Time to Reply Reviews
Sasusaku kira : Gomen kalo jadi rumit. Author pengennya hubungan mereka susah dulu tapi nanti bahagia tak terkira. Gaara masih belum ngapa-ngapain Saku kok. Dan Sasu juga udah sadar bahwa Gaara adalah seseorang yang harus di waspadai.
LeEdacHi aRdian Lau : Hn, iya memang mereka lagi renggang sekarang. T,T
chibiusa : semoga Saku cepet sadar ya?
sasu uchiharuno : haha iya. Author seneng banget pas itu. Saku membinasahkan penggemar Saku. Haha untung aja mereka masih bisa menghirup udara setelah berurusan dengan Saku. :D
hanazono yuri :
Tsurugi De Lelouch : wah dapat masukan penting dari senpai. Ahahah senengnya fic GaJe ini di perhatikan juga ternyata :D Iya di sini memang karakter Bad Sakura di awal. Untuk itu kedepannya masih dalam angan. Sebab banyak sekali ide berterbangan di kepala. Untuk pengetikan memang SaGaaRi-chan akui banyak kuuuuuraaaaaaangnya. Selain selalu ngerjain fic ini malam hari juga jadi gak sempat edit- edit. Tapi kedepannya akan SaGaa-chan perbaiki. Dan terima kasih buuanyaaaak ya masukannya. Mohon masukan serta kritikannya lagi? :D
mako-chan : iya author juga seneng.
aguma : Hn, iya bahkan ada masalah lagi.
namiiko-chan : Hehe, sama author juga seneng dan puas banget. Untuk Red Devil jawabannya ada di chap ini. :D
Ah Rin : Hn gak papa. Gimana UAS nya lancarkah? Hn, Sasu udah mulai cemburu neeeee….. :p
angodess : I-Iya angodess. (takut kena damprat) G-Gak lagi-lagi dech. (Gagap tertular Hinata) di chap ini Sasu udah mulai cemburu kok. -,- #takut bener ada banyak tanda seru yang menandakan kemarahannya. Gomen ne angodess?
chayesung : Gitu ya? Jadi penurunan donk kualitas dari cerita ini. hehe.. Hn, dia sepertinya punya niatan yang gimana gitu. And makasih ya udah reviews :D
Finish :D
LAST CHAPTER
"Hm, naiklah." Kata Gaara. Gadis cherryblossom itupun naik ke motor Gaara. Dia berfikir untuk sedikit melupakan emosinya kali ini. dan mungkin saja dengan ini ia bisa sedikit menghilangkan pikirannya tentang Sasuke.
'Hari ini sungguh menyebalkan' gerutu Sakura dalam hati saat motor Gaara telah melaju di jalanan Konoha
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Warnings : OOC (maybe), Typo(s), etc.
You Hate It, Don't Read and Please Leave This Page
CHAPTER 8
The Intruder
"Kuso!" umpat seorang pemuda berambut raven saat ia tiba di parkiran KHS. Tepatnya saat mendapati mobil berwarna merah maroon yang merupakan mobil kekasihnya kosong.
'Kau kemana Sakura?' batin pemuda ini kalut.
.
.
.
Kini dua orang siswa siswi Konoha High School itu telah tiba di sebuah kafe yang cukup terkenal di Konoha. Mereka memilih duduk di bagian teras dari pada berada di dalam.
"Sakura? Kenapa dengan wajahmu?" Tanya seorang pemuda berambut merah khawatir kepada gadis di depannya.
"Cuma sedikit terbentur tadi, Gaara" jawab Sakura santai dengan ekspresi datar pada Gaara.
"Harus segera di kompres. Pelayan?" kata Gaara lalu memanggil pelayan kafe itu.
"Tidak perlu Gaara, ini sudah biasa." Kata Sakura berusaha mencegah. Namun rupanya pemuda di depannya itu tidak menghiraukan kata-katanya.
"Bisa tolong bawakan kami sebaskom air hangat dan handuk bersih?" kata Gaara sopan pada pelayan itu. sang pelayan hanya mengangguk dengan tatapan tak lepas dari pemuda tampan itu. segera ia mengambil apa yang di butuhkan pelanggannya dan setelah siap ia menyerahkan kepada pemuda jade itu.
"Sini, biar ku kompres," kata Gaara seraya mengajukan handuk yang telah di rendam air hangat itu.
"Sudah ku bilang tidak usah, Kau i-" kata Sakura terpotong saat dengan lembut tangan pemuda itu mengompres pelan memar di sudut bibirnya. Sakura berpikir bahwa ia mendapat teman baru lagi kali ini. Gaara begitu baik padanya.
"Nah itu akan lebih baik." Kata Gaara lembut dengan senyum tipis setelah selesai dengan ritual nya merawat luka Sakura.
"Hn, Arigatou." Jawab Sakura singkat sambil meminum milkshake Strawberrynya. Tak ada perubahan berarti dari ekspresi Sakura itu. Ya dia memang akan lebih bersahabat hanya pada sahabatnya. Dan menjadi dirinya yang periang jika berada di dekat pemuda berambut raven dengan iris onyx dan seorang lainnya.
'Sha la la itsuka kitto boku wate ni surun da'
Sedari tadi handphone Sakura terus berdering menandakan adanya panggilan yang terus berulang-ulang. Serta nada pesan masuk yang terus berbunyi. Namun hanya di lihatnya dengan malas dan membiarkannya tergeletak di atas meja.
"Kau tak apa, Sakura?" Tanya Gaara khawatir saat melihat gadis di depannya ini sangat tidak bersemangat.
"Hn," jawab Sakura singkat.
"Kenapa tidak di angkat? Itu Uchiha kan?"
"Bukan urusanmu, aku mau ke toilet dulu," kata Sakura ketus seraya berdiri meninggalkan Gaara. Yang mendapat jawaban itu hanya menghela napas. Namun melihat handphone Sakura yang tertinggal dan tetap berbunyi menimbulkan suatu niatan dalam dirinya.
"Moshi moshi?" Gaara dengan lancang mengangkat panggilan di handphone milik Sakura.
"…"
"Dia baik-baik saja bersama ku. Bahkan mungkin lebih baik jika bersama ku" kata Gaara pada si pemanggil dengan sebuah senyum penuh kemenangan terkembang di wajahnya. Bahkan menyerupai sebuah seringai tipis.
"…"
"Sudahlah Uchiha, dia baik-baik saja denganku. Jaa" lalu setelah kata itu Gaara mematikan panggilan dan menghapus riwayat panggilan saat ia melihat Sakura keluar dari toilet dan menaruh lagi handphone itu di tempat semula.
