Title : SIMFONI HITAM CHAPTER 7
Genre : Brothership, Friendship and Family
Rate : T
Cast : Cho Kyuhyun as Kim Kyuhyun ( 16 )
Park Jungsoo as Cho Jung Soo/Leeteuk ( 26 )
Lee Donghae as Cho Dong Hae ( 22 )
Kim Ki Bum as Cho Ki Bum ( 18 )
Changmin & Taemin ( 16 )
And other cast
Summary : Dihatiku terukir namamu. Cinta, rindu beradu satu. Namun selalu aku bertanya, adakah aku dihatimu?
Inspired by Simfoni Hitam Sherina.
Warning : Typos, Gaje, OOC, if read dont bash and review after read.
DONT PLAGIAT!
Disclaimer : All them belong to them selves and God, iam just a fan who use their name for my story.
Story by asmawi97
BACA LAGI BAWAH TBC YA :)
.
.
SIMFONI HITAM CHAPTER 7
.
.
Flashback
At Incheon Airport
Seorang wanita terlihat menyeret kopernya dari barisan para penumpang lainnya. dia lalu membuka kacamata yang di kenakannya.
Dia adalah Kim Inha saudara Kim Hanna.
Sudah 18 tahun semenjak pernikakan Hanna dan juga Cho Younghwan. Dia pergi dan menetap di Jepang.
Ya, sejujurnya dia juga memiliki perasaan yang sama terhadap kakak iparnya tersebut, sehingga membuat dia pergi untuk sementara.
''Hanna eonnie aku kembali...'' gumamnya sambil melihat langit seoul yang dipenuhi dengan bintang. Dia lalu memasuki taksi yang akan mengantarnya menuju rumah kakak nya yang berada di Busan.
.
.
Inha mengeluarkan seluruh barang yang dibawanya dari taksi. Dia lalu membuka pagar rumah kakak nya. Namun dia mengernyitkan dahinya saat melihat seluruh rumah kakak nya terlihat gelap padahal ini sudah malam.
''Kenapa rumahnya gelap sekali, apa Hanna eonnie tidak ada di rumah?'' Inha lalu membuka pintu rumah yang ternyata tidak terkunci tersebut. Dan masuk kedalam rumah yang menurutnya cukup menakutkan.
''Hanna eonnie..'' Inha mencoba memanggil kakak nya dalam kegelapan, dia lalu mencoba mencari letak saklar lampu di rumah tersebut.
Jujur, dia punya perasaan yang tidak baik mengenai ini. Kenapa rumah ini begitu gelap.
Lampu rumah tersebut kembali menyala saat dia menekan saklar lampunya.
Namun dia langsung membelalakan matanya melihat Hanna kakak nya, yang bersimbah darah di sekujur tubuhnya. Dan juga, keponakan nya yang terlihat sedang memeluk eomma nya. Dia sangat pucat, anak itu bahkan terlihat tidak bernafas sama sekali.
Inha mencoba berteriak tapi lidahnya seolah kelu melihat keadaan kakak dan juga keponakan nya. Dia langsung terduduk karena shock melihat keadaan mereka berdua.
''EONNIE..!''
.
.
Beberapa hari setelah kejadian tersebut. Inha duduk dihadapan seorang dokter yang menangani Kyuhyun.
''Dia mengalami trauma psikis akibat kematian ibunya. Kau bisa membayangkan, bagaimana seorang anak berusia tujuh tahun menjadi saksi tunggal pembunuhan ibunya sendiri?!'' Inha mencoba tenang saat mendengar pernyataan dari dokter tersebut.
Keadaan Kyuhyun memang sangat mengkhawatirkan, setiap malam dia selalu mendapatkan mimpi buruk. Dan setiap dia mengingat Hanna dia akan berteriak histeris dan memasang sikap waspada pada seluruh orang yang mendekatinya.
''Aku juga tahu, aku ini seorang psikiater.''
''Kalau seperti ini terus, dia mungkin bisa gila.'' perkataan dokter tersebut membuat Inha langsung memandang tajam pada dokter yang menangani Kyuhyun.
''Apa maksud mu dengan gila?!'' seru Inha sambil menunjuk dokter tersebut dengan jari telunjuknya.
''Kau tidak lihat bagaimana keadaan nya sekarang, dia menolak didekati siapapun dan menganggap semua orang adalah jahat.'' Inha mengepalkan kedua tangannya erat sampai buku-buku jarinya memutih mendengar pernyataan dokter didepan nya tersebut.
Dia lalu menghela nafasnya dan bangkit dari duduknya. Inha keluar dari ruangan yang menurutnya sangat menyesakkan. Dia lalu terduduk di depan kamar Kyuhyun.
''Eonnie... Eotteoke hajyo..'' lirihnya pelan. Dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Ternyata Hanna sudah bercerai dengan suaminya dan dia sangat sulit menghubungi keluarga Kyuhyun.
''Inha-ya wae?'' Inha mengangkat kepalanya saat mendengar seseorang yang sejak kemarin mendampingi nya dan juga Kyuhyun.
''Soojin oppa apa yang harus aku lakukan?''
Soojin memandang Inha dan ruangan Kyuhyun bergantian, dia lalu memegang kedua bahu wanita tersebut dengan erat.
''Inha-ya, jadilah Hanna.'' Inha membelalakan matanya mendengar ide gila tersebut.
''Mwo?!''
''Tidak ada cara lain Inha-ya. Kau, harus menjadi Hanna.'' Inha menggeleng, dia tidak mungkin membohongi Kyuhyun dengan cara seperti itu.
''Lalu bagaimana dengan Kyuhyunie? Apa kau mau melihat dia seperti itu seumur hidupnya?'' Inha kembali menggeleng kali ini dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
Dia tidak pernah berpikir hal seperti ini akan terjadi padanya. Dia hanya berniat berlibur di Korea bukan untuk menghadapi masalah seperti ini.
''Soojin oppa, bolehkah aku memikirkannya lebih dulu?''
''Tentu saja. Kau harus memikirkannya.''
Inha bangkit dari duduknya, dia lalu memasuki kamar rawat Kyuhyun. Dan melihat anak itu yang sedang tertidur, tadi dia diberikan obat penenang oleh para ganhosa, karena Kyuhyun tidak berhenti berteriak histeris memanggil eomma nya.
Inha menghampiri Kyuhyun dan duduk di kursi yang berada disana.
''Kau masih sangat kecil, kenapa harus kau yang mengalami semua ini Kyuhyunie?'' ucap Inha sedih sambil mengusap peluh yang membasahi wajah keponakan nya.
Inha mengerutkan dahinya saat Kyuhyun mulai meracau tidak jelas dan memanggil eomma nya dalam tidurnya.
''eomma...eo... ma.. eo..EOMMA...!'' bersamaan dengan suara Kyuhyun yang keras, anak itu langsung terbangun dan kembali menatap kosong dengan airmata yang terus mengalir dari matanya.
