Mumut...maap ya Chapter 7 nya kelamaan...
buat para readers yang udah marah marah maaf juga... author satu ini emang ngga komitment
author juga ngerasa update dari satu chap ke chap berikutnya lamaaaa banget
udah gitu chapnya pendek pendek lagiii
tapi sekali lagi author minta maaf ya...
miyanata
gomen-nasai
sorry
sorry sorry
Sorry Sorry Sorry Sorry
Naega naega naega meonjeo
Nege nege nege ppajyeo
Ppajyeo ppajyeo beoryeo baby
*geplak*kok malah nyanyi?*
maaf maaf maaf keceplosan hehhehe... udah deh dari pada kepanjangan mendingan cekidot deh
READ AND REVIEWS
ya...
Disclaimer : STILL MASHASHI KISHIMOTO
BUT THIS STORY IS MINE !
danger: AU, OOC, Gaje abiss, TYPO(s), ngga nyambung, tapi yang nulis keren
#NARSIS
CHAPTER 7
"Jadi kalian teman sekelas Naruto?" Tanya Jiraiya pada Hinata, Chouji dan Shikamaru.
"Ya" jawab Hinata lirih, jelas sekali ia takut terhadap Jiraiya.
"Wah naruto, tak kusangka kau pintar memilih teman… kau mewarisi bakatku untuk menarik gadis cantik" Jiraiya memukul pundak Naruto dengan keras sebagai tanda bangga dan tertawa terbahak-bahak "buahahahahaha…"
"ah, tidak bukan begitu!" tiba-tiba saja Hinata berteriak. Ia terlihat kikuk, "engg, bukan begitu…. Aku… dan Naruto… itu … itu…" Hinata salah tingkah. Ia memainka jarinya tanda gugup.
"Ahh.. sudah lah… aku akan menyiapkan makanan, kalian bicara saja dulu ya" ujar Jiraiya sembari melangkah untuk meninggalkan mereka berempat diruang tamu.
"Apakah aku perlu membantu Jiraiya –san?" tiba-tiba Chouji besuara, Shikamaru melihatnya dengan tatapan melarang seperti sudah bisa menebak isi kepala Chouji.
"Ah, tidak usah, kalian disini saja. Mengobrol lah. Jika sudah siap aku akan langsung menghidangkannya. Sebetulnya aku hanya menyiapkan makanan untuk dua orang, aku tidak menyangka akan kedatangan tamu sebanyak ini, tapi tak apalah, sudah lama juga aku tidak masak. Baiklah, aku ke dapur" Dengan langkah yang panjang Jiraiya pergi. Meninggalkan kekakuan diantara Hinata dan Naruto.
"Hem.. jadi kalian, bagaimana bisa sampai kesini?" Tanya Naruto memecah kebisuan.
"Hinata yang mengajak kami, katanya ingin membantu humff.. huff.. bhujdkhhfff…." Chouji yang sedang menjelaskan kepada Naruto terhenti ucapannya oleh hinata yang membekap mulut Chouji. Dengan wajah yang merona ia menatap Naruto.
"Benarkah? Ingin membantuku? Waaahhh baik sekali. Kebetulan aku sedang kesulitan dalam menguraikan salah satu rumus."
Mendengar penjelasan Naruto, Hinata yang awalnya gugup agak sedikit rileks. " Naruto kun tidak marah?" tanyanya irih
"Kenapa aku harus marah? Sebaliknya aku malah merasa senang. Seperti memiliki teman, melihat kalian datang kemari dan mau membantuku. Terima kasih ya"
"Naruto-kun menganggap ku teman?" Hinata menunduk dan berbicara semakin lirih
"Osh ! Tentu saja !"
Wajah Hinata semakin merona, dengan perlahan ia menatap wajah Naruto dan ia menemukan kejujuran pada mata biru yang indah itu, semburat senyum yang manis terukir di wajahnya.
"Jadi, rumus yang mana yang membuat mu bingung Naruto?" tiba tiba Shikamaru memecah keheningan. Dalam hatinya ia juga terharu. Entah bagaimana rasa salut terhadap Naruto tumbuh begitu saja. Dan mendengar Naruto menganggapnya teman mau tak mau menggembirakannya.
