DanMachi milik Fujino Omori

Highschool DxD milik Ichei Ishibumi

Tittle of Adventure milik Tessar Wahyudi

Chapter 7

Yuki sang Ice Dancer

"Baiklah, mari kita tunda dulu acara sedih-sedihannya. sekarang aku punya urusan dengan kalian, ayo mulai permainannya!" Serunya.

Yuuki menarik pedang Yukianesa dari sarungnya, seketika uap es muncul di sekitarnya dan suhu udara berubah dingin.

"Pedang Yukianesa ini adalah peninggalan orang tuaku, kebetulan hanya aku yang tersisa dari klanku," Ucapnya.

Yuuki menebas udara dengan pedang Yukianesa, lalu siluet biru meluncur mengarah mereka berlima. Yudi mengetuk tongkatnya sekali, membuat tanah bergetar dan membentuk perisai untuk berlindung dari serangan itu.

'Keh, bertemu dengannya disaat seperti ini. Aku harap kalian tidak terlambat,' Batin Yudi.

"Oh! Bertarung sambil mempertahankan diri, itu bukan gayamu!" Provokasi Yuuki.

Yudi menajamkan pandangan, segera dia mengetuk lagi tongkatnya. Tembok tanah yang menjadi perisai roboh, menampakkan lapisan es berbentuk gelombang yang terbelah dari serangan Yuuki.

"Mu-mustahil, inikah kekuatan dari sebuah [Noble Phantasm]," ujar Everyn dengan mata bergetar.

"[Noble Phantasm,] apa itu?" Tanya Arif polos.

Matsuda menepuk dahi sambil mendecih, saat Arif bertanya apa yang baru saja diucapkan oleh Everyn.

"Ya ampun, kau bahkan tidak tahu apa itu [Noble Phantasm]?"Keluhnya.

"[Noble Phantasm] adalah sebuah artefak yang kekuatannya diatas [sacred gear] dan di bawah sebuah [Longinus] dan [Cloth]. Aku paling sebal jika harus menjelaskan detailnya, jadi itu saja yang bisa ku terangkan. sebenarnya masih ada satu lagi yang sudah dilupakan, namun hal itu tabu untuk dibahas." Jelas Yudi.

"Tunggu! Bisa kau ulangi penjelasanmu itu, Yudi!" Respon Arif dengan wajah tanpa dosa.

"Astaga! Bisa dibilang kalau benda yang dipegang oleh orang itu sangat berbahaya, jadi mengertilah!" Sembur Motohama sambil berteriak kesal.

"Sebenarnya, ada lima kekuatan yang diturunkan oleh para dewa lebih jelasnya adalah sebuah [kekuatan terkubur], lalu [Longinus] kemudian [Cloth] disusul [Noble Phantasm] dan terakhir [Sacred Gear]. Tidak ada aturan khusus yang bisa mengukur kekuatan benda yang kusebutkan tadi. Karena kekuatan mereka bergantung juga dengan kedekatan dan keterampilan pemilik dari benda tersebut."

Sampai sini tidak ada yang memotong atau bertanya, lalu Yudi melanjutkan dengan wajah serius.

"Kecuali satu kekuatan yang diturunkan langsung oleh [Namo Naki Kami], karena dibalik kekuatan yang Dia berikan terdapat sebuah misteri yang mengerikan. Hal itu membuat Empat Raja Dewa Universe sepakat untuk mengubur kekuatan tersebut. Salah satunya adalah mengutus anak mereka turun ke dunia, untuk membuat manusia melupakan kekuatan yang diberikan oleh [Namo Naki Kami]"

(A/N [Namo Naki Kami] jika diterjemahkan adalah Dewa tak Bernama, bisa dibilang dia inilah pemberi kekuatan pertama serta penyebab dunia mulai goyah dan terjadi peperangan. Untuk satu ini mari kita simpan dulu, karena akan muncul kekuatan apa yang terlupakan itu nanti seiring cerita.)

"Serta memberikan beragam kekuatan seperti sebuah [Cloth], [Noble Phantasm], [Longinus] dan [Sacred Gear]. Jarak antara satu penurunan kekuatan itu adalah 500 tahun, bisa dibilang sudah banyak yang terjadi selama itu." ucapnya mengakhiri sejarah Noble Phantasm, serta seluruh artefak di dunia ini.

"Eh, ternyata begitu. Banyak juga hal yang harus kucerna," Ujar Arif seusai mendengar penjelasan panjang Yudi

"Heh, aku merasa heran kenapa Nonaku tertarik dengan orang konyol seperti dirimu, Arif Rahman!" Tukasnya dengan mata mendelik kepada Arif.

