[Chaptered]
Title : Sasuke itu Kamseupay
Chapter : 8 / ?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Namikaze Naruto & Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu
Papiku.
Genre : Family, Sad
BGM : Home Made Kazoku - Kimi ga Kureta Mono
Langsung aja deh ^3^
Liburan musim panas adalah liburan yang paling kubenci. Alasannya karena tidak ada teman yang mau bermain denganku. Shikamaru dan Kiba, mereka selalu menghabiskan liburan musim panas bersama keluarga masing-masing, entah itu ke luar kota ataupun ke luar negeri.
"Sasuke sedang apa ya?", pikirku sambil menatap langit-langit kamarku.
Dia pasti sama sepertiku, kesepian...
Ah! Sebaiknya aku mengunjungi dia saja. Mama bilang aku harus mencoba berteman dengan dia. Waktu aku mengasarinya, dia minta dipulangkan, untung mama berhasil membujuknya. Kalau dia sampai tidak betah dan minta dipulangkan lagi, bisa-bisa aku kehilangan masa depanku.
"Yosh! Semuanya demi masa depanku!",
Mama bilang, Sasuke tinggal bersama kakek di salah satu apartmen mewah milik kakek.
Cih! Beruntung sekali anak kampung itu!
TiiiNG TooooNG
Aku menekan bel pintu.
Tak lama kemudian pintu terbuka yang menampakkan sosok Sasuke dari balik pintu.
"Hai!", seringaiku.
"Ah!", dia langsung berlari ketakutan bagai melihat hantu, dia membiarkanku berdiri di depan pintu.
"Hey!", panggilku.
Dia berlari dan bersembunyi di sebuah kamar, kurasa itu kamarnya.
"Dasar sinting!", aku masuk dan mengunci pintu.
Kugedor pintu kamarnya.
"Apa begini caramu memperlakukan tamu?",
Tidak ada sahutan dari dalam.
"Hey! Buka pintunya atau aku akan memukulmu!",
"Ja, jangan pukul aku lagi!",
Sasuke langsung membuka pintu kamarnya.
"Jangan pukul aku lagi", pintanya ketakutan, dia bersembunyi di belakang pintu.
"Kalau kau patuh, aku tidak akan memukulmu",
"Hn! Jangan pukul aku lagi", dia mengulang kalimat yang sama.
Dia masih enggan beranjak dari belakang pintu. Mengapa dia jadi sinting begini?
Tanpa menghiraukan dia, aku melihat sekeliling kamarnya. Kamarnya cukup luas, tapi tidak seluas kamarku. Dindingnya berwarna orange, warna kesukaanku, kakek juga menyukai warna orange.
Tidak ada hiasan meja ataupun dinding, terlalu sepi. Pandanganku tertuju pada meja belajarnya. Ada botol besar berisi burung origami berwarna-warni. Botol itu masih terisi setengah.
"Kau yang membuatnya?", tanyaku.
"Ah! I, iya..", jawabnya takut-takut.
"Kau takut padaku?", kuambil sebuah burung origami berwarna orange dari dalam botol.
"A, aku takut kau memukulku...lagi..",
"Mengapa kau bisa berpikiran seperti itu?",
"Karena kau melihatku..lagi..",
"Yah, kau benar!", aku berjalan menghampirinya. Dia perlahan bersembunyi di belakang pintu.
Menatapnya tajam sambil berseringai, membuatnya semakin ketakutan.
BLaaaaM
Kudorong pintu agar tertutup, agar dia tidak mengumpet di belakang pintu, seperti hantu saja.
"Kau masih berani muncul di hadapanku, seharusnya aku memukulmu!", aku melayangkan tinju ke wajahnya, berpura-pura seperti meninjunya.
"Ampun, Naru! Jangan pukul aku!", dia terjongkok sambil melindungi kepalanya.
Kuletakkan burung origami di atas kepalanya.
