Disclaimer: All Naruto Character belong to Masashi Kisimoto.
All OC character belong to me :3
Warning: Standard Warning Apply, typo merajalela
Let's The Story Begin...
LINA POV
"Ayah kok belum pulang?" Tanya Kyoshiro memperhatikan jam yang sudah menunjukan pukul delapan malam.
"Mungkin sedang banyak kerjaan. Akan kakak temani sampai ayah pulang, oke?" Tanyaku Kyoshiro mengangguk. Ia menarik selimut hingga sebatas lehernya. Perlahan kedua mata mungilnya pun terpejam dan dia tertidur lelap. Dengan khawatir kutatap jam yang makin menunjukan waktu malam tiba. Kemana kau Aoba? Apa yang sedang kau lakukan?.
'Ting Tong' terdengar suara bel rumah berbunyi. Kyoshiro terbangun dari tidurnya dan melompat dari kasurnya. Kususul langkah kecilnya menuju pintu depan. "Ayah!" Sahut Kyoshiro dan kulihat ia tengah bergelayut manja dileher ayahnya.
"Hei, maaf ayah pulang terlambat" Ujarnya. Aku menghembuskan nafas lega lalu mencium pipinya.
"Makan malam sudah kusiapkan. Biar aku yang menidurkan Kyoshiro" Ujarku mengambil Kyoshiro dari gendongannya.
"Yeah, terima kasih" Ujarnya seraya balas mencium pipiku. Selesai menidurkan Kyoshiro aku berjalan menuju ruang makan dan kudapati dirinya tengah memakan makan malam yang sengaja kusisakan untuknya. Gurat kelelahan tampak dari wajahnya.
"Kemana saja? Kau membuat kami khawatir" Ujarku. Aoba memandang padaku dan tersenyum.
"Maaf, ada kerjaan tambahan mendadak" Ujarnya. Aku Cuma bisa menghela nafas.
"Istirahat saja yang cukup, kau butuh energi untuk besok" Ujarku. Ia mengangguk padaku. Haah, kuharap ini hanya untuk hari ini saja, aku tak dapat membayangkan beratnya beban yang ditanggungnya kalau harus lembur setiap hari seperti ini. Bisa-bisa dia sakit.
.
.
.
Seminggu lebih sudah berlalu dan kuperhatikan Aoba lebih banyak mrngambil shift lembur dari biasanya. Apa kerjaan memang sedang banyak-banyaknya, ya?. "Ayah masih belum pulang, ya ka?" Tanya Kyoshiro sambil melihat jam dinding yang sudah menunjukan waktu pukul delapan malam.
"Sebentar lagi, mungkin. Ayo cuci kakimu" Ujarku seraya menuntunnya menuntunnya menuju kamar mandi. Kyoshiro pun mencuci kakinya lalu kugendong dan kubaringkan diatas tempat tidur.
"Kyoshiro takut ayah sakit" Ujarnya. Aku pun tersenyum seraya mengusap keningnya.
"Tenang saja, ayahmu itu pria yang kuat, kok" Jawabku. Kyoshiro tersenyum.
"Ya Kyoshiro tau. Sebenarnya Kyoshiro juga tau kalau ibu gak akan pulang dari kerja. Dulu Kyoshiro suka denger ayah sama ibu berantem. Kyoshiro gak ngerti kenapa mereka berantem, tapi kalau ayah sedih seperti itu, Kyoshiro lebih milih ibu pergi aja, biar ayah gak sedih lagi" Ujarnya menerawang. Bagai teriris silet hati ini mendengarnya. Amat sangat perih sekali. "Tapi ayah kuat, walau ditinggal ibu, Kyoshiro gak pernah liat ayah nangis. Karena itu Kyoshiro pengen jadi lelaki sekuat ayah" Sambungnya polos. Rasanya aku jadi mengerti alasan semua sikap dinginnya selama ini. Dia memendam kesedihan yang amat dalam dan berusaha setengah mati untuk tak menunjukkannya pada anak ini. Dia pasti sangat menyayangi Kyoshiro.
