Universe

06. Nebula Emisi

(n) nebula dari awan atau debu kosmis yang telah dipanasi oleh bintang di dekatnya.


...

Aku tak bisa, terus begini

Aku tak bisa, mengatakan yang sesungguhnya

Tak bisa, menunggu lagi

Pesan ini kusampaikan sekali lagi

Kuberi kesempatan, terakhirmu…

Isyana Sarasvati – Sekali Lagi (OST. Critical Eleven)

...


Warning!

Chapter ini agak melelahkan. Terlalu banyak narasi. Terlalu banyak perdebatan. Terlalu banyak words. Sekitar 8k words. Semoga tahan ya :)

...


Sehun terguncang. Dan, dia hanya bisa berdiam diri di kursi tunggu dengan Haowen yang mengoceh dengan bahasa bayinya di pangkuan. Sehun tidak mendengarkan, dia juga tidak paham apa yang Haowen katakan sedari tadi. Matanya menatap ke lantai, melamun. Ia memikirkan banyak hal selama Luhan berjuang sendirian di ruang bersalin. Bukannya Sehun tidak bisa menemani. Dia harus menjaga Haowen, ia tidak bisa membawa Haowen masuk ke sana. Pun, Sehun terlalu takut menemui kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Luhan.

Saat masuk tadi, dokter Lee sempat berkata bahwa mungkin proses persalinan ini akan sedikit beresiko karena Luhan melahirkan dalam keadaan stress sebelumnya. Itu membuat bayi yang akan dilahirkan akan mengalami gangguan. Entah gangguan macam apa yang akan ia temui nanti, Sehun masih belum tahu. Ia hanya bisa berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja

Yah, semoga saja.

"Sehun… Oh Sehun…"

Ketiga orang tua dari Sehun dan Luhan tiba-tiba membuyarkan lamunan singkatnya. Mereka datang dengan langkah cepat serta wajah khawatir. Sehun lantas bangun dari duduknya sambil membawa Haowen dalam gendongannya.

"Apakah sudah lama Luhan ada di dalam sana?" tanya Xian Yuan dengan cemas. Ibu dari Luhan itu melirik ruang bersalin di belakang Sehun, berusaha melihat keadaan di dalam sana dari jendela di pintu tersebut.

"Baru sepuluh menit yang lalu," jawab Sehun seadanya. Ia berusaha tenang bahkan di depan para orang tua. Kemudian ia menyerahkan Haowen pada Song Jung Ha, dan berkata pada ibunya tersebut. "Biarkan aku menemani Luhan dulu."

Para orang tua mengangguk. Mereka membiarkan Sehun masuk dengan seorang perawat yang sudah menunggunya sedari tadi.

Yah… Meskipun Sehun takut, tapi, kini bukan saatnya untuk memikirkan kemungkinan terburuk. Ia harus menemani Luhan apapun yang terjadi.

Selesai memakai jubah khusus, Sehun masuk dengan jantung berdebar-debar keras. Tadi Sehun mendengar Luhan merintih dan menjerit kesakitan. Ini mengingatkannya pada masa di mana Luhan berjuang keras sekali untuk melahirkan Haowen. Mendadak bayangan Luhan yang menatapnya dengan lemah, usapan halus tangan Luhan di pipinya, serta hembusan napasnya yang terdengar lelah sekali, muncul di depan matanya. Sehun bergetar. Ia menggigit bagian dalam pipinya lalu mendesah keras. Tidak. Bayangan-bayangan itu hanyalah masa lalu. Sehun memantapkan dirinya untuk mengangguk pada si perawat yang menunggunya tadi, berisyarat bahwa dia siap menemani istrinya.

Begitu pintu terbuka, Sehun bisa melihat perjuangan keras Luhan kali ini. Sehun menelan ludah susah payah lalu mengambil langkah untuk mendekati Luhan. Kemudian Sehun meraih salah satu tangan Luhan yang meremas bantal. Saat itu, Luhan tidak menyadari dengan baik bahwa Sehun menemaninya. Ia hanya membalas genggaman tangan Sehun dengan erat, dan terus mendorong bayi yang dikandungnya selama sembilan bulan terakhir itu.

"Sa…kit…" Luhan merintih di sela-sela ia mengatur pernapasannya. Wajahnya yang memerah penuh akan peluh. Setelahnya, rintihan itu berubah menjadi isak kecil. Luhan menangis, dan Sehun segera memeluknya dari samping, membisikkan kata-kata penyemangat dan penenang untuk Luhan.

Baru saat itulah Luhan menyadari keberadaan Sehun. Tangis Luhan tiba-tiba turun dengan deras. Ia meremas bagian belakang jubah Sehun, lalu mencicit memanggil nama Sehun dengan susah payah.

"Se…hun…"

"Iya, Sayang." Sehun menyahut lembut. Dikecupnya kening Luhan, lalu ia kembali berbisik, "Aku di sini."

Ini kali kedua mereka berada di ruang bersalin bersama, pun kali kedua Sehun merasakan suasana tegang yang ada di sana karena kondisi Luhan.

Oh, ya, benar. Luhan kini melahirkan karena mendadak stress berlebih dan itu cukup beresiko.

Yah… Inilah mengapa Sehun memutuskan untuk tidak memberitahu Luhan apa saja alasannya karena Luhan sedang hamil. Sehun takut Luhan akan mengalami proses kelahiran yang beresiko. Seperti sekarang, misalnya.

Berkali-kali Sehun menguatkan diri. Ia menggenggam tangan Luhan yang mencari kekuatan, sama seperti dirinya. Luhan akan berjuang untuk melahirkan, dan Sehun juga akan berjuang untuk Luhan, untuk keluarga kecilnya.

Jadi saat Luhan berusaha kuat mendorong bayi yang dikandungnya keluar, Sehun akan memeluknya dari samping, membisikkan kata-kata penyemangat, serta menghapus peluh di keningnya dengan lembut.

Sampai pada akhirnya, perjuangan Luhan berakhir sedetik setelah suara tangisan bayi yang nyaring memenuhi ruang bersalin. Luhan terengah, mendengarkan suara tangis anak keduanya dengan senyum lemah yang perlahan tersemat di bibir. Kemudian senyumnya bertambah lebar ketika Luhan bisa merasakan betapa kecil dan rapuhnya bayi yang baru ia lahirkan itu di dalam pelukannya. Tangisan bayi perempuan itu perlahan berhenti, terganti menjadi gumaman-gumaman kecil yang menggemaskan. Luhan tersenyum lebar sampai tak sadar bahwa ia meledak dalam tangis bahagia karena merasakan sensasi itu.

Sehun memperhatikan itu. Sehun mengawasinya. Di saat-saat seperti ini, bayangan Luhan yang memeluk Haowen sesaat setelah anak itu lahir, kembali lagi mampir. Sehun harap-harap cemas kalau Luhan tiba-tiba bilang dia lelah dan ingin tidur. Sedari tadi, Sehun menatap perempuan itu, bergantian dengan bayi perempuan yang dilahirkan Luhan. Beberapa saat berlalu dan Sehun menghembuskan napas berat. Segera ia memeluk kepala Luhan dari atas dan mengecup kening Luhan lama. Rasanya dia ingin menangis.

Sehun bahagia karena sekarang, keluarga kecilnya bertambah satu, dan itu formasi lengkap! Sehun bahagia mengetahui bahwa semuanya berakhir baik-baik saja.

Oh, tidak semuanya. Masalahnya dengan Luhan belum selesai. Untuk yang satu itu, Sehun juga berharap akhir yang baik untuk mereka. Hanya saja, untuk saat ini, bukan waktunya untuk memikirkan masalah mereka. Sehun bahagia dengan momen ini, dan dia harus menikmati kebahagiaannya, meski hanya untuk sementara.


...


Bayi yang dilahirkan Luhan terlihat begitu mungil dan cantik sekali. Hidungnya mirip dengan milik Luhan, begitu pula dengan bibirnya yang kecil dan berwarna merah. Kini, bayi perempuan yang belum diberi nama itu sedang tertidur pulas di baby box-nya. Sehun selalu tersenyum gemas ketika si bayi menggeliat kecil dalam tidurnya. Ugh! Menggemaskan sekali!

"Dia mirip Luhan,"

Suara seorang lelaki di belakang membuat Sehun melonjak kecil. Sehun lantas menoleh ke sumber suara. Ada Kyungsoo yang tersenyum menatap bayi yang dilahirkan Luhan dari balik kaca pembatas ruangan yang hampir penuh dengan baby box sambil menggendong Taeoh, anak pertama mereka yang kini sudah berumur satu tahun, serta sosok Jongin yang berdiri di belakang Kyungsoo. Mata Jongin menatap bayinya Luhan, lalu beralih menatap Sehun, tersenyum.

"Selamat atas kelahiran anakmu yang kedua, ya…" kata Jongin akrab. Lelaki itu tersenyum lebar dengan sebelah tangan terangkat di udara. Sehun meringis, ia menyambut tangan Jongin, lalu beradu bahu untuk saling menyapa setelah setahun lamanya tidak bertemu.

"Terima kasih." Balas Sehun seadanya.