"Sudah lebih baik?" Tanya Gaara dengan senyum di wajahnya.
"Hn, ku rasa begitu." Jawab Sakura saraya duduk kembali di bangkunya. Dia melihat handphone nya berbunyi lagi. Dan dengan kesal ia mematikan handphone itu.
Kini giliran handphone Gaara yang berbunyi. Dan ia melihat siapa yang memanggilnya sebelum mengangkatnya.
'Kenapa dia menelepon ku di saat seperti ini!" batin Gaara saat melihat nama di layar handphonenya. Dengan wajah masam ia mengangkat panggilan itu.
"Hm, Ada apa Matsuri?"
"…"
"Tidak bisakah lain kali saja?"
"…"
"Aku tak bisa jika sekarang. Kau minta antar supir saja."
"…"
"Hah, iya-iya baik. Aku ke sana sekarang. Tunggu aku." Setelah itu Gaara mematikan panggilan dan menatap ke arah Sakura.
"Maaf Sakura. Sepertinya aku tak bisa mengantar mu pulang. Aku ada urusan mendadak." Kata Gaara pada Sakura.
"Hn, tak apa pergilah. Aku bisa pulang sendiri." Kata Sakura santai.
"Apa kau yakin?" Gaara meyakinkan.
"Hn, iya tak apa. Arigatou untuk hari ini." Sakura menjawab dengan senyum tulusnya.
"Baiklah, aku pergi dulu." Kata Gaara seraya beranjak pergi. Ada rasa enggan bila harus beranjak dari gadis pink ini dalam diri Gaara. Karena ini adalah kesempatan langka saat gadis ini tak bersama kekasihnya yang over protective.
Setelah Gaara meninggalkan Sakura sendiri, kini Sakura tengah duduk melamun sendiri di kafe itu. Tanpa ia sadari sorang laki-laki dari tadi tengah mengamati gelagatnya dan Gaara. Sepasang mata onyx dan telah mengamati mereka saat mereka baru datang ke kafe itu, dan melihat niat tersembunyi pemuda berambut merah tadi.
Merasa hari makin sore, Sakura berniat untuk pulang. Ia baru ingat jika meninggalkan mobilnya di sekolah karena ia tadi berlari tanpa arah keluar sekolah. Lalu ia mengaktifkan handphone yang tadi sempat ia matikan dan menghubungi seseorang di mansion untuk menjemputnya. Dan juga berpesan agar seseorang mengambil mobilnya di sekolah.
Sambil menunggu jemputannya, Sakura kini tertarik untuk memperhatikan kegiatan di sekelilingnya. Mulai dari gerak gerik orang di sekitarnya. Jalanan yang tidak terlalu ramai. Suasana sore yang hangat baginya. Tak terasa bibir Sakura tersenyum. Namun saat pandangannya tak sengaja menatap seorang laki-laki di salah satu meja di teras kafe itu senyumnya langsung hilang. Emerald bening itu kini membulat.
'Orang itu. seperti pernah melihatnya, tapi di mana? dan kenapa seperti mengingatkan pada seseorang. Mata itu? mata yang sama dengannya. Rambutnya? Namun pria ini memiliki rambut berwarna hitam dan panjang. Wajahnya? Sangat mirip namun ada garis seperti keriput si kanan kiri hidung mancungnya. Pria itu begitu mirip dengan Sasuke-kun. Namun terlihat lebih ramah dan berwibawa.' Batin Sakura saat melihat sesosok pria yang kini tengah tersenyum ke arahnya. Sakura terus melihat pria itu dan kini ia mulai melamun. Sampai sebuah suara menyadarkannya.
"Sakura-sama, apa anda ingin pulang sekarang?" Tanya seorang pria berbaju rapi serba hitam itu.
"Eh, kau sudah datang Yamato?" kata Sakura kaget.
"Iya, apa anda ingin pulang sekarang?" kata Orang yang bernama Yamato mengulang pertanyaannya.
"Hn," Sakura menjawab singkat seraya beranjak menuju mobil yang telah menunggunya. Di ikuti oleh Yamato di belakangnya.
.
.
.
"Tadaima," ucap Sakura lemas dan malas. Ia berjalan menuju tangga.
"Begitukah saat kau mengucap salam?" terdengar suara setelah Sakura mengucap salam.
Gadis merah muda itu sama sekali tak menghiraukan kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut seseorang. Bahkan mungkin dia tak mendengar kata-kata itu. Dirinya begitu capek hari itu. Malas meladeni hal yang menurutnya tak penting. Dia terus berjalan menyusuri tangga dan masuk ke dalam kamar.
Sesampainya di kamar ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang king size nya. Menatap langit-langit dan mengangkat satu tangan yang di sana melingkar manis sebuah gelang berwarna merah.
"KAU SUNGGUH MENYEBALKAN,PANTAT AYAAAAAM!" teriak Sakura saat itu.
TOK..TOK..TOK
"Pergi, aku tak ingin di ganggu!" kata Sakura ketus saat mendengar ketukan di pintu kamarnya.
TOK..TOK..TOK..
"Ku bilang pergi!"
CEKLEK
"Kau, apa kau ingin mati sekarang juga?" kata Sakura dingin dengan penuh emosi tanpa menoleh sedikitpun ke arah pintu kamarnya.
"Bisakah kau membuatku mati sekarang juga, Saku-chan?" ujar seorang laki-laki yang kini tengah bersandar di pintu dengan kedua tangan bersendekap di depan dadanya. Sakura yang mendengar itu langsung menoleh ke arah pintu dan matanya membulat tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
Seorang pemuda berambut merah darah dengan mata beriris hazel lembut dengan wajah baby facenya kini tengah tersenyum lembut ke arahnya. Pemuda yang selama ini berada jauh darinya. Pemuda yang selama ini selalu membuatnya tersenyum. Pemuda yang selalu ada saat ia sangat membutuhkan dan sangat rapuh itu kini ada di hadapannya.
"SASORI-NII!" teriak Sakura seraya berlari menerjang dan memeluk pemuda yang bernama Sasori itu.
"Hey, ingat tenagamu itu tenaga monster? Apa kau ingin meremukkan semua tulang ku,hah?" kata Sasori dengan sedikit meringis mendapatkan pelukan erat dari Sakura.
"Haha Gomen. Kapan kau datang? Ayo masuk." Kata Sakura seraya menarik tangan Sasori untuk masuk ke dalam kamarnya. Ya, hanya pemuda ini lah yang di perbolehkan masuk ke kamarnya oleh Sakura.