"Makanya belajar yang rajin, dan jadilah pria sekuat ayahmu, sayang" Ujarku sambil membetulkan letak selimutnya. Kyoshiro menganggukan kepalanya dengan antusias. "Selamat malam, sayang" Ujarku.
"Selamat malam, ibu" Ucap suara mungilnya sambil malu-malu. Aku sempat terhenyak namun sedetik kemudian segera tertidur. Rasanya hatiku dibanjiri oleh perasaan hangat ketika mendengar mulut kecilnya mengucapkan kata itu.
"Selamat malam, nak" Balasku sambil mencium lembut keningnya. Kyoshiro pun terpejam dalam alam tidurnya. Keheningan kembali menyapa, aku tersenyum kecil memandangi wajah imutnya yang tengah tertidur. Hmph, rasanya mendadak aku ingin dipanggil itu terus olehnya. Yah tapi kurasa nyaris mustahil juga, sih. Entahlah, semuanya tergantung pada Aoba
END LINA POV
AOBA POV
Dengan takut-takut kulihat print-out saldo terakhir rekening tabunganku dibuku tabungan. Jantungku berdebar kencang setiap detiknya. Apakah perjuanganku selama ini akan sia-sia belaka. Kegembiraan pun segera menyergapku ketika melihat nominal yang tercantum disitu. Oh Tuha, cukup. Aku akan menganggap ini jawaban dari doaku padaMu setiap waktu yang meminta diberikan jodoh yang mampu menerimaku apa adanya.
Dengan langkah riang aku pun berjalan pulang. Rencananya aku akan beli benda itu besok. Kalau sekarang aku sudah terlalu lelah. "Kayaknya ada yang sedang senang, nih" Celetuk suara seseorang.
"Ck, apa sih? Tidak suka lihat orang lain senang?" Tanyaku ketus pada Genma.
"Hahahah, muka baru gajian memang beda, ya" Celetuknya.
"Ini lebih baik dari itu kawan, aku akan memberikan sesuatu untuknya besok" Ujarku.
"Apa itu...?" Tanya Genma seraya menunjuk jari manisnya.
"R-A-A-H-A-S-I-A" Ujaku lalu segera berlalu pulang. Well, jangan sampai rencanaku untuk membuat kejutan baginya hancur karena mulut embernya.
.
.
.
Dengan riang aku berjalan menelusuri jalanan Konoha yang ditutupi salju. Tak perlu waktu lama hingga aku tepat berada didepan 'Konohas Jewerly'. Aku mencoba menenangkan jantungku yang bertalu-talu, kuyakinkan sekali lagi bahwa aku akan masuk ke tempat yang dipenuhi wanita ini lalu keluar secepatnya. Tapi apa aku bisa memilih desain xang tepat yang dia sukai juga pas dikantongku, ya?. Habis selama ini aku nyaris gak pernah update soal beginian. Gimana kalau ternyata pilihanku itu kuno dan dia tidak menyukainya? Gimana kalau... "Aoba?" Sapa suara yang mengacaukan pikiranku. Ketika kutolehkan kepalaku ke arah sumber suara, tampak Honoka dalam balutan mantel mewahnya.
"Oh hei, kau mau kemana?" Tanyaku berbasa basi.
"Aku mau mengambil kalung pesananku. Kau?" Tanyanya.
"Oh ng...hanya lihat-lihat saja" Ujarku sambil mengusap tengkukku berusaha menahan gugup. Entah kemunculannya ini berupa musibah atau anugrah. Menyadari kegugupanku, Honoka tersenyum tipis.
"Kau mau membelikan sesuatu untuknya?" Tanyanya tepat sasaran. Aku terpaku diam dan dia hanya terkikik pelan. "Aku akan tutup mulut, deh. Ayo masuk, aku sudah kenal dengan pemiliknya, mungkin kau akan dapat diskon khusus" Ajaknya. Ah well, mungkin tidak ada buruknya juga.
