Kai sedang makan di taman sekitar sungai Han bersama kekasihnya Kyungsoo. Entah kenapa makanan terasa tak begitu sedap di lidahnya, Kai bingung padahal pada hari biasanya dia selalu menghabiskan makanan apapun yang ada di rumah Chanyeol. Dia sudah mencobanya dan memaksa dirinya untuk menghabiskan makanan yang tersisa banyak itu, bagaimanapun Kai bukanlah tipe orang yang suka membuang-buang makanan. Dia tidak akan pernah tega melihat makanannya terbuang karena dia tau bagaimana susah mendapatkannya. Dia berpikir, dia sudah pernah hidup melarat namun semelarat apapun dia, dia tidak pernah merasakan tidak makan hingga berhari-hari. Kai berdoa itu tidak akan pernah terjadi, maka dari itu dia selalu menghargai makanan. Kai merasa ingin muntah jika saja makanan tersebut ia paksakan masuk ke perutnya lagi, tapi tersisa masih banyak, dan dia ragu jika dia membungkusnya apa makanan itu masih dalam keadaan tidak basi. Karena yah, dia berencana mengajak Kyungsoo hingga larut malam. Kai berhenti sejenak untuk meneguk air putihnya dan menelan sisa-sisa makanannya yang hampir saja keluar lagi.
"Kau kenapa?" Tanya Kyungsoo melihat wajah Kai yang aneh. Kai menggeleng kemudian mengambil makanannya kembali dan hanya menatapnya kosong.
"Jika sudah kenyang tidak usah di paksakan, letakan saja disana." Ujar Kyungsoo.
"Tapi biasanya aku selalu menghabiskan makanan apapun."
"Orang sakit wajar tidak nafsu makan." Kai lupa dirinya sedang sakit, karena bersama Kyungsoo dia merasa selalu sehat.
"Tapi aku tak biasa membuang makanan."
"Letakkan, aku yang akan habiskan. Tidak terbuang kan?" Kai terkekeh melihat mata bulat itu menatapnya lucu sambil bibir manisnya yang terus mengunyah.
"Terbuang ke perutmu."
"Hei, terbuang ke perutku itu bermanfaat tau."
"Ya sangat bermanfaat, semoga kau cepat besar." Kai mengusak rambut Kyungsoo gemas, yang di balas dengan tatapan membunuh oleh Kyungsoo.
"Aku sudah besar!"
"Tidak, kau masih kecil dan manis."
.
Entah kenapa, Kai merasa tubuhnya akan roboh ketika baru saja berdiri, dunianya terasa berputar-putar. Untuk sesaat dia memutuskan duduk kembali menunggu Kyungsoo yang tengah membuang sampah. Kai mencoba bangkit lagi dengan perlahan dan dia menemukan dirinya terduduk lagi. Matanya berkunang-kunang dan tubuhnya sangat lemah. See, ini adalah akibat dari kecerobohan dan sifat sok coolnya. Udara sungai Han sangat dingin kala itu, anginnya berhembus kencang dan Kai dalam keadaan tidak sehat. Tidak salah kan, jika dia menjadi seperti ini. Kai menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menemukan kesadarannya. Hingga Kyungsoo terasa ada di dekatnya, menepuk pundaknya pelan.
"Ayo, Kai kita kembali." Kai hanya mengangguk dan mencoba bangkit lagi, namun tubuhnya tetap saja oleng, bumi terasa bergoyang.
"Hei, ada apa denganmu?" bisa ia rasakan tangan Kyungsoo menahan bahunya, Kai tidak berani membuka matanya karena ketika dia membuka mata dia akan menemukan dirinya limbung.
"Entahlah, aku berputar." Katanya. Kyungsoo menghela nafasnya. Baru kemudian dia merasa tubuhnya terangkat kakinya tidak menyentuh tanah, dan hidungnya mencium aroma familiar, aroma pewangi pakaian yang biasa Kyungsoo gunakan. Kedua kakinya terasa dicengkram erat dan dengan tidak etisnya melingkar di pinggang kecil itu. Sesaat kemudian Kai menyadari ketika dia membuka matanya sedikit, Kyungsoo tengah menggendongnya.
"Hei Kyungsoo, turunkan aku. Kau tidak akan kuat menggendongku." Kai menepuk-nepuk pundak Kyungsoo.
