Pagi yang cerah dengan matahari yang bersinar terang dilangit. Namun kecerahan pagi itu tak lantas sama dengan disebuah kediaman mewah yang berada ditengah-tengah kota.
Pagi yang seharusnya disambut dengan suasana riang gembira kiranya tak berlaku disana. Suasana hening juga dominan mencekam rupanya menjadi penyambut pagi itu.
Jika pada pagi-pagi biasanya kediaman itu sudah terlihat suram karena pemiliknya tak pernah menampakan batang hidungnya selama dua bulan lamanya dan membuat istrinya uring-uringan. Maka pagi kali ini berbeda. Nyonya besar kediaman itu datang setelah tepat dua bulan kepergiannya ke negeri sakura.
Yang membuat seluruh penghuni rumah mewah itu bungkam adalah bagaimana raut tegang dari sang nyonya besar ketika tak mendapati putra tunggalnya ditempat. Ia hanya mendapati menantunya sendirian yang menatap takut kearahnya.
"Jadi sudah dua bulan Jongin tidak pulang?"
Wanita dengan umur setengah abad itu mengeluarkan suara tenangnya yang menakutkan. Sedang menantunya hanya mampu tertunduk sembari menganggukan kepalanya.
"Iya ibu, Jongin tidak pulang selama dua bulan ibu pergi."
"Dan kau tidak mencarinya?"
Cepat-cepat Chaeyeon mengangkat kepalanya lalu menggeleng dengan keras. "Sudah. Aku sudah mencoba mencarinya dikantor dan setiap aku kesana reseptionis selalu berkata jika Jongin tidak sedang berada ditempat. Jika aku memaksa masuk maka para penjaga akan menahanku, mereka bahkan tidak mengindahkan jika aku adalah istri Jongin."
Nyonya Kim memejamkan matanya pelan. Wanita tua itu menyandarkan bobot tubuhnya kesandaran sofa ruang keluarga istananya. Tubuh tuanya lelah karena perjalanan dari Jepang ke Korea. Dan rasa lelah bercampur amarah ketika mendapati fakta jika putra semata wayangnya tidak pulang kerumah dalam jangka waktu lama.
Ia bisa mencium sesuatu yang mencurigakan disini. Terlebih untuk putranya, Nyonya Kim meresa anak lelakinya itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Ia sangat yakin akan hal itu.
"Lalu, selain dikantor kau tidak mencoba menemuinya atau mencarinya ditempat lain?"
"Aku sudah mencoba mencari ditempat sekertarisnya, Kyungsoo. Namun ia juga tidak berada disana bu. Ia sudah pindah dari apartemennya sejak dua setengah bulan yang lalu."
Nyonya Kim mengernyit. Matanya yang tadi tertutup ia buka guna menatap menantunya.
"Apa yang kau maksud dengan Kyungsoo? Kenapa kau mencari Jongin disana?"
Chaeyeon menggigit bibir bawahnya. Wanita itu ragu dengan pikirannya yang menyuruhnya untuk menceritakan masalah ini ke mertuanya. Ia hanya tidak ingin dianggap tidak mampu mengurus suami. Tapi... ia juga tidak bisa memendam masalah ini sendiri dan menunggu waktu yang tepat untuk membalas semuanya.
"Ibu maaf, sebenarnya Jongin dan Kyungsoo memiliki hubungan yang lebih dari atasan dan bawahan dibelakang kita."
Dan Nyonya Kim semakin mengernyitkan dahinya tak mengerti.
After The Party
(Chapter 7)
"Semuanya mulai terbuka dari sini..."
Hoekkkk~
Jongin langsung terjaga dari tidurnya ketika mendengar suara-suara dari arah kamar mandi. Lelaki dengan tinggi 6 kaki itu langsung bangkit dan berlari menuju asal suara berisik itu.