"Tadi siang. Ku kira kau di mansion. Ternyata kau sekarang sudah sekolah di luar ya? Eh kenapa wajahmu? Habis berkelahi? " kata Sasori sambil melihat sekeliling kamar Sakura.
"Hn, hehe," jawab Sakura riang. Yah, dengan pemuda ini lah Sakura bisa menjadi dirinya sendiri setelah kehilangan orang tuanya 10 tahun lalu selain Sasuke. Sebab pemuda yang ada di kamarnya ini adalah pemuda yang sejak dulu selalu bersama Sakura. Menjaga dan selalu membuat Sakura tersenyum.
Ya, pemuda itu adalah Akasuna Sasori yang sama-sama di rawat oleh Tsunade dan Jiraiya dan masa lalunya tak jauh berbeda dengan Sakura, yang telah di anggap kakak oleh Sakura. Begitupun Sasori. Ia sangat menyayangi Sakura seperti adik kandungnya sendiri, dan menganggap Sakura sebagai adiknya. Walaupun mereka tak sedarah.
"Kamarmu tak berubah. Masih sama. Apa gelar The Reapers itu masih berlaku?" kata Sasori sedikit mencibir saat melihat berbagai senjata yang tertata rapi di sebuah meja di sudut ruangan.
"Beberapa hari lalu Sword Angel menghabisi nyawa ketua Black Ants tanpa bantuan Red Devil. Dan itu berarti tanpa mu Saso-niii," kata Sakura tak kalah remeh sebagai jawaban untuk pertanyaan Sasori.
Ya Sakura dan Sasori adalah pasangan yang di sebut The Reapers. Sepasang kakak beradik ini mendapat julukan itu dari berbagai misi yang telah mereka jalani. Sword Angel di dapat Sakura karena kemampuannya menggunakan Katana dan juga dia adalah seorang perempuan yang cantik dan tangguh.
Sedangkan Red Devil adalah julukan yang di dapat Sasori sebagai pembunuh berdarah dingin yang sangat kejam jika sudah turun ke dalam urusan dunia hitam. Dengan senjata sebuah pedang besar serta menggunakan benang kawat yang sangat tajam dan mampu memenggal kepala orang yang terjerat adalah keahliannya. Selalu bermandikan darah sesudah menyelesaikan misi, itulah kenapa ia di juluki Red Devil.
Bertolak belakang dengan sifatnya sehari-hari yang cenderung riang dan ramah, seperti memiliki kepribadian ganda, dan juga rambut merahnya yang menjadi ciri khasnya. Mereka selalu menunjukkan jati diri mereka di hadapan musuh tanpa ragu akan dibalas. Sebab jika musuh telah bertemu dengan mereka, maka itu sama saja dengan musuh bertemu dengan dewa kematian mereka.
Dan kini Sasori beralih menatap ke belati yang menancap di tembok ruangan dengan itu dengan tatapan sendu.
'Masihkah kau dendam dengan mereka Sakura? Hatimu yang sebenarnya kini telah hilang tertutupi dendam yang selalu kau pupuk. Apakah aku bisa membantumu membalaskan dendam keluargamu seperti yang ku janjikan dulu ke keluarga sahabatku sendiri? Keluarga Uchiha. Di mana sahabat ku,Itachi Uchiha berada?' batin Sasori.
"Sasori-Nii?" kata Sakura membuyarkan lamunannya. Kini ia berjalan menuju adiknya itu dan mulai mengobrol dan bersenda gurau seperti dulu.
.
.
.
"Sedang melamun gadis merah mudamu itu kah?" kata seseorang yang kini memasuki kamar pemuda raven yang sedang berbaring di atas ranjangnya.
"Hn, tapi itu bukan urusanmu, Itachi-nii," jawab Sasuke pada kakaknya itu.
"Yah, aku hanya bertanya. Dan sepertinya tadi aku melihat seorang gadis merah muda di sebuah kafe dengan seorang laki-laki panda," kata Itachi santai dan kini ia mengambil posisi duduk di kursi meja belajar adik semata wayangnya itu.
"Panda?" otak Sasuke yang jenius kini sangat lemot untuk berfikir. Entah karena apa. Tapi mungkin karena Sakura, gadisnya sedari tadi tak memberi kabar padanya. Dan pula, seorang laki-laki asing yang tiba-tiba saja mengangkat teleponnya untuk Sakura. Membuat otaknya serasa menciut menjadi sebesar otak udang.
"Yap, panda." Kata Itachi yang menangkap gelagat bingung dari wajah Sasuke.
"…"
"Hei, panda. Kau tak tahu? Pemuda panda?" kata Itachi kesal sebab wajah bingung Sasuke yang terpampang tak kunjung hilang. Ia memberikan kode dan petunjuk dengan menggerakkan badannya membentuk pola yang sangat tidak jelas.
"Baka aniki. Apa yang kau lakukan? Kenapa bertingkah aneh dan konyol seperti itu?" kata Sasuke yang heran melihat tingkah aneh kakaknya itu dengan wajah innocentnya.
"Kau tau panda yang memiliki lingkaran hitam di mata?" kata Itachi kesal dengan menggerakkan kedua tangannya membuat lingkaran di kedua matanya.
"Hn, Sobaku?" jawab Sasuke yang kini ingat siapa yang di maksud kakaknya itu.
"Kau tahu?" Tanya Itachi.
"Hn,"
"Sebaiknya kau berhati-hati dengannya jika kau ingin mempertahankan gadismu itu. Ku merasakan ia memiliki suatu niat tersembunyi." Kata Itachi dengan nada serius.
"Hn, aku tahu." Jawab Sasuke.
"Nah, sekarang kapan adik ku ini akan memberikan keponakan kepada ku?" Tanya Itachi riang dengan ekspresi yang sangat aneh. Sebuah kilatan terdapat di mata onyx sang adik. Dan setelahnya.
BUUUGK
Sebuah bantal melayang dengan kecepatan yang luar biasa. Dan juga mendarat dengan sangat tepat di wajah Itachi. Jangan lupakan kemampuan seorang Uchiha Sasuke.
"Cepat keluar kau aniki mesuum!" kata Sasuke.
"hahaha… tak ada salahnya kan?" jawab Itachi dengan wajah tak berdosanya.
"Cepat keluar! Aku juga harus melindungi Sakura dari pria mesuum seperti mu!" kata Sasuke yang kini mendorong paksa tubuh Itachi keluar dari kamarnya.