"ha? Oh, tunggu sebentar buku ku ada di kamar, kalian minum saja dulu" dengan cepat Naruto berlari menuju kamarnya di lantai atas. Ia tak ingin membuat teman temannya menunggu. Tiba-tiba saja tumbuh semangat di dalam hatinya. Semangat untuk bertahan. Semangat untuk menjadi teman yang baik. Semangat untuk mempertahankan teman barunya.
ooooOOOOOoooo
~SHIKAMARU~
Hahh, gadis Hyuuga ini memang aneh, tak kusangka ia sangat senang ketika Naruto menyebutnya sebagai teman. Ketika Chouji mengajakku untuk membantu Naruto aku agak malas. Tapi ketika aku mengetahui gadis Hyuuga ini yang merencanakan aku jadi penasaran. Apakah ini termasuk rencana untuk menjahili Naruto atau dia memang tulus.
Bukannya aku berprasangka buruk. Tetapi gadis Hyuuga itu sepupu Neiji, otak dari kejahilan itu. Dan dia juga pacar si pantat ayam Uchiha itu. Jadi mungkin saja ada udang dibalik batu. Walaupun aku juga agak sanksi dengan pemikiranku ini.
Tapi yah,, ternyata dia memang tulus. Dan mau tak mau aku jadi terharu juga. Kenapa aku bisa menjadi sentimentil begini?
Pasti pengaruh dorama dan drama korea yang sering ibuku tonton. Aduh.. wanita itu memang aneh. Ibu sangat semangat sekali mengomentari isi drama nya. Dan jika penyangan dorama bertepatan dengan penayangan sepak bola, pasti ayahku yang mengalah. Padahal dia suka sekali sepak bola.
Apakah istriku kelak akan seperti itu juga? Aduh, merepotkan sekali. Tapi ada satu hal, ada satu hal yang aku pertanyaan sejak tadi. Apakah ada sesuatu diantara Naruto dan Hinata? Masalahnya,melihat Hinata, maka wajah Hinata akan memerah. Dan anehnya lagi, jika Hinata menatap Naruto, wajah Hinata malah semakin memerah. Seperti orang yang sedang jatuh cinta.
Eh, tunggu… jatuh cinta?
Jangan-jangan….
Hinata menyukai Naruto!
Kenapa tak terfikirkan olehku sebelumnya? bukankah hanya Hinata yang membela Naruto saat rencana bully akan dilakukan? Ya gadis Hyuuga ini memang aneh !
Tapi bagaimana dengan si pantat ayam Uchiha? Apakah mereka sudah berpisah. Rasanya tidak mungkin. Tadi disekolah saja mereka masih terlihat bersama. Aduh, bagaimana jika Pantat Ayam Uchiha mengetahuinya? Apakah ia akan Memarahi Hinata? Ataukah ia akan membunuh Naruto?
Astaga! Apakah tadi itu SHIKAMARU yang berbicara? Ini tidak seperti diriku! Kenapa aku bisa berkata seperti ini? Huh ini pasti pengaruh dorama dan drama korea yang selalu ditonton oleh ibuku!
Ibu.. jangan jadikan anakmu korban sinetron!
oooooOOOOOOooooo
~HINATA~
"Jiraiya – san, kami permisi dulu" ujarku lamat-lamat, aku masih sedikit takut dengan pria ini. Kudengar dari Naruo, ia walinya. Orang tuanya telah lama mninggal. Kasihan Naruto….
"Kenapa? Cepat sekali!" jawab Jiraiya-san cepat
"Sudah malam, kami khawatir orang tua kami akan cemas" dengan cepat Shikamaru berbicara sebelum aku sempat menjawab.
"Oh, baiklah. Sering seringlah kemari, Naruto ini sangat kesepian. Akan sangat menyenangkan jika teman mengujungi." Ia melambai pada kami. " Hati-hati ya. "
Kami balas melambai. Lalu kami berjalan menuju halte bus. Naruto – kun mengantar kami. Shikamaru dan Chouji berjalan di depan dan dibelakang Naruto kun dan aku berjalan bersisian. Aku mencuri pandang untuk melihat wajahnya. Pantulan sinar mentari sore memantul indah di wajahnya. Sepertinya ia menyadari perbuatanku !
Dengan cepat aku menatap lurus kedepan.
"Dimana rumahmu Hinata?" Tanya Naruto-kun padaku. Aku sempat terperangah.
"Anu… itu.. di pinggir jalan" jawabku cepat tampa berfikir… tak lama kemudian aku baru sadar dengan apa yang ku katakana. Ya ampun, aku pasti terlihat bodoh.