Ketika membuka pintu kamar mandi, ia bisa melihat kekasihnya tengah berjongkok didepan closet sembari membutahkan seluruh isi perutnya. Dengan khawatir lelaki itu menghampiri kekasihnya lalu membantu memijat tengkuk wanitanya. Ia meringis ketika melihat bagaimana wajah cantik itu terlihat begitu pucat.
"Sudah?" tanya nya lembut. Sedang Kyungsoo yang masih lemas hanya bisa mengangguk kecil sembari menyandarkan kepalanya dilengan kokoh Jongin.
Jongin yang tidak tega lalu membungkukkan badannya sebelum mengangkat Kyungsoo, menggendong Kyungsoo dengan lengan-lengannya.
Ia melangkah perlahan karena tidak mau mengusik Kyungsoo yang menutupkan matanya. Ia tahu, wanitanya itu lelah. Jadi setelah sampai didepan ranjang keduanya, Jongin membaringkan Kyungsoo perlahan. Menurunkannya dengan hati-hati seolah Kyungsoo akan pecah jika diberi perlakukan dengan kasar.
Ia membenarkan selimut Kyungsoo dan bermaksud beranjak pergi namun tertahan karena lengannya yang ditahan oleh sebelah tangan Kyungsoo.
"Mau kemana?" tanyanya masih dengan suara serak. Jongin kemudian duduk menyamping ngusap helaian indah milik Kyungsoo. Ia tersenyum tampan ketika Kyungsoo menatap lekat kearahnya.
"Hanya ingin turun sebentar."
Kyungsoo menggeleng, seolah melarang Jongin untuk beranjak dari sebelahnya.
"Jangan pergi. Temani aku disini, aku ingin tidur sembari memelukmu."
Apa Jongin bisa berkata tidak jika Kyungsoo memintanya dengan mata indahnya yang bersinar cantik? Jelas lelaki itu tak bisa berkutik dan berakhir menuruti kemauan Kyungsoo. Ia mengambil tidur tepat disebelah wanitanya. Kemudian ia menarik Kyungsoo kedalam pelukannya dan wanita itu akan masuk lebih dalam kedalam dekapannya.
Hal ini sudah terjadi kurang lebih sejak dua bulan lalu dan Jongin sudah terbiasa dengan Kyungsoo yang seperti ini. Toh Kyungsoo menjadi seperti ini buka karena perbuatannya. Kyungsoo hamil juga anaknya, jadi Jongin merasa ia lah yang harus paling tau kondisi Kyungsoo.
Ah, apa Jongin sudah memberi tahu jika Kyungsoo sudah hamil selama 10 minggu?
Dua bulan lalu tepatnya setelah malam perminta maafan dari Jongin, ketika mereka baru pindah dihari pertama dan hanya berniat berjalan-jalan disekeliling rumah. Tiba-tiba saja Kyungsoo pingsan dan hal itu membuat seluruh orang panik terlebih Jongin.
Mereka bahkan langsung melarikan Kyungsoo kerumah sakit takut jika terjadi apa-apa dengan wanita bermata bulat itu. Namun betapa kagetnya Jongin ketika dokter mengatakan kekasihnya tengah mengandung kurang lebih selama dua minggu.
Jongin tergugu ditempatnya. Bingung harus senang atau sedih karena ia ragu jika anak yang dikandung Kyungsoo adalah anaknya. Namun ketika matanya bersirobok dengan mata bening Kyungsoo. Jongin langsung yakin jika janin yang dikandung Kyungsoo itu adalah buah cinta mereka.
Ia dan Kyungsoo baru berpisah selama seminggu dan sebelum itu hanya Jongin yang menyentuh Kyungsoo. Ia yakin karena ia dan Kyungsoo hampir melakukannya setiap hari dan tidak mungkin orang lain melakukannya juga kepada Kyungsoo.
Jongin tersenyum ketika mendapati dengkuran halus Kyungsoo. Wanitanya itu benar-benar terlihat semakin cantik dengan wajah tenang seperti itu. Diam-diam ia mengecup kening Kyungsoo dengan sayang.
"Tidur yang nyenyak sayang. Jangan terlalu lelah."