Inha mencoba memeluk Kyuhyun, namun Kyuhyun langsung menolak dan meronta hebat dalam pelukan nya.
''Kyuhyun-ah...! eomma ada disini!'' Kyuhyun langsung menghentikan pergerakan nya
saat mendengar suara 'eomma' nya.
''Eomma... Ada disini..'' Inha terus mengucapkan kata tersebut dan mengusap punggung Kyuhyun secara teratur sampai anak itu tenang dan tertidur kembali.
.
.
''Kyuhyun-ah..''
Kyuhyun yang sedang bermain dengan jari-jarinya, langsung memasang sikap waspada dan memeluk kedua lututnya. Dia beringsut mundur saat melihat Changmin mendekatinya.
''Sudah ku bilang, jangan pernah mendekati ku. Karena aku tahu, kau adalah orang jahat!'' Changmin mencoba tenang menghadapi sahabatnya. Soojin ahjussi bilang Kyuhyun mengalami trauma karena sebuah kecelakaan.
''Kyuhyun-ah... Ini aku, Shim Changmin. Sahabat mu!''
Kyuhyun langsung memandang Changmin tajam dan mengambil pisau yang selalu dia sembunyikan dibawah bantal nya.
''GOJIMAL!'' ucap Kyuhyun sambil mengarahkan pisau tersebut pada lengan Changmin.
''AKH..'' Changmin langsung berteriak saat pisau tersebut menggores lengannya sampai berdarah. Tapi dia mencoba menutupinya dari Kyuhyun yang mulai gelisah saat melihat darah yang keluar dari luka di tangan Changmin.
''Gwenchana Kyuhyun-ah...'' Kyuhyun menggelengkan kepalanya dan langsung menjatuhkan pisau yang sedang dia pegang.
''Ada apa ini?!'' beberapa ganhosa yang menjaga langsung membelalakan matanya saat melihat darah yang keluar dari luka di tangan Changmin.
''Ini sangat berbahaya, ikat dia! dia bisa membahayakan dirinya sendiri dan orang lain!''
.
.
''Apa kau gila?!'' Inha memandang tajam dokter yang menangani Kyuhyun.
''Apa maksud mu?'' tanya dokter tersebut.
''Dia itu masih kecil kau tidak usah memperlakukan dia seperti itu!'' ucap Inha emosi, dia tidak habis pikir. Kenapa mereka semua mengikat Kyuhyun.
''Tapi dia sangat berbahaya, bagaimana kalau dia menyakiti dirinya sendiri dengan tangannya ha?!'' Inha menghela nafasnya dan memandang Uisa tersebut dengan tajam.
''Mulai sekarang, aku yang akan menangani nya.'' ucapnya sambil berlalu dari ruangan tersebut.
.
.
Inha memasuki rumah yang di tempati Hanna dan juga Kyuhyun sebelumnya, dengan tenang. Tanpa sadar dia menangis membayangkan bagaimana pembunuhan itu terjadi dan Kyuhyun menyaksikan semua itu.
Polisi yang menangani kasus Hanna bilang, mereka menemukan lima peluru yang bersarang di jantung kakaknya. Dia tidak habis pikir, orang gila mana yang sudah membunuh kakaknya dengan sangat kejam.
Dia lalu menaiki anak tangga dan memasuki kamar kakaknya. Tekadnya sudah bulat sekarang, dia akan menjadi Hanna untuk Kyuhyun.
Inha berdiri didepan cermin, dia lalu melepaskan kacamata nya dan menggunting sebagian rambutnya, Hanna memang memiliki rambut pendek sebahu. Inha lalu memakai pakaian yang sering dikenakan Hanna. Dan juga parfum yang sering di kenakan mendiang kakaknya.
''Eonnie Mianhae..'' ucap Inha pada pantulan nya di cermin. Setelah mengucapkan kata tersebut Inha langsung keluar dari kamar tersebut dan pergi menuju rumah sakit.
.
.
Inha menghampiri Kyuhyun yang terus berusaha melepaskan tali yang mengikat tubuhnya. Dia lalu duduk di hadapan Kyuhyun dan melepaskan semua tali tersebut.
Kyuhyun memandang Inha dengan airmata nya yang kembali mengalir, eomma ada di hadapannya sekarang.
Inha lalu menangkup wajah Kyuhyun dan tersenyum semanis mungkin.
''Semua yang Kyunie alami adalah mimpi buruk eoh?'' ucapnya pada Kyuhyun.
Inha lalu membawa Kyuhyun kedalam pelukannya dan mengusap rambut Kyuhyun pelan, dan mengatakan kalau yang dialaminya hanya mimpi buruk.
''Eomma...'' Inha tersenyum saat suara Kyuhyun mulai melemah dan memanggilnya eomma sesaat sebelum anak itu kembali tertidur.
Sejak saat itu Inha benar-benar berperan sebagai Hanna. Menjadi eomma Kyuhyun, mencoba menyembuhkan trauma mendalam yang dialami anak tersebut.
.
.
.
''Sejak saat itu, aku hidup sebagai Hanna. dan Kyuhyunie, dia menganggap semua yang terjadi padanya adalah mimpi buruk.'' Inha menangis saat kembali mengingat memorinya sembilan tahun lalu.
''Lalu bagaimana?'' Tn. Cho kembali bertanya seolah tidak puas dengan penjelasan dari Inha.
''Perlahan tapi pasti, Kyuhyun berangsur sembuh dia kembali menjadi anak yang sangat aktif dan ceria. Meskipun itu butuh waktu yang sangat lama.'' Inha mencoba tersenyum dan menghapus airmata yang masih membasahi pipinya.
''Itu sebabnya aku membawa Kyuhyun ke Seoul dan menitipkan dia pada hyungdeulnya. Aku hanya ingin kalian kembali menjadi keluarga yang utuh.'' ucap Inha sambil memandang Younghwan dengan senyum nya.
Tn. Cho sendiri terlihat sangat lemas setelah mendengar keseluruhan cerita tentang istri dan juga putra bungsunya.
''Gwenchana, ini pasti sangat sulit untuk mu oppa. Tapi sungguh, saat itu tidak ada yang bisa ku lakukan. Aku sangat sulit untuk menghubungi mu.''
Benar. Inha pasti sangat sulit menghubungi nya karena dia benar-benar melupakan Hanna dan Kyuhyun setelah perceraian tersebut.
''Hari ini adalah hari peringatan kematian Hanna eonnie. Apa kau akan ikut?'' Tn. Cho yang sedang menundukan kepalanya dan melihat Inha dia lalu memegang kedua tangan Inha erat.
''Tentu saja Inha-ya. Bawa aku pada Hanna, eoh?'' Inha tersenyum.
''Bawa juga putramu yang lain, oppa.''
.
.
