Normal POV
Malam yang dihiasi dengan bulan purnama saat itu merupakan awal dari mimpi indah bagi Momoi Satsuki. Gadis itu tertidur dengan lelapnya tanpa menyadari bahwa situasi darurat telah berlangsung diluar sana.
Momoi semakin lelap ketika di dalam bayangan tidurnya, ia menemukan seseorang yang amat dicintainya telah berhadapan langsung dengannya, tersenyum sembari mengulurkan tangan. Dengan senang hati Momoi menerima tawarannya dan mereka pun berjalan bersama-sama. Senyuman terpatri di wajah, raut senang jelas terpancar—Momoi terlihat begitu bahagia.
Kuroko Tetsuya dengan gentle terus mengiring Momoi ke depan sana, dimana sudah ada pendeta serta altar pernikahan telah menunggu mereka. Sepasang manusia yang sekarang akan menjalin kasih untuk selama-lamanya itu dengan sabar menunggu hari puncaknya tiba, terutama untuk sang pengantin perempuan. Saking bahagianya, air mata telah menetes dari salah satu iris pinkish miliknya.
"Aku mencintaimu, Satsuki-san."
Air mata bahagia kembali mengalir. Momoi menatap Kuroko yang telah tersenyum tulus kepadanya—senyuman seorang pria kepada wanita, dan senyuman itu kini telah resmi menjadi miliknya. Bibir itu tak sanggup berucap karena detak jantung sang gadis yang memacu cepat. Dan dengan segenap jiwa serta raganya, Momoi pun membalas sumpah sakral itu dengan setulus hatinya.
"Aku bersumpah akan selalu mencintaimu, Tetsu-kun."
Semuanya bertepuk tangan, dan sang pendeta telah meresmikan mereka menjadi pasangan yang sah.
Rasanya Momoi ingin berteriak kegirangan ketika wajah sang phantom yang sekarang telah menjadi suaminya itu memajukan kepalanya. Ia segera menyambutnya dengan tutupan mata. Saat Momoi merasakan lembutnya bibir Kuroko yang ia rasakan di ujung bibirnya, Momoi rasanya mau pingsan.
Hanya saja, ketika momen terindah itu berlangsung—
"SATSUKI!"
—suara sang kapten yang begitu kencang langsung memecahkan mimpi indah itu hingga ke dasar-dasarnya.
.
.
WORLD
Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi
World by stillewolfie
(OC) Tachikawa Hikari by stillewolfie
Cover by stillewolfie
Rated T
[ Tachikawa Hikari & Akashi Seijuurou & Generation of Miracles ]
Romance/Drama/Friendship
OOC, AU!Teikou High, typo(s), etc.
[ Inspired from Body x Soul by UseMyImagination & My new life in anime world kurobas by Lilindhathedarkpurple ]
(Anggaplah OC disini adalah kamu, karena chapter ini memakai OC's version)
.
.
When she realize that her feeling will never exist...
.
.
CHAPTER VIII. Gone
.
.
Normal POV
Momoi Satsuki kadang tak habis pikir, ada urusan apa hingga Akashi Seijuurou datang pagi-pagi buta begini ke kamar perempuan? Apa Akashi tak beristirahat hingga ia akhirnya memilih untuk mengganggu Momoi yang telah tertidur lelap? Apa lelaki itu begitu tidak peka kalau malam ini Momoi butuh istirahat? Kenapa mereka semua begitu jahat kepadanya?
Tok Tok Tok.
"Satsuki, cepat buka pintunya!"
Kenapa Akashi berteriak begitu? Apa ia tidak sadar kalau teriakannya itu bisa membuat pelanggan penginapan ini terganggu?
Tok Tok Tok.
"Kumohon cepatlah, Satsuki!"
Momoi bergumam-gumam tak jelas dibalik selimut futon-nya, ia menutupi kepalanya dengan bantal.
Tok Tok Tok.
"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi aku tahu kau sudah bangun di dalam sana, Satsuki."
Suara Akashi yang awalnya terdengar kencang, sekarang malah tampak begitu tenang dengan bumbu mengancam di dalamnya. Momoi pun langsung merengut dan beranjak bangun. Ia lebih menyayangi nyawanya dibandingkan harus mati tertusuk gunting hanya karena tidak menerima sang raja ke kamarnya kali ini.
"I-Iya Akashi-kun, aku datang..."
Suaranya serak layaknya habis bangun tidur. Ketika sepasang kaki jenjang itu melangkah menuju pintu, Momoi sama sekali tidak menyadari kalau futon yang ada disamping futon-nya telah kosong—tidak ada siapa-siapa disana.
Setelah mencapai pintu, Momoi merapikan piyama yang ia pakai serta rambutnya yang kusut akibat tidur semalaman. Gadis itu membuka pintu dengan ogah-ogahan. Namun setelah pintu kamar Momoi telah terbuka sepenuhnya, betapa terkejutnya perempuan itu ketika melihat siapa yang dibawa oleh kapternnya, Akashi Seijuurou.
"A-Akashi-kun—"
"Aku akan memberitahumu asal kau mengizinkanku masuk, Satsuki."
Pada saat Akashi memotong ucapannya, Momoi tahu kalau keadaannya sekarang tidaklah tepat.
.
.
~ world ~
.
.
Normal POV
Detik jam terus saja bergerak hingga waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Setelah mendengar cerita Akashi Seijuurou pagi tadi, entah kenapa ada beberapa hal yang sedikit ambigu di pikirannya. Gadis itu memikirkan segala kejanggalan yang ada—tentang bagaimana Hikari bisa pergi ke pantai tanpa sepengetahuannya, bagaimana gadis itu pingsan di sana, dan tentu saja; mengapa hal tersebut terjadi padahal setahunya Hikari baik-baik saja?
Momoi Satsuki bersimpuh di samping futon yang dipakai oleh Hikari. Gadis bersurai merah kejinggaan itu sekarang telah tertidur dengan nafas teratur. Momoi menungguinya hingga pagi dan setia untuk selalu ada di sisinya. Ia lebih memilih untuk menemani Hikari dibanding mengurusi latihan pemain basket yang pada awalnya menjadi kewajibannya saat ini.
Iris magenta yang selalu dihiasi dengan keceriaan itu sekarang kelihatan redup. Perlahan Momoi menggenggam tangan Hikari yang tampak lebih pucat dari biasanya. Gadis bersurai merah muda itu menghela nafas perlahan. Ia bersumpah ketika perempuan berambut merah ini sadar, Momoi akan memojokkannya dengan berbagai rentetan pertanyaan yang sudah ia susun sedemikian rupa.