.
.
.
.
.
Ketukan sepatu itu jelas terdengar nyaring. Seluruh pegawai yang tengah berada dilobby perusahaan itu menunduk memberikan hormat ketika seorang wanita paruh baya berjalan melewati mereka. Aura yang ia keluarkan terasa mencekam membuat seluruh orang merasa tunduk karenanya.
Bahkan reseptionis yang tadi berdiri dengan anggunnya kini merasa kakinya begitu lemas ketika ia berhadap-hadapan langsung dengan junjungan tertinggi dari perusahaan tempatnya bekerja.
Reseptionis itu hendak menyapa sekedar basa basi menanyakan urusan apa yang membawa wanita tua itu datang kemari. Namun pertanyaannya itu harus ia telan kembali ketika wanita tua itu lebih dulu membuka suara kepadanya.
"Apa anakku berada ditempat."
Takut-takut reseptionis itu mengangguk dengan cepat. Bibirnya bahkan terlalu kelu untuk menawari ibu dari pewaris perusahaan ini untuk diantarkan keruangan putranya. Jadi ia membiarkan wanita itu melenggang melewatinya dan ia baru bisa bernafas lega.
"Syukurlah~"
Kembali kepada nyonya Kim yang melangkahkan kakinya dengan percaya diri. Ia bahkan langsung naik menggunakan life khusus untuk membawanya ke lantai paling atas –tempat dimana putranya tengah bekerja.
Tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan salam. Wanita tua itu langsung masuk kedalam ruangan sang Direktur. Ia membiarkan putranya yang tengah sibuk dengan kertas-kertas ditangannya itu mendongak kaget ketika melihat kedatangannya.
"Apa ibu mengganggu pekerjaanmu Jongin?"
Jongin yang tersadar sedetik kemudian langsung berdiri dan menghampiri ibunya untuk memberikan pelukan.
"Ibu kapan kembali? Kenapa tidak mengabariku, aku bisa menjemput ibu kalau tau ibu pulang."
Nyonya Kim hanya mengedikkan bahunya lalu duduk disofa bersebrangan dengan putranya.
"Hanya ingin membuat kejutan dan ternyata malah ibu yang terkejut karena mendapat berika jika kau tidak pulang selama ibu tidak ada. Jadi bisa kau jelaskan kemana kau pergi Jongin?"
Jongin menghela nafas. Ia tau hari ini akan datang namun ia tidak menyangka akan datang secepat ini. Terlebih menurut informasi yang ia dapatkan ibunya masih sibuk di Jepang dan tidak memungkin untuk pulang. Dan sialnya sekarang ia bingung harus menjawab dengan alasan apa pertanyaan ibunya. Sial!
Melihat Jongin yang terlihat tengah memutar otak untuk mencari jawaban wanita tua itu menarik setengah sudut bibirnya keatas. Merasa mengerti ia memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ah sudahlah itu tidak penting. Yang penting malam ini kau harus pulang, ibu ingin kita makan bersama malam ini. Juga, ayahmu nanti sore juga datang. Anggap sebagai pesta penyambutan untuk ayahmu yang baru pulang dari Ausie."
Jongin langsung mengangkat kepalanya seketika. Ia menatap gugup kearah ibunya. Ia ingin menolak karena ia ingat memiliki Kyungsoo dirumah dan ia juga tidak mungkin membiarkan wanita itu tidur sendiri.
"Tapi ibu_"
"Aku tidak mau ada bantahan Jongin. Jangan beralasan jika pekerjaanmu menumpuk karena ibu lihat kau tidak terlihat seperti ini." Potong nyonya Kim.
Kemudian ia terlihat berdiri merapik matel serta tas tangannya.
"Ibu rasa urusan ibu sudah selesai disini jadi ibu akan pulang sekarang."
Jongin mengangguk, ikut berdiri bermaksud mengantarkan ibunya sampai depan life. Keduanya berjalan beriringan keluar dari ruangan Jongin dengan tenang. Sampai langkah kaki Nyonya Kim terhenti ketika melihat meja yang seharusnya ditempati Kyungsoo kosong.