END AOBA POV
LINA POV
Dengan tergesa-gesa aku memacu langkah kedua kaki kecilku menyusuri jalanan Konoha yang diselimuti salju. Karena toko banyak pelanggan, aku harus lembur diluar shift jagaku. Selama itu pikiranku tertuju pada malaikat kecilku yang pasti sedang duduk sambil bertopang dagu dan memajukan bibirnya, suatu hal yang selalu dilakukannya setiap kali aku telat. Karena itu aku sengaja tidak membelanjakan makan siangku dan memutuskan membeli sekotak takoyaki hangat sebagai tebusan dosaku.
Ditengah jalan, tanpa sengaja kedua iris mataku menangkap sosok yang tak asing beberapa meter didepanku. Aoba? Apa yang sedang dilakukannya? Seingatku sekarang belum waktunya dia pulang dinas. Pandanganku lalu menangkap sosok wanita berbalutkan mantel meqgah yang menghampirinya. Honoka? Bukannya Aoba bilang tidak mau berurusan dengan wanita itu lagi? Hey ada apa ini sebenarnya?. Mereka terlibat perbincangan kecil lalu masuk kedalam...toko perhiasan?. Mataku terbelalak melihat pemandangan didepanku.
Niatku untul menyapa mereka kuurungkan melihat raut sumringah dari Aoba. Apa mereka rujuk? Kalau iya kenapa aku tidak mengetahuinya? Apa Aoba selama ini masih mencintainya? Apa aku bukan siapa-siapa baginya?. Ah, memikirkannya saja membuat kedua bolamataku terasa panas. Sebaiknya aku pergi secepatnya dari sini.
END LINA POV
AOBA POV
Sebuah cincin platina sederhana bertahktakan berlian biru terpampang dengan elegannya didalam kotak beludru kecil berwarna putih. Ukiran 'My Angel' Tercetak jelas disisi dalamnya. Wanita manapun pasti akan langsung luluh hatinya jika seorang pria memberikan ini pada mereka. Tapi apa Lina akan demikian? Tak kupungkiri rasa gugup menggelayutiku sekarang, membuat perutku geli. "Menurutmu ia akan menerimanya?" Tanyaku. Honoka yang tengah mengecek kondisi kalungnya menatap cincin yang tengah kupandangi.
"Aku tidak bisa menengatakan ya atau tidak, tapi aku yakin dengan pilihanmu. Kau tidak mungkin terjatuh ke lubang yang sama, kan?" Tanyanya. Aku terdiam lalu mengangguk pelan seraya tersenyum. Yeah, aku yakin dengannya.
END AOBA POV
.
.
.
NORMAL POV
Koridor apartemen yang sepi menjadi latar tempat Lina berada kini. Ia hanya termenung didepan plang pintu bertuliskan 'YAMASHIRO'. Hatinya diliputi kegundahan dan keraguan. Apa ia masuk? Atau tidak? Ia merasa perlu menenangkan hatinya melihat kejadian yang menyesakan tadi. Namun pada akhirnya jemari mungilnya memencet bel rumah. Tak lama kemudian sosok mungil membukakan pintu untuknya. "Ibuu" Sambutnya sumringah sambil memeluk erat wanita didepannya. Sejenak kegundahan Lina terlupakan, diganti dengan segurat senyuan paksaan.
"Maaf ibu terlambat. Ini untukmu" Ujar Lina menyerahkan sekotak takoyaki pada Kyoshiro. Kyoshiro menerimanya dengan senang hati.
"Terima kasih, bu" Ujarnya sumringah. Sekilas hati kecil Lina terasa tersayat mendengar panggilan yang mungkin takkan disandangnya. Namun tak banyak yang dapat dilakukannya selain tersenyum.
