Anisha Asakura is back again ^^~ Oke, waktunya meneruskan HMDP~~! Kira-kira si peri itu siapa ya???

Chapter 7: Murumo's Appear

"Apa kabar kak Mirumo!!" sapa peri biru dari mug misterius.

Mirumo, Rirumu, dan Ann kaget.

"MURUMO!?!?" Mirumo langsung kaget.

"Wah! Apa kabar, Muru..." perkataan Rirumu dan Anna terputus dengan teriakan Mirumo.

"SANA PULANG!!!" teriak Mirumo membentak Murumo.

Murumo terdiam sambil menatap Anna dan Rirumu. "Huweee, kakak jahat sama akuuu!!" isak Murumo.

"Waduh! Murumo, jangan nangis! Mirumo ini! Masa adikmu baru datang dibentak-bentak!" komentar Anna.

"Habis..."

"Cep, cep, Murumo. Rirumu disini kok..." Rirumu menghibur Murumo. Murumo mulai tersenyum imut, menghapus air mata yang ternyata air mata buaya itu.

"Rirumu... Ai, ai, ya yaaaa~~~" Murumo mulai bergoyang-goyang layaknya bayi, dan membuat dirinya seakan-akan imut sekali. Dan benar... Rirumu dan Anna terpana melihat tingkah Murumo yang super imut. "Buuu~~~!!!"

"Kyaaaaa! Imutnyaaaaa!!!!!" teriak Rirumu dan Anna gemas mencubit pipi Murumo yang kenyal-kenyal kayak agar-agar.

"Heh, Rirumu!! Anna! Dia memang lucu, tapi sering bikin aku susah! Jangan tertipu dengannya!!" bentak Mirumo.

Anna dan Rirumu memandang sinis.

"Aih, adikmu selucu ini kok dituduh seenaknya! Pasti Mirumo cuma cemburu yaaa~~~" ledek Anna.

"Enggak kok!! Aku..." Mirumo melengos, tak bisa memberi bukti kalau Murumo cuma MPO aja.

"Kakaaak~~~" Murumo melenggok imut, berusaha untuk memamerkan keimutannya didepan Rirumu dan Anna.

"Apa..." Mirumo menjawab pelan seraya menunggu Murumo berjalan super lelet mendekatinya demi menampakkan keimutannya.

Murumo melotot didepan Mirumo dengan semburat mata setan. "Jangan ngomong sembarangan, kakak... Awas aja kalau kakak menghacurkan imageku yang imut!"

Mirumo melirik Anna dan Rirumu. Pasti mereka enggak dengar perkataan Murumo yang kejam itu.

Murumo ketawa setan. "Semua manusia dan peri yang melihatku pasti menganggap aku ini imut!"

"Kamu masih belum berubah juga..." keluh Mirumo. "Lagian ngapain kamu datang ke sini tiba-tiba?"

"Rahasia dong!" jawab Murumo simpel. "Rirumu-chaaan~~~"

"Hei, Murumo-chan..." Rirumu menepuk kepala Murumo pelan. "Sudah lama kita engak ketemu ya..."

"Rirumu-chan kok kayaknya lesu sih...?" tanya Murumo.

"Ah! Enggak kok... Ha ha ha..." resah Rirumu.

"Oi, Rirumu, kamu masih mikir soal Gray ya?" tanya Mirumo.

"I... Iya... Habisnya... Aku ngerti kalau Claire itu betul-betul suka sama Tuan Gray... Meski sekarang Claire jadi kasar sama kita, pasti dia masih suka sama Tuan Gray..." isak Rirumu panjang lebar. Anna dan Mirumo menghela napas.

"Ada apaan sih?" tanya Murumo.

"Udah, ah, ini bukan urusan anak kecil!" balas Mirumo sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

Rirumu masih terisak. "Begini, Murumo... Sebenarnya..."

"OI, RIRUMUUU!!!" Mirumo kesel, karena seharusnya urusan ini bukan urusan Murumo.

Setelah dijelaskan panjang lebar, Murumo memeriksa keadaan Claire.

"Hem... Hem..." gumam Murumo.

Mirumo menatap malas. "Gimana, kamu bisa nyembuhin Claire nih?" tanyanya tak sabaran.

"Aku bisa kok nyembuhin Claire-chan!" jawab Murumo santai.

Mirumo, Anna dan Rirumu kaget.

"APAAAAAAAAAAAAA?!!!!!" teriakan Mirumo membuat rumah Claire bergempa 0,1 skala richter. "KOK KAMU BISA TAU APA YANG ENGGAK AKU TAU SIH?!!!"

"Kan belajar di sekolah!" jelas Murumo membuat Mirumo ber-ghabruks ria.

"Enggak mungkin! Kita kan belajar di sekolah yang sama! Iya kan Rirumu?!" teriak Mirumo enggak percaya.

"Iya juga!" jawab Rirumu bingung.

"Memang benar! Kan kurikulum murid kelas satu diubah!" Murumo memperlihatkan buku sihir dari sekolahnya, membuat Mirumo dan Rirumu ghabruks lagi.

"Mana, sini pinjam!!" Mirumo merebut buku yang dipegang Murumo. "Apaan nih?... 'Bulan Januari tahun ini, telah ditemukan bagaimana cara menyembuhkan orang yang mendadak kasar pada seseorang karena sihir terlarang...'... Walah, dia serius!!" Mirumo sweatdropped.

