Ah halo pembaca sekalian yang saya hormati~ *salah* maaf banget udah lama ga update :D

Kemarin ane sakit seminggu, trus udah mepet ketemunya kalo nggak TO ya UH…sekali lagi maafkan ane~ ^^;

YAK! INI SEKALIAN PERAYAAN ANE KELUAR DARI TO DIKNAS KABUPATEN BEKASI! /lebay /plakkk

Sedikit spoiler deh, ini chapter akhir di Phase 2, di Phase 3 bakalan ketemu chara baru dan yah…mengungkap lebih dalam mengenai heroine kita Muku-tan *author di-Reveris Mukuro* mengingat kayaknya akhir Phase 2 ini jadi bagiannya XS *dirajam*

Maaf kalo bagiannya 100,69, 27 dan 00-nya (di)sedikit(kan) *bows* *plak*

Fandom/ Disclaimer : credited to GUST-BANPRESTO, Akira Amano. KHR - Ar Tonelico. Dua hal yang bukan punya saya /plak

Warning : OOC-ness, Alternate Timeline dan (pasti) AU… cerita juga (sangat) aneh, kalau gak suka tinggalkan saja!~


.

.

.

"Hei, Pioggia,"

"Hn? Ada apa, Bel?"

"Aku punya hymn bagus!"

"Hmph, kau takkan bisa mengalahkan suara merduku,"

"Tch!"

"…Pokoknya, kau tahu…partitur yang ada di meja Xanxus?"


[Phase 2-5. Last Wish of The Bloody Prince]


Rasiel tetap dengan senyum kesayangannya walau ditengah puncak persitegangannya dengan kedua orang itu—Xanxus dan memamerkan koleksi pisau dan kawatnya kehadapan researcher garang dan admin Sol Infel itu tanpa ragu.

"Hmph, kalian memang punya Replekia," Rasiel mengernyitkan dahinya. "Tetapi kalau aku yang menang kali ini, semuanya akan berakhir,"

"Omong kosong, sampah!" seru Xanxus, yang sudah mengeluarkan pistol kesayangannya. "Sampah sepertimu takkan pernah melampauiku!"

"Oh ya…?" Cowok berponi klimis itu terkikik. "Researcher pensiunan sepertimu sudah bukan apa-apa dimataku…Xanxus,"

DOR

Satu peluru kemarahan mulai keluar dari moncong pistol itu, lawannya dapat menghindar dengan mudah tanpa lecet sedikitpun, membuat kemarahan sang researcher semakin meruncing. Anehnya, reyvateil yang biasanya berkomentar agresif kini berlaku pasif—ia hanya melihat kedua vanguard di hadapannya itu beradu komentar.

"Hei, admin sampah," Xanxus membuyarkan lamunan Squalo. "Ada apa? Ayo bantu aku,"

"…"

"Ada sesuatu yang mengganggumu? Apa itu tentang Bel?"

"…Voi, kurasa kau takkan mengerti,"

"Hmph, terserahlah." Xanxus mendengus. "Selesaikan saja urusanmu dengan sampah itu, aku akan melindungimu,"

"Terima kasih, Xanxus." Kata-kata yang paling jarang terdengar terlontar dari bibir sang admin.


Di sisi lain Altar of Infel, Mukuro, Byakuran, Chrome, Lal Mirch, Tsuna dan juga Enma menghadapi sekian banyak anggota Rebel Knight—divisi Rasiel, Secondary Storm—yang memburu dari tiap penjuru. Memang tidak terlalu banyak, tetapi keadaan ini cukup merepotkan mengingat Tsuna harus mati-matian melindungi Enma dan Lal yang menyanyikan serta menyinkronkan Replekia tanpa jeda dengan bantuan sedikit I.P.D yang masih bertahan di pos Slums serta Byakuran sebagai vanguard juga melindungi sisa dua Reyvateil. Mereka menyusun taktik untuk me-release sebuah hymn dengan bantuan Replekia.