''Appa, sebenarnya kita akan kemana?'' Tn. Cho hanya diam menanggapi pertanyaan yang terus di lontarkan oleh kedua putranya. Leeteuk dan Donghae.
''Dan juga, kenapa kita harus memakai pakaian berwarna hitam. Apa kita akan mengunjungi rumah duka?'' Tn. Cho hanya mengangguk menjawab pertanyaan Donghae.
Mereka bertiga keluar dari mobil yang berhenti di sebuah pedesaan di sekitar Busan.
''Ikuti appa..'' ucap Tn. Cho pada kedua putranya. Leeteuk dan Donghae, meskipun agak bingung tetap mengikuti ayahnya menaiki bukit di tempat tersebut.
Setelah mereka menaiki bukit beberapa saat, akhirnya mereka sampai di bukit yang terlihat beberapa makam di sekitarnya.
Mereka lalu melihat seorang wanita yang sedang berdiri didepan sebuah makam. Wanita tersebut juga terlihat memakai pakaian serba hitam.
Tn. Cho menghampiri wanita tersebut begitupun Leeteuk dan Donghae. Donghae langsung membelalakan matanya saat wanita tersebut berbalik dan tersenyum saat menatapnya.
''Eomma...'' Donghae melangkah mendekat pada wanita yang sudah sangat dia rindukan selama ini.
''Hae-ya, dia bukan Hanna eomma.'' Donghae langsung menghentikan langkah kakinya yang akan mendekati 'eomma' nya. Dan memandang sang appa dengan heran begitupun Leeteuk.
Apa maksudnya wanita didepan mereka ini bukan Hanna eomma?
Tn. Cho lalu menghela nafasnya dan memberanikan diri untuk memandang kedua putranya.
''Hanna eomma, dia sudah meninggal sembilan tahun lalu. Kita sedang berada didepan makam eomma kalian.'' Leeteuk dan Donghae langsung membelalakan matanya mendengar pernyataan sang appa.
''MWO?!'' Donghae langsung menggeleng dan melihat lebih jelas wanita di hadapannya.
''Maldo andwaeee..'' ucapnya sambil menggeleng.
''Lalu siapa kau?'' tanya Leeteuk pada wanita yang pernah dia temui sebelumnya.
''Aku adalah imo ( bibi ) kalian. aku saudari kembar Hanna eonnie.''
Donghae langsung menjatuhkan tubuhnya dan memandang makam didepan nya dengan tatapan kosong. Dia lalu menyentuhkan kepalanya hingga menyentuh tanah dan menangis sekencang-kencangnya. Sementara Leeteuk mencoba menenangkan nya.
'apa benar sang eomma sudah meninggal sembilan tahun lalu? Lalu bagaimana dengan Kyuhyun? Anak itu hidup dalam kebohongan selama ini.'
Donghae menegakkan tubuhnya saat ponselnya bergetar di saku jaket miliknya.
''Yeobeoseo..''
''Hae hyung... Kyuhyun, dia masuk Rumah sakit hyung...''
''Mwo?''
''Ada apa Hae-ya?'' Donghae memandang semua orang yang ada disana, termasuk 'eomma' nya.
''Kyuhyun, dia mengalami kecelakaan hyung.'' pernyataan Donghae membuat seluruh orang disana cemas tingkat dewa.
''Sebaiknya kita berangkat bersama saja, Kajja Inha-ya..'' ucap Tn. Cho sambil menggandeng tangan Inha.
.
.
''Kibumie!''
''Teuki hyung, hae hyung, appa... eo..eomma.'' Kibum sedikit mengecilkan suaranya saat memanggil 'eomma' nya. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan eomma yang sudah sangat dia rindukan.
''Bagaimana keadaan Kyuhyun? Kenapa dia bisa sampai mengalami kecelakaan?''
''Kyuhyun korban tabrak lari hyung, euisa bilang Kyuhyun mengalami patah dibagian kaki kanannya dan juga pendarahan yang cukup parah dikepalanya. Sekarang dia sedang di operasi.'' jelas Kibum. Matanya tidak berhenti mengawasi sang eomma.
''Ini semua salah ku, aku benar-benar minta maaf..''
''Sudahlah Taemin-ah berhenti menyalahkan
dirimu.'' Changmin mencoba menenangkan Taemin yang sejak tadi tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
.
.
.
PLAK!
Suara tamparan itu terdengar menggema diruangan yang cukup luas tersebut.
''Apa kau bodoh?! Bagaimana kalau anak itu mati?!'' namja yang di tampar tersebut mendecih saat sang appa menamparnya begitu keras.
''Appa, Bukankah kita memang berniat untuk membunuh nya?!'' jawab sang anak emosi.
''Tapi... Bukan sekarang!''
''Lalu kapan?!'' tanyanya emosi.
''Saat pertunjukannya. Itu akan menjadi pertunjukan terakhirnya. Sekarang pergilah'' ucap sanga appa pada putranya. Namja tersebut lalu meninggalkan appa nya di ruangan pribadi ayahnya.
namja paruh baya tersebut lalu mendekati foto Hanna dan juga Kyuhyun yang dia pajang di dinding ruangan tersebut.
''Aku akan membunuhnya di waktu yang sama, saat aku membunuh Ahra dan juga Hanna.'' ucapnya sambil menyeringai.
''Cho Kyuhyun... Kau akan segera berakhir!''
.
.
.
Donghae menaiki beberapa anak tangga yang menghubungkan dengan lantai teratas di Rumah sakit ini. Saat ini, dia memang perlu menenangkan diri.
''Kyuhyun-ah apa selama ini, hyung sangat jahat?'' Donghae lalu menengadah kan kepalanya dan memejamkan matanya sambil merasakan tiupan angin yang menerpa kulitnya.
.
Dia sangat ingat saat Kyuhyun menunggunya di tengah-tengah cuaca dingin, dan dia hanya memarahi Kyuhyun saat anak itu menunggu nya begitu lama.
Dia juga sering membuat Kyuhyun menangis dengan menyebutkan, kalau dia tidak pernah menyayangi adik nya.
''Sepertinya, hyung memang sangat jahat Kyuhyunie..'' ucap Donghae lirih.
.
.
''Hanna-ya..'' Inha yang sedang menautkan jemarinya langsung menegakkan tubuhnya saat melihat Soojin setengah berlari menghampiri mereka semua.
''Eoh... Soojin oppa.''
''Aku mendapat kabar dari Changmin kalau Kyuhyun kecelakaan. Kenapa bisa?'' Inha akan menjelaskan kecelakaan tersebut saat Tn. Cho menyela dan bertanya pada Soojin.
''Soojin-ssi? ada yang ingin aku bicarakan dengan mu.'' ucap Tn. Cho pada Soojin.
''Sepertinya kalian memang perlu membicarakan sesuatu.'' ucap Inha sambil tersenyum.
Tn. Cho tersenyum, dia lalu memberi kode pada Soojin untuk mengikutinya.
