim semi berlatarkan sephianya musim gugur.

"—aku tahu kau mengerti itu benar-benar mustahil, Satsuki."

.

#~**~#

.

"Kalau kau punya pacar, tolong bilang padanya aku minta maaf karena aku duduk sedekat ini denganmu. Aku berat, ya?"

"E-eh, i-iya—" Furihata terbelalak horror. "—ti-tidak! Chelsea-san sama sekali tidak berat!"

Tawa gadis satu-satunya di antara tiga orang itu berlompatan di udara dalam mobil.

"Kau ini lucu sekali, Furihata-kun." Chelsea terkikik geli. Ia mengerling nakal Furihata yang kian salah tingkah, lalu pada Akashi. "Tidak seperti seseorang."

Dehaman yang terofensi. "Aku tidak merasa aku harus jadi lucu jika itu berarti aku menjadi bahan tertawaanmu."

"Tuh, kan. Dengarlah cara bicaranya padaku, Furihata-kun!" rajuk Chelsea manja yang tak disokong oleh suara lembut dewasanya. "Dia menyebalkan, 'kan?"

Furihata tertawa pelan, tak tahu harus merespon apa. Posisinya serba salah; membela Chelsea pasti dikecam Akashi; membela Akashi baginya terasa lebih salah lagi.

"Hei, Akashi-kun, tadi kata Satsuki-chan, Furihata-kun telah memilihkan wedding tuxedo yang sangat bagus untukmu. Hanya cocok dipakai olehmu." Chelsea menjawil bahu pemuda yang jadi tempatnya bersandar selama keduanya hidup di Inggris. Bibir merah mudanya menyungging senyum tipis. "Berterimakasihlah pada Furihata-kun."

"Kaupikir aku tidak akan berterimakasih padanya padahal dia yang jadi wedding planner-ku?" Akashi menghela napas pendek kendati konsentrasinya tak terusik pada jalan raya.

"Kau ini diktator, dan orang yang hobi melakukan tirani sepertimu terkadang menganggap orang yang bekerja padanya itu rendah." Chelsea menyeringai menyebalkan padanya. "Bukan hal tidak lazim lagi diktator memiliki tendensi untuk berlaku tidak apresiatif."

Akashi melirik gadis yang dikenalnya bertahun-tahun itu dengan roman wajah indignan. "Aku tidak menganggap Kouki serendah itu."

"Oh, mengharukan." Chelsea menguraikan jalinan kusut surai auburn-nya dengan hati-hati. "Jadi kau menganggapnya siapa?" tanyanya menantang.

Furihata menenggak saliva. Ia tak kuasa untuk bergabung dalam konversasi Akashi maupun Chelsea. Dan lagi jeda yang Akashi gelontorkan serta ketidakmampuan menafsir mimik sang emperor muda itu menyebabkan sesak mendesak rongga dadanya.

Kruk.

Ketiga muda-mudi itu terburai kekakuannya mendengar bunyi keriut khas perut.

"Kau lapar, Kouki?" tanya Akashi nadanya hampir afektif.

"Bu-bukan aku!" Furihata menggeleng-gelengkan kepala panik. Jantung berdentum pilu karena dia hampir tersipu dengan perhatian Akashi padanya—kali ini ia masih ingat ada Chelsea di antara mereka.

Chelsea meringis, tertawa kecil nan inosen. "Aku yang lapar."

"Bunyi itu tadi sama sekali tidak cantik untuk ukuran gadis sepertimu," tanggap Akashi sinis, mengulas seringai antagonis.

"Gadis cantik juga punya sisi manusiawi. Kelaparan adalah kebutuhan akan makanan dan minuman yang paling krusial dan esensial, tauh." Chelsea menepuk gemas bahu Akashi. Dia melirik pada Furihata, pandangannya memohon untuk diiyakan. "Ya, 'kan?

Furihata kini mengangguk-angguk. "Te-tentu saja." Dia pun meringis, miris teringat secarik momen di Yosen. Untuk menutupi hal itu, ia bergumam random.

"Kata siapa kau cantik?" Akashi mendatarkan raut wajahnya, sadis menggoda dengan alis terangkat sebelah.

Bibir berpoles lipgloss itu mengerucut seakan hendak melafalkan huruf O. Tapi yang terdengar hanya sendatan napas dan akting tersinggung. Chelsea mengibaskan rambutnya yang sepanjang pinggang, wangi shampoo floral terjuntai dari derai rambutnya yang terurai di sisi tubuhnya."Sepertinya punya mata heterokromia menyebabkanmu jadi katarak."