Keheningan terus menjadi teman Momoi ketika gadis itu menyadari kalau sudah mulai ada pergerakan oleh manusia yang telah terbaring di depannya ini. Saat jari-jari mungilnya terus bergerak gelisah di genggaman erat Momoi, gadis beriris magenta itu dengan sigap membalasnya dengan genggaman erat yang lebih kuat.
"Hikari-chan, tenanglah. Aku disini..." Bisikan itu dengan perlahan memasuki syaraf-syaraf pendengar sang objek yang dimaksud. Namun dengan perlahan, tangan Hikari yang digenggam kuat mulai sedikit tenang dan rileks. Dan pada saat itulah, Momoi harus menghela nafas dan tersenyum ketika sepasang kelopak itu mulai terbuka dengan pelan.
Hikari telah sadar.
Bibir pucatnya bergetar pelan. Sepasang shappire itu melirik Momoi yang telah membalas tatapannya dengan senyuman lega bercampur hangat. Tachikawa Hikari hanya terdiam, ia sadar kalau dirinya sudah benar-benar aman sekarang.
"Hikari-chan, syukurlah. Kau sudah sadar..." Saat mendengar suara serak menahan tangis itu muncul dari bibir Momoi, Hikari tahu kalau gadis itu sangat menghawatirkan dirinya yang terbaring lemas seperti ini.
Hikari tersenyum miris dan melemparkan tatapan nanar ketika merasa kalau dirinya telah merepotkan gadis ini lagi. "Apa aku membuat repot lagi? M-Maaf—"
"Ssst..." Momoi memotong ucapannya dengan gumaman pelan. Ia menggelengkan kepala. "Kau sama sekali tidak merepotkan, Hikari-chan. Jadi istirahatlah sampai merasa dirimu sembuh, ya?"
Ketika merasa kalau Momoi mengelus kepalanya dengan pelan, Hikari merasa dirinya begitu bahagia. Ia merasa bahwa mendapatkan seorang teman sebaik Momoi itu merupakan sebuah keajaiban.
Tapi di saat itulah, Hikari merasa bahwa waktunya tak lagi panjang.
Air mata kembali mengalir.
"M-Maaf... maafkan aku."
Momoi Satsuki tentu saja merasa terkejut.
"Hikari-chan—"
"Maaf... maafkan aku, Momoi-san."
Hikari merasa... kalau ia akan menghilang dalam waktu yang tidak lambat—entah kapan.
.
.
~ world ~
.
.
"Kurasa kau harus memberikan mereka waktu—nanodayo."
Midorima Shintarou berbalik dan menatap Akashi Seijuurou yang berdiri di hadapannya sembari menaikkan kacamata. Beberapa detik setelah mereka sampai di kamar para perempuan, entah disengaja atau tidak, mereka berdua dapat mendengar suara tangisan lirih yang berasal dari dalam, disusul dengan jeritan panik yang tentu sudah diketahui siapa pemiliknya.
Midorima mengerutkan kening ketika ia tidak dapat mendengar balasan dari Akashi. Pemuda itu malah terdiam dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa dimengerti oleh Midorima. Karena itulah, sang shooter memilih untuk mengikuti instingnya—pergi beranjak dari sana.
Sang surai berwarna merah itu masih tak mengeluarkan suara. Namun pada saat Midorima memutuskan untuk melangkahkan kakinya dan pergi, Akashi dengan setia dan memilih untuk diam dan tidak bergerak di tempatnya berpijak. Akashi malah berdiri tegap menghadap pintu kamar sambil melipat kedua tangannya di dada. Kepalanya menunduk sedikit, menatap lantai penginapan dengan tatapan datar miliknya.
Awalnya Midorima tidak mengerti, namun kesimpulan yang tidak terduga tiba-tiba melintas di kepalanya. Tentu saja ketika berpikir mengenai hal itu, wajah Midorima dengan cepat memerah drastis. Pemuda penganut paham tsundere itu dengan sigap menaikkan kacamatanya dan segera pergi meninggalkan Akashi yang sama sekali tidak memperhatikan kepergiannya.
Mungkin Akashi berniat menunggu keadaan Hikari di sana, tak peduli bagaimana batinnya kembali tersiksa ketika ia dapat mendengar semua isakan lirih yang terjadi di dalam kamar tersebut.
Dengan kapasitas otak yang diatas rata-rata, tentu saja Midorima Shintarou sangat mengerti dengan hal sepele seperti ini. Setelah menaikkan kacamatanya kesekian kali, barulah Midorima benar-benar pergi dari sana.
Dan tanpa ia sadari, jauh di dalam lubuk hatinya, Midorima memuji kesanggupan Hikari dalam mengubah perasaan Akashi dalam kurun waktu secepat ini.
.
.
~ world ~
.
.
Derapan kaki menghantam pasir itu dengan sukses menjadi eksistensi para manusia yang ada di dalam hamparan pasir luas yang begitu kentara. Suara dribble, pass, dan shoot serta hantaman ring dengan bola itu sanggup menjadi perhatian para pengunjung penginapan yang kebetulan telah bersantai di dekat pantai.
Aomine Daiki melambatkan laju langkahnya ketika menyadari bahwa sudah ada Kise Ryouta telah ada di hadapannya. Sepasang biru dan kuning itu saling bertatapan, disusul dengan gerakan gesit yang mampu membuat decakan kagum kembali terdengar. Aomine menyeringai ketika melihat Kise yang dengan sekuat tenaga menahan dirinya dengan pertahanan lelaki itu. Tapi tentu saja, yang sekarang di hadapannya ini adalah seorang ace terkuat di Teikou. Dan Kise tentu saja menyadari hal tersebut.
One-on-One dengan Kise merupakan kesenangan tersendiri bagi Aomine. Ia menyukai dimana lelaki itu dengan sepenuh hatinya menjaga dirinya agar pemuda itu tak kebobolan bola. Pemuda berambut navy itu terkadang senang menggoda si pirang ketika mereka saling berhadapan seperti ini. Itu merupakan hiburan tersendiri bagi Aomine Daiki.
Yah, seperti sekarang ini.
"Hoi Kise, apa kau tahu perbedaanmu dengan matahari?"
Di saat-saat men-dribble bola, sempat-sempatnya Aomine mengajak Kise berbicara. Dan tanpa menyadari maksud terselubung di dalamnya, Kise mengerutkan alisnya heran.
Dengan nafasnya yang saling beradu, Kise pun membalas pertanyaan itu. "Apa maksudmu, Aominecchi?"
Aomine pun menyeringai, Kise telah masuk ke perangkapnya lagi.
"Kalau matahari menyinari bumi, kau itu menyinari hatiku."