Mereka berdua, Soojin dan Younghwan duduk di sebuah kedai yang berada di dekat Rumah sakit tersebut. Tn. Cho memandang Soojin dengan pandangan intimidasi.
''Katakan saja, kau yang berada dalam foto ini kan?''
Soojin tersenyum dia lalu mengambil salahsatu foto tersebut dan melihatnya.
''Saat itu, aku bukan hanya sedang bersama Hanna. Disana juga ada istriku.''
Tn. Cho membulatkan matanya dan memandang pria dihadapan nya dengan sangat heran.
''Mwo?''
Soojin mengangguk ''Sungguh, aku tidak punya hubungan apapun dengan Hanna. Saat itu, kami sedang mempersiapkan pertunjukan Hanna, untuk mu.''
''Untuk ku?''
''Nde, Hanna ingin mempersembahkan sesuatu untuk mu melalui konser piano nya waktu itu.'' Tn. Cho menjatuhkan tangannya lemas saat mendengar satu lagi kenyataan pahit dari istrinya.
''Jadi, selama ini yang ku lihat hanyalah kebohongan dan juga kesalah pahaman..'' ucap Tn. Cho dengan tatapan kosongnya.
''Aku juga berpikir apa yang Hanna katakan benar, kau bercerai dan menganggap Kyuhyun bukan putra mu hanya karena sebuah foto.'' ucapan Soojin benar-benar membuat Younghwan semakin merasa bersalah.
''Younghwan-ssi, Kyuhyun itu putra kandung mu. Dan Aku hanya menganggap Hanna sebagai adik ku saja.''
''Itu benar. Aku telah berdosa pada istri dan juga putra bungsu ku.'' Soojin menepuk bahu Younghwan pelan untuk memberikan semangat.
''Masih belum terlambat. Gunakan kesempatan ini, untuk memperbaiki hubungan mu dengan seluruh putra mu, terutama Kyuhyun. Selama ini dia sangat ingin bertemu dengan mu.''
''Kau... Tahu banyak tentang putraku.'' Soojin tersenyum. Dia lalu meminum sedikit wine yang berada didalam gelasnya.
''Sejak kecil jika Inha sedang bekerja, Kyuhyun selalu bersama ku. Inha bilang, untuk membuat Kyuhyun sembuh total dia harus punya sosok seorang ayah.'' Tn. Cho tersenyum miris, seharusnya dia yang berada disisi Kyuhyun. Bukan orang asing.
.
.
Mereka semua masih berdiam diri di depan ruang operasi. Dimana didalam, Kyuhyun sedang berjuang antara hidup dan matinya.
Tidak tahu berapa lama operasi tersebut berlangsung, yang pasti mereka benar-benar merasa sangat cemas sekarang. Pintu ruang operasi tersebut terbuka dan rombongan dokter keluar dari ruangan tersebut. Dan berhenti didepan keluarga Kyuhyun.
''Bagaimana keadaan Kyuhyun Uisa-nim?''
''Operasi nya berjalan lancar.'' mereka semua langsung menghela nafasnya lega dan mengucapkan syukur.
''Tapi... Kita belum bisa tenang sepenuhnya.''
''Wae?''
Uisa memandang jam tangan yang di pakainya
''Jika dia tidak sadar sebelum tengah malam nanti, aku terpaksa mengatakan kalau dia koma.''
Setelah mengucapkan kata tersebut Uisa berlalu, kemudian Kyuhyun yang masih tidak sadarkan diri. Didorong menuju kamar rawat yang akan di tempatinya.
''Tidak apa, Kyuhyun pasti bangun. Dia anak yang sangat kuat.'' ucap Inha mencoba menenangkan semua orang yang ada disana.
.
.
Geunyoga dolaoneyo mianhadago haneyo iksukhaetdeon geuriun ge songilro eorumanjyoeyo
(Dia datang kembali. Berkata, bahwa dia sangat menyesal. Sentuhan tangan lembut yang sangat ku rindukan.)
Nal boneun ansseuron nungil deutgo sipdeon geu moksori, dajeonghage ijen ulji malraneyo.
(Dengan tatapan lembutnya padaku. Dan suara indah yang sangat ku rindukan, lembut berkata menyuruhku untuk tidak menangis lagi.)
Neol nae pume aneumyeon sarajyeo beorigo nunmuli heulro begaereul joksimyeon. Nan geujeya jameseo ggaeeoyo. Achimeun neul irohke. My love ~
(Saat kudekap dengan erat dirimu dalam peluk ku, saat itu juga kau menghilang. Air mata membasahi bantalku, selalu seperti ini setiap pagi ku)
Yeongwonhi idaero jamdeulgil baraedo, yeojeonhi geunyeoro ggaeeonado. Dasineun ggumguji angireul baraedo. Oneuldo geunyoro, Naneun jami deulsuga isseo.
(Aku berharap akan tertidur seperti ini selamanya, dan terbangun dengan merasakan kehadiran mu. Meskipun aku berharap ini bukan mimpi. Seperti ini, aku tertidur dengan merasakan kehadirannya.)
''Kenapa wajah eomma terlihat sangat sedih, apa karena lagunya?'' Kyuhyun memandang sang eomma yang terlihat menyanyikan sebuah lagu sedih diiringi pianonya.
''Kyuhyunie..'' sang eomma mengakhiri permainan piano dan lagunya dia lalu tersenyum saat memandang putra bungsunya. Kyuhyun ikut tersenyum saat melihatnya.
Namun senyum itu tidak berlangsung lama saat sebuah suara tembakan yang sangat keras menggema di rumah tersebut.
DOR!
Tubuh sang eomma melengkung kebelakang karena rasa sakit saat timah panas tersebut menghujam jantungnya, sang eomma langsung jatuh kelantai.
Kyuhyun hanya bisa melihat sang eomma yang seolah menenangkan nya walaupun di tengah-tengah rasa sakit yang di rasakan sang eomma. Dia tidak tahu harus berbuat apa, apa ini mimpi? Tapi kenapa terasa begitu nyata?
Seorang yang memakai jaket tebal, masker dan juga topi hitam di kepalanya, tiba-tiba memasuki rumah tersebut dengan tenang sambil membawa pistol di tangannya.
Namja tersebut lalu berdiri didepan Hanna yang terlihat sangat kesakitan karena peluru yang bersarang di dadanya .
''Kau... Pantas mati Hanna-ya..'' setelah mengucapkan kata tersebut namja misterius itu mengarahkan senjatanya tepat pada dada kiri Hanna.
''Kau...boleh.. me membunuh ku... ta- pi to-long se..la...mat...kan.. nae aegya..'' namja tersebut menyeringai dibalik masker nya.
''Tentu saja.'' setelah mengucapkan kata tersebut namja tersebut langsung menembakan pistolnya pada Hanna sampai beberapa kali. Padahal jelas-jelas Hanna sudah meninggal hanya karena satu tembakan saja.