"Grh—" Tsuna yang sedari tadi menahan beberapa lance dari knight mulai kelelahan. "B-Byakuran-san, apa kau bisa membantuku…?"

"Dengan senang hati, Tsuna-chan~" Byakuran mengedipkan mata. "Mukuro-kun, Chrome-chan, fokuskan syncro-magic kalian,"

Byakuran melompat ke depan Tsuna dan mengeluarkan tebasan elemen angin yang cukup kuat, menghempas beberapa knight yang tanpa menyerah masih berdiri untuk menyerang. Pemimpin dari divisi Rain Sky itupun terpaksa melakukan sesuatu…

SRAK!

"W-Wow, lihat itu Mukuro-san! Byakuran-san mempunyai sayap!"

"…Biarkan saja, kita harus fokus," Mukuro membuang muka.

Yup, Byakuran adalah seorang knight yang 'spesial', sesuai nama dan juga divisinya. Ia mempunyai sepasang sayap putih yang terbalut dosa, serta sorot mata jernih nan karismatik yang bisa dibilang jarang sekali diperlihatkan. Melihatnya melayang beberapa meter di udara membuat semua hadirin gentar—mereka tahu siapa yang mereka hadapi, dan Tsuna terlihat melongo melihat sayap putih itu.

"Sayap putih itu…!"

"Berarti…dia…knight tangan kanan Giotto-sama?"

"Tidak mungkin…Byakuran-san dari divisi Rain Sky melawan kita semua?"

…Begitulah suara-suara yang dapat terdengar. Ketua divisi itu tersenyum penuh kemenangan, ia menyongsong langit diatasnya, dan menatap ke arah tanah, seraya menurunkan hujan cahaya dari langit.

"Roar of the Almighty Sky, Replekia Compilation."

Cahaya yang turun dari langit terasa semakin menyilaukan mata, tak terasa di sela-sela cahaya lembut itu terdapat peluru-peluru pistol, membuat darah tercecer dimana-mana dengan indahnya.

Tsuna, sementara itu—yang terbawa oleh suasana Byakuran—mementahkan beberapa knight yang mengganggu konsentrasi hymmnos kedua reyvateil yang ditinggalkan Byakuran yang asyik 'menghukum' beberapa knight di cangkang cahayanya. Emperor Rebel Knight itu mulai menghajar para Knight satu persatu dengan kedua kepalan tangannya.

"Forest of Mist, Synchronity Chain…!"


Xanxus dan Rasiel masih bersikukuh di lain tempat. Entah berapa buah peluru yang sudah dilontarkannya ke pemimpin dari Secondary Storm division itu, dan entah sekian tebasan kawat yang ia lancarkan kearah researcher tangguh tersebut. Sementara, Squalo tidak terlihat dimanapun.

"HYAAAAAH!"

CRASH, salah satu dari kawat itu menggores pipi Xanxus.

DOR, tembakan itu menembus beberapa helai rambut Rasiel.

Setelah beberapa kali mengincar kesempatan kecil, Rasiel berhasil melucuti kedua pistol yang dipegang Xanxus dan membuat salah satu telapak tangannya berdarah.

"Grh!" Xanxus pun mundur ke sisi berlawanan.

"BLOODY KNIFE STAB!"

Ia meluncurkan beberapa pisau dari balik jubahnya kearah Xanxus, dan Xanxus terpaksa harus menahan semua pisau yang ditunjukkan padanya dengan satu tangan sementara ia mengerang kesakitan.

"GAHH—HEI, SAMPAH, SEKARANG!"

SPLASH

Squalo tidak terlihat dimanapun, tetapi ada semburan air mendadak menghalangi penglihatan Rasiel. Dari kakinya pun muncul serangan air yang sama, menguncinya dengan air rapat-rapat. Kini akhirnya terlihat siluet Squalo tengah berjalan ke arah penjara yang ia buat untuk mengurung Rasiel.