"Haaaahahahahaha" Naruto-kun tertawa. Pasti dia menertawakan kebodohanku. Ya ampun. Aku sangat malu. Aku bisa merasakan wajahku menghangat. Pasti wajahku semerah tomat.
"Kau ini lucu sekali Hinata. Hahahaha….."
"Bu..Bukan begitu.. aku.. "
"Sudahlah, tidak usah difikirkan. Eh ayo cepat, nanti kau kemalaman!" Naruto – kun memotong ucapan ku dan mengajakku untuk mempercepat langkah kami. Dengan sepenuh hati aku mengikutinya. Dan aku akan bertekad untuk terus melakukannya.
ooooOOOOOoooo
"Hinata, kemana saja kau?" saat akan memasuki kamar aku dikagetkan oleh suara keras Neiji. Aku sangat yakin ia sedang tegak dengan ajah datar namun dengan padangan mata yang menusuk. Walaupun saat ini aku sedang membelakanginya.
Aku membalikkan badanku menghadapnya. "Aku pergi bersama temanku" dengan suara bergetar aku menjawab pertanyaannya.
Aku tidak yakin ia mempercayaiku. Dan dia memang tidak akan pernah mempercayaiku. "Jangan bilang kau bersama si Uchiha itu." Dengan nada bicara yang sangat dingin dan penekanan pada kata Uchiha. Entah mengapa, Neiji sangat membenci Sasuke. Padahal dia sangat hormat pada Itachi, kakak sasuke.
Hamper saja aku mengatakan aku tidak pergi bersama Sasuke. Untuk saja tidak. Jika aku mengatakannya, Neiji akan terus bertanya dan aku yakin aku tidak cukup bisa untuk menyembunyikan fakta bahwa aku pergi menemui Naruo. Dan ujung ujungnya aku yakin Naruto akan lebih dikerjai lagi. Ini tidak boleh terjadi !
"Aku pergi dengan Sasuke-Kun. Aku lelah. Aku ingin tidur. Selamat malam" dengan cepat aku masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Jantungku masih berdetak cepat.
Seusai mandi dan berganti dengan baju bersih. Aku berbaring menuju tempat tidur. Aku mengingat kembali kejadian hari ini. Semuanya terekan jelas di ingatanku.
Diawali dengan pertemuan singkatku dengan Naruto di taman belakang, saat itu aku sangat kaget melihatnya muncul dari jendela. Sebenarnya saat itu aku sedang berjaga-jaga. Berjaga- jaga untuk mengetahui apa yang akan dilakukan neiji dan teman-temannya kepada Naruto. Aku tau mereka akan mengerjai Naruto. Tapi aku tidak menyangka mereka akan menguncinya di toilet sekolah. Sungguh jahat!
Lalu Naruto menyapaku. Karna aku sangat terkejut. Apalagi ia mengajakku berbicara. Aku masih ingat ucapan pertamanya padaku.
" Hei, apa yang kau lakukan? Siapa namamu?"
Setelah ia mengatakan kalimat itu, aku langsung berlari. Aku tidak bisa menahan malu. Yang membuatku kaget adalah kemunculannya dikelas secara tiba-tiba. Sangat bertepatan dengan Kakashi sensei yang bertanya padaku mengenai keberadaan Naruto-kun. Dia seperti menyelamatkanku saat itu. Terus terang aku tidak tahu harus mengatakan apa.
dan sampai saat ini aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Apa yang kurasakan pada Naruto – kun?
Aku merasa perasaan ku padanya sangat berbeda. Belum pernah aku sangat peduli pada sesuatu. Belum pernah aku melakukan sesuatu yang berguna dengan tanganku sendiri. Aku tidak pernah mandiri.
Namun munculnya Naruto membawa perubahan yang sangat besar padaku. Aku yang sebelumnya tidak pernah kemanapun tanpa Sasuke, bisa pehi tanpa Sasuke. Aku yang selama ini selalu bergantung pada Sasuke bisa menemukan alamat Naruto tanpa bantuan siapapun. Ini merupakan pestasi bagiku. Bahkan aku yang selama ini tidak prnah berbohong bisa berbohong 2 kali berturut-turut pada hari yang sama! Pertama pada Sasuke dan kedua pada Neiji.
Sungguh naruto membuat diriku menjadi Hinata yang berbeda. Naruto juga yang membuatku memiliki teman lain selain Sasuke. Selama ini ruang lingkup pergaulanku sangat terbatas. Hanya Sasuke dan Neiji. Terkadang Ten ten. Itupun jika Ten ten menanyakan keberadaan Neiji.