''Anak itu, akan menjadi mainan ku selanjutnya.'' lanjutnya pada Hanna yang terlihat sudah tidak bernyawa.
Namja tersebut lalu menghampiri Kyuhyun yang terlihat berdiri kaku melihat eomma nya yang berlumuran darah di seluruh tubuhnya.
''Kau... Jangan khawatir neo eomma hanya tertidur.. Hahaha.'' ucapnya pada Kyuhyun.
Setelah kepergian namja tersebut, Kyuhyun menuruni anak tangga dengan sangat pelan dan menghampiri eomma nya.
Gaun hitam yang dipakai eomma nya terlihat semakin pekat dengan darah yang mengelilingi seluruh tubuhnya. Lantai marmer berwarna putih tersebut menjadi saksi bisu dari darah yang terus mengalir.
Kyuhyun memandang eomma nya dengan heran namun airmata nya turun begitu saja saat melihat keadaan sang eomma. Dia lalu memeluk tubuh sang eomma dengan erat.
''EOMMA...!''
Kyuhyun langsung membuka matanya dan mencoba menetralkan nafasnya yang memburu.
'mimpi itu, sekarang semakin jelas.'
Kyuhyun memandang seluruh ruangan yang sedang di tempatinya. Dan juga aroma yang sangat khas,
'ini pasti Rumah sakit.' batin Kyuhyun sambil tetap memandang langit-langit kamar tersebut.
'Eh tapi kenapa aku bisa berada disini?' gumamnya dalam hati.
Dia lalu memalingkan wajahnya kearah samping dan menemukan seseorang yang memandang nya dengan mata yang sangat bersinar.
''Nuguseyo?'' ucapnya pada namja tersebut.
.
.
Donghae masih memegang tangan Kyuhyun erat, dia tidak berhenti memohon pada Tuhan agar adiknya segera sadar dan tidak koma.
Donghae langsung menegakan tubuhnya saat melihat jari-jari Kyuhyun bergerak sedikit demi sedikit, mata Kyuhyun yang tertutup terlihat bergerak gelisah.
Kyuhyun terbangun, dan langsung memandang heran ruangan yang sedang di tempatinya. dia pasti sangat bingung, adiknya tersebut lalu memandangnya heran.
''Nuguseyo?''
Donghae membelalakan matanya saat mendengar Kyuhyun bertanya siapa dirinya. Dia lalu memegang kedua tangan Kyuhyun erat.
''Kyuhyunie... Kau tidak mengingat ku?'' Kyuhyun langsung melepaskan tangannya yang di pegang Donghae dan memandang Donghae tajam.
''Aku bahkan bertanya siapa dirimu.'' Kyuhyun menaikan nada bicaranya pada Donghae membuat Donghae mundur beberapa langkah karena kaget.
''Baiklah, aku akan memanggil Uisa untuk mu.'' ucap Donghae.
.
.
''Apa?!''
''Kyuhyun mengalami amnesia?!''
mereka semua hanya bisa pasrah saat mendengar penjelasan dari seorang Uisa yang menangani Kyuhyun.
''Aku pikir itu mungkin saja. ini bisa terjadi karena benturan keras di kepalanya. Semoga ini tidak berlangsung lama, dan dia bisa segera mendapatkan ingatan nya.'' jelas dokter tersebut.
''Ah.. Tadi dia mengatakan ingin bertemu dengan eomma nya.'' Inha mengernyitkan dahinya. Kyuhyun mengalami amnesia tapi mengingatnya?
''Dia mengingat ku?'' Uisa tersebut menganggukan kepalanya.
.
.
Kyuhyun sedang memainkan jari-jari tangan nya, saat mendengar suara pintu terbuka di ruangannya. dia lalu membulatkan matanya lucu dan tersenyum begitu cerah saat melihat wanita yang sangat dicintainya memandang nya dengan senyuman yang sudah sangat dia rindukan.
''Eomma...'' Inha setengah berlari dan menghampiri Kyuhyun lalu mendudukan dirinya di ranjang Kyuhyun.
''Kau... mengingat eomma?'' Kyuhyun menganggukan kepalanya lucu membuat Inha tersenyum dan langsung mengusap kepala Kyuhyun yang masih di balut perban.
''Tentu saja, mana mungkin aku melupakan eomma.'' Kyuhyun lalu memeluk sang eomma sangat erat, dan mencium aroma parfum yang selalu membuatnya tenang.
''Eomma... Bogoshipoeyo..''
Inha tersenyum dia memeluk pelukan tersebut lebih erat dan mengecup puncak kepala Kyuhyun.
''Nado. Saranghae Kyuhyunie.''
''Nado saranghae eomma..'' dia semakin memeluk eomma nya lebih erat. Mimpi buruk yang sering di alami nya benar-benar menyeramkan. Ternyata wanita yang selalu ada dalam mimpi nya adalah eomma.
Dia tidak mau eomma nya menjadi seperti dalam mimpi buruk yang selalu muncul dan mengganggu tidurnya. Tidak, dia tidak akan pernah membiarkan eomma nya meninggal dengan cara tersebut.
''Eoh... Kyuhyunie, kau tidak mau bertemu dengan hyungdeul dan juga appa mu?'' Kyuhyun langsung melepaskan pelukannya dan memandang sang eomma dengan heran sambil memiringkan kepalanya.
''Hyungdeul... Appa? Bukankah kita hanya tinggal berdua?''
Inha menggeleng ''Aniya.. Kyuhyunie punya hyungdeul dan juga appa yang selalu menjaga Kyuhyunie''
Kyuhyun mengerutkan dahinya lalu kembali membulatkan matanya seolah tidak percaya dengan pernyataan sang eomma. ''Jinja?!''
''Ah eomma akan memanggil mereka..'' Inha turun dari ranjang Kyuhyun dan setengah berlari kearah pintu.
''Tadaaaa...'' Inha tersenyum dan menunjuk beberapa orang namja yang masuk kedalam ruangan Kyuhyun.
''Eomma aku benar-benar tidak ingat kalau aku punya hyungdeul dan juga appa.''
''Kalau begitu Kyu harus belajar tentang mereka, eoh?'' Kyuhyun menggeleng sambil memeluk bantal nya dan memandang seluruh namja yang juga memandang, dengan bibir yang mengerucut. Dia memang terlihat imut, tapi kenapa harus saat menolak mereka.
''Aku hanya mau dengan eomma, bukan dengan orang asing.'' ucapan Kyuhyun cukup membuat seluruh namja yang berada disana sadar diri dengan posisi mereka selama ini. Pasti karena terlalu banyak mendapat kenangan buruk dengan mereka, Kyuhyun jadi melupakan mereka.
Leeteuk mencoba mendekati Kyuhyun dan mengusap kepala Kyuhyun dengan pelan.
