Sasuke terkaget-kaget saat lengannya ditarik dan ia diseret pergi oleh Naruto. Matanya terbelalak dan dia hanya bisa pasrah saat Naruto membawanya keluar dari bar, ia bahkan masih membawa lap. Sasuke tidak menduga Naruto akan menemuinya lagi setelah semua yang ia lakukan, sehingga ia sangat terkejut saat Naruto membuka pintu mobilnya dan menyuruhnya masuk tanpa suara.
Setelah ia duduk dengan benak penuh pertanyaan, pintu di bagian kemudi terbuka dan Naruto masuk. Lelaki itu memasang sabuk pengaman dan menghidupkan mesin mobilnya. Setelah mobil meninggalkan area parkir, barulah Sasuke berhasil menguasai dirinya.
"Apa… kau mau membawaku ke mana?"
Naruto tidak menjawab dan terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Selama perjalanan yang tidak bisa dibilang singkat menuju salah satu rumah Naruto itu, Sasuke terus diabaikan. Seolah-olah ia tidak ada di sana, akan tetapi Naruto tidak sekalipun mengurangi kecepatan bahkan saat mereka melewati jalan tol. Dengan luwes ia menyalip sana-sini sehingga perjalanan itu terasa seperti ajang adu kecepatan, sayangnya tanpa adanya mobil lain sebagai lawannya.
Ketika akhirnya mereka sampai di sebuah rumah di pinggiran kota, kesabaran Sasuke akhirnya menipis akibat banyaknya pertanyaan yang bermunculan di kepalanya seiring perjalanan yang bisu itu. Ia sudah siap menuntut jawaban dari Naruto dan kalau perlu ia akan berargumentasi demi mendapatkan penjelasan. Sayangnya kesempatan itu tak pernah datang karena Naruto langsung menariknya ke arah rumah yang tampak sepi itu.
Sasuke memaku kakinya ditanah berusaha tidak maju tertarik dan itu berhasil menarik perhatian Naruto. Lelaki itu berhenti dan menatapnya tanpa ekspresi. Sasuke menelan ludah dan memaksakan dirinya untuk tenang. Ia sedikit mengangkat dagunya saat akhirnya ia mendapatkan kesempatan untuk mengucapkan sesuatu.
"Apa maksudmu membawaku seperti ini?" tanya Sasuke dengan ketenangan yang sama sekali tidak dirasakannya.
Lama Naruto hanya menatapnya sebelum akhirnya ia menjawab. "Aku ingin mencari kebenaran," kata Naruto, lagi-lagi tanpa emosi.
"Kau bisa melakukannya di sini atau tidak sama sekali. Aku tau aku bersalah karena mempermainkan dan menipumu, tapi jika kau pikir karena itu kau berhak memperlakukanku dengan seenaknya, sebaiknya kau berpikir dua kali!"
Akhirnya Sasuke berhasil mengatakannya tanpa mengungkapkan kegugupannya dan menantang Naruto untuk menjawab tantangan terang-terangan itu. Ia harus memaksakan diri untuk membalas tatapan Naruto yang begitu tajam hingga nyaris membuatnya meringis. Tiba-tiba saja semua kegusarannya selama ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tatapan Naruto yang seolah menghujam padanya.
"Justru kau yang harus berpikir dua kali sebelum menatangku, Sasuke," kata Naruto perlahan. "Aku bisa melakukan apapun padamu tanpa ada yang akan menolongmu. Hanya kita berdua yang ada di rumah ini karena aku sudah meliburkan para pelayan!"
"Kau tidak akan berani melakukannya!" sahut Sasuke cepat. "Kau tidak akan melakukannya," ulangnya dengan lebih yakin karena ia sudah lebih mengerti sifat Naruto. Sayangnya, tindakan Naruto justru di luar dugaannya.