"Hah, menyebalkan." Keluh Sasuke setelah menutup pintunya agar kakaknya tak menerobos lagi ke kamarnya.
.
.
.
Keesokan harinya. Pagi hari yang cerah telah menyapa para penghuni bumi untuk memulai aktifitas mereka.
"Pagi Tsunade ba-chan, Sasori-nii?" sapa gadis merah jambu saat turun dari tangga dan kini berjalan menuju meja makan untuk sarapan bersama.
"Pagi Sakura," jawab wanita berambut pirang yang duduk di kursi utama itu.
"Pagi Saku-chan," jawab Sasori dengan senyum menawannya.
Kini mereka pun sarapan bersama. Meja makan yang harusnya tenang saat acara makan, kini tak berlaku di sini. Dengan obrolan ringan dan sedikit lelucon mereka dapat tertawa lepas. Melupakan sejenak etika saat berada di meja makan. Dan inilah yang mereka tunggu selama ini. Dapat tertawa lepas bersama anggota keluarga. Terutama untuk Sakura.
"Saku-chan. Hari ini biar aku saja yang mengantarmu. Dan nanti pulangnya biar aku jemput juga." Kata Sasori di tengah gelak tawa mereka.
"Nani?" Tanya Sakura.
"Yah, aku hanya ingin tahu sekolah mu dan juga teman-teman mu. Terutama si 'Pantat Ayam' itu?" goda Sasori.
"Sasori-nii? Kau mau rambut merah kebanggaanmu itu jadi botak?" ancam Sakura dengan deathglare.
"Pantat Ayam? Siapa?" Tanya Tsudane ingin tahu.
"Nanti pasti juga tahu," timpal Sasori.
"Hah, susah berdebat denganmu. Kalau kau yang mengantar berarti aku tak perlu berangkat sepagi ini kan?" kata Sakura dengan gaya berpikir dan memegang dagunya. Sebuah senyum penuh arti tertuju pada kakak yang berada di depannya.
"Hmm, yah itu benar." Seakan tahu isi pikiran adik tersayangnya itu.
"Jangan bilang kalian ingin ngebut di jalanan. Terutama kau Sasori," kata Tsunade tegas.
"Hehe, tidak kok. Aku hari ini hanya ingin merasakan bagaimana jika masuk sekolah telat," Sakura berusaha mencari alasan untuk ba-channya itu.
"Tsunade-sama, ada pesan dari Jiraiya-san bahwa rapat hari ini di majukan waktunya menjadi satu jam lagi," kata seorang pelayan pada Tsunade.
"Apa? Jiraiya, akan ku habisi kau nanti. Mana cukup waktu ku untuk mempersiapkan itu semua!" omel Tsunade dan bergegas berlari keluar. Kedua anak itu pun tersenyum lebar menanti kesenangan yang akan mereka lakukan.
06.45
"Kurang lima belas menit bel masuk berbunyi. Jadi kau harus mencapai sekolahku yang biasanya menempuh 45 menit hanya dalam waktu 15 menit. Kau sanggup?" tantang Sakura yang kini berada di mobil sport mewah merah menyala milik kakaknya.
"Hmm, bahkan bisa kurang dari itu." jawab Sasori yakin. Mereka mengencangkan sabuk pengaman. Keluar mansion dengan laju normal. Namun setelah beberapa meter dan gerbang di tutup kesenanganpun dimulai.
Mobil sport merah itu melaju dengan kecepatan maksimal. Bisa di bayangkan umpatan dan celaan dari pengendara lain saat mobil ini dengan gila melaju di jalanan kota Konoha. Bagaikan sircuit balap, mobil itu melaju tanpa menghiraukan yang lain. Berjalan zig-zag menghindari mobil atau kendaraan di depannya dan lalu menyalipnya. Hal menantang maut ini malah merupakan sebuah kesenangan bagi dua anak manusia di dalamnya.
"Whuuuuu…. Lebih cepat Saso-nii!" teriak Sakura dengan riang kepada Sasori yang sedang mengemudikan kendaraan itu.
"Hahaha.. sudah lama kita tak melakukan ini Saku-chan," jawab Sasori dengan nada riang pula.
"Itu karena kau terlalu sok sibuk sampai tak pernah pulang,"
"Kemarin kan aku bilang kalau aku akan menetap di Konoha dan membantu Tsunade-bachan di sini. Lagi pula aku kangen dengan Konan." Kata Sasori.
"Huh, hanya Konan-nee yang selalu kau pikirkan." Kata Sakura dengan mengerucutkan bibir mungilnya.
"Hehe, iya iya aku juga kangen Saku-chan kok. Tapi tahu kan amanah itu lebih penting." Jawab Sasori.
"Iya iya kau benar,"
Tak terasa mereka sampai di gerbang KHS. Saat Sakura turun pas bertepatan bel masuk berbunyi.
"12 menit. Harusnya kau jadi pembalap F1 saja dengan kemampuanmu itu?" kata Sakura dengan melihat jam tangannya dan otomatis di tangan yang sama ia melihat gelang merahnya.
"Hmm, akan kupikirkan. Tapi jika aku melakukannya, nanti aku akan berkeliling dunia dan Sword Angel akan sendirian. Haha… sana masuk nanti kau telat." Ucap Sasori dan langsung mengecup lembut kening adik tersayangnya itu. Banyak mata yang melihat. Dan mereka sekarang berbisik-bisik dengan adegan itu.
"Seharusnya kan dengan Sasuke-kun. Tapi kenapa mudah di cium pria lain?" sayup terdengar kata itu di telinga mereka.
"Hn, Aku masuk dulu," jawab Sakura dan langsung mengecup pipi baby face sang kakak tanpa rasa canggung . Memang itu adalah kebiasaan mereka sejak kecil. Sakura berjalan santai memasuki KHS tanpa memperdulikan tatapan, bisik-bisik dan bel yang sudah dari tadi berbunyi. Toh, memang dia sengaja ingin telat.
.
.
.
"Ohaiyo Kakashi sensei? Gomenasai, hari ini saya terlambat." Kata Sakura santai seraya tersenyum ramah pada guru bermasker itu.
"Oh, kau rupanya Sakura. Tumben terlambat? Tak apa baru di mulai. Masuklah." Jawab sang guru ramah.
"Hai," kata Sakura yang langsung melenggang menuju bangkunya. Kekasih di belakangnya menatap tajam dan seolah ingin memberi penjelasan padanya. Namun Sakura tak menghiraukannya dan mulai konsen dengan pelajaran pagi itu.