"Kau tidak apa-apa, voi?" admin itu menoleh pada vanguardnya yang darahnya tak berhenti menetes.

"Luka ini bukan apa-apa, sampah."

"Oh ya…Rasiel," manik biru sang admin kembali tertuju pada orang yang mendekam di penjara buatannya itu. "Bisakah kau mendengar sedikit ceritaku? Aku kesini bukan untuk bertarung denganmu,"

"Hmph,"

PYASH!

Penjara air itu dimentahkan Rasiel dengan sulut api yang bersumber dari pisaunya. Tapi, Squalo tidak bergeming dari posisinya.

"Karena aku ada disini untuk membunuhmu," ucap Rasiel. "Yang telah merenggut nyawa adikku,"

"Bisa tolong dengarkan aku dulu?" dengan nada suara Squalo yang agak sedikit jengkel.

"Aku tak perlu penjelasan,"

"VOI, KAU TAK TAHU APA-APA!"

"DIAAAAM!"

SLASH!

Memang seharusnya Squalo yang terkena gertakan tersebut, tetapi sayatan pisau tajam itu mengenai pipi Xanxus.

"VOI, XANXUS! SUDAH KUBILANG INI URUSANKU—"

"Kalau kau apa-apa, siapa penggantimu, sampah!" sontak Squalo terhenyak. "Aku mengerti kau harus selesaikan ini tapi…"

GREB

Xanxus mengangkat kerah jubah Rasiel dengan tangannya yang berlumuran darah.

"…Apa sampah ini mau mendengarkanmu?"

"…"

"Turunkan aku, Xanx—"

"…Kau takkan bisa menyuruhku, sampah." Xanxus mengeluarkan death glare-nya.

"Fou ki ra hyear presia reen
(Hey you, listen to me)

Was zweie ra na stel yorra zuieg manaf
(I plead with you to give my life meaning)

Ma zweie ra irs manaf chyet oz omnis
(For I want to continue my life until the very end)"

Ajaibnya, kedua orang tersebut berhenti beragrumentasi setelah mendengar hymn yang keluar dari mulut sang admin. Terutama Rasiel—yang kini menatap Squalo dengan tatapan tak percaya.

"Cosmoflips…" ucapnya dengan suara rendah. "Sejak kapan kau tahu hymn itu?"

"Bel memberitahunya padaku sesaat sebelum ia mati," Squalo menghela napas. "Makanya voi, tolong dengarkan aku, akan kujelaskan semuanya."

Xanxus tetap menahan kerah jubah Siel, tidak membolehkannya bergerak sesuka hati.


Flashback, beberapa tahun silam

Xanxus' Manor, Pastalia.

Terdapat dua orang dikamar itu—padahal kamar itu lumayan luas dan bisa saja ditempati 4 orang. Di sana hanya ada perlengkapan seadanya, dua buah ranjang, buffet, sofa dan LCD TV yang terlihat mahal. Walaupun semua peralatan itu terlihat rapi, tidak untuk lantai kamar tersebut.

Pisau, kabel, kawat, besi, banyak hal berserakan disana.

"BEL! HENTIKAN MELEMPARIKU DENGAN SEMUA HAL YANG ADA DI LACI!" suara indah salah satu penghuni rumah terdengar.

"Shishishi, padahal kau menikmatinya kan, Mamma Squalo?"

"V-VOI! SEJAK KAPAN AKU MAMAMU!"

"Tentu sejak kau datang kesini bersama Xanxus, shishishi~"

Squalo pun ikut melempar vas bunga yang terlihat mahal ke arah wajah lawannya itu—yep, Belphegor adalah namanya. Mereka berdua adalah Male Reyvateil, dengan perbedaan yang cukup jauh, entah dari status dan juga tingkat kekuatan. Bel adalah seorang reyvateil yang umum, ia ada di tempat research milik Xanxus sejak bertahun-tahun sebelumnya, sementara Squalo—hanya seperti anak kemarin sore yang dilakukan spesial karena potensi yang ia miliki.