"Cantik itu tidak dinilai dari penampilan," sanggah Akashi argumentatif, "yang lebih penting itu inner-beauty."

"Kau tidak punya beauty outside maupun inside, Akashi-kun." Chelsea jelas berlaga di ranah pertempuan debatnya dengan sang emperor, mereka nyaris setimpal—pendapat Furihata. Perutnya kembali mengumandang bunyi-bunyi memalukan dan ia tertawa perlahan. "Aaah … aku jadi makin lapar."

Akashi meliriknya heran. "Kau belum sarapan?"

"Aku sengaja bangun pagi sekali untuk cosplay seperti tadi." Chelsea menerangkan sembari melingkarkan kedua lengan di antara perutnya, mencoba meredam bunyi anomali dari sana. "Untuk memberikanmu kejutan, Akashi-kun."

Akashi baru akan mengemukakan sesuatu, namun Furihata lebih dulu berkata lamat-lamat, "Bagaimana kalau mampir ke Maji Burger saja? Paling dekat dari sini."

"Junk-food, ya?" Chelsea menoleh ke samping kanan, mengulum senyum menyadari Furihata refleks memundurkan kepala dan berdeham kikuk karena kedekatan mereka.

"Err, kalau Chelsea-san tidak suka—"

"Aku suka, tidak masalah." Tangan dengan jemari berlapis cat kuku itu terlambai ringan. Dia melirik pemuda yang kini memandangi sepasang muda-mudi yang duduk dalam satu kursi. "Apa kau sudah sarapan Furihata-kun?"

"Pasti diktator itu menyuruhmu datang pagi-pagi tanpa memastikan kau sarapan terlebih dahulu, ya? Yang ditanya membeku seketika itu. Chelsea tertawa memahami reaksi Furihata. Ia mengangguk pada Akashi. "Bisa tolong mampir ke Maji Burger, Akashi Seijuurou-sama? Kami berdua perlu sarapan." Netra auburn-nya cemerlang menelisik teman seperjuangannya hidup.

Akashi terlihat konsideratif sejenak.

"Err … Akashi-sama sudah sarapan?" Pertanyaan itu dilisankan dengan suara perlahan, menyembunyikan getar-getar rahasia yang menyiratkan perhatian.

Akashi terkejut menatap melalui Chelsea, di antara helaian auburn bergelombang gadis tersebut, ada Furihata yang bahkan tak sanggup meliriknya dan memilih mematut jalan dalam akomodasi sempurna pandangannya.

Bibir pemuda yang akan menikah di hari ulang tahunnya itu meliuk, tipis, teringat ini sudah kedua kalinya Furihata menanyakan hal sepele itu padanya. Bukan perkara soal betapa sepele dan konyol pertanyaan itu, tapi sematan perhatian transparan itu menghangatkan hati.

"Ya Tuhan…" Chelsea memekik, lalu mendesah. Ia beringsut sedikit untuk bangun, mengeborkan tatapan gemas pada Furihata yang balas menatapnya penuh kebingungan. "…itu terdengar romantis."

"HEEEE?!"

Dia meraih tangan Furihata yang mendingin dan terbeliak karena tak pernah tervisualisasi dalam angannya ada gadis seperti Chelsea menggenggam tangannya lembut. "Maukah kau bertanya seperti itu padaku juga?"

"Ah—eh." Furihata gugup bukan main, gagal paham kenapa Chelsea menganggap pertanyaan sesederhana itu terdengar romantis kendati tak tersisip bahasa romansa. "Chelsea-san … sudah sarapan?"

"Belum." Chelsea tersenyum manis. "Kau juga belum, 'kan? Kita sarapan bersama, yuk." Tangan mungil berjari ramping miliknya menangkup tangan Furihata yang bergetar dan dihinggap suhu rendah. "Tanganmu dingin sekali, Furihata-kun." Dia menitah sang pemilik galardo mewah yang mereka tumpangi. "Naikkan suhu AC-nya, Akashi-kun. Furihata-kun kedinginan."

"Ti-tidak usah! A-aku baik-baik saja. Ha-hanya—"

Puk.

