WELCOME BABY

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoonhoon

Jimin-Yoongi-Jihoon

...Welcome Baby...

[8] I KNOW U, U KNOW ME

Jimin dapat jatah libur dadakan hari ini. Entah dia yang sengaja mengambil cuti, entah memang malas. Kemarin malam, dia bilang 'sih diberi libur karena beberapa hari sebelumnya sudah berjasa menyelesaikan masalah di lapangan. Tapi Yoongi juga tidak terlalu peduli alasannya. Mau dia bohong 'kek, mau jujur 'kek, tak masalah. Yang rugi dia sendiri kalau memang libur itu didapatnya dengan cara yang tidak halal.

Yang penting, Yoongi bisa menikmati momen 'bangun tidur dan memandangi Jimin' lebih lama. Etah mengapa sejak semalam Yoongi hanya ingin memandangi suaminya yang malah tidur pulas setelah makan ramen itu. Bahkan sekarang, Jimin masih saja asyik bergelung dalam selimut meski matahari sudah naik. Dia tidak ngorok saat tidur, itu salah satu yang membuat Yoongi jatuh cinta. Betapa ia tidak akan pernah bisa tidur dengan nyenyak seandainya Jimin tukang ngorok. Ah, Yoongi tak bisa membayangkannya.

"Mochi mochi mochuchuchu~"

Jimin hanya sedikit bergumam ketika Yoongi menjawil pipinya yang seperti mochi itu. Beberapa kali Yoongi mencubitinya dan Jimin semakin terganggu. Tapi dia hanya bergumam saja menanggapinya—terlalu malas untuk bangun rupanya.

"Mochuuu..."

Yoongi merasa Jimin mendadak lucu di matanya. Anehnya, kenapa baru sekarang? Sebelumnya dia selalu sebal tiap melihat wajah itu. Yaah, meski dia akui Jimin tampan, tapi tetap saja, gara-gara kelakuannya dia jadi tidak ada lucu-lucunya sama sekali.

"Mochi masih mau tidur, hm? Masih ngantuk?"

"Ngh..." jawab Jimin tak jelas ketika tangan Yoongi beralih mengelus rambutnya seperti mengelus bulu kucing. Harusnya dia bangun, benar-benar sayang melewatkan wajah menggemaskan dan kata-kata manis dari istrinya itu.

"Mochuu, aku ingin menggigit pipimu, ugh." Yoongi lagi-lagi menaruh tangannya di pipi gembil itu—walau lebih gembil pipi Yoongi sebetulnya. Dia menusuk-nusuk pipi Jimin dengan gemas. Merasa semakin terganggu, Jimin mengubur wajahnya di bantal.

"Heeii, jangan sembunyi begitu!" sayangnya Yoongi tidak bisa menindih lelaki itu dengan ikut berbaring tertelungkup seperti kura-kura. Akhirnya dia hanya merapatkan tubuhnya yang jadi benar-benar menghimpit Jimin di sebelahnya.

"Mochi... aku ingin pegang pipimu, sini... mochiii, mochiiiii..." Yoongi terus memanggil Jimin dengan rengekannya. Jimin sudah habis kesabaran, akhirnya dia menyerah dan bangun.

"Apa?" tanyanya ketus. Dia membalik badan menghadap Yoongi. Rambut super berantakan dan mata setengah terpejamnya benar-benar pantas dikagumi, tapi Yoongi yang hampir saja kembali mencubit pipi itu berhenti karena—

"Kau tidak bisa lihat orang sedang tidur, apa? Dalam seminggu aku hanya bisa satu kali bangun siang, satu kali. Hari ini aku dapat jatah libur dan ingin kupakai untuk bangun siang tapi kau malah menggangguku."—omelan Jimin yang tak terduga.

"Ta-tapi aku—"

"Satu lagi, berhenti memanggilku mochi, aku benci panggilan itu."

"Ng... Jiminie aku—"

"Terakhir, aku mau tidur lagi. Jangan bangunkan aku sampai aku bangun sendiri. Bye." tukasnya. Selimut ditariknya sampai ke bahu dan dia membalik badan memunggungi Yoongi begitu saja.