Sebagai seorang Reyvateil Origin.

Tapi, tidak ada tembok bernama 'perbedaan status' di manor milik sang researcher yang disebut-sebut itu—yang memberi Squalo sedikit kenyamanan. Dan yah, Belphegor sebagai satu-satunya Reyvateil yang ada di tempat itu juga hadir sebagai 'teman' pertamanya.

Atau lebih bisa disebut rival.

"Psst, Mamma. Sebaiknya kita hentikan ini," Bel meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya. "Lagipula, aku ingin menceritakan tentang diriku,"

"Hmm, kenapa…voi?"

"Yaaah, Xanxus sudah banyak cerita tentang dirimu jadi…sekarang waktu yang tepat untuk membagi cerita," Bel tersenyum. "Dan…kurasa kalau kita lanjutkan permainan ini, Lussuria atau Levi pasti akan kemari, melaporkan kekacauan dan kita akan dihukum lagi dengan Dive Machine, shishishi."

"…Baiklah," kata 'Dive Machine' itu membuatnya mendelik, mengingat ia Divophobia akut.

Squalo pun duduk di sofa besar dibelakangnya seraya menaikkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya, sementara Bel merasa lebih nyaman duduk di kursi kayu.

"Jadi, kau mau cerita apa tentang dirimu, Bel?"

"Kau pernah dengar kata-kata Reveris, Mamma?"

"VOI, SUDAH BERULANG KALI AKU BILANG HENTIKAN MEMANGGILKU—" kali ini Squalo membiarkannya. "Reveris…maksudmu mimpi buruk?"

"Itu arti harafiahnya." Bel mengacak-acak rambutnya sendiri. "Reveris adalah nama sebuah hymn dengan efek berbahaya bagi para Reyvateil, tetapi seorang researcher yang terinspirasi dari nama tersebut membuat sebuah virus dengan efek yang kurang lebih sama; yaitu membunuh Reyvateil perlahan-lahan akibat dikendalikan oleh virus tersebut."

"Uh…hm? Rasanya aku juga pernah dengar Xanxus cerita hal itu…" Squalo berpikir. "Lalu?"

"Lima belas tahun lalu, di sebuah tempat bernama Firefly Alley hidup sebuah keluarga kecil," Bel menghela napas. "Ibu itu seorang Reyvateil single-parent yang memiliki dua anak kembar,"

Squalo tampak menyadari sesuatu dari narasi tersebut, sampai ia berkeringat dingin. "V-Voi, jangan bilang…"

Bel hanya menampilkan senyum khasnya.

"Hari itu, disana terjadi Reveris Outbreak. Semua sisi kota terbakar, para reyvateil yang terjangkit virus mengamuk sejadi-jadinya menambah kerusakan kota…"

Bel sedikit berdehem sebelum melanjutkan.

"Ibu mereka berdua terjangkit virus tersebut, hendak membunuh kedua anaknya. Sayangnya, ibu itu meninggal akibat tebasan seorang Knight sebelum mencabik habis anak kembar tersebut." Bel terdiam sejenak. "Anaknya yang merupakan Reyvateil terpisah dari kakaknya akibat sang Reyvateil dibawa ke laboratorium untuk diperiksa ini dan itu…"

Squalo menelan ludah.

"…Dan dugaan mereka benar, reyvateil kecil itu positif terkena Reveris disease."

Hening pun terjadi diantara mereka. Senyum Bel sedikit memudar, sementara Squalo kehilangan kata-katanya.

"Hei, Pioggia," suara Bel memecah keheningan mereka, dan jarang sekali Bel memanggil Squalo dengan nama aslinya itu.

"Hn…? Ada apa, Bel?" Squalo masih enggan membuat kata-kata.

"…Aku punya hymn bagus!"

"Hmph, kau takkan bisa mengalahkan suara merduku,"

Bel merasa agak terhina. "Pokoknya! Kau tahu…partitur yang ada di meja Xanxus?"