''Tidak apa-apa kalau Kyunnie belum siap. Hyung dan appa bisa kembali lagi nanti, eoh?'' ucapnya lembut. Kyuhyun memandang Leeteuk tajam, dia lalu mengerucutkan mulutnya, dan menjatuhkan tangan Leeteuk dari kepalanya.
''Tidak usah! Kalian tidak usah kemari, Kyu hanya mau dengan eomma, titik!'' Inha menghela nafasnya.
''Sepertinya Kyuhyunie belum siap untuk mendekati kalian.''
.
.
.
Changmin keluar dari mobil appa nya, dia langsung berlari setelah keluar dari mobil tersebut.
''Ya Shim Changmin!'' Changmin menghentikan langkahnya saat dia melupakan sesuatu. Changmin kembali berlari kearah mobil sang appa.
''Mianhae appa. Semoga hari appa menyenangkan.'' ucap Changmin sambil tersenyum dan melambai pada sang appa yang mulai melajukan mobilnya menjauh.
Setengah berlari, Changmin langsung memasuki rumah sakit dan mencari ruangan Kyuhyun.
Semalam, dia mendengar kabar dari Kibum kalau Kyuhyun sudah sadar. Tapi, sahabatnya tersebut mengalami amnesia. Dia ingin memastikan apa sahabatnya juga melupakan nya.
Changmin membuka ruangan Kyuhyun cukup pelan, dan menemukan sahabatnya sedang memainkan ponselnya. Changmin lalu mendudukan dirinya di kursi yang berdekatan dengan ranjang Kyuhyun.
Kyuhyun sendiri terlihat acuh, saat Changmin memasuki ruangan nya.
''Kau mau berjalan-jalan?'' Kyuhyun yang sedang memainkan ponsel nya memandang Changmin dia lalu menganggukan kepalanya.
.
.
Changmin terus mendorong kursi roda yang diduduki Kyuhyun dengan pelan. Mereka tidak banyak berbicara sepanjang perjalanan. Hanya sesekali terdengar helaan nafas dari Kyuhyun atau Changmin.
Mereka lalu berhenti di sebuah taman dalam ruangan di tempat tersebut.
Kyuhyun tetap duduk dikursi rodanya, sementara Changmin mendudukan dirinya di bangku rekreasi yang berada di rumah sakit tersebut dan memandang taman dalam ruangan yang cukup luas.
Untuk beberapa saat mereka terdiam sampai Changmin menghela nafasnya.
''Kyuhyun-ah...'' Changmin memandang Kyuhyun yang seolah tidak peduli dan justru melihat bunga-bunga yang berada di taman tersebut.
''Kau mungkin bisa membohongi mereka semua. Tapi... Kau tidak akan pernah bisa berbohong padaku.'' Kyuhyun langsung memandang Changmin dan mencoba memasang wajah sepolos mungkin.
''Apa maksud mu?''
''Kyuhyun-ah, kau tidak amnesia kan?'' Kyuhyun membelalakan matanya dan langsung memutuskan kontak mata dengan Changmin dia lalu menundukan kepalanya dan menautkan jemarinya.
''Kyuhyun-ah... Lihat mataku.''
''Nde, Changmin-ah.'' jawab Kyuhyun tanpa melihat Changmin. Changmin lalu berjongkok dihadapan Kyuhyun dan memegang kedua tangan sahabatnya tersebut erat.
''Waeyo Kyuhyun-ah?'' Kyuhyun terus menundukan kepalanya namun airmata nya mulai menetes dan membasahi tangan Changmin yang sedang memegang tangannya.
''Aku hanya berusaha untuk melupakan mereka. Tapi, semakin aku berusaha melupakan mereka, aku semakin menyayangi mereka Changmin-ah. Aku tidak akan pernah bisa melupakan hyungdeul.. '' ucap Kyuhyun sambil sesekali terisak.
''Aku sangat menyayangi mereka Changmin-ah...'' Changmin ikut menangis saat melihat Kyuhyun menangis dengan keras.
''Itulah, bukankah kau pernah mengatakan diantara saudara, tidak akan pernah ada rasa saling membenci. Karena kalian punya ikatan yang sangat erat.'' tutur Changmin.
''Sekarang pun begitu. Meskipun kau berusaha menjauhi bahkan melupakan mereka, kau tidak akan pernah bisa melakukan nya Kyu. Kau mengerti maksud ku kan?'' Kyuhyun langsung menggeleng mendengar penjelasan dari Changmin.
''Tidak, aku tidak akan pernah mengerti Changmin-ah..''
''Kyuhyun-ah...''
.
.
Donghae mengepalkan kedua tangannya erat, saat mendengar percakapan antara Changmin dan Kyuhyun dari balik tembok. Kyuhyun berusaha melupakan mereka semua. Apa karena kami terlalu jahat?
Tidak mau terus mendengar semua kenyataan pahit dari dongsaeng nya Donghae berlalu dari sana dengan cepat. Mungkin saat ini, dia memang perlu menjauh dari Kyuhyun.
.
.
''Kau... Tahu apa yang kurasakan sekarang Changmin-ah?'' Changmin memandang Kyuhyun yang masih menangis.
''Aku merasa sangat berdosa pada mereka semua. Tapi, aku pikir ini adalah yang terbaik untuk kami. Setelah kejadian ini, aku benar-benar ingin menghilang dari kehidupan mereka.'' Changmin membelalakan matanya dan langsung menggelengkan kepalanya.
''Lalu apa yang akan kau lakukan setelah menghilang dari kehidupan mereka? Kau juga akan menghilang dari kehidupan ku?!''
''Kau... egois Kyu.''
.
.
''Apa,?!''
''Aku bilang, aku mau kita melakukan pertunjukan untuk Kyuhyun.'' ulang Donghae pada semua orang yang berada di ruangan tersebut. Mereka sedang merundingkan bagaimana cara mendekati Kyuhyun.
''Aku merasa ada yang tidak beres hyung...'' ucap Kibum pada Leeteuk.
Donghae lalu berdiri dihadapan hyung dongsaeng dan juga appa nya. Dia lalu menarikan lagu dari super junior yang berjudul sorry sorry.
''sorry sorry..''
''Apa yang akan kita lakukan Hae-ya?!'' Leeteuk memandang Donghae dengan shock saat melihat tarian Donghae.
''Donghae hyung benar-benar punya kemiripan dengan Kyuhyunie. Kyuhyunie pernah memaksa kami untuk menarikan lagu No Body. Sekarang Hae hyung...'' Kibum langsung menghentikan ucapannya melihat tatapan tajam dari hyung nya.
''Aku tidak mau melakukannya!'' ucap Leeteuk to the point.
''Aku juga..''
''appa terlalu tua untuk semua itu Hae-ya..''
''Aish! Ada apa dengan kalian semua? Ini untuk Kyuhyun agar dia mau memaafkan kita!'' Donghae memandang sebal seluruh keluarganya yang langsung menolak idenya.