"Ngomong-ngomong kemana sekertarismu? Bukankah seharusnya ia sekarang duduk disini?"
"Ah Kyungsoo, ia sudah mengundurkan diri bu dari menjadi sekertarisku."
Nyonya Kim mengernyit memandang putranya dengan sarat keingin tahuan yang kentara. "Kenapa? Bukankah posisinya bagus? Lalu kenapa ia memilih mengundurkan diri?"
Lelaki itu mengedikkan bahunya. Berlagak seolah tidak tau tenang alasan Kyungsoo yang memilih untuk mundur dari jabatannya sebagai sekertarisnya.
"Aku tidak tau bu. Ia hanya beralasan memiliki masalah pribadi dan aku tidak berhak untuk bertanya lebih."
Nyonya Kim mengangguk-anggukkan kepalanya. Seolah-olah paham dengan alasan yang dikatakan oleh putranya.
"Baiklah, ibu pergi dulu."
Jongin mengangguk, melambaikan tangannya kepada ibunya yang masuk kedalam kotak besi itu. Dan ketika pintu lift tertutup rapat. Jongin menghembuskan nafasnya lega.
Entah kenapa kedatangan ibunya tadi seolah tengah melakukan inspeksi mendadak kepadanya. Membuatnya pusing sekaligus bingung untuk menjelaskan agar terdengar masuk akal.
.
.
.
.
.
Sore hari adalah waktu terdamai kyungsoo.
Wanita itu begitu menggilai sore hari karena hanya pada waktu itu tubuhnya terasa seperti sedia kala. Tidak seperti pagi yang akan ia habiskan dengan pusing mual atau siang-malam ia habiskan dengan tidur karena ia jadi mudah mengantuk karena hamil.
Namun jika dini hari tiba, Kyungsoo akan bangun karena merasa lapar mendadak sebelum kembali tidur setelah kenyang. Kiranya begitulah kegiatan yang selalu Kyungsoo lakukan selama dua bulan kebelakangan ini.
Setelah mengetahui ia hamil serta kondisinya yang tidak memungkinkan untuk melakukan pekerjaan berat, lelaki itu memaksanya untuk mengundurkan diri dari kantor. Awalnya Kyungsoo menolak, namun akhirnya luluh ketika Jongin memintanya dengan begitu lembut. Dan setelah itu, ia hanya bisa terkurung didalam sangkar emas dengan banyak pelayan yang disediakan Jongin untuknya.
Ia jarang keluar rumah kecuali ada Jongin bersamanya. Lelaki itu benar-benar overprotektif kepadanya, membuat Kyungsoo kadang kesal sendiri karena lelaki itu terlalu berlebihan.
Kyungsoo menghela nafasnya, memikirkan Jongin membuatnya ingin cepat-cepat lelaki itu segera pulang. Entahlah, mungkin karena efek dari kehamilannya ia jadi senang dekat-dekat dengan Jongin bahkan pernah satu kali ia ikut ke kantor hanya karena tidak mau ditinggal bekerja oleh lelaki itu.
Kyungsoo melempar remot tv ditangannya.
Acara tv hari ini tidak menarik. Ia sedang tidak mood untuk melihat drama-drama picisan yang tengah tayang. ia bosan dengan kegiatannya yang itu-itu saja dirumah. Jadi ia beranjak dari duduknya lalu berjalan kedapur.
Ketika ia sampai didapur, ia bisa melihat betapa keadaan jadi riuh ketika ia datang.
"Nyonya kyungsoo, apa yang membawa anda kemari? Jika anda menginginkan sesuatu anda bisa panggil saya dan saya akan membawakannya kepada anda."
Kyungsoo memberengut mendengar ucapan bibi Yoon –si kepala pelayan.
"Aku ingin kue bibi." Ucap Kyungsoo. Bibi Yoon dengan sigap hendak beranjak mengambil kue namun urung ketika Kyungsoo kembali memanggilnya.
