Previous Chapter:

Syaoran berpikir bahwa Sakura sudah menikah dan hidup bahagia. Lalu, apakah Syaoran akan mundur? Bagaimanakah akhir dari Sakura's Love Story ini?


Mobil berwarna silver itu memasuki gerbang rumah megah yang terbuka secara otomatis. Penumpangnya masih sama seperti beberapa menit perjalanan yang sudah dilewati. Pria yang satu masih berkonsentrasi dengan kemudinya yang hampir selesai, sedangkan pria yang satunya lagi masih berkonsentrasi dengan lamunan danpertanyaan dalam benaknya dan entah kapan akan selesai.

"Tuan, kita sudah sampai," dengan sopan sang supir mengingatkan Tuannya yang tidak juga beranjak sejak lima menit yang lalu mereka sampai tepat di depan pintu rumah.

Syaoran tersadar dari lamunan panjangnya. Ia turun dari mobil dengan tubuh tidak bertenaga, seperti pejuang yang baru pulang dari kekalahan perang besar. Tidak punya semangat untuk melanjutkan hidup. Tapi Tuhan juga belum memutuskan takdir untuk menyudahkan hidup.

Kepala Syaoran tertunduk. Matanya sayu mencoba menahan muntahan air mata yang nyaris tak terbendung. Langkah pelannya melewati ruang demi ruang rumah mewah bergaya klasik eropa itu. Sapaan beberapa pengurus rumah yang biasa dibalasnya ia hiraukan begitu saja.

Begitu masuk ke dalam kamarnya, Syaoran hanya menyalakan lampu temaram di meja nakas samping tempat tidurnya. Persendian Syaoran terasa kaku, kakinya lemas. Tubuhnya merosot begitu saja di lantai samping tempat tidurnya. Kepala Syaoran masih tertunduk. Sementara hanya ada suara hujan di luar sana yang mengisi penuh ruangan bernuansa putih itu.

Syaoran memijat pelipisnya pelan. Kepalanya seperti terkena hantaman batu besar. Kemudian Syaoran juga mencengkram erat kemejanya, tepat di bagian yang paling sakit yang kini di rasakannya, di jantungnya. Perlahan air mata yang sedari tadi ditahannya mulai menetes. Bulir itu melewati pipinya dan jatuh ke tangannya yang sedang memegangi dada kirinya.

Syaoran berharap dengan jatuhnya air mata itu, akan berguguran pula pedih yang ia rasakan. Tapi ia salah besar. Rasa itu berkembang biak dengan baik ke seluruh tubuhnya. Menjalar melalui denyut nadinya yang bergerak tak beraturan.

"Aku nggak pernah tau, kenapa rasanya jadi begitu sakit seperti ini. Sakura-chan."


"Pihak mereka menyerahkan semua proses selanjutnya pada kita. Aku pikir mereka akan mengikuti prosesnya sampai akhir, ternyata mereka sama aja dengan perusahaan besar yang lain. Hanya taken kontrak, lalu angkat tangan," seru Chiharu sesaat setelah dia menerima sebuah telepon.

"Maksudmu perusahaan Li Syaoran?" tanya Sakura keheranan.

Chiharu mengangguk. "Kukira dia berbeda. Karena dari awal pertemuan kita, dia terlihat sangat antusias."

'Jadi, kami nggak akan ketemu lagi?' Pertanyaan itu muncul begitu saja dalam benak Sakura. Ia sendiri heran mengapa pertanyaan itu bisa tiba-tiba terlintas di pikirannya. Saat mereka bertemu, Sakura merasa tidak nyaman, tetapi saat tahu ia tidak akan bertemu dengan Li Syaoran lagi, Sakura merasa kehilangan.

Sakura menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertumpu di meja kerjanya. Keningnya berkerut, bibirnya yang pink alami tanpa lipstik terkatup rapat. 'Pergi begitu aja mungkin udah jadi hobinya atau semacam kebiasaannya. Dulu juga begitu. Tiba-tiba hilang tanpa kabar.'