"Bodoh!",
Aku kembali pada meja belajarnya. Dahiku mengernyit ketika melihat buku-buku di atas meja belajarnya.
Belajar membaca dan berhitung? Belajar menulis? Buku-buku menggambar dan mewarnai?
"Kau membaca ini?", tanyaku.
"Iya",
"Kau memang lebih bodoh dari yang kukira",
Dia hanya tersenyum.
Kubuka buku gambarnya. Banyak sekali sketsa-sketsa pemandangan, dia pintar menggambar.
"Ah! Aku juga menggambar Naru!", Sasuke mulai berani menghampiriku.
Kutatap dia sejenak, dia malah mematung, kembali mundur dan berdiri di belakang pintu.
"Tunjukkan padaku!", perintahku.
Sasuke memberanikan diri untuk menghampiriku. Dia membalik-balik lembaran pada buku gambar yang kupegang.
"Kau suka?", tanya Sasuke menunjukkan sebuah sketsa wajahku yang sedang tersenyum.
"Biasa saja!", aku menutup buku gambar tersebut.
Dia memang bodoh, sangat bodoh! Tapi dia pintar dalam menggambar. Kuso!
"Naru, bagaimana kabarmu?", tanya Sasuke.
"Baik! Sangat baik!",
Sasuke tersenyum, dia kembali seperti biasa, dengan senyum murahannya itu.
"Bagaimana dengan sekolahmu?",
"Menyenangkan",
"Pasti menyenangkan! Kau hebat, Naru! Nilai ulanganmu selalu 100. Kau juga juara lomba cerdas cermat se-Konoha. Kau juga mengajari teman-temanmu yang tidak mengerti tentang pelajaran. Kau hebat, sangat heebbatt!", puji Sasuke.
"Darimana kau tahu itu semua?",
"Mama menceritakannya padaku",
Huh! Dasar mama!
"Ah! Naru! Ada soal yang tidak kumengerti", Sasuke langsung menarikku keluar dari kamarnya.
Aku ingin menepis tangan kotornya yang telah berani menyentuhku. Tapi tidak jadi, karena tidak ingin membuatnya ketakutan lagi.
Sesampainya di teras, kulihat ada beberapa buku terletak di atas meja teras. Sepertinya tadi dia sedang membaca buku-buku ini.
"Ini bacanya apa ya?", Sasuke menunjuk huruf kanji 'sepatu' di buku.
"Sepatu. Apa warna sepatumu?", tanyaku sambil menjelaskan soal pada buku tersebut.
"Putih!", jawab Sasuke.
Dia langsung duduk di bangku dan menulis jawabannya di buku tulisnya. Aku menarik kursi dan duduk di sebelah kirinya. Tulisannya besar-besar dan jarang-jarang, sangat jelek dan berantakan.
"Apa mereka tidak menyekolahkanmu waktu di panti asuhan?", tanyaku.
"Aku terlalu bodoh untuk sekolah", jawabnya sambil tersenyum bodoh.
"Ya, mereka mengambil keputusan yang bijak untuk tidak menyekolahkanmu",
"Tapi, aku ingin pintar, Naru~", lirihnya.
"Agar kau bisa mengguruiku, begitu?",
Dia menggeleng.
"Aku tidak ingin membuatmu malu bahwa kau punya kakak yang bodoh sepertiku",
"Hey! Kau bukan kakakku!", bantahku.
"Hahahaaa... Bukan ya?", tawanya garing.
"Kau beb...", aku ingin mengatakan bahwa dia 'beban', tapi aku takut perkataanku akan membuatnya tidak betah.
"Ya, aku tidak ingin punya kakak bodoh dan kampungan sepertimu!", ralatku.
"Hn! Aku akan banyak belajar untuk tidak bodoh dan tidak kampungan agar bisa menjadi kakakmu, Naru!", tekadnya.