KYOSHIRO POV
Aku memandangi Kak Lina yang king tengah menyiapkan makan malam. Hari ini ia tak banyak bicara dan terlihat murung. Walaupun dia selalu tersenyum tiap melihatku, tapi aku tahu ada yang membuatnya sedih. Tapi aku tidak tahu apa itu. "Ibu..." Panggilku. Ia menghentikan kegiatannya dan menatapku seraya tersenyum.
"Ya sayang? Ada apa?" Tanyanya lembut.
'Ibu kenapa? Apa ibu lagi berantem ama ayah? Atau ada yang bikin ibu sedih?' Itu yang ingin aku tanyakan padanya, namun firasatku mengatakan lebih baik tak usah bilang, jadi aku cuma bilang, " Kapan makan malamnya selesai? Kyo lapar" Ujarku.
"Sebentar lagi, sabar ya" Ujarnya sambil meneruskan memasak makan malam. Aku menghela nafas, berharap apa yang membuatnya sedih bukan dariku atau ayah.
END KYOSHIRO POV
LINA POV
Makan malam sudah terhidang, namun tak ada tanda-tanda bahwa Aoba sudah sampai kerumah. Kucoba menghalau semua pikiran buruk yang dari tadi berseliweran dibenakku. Jangan pikirkan Lina, kau harus bisa kendalikan emosimu. "Aku pulang" Suara berat dari arah pintu depan membuyarkan lamunanku. Kyo melompat turun dari kursinya dan menghilang dibalik pintu dapur. Beberapa detik kemudian muncul sosok yang menghantui benakku sedari tadi.
"Maaf telat, tadi ketemu kenalan" Ujar Aoba seraya menghampiriku lalu mengecup keningku. Aku tersenyum kecut dan mengangguk. Berusaha kutekan gejolak emosi yang rasanya bisa meledak kapan saja ini. Makan malam pun berlangsung seperti biasa hingga waktunya aku pulang sesudah menidurkan Kyoshiro.
END LINA POV
AOBA POV
"Kau akan pulang sekarang?" Tanyaku. Lina mengangguk. Kugaruk tengkukku untuk menenangkan kegugupanku yang melanda. Selama perjalanan pulang dari toko perhiasan, otakku berpikir keras bagaimana cara memberikan benda ini.
"Aku, tidak akan datang lagi" Ujar Lina seketika membuatku terkejut.
"Maksudmu?" Tanyaku, berharap apa yang kudengar tadi hanya omong kosong belaka.
"Yeah well, aku tidak ingin menjadi penghalang untukmu" Lanjutnya. Penghalang? Apa maksudnya.
"Lina, jangan bercanda" Ujarku menggenggam erat tangan mungilnya namun dengan cepat ditepisnya.
"Aku tidak bercanda" Ujarnya menatapku, tatapannya terlihat serius. Lina lalu memegang pipiku dan tersenyum tipis bebarengan dengan buliran bening yang meluncur turun dari ujung matanya. "Kau dan Kyoshiro berhak untuk bahagia." Katanya. Seketika aku pun paham, dia melihatku ketika bersama Honoka tadi. Ini tidak boleh dibiarkan.
"Sayang, kau salah paham" Ujarku. Namun Lina menggelengkan kepalanya dengan cepat seakan tidak ingin mendengar apapun yang kukatakan.
"Bahagiakan dia untukku, selamat tinggal" Ujarnya. Bebarengan dengan itu Lina berbalik pergi meninggalkanku yang mematung ditempat. Selamat tinggal? Dia bilang selamat tinggal? Bohong...bohong, tolong katakan semua ini bohong.
END AOBA POV
KYOSHIRO POV
"Aku tidak akan datang lagi" Kata-kata Kak Lina membuat mataku yang sudah setengah terpejam. Aku menyingkirkan selimut lalu berjalan menuju pintu yang sedikit terbuka. Dari situ terlihat ayah dan Kak Lina tengah berbicara serius.
"Maksudmu?" Tanya ayah. Ya, apa maksud Kak Lina? Kenapa ngomong gitu?. Aku lihat wajah ayah yang terlihat kaget.