''Hae hyung, bisakah kau menyingkir. Aku sedang menonton dan kau menghalangi ku!'' Donghae memandang Kibum dengan masam. sepertinya mulut sadis Kyuhyun menurun dari Kibum. Donghae lalu duduk dengan wajah yang menekuk, dan ikut melihat acara tv yang sedang disiarkan.
''Ini acara apa Kibum-ah?'' tanya Donghae setelah sebelumnya terdiam.
''Ini acara Family Wish.''
''Family Wish? Sepertinya aku tahu caranya..''
.
.
.
Kyuhyun sedang memainkan remote tv saat pintu kamar inap nya dibuka dengan sangat pelan.
''Kyuhyunie Anyeoooong..'' Kyuhyun melengos saat melihat Donghae menyapanya dengan sedikit berbisik dan senyum kekanakan yang menghiasi wajah childishnya.
''Hyung membeli jjangmyeon untuk mu.'' ucap Donghae sambil mengangkat bungkusan yang dibawa nya pada Kyuhyun.
''Aku sedang tidak ingin makan saat ini.'' ucap Kyuhyun acuh dan kembali memperhatikan acara televisi yang terlihat cukup membosankan untuk dirinya.
Untuk beberapa saat ruangan yang cukup luas tersebut hening dan hanya terdengar suara dari televisi yang sebenarnya tidak benar-benar di tonton oleh dua bersaudara ini.
''EHEM'' Kyuhyun memandang Donghae heran saat hyung ikannya tersebut berdehem cukup keras.
''Mianhae..'' ucap Donghae setelah beberapa saat hanya terdiam. Tidak tahu kenapa saat ini dia benar-benar gugup, mencoba mendekati adik sendiri ternyata lebih sulit daripada mencoba mendekati orang yang baru di kenalnya.
''Untuk apa?''
''Untuk semuanya.'' Kyuhyun menggedikan bahunya seolah tidak peduli dan kembali dengan kegiatan menontonnya.
Donghae ikut menonton acara yang sedang disiarkan di televisi tersebut dan tersenyum saat mengingat rencananya.
''Nanti, hyung juga akan tampil dalam acara tersebut..''
Kyuhyun yang sedang memperhatikan acara tersebut menautkan keningnya dan memandang Donghae heran.
''Wae?''
''Hyung ingin memperlihatkan sesuatu untuk nae namdongsaeng..'' ucap Donghae sambil mengucak rambut Kyuhyun.
''Cih!'' Kyuhyun berdecih sambil menghempaskan tangan Donghae yang mengucak rambutnya dengan pelan.
''Jangan bermimpi, butuh waktu yang lama untuk bisa tampil disebuah acara televisi.'' ucap Kyuhyun sadis, dan kembali memperhatikan acaranya.
Donghae tersenyum, biasanya dia akan langsung marah saat mendengar umpatan kasar dari Kyuhyun.
Dia lalu mendekati Kyuhyun ''Jika hyung berhasil, apa kau mau memaafkan kami?''
''Molla..'' jawab Kyuhyun.
''Acaranya akan muncul besok, kau harus menontonnya Kyuhyunie..''
.
.
Kyuhyun sedang memindahkan beberapa channel televisi di ruangan nya, dan menghentikan pergerakan tangannya memencet tombol remote, saat melihat Donghae benar-benar masuk dalam acara yang dia tonton kemarin.
''Jika aku diberikan kesempatan kedua, aku ingin mengatakan pada adik bungsu ku bahwa aku sangat menyayangi nya. Dan semua hal yang pernah dia dengar adalah bohong.'' ucap Donghae dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
''Kau bilang saat ini adikmu sedang dirawat?''
''Itu benar. Dia mengalami kecelakaan, sebelum kecelakaan tersebut kami bertengkar hebat. Aku benar-benar menyesal.'' ucap Donghae benar-benar terlihat menyesal.
''Rasanya benar-benar sakit saat tahu dia tidak mengingat ku. Jika dia sedang menonton acara ini. Aku ingin dia tahu bahwa dia sangat berarti.'' semua orang yang disana terlihat memberi semangat pada Donghae.
''Kalau begitu, ucapkanlah beberapa kata untuk adikmu.'' ucap pembawa acara tersebut.
''Nae namdongsaeng, uri magnae.. Aku sangat menyayangi mu. Lebih dari apapun di dunia ini.''
''Jadi, apa permohanan mu di acara ini?'' tanya mc di acara tersebut.
Donghae tersenyum, dia lalu memandang kearah kamera seolah dia sedang memandang Kyuhyun. ''Aku ingin nae namdongsaeng. Kyuhyunie kembali mengingat ku, kami semua.''
''Kyuhyun-ssi... Apa kau melihatnya ''
.
.
Kyuhyun yang sedang menonton acara tersebut tanpa sadar meneteskan airmata nya.
''Hae hyung.. Lagi-lagi kau membuat ku menangis!'' ucap Kyuhyun kesal sambil menghapus airmatanya yang tidak mau berhenti membasahi pipinya.
Suara pintu terbuka membuat Kyuhyun langsung memandang siapa orang yang mengunjunginya.
Kyuhyun membelalakan matanya saat melihat Donghae dan langsung menghapus airmata nya. Bagaimana kalau mereka semu tahu kalau dia hanya pura-pura lupa ingatan?!
''Acara itu direkam beberapa jam sebelum di tayangkan. Kyuhyun-ah kau menyukainya?'' Kyuhyun tidak menjawab pertanyaan Donghae dan tetap memandang acara tersebut dengan diam.
Donghae lalu mendekati Kyuhyun yang masih terdiam dan memeluknya dari sisi kiri adiknya.
''Hyung, benar-benar menyayangi mu Kyuhyunie.'' Kyuhyun kembali menangis saat mendengar langsung kata yang selama ini dia harapkan dari hyung ikannya tersebut.
''Donghae hyung...'' Donghae ikut menangis saat mendengar Kyuhyun menangis. Dia lalu mengusap kepala Kyuhyun dengan lembut.
Donghae menaiki ranjang Kyuhyun dan memeluk tubuh Kyuhyun erat. Sambil terus mengusap rambut Kyuhyun.
Mereka berdua berbaring diranjang rumah sakit yang sebenarnya cukup sempit untuk mereka. Kyuhyun tidak berhenti memandang Donghae, sementara Donghae terus mengusap rambut Kyuhyun dan berbaring menyamping sambil menjadikan tangan kanannya sebagai tumpuan tubuhnya.
''Bagaimana mungkin bukankah aku adalah anak ha..'' Donghae langsung membekap mulut Kyuhyun saat anak itu akan mengucapkan kata yang menurutnya sangat kasar.
''Jangan berkata seperti itu Kyu, kau adalah anak dari Cho Younghwan appa.'' Kyuhyun membulatkan matanya dan memandang Donghae seolah meminta penjelasan dari hyung nya.