"Kai, cukup pegangan yang erat jika kau tak ingin terjatuh. Kau meragukanku, aku pernah menggendong Sehun ketika dia kecelakaan." Kai hanya terdiam, "katakan jika kau lelah." Katanya kemudian. Kyungsoo mengangguk paham, dan menyuruh lengan Kai untuk melingkar di lehernya. Kai menurut lengannya melingkar di leher Kyungsoo dan kepalanya ia sandarkan pada bahu sempit itu. Dia masih tidak habis pikir, kalau tubuh yang terlihat ringkih ini dapat menggendongnya.
"Ah, harga diriku sebagai seme terlukai." Katanya sambil menutup mata.
"Hei, memangnya siapa yang mau menjadi ukemu? Aku seme!" protesan itu keluar dari mulut Kyungsoo.
Kai terkekeh, "kau mirip Luhan, kata Sehun dia selalu mengucapkannya."
"Terserah."
"Baiklah, baiklah. Kita sama-sama seme. Jangan marah begitu." Kai mengusak rambut Kyungsoo yang di hadiahi protesan kembali.
.
Kyungsoo membantu Kai berjalan kedalam rumah, yang syukurnya pusingnya telah berkurang. Mungkin penyebabnya karena dia terlalu banyak diterpa angin. Dia bisa melihat mobil Luhan di luar. Ya, Sehun memanggil Luhan untuk memeriksakan Chanyeol. Kai membuka pintunya perlahan dan menemukan Luhan dan Sehun yang hampir bercumbu. Mungkin jika sedikit saja mereka terlambat hal seperti itu akan terjadi di ruang tamu. Kai mematung sementara Luhan terlihat salah tingkah.
"Maaf mengganggu kalian." Kata Kai.
"Ck, kau datang di saat yang tidak tepat!" Luhan mensikut Sehun, karena wajahnya kini tengah memerah. Sementara Kyungsoo seperti biasa berwajah datar, dan mungkin sudah biasa melihatnya.
"Luhan, periksa dia. Tadi dia hampir pingsan." Kata Kyungsoo menunjuk Kai. Luhan mengibaskan jemarinya menyuruh Kai duduk di sofa di sampingnya, kemudian Kai membelah batas duduk antara Sehun dan Luhan membuat pria putih itu meninju Kai pelan. Luhan merasakan denyut nadi Kai yang beralih memeriksa detak jantungnya.
"Kau pergi kemana tadi?" Luhan bertanya pada Kyungsoo yang tengah berdiri mengamati mereka.
"Sungai Han." Jawabnya kalem, Luhan berdecak.
"Kai seharusnya kau tak kesana dalam cuaca dingin seperti ini. mandilah air hangat, Sehun akan merebus air untuk kompresmu." Sehun memutar matanya malas, Tidak Chanyeol tidak Kai selalu dirinya yang menjadi seorang korban. Kai mengangguk, kemudian berjalan menuju kamarnya. Dia sempat melirik Kyungsoo dan pandangan mereka sempat bertemu beberapa detik, namun Kyungsoo cepat berpaling seolah acuh pada Kai, dan Kai hanya tersenyum. Dia memang tidak suka menunjukan kemesraan di depan umum, apalagi itu di depan kakaknya dan Sehun.
.
Sehun meletakkan baskom beserta handuk kecil di atas meja tempat Kyungsoo duduk, Sehun menaikan kedua alisnya berisyarat menyuruh Kyungsoo naik ke atas dimana kamar Kai terletak.
Kyungsoo mengernyit, "kenapa harus aku?" Sehun menunjuk dirinya kemudian menunjuk Luhan yang sedang menonton televisi, mengisyaratkan bahwa dia ingin berduaan dengan Luhan. Kyungsoo pada akhirnya menghela nafasnya dan mengambil alih baskom tersebut untuk dibawanya. Kyungsoo mengetok pintunya sebentar kemudian masuk setelah diijinkan oleh sang pemilik. Kai sedang bersandar pada kepala ranjang mendengarkan musik. Ia langsung tersenyum sumringah ketika melihat yang masuk adalah Kyungsoo.
"Kupikir yang datang Sehun." Katanya.
"Tepatnya Sehun yang menyuruhku."
"Terima kasih untuk Sehun."
"Wae?" Kai hanya menggeleng sambil tersenyum, tentunya dia tidak akan terang-terangan mengatakan dia menyukai Kyungsoo disini jika tak ingin pipinya memerah tepat di hadapan kekasihnya ini.