"Awh! Akashi-kun!" Chelsea mendelik sadis karena rambut bergelombangnya ditarik pelan oleh pemuda tersebut. Dari lirikan kejam padanya itu, Chelsea tahu dia telah merusak momen barusan. Bibirnya mengerucut imut, lantas gadis itu beringsut membenarkan posisi duduknya lagi.

Akashi menyetel lagi AC dalam mobil untuk menaikkan temperatur—kendati mereka bertiga ada dalam mobil tampaknya cuaca yang menjeritkan halo pada musim salju menggerus segala kehangatan yang ada. Ia tampak distan fokus mengendarai mobilnya dan berkata, "Ayo kita ke Maji Burger."

Furihata sungkan menarik tangannya dari genggaman Chelsea. Melirik enggan pada Akashi yang ternyata menghunjam pandangan dingin pada kedua tangan bergenggaman di atas pangkuan Furihata.

Tangan Chelsea tidak seperti tangan Akashi yang kapalan, berjari ramping dan panjang, tidak pula memilki eksterior punggung tangan berlajurkan vena membiru dan menonjol. Tangannya lembut khas gadis, berkuteks di kukunya, dan punya kehangatan yang berbeda dari yang Furihata ingat selalu tentang tangan Akashi dalam genggamannya.

Hati takkan dapat dibohongi; Furihata berekshalasi panjang menyadari jantungnya tidak berdebar sampai ia merasa harus menahan napas setengah mati.

"Uhm-hmm." Furihata menetralkan kerongkongannya yang serak. Menggumamkan maaf pada Chelsea untuk melepaskan tangan, dan buru-buru membuka tasnya, menarik keluar buku sketsa yang Akashi berikan. "A-Akashi … -sama. Ini sketsa rosarionya. Karena kita tidak jadi ke Rakuzan, jadi—"

"Sketsa suvenir pernikahan, eh?" sela Chelsea. Dia mengambil buku yang hendak diulurkan Furihata pada Akashi. "Boleh aku lihat?"

Pemuda yang tengah menyetir hanya bergumam mengiyakan.

Chelsea membuka lembaran buku sketsa yang telah ditandai. Biner auburun-nya melebar dalam keterkejutan melihat sketsa indah Rosario berpadu dengan senjata tipikal senjata mainan sega itu. "Akashi-kun, bukankah ini pu—"

Nada dering ponsel terdengar.

"Ma-maaf, ponselku." Furihata bergumam. Ia mengambil ponselnya yang tersimpan di saku mantel. Panik melihat nama yang terdisplay di layar ponselnya. Telpon masuk ia terima. "Halo."

Baik Akashi dan Chelsea melirik pada Furihata yang memalingkan tatapan pada pemandangan di balik jendela galardo. Terdengar suara seseorang berbicara dari seberang sambungan.

"Aku sedang di … err—" Furihata memutar kedua bola mata. Tergesa celingak-celinguk memerhatikan rute perjalanan yang tertera di papan. "—dekat Maji Burger, dan memang mau ke sana sebentar."

Jeda.

"Eh? Bagaimana bisa?" Furihata mengangguk-angguk sendiri mendengar jawaban dari lawan bicaranya. "Oke, oke. Kita ketemu di sana saja." Rautnya mencerah melihat Maji Burger sudah terlihat dalam radius pandang. "Sebentar lagi aku sampai."

Pik.

"Pacarmu?" Chelsea bertanya menggoda.

Furihata hanya menjawabnya dengan tawa canggung sembari menggaruk pipi.

Mobil hitam metalik menjerat segenap atensi itu diparkir persis di sektor parkiran yang strategis, dekat pintu masuk utama ketika ada mobil lain keluar dari sana. Mengingat ini jam akhir minggu, jam tanggung pagi menuju siang seperti sekarang ini telah dipadati pengunjung.

Sweatdrop mengembun di pelipis Furihata. Dia krisis percaya diri keluar dari mobil mewah dengan sepasang muda-mudi layaknya sejoli sejati, merasa dirinya terlihat benar-benar tidak pantas dan hanya jadi kunyuk orang ketiga di antara mereka.

Chelsea menggamit tangan Akashi dan meraih tangan Furihata. Tersenyum usil khasnya seraya menggandeng lembut dua pemuda itu untuk masuk ke Maji Burger. Berceloteh ceria bahwa dia kelaparan dan ingin segera memesan makanan serta mendaulat Akashi untuk membayar semua konsumsi hari ini.