"Tapi aku ingin membuatnya sendiri."
Dan bibi Yoon tidak sanggup untuk tidak membuka lebar bibirnya atas permintaan Kyungsoo.
.
.
.
.
.
Jongin sampai dikediamannya dengan Kyungsoo tepat pada pukul 3 sore. Sebenarnya ini bukan jam pulangnya. Biasanya ia masih akan pulang pada pukul setengah 6 sore menjelang makan malam. Namun hari ini ia memutuskan untuk pulang lebih awal karena janjinya tadi siang dengan ibunya tentang makan malam bersama.
"Aku pulang~" lelaki itu bersuara dengan lantang bermaksud mengumumkan kepada kekasih tersayangnya jika ia pulang.
Biasanya wanita itu akan langsung menyambutnya ketika mendengar suaranya. Namun yang terjadi sekarang malah seorang pelayang yang biasa ditugaskan untuk mengawasi Kyungsoo lah yang menyambutnya.
"Kemana Kyungsoo?" tanya lelaki itu setelah menyerahkan tas kerja serta jas nya.
Ia menarik dasi lalu melepaskan dua kancing teratasnya. Kemudian ia beralih dengan kancing dikedua tangannya sebelum menariknya lengan kemejanya hingga sebatas siku.
Ia yang masih sibuk mengernyit ketika tidak mendapati jawaban dari pelayannya.
"Kemana Kyungsoo?" ulang Jongin.
Pelayan itu terlihat gugup dan hal itu mau tidak mau membuat Jongin takut terjadi sesuatu dengan Kyungsoo serta calon bayi mereka.
"Sial!" umpat Jongin tidak sabaran karena pelayannya tadi hanya diam sembari membuka mulut tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Ia hendak berlari naik ketangga untuk mengecek Kyungsoo dikamar mereka namun urung ketika mendengar suara pekikan Kyungsoo dari arah belakang. Ia langsung memutar badan dan melangkah sebesar-besarnya kearah sumber suara.
Dan betapa terkejutnya ia mendapati Kyungsoo yang tengah mengomel kepada seorang pelayan yang terlihat salah memasukkan warna pada butter cream yang akan Kyungsoo gunakan. Juga ngan lupakan bagaimana wajah cantik wanita itu yang terhiasi tepung dimana-mana.
Jongin yang tadi menghentikan langkahnya kembali menyambung langkahnya sembari memanggil Kyungsoo yang langsung mencari suaranya.
"Sayang?" panggil lelaki itu lembut.
Kyungsoo yang tadi mengomel karena kesal akhirnya berhenti ketika mendengar suara seseorang yang familiar. Ketika ia menolehkan kepalanya kesamping ia bisa melihat ayah dari calon anak mereka berjalan kearahnya.
"Jongin!" kyungsoo memekik bahagia. Melupakan kue yang sejak tadi ia buat dengan susah payah. Wanita itu langsung berlari kecil kearah Jongin yang was-was dengan gerakannya.
"Wohhh, sayang jangan berlari ingit yang ada diperutmu." Ucap Jongin setelah berhasil menangkap Kyungsoo. sedang Kyungsoo hanya tersenyum sembari mengucapkan maaf.
"Kau pulang lebih awal?"
Jongin mengangguk sembari menyisir helaian rambut Kyungsoo yang berantakan.
"Ya, dan apa yang kau lakukan disini? Bukankah aku sudah melarangmu untuk menjauhi dapur ataupun bekerja yang berat?"
Kyungsoo mengkecibikkan bibirnya. "Ini tidak berat, aku hanya membuat kue."
Dan kini Jongin beralih kepada bibi Yoon yang menurutnya menjadi tersangka utama karena membiarkan Kyungsoo bekerja didapur. Sedangkan Kyungsoo yang menyadari Jongin hendak memarahi bibi Yoon langsung dengan sigap membungkam bibir Jongin dengan kedua tangannya.