Tapi, karena ingin membantu Naruto aku jadi memiliki teman baru. Shikamaru, Chouji dan tuan Jiraiya. Jika dia bisa dimasukkan dalam kategori teman ku. Tapi tidak masalah. Tuan Jiraiya itu juga kelihatan baik. Walaupun ada yang aneh padanya.
Aku akan selalu mengingat hari ini. Ini adalah babak baru kehidupan seorang Hinata. Seorang Hyuuga Hinata.
Tapi ada satu hal yang kusesali. Yaitu kebencian Sasuke – kun pada Naruto – kun. Entah mengapa Sasuke – kun seperti itu. Siang ini saja saat berpapasan dengan naruto-kun di pintu saat sedang menarikku keluar saja aura permusuhan sudah terlihat jelas diantara mereka. Apapun yang terjadi aku akan membuat mereka menjadi teman. Yang harus kulakukan adalah menemukan cara yang tepat.
Hoaamm… lelah sekali. Aku akan terlelap sebentar lagi. Naruto – kun. Selamat Tidur….
ooooOOOOOoooo
~SASUKE~
Pagi ini aku akan meminta kejelasan dari Hinata. Semalaman aku memikirkan masalah ini, tapi yang kudapatkan malah kebingungan.
Kupacu mobil ku semakin cepat. Aku tak sabar bertemu dengan Hinata. Tapi tiba-tiba ada seorang wanita melintas, dan mobilku dalam keadaan kecepatan tinggi. Aku menekan klakson sekuat-kuatnya, namun wanita itu seperti tidak mendengar. Dengan kesal aku mengerem dengan sekuat tenaga.
Namun utung tak dapat diraih. Aku tak berhasil membuat mobil berhenti tepat pada waktunya. Wanita itu tersenggol sedikit body mobilku.
"SHIT!" geramku. Wanita itu sedang tersungkur di jalanan. Untung saja suasana di sekitar sedang sepi. Dengan amarah yang memuncak aku keluar dan berniat untuk memarahi wanita itu. Beraninya dia membuang waktuku. Aku harus segera bertemu dengan Hinata!
"KAU PUNYA MATA TI…dak…"
Aku terkaget melihat wanita itu. Dia…
"Sakura"
Aku memanggilnya. Dia terbaring dalam keadaan pingsan. Aku menghampirinya dan menggoncang tubuhnya. Dan terus memanggil namanya.
"Sakura… hei Sakura…. Bangun!"
Aku semakin panik ketika dia tidak bereaksi. "Hei… Sakura..Bangunlah.."
Dia masih tetap tidak bereaksi. Dan tiba-tiba tubuhku reflek menggendongnya dan memasukkannya kedalam mobil. Mendudukkannya di kursi depan. Aku sempat merutuk dalam hati kenapa tidak membawa mobil BMW ku saja. Mobil yang kugunakan saat ini adalah mobil sport 2 kursi. Akan lebih memudahkan dalam keadaan seperti ini untuk menggunakan mobil 4 kursi. Aku bisa membaringkannya di kursi belakang. Ukan seperti saat ini.
Kemudian aku memacu mobil menuju rumah sakit terdekat. Walaupun mobilku ini mobil sport keluaran terbaru. Tetapi aku tidak menggunakan GPS. Bagiku jika terlalu tergantung pada teknologi, itu akan melemahkan kinerja otak kita. Dengan mengandalkan ingatanku aku mencari rumah sakit.
Sesekali aku melihat kea rah Sakura. Jelas dia akan berangkat ke sekolah. Tapi ada satu hal yang ganjil pada Sakura. Apa ya? Ha aku tahu. Dia tidak menggunkan pin sebesar tutup mug yang terdapat fotoku. Biasanya ia akan memasangnya di bajunya. Tapi aku tidak melihatnya.
Sepertinya ia srius dengan ucapan untuk tidak akan membiarkanku bahagia. Maaf kebahagianku tidak berada di taganmu nona Sakura.
tapi, ketika aku menatap wajahnya untuk kesekian kalinya, aku melihat tanda-tanda ia akan sadar. Dan tiba-tiba saat aku masih menatap wajahnya, ia membuka matanya dan pandangan kami saling beradu.
Ia menatapku dengan pandangan nanar…
TO BE CONTINUE...
REVIEW PLEASE