Yoongi yang dibuat syok hanya memandangnya tak percaya. Ya Tuhan, apa yang terjadi pada Jimin dalam semalam hingga paginya dia bisa berubah drastis begitu?

"Jiminie?"

"Tinggalkan pesan karena Jiminie sedang tidur. Nggrookkkk..." dia sengaja.

"YAAA! BANGUN KAU MOCHII!"

Pertukaran kepribadian itu tak berlangsung lama memang.

...Welcome Baby...

Seharian ini Jimin diperbudak, dimonopoli dan disiksa oleh tiga orang yang ada di rumahnya. Siang hari dia dipaksa Jungkook dan Taehyung untuk menemani mereka bermain di taman kompleks. Masih bagus kalau mainnya hanya minta didorong di ayunan, atau ditangkap di bawah perosotan. Sayangnya permainan dua bocah itu sungguh menguras tenaga karena Jimin harus mengejar-ngejar mereka yang berlarian karena tidak mau ditangkap, belum lagi sepatunya jadi wadah pasir, kausnya jadi lap lelehan es krim dan rambutnya kena permen karet—yang ini tidak sengaja, Jungkook meniup permen karetnya saat digendong Jimin.

Tapi meski lelah, ada satu hal yang membuatnya pulang dengan senang. Saat bermain, ada beberapa tetangga yang bilang kalau Jimin pandai mengurus anak. Itu mereka yang tak kenal dengannya, tetangga jauh, sedangkan mereka yang tahu bahwa dua bocah itu anak Seokjin berkata Jimin sudah cocok jadi ayah.

Sedikitnya dia bangga akan hal itu. Tapi mengingat nakalnya Jungkook dan Taehyung, Jimin berdoa semoga Jihoon tidak ketularan mereka. Galak seperti Yoongi juga jangan. Semoga Jihoon jadi anak manis yang penurut.

"Si Seokjin tadi telpon, dia akan sampai di Korea nanti malam. Sekarang sedang transit." ujar Yoongi memberitahu. Jimin hanya ber-oh ria sambil mengasak rambut basahnya dengan handuk. Main seharian bersama anak-anak membuat badannya berkeringat dan bau. Jadi dia mandi lebih awal dari biasa.

"Akan aku antar Jungkook dan Taehyung ke rumahnya kalau memang nanti malam Seokjin sudah sampai." Jimin menyampirkan handuknya di bahu, lantas menyomot marshmallow dari mangkuk es krim Yoongi.

"Hei itu punyakuu!" teriak Yoongi tak terima.

Dia menjauhkan mangkuknya dari Jimin, lalu duduk dan mulai menyendokkan olahan susu dingin itu ke mulutnya. Yoongi yang hamil hampir tidak pernah absen makan es krim. Umumnya yang manis-manis, dalam satu hari tidak pernah tidak makan namakan manis sama sekali. Selain itu dia juga jadi suka memamah biak, mengunyah terus seharian. Makanya dia jadi gemuk sekali. Tak apa 'sih, Jimin malah senang karena Yoongi terlihat seksi. Apalagi double chin si blonde itu. Ugh, Jimin tak tahan untuk menggelitikinya.

"Iihhh apa-apaan kau ini, aku sedang makaan!" Yoongi menepis tangan jahil yang menggelitiki dagunya itu. Dia bukan kucing, mana pantas digoda begitu?

"Yaah, kau bolehlah menyebutku mochi karena pipiku kenyal dan berisi, tapi ngaca dong, pipimu itu lebih tembam mengembang seperti bakpao." Jimin terbahak karena perkataannya sendiri. Yoongi mendelik tajam, tajam sekali.

"Berisik kau, kalau bukan karena hamil aku tidak akan gendut begini."