"Jangan marah kepada bibi Yoon. Ini salahku karena aku memaksa untuk membuat kue. Bibi Yoon tidak salah apa-apa."
"Tapi sayang_"
"Jongin sungguh aku tadi hanya bosan dan ingin membuat kue tiba-tiba. Aku ingat kata dokter jika tubuhku lemah tapi apa kau lupa jika aku tidak boleh stres dan bosan itu bisa menjadi pemicu stres. Jadi jangan marah ya?"
Jongin menghela nafas. Ia tidak akan sanggup dengan permohonan Kyungsoo. jadi ia hanya mengangguk maklum kali ini membuat Kyungsoo memekik senang.
"Yeay! Kau yang terbaik sayang, aku menyayangimu." Kemudian wanita itu berjinjit guna memberi kecupan dibibir Jongin tidak perduli dengan para pelayan yang masih asa disana memandang kedua majikannya dengan canggung.
"Kalau begitu ayo kekamar. Aku akan menyiapkan air untukmu mandi dan bibi Yoon tolong urus kue ku. Nanti setelah makan malam aku akan memakannya."
Bibi Yoon hanya mengangguk dengan perintah yang diberikan oleh Nyonya rumahnya.
Sedang Kyungsoo kini tengah menggandeng Jongin untuk naik kelantai dua tepatnya kamar mereka.
.
.
.
.
.
"Jadi kau benar akan pulang ke rumahmu?" tanya Kyungsoo. dari suaranya wanita itu terdengar seperti kecewa.
Ia kini duduk dipinggir ranjang dengan telapak tangan yang terus mengusap-usap perutnya.
"Kau tega meninggalkan aku sendiri disini?"
Jongin yang tadinya sibuk dengan pakaiannya kini berbalik menghadap ke arah kekasihnya yang tengah duduk sembari memandangnya sendu. Lelaki itu paham jika Kyungsoo kecewa dengan keputusannya namun bagaimana pun Jongin tidak bisa membantah ucapan ibunya.
"Maafkan aku. Tapi aku benar-benar harus pulang malam ini." Ia bersimpuh tepat dibawah Kyungsoo. tangan besarnya menggenggam tangan kecil Kyungsoo sebelum membawanya kedepan bibirnya dan mengecupnya dengan mesra.
Kyungsoo sendiri sebenarnya ingin merajuk. Merasa kesal karena Jongin harus pulang dan meninggalkannya sendiri disini. Padahal lelaki itu jelas tau jika ia tidak akan bisa tidur nyenyak jika tidak mencium bau badan Jongin. Bahkan jika lelaki itu pulang malam, maka Kyungsoo akan memakai kemeja serta bantal Jongin untuk menemaninya tidur.
"Lalu bagaimana jika nanti aku bangun tengah malam dan ingin makan. Apa aku harus membangunkan bibi Yoon dulu untuk mengambilkan makanan? Kenapa kau tega sekali Jongin."
Tanpa sadar nada suaranya semakin terdengar merengek layaknya anak kecil membuat Jongin terkekeh pelan karena tinggal kekanakannya.
Jadi ia bangkit. Memilih untuk duduk disebalah Kyungsoo. membawa wajah wanita itu untuk menatapnya.
"Sayang tenanglah. Aku tidak akan setega itu meninggalkanmu. Nanti setelah semua orang sudah terlelap aku akan mengendap-endap untuk kembali kemari dan ku pastikan aku kembali sebelum jam malammu datang aku sudah berada disini."
Kyungsoo memandang Jongin ragu, namun ketika melihat tatapan bersungguh-sungguh lelaki itu ia merasa yakin dan memutuskan untuk memeluk Jongin erat.
"Kalau begitu biarkan aku menunggumu sampai kau datang."
Mendengar itu secepat kilat Jongin menentang keras. "Jangan."
"Kenapa? Aku hanya ingin tidur denganmu. Lagipula apa salahnya jika aku menunggumu pulang?" debat Kyungsoo.
