Yosh! Ini dia chapter 7! Berbahagialah kalian... karena author memutuskan untuk mengubah gaya penulisan author agar sesuai dengan EYD, jadi kalian tidak akan menemukan angka '²' ini lagi hiks. Maaf untuk ketidak puasannya selama ini (T^T) Ugh..
Warning : ini benar-benar seperti drama! DLDR!
Thanks for your review support ::: Prissycatice :: Michantous :: Grey Orul :: moutonshot :: Hikaru Rikou :: Sexy Cook :: Cosmo :: akakurochan :: Guest :: Inoue-Yuzuka.
Yang mau baca tapi gak review silahkan...
Yang mau baca trus review juga silahkan...
Yang Tidak mau baca—ngapain masuk kesini?/Plak/abaikan
Douzo~
Sanji menata beberapa sandwisch dengan sangat terampil. Ia bangun pagi-pagi sekali hanya untuk menyiapkan sarapan buat keluarga tercintanya. Namun, ditengah kegiatannya, ia harus terhenti ketika melihat adik barunya— Law, yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Ah! Kau sudah bangun, Law? apa tidurmu nyenyak semalam?" tegurnya pada adik barunya, lalu kembali menyiapkan sarapan.
Law tidak menjawab, ia hanya mendengus kesal, tak mau mengakui kalau semalam Sanji benar-benar membuatnya nyaman. Tanpa banyak bicara Ia pun melangkah menghampiri Sanji sekedar melihat apa yang sedang dibuat Kakak barunya tersebut. Wajahnya langsung berubah pucat seketika dikala ia melihat suatu hal yang paling dibencinya di dunia.
"Aku benci roti" ujarnya membuat sang kakak sontak menghentikan aktifitasnya.
Sanji menoleh "Kau.. benci roti?"
Law mengangguk dengan wajah horror "Aku tidak menyukainya"
Mendengar hal itu Sanji tersenyum tipis "Susah juga ya, kau ini benar-benar pemilih. Baiklah, akan ku buatkan yang lain untuk mu"
.
.
.
.
Semua anggota seisi rumah Sanji sudah berkumpul diruang makan, terkecuali Zoro yang memang baru selesai mandi. Ia yang hanya mengenakan celana hitam seragamnya pun berjalan ke ruang makan sambil mengelap kepalanya dengan handuk kecil. Dan, sesampainya ia disana, Zoro langsung saja duduk disebelah ayahnya sambil menaikan satu kakinya di kursi layaknya orang yang sedang makan di warteg. Manik hijaunya melirik Sanji yang masih sibuk "Kau buat apa?" tanyanya penasaran.
"Sandwisch, biasakan berpakaian dengan rapi sebelum datang ke sini Marimo" Sanji mulai meletakan sandwisch satu persatu di meja makan, tapi.. khusus Law, Sanji meletakan sepiring onigiri.
"...?" Zoro yang melihatnya langsung mengernyitkan dahi "Apa ini? Kenapa hanya dia yang sarapannya berbeda?" tanyanya sedikit iri.
Sanji mendudukan dirinya di samping Zoro "Law bilang, dia benci roti, jadi ku buatkan saja onigiri"
Zoro mendecih kesal seraya menggigit sandwischnya "Gh! Kau memanjakannya!"
Sanji hanya tersenyum kecil melihat tingkah adik bodoh kesayangannya yang kembali ngambek "Jangan khawatir Marimo, aku sudah membuatkan onigiri di bento mu" ucapnya kalem sembari menyeka pipi Zoro yang terdapat ceplakan saus dan mayones.
Law yang duduk tepat di hadapan Sanji memandang miris pada kejadian penuh 'kasih sayang' di depannya itu. Selama bertahun-tahun ia tidak pernah merasakan bagimana rasanya diperhatikan oleh seseorang yang ia sayangi, bahkan Ibunya sendiri tidak pernah menunjukan kasih sayang padanya. Dalam hati kecilnya, Law sangatlah berharap untuk mendapatkan kehangatan keluarga sejak ia masih duduk disekolah TK. Tapi, mengingat ayahnya yang seorang playboy dan ibunya yang selalu sibuk dengan kelompok mafianya, hal itu akhirnya hanya menjadi angan-angan saja buatnya. Dan itulah mengapa dirinya jadi selalu bersikap dingin kepada orang-orang.
Karena terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri, Law jadi tidak sadar kalau sedari tadi ia malah menatap Sanji terus menerus dengan sorot mata yang memancarkan harapan— Seandainya aku seperti itu— tapi dengan mimik wajah yang masih datar.
Merasa kalau dirinya tengah diawasi sedari tadi oleh Law, Sanji langsung saja menolehkan kepalanya dan balik menatapnya. Hal itu sukses membuat Law tersentak kaget dan reflek mengalihakan pandangannya kearah lain sembari memakan onigirinya.
Lagi-lagi Sanji hanya memberikan senyum kecil untuk menanggapi gelagat adik barunya yang kini mulai terlihat seperti Zoro. Ia lalu menjulurkan tangannya kedepan untuk mengusap sudut bibir Law.
Hal seperti itu tentu saja membuat Law tercekat, ia terhenyak menatap Sanji dengan tatapan tajam seolah-olah berkata— 'apa yang kau lakukan?' dengan harapan kalau Sanji akan takut padanya, namun, yang terjadi justru sebaliknya. Sanji malah menahan tawanya ketika melihat wajah bingung Law yang lebih terlihat lucu ketimbang menyeramkan.