"Ya, ya, ya.. Teruslah bermimpi", ejekku merendahkannya.
Sasuke tersenyum, kemudian dia kembali mengerjakan soal-soal di buku.
"Kau mau mengajariku berhitung?", tanyanya.
"Tidak! Terima kasih!", tolakku.
30 menit kemudian.
"Bukan itu jawabannya!", protesku ketika melihat jawaban yang ditulisnya.
Mengapa soal berhitung pengurangan 4 angka saja dia bisa salah?
"Salah ya? Hahahaaa...", Sasuke menghapus jawabannya.
"1023-299=724", jawabku.
"Mengapa bisa 724?",
Dengan sangat terpaksa aku mengajari si bodoh ini. Dari tadi aku gregetan melihatnya lambat menyelesaikan soal berhitung yang sangat sangat mudah ini.
Dia memang tidak punya otak! Huh!
Sasuke hanya tinggal berdua saja dengan Kakek. Tidak ada maid yang akan memasak makanan dan membersihkan apartmen. Menu chatering makan siang yang sederhana, tapi rasanya tidak seburuk yang kubayangkan. Makan siang ini seharusnya milik Sasuke, tapi Sasuke membaginya bersamaku, aku malas makan siang sendirian di luar. Dia bilang, makanan chatering ini sangat enak. Dia benar, aku bahkan mengambil jatah makan siangnya.
Menikmati makan siang di teras sambil menjawab pertanyaan bodoh Sasuke, memang risih tapi suasananya terasa hangat. Kalau kakek tahu bahwa kami makan sambil berbicara, kakek pasti akan memarahi kami.
Aku berharap semoga kakek tidak pernah mengetahuinya.
Selesai makan, Sasuke langsung mencuci piring-piring kotor. Karena tidak ada maid, semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh Sasuke. Dia harus tahu diri bahwa tinggal di tempat mewah ini tidak gratis.
"Naru! Naru!", panggil Sasuke yang mengganggu acara memandang awanku.
Huf~ Baru saja aku merasakan ketenangan.
Apa tidak ada manusia lain di sini?
Tidak ada, hanya ada kami berdua saja. Kakek selalu sibuk dengan rekan bisnisnya.
"Mama bilang, kau akan menginap di sini?", tanya Sasuke, wajahnya tampak berseri-seri.
Ck! Mengapa mama berkata seperti itu padanya?
"Iya~", jawabku malas, jika aku menolak, mama pasti akan memaksaku.
Sasuke melompat kegirangan.
"Dasar sinting!",
"Malam ini aku tidak tidur sendirian!", serunya.
"Hey! Aku tidak ingin tidur sekamar denganmu!",
"Mengapa?", dahinya mengkerut.
"Karena kau kotor dan bau! Aku tidak ingin aroma kampunganmu mengenaiku!",
Wajah riangnya mendadak murung.
"Kau benar, aku memang kotor dan bau..hahahaaa...",
Sasuke langsung berlari ke dalam.
Apa dia tersinggung? Mengapa harus tersinggung? Apa yang aku katakan itu memang benar kan?
Ketika kakek pulang, kakek langsung mengajakku makan malam di luar. Kakek tidak mengajak Sasuke. Kakek bilang, si kampungan itu tidak pantas makan semeja dengan kami, lagi pula dia lebih cocok dengan menu chatering, selera murahan.
Bukannya merengek untuk ikut, dia malah tersenyum dan berkata akan menunggu kepulangan kami.
Benar-benar bodoh!
Ketika kami pulang dari makan malam, Sasuke langsung menyambut kami. Dia juga merapikan letak sepatu kami. Dia terlihat seperti pembantu. Ya, dia memang pembantu!
"Naru, malam ini kau tidur di kamar kakek saja", kata kakek sambil meraih remote TV.
Sebelum tidur, kakek selalu menonton siaran berita malam.
"Naru bisa tidur di kamarku, aku bisa tidur di lantai", sela Sasuke.