Jongin menghela nafas. Kyungsoo yang hamil memang berbeda 180 dengan Kyungsoo dalam kondisi biasa. Ia cenderung manja dengan keras kepala membuat kepalanya kadang berasa ingin pecah. Namun beruntung karena Jongin begitu mencintai Kyungsoo sehingga ia tidak akan terpancing amarah karena kelakuan wanita itu.
"Hey, bukannya aku bermaksud melarangmu. Aku hanya kepikiran anak kita. Ingat kata dokter kau tidak boleh tidur terlalu malam? Bukankah dokter juga memberitahu kau harus tidur lebih awal. Jadi dengarkan perintahku oke, jangan membantah."
Meski sedikit tidak ikhlas, Kyungsoo tetap mengangguk mengikuti kemauan Jongin.
"Good girl." Puji Jongin sembari menghadiahinya dengan kecupan-kecupan disepanjang wajahnya. Membuat Kyungsoo terkekeh geli karena Jongin menggodanya.
Jika mereka berada dalam suasana seperti ini kadang hati Kyungsoo bergetar. Ia terenyuh melihat bagaimana Jongin benar-benar tulus menyayanginya. Tak perlu diucapkan pun Kyungsoo paham dengan perlakuan Jongin kepadanya.
Lantas jika sudah seperti ini, apakah Kyungsoo tega untuk terus menjalankan rencananya? Terlebih mereka kini memiliki sesuatu yang membuat ikatan keduanya semakin erat.
.
.
.
.
.
Chaeyeon memekik senang ketika membuka pintu mansion. Ia tidak menyangka akan mendapati Jongin berdiri didepannya.
"Jongin kau pulang?" ucap Chaeyeon antusias. Sedang Jongin hanya mengulum senyum kecil ketika melihat bagaimana wajah berseri-seri milik istri sahnya.
"Aku merindukanmu. Kemana saja kau selama dua bulan ini Jongin. Kenapa kau tidak pernah pulang?"
Chaeyeon berhamburan memeluk erat suaminya. Ia merindukan pelukan ini. Rasanya sudah lama ia tidak merasakan dekapan itu.
Sedangkan Jongin entah kenapa merasa risih dengan pelukan Chaeyeon. Entahlah, ia hanya merasa aneh saja memeluk wanita lain selain kekasihnya –Kyungsoo. jadi dengan perlahan Jongin yang memang sedari awal tidak membalas pelukan Chaeyeon mulai menjauhkan tubuh Chaeyeon yang mendekapnya terlalu erat.
"Chaeyeon lepaskan. Kita masih didepan pintu bagaimana nanti jika ada yang melihat?" ucapnya masih sembari mencoba melepaskan pelukan istrinya.
Namun Chaeyeon malah menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya. "Aku tidak perduli jika orang lain melihat. Toh kita kan memang suami istri yang sudah lama tidak bertemu jadi kurasa tidak masalah."
Mendengar alasan Chaeyeon, Jongin memutar matanya malas. Ia hanya merasa muak dengan ucapan istrinya itu.
"Tapi aku perduli Chaeyeon!"
Dan dengan sekali sentak, Jongin berhasil menjauhkan Chaeyeon dari tubuhnya. Ia segera masuk kedalam menghiraukan Chaeyeon yang sudah hendak menumpahkan tangisnya karena kini suaminya telah berubah.
.
.
.
.
.
Makan malam tadi berjalan sangat lancar. Ibunya benar-benar memasak besar untuknya. Hanya saja yang membuat Jongin kesal tadi adalah ketidak hadiran ayahnya. Padahal ibunya tadi bilang jika ayahnya akan pulang jadi Jongin harus pulang untuk menyambut. Namun ketika sampai makan malam hendak dimulai ia tidak mendapati ayahnya dimanapun. Dan saat ia bertanya dimana ayahnya, dengan santai ibunya menjawab,
"Sebenarnya ayahmu tidak pulang. Ibu hanya menggunakan alasan ayahmu agar kau pulang karena kau sudah terlalu lama berada diluar dan ibu rasa itu tidak baik terlebih kau sudah memiliki istri disini."