Naruto tiba-tiba melangkah dan menutup jarak dengan Sasuke, sebelah tangannya merengkuh pinggang Sasuke dan menarik lelaki itu menempel padanya. Lalu Naruto menundukkan wajahnya hingga jarak di antara keduanya hanya tersisa beberapa inchi jauhnya. "Apa menurutmu aku akan takut membuktikan kata-kataku?"
Sasuke menahan napas saat menyadari betapa dekatnya wajah mereka. Mungkinkah Naruto akan melakukannya? Sasuke mulai meragukan penilaiannya selama ini terhadap Naruto. Ia yakin Naruto tidaklah sebrengsek yang dibicarakan orang-orang, dan jelas ia juga bukan lelaki yang akan mengambil kesempatan terhadap seorang yang bahkan lebih lemah darinya. Jadi Sasuke memilih mempertahankan keyakinannya bahwa ia akan aman bersama Naruto, walaupun hanya ada mereka di rumah itu. Dan bukankah tadi Naruto mengatakan kalau ia menginginkan kebenaran?
"Kau tidak akan melakukannya, Naruto. Aku percaya itu," kata Sasuke dengan tegas.
Rahang Naruto mengatup rapat. Lalu, sebelum Sasuke sempat berkedip, bibir Naruto sudah menutupi bibirnya. Sasuke terkesiap kaget, secara spontan merentangkan tangannya di dada Naruto. Dan Naruto mengabil kesempatan untuk mencium Sasuke lebih kuat hingga seluruh oksigen di paru-paru Sasuke habis dan pemuda itu terengah. Naruto baru melepaskan bibirnya dari bibir Sasuke setelah pemuda itu bersandar lemah padanya.
"Sebaiknya kau tidak bersikap terlalu percaya padaku, Sasuke. Kau tidak mengenalku seperti yang kau kira telah kau lakukan. Dan percayalah, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang kuinginkan," kata Naruto rendah.
Naruto lalu melepaskan Sasuke. Ia puas saat melihat ketidakpercayaan di wajah Sasuke saat pemuda itu menatapnya, dengan bibir yang memerah akibat ciumannya, saat itu Sasuke tampak seperti malaikat tak berdosa yang dirayu untuk melakukan dosa oleh sang Lucifer. Sayangnya memang itulah yang akan Naruto lakukan demi mendapatkan sebuah kebenaran.
"Sekarang lebih baik kau menuruti apa kataku atau aku akan mengikatmu dan menyeretmu masuk," kata Naruto.
Perlahan Sasuke berdiri tegap dan menatap Naruto dengan kemarahan terpancar jelas di matanya. "Kau boleh menghukumku atas semua kesalahanku, tapi aku takkan mau tunduk padamu, Naruto! Kau boleh menyebutku penipu, tapi aku tidak mau dianggap murahan! Aku tidak akan bergabung dalam jajaran wanita yang kau hancurkan hatinya karena aku takkan memberikan hatiku padamu!" bentak Sasuke dan langsung berbalik pergi.
"Berhenti, Sasuke" Naruto memperingatkan.
"Bicara saja pada angin!" bentak Sasuke tanpa mengurangi kecepatan langkahnya. "Aku tak peduli lagi padamu! Terserah kau mau menganggapku apa! Aku takkan peduli lagi!" teriak Sasuke marah.
Menyesal ia telah berharap Naruto berubah pikiran dan bersedia mendengarkan penjelasannya. Harusnya ia lebih tau bahwa tidak ada keajaiban yang sama terjadi dua kali. Kakaknya mungkin berhasil mengubah serigala kejam seperti Shisui menjadi sejinak kucing, dan akhirnya menemukan cinta sejatinya. Tapi ia jelas-jelas telah salah memilih target. Naruto takkan bisa diubah. Lelaki itu pendendam dan akan membalaskan dendamnya. Dan Sasuke muak pada dirinya yang telah dengan bodoh menyerahkan hatinya untuk dihancurkan oleh Naruto.