"Aku ini mikir apa sih?" gumam Sakura pada dirinya sendiri.

"Kenapa Sakura-chan?" Chiharu yang tidak mendengar jelas pertanyaan Sakura. Mungkin dipikirnya Sakura sedang berbicara padanya.

"Ah, nggak kok. Nggak ada apa-apa. Sebaiknya kita mulai membentuk tim untuk project ini," jawab Sakura mengalihkan perhatian.

Chiharu hanya mengiyakan usul Sakura, meskipun ia merasa Sakura menghindar menjawab pertanyaan. Tapi ia merasa tidak perlu mengurusi urusan pribadi Sakura. Yang penting baginya, Sakura masih bisa fokus dan berkonsentrasi pada pekerjaan.


~~~Skip Time~~~

"So, what do you choose?" tanya seorang pria dengan penuh harap pada perempuan yang duduk di hadapannya.

Suasana kafe sangat ramai. Banyak orang lalu lalang dan sebagian mata tertuju pada dua orang yang sedang berhadapan di salah satu sudut ruang kafe. Kafe yang interiornya bertema putih itu tidak terlalu besar. Mungkin karena banyak orang di situ, kafe jadi penuh sesak.

Sakura mengerutkan keningnya. Lagi dan lagi. Ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.

"Cut!" teriak seseorang yang mengenakan topi berwarna coklat susu. "Hei, kamu harus menatap matanya. Kamu ini sedang jatuh cinta. Buat dirimu seolah-olah berharap tapi nggak mengemis. Kamu mengerti kan?"

Ya, Sakura sedang melihat syuting iklan untuk produk. Pria bertopi yang merupakan sutradara iklan tersebut mengarahkan kedua pemeran dengan nada yang cukup tinggi. Adegan ini sudah berulang kali retake, tapi sutrada yang biasa dipanggil dengan Clow itu belum juga merasa puas.

"Kalian pernah 'kan merasa jatuh cinta pada seseorang? Coba munculkan perasaan itu!" Clow terdengar nyaris putus asa. "Oke, take 12. Go go!" Clow berusaha memberi semangat.

Seorang pria dan perempuan itu kembali saling menatap. Sementara orang-orang yang memperhatikan mereka wajahnya serupa; penuh harap. Sang pria menatap perempuan di hadapannya sangat dalam. Begitu pun sebaliknya. Mereka tampak seperti dua orang yang lama tidak bertemu dan saling berusaha berlomba untuk menumpahkan rasa rindu yang menumpuk.

"So…" si pria mulai berbicara terlebih dahulu. Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

"Cut!" teriak Clow. "Ini kenapa lagi sih?"

"Maaf, maaf. Saya lupa dialognya," ujar si pria penuh penyesalan.

"Kamu ini…" ucapan Clow terputus menyadari satu sosok yang melihat mereka. "Ahh… Tuan Li, apa kabar?" Semua mata mengikuti arah gerak Clow yang menghampiri sosok Li Syaoran yang sedang berdiri di antara kerumunan kru syuting.

Semua mata, termasuk mata Sakura.

"Kabarku baik. Sepertinya syutingmu yang kurang baik ya?"

Clow mendekat, lalu berbisik, "Maklum, talent baru. Belum banyak referensi dan nggak ada yang memberi contoh, Tuan."

Syaoran mendekatkan diri, balas membisik pada Clow, "Bagaimana kalau saya yang menjadi contoh untuk mereka?"

"Hah?" Clow tampak kaget dengan usul yang diajukan Syaoran. "Maksud Anda?"

"Minta mereka memperhatikan aku," jawab Syaoran meminta Clow untuk memberi perintah pada kedua pemeran iklan yang kini sibuk menghapalkan dialog. Clow hanya menuruti Syaoran dan menghampiri keduanya.

Sementara Syaoran tersenyum penuh arti. Ia menegakkan kepalanya, langkahnya mantap menghampiri sosok yang sedang berdiri mengamati dirinya tidak jauh dari situ.