Squalo terdiam. "Oh…hymn apa itu? Memangnya kau tahu hymn sulit seperti itu?"

"Baik! Akan kunyanyikanhymn itu untukmu!"

Fou ki ra hyear presia reen (Hey you, listen to me)
Was zweie ra na stel yorra zuieg manaf (I plead with you to give my life meaning)
Ma zweie ra irs manaf chyet oz omnis (For I want to continue my life until the very end)

en na cyurio re chyet (I'll plead to be the logical choice)
Was touwaka gaya presia accrroad ieeya (So that it never happens again, please give me hope)
Nn num gagis knawa na lequera walasye (I'm hesitant to try and understand if the person before me is a doer of good)
Was quel gagis presia accrroad ieeya whou wearequewie fogabe (I'm desperate, so please give me hope by praying for forgiveness)

Squalo merasa seperti dikalahkan dan terpukau pada saat bersamaan.

"Shishishi, bagaimana? Itu baru potongan awalnya," Bel terkekeh. "Itu sebenarnya hymn milik ibuku yang biasa ia nyanyikan ketika ia sedang mencuci. Kakakku sangat senang dengan hymn itu, jadi aku mengaransemen ulang hymn itu dengan bantuan Xanxus."

"Voi, tetap saja suaramu itu sumbang."

"Kau mau kuhajar lagi ya dengan pot itu?" Bel menunjuk pot dibelakang sofa. "Aku ingin bisa bertemu kakakku lagi, tapi aku sudah tidak tahu ia dimana,"

"Voi, sudah 15 tahun berlalu…" Squalo merasa iba.

"Mamma Pioggia, bagaimana kalau kau kutitipi hymn ini dan sampaikan ke kakakku?"

"Eh?" permintaan yang aneh.

"…Karena kuyakin hidupku takkan sepanjang Origin sepertimu," Bel menatap manik biru itu dengan tatapan tegas yang tersembunyi di balik poni pirang itu. "Kau bisa kan, Pioggia?"


Squalo berhenti bercerita. Rasiel ternganga—bahkan Xanxus juga tidak jauh dari keadaan itu.

"Dan yah…, ia meninggal akibat Reveris atas keinginannya…" Squalo terdiam.

"Bel…" Xanxus menurunkan tangannya dari jubah Rasiel. "Dasar…Reyvateil sampah…"

"Cuma itu yang ia katakan…? Cuma itu?" Rasiel tergagap. "Adik yang bodoh,"

Rasiel memungut salah satu dari kedua pistol Xanxus dengan kawatnya dan mengarahkan moncong pistol itu ke dahinya sendiri.

"VOI, HENTIKAN! SIEL, APA YANG KAU—"

"…Aku akan mengejar Bel, tentu saja."

Squalo hendak menghalaunya dengan salah satu red song magic-nya, sayangnya ia sudah menarik pelatuk X-Gun tersebut dan mengeluarkan peluru.

DORR

…Alhasil hanya darah segar terciprat ke wajahnya, moncong pistol tersebut sudah dipegang oleh tangan Xanxus. Tangan besar itu menahan satu peluru yang seharusnya menghabisi hidup Rasiel.

"…Xanxus…!"

"KAU LEBIH BAIK HIDUP UNTUKNYA, SAMPAH!" bentaknya. "SOK KEREN SEGALA PAKAI ACARA MAU BUNUH DIRI SEGALA, PELURU PISTOLKU MAHAL, TAHU!"

Entah kenapa, Squalo disana malah sweatdrop.

"KAU AKAN DIGANJAR HUKUMAN BERAT, SAMPAH! KAU TELAH MELAKUKAN PENCULIKAN TERHADAP TOWER ADMIN!"

"Ya, ya…" Rasiel mendengus. "Setidaknya bisa tahu kebenarannya sudah cukup, aku tidak peduli mau dipenjara atau dimana, tugasku sudah selesai."