Sasuke memekik kaget saat tubuhnya diangkat ke atas bahu yang tegap. Ia memberontak keras saat menyadari Naruto tengah membawanya ke rumah. Sasuke pun semakin keras memberontak, ia memukul-mukul punggung Naruto, kakinya menendang-nendang seiring dengan setiap umpatan yang dilontarkannya.
"Diam atau aku akan menjatuhkanmu!" ancam Naruto seraya memukul bokong Sasuke dengan keras.
"Apa yang kau lakukan!?" protes Sasuke. "Turunkan aku sekarang atau aku akan membuatmu menyesal!"
Begitu mereka sudah melewati ambang pintu, Naruto langsung menendang pintu itu hingga tertutup dan menurunkan Sasuke dengan kesal. "Berhenti berteriak!" hardiknya.
"Aku akan berteriak jika aku ingin berteriak! Dan jangan pernah berlaku kurang ajar padaku! Aku membencimu, kau tau? Sangat membencimu!" teriak Sasuke.
Naruto menarik kepala Sasuke dan melumat bibir pemuda itu dengan kuat, membungkam semua protes yang diajukan pemuda itu. Ia memenjarakan Sasuke di antara tubuhnya dan pintu sementara ia terus menciumi Sasukehingga mereka sama-sama kehabisan napas. Ketika merasakan penyerahan diri Sasuke kepadanya, Naruto mengurangi tekanan ciumannya dan mengubahnya menjadi jauh lebih lembut. Dan ketika ia mengakhiri ciuman itu, ia merasakan kepuasan membuncah di dadanya saat melihat tatapan linglung di mata Sasuke.
"Aku… aku membencimu…" bisik Sasuke kehabisan napas.
"Kau tidak membenciku, Sasuke," kata Naruto dengan suara rendah. "Responnya terlalu jujur untuk bisa mengelabuiku. Kau boleh mengatakan kau membenciku sebanyak yang kau mau, kau boleh mencoba pergi dari sisiku sesuka hatimu, tapi yakinlah akan satu hal. Aku pasti akan membawamu kembali ke tempat seharusnya kau berada. Kau sudah menyegel takdirmu sejak kau memutuskan untuk memberiku pelajaran yang menarik ini," lanjut Naruto.
Sasuke merasakan matanya memanas, hatinya berdenyut sakit saat menyadari mungkin Naruto akan memanfaatkan rasa bersalahnya untuk balas dendam.
"Kalau begitu kau boleh berbahagia… kau telah menang, dan aku kalah! Kau sudah berhasil menghancurkan hatiku karena aku sudah menyodorkannya dengan sukarela. Apa kau puas mendengarnya? Kau sudah membuatku bergabung bersama jajaran wanita yang patah hati terhadapmu!" ucap Sasuke dengan suara bergetar. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain karena tidak ingin Naruto melihat air mata yang mengancam akan menetesi pipinya.
Naruto menyentuh dagu Sasuke dan memaksa pemuda itu untuk menatapnya. "Apa begitu sulit untuk mengakui bahwa kau telah jatuh cinta padaku?"
Sasuke tak menjawab, tapi kembali mengalihkan tatapannya dari tatapan menusuk Naruto. Akan tetapi Naruto tak membiarkannya untuk melarikan diri.
"Katakan padaku kalau kau mencintaiku," kata Naruto.
"Untuk apa? Agar kau bisa menertawakanku bersama teman-temanmu? Agar kau bisa menyakitiku seperti aku menyakitimu?" tanya Sasuke. "Sampai mana kau akan menyiksaku Uzumaki Naruto?!" Sasuke menatap Naruto dengan mata berkaca-kaca.
"Katakan," kata Naruto. "Katakan kalau kau memang mencintaiku!"