"Kau menyuruh cucuku untuk tidur di tempat BEKASmu?", kakek menatap jijik pada Sasuke.
"Aku sudah mengganti seprei, selimut dan sarung bantal", jelas Sasuke.
"Masuk ke kamarmu, se-ka-rang!", bentak kakek.
Sasuke langsung masuk ke kamarnya.
"Anak itu benar-benar merepotkan!", kakek memijit dahinya.
"Ya, dia sangat menyebalkan", tambahku
Aku duduk di samping kekek, menemaninya nonton berita.
"Apa dia menyakitimu?",
"Tidak. Dia terlalu banyak bicara",
"Masih bagus kalau dia banyak bicara daripada dia diam saja",
"Mengapa begitu?",
"Kalau dia diam, itu berarti dia sedang sakit. Kalau dia sakit, kakek harus membawanya ke dokter, membayar mahal untuk biaya perobatannya", keluh kakek.
Kekek memang pelit mengeluarkan uang untuk Sasuke.
Kakek kemudian bertanya tentang kegiatan di sekolahku, kekek bangga dengan prestasiku.
Kakek tidak membahas tentang Sasuke lagi. Sepertinya kakek tidak tahu bahwa aku sudah mengetahui alasan kakek tetap mempertahankan Sasuke.
Kakek tertidur di sofa, aku sengaja tidak membangunkan beliau karena kakek akan marah ketika tidurnya terganggu. Aku hanya bisa meletakkan bantal di kepala kekek dan menyelimuti tubuh kakek agar tidak kedinginan.
Ini sudah jam 11 malam, aku masih kenyang dan belum mengantuk. Kerena bosan, akupun singgah di kamar Sasuke.
Kamarnya terasa panas, dia tidak menyalakan AC. Orang kampungan seperti dia memang tidak tahan dengan AC.
Tampak sosok Sasuke yang sedang tidur di depan meja belajar. Dia juga telah mengganti selimut, seprei dan sarung bantal.
"Hey! Apa kau ingin aku tidur di sini?", tanyaku pada Sasuke yang tertidur sangat pulas.
Aaah~
Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang.
Aku rindu dengan kamar lamaku ini.
Waktu kecil, aku suka sekali menginap di sini. Kekek selalu membacakan dongeng untukku sebelum tidur.
Dulu kakek tidak sesibuk sekarang, karena ada papa yang mengurus perusahaan. Setelah papa pergi, semuanya mulai sibuk. Kakek dan mama jarang berada di sisiku.
Keesokan harinya, aku bangun kesiangan.
Well, tidak terlalu siang, ini masih pukul 9.
Aku ingin mandi, tapi aku tidak membawa pakaian ganti. Akhirnya aku hanya membasuh wajah dan berkumur.
Di teras ada Sasuke yang sedang menjemur pakaian.
"Mengapa kau mencuci baju?", tanyaku.
"Kakek bilang, aku harus mandiri", jawabnya.
Mandiri? Bukankan itu terlihat seperti pembantu?
Ah! Dia kan memang pembantu! Mengapa aku selalu lupa?
Aku berjalan menuju pintu keluar.
"Kau mau kemana, Naru?", tanya Sasuke meninggalkan cuciannya yang belum selesai dijemur.
"Pulang!",
"Kau ingin pulang? Cepat sekali", suaranya terdengar kecewa.
"Jya!", pamitku.
"Naru, jangan pergi~", pintanya.
Aku tidak menghiraukannya.
Selama di dalam lift, kalimat 'Naru, jangan pergi', terus bergema di telingaku.
Aku ini kenapa sih!
Aku keluar dari lift dan menunggu lift yang menuju ke atas.
Aku kembali ke apartmen kakekku. Kukatakan pada Sasuke bahwa aku pulang untuk mengganti pakaian dan akan kembali lagi.
Dia sangat senang dan berjanji akan menungguku.