"Dia cantik seperti Luhan," Kyungsoo bersuara sambil menoleh kepada Sehun. Senyum cerahnya masih belum luntur dari wajahnya. Sehun tertawa kecil dan mengangguk sebagai tanggapan.

"Ya, dia mirip Luhan."

Taeoh menggumam-gumam sambil menunjuk bayi perempuan yang dilahirkan Luhan saat Kyungsoo menghadap Sehun. Kyungsoo segera menimang-nimang Taeoh yang rewel. Sepertinya Taeoh ingin melihat si bayi lebih lama lagi.

"Kau belum memberinya nama?" tanya Kyungsoo sedikit kesulitan karena Taeoh. Sehun menggeleng, dan Kyungsoo segera bertanya lagi. "Kenapa?"

"Biar menunggu Luhan bangun dulu,"

"Memangnya Luhan kenapa?" tanya Kyungsoo cepat, harap-harap cemas.

Pengalaman saat Luhan melahirkan Haowen memang membekas sekali dalam ingatannya. Kyungsoo merasa dia gagal menjadi teman karena tidak bisa mengerti dan menjaga Luhan di saat Sehun tidak ada. Dan, Kyungsoo bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Sehun hancur saat itu.

Memang momen menyakitkan yang tidak bisa dilupakan itu menjadi cambuk bagi orang-orang terdekat Luhan. Kyungsoo tidak bisa memungkiri dia cemas saat mendengar Luhan melahirkan dari ibunya Luhan kemarin malam. Tapi tetap saja dia berusaha untuk berpikir positif. Sehun bisa menjaga Luhan dengan baik di kehamilan Luhan yang kedua ini. Ia percaya pada Sehun.

Kyungsoo berharap, pagi ini, dia mendapat berita bagus atas kelahiran anak kedua Luhan.

Kyungsoo melihat Sehun tersenyum miring. "Luhan sedang tidur. Biarkan dia istirahat dulu." Jawaban Sehun membuatnya mendesah lega.

"Luhan baik-baik saja, kan?" giliran Jongin yang bertanya.

Sehun mengangguk sambil tersenyum. Namun kemudian Sehun kembali memandangi putri kecilnya dengan pandangan muram. "Tapi tidak tahu dengan bayinya." Katanya pelan.

Jawaban itu membuat Jongin maupun Kyungsoo mengernyit bingung. Jongin lantas bersedekap dan menghadap kepada Sehun, bertanya, "Memangnya ada apa dengan bayinya?"

Untuk beberapa saat, Sehun terdiam. Ia menunduk menatap ujung sepatunya dan lantai. Kemudian Sehun menghela napas pelan. "Luhan melahirkan dalam kondisi stress, dan kata dokter itu beresiko untuk bayinya." Ia memberi jeda, kembali menatap bayi perempuannya. "Mungkin saat ini bayinya baik-baik saja. Tapi tidak tahu kedepannya bagaimana."

Hening seketika. Baik Kyungsoo maupun Jongin, mereka tidak tahu harus merespon apa. Melihat itu, Sehun berusaha untuk tersenyum ringan. Ia menepuk bahu Jongin sambil terkekeh, dan seketika Jongin menatapnya bingung.

"Doakan saja yang terbaik untuk bayinya."

Jongin mengerjap. Kyungsoo juga begitu. Lagi-lagi pasangan itu tidak menanggapi apa-apa. Kyungsoo yang terdiam lama, akhirnya hanya bisa mengangguk dan memberi senyum semangat pada Sehun. Jongin yang melihat tanggapan Kyungsoo juga memberi tanggapan yang sama untuk Sehun. Lelaki itu menepuk bahu Sehun beberapa kali sambil berkata, "Semoga semuanya baik-baik saja. Kami pasti mendoakan yang terbaik untuk teman kami—Luhan— dan juga anak kalian."

Sehun tersenyum lebar dan berterima kasih. Ia mengamini dalam hati.


...


Sehun melangkah menuju pintu, menilik keadaan di dalam ruangan yang ditempati Luhan, berbalik, berdecak, berjalan menjauh, berbalik lagi menghampiri pintu, menilik, berbalik, begitu seterusnya sampai ia mengerang karena pusing. Sehun menarik sejumput rambutnya lantas duduk di bangku terdekat. Ya Tuhan… selama Luhan ada di sana bersama teman-temannya, berbagi tawa bersama mereka, berbincang, dan melakukan banyak hal di dalam sana, Sehun tiba-tiba merasa ragu. Melihat Luhan tersenyum dari jauh meski itu bukan karenanya saja itu sudah cukup bagi Sehun.

Sehun hanya… dia ingin Luhan tersenyum. Mengingat bagaimana Luhan menatapnya saat ia masuk ke ruang inapnya tadi pagi, rasanya Sehun ingin mengubur diri. Perempuan itu menatapnya datar, tidak ada binar cerah di matanya, tidak ada juga senyum hangat untuk menyambutnya datang. Dan jujur, reaksi Luhan saat melihatnya tadi pagi setelah pertengkaran mereka kemarin membuatnya merasa dialah lelaki paling tolol sedunia karena menyia-nyiakan apa saja yang sudah Luhan berikan untuknya.

Ya, Luhan memberinya kepercayaan yang lebih. Perempuan itu percaya padanya bahwa ia bisa menjadi lelaki yang lebih baik dari yang sebelumnya. Tapi nyatanya? Sehun hanya merusak kepercayaan Luhan dengan ketakutan dan ketidakpercayaannya pada perempuan itu.

Sehun menghela napas berat. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku, pandangannya menerawang langit-langit rumah sakit ini. Ia berpikir, apa yang seharusnya dia lakukan untuk memperbaiki apa yang sudah dia pecahkan?

"Kau tidak masuk?" suara Chanyeol membuat Sehun beralih pada lelaki jangkung itu. Sehun kembali menegakkan tubuh, terdiam. Chanyeol pun duduk di sebelah. "Duh, kusut sekali wajahmu,"

Sehun hanya berdecak pelan sebagai tanggapan.

"Kenapa kau tidak masuk?" tanya Chanyeol lagi.

Sehun terdiam sejenak. "Aku hanya ingin memberi ruang untuk Luhan,"

"Untuk apa?" tanya Chanyeol lagi. Sehun hanya menggidikkan bahu sekilas. Giliran Chanyeol yang berdecak pelan. "Kalian ada masalah, ya?" Chanyeol mencoba untuk menebak.

Sehun yang awalnya cuek-cuek saja, lantas menoleh pada Chanyeol setelah Chanyeol bertanya demikian. Sehun menyipitkan matanya, lalu mendengus. Ia tak menanggapi apa-apa, sementara Chanyeol tertawa karenanya. Sehun diam saja ditertawakan Chanyeol. Baginya, tidak ada yang harus ditertawakan dari masalahnya dengan Luhan. Itu sama sekali tidak lucu, tahu!

"Kalian ini, ya… bukannya merayakan hari bahagia kalian, tapi malah marah-marahan seperti ini." Chanyeol segera meredakan tawanya. "Memangnya kali ini masalahnya apa lagi? Kenapa kalian terlihat tegang sekali?"

Sehun terdiam sejenak, berpikir. Chanyeol ini memang sepupunya yang paling mengerti dirinya. Chanyeol adalah orang pertama yang menjadi tempatnya bercerita. Dari kerabat-kerabatnya yang lain, Chanyeol adalah… yang pertama. Bagi Sehun, Chanyeol sama berharganya dengan Luhan, hanya saja dalam konteks yang berbeda.

Sehun sudah membuka mulut untuk menjawab namun tiba-tiba ia mendengar suara pintu terbuka, serta suara Haowen yang memanggilnya ceria.

"Ayaaah!"

Sehun menoleh dan tersenyum lebar pada Haowen yang mengulurkan tangan sambil menghampirinya. "Halo, jagoan!" sapa Sehun sambil membawa Haowen dalam pangkuannya. Namun anak itu justru merengek-rengek minta turun. Meski bingung, Sehun menuruti Haowen. Ia turunkan anak itu dan bertanya, "Ada apa, Haowen?"

Haowen meringis. Jari telunjuknya yang mungil menunjuk ruang inap Luhan yang terbuka. Sehun mengangkat alis bingung, sementara Haowen terkekeh-kekeh, entah apa yang membuatnya bisa bahagia seperti itu.

"Adikku!" Haowen menjelaskan dan Sehun segera mengerti. "Ayo…" Haowen merengut saat menarik-narik tangan Sehun tapi ayahnya itu tidak segera bangkit dari duduknya. "Ayaaaah…" anak itu merengek sambil menarik-narik Sehun.

"Turuti saja Haowen." Chanyeol berujar sambil memandangi tingkah Haowen. Sehun menoleh padanya, dan Chanyeol melanjutkan, "Haowen ingin kau masuk. Mungkin itu bisa membantumu."

Sehun mendesah pelan. Chanyeol benar, mungkin Haowen bisa membantunya meski sedikit. Setelah meyakinkan dirinya sendiri, Sehun bangkit. Hal itu mengundang suara ceria Haowen lagi. Anak itu menarik ayahnya untuk masuk ke dalam ruangan dengan Chanyeol yang menyusul di belakang.