"Bodoh! Makanmu belepotan, Law" tukas Sanji setelah selesai membersihkan sisa onigiri yang menempel di wajah Law.
Law sendiri sempat terdiam beberapa detik mencerna kata-kata Sanji, lalu dengan cueknya ia kembali melanjutkan makannya walaupun pikirannya sedang berkecamuk. Ya, berkecamuk, —karena salah satu harapan terbesarnya baru saja terjadi.
Mari kita lihat kesisi lain, di mana Zoro tengah menggeram kesal sembari mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia menatap Law dengan pandangan tidak suka. Ini tidak bisa dibiarkan! Dia tidak mau kalau Sanji semakin lama semakin memperhatikan Law seperti halnya dirinya! Ia benar-benar tidak mau kalau Sanji sampai membagi perhatiannya pada orang lain. Sanji itu kakaknya! Bukan kakak Law! ya kan? Lagi pula, siapa si Law itu? dia hanyalah anak dari seorang wanita tidak jelas yang menjadi korban ayahnya. Bukan begitu?
.
.
ˁˀ ZoSan ˁˀ
.
.
"Hei kau! tunggu sebentar!" Sanji menarik kerah belakang Law saat disaat Law baru saja ingin beranjak keluar rumah. Diperhatikannya penampilan Law sejenak.
Baju dikeluarkan, tidak dikancingkan dengan benar, dan— tidak memakai dasi. Sungguh berantakan.
"Ini hari pertamamu masuk sekolah, dan kau ingin memberikan kesan buruk dengan penampilanmu itu?" dengan sedikit kesal Sanji terpaksa membenarkan kancing seragam adik barunya yang teramat menyebalkan, sedang Law sendiri hanya diam membiarkannya "Mana dasi mu?" tanyanya setelah selesai merapikan seragam Law.
Law menjawab dengan malas "Tsk! Untuk apa?"
Puk!
Sanji meraih wajah Law dan menariknya agar menunduk, sial! lagi-lagi ia kalah tinggi dengan adiknya yang lain.
"Tentu saja untuk kau pakai, bodoh"
"Ck!" merasa risih Law segera melepas kedua tangan Sanji dengan tepisan kasar.
"Aku tidak mau memakainya" jawabnya acuh, tidak memperdulikan sebuah kerutan kesal yang mulai menghiasi wajah Kakak barunya.
"Kau harus memakainya, Law" titah Sanji masih menahan batas kemarahannya.
"Tidak mau"
Sekarang Sanji menghela nafas.
"Hanya untuk hari pertama saja!" bentaknya sedikit, masih berusaha sabar menghadapi adik barunya yang keras kepala.
"Ku bilang tidak, ya tidak"
Dan akhirnya, dengan teramat jengkel disertai urat-urat kekesalan yang sudah numpuk di wajahnya, Sanji pun langsung menghadiahi deathglare pada Law dengan aura membunuh.
"Cepat ambil!"
"!"
Seketika Law menelan ludahnya. Ia tak pernah menyangka jikalau kakak barunya yang cerewet itu bisa terlihat sangat menyeramkan, persis seperti ibu(kandung)nya kalau sedang badmood.
"R-Room..." gumamnya pelan, dan seketika langsung menghilang dari hadapan Sanji.
"?!" Sanji yang memang tak tahu apa yang barusan terjadi hanya bisa terhenyak bingung "...K-Kemana bocah kurang ajar itu?!" jeritnya sembari celingukan mencari sosok bocah berkepala hitam.
"Aku disini" jawab Law yang tiba-tiba muncul dibelakang Sanji.
"?!" sontak membuat wajah Sanji membiru "Ke-Kenapa kau bisa ada dibelakang ku?" tanyanya panik. Masih bingung dengan apa yang Law lakukan sehingga bisa menghilang dan muncul seenak jidatnya.
Law sendiri malah mengangkat sebelah alisnya heran.
"Bukankah tadi kau yang menyuruhku mengambil dasi? Ini!"
Ia melempar dasinya tepat kearah muka Sanji, namun tak berhasil mengenai karena Sanji langsung menangkapnya, yah... walaupun dengan tangan gemetar yang sedikit gugup.
"Ta-tadi itu... —OI! Mau kemana kau! Pakai dasimu dulu!"
Dan karena dongkol yang menguasai dirinya, Sanji yang tadinya ingin menuntut penjelasan dari sang adik, malah jadi sibuk menarik baju Law yang hendak melenggang pergi.
"Kau ini... benar-benar susah diatur dari pada Marimo itu!" omelnya sembari memakaikan Law dasi dengan paksa.
Dilain pihak, dapat kita lihat seseorang dengan rambut hijau noraknya, tengah menggeram kesal sambil meremas-remas gagang besi di tangga. Ia yang baru saja keluar dari kamarnya dan bersiap-siap untuk turun, tak sengaja melihat pemandangan yang membuatnya kesal bukan main di bawah sana.
Dimana kakak 'tercintanya' sedang berduaan(?) dengan saudara barunya yang 'sok' misterius itu. Bila dilihat dengan jelas lagi, wajah Zoro saat ini nampak benar-benar menyeramkan dengan— lobang hidung yang megar— bibir bawah maju— mata memicing— dan tangan berurat yang terkepal kuat-kuat.
Dengan hembusan nafas berat, ia langsung menghentakan kakinya keras-keras menuruni tangga, persis seperti anak kecil yang sedang main sumo-sumoan.
"Nah, setidaknya dengan begini kesan pertamamu disekolah tidak terlalu buruk" Sanji tersenyum puas setelah selesai memakaikan dasi pada adik barunya.