"Untuk ini, biar aku yang beraksi!" Murumo memunculkan drum sihirnya. "Muru... Muru... Murumo de Pon!"

Badan Claire bersinar, dan keluar semacam tanah liat berwarna hitam kelam berbentuk hati. Murumo menangkapnya. "Inilah hati Claire-chan! Warnanya hitam karena disihir pakai sihir terlarang, makanya Claire-chan jadi jahat!"

"Te... Terus, bagaimana cara membersihkannya?" tanya Rirumu.

Murumo meletakkan tanah liat hitam berbentuk hati itu ke meja. "Ini ditipiskan dulu..." Murumo lalu meratakan tanah liat hati itu menjadi tipis sekali. Dia lalu mengambil benda semacam penghapus. Digosok-gosokkannya penghapus itu ke hati hitam yang gepeng itu hingga putih."Lalu hati yang berwarna hitam ini dibersihkan menggunakan 'Penghapus Hati Jahat'! Bagian depan dan belakang harus putih!"

Beberapa menit kemudian, Murumo sudah membentuk tanah liat itu menjadi berbentuk hati lagi. "Nah, selesai! Tinggal satu cara lagi..."

"Bagaimana lagi, Murumo?" tanya Rirumu.

"Panggil majikanmu!"

--- Saibara's Blacksmith ---

Rirumu terbang menggunakan kipas menuju toko tempat Gray bekerja. "Tuan Gray, Tuan Gray!"

Gray menoleh. "Oh, Rirumu. Ada apa?"

"Aku butuh bantuanmu. Claire-chan sudah bisa disembuhkan, dan tinggal satu cara lagi! Kau harus ada di samping Claire-chan, Tuan!" jelas Rirumu.

"GRAY!" bentak Saibara. "JANGAN NGOMONG SENDIRIAN!! KAMU MAU KERASUKAN SETAN HAH?!"

Gray segera ngibrit ke pertanian Claire.

--- Back to Claire's Farm ---

BRAAAK! Gray dan Rirumu masuk lagi ke rumah Claire.

"Aku kembali!" sapa Rirumu.

"Sudah bisa sembuh Claire?!" tanya Gray.

"Betul sekali!!!" jawab Murumo.

Gray kaget.

"A... Ada peri lagi...? Dia kecil banget..." Gray kaget ngeliat ukuran Murumo yang hanya seukuran lima senti.

"Selamat datang Gray, Rirumu! Nanti aja kenalan sama Murumo-nya! Sekarang, kita lakukan sihir terakhir!" Murumo menarik tangan Gray.

"Sekarang gimana keadaan Claire? Apa dia bisa tertolong...?" tanya Gray.

"Bisa. Gray, lakukan perintahku. Pegang tangannya Claire-chan." Murumo menunjuk ke arah kedua tangan Claire yang sudah memegang semacam tanah liat bentuk hati yang putih bersih. Gray memegang tangan Claire yang masih terlelap.

"Oke. Langkah terakhir. Muru, muru, Murumo de Pon!"

SRIIIIIIIIINGGG!

Tanah liat berbentuk hati putih itu bersinar. Perlahan tanah liat itu menghilang. Claire perlahan membuka matanya.

"Eeng..." Claire membuka kedua matanya. Dilihat Gray didepannya. "Waaa?!!! Kenapa aku megangin tangan Gray?!!!"

Rirumu dan Mirumo tersenyum gembira. Sihirnya sukses!

"Eee... Eeekh.. Ada apa yang terjadi...?" Claire gelagapan panik. Oh ya! Aku ingat. Tadi aku ngebenturin Gray ke dinding... Waduh... Aku juga sempat mukul Mirumo dan Rirumu... "Ya ampun... Aku baru nyadar... Gray! Aku suka sama kamu! Meski aku sempat kasar padamu, aku tetap suka sama kamu!!!" teriak Claire nyerocos.

"I.. Iya, aku tau..." muka Gray memerah.

Claire mulai menangis. "Syu... Syukurlah... Aku bisa tertolong... Aduh! Maaf, aku sampai nangis... Maaf kalau aku sudah membuat Gray menderita... Tapi aku senang akhirnya aku bsia ingat lagi..." isaknya pelan.

Gray tersenyum. "Enggak apa-apa kok. Syukurlah...."

Claire terharu mendengar perkataan Gray, maka bertambahlah isakan Claire. Tangisan bahagia.

Setelah Gray pulang, Anna juga pulang. Malam sudah tiba juga.

"Fuuuh, capek! Pingin tidur nih..." Mirumo langsung menuju tempat tidur mungil buatan Claire. "HEGH?!!"

Mirumo kaget karena Murumo tidur di tempat tidurnya.

"Heh! Murumo! Itu tempat tidurku!!! Pergi sana!" teriak Mirumo kesal.

"Enggak mau! Mulai sekarang, aku memutuskan untuk tinggal di rumah ini!" balas Murumo. "Cuma boleh ada satu peri yang tinggal di satu rumah manusia... Jadi kakak harus pergi dari rumah ini!"

"Apa..." Mirumo kaget. Dasar anak enggak tahu aturan!

--+--

Selesai juga chapter ini... ^^ Murumo akhirnya datang juga ^^ Meski Murumo imut, tapi inner-feelings nya bandel amat juga ya... Maklum, anak kecil~! RnR yaa~