Mengapa dia begitu senang? Apakah benar bahwa aku adalah teman pertamanya? Apa dia masih berharap agar aku menjadi adiknya?
TiiiiNG TooooNG
"Tadaima, Naru!", seru Sasuke membuka pintu untukku.
Sasuke menarikku masuk dan menuju teras. Di sana terduduk seorang pemuda berambut cokelat panjang, bermata abu-abu. Dia sedang menulis sesuatu.
"Neji, ini Naru! Naru, ini Neji!", Sasuke memperkenalkan pemuda itu padaku.
Pemuda itu berdiri, sedikit membungkuk untuk memberi hormat padaku.
"Hyuga Neji! Yoroshiku", Neji tersenyum hangat padaku.
"Namikaze Naruto", balasku memperkenalkan diri.
"Oh! Kau adik Sasuke yang paling pintar itu ya?", tanyanya.
"Adik?",
Aku menatap Sasuke, Sasuke hanya menunduk cemas. Dia pasti berkata pada Neji bahwa aku adalah adiknya. Mengapa dia begitu terobsesi untuk menjadikanku adiknya?
"Ayo, ke rumahku!", Neji menggandengku dan Sasuke.
"Aku akan menyimpan bukuku dulu", kata Sasuke.
"Kutunggu di rumahku", Neji langsung membawaku ke rumahnya yang terletak di depan apartmen kakek.
Sekarang aku berada di dapur Neji.
"Sasuke bilang kau suka orange cake?", tanya Neji sambil memakai celemek ungu.
"Hn!", anggukku.
Darimana Sasuke tahu? Ah! Pasti dia bertanya pada mama.
"Kalian tidak begitu mirip untuk dibilang kakak-adik", Neji memulai pembicaraan, dia mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas.
"Lalu?", tanyaku sambil menyomot potongan jeruk.
"Saudara tiri?", tebaknya.
"Bukan urusanmu!",
Neji hanya tersenyum menanggapiku. Tak lama kemudian Sasuke datang dan ikut bergabung membuat orange cake.
Sasuke bilang, Neji pintar memasak dan membuat kue. Sasuke ingin sepintar Neji, agar bisa membuat orange cake atau cake lainnya untukku.
Dia pikir, aku akan memakannya? Huh! Dasar!
Sasuke juga bilang, bahwa Nejilah yang mengajarinya membaca, berhitung dan menulis. Neji bahkan membelikan banyak buku untuk Sasuke. Kupikir buku-buku itu dibelikan mama, ternyata dari si gondrong ini.
Kukatakan pada Sasuke bahwa aku akan mengajarinya selama liburan musim panas ini! Sasuke bersorak kegirangan.
Memangnya cuma Neji saja yang bisa mengajar? Aku juga bisa! Huh!
Meskipun umur Neji 2 tahun lebih tua di atasku, aku tetap memanggilnya 'Neji' tanpa embel-embel kehormatan.
Akhirnya aku memutuskan untuk menginap di apartmen kakek selama liburan musim panas ini. Aku tidak ingin Neji mengambil perhatian Sasuke untukku.
Kakek juga tidak melarangku ketika aku memilih untuk tidur di kamar Sasuke. Sasuke kusuruh untuk tidur di lantai, dia juga tidak membantah, malahan dia senang karena dia tidak tidur sendirian.
BTW, mengapa aku malah peduli pada Sasuke?
Ah! Aku tidak peduli! Aku hanya tidak ingin keluarga Neji mengadopsi Sasuke! Ya, Sasuke itu masa depanku!
"My precious, my future", ucapku sambil menusuk-nusuk dada kiri Sasuke yang sedang tertidur di lantai beralas tikar.
Sasuke membuka kedua matanya.
"Naru?", panggilnya.
Kuso! Dia belum tidur sepenuhnya!
Terputus
Iyeeey! Ada Neji!