"Ibu! Ayah!" Haowen dengan cerianya berseru. Membuat orang-orang yang menempati ruangan itu jadi menoleh padanya. Haowen melepaskan tangan Sehun lalu melompat-lompat riang menghampiri baby box yang ada di sebelah ranjang Luhan. Haowen menunjuk adik perempuannya sembari menoleh pada Sehun. "Ayah! Adikku!"

Sementara itu, Sehun tidak tahu harus berbuat apa. Kedua orang tuanya, ibunya Luhan, Baekhyun, Kyungsoo, dan Jongin sedang menatapnya saat ini. Oh, ya, termasuk Luhan. Perempuan itu sedang duduk di ranjangnya, bersandar pada bantal, serta menatapnya datar. Sehun memang sempat melihat kilat terkejut dari manik mata Luhan. Tapi setelah itu, kilat terkejut itu menghilang, berganti dengan kilat kecewa dan sedih.

Ya Tuhan… tolong jangan beri Sehun cobaan seberat ini…

Sehun berusaha untuk terlihat biasa saja setelah ia menelan ludah cukup susah payah. Ia tersenyum pada Haowen, menghampirinya, lalu menggendongnya.

"Ayah, adikku!" Haowen rupanya senang sekali bisa melihat adiknya dari gendongan Sehun.

Sehun mengangguk, masih mempertahankan senyumnya. "Iya, itu adikmu."

"Oh iya, Sehun. Luhan 'kan sudah bangun." Suara Kyungsoo membuat Sehun beralih. "Kalian belum memberinya nama, kan?"

"Ah, iya, benar…" para orang tua dan teman-teman Luhan mengangguk-angguk dan berbisik demikian.

Oh Jae Ho tiba-tiba bertanya, "Kalian sudah mempersiapkan nama, kan?"

"Sepertinya sudah. Aku pernah mendengar mereka mendiskusikan nama bayi mereka." Sahut Song Jung Ha.

Xian Yuan mengangguk sebagai tanggapan. "Iya, itu benar. Aku juga pernah mendengarnya." Tambah ibunya Luhan tersebut.

"Kami memang sudah menyiapkan nama." Kata Luhan, membuat Sehun lantas menatapnya separuh heran dan sisanya terkejut.

Oh, akhirnya Sehun mendengar suara Luhan juga setelah hari ini perempuan itu memilih untuk mengunci bibirnya saat ia ada di sekitar Luhan.

Luhan mengulas senyum ketika perempuan itu menatap bayi perempuannya yang masih nyaman tertidur di baby box-nya. Melihat senyum itu, rasanya Sehun meleleh seketika. Ini seperti dia baru saja melihat senyum Luhan untuk yang pertama kali selama dia hidup. Mendebarkan dan… membuatnya tersipu, entah mengapa.

Luhan membuatnya jatuh cinta hanya dengan sebuah senyuman. Yah, Sehun jatuh cinta lagi.

Hanya saja, waktunya sedang tidak tepat.

"Kami memikirkan banyak nama sebelumnya." Luhan melanjutkan. Lalu ia mendongak, menatap Sehun sambil sedikit melunturkan senyumnya. "Benar, kan?"

"O-oh. Iya." Sehun gelagapan ketika menjawabnya.

Dan, ia bisa mendengar Chanyeol terkikik-kikik geli tepat di belakangnya. Sepupunya itu sedang menertawainya yang tidak pandai membaca situasi—Luhan sedang mengajaknya bersandiwara, ya ampun! Tsk!

"Kau suka nama yang mana? Aku ingat kau menyebutkan beberapa." Luhan terlihat mengingat-ingat. "Sojung? Sehyun? Yoojung?... Yujie?"

Sehun ingat itu semua. Luhan hanya menyebutkan nama-nama yang pernah Sehun sebutkan beberapa bulan yang lalu saat mereka mendiskusikan nama yang bagus untuk bayi perempuan. Luhan sama sekali tidak menyelipkan usulannya, Luhan hanya menyebutkan usulan dari Sehun. Dan itu cukup membuat Sehun tertekan. Dia ingin menurunkan Haowen, mengusir semua orang-orang yang ada di sini, memeluk Luhan, menciumnya, memberi seribu atau sejuta atau lebih kata maaf meski Sehun tahu itu tidaklah cukup.

Sehun telah membuat kesalahan besar. Dan dia tahu, kesalahannya yang sekarang lebih buruk daripada kesalahannya di masa lampau.

"Oh Sojung terdengar bagus." Oh Jae Ho memberi masukan.

"Kurasa Yoojung cocok untuk bayi yang mungil." Xian Yuan ikut berpendapat.

"Oh Sehyun. Terdengar seperti namamu, Sehun." Song Jung Ha rupanya juga ikut bergabung. Wanita itu tersenyum ketika menghadap kepada Sehun. "Bagaimana menurutmu? Kau pilih yang mana?"

Sehun meringis. Ia tidak tahu harus memilih yang mana karena itu semua adalah usulannya. Sehun sudah memilih yang terbaik dari yang terbaik dan keempat nama itulah yang menjadi kandidatnya. Sehun… bingung. Jadi, karena dia tidak tahu harus menjawab apa, maka dari itu Sehun berkata, "Menurutmu, mana yang lebih bagus?" pada Luhan.

Luhan terlihat terkejut dalam diamnya. Ia menatap Sehun, matanya bergerak-gerak, entah apa yang ia cari, Sehun tidak tahu. Sehun hanya mengalihkan pandangan ketika Luhan tetap terus mencari hal yang tidak Sehun ketahui. Ia tidak sanggup melihat Luhan, entah kenapa.

"Kenapa kau tanya padaku?" akhirnya Luhan menyuarakan pertanyaan yang sedari tadi berputar di pikirannya.

Kemarin, Sehun telah meruntuhkan rasa percayanya pada lelaki itu. Kemarin, Sehun menyatakan diri bahwa ia tidak percaya pada istrinya sendiri. Dan sekarang? Sehun seolah memberinya kepercayaan untuk memberi nama bayi yang baru saja ia lahirkan. Luhan merasa… dipermainkan.

Ha! Ini sulit dipercaya. Rasanya Luhan ingin mendecakkan lidahnya tidak percaya dan meminta Sehun keluar. Sehun sudah membakar habis kepercayaannya, dan kini lelaki itu hendak menyembuhkannya. Tidak semudah itu!

"Aku percaya padamu." Itu jawaban Sehun setelah lelaki itu memberi jeda untuk pertanyaannya.

Tuh, kan! Luhan ingin menangis! Mendadak dadanya terasa seperti diremas-remas. Nyeri, sakit sekali.

Luhan menunduk, menelan ludah, serta berusaha menahan diri untuk tidak menjatuhkan setetes air mata. Setelah itu, Luhan berdeham-deham, lalu berkata, "Aku suka Yujie." Dengan suara serak. Tiba-tiba setetes air mata jatuh dan Luhan segera menghapusnya.

Sehun tercenung. Ia melihat air mata Luhan yang jatuh tadi. Dia melihat semuanya. Rasanya Sehun hancur. Sekuat hati dia tidak mendekat dan memeluk Luhan. Dia tahu batasannya sampai mana untuk saat ini. Mereka sedang dalam kondisi yang tidak baik.

"Oh, Ya Tuhan, aku bahagia sekali," kata Luhan sambil tertawa. Dia sedang mengelak, dan Sehun tahu itu. Kemudian Luhan membersit hidungnya yang terasa gatal. "Bukankah kau bilang kalau arti nama Yujie itu 'cantik sekali'?" tanyanya pada Sehun. Saat itu pandangannya tertuju pada bayi perempuan yang hendak ia namai itu. "Dia cantik sekali, sama seperti namanya."

Lantas Sehun menatap bayi yang kini sedang menggeliat kecil itu, lalu mengangguk. "Aku juga suka namanya." Ia menyetujui dalam bisikan. Kemudian ia menatap bayinya dengan senyum lebar, haru. Diusapnya dengan halus pipi merah si bayi, sembari bergumam, "Selamat datang ke dunia, Oh Yujie."

Luhan tersenyum melihat senyum itu. Ia tidak bisa memungkiri bahwa ia masih merasa berdebar ketika melihat senyum itu. Dari pertama kali ia melihatnya, sampai sekarang, Luhan merasa sama. Lucu ketika dia merasa ingin menangis di dada Sehun ketika keadaan mereka tidak mendukung keinginannya.

Iya, selamat datang ke dunia, malaikat kecilku, Oh Yujie…


...


"Oh, tunggu sebentar. Kalian bisa mengurus barang-barang kalian kan?" Xian Yuan meletakkan selimut yang dia lipat ke dalam tas lalu pergi berjalan keluar setelah wanita itu berkata, "Ibu keluar sebentar, oke?"

Xian Yuan meninggalkan Luhan yang menatap kepergiannya dengan bingung sambil melipat pelan-pelan pakaiannya. Lalu perempuan itu beralih pada Sehun yang juga menatap ibu mertuanya dengan kebingungan. Lelaki itu lantas kembali pada pekerjaannya menata barang lain ke dalam wadah. Namun tidak berapa lama kemudian, Sehun mendongak, membuat tatapan mata mereka bertemu.