"Kau masih pusing?"
Kai mengangguk,"sedikit." Tanpa merespon tangan Kyungsoo begitu telaten merendam kain tersebut kedalam air hangat sebelum ditempelkan pada kening Kai. Kai memejamkan matanya merasakan bagaimana benda itu mengeluarkan sensasi dingin di keningnya, namun hangat di hatinya. Kai tidak bermaksud untuk mengikuti adegan-adegan drama, namun dia disini, merasakannya. Kehangatan yang mengisi hatinya bersama Kyungsoo. Dia datang, kini pertanyaannya seakan terjawab, bahwa Kyungsoo datang dan Kyungsoo adalah kekasihnya. Tangan Kyungsoo kini berada di sudut-sudut alisnya memijtnya pelan. Entah kenapa Kai lebih menyukai tangan Kyungsoo daripada tangan Sehun yang memijatnya tadi siang. Yah, mungkin karena Sehun tidak bisa memijat dan tangannya tidak seterampil Kyungsoo.
"Kau punya kemampuan memijat?"
"Tidak, kakekku adalah tabib dan dia membuka pengobatan herbal. Jadi aku sering memperhatikannya, dia mengajariku beberapa hal sederhana saja."
"Oh, jadi Luhan mengikuti jejak kakekmu."
"Ya, Luhan penyembuh kelas modern."
Kai terkekeh sebentar sebelum bertanya lagi. "Lalu, apa kau tak ingin menikuti Luhan?"
"Tidak, aku berbeda dengannya."
"Lalu, apa yang kau inginkan?"
" Aku tak percaya pada diriku sendiri, makanya aku mengikuti saran orang tuaku untuk memilih temjpat belajar. Aku belum menemukan diriku yang sesungguhnya." Kai mengangguk mengerti, kemudian pintu di belakangnya terbuka menunjukan wajah Sehun yang melongok.
"Kyungsoo, Luhan bertanya kau ikut pulang atau menginap?"
Kyungsoo melirik ke arah Kai, "sepertinya aku harus pulang." Katanya membuat Kai mengangguk sekali lagi, Sehun menutup pintunya lagi dan turun ke lantai bawah.
"Ya, aku harus pulang sekarang." Katanya gugup, anatara rela dan tidak. Dia sebenarnya ingin bersama Kai lebih lama namun tidak mungkin dia akan menginap. Itu tidak boleh terjadi, tidur bersama dengan kekasih sangat berbahaya walaupun mereka adalah dua orang pria, tetap saja dalam kamus Kyungsoo itu berbahaya. Untuk pertama kalinya dia merutuki pasangan idiot itu, kenapa Luhan begitu cepat ingin pulang. Kyungsoo baru saja bangkit dari duduknya namun suara Kai lebih cepat mengintrupsinya. Kyungsoo menoleh, dan mendapat senyuman halus.
"Hati-Hati." Kyungsoo mengangguk kemudian kembali beberapa langkah…
"Kyungsoo?" Kyungsoo menoleh lagi pada Kai.
"Kabari aku jika kau sudah sampai di rumah." Kyungsoo mengangguk lagi kemudian berjalan lagi.
"Kyungsoo?" oke, Kyungsoo mulai geram namun yah sedikit berdebar.
"Terima kasih sudah mengompresku." Kyungsoo mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya.
"Kyungsoo?" kali ini kesabarannya habis, dia berjalan kearah Kai mendudukan dirinya di pinggir tempat tidur dan menangkup wajah Kai untuk memberikannya sebuah kecupan di bibir.
"Kau ingin sebuah kecupan?" Kyungsoo mengecupnya sekali lagi.
"Dengan pesan-pesan konyolmu itu." Kyungsoo mengecupnya sekali lagi. 3 kali, Kyungsoo tiga kali mencium bibirnya. Sejak mereka menjalin hubungan kasih tidak ada sekalipun yang namanya daerah yang menyangkut bibir karena Kai takut Kyungsoo akan marah seperti saat itu, namun kali ini. Kyungsoo yang memulainya sementara dia masih dalam keterkagetannya.