Tak berapa lama, Kurenai sensei memasuki kelas dan dia membawa serta seorang gadis berambut pirang dengan mata berwarna hampir seperti milik Hinata dan Neji.
"Kita kedatangan murid baru lagi setelah Sakura. Nah perkenalkan dirimu." Kata Kakashi sensei pada gadis itu.
"Perkenalkan nama ku Shion. Senang bertemu dengan kalian. Dan mohon bantuannya selama aku belajar di sini." Perkenalan singkat sang gadis yang di tutup dengan senyum cerianya. Jauh berbeda dengan saat perkenalan Sakura.
"Kau bisa duduk di sebelah Sakura, gadis berambut merah muda di sana." Tunjuk sang guru karena hanya itu tempat yang tersisa. Di samping Sakura, di depan Sasuke.
"Hai," Shion berjalan menuju ke bangku yang di tunjuk sang sensei. Semua mata kini mengekor melihat tingkah gadis baru itu. namun jika di perhatikan dengan seksama, mata sang gadis tak pernah lepas dari seorang pemuda tampan berambut raven dengan iris sekelam malam yang dari tadi menatap ke arah gadis berambut pink di depannya.
"Permisi, bisa aku duduk di sampingmu?" sapa Shion ramah saat sampai di samping gadis bersurai soft pink. Namun kelihatannya sedari tadi gadis soft pink itu tak memperhatikan jika ada penghuni baru dikelas itu karena sibuk dengan sebuah kertas yang terdapat bermacam coretan di atasnya.
"Maaf, nona. Boleh aku duduk?" Tanya nya lagi.
"Sakura-chan? Kau mendapat teman sebangku baru." Kata Naruto sedikit menggoyang bangku Sakura. Yang merasa di panggil kini pun sadar dari kegiatannya. Dia menoleh dan mendapati seorang gadis berambut pirang tengah berdiri disampingnya.
"Hn," jawab Sakura sambil berdiri memberi jalan pada gadis itu duduk di bangkunya.
"Shion, kau?" sapa Shion ramah pada Sakura setelah ia duduk.
"Sakura," jawab Sakura dingin tanpa menoleh ke arah Shion.
"Shion? Kalian?" kini Shion membalikkan badannya menghadap ke belakang dan menyapa dua pemuda penghuni bangku belakangnya tak lupa menyunggingkan senyumnya.
"Namikaze Naruto. Senang bertemu denganmu." Jawab Naruto dengan senyuman rubahnya.
"Kalau kau?" Tanya Shion pada pemuda berwajah stoic yang tengah asik memandang punggung gadis soft pink di depannya yang rupanya tak memperdulikan sapaannya.
"Dia Sasuke Uchiha," Sahut Naruto yang tahu pasti kondisi sahabatnya itu.
"Senang berkenalan dengan kalian?" kata Shion dengan senyum yang sangat menawannya.
'Hah, yang lain telah di bumi hanguskan, muncul lagi satu.' Keluh Sakura yang dalam hati saat mengetahui gelagat gadis di sampingnya itu.
.
.
.
TENG..TENG..TENG
Saat istirahatpun tiba. Dengan santai Sakura mulai membereskan buku-bukunya. Dia berniat ke kantin setelah ini. dan dengan santai memasang earphone setelah merasakan aura yang menguar dari bangku belakangnya.
'Aku masih belum siap untuk menghadapimu Sasuke-kun' Batin Sakura saat merasa akan adanya makhluk tampan ciptaan Tuhan yang akan menghampirinya.
Dan dengan santai Sakura melenggang keluar kelas tanpa sedikitpun menoleh ke teman satu bangkunya apalagi kedua makhluk tampan di belakangnya.
Sebelum ke kantin Sakura menyempatkan untuk ke ruang guru sebab dia ingat bahwa ada urusan dengan salah satu guru. Setelah urusan selesai dia pun menggerakkan kakinya menuju kantin.
Kantin yang lumayan lenggang menyambut pemandangan Sakura. Ia segera bergegas menuju etalase guna melihat menu hari ini. dan tanpa sengaja ia bertemu dengan gadis penghuni baru di kelasnya.
"Sakura? Kau pesan apa?" Tanya Shion ramah.
"Hn, kau rupanya?" Sakura acuh tak acuh.
"Wah aku duduk di mana ya?" Shion bertanya pada dirinya sendiri saat pesanannya telah selesai.
"Seperti biasa, pudding strawberry dan milkshake strawberry," kata Sakura tanpa memperdulikan perkataan Shion. Setelah siap ia hendak menuju bangku para sahabatnya guna makan bersama. Dia berjalan menuju tempat paling luas di kantin itu yang kini di penuhi oleh murid paling popular di KHS. Namun hampir ia sampai, gadis yang sedari tadi mengekor terlebih dulu berjalan mendahuluinya.
"Ahh itu Sasuke-kun?" kata Shion riang.
'Sasuke-kun? Sejak kapan dia memanggil Sasuke ku dengan embel-embel kun? Sabar Sakura, ingat kemarin kau baru saja menghancurkan penggemar Sasuke. Jangan membuat onar lagi. Dan ingat kau masih punya urusan dengan si pantat ayam itu,' Iner Sakura mulai ambil alih.
"SAKURAAA!" teriak Ino alay seperti biasa. Mendengar itu Sakura mulai melangkah lagi menuju para sahabatnya. Namun terhenti saat….
"Sasuke-kun. Aku duduk di sini ya?" ujar Shion tanpa menerima persetujuan, yang langsung duduk di sebelah Sasuke. Tempat yang biasa Sakura tempati.
"Pergilah itu tempat itu sudah ada pemiliknya." Kata Sasuke dingin. Namun sang gadis itu tak menghiraukan kata-kata Sasuke.
'Hah, apa hubunganku dengan Sakura tak akan berjalan mulus? Sobaku dan sekarang gadis ini? apa ini rintangan yang harus kami jalani?' batin Sasuke dan dengan sedikit melirik ke arah Sakura.
Melihat adanya 'pengacau' dalam kelompok itu, membuat semua Dark Assassin memandang sinis ke arah gadis yang seenaknya mengambil tempat sahabat merah muda mereka.
"Tak apa Ino, kelihatannya tempat kalian sudah penuh. Aku duduk di tempat lain saja," kata Sakura dingin dengan aura gelap yang menguar bagai ekor Kyuubi yang menari-nari dari dirinya. Semua yang melihat memandang ngeri dan bergidik ke arah Sakura. Kecuali seorang gadis pendatang baru yang rupanya tak mengerti apa-apa itu.