Luhan terkunci. Dia diam beberapa saat, menghela napas, lalu memutus kontak sembari meletakkan pakaian yang baru dilipatnya ke nakas di sebelah ranjang rawatnya. Sementara itu, Sehun terlihat kecewa. Dia kembali pada pekerjaannya dengan perasaan gundah gulana.

Sepeninggal Xian Yuan, kini hanya ada Sehun dan Luhan di dalam ruang inap Luhan. Besok Luhan diperbolehkan pulang. Saat ini mereka sedang berkemas.

Selama Luhan ada di rumah sakit, keadaannya jadi membaik. Begitu pula dengan Yujie. Bayi yang kini telah berumur enam hari itu bahkan diperbolehkan pulang bersama Luhan besok. Dengan catatan, kalau Luhan dan Sehun menemui keganjilan dalam perkembangan Yujie, bayi itu harus segera diperiksakan ke dokter. Baik Sehun maupun Luhan menyanggupi hal itu.

Hening meraja. Mereka masih dalam perang dingin. Luhan melewati keheningan itu dengan sesekali memperhatikan Sehun. Lelaki itu sudah menghancurkan salah satu pondasi rumah tangganya, entah apa alasan Sehun sampai dia tega melakukan hal itu.

Sebenarnya, apapun alasannya, Luhan tidak bisa menerima lagi. Rasanya sulit untuk bersama jika salah satu dari mereka berdua tidak mempercayai pasangannya. Kalaupun Sehun memintanya untuk percaya lagi, Luhan sangsi dia bisa mempercayai Sehun lagi sebesar dia percaya pada Sehun yang sebelumnya. Pun, Luhan juga sangsi kalau Sehun akan benar-benar memintanya demikian. Sehun saja tidak percaya padanya.

Tapi… kenapa waktu itu Sehun percaya padanya untuk menamai Yujie? Kenapa?

Luhan terus memperhatikan Sehun sampai tidak sadar kalau lelaki itu telah menyadari kegiatannya sekarang. Sehun tahu kalau Luhan memperhatikannya. Sehun kini menatapnya, dan berjalan mendekat. Kemudian Sehun melihat Luhan tersentak kecil ketika dia sudah berada di hadapan perempuan itu.

Ada kilat yang tidak bisa Sehun terjemahkan ketika Luhan mendongak padanya, menatapnya, lalu membuang muka ke arah lain.

Yah… Luhan memang masih marah padanya.

Sehun menghela napas. Ia menarik kursi terdekat dan duduk di sana. Dia duduk di sebelah ranjang Luhan, memperhatikan bagaimana suramnya wajah Luhan saat ini.

Dada Sehun diremas-remas. Sakit.

"Ada apa?" Sehun mencoba untuk membangun percakapan diantara mereka. Suaranya terdengar berat. Luhan yang mendengarnya lantas melirik, lalu kembali mengalihkan pandangan.

"Kenapa?" Luhan balik bertanya lirih. "Kenapa kau lakukan hal itu?"

Sehun tahu arah pembicaraan ini. Dia hanya terdiam, masih betah memandangi wajah Luhan.

Sementara itu, merasa tidak diperhatikan Sehun karena Luhan tidak juga menerima jawaban, Luhan lantas menatap Sehun. Mata Luhan berkaca-kaca, wajahnya pias menahan marah ketika dia bertanya, "Kenapa kau tega tidak percaya pada istrimu sendiri?"

Sehun betah membisu.

"Sehun, aku ini istrimu yang seharusnya kau percayai. Kenapa kau tidak mempercayaiku, hm?" tanya Luhan lagi. Ia terlihat tidak sabar ketika bertanya demikian. Suaranya serak, ia bahkan mulai menjatuhkan air mata karena sudah tidak bisa menahannya lagi.

Melihat air mata itu turun, Sehun refleks mengangkat tangan untuk menyeka cairan sialan itu. Namun Luhan segera menepisnya dengan cepat. Ia menatap Sehun tajam.

"Luhan…"

"Kau tidak pantas memanggilku dengan nada seperti itu." Luhan menghapus air matanya sendiri dengan kasar.

Sehun menunjukkan tatapan memelasnya ketika dia menggerung setengah kesal setengah merajuk. Duh, Luhan tahu Sehun ini menunjukkan reaksi yang salah, tapi tolong! Luhan tidak kuat kalau Sehun menunjukkan tatapan memelas seperti itu…

Luhan menelan ludah susah payah, merapikan wajahnya yang berantakan karena air mata, lalu menarik napas dalam-dalam. Setelah berhasil mengendalikan dirinya, dengan berani Luhan menatap mata Sehun yang selalu membuatnya lemah itu. Ia bertanya, "Sekali lagi kutanya kau. Kenapa kau tidak mempercayaiku? Katakan padaku alasannya…"

Sehun balas menatap mata Luhan yang menatapnya pilu. Dia tidak sanggup sehingga Sehun harus menunduk. Ia menghela napas berat, lagi. Ia memberanikan diri meraih dan menggenggam tangan Luhan. Namun perempuan itu segera menariknya, menyembunyikan tangannya sendiri di balik tubuhnya.

Sekali lagi, Luhan menunggu jawaban Sehun. Dia tahu Sehun bukanlah lelaki yang akan berbicara to the point. Mungkin, Sehun sedang memikirkan kata-kata yang cocok untuk penjelasannya. Jadi, Luhan menunggu.

Namun waktu berlalu begitu saja, dan Sehun belum juga menjawabnya.

Luhan menghela napas. "Sejujurnya, aku tidak tahu apa salahku sampai kau tidak mempercayaiku. Kau pun juga sepertinya enggan bercerita padaku. Apakah ini karena kau tidak mempercayaiku sebagai tempatmu bercerita?"

"Bukan begitu…" Sehun menggeleng dan mengklarifikasi secepatnya.

"Lalu apa?" Luhan menyela dengan tidak sabar.

Sehun menatap Luhan sejenak. "Aku sudah mengatakannya padamu, kan, kalau aku takut?" tanyanya pelan. "Aku takut kehilanganmu lagi, Luhan. Aku takut tidak bisa melihatmu lagi. Aku benar-benar takut tidak bisa bersamamu."

Hening sejenak.

"Hanya itu?" tanya Luhan nyaris tanpa suara. Ia tidak mendapatkan tanggapan yang berarti dari Sehun. Lelaki itu hanya diam. Hal itu membuat Luhan menangis. Ia memecahkan tangisnya di depan Sehun lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Sehun rasanya luruh ke lantai dengan cara yang kejam. Semua tubuhnya terasa sakit melihat Luhan menangis tepat di hadapannya. Ia berusaha untuk tidak memeluk Luhan karena kondisi hubungan mereka berdua. Tapi Sehun tidak mampu. Ia duduk di tepian ranjang, terjatuh mendekap Luhan. Perempuan itu sempat memberontak kecil. Namun pada akhirnya, Luhan diam. Ia biarkan Sehun memeluknya, ia biarkan tangisnya berjatuhan lagi, ia biarkan semuanya.

Luhan ingin merasa lega dan bebas. Namun tangisnya serta pelukan Sehun rasanya tidaklah cukup. Luhan mendorong tubuh Sehun menjauh ketika ia merasa pelukan Sehun lama-kelamaan menjadi bumerang untuk hatinya. Luhan mendadak sakit hati dipeluk Sehun.

Dulu, Luhan suka dipeluk Sehun. Kini, Luhan merasa tidak betah, meski sejujurnya, Luhan mendambakan pelukan itu.

Luhan tidak tahu sebenarnya dia ini kenapa. Luhan dilema.

Mereka saling berhadapan. Sehun menghapus air mata di wajahnya, dan lagi-lagi Luhan menepisnya. Luhan bisa melakukannya sendiri. Ia tak sanggup menatap langsung Sehun saat itu, maka dari itu dia menunduk. Sehun sedang menatapnya pilu, dan Luhan tidak ingin menangis lagi.

Hening. Dingin. Membeku.

Kini, Luhan sudah tenang. Air mata telah berhenti mengalir dari pelupuk mata. Ia dan Sehun hanya diam di sana. Luhan tetap betah memandang pangkuannya yang kosong, sementara Sehun, dia sibuk memandangi Luhan, mengingat banyak hal dengan perempuan itu, serta berusaha mencari jalan keluar untuk masalahnya dengan Luhan.

Sehun tahu, jalan keluar untuk masalah mereka memang sulit. Akan tetapi, Sehun yakin akan ada jalan keluar yang terbaik untuk mereka. Kesalahannya memang sangat-sangat-sangat fatal. Dan kalaupun Sehun harus dihukum, Sehun akan terima. Seberat apapun itu hukumannya, Sehun akan menerimanya dengan lapang dada. Kecuali kalau…

"Aku ingin kita berpisah, Sehun,"

…berpisah dengan Luhan.

Seketika Sehun mendengak, menatap tidak percaya Luhan yang menatap kosong pangkuannya. Sehun terkejut, tentu. Sehingga Sehun refleks mencicit, "Tidak," dengan jantung yang berhenti bekerja secara tiba-tiba.