Syaoran sudah berhadapan dengan Sakura.


-Sakura POV-

Apa yang akan kamu lakukan?

-Sakura POV END-


-Syaoran POV-

Untuk yang terakhir kali. Aku hanya ingin melihat pantulan mataku sendiri di matamu, Sakura-chan. Aku janji, jika nggak ada diriku di sana. Aku nggak perlu ada lagi di hidupmu'.

-Syaoran POV END-


-Sakura POV-

Lalu, aku harus bagaimana? Diam aja atau pergi?

-Sakura POV END-


-Syaoran POV-

Aku mohon jangan menghindar. Tetaplah di situ.

-Syaoran POV END-


Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik. Syaoran dan Sakura saling menatap. Begitu dalam, begitu intens. Seperti sepasang kekasih yang baru saja bertemu setelah ribuan hari saling merindukan.

"So, what do you choose?" tanya Syaoran akhirnya.

Sakura nyaris tidak mendengar suara Syaoran. Sakura bahkan hanya mampu menatap mata Syaoran. Ia sudah terkunci di dalamnya.

"Me or…"

Bibir Sakura terkunci, detak jantungnya mungkin sudah melebihi kapasitas satuan kardiovaskular. Lututnya lemas, tulangnya yang seharusnya keras terasa mencair. Sakura harus segera mencari pegangan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Sebelum…

"… this." Syaoran mengacungkan sebuah ponsel berwarna putih ke hadapan Sakura.

Perlu tiga detik bagi Sakura untuk menyadari bahwa apa yang baru saja terjadi mirip sekali dengan adegan. Adegan yang dari tadi ia lihat berulang kali. Pemerannya bukan lagi para aktor , tapi ia dan Syaoran.

Sakura tersenyum. Tanpa berkata apa-apa ia mengambil ponsel yang ada di tangan Syaoran. Adegan terakhirnya adalah Syaoran yang tampak kecewa karena ditolak oleh Sakura. Lalu,

"Cut!" teriak Clow diikuti suara tepuk tangan dari semua orang yang berada di kafe, yang baru saja melihat adegan Sakura-Syaoran.

"Kalian lihat," kata Clow pada pasangan aktor pemeran asli. "Mata kalian harus seperti mereka. Isi dengan cinta," lanjut Clow memberi arahan. "Buatlah diri kalian agar saling jatuh cinta satu sama lain, walaupun hanya pura-pura."

Kalimat terakhir dari Clow membuat Sakura dan Syaoran tersadar. Jatuh cinta walau pura-pura. Sakura memutuskan untuk keluar dari kafe itu. Syaoran sempat berpikir apakah akan mengejar atau membiarkan saja. Tapi kemudian kaki Syaoran dengan cepat melangkah mengikuti ke mana Sakura pergi. Sementara syuting kembali dilanjutkan dengan arahan dari Clow.


Sakura duduk pada salah satu bangku kayu panjang yang ada di depan kafe. Mengelap beberapa bulir keringat yang mulai keluar dari dahinya. Udara Tomoeda entah kenapa jadi mendadak panas seperti ini.

"Kamu memang orang yang cepat beradaptasi," tiba-tiba saja Syaoran sudah duduk di samping Sakura.

"Aku juga nggak nyangka, aktingmu bagus," timpal Sakura.

"Aktingku bagus kalau kamu lawan mainnya," ujar Syaoran ringan. Sakura tidak mengerti entah apa maksud dari ucapan Syaoran itu.

Sakura menatap Syaoran tajam. "Kenapa kamu melakukan itu? Maksudku, kenapa nggak bilang dulu sebelumnya, kalau kita akan berpura-pura?" tanya Sakura untuk mendapat jawaban yang diinginkannya.

"Hanya ingin membuktikan."

"Membuktikan apa?"

'Membuktikan kalau aku masih ada di matamu. Kalau kamu sebenarnya nggak bahagia dengan siapa pun dia sekarang.' Syaoran bergumam dalam hati.

"Membuktikan kalau… Kita pandai berakting. Itu saja kok."