"Yeah, aku tidak ingin menjadi penghalang untukmu" Ujar Kak Lina. Penghalang? Kenapa? Apa yang menghalangi?
"Lina, jangan bercanda" Ujar ayah serius. Kulihat ayah berusaha menggenggam tangan Kak Lina namun Kak Lina menolaknya.
"Aku tidak bercanda" Kata Kak Lina. Ayah terdiam, aku ingin menangis rasanya melihat mereka berdua bertengkar begitu. Kak Lina memegangpipi ayah, dari sudut matanya kulihat air matanyamenetes jatuh. Kak Lina...Kak Lina kenapa?. "Kau dan Kyoshiro berhak untuk bahagia" Lanjutnya. Bahagia? Kyoichiro mana bisa bahagia ngeliat Kak Lina nangis gitu.
"Sayang, kau salah paham" Ujar Ayah. Namun Kak Lina menggelengkan kepalanya kencang-kencang.
"Bahagiakan dia untukku. Selamat tinggal" Ujarnya lalu ia berbalik dan pergi. Pintu sudah tertutup namun kulihat ayah masih terdiam ditempatnya berdiri. Bibirku bergetar dan mataku terasa panas, Kak Lina, jangan pergi!. Kulihat ayah yang menutup kedua matanya dengan satu telapak tangannya. Urat-uratnya terlihat jelas dipelipisnya. Tangan satunya memegang sesuatu disaku celananya. Ia lalu membanting sesuatu itu ke lantai hingga memantul kesana kemari. Ayah lalu pergi kekamarnya dan membanting pintu kamarnya.
Dengan takut-takut aku keluar dari kamarku dan melihat benda apa yang dibanting ayah. Benda itu berbentuk kotak beludru kecil berwarna putih. Kucoba membuka isinya dan terlihat sebuah cincin putih dengan batu biru didalamnya. Ayah akan memberikan ini sama Kak Lina? Ayah mau ngelamar Kak Lina?. Aku pernah liat di acara TV kalau ada laki-laki ngasih cincin sama perempuan, artinya dia mau ngelmar si perempuan. Tak bisa kutahan senyuman untuk tidak mengembang diwajahku, Kak Lina akan benar-benar jadi ibuku?. Sambil berlari kecil aku menuju pintu kamar ayah mau mengembalikan cincin ini supaya ayah memberikannya sama Kak Lina.
Namun suara seperti tangisan dari dalam membuatku terdiam. Ayah...menangis? Kembali kuingat bagaimana dia dan Kak Lina berpisah tadi. Ayah pasti sayang sekali sama Kak Lina. Dulu waktu pisah sama ibu, aku gak pernah ngedenger ayah nangis. Dan sekarang dengan telingaku sendiri aku mendengar ayah nangis. Aku berlum pernah melihat ayah sehancur ini, lebih hancur daripada ketika ibu menginggalkan ayah. Kueratkan geggamanku pada kotak cincin. Kalau ayah tidak bisa memberikan ini sama Kak Lina, biar aku yang memberikannya.
END KYOSHIRO POV
AOBA POV
Entah sudah sebasah apa meja kerjaku sekarang akibat air mataku yang terus bercucuran sedari tadi. Hatiku serasa dihujam ribuan pedang tak kasat mata. Ribuan kali lebih sakit dari yang sebelumnya. Hanya sampai sini? Apa aku benar-benar akan kehilanganmu, Lina?. Kalau kau pergi, kepada siapa aku dan Kyoshiro akan berpegangan?.