Law yang memang nggak suka diatur oleh siapapun, hanya bisa mendecih tak suka lalu melonggarkan dasinya "Geh! Cerewet!" gumamnya sedikit kesal sembari membuang wajah, sementara Sanji tertawa remeh lalu menyentil kening Law.
Namun tiba-tiba saja sosok Zoro— yang sekarang terlihat 'super jelek' di banding menyeramkan, datang ke hadapan Sanji. Ia merentangkan satu tangannya yang tengah memegang gumpalan kain hitam bermotif garis-garis putih kedepan wajah sang kakak.
"Aku juga mau pakai dasi!"
.
.
.
.
.
.
Vergo sudah berdiri dengan mobil mewah di belakangnya ketika tiga saudara itu keluar rumah. Dan di seberangnya, nampak berdiri dua orang pria berambut hitam mengenakan seragam SMA yang sama dengan tiga saudara itu.
Ace yang melihat Sanji keluar pun langsung berlari menghampirinya bersama Luffy.
"Ohayou! Aku sudah menunggumu dari tadi, Sanji" serunya yang langsung menerjang Sanji dengan pelukannya, Zoro yang memang sudah terbiasa dengan sifat 'kurang ajar' Ace terhadap kakaknya hanya bisa mengumpat kesal dan berencana membunuhnya disaat ia selesai menyingkirkan Law.
"Yoo! Zoro! Kita berangkat bersama seperti biasa!" ujar Luffy dengan suara cemprengnya sembari merangkul Zoro
Law sedikit tercengang ketika melihat kejadian yang menurutnya 'sedikit ganjil' pada kakak barunya dengan seorang pria berambut hitam. Ia hanya menatap Ace dengan pandangan datarnya sedangkan Ace yang sadar kalau dirinya sedang diperhatikan langsung membalasnya dengan tatapan dingin, sukses membuat Law sedikit tersentak.
"Oi! Ace! Lepaskan" Sanji mendorong Ace agar melepas pelukannya, tapi... bukan Ace namanya kalau menuruti kata-kata Sanji begitu saja. Ia malah makin mengencangkan pelukannya.
"Hnngggg. . . siapa dia, Sanji?" Ace mengerutkan dahinya merasa asing dengan sosok Law.
Luffy yang tengah merangkul Zoro pun ikut melihat objek yang sedang diamati oleh kakaknya, ia memiringkan kepalanya heran lalu beralih ke depan Law.
"Heeeeee? Aku belum pernah melihat dia sebelumnya? Apa dia sepupumu, Sanji?" tanya Luffy sambil ngupil.
Sanji hanya memasang wajah datar lalu menjawab singkat "Dia adikku"
?!
"...EEEEEEHHHHH?" Ace terlonjak kaget sampai melepaskan pelukannya sedangkan Luffy masih sibuk loading mencerna kata-kata singkat Sanji barusan.
Satu detik,
Dua detik,
Tiga det—
"Tidaaaaak! Apa kau serius Sanji? Orang ini adalah adikmu? Hoeeee~! Ini buruk! Aku punya saingan selain Zoro!" Luffy menangis sambil memeluk(Baca: melilit) Sanji dengan kencang.
"Ugh! Aku tidak bisa bernapas..."
"OI LUFFY! LEPASKAN! DIA BISA MATI!"
Ace dan Zoro buru-buru melepaskan pelukan(lilitan) maut Luffy dari Sanji.
"Hoeee~ kenapa sebelum Ace menikahi mu, kau sudah punya adik yang lain Sanjiiiiii? Sebagai calon adik ipar mu, aku merasa ini tidak adil! Cukup Zoro saja yang menjadi sainganku!" tutur Luffy seraya melepaskan pelukan(lilitan)nya dari yang bersangkutan lalu beralih pada Law "Hei kau! Walau pun kau adalah adiknya Sanji juga, aku tidak akan pernah membiarkannmu mencuri secuilpun makananku! Mengerti?" tandasnya sembari menunjuk hidung Law. Semua yang ada disana kecuali Law langsung bersweatdropria mendengar kata-katanya.
Law sendiri hanya menatap Luffy datar lalu tersenyum tipis "Heh, tenang saja Mugiwara-ya, aku tidak akan melakukan hal itu" tukasnya sambil melirik topi jerami yang di kalungkan Luffy.
Sanji menghela nafas melihat hal konyol itu "Hah.. aku akan segera masuk rumah sakit jiwa kalau kau juga menjadi adikku, Luffy" gumamnya frustasi.
Tanpa banyak bicara Ace langsung menuntut penjelasan dengan tatapan bingungnya yang seolah-olah bertanya— 'Apa yang terjadi?'
Namun bukannya menjawab Sanji malah mendesah frustasi lalu meletakan kedua tangannya diatas pundak Ace dengan mesra(?).
"Nanti saja ku jelaskan, —oh ya, maaf. Untuk hari ini aku tidak bisa berangkat bersamamu" jelasnya tak lupa melirik Law dan Vergo untuk memberikan alasan.
Setelah menyuruh Ace dan Luffy untuk pergi duluan. Sanji dan kedua adiknyapun berangkat kesekolah bersama, mereka diantar oleh Vergo. Walau sebelumnya sempat ada perdebatan kecil antara Law dan Zoro sebelum menaiki mobil. Seperti memperebutkan tempat duduk, —Law yang tidak mau duduk dikursi depan dan Zoro yang tidak mau duduk jauh-jauh dari Sanji.