"Nafasmu panas, kau benar-benar demam. Tidurlah, aku akan pulang." Kai menggenggam sebentar tangan Kyungsoo menunjukan ketidak relaannya jika Kyungsoo akan pulang, tapi mau bagaimana lagi, hari sudah termasuk larut, dan Kyungsoo harus kuliah besok. Kini Kai yang mendekatkan dirinya untuk sejenak mengecup bibir Kyungsoo.
"Hati-hati,Kyungsoo." Namun dia belum melepas genggaman tangannya, "boleh aku dapatkan satu pelukan hangat darimu? Untuk obat rindu." Katanya malu-malu, namun Kyungsoo merasa geli dengan tingkah Kai yang seperti itu, dia ingin tertawa namun hanya senyuman yang mampu ia tampilkan. Kemudian tangannya ia rentangkan untuk memeluk seluruh tubuh Kai yang terasa panas.
"Cepat sembuh, dan jangan sakit lagi." Katanya pada Kai yang diangguki segera. Kyungsoo melepaskan pelukan beberapa detik itu dan menatap Kai sebentar.
"Ketika di rumah nanti, jangan hanya menunjukan foto buku barumu saja padaku, sekali-kali tunjukan sebuah senyumanmu." Kyungsoo memukul bahu Kai pelan dan ia tertawa. "Gombal!" katanya, namun dia menyukainya kan?
Kyungsoo akhirnya meninggalkan kediaman Chanyeol bersama Luhan membuat tempat itu sunyi kembali, Kai sempat menengok Chanyeol di kamarnya yang telah terlelap tidur. Sehun bilang dia sama kelelahan seperti dirinya seperti yang Luhan periksa barusan. Sehun memilih tidur di kamarnya, sementara Kai akan menginap sekali lagi di kamar Chanyeol. Dia merasa agak baikan, di bandingkan dengan Chanyeol yang belum bangkit dari tempat tidur sejak pagi tadi. Apa kehadiran seorang pacar membantu kesembuhan orang yang sedang sakit? Kai menggaruk kepalanya berpikir, setelah cerita trakhir Chanyeol yang mengatakan ditinggal menikah oleh kekasihnya itu yang bahkan mungkin sudah lama sekali, Kai sekalipun belum pernah melihat Chanyeol menggandeng seseorang yang disebut-sebut sebagai kekasih. Kai memilih berbaring di samping Chanyeol, orang mana yang meninggalkan Chanyeol menikah? Tega sekali mempermainkan hatinya.
Pikirannya terus melayang kemana-mana. Kai belum merasa mengantuk karena sudah berjam-jam ia tidur, hingga ponselnya bergetar. Menampilkan nama Kyungsoo yang langsung di sambut sumringah olehnya. Kai membukanya dan memasang wajah masam setelah melihat kriminannya, Kai bukannya tak mneyukai mendengar cerita Kyungsoo tentang pertunjukan teater atau kiriman foto tentang buku barunya, tapi pembahasan seperti itu sedikit agak biasa dan terlalu sering mereka bicarakan, Kai membiarkan saja pesan itu terbaca tanpa berniat membalasnya dia eng.. sedikit kesal mungkin. Kai juga bingung untuk merespon bagaiamana untuk hal itu. Ponselnya bergetar lagi, menampilkan nama yang sama, Kai mengira-ngira bahwa isinya pasti setumpuk kata-kata tentang synopsis sebuah film atau mungkin ringkasan sebuah cerita, namun dia menemukan hal berbeda. Kyungsoo mengirimkan sesuatu yang membuatnya tersenyum sangat lebar, bahkan ledakan di hatinya hampir tak tertampung. Sebuah foto close up Kyungsoo yang sedang setengah tertawa, memperlihatkan bibirnya yang berbentuk hati dan deretan gigi rapinya.
'Sebuah film untuk menghabiskan malamku, dan sebuah senyuman untuk malam.' Tulisnya dalam pesan itu. Kai tidak tau Kyungsoo bisa menjadi se-puitis ini, dia baru tau sekarang dan dia tidak kecewa mendapati Kyungsoo bisa menjadi sangat manis. Atau mungkin Kai juga ingin di buatkan puisi dari Kyungsoo untuknya. Dia banyak membayangkan hal-hal konyol belakangan ini yang sering membuatnya tertawa, bahkan untuk seorang Kyungsoo yang terkesan cuek. Dengan cepat jemarinya mengetik pesan balasan untuk kekasihnya itu, pesan itu diakhiri dengan ucapan selamat malam sekali lagi dari Kyungsoo, hingga Kai terlelap.