Lalu Sakura berjalan melewati meja yang di klaim sebagai tempat dirinya dan para sahabatnya, dulu sebelum datangya gadis pirang tersebut. (mungkin). Lalu dia duduk di sebuah meja kosong dan langsung memasang earphone guna sedikit menenangkan pikirannya dengan mendengar lagu. Tanpa harus memperdulikan gadis yang kini mulai mencoba menarik perhatian kekasihnya.
"Hei nona, kau telah membuat kesalahan besar!" kata Ino sinis pada Shion.
"Apa maksudnya?" Tanya Shion yang tak mengerti dengan perkataan Ino.
"Tempat itu adalah tempat sahabat kami, dan kau telah membuatnya tersingkir dari sini," kata Ino dengan nada menyindir tanpa tedeng aling-aling.
"Tempat ini kan kosong. Jadi tak masalah aku di sini. Lagi pula siapa sahabatmu itu?" katanya Shion tanpa rasa risih karena telah menyinggung perasaan orang yang ada di sekelilingnya.
"Sakura adalah sahabat kami," kini Neji yang mulai merasa gadis ini menyebalkan angkat bicara dengan nada sinis.
"Lho bukannya tadi dia bilang tempatnya sudah penuh, lagi pula dia juga sudah duduk tenang di sana. Aku di sini hanya ingin duduk bersama Sasuke-kun." Kata Shion seolah gadis polos dan lugu.
"Kau? Sebaiknya kau tak menyesali apa yang akan terjadi ke depannya," Kata Ino dengan nada ancaman. Empat perempat siku telah muncul di dahi gadis beriris aqua marine ini atas kata-kata Shion.
"Memangnya seberapa penting sih Sakura itu hingga kalian jadi berlebihan begini?" Kata Shion ini tak ia sadari membuat amarah Dark Assassin naik. Lebih parah adalah Sasuke yang merasa gadisnya di remehkan.
BRAAK..
Meja di gebrak dengan keras oleh tangan kekar pemuda raven di samping Shion. Membuat seisi kantin menoleh ke arah kerumunan murid popular itu minus Sakura yang kini telinganya tersumbat oleh earphonenya. Uchiha Sasuke benar-benar tak bisa menahan emosinya mendengar kata-kata dari gadis pendatang baru di KHS itu. Dia lalu beranjak pergi dari kantin itu. Satu per satu dari penghuni meja itu pun beranjak pergi. Mereka memilih untuk duduk bersama Sakura.
"Eh, kenapa kalian di sini?" Tanya Sakura kaget saat para sahabatnya berbondong – bondong duduk di di tempat yang ia tempati dengan wajah masam. Bahkan Hinata terlihat sangat tidak suka dengan gadis pirang tadi.
"Taka pa, hanya ingin bersamamu dari pada gadis menyebalkan itu," kata Ino kesal dengan menatap tajam kea rah gadis yang kini bengong sendirian.
"Hah, tereseralah," jawab Sakura. Namun ia sedikit sedih sebab orang yang diharapkan tak ada di antara mereka. Sakura tak tahu jika Sasuke telah pergi dari kantin itu, sebab ia tak pernah menoleh ke arah meja yang di tempati gadis itu.
Kini mereka mulai berbincang-bincang dengan hebohnya. Tertawa riang dengan suara paling keras di antara penghuni kantin lain. Mengacuhkan gadis pirang yang kini tengah memandang dengan tatapan yang tak terbaca artinya.
'Seberapa pentingkah gadis itu? bagi mereka, bahkan Sasuke-kun? Sampai-sampai mereka mengacuhkanku yang jelas lebih cantik dari Sakura. Aku tak boleh kalah. Aku adalah Shion.' Batin Shion.
.
.
TENG..TENG..TENG
Bel berbunyi. Dan ini adalah tanda bahwa jam pelajaran berikutnya akan di mulai. Kelas Sakura setelah ini adalah pelajaran olah raga dari Gay Sensei. Sakura yang biasanya semangat dengan pelajaran ini sekarang sangat malas untuk mengikuti pelajaran itu. Jadi setelah semua sudah berada di gedung olah raga, Sakura meminta ijin untuk tidak mengikuti pelajaran ini dengan alasan tidak enak badan.
Sasuke yang mendengarnya awalnya sangat kaget, namun ia tahu jika Sakura hanya berpura-pura. Setelah Sakura meninggalkan gedung olah raga, Sasuke langsung ijin untuk menyusulnya.
Sakura berjalan santai menyusuri koridor yang sepi itu. ia melenggangkan kaki jenjangnya tak tentu arah. Hingga ia tanpa sadar menuju ke arah aula olah raga yang lama. Menurut rumor, setelah di bangun gedung olah raga yang lebih luas, maka gedung ini tak di pakai lagi. Baru beberapa bulan lalu gedung ini resmi tak terpakai. Sakura melangkah memasuki gedung itu.
Gedung itu terlihat sangat lenggang. Sakura berjalan berkeliling, mencari sesuatu yang menarik. Dan ia menemukan sebuah pedang kayu yang sudah lapuk dan terlihat sudah tua. Sepertinya, ini milik salah satu ekstra di KHS.
Sakura mulai menggerakkan pedang kayu itu. mengayunkannya, menyabetkannya, dan kini Sakura mulai hanyut dalam permainannya. Sakura berpikir kenapa ia tak berlatih saja? Karena sekarang ia telah bersekolah di luar, maka waktu berlatihnya pun jadi kurang, bahkan sangat jarang kini. Sakura mulai 'menari' bersama sebuah pedang kayu di tangannya. Lincah dan gesit di setiap gerakannya.
"Siapa kau?" Tanya Sakura dingin saat ia merasakan keberadaan seseorang yang sedang mengintipnya dari celah pintu. Dan ia langsung menghentikan aksinya.
"Sakura, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya seorang pemuda.
"Kau rupanya, Gaara?" Tanya Sakura saat berbalik dan melihat siapa yang berada di balik pintu.
"Kau, sedang apa dengan pedang kayu itu?" Tanya Gaara lagi.
"Hah, hanya sedikit berlatih. Menghilangkan rasa kesal." Jawab Sakura yang memposisikan dirinya duduk dengan kaki di luruskan di atas lantai.
"Kau ada masalah dengan Uchiha itu?" Tanya Gaara lagi dan kini ia duduk di samping Sakura, menatap gadis itu dengan tatapan tajam.