Mulut Arif terbuka dan matanya melebar, mendengar apa yang baru diucapkan oleh Yuuki. Dia masih belum paham dengan penjelaaan kekuatan yang diucapkan Yudi, kini harus mencerna baik-baik ucapan Amakusa Yuuki.

"Heh! Hari ini kepalaku benar-bener pusing, tapi ada satu hal yang ingin kuperjelas dan kutanyakan padamu…." Ucap Arif dengan dingin.

"Hoh~ memangnya apa itu?" Sambut Yuuki.

Ekpresi Arif berubah drastis bahkan Everyn melebarkan mata melihatnya, Matsuda dan Motohama meneguk liurnya sedangkan Yudi tetap diam mengamati.

"Kenapa kau membunuh Yuna?" Tanya Arif tanpa emosi

"Eh~ beri tahu atau tidak ya, cobalah untuk membuatku puas baru aku akan memberitahunya." Jawab Yuuki dengan riang.

Bukan sebuah respon balik, tapi sebuah serangan melaju kencang ke arahnya. Beruntung dia bisa menghalang serangan Arif barusan, Yuuki menggertakan gigi saat menghadang serangan itu.

"Boleh juga seleramu, kalau begitu." Ketusnya.

Yuuki membalas dengan menebaskan pedangnya, meskipun Arif menggunakan Armor. Tapi dengan mudah dia terdorong oleh ayunan lembut Yuuki.

"Bagaimana bisa Yuuki mendorong Arif dengan mudah," kaget Motohama.

"Ini gila!" Sambung Matsuda.

Arif meluncur cepat setelah menerima serangan Yuuki dan terseret di tanah, kemudian berhenti karena menahan dengan menancapkan pedang besar miliknya.

Tak mau berlama-lama Arif maju kembali, berbekal Amarah yang meluap. Dia menggenggam erat pedangnya dan menyerang Yuuki kembali.

"Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Gertaknya dengan raut mengeras.

Yuuki awalnya santai menghalau serangan Arif, lama-kelamaan serangannya makin kuat. membuat dia mengerutkan kening, karena tidak mau mengambil resiko. Dia hembaskan Arif dengan satu ayunan kuat untuk membuatnya terpental, kini seluruh tubuh Arif berubah menjadi bongkahan es dengan tersisa kepala saja.

"Arif!"

Meskipun keadaannya tak berdaya Arif masih menatap tajam lawan di depannya, seolah tidak akan membiarkannya lolos. melihat hal itu Yudi berkomentar.

"Bodoh, kau akan mati jika melawannya. Keadaanmu sekarang saja bisa dianggap beruntung. Bahkan, dia tidak sungguh-sungguh melawanmu."

"Arif! Apa yang lakukan? Jangan lakukan hal itu lagi!" tegur Everyn.

Apa yang dikatakan oleh kedua orang itu ada benarnya, kekuatan Yuuki memang diatas angin. Wajar saja, Petualang pemula melawan Petualang menengah, ini semacam adegan bunuh diri.

'Aku sepenuhnya sadar dengan apa yang diucapkan oleh Everyn dan Yudi. Tapi, wanita bernama Yuuki itu sudah merenggut orang yang mempercayaiku.' Monolognya dalam hati.

"Heh~ bukankanh Petualang adalah orang bodoh yang melemparkan nyawanya untuk dibunuh dan membunuh, aku memang lemah namun saat ini ada orang yang mempercayaiku. Aku yang lemah dan tak berdaya, bahkan para dewa dan dewi tidak mau merekrutku menjadi bagian dari familia mereka. Lalu tiba-tiba seorang gadis kecil, mempercayakanku untuk menyelamatkan desanya. Mungkin ini konyol, tapi aku bersumpah untuk menjawabnya." Ucapnya dengan mata membara.

"Menjawab apa?" Beo Everyn.

"Perasaan yang dititipkan oleh Yuna. Meskipun dia telah membohongi kita, tapi air matanya tidak. Dia benar-benar memohon kepada kita, untuk membebaskan desanya dari orang yang bernama Yuuki itu." Tambahnya.

Ditengah keterkejutan karena fakta Arif dikalahkan dengan mudah lalu mendengar apa yang baru diucapkan Arif itu, Motohama dan Matsuda sama menggertakan gigi sambil memandang Yuuki. Lalu mereka berpikir ulang kalau rencana mereka hanya berlibur, tapi malah menemukan monster di perjalanan.

"Konyol sekali, tadinya aku pikir lawan kita adalah ras pengerat," ujar Motohama tiba-tiba.