Dan alhasil jadilah mereka bertiga duduk di kursi belakang, dan tentunya Sanji duduk ditengah untuk menjadi penghalang bagi Law maupun Zoro agar tidak tersulut api perkelahian. Hah... hal merepotkan yang pernah terbayang dipikiran Sanji sebelumnya, ternyata menjadi kenyataan.
Di tengah perjalanan, Zoro si tukang nyasar plus tukang tidur itu, tertidur pulas di bahu Sanji sambil memeluk pinggang sang kakak seakan-akan takut akan kehilangannya. Sanji sendiri malah sibuk mengusap kepala hijau adiknya dengan lembut. Tak peduli akan gelembung ingus yang kembang kempis rawan meledak didekatnya.
Law yang lagi-lagi melihat kejadian penuh 'kasih sayang' pada dua orang yang duduk disebelahnya hanya menatapnya datar sambil menopang dagunya dengan tangan kirinya di jendela mobil. Sanji yang tak sengaja menangkap basah Law sedang memandanginya hanya tersenyum tipis, membuat Law langsung memalingkan wajahnya ke jendela dengan gugup.
"Apa kau ingin tidur juga?" tegur Sanji, rencananya sih ingin sedikit menggoda adik barunya itu, dan nampaknya berhasil telak karena yang bersangkutan langsung mendengus tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.
"Heh! Hanya orang bodoh saja yang tidur di pagi hari!"
Sanji tersenyum geli, menahan tawanya lalu melirik kearah Zoro "Ya, memang benar"
Dikelas Luffy dan kawan-kawan,
"Apa benar yang kau katakan itu Luffy?" Tanya Usopp tidak percaya.
"YOP!" Luffy mengangguk.
"Wahh! Kalau itu benar, berarti... ufufufu..." Vivi tertawa nista sambil mencatat sesuatu di buku catatan yang selalu ia bawa.
"Uwaa... ternyata Zoro punya saudara selain Sanji" Chopper berteriak senang
"Whoa! Sepertinya ini akan menjadi sesuatu yang super sekali!"
"Tunggu dulu Luffy, kau tidak bercanda kan?" Nami menatapnya curiga
"Aku serius Namiiiii, aku bertemu dengannya sebelum berangkat!"
Brak!
Tiba-tiba Zoro membuka pintu kelas dengan kasar. Yah, itulah Zoro, kemana-mana selalu mendobrak pintu seakan-akan dia punya dendam kesumat(?) sama pintu yang tak berdosa(?)
"Nah! Itu dia, Zoro!" Luffy menghampiri Zoro, tapi sayangnya Zoro tidak mempedulikannya dan langsung saja nyelonong masuk kelas lalu duduk di kursinya dengan malas sambil menaikan kedua kakinya ke meja.
Diruang Kepala sekoah,
"Kau datang kemari, dan membawa adikmu yang lain, ku harap dia tidak sebrutal bocah lumutan itu" tutur Garp seraya menggosok-gosok dagunya menerka-nerka prilaku seperti apa yang dimiliki oleh Law yang dari tadi menatapnya datar, sama seperti pandangan Zoro si lumut berandalan saat menatapnya.
Sanji hanya memaksakan senyumnya mendengar hal itu "Umm.. Jadi.. Law masuk ke kelas mana Jii-san?"
"Dia akan ku tempatkan di kelas Shanks"
.
.
ˁˀ ZoSan ˁˀ
.
.
Waktu istirahat,
Law menatap bosan semua teman-teman barunya saat berkumpul di kantin. Tadinya ia tak berniat kemana pun saat jam istirahat, tapi ketika ia tiba-tiba dikepung oleh gadis-gadis dikelasnya tadi, ia jadi terpaksa menerima ajakan Luffy kekantin agar tidak meladeni para gadis-gadis gaje di kelasnya. Dan jadilah seperti sekarang ini.
"Yohohoho... aku tidak menyangka kalau Sanji-san memiliki adik yang lain"
"Ya... kita juga" sahut Marco dan Sabo bersamaan
Robin hanya tersenyum misterius melihat Zoro yang sudah pasang tampang bosan tingkat dewa tidak jauh beda dengan Law.
Nami celingukan mencari dua sosok pria yang sedari tadi tidak kelihatan "Mana pasangan OSIS mesra itu?"
"Mereka bilang ada urusan" sahut Robin
"Mungkin mereka sedang bercumbu" celetuk Marco
"Gyahaha, mungkin saja" sambung Sabo
Buak! Buak!
Sanji yang baru datang langsung memberikan tendangan gratis pada ubun-ubun Sabo dan Marco sekencang-kencang nya.
"Jangan bicara macam-macam tentang orang lain" dampratnya kesal sedangkan Ace yang melihat kedua temannya terkapar hanya menatapnya prihatin.
Law memandang kedua pria yang baru saja datang dengan sebelah alis terangkat, rupanya yang sedaritadi sedang di bicarakan adalah kakak barunya dan juga pria berambut hitam itu. Lalu tadi... kalau tidak salah si wanita dengan rambut orange itu memanggilnya... 'pasangan OSIS mesra?' Apakah mereka berdua pacaran? Ia kira kakak barunya itu, type pria yang hanya menyukai wanita tapi ternyata... hah.. masih banyak hal yang belum ia ketahui.
"Darimana saja kalian berdua?" Nami bertanya dengan nada introgasi pada pasangan OSIS itu.