Jadi ketika makan malam itu akhirnya selesai, Jongin memutuskan untuk langsung pergi kembali. Ia tidak menghindahkan ucapan Chaeyeon yang memintanya untuk tinggal.
Jangankan Chaeyeon, ibunya saja yang selama ini ia hormati saja tidak ia hiraukan larangannya. Ia malah semakin menebalkan telinganya dan berlalu pergi begitu saja dari mansion besar itu. Ia melaju dengan kecepatan tinggi karena ingin segera sampai dirumahnya yang sebenarnya.
Ia membutuhkan Kyungsoo. ia butuh memeluk Kyungsoo serta bertemu calon buah hatinya untuk meredam kemarahannya kepada ibunya.
Dan 15 menit kemudian ketika ia sampai dirumahnya dan Kyungsoo. ia segera berlari masuk dan mendapati Kyungsoo yang tengah mengunyah kue yang tadi sore dibuatnya didepan tv.
Ia melihat bagaimana Kyungsoo yang terkejut karena ia datang terlalu awal. Wanitanya itu terlihat begitu senang dan sudah hendak berlari kearahnya sebelum ia memperingati.
"Diam disana sayang, ingat tidak boleh berlari. Biarkan aku yang kesana."
Kyungsoo menunggu dengan tidak sabar. Menurutnya Jongin terlalu lambat dan ketika Jongin sudah berada tiga langkah didepannya Kyungsoo dengan segera menarik Jongin lalu mendudukkannya disofa sebelum ia duduk diatas lelaki itu.
"Aku merindukanmu~" suaranya dibuat mendayu seolah mereka tidak bertemu bertahun-tahun lamanya. Jika tadi Chaeyeon yang mengatakan seperti itu Jongin hanya diam maka berbeda ketika Kyungsoo mengatakannya. Ia terkekeh karena merasa lucu dengan kekasihnya.
"Kita bahkan hanya berpisah selama 4 jam sayang. Lalu bagaimana kau bisa mengatakan jika sudah merindukanku hm?"
"Entahlah~ aku hanya merasa merindukanmu. Mungkin juga karena baby. Dan kenapa kau pulang lebih awal? Bukannya kau bilang akan kembali ketika sudah tengah malam?"
Jongin mengedikkan bahunya. "Entahlah, aku hanya merasa khawatir kepadamu dan itu membuatku ingin kembali lebih awal."
Lelaki itu tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya kepada Kyungsoo. ia hanya tidak ingin merusak mood Kyungsoo yang sudah baik.
"Kalau begitu ayo keatas. Aku sudah mulai merasa mengantuk."
Jongin mengangguk. Mengiyakan ajakan Kyungsoo. ia bahkan menawari gendongan untuk kekasihnya itu yang langsung disambut antusias oleh Kyungsoo. sebelum kemudian keduanya berlalu menuju kamar mereka untuk mulai beranjak tidur.
Tapi yang tidak keduanya sadari adalah jika diluar kediaman mewah mereka ada sebuah sedan yang mengintai dari luar. Atau lebih tepatnya sedan itu menguntit Jongin dari belakang tanpa lelaki itu ketahui.
"Jadi disini dia selama dua bulan ini bersembunyi? Menarik, aku penasaran apa yang ia sembunyikan didalam sini sebenarnya." Gumam seseorang dalam sedan itu.
Setelah puas mengamati dengan seksama, penumpang tadi lalu menyuruh supirnya untuk kembali melajukan mobilnya.
"Pak Lee kita pulang."
Yang dipanggil tadi mengangguk sembari menyalakan mesin mobil. "Baik Nyonya Kim."
.
.
.
.
.
~To Be Continue~
Sorry for thypo
Maaf buat up yang lama :D
Thank's for reading, Thank's for review
See you next chap, See you next fanfic
Big Love, Baby Vee :* muahhhh