Luhan pun balas menatap Sehun. "Kenapa? Kau mau melarangku lagi?" tanyanya. Ia memberi jeda ketika dia sibuk mencari-cari jawaban di mata Sehun. Nihil, itu tidak membantu Luhan sama sekali. Jadi perempuan itu segera melanjutkan, "Sehun, apapun alasanmu, aku sungguh tidak bisa menerimanya. Kau sudah tidak mempercayaiku, merusak kepercayaanku padamu, dan itu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan rumah tangga kita."

"Kita bisa memperbaikinya. Aku bisa memperbaikinya…"

"Ohya?"

Hening sejenak.

"Aku tahu aku salah. Aku tidak mempercayaimu dan itu benar-benar kesalahan besar. Aku tahu… aku tahu…"

"Kalau kau sudah tahu, kenapa kau tetap mempertahankan rasa ketidakpercayaanmu padaku?" tanya Luhan lagi. Ia berusaha untuk tenang namun nyatanya suaranya bergetar menahan emosi. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia menatap Sehun kemudian. "Kau tidak bisa menjawabnya?"

Sehun tidak tahu. Jadi dia hanya diam. Dan, diamnya Sehun membuat Luhan menghela napas berat.

"Sejak kapan kau tidak mempercayaiku?"

Sehun menunduk. "Sebelum kita berangkat ke Cina. Sebulan yang lalu."

Refleks Luhan menyentuh dahinya. Mendadak ia merasa pusing. Sehun membuat kepalanya nyut-nyutan. Ia bingung, serius. Kalau rasa tidak percaya itu datang sebulan yang lalu, lalu apa maksud Sehun mengekangnya selama ini?

"Lalu apa maksudmu melarang-larangku sebelum sebulan yang lalu? Kau tak memperbolehkanku melakukan ini dan itu—"

"Itu karena aku takut kehilanganmu lagi, Luhan." Sehun menjelaskan dengan nada lelah. "Aku takut melihatmu kritis lagi setelah melahirkan. Maka dari itu aku menjagamu—"

"Dan kau berlebihan." Luhan menyela, lalu Sehun bungkam. "Aku benar-benar tidak bisa, Sehun."

"Luhan…"

Luhan segera menunduk ketika melihat ekspresi dan tatapan mata Sehun untuknya. Jangan merengek…

"Kumohon, biarkan kita berpisah."

"Kenapa harus?" Sehun bertanya dengan suara serak. "Aku tahu aku salah. Aku tahu."

"Dan aku tahu, aku masih belum bisa menerimamu."

Oh, ya. Ini semua salahnya. Sehun menatap Luhan dan bungkam karena pernyataan itu. Ia merasa… hampa seketika.

"Biarkan aku menenangkan diri dulu, kau juga perlu waktu. Beri kita waktu dulu, Sehun. Aku belum bisa menerimamu."

Sehun terlihat menunduk, bahunya menurun. Sehun tidak tahu harus merespon apa. Serius, dia ingin mempertahankan Luhan, dia ingin mempertahankan semuanya, dia ingin semuanya berakhir bahagia untuk mereka. Tapi mengapa Luhan seolah tidak ingin mempertahankannya?

Tidak… hanya saja, untuk kasus ini, Sehun sadar bahwa ini pasti sulit untuk Luhan, untuk mereka juga.

Sehun mendesah pelan. Ia kembali mendongak, memperhatikan wajah lelah Luhan, lalu menatap mata basah dan sembab milik Luhan. Sehun berat sekali ketika bertanya, "Kau ingin kita pisah ranjang?"

"Pisah rumah." Luhan membenarkan dengan pelan. "Untuk saat ini, aku belum bisa satu rumah denganmu, Sehun." Katanya. "Aku akan tinggal di rumah Ibu untuk sementara."

Sehun hanya mampu diam. Ia tidak merespon apa-apa kecuali mendesah berat. Ia tidak mampu menahan dan memaksa Luhan untuk tetap tinggal.

Rasanya, Sehun kehilangan separuh nyawanya.


...


Luhan tidak menjelaskan kenapa dia memilih untuk pulang ke rumah lamanya pada Xian Yuan. Wanita itu sempat bertanya, dan Luhan hanya menjawab, "Sehun akan sering pergi keluar kota. Pekerjaannya banyak. Lebih baik aku tidur di sini daripada di rumah sendirian." dengan senyum tipis di wajah. Sehingga Xian Yuan merasa semuanya baik-baik saja. Padahal, sedang ada badai berkepanjangan yang menerpa bahtera rumah tangga putrinya.

Jawaban itu juga dilontarkan Luhan ketika teman-temannya bertanya hal yang sama. Kalau salah satu diantara mereka menyelidik lagi, Luhan menambahi jawaban klasik seperti, "Aku rindu ibuku." atau, "Haowen butuh teman-teman yang lebih dewasa supaya ia bisa menjadi kakak yang baik untuk adiknya," dan sebagainya.

Beruntung teman-temannya lantas mengerti. Jadi Luhan tidak perlu repot mencari-cari alasan lain jikalau mereka bertanya.

Siang itu, tepat setelah dua bulan dia keluar dari rumah sakit, Luhan duduk di bangku kayu yang ada di bawah pohon rindang di halaman belakang. Di depannya ada anak-anak yang asyik bermain. Haowen juga ada di sana. Anak itu sering menyuarakan tawa dan memperlihatkan senyum lebar ketika bermain bersama Ziyu dan kawan-kawannya. Sesekali Haowen menghampiri Luhan untuk minum air putih, atau untuk melihat wajah Yujie yang menggemaskan.

Waktu itu, Haowen kembali lagi padanya. Anak itu berlari dan berhenti di depan Luhan dengan napas satu-dua. "Ibu," Haowen ngos-ngosan. Luhan terkekeh melihat putranya yang satu itu lalu meminta Haowen untuk duduk di sebelahnya. Dengan badannya yang kecil, Haowen naik ke bangku dengan susah payah. Haowen mendesah lega ketika dia sudah berhasil duduk di sana.

"Capek?"

Haowen mengangguk. Ia lalu terdiam sebentar. "Kenapa aku tidak melihat Ayah hali ini?"

Luhan berusaha untuk terus mempertahankan senyumannya sesaat setelah ia mendengar pertanyaan itu. Selama dia berpisah dengan Sehun, Haowen memang tidak pernah menanyakan soal Sehun. Haowen masih terlalu kecil untuk mengerti. Ketika pertama kali mereka kemari, Haowen memang sempat bertanya, "Kenapa kita tidul dicini?" dan Luhan hanya menjawab, "Ibu harus menemani nenek, Haowen. Kasihan nenek sendirian." lalu Haowen tidak bertanya macam-macam lagi.

Akan tetapi, untuk yang tadi, itu pertanyaan pertamanya tentang Sehun.

Jujur, Luhan tidak tahu harus menjawab bagaimana. Sehun jarang kemari, terhitung hanya dua kali selama dua bulan ini, sementara Sehun adalah orang yang paling dekat dengan Haowen. Dialah Ayah yang selalu ada untuk Haowen. Mungkin itu karena ikatan batin mereka yang terjalin selama Luhan kritis. Haowen memang lebih dekat dengan Sehun daripada dengan dirinya.

Jadi, mungkin, ketika Luhan memutuskan untuk pisah rumah serta membawa Haowen dan Yujie bersamanya, Haowen merasa kosong. Tidak ada Sehun di sampingnya. Luhan maklum saja meski sebenarnya dia kesulitan kalau mencari-cari alasan atas pertanyaan Haowen yang seperti tadi.

"Ayah sedang bekerja, Haowen." Akhirnya hanya itu yang mampu Luhan katakan.

"Kemana?" Haowen bertanya lagi.

"Ke kantor, Sayangku." Luhan mengusap-usap rambut Haowen dengan lembut. "Pekerjaan Ayah banyaaaak sekali. Jadi belum bisa pulang ke sini."

Lalu Haowen menunduk. "Aku ingin beltemu Ayah…" ia berujar demikian dengan suara pelan. Kemudian dia mendongak lagi, memperlihatkan wajah sedihnya pada Luhan. "Aku bocan belmain dengan meleka." Ia menunjuk teman-temannya dengan jarinya yang kecil. "Aku ingin belmain dengan Ayah..."

Luhan bungkam. Seketika dia merasa bersalah. Haowen menjadi korban keegoisan mereka, dan Luhan tidak sanggup menyaksikannya. Sekuat tenaga Luhan memperlihatkan senyum lebar pada putranya, mencoba untuk menunjukkan bahwa keluarga kecil mereka ini memang baik saja.

"Nanti biar Ibu marahi Ayahmu itu supaya Ayahmu cepat pulang, ya…"

Haowen kelihatan tidak terima ketika dia menyahut, "Jangan malahi Ayah…" kemudian dia mengubah ekspresinya menjadi merajuk ketika ia berkata, "Ibu hanya pelu meminta Ayah kemali. Nanti Ayah pati datang." (Ibu hanya perlu meminta Ayah kemari. Nanti Ayah pasti datang)

Saat itu, Luhan hanya tersenyum. Selama dia berpisah dengan Sehun, ia memang tidak memiliki niat untuk menghubungi Sehun. Dia tidak ingin Sehun tahu banyak hal tentangnya selama ia berada di rumah lamanya. Luhan hanya menyisakan info bahwa dia tinggal di rumah lamanya bersama Xian Yuan, itu saja. Kalaupun ada hal mendadak yang penting dan harus diberitahukan pada Sehun, Luhan bisa memikirkannya, haruskah dia menghubungi Sehun secepatnya atau tidak. Untuk saat ini, menghubungi Sehun adalah hal terakhir yang terpikir olehnya.