Hanya beberapa kalimat, namun sanggup membuat seorang Kise Ryouta mau memuntahkan sisa sarapannya di saat itu juga.
Seth!
"AHAHAHA, KAU KENA LAGI, DASAR BAKA!"
"E-EH!? AOMINECCHIIII!"
Aomine berlari sekencang-kencangnya sembari tertawa menuju ring yang telah dipesan oleh keluarga Akashi. Ia pun menyeringai setan dan merasakan kepuasan tersendiri ketika mendengar umpatan Kise yang kotor itu memanglah ditujukan untuk dirinya. Tapi, ia tidak peduli. Yang ia inginkan adalah memasukkan bola oranye ini ke dalam lubang ring yang ada di sana. Sedikit lagi, dan ia akan mencapai tujuannya—
Set.
"—!?"
Steal!
Aomine benar-benar terkejut ketika merasakan tangan lain yang telah menyentuh bola. Namun sebelum ia menyadarinya, tangan itu dengan sigap merebut bola dan meng-pass-nya dengan segenap kekuatannya. Sinar biru muda yang melaju kencang itu mampu membuat Aomine merasa lengah.
Grep!
"Eh? K-Kurokocchi!?"
"Masukkan bolanya, Kise-kun!"
Dan bola itu pun entah sejak kapan sudah ada di tangan seorang small guard, Kise Ryouta.
"Sialan kau, Tetsu—!"
Aomine sekarang telah menjadi pihak yang dirugikan. Dan di saat bersamaan, tentu saja ia merasa terkejut ketika tahu bahwa Kise menerima operan dari Kuroko. Selama mereka bersama-sama, Aomine belum pernah mengetahui bahwa ada seseorang selain dirinya yang bisa menangkap pass dari Kuroko Tetsuya.
Kise menganggukkan kepalanya mantap, ia memutar balik dan tak membiarkan dirinya gagal kali ini. Iris kuning itu semakin berkilat ketika sudah ada Murasakibara Atsushi telah siap siaga di depan ring—menghalau dirinya untuk memasukkan bola. Tapi siapapun itu, mau Aomine ataupun Murasakibara, ia akan memasukkan bola dan mencetak angka!
"Kise-chin, aku tidak akan mengalah kali ini—!"
"Baiklah, Murasakicchi—!"
Tekanan bola pada lantai pasir semakin kencang ketika Kise melajukan larinya dan mengarah kepada Murasakibara. Manik ungu yang biasanya tampak mengantuk itu kini telah terbuka lebar dan membaca gerak-gerik Kise yang semakin cepat. Kise pun tak pernah meremehkan Murasakibara, karena hanya lelaki itulah yang mampu menghentikan dunk-nya disaat mereka bertanding seperti ini.
Tapi khusus untuk latih tanding hari ini, ia tidak akan kalah—
—ini semua demi Kurokocchi-nya yang telah mengoper bola ini kepadanya!
Kise pun melompat dan merentangkan tangan. Dengan wajah serius nan mengerikan, ia mengarahkan bola di tangannya ke arah ring tinggi itu. Hanya saja, Murasakibara tidak akan membiarkannya. Lelaki berambut ungu terurai itu dengan sigap melompat dan merentangkan tangan kanannya—mencoba untuk menghalau Kise yang sudah siap untuk meng-dunk bola.
BUG!
"—!?"
Meski dengan segenap hati, jiwa, dan raganya, tetap saja Kise tidak bisa menandingi Murasakibara, karena tinggi mereka yang cukup signifikan.
Murasakibara mendorong bola itu kuat-kuat sehingga lepas dari jangkauan tangan Kise. Pemuda pirang itu mengumpat dan segera terjatuh. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana keadaan bola yang telah menggelinding jauh dibelakangnya.
Setelah Kise terjatuh, disusul dengan Murasakibara yang terjatuh namun dengan menumpukan tubuh dengan kaki, bukan seperti si pirang yang jatuh langsung mengenai tanah. Namun saat ia ingin mengejar bola yang sempat keluar dari jangkauannya, iris ungu terang itu langsung terkejut ketika cahaya biru yang familiar tampak lagi-lagi membutakan penglihatannya.
Tap Tap Tap!
Kise Ryouta membulatkan mata.
Set.
Aomine Daiki pun sama terkejutnya. Ia ingin mengejar tapi sudah terlambat.
Plukh!
"—!" Ketiganya sempat terkejut hebat.
Phantom shoot!
Bola oranye itu masuk ke ring dengan mulus. Semuanya tampak terkejut dengan kejutan yang diberikan oleh Kuroko. Para anggota lainnya sama sekali tidak menyangka bahwa phantom mereka ternyata bisa menembak.
Aomine mengerjapkan mata dan mengerutkan alisnya heran. Ia sempat melihat postur tubuh Kuroko pada saat lelaki itu menembakkan bola. Posisi tangannya terlihat berbeda. Dan juga itu merupakan gaya tembakan teraneh yang pernah Aomine lihat. Hanya saja, sepertinya pemuda dim itu harus menghapus pertanyaan yang ada dibenaknya—karena yang dipikirkannya saat ini adalah si bayangan, Kuroko Tetsuya.
Semua orang tahu bahwa pemuda itu banyak memiliki bakat terpendam.
"K-Kurokocchi! Yang tadi itu indah sekali-ssu!" Kise segera berlari dan memeluk Kuroko dengan sepenuh hatinya, tidak menyadari kalau si biru muda sudah mau kehilangan nafas. "Kurokocchi memang luar biasa~!"
Murasakibara mengerjapkan matanya, ia mengambil bola dan berjalan menuju Kuroko, dan seperti biasa, si titan itu mengelus kepala si biru muda hingga ia pun mengaduh pelan.
"Bagus sekali, Kuro-chin. Kuro-chin sudah bisa menembak ya~?"
"Lepaskan tanganmu, Murasakibara-kun. Kau berat."
Aomine pun hanya mendengus dan kembali menguap. Ia mengalihkan pandangannya dan mencari objek lain yang dari pagi tidak kelihatan. Si kapten merah serta maniak Oha-Asa itu belum kembali juga rupanya. Aomine kadang sempat heran, dimana Satsuki hingga gadis itu tidak melihat perkembangan latihan mereka?
Beberapa detik setelah pencarian Aomine dilakukan, Midorima Shintarou datang menuju mereka, membuat Murasakibara segera menghentikan kejahilannya terhadap Kuroko. Kise pun segera melepaskan pelukannya dan melambaikan tangan kepada Midorima, hanya saja si tsundere tampak tidak memedulikannya.