Wajah Sanji yang tadinya kesal langsung berubah menjadi ceria dengan background lope lope saat melihat wanita pujaan hatinya, yaitu Nami si gadis iblis(kata Zoro) "N-Nami-swaan~ Aku senang kau men—" sebelum Sanji sempat menyelesaikan kata-katanya, ia merasa pinggulnya di tarik cepat oleh seseorang sehingga membuatnya tak bisa menghampiri Nami-san tercintanya.
"Kau tahu bagaimana sibuknya kami sebagai pengurus OSIS" Ace langsung menjawab pertanyaan Nami secepat kilat lalu mendekatkan wajahnya pada tengkuk Sanji.
"Jangan lupa kalau sekarang kau adalah kekasih ku, Sanji" bisiknya sambil melirik sekumpulan fansgirlnya yang tengah meringis sambil gigit jari. Sanji yang mengerti maksud Ace pun langsung pundung lalu mendudukan dirinya di sebelah si ketua OSIS.
Zoro menekuk wajahnya, ia benar-benar tidak suka melihat kemesraan Ace dan Sanji di depannya. Vivi yang duduk disebelahnya menatap Zoro dengan penuh rasa iba lalu menulis sesuatu di 'buku' catatannya dan setelah itu menepuk bahu Zoro sembari tersenyum. 'tenang saja Bushido-san, aku akan selalu mendukung mu' ucapnya dalam hati.
"Whoa! Sekarang kau membawa tiga bento Sanji!" seru Luffy ketika melihat Sanji meletakan tiga kotak bento dengan warna yang berbeda di meja. Ia mencoba mencurinya tapi segera di tepis oleh Sanji.
"Ini untuk kedua adikku Luffy" Sanji memberikan kotak bekal berwarna hijau pada Zoro dan kotak bekal berwarna ungu pada Law.
"Ng... tapi aku ini kan juga adikmu Sanjiiiiiiii" Tangan Luffy mengendap-endap ingin mengambil kotak bekal berwarna biru milik Sanji tapi lagi-lagi gagal karena Sanji menepis tangannya. Kasihan...
"Wah... imutnyaaaa.. Bushido-san! Torao-san! Kalian beruntung sekali memiliki kakak seperti Sanji-san ya" celetuk Vivi ketika melihat isi bekal Law dan Zoro yang berisikan beberapa Onigiri yang di bentuk-bentuk seperti kepala boneka segitiga dan sebagainya sehingga terlihat menarik.
Sanji tersenyum senang "Terimakasih pujiannya Vivi-chan, sebenarnya aku sempat bosan membuatkan onigiri terus menerus untuk Zoro, tapi karena Law juga menyukai onigiri, jadi ku buatkan variasi baru agar aku tidak bosan melihatnya"
Sanji lalu ikut membuka kotak bekalnya, namun, baru saja ia ingin melahap bekalnya tersebut, dirinya malah disuguhi pemandangan nista dua orang bocah(Ace dan Luffy) yang tengah ngiler dengan derasnya sambil menatap lekat-lekat bento yang dipegangnya saat ini. Melihat hal nista itu, Sanji mengehla nafas lelah, dengan terpaksa ia meletakan makanannya kembali kedalam kotak bento lalu memberikan bekalnya pada dua orang idiot itu.
"Ini" Sanji menggeser bekalnya kedepan agar Luffy juga bisa mengambilnya.
"Whoa! Terimakasih Sanji!" seperti biasa, Luffy langsung menarik kotak bekal Sanji namun secepat kilat tangan Ace segera menahannya "Oi! Luffy, ini juga milikku!"
Tak mengindahkan ucapan sang kakak Luffy menarik bentonya "Kau tidak boleh serakah Ace!"
"Justru kau yang serakah dan akan memakan semuanya!" Ace menarik balik kotak bekal di tangannya agar tidak diambil oleh Luffy. Dan... begitulah seterusnya, mereka jadi saling tarik menarik bento satu sama lain.
Sanji yang tidak tahan melihat tingkah mereka akhirnya memutuskan untuk memukul dua orang idiot itu agar berhenti. "Grr! Biar ku bagi sama rata!" geramnya lalu membagi bekalnya sama rata pada kedua idiot Luffy dan Ace.
Disudut lain, Vivi sudah berbinar-binar melihat pemandangan favoritnya di depan mata kepalanya sendiri, ia meletakan kedua tangannya dipipi sambil meracau sesuka hati. "Uwahh... Sanji-san... kau sudah seperti seorang ibu ya... benar-benar seperti sebuah keluarga, dengan Ace-san yang berperan sebagai ayah dan Sanji-san sebagai ibu, kalian juga memiliki beberapa anak nakal yaitu, Luffy-san, Bushido-san, dan juga anak baru, Torao-san! Uwah~ keluarga yang harmonis~" racaunya tanpa sadar dengan background berbunga-bunga membuat semua orang kecuali Robin memandangnya dengan aneh. Apa hal itu yang selalu dipikirkan oleh gadis bersurai biru muda itu.
"Hiks... Vivi-chan... bagaimana bisa kau beranggapan seperti itu..." desah Sanji dengan wajah horror. Betapa sedihnya ia ketika salah satu dari ladies pujaannya mengatakan hal yang ia anggap sebagai mimpi terburuk yang pernah ada.
.
.
ˁˀ ZoSan ˁˀ
.
.
"Aku tidak menyangka kalau kau memiliki adik selain Zoro, Sanji-san" Kuina berdiri dihadapan Law, memperhatikannya dari bawah ke atas entah dengan tujuan apa.