"Ya kau benar, sial aku bahkan belum mengucapkan sesuatu pada seorang gadis!" balas Matsuda.

"Heh! Siapa yang peduli dengan itu, baka!" Sembur Motohama.

"Urusai! Uruslah urusanmu sendiri!" Elak Matsuda.

Keduanya saling menatap dan tiba-tiba tertawa bersama, kemudian menggenggam erat senjata masing-masing. Lalu menoleh ke arah Arif dengan mata penuh tekad.

"Heh! Seorang bocah yang ceroboh, dari dulu kau tidak pernah berubah!" Ucap Matsuda.

"Arif! Kami akan mengulur waktu, Yudi! Everyn! tolong cepat bawa dia pergi dari sini!" Tambah Motohama.

Matsuda dan Motohama melaju ke arah Yuuki setelah mengucapkan hal itu. Mata Everyn dan Arif melebar, menyadari kalau mereka berdua mencoba menyerang Yuuki untuk memberikan waktu.

"Motohama! Matsuda! Apa yang kalian lakukan?" Teriak Arif.

Dia ingin menyusul dan menghentikan Mereka, tapi tubuhnya terbungkus es. Hanya gertakan dan cemohan pada diri sendirilah yang dilontarkan karena ketidak berdayaannya.

"Kuso! Kenapa aku selalu tak berguna di saat seperti ini!" Rutuknya.

"Arif! jangan berkata seperti itu, sekarang kita harus pergi dari sini!" Everyn mencoba menenangkan Arif.

"Sial!" Ketusnya.

Yudi masih memandang wajah Arif yang berisi amarah, karena tidak bisa mencegah kedua temannya pergi menyerang Yuuki. Kemudian dia mengingat sesuatu yang diucapkan oleh Guts sang [Black Swordsman], sebelum dia kembali ke Elysium.

(A/N Elysium sebenarnya mengacu pada tempat istrahat dari dewa Yunani, karena surga atau Kahyangan di cerita ini berbentuk fisik dan berada dilangit. Anggap saja, Elysium adalah tempat istirahat bagi mereka yang telah wafat)

'Cih~ merepotkan saja! Kalau bukan permintaan terakhirmu, aku tidak mau menggunakan teknik leluhurku.' umpatnya dalam hati

Yudi mendekati Arif yang masih memberontak, disampingnya Everyn mencoba menenangkan. kemudian Yudi menyentuh kepala Arif, setelah itu mata Arif memejam tak sadarkan diri.

"Apa yang kau lakukan pada Arif?" Tanya Everyn.

"Tenanglah, dia hanya pergi sebentar. Aku menggunakan sihir leluhurku, yaitu [Mind Transfer]." Jawab Yudi tanpa menoleh.

"Tapi untuk apa?" Tanya Everyn lagi.

"Kau akan segera mengetahui, jaga dia baik-baik!"

Sementara itu, Motohama dan Matsuda mengertakan gigi. Sambil terus mengayunkan senjata masing-masing, untuk menjatuhkan lawan di depan mereka.

'Kuso! Serangan kami tidak ada yang mengenainya.' Rutuk Motohama.

'Gerakannya terlalu cepat,' kesal Matsuda.

Yuuki menaikan sudut bibir karena serangan lawannya mudah untuk dihindari. Baginya, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat orang lain berputus asa saat menyerangnya.

"Hora! Apa hanya segini saja kekuatan kalian." Ucapnya sambil mengayunkan pedang, membuat kedua lawannya menjaga jarak.

setiap dia mengayunkan pedang pasti tercipta lintasan es, bila terkena itu maka kau akan membeku.

"Kuso!" Geram Matsuda.

"Onore!" Umpat Motohama.

Yuuki tiba-tiba melesat berniat mengakhiri permainan dengan Motohama dan Matsuda, karena sudah terlalu lama dan mulai membuatnya bosan

"Kalau begitu, mari kita tutup tirai untuk kalian beruda!" Ucapnya riang.

Yuuki menggerakan pedangnya dengan cepat, menciptakan siluet biru yang menerjang lawannya. Motohama dan Matsuda terpaku karena tidak bisa menghindar, sebab stamina mereka habis akibat dipermainkan Yuuki.

"Inilah akhirnya!" Muram Motohama.

"Bakana!" Kelu Matsuda.

"Setidaknya, kalian bisa bangga karena mati ditanganku!" Umbar Yuuki.

Siluet biru itu menghujani disusul kepulan debu menelan mereka, membuat Everyn tidak tahu nasib Motohama dan Matsuda.

"Motohama! Matsuda!" Teriaknya.

