After 1 year being hiatus, finally I come back lads~ ^^
Sorry for taking very very long time. I'm very busy with my college stuff here and almost no time for managing fanfiction stuff. So, here we go again for more lovey fluffy KotaxLuci now! XD
DISCLAIMER
Visual Novel (2011) and Anime (2016) 'Rewrite' by Key Visual Arts, Romeo Tanaka and Yuuto Tonokawa
Fanfic 'Dream Comes True', sequel of 'Truth Behind of That Gloves' by Sachiya Haruyuki 2014
Part G : Wanting to Stay Over
"Aku tak tahu betapa bahagianya diriku sekarang."
Jam di ponsel ku sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dua jam berlalu semenjak aku masuk ke rumah setelah pulang. Dan sekarang aku disini, tidur-tiduran di sofa sambil menunggu seseorang dengan janji yang telah disepakati.
Hari ini Lucia akan datang ke rumahku sambil membuatkan makanan untukku. Tidak. Untuk dimakan berdua. Rasanya aneh kalau hanya menyebut diriku saja karena seperti aku yang 'dilayani' olehnya. Aku jadi sedikit merasa tidak enak.
Orang tuaku hampir tidak pernah pulang ke rumah dalam beberapa bulan ini. Penghasilan yang kudapat dari kerja paruh waktu di instansi berita hampir kesemuanya untuk kebutuhan makan, kecuali sisanya yang kutabung sedikit demi sedikit untuk berjaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan suatu saat kelak. Aku memang sudah terbiasa hidup mandiri dalam kondisi seperti ini. Hanya saja, aku tidak ingat sejak kapan.
Rasa-rasanya waktu berlalu begitu cepat. Baru saja menyelesaikan masalah 'kutukan Asahi Haruka' sampai-sampai harus melibatkan Yoshino di dalamnya, hingga hari ini aku resmi berpacaran dengan si Asahi Haruka itu sendiri, teman kelasku, ketua kelasku, anggota Guardian, Konohana Lucia.
Sudahlah. Aku tak mau membahas itu lagi. Itu hanya akan membuatnya kembali terpuruk. Ia sudah berusaha untuk tidak mengingat mimpi buruk itu lagi, maka aku juga tak mau membicarakannya untuk sekarang.
'Aku harap ia tidak terlambat.'
Kulihat lagi jam di ponselku. Baru 5 menit berlalu tapi rasanya lama sekali. Ternyata yang namanya Teori Relativitas Einstein berlaku disaat sedang bosan begini.
'Kurasa lebih baik kutunggu di kamar.'
*knock* *knock*
Baru saja aku hendak berkeinginan kembali ke kamar, pintu rumahku diketuk seseorang. Tidak berani berharap banyak bahwa orang yang kutunggu inilah yang berada di balik pintu, tapi akan jauh lebih tidak sopan jika aku tak merespon.
"Masuklah. Pintu tidak dikunci."
*creak*
"P-Permisi."
Suara terbata-bata itu, yah. Aku sudah menduganya.
Pintu rumahku bergerak terbuka perlahan. Sosok itu nampak di kedua mataku. Seorang gadis bersurai ungu panjang bermata biru safir. Tapi, dengan ransel?
"Lama sekali. Butuh waktu berapa lama untuk menyiapkan sesuatu di ransel mu itu?"
"M-Maafkan aku, banyak hal yang mesti kusiapkan disini."
*blush*
Mendadak wajah Lucia memerah sehabis mengatakan itu. Ah, pikiran burukku mulai kumat lagi. Tenang, Kotarou! Simpan saja untuk itu nanti!
"Ahahaha. Ya sudah tak apa, ayo masuklah."
"U-Um."
Kupandangi sejenak dirinya. Aura ketua kelas nya memang tak lagi terasa. Ia sudah menjadi seperti layaknya gadis pada umumnya. Bahkan mau masuk rumah orang lain saja harus dengan rasa malu seperti itu. Sungguh diluar ekspektasi.
Tidak, aku sudah sering melihatnya begitu.
"Memangnya apa saja yang ada di dalam ranselmu?"
"Tak usah tanya. Nanti kau juga tahu."
"Eh?"
Jawaban yang mencurigakan. Sedikit tak sopan tapi, biarlah. Mungkin memang ada hal-hal yang tak patut kuketahui lebih dulu.
Sekali lagi kupandangi Lucia yang tengah mengambil sesuatu di dalam ranselnya. Bahan-bahan makanan untuk dimasak. Oh, ya ampun.
"Kau pasti sedang menghinaku dengan berpikiran aku tak punya makanan disini ya?"
"B-Bukan begitu! T-Tapi kalau memang iya, a-aku minta maaf. Lagipula aku tidak bisa meminta bantuan Shizuru untuk memasak hari ini. Jadi ini seperti, perjudian bagiku."
"I-Iya iya aku mengerti."
Perjudian. Ya, indera pencecapan Lucia memang sudah sejak lama 'mati'. Makanya saat pertama kali aku datang ke rumahnya, ia sebenarnya tak memasak sendirian. Ada Shizuru juga disana hanya sekadar memberi bantuan kecil soal rasa. Dan mungkin aku takkan mengetahuinya kalau aku tak ke toilet saat itu. Lebih-lebih terhadap Lucia. Aku jadi sedikit merasa kasihan.
"Jadi kau akan memasak apa? Biar kubantu dirimu."
"Ah, t-tidak usah. A-Aku bisa sendiri."
"Aku akan kecewa kalau masakannya tidak enak loh."
"Uuuu~"
Kena kau. Jangan lupakan kelemahanmu itu nak.
"Haha. Aku hanya bercanda. Aku hanya akan memberitahu rasanya saja. Selebihnya kau boleh kerjakan sendiri."
"I-Iya deh."
Meski merengut kesal, sedikit kulihat ada senyuman tipis di wajahnya. Yah, aku tak bisa menangkap apa arti sebenarnya senyuman itu. Tapi lebih baik daripada tak senyum sama sekali 'kan?
"N-Ngomong-ngomong, bolehkah aku ke kamar mandi sebentar?"
Aku langsung menunjuk ke arah sebelah kiriku. Letak kamar mandi persis di sebelah dapur.
Tapi, tunggu sebentar.
"Baiklah. K-Kalau begitu tunggulah sebentar."
"Ah, hei."
Belum sempat aku menghentikannya ia langsung masuk ke kamar mandi dengan membawa, ranselnya. Oh, jangan-jangan...
"Uh. Aku punya firasat buruk soal ini."
.
.
.
30 menit berlalu.
*creak*
Suara pintu terbuka terdengar di telingaku sementara aku masih tidur-tiduran di sofa. Dan,
"Lama sekali kau disa- Eh?"
Aku yakin mulutku menganga saat ini, terlalu terkejut dengan apa yang kulihat di depan mataku.
"M-Memangnya ada yang salah?"
Sudah kuduga.
"K-Kau berpakaian begitu lagi!?"
Saat aku pertama kali masuk ke rumahnya, ia sempat memintaku untuk menunggu di luar pintu sambil menghitung mundur. Bahkan ia memintaku untuk memperhatikan sekitarku kalau-kalau ada yang mengintai kami. Karena terlalu lama, akhirnya aku langsung masuk ke kamarnya dan mendapati Lucia tengah ber-cosplay "Doki Doki Maid Party".
Sekarang,
"Ternyata kau benar-benar menginginkan kostum itu, ya?"
*blush*
Wajah Lucia langsung bersemu merah.
"Uuuu~" dan hanya bisa tertunduk, tak berani menatapku. Kehabisan kata-kata mungkin?
"T-Tunggu dulu! Bukannya sudah kukatakan padamu untuk tidak usah berpakaian begini!?"
"T-Tapi kau sendiri bagaimana? Bukannya kau senang melihat perempuan-perempuan berpakaian begini!? Jujur saja!"
"E-Eehh?"
Alasan macam apa itu!?
"A-Aku laki-laki! Kau boleh benci mendengarnya tapi wajar bagiku jika aku menyukainya! Kalau aku penyuka sesama jenis aku tak mungkin menyelamatkanmu saat itu!"
"Waaa! Wawawawa~"
Lucia langsung shock mendengar pernyataanku. Pasti dia saat ini berpikiran aku sudah 'belok' dan imajinasinya liar entah kemana seperti perempuan fujoshi kebanyakan
Hanya bercanda. Tapi bisa jadi 'kan?
"A-aaa... T-Tidak tidak tidak... K-Kau tak mungkin b-begitu 'kan? Kau masih normal 'kan? Iya 'kan? Iya 'kan!?"
"Tentu saja aku masih normal! Aku hanya menyukai perempuan! Aku menyukaimu!"
"Ah..."
*blush*
Dammit. Aku malah membuat blunder.
*siiiing*
Dan kesunyian langsung menyelimuti suasana saat itu juga. Diam seribu bahasa, gara-gara perkataanku tadi. Ayolah, Lucia. Katakanlah sesuatu!
"..."
"Ko-Kotarou..."
Nah, bagus Lucia. Kau menyelamatkanku.
"Kau... Kau benar-benar menyukaiku 'kan?"
"..."
Pertanyaan biasa. Dengan jawaban yang biasa pula.
"Tentu saja. Aku menyukaimu."
"..."
Lucia kembali terdiam sambil memegang tangan kananku dengan tangan kirinya. Kedua tangannya yang penuh dengan racun, dan hanya bisa digenggam olehku seorang dengan kekuatanku.
Ironi.
"K-Kalau begitu..."
Nampak Lucia masih tertunduk dengan muka merah. Seperti ada sesuatu yang sangat memalukan akan segera terucap dari bibirnya.
"C-Cium aku..."
...
"Eh?"
*blush*
Memang aku sudah berpikir akan mendengar jawaban seperti ini, tapi masih terasa sangat memalukan untuk kudengar langsung darinya.
"A-Aku hanya ingin memastikan saja, Kotarou. Tak ada maksud lain."
Pembohong. Kau pembohong, sayang.
"Jadi, siapa sebenarnya yang mesum disini?"
Kueratkan genggaman tangan kananku pada tangan kiri Lucia sambil mendekatkan wajahku ke arahnya. Bersyukur tinggi badannya hampir sama denganku jadi tidak perlu kerepotan harus membungkuk segala.
"Kurasa aku memang..."
Sementara Lucia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan hanya bisa mendekatkan wajahnya ke arahku sambil menutup matanya perlahan.
"Sama mesumnya denganmu..."
*kiss*
Dan bibir kami bersentuhan satu sama lain. Dengan lembut. Tapi kemudian aku sadar meski aku tak dapat berbuat banyak.
'Jangan sampai acara masak nya batal gara-gara ini.'
[Skip Time]
Dan sekitar dua jam kemudian aku sudah merasa kenyang.
"Akhirnya, aku bisa makan masakan rumahan lagi."
Aku dan Lucia hanya membuat sup miso dan tempura udang untuk hari ini. Meski begitu, aku merasa sangat puas karena sejujurnya aku tak tahu bagaimana caranya memasak untuk diriku sendiri sehingga aku lebih sering menghabiskan uangku untuk makan di warung atau tempat lainnya. Mungkin aku harus banyak belajar terhitung dari hari ini agar aku tak membuat Lucia kerepotan suatu saat.
Ya. Suatu saat, dan itu masih sangat jauh untuk kupikirkan dari sekarang.
"Fun~ Fun~ Fuuuun~"
Dan kau tahu? Lucia benar-benar bertindak seperti seorang ibu rumah tangga di mataku. Aku bisa mendengar senandungnya ketika mencuci peralatan makan dan segala macam di dapur. Yah, meski dengan kostum seperti itu sih. Kedepan tentu saja aku takkan mengizinkannya berpakaian demikian. Jujur, meski aku menginginkannya tapi itu sangat memalukan. Dikira aku bertindak sewenang-wenang terhadapnya nanti.
"Selesai~"
Dan perlu waktu lima belas menit baginya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sementara sekarang sudah hampir setengah sepuluh malam.
"Terima kasih banyak, Lucia. Masakanmu sangat enak. Aku tak yakin kapan aku bisa mencobanya lagi."
"S-Sama-sama, Kotarou."
Ia masih saja malu saat kupuji. Aw, Lucia. You're really too pure.
"Tapi ini sudah larut. Sudah saatnya kau pulang. Yah, meski bahaya juga 'sih kalau kau jalan kaki sendirian menuju rumahmu malam-malam begini."
"Kau meremehkanku?"
"Bukannya begitu. Aku tahu kau ini agen 'Guar'. Tapi kau tetaplah perempuan. Laki-laki manapun kalau sudah melihat 'kesempatan' mereka takkan main-main denganmu."
"Iya juga 'sih."
Ya. Lucia mungkin memang memiliki kekuatan istimewa dalam dirinya sehingga mampu menjaga diri. Tapi yang namanya perempuan, kalau malam-malam sendirian di tengah jalan akan tetap berada dalam ancaman tak peduli siapapun itu, termasuk dirinya.
"Sebenarnya aku sudah tahu kau akan bilang begitu."
"Lalu mengapa kau masih bertanya? Ayo biar kuantar kau-"
"Soalnya..."
Ucapanku terputus saat Lucia hendak mengatakan sesuatu, sambil berpaling ke arah lain dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Pun dengan wajah merah.
"Alasanku kesini bukan hanya ingin memasak denganmu saja..."
"Lalu?"
Lucia menghela nafas berat.
"Seperti yang sudah kau katakan. Aku anggota Guardian. Mungkin waktu kita untuk berdua jadi tak banyak karenanya. Apalagi jika kita seandainya sudah lulus sekolah kelak. Terlebih kau sudah pernah bilang kalau kau tak mau terlibat dengan perang diam-diam ini."
"Iya. Aku sudah tahu itu."
"Jadi... Selagi sempat..."
Lucia lalu menatapku dengan tatapan memohon. Tapi ini sepertinya jauh melebihi ekspektasi biasanya.
"Aku ingin... Melakukan banyak hal denganmu... Hari ini... Disini..."
"..."
*blush*
Wajahku bersemu merah mendengarnya. Bukan soal banyak hal yang dimaksudkan Lucia. Tapi disini, hanya ada aku dan dia. Semalam suntuk. Dan belum pernah terjadi satu kalipun seumur hidupku.
Aku khawatir pikiranku mulai kemana-mana setelah ini.
"Jujur, Lucia. Aku hampir berpikir yang tak baik soal ini. Tapi,"
"Iya. Tak apa-apa. Aku tahu dirimu. Aku juga berusaha menerimanya."
Mendengar perkataannya aku merasa sangat lega. Setidaknya aku bisa sedikit membersihkan pikiran kotorku yang sempat melintas tadi. Walau ada kemungkinan akan terjadi juga suatu saat.
"Sebaiknya kau ganti pakaianmu dengan pakaian tidur. Sekarang."
~ To be Continued ~
A/N : Sorry because this chapter is being shorter than my usual. Because, something very unexpected will come for next story. So, stay tuned! ^^