"Oh, harem Chelsea." Gadis itu terkikik geli dengan pemikirannya sendiri. Mengabaikan gerombolan gadis yang ganas memelototinya—kurang maruk apa gadis ini menyabet dua pemuda sekaligus. "Yang enak di sini apa?"

Furihata di sisinya menyahut. "Hmm … vanilla milkshake dan cheese burger, kata teman-temanku. Mereka sangat suka itu." Ia tersenyum mengingat duo cahaya dan bayangan Seirin.

Selagi gadis itu berbisik-bisik (baca: berdebat) dengan Akashi untuk membayarkan pesanan mereka bertiga, usai Furihata memesan ia baru sadar bahwa Chelsea memesankan juga untuk Akashi. Dia menggigit bibir—oh, ternyata ada yang tahu apa yang Akashi suka … selain dirinya, ada yang tahu.

Kenapa semenyesakkan ini?

Furihata kalah total karena bersikerasnya untuk membayar pesanannya sendiri tak ditanggapi. Chelsea mengancamnya untuk tak membayar dan berhasil meminta Akashi yang membayarkan untuk ketiganya.

Ketika ketiganya baru saja mendapatkan tempat duduk tersisa di suatu sudut resto , Chelsea duduk di sebelah Furihata dan keduanya berhadapan dengan Akashi, seseorang datang menghampiri mereka dan menepuk bahu Furihata. Ketiga muda-mudi itu menoleh.

"Kasamatsu-san. Kapan kau sampai?" tanya Furihata kaget.

Kata-katanya mampat di pangkal tenggorokan, merekognisi presensi Akashi Seijuurou dan seorang gadis cantik. Dia linglung sesaat, ketika pulih dan ia paham dengan caranya sendiri siapa gadis itu, ia membungkukkan badan. "Maaf mengganggu kalian."

"Ohayou, Kasamatsu-san." Akashi menyapa tanpa memandang pemuda yang lebih senior darinya itu, menyesap cappucino yang mengelukan lidah. "Senang bertemu denganmu lagi."

"Ohayou gozaimasu." Chelsea berbaik hati memulas senyum pada Kasamatsu.

Kasamatsu berdeham. Wibawa yang kharismatik terkuar dari sosoknya. "Maaf aku mengganggu … apa boleh aku pinjam Furihata sebentar? Ada hal sangat penting yang harus aku bicarakan dengannya."

Furihata gugup menatap Akashi ekspetatif—sekaligus tidak. Dia harus tahu diri, sadar diri dengan posisinya dan kewajibannya hari ini.

"Tentu saja." Chelsea yang menjawab ramah. "Nanti kembalikan pada kami lagi, ya," guraunya.

"Terima kasih." Kasamatsu membungkuk sekilas.

Ia melirik Furihata dan mengode. Pemuda tersebut menjinjing nampannya mengikuti langkah panjang Kasamatsu. Sayup-sayup terdengar percakapan mereka di sela taburan konversasi dan wangi keju serta daging yang mengembara di udara.

Pemuda beralis rimbun itu memincingkan mata. "Kau ini … aku bilang aku benar-benar membutuhkanmu hari ini, kau malah bilang tidak bisa," gerutunya.

"Maaf. Ta-tapi aku sudah bilang, hanya akhir minggu saja aku tidak bisa." Furihata membela diri.

Kasamatsu menghela napas. "Kau tahu aku yang harusnya kauprioritaskan, ini malah—"

"Aku memprioritaskanmu. Waktuku bersamamu akan kurelakan dua puluh empat per enam karena aku tahu—"

"—ya, ya. Karena royal wedding Akashi Seijuurou. Royal wedding."

"—aku tidak pilih kasih. Aku bahkan bersama Akashi-sama hanya satu hari. Sebenarnya itu tidak cukup."

"Kalau kau mau bersamanya lebih banyak lagi, bilang saja. Tidak perlu mengorbankan dua puluh empat per enam untukku, sumbangkan sebagian untuk Akashi—"

"Ti-tidak begitu! Su-sudahlah, sebenarnya ada apa, Kasamatsu-san?"

Tidak terdengar apa-apa lagi. Sepasang pemuda itu terlalu jauh untuk disadap cakap-cakap mereka.