Sanji menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan gugup "Haha... begitulah Kuina-san, dia bilang dia ingin masuk klub ini"
Law hanya menatap Kuina dingin ketika dirinya sedang di observasi oleh pelatih Kendo yang sepertinya sedang mengukur kemampuan seperti apa yang dimilikinya.
"Cukup bagus! Walau hanya melihatnya saja, aku sudah tahu kalau dia memiliki kemampuan yang hampir setara dengan Zoro, bahkan mungkin lebih" Kuina menggosok-gosok dagunya sambil manggut-manggut. Ia kemudian beralih pada sebuah buku berukuran A4 di lokernya untuk mendata Law sebagai anggota baru di klubnya.
"Siapa namamu?" tanyanya seraya menyiapkan pulpennya
"Traf—"
"Trafalgar Law, Kuina-san" sebelum Law sempat menyelesaikan kata-katanya Sanji sudah lebih dulu menyebutkan namanya.
Kuina pun mencatat nama Law dan mendatanya sebagai anggota baru. Entah mengapa ia jadi kepikiran dengan Zoro. Ia menghela napasnya sebentar sebelum bicara lagi pada Law. "Mulai besok, kau sudah boleh latihan aktif di klub ku. Dan ini jadwal hari-hari kita. Jangan sampai terlambat, aku tidak suka orang yang kurang disiplin" Kuina memberikan secarik kertas pada Law yang langsung mengangguk mantap mengambilnya.
"Terimakasih Kuina-san." Sanji memberikan senyum terbaiknya, sedang Kuina hanya dapat mengerutkan dahinya dan memaksakan senyumnya, sedikit merasa keberatan dengan kedatangan Law "Sama-sama Sanji-san."
.
.
Zoro memainkan batu kerikil ditangannya, melemparkannya ke udara untuk kemudian di tangkap lagi olehnya. Ia berdiri di pinggir pagar atap sekolah hanya untuk memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menyingkirkan saudara barunya yang cepat atau lambat sepertinya akan mengambil semua perhatian Sanji darinya.
"Oi! Calon adik ipar! Jangan terlalu sering melamun di dekat pagar, ingat ini lantai tiga! Kau bisa mati jika terjatuh dari atas sini dan membuat calon istri— ehem kekasihku menangis karena memikirkanmu."
Suara dari sosok yang sudah Zoro anggap sebagai saingannya dalam memenangkan hati Sanji langsung meyadarkannya dari lamunannya dan juga membuatnya langsung membidikan batu kerikil yang tadi ia mainkan tepat ke depan wajah Ace karena telah sekaligus membuatnya naik darah. —Dan tentu saja Ace reflek merubah wujudnya menjadi api sehingga kerikil itu tembus melewati wajahnya.
"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah menikah dengannya." tandas Zoro dengan nada datarnya yang mengandung unsur membunuh, membuat Ace yang berdiri tiga meter di depannya memiringkan kepalanya dengan pandangan menyelidik. Zoro yang sadar tengah diawasi jadi merasa was was, takut kalau Ace menyadari perasaan yang dimilikinya terhadap Sanji.
"Tingkahmu aneh sekali, jangan-jangan..."
Zoro terdiam menahan nafasnya. Apakah Ace menyadarinya? Pikirnya.
"Kau... tidak menyukai bocah Trafalgar itu ya?" tebak Ace yang tentu saja langsung membuat Zoro menghela nafas lega.
"Bagaimana kau tahu?" Zoro balik nanya. Ace langsung melipat kedua tangannya didada sambil tersenyum lebar.
"Jadi... tebakanku benar... kalau calon adik ipar ku ini tidak menyukai calon adik ipar baruku" tukasnya dengan nada menyebalkan membuat Zoro yang mendengarnya menjadi dongkol.
"Geh! kau ingin mengadu kekuatan denganku?" tantang Zoro
"Ah! Oh! Sabar.. sabar.. tenangkan dirimu. Kau tahu? aku juga tidak menyukainya"
Zoro kembali lagi bersandar di pagar sambil mengerutkan dahinya.
"Tadi saat kau menolak untuk mengantarkan si bocah Trafalgar itu mendaftar ke klub kendo, Sanji jadi harus mengantarkan bocah itu sendiri. Dan karena tidak rela melihat mereka berduaan, aku pun juga ikut mengantarnya, tapi sialnya, saat ditengah perjalanan, tiba-tiba saja aku—entah bagaimana— sudah berada di dalam toilet wanita yang tadinya aku lewati bersama Sanji dan juga anak itu! kurang ajar bukan?! Satu hal lagi, apa kau juga menyadari kalau saudara baru mu itu adalah pengguna buah iblis? Aku ingin sekali membakarnya sampai hangus saat itu juga" jelas Ace menggebu-gebu dengan tangan terkepal yang sudah mengeluarkan api.
Zoro menatapnya tidak senang, ia tidak peduli dengan segala curhatan Ace yang tidak penting, ia hanya fokus dengan satu hal ganjil tadi. "Pengguna buah iblis?" tanyanya geram.
"Begitulah, sepertinya dia type 'paramecia' yang bisa mengendalian ruang" tambah Ace.
Zoro menggeram kesal lalu pergi dari sana setelah menendang pagar. Meninggalkan Ace yang tercengang sendirian.
.
.
.
.
.
.
Setelah mengantar Law untuk mendaftar di klub pilihannya, Sanji kemudian kembali kekelasnya dan tak sengaja bertemu Ace yang kebetulan baru turun dari atap sekolah. Ia pun mempercepat jalannya menghampiri Ace "Oi Ace! Tadi kau pergi kemana? Kenapa tiba-tiba menghilang huh?" tegurnya sambil menepuk pundak Ace.