'BRUK' Suara pintu ditutup memecah pikiranku. Kuusap air mata yang bercucuran dan keluar, apa Kyoshiro terbangun?. "Kyoshiro, maaf apa kau..." Perkataanku mengambang mendapati tak ada siapapun disana. "Kyo..." Panggilku, namun tak ada jawaban. Kubuka pintu kamarnya dan tidak tampak sosoknya, hanya kasur kosong dengan selimut yang terkapar dilantai. "Kyoshiro" Panggilku lebih kencang, melihat keseluruh ruangan rumah namun nihil. Kecemasan segera melandaku. Apa tadi ada penculik yang masuk dan dia diculik?. Kulihat ke rak sepatu dan tak kudapat sepatu miliknya. Shit! Kemana dia semalam ini?. Cepat-cepat kukenakan sepatuku dan menyusul keluar. Oh Tuhan, tolong jaga dia.
END AOBA POV
LINA POV
Kulemparkan gulungan tisu yang sudah tak karuan keatas tumpukan tisu lain yang sudah menggunung diatas tempat sampah. Aku tahu aku memang bodoh memutuskan secara sepihak dan tidak mendengarkan penjelasannya, tapi aku pun tidak mau sakit hati lebih jauh. Aku sudah terlalu dalam mencintainya dan tidak sanggup mendengar dia akan kembali pada Honoka. Kuremas ulu hatiku yang semejak tadi terasa sakit sekali. Oh Tuhan, apa akan ada obat untuk menyembuhkan rasa sakit yang tak terlihat ini?.
'TOK TOK' Suara ketukan membuatku tersentak. Cepat-cepat kuusap sisa air mataku yang masih menganak sungai lalu mencuci mukaku. Setengah berlari aku membukakan pintu takut membuat tamuku menunggu, namun aku pun tak habis pikir siapa yang bertamu semalam ini?. Ketika membukakan pintu, tampak sosok kecil Kyoshiro masih mengenakan piyama dengan nafas tersengal.
"Kyoshiro, ya Ampun..." Ujarku terkejut. Kutarik dia masuk kedalam namun baru sampai lorong, Kyoshiro berhenti menolak untuk masuk. "Kyo, ada apa?" Tanyajy heran.
"Kenapa ibu bilang selamat tinggal sama ayah?" Tanya suara cemprengnya. Hatiku mencelos mendengar pertanyaannya. Jadi pembicraan kami terdengar tadi? Padahal aku sudah berusaha meminimalisir volume suaraku.
"Kyo sayang, ini urusan orang dewasa. Kau tidak seharusnya..." "Kyo gak mau ayah nangis!" Ujarnya setengah berteriak. Aku terhenyak, Aoba menangis?. Tak lama kemudian Kyo pun ikut menangis. "Ayah nangis karena Kak Lina mau ninggalin ayah sama Kyo...Kyo...Kyo gak mau...ditinggalin Kak Lina..." Isaknya. Melihatnya yang menangis aku pun terenyuh. Aku berjongkok dan merengkuh tubuh kecilnya, namun lagi-lagi Kyo menolak pelukanku dan mendorongku. Ia mengusap air matanya dan menatapku dengan mantap.
"Ayah pengen ngasih ini sama Kak Lina, ayah pengen ngejadiin Kak Lina ibu dari Kyo" Ujarnya seraya menyerahkan kotak kecil beludru berwana putih padaku. Mataku terbelalak dan aku tidak dapat menyembunyikan keterkejutanku. Kuterima kotak itu dan membukanya, tampaklah sebuah cincin putih bertakhtakan batu safir biru, baru kelahiranku. "Kak Lina mau kan jadi ibunya Kyo dan gak akan ninggalin Kyo sama ayah lagi?" Tanyanya seraya menatapku dengan kedua bola mata hitamnya.
Kata-katanya, walau meluncur dari mulut seorang anak umur lima tahun, namun dapat kurasakan ketulusan dan keseriusan dari setiap huruf yang keluar dari mulut mungilnya. Aku pun menganggukan kepalaku tanpa ragu. Senyum lebar merekah menghiasi wajah imutnya. Kyoshiro langsung memelukku erat sambil mengucapkan "Terima kasih, ibu" Ujarnya. Mendadak panggiln itu menjadi panggilan paling indah yang pernah kudengar.