Bukannya dia egois. Tidak, Luhan hanya ingin Sehun tidak terlalu merecoki ketenangannya untuk saat ini. Takutnya, kalau Sehun tahu apa saja yang dia lakukan di rumah ini, Sehun akan terus menghubunginya, memintanya untuk tidak melakukan ini dan itu, dan itu akan berakhir menyebalkan. Meski Luhan tahu bahwa itu hal yang tidak mungkin Sehun lakukan setelah pertengkaran mereka, sebenarnya Luhan hanya berjaga-jaga.

Baginya, lebih baik seperti ini.

Selain itu, Luhan juga ingin menunjukkan pada Sehun bahwa ia bisa melakukan banyak hal sendirian. Luhan tidak ingin terlalu bergantung pada Sehun meski pada faktanya, Sehun adalah orang yang dia butuhkan sebagai tempatnya bersandar. Tsk, Luhan sedang membohongi dirinya sendiri supaya dia bisa tenang barang sejenak. Melupakan masalah mereka untuk beberapa waktu memang hal yang dia—mereka berdua— butuhkan.

Sementara Sehun?

Oh, dia sedang sibuk di meja kerjanya. Ada banyak dokumen yang tertumpuk di meja. Komputernya menyala, hanya saja fokusnya tidak pada layar yang menunjukkan lembar kerja yang sempat membuat Sehun pusing. Sehun sedang terfokus pada Luhan. Perempuan itu menyita pikirannya selama dua bulan terakhir.

Iya, pada akhirnya, Sehun mengiyakan permintaan Luhan mengenai dirinya yang menginginkan pisah rumah. Sungguh, Sehun tidak menginginkan hal itu. Dia masih ingat betapa kepalanya berat sekali untuk mengangguk demi membuat Luhan merasa lega.

Dan, benar saja, Luhan terlihat jauh lebih baik selama mereka pisah rumah. Sehun tahu? Iya, Sehun tahu. Diam-diam Sehun mengawasi Luhan. Terkadang, Sehun bertanya pada Xian Yuan bagaimana kabar Luhan dan kedua anaknya dengan alasan bahwa dia ingin memberi Luhan kejutan dengan tidak menghubungi Luhan. Xian Yuan percaya saja, Sehun lega akan hal itu. Selain itu, Sehun sering meminta Jongdae untuk mengawasi Luhan dari jauh. Kalau ada apa-apa, Jongdae harus mengabarinya.

Hanya itu yang bisa Sehun lakukan untuk saat ini. Dengan membiarkan Luhan merasa leluasa setelah apa yang mereka lalui beberapa waktu terakhir, Sehun juga merasa lega. Setidaknya, dia bisa melihat Luhan tersenyum lagi. Meski itu tanpanya, itu lebih dari cukup.

Malam itu, ketika jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam, Sehun beranjak dari kursi kerjanya. Kantor sudah sepi ketika dia keluar dari ruangannya, koridor, lift, dan gedung. Sehun mengendarai mobilnya menuju rumah Xian Yuan, tempat dimana Luhan berada. Selama dia menahan diri untuk tidak berlari menemui Luhan, memeluknya, memberi jutaan kata maaf untuk Luhan, Sehun merasa rindu. Kini, meskipun bukan waktu yang tepat untuk menemui Luhan, Sehun ingin menguras habis rasa rindu itu dengan melihat wajah Luhan.

Ah, masa bodoh dengan reaksi Luhan nanti. Yang penting dia sudah melihat Luhan, itu lebih dari cukup.

Sesampainya, Sehun segera masuk. Ia masuk diam-diam, tanpa diketahui siapapun. Ruangan sudah banyak yang gelap, kecuali ruang tengah yang hanya diterangi lampu kecil di sudut ruangan. Sehun melewati ruangan itu, membuka perlahan sebuah pintu di salah satu sisi ruangan itu. Sejenak, Sehun mengintip. Kamar itu juga gelap, namun Sehun dapat melihat seseorang tertidur di balik selimut.

Sehun tersenyum kecil. Luhan sedang tertidur. Ia segera masuk, menutup pintu perlahan, lalu menghampiri Luhan yang tertidur dengan langkah pelan dan awas. Yah… Sehun memang was-was kalau saja Luhan terbangun karena kedatangannya. Kalau sudah begitu, kemungkinan besar Luhan akan memintanya untuk pulang, dan Sehun tidak bisa menguras habis rasa rindunya.

Omong-omong, memangnya selama ini, Luhan tidak rindu padanya?

Memikirkan hal itu membuat Sehun menghela napas pelan. Ia memang sedikit berharap bahwa Luhan sering memikirkannya, merindukannya, dan menangis karena kesalahannya—yang terakhir itu memang menyebalkan tapi entah kenapa Sehun membayangkan Luhan masih sering menangis karenanya— walau dia tahu kemungkinannya kecil sekali.

Sehun merendahkan dirinya, duduk di lantai yang dingin, tepat di sebelah Luhan. Perempuan itu memejamkan mata, berenang di sungai mimpi yang sepertinya menyenangkan, sampai ketika Sehun—ragu— menyentuh tangannya, Luhan sama sekali tidak merasa terganggu. Mungkin, Luhan kelelahan mengurus Haowen dan Yujie serta anak-anak di panti asuhan ini.

Pelan, Sehun menggenggam lembut jemari Luhan. Matanya tetap mengawasi, lalu menghela napas lega ketika Luhan tidak terbangun karenanya—ya ampun, dia seperti penyusup saja!— Dadanya seketika mencelus merasakan sensasi bagaimana kulitnya bersentuhan dengan kulit Luhan.

Hening. Sehun lantas menatap Luhan. Lama sekali. Sampai dia puas. Sampai dia merasa lelah.

Eh, bagi Sehun, menatap Luhan itu tidak ada yang melelahkan. Yang melelahkan adalah ketika dia berusaha untuk memperbaiki kesalahannya namun ia merasa Luhan sedang tidak ingin diperjuangkan—setidaknya untuk saat ini.

Bermenit-menit berlalu. Sehun masih bertahan dengan posisinya. Dalam gelapnya ruangan, dia masih mampu memandangi wajah Luhan yang terkena sedikit cahaya yang masuk dari celah tirai.

"Maafkan aku…" ia berbisik sendirian. Suara bisikannya jadi terdengar cukup jelas karena heningnya suasana itu. "Aku tahu aku tidak pantas datang kesini diam-diam, menggenggam tanganmu, lalu mengatakan maaf seperti tadi ribuan kali. Aku…" lalu Sehun menghela napas berat. "…aku bodoh, aku tahu. Tapi aku merindukanmu…"

"Luhan…" Sehun memanggil. Dia mulai bermonolog dengan Luhan. Ini salah satu cara untuk mengobati rasa sakit akan rindu yang dia alami selama ini.

"Kau pernah bilang kalau kau percaya padaku bahwa aku bisa jadi lelaki yang baik. Kau selalu percaya padaku. Akan tetapi, pada akhirnya, aku merusak semuanya. Aku tidak pantas mendapatkan penerimaan maaf darimu. Aku tahu, aku terlalu buruk untuk mendapatkannya, tapi apakah kau mengijinkanku untuk memperbaikinya meski itu sulit?"

Hening. Tidak ada jawaban, tentu saja. Suasana itu membuat Sehun mendengus pelan, ia menertawai dirinya sendiri.

"Aku bisa bicara seperti tadi saat kau tidur tapi kenapa aku tidak bisa bicara seperti tadi saat kau menatapku?" bisiknya setengah kesal. Dia sedang kesal dengan dirinya sendiri. "Mungkin aku terlalu takut mendengar pernyataan terburuk darimu."

"Oh, ya. Aku memang tidak pantas mendapatkan kesempatan. Aku sudah tidak percaya padamu dalam menjaga diri dan itu kesalahan besar. Dari awal memang aku tidak pantas mendapatkanmu. Kau terlalu baik untukku."

Rasanya, Sehun ingin meledakkan dirinya sendiri ketika dia berbisik lagi untuk meminta maaf pada Luhan. "Maafkan aku, Luhan, Sayang… Maafkan suamimu yang bodoh ini…" lalu Sehun menangis. Ia menjatuhkan air mata yang sedari tadi sudah ditahannya. Sehun lantas membersit hidung, menghapus lagi air matanya, lalu mengecup pelan punggung tangan Luhan. "Maaf…" ia kembali mengulang sebelum memberi dahi Luhan kecupan kecil yang cukup lama.

Setelah itu, hening yang tersisa. Sehun berhenti bermonolog, ia rasa itu sudah cukup untuk menumpahkan semua rasa rindu dan marah pada dirinya sendiri. Maka dari itu Sehun memutuskan untuk pergi. Ia melepaskan genggaman tangan mereka dengan tidak rela. Matanya tetap awas pada Luhan, berharap semoga Luhan tidak terbangun karenanya.