"Hei, seharusnya kau bersyukur, aku makin sayang padamu sejak kau berubah gendut tahu." Jimin mengelus pipi lembut itu dengan punggung tangannya sambil berseri-seri sisa tawa tadi. Yoongi memutar matanya malas, tapi dia tersipu juga sebetulnya. Kata-kata Jimin entah romantis entah tidak. Tapi memang ada romantis yang melibatkan kata keramat seperti gendut?

Saat Jimin sedang menggoda Yoongi, terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Taehyung dan Jungkook muncul dengan pakaian mereka yang bersih, badannya wangi habis mandi.

"Yoongiieee..." dua anak itu langsung menghampiri Yoongi dan memeluknya. Jimin dilewat begitu saja. Sedih rasanya, yang sudah lelah bermain dengan mereka siapa sebetulnya?

"Kalian tidak mau peluk aku, apa?" cibirnya.

"Iya Taetae mau peluk Jimin kok." bocah delapan tahun itu menubruk Jimin dan memeluknya. Hanya satu yang merespon, karena yang satunya nampak asyik makan es krim yang disuapi Yoongi. "Yoongi, Taetae juga mau es kriiimmmmmm..."

Taehyung berpaling tapi masih duduk dipangkuan Jimin. Ternyata es krim mengalihkan segalanya.

Akhirnya Yoongi berbagi semangkuk es krim itu bertiga. Jimin dilarang minta karena Yoongi tidak mau berbagi lagi. Dia malah disuruh ambil sendiri di kulkas. Huh, sebalnya makin saja menjadi karena Yoongi juga tidak peduli padanya.

Harusnya dia sudah kebal, tapi tetap saja kadang dia merasa sebal terhadap 'perlakuan tidak adil' itu.

"Yoongi, perut Yoongi besar sekali, Jihoon juga pasti sudah besar ya di dalam sana?" tanya Jungkook yang berdiri di antara dua kaki Yoongi. Anak itu mengelus perutnya dengan dua tangan.

Yoongi yang tidak berpengalaman masih bingung untuk menjawab. Akhirnya dia melirik Jimin minta bantuan. Jimin sendiri sudah mengerti hanya dari tatapan matanya. Namanya suami-istri, bicara tidak perlu lagi pakai kata-kata.

"Bukannya sudah besar, kalau sudah besar dia seperti kamu dan kakakmu. Dia tumbuh. Tadinya Jihoon keciiil sekali, tapi dia tumbuh di dalam sana makanya perut Yoongi jadi besar. Kamu pernah lihat fotomu waktu baru lahir tidak? Mommy Seokjin pernah memperlihatkannya padamu tidak?"

Jimin agak geli menyebut 'Mommy Seokjin' jadinya dia sedikit menjulurkan lidahnya sambil menahan tawa.

"Kita 'kan pernah lihat buku foto sama-sama." Taehyung yang menjawab. Yang dia maksud adalah album foto.

"Iya, pernah... Kookie lihat di buku foto, ada Kookie waktu baru lahir, kecil, tidak pakai baju, dan tangannya begini." Jungkook memeragakan pose bayi yang meringkuk. "Mommy juga pernah kasih lihat sama Kookie foto waktu Kookie masih di dalam perut Mommy, lebih kecil lagi, lebih begini."

Yoongi hanya tertawa melihat Jungkook yang semakin meringkuk dengan kepala yang tersembunyi di balik kedua tangan telipatnya. Dia mungkin juga telah melihat foto USG-nya.

"Iya, seperti itu Jihoon di dalam sini. Meringkuk, kecil. Seperti kamu dulu." tukas Jimin sembari mengelus perut Yoongi.

"Terus, Jihoonnya kapan lahir? Kata Yoongi Jihoon lahir musim semi. Sekarang musim semi."

Jimin sedikit mengernyit ketika Taehyung mencabut sehelai rambut oranyenya. Anak itu hanya tersenyum polos. Mungkin dia penasaran kenapa rambut Jimin seperti rambut jagung.

"Iya, Jihoon sebentar lagi lahir. Mungkin tidak sampai dua minggu lagi." ujar Jimin.