''Lalu, yang waktu itu aku dengar dari appa?'' tanya Kyuhyun penasaran.
''Itu semua bohong. Bukankah hyung sudah menjelaskan nya di acara tadi?''
''Sungguh?'' Donghae mengangguk, dia lalu merebahkan kepala Kyuhyun di dada bidangnya.
''Tentu saja! Kau adalah anak bungsu keluarga Cho.''
Kyuhyun tersenyum dalam pelukan Donghae
''Rasanya aneh sekali melihat Hae hyung seperti ini. Biasanya hyung akan marah-marah padaku.'' Donghae mengangguk dan kembali tersenyum.
''Eoh, ini memang sangat aneh. Aku mengesampingkan rasa ego dan maluku untuk nae namdongsaeng.'' Kyuhyun lagi-lagi tersenyum mendengar kata-kata lembut yang di ucapkan kakak nya.
''Kyuhyunie cepatlah sembuh, nanti hyung akan membawamu berwisata ke tempat yang sangat mengagumkan di Seoul.''
''Jinja, Jeongmal?!'' Donghae mengangguk membuat Kyuhyun langsung memeluk nya erat.
''Donghae hyung. Aku, benar-benar menyayangi mu.''
.
.
''Jadi itu yang selama ini terjadi pada Kyuhyunie?'' Inha mengangguk menjawab pertanyaan dari putra sulung keluarga Cho. Cho Jungsoo.
Mereka bertiga Leeteuk, Kibum dan Inha memang sedang membicarakan Kyuhyun di sebuah restoran.
''Pantas saja dia phobia gelap dan juga piano. Teuki hyung kita benar-benar tidak berguna.'' ucap Kibum lemas.
''Imo selama ini Kyuhyunie sangat menderita, dan kami sebagai hyungdeul justru membenci nya karena alasan sepele.'' Inha tersenyum dan mengusap tangan Leeteuk.
''Ini kesempatan kalian semua untuk memperbaiki hubungan kalian dengan Kyuhyunie. Jaga dia sebaik mungkin.'' ucap Inha pada kedua keponakan nya.
''Ah! Imo ingin mengunjungi Kyuhyun, anak itu pasti sedang mengomel karena imo terlalu lama meninggalkan nya.'' Leeteuk dan Kibum tersenyum. Mereka bertiga lalu bangkit dari kursi.
''Imo sebaiknya kita berangkat bersama saja.''
.
.
''Eoh... Hae-ah kau benar-benar berhasil membuatnya mau mendekati mu.'' Leeteuk
membulatkan matanya saat melihat kedekatan Donghae dan Kyuhyun.
''Shuuuut..'' Donghae menempelkan telunjuknya di bibirnya dan mengisyaratkan untuk diam pada Leeteuk.
Leeteuk dan Kibum lalu mendekati ranjang Kyuhyun dan tersenyum saat melihat dongsaeng kecil mereka.
Inha memandang kedekatan mereka semua dengan tersenyum, tanpa sadar dia memundurkan dirinya dari ruangan tersebut. Tidak ingin mengganggu momen antara hyung dan juga dongsaeng.
.
.
Inha mendudukan dirinya di salah satu kursi yang berada di Rumah sakit tersebut.
''Kenapa tidak masuk?'' Inha mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk, dan menemukan Younghwan membawa dua cup coffee panas. Dan mengangsurkan satu kopi hangat untuknya.
''Kyuhyunie sedang tidur dan sekarang sedang di temani hyungdeul nya. Aku hanya tidak ingin mengganggu.'' Tn. Cho melepaskan mantel nya dan menyampirkan nya di tubuh Inha.
Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam. Melihat kesibukan di Rumah sakit tersebut.
''Suatu saat nanti, saat Kyuhyunie sudah sembuh. Apa aku harus pergi?'' Tn. Cho langsung memandang Inha dengan kaget.
dia lalu memegang tangan Inha erat.
''Jebbal hajimara..'' ucap Tn. Cho sambil menggeleng.
''Inha-ya menikahlah dengan ku. Dan jadilah eomma Kyuhyun yang sesungguhnya.'' Inha langsung membulatkan matanya mendengar penuturan dari kakak iparnya.
''Oppa..''
.
.
.
''Waeyo?'' Kibum bertanya pada Kyuhyun yang sejak tadi tidak bisa diam dan mengumpat panjang pendek.
''Kibum hyung aku bosan sekali, kenapa sejak tadi hyung hanya membaca buku?!''
Sejak kejadian kemarin, bukan hanya eomma yang menemaninya di rumah sakit. Hyungdeul dan kadang appa nya sering menemaninya bergantian. Meskipun pada awalnya dia agak malu, karena ketahuan membohongi mereka semua.
''Apa Hae hyung tidak bisa datang hari ini?'' Kibum tersenyum melihat Kyuhyun yang terlihat sangat merindukan Donghae.
''Tidak bisa, dia sedang menjalani gladi resik untuk pertunjukan seni nya.'' Kyuhyun mengerucutkan mulutnya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
''Kibum hyung benar-benar menyebalkan!'' Kibum tersenyum dia lalu mengacak rambut Kyuhyun.
''Ah! Hyung ingin ke toilet dulu. Baik-baiklah disini.'' Kyuhyun mengangguk.
Drrrt..
Kyuhyun mengambil ponsel nya yang berada di atas nakas. Dan mengangkat panggilan tersebut.
''Yeobeoseo?''
''Cho Donghae..'' Kyuhyun membulatkan matanya saat mendengar suara yang dia rasa dia pernah mendengarnya. Itu adalah suara yang dia dengar sebelum kecelakaan yang dialaminya.
Kyuhyun langsung menurunkan tubuhnya dan memaksakan kakinya yang masih belum sembuh untuk berjalan.
''Aku mohon jangan menyakiti Hae hyung!'' Kyuhyun mencoba memohon karena ternyata sambungan panggilan tersebut belum berakhir.
''Kau... sudah terlambat. Hyung mu, mungkin dia sudah mati.'' Kyuhyun langsung terjatuh karena kakinya yang sangat sakit dan pernyataan orang misterius yang menghubunginya tersebut.
''ANDWAEEE...''
.
TBC
Apa yang akan terjadi pada Donghae?
Ternyata yang selama ini yang ada di mimpi Kyu adalah eomma nya...Kasian Kyu
Buat semua reader yang mau review. Tulisin juga momen yang cukup mengharukan di ff ini ya... Pleeaaasee :)
Family Wish cuma khayalan saya ya..
Terima kasih buat semua yg review atau reader baru ff ini.. Selamat datang.
Maaf gk bisa bls satu-satu
dan untuk semuanya.. Jangan panggil aku author, cukup asma / chingu atau eonnie klw emang aku lbh tua aku ( 97 line )
Gomawoyo untuk semuanya...