Plak.

Sakura menampar pipi Syaoran. Tidak keras, hampir mirip menyentuh namun sedikit bertenaga. Syaoran menatap Sakura heran.

"Akting," ujar Sakura ringan. "Sebaiknya kita lupakan saja tentang syuting hari ini. Kurasa akting sudah kembali berjalan. Hasilnya pasti akan baik-baik aja," lanjut Sakura, kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berdiri persis di depan Syaoran. Sakura mengulurkan tangannya di hadapan wajah Syaoran.

"Senang bekerja sama dengan Anda, Tuan Li Syaoran."

Syaoran menatap telapak tangan Sakura yang menggantung di depan wajahnya. Lalu membalasnya.

'Mungkin ini salam perpisahan.' Syaoran berkata dalam hati.

"Aku juga senang bekerja sama dengan kamu. Walaupun aku nggak suka kamu bicara terlalu resmi seperti itu. Akan lebih baik kalau kamu memanggilku Syaoran."

Sakura tersenyum dan melepas genggaman tangannya dari Syaoran. Jujur, hatinya berdesir saat jemarinya bertautan dengan jemari Syaoran.

Syaoran memutuskan untuk tidak melanjutkan melihat proses Syuting. Ia lebih memilih untuk menenangkan dirinya di sebuah kedai kopi yang cukup tenang. Dipesannya segelas kopi dan waffle cokelat.


Pikiran Syaoran dipenuhi Sakura. Entah mengapa hati kecilnya menyuruh dirinya untuk tetap bertahan. Bertahan untuk mencintai Sakura seperti yang selama ini dilakukannya meskipun ia dan Sakura tidak pernah bertemu.

Syaoran memejamkan matanya sejenak menikmati aroma kopi dan alunan lagu Falling in Love at The Coffee Shop dari Landon Pigg yang terdengar di penjuru kedai kopi ini. Tapi betapa kagetnya Syaoran saat membuka mata. Ia melihat sepasang, pria dan wanita, dan seorang bayi yang ada dalam keretanya yang baru saja memasuki kedai ini. Bayi itu menangis karena terbangun dari tidurnya. Wanita itu, yang mungkin saja ibunya, mengangkat si bayi dan menggendongnya ke dalam pelukan yang terlihat hangat.

Syaoran menghampiri meja yang ditempati pasangan itu.

"Kamu…" Syaoran menunjuk yang wanita. "… dan kamu…" kali ini Syaoran menunjuk yang pria.

"Bukankah kau yang bersama Sakura-chan di halte saat hujan waktu itu?" tanya yang pria pada Syaoran.

"Benar. Kau suami Sakura-chan bukan?" Syaoran balik bertanya.

"APA?!" Kedua orang itu berteriak bersamaan membuat beberapa pengujung menoleh pada mereka. Lalu saling berpandangan satu sama lain.

"Oeee… Oeee…" tangis bayi itu pecah. Sepertinya terkejut dengan keterkejutan kedua orang tuanya.

"Bisa kamu membawanya dulu? Sepertinya aku harus bicara dengannya," ujar Tomoyo pada suaminya.

Yoshiyuki Terada, yang tidak lain adalah suami Tomoyo pun menggendong putri kecil mereka. Membawa anak itu keluar kedai. Memahami kedua orang itu untuk mengobrol dengan leluasa. Terada sadar bahwa ada kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka dan itu juga melibatkan Sakura.

"Apa maksud ucapanmu tadi?" tanya Tomoyo setelah suaminya menjauh. Tomoyo menatap Syaoran tajam.

"Saat itu, Sakura bilang ada seseorang dari rumahnya yang akan menjemputnya. Hujan dan dia tidak membawa payung. Bahkan menolak tawaranku untuk mengantarnya," jelas Syaoran.

Tomoyo mengambil napas dalam. "Kamu ini seperti orang bodoh. Ah nggak, kalian -kamu dan Sakura- terlihat seperti orang bodoh!" Tomoyo menahan geram sekaligus gemas.

"Apa sih maksudmu?"


TBC