Yoongi yang mendengarnya jadi kepikiran. Benar juga, waktu kelahiran Jihoon makin dekat. Dia sendiri masih bingung, antara siap tidak siap untuk melahirkan bayi yang sudah hampir sembilan bulan dibawanya di dalam perut itu. Yoongi merenung, apa yang akan terjadi saat hari itu tiba? Selama ini dia terlalu santai, terlalu cuek. Dia tidak berpikir serius mengenai hal ini, padahal melahirkan bukanlah hal sepele.

"Yoongi kenapa?"

Jungkook menyadarkannya. Dia menggeleng dan tersenyum.

"Tidak apa-apa." jawabnya.

Jimin tahu yang Yoongi pikirkan. Lelaki itu menghela napas dan mengelus rambut istrinya maklum. Dia sadar mungkin kata-katanya sudah membuat Yoongi stress. Dia pun sebetulnya sama adanya, hanya saja tingkat stress Yoongi mungkin berbeda.

"Jangan melamun nanti kucium lho." akhirnya Jimin menggunakan godaan sebagai senjatanya untuk merubah mood.

"Ish. Apa 'sih!" Yoongi mendecih.

"Jimin mau cium Yoongi lagi seperti waktu itu?" tanya Taehyung.

Yang ini, Jimin tidak bisa menjawab.

...Welcome Baby...

"Jimin, katanya kau mau mengantar Taehyung sama Jungkook ke rumahnya?" Yoongi mengguncang-guncangkan bahu Jimin yang sedang tidur di pangkuannya. Dua bocah yang dibicarakan juga sedang tidur, tapi di tempat berbeda, di kamar Yoongi—Jimin yang menaruh mereka di sana supaya mudah dibangunkan, katanya.

"Ngh... iya nanti..."

Penolakan itu ada benarnya juga 'sih. Meski Seokjin bilang malam ini dia akan sampai, tapi belum ada pesan atau telpon dari lelaki itu. Belum juga terdengar bunyi mobil yang datang ke rumah sebelah.

"Nanti, ya..." gumamnya, setengah mengigau mungkin. Tapi Yoongi tak yakin lelaki itu benar-benar tidur karena tahu-tahu toples permen cokelat di meja sudah ada di tangannya. Dasar.

"Dia belum mengirim pesan padaku."

"Aku punya feeling." Jimin memejamkan mata dan mengerutkan dahi dengan telunjuk di antara alisnya, seperti sedang berpikir. "Seokjin akan datang ke sini."

"Itu 'sih inginmu saja!" Yoongi memukul lengan suaminya kesal.

"Heheheheh." Jimin hanya nyengir sambil mengunyah permen cokelatnya.

Tak lama terdengar deru mesin mobil. Jimin dan Yoongi sama-sama beranggapan kalau itu mobil Seokjin dan Namjoon. Mereka sudah pulang.

Ting nong!

Mereka masih menebak, tapi bel rumahnya sudah ada yang menekan.

"Permisiiii... Jimiiin? Yoongiii?" seru orang yang menekan bel itu dari luar.

Jimin tersenyum bangga.

"Tuh 'kan. Apa kubilang? Seokjin akan datang ke sini."

"Senang, kau?"

"Aduh—!" Jimin didorong hingga ia terjatuh dari sofa. Permen cokelat dalam genggamannya pun juga ikut jatuh berhamburan. Dia memungutnya dan memakannya lagi. Belum 3 detik, katanya. Tidak apa. "Aku akan bangunkan Taehyung dan Jungkook, kau buka pintunya ya?"

Jimin melenggang pergi ke kamar, sementara Yoongi bangun dari duduknya untuk membuka pintu. Tapi, baru saja berdiri sebentar, dia merasakan pinggangnya sakit.

"Uhh..." pasti karena terlalu lama duduk. Tapi rasanya sakit pinggang yang biasa tidak senyeri ini. Dia memijat sendiri bagian yang sakit itu sambil mencoba berjalan ke pintu.