Menyadari kalau Midorima datang sendirian, Kise pun mulai bertanya. "Akashicchi dimana-ssu? Kenapa—"
"Akashi sedang tidak ingin diganggu. Sepertinya kita harus latihan sendiri hari ini."
"Heh?"
.
.
~ world ~
.
.
Hikari meremas cangkir susu yang ada di genggamannya. Ia ingin keluar dari sini, perempuan itu rasanya ingin ikut dengan Momoi yang barusan pergi tadi. Tapi sayang, si pemuda berambut merah sudah menghalangi keinginannya untuk keluar dari penginapan.
Akashi Seijuurou melipat kedua tangannya di dada. Matanya semakin berkilat tajam ketika sadar kalau gadis ini sama sekali tidak mau membalas tatapannya. Ia pun menyandarkan diri di pintu geser kamar itu. Pandangannya terus terkunci pada Hikari yang sedang duduk sambil memegang cangkir susu bergambar beruang dengan tatapan gelisahnya bukan main.
Hikari pun rasanya tidak mau keheningan ini terus berlangsung. Ia ingin semuanya cepat selesai dan Akashi harus cepat pergi dari kamarnya. Ia kadang mengharapkan kehadiran Momoi disampingnya, hanya saja gadis itu tampaknya sedang sibuk dengan segala persiapan yang dibutuhkan oleh pebasket tim Teikou yang lain.
Semenjak peristiwa itu, entah kenapa Hikari tampak tidak mau terperangkap di sebuah ruangan bersama Akashi.
Pasti orang ini akan—
"Kau berutang penjelasan padaku."
—tuh, 'kan.
Hikari menundukkan kepala, wajahnya memasang muka menyesal. "M-Maaf, saat itu aku—"
"Aku tidak butuh permintaan maafmu, yang kuinginkan adalah sebuah penjelasan. Kau mengerti, 'kan?"
Suaranya begitu tajam dan menusuk, membuat Hikari tak mampu untuk membalas perkataannya tadi. Gadis itu menggenggam cangkir berwarna putih itu kuat, berharap kalau benda itu segera pecah sekarang juga.
Lama mereka terdiam tak bersuara, suara burung gagak yang berkoak diluar sana tak mampu membuat mereka sadar bahwa hari itu akan mulai menggelap. Hikari masih menundukkan kepala, membuat poni panjangnya mampu menutupi sepasang manik biru yang mulai mengosong.
Sedangkan Akashi yang masih memakai kaos basket pun tampak tidak memperdulikan segala perubahan yang ada. Matanya hanya tertuju pada manusia yang ada di ruangan itu selain dirinya. Akashi tahu bahwa gadis itu tak mau menjawab; tapi apapun alasan yang Hikari buat, Akashi tidak akan menerimanya.
Ini sudah kelewatan.
"Apa yang kau lakukan malam itu?"
Pertanyaan pertama—Hikari sudah merasa dirinya menahan nafas. Jantungnya berdegup sedikit kencang ketika otaknya mulai mencerna pertanyaan dari Akashi. Gadis itu menggigit bibir. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan agar lelaki itu berhenti menanyakan pertanyaan yang tak mau ia jawab.
Akashi menyadarinya. Ia tahu ada yang tidak beres disini. Lelaki itu menyadari segala kegelisahan Hikari ketika dirinya mulai menanyakan pertanyaan yang harusnya tidak ia lontarkan. Hanya saja, sekarang Akashi benar-benar tidak peduli; ia harus mendapatkan jawabannya langsung dari mulut perempuan itu.
"Kenapa kau bisa pingsan? Apa yang terjadi?"
Dadanya sesak. Hikari takut dan lelah. Ia sudah tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Gadis itu ingin berseru agar Akashi keluar dari ruangan itu; hanya saja ia tidak mampu. Dirinya seolah telah terkunci oleh sebuah rantai—dan dirinya pun seakan terkunci oleh lelaki itu.
Hikari telah terjerat—dan ia tidak tahu bagaimana dirinya harus keluar.
Dan Akashi tidak peduli—benar-benar tidak peduli.
Ia hanya menginginkan sebuah jawaban—dan Hikari harus memenuhinya.
"Aku tahu kau mengetahui semua jawaban dari pertanyaanku tadi. Dan sekarang aku ingin kau menjawabnya, Hikari."
Sebuah perintah mutlak yang mampu membuat semua orang berlutut kepadanya, dan perintah absolut itu telah terlempar pada seseorang.
Tubuhnya mulai bergetar, sesuatu mulai meleleh dari pelupuk matanya.
"Hentikan, Akashi-san..." Akashi mendelik tak suka. "Jangan paksa aku untuk menjawabnya—"
"Jika seseorang mengucapkan pertanyaan, kau pasti menjawabnya, bukan?" Lelaki itu sedikit menyeringai, sepasang heterochrome itu tampak menyukai fakta bahwa perempuan itu telah menderita dibawah kakinya. "Lalu kenapa aku tidak?"
"I-Itu—Meski aku menjawabnya, a-aku yakin kau pasti tidak mengerti..."
"Kau belum menjawabnya tapi kau sudah menyimpulkan kalau aku tidak akan mengerti?" Satu tetesan mata keluar saat mendengar lelaki itu mendengus.
"Jangan bercanda."
Dua kalimat terakhir yang ditekankan, membuat gadis itu hampir lupa bagaimana cara dirinya bisa bernafas. Tubuh Hikari bergetar hebat. Setetes susu yang tumpah akibat getaran tangannya tak mampu menjadi pusat perhatian.
Hikari tidak mau membalas perkataan orang itu tentu ada alasannya. Ia tidak mau semua fakta yang menyebabkan dirinya berada disini akan terbongkar. Hikari tidak mau menambah masalah; masih banyak teka-teki yang belum ia pecahkan. Namun belum saja ia keluar dari salah satu labirin itu, satu lagi labirin kembali muncul. Dan ia harus melewatinya sekaligus.
Lagipula, bila Akashi mengetahuinya, pasti lelaki itu akan mengatakan bahwa Hikari sudah gila.
Jika dipikirkan secara logis, peristiwa gadis itu memasuki portal dunia ini sama sekali tidak masuk akal. Bahkan bocah lima tahun pun pasti bisa membedakannya.
Tapi...
"Apa kau... percaya keajaiban?"
Pertanyaan yang sama kembali dikeluarkan untuk yang kedua kalinya. Akashi hanya memandangi gadis itu dengan tatapan datar. Heterochrome itu memang susah ditebak, dan Hikari menjamin bahwa tidak ada seorang pun yang tahu apa isi dari kepala lelaki itu.