"Tampaknya…semua sudah…selesai, Byakuran-san," ucap Tsuna yang terengah-engah.

Knight yang tadi jumlahnya abnormal sudah lenyap, ada sebagian yang kabur dan ada yang tergeletak entah karena tidak sadarkan diri atau sudah di khayangan. Byakuran mengelap keringat yang menetes di pelupuk matanya seraya menancapkan pedang yang ia pakai bertarung dan duduk di padang tersebut dengan wajah menghadap langit yang terang.

"E-Enma-kun, kau tidak apa-apa?" Tsuna menghampiri Enma yang merebahkan diri di tengah padang rerumputan itu.

"A-Aku tidak apa-apa, Tsuna…yang harus kau khawatirkan itu I.P.D lain, bukan aku," katanya. "Tolong…serahkan Implanter padaku…"

"Ini…" Chrome mengambil sebuah crystal yang dipegang Lal (yang sedang istirahat di bawah pohon).

"Install-kan crystal itu padaku, Tsuna…"

"O-oke…" Tsuna menelan ludah. "Kau…tidak apa-apa melantunkan hymn lagi…?"

"Demi I.P.D, aku takkan apa-apa…" Enma tersenyum. "Jangan khawatirkan aku terlalu banyak, Tsuna,"

"Kau butuh bantuan untuk berdiri?" Mukuro dengan tidak biasanya mengulurkan tangan. "Maafkan perlakuanku tadi,"

"Terima kasih…umm…Mukuro-san," ucap Tsuna.

"Dengan hymn ini, keadaan Infel Phira bisa distabilkan…"

Tsuna menopang Enma seraya ia menyanyikan sebuah hymn yang menembus padang rumput itu…


花を散じ 朱に染めた指で
Hana wo sanji shu ni someta yubi de
(My finger being dyed in the scarlet color of scattered petals)

額を飾る 棘を編んで
Hitai wo kazaru toge wo ande
(My forehead being adorned with knitted thorns)

私はいま 贖罪のしるし
Watashi wa ima shokuzai no shirushi
(I am now the symbol of compensation)

茨の蔓の冠 戴く
Ibara no tsuru no kauburi itadaku
(Receiving a crown made of thorny tendrils)

"Hmm…" figur seseorang yang tersembunyi kursi besar yang menghadap kaca jendela tampak terpukau. "Jadi Siel berhasil…ya? Hymn ini…Implanter, bukan?"

Sosok disebelahnya menjawab. "I-Iya, tuan. Rasiel-san sudah berhasil…menjadi pion pengulur waktu,"

"Jangan memanggilku tuan, aku sudah bilang itu kan?" dengusnya. "Kita kan sudah lama berteman…ah, bukan berteman juga sih…"

"Sudahlah, biarkan aku memanggilmu 'tuan'…"

CKLEK

"V-Vostra Altezza!" seorang pemuda menyerobot masuk ruangan. "A-Apa benar Rasiel-san gagal?"

"Tidak, ia berhasil kok. Giliranmu sekarang," figur itu nyengir lebar.

"B-Baik Vostra Altezza! Aku akan mencoba sebaik mungkin!"

Dan pemuda itu berlalu cepat sama seperti saat ia memasuki ruangan.

"Soal Nebbia tuan…" orang sebelahnya agak mengernyit. "Apa tidak masalah membiarkannya? Ingatannya bisa saja kembali—"

"Biarkan saja dia, aku ingin melihat apa yang akan terjadi," sang figur terkekeh. "NEBBIA_ANSUL_NAM…hmm…?"


TBC.


:: Next Chapter ::

Phase 3-1 . Divided Skies

Yak, chapter yang aneh, ane nyeritain masa lalu ga pentingnya Pioggia *plak*

Maaf kalo kadar action dikit, ane ga jago ngebuat action, masih tahap pembelajaran (?) dan pembendaharaan kata bahasa Indonesia ane gak terlalu jago…mwahahaha.

See you next chapter, minna-san~!