Chelsea yakin bukan hanya dirinya yang bisa mendengar semua konversasi barusan. Senyumnya luntur, keceriaan gugur, dan nihil pugaran ekspresi di wajah cantiknya. Wajahnya dingin mengasihani pada Akashi yang diam dengan bibir menjumput tepi sedotan gelas karton berisi cappucino hangat, tapi tak menghisap sebulir pun manisnya.

Suara lembut itu kejam mendeklarasi realita.

"Kau menyedihkan."

.

#~**~#

.

Furihata mendesah lelah. Menatapi punggung Kasamatsu yang berlalu masuk ke dalam mobil, melambai sekilas padanya—ia tahu lambaiannya dibalas dari balik jendela. Sesuatu emas berkilat-kilat di jarinya.

Ah, konyol.

Sudahlah.

Furihata masuk dari bagian meja dan kursi bersebelahan teras di Maji Burger—karena tadi Kasamatsu menggiringnya untuk duduk di meja di sana—dan menelusuri koridor tempat yang ia tahu Akashi dan Chelsea berada. Lokasi tersudut. Dia melihat punggung tegap yang selalu dipandanginya dari belakang itu, dan Chelsea. Memangkas jarak, Furihata mengakselarasi langkahnya untuk menghampiri keduanya.

Gema langkah kaki mati tepat di pintu masuk utama.

Sepasang mata sewarna ranggasan daun musim gugur terbelalak.

Isakan pedih. "Aku mencintai—"

Berdiri di depan pintu masuk utama pegawai yang melakukan sambutan menyapa kustomer yang baru datang. "Selamat datang di Maji Burger!"

Samar-samar Furihata mendengar. Tidak, ia tidak dengar karena karyawan penyambut tamu berseru, "Arigatou gozaimasu!"

Kemudian—

"… -mu." Chelsea menangis, rapuh menyeka hujan di matanya yang sia-sia. Lurus menatap Akashi lebih dari sekadar mata berkaca-kaca, wajahnya sungguh berduka penuh lara. "Ma-maafkan aku—"

Furihata tergugu. Seruan "Terima kasih dan semoga Anda datang kembali ke Maji Burger!" berhembus dari telinga kanan dan meluruh dari telinga kiri, bahkan tak singgah barang sejenak saja di otaknya.

Furihata mundur selangkah, menabrak. Dua langkah, menubruk. Berbalik menggerungkan maaf. Tangannya mencengkeram kasar baju yang melapisi dada dan tak peduli benda di jarinya tersangkut serat baju. Pengecut menghadapi, lantas ia berlari pergi untuk menenangkan diri.

"—maafkan ke-keegoisan dan kejahatanku i-ini, Akashi-kun."

Kata-kata terakhir yang ia dengar Chelsea ucapkan pada Akashi tadi, amat meremukredam hati Furihata.

.

To be continue

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Glosarium:

Billiard eight-ball: Jenis permainan billiard, salah satu yang paling populer dimainkan. Bola-bola Billiard dibagi 2 yaitu Bola Solid (1-7) dan Bola Stripes (9-15). Bola 8 adalah bola yang terakhir dimasukkan.

Billiard nine-ball: Jenis permainan billiard, salah satu yang paling populer dimainkan.. Bola yang digunakan adalah Bola Billiard yang bernomor 1 sampai dengan 9 ditambah bola berwarna putih yang digunakan sebagai cue ball.

Bola stripes: kumpulan bola billiar dari nomor 9 sampai 15.

Bola solid: kumpulan bola billiar dari nomor 1 sampai 7.

Cue-ball: bola bola putih yang langsung dikenai oleh cue dan tidak bernomor.

Strapless Mermaid: Gaun yang memiliki ekor seperti putri duyung dan tidak bertali. Gaun ini cocok untuk pengantin wanita yang ingin menonjolkan bagian pinggang dan bokong karena bentuknya yang ketat di bagian di atas, dan longgar di bagian paha sampai mata kaki.

Ball Gown Dress: Gaun yang menggembung dan megah mirip seperti gaun yang dipakai tokoh-tokoh princess dalam film klasik.

Pettycoat: Adalah Rok dalam. Ada yang bersusun 2 taupun bersusun 3.

Bell shape rok dome: Adalah gaun pengantin dengan rok berbentuk kubah, hampir mirip dengan bentuk bell shape atau lonceng.

Vintage wedding dress: Gaun pengantin dengan tampilan anggun dan klasik, biasanya leher sampai lekuk dada perempuan akan dibuatkan dengan A-Line.