Selepas itu, Sehun bangkit. Ia sempat memandangi Luhan sejenak sebelum beranjak pergi. Sehun membuka pintu perlahan, lalu menutupnya dengan cara yang sama. Hendak dia keluar dari rumah itu namun urung ketika dia mendengar suara tangis bayi dari balik sebuah pintu di sebelahnya. Sehun terkesiap. Dia tahu kalau di balik pintu itu adalah kamar Yujie dan Haowen. Tanpa menebak pun Sehun tahu suara bayi itu adalah suara Yujie.

Sehun terpaku. Mendadak dia tidak bisa bergerak barang seinchi pun.


...


"Maaf…"

Luhan mendengarnya. Luhan mampu merasakan kecupan pelan dan sayang dari Sehun di punggung tangan serta keningnya. Luhan tahu semuanya. Dia belum tidur.

Awalnya, Luhan dilema, mau menghubungi Sehun atau tidak, memberi tahu pada Sehun bahwa Haowen merindukannya. Dia juga tidak bisa memutus hubungan anak-anaknya dengan Sehun. Mereka belum benar-benar berpisah. Sehun masih berhak melihat dan bermain bersama Haowen atau Yujie. Pikiran itu membuatnya tidak bisa tidur. Lalu tiba-tiba ia mendengar seseorang membuka pintu depan, lalu pintu kamarnya, lalu merasakan tangannya digenggam seseorang, dan ia mendengar suara Sehun yang berbisik di sebelahnya.

Luhan tidak menyangka. Sehun datang diam-diam untuk menemuinya, mengungkapkan semua yang lelaki itu rasakan selama ini, dan jujur saja, itu membuat Luhan ingin sekali membalas tatapan Sehun, mencari kebenaran di setiap kalimat yang diungkapkan Sehun.

Namun jika didengar dari suara bisikan Sehun tadi, Luhan sadar, Sehun juga sakit karena keadaan mereka. Sehun lebih putus asa daripada dirinya.

Hal itu membuat Luhan tidak sanggup menahan air matanya. Luhan menangis dalam diam selepas Sehun pergi. Ia menaikkan selimut, menggigit kain tebal itu untuk meredam isaknya, dan memejamkan matanya erat. Sehun membuatnya terguncang.

Luhan berusaha untuk menenangkan diri kemudian. Ia menghapus air matanya dengan kasar, lalu tiba-tiba ia mendengar Yujie menangis. Luhan lantas mendudukkan diri, merapikan wajahnya yang basah karena air mata, lalu berjalan dengan pelan menuju kamar Yujie dan Haowen yang ada di sebelah kamarnya. Saat itu juga Luhan mendengar Haowen menangis, memanggil, "Ayaaah…." diantara tangisnya. Itu sudah biasa Luhan dengar.

Haowen memang lebih sering memanggil ayahnya saat ia menangis. Jadi Luhan pikir, panggilan Haowen bukanlah hal yang aneh. Pikirnya, Sehun memang benar-benar sudah pergi. Buktinya, Luhan tidak melihat siapa-siapa di ruang tengah saat dia keluar. Luhan segera masuk ke kamar kedua anaknya. Haowen sudah berhenti menangis saat itu. Lalu Luhan menyalakan saklar lampu, membalik badan, dan membeku.

Ia bisa melihat Sehun menggendong Haowen dengan sebelah tangan yang mengusap-usap pipi Yujie supaya bayi itu berhenti menangis. Haowen terlihat memeluk erat leher Sehun sambil menangis sesenggukan.

Tatapan mata mereka beradu. Lalu Sehun membungkuk untuk menurunkan Haowen namun anak itu justru merengek tidak mau turun.

"Biar saja," Luhan berkata parau. Ia berjalan mendekati Sehun untuk mengusap punggung Haowen lembut. "Haowen merindukanmu,"

Sehun membisu, lidahnya kelu. Dia tidak menjawab apapun. Hanya memperhatikan Luhan saja yang dia lakukan. Perempuan itu beralih pada Yujie, menggendongnya, lalu duduk di sofa. Sesekali Luhan menimang-nimang Yujie supaya bayi itu berhenti menangis. Sehun mengerjap cepat dan segera membalik badan ketika dia melihat Luhan melepas dua kancing teratas baju tidurnya. Luhan hendak menyusui Yujie dan sebaiknya, Sehun tidak tahu.

Suasana jadi canggung sekali dalam keheningan di antara mereka. Sehun sedang menepuk-nepuk punggung Haowen yang tetap saja merengek di lehernya, pun sedang berusaha menyibukkan pikirannya supaya Luhan tidak mendistraksinya. Semenjak Luhan melepas kancing baju tidurnya, Sehun jadi tidak fokus.

Oh, Ya Tuhan… Luhan adalah godaan terbesarnya.

"Kau sering kesini secara diam-diam?" Luhan bertanya dan itu membuat Sehun tersentak.

"E-eung… Hanya beberapa kali." Jawabnya pelan. Suaranya terdengar serak dan gugup.

Luhan tidak menjawab untuk beberapa saat.

"Kau seperti penyusup." Sahut Luhan parau. Kemudian Sehun mendengar Luhan membersit hidungnya, yang membuat Sehun lantas menoleh ke belakang. Luhan sedang menunduk dan mengusap bagian wajahnya dengan punggung tangan saat Sehun melihatnya.

Sehun tercenung. Luhan menangis.

"Lain kali, kabari aku kalau kau datang." Katanya pelan. Ia mencoba untuk tenang dan tidak terbawa suasana.

Ini karena Luhan merasa kacau setelah mendengar pengakuan dan permintaan Sehun tadi. Sehun ingin memperbaiki kesalahannya, tapi justru dialah yang kabur dari masalah dengan memberi waktu sendiri dan mencoba untuk menjaga jarak dari Sehun. Apalagi setelah mendengar fakta bahwa Sehun sudah beberapa kali kemari secara diam-diam, dan hanya tadi saja Luhan tahu keberadaan Sehun. Pasti Sehun punya waktu yang sulit karena dia—Luhan— jauh darinya dengan membawa serta Haowen dan Yujie.

Sebenarnya, yang egois di sini siapa?

"Aku takut kau mengusirku."

"Siapa yang akan mengusir Ayah yang dirindukan Haowen?" tanya Luhan balik. Ia menatap punggung Sehun beserta Haowen yang sudah tenang dan menghela napas pelan. "Kau bilang kau takut?"

"Aku memang takut,"

"Kenapa kau merasa takut akan hal yang belum pasti terjadi?" Luhan bertanya lagi. "Aku jadi benci mendengarmu menjawab 'aku takut' di setiap pertanyaanku. Kau takut atau kau tidak percaya padaku?"

Pertanyaan itu seketika membuat Sehun membalik badan dan menatap manik mata Luhan. "Luhan… aku memang takut. Aku jujur padamu kalau aku takut, dan itu salah satu bentuk kepercayaanku padamu."

"Dengan takut pada apa yang kau pikirkan selama ini?"

"Bukan begitu…"

"Kenapa kau merasa takut padahal sudah ada aku di sisimu?"

Sehun terdiam. Ia melirik Haowen yang tertidur di bahunya kemudian merebahkan tubuh kecil anak pertamanya pada tempat tidur pelan-pelan. Lalu Sehun menghampiri Luhan, memberanikan diri untuk berhadapan dengan perempuan yang sangat dia cintai itu. Sehun menempelkan kedua lututnya di lantai, sehingga kini, ia bisa melihat wajah Luhan dengan jelas.

Luhan terlihat pucat, matanya bersinar redup, pipi serta hidungnya memerah, dan bibirnya… Sehun rindu bibir itu.

"Maafkan aku…" kalimat pendek ini membuat Luhan menahan napas sementara matanya berusaha menyingkap setiap sudut di balik manik mata Sehun.

Sehun melanjutkan, "Aku tak bisa mengatasi rasa takutku akan kehilanganmu dengan baik sampai aku tidak mempercayaimu. Maafkan aku… Aku terlalu egois padamu hingga membuatmu merasa tertekan. Maafkan aku…"

"Jangan dilanjutkan," Luhan menyela dengan serak. Tiba-tiba dia tidak ingin mendengar kelanjutan kalimat Sehun karena baginya itu terlalu menyakitkan.

Namun sepertinya Sehun tidak peduli. Lelaki itu terus melanjutkan kalimatnya sambil mengusap pipi lembab Luhan dengan halus.

"…aku tidak bisa menjagamu dengan baik sampai kau merasa tertekan. Maafkan aku…"

"Berhenti, Sehun…"

"…aku…"

"Oh Sehun!" Luhan menahan diri untuk tidak berteriak. Ia sudah menangis, membanjiri pipinya dengan air mata dan Sehun akan menghapusnya dengan usapan lembut. Suaranya yang cukup keras di malam hari itu membuat Yujie berhenti menyusu dan menangis. Luhan segera menepuk-nepuk lengan Yujie pelan dan berusaha membuat bayi itu berhenti menangis. Tapi apa yang dilakukannya justru tidak berhasil. Luhan jadi ikutan menangis karena mendadak dia tidak tahu harus melakukan apa. Sehingga mau tidak mau Sehun mengambil alih. Lelaki itu menutup kembali baju tidur Luhan dan mengambil alih Yujie. Diusapnya dengan lembut kepala putri kecilnya, ditimang-timanglah Yujie, lalu dikecuplah kening Yujie penuh sayang. Ajaibnya, Yujie berhenti menangis.