"Kyoshiroo!" Sahut suara berat dari arah pintu memancing atensiku dan Kyoshiro. Disana tampak Aoba dengan tampang berantakan dan nafas terengah-engah. Wajahnya menunjukan ekspresi lega saat dia melihat Kyoshiro ada disitu.
"Kau tidak pamit pada ayahmu?" Tanyaku dan Kyoshiro tersenyum tersipu. Ia melepaskan pelukannya dariku lalu menaril tangan ayahnya mendekat kearahku. Kini kamu hanya berjarak beberapa senti namun tak ada satu katapun yang keluar dari mulut kami. Aku terlalu gugup untuk memulai pembicaraan mengingat keadaan kami berpisah terakhir tidak enak dan Aoba pun tampaknya tidak tahu apa yang harus ia bicarakan.
"Ck ayah, cepet bilang dong kalau ayah mau ngejadiin Kak Lina jadi ibu Kyo. Tenang aja, tadi Kyo udah nanya duluan, kok. Katanya Kak Lina mau" Ujar Kyoshiro tak sabar.
"Kyooo" Tegurku. Entah sudah semerah apa wajahku sekarang. Aoba mengangkat sebelak alisnya. "Aku bisa jelaskan" Ujarku cepat-cepat. Aoba mengangkat telapak tangannya, memintaku untuk tidak berbicara lagi. Ia meraih kotak cincin ditanganku, mengambil isinya lalu meraih tangan kananku.
"Padahal seharusnya aku yang melamarmu, malah keduluan" Omelnya kesal seraya memasangkan cincin pada jari manisku. Aku tersenyum bahagia, tak dapat kubendung air mataku ketika beda itu tersemat dijemariku.
"Sudahlah, maaf aku tidak mendengar pejelasanmu. Aku...aku hanya..." Perkataanku terpotong karena Aoba menaruh telunjuknya tepat dibibrku.
"Sudah cukup, Aku mencintaimu...sangat...jangan tinggalkan kami" Ujarnya terdengar memohon. Aku mengangguk seraya mengecup pipinya. Aoba tersenyum padaku, ia memandang lurus kearahku. Perlahan jarak diantara kami kian menipis daaan...
"Maluuuuu!" Suara Kyoshiro seketika membuat kami tersadar ada satu orang lagi selain kami disini.
"Ck Mengganggu" Decak Aoba kesal sementara aku terkikik geli.
"Dia anakmu, sayang" Tegurku menyentil ujung hidungnya.
"Anak kita" Lanjutnya. 'BLUSH' hanya dengan dua kata itu dia sukses membuatku merona dengan hebohnya. Aoba tersenyum puas melihat hasil dari perbuatannya padaku. Ia meraih kedua tanganku dan mengecupnya. "Kalau segini saja kau sudah memerah begitu, bagaimana dengan malam pertama kita nanti?" Ujarnya. Mataku terbelalak, Kyo melihat padaku dan Aoba bergantian.
"Malam pertama? Apa itu?" Tanya Kyoshiro polos. Aoba menyeringai padaku, aku melotot padanya. Jangan sampai kepolosan Kyoshiro hancur karena ulah ayahnya yang ternyata mesum ini.
THE END
Huuraaaay...sampailah kita dipenghujung cerita ini :D
Sejujurnya entah darimana dapet wangsit buat bikin cerita dengan tema macam begini. Tadinya settingnya mau Genma-Aerith tapi setelah dipikir-pikir Aoba lebih dapet sosok kebapakannya daripada Genma #digetok Genma.
Anyway Author mau ngucapin terima kasih buat readers yang sudah memberi review maupun membaca cerita sederhana dengan berjuta kekurangan ini :'), Gomen kalau endingnya kurang greget menurut para readers, author udah meras keringat membnting tulang #lebay demi membereskan cerita ini
Oke terakhir RR please? review anda semangat buat saya :3 #peyuk readers satu-satu