Jimin yang keluar dari kamar dengan Jungkook di gendongannya dan Taehyung yang dituntunnya itu merasa aneh melihat wajah Yoongi.

"Kenapa?"

"Pinggangku sakit."

"Duduk dulu, aku yang akan membuka pintu."

Yoongi melihat Jimin berjalan tergesa. Taehyung yang dituntunnya pun jadi sedikit berlari sempoyongan mehanan kantuknya. Jimin membuka pintu dan langsung disapa seruan Seokjin yang berisik dan heboh.

"Aaaaa my kids! My Lion! My Bunny! I miss you so baaadddd!"

Padahal dia sudah menempuh perjalanan jauh, tapi tenaganya masih saja ekstra. Masih kuat teriak begitu.

"Ayo, Mommy kalian menjemput, sekarang kalian bisa pulang ke rumah dan tidur lagi di kamar sama Mommy."

"Thank you Jiminie... maaf sudah merepotkanmu beberapa hari ini, aku benar-benar berterimakasihhh!"

Jungkook dan Taehyung sudah berpindah tangan pada Seokjin. Keduanya dituntun oleh lelaki manis itu. Mereka nempel pada ibunya seperti nempel pada bantal.

"Tidak apa, aku senang menjaga mereka 'kok, Jinie."

"Aaahh benarkah? Wah, aku tidak tahu lagi harus berterimakasih sebanyak apa padamu."

"Tidak perlu berterimakasih banyak-banyak, cukup oleh-olehnya saja..."

"Ahahaha kau tahu saja aku belanja banyak oleh-oleh di sana! Ada oleh-oleh untukmu tapi besok saja ya? Aku belum mengeluarkannya dari koper, Namjoon langsung membawa koper-koper kami masuk kamar. Dia kelelahan."

"Ya ampun Jinie aku hanya bercanda, tidak usah kau anggap serius begitu! Kau pulang dengan selamat pun aku sudah senang 'kok."

"Ah, kau ini."

Mereka seharusnya sadar sejak tadi Yoongi masih berdiri di sana, melihat keduanya berbincang dengan akrabnya. Yoongi hanya menghitung mundur sampai bom itu meledak.

"Besok aku akan mengantarkan oleh-oleh untukmu ke sini ya—"

"Sebentar."

Jin terdiam tanpa berkedip saat tangan Jimin dengan cepatnya bergerak menepuk pipinya. Tidak keras memang, tapi berhasil membuatnya terkesiap, apalagi saat tangan itu mengelus kulitnya pelan.

"Ada nyamuk." ucapnya santai. Barusan dia mengelap sedikit darah dari nyamuk yang ditepuknya itu.

"Ah... nyamuk..." angguk Jin malu.

Yoongi mengepalkan tangannya kesal. Dia menarik napas dalam-dalam, dan kemudian bom itu meledak.

"PARK JIMIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNN! AKU MAU MELAHIRKAN SEKARAAAAANGGGG!"

Jimin sukses terperanjat kaget dan spontan berlari ke arah Yoongi dengan paniknya.

"A-APA?! KAU AKAN MELAHIRKAN?! SEKARANG? SEKARANG JUGA?!"

Jimin histeris. Seokjin tak kalah paniknya. Jungkook dan Taehyung sampai-sampai terbangun dari tidurnya. Padahal Yoongi bohong. Dia cuma ingin menghentikan momen romantis itu 'kok.

...Welcome Baby...

CONTINUED

Jiwa Chimjin saya menggilaaaaa hahahahaha. Mereka makin-makin aja deh. Antara seneng sama sedih gara-gara Jimin berbagi hati *eh*

Sekarang Minyoon lagi naik setelah sekian lama, tapi Chimjin juga nggak kalah. Sebagai shipper yang mendua saya jadi bingung kaya Jimin, mau yang mana, dua-duanya mau heheheheh *digampar*

Btw cerita ini mungkin bakalan saya tamatkan segera, berhubung temanya juga momen pas Yungi lagi hamil, jadi pasti pada tau lah ya endingnya gimana.