.
Setelah itu, mereka tak pernah bertemu lagi. Kai salah menilai Chanyeol yang masih sakit malam itu, nyatanya dua hari kemudian pria itu kembali beraktivitas dan menjadi sibuk kembali. Dan entah kenapa, Kai juga menjadi sangat sibuk bersama Chanyeol. Chanyeol bilang Kai seperti sekertarisnya, namun pada nyatanya sekertaris Park Chanyeol selalu ada bersamanya. Kai juga menjadi bingung pada Chanyeol, sebenarnya apa yang Chanyeol inginkan darinya, kenapa dia tak merekrut Kai sebagai salah satu karyawan di salah satu kantornya saja. Pernah suatu saat Kai mengatakan pada Chanyeol bahwa dia hanyalah seorang supir pribadi yang seharusnya berada di mobil. Namun Chanyeol memandangnya tajam setengah marah, pria itu sudah berkali-kali berkata pada Kai bahwa dia tak pernah menganggap Kai sebagai supir. Lalu apa? Seseorang yang Chanyeol suruh mengantarnya kemudian Chanyeol gaji setiap bulan. Bukankah itu seperti seorang supir?
Dan hal yang paling Kai benci adalah ketika dia berbicara di depan banyak orang. Kai pikir Chanyeol memang gila, menyuruh Kai untuk mempresentasikan hal baru yang dirancang Chanyeol semalam dan di buat bersamanya juga, namun bukan berarti dia tau segalanya tentang itu. Namun semua sudah menunggunya untuk memperkenalkan hal tersebut, ide karya Chanyeol yang di bawakan olehnya, seorang lulusan SMA yang lahir dari desa, merangkap menjadi supir pribadi Chanyeol , dan belakangan ini merangkap seperti sekertaris pribadi Chanyeol. Membuat pertemuannya dengan Kyungsoo terhambat, mereka hanya sesekali saling bertukar pesan, dan itu tidak sebanding dengan pertemuan langsung dengan pria bermata bulat itu. Kai sangat merindukan Kyungsoo, namun minggu ini Sehun dan kekasihnya itu sedang mengikuti ujian akhir di perkuliahan. Membuat Kai nampak berpikir untuk mengajak Kyungsoo keluar. Chanyeol melihat gelagat Kai yang resah, dia menghela nafasnya pelan.
"Merindukan seseorang?" Kai menatap Chanyeol yang masih fokus pada laptopnya. Kai sangat sadar jika dia tak bisa berbohong pada pria tinggi ini, entah kenapa Chanyeol selalu tau pikirannya seperti ikatan batin.
"Aku memberimu ijin keluar. Tapi, kau juga harus focus untuk belajar bersamaku. Aku beritahu, bahwa masa depanmu bukan hanya Kyungsoo." Kai menatap Chanyeol, untuk seseorang yang memiliki kenangan cinta yang buruk tentu saja hal seperti itu wajar untuk di katakannya.
"Aku tau kau…"
"Tidak, ini bukan tentang cintaku yang hilang. Ini tentang hidupmu juga, kau harus belajar lebih banyak." Kai hendak protes, karena jujur dia bukan pribadi yang suka belajar. Namun akhirnya dia hanya menagangguk, menyadari bahwa betapa baiknya Chanyeol kepadanya.
"Kabari dia." Ucap Chanyeol kemudian.
Kai segera menghubungi ponsel Kyungsoo dan meminta bertemu walaupun hanya lima menit saja.
.
Kai tidak tau tempat yang pantas untuk bertemu selain sungai Han. Jarak strategis antara rumah Chanyeol dan Kyungsoo membuatnya memilih tempat itu. dia melihat Kyungsoo mendekat kearahnya, dan memberikan sebuah senyuman penuh kerinduan pada orang itu. Lama sekali waktu yang di butuhkan untuk bertemu, yah walaupun hanya tiga minggu menurut Kai itu adalah ribuan tahun. Kyungsoo juga ikut tersenyum untuknya dan mereka duduk berdampingan.
"Aku merindukanmu." Kata Kai melihat Kyungsoo yang berada di sebelahnya. Pria itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
TBC
Maafkan untuk yang terlambat ini, ceritanya agak-agak nih kyknya pusing abis UAS sih. Semoga kalian terhibur