Di lain pihak, Akashi mengerutkan alisnya samar. Ia berpikir bahwa pernyataan yang Hikari buat sama sekali tidak menyambungi jawaban atas pertanyaannya tadi.
Kenapa gadis ini begitu rumit?
"Tentu saja."
Itulah yang lelaki itu katakan; Akashi setuju. Ia percaya akan namanya sebuah keajaiban; dimana ada kejadian yang terjadi diluar nalar manusia. Dan entah kenapa, hati Hikari merasa sedikit lega.
Hanya saja, ia tidak merasa yakin kalau Akashi benar-benar percaya.
Keheningan kembali melanda mereka berdua. Langit yang berubah gelap diabaikan. Sepasang manusia itu terus menyibukkan diri dengan pikiran masing-masing. Akashi yang masih sibuk memecahkan teka-teki dari perkataan yang barusan dikatakan, sedangkan Hikari yang hanya bisa menunduk dengan wajah yang tidak bisa ditebak.
"Jika kau tidak mau memberitahuku... itu keputusanmu, Hikari."
Satu keputusan telah dibuat.
Dan entah kenapa... sepasang manik biru itu kembali membulat dalam diam.
Akashi menegakkan tubuh dan berbalik, membelakangi futon Hikari sembari berjalan menuju pintu kamar. Tangan lelaki itu mengambang dan menggeser pintu tradisional itu dengan sentakan yang cukup keras. Membuat sang gadis yang ada di dalamnya tersentak begitu hebat.
Lelaki itu terluka—dan Hikari amat sangat menyadarinya.
"Kalau kau benar-benar tidak peduli, jangan harap mulai sekarang aku akan peduli padamu."
Srek.
Pintu pun tertutup.
.
.
~ world ~
.
.
Three days later...
Teikou Gakuen, Tokyo.
Semuanya telah berjalan seperti biasa. Anggota first string tim basket Teikou sudah pulang dari latihan mereka untuk persiapan ajang bergengsi yang diadakan bulan Desember nanti. Dan sekarang mereka telah bersiap untuk mengejar materi pelajaran yang sempat mereka tinggalkan saat itu juga.
Bel berdentang tiga kali merupakan akhir dari pelajaran hari itu. Dengan sedikit ogah-ogahan Hikari berdiri dan membereskan buku-bukunya yang berserakan di meja. Suara gaduh dan tawa canda di dalam kelas dihiraukannya. Yang jelas ia ingin pulang dan istirahat di rumah.
Sudah tiga hari sejak training camp itu berakhir, dan tiga hari pula lah Shiro lagi-lagi tidak muncul dihadapannya. Gadis bersurai silver itu tak lagi menunjukkan batang hidungnya, dan Hikari menganggap kalau gadis itu sedang merencanakan sesuatu yang pasti menyangkut dirinya.
Ia menghela nafas.
Setelah training camp berakhir, Akashi sama sekali belum pernah berbicara dengannya. Lelaki itu tampak tidak lagi menatap—melirik saja enggan—dan berurusan dengan gadis itu. Hikari awalnya sedikit heran, namun dirinya memutuskan untuk tidak terlalu peduli dengan segala perubahan yang ada.
Tangan yang awalnya untuk menutup kancing pintu ransel itu langsung berhenti.
Meski Hikari sudah memutuskan untuk tidak lagi berurusan dengan Kiseki no Sedai, hanya saja hatinya menolak untuk melakukan itu semua. Gadis bermanik biru laut itu terus memikirkan apa yang terjadi bila mereka menyadari kalau Hikari tidak mau berhubungan lagi dengan mereka?
Rasanya menyakitkan.
Ketika ia menghela nafas untuk kesekian kalinya pada hari itu, ia begitu terkejut ketika embun yang dikeluarkan dari tubuhnya tampak mengganggu indera penglihatannya, hingga membuat dirinya segera tersentak dari lamunan. Hikari melihat sekeliling; tidak ada orang lagi disini.
Ia sendirian. Tak ada orang yang sudi mendengar keluh kesahnya.
Deg.
Angin semilir menerbangkan surainya ketika angin sore menerpa wajahnya lewat jendela yang terbuka. Hikari menoleh pada matahari yang saat itu mulai tenggelam, menandakan bahwa hari itu akan segera berakhir. Iris biru itu mulai sedikit menyendu saat menatap kemilau kemerahan yang tersirat diantara celah-celah kuning dan jingga yang dihasilkan oleh sang surya.
Bibir perempuan itu mulai bergetar, rasa gundah yang awalnya ia tahan mulai keluar.
Hikari rindu.
Jantungnya berdegup kencang ketika memikirkan sosoknya. Hikari begitu terpana ketika melihat segala kesempurnaan yang dimiliki oleh si surai merah. Hikari begitu mengaguminya—dan bodohnya, ia baru menyadarinya sekarang.
Meskipun lelaki itu dulu begitu jahat dan senang mengancam dirinya, namun untuk sekarang perubahan yang diciptakan oleh Akashi begitu kentara. Lelaki itu telah merubah sikapnya sedemikian rupa dan Hikari amat sangat menyadarinya. Lalu apa? Ia menyia-nyiakannya!
Hikari begitu bodoh dan naif. Ia baru menyadarinya ketika semuanya telah terjadi.
.
.
~ world ~
.
.
"Akashi-kun, sudah saatnya untuk pulang."
Momoi Satsuki hanya menatap nanar kaptennya yang sedang mendribble bola seperti biasa. Hanya saja, yang membuat Momoi khawatir adalah dimana ia melihat segala pergerakan yang diciptakan oleh Akashi. Lelaki itu tidak bermain seperti biasa; dan di saat itulah Momoi sadar kalau ada sesuatu hal yang mengganggu kaptennya.
"Akashi-kun—"
BRAKH!
Semuanya segera terkejut ketika mendengar hantaman dunk yang begitu jelas saat itu. Akashi dengan tidak tenangnya men-dunk bola dengan cepat, membuat suara hantaman bola pada ring itu terdengar dan menggema ke seluruh gym. Momoi pun menghela nafas dan terdiam, lantas ia segera mundur untuk membujuk Akashi pulang.
Hari sudah mulai gelap, dan Akashi Seijuurou benar-benar belum selesai dengan latihan rutinnya. Saat semuanya sudah selesai dan bersiap kembali, lelaki itu malah terus melanjutkan latihannya dan memerintahkan para budaknya untuk segera pergi. Hanya saja, sebagai manajer yang baik, Momoi tidak mau langsung menurutinya begitu saja. Ia ingin Akashi segera beristirahat agar stamina yang seharusnya dibatasi itu tidak langsung terkuras habis.