Sweeping Train: Gaun yang cenderung sederhana dan terbuat dari bahan yang ringan, mengutamakan kenyamanan pengantin yang memakai. Cocok dikenakan perempuan bertambah ramping.

Sheath: Gaun yang pas badan untuk pengantin yang ingin terlihat seksi dan menonjolkan lekuk tubuh agar terlihat seksi.

Veil: Cadar atau kerudung. Ada bermacam macam yaitu blusher(pendek), bentuk birdcage(sarang burung), berlapis, panjang sampai ketangan, jari, kaki. Gaun bridal viel pendek sering digunakan pada resepsi, sedangkan yang panjang biasanya digunakan untuk photo prewedding.

Crown: mahkota.

Structured: desain pola ukiran rumit yang menghiasi busana pengantin.

Satin: Materi kain ini berat namun halus dipakai. Kain dengan ciri khas yang mengilap ini akan menambah kesan glamor.

Silk Taffeta: Terbuat dari sutra ataupun bahan sintetis campuran. Gaun dengan bahan ini terasa lembut dan ringan saat dikenakan. Taffeta memiliki ciri khas kilau yang berserat, dan biasanya digabungkan dengan kain lain. Alur tenunan Taffeta biasanya terlihat jelas. Bahan ini cocok untuk desain minimalis.

Silk Charmeuse: Bahan paling mewah untuk gaun pengantin yang glamour dan elegan adalah sutra charmeuse ini. Gaun ini sangat berkilau dengan lembut, dan bisa menarik perhatian dengan menonjolkan setiap detail tubuh.

Chiffon dan Georgette: Bahan licin, anti kusut, halus dan menggoda, kain georgette memang biasa digunakan untuk gaun-gaun berdrapery. Mirip dengan chiffon, namun lebih halus dan tipis, kain ini digunakan untuk membentuk layer-layer di bagian skirt, memberikan kesan melayang pada beberapa bagian gaun dan juga untuk berbagai ornamen.

Double breasted: jas dengan kancing rangkap dua.

Double vent: Dua belahan di bagian belakang tuksedo yang cocok dikenakan oleh lelaki yang bertubuh tidak tinggi.

Wol Silk Italy: Bahan wol silk termasuk bahan wol yang paling berkualitas tinggi dan mahal saat ini. Wol yang sedang populer saat ini adalah bahan shining wool Italy dan wool silk Italy, tekstur bahannya berkilau dan sangat mencolok saat dikenakan

.

.

So sweet-nya~ beberapa waktu lalu Akashi yang ultah, sekarang saya. *peluk cium Akashi*

Kalau ada hal yang bikin saya stress nulis fic ini selain words adalah pace … kok woles amat. Orz

Saya njejelin hints sana-sini dan harus mengurainya lagi chapters berikutnya. Sudah begitu, setelah tiap nulis chapter, saya baru sadar glosarium fic ini banyak banget. *head desk* semoga yang baca bisa tambah ilmu, atau nggak sekedar tahu. X")

Anw, ini penting. Meski ini crossover Kuroko no Basket dan Akame ga Kill, tapi ada hal-hal canon yang saya sisipkan sana-sini. (tetep gagal move on dari comfort-zone)

Karena Imperial Arms-nya Chelsea adalah Gaia Foundation (peralatan make-up magis yang bisa membuatnya berubah jadi apapun/siapapun), maka di fic ini saya tikung jadi dia ahli menyamar/cosplayer (?). Profesi Chelsea di fic ini juga tidak jauh-jauh dari canon (yang saya tikung). Yang belum saya beritahukan hanya profesi Akashi—ah, tapi saya udah kasih hints.

Yang merasa terlalu terluka dengan fic ini, saya memohon kalian nggak usah maso daripada nanti malah sensi sama saya dan fic ini. Nanti aja kalau sudah jelang ending fic, baru akan saya summon lagi. *peluk sayang Furi* sebenernya saya udah nebar hints antara taburan twists ambigu (sampe A/N pun saya klarifikasi), tapi kalau nggak dapet "pencerahan", tolong jangan memaksakan diri untuk membaca.

Masa saya tega maksa kalian bermaso membaca fic yang nggak memuaskan hati dan mengenyangkan lapar kalian akan fluffy lovey-dovey OTP kita, LeChi-tachi? :")

.

And see you latte~

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan