Update lagi! Hahahahaha! Kilat ya?
Ide ini memang sudah kill me inside jika tidak disalurkan (Itachi: lebay banget kamu Runa!). I keep fixing another chapter as soon as possible, karena saya nggak yakin minggu depan akan update cepat seperti saat ini mengingat back to basic time (baca: laporan praktikum mikropaleontologi dan laporan lapangan lain *maybe*) sudah dimulai dan saya jamin 200 persen semua hal itu akan menyita semua waktu saya, sehingga saya update kilat!
Yosh, langsung saja!
Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto. Runa by me, Lazuardi Loo.
.
Normal POV
Runa mendaratkan kakinya di antara mereka yang mengerumuni sosok tubuh tersebut dengan jantung yang berdegup, memastikan.
"Tch! ANBU Konoha, heh? Jangan ganggu urusan kami! Urusi saja misi-misimu!"
"Kalau kau mencampuri urusan kami, kami tak segan membunuhmu!"
"Silahkan saja," kata Runa pelan, melangkah pelan pada tubuh yang bersimbah darah dan nafasnya tinggal satu-satu itu. "Aku tak takut mati."
"Baiklah, kalian," seorang pria memberi aba-aba pada oinin yang lainnya. "Kita habisi dia sekarang!"
Wajah ini, Runa tercengang memandangi tubuh yang tampak babak belur itu. Ia kenal wajah ini!
Flashback
"Siapa disana?" tanya sebuah suara menggelegar yang membuat jantung Runa hampir meloncat keluar. Dari posisi jongkok, ia berdiri, lalu berbalik. Di balik tudungnya, ia melihat jelas bahwa dua orang pria berjubah awan merah itu berjalan mendekat ke arahnya. Seorang pria tinggi dengan mata tajam dan berkulit biru – Kisame – dan seorang pria bermata merah yang setengah wajahnya tertutup kerah jubahnya.
Runa mendesah pelan. Padahal Runa tak ada urusan dengan mereka – ia hanya sedang mengambilkan beberapa tanaman obat untuk Rei, tapi sepertinya waktunya kurang tepat. Hujan tampak begitu deras, memberi efek yang lebih mencekam pada pertemuannya dengan dua orang anggota Akatsuki itu.
"Go-gomen, aku hanya penduduk sipil disini, sedang mencari tanaman obat, aku akan pergi..." Runa membungkuk, hendak berbalik dan tak berniat akan memberikan perlawanan. Baru saja tubuhnya hendak beranjak berbalik – memberi pandangan postur tubuh menyamping - tiba-tiba terdengar suara Kisame yang terdengar curiga.
"Tidak bisa, siapa saja yang kami anggap mencurigakan – "
"Biarkan dia pergi, Kisame..."
"Tapi Itachi – "
"Biarkan. Ia tidak tahu apa-apa soal misi kita."
DEG. Itachi. Runa membeku dalam posisinya yang menyampingi kedua anggota Akatsuki itu. Bukan, bukan takut. Ia hanya penasaran, sebelum akhirnya mata Runa mengerling ke arah Itachi yang memandangnya dingin. Seketika jantung Runa berdetak kencang. Kerlingan itu cukup tajam, sebelum innernya yang lain tiba-tiba muncul.
"Itachi," bisiknya yang teredam oleh suara hujan.
Flashback End
"Itachi!" suara Runa terpekik.
Derapan kaki mendekati Runa dengan cepat. Runa masih terpekur, berlutut pada satu kakinya memandang tubuh tinggi dengan tatapan nanar, membentangkan tangannya.
"SHINRA TENSEI!"
BRAKKK! KRAAKK KRAKK KRAKK KRAKKK!
Itachi sayup-sayup masih mendengar suara pria-pria yang menyerangnya tadi mengaduh, dan matanya yang kini lebih jelas dari sebelumnya memandang pohon-pohon tumbang akibat kekuatan Rikudo Sennin tersebut.
Shinra tensei, batin Itachi tak percaya. Tubuhnya yang masih terkapar lemah terasa lemas, mata kelamnya menengadah memandang wajah bertopeng itu pada kedua matanya.
Sharingan dan Rinnegan, bisiknya dalam hati.
"Bertahanlah Itachi, aku akan membawamu kembali ke Konoha!"
Runa menghela nafas panjang, lalu membuat segel tangan.
"Kagebunshin no jutsu!"
POFF.
"Runa!" bunshin kedua Runa muncul. Ia memandang pohon-pohon tumbang dengan delapan oinin yang kini berusaha bangkit setelah terpental jauh, "Apa yang terjadi?"
"URUS MEREKA, JANGAN BANYAK TANYA!"
"Baik," bunshin itu mengangguk
"Kau urus mereka, aku akan membawa pria ini kembali ke konoha! Panggil yang lain jika kau tak sanggup!"
"Baik."
Tubuh Runa lalu melesat, membawa pria yang kini digendong dipunggungnya dengan cepat.
.
.
Itachi POV
"Itachi!" orang itu terpekik.
Suara seorang wanita.
Mataku yang kini terbuka perlahan hanya bisa tengadah memandangnya. Gadis itu mengenakan topeng khas yang kukenal, topeng seorang anggota ANBU Konoha. Aku merasa bersyukur, akhirnya ada yang menyelamatkanku.
Delapan oinin itu telah berderap menuju tubuhnya. Apa yang ia lakukan, masih terpekur disini memandangku? Aku sempat melihat kedua mata yang bebeda motif. Motif riak air dan sharingan. Ia memiliki Rinnegan!
"SHINRA TENSEI!"
BRAKKK! KRAAKK KRAKK KRAKK KRAKKK!
Aku masih mendengar suara pria-pria yang menyerangnya tadi mengaduh, dan mataku yang kini lebih jelas dari sebelumnya menangkap pemandangan dimana pohon-pohon tumbang akibat kekuatan tersebut.
Aku tak salah lihat, itu benar mata Rinnegan.
"Bertahanlah Itachi, aku akan membawamu kembali ke Konoha!"
Siapa gadis ini? Apa aku mengenalnya?
"Kagenbunshin no jutsu!"
POFF.
"Runa!" sebuah suara gadis menginterupsi pemikiranku. Bunshin itu memandang sekitar. "Apa yang terjadi?"
Nama gadis ini ternyata Runa. Runa...Runa? Gadis itu?
"URUS MEREKA, JANGAN BANYAK TANYA!"
"Baik," sahut bunshin tersebut. Gadis bernama Runa ini mengangkat tubuhku ke punggungnya, sementara tubuh wanita bernama Izumi membantu tubuhku agar tak jatuh dari punggung Runa.
"Kau urus mereka, aku akan membawa pria ini kembali ke konoha!"
Bunshin itu terlihat mengangguk.
.
.
Normal POV
"Siapapun! Tolong aku!" panggil Runa, berteriak saat sampai di rumah sakit Konoha. Beberapa ninja medis menolong Runa yang tampaknya sangat kelelahan membawa sosok tinggi dan berat itu. Mereka membawa tubuh Itachi dengan ranjang dengan roda dibawahnya, sementara Runa hanya menghela nafas lelah. Ia telah melepas jubahnya, merasa nafasnya begitu sesak.
Sekarang aku harus menemui hokage, batinnya. Ia beranjak, melompati atap, ketika tanpa sengaja ia bertemu dengan sosok berambut perak melawan gravitasi yang juga sepertinya akan melapor pada hokage.
"Bagaimana misimu, Runa-san?"
"Lancar," kata Runa tertawa kecil, "kau sendiri, Hatake-san?"
"Lancar, dan panggil saja aku Kakashi,"
"Baiklah."
"Kulihat kau baru saja dari Rumah Sakit. Kau terluka?" tanyanya.
"Tidak, aku mengantarkan seorang pria yang terluka."
"Siapa?"
"Itachi Uchiha."
"Apa? Bukankah ia sudah mati?" nada suara Kakashi menunjukkan ketidak percayaan.
"Aku juga tak tahu," Runa menggeleng.
Kedua ANBU tersebut menuju kantor Hokage, lalu menghadap sang Hokage yang kini tengah menyantap ramen instant miliknya. Di meja sang hokage ada beberapa cup ramen yang masih utuh dan sudah habis. Kedua ANBU itu sweatdrop bersamaan.
Namun, ia tetaplah hokage.
"Tuan Hokage,"
"Tuan Hokage,"
"Ah kalian!" Naruto meletakkan cup ramennya, lalu menyuruh keduanya berdiri.
Keduanya melapor. Runa berhasil memberikan informasi, yang nantinya harus ia tulis ke dalam bentuk laporan. Misi Kakashi pun berjalan lancar. Penjabaran informasi sejauh ini sukses. Runa baru saja hendak kembali pulang ketika ia teringat sesuatu.
"Tuan hokage, izin bicara informal?"
"Silahkan saja, Runa..."
"Tadi, aku membawa Itachi. Ia hidup, namun dalam keadaan babak belur..."
Mata biru itu membulat. Sumpit yang ia pegang jatuh, seolah tak percaya. Kakashi yang sudah mendengar hal ini tampak lebih tenang, meski hingga saat ini ia masih ingin tahu penjelasannya lebih lanjut dari Runa.
"Kau bercanda khan?"
"Tidak, aku bukan tipikal gadis yang suka berbual, Tuan Hokage..." kata Runa singkat. "Ia kini di Rumah Sakit Konoha."
"AKU HARUS MEMBERITAHU TEME!" Naruto meloncat melalui jendela, menuju atap-atap rumah penduduk, hendak mencari Sasuke.
Sementara itu, kedua ANBU itu hanya bisa melempar senyum penuh arti.
Normal POV
Itachi merasa tubuhnya sangat lemas. Memar-memar di tubuhnya sudah hilang, tapi sakitnya masih terasa. Cairan infus tampak mengalir dari selang memlalui pergelangan tangannya, memberi sedikit stamina pada tubuh Itachi yang kurus. Ia melempar pandangannya ke luar. Setelah hidup yang kedua kali karena edo tensei dan mati lagi, ia kembali hidup...dan kini dengan sebuah Rinne tensei. Ia tak tahu siapa yang memberikan nyawa padanya. Matanya juga membaik dan dadanya tak sakit seperti saat ia melawan Sasuke. Rinne tensei benar-benar memberikan energi dan kesembuhan permanen pada tubuhnya yang seharusnya sudah hancur menjadi tulang belulang.
Tuhan sangat baik padanya.
Ia memejamkan matanya, mengingat saat-saat sebelum ia ditolong.
Gadis itu.
Ya, gadis yang membunuh sahabat ayahnya demi sebuah kekuatan, lalu meninggalkannya.
Itachi memandang langit-langit. Runa?
Benaknya menyusuri kenangan masa lalu. Gadis yang pertama kali ia kenal saat ia berusia 12 tahun. Gadis itu dingin dan tampak sulit bersahabat, tapi sebenarnya sahabat yang menyenangkan. Itachi tersenyum. Ya, ia mulai mengingatnya. Ia ingat saat gadis itu menyisakan dua tusuk dango untuknya, sementara ia membawa beberapa onigiri yang sengaja ia beli sepulang misi, hanya untuk dimakan bersama dengan gadis itu.
Gadis kesepian itu.
"Selamat malam Uchiha-san!" sebuah suara menginterupsi lamunannya. Ia memandang gadis berambut pink panjang yang sepertinya merupakan iryo-nin. "Sudah merasa baikan?"
"Sudah, terima kasih," katanya, memandang Sakura yang meletakkan sebuah nampan berisi minuman, obat, dan makanan.
"Seharusnya kau berterima kasih pada ANBU yang sudah menyelamatkanmu, Uchiha-san," Sakura memerhatikan infus, lalu kembali menatap Itachi. "Sayang, aku tak tahu siapa dia, tapi sepertinya ia wanita. Karena aku mendengar suaranya meminta pertolongan."
Itachi mengangguk.
"Kakak!" sebuah suara baritone terdengar. Sakura menoleh, dan seketika mendapati pria yang ia cintai memandang Itachi dengan pandangan tak menyangka, matanya membulat. Di belakangnya Naruto tersenyum – masih dengan jubah hokagenya, memandang Sasuke dan Itachi yang tampak begitu hangat.
"Kakak, b-bagaimana ka-kau..."
"Aku tak tahu Sasuke..." Itachi menggeleng. Sasuke menolong kakaknya yang berusaha duduk, dan digenggamnya tangan Itachi.
"Aku..." Sasuke bingung. Hatinya benar-benar bahagia kakaknya kembali lagi. Kakak yang ia cintai, yang ia sayangi, yang selalu menyayanginya. Tiba-tiba saja, Sasuke memeluk Itachi.
"T-teme..." desis Naruto tak percaya, bahwa sahabatnya yang super dingin itu bisa menunjukkan emosi terpendamnya di hadapan sahabat-sahabatnya.
Sakura menitikkan air mata, terharu. Ia merasa begitu bahagia, melihat Sasuke tampak begitu senang dengan kembalinya sang kakak.
"Hei, kalian tak mengajakku melihat pertunjukkan ini rupanya..." sebuah suara menginterupsi suasana haru di ruang perawatan tersebut.
Seorang gadis dengan terusan biru muda dan kedua katananya di pinggangnya, tampak tersenyum.
"Runa!" Sakura tersenyum memandangi sahabatnya.
.
.
Itachi POV
Sasuke memelukku. Aku balas memeluknya. Aku akui, aku pun merasakan hal yang sama, dimana aku bisa kembali bersua dengan Sasuke dan kembali ke desa kelahiranku. Ini seperti sebuah keajaiban. Bahkan ini tak pernah terlintas dalam mimpi terindahku sekalipun. Aku mengelus punggungnya, memberinya ketenangan.
"Hei, kalian tak mengajakku melihat pertunjukkan ini rupanya..." ucap sebuah suara.
Saat itu, aku melepas pelukanku. Sesosok gadis muncul, berkulit gelap dan bertubuh pendek. Rambut panjangnya yang tampak diikat di bagian ujung, ikatan rendah. Mata kanannya tertutup oleh juntaian rambut yang juga dikucir dengan gaya yang sama seperti rambut dibelakangnya. Ia tampak tersenyum, memandangi kami.
Cantik.
"Runa!" suara gadis berambut pink ini membuatku terasa tersengat.
Gadis ini, ya, itu dia, Runa, yang telah menyelamatkanku. Entah kenapa aku tersenyum tipis. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba mengalir di hatiku. Seperti inikah wajahnya sekarang? Kulit gelap, rambut hitamnya yang terurai panjang. Tubuhnya yang pendek namun berisi itu. Gadis inilah yang telah menyelamatkanku...
"Yo, Sakura!" Runa tersenyum, dan Sakura mengangguk. "Kau datang juga?"
"Hanya menemani Kakashi," katanya, dan muncullah sosok pria bermasker dan berambut perak. "Ia ingin menemui kakak dari muridnya."
Senyumku memudar. Pria itu, aku memang mengenalnya. Ia juga seorang ANBU, kalau aku tidak salah.
"Bagaimana keadaanmu Itachi?" tanya Kakashi, memandangku dengan pandangan malasnya seperti biasa. "Kudengar saat kau dibawa kesini tubuhmu babak belur."
"Masih terasa sakit, tapi lebih baik..."
"Baguslah kalau begitu,"
"Nah Uchiha-san, sebaiknya makan dulu. Dan para penjenguk lainnya," Sakura memandang jam dinding, "Jam besuk sudah habis! Hush! Keluar! Dan Runa, kau bantu aku disini..."
"Eh? Aku?" Runa melongo. "Tapi aku baru saja pulang!"
"Tidak ada tapi-tapian...yang lainnya, KELUAR!"
Kulihat Runa memandangi Kakashi dengan tatapan kesal. Wajahnya lucu sekali saat itu. Kakashi hanya menatapnya dengan tatapan : apa-ada-yang-salah? Dan Runa memandangnya dengan tatapan : semua-ini-salah-mu! Akhirnya Kakashi, Sasuke dan Naruto akhirnya pulang dengan wajah kesal dan menggerutu. Sakura keluar setelah menyuntikkan beberapa vitamin di selangku, lalu pergi keluar dari ruang perawatanku. Sementara Runa tampak terpekur, mungkin bingung.
Saat itu akhirnya kamar mulai sepi. Hanya aku dan dia ruangan tersebut. Perutku terasa lapar, tapi tanganku tak cukup kuat untuk bergerak.
"Err, kunoichi..." aku memanggil Runa, dan seketika Runa mengangkat alisnya, kaget. "Kau bisa bantu aku?"
"Bantu apa?"
"Suapi aku," kataku pelan. Seketika itu mata Runa membulat. "Tanganku masih agak sakit untuk mengangkat sendok."
"Ooh, baiklah..." Runa mengangguk, lalu menarik kursi yang ada disisi ranjangku. Ia mengangkat piring tersebut, lalu menyuapiku perlahan.
"Katakan saja kalau kau butuh sesuatu," katanya, membuatku agak kaget, meski saat ini aku masih diam dengan wajah stoic milikku sambil tetap mengunyah.
"Terima kasih..."
"Untuk?"
"Sudah membawaku kembali," kataku. Mata biru lautnya membulat kembali.
"Kau tahu itu aku?" Runa menganga, membeku dalam posisi sendok di tangan kanan dan piring di tangan kiri. Aku tersenyum simpul.
"Sudahlah, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, kunoichi."
"Aa," ia mengangguk, meski sepertinya ia agak jengah saat ia mendengarku memanggilnya 'kunoichi' kembali menyuapiku dengan sayur tahu. "Sama-sama, Uchiha-san."
Aku kembali mengunyah, lalu menelan suapan tersebut, menimpali ucapannya.
"Panggil aku Itachi saja."
"Baik, kalau kau meminta demikian..."
Kami kembali terjebak dalam keheningan. Saat itu makanku telah habis. Ia mengambil sari buah di gelas tersebut, lalu membantuku meminumnya dengan sedotan, setelah meletakkan gelas itu kembali, ia duduk lagi dikursi.
"Ada lagi yang bisa kubantu, Itachi-san?"
"Aku ingin bertanya..."
"Hm?"
"Kau dekat dengan Kakashi?"
"Tidak. Aku hanya dekat dengannya sebatas partner dalam pasukan ANBU," Runa menggeleng. "Kenapa?"
Aku menggeleng. Ia beranjak berdiri, menatapku.
"Itachi-san, kupikir ini saatnya kau beristirahat..." Runa tersenyum, sementara aku kembali ke posisi tidurku. Ia membetulkan selimutku, memandangku dengan pandangan teduhnya.
"Selamat malam, Itachi-san," katanya pelan. Tubuhnya menghilang di balik pintu ruang perawatanku.
Aku mengangguk.
Ia lebih cantik sekarang dengan rambutnya yang menjuntai itu. Meski tubuhnya masih tetap pendek dan mata hitam kelamnya kini berganti dengan mata hitam kebiruan, wajahnya tetap membuatku...membeku dan jatuh. Jatuh dalam pesonanya. Hanya saja tatapan diamnya yang sejak dulu membuatku selalu ingin melindunginya kini tak ada lagi, tergantikan oleh tatapan tanpa ekspresi, kecuali sesekali menunjukkan tawa dan senyum kecilnya.
Gadis kecil yang dulu menggemaskan itu, memang bukan lagi seorang Runa yang kukenal dulu.
.
.
Runa POV
Ia hidup kembali.
Ia ada disini, entah dengan cara apa, ia kembali hidup...
Doaku terkabulkan...
Aku menatap lantai dengan hampa. Tapi...
Ia lupa padaku.
Ia melupakanku.
Ia tak mengingatku.
Aku tertegun di depan pintu ruang perawatan Itachi, dengan pandangan kosong.
Jadi semua perasaanku ini...sia-sia?
"Runa-chan?" panggil Sakura dengan wajah bingung, mengagetkanku. "Kau kenapa?"
"A-aku hanya sedikit melamun..." kataku tergagap, "dimana aku harus menyimpan piring-piring kotor ini?"
"Simpan saja di dapur, ada di dekat toilet sebelah sana," Sakura menunjuk ke arah timur. Aku mengangguk, berjalan meninggalkan Sakura. Sepanjang perjalananku menuju dapur otakku tak berhenti memikirkannya. Meski konyol karena aku menyukainya sejak usia 10 tahun, aku tak bisa membohongiku perasaanku sendiri, perasaanku padanya sejak dulu tak pernah berubah. Apalagi semua doaku selama ini – terkabul – tidak, lebih tepatnya Tuhan memberiku lebih daripada yang aku pinta. Tuhan tak memberikan mimpiku tentangnya, tapi lebih dari itu, kehidupannya! Ia kembali hidup!
Tapi mengapa ia tak ingat padaku, gadis pendek berkulit gelap yang rajin membawakannya makanan dan menghabiskan waktu setelah latihan atau misi untuk saling melihat matahari tenggelam?
"Runa, kau yakin kau tak apa-apa?" tanyanya saat aku kembali ke ruangan Sakura/
"Sakura," panggilku padanya. "Izinkan aku merawat Itachi."
Mata Sakura membulat, menatapku kaget. "Ada apa dengannya, Runa?'
Aku menghela nafas, "bukankah dalam surat, aku pernah menceritakan padamu bahwa aku memiliki cinta yang belum sempat kunyatakan karena pria yang kucintai telah tiada?"
"Ah ya, aku ingat, lalu kenapa?" Sakura duduk di sebelahku, yang kini menunduk dengan lelah. Ia mencerna maksud kalimatku tadi, sebelum akhirnya menatapku dengan tatapan tak percaya, mulai mengerti. "Jangan bilang kalau..."
"...ya kau benar Sakura. Itachi lah pria tersebut..." kataku menyelanya. "Tapi sepertinya ia tak mengingatku..."
"Bersabarlah..." Sakura menepuk bahuku. "Mungkin ia terlalu lelah hingga lupa padamu."
"Aku juga berharap begitu. Semoga saja."
~oOo~
Aku meletakkan kedua katana milikku di meja. Kali ini aku mengenakan celana panjang berwarna hitam dan sebuah kaus lengan panjang berwarna abu-abu, karena aku sengaja mengambil pakaian ganti saat aku meminta izin untuk merawat Itachi. Kulihat Sakura masih terlelap di sofa. Aku mengenakan sepatu ninjaku, lalu mencuci muka. Setelah menyisir rambut panjangku, aku membangunkan Sakura.
"Hey, Saki!" aku menggoyang-goyang bahunya. "Bangun, ini sudah jam enam pagi."
Ia membuka matanya, mengerjap-ngerjap. "Runa?"
"Yo," aku tersenyum. "Ayo kita mulai kesibukan kita."
Sakura beranjak duduk, lalu melangkahkan kakinya menuju westafel, mencuci muka.
Suasana rumah sakit? Begitulah, sepi di pagi, ramai saat siang. Kami berdua kesana kemari untuk memeriksa pasien rawat inap dan khusus untuk Sakura, memeriksa pasien yang hanya berkunjung untuk berobat tanpa rawat inap. Sejujurnya ini baru pertama kali aku menginap di rumah sakit dan membantu Sakura, meski sering juga aku membantunya. Tak kusangka bekerja di rumah sakit sama lelahnya dengan mengerjakan misi kelas S. Padahal kalau dilihat-lihat, seperti santai dan memberikan pengobatan memalui chakra murni dan menulis laporan saja kan?
Akunya saja yang sok tahu.
Jam menunjukkan pukul 12 siang. Kami berdua kembali tepar di ruang kerja Sakura.
"Kau sudah memeriksa kamar 112?" tanya Sakura.
"Eh?" aku beranjak duduk. "Aku akan kesana."
Itu kamar Itachi, batinku pelan. Aku mengambil beberapa ramuan seperti yang diberikan dosisnya oleh Sakura, membawa nampan berisi makanan dan membawanya ke kamar tersebut. Sebelum masuk, aku mengambil nafas panjang, menyiapkan hati dan perasaanku dulu. Kuintip dirinya melalui jendela kaca yang ada di pintu sembari berjinjit (151 cm, aku pendek kan?) Saat itu kulihat wajah tampannya tampak tengadah memandang langit-langit. Aku membuka kenop pintu tersebut, dan kulihat ia tersentak.
"Kau masih disini?" tanyanya saat meletakkan nampan berisi makanan dan obat itu di meja kecil sebelah ranjangnya.
Aku hanya mengangguk.
"Bagaimana, merasa sudah baikan?"
"Hm, masih agak sakit di daerah perut dan bahu..."
Aku hanya mengangguk paham
"Mungkin besok sakitnya akan menghilang," kataku pelan.
"Kenapa kau tak memeriksaku?" tanyanya, masih dengan pandangan datar.
"Aku tak begitu ahli soal itu," jawabku singkat. "Apa kau ingin kupanggilkan Sakura untuk memeriksamu?
"Tidak, aku ingin kau yang memeriksanya," sahutnya masih dengan nada yang sama.
Aku menghela nafas. "Baiklah."
Ia beranjak duduk perlahan, membuka kancing bajunya. Aku memang masih memasang wajah datar, tapi hatiku sudah memekik. Apa yang kau lakukan, musang? (Itachi: musang)
"Kenapa kau membuka baju?" tanyaku tetap dengan nada pelan.
"Bukankah saat pemeriksaan biasanya pasien diminta membuka baju?" tanyanya retoris.
"Baiklah, terserah saja," sahutku pelan.
Aku meletakkan kedua telapak tanganku di bahunya, lalu mengalirkan chakra murniku disana. Pendaran cahaya hijau mulai melingkupi bagian bahu tersebut. Jantungku berdegup saat sadar bahwa telapak tanganku hanya berjarak beberapa senti saja dari bahunya. Jujur saja, aku sendiri tak mengerti dengan perasaanku yang tiba-tiba terasa aneh. Tiba-tiba saja ada gejolak untuk menyentuhnya lebih dekat – seandainya ia tidur – sayang saja ia kini sedang memandang wajahku dengan kedua iris kelamnya. Aku mati kutu dengan kedua pandangan tersebut, dan itulah sebabnya sedari tadi aku mengalihkan pandanganku pada kedua tanganku yang kini mulai beranjak menuju dadanya.
Deg.
Tubuh itu memang memukau...
Aku memandangnya masih dengan pandangan sama, menutupi rasa gugupku, walaupun sedari tadi hatiku sudah memekik dan berteriak : TUHANN! Betapa seksinya makhluk ini dengan otot-otot itu!
Kulitnya memang sedikit lebih gelap daripada Sasuke, dengan beberapa bekas luka di bagian tubuh tersebut. Perutnya menunjukkan otot yang tak begitu kentara, tapi cukup membuatku terpekur, apalagi kini saat tanganku memendarkan chakraku disana, memeriksanya. Meski otakku sempat kacau dengan bayangan tubuhnya yang membuatku hapir mimisan, aku harus fokus dengan pemeriksaan ini.
"Hanya beberapa otot yang belum bisa bekerja dengan baik. Seperti yang kukatakan tadi, akan membaik besok atau dua hari lagi," kataku, buru-buru menarik tanganku dari tubuhnya, sementara ia mengancingi pakaiannya.
"Syukurlah."
"Setelah makan, jangan lupa diminum obatmu. Itu untuk memulihkan keadaanmu."
"Terima kasih..."
Aku baru saja hendak keluar dari kamar, tapi ia menarik lenganku seperti kemarin. "Suapi aku."
Aku memandangnya dengan tatapan kosong. Apa dia tidak mengingatku sama sekali?
TBC
Anybody asking why, Runa bisa mengendong Itachi? Jawabannya simpel: dia seorang shinobi, dan keadaan gawat-darurat. Semua orang pasti akan melakukan hal-hal diluar praduga jika menyangkut keselamatan yang dicintai, begitu juga kita, iya khan? #hallah #digeplak
Padahal, behind the scene, Runa juga encok tuh. (Runa: nggak usah buka kartu!)
Anyway, still need your review, minna-san!^^