"Jangan menangis…" Sehun lantas mengusap kembali pipi Luhan. Luhan sedang menatapnya, entah apa yang Luhan pikirkan saat itu, Sehun tidak tahu. Luhan hanya diam menerima perlakuannya.

Tentu, Luhan banyak berpikir seketika. Lucu ketika tiba-tiba dia berpikir Sehun punya tangan ajaib yang mampu menenangkan Haowen dan Yujie saat kedua anak itu menangis. Sehun masih tetaplah ayah dari kedua anaknya.

Dan, tegakah dia memisahkan kedua anaknya dengan Ayah mereka?

Sejenak, Luhan diam tanpa suara. Sehun pun menimang Yujie supaya putri kecilnya itu sampai Yujie tertidur. Pelan-pelan Sehun merebahkan Yujie. Luhan juga membantunya. Luhan tetap membisu selama itu. Bahkan setelah mereka keluar dari kamar anak-anak mereka dan berdiam diri di depan pintu.

"Aku…" Sehun hendak membuka suara untuk pamit pergi ketika tiba-tiba saja Luhan berkata, "Tetaplah di sini sampai besok. Haowen pasti senang melihatmu di sini."

Sehun mengerjap sementara Luhan segera berlalu dan menghilang di balik pintu kamarnya.

Saat ini, Sehun merasa di sekitarnya mulai muncul kerlap-kerlip bintang imajiner yang menerangi ruang tengah yang gelap. Apa yang dirasakannga saat ini seperti ia baru saja membentuk nebula emisi setelah mengalami supernova. Ada awan dan debu kosmik di sana, terlihat kelabu, namun ada kerlip serpihan debu dari emisi hidrogen di sekitarnya.

Setidaknya, masih ada secercah harapan kecil untuknya memperbaiki semua kesalahan ini.


...


Semalam, Luhan memperbolehkannya untuk tetap tinggal. Semalam pula, Luhan memperbolehkannya untuk menggunakan satu kamar yang sama. Hanya saja, Luhan tidak mengijinkan dirinya untuk memeluk Luhan. Perempuan itu lantas memunggunginya dan tertidur pulas.

Pagi itu, Sehun terbangun. Ia tidak menemukan Luhan di sebelahnya. Mengerjap, Sehun mencari-cari keberadaan Luhan. Sama sekali tidak ada. Maka Sehun mendudukkan diri di tepi ranjang, menurunkan kakinya pada lantai yang dingin, lalu berdiri, beranjak dari tempat nyaman itu untuk mencari Luhan.

Belum juga Sehun memulai langkah pertamanya, ia melihat Luhan masuk ke kamar. Pandangan mereka sempat bertubrukan untuk beberapa saat. Namun kemudian Luhan memutus kontak dengan cepat. Perempuan itu berjalan mendekati Sehun. Tangannya terulur melewati tubuh Sehun untuk mengambil ponsel di nakas kecil yang ada di belakang Sehun. Belum juga Luhan pergi, tubuhnya tiba-tiba didekap Sehun. Luhan membeku dalam pergerakannya. Hanya sedetik, dan dia segera memberontak kecil untuk melepaskan diri dari Sehun.

Sehun berusaha menahan Luhan. "Biarkan sebentar saja," bisiknya pelan. Luhan membeku lagi. Akhirnya, dia diam saja di pelukan Sehun.

Hening yang tersisa. Sehun sibuk menghirup aroma tubuh Luhan. Ia menenggelamkan wajahnya pada rambut Luhan yang terasa lembut menyentuh kulit wajahnya. Sehun memejamkan mata, menikmati setiap detik yang terlewat.

"Lepaskan," namun sepertinya, Luhan tidak menikmati itu.

Tidak. Luhan sebenarnya menikmati. Hanya saja, tiap Sehun memeluknya, Luhan selalu merasa dadanya diremas-remas. Luhan masih merasa sakit hati saat Sehun memeluknya.

Sehun menggeleng pelan. "Beri aku waktu."

"Aku harus memasak untuk anak-anak yang lain." Luhan berusaha mencari alasan. Tangannya naik dan mendorong dada Sehun namun Sehun mempererat pelukan. Luhan memejamkan mata erat. "Lepaskan aku,"

"Beri aku waktu,"

"Kalau kau terus begini, anak-anak akan te—"

"Beri aku waktu untuk memperbaiki semuanya…"

Luhan tercekat seketika.

"Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin terus bersamamu." Lalu Sehun mengendurkan pelukan, memberi kesempatan bagi kedua mata mereka untuk saling menatap.

Di saat itulah Luhan merasa tenggelam. Sehun menenggelamkannya dengan mudah. Ia melunak seketika.

"Aku sudah memikirkannya selama dua bulan terakhir ini. Aku salah kalau aku terus bersembunyi darimu. Aku salah, aku sadar itu. Aku punya banyak salah padamu dan aku ingin memperbaikinya selama masih ada kesempatan. Jadi tolong, beri aku kesempatan itu…"

Luhan lantas mendorong dada Sehun supaya mereka memiliki jarak. Mendadak Luhan kesulitan bernapas karena situasi mereka berdua.

"Apa yang membuatmu berpikir bahwa kita bisa diperbaiki?"

Sehun menyisipkan helaian rambut Luhan menuju belakang telinganya. "Karena Haowen dan Yujie masih terlalu kecil. Aku masih ingin membesarkan mereka."

"Kita bisa membesarkan mereka meskipun kita berpisah."

"Luhan…"

"Aku tidak berpikir memperbaiki semuanya akan baik untuk kita berdua."

"Aku mencintaimu." Ungkapan itu membuat Luhan terdiam. "Aku mencintaimu. Sangat-sangat-sangat mencintaimu. Memangnya kau tidak mencintaiku?"

Aku cinta… iya, aku mencintaimu, bodoh!

Luhan lantas membuang wajah untuk menyembunyikan mata berairnya dari Sehun. Namun gagal. Sehun menangkup wajahnya dan membawa tatapan mata mereka beradu kembali.

"Tolong… Demi Haowen dan Yujie… Demi kita berdua…" bisik Sehun memohon. Luhan menatapnya, dan ia tidak mampu lagi. Luhan menangis ketika Sehun tiba-tiba memeluk pinggangnya, dan memberinya lumatan lembut di bibir.

Sehun menciumnya, memberi pesan bahwa dia berharap bisa mengembalikan semuanya. Dia berharap nebula emisi yang terjadi di semestanya berkumpul menjadi satu, hingga akhirnya terbentuk bintang baru di angkasa. Sehun berharap begitu. Jadi selama dia memberi ciuman itu, ia berusaha menyampaikannya dengan melumat bibir istri yang dirindukannya itu dengan penuh kasih sayang, yang kemudian membuat Luhan membalasnya dengan penuh rindu. Luhan bahkan memeluk lehernya, menangis, dan merengek menyebut namanya di sela ciuman mereka.

Luhan memberinya kesempatan. Dan, Sehun bahagia. Dia tersenyum dalam ciuman, memeluk erat pinggang Luhan, dan memberi yang terbaik dari yang terbaik untuk keluarga kecilnya.

Sehun akan berusaha keras. Demi Luhan, demi keluarga kecilnya, demi hidupnya yang bahagia.


...

to be continue…

Fyuh! Akhirnya! 8k words! Selesai untuk chapter ini.

Kenapa banyak banget? Karena aku memang tipe-tipe penulis yang harus kupas satu-satu dulu biar enakan hehehehe.

Untuk chapter depan, aku ngga janji bakal update cepet karena aku ngetik di hape. Laptopku lagi bermasalah, gengs. Jadi doakan supaya laptopku cepet sembuh dan aku bisa ngetik dengan normal. Soalnya ngetik di hape itu… agak susah. Dan jujur, itu tantangan berat :')

Btw, chapter depan itu udah tamat! YAYYY!

Oh iya, karena laptopku lagi sakit, maka Run to You nya kusimpen dulu ya. Aku juga lagi stuck nulis cerita itu.

Sebenernya. Ada banyak hal yang pengen kukasih tahu di notes chapter ini. Cuma nggatau kenapa susah gitu ngomongnya :')

Sorry for typo(s) ya… maklum, aku nulisnya di hape hehehe. Jangan lupa tinggalkan jejak :)

Udahan ah. Bhay! See you really soon!


.

Question for chapter 6

Apakah baik untuk memperbaiki suatu hubungan (dalam kasus HunHan) dan pada akhirnya, semua tidak sama lagi? Kalau begitu, kalian mau mempertahankan, atau melepaskan? Kasih alasan ya :)


nb. untuk chapter ini aku sempet repost karena ternyata ada banyak scene yang nggaada pembatasnya. mohon maklumi jika di awal kalian baca tiba-tiba ngilang gitu aja. soalnya sempet kuhapus juga hehehe. maaf ya :)))