Melihat teman kecilnya yang tampak kecewa, membuat Aomine Daiki yang menguap langsung turun tangan. Ia menatap Akashi yang masih ada di tengah-tengah lapangan, lalu berseru lantang. "Oi Akashi, kalau kau tidak cepat ganti baju, kami akan meninggalkanmu lho!"
Akashi hanya terdiam, dengan nafas terengah ia melirik tajam para budaknya yang masih setia menunggunya di pinggir lapangan. Lelaki itu segera berdiri tegap dan menatap teman-temannya yang memandanginya dengan pandangan bervariasi.
"Apa kalian tidak mendengar perkataanku tadi?"
Semuanya terdiam, bahkan Murasakibara sempat berhenti mengunyah.
"Sebaiknya kalian pulang, kalian mengganggu latihanku."
Ucapan terakhir dengan nada yang cukup mutlak, membuat Kuroko Tetsuya segera mengerti akan kegundahan dari Akashi Seijuurou. Lelaki berambut biru langit itu memanglah yang paling peka di antara mereka semua. Dan Kuroko sangat menyadari bahwa sejak awal ia memasuki gym, Kuroko tahu bahwa ada yang tidak beres dengan Akashi. Ini semua ia rasakan sejak mereka semua pulang dari training camp di penginapan Chiba.
Kuroko menyadari semua keganjalan itu telah disebabkan oleh satu orang.
"Kami mengerti, Akashi-kun."
Suara berat namun lembut yang berasal dari Kuroko Tetsuya langsung membuat semuanya bungkam. Kise Ryouta segera menghampiri si biru muda dan membisikkan sesuatu pada lelaki mungil itu.
"Kurokocchi tau apa yang terjadi pada Akashicchi-ssu?"
Yah, bisa dibilang itulah yang dia katakan.
Midorima memang tidak mengerti, namun dengan sifat tsundere yang begitu kental, ia pun secara tidak langsung menuruti permintaan Kuroko. Lelaki bermanik hijau itu segera mengambil tas dan berjalan keluar menuju pintu gym. Semuanya memperhatikan Midorima yang berjalan keluar, hanya saja saat ia ingin membuka pintu untuk pulang, ia menoleh pada Akashi yang menatap tajam dirinya.
"Bukannya aku peduli padamu, Akashi. Tapi aku hanya ingin mengatakan kalau percuma saja kau menyembunyikannya," Pemuda itu menghela nafas dan mengulas senyum tipis tak terlihat. "Karena sekarang aku bisa melihatnya begitu jelas—nanodayo."
Blam.
Setelah perkataan itu diucapkan, Kuroko akhirnya menyadari satu hal; ternyata ada orang yang lebih peka dibandingkan dirinya.
Kuroko pun mengikuti jejak Midorima; pulang ke rumah, dan disusul dengan yang lainnya. Momoi pun menghela nafas pasrah setelah dipaksa Aomine untuk pulang bersama. Gadis itu tampaknya khawatir dengan kapten mereka.
Blam.
Pintu itu kembali tertutup untuk yang kedua kalinya.
.
.
~ world ~
.
.
"Kurokocchi, apa maksudmu berbicara begitu-ssu?"
Malam sudah benar-benar muncul ketika sepasang lelaki dengan rambut mencolok berjalan melewati jalan pintas di daerah pusat kota Tokyo. Kise Ryouta dengan setia berjalan pelan untuk mengimbangi langkah kaki pemuda mungil yang ikutan jalan disampingnya. Kuroko Tetsuya melirik sebentar partner basketnya itu, sebelum dirinya menyesap milkshake kesukaannya yang barusan ia beli di majiba tadi.
Suara klakson dan cahaya rambu lalu lintas tak menjadi halangan keduanya untuk terus berjalan. Kebetulan mereka berdua melewati area jalan yang saat itu sedang dievakuasi oleh para polisi. Entah itu benar atau tidak, yang jelas Kise sempat curi-curi dengar kalau ada kecelakaan tabrak lari di depan sana.
"Entahlah. Aku hanya ingin mengatakannya saja, Kise-kun."
Kuroko juga tidak mengerti. Untuk apa ia mengurusi masalah kaptennya yang memang masalah tersebut tidak ada kaitan dengan dirinya? Apa Kuroko ingin mencari masalah? Tidak. Ia hanya ingin membantu Akashi dalam mencari solusi. Sepintar-pintarnya Akashi, sejeniusnya pemuda itu, ia pasti tidak bisa memecahkan semua masalah tanpa bantuan orang lain, bukan? Lagipula, Akashi hanyalah manusia biasa.
"Hmm..." Kise pun bergumam tidak jelas, ia mengadah ke langit, dimana ada semburat merah dan oranye yang masih membekas di ujung-ujung permukaan bumi kota Tokyo itu.
Kise tersenyum, dan perlahan berubah menjadi cengiran bahagia.
"Kurokocchi, kau lihat itu?" Kise menunjuk ke atas, tempat langit sore berada. "Entah kenapa, mereka jadi mengingatkanku pada Akashicchi dan Hikaricchi-ssu! Oranye dan merah!"
Kuroko cengo. Kise pun tertawa lebar. Iris biru langit miliknya perlahan mengikuti arah tunjukan Kise. Dan kita dapat melihat pantulan takjub yang diberikan oleh manik biru dari sang Kuroko Tetsuya. Wajahnya memasang muka kejut, namun beberapa detik berubah menjadi ekspresi datar.
"Tachikawa-san... oranye?"
"Benar-ssu! Kalau dilihat baik-baik, sebenarnya warna rambut Hikaricchi itu oranye, bukan merah!" Kise tertawa lagi. "Hidup ini memang hebat ya? Ada manusia yang diciptakan dengan rambut warna-warni seperti kita!"
Kuroko pun melirik wajah Kise yang berbinar. Pemuda itu sempat terdiam. Otaknya mencerna segala perkataan polos yang Kise berikan. Dan bodohnya lagi, Kuroko baru menyadarinya.
Ikatan itu memang ada.
Perlahan, seulas senyum tipis mulai tercipta.
"Kurokocchi tau tidak?"
"Apa itu, Kise-kun?"
Kise pun tersenyum sangat lebar, kemudian pemuda itu tertawa.
"Oranye tidak akan bisa muncul tanpa merah, 'kan? Apa itu... termasuk kebetulan?"
Ingatkan Kuroko untuk tidak meragukan kepintaran Kise di lain waktu.
.
.
~ world ~
.
.
Di saat semuanya sudah pulang, suara decitan sepatu pada lantai merupakan salah satu bukti bahwa ada seseorang yang masih ada di dalam sana. Pantulan bola serta suara ring yang terhantam merupakan ulah dari anggota reguler tim basket Teikou, Akashi Seijuurou.