"Ya! Aku sudah jatuh cinta padamu! Jatuh dengan sangat keras sampai-sampai aku yakin aku akan hancur karenanya! Puas?!" teriak Sasuke. "Itu kan yang kau inginkan? Aku mengakui perasaanku, lalu kau bisa menertawakanku! Silahkan tertawa sepuasmu! Aku sudah tak…"
Sasuke tak bisa menyelesaikan kalimatnya karena lagi-lagi Naruto membungkamnya dengan sebuah ciuman kuat. Kali ini saat Naruto menjauhkan wajahnya hanya agar dapat menatap mata Sasuke yang kini dipejamkan dan basah oleh air mata, ekspresi keras itu menghilang dari wajah Naruto, digantikan oleh suatu kelegaan yang dilewatkan oleh Sasuke.
"Kau salah. Aku memintamu mengatakannya agar aku bisa mengatakan bahwa aku juga mencintaimu," kata Naruto dengan perlahan, tegas dan lugas. Dan ia menunggu sampai Sasuke membuka matanya.
Sasuke tertegun. Perlahan ia membuka matanya, lalu mendongak ke arah Naruto yang sedari tadi menunggunya. Matanya membelalak dan bibirnya terkuak untuk mengucapkan sesuatu, akan tetapi tak ada satu kata pun yang terucap dari mulutnya. Sasuke begitu terkejut sehingga tidak mempercayai apa yang barusan didengarnya, atau yang ia pikir didengarnya.
Apa barusan Naruto mengatakan bahwa lelaki itu juga mencintainya? Tidak mungkin. Baru tadi Naruto memperlakukannya dengan kejam, tidak mungkin kalau sekarang lelaki itu menyatakan dirinya juga mencintainya kan?
Perlahan Sasuke menggeleng. "Kau bohong," bisik Sasuke.
Naruto meraih tangan Sasuke dan meletakkannya di atas jantungnya yang berdegup cepat. "Apa kau pikir debaran ini juga bohong? Mengatakan cinta tidak termasuk dalam pembalasan dendamku, Sasuke. Aku memang marah karena kau mempermainkanku, tapi aku sadar semua itu terjadi karena ulahku di masa lalu. Aku tau betapa bajingannya diriku, tidak pernah menghargai perasaan orang lain. Akan tetapi semua berubah ketika aku bertemu denganmu," kata Naruto. "Kaulah yang mengubahku," lanjutnya dengan lembut.
"Tapi aku sudah menipumu," bisik Sasuke.
"Ya, dan aku marah karenanya. Tapi bukan berarti rasa marah itu mampu melenyapkan apa yang aku rasakan kepadamu," kata Naruto.
"Tapi kau akan terus mencurigai kejujuranku! Aku mungkin saja akan berbohong lagi padamu, meski aku tau aku akan berusaha tidak melakukannya. Tapi tetap saja…"
"Aku yang akan memikirkan hukuman apa yang akan kuberikan padamu jika kau sampai membohongiku lagi," potong Naruto. "Sekarang, katakan bahwa kau akan menjadi kekasihku, dan hanya akan mencintaiku seorang," lanjut Naruto.
Sasuke menatap Naruto dengan terpana, sama sekali belum mempercayai semua yang didengarnya. Kebisuannya itulah yang akhirnya membuat kesabaran Naruto menipis.
"Kau mau membuatku menunggu sampai pagi? Aku tidak keberatan mengurungmu di sini semalaman, tapi Shisui pasti akan menghajarku kalau kau tidak kupulangkan sebelum jam 12!" kata Naruto. "Jadi katakan, atau kita akan menginap di sini! Dan aku pastikan jika kita harus menginap, maka kita akan tidur di ranjang yang sama!"
Sasuke ternganga mendengar ultimatum yang dilemparkan oleh Naruto. "A… apa?" sahutnya tergagap.
Naruto menundukkan wajahnya hingga wajah mereka menjadi saaangat dekat sehingga Sasuke harus mundur selangkah. Akan tetapi Naruto juga ikut maju selangkah hingga punggung Sasuke benar-benar menempel di pintu.
"Aku menunggu, Suke."
"Ta… tapi…"
"Ini adalah hukuman pertama karena telah membuatku menjadi bahan tertawaan di antara Kris dan Yahiko," kata Naruto.