"Hn,"
"Harusnya kau selesaikan saja, dari pada membuatmu seperti ini," kata Gaara dengan bijak. Atau pura – pura bijak.
"Hah, baiklah akan ku usahakan saranmu itu," jawab Sakura yang masih dengan nada malas dan tanpa sedikitpun menatap ke arah Gaara yang berada di sampingnya.
"Ini, kau kelihatannya haus. Tadi aku baru membelinya, dan aku mendapat telepon penting jadi aku ke arah yang sepi untuk mengangkatnya," kata Gaara sembari menyerahkan botol minuman kepada Sakura.
"Hn, Arigatou. Aku memang haus," kata Sakura menerima pemberian Gaara dengan seulas senyumnya. Lalu mereka berbincang dan kelihatan mulai akrab sekarang.
Tanpa mereka sadari sepasang mata gelap sekelam malam yang mengawasi mereka bagai elang yang sedang mencari mangsa terlihat sangat tidak menyukai hal itu. Gadis Cherry nya kini mulai akrab dengan pemuda Sobaku itu.
Amarah kini memenuhi diri pemuda raven ini. Dia berusaha menahannya. Dia berbalik dan menemukan sebuah kotak kayu yang sudah tak terpakai. Dengan satu pukulan keras kotak kayu itu sudah tak berbentuk lagi. Hancur hanya dengan sekali pukulan dari Uchiha.
'Hn, aku tahu siapa yang bersama mu kemarin cherry.' Batin Sasuke kesal.
.
.
Pelajaran olah raga telah selesai, dan kini saatnya memasuki pelajaran berikutnya. Sakura berjalan menuju kelasnya. Terdengar dari luar masih ramai, menandakan guru pelajaran berikutnya belum memasuki kelas. Namun sebelum memasuki kelas, Sakura mendengar namanya di panggil.
"Sakura," panggil seorang sensei cantik nan seksi tak jauh dari arah Sakura.
"Kurenai sensei, ada apa?" Tanya Sakura membalikkan badannya.
"Berhubung kau yang ku jumpai, aku ingin meminta bantuanmu untuk mengambil kotak peraga di laboratorium, apa bisa?
"Hn, baiklah. Tapi yang mana ya Kurenai sensei?"
"Kotak kaca seperti akuarium yang berisi beberapa hewan praktikum. Ah, sepertinya yang berisi ikan saja, karena kita akan praktek dengan itu. tadi guru pelajaran ini memintaku menggantikannya sebab ia ada urusan?" kata Kurenai menjelaskan.
"Hai," jawab Sakura dan langsung berjalan melaksanakan tugasnya.
Setelah sampai, ia langsung mencari dan mengambil akuarium yang di maksud. Lalu ia berjalan menuju kelasnya. Saat berjalan melewati koridor kelasnya, seorang gadis pirang memandangnya dan menyeringai kecil. Suasana kelas lumayan ramai, sebab sekarang sedang di bagi kelompok guna praktikum itu.
"Kurenai sensei, ini di taruh di mana?" Tanya Sakura saat memasuki ruang kelas yang berubah posisi ini. semua meja kursi agak menepi menyisahkan sebuah ruang di tengahnya dengan sebuah meja di sana. Dan saat itu Sakura melihat gadis pirang yang nempel dengan sang kekasih, membuat amarahnya kembali muncul.
'Hah, sepertinya mereka satu kelompok' batin Sakura sambil menghela nafas lelah.
"Disana," jawab Kurenai sambil menunjuk meja di tengah ruangan itu. sakura berjalan menuju meja itu, sampai sebuah adegan tak sengaja di tangkap indera penglihatnya.
Gadis pirang bermata ungu itu dengan seringai licik memeluk dan bergelayut manja di lengan kekar pangeran Sakura. Tidak ada yang tahu, sebab semua mata tertuju pada Sakura. Namun adegan itu jelas dan sangat nyata di tujukan kepada gadis merah muda ini. Pemuda raven itu kaget dan segera menjauhkan gadis itu darinya. Namun terlambat bagi Sakura yang sedari tadi di sulut amarah.
PYAAAAAR
Akuarium yang berada dalam pegangan Sakura pecah. Sakura yang telah marah melihat kejadian itu meremas akuarium itu dengan tenaga monsternya. Membuat semua yang berada di kelas menatap ngeri ke arah Sakura.
Semua di buat diam dengan ekspresi Sakura saat ini. Tak ada jerit atau raut kesakitan di wajah Sakura. Yang ada hanya tatapan benci dan marah ke arah Shion gadis penggoda dan Sasuke si pangeran nya.
Pecahan kaca bercecer di lantai, dan bebepa terlihat menancap di tangan Sakura. Bahkan sekarang darah segar telah mengalir dengan derasnya dari kedua tangan Sakura, akibat pecahan kaca dan beberapa yang di remasnya. Air dari akuarium membasahi seragam dan sepatu Sakura.
"Sakura!" Sasuke berdiri dan menghampiri Sakura. Hendak ia menolong Sakura.
"Menjauh dariku." Kata Sakura pelan dan dingin pada Sasuke.
"Kau harus segera di obati," Imbuh Sasuke tanpa memperdulikan ucapan gadisnya.
"Ku bilang menjauh dariku." Masih dengan nada dan intonasi seperti ucapan Sakura sebelumnya.
"Ayo ke UKS," kata Sasuke sambil menggandeng pergelangan tangan Sakura.
"Aku bisa sendiri. Aku tak ingin kau sentuh" Kini Sakura menatap tajam onyx kekasihnya lalu mengangkat pergelangan tangannya yang terhiasi dengan gelang merah, yang otomatis tangan Sasuke juga terangkat. Dapat di lihat bahwa pergelangan tangan kedua makhluk tuhan berbeda jenis ini berhiaskan gelang yang serupa. Sepasang mata ungu melihat tanda itu dan ia tahu sesuatu.
"Sakura?" panggil Sasuke pelan saat melihat gadisnya keluar kelas. Menemuinya saat ini malah akan menambah masalah, jadi lebih baik dia sendiri menenangkan pikirannya. Itulah yang terpikir oleh Sasuke.
'jadi mereka sepasang kekasih? Menarik.' Batin Shion dengan sebuah senyum tipis penuh dengan suatu niatan tersembunyi.
Dengan kasar Sakura menarik pergelangan tangannya dan pergi meninggalkan kelas itu menuju ke UKS. Sang pemuda raven mematung setelah melihat tatapan dari sang gadis. Naruto dengan sigap mengetik sesuatu di handphonenya dan mengirim pada seseorang.