Dengan nafas memburu, untuk kesekian kalinya Akashi men-dunk bola tanpa perasaan. Bila ia memang serius, Akashi pasti dengan mudah bisa mematahkan tiang ring setinggi tiga meter itu. Ia hanya terlalu malas untuk melakukannya, Akashi sadar bahwa hal itu tak akan berguna.
Akashi berjalan ke bench dan memutuskan untuk menyudahi acara latihan tunggalnya malam ini. Meski ia sendirian, tapi dengan bermain basket dengan cara seperti ini, mampu menghilangkan sedikit stress-nya selama tiga hari. Lelaki itu dengan sigap segera membersihkan diri dan mengganti baju, membereskan semuanya dan beranjak pulang.
Namun di saat ia ingin keluar dan menunggu supirnya di gerbang depan, kehadiran seseorang mampu membuatnya membeku di tempat. Akashi menatap gadis itu dengan pandangan terkejut yang disembunyikan secara sempurna di raut muka datar sok sombongnya. Dengan mempertahankan sifat arogannya, Akashi melewati sosok itu dan kembali ke tujuan awal; pulang.
Dia tidak peduli.
"Akashi-san..."
Sungguh, dia tidak peduli.
"A-Akashi-san, tolong berhenti."
Sejak kapan orang ini berani memerintahnya?
Oh ya, Akashi tetap tidak peduli.
"Akashi-san!"
Dia tidak peduli—!
Brukh!
Iris dwiwarna itu membulat sempurna, segala keegoan yang ia keluarkan hancur seketika.
Hanya hantaman kecil memang, tapi efeknya tetap berasa. Akashi dapat merasakan beban ringan yang bertumpu pada punggungnya. Dan tanpa berpikir pun ia sudah mengetahui apa itu.
Tas yang berisikan segala perlengkapan basket yang sedari awal Akashi pegang langsung terjatuh.
Di lain pihak, Hikari hanya mengutuk dirinya sendiri yang sudah melakukan hal seekstrim ini. Gadis itu perlahan menelan ludah, lalu dengan tangan bergetar mengeratkan pelukannya pada tubuh Akashi. Mereka terdiam cukup lama. Sama sekali tidak bersuara.
"Maaf... maafkan aku."
Lagi-lagi maaf.
"Tapi sungguh, aku benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaanmu waktu itu..."
Kenapa permasalahan itu lagi?
"M-Meski aku menceritakannya dari awal, aku tahu kau pasti tidak akan mengerti..."
Sesuatu yang basah kembali terasa di jas Teikou yang Akashi pakai. Lelaki itu hanya terdiam dengan raut membelalakkan mata. Pemuda itu sempat terkejut ketika gadis itu memeluk dirinya, menangis di punggungnya, dan meminta maaf. Semuanya terlalu cepat untuk dilakukan di saat yang bersamaan.
Hikari tahu kalau sifatnya yang satu ini tidak bisa dimaafkan; dia cengeng. Hikari cengeng. Entah ini memang sifatnya dari dulu ataupun gejolak-gejolak mengerikan yang terus menimpa hingga membuat jiwanya sedikit terguncang. Hanya saja, Hikari benar-benar tidak peduli.
Yang dia inginkan hanyalah memeluk Akashi seperti ini.
Karena gadis itu sadar... waktunya tak lagi lama.
Deg.
Rasa efek yang sama entah kenapa tiba-tiba menimpa, membuat jantung perempuan itu berdetak cepat.
'J-Jangan... jangan disini!'
Deg Deg Deg.
Perlahan tanpa menyadari keadaan Akashi, Hikari segera menjauhkan diri dan menundukkan kepala. Kepalanya sakit dan perutnya seperti terlilit. Tubuhnya seperti diremas-remas oleh tangan tak terlihat. Hikari ingin menahannya dan mencoba untuk menjelaskan semuanya pada pemuda yang telah membeku di depannya ini. Tapi sepertinya—
"—Uhk!"
—terlambat.
Suara batukan keras tersebut mampu membuat mata Akashi terbelalak. Lelaki itu segera berbalik dan menatap gadis yang telah meringkuh kesakitan. Mulutnya tak bisa berbicara ketika melihat setetes darah telah muncul dan jatuh menghiasi tanah.
Dan sumbernya berasal dari mulut gadis itu.
"A-Apa yang—!" Akashi segera menjatuhkan tas ranselnya dan bermaksud menggapai tangan gadis itu, hanya saja dirinya langsung terdiam begitu tangan pucat Hikari menepis dirinya dengan kuat.
"Apa-apaan kau!? Jangan buat hal konyol disi—"
"Kumohon jangan mendekat, A-Akashi-san..."
Pucat. Tubuh lemas. Dan sekarat. Itulah yang ada di pandangan Akashi untuk tubuh Hikari. Pemuda itu hanya menyaksikan layaknya orang tolol ketika darah dan warna merah itu semakin menghiasi tubuh mungilnya. Dan benar saja... Akashi tidak melakukan apa-apa.
Ada suatu rantai yang menguncinya untuk diam.
Hikari pun hanya bisa tersenyum miris ketika memandangi wajah Akashi yang tidak ternilai. Dengan langkah tertatih, gadis itu berjalan menuju Akashi dan mengelus pipinya, tak peduli bahwa ada noda darah yang menghiasi wajah mulus pemuda itu.
Akashi semakin terkejut. Hikari tersenyum manis karena itu.
"Mungkin ini p-pertemuan kita yang terakhir, Akashi-san..." Bibir yang dihiasi dengan darah itu sekarang menjadi objek penglihatan Akashi. "Terimakasih... karena sudah mencintaiku."
Deg.
Mencintai... katanya?
"Aku... sudah menyadarinya sejak awal—"
Sejak kapan aku mencintai gadis ini?
"—dan aku sangat menghargainya..."
Jantungnya mulai berdetak tak beratur, semakin lama semakin lambat. Itulah yang Hikari rasakan. Dirinya tahu bahwa inilah di saat ia mati; mati sungguhan. Entah kenapa dia bisa berpikiran seperti itu, yang jelas itulah yang terlintas di otaknya sekarang.
Meski tidak bisa pamit kepada semuanya, Hikari merasa bahagia untuk mengucapkan selamat tinggal pada orang satu-satunya.
Orang yang telah menghiasi hidupnya.
"Aku... akan selalu mencintaimu."
Kaki gadis itu perlahan mulai terkikis, dan kikisan tersebut perlahan mulai menari di udara dan pergi meninggalkan sosok tubuh yang seharusnya menjadi kumpulan sempurna.