Tak ada raut kepuasan di wajah Yuuki yang ada hanyalah tatapan tajam, mengarah ke Yudi yang kini melangkah ke depan dirinya.

"Hoh~ ternyata kau memutuskan bergabung setelah mereka menari, benar-benar orang licik!"

"Terima kasih atas pujiannya! Aku merasa tersanjung, sekarang mari lanjutkan denganku!"

Saat itu Everyn tidak mengerti apa tindakan Yudi, setelah membuat Arif tak sadarkan diri tiba-tiba dia melangkah menuju Yuuki tanpa menjelaskan apapun. Lalu sorot matanya melebar saat melihat Motohama dan Matsuda yang pingsan, diantara lapisan es yang baru dilancarkan Yuuki tapi mereka terlindung oleh dinding tanah.

'Souka, jadi sebelum serangan itu sempat mengenai mereka. Yudi membuat dinding penghalang agar mereka selamat. Itu membuatku bersyukur, tapi apa-apaan sifat dinginnya itu. Membuatku kesal saja, Dia juga membuat Arif tidak sadarkan diri seperti ini,' batinnya sambil menatap Arif dengan menggigit ujung bibir.

"Kali ini akan menarik, aku harus serius dari awal kalau lawannya adalah kau!"

Aura biru muncul di sekitar Yuuki membuat tanah disekitarnya bergetar, menghasilkan hembusan es bercampur debu. Suhu disekitar dirinya juga meningkat pesat bahkan tanahnya terselimuti salju.

'Aura yang sama, saat terakhir aku bertemu dengannya. Hm!'

Ledakan energi keluar dari tubuh Yudi, memunculkan api merah menyala yang mengitari tubuhnya. Tak lupa hawa panas merambat memenuhi udara sekitar.

'Eh~ Yudi memiliki sihir api juga, kupikir dia hanya bisa menggunakan sihir tanah saja. Ternyata, dia menguasai sihir api juga.' Ucap Everyn dalam hati karena kaget, mengetahui kemampuan anggota partynya itu.

"Hoh! Es dan api, mari kita adu siapa yang menang!" Ucap Yuuki.

"Heh! Aku hanya mengulur waktu untuk seseorang, tapi baiklah jika itu maumu."

'Mengulur waktu, apa maksudnya?' Batin Yuuki dan Everyn.

"Terserahlah!"

Yuuki menggerakan pedangnya dan sekejap tercipta es berbentuk jarum berdiameter lima centimerter, kemudian melesat ke arah Yudi.

Everyn wajahnya menegang. Pasalnya, untuk bisa mengeluarkan sihir membutuhkan waktu karena harus merapal mantra. walau ada beberapa kasus, sebuah sihir tidak perlu membaca mantra.

'Yuuki bahkan tidak merapal mantra, berarti kemampuan menciptakan es itu berasal dari pedang Yukianesa miliknya. [Noble Phantasm] seberapa besar kekuatan benda itu.' Batin Everyn.

Menanggapi serangan itu Yudi tak bergeming dia mengarahkan telapak tangannya, lalu api disekitar bergulung di depan dirinya membentuk perisai. serangan Yuuki tadi tak membahayakannya, sebab jarum es itu mencair sebelum mengenainya.

Melihat kejadian itu membuat sang empu serangan kesal, karena serangannya di tangkis dengan mudah. kali ini dengan cepat, dia melaju sambil menebas berkali-kali pedang Yukianesa miliknya.

"Haha! Serangan tadi hanya pemanasan, sekarang mari masuk momen spesialnya!" Ujar Yuuki dengan wajah senang

Setiap kali kakinya menginjak tanah, es muncul di tempat berpijak itu dan hawa dingin menyeruak. Siluet es berbentuk tebasan melesat ke arah Yudi, saat sebuah tebasan dilakukan membuatnya menggertakan gigi melihat aksi Yuuki.

'Aku berharap, kau menyerangku seperti tadi saja,' Umpatnya.

Apa boleh buat jarak dirinya dengan Yuuki menipis. Yudi menggerakan tubuhya untuk menghindar, dari tebasan es yang tidak bisa di tahan oleh api miliknya. Ke kanan dan ke kiri serta menunduk, Yudi bersikeras bergerak menghindari semua serangan Yuuki.

"Cih seperti dugaanku, kau bisa mengimbangi. Kalau begitu, aku akan menggunakannya!" Kesal Yuuki sambil mempercepat tebasan dengan suatu pola.

Makin banyak siluet tebasan es yang menghampiri, membuatnya harus berusaha lebih keras lagi untuk menghindar. Namun, seberapa keras dia berusaha, tetap saja serangan itu menunjukan hasil. Ada beberapa bagian pakaian dan tubuhnya tergores, serta mengeluarkan darah.