"Hukuman per… jadi masih ada lagi?" Sasuke makin shock. Ia sama sekali belum bisa mengikuti perkembangan yang menjadi di luar dugaan ini. Ia sudah siap menerima cacian dan makian, bahkan ia juga siap kalau seandainya Naruto ingin menamparnya. Tapi ia sama sekali tidak siap saat Naruto memintanya untuk menyatakan cinta.
Alis Naruto terangkat. "Kau tidak berpikir aku akan sepemaaf itu kan?" sahutnya. "Tapi sekarang yang aku inginkan adalah mendengarmu mengatakan bahwa kau akan menjadi kekasihku," tambahnya.
Sasuke perlu ruang untuk berpikir, tapi jelas sekali kalau Naruto tidak bersedia memberikannya. Tapi… inilah satu-satunya kesempatannya untuk memperbaiki semuanya. Naruto berkata ia mencintainya, dan dalam hatinya yang terdalam Sasuke mempercayai hal itu. Ia bukanlah pengecut. Dan lagi, bukankah ia memang berniat mengatakannya pada Naruto?
Setelah mengambil keputusan, perlahan Sasuke mendongak dan membalas tatapan Naruto. "Aku mencintaimu, Naruto, tak peduli apa yang kau lakukan di masa lalu. Dan aku… aku ingin berada di sisimu," kata Sasuke.
Rona kepuasan memenuhi wajah Naruto. "Bagus," ucapnya, dan menyegel janji Sasuke dengan menciumnya sekali lagi. Kali ini dengan lembut dan penuh perasaan.
"Kau harus berhenti melakukannya!" kata Sasuke terengah sesaat setelah Naruto menjauhkan wajahnya.
"Menghentikan apa?" sahut Naruto polos.
Sasuke membuka mulutnya untuk memprotes, tapi lagi-lagi Naruto membungkamnya. Ia menjauhkan wajahnya dan menatap Sasuke dengan penuh kuasa. Ketika melihat Sasuke bersiap memprotes lagi, Naruto kembali menunduk dan menciumnya hingga seluruh pikiran dan protes Sasuke lenyap tanpa sisa.
"Berhentilah menjadikan ciuman sebagai pengalih perhatian!" protes Sasuke dengan lemah saat ia mendorong dada Naruto menjauh.
"Aku akan memilih hal lain yang lebih menarik untuk menjadi sebuah pengalih perhatian, tapi ciuman bukanlah yang akan aku pilih," kata Naruto congkak.
"Lalu kenapa kau melakukannya?!" tanya Sasuke kesal.
"Karena aku suka melakukannya," kata Naruto dan membuktikan ucapannya.
Akhirnya Sasuke harus menyerah dan berhenti mendebat Naruto. Ia tau dirinya takkan menang melawan Naruto. Tapi ia berjanji akan memikirkan suatu cara untuk membalas perlakuan Naruto yang semena-mena ini. Saat ini yang terpenting adalah semuanya baik-baik saja. Ia mungkin akan harus berusaha mendapatkan keyakinan Naruto lagi, tapi Sasuke sudah siap. Ia akan membuat Naruto jatuh cinta setengah mati padanya sehingga lelaki itu takkan punya waktu untuk melirik yang lain.
"Takkan mudah untuk menyingkirkanku, kau tau," kata Sasuke.
"Memangnya siapa yang mengatakan aku akan menyingkirkanmu?" balas Naruto dengan senyum mautnya yang telah terbukti berhasil memikat hati banyak wanita.
"Ingat-ingat saja ucapan itu, Naruto. Aku akan memastikan kau takkan bisa mencampakkanku tanpa mendapatkan luka yang serius," ancam Sasuke.
"Apa kau menantangku?" tanya Naruto tertarik.
"Beranikah dirimu?" balas Sasuke.
"Kau akan terkejut saat mengetahui seberapa beraninya diriku, Sayang," sahut Naruto penuh misteri.
.
.
.
END