Akashi hanya membisu. Dia terdiam ketika melihat tubuh Hikari mulai menghilang secara perlahan. Tangan gadis itu dengan setia masih memegang pipinya, dan pernyataan cinta yang terus beputar seperti kaset rusak di otaknya. Senyum manis yang begitu indah... dan Akashi berharap ia tidak akan melupakannya.
Bersamaan dengan tubuh yang hampir sepenuhnya menghilang, tangan pucatnya yang masih setia menyentuh pipi Akashi ikutan menghilang. Darah masih setia menghiasi dagu dan mulutnya, dan Akashi masih belum sadar apa yang terjadi di hadapannya.
Untuk pertama kalinya, Akashi merasa dirinya sangat bodoh dan rendahan.
"Meski waktu telah berlalu, aku akan selalu mencintaimu."
Dan Akashi pun juga menyadari satu hal—
"Selamat tinggal..."
—orang yang tidak bisa menyelamatkan seseorang yang ia sayangi... itu lebih buruk dari sampah.
"Terimakasih."
Sungguh, Akashi saat ini sadar bahwa dirinya merupakan manusia tolol yang paling tidak berguna.
.
.
~ world ~
.
.
Jika dilihat dari atas, tentu di malam hari Tokyo merupakan tempat yang indah untuk dikunjungi. Malam di awal musim gugur tahun ini berjalan seperti biasa. Tidak ada keraguan yang muncul di wajah-wajah para masyarakat kota Tokyo. Bulan purnama dengan setia menerangi malam itu dengan cahayanya yang indah.
Sosok bergaun putih itu berdiri dengan tangan terlipat di dada. Ujung gaunnya berkibar kencang diiringi dengan rambut putihnya yang bergerak. Iris emerald yang tajam itu merupakan sinar indah namun mematikan. Shirokawa Yuki berdiri dengan tubuh tegap di puncak tertinggi Tokyo Tower.
"Sudah, ya?"
Bisikan itu mengandung banyak arti. Ia menghela nafas pelan dan bibirnya membentuk garis datar. Gadis itu menutup kedua matanya pelan-pelan sembari menyesap aroma Tokyo yang begitu menawan.
"Tak kusangka, tubuhnya bisa hancur dalam waktu begitu cepat."
Sekarang semuanya sudah berakhir.
"Ya, ini sudah berakhir, Hikari-san..."
Perlahan dirinya mulai berjalan dan menatap keadaan dibawahnya. Tampak jalanan yang diisi dengan mobil-mobil itu tampak berjejer dengan rapi. Shiro hanya terdiam sebentar, sebelum senyuman kecewa kembali terpatri di dalam wajahnya.
"Selamat tinggal Tokyo, selamat tinggal Generasi Keajaiban, dan selamat tinggal Akashi Seijuurou."
Tawa miris kembali terdengar.
"Aku tidak tahu kapan kau bisa bertemu dengan gadis itu lagi, Akashi-kun." Gadis itu tertawa, ya—tertawa. "Tapi itu tergantung dirimu yang bisa berjuang mulai sekarang..."
Angin menerpa.
"Jika dulu Hikari-san yang memulainya, sekarang aku ingin kau yang menyelesaikannya, Akashi-kun."
Shirokawa Yuki menampakkan senyum terakhirnya, sebelum dirinya menghilang sepenuhnya di dalam dunia itu.
.
.
~ world ~
.
.
Masih di situasi yang sama, Akashi hanya terdiam seribu bahasa ketika puluhan keping kristal itu terbang tertiup angin. Matanya yang tertutupi poni masih menampakkan ekspresi kosong yang tidak terduga. Namun kita bisa melihat bahwa ada rasa terluka yang terkandung di dalamnya.
Brukh!
Perlahan namun pasti, tubuh Akashi Seijuurou langsung ambruk seketika. Tubuhnya tidak bernafas ataupun bergerak, matanya hanya terbuka beberapa mili, namun tidak ada arti yang terselip di iris dwiwarna itu.
Kesadaran lelaki itu mulai menipis dan penglihatannya mulai buram.
Apa yang terjadi setelah ini?
Akashi benar-benar tidak tahu, sungguh.
Ketika matanya terasa berat dan ingin segera ditutup, sekelebat benda berwarna oranye dengan perlahan mulai turun dan menyentuh tanah. Akashi yang menghadapnya pun hanya bisa terdiam melihatnya.
Rasanya tidak asing. Apa itu—
"Benda itu... kuberikan untukmu."
Sebelum Akashi mengingatnya lebih jelas lagi, rasa kantuk yang menjalar tiba-tiba menguasai tubuhnya. Keadaan menggelap dan ia tidak bisa lagi mengingat apa-apa.
Ditemani dengan syal rajutan berwarna terang, Akashi Seijuurou pingsan di tempat.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Note's
Chapter depan merupakan akhir dari cerita ini. Jadi nanti jangan nyesel kalo ngelihat endingnya ya teman-teman. Sejak ff ini dibuat, itulah ending yang terpikiran di benakku. Heheee.
Oke, Hikari menghilang, Akashi pun syok dan pingsan, Shiro pun kabur entah kemana, author pun nggak tau harus buat apa /HAH/ well, kita lihat apa yang terjadi di chapter terakhir, apa yang terjadi ama duo merah itu? /nggak tau/ *dhuar*
.
.
SPECIAL THANKS TO
RiaNoAo, Yamashita Hanami-chan, sakazuki123, miaw miaw110, SyifaCute, Aoi Yukari, Brownchoco, kuroizayoi, Misaki Younna, Juvia Hanaka
.
.
Quest's
Jadi Shiro itu takut kalau Hikari merubah takdir? Ya bisa dibilang begitulah. Shiro tu jahat atau baik sih? Entahlah, dia labil. Author semangat ama kurikulum itu. Iyaaaaa *hugs* Korban kurtilas. Hehee iya deng. World mo tamat tapi GS ama Eternity aja belom kelar. Loh jadi maunya gimanaa? Ini happy ending 'kan? Silahkan ditebak. Hikari ngilang!? Iyaaa. Rencana Shiro apa lagi? Ketebak tuh. Nyesek. Makasiii.
.
.
Next Chapter
"Semuanya sudah berakhir, Hikari-san."
"Hidupmu ada di tanganku, dan kau sama sekali tidak berhak untuk menghinaku seperti itu!"
"Akan ada dua pilihan, dan kau harus memilihnya."
"Apa kau... merasakan melupakan seseorang?"
.
.
Terima kasih sudah membaca!
Mind to Review? :)