Ace yang ditanyai seperti itu cuma bisa ketawa nggak jelas dengan wajah menyeramkan "Ahahaha! Sanji... kebetulan sekali, kau datang di waktu yang tepat!"
Sanji mengerutkan keningnya menatap Ace heran.
"Apa kau tahu? Adik barumu itu benar-benar kurang ajar" ucap Ace seraya mendekatkan wajah seramnya pada Sanji.
"Apa maksudmu?" karena risih Sanji segera mendorong wajah Ace.
"Dia, adik barumu itu, memindahkan ku ketempat yang seharusnya tidak boleh kumasuki"
Sanji mendelik heran "Huh? Law? Memindahkan mu? Bagaimana bisa?"
Ace mengusap wajahnya frustasi "Jangan bilang kau tidak tahu kalau adik barumu itu pengguna buah iblis"
SING~
Sanji teringat sesuatu "Ah...! jadi dugaanku yang tadi pagi itu benar! Pantas saja dia bisa menghilang dan muncul tiba-tiba dibelakangku! —Memang dia memindahkanmu kemana Ace?"
"Dia membuatku berada di dalam toilet wanita" jawabnya malas seraya memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. Sanji yang mendengarnya langsung tertawa, ia membayangkan betapa nistanya wajah Ace yang notebene alergi pada wanita— tiba-tiba saja berada dalam toiet yang berisikan para gadis-gadis yang langsung mengeroyoknya.
"Wahahaha! Lucu sekali! Kau masuk toilet wanita? Hahaha! Konyol! Toilet wanita—eh? Toilet... wanita...?" Ace mengangguk malas. Wajah Sanji langsung berubah horror dengan background menyeramkan seketika itu juga "Law no yaroo... " ia menundukan kepalanya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat "Anak itu... awas saja! Aku harus memberinya pelajaran! Berani sekali dia membuat para wanita merasa terancam dalam ruangan pribadi mereka?! Dasar bocah sialan!"
.
.
ˁˀ ZoSan ˁˀ
.
.
"Kenapa kau bertindak sembarangan?! Apa kau tahu tindakanmu itu dapat membahayakan para wanita?! Dasar bodoh!" geram Sanji. Ia berusaha keras menahan jari-jarinya agar tidak mengacak-acak rambut Law sampai berantakan.
Sedang yang bersangkutan malah mengalihkan pandangannya ketempat lain dengan bosan "Aku hanya bermain-main saja, dia sangat mengganggu jadi ku tempatkan saja disana. Lagi pula, apa kau tidak risih diikuti terus olehnya?"
Sanji mengusap wajah frustasi, lelah menasehati Law sedari tadi "Tentu saja aku risih, tapi bukan seperti itu caranya!"
Law tidak mendengarkan ocehan kakaknya dan malah melengos pergi menuju kamarnya(baca : kamar Sanji). Ia ingin segera beristirahat sehabis pulang sekolah bukan malah mendengarkan ocehan tidak penting dari kakak barunya.
"Hoi! Dengarkan kalau orang bicara!" namun Sanji tak membiarkannya pergi dan malah menarik Law kembali yang tentu saja langsung ditepis oleh yang bersangkutan.
"Kuberi tahu padamu, jika lain kali kau ingin memindahkannya, tempatkan dia ketempat lain, jangan di toilet wanita lagi! Mengerti?"
Law mengangkat sebelah alisnya "Huh? Kenapa kau yang jadi sewot? Memang kenapa kalau disana?"
"Pokoknya tidak boleh! Hal itu akan membuat para gadis merasa tidak nyaman! —Dan juga Ace alergi dengan wanita! Kalau kau tidak mematuhinya, aku akan menghajarmu!"
Law mendecak kesal "Aku heran, apa yang membuatmu tertarik pada pria bodoh sepertinya, Sanji-ya?" Ia menatap dingin Sanji.
"E-ehk?" raut wajah Sanji berubah menjadi horror "A-aku tidak tertarik padanya! Aku dan Ace hanya berteman!" jawabnya cepat
Law mengerutkan keningnya. Sanji sontak meneruskan kata-katanya "Hah... aku dan Ace hanya berpura-pura pacaran"
"A—" sebelum Law sempat menanyakan sesuatu yang lain pada Sanji, Zoro yang sudah mengganti seragam sekolahnya tiba-tiba datang menghampiri mereka dan memeluk Sanji dari belakang.
"Aku lapar..." rengeknya manja. Ia membenamkan wajahnya dileher Sanji yang langsung menepuk kepalanya pelan.
"Tch! Jangan mulai manja lagi Marimo, memang kau ingin makan apa, huh?"
Zoro mengangkat kepalanya dan menyandarkan dagunya di bahu Sanji untuk berpikir "Aku ingin... ngg.. Yakitori"
Law merengut, melihat hal itu entah mengapa ia jadi meras kesal sekaligus iri pada Zoro. Makanya ia segera memilih pergi kekamarnya untuk istirahat, tapi sebelum itu Sanji melepaskan pelukan Zoro darinya lalu menahan Law. "Kau ingin kubuatkan apa, Law?"
Law mendelik dengan tatapan dinginnya lalu menjawab dengan malas "Terserah" dan setelah itu menepis tangan Sanji lalu pergi kekamarnya yang sebenarnya adalah kamar sang kakak, karena kamar miliknya masih belum selesai dibersihkan.
.
.
.
.
.
.