'Sial, kalau terus begini. Hanya tinggal waktu saja, sampai aku benar benar tercabik.' Umpatnya.

"Hahaha! Apa kau suka dengan teknik baruku namanya [Crazy Ice Slash], aku melatihnya karena tidak bisa menggoresmu di pertemuan pertama kita. Padahal kau hanya pengguna tongkat, tapi kenapa bisa menghindari seranganku!" Ucapnya panjang lebar, sembari terus melayangkan serangan.

Everyn menggertakan gigi sambil menggengam erat, menyaksikan pertarungan yang dirasa berat sebelah itu. Tapi bagaimana pun, dirinya sadar kalau hanya akan jadi beban jika ikut campur.

"Yudi!" Lirihnya.

Ditengah sengitnya keadaan karena terdesak Yudi malah tersenyum, lalu api menggulung cepat dan mengeluarkan tekanan kuat disekitar tubuhnya. Membuat serangan yang mengarahnya lenyap tak berbekas. Setelah itu, kubah api yang berputar itu perlahan terbuka. Menampilkan Yudi yang tersenyum, sambil menatap Yuuki yang terkejut.

"Heh~ [Crazy Ice Slash] akan ku ingat itu dengan baik, kalau begitu ingat pula sihir yang baru kugunakan namanya [Fire Rotation]." Balas Yudi.

Baik Everyn dan Yuuki sama melebarkan mata, karena serangan tadi lenyap dalam seketika. Yuuki bahkan menatap horor, melihat kemampuan lawan di depannya.

"Ba-bagaimana bisa, aku bahkan sudah berlatih keras untuk menguasainya." Ujar Yuuki frustasi.

"Jarak antara diriku dan dirimu seperti sebuah jurang, bukan bermaksud meninggikan diri. Tapi, aku sudah meneguk asam garam dunia para petualang."

(A/N asam garam adalah istilah orang tua jaman dulu untuk menggambarkan, kalau dia banyak pengalaman hidup atau lebih mengetahui sesuatu yang ingin dipelajari seseorang.)

Bisa dibilang itu benar karena usia para Elf rata-rata sangat tinggi apalagi High Elf, umumnya mereka memiliki keabadian. Wajar saja jika mereka berpengalaman dalam dunia petualang, ditambah kemampuan dan kecerdasan mereka sangat tinggi.

"Masa bodoh dengan itu semua, aku tidak peduli haaah!"

Yuuki menyerang Yudi dengan Liar, pedang Yukianesa milik Yuuki terayun dan sedikit lagi mengenai Yudi. Lalu tiba-tiba sebuah pedang raksasa menepis serangan itu.

"Sepertinya, kau sudah bersenang-senang ya!" Ucap seseorang mengenakan Armor hitam yang tak lain adalah Arif

Everyn mengerjap beberapa kali lalu mengusap mata, kemudian menengok ke samping dan melihat hanya bongkahan es yang tersisa.

"Arif!" Ucapnya senang.

"Apa yang kau bicarakan dengannya?' Tanya Yudi.

"Tidak banyak, hanya hal kecil!" jawab Arif.

"Temme, beraninya kalian mengabaikanku!"

Dengan raut kesal Yuuki terus mengayunkan pedangnya ke arah Arif. Amarahnya memuncak karena serangannya di lenyapkan dengan mudah oleh Yudi, lalu kini darahnya mendidih manakala Arif tiba-tiba bangkit dan menahan serangannya.

"Harusnya kau tidak bisa lepas dari teknikku," kesalnya.

"Maaf, jika mengecewakanmu. Tapi kali ini, giliranku untuk membalas!" Tantang Arif.

Sebuah aura hitam muncul dari tubuh Arif, membuat Yuuki melebarkan mata sesaat kemudian seulas senyum dia ukir. Kini seluruh tubuh Arif terselimuti aura hitam.

"Akan kutunjukkan kemampuanku!"

And cut

Yeh inilah kelanjutannya semoga puas, maaf kalau alurnya lambat. Untuk Update mohon maaf gak menentu.

Selanjutnya di The Tittle of Adventure.

Kami-sama, apa ini sungguhan!

Um, apa kau pikir aku tidak bisa membaca aksara dewa. Selamat ! Sekarang kau punya skill pasif bernama Argonaut.

Kekuatan, Impian dan ambisiku adalah untuk menjadi Pahlawan

Next chapter Kekuatan dan Tekad Bell si Argonaut-kun

Pastikan jangan melewatkannya ya