.
.
"SAKURA?!" teriak seorang gadis dari luar UKS.
"Suaramu bisa merusak gendang telinga, nona Yamanaka," ujar seorang wanita berpakaian putih di dalam UKS yang baru saja membalut luka Sakura.
"Gomenasai Shizune sensei. Aku khawatir dengan Sakura," sargah Ino.
"Sudah tak apa, lukanya sudah di balut perban." Kata Shizune seraya pergi meninggalkan ruangan itu dengan seulas senyum.
"S-Sakura-chan, kau tak apa?" Tanya Hinata.
"Hn, kalian tak perlu mencemaskanku. Aku baik-baik saja," jawab Sakura dengan sebuah senyum. Namum Ino dan Hinata tahu itu adalah sebuah senyum paksaan. Dan kedua sahabat ini yakin penyebabnya adalah gadis pirang pendatang baru itu.
Sakura memutuskan untuk kembali ke kelas. Dia tak akan lari dari ini. bukan Sakura jika tidak mampu melewati ini semua. Itulah tekadnya, dan mungkin hanya sebuah tekad. Saat kembali ke kelas semua mata tertuju padanya, terutama kedua tangan Sakura yang diperban dan salah satunya kini terbalut perban hingga hampir sebatas siku.
"Gomenasai atas kejadian tadi, Kurenai sensei," kata Sakura saat memasuki kelas.
"Kau tak apa Sakura? Bagaimana tanganmu?" malah sekarang Kurenailah yang panik.
"Tak apa. Hanya luka kecil." Kata Sakura santai yang memilih duduk di samping Naruto sebab dia tak sekelompok dengan Sasuke dan Shion.
Pelajaran itu berjalan tanpa adanya praktikum. Dan berakhir dengan sangat cepat. Sakura dengan cepat membereskan buku dan peralatannya dan hendak meninggalkan ruang kelas.
"Akan aku antar kau pulang," suara baritone kini menginterupsi Sakura.
"Aku sudah ada janji."jawab Sakura santai tanpa menoleh ke arah sang penanya.
"Apa dengan Si Sobaku itu?" Tanya Sasuke.
"Bukan urusanmu," balas Sakura yang kini berdiri hendak meninggalkan kelas.
GREB
"Tak ku biarkan dia mengambilmu dari ku," Sasuke menarik Sakura dalam pelukannya.
Semua mata yang berada di kelas cengo dengan pemandangan itu. mereka memang tahu jika sekarang Sasuke telah memilih Sakura sebagai gadisnya. Dan bahkan berita tentang penggemar Sasuke yang kini telah hancur membuktikan bahwa mereka bukanlah pasangan biasa. Entah benar atau tidak, yang mereka tahu sekarang, Sasuke dan Sakura adalah sepasang kekasih.
"Lepaskan." Kata Sakura sambil melepaskan diri dari pelukan Sasuke dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi ke arah kekasihnya itu. Sasuke hanya diam membeku dengan penolakan keras Sakura tanpa menyadari bahwa gadisnya kini telah berjalan meninggalkannya.
Sepasang mata ungu milik gadis bersurai pirang kini menatap mereka dengan sebuah tatapan yang menyembunyikan sesuatu. Yah, gadis ini sepertinya memiliki rencana dan kelihatannya itu tak baik.
"Teme, apa tidak sebaiknya kau susul dia?" kata Naruto.
"Hn, kau benar Dobe," jawab Sasuke yang tersadar dari lamunannya langsung menyusul Sakura.
.
.
Setiba di halaman depan KHS, Sasuke meraih tangan Sakura saat dia menemukannya. Namun Sakura menolak dan melepaskan diri dari Sasuke.
"Lepaskan aku," kata Sakura dingin dan menatap penuh amarah ke arah mata Sasuke.
"Sakura aku bisa jelaskan ini semua,"
"Diamlah Sasuke-kun. Lebih baik jangan ganggu aku untuk sekarang." Kata Sakura berusaha setenang mungkin lalu pergi menuju orang yang kini menunggunya. Sasuke hanya diam menatap gadisnya itu.
Sakura menghampiri seorang pemuda dengan mobil sport merah yang tengah bersandar di mobilnya, yang mana kini sang pemuda berambut merah dengan wajah baby facenya menjadi sorotan para siswi KHS karena ketampanannya. Pemuda itu sedari tadi melihat adegan gadis berambut pink dengan seorang pemuda berambut raven.
'Bukankah dia Uchiha Saskue? Adik Itachi?' Batin pemuda berambut merah itu.
Sakura berjalan menghampiri pemuda itu, dan setelah sampai, sang pemuda itu memeluk dan mengecup kening Sakura dengan lembut. Membuat seorang pemuda yang sedari tadi telah emosi, makin tersulut emosinya sebab gadisnya kini di peluk dan di kecup oleh pemuda lain. Iris onyx yang gelapnya sama dengan malam berubah merah dengan motif hitam di sana.
"Ayo pergi dari sini, Saso-nii" kata Sakura saat mencium pipi pemuda itu sebagai balasan ketika ia mengecupnya tadi.
"Oke," jawab Sasori membukakan pintu untuk Sakura. Sebelum masuk, Sakura sempat melihat sekilas ke arah Sasuke. Betapa sakit hatinya sekarang melihat pemuda yang ia cintai terlihat kacau seperti itu. apalagi iris merah itu, menandakan betapa marahnya dia. Setelah itu mobil sport merah itu melaju meninggalkan Konoha High School.
'Kau yang membuatku begini Sasuke-kun. Gomen.'
BUUAGKK
Sasuke yang tersulut emosinya meninju tembok yang berada dekat dengannya.
"Kuso!"
'Siapa lagi dia?! Dan kenapa Sakura kelihatan begitu dekat dengan pemuda tadi? Cium? Bahkan Sakura terlihat biasa di cium oleh pemuda itu! Sakura, ada apa dengan mu?' Batin Sasuke merancau karena pikiran yang kalut.
.
.
.
To Be Continued
#A/n
Ahahaha saiiya kembali lagi dengan chap selanjutnya.
Moga chap ini dapat menjawab semua tanya yang ada.
Di chap ini Author mengungkap identitas Red Devil, serta hubungannya dengan Saku.
Gomen ne jika penulisannya serta pengungkapannya kurang menarik.
Tapi tak menyurutkan semangat author untuk tetap meminta reviews dari setiap chap yang update.
Mohon reviewsnya ya?
:D