Sanji mendesah lelah. Ia melangkah menuju kamarnya dengan kesal, di tangannya sudah ada nampan yang berisi makanan lengkap dengan segelas air mineral disana. Kalian pasti bertanya-tanya kenapa? Itu karena Law— adik barunya tidak mau ikut makan malam bersama dan melewatkan makan malam begitu saja. Tidak mau repot-repot mengetuk pintu kamarnya sendiri, Sanji pun menendang pintu tak berdosa itu agar terbuka di kala kedua tangannya tengah sibuk membawa makanan untuk Law.
"Oi Law! Makan malam!"
"..."
Oke, sampai kapan Sanji harus bersabar menahan amarahnya pada bocah Trafagar sialan itu? Bagaimana bisa adik barunya itu tidak sedikitpun menolehkan kepalanya pada Sanji atau menjawab perkataannya?
Dengan sedikit geram Sanji pun melangkahkan kakinya mendekati Law yang tengah duduk di meja belajar sambil membaca buku. Ia meletakan nampan berisi makanan itu di samping Law. Membuat sang adik mau tak mau harus memalingkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca untuk beralih pada Sanji.
"Makan itu" titah Sanji sambil melipat tangannya
Law menghela pelan. "Aku tidak lapar" ujarnya yang langsung saja membuat Sanji langsung berada diambang batas kesabarannya.
"Gezz... Kau ini! Ku bilang makan! Jangan berniat mengosongkan perutmu!" bentaknya pada Law sambil menggebrak meja. Ia terpaksa melakukan itu karena tidak mau kalau salah satu adiknya jatuh sakit. Bagaimanapun juga, Sanji sudah menerima Law sebagai adik kandungnya dan wajib mengurusnya dengan baik, sama seperti halnya ia mengurus Zoro.
"Aku tidak nafsu makan, jangan memaksa ku" alih-alih menurut, Law malah kembali menatap buku yang ia baca dan mengabaikan Sanji, Dan tentu saja Sanji selaku kakak yang bertanggung jawab untuk merawat adiknya dengan baik, tidak tinggal diam dan langsung menarik kerah baju Law agar Law mau menatapnya.
"Jangan bodoh! Setidaknya kau harus memakannya sedikit! Apa perlu aku suapi hah?" tukasnya. Sukses membuat Law terdiam lalu dengan kasar menepis tangannya.
"Geh! Baiklah! Aku akan makan!" gerutu Law seraya menyantap makan malamnya dengan sedikit kesal tapi juga senang(?) -karena sebenarnya ia juga sudah lapar, hanya saja ia masih malu untuk memintanya pada Sanji-
Sanji langsung tersenyum tipis. Ia masih setia berdiri memperhatikan tingkah adiknya yang sedang menyantap makanannya sampai tiba-tiba pandangannya beralih pada buku yang tengah di baca oleh law tadi. Dengan penasaran ia mengambil buku itu dan membaca beberapa halaman. Law yang melihatnya langsung berhenti mengunyah.
"Kau tertarik dengan... kedokteran?" tanya Sanji. Law mengangguk gugup, membuat Sanji langsung menampilkan senyum lembut padanya. Law sempat terkesiap melihatnya tapi ia langsung melanjutkan makannya dan kembali mengabaikan Sanji.
"Heheh... Kau ingin menjadi seorang dokter, ya?" tebak Sanji. Dan kali ini sukses membuat Law langsung terdiam seribu bahasa dengan wajah yang terlihat muram.
Sanji menatapnya heran "Huh? Law?" ia mencoba menegur adiknya tapi tidak di gubris oleh yang bersangkutan.
Melihat ada sesuatu yang aneh dengan perubahan sikap Law, Sanji menghela nafas lalu menutup buku tebal itu dan meletakannya kembali ketempatnya semula.
"Oi... Law, jika impianmu adalah menjadi seorang dokter," Sanji menepuk puncak kepala sang adik "Maka, jadilah seorang dokter yang hebat" lanjutnya lalu memberikan senyuman hangat pada Law.
Lagi-lagi Law hanya terkesiap. Ia tak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari kakak barunya. Sebenarnya dia sangat senang mendengarnya, tapi.. Law tidak mau menunjukan rasa senangnya sedikitpun.
"Jangan khawatir," Sanji menepuk bahu Law "Sebagai seorang kakak, apapun impian adik-adik ku, aku akan selalu mendukungnya"
TBC...
Mungkin selama ini kalian bertanya-tanya, Zoro dan Sanji itu kelas berapa. Tapi tolong maklumi lah author yang pelupa untuk memberi tahukannya pada kalian, jadi ini dia penempatan kelas para chara fic ini :
X : Zoro, Luffy, Nami, Franky, Vivi, Kaya, Usopp, Chopper(dalam bentuk kecil : Kan ini Grand Line), Law, Koza, Kaku
XI : Ace, Sanji, Robin, Kuina, Sabo, Marco, Chavendish, Porche, Bonney
XII : Brook, Perona
Sebenarnya masih akan ada beberapa character lain yang akan author munculkan di beberapa chap depan. Hahaha...
Chapter depan :
Zoro dan Law membuat masalah disekolah! Sanji di panggil kembali keruang kepsek oleh Garp! Apa yang akan terjadi?
"Hah.. mereka berdua membuat masalah disekolah ayah..."
Just that?
Yeah.. author sudah terlampau pusing! Pikirkan saja sendiri kelanjutannya dalam otak kalian para reader! Sampai jumpa di chap depan! Yeaaahh... *nyebur kelaut*
Thanks for read~
